Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

Sindrom neuroleptik maligna (NMS) adalah efek samping obat antipsikotik yang
merupakan penyakit langka, tak terduga, dan berpotensi menyebabkan kematian. Saat ini, belum
ada pengobatan memuaskan yang tersedia. Terapi modern penghenti neuroleptik berupa
pengobatan antikolinergik, bantuan hidup dasar, dan perawatan medis dengan bromokriptin,
dantrolen, amantadine, benzodiazepin atau L-Dopa1,2,3. Beberapa studi menunjukkan bahwa
terapi electroconvulsive (ECT) dapat efektif dalam NMS berat, atau NMS yang resisten terhadap
terapi obat. Respon terhadap ECT biasanya muncul setelah rata-rata enam sesi, meskipun ini
tidak selalu dapat diprediksi.[1]
Di Amerika Serikat, sindrom neuroleptik ganas telah dilaporkan terjadi pada 0,07-2,2%
dari pasien yang memakai obat neuroleptik. Karena meningkatnya sindrom ini maka kesadaran
dan upaya pencegahan perlu ditingkatkan. Frekuensi sindrom neuroleptik maligna internasional
sejajar dengan penggunaan antipsikotik, terutama neuroleptik, di suatu wilayah. Tidak ada data
menunjukkan variasi geografis atau rasial. Satu uji coba besar yang dilakukan secara acak di
Cina menunjukkan kejadian 0,12% pada pasien yang memakai neuroleptik. Sebuah penelitian
retrospektif yang dilakukan di India menunjukkan kejadian 0,14%. Onset dari sindrom
neuroleptik maligna berkisar 1-44 hari setelah memulai terapi obat neuroleptik; rata-rata onset
adalah 10 hari. Lazarus et al melaporkan sindrom neuroleptik maligna terjadi pada 67% pasien
dalam waktu 1 minggu dan 96% dari pasien dalam waktu 30 hari setelah pemberian neuroleptik.
[2]

Sindrom neuroleptik maligna dilaporkan lebih sering terjadi pada laki-laki, meskipun
mungkin penelitian ini hanya mencerminkan pengguna neuroleptik lebih banyak berjenis
kelamin laki laki. Rasio antara Laki-laki dan perempuan yaitu 2: 1. Berdasarkan laporan, usia
rata-rata pasien yang mengalami sindrom neuroleptik maligna adalah 40 tahun, tetapi sindrom ini
dapat terjadi pada pasien dari segala usia yang menerima neuroleptik atau obat pemicu lainnya.[2]

Insiden yang tinggi pada suatu wilayah mencerminkan populasi yang memiliki tingkat
penggunaan antipsikotik yang tinggi. Beberapa seri kasus kecil menunjukkan bahwa onset pada
pasien usia lanjut lebih lama dari penggunaan antipsikotik dibandingkan usia muda.
Meskipun NMS jarang terjadi pada anak-anak, studi menunjukkan bahwa dokter harus
mempertahankan tingkat kecurigaan yang tinggi pada anak-anak. Gejala NMS pada anak sesuai
dengan yang dijelaskan pada orang dewasa.[2]
Obat antipsikosis juga dikenal sebagai neuroleptik dan secara salah diartikan sebagai
tranquilizer mayor. Obat pada umumnya membuat tenang tanpa mempengaruhi kesadaran dan
tanpa menyebabkan efek kegembiraan paradoksikal (paradoxical excitement) namun tidak dapat
dianggap hanya sebagai tranquilizer saja. Untuk kondisi seperti skizofrenia, efek penenangnya
merupakan hal penting nomor dua.[3]

