Anda di halaman 1dari 120

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

BUDIDAYA MELON HIDROPONIK


(Studi Kasus: PT. Mekar Unggul Sari, Cileungsi, Bogor)

Rinrin Rindyani

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011 M / 1432 H

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL


BUDIDAYA MELON HIDROPONIK
(Studi Kasus: PT. Mekar Unggul Sari, Cileungsi, Bogor)

Rinrin Rindyani
106092002998

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pertanian pada Program Studi Agribisnis

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011M / 1432 H

PENGESAHAN UJIAN

Skripsi berjudul Analisis Kelayakan Finansial Budidaya Melon Hidroponik


(Studi Kasus : PT. Mekar Unggul Sari, Cileungsi, Bogor), yang disusun oleh
Rinrin Rindyani NIM 106092002998 telah diuji dan dinyatakan lulus dalam
Sidang Munaqosah Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta pada hari Rabu tanggal 11 Mei 2011. Skripsi ini telah
diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada
Program Studi Agribisnis.

Menyetujui,

Penguji I

Penguji II

Ir. Lilis Imamah Ichdayati, M.Si

Masrul Huda, SE, M.Si

Pembimbing I

Pembimbing II

Ir. Setyo Adhie, MM

Ir. Junaidi, M.Si

Mengetahui,

Dekan
Fakultas Sains dan Teknologi

Ketua
Program Studi Agribisnis

Dr. Syopiansyah Jaya Putra, M.Sis


NIP. 19680117 200112 1 001

Drs. Acep Muhib, MM


NIP. 19690605 200112 1 001

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENARBENAR HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN
SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI
ATAU LEMBAGA MANAPUN.

Jakarta, Juni 2011

Rinrin Rindyani
106092002998

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DATA DIRI
Nama

: Rinrin Rindyani

Tempat Tanggal Lahir

: Garut, 14 September 1988

Kewarganegaraan

: Indonesia

Status

: Belum Menikah

Alamat

: Jl. Benda Barat 13B Blok D 35 No. 4 Pamulang


Permai II, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang
Selatan

Telepon

: 085695679570 / 021-46440344

e-mail

: rin_rindyani@yahoo.com

PENDIDIKAN
1994 - 2000

: SDIT As-Salamah Pamulang

2000 - 2003

: MTs Negeri Tangerang II Pamulang

2003 - 2006

: SMA Negeri 1 Ciputat

2006 - 2011

: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

PENGALAMAN ORGANISASI

2007 - 2008

: Sekretaris II Karang Taruna RW 010 Pamulang


Permai II

2000 - 2003

: Divisi Dana dan Usaha Badan Eksekutif Mahasiswa


(BEM) Jurusan Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah

PENGALAMAN KERJA
2007 - 2008

: SPG PT. Siprama Comunindo

2009

: Marketing PT. Madani Pamulang Mandiri

2010 - sekarang

: Administrasi E.nopi Alam Sutera

RINGKASAN

RINRIN RINDYANI, Analisis Kelayakan Finansial Budidaya Melon Hidroponik


(Studi kasus: PT. Mekar Unggul Sari, Cileungsi, Bogor). Di bawah bimbingan
SETYO ADHIE dan JUNAIDI.
Buah melon yang dibudidayakan di PT. Mekar Unggul Sari ditujukan untuk
komersial sebagai sarana petik buah di wahana melon Taman Wisata Mekarsari dan
pemenuhan konsumsi pengunjung. Oleh karena itu, PT. Mekar Unggul Sari
melakukan produksi melon secara berkesinambungan. Untuk itu dalam melakukan
produksi diperlukan suatu tahapan budidaya yang baik agar mendapatkan produksi
buah yang unggul. Melon hidroponik yang diusahakan secara komersial dapat
mendatangkan keuntungan yang lebih banyak. Hal ini disebabkan secara umum
kualitas melon hidroponik lebih unggul dibandingkan dengan melon yang ditanam di
tanah.
Budidaya melon hidroponik PT. MUS sudah berjalan mulai dari tahun 1997
hingga sekarang. Budidaya melon hidroponik membutuhkan biaya yang sangat besar
karena menggunakan teknologi greenhouse dan drip irigation. Pada tahun 2008 PT.
MUS mengalami penurunan tingkat produksi penjualan mencapai 20% yang
disebabkan timbul serangan penyakit karena menurunnya efektifitas fungsi
greenhouse yang terjadi karena kerusakan pada solar tuff dan screen net, sehingga
saat hujan air hujan masuk ke dalam greenhouse. Nilai kerugian yang diderita
mencapai Rp. 10.118.995. Untuk menanggulangi masalah tersebut PT. MUS
melakukan sanitasi greenhouse dan pada tahun 2009 PT. MUS melakukan reinvestasi
untuk perbaikan seluruh greenhouse dengan harapan optimalisasi greenhouse sangat
berperan agar tanaman berproduksi secara optimal, sehingga terjadi peningkatan
produksi penjualan.
Tujuan penelitian ini adalah: (1) Menganalisis kelayakan budidaya melon
hidroponik PT. MUS setelah dilakukan reinvestasi solar tuff dan screen net
berdasarkan kelayakan finansial. (2) Menganalisis sensitivitas kelayakan finansial
budidaya melon hidroponik PT. MUS apabila terjadi perubahan biaya dan
pendapatan.
Penelitian dilakukan di PT. MUS yang terletak di Jalan Raya Jonggol KM 3,
Cileungsi, Bogor. Jenis data yang digunakan adalah data kualitatif dan data
kuantitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan data
primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari data langsung perusahaan yang
berupa hasil pengamatan langsung dan wawancara dengan pimpinan Wahana Melon
PT. MUS dan karyawan dengan bantuan kuesioner yang telah dipersiapkan. Data
sekunder diperoleh dari laporan manajemen perusahaan dan instansi yang terkait.
Data sekunder juga diperoleh melalui proses membaca, mempelajari, dan mengambil
keterangan yang diperlukan dari buku-buku atau majalah, penelitian terdahulu, serta
sumber-sumber data lainnya yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas.

Analisis kelayakan finansial budidaya melon hidroponik untuk melihat layak


atau tidak budidaya melon hidroponik melalui perhitungan BEP, NPV, IRR,
Profitability Index (PI), Payback Periode dan Analisis sensitifitas dengan asumsi, (1)
peningkatan harga benih melon sebesar 9%; (2) peningkatan harga nutrisi sebesar
9%; (3) peningkatan upah tenaga kerja sebesar 9%; (4) peningkatan harga benih
melon, nutrisi dan upah tenaga kerja sebesar 9%; (5) penurunan pendapatan sebesar
10%; (6) peningkatan harga benih melon sebesar 9% dengan modal pinjaman 20%;
(7) peningkatan harga nutrisi sebesar 9% dengan modal pinjaman 20%; (8)
peningkatan harga uapah tenaga kerja sebesar 9% dengan modal pinjaman 20%; (9)
peningkatan harga benih melon, nutrisi dan upah tenaga kerja sebesar 9% dengan
modal pinjaman 20%; (10) penurunan pendapatan sebesar 10% dengan modal
pinjaman 20%.
Hasil analisis kelayakan finansial budidaya melon hidroponik pada PT. MUS
100% modal sendiri dinyatakan layak. Hal ini ditandai dengan nilai NPV positif
Rp. 58.678.244. IRR 22,8% lebih besar dari tingkat suku bunga sebesar 14%. Nilai PI
sebesar 1,37 lebih besar dari satu. Payback Periode selama 6 tahun 11 bulan.
Hasil analisis sensitivitas dari budidaya melon hidroponik pada PT. MUS
dapat disimpulkan sebagai berikut: (a) 100% modal sendiri, hasil analisis secara
parsial: harga benih melon, nutrisi, dan upah tenaga kerja naik 9% dapat dikatakan
layak. Hasil analisis secara simultan dengan kenaikan harga benih melon, nutrisi dan
upah tenaga kerja sebesar 9% dinyatakan layak. Dinyatakan layak karena nilai NPV
bernilai positif, IRR lebih besar dari tingkat suku bunga (14%), PI lebih besar dari
satu, dan dapat mengembalikan reinvestasi kurang dari umur proyek (10 tahun). Hasil
analisis dengan asumsi penurunan pendapatan sebesar 10% dikatakan tidak layak.
Dinyatakan tidak layak karena nilai NPV bernilai negatif, IRR lebih kecil dari tingkat
suku bunga (14%), PI lebih kecil dari satu, dan tidak dapat mengembalikan
reinvestasi selama umur proyek 10 tahun. (b) 20% pinjaman 80% modal sendiri, hasil
analisis secara parsial: harga benih melon, nutrisi, dan upah tenaga kerja naik 9%
dapat dikatakan layak. Hal in ditandai dengan NPV bernilai positif, IRR lebih besar
dari tingkat suku bunga (14%), PI lebih besar dari satu, dan dapat mengembalikan
reinvestasi kurang dari umur proyek (10 tahun). Hasil analisis secara simultan dengan
kenaikan harga benih melon, nutrisi dan upah tenaga kerja sebesar 9% dinyatakan
tidak layak. Hasil analisis dengan asumsi penurunan pendapatan sebesar 10%
dikatakan tidak layak. Dinyatakan tidak layak karena nilai NPV bernilai negatif, IRR
lebih kecil dari tingkat suku bunga (14%), PI lebih kecil dari satu, dan tidak dapat
mengembalikan reinvestasi selama umur proyek 10 tahun.

ix

KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim
Assalamualaikum. Wr. Wb
Puji Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas
Rahmat, Karunia, Taufik dan Hidayah-Nya sehingga penyusunan skripsi ini dapat
diselesaikan oleh penulis. Shalawat serta salam tidak lupa dipanjatkan kepada
junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. beserta keluarga dan sahabatnya
yang telah membawa umat manusia menuju jalan kebaikan.
Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan
gelar Sarjana Pertanian.
Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan rasa terima kasih yang
mendalam kepada semua pihak yang telah ikut membantu dalam penyusunan
skripsi ini. Untaian terima kasih yang dalam penulis tujukan kepada:
1. Kedua orang tua penulis tercinta, Ujang Aminuddin dan Tetty Nurhayati, atas
segala dukungan moril maupun materil, motivasi, semangat dan bantuan yang
tak kenal lelah kepada penulis untuk tetap optimis dan istiqamah. Serta untuk
Adik tercinta, ananda Nurcholis Majid membantu dalam penyelesaian skripsi
ini.
2. Bapak Dr.Syopiansyah Jaya Putra,M.Sis selaku Dekan Fakultas Sains dan
Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Drs. Acep Muhib, MM dan Riski Adi Puspitasari, MMA selaku Ketua dan
Sekretaris Program Studi Agribisnis yang telah memberikan suatu komitmen,
dorongan, dan program pendidikan sesuai kebutuhan mahasiswanya.
4. Bapak Ir. Setyo Adhie, M.Si dan Bapak Ir. Junaidi, M.Si selaku pembimbing
skripsi yang telah memberikan arahan dan motivasi kepada penulis yang tiada
henti.
5. Ibu Ir. Lilis Imamah Ichadayati, M.Si dan Bapak Masrul Huda, SE, M.Si
selaku penguji skripsi yang telah memberikan arahan dan saran mengenai
penyusunan skripsi ini.
6. Dosen dosen Agribisnis yang telah memberikan kesempatan kepada penulis
untuk menimba ilmu pengetahuan.
7. Bapak Gunadi, Aa Ade, Aa Nyangnyang dan staff PT. MUS lainnya yang
telah memberikan arahan, saran dan informasi dalam penyusunan skripsi di
Wahana Melon Hidroponik.
8. Ibu Ummi Kalsum, Tante Lies beserta keluarga. Terima kasih untuk dukungan
serta motivasi dalam penyelesaian skripsi ini.
9. The Princess tersayang, Ulfa, Ajeng, Wiwin, Nia, Gina, Rifa dan Nisa atas
kebersamaan, kehangatan dan kekeluargaan yang terjalin selama kuliah, yang
telah berbagi suka dan duka serta memberikan semangat dan motivasi (tetap
semangat,,kalian pasti bisa!!). Serta teman teman angkatan 2006 : Ari
(Alhamdulillah bisa nyusul juga he...) buat Ali, Tohir, Purwanto, dan Andi
(mudah-mudahan bisa wisuda bareng ya..) untuk Fery, Puguh, Syarip,

vi

Mawardi, Ikhsan, Dana, Angger, Heru, Budi, Dzul, Lutfi, Pedri, Reza,
kLaode, Surade ( ayooo smangat,,,masih banyak yang harus dijalani ^^ )
10. KDewi, KRiri, Kpury dan kakak serta adik yag lain terima kasih doa dan
motivasinya.
11. Seluruh pihak yang telah membantu dan namanya tidak dapat disebutkan satu
per satu. Terima kasih atas dukungan dan motivasinya, Semoga Allah SWT
membalas segala kebaikan yang telah diberikan kepada penulis.
Harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat , sebagai bahan
memperkaya pengetahuan bagi mereka yang membacanya dan terutama bagi
penulis sendiri.
Akhir kata, penulis mohon maaf apabila ada kekhilafan dalam kata pengantar
ini.
Wassalamualaikum. Wr. Wb
Jakarta, Juni 2011

Penulis

vii

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................... x


DAFTAR TABEL ................................................................................... xiii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................... xiv
BAB I

PENDAHULUAN ..................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah .............................................................. 3
1.3. Tujuan Penelitian ................................................................ 3
1.4. Manfaat Penelitian .............................................................. 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................... 5


2.1. Landasan Teori.... ............................................................... 5
2.1.1. Tanaman Melon ........................................................
2.1.2. Teknik Hidroponik ....................................................
2.1.2.1. Hidroponik Subtrat.......................................
2.1.2.2. Hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) .
2.1.2.3. Aeroponik ....................................................
2.1.3. Penerapan Hidroponik ...............................................
2.1.3.1. Konstruksi Rumah Kaca (Greenhouse).........
2.1.3.2. Sistem Irigasi ...............................................
2.1.3.3. Perlengkapan Hidroponik .............................
2.1.3.4. Proses Budidaya ...........................................
2.1.4. Analisis Kelayakan Finansial ....................................
2.1.4.1. Investasi dan Reinvestasi..............................
2.1.4.2. Biaya ...........................................................
2.1.4.3. Penerimaan dan Pendapatan .........................
2.1.4.4. Break Event Point (BEP)..............................
2.1.4.5. Net Present Value (NPV) .............................
2.1.4.6. Internal Rate of Return (IRR) .......................
2.1.4.7. Profitability Indeks (PI)................................
2.1.4.8. Payback Period ............................................
2.1.4.9. Analisis Sensitivitas .....................................

5
7
8
8
9
9
9
10
10
11
12
12
13
16
14
15
16
16
17
17

2.2. Penelitian Terdahulu ........................................................... 18


2.3. Kerangka Pemikiran ........................................................... 19

BAB III METODE PENELITIAN ......................................................... 22


3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian .............................................. 22
3.2. Jenis dan Sumber Data........................................................ 22
3.3. Metode Pengumpulan Data ................................................. 23
3.4. Metode Pengolahan Data dan Analisis Data........................ 23
3.4.1. Analisis Kualitatif .....................................................
3.4.2. Analisis Kuantitatif ...................................................
3.4.2.1. Break Event Point (BEP)..............................
3.4.2.2. Net Present Value (NPV) .............................
3.4.2.3. Internal Rate of Return (IRR) .......................
3.4.2.4. Profitability Indeks (PI)................................
3.4.2.5. Payback Period ............................................
3.4.2.6. Analisis Sensitivitas .....................................

23
24
24
25
25
26
26
27

3.5. Definisi Operasional ........................................................... 29


BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ...................... 30
4.1. Profil PT. Mekar Unggul Sari ............................................. 30
4.2. Visi dan Misi ...................................................................... 31
4.3. Letak dan Keadaan Geografis ............................................. 32
4.4. Struktur Organisasi ............................................................. 32
4.5. Wahana Melon PT. Mekar Unggul Sari .............................. 35
4.5.1. Sarana Hidroponik ....................................................
4.5.2. Teknik Budidaya Melon Hidroponik .........................
4.5.3. Pemasaran .................................................................
4.5.4. Tenaga Kerja.............................................................

35
37
43
44

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................. 45


5 .1. Struktur Biaya .................................................................... 45
5.1.1. Biaya Tetap ............................................................... 46
5.1.2. Biaya Variabel .......................................................... 47
5.1.3. Total Biaya ............................................................... 50
5.2. Penerimaan dan Pendapatan Budidaya Melon Hidroponik .. 51
5.3. Analisis Break Event Point (BEP)....................................... 52
5.4. Biaya Reinvestasi ............................................................... 55
5.5. Analisis Kelayakan Finansial .............................................. 56
5.6. Analisis Sensitivitas............................................................ 57

xi

BAB VI KESIMPULAN ......................................................................... 65


6.1. Kesimpulan ....................................................................... 65
6.2. Saran ................................................................................. 67
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 68
LAMPIRAN ........................................................................................... 70

xii

DAFTAR TABEL

1. Pedoman Penyiraman ........................................................................... 40


2. Biaya Tetap Budidaya Melon Hidroponik PT. MUS per Tahun ............ 46
3. Biaya Variabel Budidaya Melon Hidroponik PT. MUS ........................ 47
4. Total Biaya Budidaya Melon Hidroponik PT. MUS ............................. 50
5. Penerimaan dan Pendapatan Budidaya Melon Hidroponik PT. MUS .... 52
6. Hasil Analisis BEP Budidaya Melon Hidroponik PT. MUS.................. 53
7. Biaya Reinvestasi Perbaikan GH Budidaya Melon Hidroponik
PT. MUS............................................................................................. 55
8. Hasil Analisis Kelayakan Finansial Budidaya Melon Hidroponik 100%
Modal PT.MUS (Discount Factor 14%).............................................. 56
9. Hasil Analisis Sensitivitas Finansial Budidaya Melon Hidroponik
dengan 20% Modal Pinjaman dan 80% Modal PT.MUS (DF 14%) .... 58
10. Hasil Analisis Sensitivitas Budidaya Melon Hidroponik Terhadap
Perubahan Biaya dan Pendapatan Asumsi 100% Modal Sendiri ........... 59
11. Hasil Analisis Sensitivitas Budidaya Melon Hidroponik Terhadap
Perubahan Biaya dan Pendapatan Asumsi 20% Modal Pinjaman
dan 80% Modal PT.MUS (Discount Factor 14%) ............................... 62

