Anda di halaman 1dari 13

Fakultas Kedokteran

Universitas Alkhairaat

Laporan Tutorial
Palu, 17 Februari 2016

MODUL SINDROMA GERIATRI


JATUH
BLOK SISTEM GERIATRI

Kelompok I
1. Randy P. Tonapa
2. Agung Budi Perdana
3. M.Jabal Nur Bausat
4. Dwi Yunisari P.
5. Ardiansyah S. Ali
6. Azizah A. Alkatiri
7. Nur Awaliah M.
8. Brahmandita
9. Nurlaela
10. Siti Hanisah

(12 777 003)


(12 777 009)
(12 777 001)
(12 777 010)
(12 777 047)
(12 777 011)
(12 777 005)
(12 777 054)
(12 777 025)
(12 777 018)

Pembimbing : 1. dr. Haryadi, Sp.PD


2. dr. Mardiah Yamani

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ALKHAIRAAT
PALU
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1. Skenario
Seorang perempuan umur 73 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan
nyeri pada pangkal paha kanan terutama bila digerakkan sehingga
mengganggu aktifitas dan tidak bisa berjalan. Keadaan ini dialami sejak 3
hari yang lalu setelah penderita jatuh terduduk di dalam kamar mandi.
Postur tubuh penderita bungkuk ke depan sejak beberapa tahun terakhir
ini. Beberapa hari terakhir ini penderita kedengaran batuk-batuk tetapi sulit
sekali mengeluarkan lendirnya terutama malam hari dan juga nafsu makan
beberapa minggu ini sangat menurun. Hasil pemeriksaan fisik; TD 170/90
mmHg, nadi 92x/menit, pernapasan 30x/menit dan suhu 37,1o C.
2. Kata
Kunci auskultasi terdengar bunyi tambahan ronkhi basah kasar
Pemeriksaan
Wanita 73 tahun
diseluruh lapangan kedua paru. Penderita juga selama ini minum obat-obat
Nyeri pangkal paha kanan bila digerakkan
manis,
tekanan darah dan rematik.
kencing
Tidak bisa
berjalan
Jatuh terduduk di kamar mandi
Penderita bungkuk ke depan
Batuk-batuk dan sulit mengeluarkan lendir
Penurunan nafsu makan
Pemfis : TD 170/90 mmHg, N 92x/mnit, S 37,10 C, RR 30x/menit
Auskultasi : Ronkhi basah kasar pada kedua paru
Riwayat minum obat : DM, HT, rematik
3. Pertanyaan
Apa yang dimaksud dengan jatuh?
Apa penyebab terjadinya jatuh pada lansia?
Apakah faktor risiko terjadinya jatuh pada pasien?
Bagaimana hubungan riwayat penyakit pada skenario dengan jatuh?
Bagaimana mekanisme nyeri pada pangkal paha kanan?
Jelaskan langkah-langkah diagnosis pada pasien tersebut!
Jelaskan penatalaksanaan berdasarkan skala prioritas!

BAB II
PEMBAHASAN
1. Definisi Jatuh
Jatuh adalah suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata,
yang

melihat

kejadian

penderita

mendadak

terbaring/terduduk

di

dilantai/tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa hilang kesadaran


2. Penyebab-penyebab Jatuh pada Lansia
Kecelakaan: merupakan penyebab jatuh yang utama (30-50 % kasus jatuh
lansia). Murni kecelakaan misalnya terpeleset atau tersandung dan juga

gabungan antara lingkungan yang jelek dengan kelainanan-kelainan akibat


proses menua misalnya karena mata yang kurang awas, benda-benda

dirumah tertabarak, lalu jatuh.


Nyeri kepala dan atau vertigo
Hipotensi orthostatic: (hipovolemia, dsifungsi ototnom, penurunan
kembalinya darah vena ke jantung, terlalu lama berbaring, pengaruh obat-

obatan hipotensi, hipotensi sesudah makan)


Obat-obatan: (diuretik/anti hipertensi, antidepresan trisiklik, sedativa,

antipsikotik, obat-obat hipoglikemik, alkohol).


Proses penyakit yang spesifik: (kardiovaskuler dan neurologi).
Idiopatik
Sinkope: kehilangan kesadaran secara tiba-tiba (drop attack, penurunan
darah ke otak secara tiba-tiba, terbakar matahari).

3. Faktor Risiko Terjadinya Jatuh


Faktor intrinsik:

Kondisi
Fisik
dan
Penuru
Neuropsiki
Perubahan
nan
atrik
neuromus
Visus
ukuler,
dan
gaya
Penden
berjalan,
garan
dan
refleks
postural
karena
proses
4.menua
Daftar Masalah pada Skenario
a. Fraktur collum femoris

Faktor ekstrinsik:

JA
TU
H

Obatobatan
yang
Alat
diminu
bantu
m
untuk
Lingkun
berjala
gan
n
yang
tidak
mendu
kung

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Kifosis
Osteoporosis
Instabilitas
Infeksi saluran nafas
Inanition
Hipertensi garde 2
DM tipe 2
Rematik (osteoarthritis)
Imobilisasis

5. Analisis Masalah
a. Osteoporosis

b.