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Sindrom Neuroleptik Malignan (SNM) merupakan kondisi yang mengancam kehidupan
akibat idiosinkrasi terhadap obat anti-psikosis (khususnya pada long acting resiko ini lebih
besar). Semua pasien yang diberi anti-psikosis mempunyai resiko untuk terjadinya SNM
tetapi dengan kondisi dehidrasi, kelelahan atau malnutrisi, resiko ini akan menjadi lebih
tinggi.[4]
Sindrom Neuroleptik Malignan merupakan gangguan yang serius yang diperkiran terjadi
di anatara 0,5% dan 1% pasien yang terpapar medikasi neuroleptik. Dapat terjadi setiap saat
sewaktu terapi dan pada sEpietiap pasien walaupun lelaki muda mungkin mempunya resiko
yang lebih tinggi. Sindro Neuroleptik Malignan jarang terjadi tetapi merupakan efek
samping dengan potensi yang fatal dari beberapa obat.[3]
DSM IV mendefinisikan sindrom neuroleptik malignan sebagai gangguan rigiditas otot
berat, peningkatan temperatur dan gejala lainnya yang terkait (misalnya diaphoresis,
disfagia, inkontinensia, perubahan tingkat kesadaran dari konfusi sampai koma, mutisme,
tekanan darah meningkat atau tidak stabil, peningkatan kreatin phospokinase (CPK) yang
berkaitan dengan penggunaan pengobatan neureptik.[5]
Obat neuroleptik dan obat lainnya yang berpengaruh pada dopamin biasanya dipakai
untuk terapi kondisi psikiatri dan non psikiatri seperti skizofrenia, gangguan afek mayor
(gangguan depresi, bipolar), delirium, gangguan tingkah laku karena demensia, nausea,
disfungsi usus dan penyakit parkinson. Sindrom ini mengakibatkan disfungsi sistem saraf
otonom. Sistem saraf otonom adalah sistem saraf yang bertanggung jawab untuk aktivitas
tubuh yang tidak dikendalikan secara sadar, seperti denyut jantung, tekanan darah,
pencernaan, berkeringat, suhu tubuh dan kesadaran juga berpengaruh.

B. EPIDEMIOLOGI
Pria lebih sering terkena dibanding wanita, dan pada pasien orang dewasa lebih sering
terkena dari pada lansia. Angka kematian bisa mencapai 10% - 20%. Prevalensi sindrom
diperkirakan 0,02% - 2,4% pada pasien yang menggunakan obat golongan dopamin
antagonis. Pada penelitian terdahulu didapatkan bahwa laki-laki dewasa, anak-anak, dan
remaja beresiko untuk SNM. Insiden sindrom SNM berkisar 0,02% - 3% diantara pasien
yang memakai agen antipsikotik. Survei yang dilakukan, melaporkan frekuensi 3 kasus
SNM (0,24%) dari pasien 1.250 pasien yang menerima clozapine, dan perkiraan kejadian
dari SNM menjadi (0,10%) pada 9.000 pasien yang diobati clozapine. Dalam pra-pemasaran
percobaan, produsen quetiapine melaporkan 2 kasus kemungkinan SNM (0,08%) pada 2.387
pasien. Angka-angka yang hampir sama pada kejadian SNM diperkirakan terjadi antara
populasi pasien dengan gangguan jiwa. Perbedaan mungkin terjadi dalam populasi sampel,
antara pasien rawat inap dibandingkan rawat jalan, serta perbedaan dalam metode
pengawasan dan definisi penyakit digunakan.[6, 7, 8]
C. ETIOLOGI[6,8]
1. Semua kelas anti psikotik dapat menimbulkan SNM baik itu neuroleptik potensi rendah,
neuroleptik potensi tinggi maupun anti psikotik atipikal. SNM sering terjadi pada pasien
yang mengkonsumsi haloperidol dan chlorpromazine.
2. SNM telah dikaitkan dengan antagonis dopamin, penghentian tiba-tiba obat parkinson
dan jarang penghentian mendadak dari antipsikosis. Hal ini menunjukkan bahwa fluktuasi
mengikat dopamin mungkin penting dalam etiologi.
3. Penggunaan obat antipsikotik dosis tinggi (terutama neuroleptik potensi tinggi),
antipsikotik aksi cepat dengan dosis tinggi dan penggunaan antipsikotik injeksi long
acting.
4. Faktor lain berhubungan dengan famakoterapi. Penggunaan neuroleptik yang tidak
konsisten dan penggunaan obat psikotropik lainnya, terutama lithium, dan juga terapi
kejang.