DAFTAR GAMBAR

1. Grafik Break Event Point .................................................................... 16


2. Kerangka Pemikiran Operasional ........................................................ 21

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

1. Data Buah-buah Taman Wisata Mekar Sari .......................................... 70


2. Tingkat Suku Bunga Kredit Investasi Bank Umum Periode 2005-2009 76
3. Laju Inflasi Nasional Periode 2005-2009.............................................. 76
4. Biaya Sewa Lahan Budidaya Melon Hidroponik .................................. 77
5. Rekapitulasi Biaya Tetap Budidaya Melon Hidroponik PT. MUS ........ 78
6. Rekapitulasi Biaya Tidak Tetap Budidaya Melon Hidroponik PT. MUS 79
7. Analisis Pendapatan PT. MUS ............................................................. 80
8. Biaya Reinvesatasi Solar Tuff dan Screen Net PT. MUS....................... 81
9. Perhitungan Pembayaran Bunga dan Cicilan Pokok Pinjaman .............. 82
10. Proyeksi Arus Kas Budidaya Melon Hidroponik PT. MUS
(100% Modal Sendiri) .......................................................................... 83
11. Analisis Sensitivitas Budidaya Melon Hidroponik PT. MUS
(20% Pinjaman Bank 80% Modal Sendiri) ........................................... 84
12. Analisis Sensitivitas Benih Melon Naik 9% Biaya Variabel Lain Tetap
(100% Modal Sendiri) .......................................................................... 85
13. Analisis Sensitivitas Nutrisi Melon Naik 9% Biaya Variabel Lain Tetap
(100% Modal Sendiri) .......................................................................... 85
14. Analisis sensitivitas Upah Tenaga Kerja Naik 9% Biaya Variabel Lain
Tetap (100% Modal Sendiri) ................................................................ 86
15. Analisis Sensitivitas Benih Melon, Nutrisi, dan Upah Tenaga Kerja
Naik 9% Biaya Variabel Lain Tetap (100% Modal Sendiri) ................. 86
16. Analisis Sensitivitas Pendapatan Turun 10 % Biaya Variabel Tetap
(100% Modal Sendiri) .......................................................................... 87
17. Analisis Sensitivitas Benih Melon Naik 9% Biaya Variabel Lain Tetap
(20% Pinjaman Bank 80% Modal Sendiri) ........................................... 88
18. Analisis Sensitivitas Nutrisi Melon Naik 9% Biaya Variabel Lain Tetap
(20% Pinjaman Bank 80% Modal Sendiri) ........................................... 88
19. Analisis Sensitivitas Upah Tenaga Kerja Naik 9% Biaya Variabel Lain
Tetap (20% Pinjaman Bank 80% Modal Sendiri) ................................. 89
xiv

20. Analisis Sensitivitas Benih Melon, Nutrisi, dan Pestisida Naik 9%


Biaya Variabel Lain Tetap (20% Pinjaman Bank 80% Modal sendiri) .. 89
21. Analisis Sensitivitas Pendapatan Turun 10 % Biaya Variabel Tetap (20%
Pinjaman Bank 80% Modal Sendiri) .................................................... 90
22. Foto-foto Budidaya Melon Hidroponik PT. MUS................................. 91
23. Struktur Organisasi PT. Mekar Unggul Sari ......................................... 92
24. Peta Taman Wisata Mekarsari .............................................................. 93
25. Daftar Pertanyaan Wawancara ............................................................. 94
26. Surat Keterangan Penelitian ................................................................. 95

xv

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

Melon merupakan jenis tanaman buah-buahan yang mudah untuk


dikembangkan. Tanaman melon merupakan salah satu tanaman yang perlu
mendapat prioritas utama diantara tanaman-tanaman hortikultura lainnya karena
harga buah melon relatif lebih tinggi dibandingkan dengan komoditas hortikultura
pada umumnya. Hal ini memberikan keuntungan kepada petani atau pengusaha
pertanian tanaman melon.
PT. Mekar Unggul Sari adalah perusahaan yang mengelola Taman Wisata
Mekarsari. Taman Wisata Mekarsari (TWM) merupakan salah satu pusat
pelestarian keanekaragaman hayati (plasma nutfah) buah-buahan tropika terbesar
di Indonesia, khususnya jenis buah-buahan unggul yang dikumpulkan dari daerahdaerah di Indonesia (Lampiran 1). Selain kegiatan pelestarian, dilakukan juga
penelitian budidaya (agronomi), pemuliaan (breeding), dan perbanyakan bibit
unggul untuk kemudian disebarluaskan kepada petani dan masyarakat umum.
Taman

Wisata

Mekarsari

sebagai

pusat

hortikultura/buah-buahan Indonesia (tropis)

pelestarian

plasma

nutfah

dimanfaatkan untuk kegiatan

penelitian, pendidikan, budidaya, dan wisata. Salah satu kegiatan pelestarian


buah-buahan tropika pada PT. MUS adalah budidaya melon hidroponik.
Buah melon yang dibudidayakan di PT. MUS ditujukan untuk komersial
sebagai sarana petik buah di wahana melon Taman Wisata Mekarsari dan
pemenuhan konsumsi pengunjung. Oleh karena itu, PT. MUS melakukan produksi

melon secara berkesinambungan. Untuk itu dalam melakukan produksi diperlukan


suatu tahapan budidaya yang baik agar mendapatkan produksi buah yang unggul.
Melon hidroponik yang diusahakan secara komersial dapat mendatangkan
keuntungan yang lebih banyak. Hal ini disebabkan secara umum kualitas melon
hidroponik lebih unggul dibandingkan dengan melon yang ditanam di tanah.
Budidaya melon hidroponik PT. MUS sudah berjalan mulai dari tahun
1997 hingga sekarang. Budidaya melon hidroponik membutuhkan biaya yang
sangat besar karena menggunakan teknologi greenhouse dan drip irigation. Pada
tahun 2008 PT. MUS mengalami penurunan tingkat produksi penjualan mencapai
20% yang disebabkan timbul serangan penyakit karena menurunnya efektifitas
fungsi greenhouse yang terjadi karena kerusakan pada solar tuff dan screen net,
sehingga saat hujan air hujan masuk ke dalam greenhouse. Nilai kerugian yang
diderita mencapai Rp. 10.118.995 (Lampiran 7). Untuk menanggulangi masalah
tersebut PT. MUS melakukan sanitasi greenhouse dan pada tahun 2009 PT. MUS
melakukan reinvestasi untuk perbaikan seluruh greenhouse dengan harapan
optimalisasi greenhouse sangat berperan agar tanaman berproduksi secara
optimal, sehingga terjadi peningkatan produksi penjualan.
Keputusan untuk melakukan reinvestasi solar tuff dan screen net ini
membutuhkan dana cukup besar. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis
melakukan penelitian dengan mengkaji lebih dalam dan menganalisis tingkat
kelayakan finansial perusahaan tersebut setelah dilakukan reinvestasi solar tuff
dan screen net dalam judul Analisis Kelayakan Finansial Budidaya Melon
Hidroponik (Studi Kasus : PT. Mekar Unggul Sari, Cileungsi, Bogor).

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka dapat dirumuskan


permasalahan sebagai berikut:
1.

Bagaimana kelayakan budidaya melon hidroponik PT. MUS setelah


dilakukan reinvestasi solar tuff dan screen net ditinjau dari analisis finansial?

2. Bagaimana sensitivitas kelayakan finansial budidaya melon hidroponik


PT. MUS jika terjadi perubahan biaya dan pendapatan ?

1.3.

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan permasalahan tersebut, maka tujuan penelitian


adalah sebagai berikut:
1.

Menganalisis kelayakan budidaya melon hidroponik PT. MUS setelah


dilakukan reinvestasi solar tuff dan screen net

berdasarkan kelayakan

finansial.
2.

Menganalisis sensitivitas kelayakan finansial budidaya melon hidroponik


PT. MUS apabila terjadi perubahan biaya dan pendapatan.

1.4. Manfaat Penelitian


Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang telah dijabarkan di atas,
maka manfaat penelitian dapat diuraikan sebagai berikut:

1.

Bagi penulis
Menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama kuliah dan menambah
pengalaman dan wawasan ilmu pengetahuan, khususnya studi kelayakan
usaha.

2.

Bagi perusahaan
Penelitian ini diharapkan berguna bagi pemilik perusahaan agar mengetahui
kelayakan usahanya dan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan
keputusan untuk pengembangan usaha mendatang.

3.

Bagi akademis
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan referensi dan acuan
dalam melakukan penelitian selanjutnya.

4.

Bagi umum
Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi pihak-pihak yang ingin
menekuni usaha budidaya melon hidroponik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Landasan Teori

2.1.1. Tanaman Melon


Prihmantoro dan Indriani (1995:8-9) menerangkan dalam dunia tumbuhtumbuhan (Plantarum), tanaman melon termasuk dalam keluarga labu-labuan
(Cucurbitaceae) seperti halnya dengan blewah (Cucumis melo L.), semangka
(Citrullus vulgaris Sehardo), mentimun (Cucumis setivus L.), pare (Momordica
charantia L. Roxb.) dan waluh (Cucurbita moschata). Melon termasuk tanaman
yang menghasilkan biji sehingga dimasukkan tumbuhan berbiji (Spermatophyta).
Biji melon tertutup oleh bakal buah sehingga dimasukkan ke dalam golongan
tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae). Tanaman melon terdiri dari dua daun
lembaga sehingga dimasukkan dalam kelas tumbuhan berbiji belah (dikotil) dan
tergolong dalam genera Cucumis.
Melon termasuk tanaman buah dari famili Cucurbitaceae. Banyak yang
menyebutkan buah melon berasal dari Lembah Panas Persia di daerah Mediterania
yang merupakan perbatasan antara Asia Barat dengan Eropa dan Afrika. Tanaman
ini akhirnya tersebar luas ke Timur Tengah dan Eropa. Pada abad ke-14, melon
dibawa ke Amerika oleh Columbus dan akhirnya ditanam secara luas di Colorado,
California, dan Texas. Akhirnya melon tersebar ke seluruh penjuru dunia,
terutama di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia. Setelah tahun 1990,
melon berkembang cukup pesat di Indonesia, karena petani mulai yang banyak
menanam melon. Sebelum tahun 1990, melon masih asing bagi penduduk

Indonesia, tetapi kini sudah menjadi buah "pencuci mulut" yang populer. Buah ini
sering disuguhkan di tempat-tempat pesta secara terpisah atau bersama dengan
semangka, pepaya, dan nanas. Buah melon dimanfaatkan sebagai buah segar
dengan kandungan vitamin C yang cukup tinggi (Anonimious, 2009:153).
Varietas melon yang umum di pasaran diantaranya sky rocket, action,
monami red, glamour, select rocket, jade dew, honey dew, autumn sweet, golden
prize, red queen, dan emerald sweet (Anonimious, 2009:154).
Melon lebih senang tumbuh di dataran menengah yang suhunya agak
dingin, yakni pada ketinggian 300-1.000 m dpl. Di dataran rendah yang
ketinggiannya kurang dari 300 m dpl, buah melon berukuran lebih kecil dan
dagingnya agak kering (kurang berair). Tanah yang baik untuk budidaya melon
adalah jenis tanah andosol atau tanah liat berpasir yang banyak mengandung
bahan organik untuk memudahkan akar tanaman berkembang. Pertumbuhan
melon membutuhkan suhu yang sejuk dan kering. Suhu ideal bagi pertumbuhan
melon berkisar 25-30 C. Melon tidak dapat tumbuh jika suhu kurang dari 18C.
Melon susah tumbuh di tempat yang kelembapan udara rendah (kering) dan
ternaungi. Tanaman ini lebih senang di daerah terbuka, tetapi sinar matahari tidak
terlalu terik, cukup dengan penyinaran 70%. (Sunarjono, 2009:47).

2.1.2. Teknik Hidroponik


Hidroponik berasal dari bahasa Yunani yaitu hydro berarti air dan ponous
berarti kerja. Sesuai arti tersebut, bertanam secara hidroponik merupakan
teknologi bercocok tanam yang menggunakan air, nutrisi, dan oksigen
(Anonimious, 2010:1).
Menurut Rosari dalam Sumarni dan Rosliani (2005:6) beberapa kelebihan
dan kekurangan sistem hidroponik dibandingkan dengan pertanian konvensional
yaitu :
a. Kelebihan sistem hidroponik antara lain:
1) Penggunaan lahan lebih efisien
2) Tanaman berproduksi tanpa menggunakan tanah
3) Kuantitas dan kualitas produksi lebih tinggi dan lebih bersih
4) Penggunaan pupuk dan air lebih efisien
5) Pengendalian hama dan penyakit lebih mudah
b. Kekurangan sistem hidroponik antara lain:
1) Membutuhkan modal yang besar
2) Pada kultur substrat, kapisitas memegang air media substrat lebih kecil
dari pada media tanah sehingga akan menyebabkan pelayuan tanaman
yang cepat dan stres yang serius.
Sutiyoso (2004:1) menjelaskan bahwa di Indonesia, hidroponik yang
berkembang pertama kali yaitu hidroponik substrat, setelah hidroponik substrat,
hidroponik NFT (Nutrien Film Technique) mulai dikenal di Indonesia, kemudian
berkembang pula hidroponik aeroponik yang memberdayakan udara.
7

2.1.2.1. Hidroponik Subtrat


Menurut Lingga (2005:7) hidroponik subtrat tidak menggunakan air
sebagai media, tetapi menggunakan media padat (bukan tanah) yang dapat
menyerap atau menyediakan nutrisi, air, dan oksigen serta mendukung akar
tanaman seperti halnya fungsi tanah.
Bahan-bahan yang bisa digunakan sebagai media tanam pada hidroponik
metode subtrat adalah arang sekam, pasir, kerikil, batu apung, cocopeat,
rockwool, dan spons. Media-media tersebut harus steril, bisa menyimpan air
sementara, porous, dan bebas dari unsur hara. Media tersebut berfungsi sebagai
tempat menyimpan air nutrisi sementara dan tempat tersebut berfungsi sebagai
tempat berpijak akar. Sistem irigasi tetes digunakan untuk menyuplai kebutuhan
unsur hara dari air nutrisi yang disiram ke tanaman menggunakan (Anonimious,
2010:56).
2.1.2.2.Hidroponik NFT (Nutrien Film Technique)
Sutiyoso (2004:2) menjelaskan bahwa kata film dalam hidroponik
nutrien film technique menunjukkan aliran air tipis. Hidroponik ini hanya
menggunakan aliran air (nutrien) sebagai medianya.
Menurut Lingga (2005:11) NFT merupakan model budidaya dengan
meletakan akar tanaman pada lapisan air yang dangkal. Air tersebut tersirkulasi
dan mengandung nutrisi sesuai kebutuhan tanaman. Perakaran bisa berkembang
di dalam larutan nutrisi karena disekeliling perakaran terdapat selapis larutan
nutrisi, maka sistem ini dikenal dengan nama nutrien film technique.
8

2.1.2.3.Aeroponik
Sutiyoso ( 2004:5) menerangkan bahwa aeroponik berasal dari kata aero
yang berarti udara dan ponus yang berarti daya. Aeroponik dapat diartikan dengan
memberdayakan udara. Prinsip kerja dari aeroponik yaitu menyemburkan larutan
hara dalam bentuk kabut hingga mengenai akar tanaman. Larutan hara tersebut
akan diserap oleh akar tanaman. Tanaman pada sistem aeroponik ditanam dengan
cara digantung sehingga akar tanaman menggantung di dalam suatu bak. Pangkal
batang dimasukkan ke dalam helaian styrofoam yang telah dilubangi agar dapat
berdiri.
2.1.3. Penerapan Hidroponik
2.1.3.1.Konstruksi Rumah Plastik (Greenhouse)
Sutiyoso (2003: 18) menjelaskan bahwa greenhouse merupakan bangunan
yang dibuat untuk melindungi tanaman dari gangguan luar, misalnya cahaya
matahari, hujan, angin, maupun hama dan penyakit. Rumah plastik dibangun
dengan rangka yang terbuat dari kayu atau bambu. Atapnya menggunakan helaian
plastik UV (ultra violet). Sisi serra plastik dikelilingi dengan kasa (screen) plastik
untuk menghindari hama masuk, dengan demikian kemungkinan kerusakan
tanaman oleh serangan hama dapat dihindarkan. Sisi yang terbuat dari kasa masih
dapat dilalui udara untuk ventilasi sehingga dapat mengurangi udara yang terlalu
panas atau kelembapan yang terlampau tinggi, bila ada angin yang terlalu kencang

kasa dapat meredam kecepatan aliran angin sehingga tidak ada tanaman yang
rusak.
2.1.3.2.Sistem Irigasi
Sutiyoso (2003: 20) menyatakan bahwa sistem irigasi di dalam greenhouse
memerlukan perencanaan yang cermat. Diperlukan sepasang tong plastik untuk
menyimpan pekatan pupuk, dari tong inilah pekatan dituangkan ke dalam tendon
larutan. Tandon tersebut dipasangi paralon yang akan mengalirkan larutan hara ke
selang PE yang terdapat di bak tanaman. Menggunakan pompa untuk mengalirkan
dan mendorong air. Pompa air dipilih yang bertekanan tinggi dan bervolume besar
agar dapat memberi pancaran kabut pada puluhan springkler sekaligus. Biaya
operasional pompa seperti ini tergolong mahal karena daya listriknya antara 8001600 watt dan dijalankan terus menerus siang malam tanpa henti. Apabila ingin
dijalankan secara terputus-putus, misalnya lima menit on dan lima menit off, maka
diperlukan timer yang mahal harganya, tetapi disisi lain dapat menurunkan biaya
listrik.
2.1.3.3.Perlengkapan Hidroponik
Pada prinsipnya perlengkapan hidroponik terdiri atas : (Anonimious,
2010:22)
a. Media tumbuh tanaman (polybag, arang sekam, dan tali perambat).
b. Perlengkapan alat ukur (PH meter, EC meter, termometer, dan lain-lain).
c. Perlengkapan suplai air (pompa air, tangki pembuatan nutrisi, pipa distribusi,
dan filter).
10

2.1.3.4.Proses Budidaya
Anonimious (2010: 23-24) dalam buku Bertanam Secara Hidroponik
mejelaskan bahwa proses budidaya secara hidroponik diawali dengan persiapan
media tanam. Media tanam kemudian dimasukkan ke dalam polibag kecil sebagai
media penyemaian benih, dan polibag besar untuk proses pembesaran.
Penyemaian benih dilaksanakan di tempat tersendiri (di dalam rumah plastik
persemaian) sampai berumur dua minggu dengan perawatan secara manual.
Selanjutnya bibit yang telah siap tanam, dipindahkan ke dalam media tumbuh
dalam polibag besar dan siap dibesarkan. Sementara penyemian dilakukan,
instalasi tangki, pompa dan pipa irigasi dipersiapkan dengan cara menghubungkan
tangki air dengan seluruh polibag besar menggunakan pipa PE.
Kunci keberhasilan budidaya hortikultura sistem hidroponik adalah pada
pemberian komposisi pupuk yang tepat, sesuai dengan jenis dan umur tanaman.
Untuk itu, unsur hara yang dibutuhkan tanaman dipasokkan ke media tumbuh
secara terukur dan berkala. Perlakuan khusus seperti pemangkasan dahan/ranting
yang tak berguna, pembuatan tali rambatan, pencegahan dan pemberantasan hama
perlu dilakukan secara teliti. Pemangkasan bakal buah perlu dilakukan agar buah
yang disisakan untuk dipanen benar-benar tumbuh optimal karena mendapat
makanan yang cukup.
Proses pemanenan dilakukan secara manual dengan memilih buah yang
telah benar-benar masak. Artinya proses pemanenan dapat dilakukan

tidak

sekaligus, melainkan secara bertahap selama 1-2 minggu.

