Anda di halaman 1dari 13

WAKAF SEBAGAI ALTERNATIF PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI

INDONESIA
Bangkit Surya Anhar Putra Budi Utama (7F/07)
Diploma IV Akuntansi STAR BPKP Batch III, PKN STAN, Tangerang Selatan
e-mail : bangkit.surya@gmail.com
A. Pendahuluan
Indonesia sebagai negara berkembang terus berupaya untuk mendorong pertumbuhan
ekonominya. Kegiatan ekonomi suatu negara akan sangat bergantung kepada ketersediaan
infrastruktur, dimana RPJMN 2015 - 2019 juga telah menekankan pentingnya infrastruktur
dikarenakan tingkat efisiensi dan efektivitas kegiatan ekonomi Indonesia akan bergantung
kepada memadainya ketersediaan infrastruktur. Sebagai contoh, tanpa adanya jalan, tetap
memungkinkan melakukan kegiatan ekonomi, namun isolasi membuat perjalanan menjadi
berlipat-lipat lebih lama dan memakan sumber daya, serta membuat komoditas tertentu
tidak lagi dapat dikonsumsi akibat kondisi yang rusak karena lamanya perjalanan atau
kerusaka karena kondisi perjalanan. Contoh lain adalah ketersediaan prasarana air minum,
dimana tanpa adanya prasarana tersebut berupa jaringan pipa atau transmisi, maka untuk
memperoleh air minum harus langsung pergi ke sumber air atau mengandalkan air tanah,
dan jika kondisi sungai dan air tanah sangat buruk dikarenakan limbah atau intrusi air laut,
maka tidak dipungkiri lagi akan membahayakan kesehatan penggunanya. Kesemuanya ini
merupakan bukti bahwa infrastruktur adalah prasarana public utama dalam mendukung
kehidupan manusia. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur termasuk pula Public
Service Obligation, yaitu sesuatu yang seharusnya menjadi kewajiban Pemerintah.
Pemerintah memiliki mandat memastikan adanya ketersediaan infrastruktur yang handal
dan memadai karena peranannya yang sangat substansial dan berpengaruh pada
pertumbuhan ekonomi suatu negara serta kualitas hidup masyarakat.
Dalam RPJMN 2015-2019, Bappenas telah menghitung kebutuhan dana pembangunan
infrastruktur sebesar Rp5.519,4 T. Dimana, pemerintah melaui APBN dan APBD
diproyeksikan hanya mampu menyediakan dana sebesar Rp2.215,6 T melalui APBD dan Rp
545,3 T atau sekitar 50% dari total kebutuhan dana untuk pembangunan infrastruktur dalam
RPJMN 2015-2019. Sedangkan 50 % sisa kebutuhan dana diharapkan dapat diperoleh dari
BUMN sebesar Rp1.066,2 T dan sektor swasta sebesar Rp1.692,3 T. Hal tersbebut dapat
dilihat pada Tabel Kebutuhan Pendanaan Insfrastruktur RPJMN 2015-2019 di bawah ini :

Tabel Kebutuhan Pendanaan Insfrastruktur RPJMN 2015-2019

Sumber:Bappenas
Walaupun negara mempunyai kewajiban untuk membangun infastruktur dasar dalam
menyokong kegiatan ekonomi, namun dalam rangka mempercepat pertumbuhan ekonomi,
diperlukan pembangunan infrastruktur yang lebih pesat sehingga melebihi kapasitas normal
pemerintah dalam mendanai dengan menggunakan sumber pendanaan publik konvensional
yaitu APBN dan APBD. Sedangkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat diperlukan untuk
segera mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan, serta dalam meningkatkan
keunggulan kompetitif perekonomian Indonesia di era persaingan global. Dengan demikian,
maka perlu dipikirkan sumber pembiayaan pembangunan infrastruktur lainnya. Oleh karena
itu, dalam tulisan ini penulis ingin mengangkat tema tentang wakaf sebagai alternative
pembiayaan pembangunan infrastruktur di Indonesia mengingat Indonesia merupakan
negara dengan jumlah muslim terbanyak di dunia.
B. Landasan Teori
1. Pengertian Wakaf
Secara etimologi, wakaf berasal dari perkataan Arab Waqf yang bererti al-Habs. Ia
merupakan kata yang berbentuk masdar (infinitive noun) yang pada dasarnya berarti
menahan, berhenti, atau diam. Apabila kata tersebut dihubungkan dengan harta seperti
tanah, binatang dan yang lain, ia berarti pembekuan hak milik untuk faedah tertentu (Ibnu
Manzhur: 9/359). Sebagai satu istilah dalam syariah Islam, wakaf diartikan sebagai
penahanan hak milik atas materi benda (al-ain) untuk tujuan menyedekahkan manfaat atau