D. FAKTOR RESIKO[9]

1. Faktor lingkungan dan psikologi yang menjadi predisposisi terhadap SNM adalah kondisi
panas dan lembab, agitasi, dehidrasi, kelelahan dan malnutrisi.
2. Faktor genetik, terdapat laporan kasus yang mempublikasikan bahwa SNM dapat pada
kembar identik.
3. Pasien dengan riwayat episode SNM sebelumnya beresiko untuk rekuren. Resiko
rekurensi tersebut berhubungan dengan jarak waktu antara episode SNM dan penggunaan
anti psikotik. Apabila pasien diberikan anti psikotik dalam 2 minggu episode SNM, 63%
akan rekurensi. Jika lebih dari 2 minggu, persentasenya hanya 30%.
4. Sindrom otak organik, gangguan mental non skizofrenia, penggunaan lithium, riwayat
ECT, penggunaan neuroleptik tidak teratur.
5. Penggunaan neuroleptik potensi tinggi, neuroleptik dosis tinggi, dosis neuroleptik di
naikkan dengan cepat, penggunaan neuroleptik injeksi.
E. PATOFISIOLOGI
Sesuai dengan istilahnya SNM berkaitan dengan pemberian pengobatan neuroleptik.
Mekanisme pastinya belum diketahui, tetapi terdapat hipotesis yang menyatakan bahwa
defisiensi dopamin atau blokade dopamin yang menyebabkan SNM. Pengurangan aktivitas
dopamin di area otak (hipotalamus, sistem nigrostratial, traktus kortikolimbik) dapat
menerangkan terjadinya gejala klinis SNM.[6]
Pengurangan dopamin di hipotalamus dapat menyebabkan terjadinya peningkatan set
point sehingga terjadi demam dan juga dapat menyebabkan ketidakstabilan otonom. Di
sistem nigrostratial dapat menyebabkan rigiditas, di sistem traktus kortikolimbik dapat
menyebabkan perubahan kesadaran. Perubahan status mental disebabkan karena blokade
reseptor dopamin di sistem nigrostratial dan mesokortikal.[5]
SNM disebabkan oleh:
Karena adanya penurunan aktivitas dopamin akibat
Blokade reseptor dopamin (D2) atau pun deplesi dopamin di SSP
Disfungsi membran otot
Gangguan sistem saraf simpatik

Pusat pengaturan panas dimediasi oleh:[6, 8, 10]


Noradrenergik
Dopaminergik
Serotoninergik, dan

Kolinergik path dopamin secara langsung menghambat kontraksi otot rangka, dengan

demikian pemblokan pada reseptor dopamin akan meningkatkan kontraksi otot rangka.
F. GAMBARAN KLINIS
Gambaran klinis sindrom neuroleptik malignan berupa ketidakstabilan otonom seperti
hipertermia, takikardi, tekanan darah meningkat, takipneu, atau diaphoresis. Dapat juga
disertai dengan rigiditas otot, penurunan kesadaran, peningkatan kreatin kinase dan
mioglobinuria.[4]
Sindrom Neuroleptik Malignan (SNM) dapat terjadi pada dosis tunggal neuroleptik
(phenotiazine, thioxanthene, atau neuroleptikal atipikal), biasanya berkembang dalam 4
minggu pertama setelah dimulainya pengobatan dengan neuroleptik. SNM sebagian besar
berkembang dalam 24-72 jam setelah pemberian neuroleptik atau perubahan dosis (biasanya
karena peningkatan).[10]
Gejala disreglasi otonom mencakup demam, diaphoresis, takipneu, takikardi, dan tekanan
darah meningkat atau labil. Gejala ekstrapiramidal meliputi rigiditas, disfagia, tremor pada
waktu tidur, distonia dan diskinesia. Tremor dan aktivitas motorik berlebihan dapat
mencerminkan agitasi psikomotorik.[10]
SNM biasanya berkembang selama periode 24-72 jam. Resiko pengembangan SNM telah
dilaporkan berlangsung selama 10-20 hari setelah pemberhentian neuroleptik oral. Terdapat
tiga gejala utama yang menunjukkan tingginya kehadiran SNM yaitu: hipertermia, kekakuan
dan konsentrasi kreatin phospokinase. Dengan tidak adanya kriteria ini, diagnosis SNM
harus dipertanyakan, karena gejala lain dari gangguan tersebut dapat dilihat pada pasien
yang memakai neuroleptik tanpa SNM. Suhu tinggi (38,50 C) tanpa adanya penyakit
sistemik lainnya yang diamati pada kebanyakan pasien. Peningkatan tonus otot bisa disertai
dengan gejala ekstrapiramidal termasuk tardive, disartia atau parkinsonisme. Konsentrasi
kreatin phospokinase selalu meningkat (>1000 IU 1 liter), mencerminkan mionekrosis
sekunder kontraktur otot intens. Ini sering mengakibatkan gagal ginjal akut mioglobinuria.
Tanda-tanda kecil saja tidak menunjukkan probabilitas tinggi dari SNM. Diaphoresis,
takikardia dan tekanan arteri abnormal tinggi adalah tanda-tanda umum dari disfungsi
otonom. Gangguan kesadaran berkisar dari agitasi untuk pingsan atau koma. Banyak tandatanda klinis lain dari frekuensi yang lebih rendah, termasuk opistotonus, kejang grand mal,
tanda-tanda babinski, chorea, dan trismus.[10]
G. GEJALA

Gejala khas dari SNM adalah kekakuan otot dan suhu tinggi pada pasien dengan
penggunaan obat anti psikotik.[8]
Perubahan status mental adalah gejala awal pada 82% pasien. Hal ini tidak mengherankan
mengingat komorbiditas yang khas pada pasien psikiatri yaitu delirium, gelisah pada

psikosis. Tanda-tanda katatonik dan bisu dapat menonjol.