11

2.1.4. Analisis Kelayakan Finansial


Menurut Kasmir dan Jakfar (2008: 6), pengertian analisis kelayakan
adalah penelitian yang dilakukan secara mendalam untuk menentukan apakah
usaha yang akan dijalankan akan memberikan manfaat yang lebih besar
dibandingkan dengan biaya yang akan dikeluarkan.
Selanjutnya Kasmir dan Jakfar (2008: 15) menjelaskan bahwa kelayakan
finansial adalah untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memperoleh
pendapatan serta besarnya biaya yang dikeluarkan. Dari sini akan terlihat
pengembalian uang yang ditanamkan seberapa lama akan kembali.
Tujuan menganalisis kelayakan finansial, menurut Umar (2007: 178)
adalah untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan
manfaat yang diharapkan, dengan membandingkan antara pengeluaran dan
pendapatan, seperti ketersediaan dana, biaya modal, kemampuan proyek untuk
membayar kembali dana tersebut dalam waktu yang telah ditentukan dan menilai
apakah usaha akan dapat dikembangkan selanjutnya.
2.1.4.1.Investasi dan Reinvestasi
Menurut Suratman (2001:6) investasi adalah penggunaan sumber
keuangan atau usaha dalam waktu tertentu dari setiap orang yang menginginkan
keuntungan darinya. Salah satu konsep investasi adalah penganggaran modal,
sebab penganggaran modal merupakan konsep penggunaan dana di masa yang
akan datang yang diharapkan akan memperoleh keuntungan.

12

Investasi secara umum dapat diartikan sebagai penanaman seperti dalam


bidang ilmu (pendidikan, training), pembelian tanah, gedung, penanaman modal
dan sebagainya. Secara khusus dapat diartikan sebagai Penanaman Modal
seperti investasi tetap, modal kerja, surat-surat berharga dan saham. Sedangkan
penanaman modal kembali disebut reinvestasi (Z dan Rozalina, 2004:194).
2.1.4.2.Biaya
Biaya dalam suatu kegiatan usaha terdiri dari dua jenis, yaitu biaya
investasi dan biaya modal kerja. Biaya investasi adalah biaya yang diperlukan
dalam pembangunan proyek, terdiri dari pengadaan tanah, gedung, mesin,
peralatan, dan biaya lainnya yang berhubungan dengan pengembangan proyek.
Biaya modal kerja dalah biaya yang dikeluarkan untuk membiayai kegiatan usaha
setelah pembangunan proyek siap, terdiri dari biaya tetap (fixed cost) dan biaya
tidak tetap (variable cost) (Ibrahim, 2003:133).
Menurut Soekartawi (2006:56) biaya tetap umumnya didefinisikan sebagai
biaya yang relatif tetap jumlahnya, dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang
diperoleh banyak atau sedikit. Jadi besarnya biaya tetap ini tidak tergantung pada
besar kecilnya produksi yang diperoleh. Di sisi lain biaya tidak tetap atau biaya
variabel biasanya didefinisikan sebagai biaya yang besar kecilnya dipengaruhi
oleh produksi yang diperoleh.

13

2.1.4.3.Penerimaan dan Pendapatan


Soekartawi dkk (1986:76) menjelaskan bahwa penerimaan adalah nilai
uang yang diterima dari penjualan produk usahatani yang bisa berwujud tiga hal,
yaitu hasil penjualan produk yang akan dijual, hasil penjualan produk sampingan,
dan produk yang dikonsumsi rumah tangga selama melakukan kegiatan usahatani.
Menurut

Soekartawi (2006:57)

pendapatan

adalah selisih

antara

penerimaan dan semua biaya. Data pendapatan dapat digunakan sebagai ukuran
untuk melihat apakah suatu usaha menguntungkan atau merugikan. Berdasarkan
data pendapatan itu pula kita dapat melihat sampai seberapa besar keuntungan
atau kerugiaan usaha tersebut.
2.1.4.4.Break Even Point (BEP)
Soeharto (1999:13) menyatakan bahwa break even point adalah titik di
mana total biaya produksi sama dengan pendapatan. Titik impas menunjukkan
bahwa tingkat produksi telah menghasilkan pendapatan yang sama besarnya
dengan biaya produksi yang dikeluarkan. Dengan asumsi bahwa harga penjualan
per unit produksi adalah konstan maka jumlah unit pada titik impas.
Berdasarkan grafik pada Gambar 1 terlihat bahwa perusahaan dengan
biaya tetap yang tinggi harus memproduksi dan menjual lebih banyak produk
untuk sampai pada titik impas dibanding perusahaan dengan biaya tetap lebih
rendah (Soeharto, 1999:115).

14

y
Pendapan dan
biaya (juta rupiah)
180

Penerimaan penjualan

140

Titik impas

Daerah laba
Total biaya

100
Biaya tetap
80
Daerah
rugi
40

200

400

600
800
Volume penjulan

1000

Gambar 1. Grafik Break Even Point (Sumber: Soeharto, 1999:116)

2.1.4.5.Net Present Value (NPV)


Samryn (2002:241) menjelaskan net present value (NPV) atau nilai
sekarang merupakan hasil perhitungan yang menunjukkan kesetaraan pendapatan,
arus kas, atau penghematan biaya dari investasi yang diperkirakan akan diperoleh
pada masa yang akan datang dengan nilai investasi yang dilakukan saat ini,
berdasarkan pertimbangan perubahan daya beli uang atau nilai waktu uang.
Menurut metode NPV seluruh aliran kas bersih di-present value-kan atas
dasar faktor diskonto (discount factor = DF), hasilnya dibandingkan dengan
initial investment. Selisih antara keduanya merupakan NPV. Faktor diskonto
adalah suatu angka yang apabila dikalikan dengan arus kas bersih atau
penghematan biaya dari investasi akan menghasilkan angka yang setara dengan
15

nilai kas tersebut pada saat investasi, berdasarkan tingkat bunga modal yang
berlaku. Bunga modal biasanya dianggap sebagai rate of return minimal yang
harus dicapai dari suatu investasi (Samryn, 2002:240)
2.1.4.6.Internal Rate of Return (IRR)
Internal rate of return (IRR) adalah metode untuk menghitung tingkat
bunga yang menyamakan nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang
penerimaan-penerimaan kas bersih di masa-masa mendatang. Apabila tingkat
bunga ini lebih besar dari pada tingkat bunga relevan (tingkat keuntungan yang
disyaratkan), maka investasi dikatakan menguntungkan, kalau lebih kecil
dikatakan merugikan. IRR ini dapat dihitung dengan menemukan DF yang dapat
menjadikan NPV sama dengan nol (Husnan dan Suwarsono, 2000:210).

2.1.4.7.Profitability Indeks (PI)


Variasi lain dari kriteria NPV adalah profitability indeks, yang
menunjukkan kemampuan mendatangkan laba per satuan nilai investasi
(Soeharto, 1999:115). Menurut Husnan dan Suwarno (2000:211) Profitability
Indeks (PI) adalah metode yang membandingkan antara nilai sekarang
penerimaan-penerimaan kas bersih di masa datang dengan nilai sekarang
investasi. Apabila nilainya lebih besar dari satu maka proyek dikatakan
menguntungkan, tetapi jika kurang tidak menguntungkan.

16

2.1.4.8.Payback Period
Payback

period

adalah

jangka

waktu

yang

diperlukan

untuk

mengembalikan modal suatu investasi, dihitung dari aliran kas bersih (net). Aliran
kas bersih adalah selisih pendapatan terhadap pengeluaran per tahun. Periode
pengembaliaan biasanya dinyatakan dalam jangka waktu per tahun (Soeharto,
1999:134).

2.1.4.9.Analisis Sensitivitas
Gittinger (1986:250) menjelaskan analisis sensitivitas adalah analisis yang
dapat melihat pengaruh-pengaruh yang akan terjadi akibat keadaan yang
berubah-ubah. Analisis ini dapat melihat kembali kepekaan manfaat sekarang
netto, atau terhadap biaya-biaya operasional yang terus meningkat. Di bidang
pertanian, proyek-proyek sensitif berubah-ubah akibat empat masalah utama
diantaranya harga, keterlambatan pelaksanaan, kenaikan biaya dan hasil. Untuk
mengukur perubahan yang terjadi maka perlu diasumsikan bahwa perubahanperubahan yang terjadi itu hanya pada satu bagian saja, sedangkan yang lain
dianggap tetap (Sofyan, 2004: 117).
Analisis sensitivitas menentukan resiko investasi didasarkan pada
kemungkinan yang paling optimis sampai pada kemungkinan yang paling pesimis
(Suratman, 2001:137). Sehubungan dengan hal tersebut, maka dirasakan perlu
dilakukan analisis sensitivitas untuk menguji kelayakan usaha akibat adanya
perubahan-perubahan.

17

2.2.

Penelitian Terdahulu
Andriayani (2009), meneliti analisis kelayakan finansial usahatani cabai

dengan sistem irigasi tetes di PT. Agro 1973. Untuk menghitung kelayakan
finansial usahatani cabai dengan sistem irigasi tetes menggunakan kriteria
investasi berupa Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) dan
Payback Periode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerimaan total
usahatani per tahun sebesar Rp. 150.766.200,- /tahun dengan produksi total
29.561 kg/tahun maka diperoleh payback periode selama 1 tahun 8 bulan.
Berdasarkan hasil perhitungan NPV dengan discount rate 12% diperoleh NPV
sebesar Rp. 72.598.248.- dan nilai IRR sebesar 25,68 %. Dapat disimpulkan
bahwa usahatani cabai dengan sistem irigasi tetes di PT. Agro 1973 layak untuk
diusahakan lebih lanjut, karena NPV bernilai positif (lebih dari nol) dan IRR lebih
besar dari discount rate.
Dwikawara (2010), melakukan penelitian analisis kelayakan finansial
jambu biji melalui penerapan irigasi tetes di desa Ragajaya, Bogor. Pada
penelitian tersebut nilai Net Present Value (NPV) yang diperoleh petani
menggunakan irigasi tetes dengan penurunan output hingga 15 % pada tingkat
suku bunga disconto 11 % adalah lebih besar Rp. 358.838.843.- atau 165,72%
dibandingkan dengan nilai NPV pada kondisi yang sama dengan pengairan tadah
hujan. Begitu pula dengan Net B/C Rasio, pada irigasi tetes Net B/C Rasio lebih
besar 2,8 atau 62,22% dan IRR lebih besar 12,28 % dibandingkan usahatani
jambu biji dengan tadah hujan. Akibat dari pemanfaatan teknologi irigasi tetes
tersebut, waktu pengembalian investasi lebih cepat 1 tahun 9 bulan. Dapat
18

disimpulkan usahatani jambu biji dengan penerapan irigasi tetes ini cukup layak
untuk dijalankan usahanya.

2.3.

Kerangka Pemikiran

Penelitian dimulai dengan mengamati keadaan PT. MUS khususnya di


Wahana Melon. Penelitian dilanjutkan dengan mendeskripsikan kegiatan usaha,
seperti budidaya melon hidroponik, tenaga kerja, dan penjualan terkait dengan
pemasaran yang dilakukan perusahaan. Hal-hal tersebut perlu diketahui untuk
melihat sejauh mana kemampuan manajemen perusahaan dalam mengelola usaha
budidaya melon hidroponik. Untuk mengetahui apakah usaha tersebut layak atau
tidak dilakukan kajian pada segi finansial. Pertama akan dianalisis biaya-biaya
usaha yang dikeluarkan oleh perusahaan yang meliputi biaya tetap dan biaya
variabel. Kedua, dianalisis besarnya pendapatan yang diterima dari hasil
penjualan melon kemudian dianalisis Break Event Point (BEP) budidaya melon
hidroponik. Pada saat terjadi penurunan pendapatan perusahaan telah melakukan
reinvestasi solar tuff dan screen net. Biaya reinvestasi solar tuff dan screen net
tersebut menjadi landasan untuk menghitung penilaian kelayakan yaitu NPV,
IRR, Profitability Index, dan Payback Period. Untuk mengetahui sejauh mana
pengaruh yang terjadi atas perubahan harga di masa yang akan datang maka
dilakukan analisis sensitivitas. Variabel-variabel yang digunakan sebagai alat
analisis sensitivitas pada penelitian diantaranya adalah : (1) peningkatan harga
benih melon sebesar 9%; (2) peningkatan harga nutrisi sebesar 9%; (3)
peningkatan harga tenaga kerja sebesar 9%; (4) peningkatan harga benih melon,
19

nutrisi dan tenaga kerja sebesar 9%; (5) penurunan pendapatan sebesar 10%; (6)
peningkatan harga benih melon sebesar 9% dengan modal pinjaman 20%; (7)
peningkatan harga nutrisi sebesar 9% dengan modal pinjaman 20%; (8)
peningkatan upah tenaga kerja sebesar 9% dengan modal pinjaman 20%; (9)
peningkatan harga benih melon, nutrisi dan upah tenaga kerja sebesar 9% dengan
modal pinjaman 20%; (10) penurunan pendapatan sebesar 10% dengan modal
pinjaman 20%.
Hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan apabila usaha layak maka
usaha tersebut dapat terus dilaksanakan dan rekomendasi difokuskan pada
pengembangan perusahaan ke depan, sedangkan apabila usaha tersebut tidak
layak maka perusahaan tersebut harus mengadakan perbaikan dalam usaha dan
adanya pengefisienan terhadap biaya yang dikeluarkan dan perlu adanya
perbaikan dalam perusahaan. Untuk lebih jelas, maka alur kerangka pemikiran
dapat dilihat pada Gambar 2.

20

21

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1.

Lokasi dan Waktu Penelitian


Lokasi penelitian dilaksanakan di PT. Mekar Unggul Sari yang terletak di

Jalan Raya Jonggol KM 3, Cileungsi, Bogor. Waktu penelitian dilaksanakan pada


bulan Oktober 2010.

3.2.

Jenis dan Sumber Data


Jenis data yang digunakan adalah data kualitatif dan data kuantitatif.

Sumber data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan data primer dan
data sekunder. Data primer diperoleh dari data langsung perusahaan yang berupa
hasil pengamatan langsung dan wawancara dengan pimpinan Wahana Melon
PT. Mekar Unggul Sari dan karyawan dengan bantuan kuesioner yang telah
dipersiapkan. Data sekunder diperoleh dari laporan manajemen perusahaan dan
instansi yang terkait. Data sekunder juga diperoleh melalui proses membaca,
mempelajari, dan mengambil keterangan yang diperlukan dari buku-buku atau
majalah,

penelitian terdahulu,

serta sumber-sumber

berhubungan dengan masalah yang akan dibahas.

data

lainnya

yang

3.3.

Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data penelitian ini akan menggunakan dua metode, yaitu :


1. Pengamatan langsung
Pengamatan langsung dengan mengamati secara langsung objek penelitian
sehingga dapat diperoleh gambaran yang nyata tentang segala aktivitas
budidaya melon hidroponik dan keadaan wahana melon yang dikelola oleh
PT. MUS. Hasil pengamatan yang ada dijadikan pertanyaan untuk menyusun
daftar pertanyaan wawancara dalam rangka pengambilan data primer
(Lampiran 25).
2. Wawancara
Wawancara dengan melakukan tanya jawab secara langsung dengan pimpinan
wahana melon dan karyawan di bidang pengolahan yang memiliki informasi
yang diperlukan mengenai gambaran umum lokasi penelitian, biaya-biaya
produksi, teknik budidaya melon hidroponik, dan proses pemasaran.

3.4.

Metode Pengolahan Data dan Analisis Data

3.4.1. Analisis Kualitatif


Analisis kualitatif digunakan untuk mengetahui informasi mengenai
gambaran umum perusahaan, proses budidaya melon hidroponik, pemasaran hasil
melon hidroponik yang diterapkan pada PT. MUS, serta tenaga kerja yang
dipekerjakan.

23

3.4.2. Analisis Kuantitatif


Analisis kuantitatif mencakup pembahasan mengenai biaya-biaya usaha
meliputi biaya tetap, biaya variabel, hasil penjualan, dan biaya reinvestasi,
kemudian dilakukan analisis kelayakan finansial budidaya melon hidroponik di
PT. MUS untuk melihat layak atau tidak usaha budidaya melon hidroponik
melalui perhitungan BEP, NPV, IRR, profitability index (PI), Payback Period dan
Analisis sensitivitas. Data kuantitatif diolah secara manual dengan menggunakan
kalkulator dan komputer dengan program Microsoft Excel sebagai alat bantu
perhitungan data serta hasilnya disajikan dalam bentuk tabel.

3.4.2.1. Break Event Point (BEP)


Sutiyoso (2004: 93) menjelaskan bahwa Break Event Point (BEP)
merupakan titik impas karena pada titik tersebut usaha tidak memperoleh
keuntungan dan tidak pula rugi. Ada dua cara perhitungan BEP, yaitu BEP
produksi dan BEP harga.
BEP produksi =

Total Biaya____
Harga Rata-rata / kg

BEP harga

Total Biaya_
Total Produksi

24

3.4.2.3.Net Present Value (NPV)


Umar (2005 : 200) menjelaskan Net Present Value (NPV) merupakan
selisih antara Present Value dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaanpenerimaan kas bersih (aliran kas operasional maupun aliran kas terminal) di masa
yang akan datang . Rumus NPV adalah sebagai berikut:
n
CFt
NPV =
t=1 ( 1 + K)t

I0

dimana : CFt = aliran kas per tahun pada periode t


I0 = investasi awal pada tahun 0
K = suku bunga (discount rate)
Kriteria penilaian : - jika NPV > 0, maka usulan proyek diterima
- jika NPV < 0, maka usulan proyek ditolak
- jika NPV = 0, nilai perusahaan tetap waktu usulan
proyek diterima ataupun ditolak.

3.4.2.4.Internal Rate of Return (IRR)


Menurut Umar (2005 : 198) Metode ini digunakan untuk mencari tingkat
bunga yang menyamakan nilai sekarang dari arus kas yang diharapkan di masa
datang, atau penerimaan kas dengan pengeluaran investasi awal.
Rumus IRR adalah sebagai berikut:
n
CFt
I0 =
t=1 ( 1 + IRR )t

25

dimana : t
n
I0
CF
IRR

= tahun ke
= jumlah tahun
= nilai investasi awal
= arus kas bersih
= tingkat bunga yang dicari harganya

Kriteria penilaiannya adalah jika IRR yang didapat ternyata lebih besar
dari rate of return yang ditentukan maka investasi dapat diterima.

3.4.2.5.Profitability Index (PI)


Menurut Umar (2005 : 201) Pemakaian metode profitability index (PI) ini
caranya adalah dengan menghitung melalui perbandingan antara nilai sekarang
(present value) dari rencana penerimaan-penerimaan kas bersih di masa yang akan
datang dengan nilai sekarang (present value) dari investasi yang ditanamkan. Jadi,
profitability index dapat dihitung dengan membandingkan antara PV kas masuk
dengan PV kas keluar. Rumus PI adalah sebagai berikut:
PV kas masuk
PI =
PV kas keluar
Kriteria penilaiannya adalah:
1. Jika PI > 1, maka usulan proyek dikatakan menguntungkan.
2. Jika PI < 1, maka usulan proyek tidak menguntungkan.

