Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL)

PENENTUAN NILAI BOD (BIOCHEMICAL OXYGEN DEMAND)


PADA AIR LIMBAH DENGAN METODE WINKLER

Disusun Oleh:
Nama

: Miftachul Hidayah

NIM

: 4311413042

Prodi

: Kimia

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


2016

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Di era modern ini, selain sebagai kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia,

air sudah banyak digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, yaitu untuk
menunjang kegiatan industri dan teknologi. Di dalam kegiatan industri dan teknologi,
air yang telah digunakan (air limbah industri) tidak boleh dibuang langsung ke
lingkungan karena dapat menyebabkan pencemaran. Air tersebut harus diolah terlebih
dahulu agar mempunyai kualitas yang sama dengan kualitas air lingkungan. Jadi, air
limbah industri harus mengalami proses daur ulang sehingga dapat digunakan lagi
atau dibuang kembali ke lingkungan tanpa menyebabkan pencemaran air lingkungan.
Beban BOD yang ditimbulkan pada limbah cair kira-kira 80 gram/orang/hari.
Volume dan kekuatan limbah cair dari sekolah, kantor, pabrik, dan bangunan
perdagangan bergantung pada jumlah jam operasi dan fasilitas makan yang tersedia.
(Soeparman, 2001).
Dari uraian tersebut, maka perlu dilakukaan analisis BOD, karena BOD
merupakan suatu analisis empiris yang mencoba mendekati secara global prosesproses mikrobiologis yang benar-benar terjadi di dalam air. (Santika 1987).
Uji BOD (Biochemical Oxygen Demand) digunakan untuk menentukan
jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh mikroba aerobik untuk mengoksidasi
bahan organik dalam contoh uji air limbah efluen, atau air yang tercemar. Nilai BOD
biasanya dinyatakan dalam ppm. Analisis BOD dilakukan untuk menentukan tingkat
pencemaran akibat air buangan dan untuk mendesain sistem pengolahan secara
biologis.
Konsumsi oksigen dapat diketahui dengan mengoksidasikan air pada suhu
20oC selama 5 hari, dan nilai BOD yang menunjukan jumlah oksigen yang
dikonsumsi dapat diketahui dengan menghitung selisih konsentrasi oksigen terlarut

sebelum dan sesudah inkubasi. Pengukuran selama 5 hari dengan suhu 20 oC ini hanya
menghitung sebanyak 68% bahan organik yang teroksidasi, tetapi suhu dan waktu
yang digunakan tersebut merupakan standar uji karena untuk mengoksidasi bahan
organik seluruhnya secara sempurna diperlukan waktu yang lebih lama, yaitu
mungkin sampai 20 hari sehingga dianggap tidak efisien.
Hasil dari uji BOD dapat diterjemahkan dalam istilah-istilah mengenai zat-zat
organik maupun dengan jumlah oksigen yang digunakan selama oksidasinya karena
hubungan kuantitatif yang pasti terdapat diantara jumlah oksigen yang perlu untuk
mengubah sejumlah tertentu campuran organik yang menjadi karbon dioksida dan air.
(Mahida, 1984)
B.