Kekakuan otot adalah umum dan ekstrim. Meningkatnya kekakuan otot dapat
ditunjukkan dengan menggerakkan kaki dan ditandai dengan lead pipe yaitu kekakuan

seperti pipa atau perlawanan terhadap semua rentang gerakan.


Hipertermia adalah gejala yang sesuai dengan definisi kriteria diagnostik. Sumber
hipertermia pada SNM meliputi penghambatan pada pusat dopaminergik, akibat induksi
antipsikotik, terjadi termoregulasi memediasi kehilangan panas dan meningkatkan

produksi panas yang berasal dari efek antipsikotik pada otot skeletal dan metabolisme.
H. PEMERIKSAAN LAB
Serum CK
Temuan laboratorium seringkali mencerminkan manifestasi klinis SNM dengan kekakuan
yang lebih parah yang mengarah ke elevasi creatin kinase (CK). Dalam SNM, kenaikan CK
biasanya lebih dari 1000 IU/L dan dapat setinggi 100.000 IU/L. CPK elevasi pada SNM
mungkin terjadi pada sampai 95% kasus dan dapat mencapai 2.000 kali dari nilai normal
dalam beberapa kasus. Tingkat CK lebih besar dari 1.000 IU/L, sangat mungkin spesifik
untuk SNM, dan tingkat elevasi CK berkorelasi dengan keparahan penyakit, prognosis dan
resiko gagal ginjal.[7]
Kelainan laboratorium lainnya adalah umum terapi spesifik.[7]
Leukositosis, dengan jumlah sel darah putih biasanya 10.000 sampai 40.000/mm3.
Peningkatan ringan dari laktat dehidrogenase, alkaline phosphatase, dan transaminase hati

yang umum.
Kelainan elektrolit:

hiperkalemia, dan asidosis metabolik.


Kadar besi serum yang rendah (rata-rata 5,71 umol/L; biasa 11-33 umol/L) yang sering

hipokalsemia,

hipomagnesemia,

hipo

dan

hipernatremia,

terlihat pada pasien SNM dan merupakan sensitif (92-100%) tetapi bukan tanda yang
spesifik untuk SNM pada pasien gangguan jiwa akut.
I. DIAGNOSIS[5]
Konsensus untuk diagnosis sindrom neuroleptik maligna tidak ada. Salah satu kriteria
berasal dari DSM IV-TR. Kriteria tersebut mencakup hiperpireksia dan rigiditas otot, dengan
salah satu atau lebih tanda-tanda penting seperti ketidakstabilan otonom, perubahan
sensorik, peningkatan kadar CK dan mioglobinuria.
7

Berdasarkan gejala klinis tersebut, SNM seharusnya menjadi diagnosis banding pada
pasien demam dengan pengobatan neuroleptik. Sebelum diagnosis SNM ditegakkan, semua
kemungkinan penyebab kenaikan suhu harus disingkirkan, dan demam harus disertai dengan
gejala klinis lain seperti rigiditas otot, perubahan status mental dan ketidakstabilan otonom.
Kriteria diagnosis menurut DSM IV (Diagnostic and Statical Manual of Mental
Disorder). Memenuhi kriteria A dua-duanya dan kriteria B minimal 2.[5]
Kriteria A
1. Rigiditas otot
2. Demam
Kriteria B
1. Diaphoresis
2. Disfagia
3. Tremor
4. Inkontinensia
5. Perubahan kesadaran
6. Mutisme
7. Takikardi
8. Tekanan darah meningkat atau labil
9. Leukositosis
10. Hasil laboratorium menunjukkan cedera otot
Kriteria C
Tidak ada penyebab lain (Misal: encephalitis virus)
Kriteria D
Tidak ada gangguan mental
Diagnosis banding dari SNM sangat luas. Hal terpenting sumber infeksi dari demam
harus disingkirkan. Pungsi lumbal harus dipertimbangkan untuk membedakan SNM dengan
encephalitis virus atau encephalomyelitis post infeksi. SNM harus dibedakan dari sindrom
yang disebabkan oleh pengobatan lain seperti sindrom serotonin dan hipertermi maligna.[11]
J. DIAGNOSIS BANDING[8]
Heat stroke
Pada heat stroke kulit menjadi kering dan lembek akibat hipertermia dan hipotensi
Letal kataton
Letak kataton terjadi pada orang skizofrenia atau episode manik. Neuroleptik dapat
memperbaiki atau memperburuk gejalanya. Membedakan SNM dan letal kataton sulit,
meskipun riwayat pasien menyatakan episode kataton pada saat tidak meminum
neuroleptik. Letal kataton cenderung eksitasi dan agitasi pada prodormal sedangkan SNM
dimulai dengan rigiditas.
Sindrom sertonin

