Anda di halaman 1dari 16

KASUS MINICEX

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat


Mengikuti Kepanitraan Klinik Bagian Stase Mata
Di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

Diajukan Kepada Yth :


dr. Nurfifi, Sp.M
Disusun Oleh :
Pagela Pascarella.R.
2010310166

BAGIAN STASE MATA


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
Secara klasik, air mata yang normal merupakan suatu struktur trilaminar yang terdiri
atas lapisan lipid di bagian atas, lapisan aquos di tengah dan lapisan musin yang paling
bawah. Musin yang merupakan lapisan paling dalam air mata, terdiri atas hidrasi
glikoprotein dan disekresi oleh sel-sel goblet pada konjungtiva (sumber utama) serta Kripte
Henle di daerah forniks. Musin ini penting untuk mempertahankan keseimbangan
precorneal tear film. Setiap perubahan keetidakstabilan dan kualitas air mata, dimana dapat
menimbulkan penyakit.3
Komposisi air mata yang tidak efektif dapat mengganggu stabilitas dan homeostatis
permukaan okular misalnya dry eye. Walaupun penyebab syndrom dry eye ini bersifat
multifaktorial, sebagian besar disebabkan defisiensi satu atau lebih komponen dari air mata,
yang menyebabkan abnormalitas permukaan okular dan terjadinya penyakit.3
Dry eye atau mata kering adalah permukaan mata yang terus-menerus dialiri dengan
air mta yang menjaga kebebasan mata, melindunginya dari infeksi dan membantu
penyembuhan luka. 5
Mata kering dapat menimbulkan gejala tidak nyaman, gangguan penglihatan dan
instabilitas kerusakan pada permukaan mata. Mata kering memiliki dampak besar pada
fungsi visual dan aktifitas sehari-hari.2

BAB II
LAPORAN KASUS

I;

II;

Identitas Pasien
Nama

: Ny. T

Jenis Kelamin

: Perempuan

Umur

: 53 tahun

Alamat

: Ngaron Mlese 01/03

Pekerjaan

: IRT

Anamnesis

Keluhan Utama

Riwayat Penyakit Sekarang :

: Mata berair

Seorang pasien perempuan berumur 53 tahun datang ke poli klinik mata RS


PKU dengan keluhan mata kanan dan kiri lengket, terasa gatal, ngeres, dan berair.
Keluhan dirasakan sejak 1 minggu sebelum periksa. Keluhan serupa pernrah
dirasakan 3 bulan yang lalu. Namun membaik dengan sendirinya. Riwayat
pengobatan sebelumnya (-). Pada tahun 1982, pasien didiagnosis matanya (-1/2)
tetapi asien tidak rutin memakai kacamata. Selama 1/2 tahun terakhir, pasien
memakai kacamata (+) untuk membaca yang dibelinya di penjual kacamata dekat
rumah.

Riwayat penyakit Dahulu

Hiperlipidemia(+) dengan pengobatan rutin, DM(-), Hipertensi (-), Maag (-)

Riwayat Penyakit Keluarga

Keluhan serupa (-), DM (-), Hipertensi (-)


III;

Pemeriksaan Fisik

Status Generalisata

Keadaan Umun

: Baik, Compos Mentis

Vital Sign

: Tidak diperiksa

Kepala
Mata

: terlampir status opthalmologi

Hidung

: dbn

Teling

: dbn

Mulut

: dbn

Leher

: Tidak diperiksa

Thoraks

: Tidak diperiksa

Cor

: Tidak diperiksa

Pulmo

: Tidak diperiksa

Abdomen

: Tidak diperiksa

Ekstremitas

: Tidak diperiksa

Status Opthalmologis

Pemeriksaan Subjektif
a; Visus Jauh

:-

b; Refraksi

:-

c; Koreksi

:-

d; Visus Dekat

:-

Pemeriksaan Objektif

Inspeksi
Gerakan bola mata
Palpebra Superior

OD
Normal kesegala arah
Edema (-)

OS
Normal kesegala arah
Edema (-)

Palpebra Inferior

Nyeri Tekan (-)


Hiperemis (-)

Nyeri Tekan (-)