faedahnya (al-manfaah) (al-Jurjani: 328). Sedangkan dalam buku-buku fiqh, para ulama
berbeda pendapat dalam memberi pengertian wakaf. Perbedaan tersebut membawa akibat
yang berbeda pada hukum yang ditimbulkan. Definisi wakaf menurut ahli fiqh adalah
sebagai berikut.
Pertama, Hanafiyah mengartikan wakaf sebagai menahan materi benda (al-ain) milik
Wakif dan menyedekahkan atau mewakafkan manfaatnya kepada siapapun yang diinginkan
untuk tujuan kebajikan (Ibnu al-Humam: 6/203). Definisi wakaf tersebut menjelaskan
bahawa kedudukan harta wakaf masih tetap tertahan atau terhenti di tangan Wakif itu
sendiri. Dengan artian, Wakif masih menjadi pemilik harta yang diwakafkannya, manakala
perwakafan hanya terjadi ke atas manfaat harta tersebut, bukan termasuk asset hartanya.
Kedua, Malikiyah berpendapat, wakaf adalah menjadikan manfaat suatu harta yang
dimiliki (walaupun pemilikannya dengan cara sewa) untuk diberikan kepada orang yang
berhak dengan satu akad (shighat) dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan keinginan
Wakif (al-Dasuqi: 2/187). Definisi wakaf tersebut hanya menentukan pemberian wakaf
kepada orang atau tempat yang berhak saja.
Ketiga, Syafiiyah mengartikan wakaf dengan menahan harta yang bisa memberi
manfaat serta kekal materi bendanya (al-ain) dengan cara memutuskan hak pengelolaan
yang dimiliki oleh Wakif untuk diserahkan kepada Nazhir yang dibolehkan oleh syariah (alSyarbini: 2/376). Golongan ini mensyaratkan harta yang diwakafkan harus harta yang kekal
materi bendanya (al-ain) dengan artian harta yang tidak mudah rusak atau musnah serta
dapat diambil manfaatnya secara berterusan (al-Syairazi: 1/575).
Keempat, Hanabilah mendefinisikan wakaf dengan bahasa yang sederhana, yaitu
menahan asal harta (tanah) dan menyedekahkan manfaat yang dihasilkan (Ibnu Qudamah:
6/185). Sementara itu, dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentag Wakaf, wakaf
diartikan dengan perbuatan hukum Wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan
sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu
tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan
umum menurut syariah.
Dari beberapa definisi wakaf tersebut, dapat disimpulkan bahwa wakaf bertujuan untuk
memberikan manfaat atau faedah harta yang diwakafkan kepada orang yang berhak dan
dipergunakan sesuai dengan ajaran syariah Islam. Hal ini sesuai dengan fungsi wakaf yang
disebutkan pasal 5 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 yang menyatakan wakaf
berfungsi untuk mewujudkan potensi dan manfaat ekonomis harta benda wakaf untuk
kepentingan ibadah dan untuk memajukan kesejahteraan umum.
2. Rukun Wakaf