Gangguan terkait yang paling sering didiagnosis adalah sindrom serotonin. Hal ini
biasanya disebabkan oleh penggunaan selektif serotonin re-uptake inhibitor dan memiliki
presentasi serupa yang sulit untuk membedakan dari SNM. Gejala khas pada pasien yang
tidak sering terlihat pada pasien SNM yaitu menggigil, hiperreflexia, mioklonus, dan
ataksia. Kekakuan dan hipertermia, kurang parah dibandingkan pada pasien dengan
SNM.

K. PENATALAKSANAAN
1. Terapi suportif[9]
Penatalaksanaan yang paling penting adalah menghentikan semua anti psikotik dan terapi
suportif. Pada sebagian besar kasus, gejala akan mereda dalam 1-2 minggu. SNM yang
dipercepat dengan depot injeksi anti psikotik long action dapat bertahan selama sebulan.
Pengobatan suportif berikut harus disediakan:[6, 7, 8]
Hentikan agen anti psikotik atau obat pencetus.
Menjaga stabilitas kardiorespirasi. Mekanisme ventilasi, agen antiarrhytmic, atau alat
pacu jantung mungkin diperlukan.
Mempertahankan keadaan volume cairan menggunakan cairan infus. Kehilangan
cairan insesible water dari demam dan dari diaforesis juga harus dipertimbangkan. Jika
CK sangat tinggi, volume cairan infus yang tinggi dengan alkalinisasi urin dapat
membantu mencegah atau mengurangi gagal ginjal dari rhabdomyolysis.
Menurunkan demam menggunakan selimut pendingin. Tindakan fisik lebih agresif
mungkin diperlukan: pemberian kompres es. Penggunaan asetaminofen atau aspirin
mungkin memiliki peran dalam menurunkan suhu dalam SNM.
Menurunkan tekanan darah jika nyata meningkat. Penggunaan agen tertentu tidak
didukung oleh data klinis. Misalnya Clonidin efektif dalam hal ini. Nitropusside
mungkin memiliki keunggulan dengan juga memfasilitasi pendingin melalui vasodilasi
kulit.
Meresepkan heparin untuk mencegah trombosis vena.
Gunakan benzodiazepin untuk mengontrol agitasi, jika perlu.
Pasang NGT untuk menjamin intake oral.
2. Terapi farmakologik
9

Yang paling pertama yang harus dilakukan adalah dengan memberhentikan semua obat
psikotik yang digunakan. Terapi farmakologik masih dalam perdebatan. Agonis dopamin
seperti bromokriptin dan amantadin diperkirakan berguna untuk mengobati SNM
berdasarkan hipotesis defisiensi dopamin. Beberapa ahli melaporkan bahwa agonis
dopamin, clantralene maupun kombinasi keduanya dapat mengurangi mortalitas atau
memperpendek durasi sakit. Terapi tunggal dengan benzodiazepin dilaporkan berhasil
dalam beberapa kasus. Benzodiazepin efektif dalam penanganan SNM dengan
mengurangi durasi menjadi 2-3 hari.[7, 8]
L. KOMPLIKASI
Komplikasi dari sindrom neuroleptik malignan yang paling umum adalah rhabdomiolisis
sebagai akibat dari rigiditas otot terus menerus dan akhirnya terjadi kerusakan otot.
Menghindari anti psikotik dapat menyebabkan komplikasi karena psikotik yang tidak
terkontrol. Sebagian besar pasien dengan pengobatan anti psikotik menderita karena
gangguan psikiatri berat atau persisten, kemungkinan relaps tinggi jika anti psikotik
dihentikan serta kemungkinan terjadi komplikasi yang umum dan parah bahkan fatal.[6]
Dehidrasi
Ketidakseimbangan elektrolit
Gagal ginjal akut terkait dengan rhabdomiolisis
Aritmia jantung dan serangan jantung
Cardiomyopathy
Kegagalan pernapasan dari kekakuan dinding dada, aspirasi pneumonia, emboli paru
Trombositopenia
Disseminated intravascular coagulation
Trombosis vena dalam
Kejang dari hipertermia dan kekacauan metabolik
M. PROGNOSIS[9]
Pasien dengan SNM dapat kembali terjadi rekurensi. Resiko terjadinya rekurensi
berhubungan antara jeda waktu SNM dan dimulainya kembali pengobatan antipsikotik. Jika
obat antipsikotik diperlukan, panduan berikut dapat meminimalkan resiko kekambuhan
SNM, tidak satupun dari jaminan ini memberikan keberhasilan atau bahkan kegagalan.
Tunggu setidaknya dua minggu sebelum melanjutkan terapi, lebih lama jika adanya