3.4.2.6. Payback Period


Menurut Umar (2005 : 197) Payback period adalah suatu periode yang
diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi (initial cash investment)
dengan menggunakan aliran kas. Rumus PBP adalah sebagai berikut:
26

Nilai investasi
Payback Period =

x 1 tahun
Kas Masuk Bersih

Kriteria penilaiannya adalah jika payback period lebih pendek waktunya


dari maximum umur proyek-nya maka usulan investasi dapat diterima.

3.4.2.7. Analisis Sensitivitas


Analisis sensitivitas bertujuan untuk mengetahui seberapa peka kelayakan
usaha terhadap perubahan pada tiap-tiap bagian dari tahapan analisis usaha. Untuk
mengukur perubahan yang terjadi maka perlu diasumsikan bahwa perubahanperubahan yang terjadi itu hanya pada satu bagian saja, sedangkan yang lain
dianggap tetap (Sofyan, 2004: 117).
Penelitian ini akan diamati perubahan NPV, IRR, profitability index (PI),
dan Payback Period jika terjadi perubahan pada variabel-variabel alat analisis.
Variabel-variabel yang digunakan sebagai alat analisis sensitivitas pada penelitian
diantaranya adalah : (1) peningkatan harga benih melon sebesar 9%; (2)
peningkatan harga nutrisi sebesar 9%; (3) peningkatan upah tenaga kerja sebesar
9%; (4) peningkatan harga benih melon, nutrisi dan upah tenaga kerja sebesar 9%;
(5) penurunan pendapatan sebesar 10%; (6) peningkatan harga benih melon
sebesar 9% dengan modal pinjaman 20%; (7) peningkatan harga nutrisi sebesar
9% dengan modal pinjaman 20%; (8) peningkatan upah tenaga kerja sebesar 9%
dengan modal pinjaman 20%; (9) peningkatan harga benih melon, nutrisi dan
upah tenaga kerja sebesar 9% dengan modal pinjaman 20%; (10) penurunan
pendapatan sebesar 10% dengan modal pinjaman 20%.

27

Asumsi dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Biaya-biaya yang digunakan adalah biaya riil dari apa yang sebenarnya terjadi.
2. Initial Invesment berasal dari biaya yang dikeluarkan untuk reinvestasi.
3. Kegiatan produksi yang dilakukan merupakan kegiatan produksi yang
optimal, sehingga volume produksi setiap tahun meningkat dengan asumsi
hingga tahun ke-10 mencapai produksi optimal. Dengan asumsi bahwa selama
periode tersebut, tidak terjadi peristiwa yang tidak dapat diprediksi
sebelumnya seperti bencana alam.
4. Harga jual melon ditetapkan berdasarkan kebijakan perusahaan yaitu terjadi
kenaikan harga sebesar Rp. 1000 per 2 tahun.
5. Umur proyek diasumsikan selama 10 tahun (umur ekonomis rumah plastik
setelah dilakukan reinvestasi solar tuff dan screen net adalah 10 tahun)
6. Tingkat diskonto yang digunakan dalam analisis ini adalah sebesar 14%, yang
merupakan tingkat suku bunga rata-rata kredit investasi Bank Umum periode
2005-2009 (Lampiran 2).
7. Rata-rata inflasi nasional periode 2005-2009 sebesar 9% menjadi dasar
penentuan kenaikan harga biaya operasional (Lampiran 3).
8. Penurunan

pendapatan

sebesar

10%

didasarkan

pada

kemungkinan

menurunnya produktivitas melon pada tahun mendatang.


9. Sumber modal terdiri dari modal sendiri dan modal pinjaman dengan
pinjaman sebesar 20%.
10. Biaya angsuran tetap selama 10 tahun dan biaya bunga berdasarkan sisa
pinjaman setiap tahunnya (Lampiran 9).

28

3.5.

Definisi Operasional

1. Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tetap, tidak tergantung pada
perubahan tingkat kegiatan dalam menghasilkan keluaran atau produk di
dalam interval tertentu. Biaya dikatakan tetap dilihat dari besarnya jumlah
biaya bukan per unit.
2. Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan
perubahan tingkat produksi. Titik berat dari biaya variabel ini adalah jumlah
dari biaya variabel tersebut dan bukan besarnya biaya variabel per unit.
3. Biaya investasi adalah semua biaya yang dikeluarkan dan terpakai habis untuk
memulai usaha.
4. Biaya reinvestasi adalah semua biaya yang dikeluarkan untuk memperbaiki
kinerja perusahaan.
5. Total biaya adalah jumlah biaya yang dikeluarkan selama umur proyek
berlangsung.
6. Penyusutan adalah biaya yang secara periodik harus dikeluarkan sebagai
konsekuensi atas penurunan kinerja asset, mesin, atau alat akibat pemakaian.
7. Umur ekonomis adalah umur dari suatu asset yang berakhir secara ekonomi
penggunaan asset tersebut tidak menguntungkan lagi secara ekonomi,
walaupun secara teknis umur teknis asset tersebut masih dapat dipakai.
8. Umur teknis adalah umur asset yang berlaku secara teknis asset yang dipakai
tidak dapat dipergunakan lagi.
9. Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga yang naik secara umum dan
terus-menerus.
29

BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1.

Profil PT. Mekar Unggul Sari

PT. Mekar Unggul Sari adalah perusahaan yang mengelola Taman Wisata
Mekarsari. Taman Wisata Mekarsari didirikan atas inisiatif Yayasan Purna Bhakti
Pertiwi yang diketuai oleh Almarhumah Ibu Tien Soeharto. Taman Wisata
Mekarsari mulai beroprasi pada tanggal 14 Oktober 1995, dan diresmikan pada
tanggal 14 Oktober 1995 oleh presiden Soeharto.
Secara terinci tujuan pokok PT. MUS adalah untuk:
1. Menciptakan kebun hortikultura yang terdiri atas kebun buah, kebun sayur,
dan tanaman hias.
2. Memberikan alternatif obyek wisata baru bagi wisatawan asing maupun
domestik.
3. Taman rekreasi hortikultura yang kelak dapat dikembangkan menjadi pusat
studi hortikultura terutama bagi buah-buahan dan sayur-sayuran dataran
rendah.
4. Memanfaatkan potensi yang ada untuk pengembangan, penelitian, dan
produksi, baik melalui pembinaan maupun pemberdayaan para petani.
5. Menciptakan lapangan kerja baru di lingkungan kecamatan Cileungsi.
6. Memanfaatkan secara maksimum segenap potensi yang ada dengan azas
pertimbangan keselarasan lingkungan tetap terjaga.

PT. MUS dibangun di atas areal bekas perkebunan karet di wilayah


Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Luas areal
seluruhnya 266,4 Ha, menghampar di desa Mekarsari, Dayeuh, Mampir, dan
Cileungsi Kidul, berada pada ketinggian 70-80 meter di atas permukaan laut.
Proses pembangunan terdiri dari 3 tahapan, yaitu:
1. Tahap pertama pembangunan sarana penunjang, yaitu bangunan air terjun
(BAT), jalan, kebun, nursery, hidroponik, instalasi pipa air dan instalasi
listrik. Pengelolaan tahap ini diserahkan kepada PT. MUS yang diselesaikan
pada tanggal 1 Januari 1995.
2. Tahap kedua, meliputi pembangunan gedung pengelolaan atau Graja Krida
Sari (GKS), plaza, bursa bibit dan bursa tanaman (garden center), bursa
buah, shelter kereta, tempat ibadah dan peturasan. Pembangunan tahap kedua
ini diselesaikan sebelum peresmiannya yaitu pada tanggal 14 Oktober 1995.
3. Tahap ketiga, meliputi pembangunan laboratorium, gudang pasca panen,
kebun percobaan, instalasi pengelolaan limbah, dan rumah plastik
(greenhouse).

4.2.

Visi dan Misi

Visi yang diterapkan oleh PT. Mekar Unggul Sari adalah Agroturism
and Education / Consultan Service.
Visi yang ingin dicapai tersebut tertuang dalam misinya, yaitu :
Meningkatkan daya tarik wisata melalui diversifikasi produk (temati dan
penuh petualangan) dan mutu pelayanan wisata.
31

Menciptakan kebun hortikultura yang terdiri dari kebun buah-buahan,


sayuran, bunga-bungaan, dan tanaman hias yang berfungsi sebagai kebun
produksi, kebun koleksi juga sekaligus sebagai plasma nutfah.

4.3.

Letak dan Keadaan Geografis

PT. MUS terletak di Jalan Raya Cileungsi-Jonggol KM 3. Dibangun di


atas areal bekas perkebunan karet di wilayah Kecamatan Cileungsi, Kabupaten
Bogor, Propinsi Jawa Barat. Luas areal seluruhnya 266,4 Ha, menghampar di
desa Mekarsari, Dayeuh, Mampir, dan Cileungsi Kidul, berada pada ketinggian
70-80 meter di atas permukaan laut. Dengan letak geografis pada 060 35 LS dan
1060 52 BT. Curah hujan cukup besar berkisar 3000-4000 mm/th, suhu udara
harian 250 C -400 C.

4.4.

Struktur Organisasi

PT. MUS dipimpin oleh seorang Direktur Utama (Dirut). Dalam


menjalankan tugasnya Dirut diawasi oleh komisaris. Direktur utama dibantu oleh
seorang General Manajer (GM) yang bertugas untuk memimpin operasional
harian perusahan, bertanggung jawab atas jalannya roda perusahaan, memberikan
pertimbangan atas kinerja perusahaan, mengontrol dan mengevaluasi hasil
perencanaan perusahaan. GM dibantu oleh marketing dan PR, legal serta
sekretaris. GM juga dibantu oleh seorang penasehat atau disebut GM advisor. GM
membawahi 4 divisi yaitu divisi komersil, divisi operasional, divisi akuntansi dan

32

keuangan serta divisi riset dan development (Lampiran 23). Mekanisme kerja
masing-masing divisi adalah sebagai berikut :
1. Divisi Komersil
Divisi komersil membawahi 3 bagian pengembangan usaha di antaranya :
a. Bagian Pengembangan Usaha Agro (PUA) yang menangani urusan
penjualan bibit tanaman di bursa dan penjualan buah hasil panen kebun di
bursa buah termasuk penjualan ekstern.
b. Bagian Pengembangan Usaha Wisata (PUW) yang bertanggung jawab atas
pengembangan usaha Taman Wisata Mekarsari.
c. Bagian Pengembangan Usaha Khusus (PUK) yang bertanggung jawab
terhadap proyek-proyek khusus yang sedang dilaksanakan oleh perusahaan
seperti SPBU Taman Wisata Mekarsari.
2. Divisi Operasional
Divisi

Operasional

bertanggung

jawab

atas

kelancaran

operasional

perusahaan. Divisi ini membawahi 3 bagian, yaitu :


a. Bagian Sumber Daya Manusia dan Hubungan Industria (SDM & HI) yang
bertanggung jawab terhadap kinerja seluruh karyawan dan staf serta
dalam bidang recruitment karyawan baru, keamanan dan HI, kebijakan
dan administrasi personalia serta klinik yang ada di Taman Wisata
Mekarsari.
b. Bagian Sarana dan Perlengkapan yang berperan dalam bidang pengadaan
sarana dan prasarana yang dibutuhkan perusahaan.

33

c. Bagian Umum dan Pengadaan yang bertanggung jawab atas segala


kegiatan umum serta segala sarana dan prasarana kebutuhan perusahaan
seperti peralatan kantor, sarana produksi pertanian (saprotan) dan sarana
transportasi.
3. Divisi Akuntansi dan Keuangan
Divisi Akuntansi dan Keuangan berperan dalam manajemen keuangan
PT. MUS. Bagian akuntansi terbatas hanya pada proses pembukuan,
sedangkan bagian keuangan bertugas dan berwenang untuk mengeluarkan kas
perusahaan maupun penerimannya.
4. Divisi Riset dan Development (R&D)
Divisi Riset dan Development (R&D) bertanggung jawab terhadap kegiatan
penelitian, produksi dan pemeliharaan koleksi bibit tanaman. Dalam
menjalankan tugasnya kepala Divisi Riset dan Development (R&D) dibantu
oleh seorang staf ahli yang bertugas untuk mencari pengetahuan atau teknik
baru dan sedang berkembang saat ini khususnya dibidang budidaya buah
unggul yang selanjutnya akan dikembangkan ke bidang penelitian.
Divisi Riset dan Development (R&D) membawahi 3 bagian, yaitu :
a. Bagian Electrical Data Processing dan Information Center (EDP & Inf.
Center) yaitu bagian yang membawahi seksi data elektronik tugasnya
mengurusi data-data PT. MUS dengan komputerisasi dan seksi distribusi
informasi yang bertugas menyampaikan informasi PT. MUS ke
masyarakat maupun karyawan melalui internet.

34

b. Bagian Penelitian dan Diklat membawahi seksi pemuliaan, seksi kebun


induk, dan laboratorium, serta seksi diklat dan kerjasama.
c. Bagian Kebun dan Produksi membawahi pembibitan dan hidroponik,
kebun koleksi buah dan kebun komersial.

4.5.

Wahana Melon PT. Mekar Unggul Sari

4.5.1. Sarana Hidroponik


Luas areal wahana melon hidroponik seluas 3465 m2. Sarana yang ada
pada Wahana melon hidroponik di PT. MUS yaitu rumah plastik, sistem irigasi,
dan ruang nutrisi.
a. Rumah Plastik
PT. MUS memiliki 33 Unit rumah plastik, yaitu 24 unit untuk budidaya melon
secara tambulapot, 7 unit untuk budidaya melon secara hidroponik, 1 unit
untuk budidaya sayuran, dan 1 unit untuk pembibitan. Rumah plastik untuk
penanam budidaya melon secara hidroponik memiliki ukuran dengan panjang
40 m, lebar 6,5 m, dan tinggi 4 m. Sedangkan rumah plastik untuk pembibitan
memiliki ukuran dengan panjang 10 m, lebar 4,5 m, dan tinggi 2,5 m. Menurut
Robinson dalam Rosliani dan Sumarni (2005:15) pada umumnya untuk daerah
tropis seperti Indonesia, bagunan rumah plastik menggunkan plastik dan kasa.
Selain untuk mengurangi panas yang berlebihan, penggunaan bahan tersebut
juga fleksibel dan murah. Di PT. MUS tipe rumah plastik untuk budidaya
melon hidroponik adalah piggy back. Kerangka rumah plastik terbuat dari besi
galvanis yang memiliki ketahanan selama 20 tahun. Bahan atapnya
35

menggunakan solar tuff yang tahan lama. Dinding rumah plastik terbuat dari
lembaran kasa (screen) yang memiliki daya tahan 4-6 tahun. Ketinggian
dinding dibuat menutup 2/3 bagian disetiap sisinya agar sirkulasi udara lancar.
Dinding berupa lembaran kasa ini berfungsi untuk mencegah dan menetrasi
hama kedalam rumah plastik. Didalam rumah plastik terdapat 10 rak
penanaman yang terbagi menjadi 2 bagian. Rak ini terbuat dari besi dan kawat
dengan ketinggian 40 cm. lantai dasar diplester dengan semen dan pada bagian
bawah rak penanaman dibiarkan saja dengan adanya tanah yang berfungsi
untuk menyerap air yang terbuang saat penyiraman tanaman pada media diatas
rak penanaman sehingga tidak membanjiri lantai.
b. Sistem Irigasi
PT. MUS menggunakan sistem irigasi tetes (drip irrigation) untuk budidaya
melon hidroponik. Prinsip kerja irigasi tetes ini adalah mengalirkan larutan
nutrisi setetes demi tetes melalui emitter. Larutan nurisi dipompa kemudian
klep tangki dibuka agar dapat disalurkan melalui filter. Klep pengendali rumah
plastik sebelum memasuki pipa utama dibuka, larutan nutrisi kemudian
disalurkan melalui pipa distribusi utama. Pipa tersebut dihubungkan oleh
manifold. Saluran manifold ditutup dengan klep yang terdapat pada masingmasing instalasi irigasi setiap GH sehingga harus dibuka. Klep itulah yang
menjadi pengendali operasi sistem dalam rumah plastik. Manifold dihubungkan
dengan pipa literal, tempat emitter ditempatkan. Larutan nutrisi mengalir
melalui pipa lateral yang kemudian menetes melalui emitter yang mengairi

36

tanaman. Efisiensi irigasi tercapai apabila nutrisi telah menetes dari lubang
polibag.
c. Ruang Nutrisi
PT. MUS memiliki sebuah ruang nutrisi yang merupakan ruang kendali
penyiraman melon yang didalamnya terdapat 6 tangki nutrisi aplikasi 1000 L
yaitu 2 tangki vegetatif, 2 tangki generatif awal dan 2 tangki generatif akhir. 5
buah drum stok aplikasi 100 L yaitu drum vegetatif A, drum vegetatif B, drum
generatif A, drum generatif B, dan larutan stok bibit. 1 buah pompa yang
berfungsi untuk mengalirkan air dan larutan nutrisi ke tanaman. 1 buah filter
yang berfungsi untuk menyaring kotoran sehingga tidak menghambat jalannya
proses irigasi. Nutrisi melon yang digunakan PT. MUS adalah jenis pupuk
A&B Mix melon. Alasan menggunakan pupuk ini karena A&B Mix
mengandung unsur makro dan mikro yang diperlukan tanaman untuk
menghasilkan kualitas dan kuantitas produksi yang optimal. Masing-masing
stok dilarutkan menjadi 90 liter air yang dimasukkan dalam drum plastik 100 l
atau biasa dinamakan larutan stok. Untuk penggunaan penyiraman masih
diencerkan lagi pada tangki 1000 l atau dinamakan larutan jadi.

4.5.2. Teknik Budidaya Melon Hidroponik


Budidaya merupakan proses pengembangan suatu komoditas tanaman
untuk memperoleh hasil produk sesuai dengan yang diinginkan. Adapun
langkah-langkah budidaya melon hidroponik antara lain (Lampiran 22):

37

a. Pembibitan
Kegiatan ini dilaksanakan selama 14 hari. Kegiatan ini meliputi
penghitungan jumlah benih, perendaman benih, persiapan media semai,
persemaian, dan transplanting.
1.

Penghitungan jumlah benih


Penghitungan jumlah benih dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pada
setiap penanaman dalam GH. Setiap GH terdapat 324 polybag penanaman
buah yang berkapasitas 2 tanaman setiap polybagnya, sehingga setiap GH
setidaknya diperlukan 648 bibit melon yang diperoleh dari 700-750 benih
yang memiliki daya kecambah 80 % - 90 %.

2.

Perendaman benih
Benih direndam delam 1 liter air yang diberi zat pengatur tumbuh (ZPT). ZPT
yang digunakan adalah jenis raptor dengan konsentrasi 2 ml/l. Benih
direndam selama 12 jam.

3.

Persiapan media semai


Media yang digunakan untuk media semai adalah arang sekam dan cocofeat
dengan perbandingan 2 : 1. Alasan menggunakan media semai ini karena
media semai ini poros dan remah sehingga hipokotil akan mudah keluar dan
mempercepat waktu perkecambahan.