Rukun Wakaf Ada empat rukun yang mesti dipenuhi dalam berwakaf. Pertama, orang
yang berwakaf (al-waqif). Kedua, benda yang diwakafkan (al-mauquf). Ketiga, orang yang
menerima manfaat wakaf (al-mauquf alaihi). Keempat, lafadz atau ikrar wakaf (sighah).
3. Syarat-Syarat Wakaf
a. Syarat-syarat orang yang berwakaf (al-waqif). Syarat-syarat al-waqif ada empat, pertama
orang yang berwakaf ini mestilah memiliki secara penuh harta itu, artinya dia merdeka
untuk mewakafkan harta itu kepada sesiapa yang ia kehendaki. Kedua dia mestilah orang
yang berakal, tak sah wakaf orang bodoh, orang gila, atau orang yang sedang mabuk.
Ketiga dia mestilah baligh. Dan keempat dia mestilah orang yang mampu bertindak
secara hukum (rasyid). Implikasinya orang bodoh, orang yang sedang muflis dan orang
lemah ingatan tidak sah mewakafkan hartanya.
b. Syarat-syarat harta yang diwakafkan (al-mauquf)Harta yang diwakafkan itu tidak sah
dipindahmilikkan, kecuali apabila ia memenuhi beberapa persyaratan yang ditentukan
oleh ah; pertama barang yang diwakafkan itu mestilah barang yang berharga Kedua,
harta yang diwakafkan itu mestilah diketahui kadarnya. Jadi apabila harta itu tidak
diketahui jumlahnya (majhul), maka pengalihan milik pada ketika itu tidak sah. Ketiga,
harta yang diwakafkan itu pasti dimiliki oleh orang yang berwakaf (wakif). Keempat, harta
itu mestilah berdiri sendiri, tidak melekat kepada harta lain (mufarrazan) atau disebut juga
dengan istilah (ghaira shai).
c. Syarat-syarat orang yang menerima manfaat wakaf (al-mauquf alaih). Dari segi
klasifikasinya orang yang menerima wakaf ini ada dua macam, pertama tertentu
(muayyan) dan tidak tertentu (ghaira muayyan). Yang dimasudkan dengan tertentu ialah,
jelas orang yang menerima wakaf itu, apakah seorang, dua orang atau satu kumpulan
yang semuanya tertentu dan tidak boleh dirubah. Sedangkan yang tidak tentu maksudnya
tempat berwakaf itu tidak ditentukan secara terperinci, umpamanya seseorang sesorang
untuk orang fakir, miskin, tempat ibadah, dll. Persyaratan bagi orang yang menerima
wakaf tertentu ini (al-mawquf muayyan) bahwa ia mestilah orang yang boleh untuk
memiliki harta (ahlan li al-tamlik), Maka orang muslim, merdeka dan kafir zimmi yang
memenuhi syarat ini boleh memiliki harta wakaf. Adapun orang bodoh, hamba sahaya,
dan orang gila tidak sah menerima wakaf. Syarat-syarat yang berkaitan dengan ghaira
muayyan; pertama ialah bahwa yang akan menerima wakaf itu mestilah dapat
menjadikan wakaf itu untuk kebaikan yang dengannya dapat mendekatkan diri kepada
Allah. Dan wakaf ini hanya ditujukan untuk kepentingan Islam saja.
d. Syarat-syarat Shigah berkaitan dengan isi ucapan (sighah) perlu ada beberapa syarat.
Pertama, ucapan itu mestilah mengandungi kata-kata yang menunjukKan kekalnya
(tabid). Tidak sah wakaf kalau ucapan dengan batas waktu tertentu. Kedua, ucapan itu
dapat direalisasikan segera (tanjiz), tanpa disangkutkan atau digantungkan kepada syarat
tertentu. Ketiga, ucapan itu bersifat pasti. Keempat, ucapan itu tidak diikuti oleh syarat

yang

membatalkan. Apabila

semua persyaratan

diatas dapat

terpenuhi

maka

penguasaan atas tanah wakaf bagi penerima wakaf adalah sah. Pewakaf tidak dapat lagi
menarik balik pemilikan harta itu telah berpindah kepada Allah dan penguasaan harta
tersebut adalah orang yang menerima wakaf secara umum ia dianggap pemiliknya tapi
bersifat ghaira tammah.
4. Dasar Hukum Wakaf
a. Menurut Al Quran
Secara umum tidak terdapat ayat al-Quran yang menerangkan konsep wakaf secara
jelas. Oleh karena wakaf termasuk infaq fi sabilillah, maka dasar yang digunakan para
ulama dalam menerangkan konsep wakaf ini didasarkan pada keumuman ayat-ayat alQuran yang menjelaskan tentang infaq fi sabilillah. Di antara ayat-ayat tersebut antara lain:
Hai orang-orang yang beriman! Nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usaha
kamu yang baik-baik, dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.
(Q.S. al-Baqarah (2): 267)
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu
menafkahkan sebagian dari apa yang kamu cintai. (Q.S. Ali Imran (3): 92)
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan
hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir.
Pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi sesiapa yang Dia
kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. al-Baqarah
(2): 261)
Ayat-ayat tersebut di atas menjelaskan tentang anjuran untuk menginfakkan harta yang
diperoleh untuk mendapatkan pahala dan kebaikan. Di samping itu, ayat 261 surat alBaqarah telah menyebutkan pahala yang berlipat ganda yang akan diperoleh orang yang
menginfakkan hartanya di jalan Allah.
b. Menutut Hadits
Di antara hadis yang menjadi dasar dan dalil wakaf adalah hadis yang menceritakan
tentang kisah Umar bin al-Khaththab ketika memperoleh tanah di Khaibar. Setelah ia
meminta petunjuk Nabi tentang tanah tersebut, Nabi menganjurkan untuk menahan asal
tanah dan menyedekahkan hasilnya.
Hadis tentang hal ini secara lengkap adalah; Umar memperoleh tanah di Khaibar, lalu
dia bertanya kepada Nabi dengan berkata; Wahai Rasulullah, saya telah memperoleh tanah
di Khaibar yang nilainya tinggi dan tidak pernah saya peroleh yang lebih tinggi nilainya dari
padanya. Apa yang baginda perintahkan kepada saya untuk melakukannya? Sabda
Rasulullah: Kalau kamu mau, tahan sumbernya dan sedekahkan manfaat atau faedahnya.
Lalu Umar menyedekahkannya, ia tidak boleh dijual, diberikan, atau dijadikan wariskan.
Umar menyedekahkan kepada fakir miskin, untuk keluarga, untuk memerdekakan budak,