residual klinis.
Gunakan agen potensi yang lebih rendah dari pada yang lebih tinggi.
Mulailah dengan dosis rendah dan tirtrasi ke atas perlahan-lahan.
Menghindari dehidrasi.
Hati-hati memantau gejala SNM.[6]

10

N. PENCEGAHAN
Pencegahan merupakan bagian penting dalam menghindari terjadinya sindrom ini. Dosis
terendah neuroleptik dianjurkan, dengan memonitor onset efek samping ekstrapiramidal.
Deteksi awal dan memberikan terapi untuk mengeliminasi efek samping ekstrapiramidal,
terutama rigiditas otot dapat mencegah perkembangan lebih lanjut SNM dan komplikasinya.
[5]

11

BAB III
KESIMPULAN
Sindrom Neuroleptik Maligna (SNM) merupakan kondisi yang mengancam kehidupan
akibat reaksi idiosenkrasi terhadap obat anti-psikosis (khususnya pada long acting resiko ini
lebih besar). Semua pasien yang diberi anti-psikosis mempunyai resiko untuk terjadinya SNM
tetapi dengan kondisi dehidrasi, kelelahan atau malnutrisi, resiko ini akan menjadi lebih tinggi.
SNM terjadi diduga karena defisiensi dopamin atau blokade dopamin yang menyebabkan SNM.
Pengurangan aktivitas dopamin di area otak (hipotalamus, sistem nigrostratial, traktus
kortikolimbik) dapat menerangkan terjadinya gejala klinis SNM.
Sindrom Neuroleptik Maligna (SNM) adalah sindrom yang dapat mengancam kehidupan
dan kedarurat neurologis dengan menggunakan agen antipsikotik dan ditandai dengan sindrom
klinis yang khas.

Diagnosis harus dicurigai bila ada dua dari empat fitur utama klinis, perubahan status
mental, kekakuan, demam, atau disautonomia, muncul dalam pengaturan penggunaan

antipsikotik atau penarikan dopamin.


Pertimbangan penting dalam diagnosis diferensial termasuk meningitis, ensefalitis,

infeksi sistemik, heat stroke.


Tes diagnostik meliputi tes untuk menyingkirkan kondisi dan evaluasi laboratorium gejala
umum gangguan metabolisme umum SNM, dan terutama peningkatan kadar CK.

DAFTAR PUSTAKA
12

1. H, Rhoda K. Psychiatry. Department of Psychiatry and Human Behavior University of


2.
3.
4.
5.

California. Irvine : 2003


Available from: http://emedicine.medscape.com/article/816018-overview#a0156
Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Informasi Obat Nasional. Jakarta. 2013.
Dr. Rusdi Muslim, Sp.KJ. Psychotropic Medication. Jakarta. 2007
Nicholson, D., Chiu., W., 2004, Neuroleptic Malignant Syndrome, Geriatrics August 2004

Volume 59, Number 8


6. Theodore I Benzer, MD, Ph.D. Neuroleptic Malignant Syndrome. Medscape. 2015
7. Eelco FM Wijdicks, MD. Neuroleptic Malignant Syndrome. UpToDate. 2015.
8. Available from :http://www. merckmanuals.com/ professional /injuries_poisoning/
heat_ilness /neuroleptic_malignant_syndrome.html.
9. Sholvar, DP., 2002, Neuroleptic Malignant Syndrome, http://www.emedicine.com
10. P. Adnet, P. Lestavel and R. Krivosic-Horber. Neuroleptic Malignant Syndrome. British
Journal of Anaesthesia. 2000; 85: 129-35

13

Anda mungkin juga menyukai