Hiperemis (-)

Nyeri Tekan (-)

Nyeri Tekan (-)

Konj. Palpebra Superior

Hiperemis (-)

Hiperemis (-)

Konj. Palpebra Inferior


Konjungtiva Bulbi
Kornea
COA
Pupil

Benjolan (-)
Hiperemmis (-)
Inj. Konjungtiva(-)
Jernih
Tidak dangkal
Pupil bulat (+)

Benjolan (-)
Hiperemis (-)
Inj. Konjungtiva(-)
Jernih
Tidak dangkal
Pupil bulat (+)

Reflek direk (+)

Reflek direk (+)

Reflek Indirect (+)


Sinekia (-)
Jernih

Reflek Indirect (+)


Sinekia (-)
Jernih

Iris
Lensa

IV;

V;
VI;

Differential Diagnosis
Blefaritis
Konjungtifitis
Diagnosis
Dry eye
Penatalaksanaan
Cendo eyefresh 4x1

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A; Konjungtiva dan Kornea

Konjungtiva merupakan membrane mukosa yang meliputi permukaan


belakang palpebral, kemudian membalik dan menutupi bola mata. Sel-sel epitel
superfisial konjungtiva mengandung sel-sel goblet yang bulat atau lonjong dan
mengeluarkan sekert mucus.
Kornea merupakan dinding depan bola mata yang bersifat transparan.
Lapisan paling atas terdiri dari 2-3 lapisan sel skuamos berbentuk pipih dan terdapat
mikrovili-mikrovili yang berguna untuk stabilitas lapisan air mata.6
B; Lapisan Air Mata

Lapisan air mata melapisi permukaan kornea dan konjungtiva tersusun dari
tiga lapisan yaitiu lapisan lipid, aquos dan musin. Ketiga lapisan ini melindungi
epitel kornea dan konjungtiva yang selalu terpapar.1
Lapisan paling superfisial dari lapisan air mata adalah lapisan lipid yang
mempunyai ketebalan 0,1 um. Lapisan ini dihasilkan oleh kelenjer Meibom
palpebral superior dan inferior, terdiri dari unsur-unsur hidrokarbon, sterol ester,
triasil gliserol, sterol bebas dan asam lemak bebas, mempunyai fungsi melicinkan
pergerakan palpebral dan sebagai barrier untuk mencegah penguapan sehingga
lapisan ini memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas lapisan air mata.
Lapisan aquos merupakan 90% dari lapisan air mata terletak ditengah
mempunyai ketebalan 7-7 um dan dihasilkan oleh glandula lakrimalis utama dan
asesoris yaitu kelenjer Krauss dan Wolfring. Pada lapisan aquos ini selain terdapat
air sebagai penyusun utama juga didapatkan eletrolit, glukosa, oksigen dan protein
yang berupa : albumin, globulin dan lisozym. Adapun globulin yang terkandung

terutama immunoglobulin A sebanyak 20-30 mg / 100 ml. Sedangkan elektrolit


pada lapisan air mata adalah : natrium dengan konsentrasi 145mEq /l, potassium -20
mEq /l, clorida 128 mEq /l, bikarbonat 26 mEq /l, kalsium, magnesium dan zinc.
Lapisan air mata mempunyai pH rata-rata 7,35 dengan variasi antara 5,2 8,35 dan
osmolaritas 302 6,3 mOsm /l.
Lapisan paling profunda adalah lapisan musin yang mempunyai ketebalan
0,02 0,,05 um. Lapisan ini dihasilkan oleh sel-sel goblet. Lapisan musin
mengandung komponen uutama mucus glikoporotein yang merupakan karbohidrat
yang melekat pada gugus protein. Selain dihasilkan oleh sel-sel goblet, musin juga

diproduksi oleh epitel permukaan konjungtiva dan kornea yang disebut dengan NLinked mucin, sedangkan musin yang dihasilkan oleh sel goblet disebut dengan OLinked mucin. Lapisan musin ini akan menyebabkan turunnya tegangan permukaan
bola mata sehingga lapisan aquos dapat tersebar merata diseluruh permukaan kornea
dan konjungtiva. Sehingga lapisan ini memegang peranan penting dalam

kemampuan membasahi (wettability) permukaan bola mata dan pemeliharaan


stabilitas lapisan air mata.1
C;

