Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN

IDENTIFIKASI, MORFOLOGI, DAN KUNCI DETERMINASI


AMPHIBI DAN REPTIL

Oleh:
Nama

: Fitria Dela

No. Bp

: 1410421006

Kelompok

:5B

Anggota

: 1. Nina Annisa Rahmalia (1410421008)


2. Syafitri Dwiana Sayuti (1410421024)
3. Metri Jaya Putra

(1410422006)

4. Nabila Tsoerayya Gp

(1410422028)

Asisten Pendamping : 1. Yana Triana


2. M. Zai Halifah S.

Museum Zoologi Jurusan Biologi


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Andalas
Padang, 2015

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan salah satu negara terkaya di dunia dalam hal keanekaragaman
hayati. Daratan Indonesia yang hanya meliputi sekitar 1,3 % dari dataran di dunia,
terletak diantara dua satuan biogeografi yang unik yaitu dataran Sunda, dataran
Sahul, dan daerah perantara yang dikenal dengan daerah Wallace. Wilayah Indonesia
yang tersusun dari sekitar 17.000 pulau mampu menampung sekitar 12-17 % dari
semua keanekaragaman hayati yang ada di dunia. Kondisi ini menyebabkan
Indonesia memiliki jumlah jenis yang sangat besar, akan tetapi kecil dalam ukuran
populasi (Iskandar, 2000). Menurut Biodiversity Action Plan for Indonesia, 16% dari
amphibi dan reptil dunia terdapat disini, dengan jumlah lebih dari 1100 jenis
sehingga Indonesia menjadi negara dengan jumlah amphibi dan reptil terbesar di
dunia, tetapi jumlah tersebut diperkirakan masih jauh dibawah keadaan yang
sebenarnya (Iskandar dan Erdelen, 2006).
Sumatera merupakan pulau terbesar ketiga di Indonesia, beriklim trofis,
terletak di garis khatulistiwa dan di Asia Tenggara. Posisi geografis yang demikian
menyebabkan tingginya keanekaragaman flora dan fauna. Kepadatan populasi
manusia yang tinggi di Sumatera menyebabkan dampak negatif yang besar pada
hampir seluruh reptil di daerah ini, walaupun belum ada pengukuran yang detil
mengenai dampak tersebut (Stepherd, 2000).
Pada sistematika atau taksonomi ada tiga pekerjaan yang biasa dilakukan,
yaitu identifikasi, klasifikasi, dan pengamatan evolusi. Identifikasi merupakan
pengenalan dan deskripsi yang teliti dan tepat terhadap suatu jenis atau spesies yang
selanjutnya diberi nama ilmiahnya sehingga diakui oleh para ahli diseluruh dunia.
Klasifikasi adalah suatu kegiatan pembentukan kelompok-kelompok makhluk hidup
dengan cara memberi keseragaman ciri/sifat di dalam keanekaragaman ciri yang ada
pada makhluk hidup tersebut. Oleh karena itu dengan morfologi tubuh makhluk
hidup yang berbeda satu sama lainnya, kita memerlukan pengklasifikasian agar kita
lebih mudah memahami dan mempelajari keanekaragaman makhluk hidup tersebut
(Soesono, 1968).
Amphibia adalah kelas vertebrata yang dapat hidup di dua alam yang
berbeda, yaitu darat dan air. Amphibia merupakan perintis dari vertebrata daratan,

paru-paru dan tulang yang mereka dapatkan merupakan warisan nenek moyang
Krosopterigia. Dalam kelas amphibia ini ada tiga ordo yang biasa dikenal yaitu
Urodela, Anura, dan Gymnophiona. Anura merupakan kelas amphibia yang terdapat
di Indonesia, dan biasa dinamakan dengan kodok atau katak yang sudah maju
(Radiopoetra, 1996).
Indonesia memiliki dua dari tiga ordo amfibi yang ada di dunia, yaitu
Gymnophiona dan Anura. Ordo Gymnophiona dianggap langka dan sulit diketahui
keberadaannya, sedangkan ordo Anura merupakan yang paling mudah ditemukan di
Indonesia mencapai sekitar 450 jenis atau 11% dari seluruh jenis Anura di dunia.
Ordo Caudata merupakan satu-satunya ordo yang tidak terdapat di Indonesia
(Iskandar, 1998).
Reptilia adalah kelompok hewan vertebrata yang hidupnya merayap atau
melata di dalam habitatnya. Reptil juga tergolong ke dalam hewan yang berdarah
dingin, yang suhu tubuhnya dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Walaupun berdarah
dingin reptil melakukan pembiakan di darat. Tubuh reptil ditutupi oleh sisik-sisik
atau plot-plot dari bahan tanduk (horny scales or plates) yang kering atau tanpa
kelenjer. Umumnya reptil mempunyai dua pasang kaki, masing-masing mempunyai
lima jari yang bercakar, tetapi pada jenis-jenis tertentu kakinya mereduksi atau sama
sekali tidak ada. Rangka dari bahan tulang, oksipital, kondil hanya satu. Tipe gigi
pada reptil adalah labyrinthodont (pada reptile fosil), acrodont, pleurodont, dan
thecodont. Jantungnya mempunyai empat ruangan, dua atrium dan dua ventrikel,
tetapi pada sekat dari ventrikel kanan dan kiri belum sempurna benar. Habitat hidup
di darat, air tawar atau air laut, di daerah tropis dan daerah temperate (Carr,1977).
Reptil terdiri dari empat ordo yaitu Testudinata, Rhynchochephalia atau
Tuatara, Squamata dan Crocodilia. Sub kelas dari Testudinata adalah pleurodira,
cryptodira, paracrytodira. Sub ordo dari Squamata adalah sauria (kadal) dan
serpentes (ular). Sub ordo dari Crocodil adalah gavial, alligator, dan crocodilidae
(Pope, 1956).
Untuk mendukung pengetahuan tentang klasifikasi dan taksonomi dari
amphibi dan reptilia maka diperlukan adanya identifikasi dari berbagai parameter
morfologi dari bentuk tubuh reptilia. Dengan mengamati morfologi amphibi dan
reptilia kita dapat mengelompokkannya berdasarkan karakter yang dimilikinya.

Sistem atau cara pengelompokan ini dikenal dengan istilah sistematika atau
taksonomi kajian herpetofauna.
I.2 Tujuan
Adapun tujuan dari Praktikum Sistematika Hewan kelas Amphibi dan Reptil ini
adalah untuk identifikasi, morfologi dan kunci determinasi dari kelas amphibi dan
reptil.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kelas Amphibi


Amphibi merupakan salah satu hewan vertebrata yang memiliki ciri kulit selalu
basah dan berkelenjar, tidak bersisik, tidak bersirip, terdapat dua buah nares yang
menghubungkan dengan cavum oris, mata berkelopak dapat digerakkan, lembar
tympanium sebelah luar, mulut bergeligi dan lidah dapat dijulurkan, skeleton
sebagian besar berupa tulang keras, jantung tiga ruang , bernafas dengan insang,
paru-paru dan kulit, otak dengan 10 pasang nervi cranialis, fertilisasi eksternal atau
internal (Jasin, 1984).