untuk orang yang berperang di jalan Allah, orang musafir dan para tamu. Bagaimanapun ia
boleh digunakan dengan cara yang sesuai oleh pihak yang mengurusnya, seperti memakan
atau memberi makan kawan tanpa menjadikannya sebagai sumber pendapatan.
Hadis lain yang menjelaskan wakaf adalah hadis yang diceritakan oleh imam Muslim
dari Abu Hurairah. Nas hadis tersebut adalah; Apabila seorang manusia itu meninggal
dunia, maka terputuslah amal perbuatannya kecuali dari tiga sumber, yaitu sedekah jariah
(wakaf), ilmu pengetahuan yang bisa diambil manfaatnya,

dan anak soleh yang

mendoakannya.
Selain dasar dari al-Quran dan Hadis di atas, para ulama sepakat (ijma) menerima
wakaf sebagai satu amal jariah yang disyariatkan dalam Islam. Tidak ada orang yang dapat
menafikan dan menolak amalan wakaf dalam Islam karena wakaf telah menjadi amalan
yang senantiasa dijalankan dan diamalkan oleh para sahabat Nabi dan kaum Muslimim
sejak masa awal Islam hingga sekarang.

Di Indonesia, wakaf juga telah diatur oleh

pemerintah dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf


dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 tahun 2006 tentang Pelaksnaan Undang-Undang
Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf.
5. Wakaf Uang
Wakaf uang merupakan terjemahan langsung dari istilah Cash Waqf yang populer di
Bangladesh, tempat A. Mannan menggagas idenya. Dalam beberapa literatur lain, Cash
Waqf juga dimaknai sebagai wakaf tunai. Hanya saja, makna tunai ini sering disalahartikan
sebagai lawan kata dari kredit, sehingga pemaknaan cash waqf sebagai wakaf tunai menjadi
kurang pas

kecuali jika sudah termaktub dalam hukum positif dan penamaan produk,

seperti Sertifikat Wakaf Tunai.


Selanjutnya, wakaf uang dalam definisi Kementerian Agama adalah wakaf yang
dilakukan seseorang, kelompok orang, dan lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang.
Dengan demikian, wakaf uang merupakan salah satu bentuk wakaf yang diserahkan oleh
seorang wakif kepada nadzir dalam bentuk uang kontan. Hal ini selaras dengan definisi
wakaf yang dikeluarkan oleh Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia saat merilis fatwa
tentang wakaf uang. Menahan harta yang dapat dimanfaatkan tanpa lenyapnya bendanya
atau pokoknya, dengan cara melakukan tindakan hukum terhadap benda tersebut (menjual,
memberikan, atau mewariskannya), untuk disalurkan (hasilnya) pada sesuatu yang mubah
(tidak haram) yang ada.
Dalam definisi di atas, wakaf tidak lagi terbatas pada benda yang tetap wujudnya,
melainkan wakaf dapat berupa benda yang tetap nilainya atau pokoknya. Uang masuk
dalam kategori benda yang tetap pokoknya. Dengan demikian, definisi MUI di atas
memberikan legitimasi kebolehan wakaf uang. Selain itu ada beberapa pendapat yang
memperkuat fatwa tersebut antara lain: Pertama, pendapat Imam al-Zuhri (w. 124H.) bahwa