Tulang
mudah
patah
Fraktu
r
Nyeri
dan
ADL
menur
Diabetes mellitus
un

Osteo
porosi
s
Tulang
rapuh

Perub
ahan
Ganggua
bentuk
n
tubuh
keseimba
ngan saat
berjalan
Jatuh

Kencing manis dapat didefinisikan sebagai kadar gula yang tinggi dalam

urin. Penyebab dari kencing manis adalah penyakit Diabetes mellitus


(DM). Penyakit diabetes mellitus (DM)-yang dikenal masyarakat sebagai
penyakit gula atau kencing manis-terjadi pada seseorang yang mengalami

peningkatan kadar gula (glukosa) dalam darah akibat kekurangan insulin


atau reseptor insulin tidak berfungsi baik. Diabetes yang timbul akibat
kekurangan insulin disebut DM tipe 1 atau Insulin Dependent Diabetes
Mellitus (IDDM). Sedang diabetes karena insulin tidak berfungsi dengan
baik disebut DM tipe 2 atau Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus
(NIDDM). Insulin adalah hormon yang diproduksi sel beta di pankreas,
sebuah kelenjar yang terletak di belakang lambung, yang berfungsi
mengatur metabolisme glukosa menjadi energi serta mengubah kelebihan
glukosa menjadi glikogen yang disimpan di dalam hati dan otot. Pada
penderita DM tipe 2, insulin yang ada tidak bekerja dengan baik karena
reseptor insulin pada sel berkurang atau berubah struktur sehingga hanya
sedikit glukosa yang berhasil masuk sel. Akibatnya, sel mengalami
kekurangan glukosa, di sisi lain glukosa menumpuk dalam darah. Kondisi
ini dalam jangka panjang akan merusak pembuluh darah dan menimbulkan
berbagai komplikasi. Jika tidak tepat ditangani, dalam jangka panjang
penyakit diabetes bisa menimbulkan berbagai komplikasi akibat gangguan
pembuluh darah. Gangguan bisa terjadi pada pembuluh darah otak (stroke),
pembuluh darah mata (gangguan penglihatan), pembuluh darah jantung
(penyakit jantung koroner), pembuluh darah ginjal (gagal ginjal), serta
pembuluh darah kaki (luka yang sukar sembuh/gangren). Gangguan
tersebut dapat berakibat dengan faktor penyebab jatuh pada pasien.
c. Hipertensi
Hipertensi dapat disebabkan karena adanya gangguan pada curah
jantung dan vaskular perifer. Faktor di atas banyak ditentukan sistem saraf
simpatis, parasimpatis, SRAA dan faktor lokal. Hipertensi yang
berlangsung lama dapat menyebabkan sakit kepala yang intermitten dan
kerusakan organ pada jantung, otak dan ginjal.
d. Rematik
Rematik dapat didefinisikan sebagai berbagai kelainan yg ditandai oleh
peradangan, degenerasi, atau kekacauan metabolik struktur jaringan ikat

terutama sendi dan struktur yg berhubungan, dan disertai oleh rasa nyeri,
kekakuan atau pembatasan gerak. Rematik banyak dialami oleh orang yang
lanjut usia dengan berbagai macam kelainan. Seperti osteoporosis,
osteoarthritis, rematoid artritis, gout dan pseudogout. Adanya gangguangangguan tersebut dapat menyebabkan Sakit / nyeri hilang timbul, Nyeri
setelah melakukan suatu aktifitas, rasa kaku pada persendian, dan
Kelemahan otot / tulang. Akibatnya pasien sulit berjalan dan tertatih-tatih
dan mempunyai resiko jatuh jika cara berjalan kurang baik.

e.

Fungsi
&
Batuk,anatomi
sesak dan anoreksia
Aktivitas
faal
silia me
sistem

pernapasa
Refleks
n batuk
me

Fungsi
anatomi
Fungsi
&
faal
taste bud
sistem
GI

me &
Motilitias

Sekr

me
et
Sistem
men
imun
me
Batuk

ump

&
uk
Sesak
Hipo
napas
O2 ke
xia
otak
me

JA
T
U
H

pengosong
an
lambung
Anor
me
exia
Intake
makan
an
Hipo
me

glike
mia

f. Lingkungan

1. WC yang rendah /
jongkok.
2. Lantai tidak datar
3. Lantai yang licin
4. Penerangan tidak baik
JATU
(redup atau menyilaukan.
H
5. keset kaki yang licin atau
mudah bergeser
6. Tempat berpegangan
tidak kuat.