Tubuh amphibia khususnya katak, terdiri dari kepala, badan, dan leher yang
belum tampak jelas. Sebagian kulit, kecuali pada tempat-tempat tertentu, terlepas
dari otot yang ada di dalamnya, sehingga bagian dalam tubuh katak berupa ronggarongga yang berisi cairan limfa subkutan (Djuhanda, 1982). Amphibi dewasa
memiliki mulut lebar dan lidah yang lunak yang melekat pada bagian depan rahang
bawah. Paru-paru selalu ada seperti yang terdapat pada kelompok salamander, dan
sebagian besar pernafasan juga dilakukan oleh kulit (Djuhanda, 1974).
Pada katak sawah, kulit ini hampir selalu basah karena adanya sekresi
kelenjar-kelenjar mucus yang banyak terdapat didalamnya. Selain itu, kulit katak
juga banyak mengandung kapiler-kapiler darah dari cabang-cabang vena kutanea
magna dan arteri kutanea (Djuhanda, 1982). Selain kulit, pernafasan juga dilakukan
melalui epitel, mulut, dan larynxs. Bibir, mata, dan kelenjar yang menjaga
kelembaban mata juga ikut berkembang (Djuhanda, 1974).
Amphibi hidup didua tempat, di air dan tempat yang lembab dari daratan.
Telur-telur individu yang belum matang adalah normal hidup di dekat air dan dan
dewasa tidak pernah jauh dari air, dari kemampuan mereka disebuah lingkungan
daratan, lebih tepat lagi tidak berkembang. Dewasa ditemukan ditanah dekat kolamkolam, aliran sungai dan bagian lain dari air segar yang mana mereka dapat istirahat
dan mendapatkan ketenangan, atau ditempat-tempat lain yang lembab seperti
dibawah pohon atau dibawah batu, di kayu-kayu yang agak lembab. Amphibi daratan
yang agak terkenal adalah katak khususnya, sangat aktif saat malam ketika
kelembaban relatif tinggi (Bartlett, 1988).
Amphibia terdiri dari tiga ordo, yaitu ordo Urodela, Gymnophiona, dan
Anura. Ordo Urodela adalah amphibi yang pada bentuk dewasa mempunyai ekor.
Tubuhnya berbentuk seperti kadal. Beberapa jenis yang dewasa tetap mempunyai
insang, sedangkan jenis-jenis lain insangnya hilang. Sabuk-sabuk skelet hanya kecil
bantuannya dalam menyokong kaki. Tubuh dengan jelas terbagi atas kepala, badan,
dan ekor. Kaki-kakinya kira-kira sama besar. Jika aquatis, bentuk larva sama seperti
yang dewasa. Dari larva menjadi dewasa dibutuhkan waktu beberapa tahun. Contoh
yang terkenal adalah caudata. Bangsa caudata atau salamander merupakan satusatunya yang tidak terdapat hampir diseluruh Asia tenggara, termsuk indonesia.
Daerah terdekat yang dihuni salamander adalah vietnam utara dan thailand utara
(Bardach, 1972).

Anura mudah dikenal dari tubuh yang tampak berjongkok dengan empat kaki
untuk melompat dan tanpa ekor. Kaki belakang berfungsi untuk melompat, lebih
panjang dari pada kaki depan yang pendek dan ramping, dan berguna untuk
melompat mencari mangsa atau menghindarkan diri. Matanya sangat besar dengan
pupil mata horizontal dan vertikal. Pada beberapa jenis katak pupil matanya
berbentuk berlian atau segi empat yang khas bagi masing-masing kelompok. Ujung
jarinya mungkin tidak berbentuk, hanya silindris atau berbentuk piringa yang pipih
dan kadang-kadang mempunyai lipatan kulit lateral lebar. Kaki depan mempunyai
empat jari, sedangkan kaki belakang berjari lima. Selaput kulit tumbuh diantara jarijari. Selaput ini bervariasi dari tiap jenis. Beberapa jenis hampir tidak berselaput
tetapi pada jenis yang lain selaputnya meluas sampai menutupi jari atau pelebaran
ujung jari (Iskandar, 1998).
2.2 Kelas Reptil
Reptil merupakan kelompok hewan darat pertama yang sepanjang hidupnya bernafas
dengan paru-paru. Ciri umum kelas ini yang membedakan dengan kelas yang lain
adalah seluruh tubuhnya tertutup oleh kulit kering atau sisik. Kulit ini menutupi
seluruh permukaan tubuhnya dan pada beberapa anggota ordo atau sub ordo tertentu
mengalami pergantian kulit . Pergantian kulit secara total terjadi pada anggota subordo ophidia dan pada anggota sub-ordo lacertilia pergantian kulit terjadi secara
sebagian. Sedangkan pada ordo chelonia dan crocodilia sisiknya hampir tidak pernah
mengalami pergantian atau pengelupasan. Kulit pada reptil memiliki sedikit sekali
kelenjar kulit (Jasin, 1992).
Reptilia tidak mempunyai banyak kelenjer pada kulitnya, kelenjer pada
reptilian terdapat pada rongga mulutnya. Kelenjer parapin pada langit-langit mulut,
lingual gland pada lidah, sub lingual gland (kelenjer dibawah lidah) dan labial gland
(pada bibir). Pada serpentes terdapat modifikasi dari labial gland di rahang atas.
Sedangkan pada squamata, satu-satunya spesies yang mempunyai kelenjer racun
adalah Heloderma suspectum., dimana kelenjer racun tersebut adalah modifikasi dari
sublingual gland. Pada crocodilia dan chelonian lidah tidak bisa dijulurkan, hanya
berada pada dasar mulut dan hanya digunakan untuk membantu menelan. Pada
squamata, lidah bagian depan sempit dan bias ditarik ke bagian belakang. Ujung
lidah mempunyai fungsi sensori untuk merasakan bau. Sedangkan pada serpentes,

lidah sempit dan bertakik dalam yang pada bagian ujungnya bertindak sebagai organ
sensori untuk merasakan bau, suhu dan partikel zat yang ada pada udara (Tim
Taksonomi Hewan Vertebrata, 2010).
Reptilia bernafas dengan paru-paru. Reptilia memiliki jantung yang terdiri
dari empat ruang yaitu dua atrium dan dua ventrikel. Pada beberapa reptil sekat
antara ventrikel kanan dan ventrikel kiri tidak sempurna sehingga darah kotor dan
darah bersih masih bisa bercampur. Reptilia merupakan hewan berdarah dingin yaitu
suhu tubuhnya bergantung pada suhu lingkungan atau poikiloterm. Untuk mengatur
suhu tubuhnya itu, reptil melakukan mekanisme basking yaitu berjemur di bawah
sinar matahari (Djuhanda, 1982).
Habitat dari Kelas Reptilia ini bermacam-macam. Ada yang merupakan
hewan akuatik seperi penyu dan beberapa jenis ular, semi akuatik yaitu Ordo
Crocodilia dan beberapa anggota Ordo Chelonia, beberapa Sub-ordo Ophidia,
terrestrial yaitu pada kebanyakan Sub-kelas Lacertilia dan Ophidia, bebepapa
anggota Ordo Testudinata, sub terran pada sebagian kecil anggota Sub-kelas Ophidia,
dan arboreal pada sebagian kecil Sub-ordo Ophidia dan Lacertilia (Weber, 1915).
Reptilia terdiri dari empat ordo yaitu Testudinata, Rhynchochephalia atau
Tuatara, Squamata dan Crocodilia. Sub kelas dari Testudinata adalah pleurodira,
cryptodira, paracrytodira. Sub ordo dari Squamata adalah sauria (kadal) dan serpents
(ular). Sub ordo dari Crocodilia adalah gavial, alligator, dan crocodilidae (Goin,
1971).
Kebanyakan jenis ularberkembang biak dengan bertelur, jumlah telurnya bisa
beberapa butir saja dan hingga puluha hingga ratusan butir, ular meletakkan
telurnyadilubang-lubang tanah, gua, lubang kayu lapuk dan di bawah timbunan daundaun kering beberapa ular sanca kembang mengrami telur-telurya, sebagianular
sperti kadut belang, ular pucuk,dan ular bangkai laut melahirkan anak. Sebetulnya
telurnya berkembang dan menetas ditubuh induknya (ovovivipar) lalu keluar sebagai
ular-ular kecil (Murphy, 1997).