4. Persemaian
Penyemaian dilakukan dengan penanaman benih pada media semai.

38

5. Transplanting
Transplanting adalah pemindahan bibit dari media semai ke media tumbuh.
Media tumbuh yang digunakan adalah rockwool. Rockwool yang digunakan
berbentuk kubus dengan ukuran 4x4x4 cm yang kemudian diletakkan
kedalam tray. Tujuan transplanting adalah untuk meminimalisir kerusakan
pada saat penanaman di media arang sekam.
b. Pratanam
Kegiatan ini dilaksanakan selama 14 hari. Kegiatan ini meliputi sanitasi
rumah plastik, sterilisasi rumah plastik dan persiapan medaia tanam.
1.

Sanitasi rumah plastik


Sanitasi rumah plastik dilakukan untuk menghilangkan gulma dan rumput.

2.

Sterilisasi rumah plastik


Sterilisasi dilakukan dengan cara penyemprotan campuran dithane M-45 dan
Curacron yang dilarutkan dalam 60 l air dengan dosis 2 ml/L.

3.

Persiapan media tanam


Media yang digunakan untuk budidaya melon hidroponik di PT. MUS adalah
arang sekam.

c. Penanaman
Penanaman dilakukan pada bibit yang telah berumur 10-14 hari yang
biasanya sudah memiliki jumlah daun 3-4 helai daun.
d. Pemeliharaan tanaman
Kegiatan

pemeliharaan

tanaman

melon

harus

dilakukan

secara

berkesinambungan dan hati-hati. Pemeliharaan tanaman melon meliputi

39

penyiraman larutan nutrisi, pelilitan, pewiwilan, pemangkasan, penyerbukan,


seleki buah, topping, dan pengendalian hama penyakit tanaman (HPT).
1.

Penyiraman nutrisi
Nutrisi yang telah dibuat terlebih dahulu diukur EC dan PH dengan EC meter
dan PH meter, sebelum dilakukan penyiraman. Penyiraman nutrisi melon
dilakukan setiap 1 jam sekali dengan volume air yang diperlukan sesuai
dengan usia pertumbuhan melon tersebut. Adapun pedoman volume
penyiraman nutrisi melon adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Pedoman Penyiraman
Umur Tanaman
1 14 hari
15 21 hari
22 30 hari
31 37 hari
38 60 hari
61 70 hari
71 75 hari

Volume Nutrisi
100 ml
200 ml
300 ml
350 ml
400 ml
350 ml
200 ml

Sumber : PT. Mekar Unggul Sari

2.

Pelilitan
Pelilitan dilakukan pada tanaman melon setelah berumur 6 hari setelah
tanam. Pelilitan berfungsi untuk memberi sokongan pada tanaman agar dapat
tumbuh tegak.

3.

Pewiwilan
Pewiwilan pada tanaman melon merupakan kegiatan pembuangan tunas air
dan calon bunga serta sulur yang tidak diinginkan. Fungsi pewiwilan ini
adalah untuk mengarahkan penyaluran asimilat ke pertumbuhan tertentu yang
diinginkan. Pewiwilan dapat dilakukan seminggu setelah tanam pada semua

40

tunas-tunas yang tumbuh di ketiak daun pada ruas ke-1 sampai ke-11. Tunas
yang tumbuh pada ruas ke 12-14 dipelihara untuk dibuahkan.
4.

Penyerbukan
Penyerbukan dilakukan setelah pemeliharaan tunas ke 14 16, setelah
tanaman berbunga kira-kira sudah berusia 21 hari setelah tanam. Penyerbukan
dilakukan secara buatan yaitu dengan mengambil bunga jantan yang berada
diketiak daun, kemudian mahkota bunga jantan dibuang lalu putar bunga
jantan tersebut sampai sebuk sari menempel keputik bakal buah bunga betina.

5.

Pemangkasan
Pemangkasan dilakukan setelah tanaman melon berusia 30 40 hari,
pemangkasan ini dimulai dari bagian bawah tanaman melon, daun melon yang
dipangkas hanya 3 4 helai daun saja..

6.

Seleksi buah
Seleksi buah dilakukan ketika buah berukuran sebesar telur ayam, karena
untuk budidaya melon hidroponik di PT. MUS dalam satu tanaman hanya
satu buah yang dipertahankan agar nutrisinya tidak terserap pada buah lain.
Seleksi buah ini dilakukan untuk memproduksi buah yang baik pada setiap
tanaman.

7.

Topping
Topping

adalah

penghentian

pertumbuhan

vegetatif

dengan

cara

pemangkasan pucuk pada tanaman melon. Topping dilakukan agar nutrisi


terserap pada buah pertama sehingga dapat mempercepat pertumbuhan buah.

41

8.

Pengendalian hama penyakit tanaman (HPT)


Pengendalian hama penyakit dilakukan dengan melakukan penyemprotan
insektida dan fungisida setiap dua minggu sekali. Penyemprotan dihentikan
saat tanaman berumur 2 minggu sebelum panen. Hama yang menyerang
tanaman melon dalam rumah plastik pada umumnya masuk melalui bagian
atas rumah plastik yang terbuka. Hama yang sering muncul pada budidaya
melon di PT. MUS adalah ulat daun dan thrip, sedangkan penyakit yang
menyerang adalah embun tepung.
a.

Ulat daun (Palpita sp)


Ulat ini menyerang daun pada bagian atas. Pestisida yang digunakan
adalah regent.

b.

Thrip (Frakliniella sp)


Pengendaliannnya adalah penyemprotan insektisida regent, abuki 50 SL,
agrimec 18 EC dengan dosis 1-2 ml/l.

c.

Embun Tepung (Powdery mildew)


Pengendaliaannya adalah dengan penyemprotan fungisida belkute 40
WP, nimrot 250 EC dengan dosis 2-3 ml/l.

e. Panen
Panen merupakan tahap akhir dari proses budidaya melon hidroponik pada
PT. MUS. Buah melon dapat dipanen pada umur 60-75 hari setelah tanam
ditandai dengan mengeringnya 2 helai daun diatas buah melon tersebut. Proses
pemanenan buah melon dilakukan dengan memilih buah yang benar-benar sudah
mengalami masak fisiologis dan pemetikkan dilakukan menggunakan gunting

42

panen. Pemetikan dilakukan pada tangkai buah paling tidak sepanjang 3 cm dari
pangkal buah. Hal ini bertujuan untuk menambah masa simpan buah dari
kerusakan mikrobiologis baik dari bakteri maupun virus.
Proses pemanenan difokuskan untuk pemenuhan wisata petik pengunjung,
sehingga panen dilakukan setiap hari. Pengunjung secara langsung dapat memilih
buah yang diinginkan dan sekaligus merasakan panen melon dengan tangan
sendiri. Pemetikan oleh pengunjung turut diawasi oleh karyawan sekaligus
diberikan penjelasan kepada pengunjung bagaimana cara panen buah melon yang
baik dan menjelaskan tentang budidaya melon itu sendiri. Panen yang dilakukan
pengunjung tidak dibatasi, sehingga pengunjung dapat melakukan panen sesuai
dengan konsumsi pengunjung.

4.5.3. Pemasaran
Buah melon yang dibudidayakan di PT. MUS ditujukan untuk komersial
sebagai sarana petik buah di wahana melon Taman Wisata Mekarsari dan
pemenuhan konsumsi pengunjung. Oleh karena itu, PT. MUS melakukan produksi
melon secara berkesinambungan. Pangsa pasar yang dapat diserap oleh pengelola
yaitu pengunjung Taman Wisata Mekarsari. Khususnya pengunjung greenland
dan pengunjung reguler.

43

4.5.4. Tenaga Kerja


Jumlah karyawan pada wahana melon seluruhnya sebanyak empat orang
yang merupakan tenaga kerja kontrak per satu tahun, setiap habis kontrak
perusahaan memberikan waktu jeda maksimal satu bulan, kemudian diperpanjang
kembali. Rata-rata tingkat pendidikan SMU dan SMP. Jam kerja karyawan yaitu
dari jam 08.00 -16.00 WIB. Tenaga kerja diberi kesempatan libur 1 hari dalam
seminggu secara bergiliran. Gaji dan upah adalah salah satu faktor pendukung
yang dapat memicu karyawan dan juga sebagai penunjang kesejahteraan
karyawan, karena itu penentuan besarnya gaji menjadi hal yang penting untuk
diperhatikan dan merupakan salah satu standarisasi operasional manajemen
perusahaan. Penentuan gaji didasarkan atas sistem gaji yang berlaku diperusahaan.
Perusahaan hanya memberikan gaji perbulan, tidak ada uang lembur, insentif dan
tunjangan lainnya.

44

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis kelayakan finansial budidaya melon hidroponik merupakan suatu


analisis yang didasarkan pada harga-harga riil dari apa yang sebenarnya terjadi di
PT. MUS. Hal yang akan dianalisis adalah biaya dari kegiatan budidaya melon
hidroponik. Selain itu, analisis finansial juga akan memberikan gambaran penilaian
kinerja perusahaan serta prospek usaha di masa akan datang. Analisis finansial akan
memberikan informasi sejauh mana posisi budidaya melon hidroponik di PT. MUS
terhadap perubahan-perubahan biaya dan pendapatan yang terjadi.

5.1.

Struktur Biaya

Biaya-biaya yang dikeluarkan pada usaha budidaya melon hidroponik


PT. MUS terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Dalam menghitung analisa
BEP budidaya melon hidroponik di PT. MUS menggunakan analisa pendapatan
pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2010, berdasarkan data yang diterima dari
PT. MUS. Untuk menghitung analisis kelayakan finansial (NPV, IRR, PI, dan
Payback Period) menggunakan Cash flow perhitungan selama 10 tahun yaitu dari
tahun 2010 sampai dengan 2019 yang didasarkan pada umur ekonomis rumah
plastik (greenhouse) setelah dilakukannya reinvestasi.

5.1.1. Biaya tetap

Biaya tetap adalah biaya yang nilainya tidak berubah dan tidak dipengaruhi
oleh volume produksi. Pada usaha budidaya melon hidroponik PT. MUS, biaya
tetap meliputi sewa lahan, penyusutan sarana hidroponik, dan penyusutan peralatan.
Biaya tetap yang harus dikeluarkan oleh PT. MUS sebesar Rp 8.803.833,-. Rincian
biaya tetap terdapat pada Tabel 2 berikut ini.
Tabel 2. Biaya Tetap Budidaya Melon Hidroponik PT. MUS per Tahun
No.
1
2
3
4
5

Komponen
Sewa lahan 3465m2
Rumah plastik
Penyusutan sarana
Penyusutan peralatan
Perlengkapan
Total Biaya Tetap

Jumlah (Rp)
2,600,000
3,500,000
2,333,333
250,500
120,000
8,803,833

Persentase (%)
29.53
39.76
26.50
2.85
1.36
100

Sumber: Data Primer, diolah 2011

Tabel 2 diatas menunjukkan bahwa biaya yang harus dikeluarkan untuk


sewa lahan dengan luas 3465m2 sebesar Rp. 2.600.000 per tahun. Perhitungan biaya
sewa lahan dapat dilihat pada Lampiran 4. Rumah plastik Rp. 3.500.000 per tahun.
Biaya penyusutan sarana hidroponik yang meliputi rumah plastik pembibitan,
sistem irigasi tetes, dan ruang nutrisi sebesar Rp. 2.333.333 per tahun (Lampiran 5).
Alat-alat yang digunakan meliputi handspayer, EC meter, PH meter,

tangga

dorong, selang air, keranjang panen, drum plastik 100 L, timbangan duduk, tray
pembibitan, dan bak semai. Penyusutan peralatan sebesar Rp. 250.500 per tahun.
Biaya perlengkapan yang harus disediakan setiap tahunnya Rp. 120.000.

46

Budidaya melon hidroponik membutuhkan sebuah naungan atau rumah


plastik (GH) untuk kegiatan budidayanya, sehingga membutuhkan suatu investasi
yang cukup besar mencapai 39,76%.

5.1.2. Biaya variabel


Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya berubah dan berhubungan
langsung dengan produksi melon hidroponik yang dijalankan PT.MUS, oleh karena
itu setiap tahunnya biaya variebel selalu berubah. Komponen biaya variabel
tersebut terdiri dari biaya benih melon, polibag, media tanam, nutrisi, pestisida,
listrik dan air, tenaga kerja, dan biaya tak terduga (Lampiran 6).
Tabel 3. Biaya Variabel Budidaya Melon Hidroponik PT. MUS
No.

Komponen

Benih Melon

Polibag

Media Tanam

Nutrisi

Pestisida
Total biaya /produksi
Periode Produksi
Total biaya /tahun

Listrik dan Air

Tenaga Kerja

Biaya tak terduga


Total Biaya Variabel

2005
Jumlah
(Rp)

2006
Jumlah
(Rp)

2007
Jumlah
(Rp)

2008
Jumlah
(Rp)

2009
Jumlah
(Rp)

2010
Jumlah
(Rp)

500,000

500,000

500,000

550,000

600,000

650,000

176,000

176,000

176,000

203,500

220,000

275,000

329,500

329,500

329,500

358,000

378,000

398,500

543,040

543,040

600,040

652,540

707,545

707,545

59,953

61,078

63,758

63,788

68,230

78,625

1,608,493
20

1,609,618
20

1,669,298
20

1,827,828
15

1,973,775
23

2,109,670
23

32,169,860

32,192,360

33,385,960

27,417,420

45,396,825

48,522,410

1,080,000

1,140,000

1,200,000

1,260,000

1,380,000

1,500,000

31,200,000

33,600,000

36,000,000

38,400,000

40,800,000

43,200,000

6,444,986

6,693,236

7,058,596

6,707,742

8,757,683

9,322,241

70,894,846

73,625,596

77,644,556

73,785,162

96,334,508

102,544,651

Sumber: Data Primer, diolah 2011

47

Berdasarkan Tabel 3, total biaya variabel budidaya melon hidroponik pada


tahun 2005 Rp. 70.897.846, tahun 2006 Rp. 73.625.596, tahun 2007 Rp.
77.644.556 dengan 20 kali panen yang dilakukan dari 7 GH. Tahun 2008 Rp.
73.785.162 dengan 15 kali panen yang dilakukan dari 7 GH. Tahun 2009
perusahaan melakukan evaluasi manajemen produksi, sehingga produksi lebih
dioptimalkan dengan menambah masa panen menjadi 23 kali panen. Total biaya
variabel yang dikeluarkan pada tahun 2009 sebesar Rp. 96.334.508 dan pada tahun
2010
a.

Rp. 102.544.651.

Benih melon
Benih melon yang digunakan oleh PT. MUS terdiri dari beberapa varietas yang
tergolong langka dipasaran yaitu Golden Langkawi, Glamour, Apollo dan
Honey Globe. Harga untuk setiap varietas relatif sama.

b.

Polibag
Penggunaan polibag dilakukan saat proses penanaman dan digunakan hanya
untuk satu kali tanam. 1 unit rumah plastik penanaman dibutuhkan 324
polibag, setiap 1 kg berisi 30 lembar polibag, sehingga untuk 1 unit rumah
plastik penanaman membutuhkan 11 kg polibag.

c.

Media tanam
Media tanam yang digunakan oleh PT.MUS terdiri dari campuran cocofeat dan
arang sekam serta rockwool pada saat pembibitan, dan arang sekam pada saat
penanaman. Satu periode produksi membutuhkan 3 batang rockwool, 2 kg
cocofeat, dan 40 karung arang sekam.

48

d.

Nutrisi
Nutrisi yang digunakan adalah A&B Mix Melon, KNO3, dan HNO3. setiap
satu periode produksi membutuhkan 1 set A&B Mix Melon, 1 kg KNO3, dan 5
ltr HNO3. Raptor digunakan sebagai nutrisi benih pada saat proses penyemaian,
sehingga hanya membutuhkan 2 ml. Kebutuhan nutrisi dan biaya dapat dilihat
pada Lampiran 6.

e.

Pestisida
Pestisida yang biasa digunakan adalah provikur N sebanyak 10 ml yang
dicampurkan dengan 500 ml air yang digunakan pada saat transplanting.
Furadan sebanyak 650 gr untuk 1 unit rumah plastik penanaman dengan dosis
2 gr/polibag digunakan pada saat persiapan penanaman. Curacron, dethane,
agrimec, belkute, regent, nimrot, dan abuki digunakan pada saat proses
pemeliharaan tanaman jika terlihat hama yang menyerang pada tanaman.
Penggunaan pestisida tersebut sesuai dengan hama dan penyakit yang
menyerang tanaman.

f.

Listrik dan air


Listrik menggunakan daya sebesar 900 watt untuk penggunaan 7 unit GH,
digunakan untuk penerangan, penggunaan mesin air dan sistem irigasi untuk
penyiraman.

g.

Tenaga kerja
Tenaga kerja yang dipekerjakan untuk wahana melon hidroponik sebanyak 4
orang. 3 orang sebagai penanggung jawab rumah plastik penanaman dan 1
orang untuk penaggung jawab rumah plastik pembibitan dan nutrisi. Setiap

49

penanggung jawab rumah plastik penanaman bertanggung jawab mulai dari


sanitasi rumah plastik, persiapan pratanam, penanaman, pemeliharaan tanaman,
sampai dengan panen. Penanggung jawab pembibitan bertanggung jawab
penuh atas ruang nutrisi, mulai dari penyiraman nutrisi, penyemaian,
transplanting, sampai pembibitan. Kebijakan perusahaan dalam menaikkan
gaji karyawan adalah setiap tahun menaikkan gaji sebesar Rp. 50.000.
h.

Biaya tak terduga


Biaya ini digunakan untuk pengeluaran yang tidak terduga seperti pembelian
sabun untuk pencucian wadah, perawatan mesin dan rumah plastik, dan
sebagainya. Jumlah biaya tak terduga sebesar 10 % dari total biaya variabel.

5.1.3. Total biaya


Total biaya merupakan penjumlahan seluruh komponen biaya, baik biaya
tetap maupun biaya variabel. Total biaya usaha budidaya melon hidroponik
PT. MUS dapat dilihat pada Tabel 4 berikut ini.
Tabel 4. Total Biaya Usaha Budidaya Melon Hidroponik PT. MUS

No.

Komponen

2005
Jumlah
(Rp)

2006
Jumlah
(Rp)

2007
Jumlah
(Rp)

2008
Jumlah
(Rp)

2009
Jumlah
(Rp)

2010
Jumlah
(Rp)

Biaya tetap

8,803,833

8,803,833

8,803,833

8,803,833

8,803,833

8,803,833

Biaya variabel

70,894,846

73,625,596

77,644,556

73,785,162

96,334,508

102,544,651

Total Biaya

79,698,679

82,429,429

86,448,389

82,588,995

105,138,341

111,348,484

Sumber: Data Primer, diolah 2010.

50

Pada Tabel 4 terlihat bahwa total biaya budidaya melon hidroponik


PT. MUS pada tahun 2005 Rp. 79.698.679, tahun 2006 Rp. 82.429.429, tahun 2007
Rp. 86.448.389, tahun 2008 Rp. 82.588.995, tahun 2009 sebesar Rp. 105.138.341
dan pada tahun 2010 .Rp. 111.348,484. Proporsi biaya variabel lebih besar
dibandingkan biaya tetap, hal ini dikarenakan usaha budidaya melon hidroponik
membutuhkan pemeliharaan dan perawatan yang teratur selama proses budidaya.

5.2.