mewakafkan dinas hukumnya boleh, dengan cara menjadikan dinar tersebut sebagai modal
usaha kemudian keuntungannya disalurkan pada mauquf 'alaih (Abu Su'ud Muhammad.
Risalah fi Jawazi Waqf al-Nuqud, [Beirut: Dar Ibn Hazm, 1997], h. 20-2 1). Kedua,
mutaqaddimin dari ulaman mazhab Hanafi (lihat Wahbah al-Zuhaili, al Fiqh al-Islam wa
Adillatuhu, [Damsyiq: Dar al-Fikr, 1985], juz VIII, h. 162) membolehkan wakaf uang dinar dan
dirham sebagai pengecualian, atas dasar Istihsan bi al-'Urfi, berdasarkan atsar Abdullah bin
Mas'ud r.a: "Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin maka dalam pandangan Allah
adalah baik, dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin maka dalam pandangan
Allah pun buruk". Ketiga, pendapat sebagian ulama mazhab al-Syafi'i: Abu Tsyar
meriwayatkan dari Imam al-Syafi'i tentang kebolehan wakaf dinar dan dirham (uang). (alMawardi, al-Hawi al-Kabir, tahqiq Dr. Mahmud Mathraji, [Beirut: Dar al-Fikr,1994[, juz IX,m h.
379).
C. Pembahasan
Wakaf sebagai salah satu instrument fiskal Islam yang telah ada semenjak awal
kedatangan Islam telah mebuktikan bahwa wakaf merupakan potensi keuangan public yang
dimilki oleh masyarakat Muslim, dan merupakan salah satu bentuk pentingnya partisipasi
public di dalam membatu pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sehingga
meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Dengan adanya partisipasi public, maka
beban untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sehingga meningkatkan kesejahteraan
masyarakat menjadi lebih ringan dan relative lebih mudah. Salah satu upaya pemerintah
dalam mendorong pertumbuhan ekonomi adalah dengan pembangunan infrastruktur.
Selama ini hambatan utama pembangunan infrastruktur di Indonesia selalu berkutat
pada masalah pendanaan dan pembebasan lahan. Wakaf produktif dan wakaf uang
merupakan beberapa alternative pembiayaan pembangunan infrastruktur di Indonesia.
Wakaf produktif dapat digunakan sebagai solusi atas masalah pembebasan lahan
sedangkan wakaf tunai dapat digunakan sebagai solusi atas masalah pendanaan dalam
pembangunan insfrastruktur.
Wakaf produktif merupakan salah satu alternatif untuk membantu pemerintah dalam
pembangunan infrastruktur di Indonesia terutama masalah pembebasan lahan karena
sebagian besar penduduk Indonesia adalah Muslim dan merupakan negara dengan jumlah
penduduk beragama Islam terbesar di dunia. Oleh karena itu, Indonesia memiliki sejuta
potensi yang sangat besar dalam hal wakaf untuk turut berperan aktif dalam mendongkrak
pembangunan dan perekonomian negara. Terutama, hal itu sebagai upaya memberikan
kontribusi dalam peningkatan pembangunan infrastruktur dalam negeri.
Potensi wakaf yang besar terlihat dalam data yang dihimpun oleh Kementerian Agama
Republik Indonesia tentang jumlah tanah aset wakaf mencapai 39.607,34 hektar yang

tersebar diseluruh Indonesia. Data jumlah aset tanah wakaf tersebut dapat dilihat pada tabel
di bawah ini :
Tabel Data Tanah Wakaf Seluruh Indonesia
No