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM


3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Sistematika Hewan (Identifikasi, Morfologi, dan Kunci Determinasi
Amphibi dan Reptil) ini dilaksanakan pada hari Jumat, 6 November 2015 pada pukul
08.00 WIB di Laboratorium Pendidikan I, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah papan bedah, pinset, penggaris,
kamera dan alat tulis. Sedangkan bahan yang digunakan untuk jenis amphibi adalah
Xenophrys paralella, Fejerfarya Cancrivora, Fejervarya limnocharis, Duttaphrynus
melanoticus, Polipedates leucomystac, Hylarana Microbariensis, Prinoidis aspera,
dan Ichtyophis glutinosus. Bahan yang digunakan untuk jenis reptil adalah Gecko
monarchus, Hemydactylus frenatus, Granocephalus grandis, Eutrophis rudis,

Dogonia subplena, Cyclemys oldhamii, Dendrelaphis Pictus, Phyton curtis,


Ahaetulla Prasina, dan Tropidolaemus wagleri.
3.3 Cara Kerja
3.3.1 Kelas Amphibi
Objek diletakkan pada bak bedah dengan posisi kepala disebelah kiri. Objek itu
diamati dan digambar. Kemudian dilakukan pengukuran serta perhitungan terhadap
karakteristiknya, yaitu sebagai berikut : panjang badan (PB), panjang kaki depan
(PKD), panjang kaki belakang (PKB), diameter mata (DM), urutan panjang jari kaki
depan (UPJKD), lebar kepala (LK), panjang tibia fibula (PTF), panjang moncong
(PM), jarak inter orbital (JIO), urutan panjang jari kaki belakang (UPJKB), panjang
kepala (PK), panjang femur (PF), diameter tympanum (DT), jarak inter nares (JIN).
Setelah dilakukan pengukuran, kunci determinasi pun dapat dibuat berdasarkan
deskripsi atau ciri khas yang kita lihat pada pengamatan praktikum saat ini.
3.3.2 Kelas Reptil
Diletakkan reptil pada busa hitam dengan posisi kepala di sebelah kiri. Diamati
karakter morfologi reptil tersebut, kemudian difoto dan diletakkan penggaris sebagai
pembanding serta dilakukan pengukuran dan perhitungan terhadap setiap karakter
reptil, Total length (TL), Snout-to-vent length (SVL) 90, Tail length (TAIL), TD,
Fore foot length (FFL), Hind food length (HFL), Head length (HL), Head width
(HW), Snout length (SL), Eye diameter (ED), Tympanum diameter (TD), Wing span
(WS), Limb front-foot length (LFL), Upper front-foot length (UFL), Limb hind-foot
length (LHL), Upper hindt-foot length (UHL), Boddy length (BL) dan diakhiri
dengan membuat klasifikasi lengkap, lalu dibuat kunci determinasinya.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Amphibi
4.1.1 Hylarana nicobariensis

Klasifikasi
Kelas
Ordo
Famil
Genus
Spesies
Sumber

: Amphibi
: Anura
: Ranidae
: Hylarana
Gambar
: Hylarana nicobariensis Stolizka,
1870 1.Hylarana nicobariensis
: (Ingerand Stuebing,1997)

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan pada Hylarana nicobarienss maka


didapatkan (PB) 50 mm, panjang kepala (PK) 22 mm, lebar kepala (LK) 10 mm,
diameter tympanum (DT) 3 mm, panjang moncong (PM) 25 mm, diameter mata
(DM) 6 mm, jarak inter nares (JIN) 5 mm, jarak inter orbital (JIO) 7 mm, panjang
kaki belakang (PKB) 100 mm, panjang femur (PF) 25 mm, panjang tibia fibula
(PTF) 32 mm, urutan panjang jari kaki depan (UPJKD) 3>4>2>1, urutan panjang jari
kaki belakang (UPJKB) 4>5>3>2>1, mempunyai disc, mempunyai garis
dorsolateral, memiliki web setengah, warna tubuh coklat kehitaman, mempunyai gigi
former.
Dari hasil yang telah didapatkan pada praktikum kali ini, dapat diketahui
klasifikasi dan morfologi dari spesies yang telah di identifikasi. Hylarana
micobariensis memiliki ciri-ciri tubuh yang berukuran kecil, berwarna hijau
kecoklatan, memiliki webbing merah di bagian kaki. Tibia-fibula pada Hylarana
nicobariensis ini panjang sehingga memudahkannya untuk melompat lebih jauh
dibanding spesies katak yang lain. Pada praktikum kali ini, kami menemukan bercak
putih pada Hylarana nicobariensis dibagian matanya yang merupakan variasi pada
spesies ini.
Hylarana nicobariensis dinamakan menurut lokasi ditemukannya yaitu pulau
nicobar, India. Katak ini berukuran kecil, perawakan ramping, kaki panjang dan
ramping, jari kaki stengahnya ditutupi selaput. Lipatan dorsolateralnya halus, tekstur
kulit berbintil halus terkadang juga tidak berbintil. Memilki warna coklat muda
dengan beberapa nagian tampak lebih gelap seperti pada bagian selangkang.
Habitanya biasa terdapat di perbatasan hutan di daerah yang terganggu, sekeliling air
yang mengalir lambat atau menggenang (Iskandar, 1998).
4.1.2 Fejervarya cancrivora
Klasifikasi
Kelas

: Amphibia

Ordo
: Anura
Famili
: Ranidae
Genus
: Fejervarya
Gambar
2. Fejervarya cancrivora
Spesies
: Fejervarya cancrivora Gravenhorst,
1829
Sumber
: (Inger and Stuebing, 1997)
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, Fejervarya cancrivora memiliki
panjang badan (PB) 70 mm, panjang kepala (PK) 20 mm, lebar kepala (LK) 20 mm,
diameter tympanum (DT) 4 mm, panjang moncong (PM) 13 mm, diameter mata
(DM) 8 mm, jarak internares (JIN) 4 mm, jarak interorbital (JIO) 5 mm, panjang kaki
depan (PKD) 35 mm, panjang kaki belakang (PKB) 70 mm, panjang femur (PF) 25
mm, panjang tibio-fibula (PTF) 25 mm, urutan jari kaki depan (UJKD) 2>4>1>3,
urutan jari kaki belakang (UJKB) 2>3>1>4>5, tubuh halus dan tidak memiliki
tonjolan memiliki disk, tidak memiliki dorsolateral line, memiliki webbing berwarna
bening yang full, berwarna coklat kehijauan, panjang kaki belakang 2 kali panjang
kaki depan, memiliki gigi former.
Dari hasil praktikum kali ini dapat diketahui ciri-ciri dari morfologi
Fejervarya cancrivora yang telah di identifikasi sebelumnya. Fejervarya cancrivora
ini memiliki ciri-ciri dengan ukuran tubuh sedang, kulit yang licin, warna nya hijau
agak kecoklatan. Fejervarya cancrivora merupakan katak yang banyak ditemukan di
Indonesia. Katak ini memiliki ciri-ciri yang sama dengan Fejervarya limnocharis
namun perbedaannya ada pada letak webbing di kaki bagian belakang.
Fejervarya cancrivora merupakan katak berukuran sedang sampai besar,
tekstur kulit memiliki lipatan-lipatan dan bintil-bintil memanjang searah dengan
sumbu tubuh. Warna kulit bervariasi, coklat lumpur kotor dengan bercak gelap. Jarijari kaki meruncing, selaput renang mencapai ujung kecuali 1 atau 2 ruas jari kaki
keempat (yang terpanjang). Habitat jenis ini sangat banyak dijumpai di sawahsawah. Terdapat dalam jumlah banyak di sekitar rawa dan bahkan di daerah berair
asin, seperti tambak atau hutan bakau. Penyebaran Indo-Cina, Hainan sampai ke
Filipina, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Irian Jaya (Introduksi). Katak
berukuran besar dengan lipatan- lipatan atau bintil- bintil memanjang parallel dengan
sumbu tubuh. Hanya terdapat satu bintil metatarsal dalam, selaput selalu melampaui
bintil subartikuler terakhir jari kaki ke 3 dan ke 5. Warnanya seperti lumpur yang
kotor dengan bercak- bercak tidak simetris berwarna gelap.Sering disertai dengan
garis dorsolateral yang lebar (Iskandar,1998)