Penerimaan dan Pendapatan Budidaya Melon Hidroponik


Penerimaan budidaya melon hidroponik diperoleh dari jumlah produksi

melon yang terjual ke konsumen (volume penjualan) dalam satu tahun dikalikan
dengan harga jual yang sudah ditentukan oleh perusahaan. Penetapan harga
ditentukan oleh perusahaan dengan kebijakan mengalami kenaikkan Rp. 1.000 per
2 tahun. Harga jual melon PT. MUS relatif lebih tinggi dari harga jual melon
dipasaran dengan varietas yang sama, hal ini terjadi karena harga yang ditentukan
oleh perusahaan sudah memiliki nilai edukasi dan pariwisata.
Pendapatan budidaya melon hidroponik diperoleh dari selisih antara
penerimaan dengan total biaya. Analisa pendapatan dapat dilihat pada Lampiran 7.
Perhitungan penerimaan dan pendapatan budidaya melon hidroponik PT. MUS
dapat dilihat pada Tabel 5.

51

Tabel 5. Penerimaan dan Pendapatan Budidaya Melon Hidroponik PT. MUS

Tahun

Volume
Penjualan
(kg)

Harga Jual
(Rp)

Penerimaan Total Biaya Pendapatan


(Rp)
(Rp)
(Rp)

2005

11473

9,000

103,257,000

79,698,679

23,558,321

2006

11653

9,000

104,877,000

82,429,429

22,447,571

2007

10842

10,000

108,420,000

86,448,389

21,971,611

2008

7247

10,000

72,470,000

82,588,995

(10,118,995)

2009

10525

11,000

115,775,000

105,138,341

10,636,659

2010

12673

11,000

139,403,000

111,348,484

28,054,516

Sumber: Data Primer, diolah 2010.

5.3.

Analisis Break Event Point (BEP)

Analisis Break Event Point (BEP) merupakan suatu keadaan yang


berhubungan dengan produk, dimana pada kondisi ini perusahaan tidak
memperoleh laba dan tidak menderita kerugian atau tingkat keuntungan usaha ini
sama dengan nol. BEP terjadi ketika jumlah penerimaan penjualan sama besar
dengan jumlah biaya yang dikeluarkan. Perhitungan BEP usaha ini ditinjau
berdasarkan harga jual dan volume produksi per tahun dalam satu unit rumah
plastik. Analisis BEP budidaya melon hidroponik dapat dilihat pada Tabel 6.

52

Tabel 6. Hasil Analisis BEP Budidaya Melon Hidroponik PT. MUS


No.
A

Uraian
Penjualan Melon
Harga Jual
Total Penerimaan

2006

2007

2008

2009

2010

11,473

11,653

10842

7,247

10,525

12,673

9,000

9,000

10,000

10,000

11,000

11,000

103,257,000

104,877,000

108,420,000

72,470,000

115,775,000

139,403,000

2,600,000

2,600,000

2,600,000

2,600,000

2,600,000

2,600,000

3,500,000

3,500,000

3,500,000

3,500,000

3,500,000

3,500,000

2,333,333

2,333,333

2,333,333

2,333,333

2,333,333

2,333,333

250,500

250,500

250,500

250,500

250,500

250,500

BIAYA
1

Biaya Tetap
Sewa lahan
Sewa rumah plastik
penanaman
Penyusutan sarana
hidroponik
Penyusutan peralatan
Peralatan
Total Biaya Tetap

120,000

120,000

120,000

120,000

120,000

120,000

8,803,833

8,803,833

8,803,833

8,803,833

8,803,833

8,803,833

Biaya Variabel
Benih melon

10,000,000

10,000,000

10,000,000

8,250,000

13,800,000

14,950,000

Polibag

3,520,000

3,520,000

3,520,000

3,052,500

5,060,000

6,325,000

Media tanam

6,590,000

6,590,000

6,590,000

5,370,000

8,694,000

9,165,500

Nutrisi

10,860,800

10,860,800

12,000,800

9,788,100

16,273,535

16,273,535

Pestisida

1,199,060

1,221,560

1,275,160

956,820

1,569,290

1,808,375

Listrik dan air

1,080,000

1,140,000

1,200,000

1,260,000

1,380,000

1,500,000

Tenaga kerja

31,200,000

33,600,000

36,000,000

38,400,000

40,800,000

43,200,000

6,444,986

6,693,236

7,058,596

6,707,742

8,757,683

9,322,241

Total Biaya Variabel

70,894,846

73,625,596

77,644,556

73,785,162

96,334,508

102,544,651

TOTAL BIAYA

79,698,679

82,429,429

86,448,389

82,588,995

105,138,341

111,348,484

KEUNTUNGAN (A-B)

Biaya tak terduga

2005

PENERIMAAN

23,558,321

22,447,571

21,971,611

-10,118,995

10,636,660

28,054,516

BEP produksi

8,855

9,159

8,645

8,259

9,558

10,123

BEP harga

6,947

7,074

7,973

11,396

9,989

8,786

79,698,679

82,429,429

86,448,389

82,588,995

105,138,341

111,348,484

BEP penerimaan

Sumber: Data Primer, diolah 2011.

Berdasarkan hasil analisis Break Event Point dapat dilihat pada tahun 2005
usaha ini mengalami pulang pokok pada saat volume produksi penjualan buah
melon mencapai 8.855 kg/tahun dengan pendapatan sebesar total biaya yaitu
Rp. 79,698,679 per tahun, dan BEP harga jual buah melon sebesar Rp. 6,947 per
kg. Tahun 2006 usaha ini akan mengalami BEP produksi penjualan buah melon
senilai 9,159 kg/tahun, dengan harga jual buah melon sebesar Rp. 7,074 per kg dan
pendapatan sebesar total biaya yaitu Rp. 82,429,429 per tahun. Tahun 2007
53

budidaya melon hidroponik PT. MUS mengalami BEP produksi penjualan buah
melon senilai 8,645 kg/tahun, dengan harga jual buah melon sebesar Rp. 7,973 per
kg dan pendapatan sebesar total biaya yaitu Rp. 86,448,389 per tahun. Tahun 2008
budidaya melon hidroponik PT. MUS mengalami BEP produksi penjualan buah
melon senilai 8,259 kg/tahun, dengan harga jual buah melon sebesar Rp. 11,396
per kg dan pendapatan sebesar total biaya yaitu Rp. 82,588,995 per tahun,
sedangkan volume produksi penjualan hanya mencapai 7,247 kg/tahun dan harga
jual Rp. 10.000/kg, oleh karena itu perusahaan mengalami kerugian mencapai
Rp. 10,118,995. Dengan kerugian yang terjadi pada tahun 2008 tersebut perusahaan
melakukan perbaikan usaha dengan melakukan reinvestasi pada greenhouse (GH)
yang dilakukan pada akhir tahun 2009, karena perusahaan menilai bahwa penyebab
utama terjadinya penurunan produksi adalah banyaknya penyakit yang ditimbulkan
oleh cendawan dan

kurang optimalnya konstruksi GH. Dimana screen net GH

sudah banyak yang rusak, atap GH yang terbuat dari solar tuff yang menipis karena
sudah terlalu lama digunakan dan sering di sikat pada saat proses sanitasi GH.
Tahun 2009 perusahaan melakukan perbaikan dalam pengaturan jadwal tanam
dimana setiap tahunnya dapat melakukan minimal 21 kali masa panen, sehingga
mengalami BEP produksi penjualan buah melon 9,558 kg/tahun, dengan harga jual
buah melon sebesar Rp. 9,989 per kg dan pendapatan sebesar total biaya yaitu
Rp. 105,138,341 per tahun. Pasca dilakukannya perbaikkan seluruh GH, pada akhir
tahun 2010 terjadi peningkatan pendapatan lebih dari 2 kali lipat pada tahun
sebelumnya dan mengalami BEP produksi penjualan buah melon 10,123 kg/tahun,

54

dengan harga jual buah melon sebesar Rp. 8,786 per kg dan pendapatan sebesar
total biaya yaitu Rp. 111,348,484 per tahun

5.4.

Biaya Reinvestasi

Reinvestasi merupakan usaha perusahaan untuk mengoptimalisasikan fungsi


GH sehingga terjadi peningkatan produksi yang optimal. Reinvestasi ini
membutuhkan biaya yang sangat besar karena mengganti seluruh solar tuff dan
screen net GH. Biaya reinvestasi dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Biaya Reinvestasi Perbaikan GH Budidaya Melon Hidroponik PT. MUS


Komponen
Screen net
(1 x 50 m)
Solar tuff 12%
(2,4x0,8m)
Biaya Pemasangan
Total Biaya per 1 GH
Total Biaya per 7 GH

Kebutuhan Harga satuan (Rp)


3 roll
147 lembar
Borongan

Total harga (Rp)

375.000

1.125.000

145.000
2.000.000

21.315.000
2.000.000
24.440.000
171.080.000

Sumber: Data Primer, diolah 2011.

Tabel 7 diatas dapat menunjukkan bahwa biaya reinvestasi solar tuff dan
screen net yang harus dikeluarkan oleh perusahaan sebesar Rp. 171,080,000 yang
digunakan untuk biaya screen net (1 x 50 m) sebesar Rp. 7,875,000 (7 unit GH),
biaya solar tuff 12% sebesar Rp. 149,205,000 (7 unit GH), dan Biaya pemasangan
dengan sistem pembayaran borongan untuk perbaikan 7 unit GH sebesar
Rp. 14.000.000.

55

5.5.

Analisis Kelayakan Finansial

Hasil perhitungan kelayakan finansial yang meliputi NPV, IRR, PI, Net B/C
rasio dan Payback Period dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Hasil Analisis Kelayakan Finansial Budidaya Melon Hidroponik 100%


Modal PT.MUS (Discount Factor 14%)
No.
1
2
3
4.

Alat Analisis
NPV
IRR
PI
Payback Period

Hasil Analisis
Kriteria
58.678.244
>0
22,8%
>14 %
1,34
>1,00
6 Tahun 11 bulan

Keterangan
Layak
Layak
Layak

Sumber: Data Primer, diolah 2011.

Hasil analisis kelayakan finansial pada Tabel 14 dapat diketahui bahwa


budidaya melon hidroponik di PT. MUS memiliki NPV sebesar Rp. 58.678.244
yang berarti usaha ini akan menerima keuntungan sebesar Rp. 58.678.244 selama
10 tahun menurut nilai waktu sekarang. Menurut kriteria NPV, maka budidaya
melon hidroponik sebesar Rp. 58.678.244 dinyatakan layak untuk dilaksanakan.
IRR sebesar 22,8% yang berarti lebih besar dibandingkan tingkat suku bunga Bank
(14 %). Usaha ini layak dilaksanakan apabila dananya disimpan di Bank, karena
memiliki return yang lebih tinggi. Nilai PI sebesar 1,34 yang berarti bahwa setiap
Rp. 1,- biaya yang dikeluarkan akan memberikan keuntungan sebesar Rp. 1,34. PI
1,34 yang menurut kriteria PI jika lebih besar dari satu maka budidaya melon
hidroponik ini dinyatakan layak untuk dilaksanakan.

56

Hasil analisis payback period menunjukkan bahwa untuk mengembalikan


reinvestasi solar tuff dan screen net sebesar Rp. 171.080.000 memerlukan waktu
selama 6 tahun 11 bulan. Nilai payback period ini juga menunjukkan masa
pengembalian reinvestasi solar tuff dan screen net yang ditanamkan membutuhkan
waktu cukup lama, dikarenakan biaya reinvestasi sangat besar. Hasil perhitungan
tersebut dapat dilihat pada Lampiran 10.

5.5.1. Analisis Sensitivitas


Analisis sensitivitas dalam penelitian ini dilakukan untuk melihat sejauh
mana kepekaan budidaya melon hidroponik terhadap perubahan-perubahan yang
terjadi secara finansial. Menganalisis sensitivitas diperlukan peramalan-peramalan
karena biaya dan pendapatan mengandung banyak ketidakpastian. Analisis
sensitivitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan asumsi 100%
modal sendiri dan asumsi 20% modal pinjaman. Penentuan modal pinjaman 20%
dengan pertimbangan perusahaan dapat meng-cover biaya reinvestasi solar tuff dan
screen net sebesar 80%. Parameter yang digunakan yaitu perubahan secara parsial
dan simultan pada harga melon, nutrisi, dan upah tenaga kerja sebesar 9% per tahun
serta penurunan pendapatan sebesar 10% per tahun. Penentuan kenaikan harga
melon, nutrisi,dan tenaga kerja sebesar 9% per tahun diperoleh dari rata-rata inflasi
nasional periode tahun 2005-2009 (Lampiran 2) dan penurunan pendapatan 10%
per tahun dengan pertimbangan akibat penurunan produktivitas sehingga
perusahaan mengalami penurunan penjualan yang akan berpengaruh terhadap

57

pendapatan perusahaan. Hasil perhitungan analisis sensitivitas dapat dilihat pada


Tabel 9, Tabel 10, dan Tabel 11.
Tabel 9. Hasil Analisis Sensitivitas Budidaya Melon Hidroponik Asumsi 20%
Modal Pinjaman dan 80% Modal PT.MUS (Discount Factor 14%)
No.
1
2
3
4.

Alat Analisis
NPV
IRR
PI
Payback Period

Hasil Analisis
25.719.817
18,4%
1,15

Kriteria
>0
>14 %
>1,00
8 Tahun 5 Bulan

Keterangan
Layak
Layak
Layak

Sumber: Data Primer, diolah 2011.

Tabel 9 menunjukkan bahwa dengan tingkat discount factor 14% akan


diperoleh NPV sebesar Rp. 25.719.817 yang berarti bahwa dengan tingkat bunga
pengembalian sebesar 14% usaha ini akan memberikan keuntungan Rp. 25.719.817
selama umur proyek 10 tahun menurut nilai waktu uang sekarang. Nilai IRR
sebesar 18,4% yang berarti bahwa pada tingkat suku bunga 18,4%, keuntungan
yang dihasilkan NPV bernilai nol. Nilai PI sebesar 1,15 yang berarti bahwa saat
mengeluarkan biaya Rp. 1,- akan didapat keuntungan Rp. 1,15. PI lebih besar dari
satu dinyatakan layak. Payback Period

menunjukkan usaha ini disebut layak

karena untuk mengembalikan nilai reinvestasi sebesar

Rp. 171.080.000

memerlukan waktu selama 8 tahun 5 bulan. Perhitungan ini untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada Lampiran 11.
Berdasarkan hasil analisis maka dapat dinyatakan bahwa budidaya melon
hidroponik pada PT.MUS dengan 20% modal pinjaman yang berarti mempunyai
tanggungan beban bunga dan beban angsuran yang harus dibayarkan dikatakan
layak. Hal ini ditunjukkan dari nilai NPV yang bernilai positif, nilai PI yang lebih

58

besar dari satu, dan nilai IRR yang lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku
(14%). Nilai Payback Period juga menunjukkan masa pengembalian reinvestasi
solar tuff dan screen net Rp. 171.080.000 memerlukan waktu selama 8 tahun 5
bulan yang kurang dari masa proyek selama 10 tahun sehingga dapat dikatakan
layak (Lampiran 11). Namun dari segi mendapatkan keuntungan maka budidaya
melon hidroponik pada PT. MUS ini lebih layak dan akan mendapatkan
keuntungan lebih banyak jika menggunakan modal 100% sendiri karena tidak perlu
mengeluarkan beban bunga dan beban angsuran yang berpengaruh terhadap
keuntungan yang akan didapat.
Hasil perhitungan analisis sensitivitas terhadap perubahan

biaya

dan

pendapatan asumsi 100% modal sendiri dapat dilihat pada Tabel 10 di bawah ini.
Tabel 10. Hasil Analisis Sensitivitas Budidaya Melon Hidroponik Terhadap
Perubahan Biaya dan Pendapatan Asumsi 100% Modal Sendiri
Analisis
Sensitivitas
Benih melon naik
9%
Nutrisi naik 9%
Upah tenaga kerja
naik 9%
Benih, nutrisi, dan
upah tenaga kerja
naik 9%
Pendapatan turun
10%

Hasil Analisis
NPV

IRR

PI

Payback Period

48.394.397
(Layak)
47.483.960
(Layak)
33.134.477
(Layak)
11.656.345
(Layak)

21,3%
(Layak)
21,2%
(Layak)
19,1%
(Layak)
16,9%
(Layak)

1,28
(Layak)
1.28
(Layak)
1,19
(Layak)
1,07
(Layak)

7 Thn 1 Bln

(33.972.734)
(Tidak Layak)

9,4%
(Tidak Layak)

0,8
(Tidak Layak)

7 Thn 3 Bln
7 Thn 11 Bln
9 Thn 2 Bln

Sumber: Data Primer, diolah 2011.

Berdasarkan hasil analisis sensitivitas pada Tabel 10 dengan menggunakan


lima variabel didapatkan hasil sebagai berikut:

59

a. Benih melon naik 9%


Nilai NPV positif yaitu Rp. 48.394.397, nilai IRR yang lebih besar dari tingkat
suku bunga yang berlaku yaitu 21,3%, nilai PI lebih dari satu yaitu 1,28, serta
payback periode usaha ini akan mengembalikan reinvestasinya dalam waktu 7
tahun 1 bulan (Lampiran 12) dikatakan layak.
b. Nutrisi naik 9%
Berdasarkan hasil analisis sensitivitas pada Tabel 9, dikatakan layak yaitu
ditandai dengan diperolehnya nilai NPV yang positif pada tingkat bunga
pengembalian 14% yaitu Rp. 47.483.960, nilai IRR yang lebih besar dari tingkat
suku bunga (14%) yaitu 21,2%, nilai PI lebih dari satu yaitu 1,28, serta hasil
analisis Payback Period (PBP) pada saat diasumsikan harga nutrisi mengalami
peningkatan 9% dengan harga jual tetap menunjukkan bahwa usaha ini layak
dan akan mengembalikan reinvestasinya dalam waktu 7 tahun 3 bulan
(Lampiran 13).
c. Upah tenaga kerja naik 9%
Hasil analisis sensitivitas pada Tabel 10, menunjukkan bahwa usaha ini masih
dapat dikatakan layak saat diasumsikan upah tenaga kerja naik 9% karena
didapat nilai NPV yang positif pada tingkat suku bunga sebesar 14% yaitu
Rp. 33.134.477, nilai IRR sebesar 19,1% yang berarti lebih besar dari tingkat
suku bunga yang berlaku sebesar 14%, nilai PI lebih dari satu yaitu 1,19. Pada
hasil analisis payback period, usaha ini menunjukkan tercapainya pengembalian
investasi yaitu 7 tahun 11 bulan (Lampiran 14).

60

d. Benih, nutrisi, dan upah tenaga kerja naik 9%


Hasil analisis sensitivitas untuk asumsi benih melon, nutrisi, dan upah tenaga
kerja secara bersama-sama mengalami peningkatan 9% dikatakan layak. Hal ini
ditunjukkan dengan nilai NPV bernilai positif yaitu Rp. 11.656.345, nilai IRR
yang lebih besar dari tingkat suku bunga (14%) yaitu 16,9%, nilai PI lebih dari
satu yaitu 1,07, serta hasil analisis Payback Period menunjukkan bahwa usaha
ini layak dan akan mengembalikan reinvestasinya dalam waktu 9 tahun 2 bulan
(Lampiran 15).
e. Pendapatan turun 10%
Berdasarkan hasil analisis sensitivitas untuk asumsi pendapatan turun 10% pada
Tabel 10 dikatakan tidak layak karena nilai NPV negatif sebesar
Rp. 33.927.734. Nilai IRR 9,4% yang artinya lebih kecil dari tingkat suku
bunga yang berlaku sebesar 14%.