Dry eye
1; Definisi

Dry eye adalah suatu keadaan yang disebabkakn oleh defisiensi salah satu
komponen penyusun lapisan air mata. Pada kondisi yang disebut syndrome mata
kering ini, kualitas dan/atau kuantitas air mata menjadi tidak normal, sehingga
mengakibatkan kerusakan permukaan okuler, iritasi mata atau gangguan
penglihatan.5
2; Epidemologi

Syndrome mata kering menggambarkan suatu keadaan defisiensi air mata


baik secara kualitas maupun kuantitas, yang terjadi akibat penurunan produksi air
mata atau penguapan air mata yang berlebihan. Insiden syndrom ini sering terjadi
pada orang usia lanjut dan wanita menopause.
Di Amerika Serikat, diperkirakan 3,23 juta perempuan dan 1,68 juta lakilaki, yang berusia 50 tahun keatas mengalami syndrom ini. Faktor resiko terjadinya
syndrom ini ialah peningkatan polusi udara, pengggunaan obat-obatan tertentu
seperti obat alergi dan obat hipertensi, peningkatan penggunaan lensa kontak dan
peningkatan penggunaan kompiter serta penyakit syndrom syorgren.
3; Etiologi

Kondisi mata kering ini dapat diakibatkan oleh berbagai macam etiologi .
Salah satu penyebabnya adalah usia. Dengan semakin meningkatkan usia akan
terjadi penurunan prodiksi air mata,yang biasanya mulai terjadipad usia 40 tahun
karena hipofungsi glandula lakrimalis.1
Berikut macam-macam etiologi yang memnyababkan dry eye :

Kondisi
Hipofungsi kelenjer lakrimal

Penyakit
Kongenital : Aplasia kelenjer lakrimal (alakrima kongenital),
Aplasia trigeminus, Dysplasia ectodermal.
Didapat :

Penyakit sistemik (syndrome syorgren, skelrosis


sistemik progresif, sarkoidosis, leukemia, limfoma,

amilodosis, hemokromatosis)
Infeksi (Trachoma,parotitis epidemica)
Cedera (Pengangkatan kelener lakrimal, iridasi, luka

bakar kimia)
Medikasi (Antihistamin,

antimuskarinik(atropine,

skopolamin), anestesi umum (halothane, nitous


oxide), beta adrenergic blocker (timolol)
Defisiensi musin

Defisiensi vitamin A, syndrom Steven Johnson, pemfigoid


okuler, konjungtivitis menahun, luka bakar kimia, obatobatan (antihistamin, agen antimuskarinik, beta blocker
(practolol)

Defisiensi Lipid

Blepharitis menahun, jaringan parut di tepian palpebra

Evaporasi berlebihan

Keratitis neroparalitik, keratitis lagoftalmus

Defektif film air mata

Kelainan Palpebra
(Colobama, Ektropion atau entoprion, Keratinisasi
tepian palpebral, kerdipan berkurang (gangguan
neurologik, hipertiroid, lensa kontak, keratitis herpes

simpleks, lepra), lagoftalmus.


Kelainan konjungtiva (pterygium, symbelpharon)
Protosis

4; Patofisiologi
4.1; Hiperosmolaritas air mata

Kurangnya aliran aquos ataupun penguapan air mata yang berlebihan


terjadi perningkatan osmolaritas cedera epitelium permukaan okuler
dengan pengaktifan mediator inflamasi ke dalam air mata :
-

Inflamasi akut dapat mengakibatkan peningkatan reflex lakrimasi


dan berkedip

Inflamasi kronis dapat menyebabkan berkurangnya sensititasi pada


kornea dan penurunan reflex lakrimasi yang berujung pada
peningkatan penguapan dan ketidakstabilan lapisan air mata.