Rumusan Masalah
1. Berapa kadar BOD dari masing-masing sampel limbah industri?
2. Bagaimana pengaruh angka nilai BOD terhadap kualitas air limbah?
C.
Tujuan
1. Mengetahui kadar atau nilai BOD dari masing-masing limbah industri.
2. Mengetahui pengaruh angka nilai BOD terhadap kualitas air limbah.
D.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat:
1. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang kualitas air dan
menjadi tambahan data penelitian tentang kualitas air dengan
menggunakan parameter BOD.
2. Mengetahui dampak dari kualitas air limbah bagi lingkungan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Limbah
Adanya benda-benda asing yang mengakibatkan air tersebut tidak
dapat digunakan sesuai dengan peruntukannya secara normal disebut sebagai
pencemaran air. Karena kebutuhan makhluk hidup akan air sungai bervariasi
maka batas pencemaran untuk berbagai jenis air juga berbeda (Philip
Kristanto,2004).
Jumlah aliran air limbah yang berasal dari industri sangat bervariasi
tergantung dari jenis dan besar kecilnya industri, derajat penggunaan air,
derajat pengolahan air limbah yang ada. Puncak tertinggi aliran selalu tidak
akan dilewati apabila menggunakan tanki penahan dan bak pengaman. Untuk
memperkirakan jumlah air limbah yang dihasilkan oleh industri yang tidak
menggunakan proses basah diperkirakan sekitar 50 m 3/ha/hari. Sebagai
patokan dapat dipergunakan pertimbangan bahwa 85-95% dari jumlah air
yang dipergunakan adalah berupa air limbah apabila industri tersebut
memanfaatkan kembali air limbahnya, maka jumlahnya akan lebih kecil lagi
(Sugiharto,1987).
Limbah yang dihasilkan harus memenuhi standar baku mutu limbah
dan sesuai dengan baku mutu lingkungan yang berlaku bagi kondisi
lingkungan dimana kegiatan industri sedang berlangsung. Karena itu setiap
parameter harus tersedia nilainya sebelum masuk sistem pengolahan dan
setelah limbah keluar sistem pengolahan harus ditetapkan nilai-nilai parameter
kunci yang harus dicapai. Artinya harus diungkapkan kualitas limbah sebelum
dan sesudah limbah diolah dan apakah limbah ini memenuhi syarat baku mutu
(Perdana Ginting,2007).
B. Kualitas Limbah
Kualitas limbah menunjukkan spesifikasi limbah yang diukur dari
kandungan pencemar dalam limbah. Kandungan pencemar dalam limbah
terdiri dari berbagai parameter. Semakin sedikit parameter dan semakin kecil
konsentrasi, menunjukkan peluang pencemar terhadap lingkungan semakin
kecil (Koestoer, 1995).

Kualitas limbah dipengaruhi berbagai faktor yaitu : volume air limbah,


kandungan bahan pencemar, frekuensi pembuangan limbah. Penetapan standar
kualitas limbah harus dihubungkan dengan kualitas lingkungan.
Kualitas lingkungan dipengaruhi berbagai komponen yang ada dalam
lingkungan itu seperti kualitas air, kepadatan penduduk, flora dan fauna,
kesuburan tanah, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain (www.chem-is-try.org).
Apabila limbah masuk ke dalam lingkungan, ada beberapa
kemungkinan yang diciptakan. Kemungkinan pertama, lingkungan tidak
mendapat pengaruh yang berarti (pencemaran ringan). Kedua, ada pengaruh
perubahan tapi tidak menyebabkan pencemaran (pencemaran sedang). Ketiga,
memberi perubahan dan menimbulkan pencemaran (pencemaran berat).
Ada berbagai alasan untuk mengatakan demikian. Tidak memberi
pengaruh terhadap lingkungan karena volume limbah kecil dan parameter
pencemar yang terdapat di dalamnya sedikit dengan konsentrasi kecil. Karena
itu andaikata masukpun dalam lingkungan ternyata lingkungan mampu
menetralisasinya.

Kandungan

bahan

yang

terdapat

dalam

limbah

konsentrasinya barangkali dapat diabaikan karena kecilnya. Ada berbagai


parameter pencemar yang menimbulkan perubahan kualitas lingkungan
namun tidak menimbulkan pencemaran, artinya lingkungan itu memberikan
toleransi terhadap perubahan serta tidak menimbulkan dampak negatif
(Koestoer, 1995).
Adanya perubahan konsentrasi limbah menyebabkan terjadinya
perubahan keadaan badan penerima. Semakin lama badan penerima dituangi
air limbah, semakin tinggi pula konsentrasi bahan pencemar di dalamnya.
Pada suatu saat badan penerima tidak mampu lagi memulihkan
keadaannya. Zat-zat pencemar yang masuk sudah terlalu banyak dan
mengakibatkan tidak ada lagi kemampuannya menetralisasinya. Atas dasar ini
perlu ditetapkan batas konsentrasi air limbah yang masuk dalam lingkungan
badan penerima.
Dengan demikian walau dalam jangka waktu seberapa pun lingkungan
tetap mampu mentolerirnya. Toleransi ini menunjukkan kemampuan