Nama Wilayah

Jumla
h

ACEH

7.603

SUMATERA UTARA

6.238

SUMATERA BARAT

2.861

RIAU

Luas
[Ha]
7.153,7
8
7.323,3
5

Sudah
Sertifikat
Jumla
Luas
h
[Ha]
1.075,7
3.746
6

Belum
Sertifikat
Juml
Luas
ah
[Ha]
6.078,0
3.857
2
7.034,6
2.711
7

3.527

288,68

289,09

1.914

184,9

947

104,19

5.741

1.566,0
9

2.135

335,36

3.606

1.230,7
2

JAMBI

4.640

618,16

2.791

287,55

1.849

330,61

SUMATERA SELATAN

1.039

151,68

421

25,86

618

125,82

BENGKULU

1.996

315,66

1.559

216,54

437

99,12

LAMPUNG

8.440

5.055,0
0

5.356

2.633,1
7

3.084

2.421,8
3

KEP. BANGKA
BELITUNG

1.029

195,01

701

144,54

328

50,47

10

KEPULAUAN RIAU

1.140

208,9

315

43,5

825

165,41

11

D K I JAKARTA

4.059

190,67

2.728

115,29

1.331

75,37

12

JAWA BARAT

47.683

JAWA TENGAH

72.871

29.17
5
56.93
3

2.355,4
7
2.870,1
4

18.50
8
15.93
8

2.505,8
0

13

4.861,2
7
3.674,6
6

14

D I YOGYAKARTA

7.972

281,69

7.269

254,85

703

26,84

15

JAWA TIMUR

38.026

2.485,1
2

24.89
1

1.641,8
3

13.13
5

843,29

16

BANTEN

8.468

629,74

3.453

198,77

5.015

430,97

17

BALI

1.398

204,01

1.250

184,1

148

19,92

3.244

549,87

2.182

368,25

1.062

181,62

528

131,28

430

82,16

98

49,12

18
19

NUSA TENGGARA
BARAT
NUSA TENGGARA
TIMUR

804,53

20

KALIMANTAN BARAT

1.710

368,7

1.210

201,71

500

166,99

21

KALIMANTAN
TENGAH

2.642

577,84

1.631

329,67

1.011

248,17

22

KALIMANTAN
SELATAN

6.693

824,65

6.120

709,61

573

115,03

23

KALIMANTAN TIMUR

2.259

546,67

1.212

188,58

1.047

358,09

24

SULAWESI UTARA

510

52,94

261

22,56

249

30,38

25

SULAWESI TENGAH

931

606,08

583

58,63

348

547,45

26

SULAWESI SELATAN

1.123

113,3

674

52,51

449

60,79

27

SULAWESI
TENGGARA

299

35,41

243

21,59

56

13,82

28

GORONTALO

1.267

95,18

695

49,09

572

46,09

29

SULAWESI BARAT

2.447

325,17

571

60,96

1.876

264,22

30

MALUKU

155

16,78

42

2,72

113

14,06

31

MALUKU UTARA

200

72,16

167

61,5

33

10,66

32

PAPUA

267

58,35

126

18,47

141

39,88

33

PAPUA BARAT

44

18,15

27

2,83

17

15,32

Jumlah

245.5 39.596 164.3 15.087 81.1 24.509,


23
,40
38
,13
85
26
Sumber : Direktorat Pemberdayaan Wakaf Kementerian Agama RI

Jika lebih dirinci tentang penggunaan tanah wakaf, dari total aset tanah wakaf sebesar
39.596,40 hektar sebagian besar digunakan untuk pembangunan masjid dan mushola yaitu
sebesar 43,76% dan 29,9%. Sedangkan sisanya digunakan untuk pembangunan sekolah,
makam, pesantren dan sosial lainya. Hal tersebut dapat dilihat pada diagram penggunaan
tanah wakaf di bawah ini :
Diagram Penggunaan Tanah Wakaf

Sumber : Direktorat Pemberdayaan Wakaf Kementerian Agama RI

Jika melihat potensi yang luar biasa wakaf yang ada di Indonesia sebagaimana
dijabarkan diatas maka wakaf produktif akan sangat berkorelasi dan akan menjadi solusi
alternatif yang dapat memberikan kontribusi besar apabila wakaf produktif di maksimalkan
sebagai investasi dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia . Selain itu, dengan wakaf
produktif secara tidak langsung masyarakat telah diajak untuk berpartisipasi langsung dalam
pembangunan negara. Langkah ini, juga mampu membangkitkan rasa nasionalisme untuk
memajukan

perekonomian

negara.

Karena,

semua

elemen

masyarakat

memiliki

kesempatan dan hak yang sama tanpa terkecuali.


Di samping itu, tidak menutup kemungkinan apabila harmonisasi antara pemerintah dan
masyarakat sudah terjalin, maka pungutan liar (pungli) dan KKN yang dilakukan oleh oknum
mafia tanah penghambat proyek infrastruktur akan hilang dengan sendirinya. Kenapa,
karena wakaf produktif tidak hanya berorientasi pada materi semata, melainkan sisi
religiusitas, ketaatan, dan hubungan antara Alloh dan hamba-Nya (Habluminalloh). Disisi
lain, dengan pemanfaatan aset wakaf produktif sebagai sumber pembiayaan pembangunan
insfrastruktur di Indonesia maka aset wakaf produktif akan menjadi lebih perpetuitif dan
dapat memelihara dirinya sendiri dari resiko penyusutan dan kerusakan.
Ada satu hal lagi yang harus digaris bawahi bahwa bentuk partisipatif wakaf produktif
bukan hanya dalam bentuk tanah atau lahan saja. Semua benda, barang atau apapun yang
dapat diwakaf-kan, dengan catatan mampu memberikan hasil yang memakmurkan
rakyatnya. Semua itu dapat dijadikan dan dimanfaatkan sebagai wakaf produktif. Karena itu,
wakaf produktif dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa terkecuali, bukan hanya orang yang
hanya memiliki tanah tetapi harta benda lainnya.
Selain wakaf produktif terdapat pula wakaf uang sebagai alternative pembiayaan
pembangunan infrastruktur di Indonesia. Penerbitan sertifikat wakaf uang merupakan salah
satu bentuk dari wakaf uang. Sertifikat wakaf uang disini digunakan sebagai upaya
mobilisasi wakaf uang dari masyarakat untuk digunakan sebagai sumber pembiayaan
pembangunan infrastruktur. Sertifikat wakaf uang disini tidak sama dengan surat berharga
lainnya yang profitable tetapi hanya sebatas sertifikat yang menunjukkan seseorangtelah
berpartisipasi dalam pembangunan infrastrukur dengan menunjuk langsung pada proyek
insfrastruktur yang akan dibangun oleh pemerintah. Konsep wakaf uang disini mirip dengan
konsep pendanaan Crowdfunding dimana peran serta masyarakat sangat besar dalam
pengumpulan dana.
Pemerintah Indonesia dalam hal ini bertindak sebagai pengelola wakaf (mutawali) dapat
memobilisasi harta wakaf dari masyarakat dengan cara menerbitkan sertifikat wakaf uang.
Sertifikat tersebut kemudian ditawarkan kepada public berdasarkan proyek infrastruktur
yang akan dibangun oleh pemerintah. Penawaran tersebut dapat dilakukan melaui lembaga
perbankan syariah sehingga mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Di dalam