6. Dampak Dari Jatuh Terduduk

Jatuh
Terdu
duk

7.

Dislok
Fraktu
Terjepi
asi
r
Hem
tnya
caput
pangk
atom
saraf
femor
al
pangka
Nyeri
paha
l pahais
pada
Jatuh
kanan
paha
terdud
menop
pangka
uk
ang
l paha
beban
kanan
Langkah-langkah Diagnosis
tubuh
a. Anamnesis, tanyakan:
Posisi jatuh
Keadaan sadar/tidak pada saat sebelum jatuh
Cara jatuh
Gejala yg menyertai jatuh
Keadaan lingkungan rumah (tempat jatuh)
Riwayat obat-obat yg diminum
b. Pemeriksaan fisik
Tanda vital
Kepala dan leher : penurunan visus, penurunan pendengaran
Kulit : turgor, trauma, kepucatan
Jantung : aritmia, kelainan katub
Neurologi : perubahan status mental, kelemahn otot. Instabilitas,
kekakuan, tremor
Muskuloskeletal : perubahan sendi, pembatasan gerak sendi
c. Pemeriksaan penunjang
Radiologi : foto rontgen bagian panggul dalam bidang AP, Lateral, dan
oblique.
Laboratorium: darah tepi, elektrolit, gula darah, kadar kalsium.
d. Assesment Fungsional

Fungsi gait dan keseimbangan: observasi pasien ketika bangkit dari


duduk dikursi, ketika berjalan, ketika membelok atau berputar badan,

ketika mau duduk dibawah.


Mobilitas: dapat berjalan sendiri tanpa bantuan, menggunakan alat

bantu (kursi roda atau tongkat) atau dibantu berjalan oleh keluarganya.
Aktifitas kehidupan sehari-hari : mandi, berpakaian, berpergian,
kontinens.

8. Skala Prioritas
a. Nyeri dan fraktur
Nyeri
paracetamol 500 mg/ hr dosis max 3000 mg
kodein 10 mg
Pantau perkembangan nyeri dengan VAS ( visual analgesik scale)
Tahapan pemberian anlgesik pada lansia :
analgesik
analgesik + opioid tinggi
analgesik + opioid tinggi + anti anxietas
Fraktur : Pemasangan bidai dan opertaif.
b. Infeksi paru : antibiotik spektrum luas.
c. Hipertensi
ACE inhibitors : Catopril
Beta-blockers: propanolol,asebutolol
Calcium antagonists : Dihidropitridin (Nifedipin), Benzodtiazepin
(Diltiazem), Difenalkilamin (Verapamil)
Diuretics: Thiazide (Hydrochlorothiazide,

Chlorthalidon,Indapamide),

Loop (Furosemide,Bumetadine), K sparing (spirolactone, amilorita)


Rekomendasi untuk Hipertensi dengan komplikasi penyakit lain:
DM: ACE-I
Dislipidemia : bloker
Isolated sistolik HT : Diuretik, Ca++ antagonis
Osteoporosis: Thiazide
d. DM Tipe 2
Obat Diabetik Oral:

Biguanide : metformin
Alpha- glucoside inhibitor
PPAR- gamma agonis/thiazolidinedions: pioglitazon
Sulphonylureas

e. Rematik
Terapi non farmakologis
Edukasi
Terapi fisik dan rehabilitasi
Penurunan berat badan
Terapi farmakologis
Analgestik oral non opiate
Analgestik topical
OAINS (obat anti inflamasi non steroid)
Chondroprotective
Steroid intra-artikular
f. Osteoporosis
Untuk nyeri tulang yang disebabkan
pengobatannya adalah:
Meningkatkan pembentukan

oleh

tulang,

osteoporosis,

obat-obat

yang

prinsip
dapat

meningkatkan pembentukan tulang adalah:Na-flurida dan steroid


anabolik.
Menghambat resorbsi tulang,obat-obat yang dapat menghambat
resorbsi tulang adalah; kalsium, estrogen, kalsitonin dan difosfonat.
Disamping itu juga diberikan obat anti nyeri.

DAFTAR PUSTAKA

1. H. Hadi Martono (2010), Buku ajar Boedhi-Darmojo GERIATRI. Jakarta :


Penerbit : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
2. Prof. Chairuddin Rasjad, MD., Ph.D (2009), Pengantar Ilmu Bedah
Ortopedi. Jakarta. Penerbit : PT. Yarsif Watampone
3. Suharko Hasan, Jurnal Kedokteran Geriatri, Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
4. Kane RL, Ouslander JG, Abrass IB. Essential of Clinical Geriatrics Fifth
Edition. New York: McGraw-Hill. 2004
5. Darmojo, R. Boedhy. Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut)
Edisi ke-3.
6. Price,Sylvia A., Lorraine M. Wilson. 1995. Patofisiologi:Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit. Edisi 4. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.