4.2; Ketidakstabilan lapisan air mata

Ketidakstabilan air mata berakibat peningkatan penguapan air maa yang


berkonstribusi pada hiperosmolaritas air mata.
-

Kelainan lapisan aquos


Kurangnya produksi lapisan aquos disebabkan terjadinya gangguan
interaksi neuro humoral permukaan okuler yang menyebabkan
terinsterupsinya impuls saraf sekremotorik ke kelenjer lakrimal yang
berakibat terjadinya inflamasi dan mensupresi aquos sehingga
menyebabkan jelas secara tidak langsung pada permukaan okuler
maka timbul gejala tidak nyaman dan iritasi okuler.
Gangguan

yang

terjadi

biasanya

merupakan

akibat

dari

berkurangnya produksi air mata yang disebabkan oleh gangguan


sensitisasi kornea, adanya jejas pada kelenjer lakrimal, obat,
perjalanan penyakit atau faktor personal.
-

Kelenjer musin

Gangguan produksi musin mengakibatkan penyebaran air mata yang


tidak merata pada permukaan mata. Gangguan disebabkan oleh
hilangnya sel goblet konjungtiva.
-

Kelainan lipid
Kekurangan lapisan lipid pada anatomi mata menyebabkan
evaporasi

yang

berlebihan.

Disfungssi

kelenjer

meibomia,

meibomitis, infeksi kelopak mata, blepharitis dapat menghambat


lipid yang penting untuk mengurangi penguapan lapisan aquos.
5; Gejala Klinis

Gejala subjektif pada mata kering yang paling sering pada pasien adalah
mengeluhkan sensasi tergores (scratchy) atau berpasir (benda asing). Gejala umum
lainnya adalah mata terasa gatal, perih, fotofobia, penglihatan kabur, kemerahan,
berair dan nyeri.2
Gejala objektif yaitu sekresi mucus yang berlebihan, sukar menggerakkan
kelopak mata, mata tampak kering danterdapat erosi kornea, Pada permukaan slit
lamp, meniscus air mata pada tepi palpebral inferior menghilang atau terganggu.
Konjungtiva bulbi tampak edema, hiperemik, menebal dan kusam (tidak tampak
kilauan), kadang-kadang terdapat benang mucus kekuning-kuningan pada forniks
konjungtiva inferior.
Pada keadaan lanjut, biasa ditemukan filament (benang-benang) yang satu
ujungnya melekat di kornea sedangkan ujung lainnya bergerak maju. Pada keadaan
ini dapatditemukan neuvaskularisasi kornea.
6; Diagnosis

Diagnosis dry eye dapat ditegakkan berdasaran keluhan penderita, kelainan


yang dijumpai pada pemeriskaan status ofthalmologis dan adanya beberapa
pemeriksaan penunjang, yaitu :
6.1; Test Schirmer

Test ini berguna untuk menilai fungsi sekresi kelenjer lakrimal utama
yang dilakukan dengan mengeringkan air mata dan memasukkan kertas
strip Schirmer (kertas Whatmann) ke dalam cul-de-sac konjungtiva
inferior diperbatasan antara bagian 1/3 tengan dan temporal palpebral
inferior, diukur selama 5 menit.d7
-

Hasil normal

: kertas saring basah >10 mm

Kescurigaan dry eye

: 6-10

Dry eye

: <6

Test Schirmer ini dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :


-

Test Schirmer I

: menilai sekresi refleks akibat rangsangan

pada konjungtiva (tanpa anastesi topical)


-

Test Schirmer II

: menilai reflex secara maksimal dengan

rangsangan pada mukosa nasal


-

Test Jones

: menilai sekresi basal (dengan anatesitopikal)

6.2; Tear Break Up Time

Test ini berguna untuk mengetahui secara langsung stabilitas lapisan air
mata. Dengan test ini dapat diketahui adanya defek pada lapisan lipid
maupun musin. Caranya :
-

Penderita duduk didepan lampu celah (slit lamp). Mata diberi


fluoresin dan diminta berkedip-kedip agar fluoresin merata.
Kemudian dihitung dengan stopwatch lamanya waktu antara

membuka mata saat kedipan terakhir dengan terbentuknya dyr


spot

pertama

kali.