sertifikat tersebut sekaligus disertai proyek infrastruktur yang akan dibangun dan ditawarkan
kepada masyratakat untuk didanai. Oleh karena itu, masyarakat dapat memilih langsung
proyek infrastruktur mana yang akan mereka pilih untuk ikut serta mendannainya dengan
menggunakan harta yang mereka wakafkan.
Dengan pemanfaatan wakaf uang tersebut melalui sertifikat wakaf tunai, pemerintah
dapat meningkatkan sumber pembiayaanya dalam pembangunan infrastrukur dalam skala
yang lebih besar jika dibandingkan ketika harta wakaf tersebut ditunaikan sendiri oleh
masyarakat. Hal itu dapat terjadi dengan melihat potensi wakaf uang di Indonesia sangatlah
besar. Indonsia yang memiliki jumlah penduduk beragama Islam tebesar di seluruh dunia
merupakan aset besar dalam penghimpunan dan pengembangan wakaf uang. Jumlah
penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiawa pada tahun 2015 dengan 88,10 %
merupakan penduduk beragama Islam. Jika wakaf uang dapat diimplementasikan maka
akannada dana potensial sekitar Rp12,6 T perbulan atau Rp152 T dalam satu tahun yang
dapat digunakan untuk sumber pembiayaan pembangunan infrasturktur. Perkiraan
perhitungan potensi wakaf uang tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel Perkiraan Potensi Wakaf Uang di Indonesia
Jumlah
Wakif
(Orang)

Nominal
Wakaf Uang

Jumlah Dana
Terkumpul

Rp5 Juta ke atas

88.100.000

Rp100.000/Bula
n

Rp8.810.000.000.00
0,00

Rp2 - 5 Juta

66.075.000

Rp50.000/Bulan

Rp3.303.750.000.00
0,00

Rp1 - 2 Juta

44.050.000

Rp10.000/Bulan

Rp440.500.000.000,
00

Rp500 ribu - 1 juta

22.025.000

Rp5.000/Bulan

Rp110.125.000.000,
00

N
o

Kriteria
Penghasilan

Jumlah Terkumpul

Rp12.664.375.000
.000,00

Dengan kekuatan potensi wakaf uang yang besar di atas, maka akan semakin banyak
inftrastruktur yang dibangun menggunakan harta wakaf uang. Selanjutnya, beban
pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi untuk mensejahterakan masyrakatnya
akan menjadi lebih ringan karena didukung oleh upaya kolektif dari masyarakat yang tidak
mengharapkan adanya imbalan secara financial.
Jika wakaf produktif dan wakaf uang tersbut dapat berhasil dilaksanakan, maka
pemerintah akan sangat mudah dalam pembangunan infrastruktunya sehingga mendorong
pertumbuhan ekonomi untuk mensejahterakan masyrakatnya. Hal tersebut terjadi karena

wakaf produktif dan wakaf uang tidak mengenal pengembalian dana dan imbalan atas dana
yang digunakan. Hal tersbut lebih menguntungkan dibandingkan dengan sumber
pembiayaan infrastruktur yang berasal dari utang yang membebani pemerintah dengan
pengembalian dana yang digunakan dan imbalan penggunaan utang tersebut dalam bentuk
bunga sehingga cost of capital

pembangunan infrastruktur dapat ditekan bahkan

dihilangkan.
Meskipun sumber pembiayaan pembangunan infrastruktur yang bersumber dari wakaf
produktif dan wakaf uang sangat menguntungkan. Namun, kenyataannya selama ini potensi
wakaf produktif dan wakaf uang sebagai salah satu alternatif untuk membantu program
pembangunan infrastruktur dalam rangka menggapai Indonesia maju pada 2025
sebagaimana

