Anda di halaman 1dari 22

PRESENTASI KASUS

SEORANG PRIA 22 TAHUN DENGAN KOLIK URETER SINISTRA

Oleh:
dr. Agung Ismanuworo

Pembimbing
dr. Ike Indrayani
dr. Dyah Ayu Retnaningtyas

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH CEPU
2016

3.

STATUS PENDERITA
A. Identitas Penderita
Nama
Jenis kelamin
Umur
Agama
Tanggal masuk RS
Tanggal pemeriksaan

:
:
:
:
:
:

Tn. AS
Pria
22tahun
Islam
9Januari 2016
9 Januari 2016

B. Data Dasar:
1. Keluhan Utama:
Nyeri perut kiri
2.

Riwayat Penyakit Sekarang:


Pasien datang ke IGD PKU Muhammadiyah dengan keluhan nyeri

perut kiri bawah yang menjalar ke pinggang sejak 1 hari SMRS. Nyeri
dirasakan terus menerus.
Pasien juga merasakah perut kembung disertai mual dan muntah
sebanyak 2 kali. BAB dan BAK tidak ada keluhan.

Riwayat Penyakit Dahulu


Penyakit
Riwayat keluhan serupa
Riwayat hipertensi
Riwayat DM
Riwayat alergi
Riwayat trauma

Onset/ Kronologis
Disangkal
Disangkal
Disangkal
Disangkal
Disangkal

4.

Penyakit
Riwayat sakit tekanan darah tinggi
Riwayat sakit jantung
Riwayat sakit gula
Riwayat asma
Riwayat alergi
Riwayat Penyakit Ginjal

Onset/ Kronologis

Disangkal
Disangkal
Disangkal
Disangkal
Disangkal
Disangkal

w
a
y
a

t Penyakit Keluarga

C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum

Tampaksakit sedang,

compos mentis, GCS E4/V5/M6


2. Tanda vital

Tensi
: 120/80mmHg
Nadi :80x/ menit, irama reguler, isi dan tegangan cukup, equal
Frekuensi nafas : 24x /menit
Suhu
: 370C
3. Status gizi : baik
4. Kepala
: konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-)
5. Jantung
Inspeksi
Palpasi :

:
Ictus kordis tidak tampak
Ictus kordis tidak kuat angkat, teraba di

SIC V 1 cm medialLMCS
Perkusi : batas jantung normal
Auskultasi
:
Bunyi jantung

I-II

intensitas

normal, reguler, bising(-), gallop (-)


13.Pulmo

Inspeksi
:
normochest
Palpasi : fremitus taktil normal
Perkusi : sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi
:
suara dasar

vesikuler

(+/+),

wheezing (-/-), ronki (-/-)


6. Abdomen

Inspeksi
Auskultasi
Perkusi :
Palpasi :

:
Dinding perut sejajar dinding dada
:
Bising usus (+) normal 12x/menit
timpani(+)
nyeri tekan (+) pada regio 8, pembesaran

hepar dan lien (-), nyeri ketok costovertebral (+)

Akral

7. Ekstremitas
dingin

Oedem

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG

HEMATOLOGI
Hemoglobin
Hematokrit

Hasil

Rujukan

13,1

P 13-18 mg/dl

42,6

L 14-18 mg/dl
L 40-54 %
P 35-47 %

Leukosit
Trombosit
Eritrosit
MCV
MCH
MCHC
Golongan darah
SEROLOGI/IMUNOLOGI
HBs-Ag
FAAL GINJAL
Urea
Creatinin
Uric Acid

14.400
385.000
6,14
69,4
21,3
30,8
A
-/NEG
12,2
1,1
8,8

4.000 11.000/cmm

120.000-450.000
4,5-5,5 juta/cmm
80-94
27-32
32-37
negatif
10-50 mg/dl
0,4-1,1 mg/dl
P 1,9-5,1 mg/dl
L 3,1-7,9 mg/dl

E. PENATALAKSANAAN
Infus Assering 20 tpm
Inj Gitas 3x1
Kaltrofen supp 3x1
F. PROGNOSIS
Ad vitam
: dubia ad bonam
Ad sanam
: dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
Batu Saluran Kemih (BSK) adalah penyakit dimana didapatkan masa keras
seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih baik saluran kemih atas (ginjal
dan ureter) dan saluran kemih bawah (kandung kemih dan uretra), yang dapat
menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih dan infeksi. Batu ini bisa
terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung
kemih). Batu ini terbentuk dari pengendapan garam kalsium, magnesium, asam urat,
atau sistein.
BSK dapat berukuran dari sekecil pasir hingga sebesar buah anggur. Batu yang
berukuran kecil biasanya tidak menimbulkan gejala dan biasanya dapat keluar bersama
dengan urine ketika berkemih. Batu yang berada di saluran kemih atas (ginjal dan
ureter) menimbulkan kolik dan jika batu berada di saluran kemih bagian bawah
(kandung kemih dan uretra) dapat menghambat buang air kecil.
Batu yang menyumbat ureter, pelvis renalis maupun tubulus renalis dapat
menyebabkan nyeri punggung atau kolik renalis (nyeri kolik yang hebat di daerah antara
tulang rusuk dan tulang pinggang yang menjalar ke perut juga daerah kemaluan dan
paha sebelah dalam). Hal ini disebabkan karena adanya respon ureter terhadap batu
tersebut, dimana ureter akan berkontraksi yang dapat menimbulkan rasa nyeri kram
yang hebat.
SISTEM KEMIH
Sistem kemih (urinearia) adalah suatu sistem tempat terjadinya proses
penyaringan darah dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zatzat yang masih di pergunakan oleh tubuh. Zat- zat yang tidak di pergunakan oleh tubuh
larut dalam air dan dikeluarkan berupa urine (air kemih). Sistem kemih terdiri atas
saluran kemih atas (sepasang ginjal dan ureter), dan saluran kemih bawah (satu kandung
kemih dan uretra)