Pemeriksaan

ini

dilakukan

dengan

menggunakan sinar cobalt biru. Selama pemeriksaan berlangsung


palpebral tidak boleh ditahan dengan jari. Penilaian : Normal >10
detik.d6

dry eye : >10 detik

6.3; Pewarnaan Fluoresin

Fluoresin merupakan pewarna anilin yang dapat mewarnai area yang


tidak tertutup epitel dan bukan untuk menilai adanya epitel yang mati.
Fluoresin dapat mewarnai lapisan air mata sehingga dapat digunakan
untuk pemeriksaan tear meniscus.
7; Penatalaksanaan
-

Dasar dari pengobatan syndrom mata kering ialah mencari penyebab


dan mengetahui jenis lapisan air mata yang memngalami defisiensi.

Pengobatan simptomatik ialah pemberian air mata buatan Air mata


buatan diberikan 1-2 tetes dewasa maupun anak-anak apabila terjadi
defisiensi komponen air. Air mata buatan berfungsi sebagai pelumas
pada permukaan mata.

BAB III
PEMBAHASAN
Diagnosis pada pasien ini ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
ofthalmologis. Dari anamnesis didapatkan mata perih dan berair dan dari riwayat penyakit
dahulunya pasien juga pernah mengalami hal serupa. Pengobatan pada pasien ini ialah
pengobatan simptomatik yaitu untuk membasahi permukaan mata. Sedangkan untuk
pengobatan kausa perlu dilakukan pemeriksaan penunjang seperti yang disebutkan diatas
yaitu : Test Schirmer, Test Break Up Time atau Test Flurosesin. Tetapi pada pasien tidak
dilakukan pemeriksaan tambahan.
Penyebab pasti terjadinya dry eye tidak diketahui, namun terdapat beberapa faktor
resiko yang mempengaruhi terjadinya dry eye. Salah satu penyebabnya adalah usia. Dengan
semakin meningkatkan usia akan terjadi penurunan prodiksi air mata,yang biasanya mulai
terjadipad usia 40 tahun karena hipofungsi glandula lakrimalis. Pada kasus ini pasien
berumur >40 tahun yaitu 53 tahun dan mungkin menjadi alasan pasien mengalami dyr eye.

BAB IV
KESIMPULAN
Lapisan air mata melapisi permukaan kornea dan konjungtiva tersusun dari
tiga lapisan yaitiu lapisan lipid, aquos dan musin. Ketiga lapisan ini melindungi
epitel kornea dan konjungtiva yang selalu terpapar
Dry eye adalah suatu keadaan yang disebabkakn oleh defisiensi salah satu
komponen penyusun lapisan air mata. Pada kondisi yang disebut syndrome mata
kering ini, kualitas dan/atau kuantitas air mata menjadi tidak normal, sehingga
mengakibatkan kerusakan permukaan okuler, iritasi mata atau gangguan
penglihatan.5
Diagnosis dry eye dapat ditegakkan berdasaran keluhan penderita, kelainan
yang dijumpai pada pemeriskaan status ofthalmologis dan adanya beberapa
pemeriksaan penunjang, yaitu Test Schirmer, Test Break Up Time atau Test
Flurosesin.
Dasar dari pengobatan syndrom mata kering ialah mencari penyebab dan
mengetahui jenis lapisan air mata yang memngalami defisiensi. Pengobatan
simptomatik bisa diberikan pemberian air mata buatan.

DAFTAR PUSTAKA
1; Ardiyanti, Inten. 2002. Perbandingan Efek Air Mata Buatan dann NaCL Fisiologi

terhadap Kuantitas dan Stabilitas Lapisan Air Mata pada Dry eye Usia 40 Tahun
Keatas.
2; Augustine. 2013. Correlation between Exposure Burnings Smoke and Dry eye

Syndrome.
3; Jurnal Oftalmologi Indonesia. 2010. The Profil or Tear Mucin Layer and Impression

Cytologi in Pterygium Patient


4; Sangkereng, Nelly. Dry eye pada Diabetes Meliitus
5; Singapore National Eye Centre. .2013. Mata Kering
6; Winarni. 2002. Pengaruh Arah Pandang Terhadap Tear Break Up Time.