4.1.3 Polypedates leucomystax


Klasifikasi
Kelas
: Amphibia
Ordo
: Anura
Famili
: Rhacophoridae
Genus
: Polypedates
Gambar 3. Polypedates
leucomystax
Spesies
: Polypedates leucomystax Gravenhorst,
1829
Sumber
: (Inger and Stuebing, 1997)
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, Polypedates leucomystax
memiliki panjang badan (PB) 120 mm,panjang kepala (PK) 19 mm, lebar kepala
(LK) 17 mm, diameter tympanum (DT) 2 mm, panjang moncong (PM) 10 mm,
diameter mata (DM) 4 mm, jarak internares (JIN) 3 mm, jarak interorbital (JIO) 8
mm, panjang kaki depan (PKD) 23 mm, panjang kaki belakang (PKB) 73 mm,
panjang femur (PF) 25 mm, panjang tibio-fibula (PTF) 5 mm, urutan jari kaki depan
(UJKD) 3>4>2>1, urutan jari kaki belakang (UJKB) 4>5>3>2>1, memiliki disk,
memiliki dorsolateral line, memiliki webbing berwarna bening, tubuhnya berwarna
coklat kekuningan
Hasil pengamatan untuk identifikasi jenis-jenis amphibi pada praktikum kali
ini salah satunya adalah Polypedates leucomistax. Katak jenis ini memiliki ciri-ciri
tampak luar atau morfologi yaitu berbadan licin dengan ukuran lebih kecil, berwarna
coklat kehijauan dengan kaki yang panjang. Ujung kepala Polypedates leucomistax
ini sedikit meruncing dengan leher yang jauh jaraknya dari lantai menunjukkan
bahwa jenis ini adalah jenis katak pohon.
Polypedates sp untuk katak berukuran besar jantan berkisar 64-80 mm dan
82-97 mm betina . Kepala berbentuk segitiga, agak meruncing pada sudut rahang.
Jarak lubang mata lebih dari dua kali jarak lubang hidung. Timpanum berbentuk oval
dengan diameter horisontal 3/4 dari diameter mata. Terdapat tonjolan tulang
belakang mata dan di atas tympanum. Mempunyai gigi former, tubuh umumnya kuat
dengan kaki ramping. Kulit di atas umumnya halus dan mungkin memiliki asperities
spinose keputihan. Pada perut terdapat granular kasar, memiiki web yang hampir
penuh (Inger, 1968).
4.1.4 Duttaphrynus melanostictus
Klasifikasi
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Amphibi

Ordo

: Anura

Famili

: Bufonidae

Genus

: Dutaphrynus

Spesies

: Duttaphrynus melanostictus Scheineider, 1979

Sumber

: Inger and Stuebing, 1997

Gambar 4. Duttaphrynus melanostictus

Dari pengukuran yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut:


Duttaphrynus melanostictus memiliki panjang badan (PB) 70 mm, panjang kepala
(PK) 30 mm, lebar kepala (LK) 25 mm, panjang moncong (PM) 8 mm, diameter
tymphanium (DT) 5 mm, diameter mata (DM) 10 mm, jarak inter nares (JIN) 5 mm,
jarak inter orbital (JIO) 7 mm, panjang kaki depan (PKD) 40 mm, panjang femur
(PF) 20 mm, panjang tibia-fibula (PT) 25 mm, panjang kaki belakang (PKB) 20 mm,
urutan panjang jari kaki depan (UPJKD) 3>1>4>2, urutan panjang jari kaki belakang
(UPJKB) 2>3>1>4>5, ada berwarna putih kekuningan gigi former, tidak tympanum,
warna webbing hitam.
Duttaphrynus

melanostictus

atau

bisa

disebut

juga

dengan

Bufo

melanostictus dengan nama Indonesia Kodok Puru memiliki tubuh berukuran


sedang, jantan dapat mencapai ukuran 55 80 mm, betina 65-85 mm. Alur-alur
supratimpanik dan supraorbital menyambung, tidak ada alur parietal. Jari berselaput
renang sepenuhnya. Tekstur kulit relatif berkerut dengan bintil-bintil yang jelas.
Warna tubuh kodok yang muda umumnya kemerahan. Kodok yang dewasa
kecoklatan kusam, kehitaman, atau kemerahan dengan bintil hitam atau coklat. Pada
jantan dagu umumnya berwarna merah. Habitat kodok ini biasanya didaerah sekitar
hunian manusia (Mistar, 2008).
4.1.5 Phrynoidis asper
Klasifikasi
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Amphibia

Ordo

: Anura

Famili

: Bufonidae

Genus

: Phrynoidis

Gambar 5. Phrynoidis asper

Spesies

: Phrynoidis asper Gravenhorst,1829

Sumber

: Inger and Stuebing, 1997

Dari pengukuran yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut: Phrynoidis
asper memiliki panjang badan (PB) 70 mm, panjang kepala (PK) 30 mm, lebar
kepala (LK) 35 mm, panjang moncong (PM) 9 mm, diameter tymphanium (DT) 5
mm, diameter mata (DM) 7 mm, jarak inter nares (JIN) 5 mm, jarak inter orbital
(JIO) 7 mm, panjang kaki depan (PKD) 50 mm, panjang femur (PF) 30 mm, panjang
tibia-fibula (PT) 30 mm, panjang kaki belakang (PKB) 45 mm, urutan panjang jari
kaki depan (UPJKD) 3>4>1>2, urutan panjang jari kaki belakang (UPJKB)
4>5>3>2>1, ada berwarna hitam gigi former, warna tympanum berwarna hitam.
Dari praktikum yang dilakukan, hasil yang didapatkan sama dengan teori,
dimana Iskandar (1998) mengatakan kodok ini pada betina memiliki vent moncong
panjang 95-140 mm, sedangkan yang jantan memiliki moncong panjang vent 70-100
mm. berwarna coklat tua kehitaman, keabu-abuan, atau kehitam-hitaman. Kelenjar
parotoid berbentuk lonjong. Tangan dan kaki dapat berputar. Jari kaki berselaput
renang sampai ke ujung. Perkembangbiakkan masih belum diketahui. Namun para
pejantan diketahui memanggil dari tepi sungai terutama pada saat bulan purnama.
Phrynoidis asper memiliki tubuh besar dan kokoh. Kulit ditutupi dengan kutil atau
tuberkel; nama spesies ini berasal dari tekstur kulit yang kasar. Kepala lebar dan
tumpul, tanpa tulang puncak.Katak ini mempunyai bujur telur kelenjar parotoid
terhubung ke punggungan supraorbital oleh supratympanic punggungan. Tangan dan
kaki spinosus. Kaki keempat adalah terpanjang, dan semua jari-jari kaki kecuali
keempat sepenuhnya berselaput.Laki-laki memiliki bantalan upacara perkawinan
dasar jari pertama. Phrynoidis asper biasanya berwarna cokelat tua, abu-abu atau
berwarna hitam, dengan bercak hitam ventrally.Jantan memiliki warna kehitaman
pada leher mereka. Kecebong kecil, Phrynoidis asper mencapai 12-15 mm sebelum
metamorfosis (Iskandar, 1998).
4.1.6 Ichthyophis glutinosus
Klasifikasi:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata

Kelas

: Amphibia

Ordo

: Gymnophiona

Famili

: Ichthyophiidae

Genus

: Ichthyophis

Species

: Ichthyophis glutinosus Fitzinger, 1826

Sumber

: Inger and Stuebing, 1997

Gambar 6. Ichthyophis glutinosus

Jenis amphibi ini adalah jenis amphibi yang kakinya tereduksi. Sekilas
Ichthyopis glutinosus terlihat seperti ular namun jenis ini bukanlah reptil. Ichthyopis
glutinosus merupakan amphibi yang paling primitif karena alat geraknya yang masih
belum jelas dan bergerak secara melata. Ichthyophis glutinosus kloaka berada
diujung, ekor dan mulut merunsing, terdapat gigi, segmen dan rahang. Bentuk seperti
oval.Ichthyophis glutinosus mempunyai bentuk seperti cacing, mempunyai gigi, mata
berbentuk titik hitam.
Famili yang ada di indonesia adalah Ichtyopiidae. Anggota famili ini
mempunyai ciri-ciri tubuh yang bersisik, ekornya pendek, mata relatif berkembang.
Reproduksi dengan oviparous. Larva berenang bebas di air dengan tiga pasang
insang yang bercabang yang segera hilang walaupun membutuhkan waktu yang lama
di air sebelum metamorphosis. Anggota famili ini yang ditemukan di indonesia
adalah Ichtyophis sp., yaitu di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Duellman,
1986).

4.1.7 Kalophrynus pleurostigma


Klasifikasi
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas
Ordo
Family
Genus

: Amphibia
: Anura
: Microphylidae
: Kalophrynus

Spesies
Sumber

: Kalophrynus pleurostigma Tsehudi, 1838


: Amphibiaweb.org

Gambar 7. Kalophrynus pleurostigma


Sumber : Awetan Museum Zoologi

Dari pengamatan didapatkan panjang badan (PB) 4,7 cm, panjang kepala (PK) 1,7
cm, lebar kepala (LK) 1,8 cm, diameter tympanum (DT) 0,4 cm, panjang moncong

(PM) 0,8 cm, diameter mata (DM) 0,5 cm, jarak inter nares (JIN) 0,4 cm, jarak inter
orbital (JIO) 0,6 cm, panjang kaki belakang (PKB) 2,2 cm, panjang femur (PF) 2,5
m, panjang tibia fibula (PTF) 2,3 cm, urutan panjang jari kaki depan (UPJKD)
4>1>2>3, urutan panjang jari kaki belakang (UPJKB) 4>3>2>5>1, warna tubuh abuabu, tutupan selaput renang 1,tidak memiliki gigi former, memiliki dorsolateral, dan
bentuk ujung jari gada.
4.2 Reptil
4.2.1 Eutropis rudis Boulenger, 1887
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Reptilia

Ordo

: Squamata

Famili

: Scincidae

Genus

: Eutropis

Species

: Eutropis rudis Boulenger, 1887

Sumber

: Internasional Union For Conservation of Nature.2015.

Gambar 8. Eutropis rudis

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan pada Eutropis rudis maka didapatkan
panjang total (TL) 1190 mm, panjang tubuh (SVL) 800 mm, panjang ekor (Tail) 390
mm, diameter mata (ED) 3 mm, lebar kepala (HW) 11 mm, jarak antara lubang
hidung (D-In) 4 mm, jarak antara sisik supraocular (D-Spoc) 2 mm , jumlah lingkar
badan (MSR) 18 mm, jumlah sisik ventral (VEN) 212, jumlah sisik ekor (SC) 136 ,
jumlah sisisk supralabial (SSL) 9, jumlah sisik infralabial (IL) 8. Spesies ini
memiliki bentuk pupil rounded, bentuk sisik ekor devided, bentuk kepala meruncing,
bentuk rostal rounded, bentuk tubuh silindris, sisik loreal 1 dan bentuk sisik anal
terbelah.
Dari pengamatan yang dilakukan didapatkan Eutropis rudis memiliki ciri-ciri
berwarna coklat kehitaman dengan garis pinggir yang berwarna coklat muda atau
coklat terang. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Das (2001), bahwa punggung
berwarna coklat zaitun atau perunggu, bagian pinggir berwarna coklat terang atau
coklat

keputih-putihan,

serta

abdominal

berwarna

kekuning-kuningan.

Kerongkongan pada hewan jantan dewasa berwarna merah terang berbintik gelap,
pada betina berwarna cream tidak berpola. Perut berwarna putih kehijauan. Tubuh

langsing dengan moncong pendek. Menyimpan telurnya dibawah daun kering.


Ukuran tubuh sedang, panjang tubuh maksimal 120 mm SVL (snout-vent length,
ujung moncong hingga anus), panjang ekor maksimal 220 mm. Tubuh kekar, dengan
sisik-sisik kepala yang kasar dan sisik-sisik punggung (dorsal) berlunas tiga.
4.2.2 Gecko monarchus Schlegel, 1836
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Reptilia

Ordo

: Squamata

Famili

: Gekkomidae

Genus

: Gecko

Species

: Gecko monarchus Schlegel, 1836

Sumber

: Brown, R., Gaulke, M., & Rico. 2009.

Gambar 9. Gecko monarchus

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan pada Gecko monarchus maka


didapatkan total length (TL) 155 mm, snout-to-vent length (SVL) 70 mm, tail length
(TAIL) 85 mm, tympanium diameter (TD) 1 mm, eye diameter (ED) 4 mm, head
width (HW) 15 mm, head length (HL) 21 mm, snout length (SL) 10 mm, fore foot
length (FFL) 10 mm, limb front-foot length (LFL) 10 mm, upper front-foot length
(UFL) 9 mm, body length (BL) 35 mm, warna coklat.
Berdasarkan pengamatan morfologi Gecko monarchus terlihat bentuk
tubuhnya seperti cicak, berwarna coklat dengan permukaan tubuh yang ditutupi oleh
bintik berwarna hitam. Hal ini sesuai dengan pendapat Ario (2010), yang menyatakan
bahwa badan Gecko monarchus memipih kearah lateral seperti cicak rumah namun
berukuran lebih besar. Tubuh berwarna abu-abu bercorak bintik-bintik merah. Gigi
tajam (acrodont), jari tidak berselaput dan berjumlah lima, sisik granular, telinga
(tympanum) terbuka. Kehidupan jenis ini umum dijumpai di bangunan pemukiman.
Ciri khas adalah suara yang dikeluarkan keras dan menandakan keberadaanya. Aktif
pada malam hari (nokturnal). Makanannya berupa serangga. Penyebaran tersebar
luas di seluruh Indonesia (Ario, 2010).
4.2.3 Gonochepalus grandis Gray,1845

Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Class

: Reptilia

Ordo

: Squamata

Family

: Agamidae

Genus

: Gonocephalus

Spesies

: Gonocephalus grandis Gray,1845

Sumber

: Inger, R.F. & Manthey, U. 2010.