lingkungan untuk menetralisasi ataupun mengeliminasi bahan pencemaran


sehingga perubahan kualitas negatif dapat dicegah. Dalam hal inilah perlunya
batasan-batasan konsentrasi yang disebut dengan standar kualitas limbah
(www.chem-is-try.org).
C. Penanganan Limbah
Sistem penanganan limbah telah dirancang untuk menurunkan kadar
limbah. Selain itu pada penanganan limbah tersebut juga diinginkan
penghilangan nitrogen dalam bentuk amonia. Hal ini disebabkan karena
amonia dapat menyebabkan keadaan kekurangan oksigen pada air karena pada
konversi amonia menjadi nitrat membutuhkan 4.5 bagian oksigen untuk setiap
bagian amonia. Bila terjadi perubahan amonia menjadi nitrat maka kadar
oksigen terlarut dalam cairan akan turun yang menyebabkan makhluk
biologis, misalnya ikan tidak dapat hidup di sana (Jenie, 1993).
Proses penanganan Limbah Cair pada prinsipnya terdiri dari tiga tahap
yaitu :
Primer : untuk memisahkan air buangan dengan padatan
Sekunder : Penyaringan lanjutan dan lumpur aktif
Tersier : proses biologis, adsorbsi, destilasi, dll (www.slideshare.net).
D. Parameter yang mempengaruhi kualitas air:
a. DO (Dissolved Oxygen = Oksigen Terlarut)
Dissolved oxygen atau oksigen terlarut adalah banyaknya oksigen
yang terkandung di dalam air dan diukur dalam satuan milligram per
liter. Oksigen terlarut ini dipergunakan sebagai derajat atau tingkat
kekotoran

limbah

yang

ada.semakin

besar

oksigen

terlarut

menunjukkan tingkat kekotoran limbah yang semakin kecil. Jadi, nilai


DO berbanding terbalik dengan BOD (Sugiharto, 1987).
b. BOD (Biochemical Oxygen Demand)
BOD (Biochemical Oxygen Demand) atau kebutuhan oksigen
biokimiawi merupakan satuan yang digunakan untuk mengukur
kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk menguraikan bahan organik
di dalam air limbah, menggunakan ukuran mg/liter air kotor.

Pemeriksaan BOD didasarkan atas reaksi oksidasi zat organik dengan


oksigen di dalam air dan proses tersebut berlangsung karena adanya
bakteri aerob sebagai hasil oksidasi akan terbentuk karbon dioksida,
air, dan amoniak.(Sugiharto, 1987).
Parameter BOD, secara umum banyak dipakai untuk menentukan
tingkat pencemaran air buangan. Penentuan BOD sangat penting untuk
menelusuri

aliran

pencemaran

dari

tingkat

hulu

ke

muara.

Sesungguhnya penentuan BOD merupakan suatu prosedur bioassay


yang menyangkut pengukuran banyaknya oksigen yang digunakan
oleh organisme selama organisme tersebut menguraikan bahan organik
yang ada dalam suatu perairan, pada kondisi yang harnpir sama
dengan kondisi yang ada di alam. Selama pemeriksaan BOD, contoh
yang diperiksa harus bebas dari udara luar untuk rnencegah
kontaminasi dari oksigen yang ada di udara bebas. Konsentrasi air
buangan/sampel tersebut juga harus berada pada suatu tingkat
pencemaran tertentu, hal ini untuk menjaga supaya oksigen terlarut
selalu ada selama pemeriksaan. Hal ini penting diperhatikan
mengingat kelarutan oksigen dalam air terbatas dan hanya berkisar 9
ppm pads suhu 20C (Sawyer & Mc Carty, 1978).
Biochemical Oxygen Demand menunjukkan jumlah oksigen
dalam satuan ppm yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk
memecahkan bahan-bahan organik yang terdapat di dalam air.
Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran
akibat air buangan penduduk atau industri. Penguraian zat organik
adalah peristiwa alamiah, apabila suatu badan air dicemari oleh zat
oragnik, bakteri dapat menghabiskan oksigen terlarut dalam air selama
proses oksidasi tersebut yang bisa mengakibatkan kematian ikan-ikan
dalam air dan dapat menimbulkan bau busuk pada air tersebut.
Beberapa zat organik maupun anorganik dapat bersifat racun misalnya
sianida, tembaga, dan sebagainya, sehingga harus dikurangi sampai
batas yang diinginkan.