tertuang

dalam

proyeksi

Masterplan

Percepatan

dan

Perluasan

Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dan dijabarkan lagi dalam RPJMN 2015-2019
belum begitu dilirik, diminati dan dimaksimalkan. Selain itu, hambatan lainnya yang ikut
mengganjal adalah perlunya merubah paradigma masyarakat tentang wakaf. Selama ini,
wakaf hanya digunakan untuk hal yang bersifat konsumtif. Pola ini perlu dirubah menjadi
wakaf bersifat produktif. Wakaf produktif ini bertujuan untuk mencapai kemaslahatan dan
kesejahteraan umat tanpa mengenyampingkan nilai-nilai syariat Islam itu sendiri. Selain itu,
hambatan yang sangat krusial adalah masih rendahnya kepercayaan public kepada
penyelenggara negara.
Oleh karenanya, berbagai upaya persuasif harus dilakukan untuk menggalakkan
masyarakat melakukan wakaf produktif agar berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur
harus dilakukan dan ditingkatkan. misalnya melalui kampanye, seminar, ataupun melalui
ceramah-ceramah di majelis ta'lim. Hal tersebut dilakukan karena masyarakat lebih
memainkan peran yang substansial dan menjadi ujung tombak sukses wakaf produktif
tersebut. Selain itu perlu diperlukannya upaya untuk membangun kepercaayaan public
terhadap penyelenggara negara dengan adanya political will untuk menjadi pemerintahan
yang amanah.
Pemerintah sendiri telah menegaskan upayanya dalam berperan aktif mendorong
pemanfaatan potensi wakaf produktif untuk pembangunan melalui berbagai produk payung
hukum. Hal tersebut guna memberikan kekuatan hukum dan kejelasan yang mengatur
semua hal tentang perkara wakaf. Sebut saja, undang-undang nomor 41 Tahun 2004, PP
No 42 Tahun 2006, serta fatwa MUI tentang wakaf uang tertanggal 11 Mei 2006.
D. Kesimpulan
Wakaf sebagai salah satu instrument fiskal Islam yang telah ada semenjak awal
kedatangan Islam telah mebuktikan bahwa wakaf merupakan potensi keuangan public yang
dimilki oleh masyarakat Muslim, dan merupakan salah satu bentuk pentingnya partisipasi
public di dalam membatu pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sehingga

meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Melaui wakaf produktif dan wakaf uang yang
mempunyai potensi luar biasa besar, pemerintah dapat mendapatkan alternative sumber
pembiayaan dalam pembangunan infrastruktur di Indoensia. Penggunaan wakaf produktif
dan wakaf uang dalam pembangunan infrastruktur lebih mengutungkan pemerintah
dibandingkan dengan sumber pembiayaan yang berasal dari hutang karena pemerintah
terbesar dari beban pengembalian dana dan beban bunga atas utang tersbut sehingga cost
of capital pembangunan infrastruktur dapat ditekan bahkan dihilangkan.
Selain itu, pemerintah juga perlu mempersiapkan strategi untuk dalam pengelolaan
wakaf produktif dan wakaf tunai sehingga manfaat atas wakaf tersbut dapat maksimal antara
lain dengan cara :
1. Pembentukan institusi wakaf yang independen
2. Membuat sistem pengelolaan wakaf produktif dan wakaf tunai dengan melibatkan peran
3.
4.
5.
6.

kepada bank syariah, lembaga investasi dana wakaf, dan lembaga penjamin syariah
Membuka jaringan kemitraan dan kerjasama wakaf
Mningkatkan political will pemerintah
Mempersiapkan dasar hukum peraturan perundang-undangan mengenai wakaf
Sosialisasi kepada masyaratakat mengenai besarnya potensi wakaf produktif dan wakaf
tunai

DAFTAR REFERENSI
Al

Arif,Muhammad.2010.Potensi

Wakaf

Uang

Serta

Dampaknya

Terhadap

Perekonomian.Balitbang, Kementerian Agama:Jakarta


Hidayanto,Fajar.2009.Wakaf Tunai Produktif.UIN Sunan Kalijaga:Yoyakarta
http://bwi.or.id/
http://siwak.kemenag.go.id/index.php
http://wakafcenter.com/
http://www.bappenas.go.id/id/
Kemenag.2006.Pedoman Pengelolaan Wakaf Tunai.Direktorat Pemberdayaan Wakaf.Ditjen
Bimas Islam, Kementerian Agama:Jakarta
Kemenag.2006.Strategi

Pengembangan

Wakaf

Wakaf.Ditjen Bimas Islam, Kementerian Agama:Jakarta


Walidi.2013.Pengelolaan APBN Syariah.___:Jakarta

Tunai.Direktorat

Pemberdayaan