Gambar 10. Gonocephalus grandis

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, Gonochepalus grandis memiliki total


lenght (TL) 440 mm, Snout to vent lenght (SVL) 130 mm, tail length (TAIL) 300
mm, tympanium diameter (TD) 5 mm, eye diameter (ED) 5 mm, head width (HW)
22 mm, head length (HL) 40 mm, snout length (SL) 20 mm, fore foot length (FFL)
65 mm, limb front-foot length (LFL) 25 mm, upper front-foot length (UFL) 25 mm,
hind foot length (HFL) 100 mm, limb hint-foot length (LHL) 35 mm, upper hind-foot
length (UHL) 35 mm, body length (BL) 100 mm, total supra labial scales (TSLS) 12
mm, total infra labial scales (TILS) 11 mm. Kadal ini berbadan panjang dan ramping,
memiliki surai, dan memiliki warna kecoklatan dengan garis-garis belang kuning
kehijauan.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa Gonocephalus grandismemiliki
tubuh berukuran sedang, dengan panjang ekor hampir sama dengan panjang panjang
tubuhnya, berwarna coklat dengan bintik hitam, dorsal bersisik kasar. Hal ini sesuai
dengan data yang di dapatkan Azwar (2007), yaitu berwarna coklat dan badannya
ramping. Gonocephalus grandisdicirikan oleh badan ramping, sisik ventral lebih
besar dari sisik dorsal, sisik dorsal biasanya terdapat sisik kasar tersebar
dipermukaan tubuh, menempati habitat dari hutan primer sampai hutan sekunder.
Ukuran panjang dari moncong sampai ventral 55 mm, ekor 405 mm, moncong lebih
panjang dari pada lingkar mata, bibir atas dan bawah 10 atau 13, surai bagian atasnya
terpisah.Warna, coklat atau hijau pudar bagian atas, seragam atau bergais-garis
melintang, bagian sisi bergaris coklat atau berbintik-bintik kuning, betina
mempunyai garis gelap dari belakang mata sampai timpanum bertemu dengan warna
terang, bagian bawah kecoklatan atau kekuningan, tenggorokan kadang-kadang
dengan garis gelap.

4.2.4 .Dogania subplana


Filum

: Chordata

Kelas

: Reptilia

Ordo

: Testudinata

Famili

: Geoemydidae

Genus

: Dogonia

Species

:Dogania subplanaGeoffroy Saint-Hilaire, 1809

Sumber

: Reptilia-database, 2015

Gambar 11. Dogania subplana

Dari pengamataan yang dilakukan dapat diukur Total length (TL) 160 mm, Snout to
Vent Length (SVL) 140 mm, Fore foot length (FFL) 15 mm, Hind foot leight (HFL)
20 mm, Head Length (HL) 15 mm, Head Widght (HW) 20 mm, Snout Length (SL)
10 mm, Eye Diameter (ED) 5 mm, Limb Front foot Lenght (LFL) 6 mm, Limb
Hind foot Lenght (HFL) 5 mm, Body lenght (BL) 12 mm, bewarna coklat dengan
carapax yang lunak, dan kepala yang hampir sama panjang dengan panjang tubuh.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa Labilabi yang berukuran sedang, jarang besar, paling-paling hanya sekitar 250-400 mm.
Perisai berbentuk jorong atau memanjang, pipih datar. Warna punggungnya abu-abu
kehitaman, kecoklatan atau kemerahan; dengan pola atau bintik-bintik halus. Sebuah
garis lebar coklat tua terdapat di wilayah vertebral, memanjang dari depan ke
belakang. Kadang-kadang terdapat empat bercak yang tersusun berpasangan di
tengah punggung (Iskandar, 2000). Menurut Djarubito (1996), Dogania subplana
mempunyai skeleton yang sebagian bermodifikasi menjadi karapks (perisai dorsal)
dan plastrom (persai vetral). Rahang-rahang tidak bergigi, tetapi berzat tanduk.
Hidup dilaut, di air tawar, atau di darat. Tubuh lebar, karapaks keras dan bersatu di
sisi tubuh dengan plastron. Perisai tertutup dengan skutum polygonal. Tulang kuadrat
tidak dapat digerakkan. Rusuk-rusuk bersatu dengan perisai dorsal. Anus berupa
celah mellintang.
4.2.5 Hemidactylus frenatus
Kelas
: Reptilia
Ordo

: Squamata

Famili

: Geckonidae

Genus

: Hemidactylus

Species

:Hemidactylusfrenatus Schneider, 1792

Sumber

: Reptilia-database, 2015

Gambar 12. Hemidactylus

Dari praktikum yang dilaksanakan hasil pengukuran dari Hemidactylus frenatus yaitu
panjang total (PT) 85 mm, panjang standar (PS) 52 mm, panjang ekor (PE) 32 mm,
diameter timpanium (DT) 1 mm, diameter mata (DM) 3 mm, lebar kepala (LK) 12
mm, panjang kepala (PK) 20 mm, memiliki warna tubuh krem, moncong pendek,
dan dapat melakukan autotomi (pelepasan ekor).
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwabadan
Hemidactylus frenatus seperti kadal atau berbentuk pipih dorsolateral dengan
terbungkus bintil-bintil sisik yang dapat terkelupas sebagian. Pada cicak, sisik
mereduksi menjadi tonjolan atau tuberkulum.Pada lidah terdapat lekukan dangkal
pada ujung lidah.Hemydactylus frenatus sering dijumpai di rumah- rumah yang
merayap pada dinding.Cicak rumah memiliki warna yang lebih terang dan halus dari
tokek (Goin, 1971).Hewan ini memiliki warna kepala abu-abu gelap, warna pada
mulut coklat, memiliki gigi dengan tipe acrodont, bagian punggung berwarna abuabu dengan bercak hitam, memiliki hemiclitoris, bagian perut berwarna kuning
coklat (McCurley, 1999).
4.2.6 Dendrelaphis pictus
Klasifikasi
Kelas

: Reptil

Ordo

: Squamata

Famili

: Colubridae

Genus

: Dendrelapis

Spesies

: Dendrelapis pictus Gmelin, 1789

Sumber

: IUCN, 2015

Gambar 13. Dendrelaphis pictus

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan pada Dendrelaphis pictus maka


didapatkan panjang total (TL) 740 mm, panjang tubuh (SVL) 480 mm, panjang ekor
(Tail) 260 mm, diameter mata (ED) 4 mm, lebar kepala (HW) 8 mm, jarak antara
lubang hidung (D-In) 4 mm, jarak antara sisik supraocular (D-Spoc) 5 mm , jumlah
lingkar badan (MSR) 14 mm, jumlah sisik ventral (VEN) 162, jumlah sisik ekor (SC)
126 mm , jumlah sisisk supralabial (SSL) 9, jumlah sisik infralabial (IL) 9. Spesies
ini memiliki bentuk pupil rounded, bentuk sisik ekor devided, bentuk kepala tumpul,

bentuk rostal rounded, bentuk tubuh silindris, sisik loreal 1 dan bentuk sisik anal
terbelah.
Hasil pengamatan sesuai dengan pendapat Stuebing dan Inger (1999), yang
menyatakan bahwa ular ini adalah ular yang kurus ramping, panjang hingga sekitar
1,5 m, meskipun pada umumnya kurang dari itu. Ekornya panjang, mencapai
sepertiga dari panjang tubuh keseluruhan. Warna dari ular ini adalah coklat zaitun
seperti logam perunggu di bagian punggung. Pada masing-masing sisi tubuh bagian
bawah terdapat pita tipis kuning terang keputihan, dipisahkan dari sisik ventral
(perut) yang sewarna oleh sebuah garis hitam tipis memanjang hingga ke ekor.
Kepala kecoklatan perunggu di sebelah atas, dan kuning terang di bibir dan dagu;
diantarai oleh coret hitam mulai dari pipi yang melintasi mata dan melebar di pelipis
belakang, kemudian terpecah menjadi noktah-noktah besar dan mengabur di leher
bagian belakang. Terdapat warna-warna peringatan berupa bintik-bintik hijau terang
kebiruan di bagian leher hingga tubuh bagian muka, yang biasanya tersembunyi di
bawah sisik-sisik hitam atau perunggu dan baru nampak jelas apabila si ular merasa
terancam. Sisik-sisik ventral putih kekuningan atau kehijauan.
4.2.7 Ahaetulla prasina
Kingdom

: Animalia

Phyllum

: Chordata

Sub phyllum : Vertebrata


Class

: Reptilia

Ordo

: Squamata

Family

: Colubridae

Genus

: Ahaetulla

Species

: Ahaetulla prasina Boie, 1827

Sumber

: (Tweedie, 1983)