Berkurangnya oksigen selama biooksidasi ini sebenarnya selain


digunakan untuk oksidasi bahan organik, juga digunakan dalam proses
sintesa sel serta oksidasi sel dari mikroorganisme. Oleh karena itu uji
BOD ini tidak dapat digunakan untuk mengukur jumlah bahan-bahan
organik yang sebenarnya terdapat di dalam air, tetapi hanya mengukur
secara relatif jumlah konsumsi oksigen yang digunakan untuk
mengoksidasi bahan organik tersebut. Semakin banyak oksigen yang
dikonsumsi, maka semakin banyak pula kandungan bahan-bahan
organik di dalamnya.
Oksigen yang dikonsumsi dalam uji BOD ini dapat diketahui
dengan menginkubasikan contoh air pada suhu 20 0C selama lima hari.
Untuk memecahkan bahan-bahan organik tersebut secara sempurna
pada suhu 20 0C sebenarnya dibutuhkan waktu lebih dari 20 hari,
tetapi untuk prasktisnya diambil waktu lima hari sebagai standar.
Inkubasi selama lima hari tersebut hanya dapat mengukur kira-kira 68
persen dari total BOD (Sasongko, 1990).
Terdapat pembatasan BOD yang penting sebagai petunjuk dari
pencemaran organik. Apabila ion logam yang beracun terdapat dalam
sampel maka aktivitas bakteri akan terhambat sehingga nilai BOD
menjadi lebih rendah dari yang semestinya (Mahida, 1981).
Pengujian BOD menggunakan metode Winkler-Alkali iodida
azida, adalah penetapan BOD yang dilakukan dengan cara mengukur
berkurangnya kadar oksigen terlarut dalam sampel yang disimpan
dalam botol tertutup rapat, diinkubasi selama 5 hari pada temperatur
kamar, dalam metode Winkler digunakan larutan pengencer MgSO 4,
FeCl3, CaCl2 dan buffer fosfat. Kemudian dilanjutkan dengan metode
Alkali iodida azida yaitu dengan cara titrasi, dalam penetapan kadar
oksigen terlarut digunakan pereaksi MnSO4, H2SO4, dan alkali iodida
azida. Sampel dititrasi dengan natrium thiosulfat memakai indikator
amilum (Alaerts dan Santika, 1984).

Penentuan BOD dapat dinaggap prosedur oksidasi basah,


dimana mikroorganisme yang terdapat di dalam contoh air dipakai
sebagai pengoksidasi zat organik menjadi karbon dioksida (CO2) dan
amoniak (NH3). Untuk penetapan kuantitatif contoh harus dilindungi
dari udara bebas. Hal ini bertujuan untuk mencegah aerasi yang dapat
menurunkan daya larutan oksigen dalam contoh yang diperiksa.
Karena terbatasnya kelarutan oksigen di dalam air maka untuk air
limbah

yang

pencemarannya

cukup

tinggi,

perlu

dilakukan

pengenceran. Hal ini bertujuan agar menjamin kebutuhan oksigen


mencukupi selama proses penentapan berlangsung.
Kadar BOD dapat diukur dengan menggunakan Metode
Winkler. Pada Metode Winkler untuk mengukur kelarutan oksigen
pada sampel ditambahkan MnSO4 dan pereaksi oksigen (missal KI).
Fungsi MnSO4 dan KI yaitu untuk mengikat oksigen sehingga terjadi
endapan. Lalu ditambahkan lagi asam sulfat, yang berfungsi untuk
menghilangkan endapan yang telah terbentuk dan juga akan
membebaskan molekul iodium yang ekivalen dengan jumlah oksigen
terlarut. Iodium yang dibebaskan akan dititrasi dengan tiosulfat
(Na2S2O3) dengan menggunakan indikator larutan kanji. Reaksi yang
terjadi antara iodium dan tiosulfat :
I2 + 2 Na2SO4 Na2S4O6 + 2 NaI
Kelebihan menggunakan Metode Winkler dalam menganalisis
oksigen terlarut (DO) adalah dimana dengan cara titrasi berdasarkan
Metode Winkler lebih analitis, teliti,dan akurat apabila dibandingkan
dengan cara alat DO meter. Hal yang perlu diperhatikan dalam titrasi
iodometri adalah penentuan titik akhir titrasinya, standarisasi larutan
tiosulfat dan penambahan indikator amilum.
Kelemahan Metode Winkler, yaitu dalam menganalisis oksigen
terlarut, penambahan indikator amilum harus dilakukan pada saat
mendekati titik akhir titrasi agar amilum tidak membungkus iod,
karena akan menyebabkan amilum sukar bereaksi untuk kembali ke

senyawa semula. Proses titrasi harus dilakukan sesegera mungkin


karena I2 mudah menguap.
Waktu (hari)

Bahan Organik

0.5
1.0
1.5
2.0
2.5
3.0
4.0
5.0
6.0
7.0

Teroksidasi (%)
11
21
30
37
44
50
60
68
80
75

Waktu (hari)

Bahan Organik

8.0
9.0
10.0
11.0
12.0
13.0
14.0
16.0
18.0
20.0

Teroksidasi (%)
84
87
90
92
94
95
96
97
98
99

Tabel : Waktu yang dibutuhkan untuk mengoksdasi bahan bahan


organik pada suhu 200 oC (sumber : Standard Methods for Examination
of Water and Waste Water)