Nilai PI lebih kecil dari satu yaitu 0,8

(Lampiran 16).
Hasil perhitungan analisis sensitivitas terhadap perubahan

biaya

dan

pendapatan asumsi modal pinjaman 20% dan 80% modal sendiri dapat dilihat
pada Tabel 11.

61

Tabel 11. Hasil Analisis Sensitivitas Budidaya Melon Hidroponik Terhadap


Perubahan Biaya dan Pendapatan Asumsi 20% Modal Pinjaman dan
80% Modal PT.MUS (Discount Factor 14%)
Analisis
Sensitivitas
Benih melon naik
9%
Nutrisi naik 9%
Upah tenaga kerja
naik 9%
Benih, nutrisi, dan
upah tenaga kerja
naik 9%
Pendapatan turun
10%

Hasil Analisis
NPV

IRR

PI

Payback Period

15.372.900
(Layak)
14.525.533
(Layak)
176.049
(Layak)
(21.302.082)
(Tidak Layak)

17,6%
(Layak)
16,6%
(Layak)
14,03%
(Layak)
12,1% (Tidak
Layak)

1,09
(Layak)
1,08
(Layak)
1,00
(Layak)
0,61
(Tidak Layak)

9 Thn 1 Bln

(66.931.162)
(Tidak Layak)

9,1%
(Tidak Layak)

0,61
(Tidak Layak)

7 Thn 3 Bln
9 Thn 11 Bln
-

Sumber: Data Primer, diolah 2011.

Berdasarkan hasil analisis sensitivitas pada Tabel 11 di atas

dengan

menggunakan lima variabel didapatkan hasil sebagai berikut:


a. Benih melon naik 9%
Hasil analisis sensitivitas pada saat diasumsikan harga benih melon mengalami
peningkatan 9% akibat inflasi dengan harga jual tetap dengan modal pinjaman
20%, usaha ini dikatakan layak. Hal ini ditunjukkan dengan nilai NPV bernilai
positif yaitu Rp. 15.372.900, nilai IRR yang lebih besar dari tingkat suku bunga
(14%) yaitu 17,6%, nilai PI lebih dari satu yaitu 1,09, serta hasil analisis
Payback Period menunjukkan bahwa usaha ini layak dan akan mengembalikan
reinvestasinya dalam waktu 9 tahun 1 bulan (Lampiran 17).
b. Nutrisi melon naik 9%
Berdasarkan hasil analisis sensitivitas pada Tabel 11, dikatakan layak yaitu
ditandai dengan diperolehnya nilai NPV yang positif sebesar Rp. 14.525.533,
nilai IRR yang lebih besar dari tingkat suku bunga sebesar 14% yaitu 16,6%,
62

nilai PI lebih dari satu yaitu 1,08, serta hasil analisis Payback Period (PBP) pada
saat diasumsikan harga nutrisi mengalami peningkatan 9% dengan harga jual
tetap menunjukkan bahwa usaha ini layak dan akan mengembalikan
reinvestasinya dalam waktu 9 tahun 1 bulan yaitu kurang dari umur proyek yang
berlangsung (Lampiran 18).
f. Upah Tenaga kerja naik 9%
Hasil analisis sensitivitas pada Tabel 11, menunjukkan bahwa usaha ini masih
dapat dikatakan layak dan berada pada titik impas saat diasumsikan upah tenaga
kerja naik 9% karena didapat nilai NPV yang positif sebesar Rp. 176.049, nilai
IRR sebesar 14,03% yang berarti sama dengan tingkat suku bunga yang berlaku
sebesar 14%, nilai PI sama dengan 1,00. Pada hasil analisis payback period,
usaha ini menunjukkan tercapainya pengembalian investasi selama 9 tahun 11
bulan sama dengan umur proyek yang berlangsung 10 tahun (Lampiran 19).
c. Benih, nutrisi, dan upah tenaga kerja naik 9%
Berdasarkan hasil analisis sensitivitas untuk asumsi benih melon, nutrisi, dan
upah tenaga kerja secara bersama-sama mengalami peningkatan harga 9%
dengan modal pinjaman 20%, pada Tabel 11 dapat diketahui bahwa budidaya
melon hidroponik PT. MUS dikatakan tidak layak. Hal ini ditunjukkan dengan
nilai NPV negatif sebesar Rp. 21.302.082, nilai IRR 12,1% yang artinya lebih
kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku sebesar 14%. Nilai PI lebih kecil dari
satu yaitu 0,88 (Lampiran 20).

63

d. Pendapatan turun 10%


Berdasarkan hasil analisis sensitivitas untuk asumsi pendapatan turun 10%
dengan modal pinjaman 20% pada Tabel 11, dapat diketahui bahwa usaha ini
tidak layak dengan nilai NPV negatif sebesar Rp. 63.871.872,-. Nilai IRR 7,09%
yang artinya lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku sebesar 14%, nilai
PI lebih kecil dari satu yaitu 0,45. Hasil analisis payback period dapat dijelaskan
bahwa dalam masa pengembalian reinvestasinya tidak dapat diketahui
(Lampiran 21).

64

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

1.

Hasil analisis kelayakan finansial budidaya melon hidroponik pada PT. MUS
100% modal sendiri dinyatakan layak. Hal ini ditandai dengan nilai NPV
positif, IRR lebih besar dari tingkat suku bunga sebesar 14%, PI lebih besar
dari satu, dan Payback Periode selama 6 tahun 11 bulan.

2.

Hasil analisis sensitivitas dapat disimpulkan sebagai berikut:


a) Asumsi 20% modal pinjaman 80% modal sendiri biaya dan pendapatan
tetap.
Asumsi 20% pinjaman 80% modal sendiri biaya dan pendapatan tetap
dinyatakan layak. Ditandai dengan nilai NPV positif, IRR lebih besar dari
tingkat suku bunga sebesar 14%, PI lebih besar dari satu, dan Payback
Periode selama 8 tahun 5 bulan.
b) Perubahan biaya dan pendapatan asumsi 100% modal sendiri.
Hasil analisis secara parsial: (1) harga benih melon naik 9%; (2) harga
nutrisi naik sebesar 9%; dan (c) upah tenaga kerja naik 9% dapat dikatakan
layak. Hasil analisis secara simultan dengan kenaikan harga benih melon,
nutrisi dan upah tenaga kerja sebesar 9% dinyatakan layak karena nilai
NPV positif, IRR lebih besar dari tingkat suku bunga (14%), dan PI lebih
besar dari satu. Hasil analisis dengan asumsi penurunan pendapatan
sebesar 10% dikatakan tidak layak karena nilai NPV bernilai negatif, IRR
lebih kecil dari tingkat suku bunga (14%), dan PI lebih kecil dari satu.

c) Perubahan biaya dan pendapatan asumsi 20% pinjaman 80% modal sendiri
Hasil analisis secara parsial: (1) harga benih melon naik 9%; (2) harga
nutrisi naik sebesar 9%; dan (c) upah tenaga kerja naik 9% dapat dikatakan
layak. Hal in ditandai dengan NPV bernilai positif, IRR lebih besar dari
tingkat suku bunga (14%), dan PI lebih besar dari satu. Hasil analisis
secara simultan dengan kenaikan harga benih melon, nutrisi dan upah
tenaga kerja sebesar 9% dinyatakan tidak layak. Hasil analisis dengan
asumsi penurunan pendapatan sebesar 10% dikatakan tidak layak, karena
nilai NPV bernilai negatif, IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga (14%),
dan PI lebih kecil dari satu.

66

6.2.

Saran

1. Sebaiknya usaha ini dilaksanakan dengan 100% modal sendiri karena dilihat
dari hasil analisis kelayakan finansialnya keuntungan yang didapat lebih besar
dari pada dengan modal pinjaman 20%.
2. Usaha ini sebaiknya terus dikembangkan dengan catatan pada saat terjadi
peningkatan harga bahan baku dan biaya operasional harga jual melon harus
ditingkatkan dari harga sebelumnya.
3. Optimalisasi pemanfaatan GH sehingga dapat menambah peningkatan jumlah
volume produksi.
4. Diadakan pengkajian manajemen SDM terkait dengan efisiensi tenaga kerja
karena upah tenaga kerja merupakan komponen biaya terbesar.
5. Polibag dan arang sekam yang digunakan sebaiknya di optimalkan
penggunaannya sehingga dapat mengurangi biaya produksi per tahunnya.
6. Diadakan penelitian lebih lanjut tentang analisis kelayakan finansial dengan
analisis sensitivitas yang dipengaruhi oleh faktor-faktor produksi.
7. Diadakan penelitian lebih lanjut tentang analisis kelayakan pada aspek lain.

67

DAFTAR PUSTAKA

Andriyani, yani. Analisis Kelayakan Finansial Usahatani Cabai dengan Sistem


Irigasi Tetes di Desa Ragajaya, Bogor. Skripsi Program Studi Ekonomi
Pertanian dan Sumberdaya. (Institut Pertanian Bogor, 2009)
Anonim. Budidaya Melon. (Jakarta: Agromedia Pustaka, 2007)
Anonimious, Budidaya Agromedia Buah Unggul Indonesia. (Jakarta: Agromedia
Pustaka, 2009)
Anonimious. Pedoman Budidaya Secara Hidroponik. (Bandung: Nuansa Aulia,
2010)
Dhikawara, Fadil. Analisis Kelayakan Finansial Usahatani Jambu Biji melalui
Penerapan Irigasi Tetes di Desa Ragajaya, Bogor. Skripsi Program
Sarjana Manajemen Agribisnis. (Institut Pertanian Bogor, 2010)
Gittinger, J. Price. Analisis Ekonomi Proyek. Terjemahan Sutomo dan Komet
Mangini. Edisi 2. (Jakarta: UI Press, 1986)
Harmaizar, Z dan Rosidayati, R. Pedoman Lengkap Pendirian dan
Pengembangan Usaha. Edisi 1. (Bekasi: CV Dian Anugrah Prakasa,2003)
Harmaizar, Rosalin Rosidayati. Pendiri dan Pengembangan Usaha. (Bekasi: CV.
Dian Anugerah Prakasa, 2004)
Husnan, S dan Suawarsono. Studi Kelayakan Proyek, Ed ke-4. (Yogyakarta:
UPP.AMD. YKPN, 2000)
Ibrahim, H. M. Yacob. Studi Kelayakan Bisnis, Ed-revisi. (Jakarta: PT. Rineca
Cipta, 2003)
Jayanti, Margaretha. Analisis Kelayakan Fianansial Usaha Budidaya Tanaman
Tomat Menggunakan Irigasi Tetes. Skripsi Departemen Teknik Pertanian
(Institut Pertanian Bogor, 2010)
Kasmir dan Jakfar. Studi Kelayakan Bisnis. Edisi 2. Cetakan 5. (Jakarta: Prenada
Media Group, 2008)
Lingga, Pinus. Hidroponik, Bercocok Tanam Tanpa Tanah. (Jakarta: Penebar
Swadaya, 2005).

Prihmantoro, A dan Y.H. Indriani. Bertanam Melon Untuk Hobi dan Bisnis.
(Jakarta : Penebar Swadaya, 1995)
----------------. Hidroponik Tanaman Buah Untuk Hobi dan Bisnis. (Jakarta :
Penebar Swadaya, 2002)
PT. Mekar Unggul Sari, Pedoman Penyiraman. (Nutrisi Room: White Board,
Tanpa Tahun)
Rahardi, dkk. Agribisnis Perikanan. (Jakarta: Penebar Swadaya, 2005)
Samryn. Akuntansi Manajerial Suatu Pengantar. (Jakarta: Rajawali Press, 2002)
Soeharto, Iman. Manajemen Proyek. (Jakarta: Erlangga, 1999)
Soekartawi. Analisis Usahatani. (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia UIPress, 2006)
Soekartawi, A. Soehardjo, John L.Dillon dan J. Brian Hardaker. Ilmu Usahatani
dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani Kecil. (Jakarta: Penerbit
Universitas Indonesia, UI-Press, 1986)
Sumarni, N dan Rosliani, N. Budidaya Tanaman Sayuran Dengan Sistem
Hidroponik. (Jakarta : Balai Penelitian Tanaman Sayuran, 2005)
Suratman. Studi Kelayakan Proyek Teknik dan Prosedur Penyusunan Laporan.
(Yogyakarta: J & J Learning, 2001)
Sutiyoso, Yos. Aeroponik Sayuran Budidaya dengan Sistem Pengabutan. (Jakarta:
Penebar Swadaya, 2003).
---------------. Hidroponik ala Yos. (Jakarta: Penebar Swadaya, 2004).
Umar, Husein. Studi Kelayakan Bisnis. Edisi 3. (Jakarta : Gramedia Pusaka
Utama, 2007)

69

70

71

72

73

74

75

76

77

78

79

80

81

82

83

84

85

86

87

88

89

90

91

92

93

94

Lampiran 1. Data Buah-buah Taman Wisata Mekar Sari


Nama Buah
Rambutan
Rapiah

Rambutan Aceh
Lebak/Lebak
Bulus

Rambutan Aceh
Pelat

Rambutan
Simacan

Rambutan
Binjai

Rambutan
Sinyonya

Rambutan
Sikoneng

Rambuatn Gula
Batu

Rambutan
Garuda

Gambar

Deskripsi
berasal dari Pasar Minggu, Jakarta. Buah tidak terlalu lebat tetapi mutu
buahnya tinggi, kulit berwarna hijau-kuning-merah tidak merata dengan
beramut agak jarang, daging buah manis (brix 20 - 22) dan agak
kering, kenyal, ngelotok dan daging buahnya tebal, dengan daya tahan
dapat mencapai 6 hari setelah dipetik. Ukuran buah kecil dengan bobot
buah 25 30 gr per buah.
berasal dari Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta. pohonnya tinggi dan lebat
buahnya dengan hasil rata-rata 160-170 ikat per pohon, kulit buah
berwarna merah kuning, halus, rasanya segar manis-asam (brix 19 20) banyak air dan ngelotok daya simpan 4 hari setelah dipetik, buah
ini tahan dalam pengangkutan. Ukuran buah sedang dengan bobot buah
33 35 gr per buah.
berasal dari Pasar Minggu, Jakarta. Kulit berwarna hijau, merah, kuning
tidak merata, berambut agak jarang dan terdapat garis pelat ditengah
buahnya. Rasa buahnya manis (20 22o). Daging buah kenyal, kering
dan ngelotok. Ukuran buah sedang dengan bobot 25 30 gr.
kurang lebat buahnya dengan rata-rata hasil 90-170 ikat perpohon, kulit
berwarna merah kekuningan sampai merah tua, rambut kasar dan agak
jarang, rasa manis (brix 21 - 22), sedikit berair tetapi kurang tahan
dalam pengangkutan. Ukuran buah besar dengan bobot buah 50 55 gr
per buah.
merupakan salah satu rambutan yang terbaik di Indonesia berasal dari
daerah Binjai, Sumatera Utara. Kulit buah berwarna merah cerah
sampai merah tua rambut buah agak kasar dan jarang, rasanya manis
(brik 21 22). Daging buahnya ngelotok, kenyal dan kering. Ukuran
buah sedang dengan bobot buah 40 45 gr per buah.
jenis rambutan ini lebat buahnya dan banyak disukai terutama orang
Tionghoa, dengan batang yang kuat cocok untuk diokulasi, warna kulit
buah merah tua sampai merah anggur, dengan rambut halus dan
rapat,rasa buah manis-asam (brix 20 - 21), banyak berair, lembek dan
tidak ngelotok. Ukuran buah kecil dengan bobot 20 25 gr per buah.
berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Keunikannya kulit buah tetap
berwarna kuning meskipun buah sudah masak dengan warna rambut
buah hijau. Rasanya manis-segar (brix 17 - 19). Daging buah kenyal,
agak nglotok dan sedikit berair. Ukuran buah kecil dengan bobot buah
18 20 gr per buah.
Warna kulit buah merah menyala hingga merah tua dengan rambut buah
panjang agak rapat. Rasa buah manis sekali (brix 21 - 23) seperti rasa
gula. Ukuran buah sedang dengan bobot buah 28 35 gr per buah.
Tanamannya berbuah sangat lebat.
berasal dari Sungai Andai Kalimantan Selatan. Kulit berwarna merah
cerah hingga merah tua. Rambut buah panjang, rapat dengan rambut
kekuningan. Rasa buah manis sekali (22 - 23). Daging buah kenyal,
kering tebal dan agak nglotok. Ukuran buah besar dengan bobot buah
55 60 gr per buah.

Pepaya

Tanaman pepaya (Carica papaya) berasal dari Amerika Tengah dan disebar
luaskan oleh para pelaut Spanyol dan Portugis sejak abad ke-16. Pepaya
umumnya merupakan pohon berbatang tunggal yang tidak pernah berhenti
berbuah. Selama masa produktifnya (5 tahun), satu pohon dapat menghasilkan
hingga 500 buah. Buah pepaya terkecil beratnya sekitar 400 gr sedangkan yang
terbesar mencapai bobot 4 kg.

Abiu

Berasal dari daerah sekitar Amazon dataran rendah Peru dan Brazil (Amerika
Selatan). Lebih di kenal dengan sebutan Sawo Australia, Karena banyak
dibudidayakan di Australia tepatnya di North Queensland.Bentuk buah oval
hingga bulat dengan ujung buah bulat licin hingga bercuping.

Kecapi

Kecapi diperkirakan berasal dari Indocina dan Semenanjung Malaya. Berabadabad yang silam, tumbuhan ini dibawa dan dimasukkan ke India, Indonesia,
Mauritius dan Filipina, di mana tanaman buah ini kemudian menjadi populer,
ditanam secara luas dan mengalami naturalisasi.

Kelapa

Kelapa (Cocos nucifera) mempunyai jenis yang sangat beragam, mulai dari yang
buahnya berkulit hijau, gading, orange hingga kecoklatan, daging buah yang
tebal (macapuno), harum (pandan wangi) dan gurih (kopyor). Kelapa merupakan
satu-satunya buah di dunia yang menyimpan air di dalamnya.

Kimalaka

Kimalaka umumnya tumbuh di daerah yang terbuka terutama di padang rumput,


hutan belukar dan di belukar-belukar desa. Di Jawa, pohon ini dapat ditemukan
tumbuh di hutan jati. Di Semenanjung Malaysia tumbuh di hutan-hutan dataran
rendah dan toleran terhadap tanah alkalin.Pohon ini tahan api (tidak mudah
terbakar).

Maja

Maja (Aegle marmelos (L.) Correa) berasal dari daerah Asia tropika dan
subtropika. Maja masih berkerabat dekat dengan kawista. Maja mampu tumbuh
dalam kondisi lingkungan yang keras, seperti suhu yang ekstrem. Warna kulit
luar buah maja berwarna hijau tetapi isinya berwarna kuning atau jingga.