Gambar 14.Ahaetulla prasina

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan pada Ahaetulla prasina maka


didapatkan panjang total (TL) 780 mm, panjang tubuh (SVL) 690 mm, panjang ekor
(Tail) 90 mm, diameter mata (ED) 6 mm, lebar kepala (HW) 16 mm, jarak antara
lubang hidung (D-In) 3 mm, jarak antara sisik supraocular (D-Spoc) 26 mm , jumlah
lingkar badan (MSR) 18 mm, jumlah sisik ventral (VEN) 197, jumlah sisik ekor (SC)
29 , jumlah sisisk supralabial (SSL) 9, jumlah sisik infralabial (IL) 9. Spesies ini

memiliki bentuk pupil lurus, bentuk sisik ekor devided, bentuk kepala tumpul,
bentuk rostal meruncing, bentuk tubuh silindris, sisik loreal 3 dan bentuk sisik anal
devided.
Dari pengamatan yang telah dilakukan, Ahaetulla mycterzans memiliki tubuh
yang memanjang seperti Ahaetulla prasina, yang membedakan diantara keduanya
adalah warna tubuhnya. Ahaetulla mycterizans memiliki warna hijau zaitun yang
gelap. Hal ini di dukung oleh pernyataan (Cox, van Dijk, Nabhitabhata, Thirakhupt,
1998) Spesies ular ini adalah ular diurnal dan agak berbisa. Habitatnya di hutan
sekunder primer dan matang di dekat sungai. Makanannya, seperti ular cambuk
lainnya, terutama terdiri dari katak dan kadal. Ular ini bergerak lambat, sering
muncul seperti tanaman merambat di antara dedaunan dan sulit dideteksi. Bagian
anterior tubuh dapat memperluas ketika terancam memperlihatkan sisik gelapnya.
Ular ini sering disamakan dengan Ahaetulla prasina (Ular gadung) tapi ular ini tidak
terdapat di daerah yang terganggu atau taman atau kebun, terutama dalam kisaran
distribusi nya Singapura. Ahaetulla myztericans dapat dibedakan dari Ahaetulla
prasina dengan mata besar dan sisi-sisi kurang garis kuning tipis yang dimiliki oleh
Ahaetulla myztericans, yang juga berukuran lebih kecil (sampai 1 m moncong untuk
melampiaskan panjang) jika dibandingkan dengan Ahaetulla prasina yang dapat
tumbuh hingga 2 m.

4.2.8 Tripidolaemus wagleri


Klasifikasi :
Kelas

: Reptil

Ordo

: Squamata

Famili

: Viperidae

Genus

: Tripidolaemus

Spesies

:Tripidolaemus wagleriWagler, 1830

Sumber

:IUCN, 2015

Gambar 15. Tripidolaemus wagleri

Berdasarkan pengamatan pada praktikum yang tealah dilakukan, Tripidolaemus


waglerimemiliki panjang standar (SVL) 513 mm, panjang ekor (TAL) 105 mm,

panjang total (TL) 620 mm, diameter mata (ED) 3 mm, lebar kepala (HW) 34 mm,
jarak internares (D-In) 10 mm, jarak antar mata (D-Spoc) 20 mm, jumlah sisik
lingkar badan (MSR) 148, jumlah sisik ventral (VEN)1 sisik, jumlah sisik ekor (SC)
35, jumlah sisik supra labial (SSL) 19, jumlah sisik labial (IL) 20, panjang kepala
(HL) 40 mm. Bentuk pupil elips, sisik kasar, anal plateentire, bentuk sisik ekor
double rows, bentuk kepala triangularis, bentuk rostral medium, bentuk tubuh
slindris, memiliki sisik loreal, memiliki loreal fit, bentuk sisik anal devided.
Dari pengamatan yang telah dilakukan, Ciri-ciri tersebut sesuai dengan
pendapat Bennet (1999) bahwa Tropidolaemus waglerimemiliki panjang total sekitar
650 mm sampai 1000 mm. Spesies ini seksual dimorfik.Mereka memiliki kepala
besar berbentuk segitiga, Tropidolaemus waglerimuda berwarna hijau pucat terutama
dengan band sempit, dan Tropidolaemus wagleri dewasa berwarna hijau gelap
kekuningan dengan pita tebal.
4.2.9 Phyton curtus
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Reptilia

Ordo

: Squamata

Famili

: Phytonidae

Genus

: Phyton

Species

Gambar 16. Phyton curtus


: Phyton curtus (Schneider, 1801)

Sumber

: Zipcodezoo, 2015

Berdasarkan pengamatan, ciri yang teramati dari Phyton curtusmemilikipanjang


tubuh (SVL) 111,5 cm, panjang ekor (Tal) 9,5 cm, panjang total (TL) 121 cm,
diameter mata (ED) 0,5 cm, lebar kepala (HW) 3 cm, jarak antara lubang hidung (DIn) 1 cm, jarak antara sisik supraocular (D-Spoc) 1 cm,jumlah lingkar badan (MSR)
54, jumlah sisik ventral (VEN) 165, jumlah sisik ekor (SC) 26, jumlah sisik
supralabial (SSL) 8, jumlah sisik infralabial (IL) 18, HL 5,5 cm, bentuk pupil
vertikal, bentuk sisik ekor berpasangan, bentuk kepala medium, bentuk rostral
rounded, bentuk tubuh prout, tidak memiliki sisik loreal dan loreal pit serta sisik anal
ganda.
KUNCI DETERMINASI AMFIBI

1. Hidup di Hutan secara liar............................................... 2


Hidup di pemukiman dan sawah umum ditemukan........ 3
2. Punya Extremitas............................................................. 4
Tidak Punya Extremitas...................................................Ichtyopihis glutinosus
3. Punya kelenjar paratoid................................................... Phyrynoidis asper
Tidak punya kelenjar paratoid......................................... Fejerfarya Cancrivora
4. Memiliki 4 garis pada dorsal ........................................Polypedates leucomystac
Tidak Punya Pola Garis...................................................Hylarana nicobariensis
KUNCI DETERMINASI REPTILIA
1. Punya Extremitas.............................................................2
Tidak Punya extremitas...................................................3
2. Kemampuan Mimikri....................................................... Gonocephalus grandis
Tidak Punya kemampuan mimikri................................... 4
3. Tidak memiliki bisa......................................................... Phyton reticulates
Berbisa.............................................................................5
4. Tubuh Bersisik ................................................................ Eutrophis Rudis
Tubuh tidak bersisik.........................................................6
5. Berwarna gelap................................................................ Dendrelaphis pictus
Berwarna hijau terang...................................................... 7
6. Bercangkang.................................................................... 8
Tidak bercangkang........................................................... 9
7. Kepala Segitiga dan pola kulit hijau-kuning................... Tropidolaemus wagleri
Kelapa Segitiga dan pola warna hijau muda.................... Ahaetulla Prasina
8. Cangkang Lunak.............................................................. Dogania subplana
Cangkang keras................................................................ Cyclemis dentata
9. Punya Kulit kasar gelap berbintil hitam.......................... Gecko monarchus
Punya kulit terang tanpa bintil

Hemidactuylus frenatus

V. KESIMPULAN DAN SARAN

1.

5.1 Kesimpulan
Hylarana nicobariensis memiliki disk, memiliki dorsolateral line, memiliki webbing

2.

(setengah), berwarna bening, memiliki gigi former dan tidak memiliki gigi taring.
Fejervarya concrivora,tubuh halus dan tidak memiliki tonjolan memiliki disk, tidak
memiliki dorsolateral line, memiliki webbing berwarna bening yang full, berwarna
coklat kehitaman, bagian bawah perut berwarna kuning, panjang kaki belakang 2 kali

3.

panjang kaki depan, memiliki gigi former.