E. Peraturan Perundang-undangan Limbah


a. UU No. 32 Tahun 2009
1. Pasal 13
Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar
makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus
ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya
dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup.
2. Pasal 20
Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan.
3. Pasal 22
Limbah bahan berbahaya dan beracun, yang selanjutnya disebut
Limbah B3, adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang
mengandung B3.
4. Pasal 23

Pengelolaan

limbah

pengurangan,

B3

adalah

penyimpanan,

kegiatan

pengumpulan,

yang

meliputi

pengangkutan,

pemanfaatan, pengolahan, dan/atau penimbunan.


b. Perda Jawa Tengan Np. 5 Tahun 2012, tentang baku mutu air limbah.

BAB III
METODE UJI BOD

A.

B.

Alat-Alat
Alat-alat yang digunakan dalam analisis BOD ini meliputi: labu ukur, erlenmeyer,
botol winkler, pipet volume, inkubator, aerator, dan buret.
Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam anilisis BOD ini meliputi: aquades, larutan
buffer phospat, larutan MgSO4, larutan CaCl2, larutan FeCl3, larutan glukosaasam glutamat, larutan MnSO4, alkali, H2SO4 p.a, larutan Na2S2O3 dan amilum 2
%.

C.

Cara Kerja
1. Pembuatan Larutan Buffer Phospat
Menimbang 8,5 gram KH2PO4; 21,75 gram K2HPO4, 33,4 gram
Na2HPO4.7H2O; dan 1,7 gram NH4Cl. Kemudian melarutkannya dengan
aquades dalam labu ukur 1000 ml sampai tanda tera. Setelah itu larutan
dihomogenkan dengan menggunakan magnetic stirrer.
2. Pembuatan Larutan Pengencer
Menuangkan 6000 ml aquades dalam aerator dan menambahkan 6 ml larutan
buffer phospat, 6 ml larutan MgSO 4, 6 ml larutan CaCl2, 6 ml larutan FeCl3,
selanjutnya dilakukan proses aerasi sampai jenuuh. air pengencer dikondisikan
pada suhu 20C, tempat air pada aerator dalam keadaan bersih tanpa kotoran
yang mengendap.
3. Pengenceran Sampel dengan Larutan Pengencer
Memipet sampel 10 ml atau 5 ml limbah yang akan diuji ke dalam labu ukur
500 ml, kemudian dilarutkan dengan larutan pengencer sampai tanda batas.
Faktor pengencerannya disesuaikan dengan tingkat kepekatan sampel
(mencium baunya). Untuk blanko berisi larutan pengencer. Setelah itu larutan
dihomogenkan dengan cara dikocok kemudian dimasukkan ke dalam 3 botol
winkler. Dalam menuangkan ke dalam botol winkler, larutan harus meluap
hingga tidak ada gelembung udara di dalam botol kemudian ditutup rapat.
Botol untuk uji BOD hari ketiga dan kelima diinkubasi pada suhu 20 3.
Catatan: botol winkler yang digunakan untuk uji BOD hari ke-3 dan ke-5
menggunakan botol berwarna coklat, sedangkan untuk uji BOD hari ke-0
menggunakan botol berwarna bening.
4. Flokulasi
Uji BOD hari ke-0 dilakukan dengan menambahkan 0,5 ml MnSO4 dan 0,5 ml
alkali ke dalam botol winkler. Setelah itu botol langsung ditutup rapat dan

mengocoknya kira-kira 30 putaran. Diamkan sekitar 15 menit hingga


terbentuk dua lapisan berwarna coklat dan bening. Setelah terbentuk dua
lapisan , larutan diasamkan dengan menambahkan 1 ml H2SO4 p.a lalu
menutup botol dengan segera. Selanjutnya botol dikocok sampai endapan
hilang.
5. Titrasi
Titrasi iodometri yaitu dengan mengambil 50 ml larutan standar dititrasi
dengan larutan Na2S2O3 0,025 N hingga berwarna kuning muda. Setelah itu
ditambahkan indikator amilum 3 tetes kemudian dititrasi kembali sampai
larutan berwarna menjadi tidak berwarna. Mencatat volume titer yang
diperlukan.
Catatan: setelah penambahan amilum titrasi dilakukan dengan sangat cermat
dan hati-hati (diperlambat jika telah mendekati titik akhit titrasi).