Mangga

Mangga berasal dari sekitar perbatasan India dengan Burma, mangga telah
menyebar ke Asia Tenggara sekurangnya semenjak 1500 tahun yang silam.
Pohon mangga termasuk tumbuhan tingkat tinggi dan umurnya bisa mencapai 10
tahun atau lebih. Buah yang matang umum dimakan dalam keadaan segar,
sebagai buah meja dan yang masam kerap dijadikan campuran sambal atau
masakan ikan dan daging.

Kopi

Kopi merupakan sekelompok tumbuhan berbentuk pohon dalam marga Coffea.


Genus ini memiliki sekitar 100 spesies, namun dari 100 spesies itu hanya 2 jenis
yang memiliki nilai ekonomis, yaitu Robusta dan Arabika.

Murbei

Pohon murbei atau besaran dengan nama latin Morus alba L, Murbei berasal dari
Cina, tumbuh baik pada ketinggian lebih dari 100 m dpl. Buahnya banyak berupa
buah buni, berair dan rasanya enak. Buah muda warnanya hijau, setelah masak
menjadi hitam. Buahnya (Sang shen) sangat bermanfaat untuk memperkuat
ginjal, meningkatkan sirkulasi darah, mengatasi sukar tidur, batuk berdahak,
pendengaran kurang, sembelit pada orang tua, sakit tenggorokan, sakit otot dan
kurang darah.

Nanas

Nanas berasal dari Brasil. Nanas merupakan tanaman buah yang selalu tersedia
sepanjang tahun. Buahnya selain di makan secara langsung, bisa juga diawetkan
dengan cara direbus dan diberi gula, dibuat selai, atau dibuat sirop. Buah nanas
juga dapat digunakan untuk memberi citarasa asam manis, sekaligus sebagai
pengempuk daging. Daunnya yang berserat dapat dibuat benang ataupun tall.

Pala

Biji pala merupakan bahan rempah-rempah dan obat-obatan yang populer di


Eropa sejak abad ke-16, ketika industri farmasi belum mampu menciptakan obatobatan secara kimiawi.

Karendang

Penampilan dari tanaman karendang yang biasa juga disebut natal plum,
memang cukup menarik. Warnanya pink muda hingga merah tua menyala dan
bila sudah masak berubah ungu. Selain untuk dimakan, buah ini ternyata bisa
digunakan sebagai pemanis taman, bahkan berkhasiat sebagai obat tradisional.

Srikaya

Srikaya atau serikaya (Annona squamosa), adalah tanaman yang yang berasal
dari daerah tropis. Buah srikaya berbentuk bulat dengan kulit bermata banyak
(serupa sirsak). Daging buahnya berwarna putih. Buahnya biasanya bundar atau
mirip kerucut cemara, berdiameter 6-10 cm, dengan kulit berbenjol dan bersisik.
Daging buahnya putih, menyerupai dan memiliki rasa seperti podeng.

Srikaya Raksasa

Tanaman koleksi Taman Wisata Mekarsari ini merupakan keluarga


srikaya hanya saat mudanya berwarna hijau dan bercucuk seperti sirsak.
Bobot biah besar mencapai 1-2kg/ buah dengan rasa daging manis
lembut, kenyal dan agak lengket. Tanaman ini sudah mulai berbuah
umur 2 tahun setelah tanam asal bibit cangkok atau okulasi. Buah selain
dikonsumsi segar dapat pula sebagai olahan atau campuran makan es
krim

Sirsak Rawa

Buahnya berbentuk bulat telur melebar atau mendekati jorong, berwarna hijau
tua dan tertutup oleh duri-duri lunak yang panjangnya sampai 6 mm, daging
buahnya yang berwarna putih, berdaging dan penuh dengan sari buah. Bijinya
banyak, berbentuk bulat telur sungsang, berwarna coklat kehitaman, berkilap.
Sirsak merupakan sumber vitamin B yang lumayan jumlahnya dan vitamin C,
dan sedikit kandungan kalsium dan fosfornya. Sifat yang paling disenangi orang
dari sirsak ini ialah harumnya dan aromanya yang sangat menggiurkan.

Belimbing

Pohon Belimbing berasal dari Indonesia, India dan Sri Langka. Buahnya
berwarna kuning kehijauan. Jika dipotong, buah ini mempunyai penampang yang
berbentuk bintang. Berbiji kecil dan berwarna coklat. Buah ini renyah saat
dimakan, rasanya manis dan sedikit asam serta mengandung banyak vitamin
C. Wilayah yang terkenal akan produksi belimbing adalah Demak, Jawa Tengah.

Salak

Salak ditemukan tumbuh liar di Jawa bagian barat daya dan Sumatra bagian
selatan. Salak dibudidayakan di Thailand, Malaysia dan Indonesia, ke timur
sampai Maluku. Orang Indonesia mengenal antara 20 sampai 30 jenis salak.
Beberapa yang terkenal di antaranya adalah salak sidimpuan, salak condet, salak
pondoh dan salak Bali.

Lengkeng

Lengkeng atau kelengkeng atau longan, (Dimocarpus longan) adalah tanaman


buah yang berasal dari daratan Asia Tenggara. Buah ini dimakan dalam keadaan
segar, terutama yang berdaging tebal dan besar,. Lengkeng juga dikeringkan
untuk bahan pembuat minuman penyegar.

Mundu

Sawo

Jambu Bol

Jambu Air
Mawar

Yellow
Grumichama
(Pitomba)

Lontar

Rukam

Mundu merupakan tumbuhan asli dari Indonesia (Jawa dan Kalimantan) dan
Filipina. Pohon, tinggi mencapai 13 m, buah bulat, kadang-kadang agak gepeng,
berbiji. Mundu tumbuh di hutan-hutan tropika basah. Selain itu buah Mundu juga
dapat dibuat jam. Di Jawa dan Singapura, tumbukan bijinya digunakan untuk
mengobati pada pembengkakan sedangkan kulitnya untuk mewarnai tikar (di
Jawa).
Sawo adalah pohon buah yang berumur panjang dan diperkirakan berasal dari
Guatemala, Meksiko dan Hindia Barat. Kini sawo telah ditanam di banyak
daerah tropis di dunia. Sawo sangat populer di Asia Tenggara dan sekaligus
konsumen utama di dunia. Buah sawo manis dan dagingnya lembut. Sawo dapat
pula diolah menjadi serbat (sherbet), selai atau sirup, getah pohon sawo
dikentalkan menjadi chicle yang merupakan bahan permen karet alami. Getah ini
juga diolah menjadi bahan baku industri sebagai bahan penambal gigi.
Jambu bol (Syzygium malaccense) adalah pohon buah kerabat jambu-jambuan.
Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Malay apple. Jambu bol trsebar luas di
Semenanjung Malaya, Sumatra dan Jawa. Buahnya memiliki tekstur daging
lembut dan padat. Manfaat kulit batangnya digunakan sebagai obat sariawan.
Kayunya yang keras dan kemerahan sebagai bahan bangunan. Buahnya biasa
disajikan sebagai buah meja. Jambu bol dapat dimakan segar, atau dijadikan
sebagai salah satu bahan rujak juga dapat disetup atau dijadikan asinan.

Jambu Mawar alias Jambu Kraton ini memiliki aroma wangi yang keras seperti
mawar. berasal dari Asia Tenggara, khususnya di wilayah Malaysia. Buah jambu
mawar biasa dimakan segar, Jambu mawar jarang terdapat di pasar, dan hanya
dikonsumsi sendiri terutama oleh anak-anak. Buahnya disuling untuk
memperoleh air mawar. Daunnya menghasilkan minyak atsiri, kayu terasnya
berat dan keras, sehingga baik untuk konstruksi bangunan. Kulit kayunya
digunakan sebagai bahan penyamak dan pewarna.

Tanaman unik berasal dari brasil, Amerika Selatan . Bentuk kanopinya


yang bagus membuat pohon ini cocok untuk dijadikan tanaman hias.
Rasa buah manis (10 0 - 12 0 brix) dengan tekstur daging buah lembut.
Tanaman mulai berbuah umur 3 3,5 tahun.

Lontar (Borassus flabellifer) termasuk dalam keluarga palem-paleman berasal


dari bahasa Jawa, Di Asia, dikenal juga dengan nama siwalan, palem gula, atau
palem kamboja dan Pohon lontar bisa bertahan hidup sampai 100
tahun. Tingginya bisa mencapai 30 meter. Bila dilihat dari kejauhan, barisan
pohon lontar jadi terlihat unik dan menarik. Buahnya berwarna cokelat
kehitaman yang di dalamnya ada bagian biji yang berwarna putih bening dan
terasa kenyal. Biji buah lontar ini dapat dimakan mentah, direbus, atau dibuat
manisan. Sementara airnya dapat dibuat menjadi minuman atau gula merah.
Rukam (Flacourtiaceae) berpohon kecil berbatang dan percabangannya yang tua
biasanya bengkok, beralur dan cabang berduri keras dan mengayu. Buah rukam
yang matang dapat dimakan dalam keadaan segar, dapat pula dibuat rujak dan
asinan, atau dicampur gula dijadikan selai atau permen. Daun mudanya dapat
dimakan mentah sebagai lalap. Buah mudanya digunakan dalam ramuan obat
tradisional untuk mengobati diare dan disentri. Air perasan daunnya dipakai
untuk mengobati kelopak mata yang bengkak. Di Filipina, seduhan akar rukam
diminum oleh wanita yang baru saja melahirkan. Kayunya dapat digunakan
untuk membuat perabot rumah tangga.

Kola nitida

Kola (Cola acuminata) merupakan pohon tahunan berkayu yang masih tergolong
satu suku dengan kakao. Tumbuhan ini berasal dari Afrika Barat namun sekarang
tersebar luas ke seluruh daerah tropika, termasuk Indonesia.Kola menghasilkan
bunga dan buah yang tumbuh langsung pada batang utama atau cabang utama.
Kandungan utama minuman kola berasal dari biji yang telah dikeringkan dan
diproses. Biji cola nitida berkhasiat sebagai obat sakit kepala dan obat kuat.

Cireme

Ceremai (Phyllanthus acidus) tumbuhan berbentuk pohon, berumur panjang,


Daun tunggal, bertangkai pendek, tersusun berselingwarna hijau muda, bentuk
bulat telur, permukaan halus, bentuk biji bulat pipih, berbiji 4 - 6, berwarna
cokelat muda, rasanya asam. Daunnya berkasiat untuk batuk berdahak,
menguruskan badan, mual, kanker, dan sariawan. Kulit akar bermanfaat untuk
asma dan sakit kulit dan bijinya berkasiat mengatasi sembelit dan mual akibat
perut kotor

Buah Nona

Buah nona (Annona squamosa) adalah tanaman yang tergolong ke dalam genus
Annona yang berasal dari daerah tropis. Buah nona berbentuk bulat dengan kulit
bermata banyak (serupa sirsak). Daging buahnya berwarna putih. Pohon yang
meranggas mencapai 8 m tingginya. Daunnya berselang, sederhana, lembing
membujur, 7-12 cm panjangnya, dan berlebar 3-4 cm. Bunganya muncul dalam
tandan sebanyak 3-4, tiap bunga berlebar 2-3 cm, buahnya biasanya bundar
dengan kulit berbenjol dan bersisik.
kluwek adalah tumbuhan berbentuk pohon yang tumbuh liar atau setengah liar.
Biji keluwek dipakai sebagai bumbu dapur masakan Indonesia yang memberi
warna hitam pada rawon, daging bumbu kluwek, brongkos, serta sup konro.
Bijinya, yang memiliki salut biji yang bisa dimakan, bila mentah sangat beracun
karena mengandung asam sianida dalam konsentrasi tinggi.

Kluwek

Kenari

Jambu Mede

Jambu Air

Jambu Air King


Citra

Kenari (Canarium ovatum) berasal dari kawasan Malaysia. Di Filipina tumbuhan


ini menjadi tumbuhan yang cukup penting. Kenari berbentuk pohon sangat besar
dengan bentuk yang simetris dan menarik. Tingginya dapat mencapai 20 m
dengan kayunya yang mengandung resin.

Jambu mede atau jambu monyet (Anacardium occidentale) adalah sejenis


tanaman yang berasal dari Brasil dan yang lebih terkenal dari jambu mede adalah
kacang mede, bijinya yang biasanya dikeringkan dan digoreng untuk dimakan.
Yang biasa disebut "buah" (bagian lunak yang membengkak berwarna kuning
atau merah) sesungguhnya adalah dasar bunga (receptaculum) yang
mengembang setelah terjadi pembuahan. Buahnya sendiri adalah bagian
"monyet"nya, berisi biji yang dapat diolah menjadi makanan.
Jambu air adalah tumbuhan dalam suku jambu-jambuan atau ]yrtaceae yang
berasal dari Asia Tenggara. Jambu air sebetulnya berbeda dengan jambu
semarang (Syzygium samarangense), kerabat dekatnya yang memiliki pohon dan
buah hampir serupa. Jambu air, seperti halnya jambu semarang dan jambu bol,
biasa disajikan sebagai buah meja atau dijadikan sebagai salah satu bahan rujak,
juga dapat disetup atau dijadikan asinan. Kayunya yang keras dan berwarna
kemerahan cukup baik sebagai bahan bangunan, daunnya bisa digunakan sebagai
pembungkus tape ketan.

Jambu air Asli Anyer, Banten ini ditemukan oleh Bpk Reza Tirtawinata.
Di Thailand buah ini dikembangkan dan diakui oleh mereka.
Perbanyakan pun secara masal untuk tujuan komersil. Bobot buahnya
mencapai 200gr/ buah, rasa sangat manis mencapi 18 brix, renyah dan
tak berbiji. Saat ini dikembangkan masal di Demak.Jambu ini produktif
asalkan dirawat dan men dapatkan air yang cukup untuk pembesaran
buah.

Lobi - lobi

Alkesah

Nangka

Lobi - lobi (Flacourtia inermis) rasanya asam dan manis. Asal buah lobi-lobi ini
dari malaysia dan menyebar ke seluruh wilayah Asia termasuk Indonesia, buah
lobi-lobi berukuran kecil, bentuknya agak bundar. Yang sudah masak warnanya
merah tua, rasanya asam atau manis, kadang-kadang kelat dengan biji banyak.
Buah yang sudah masak digunakan untuk bahan pembuat rujak, sirup, sele, buah
kalengan, asinan dan manisan.
Alkesa (Lucumma nervosa) termasuk tanaman sawo-sawoan, tinggi batangnya
bisa mencapai 10 meter dengan batang kulit yang mudah lepas. Warna buah
kuning, jika sudah matang. Kulitnya mudah terkelupas sehingga mudah rusak.
Cita rasa buahnya mirip ubi jalar kuning, manis dan agak keset. Sayang buah
yang berasal dari Amerika Selatan ini tidak dimanfaatkan maksimal. Padahal
alkesah kaya akan kalori, zat tepung, vitamin dan mineral. Dilihat dari tekstur
buahnya, alkesah cocok dijadikan bahan baku selai, dodol maupun dikeringkan
menjadi tepung sebagai bahan cookies atau kue kering.
Nangka berasal dari India dan merupakan salah satu sumber pangan karbohidrat
yang penting di dunia. Anggota familinya termasuk cempedak, timbul, sukun,
peusar, dan marang. Buah nangka adalah salah satu buah terberat di dunia yang
bobotnya dapat mencapai 45 kg karena buah nangka dapat tumbuh pada batang
pokok (cauliflorous). Pohonnya bertajuk besar dan berdaun rimbun sehingga
menghasilkan banyak buah sepanjang tahun.

Nangkadak

Nangkadak yang merupakan persilangan antara indukan Nangka Mini betina


(Artocarpus heterophyllus) dengan indukan cempedak jantan (Artocarpus
integer Merr.). Nangkadak ini memiliki aroma buah yang lembut, rasa
mendekati nangka dengan tingkat kemanisan tinggi (300 brix), daging buah tebal
dan berwarna menarik, tekstur daging buah lembut nyaris tanpa serat, dami buah
tidak lengket dan sedikit getah, ukuran buah sedang (3-5 kg)

Durian Tanpa
Sekat

Tanpa sekat membuat porsi daging buah lebih banyak.

Durian gundul
(Durio
zibethinus)

Durian tapi tanpa duri, sepintas tidak percaya mendengarnya tapi inilah
durian koleksi terbaru kami. Asalnya dari Lombok dan diperkirakan
merupakan persilangan alami sesama durian duri pendek. Unggul
karena selain rasanya manis, daging cukup tebal juga gampang dalam
pen gepakan dan tidak ber resiko terkena duri dalam
penanganannya.Produksi buah mencapi 200-400 buah setahun.

Lampiran 22. Foto-foto Budidaya Melon Hidroponik PT. MUS


A. Sarana Hidroponik

B. Pembibitan

C. Pemeliharaan

D. Panen

Lampiran 24. Peta Taman Wisata Mekar Sari

Lampiran 25. Daftar Pertanyaan Wawancara


A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Bagaimana sejarah berdirinya perusahaan?
2. Apa visi dan misi perusahaan?
3. Bagaimana letak geografis perusahaan?
4. Bagaimana struktur organisasi perusahaan?
B. Biaya-biaya Usaha
1. Darimana sumber modal usaha budidaya melon hidroponik berasal?
2. Berapa luas tanah untuk areal budidaya melon hidroponik?

(ha)

3. Apakah tanah tersebut milik perusahaan?

(ya/tidak)

4. Jika ya, berapa pajak tanah yang dibayar tiap tahun?

(Rp)

5. Jika tidak, berapa harga sewa tanah setiap tahunnya?

(Rp)

6. Sarana dan prasarana apa saja yang terdapat di lokasi usaha budidaya
melon?
7. Berapa biaya dari sarana yang ada?
No.
Uraian
Jumlah Harga
1.
Green House Pembibitan
2.
Green House Penanaman
3.
Jaringan Irigasi Tetes

Penyusutan

Keterangan

8. Berapa biaya dari prasarana yang ada?


No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Uraian
PH meter
Ec meter
Drum 100 L
Gelas ukur 1 L
Tray
Bak semai
Handspayer
Mesin PHT
Keranjang Panen
Gunting Panen
Timbangan

Jumlah

Harga

Penyusutan

Keterangan

9. Berapa orang tenaga kerja yang digunakan?


10. Berapa biaya tenaga kerja yang dikeluarkan?

(Rp/Orang)

11. Berapa biaya variabel yang dikeluarkandalam usaha adenium?


No. Uraian
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13
14.
15.
16.
17.

Jumlah

Harga
Satuan

Total
Biaya

Keterangan

Benih melon
A&B Mix
KNO3
HNO3
Raptor
Curacron
Dethane M-45
Furadan
Agrimec 18 EC
Abuki 50 SL
Belkute 40 WF
Nimrot 250 EC
Rockwool
Cocofeat
Arang sekam
Polibag
Tali Air

C. Hasil Produksi dan Harga


1. Berapa banyak buah melon yang dihasilkan pada waktu panen?
2. Berapa jumlah penyusutan yang terjadi pada buah melon ketika panen?
3. Berapa harga melon untuk tiap jenis melon yang dihasilkan?
4. Kemana saja buah melon dipasarkan?
5. Berapa persen pajak pendapatan yang harus dikeluarkan?

(Rp/buah)