Polypedates leucomystax memiliki disk,

4.

webbing berwarna bening (setengah penuh), tubuhnya berwarna coklat kekuningan.


Duttaphrynus melanostictusada berwarna putih kekuningan gigi former, tidak

5.
6.

tympanum, warna webbing hitam.


Phrynoidis asper ada berwarna hitam gigi former, warna tympanum berwarna hitam.
Ichthyophis glutinosus mempunyai bentuk seperti cacing, mempunyai gigi, mata

memiliki dorsolateral line, memiliki

berbentuk titik hitam, bagian dorsal berwarna ungu, bagian abdomen berwarna ungu
lebih pudar daripada dorsal

7.

Eutropis rudis merupakan famili scincidae yang memiliki warna tubuh coklat

8.

keemasan dengan sisi samping berwarna coklat.


Gekko monarchus merupakan famili geckonidae dengan tubuh berbintil-bintil

9.

berbentuk kerucut tajam berwarna abu-abu keputihan.


Gonocephalus grandis merupakan famili agamidae yang memiliki warna tubuh
coklat, bagian atas terdapat garis melintang berwarna coklat, memiliki moncong

10.

yang panjang.
Dogonia subplana merupakan Testudinata yang memiliki karapaks yang lunak

11.

berwarna hitam kecoklatan, moncong menyerupai belalai.


Hemidactylus frenatus merupakan famili geckonidae yang memiliki tubuh berwarna

12.

hitam pada coklat muda dengan bercak hitam, memiliki scansor dan cakar.
Dendrelaphis pictus memiliki warna tubuh coklat zaitunseperti logam perunggu di
bagian punggung, kepala berwarna kecoklatan perunggu di sebelah atas, dan kuning
terang di bibir dan dagu, diantarai oleh coret hitam mulai dari pipi yang melintasi
mata dan melebar di pelipis belakang, kemudian terpecah menjadi noktah-noktah

13.

besar dan mengabur di leher bagian belakang.


Ahaetulla prasina memiliki mata besar dan sisi-sisi kurang garis kuning tipis pada
bagian bawah tubuhnya, sisik analnya tidak terbagi atau single.

14.

Tropidolaemus wagleri muda memiliki berwarna hijau pucat terutama dan pada yang
dewasa berwarna hijau gelap kekuningan dengan pita tebal.

15.

Phython curtus memiliki tubuh gempal, moncong tumpul, warna coklat muda dengan
corak hitam atau kemerahan, bagian ekor meruncing berwarna hitam.
5.2. Saran
Dalam melaksanakan praktikum ini sebaiknya praktikan memperhatikan hal-hal
seperti melakukan pengamatan dan pengukuran dengan teliti sehingga data yang
didapatkan akurat, melakukan pembagian tugas untuk lebih mengefisiensikan waktu.
Hal-hal yang tidak dipahami dapat ditanyakan kepada asisten pendamping.Setelah
selesai melakukan praktikum, seluruh perlengkapan praktikum dicuci dan
dibersihkan.

DAFTAR PUSTAKA

Amphibianweb. 2015. Hylarana picturata.<Amphibianweb.org>. Download on 10


November 2015.
Ario, Anton. 2010. Panduan Lapangan Mengenal Satwa. Conservation International
Indonesia : Jakarta.
Azwar, Ahmat, Gondanisam, Mistar, Giyanto, M. N. Yasin, H. Kasim, Ambrianyah.
2007. Keanekaragaman Hayati (Mammalia, Burung, Amphibia, Reptilia,
Ikan Dan

Vegetasi) Pada Hutan Rawa Gambut di Area Mawas, Propinsi

Kalimantan Tengah.
Bardach, J.E.; J.H. Ryther & W.O. McLarney. 1972. Aquaculture. the Farming and
Husbandry of Freshwater and Marine Organisms. http://id. wikipedia.
org/wiki/vertebrata. 23 Maret 2010.
Bartlett, R.D.1988. Frogs, Toads and Treefrogs, Barron's : New York.
Bennet, D.1999. Expedition Fieled Tachniques of Reptiland Amphibian. Royal
Geografhycal: London.
Brown, W. C. and Alcala, A. C. (1970). ''Population ecology of the frog Rana
erythraea in Southern Negros, Philippines.'' Copeia, 1970, 611-622.
Carr, a.1997.The Reptilia. Virginia: The time- life books Inc Alexandra.
DAS, I. & G. ISMAIL. 2001. A Guide to the Lizards of Borneo. Online
reference: Genus Gekko Laurenti. ASEAN Review on Biodiversity and
Environmental Conservation (ARBEC).
Djuhanda, T. 1974.Analisa Struktur Vertebrata. Armico: Bandung.
Djuhanda, T. 1982. Analisa Struktur Vertebrata Jilid I. Armico.Bandung.
Duellman, W. E. and L. Trueb. 1986. Biology of Amphibians. McGraw Hill Book
Company. New York.
Goin CJ, Goin OB. 1971. Introduction to Herpetology. Second Edition. Freeman.
San Francisco
Inger, R.F, dan Stuebing, R.B. 1997. Sebuah Panduan Lapangan ke Frogs of
Borneo Terbatas Natural History. Publications (Borneo, Kota Kinabalu).
Inger, R. F., and Stuebing, R. B. 1968. A Field Guide to the Frogs of Borneo. Natural
History Publications (Borneo) Limited, Kota Kinabalu.

Iskandar, D.T. 1998. Amphibi Jawa dan Bali, Seri Panduan Lapangan. Puslitbang
Biologi-LIPI.
Iskandar, D.T. 2003. Panduan Lapangan Amfibi Kawasan Ekosistem Leuser : Jakarta
Iskandar, D.T. and W. R. Erdelen. 2006. Conservation of Amphibiaans and Reptiliaes
in Indonesia: Issues and Problems. Amphibiaan and Reptiliae Conservation 4
(1) : 60-87.
IUCN SSC Amphibian Specialist Group. 2015. Phrynoidis asper. The IUCN Red
List Of Treatened Species. Version 20143. www.iucnredlist.org. Download on
10 November 2015.
Jasin, M. 1984. Zologi Vertebrata. Armico. Bandung
McCurley, K. 1999. "New England Reptile" (On-line). Diakses pada tanggal 10
November 2015 melalui http://www.newenglandreptile.com.
Mistar. 2008.Panduan Lapangan Kawasan Leueser. Puslitbang Biologi-LIPI.
Pope, CH. 1956. The Reptiliae World. London: Routledge and Kegal Paul Ltd.
Radiopoetra. 1996. Zoologi. Erlangga : Jakarta.
Soesono, R, dkk. 1968. Diktat Asistensi Preparat. UGM : Yogyakarta
The Reptiliae Database. 2015. Species Number. www.reptiliae-database.org diakses
10 November 2015.
Tim Taksonomi Hewan Vertebrata.2010. Taksonomi Hewan Vertebrata. Universitas
Andalas: Padang
Weber, M. 1915. The reptilia of The Indo-Australian Archipelago. Amsterdam

LAMPIRAN

Gambar 1.Hylarana nicobariensis

Gambar 3. Polypedates leucomystax

Gambar 2. Fejervarya cancrivora

Gambar 4. Duttaphrynus melanostictus

Gambar 5. Phrynoidis asper

Gambar 6. Ichthyophis glutinosus

Gambar 7. Kalophrynus pleurostigma

Gambar 8. Eutropis rudis

Gambar 9. Gecko monarchus

Gambar 10. Gonocephalus grandis

Gambar 11. Dogania subplana

Gambar 13. Dendrelaphis pictus

Gambar 15. Tripidolaemus wagleri

Gambar 12. Hemidactylus

Gambar 14.Ahaetulla prasina

Gambar 16. Phyton curtus