Gambar sistem saluran kemih pada manusia dapat dilihat pada gambar
berikut:

Ginjal
Dalam keadaan normal, manusia memiliki 2 ginjal.Ginjal merupakan organ
yang berbentuk seperti kacang berwarna merah tua, panjangnya sekitar 12,5 cm dan
tebalnya sekitar 2,5 cm (kurang lebih sebesar kepalan tangan). Ginjal adalah organ
yang berfungsi sebagai penyaring darah yang terletak di bagian belakang

kavum

abdominalis di belakang peritoneum melekat langsung pada dinding belakang abdomen.


Setiap ginjal memiliki ureter, yang mengalirkan air kemih dari pelvis renalis (bagian
ginjal yang merupakan pusat pengumpulan air kemih) ke dalam kandung kemih. Setiap
ginjal terdiri atas 1-4 juta nefron. Selama 24 jam dapat menyaring darah 170 liter.
Fungsi yang lainnya adalah ginjal dapat menyaring limbah metabolik, menyaring
kelebihan natrium dan air dari darah, membantu mengatur tekanan darah, pengaturan
vitamin D dan Kalsium.
Ginjal mengatur komposisi kimia dari lingkungan dalam melalui suatu proses
majemuk yang melibatkan filtrasi, absorpsi aktif, absorpsi pasif, dan sekresi. Filtrasi
terjadi dalam glomerulus, tempat ultra filtrate dari plasma darah terbentuk. Tubulus
nefron, terutama tubulus kontortus proksimal berfungsi mengabsorpsi dari substansisubstansi yang berguna bagi metabolisme tubuh, sehingga dengan demikian memelihara
homeostatis lingkungan dalam. Dengan cara ini makhluk hidup terutama manusia

mengatur air, cairan intraseluler, dan keseimbangan osmostiknya. Gangguan fungsi


ginjal akibat BSK pada dasarnya akibat obstruksi dan infeksi sekunder. Obstruksi
menyebabkan perubahan struktur dan fungsi pada traktus urinearius dan dapat berakibat
disfungsi atau insufisiensi ginjal akibat kerusakan dari paremkim ginjal.
Anatomi Ginjal Normal dan Ginjal dengan BSK

Ureter
Ureter merupakan saluran kecil yang menghubungkan antara ginjal dengan
kandung kemih (vesica urinearia), dengan panjang 25-30 cm, dengan penampang
0,5 cm. Saluran ini menyempit di tiga tempat yaitu di titik asal ureter pada pelvis ginjal,
di titik saat melewati pinggiran pelvis, dan di titik pertemuannya dengan kendung
kemih. BSK dapat tersangkut dalam ureter di ketiga tempat tersebut, yang
mengakibatkan nyeri (kolik ureter). Lapisan dinding ureter terdiri dari dinding luar
berupa jaringan ikat (jaringan fibrosa), lapisan tengah terdiri dari lapisan otot polos,
lapisan sebelah dalam

merupakan lapisan mukosa. Lapisan dinding ureter

menimbulkan gerakan-gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang akan mendorong air
kemih masuk ke dalam kandung kemih (vesica urinearia).
Setiap ureter akan masuk ke dalam kandung kemih melalui suatu sfingter.
Sfingter adalah suatu struktur muskuler (berotot) yang dapat membuka dan menutup
sehingga dapat mengatur kapan air kemih bisa lewat menuju ke dalam kandung kemih.
Air kemih yang secara teratur tersebut mengalir dari ureter akan di tampung dan
terkumpul di dalam kandung kemih.
Saluran Kemih Bawah
a. Kandung Kemih
Kandung kemih merupakan kantong muscular yang bagian dalamnya dilapisi
oleh membran mukosa dan terletak di depan organ pelvis lainnya sebagai tempat
menampung air kemih yang dibuang dari ginjal melalui ureter yang merupakan hasil
buangan penyaringan darah. Dalam menampung air kemih kandung kemih mempunyai
kapasitas maksimal yaitu untuk volume orang dewasa lebih kurang adalah 30-450 ml.
Kandung kemih bersifat elastis, sehingga dapat mengembang dan mengkerut. Ketika
kosong atau setengah terdistensi, kandung kemih terletak pada pelvis dan ketika lebih
dari setengah terdistensi maka kandung kemih akan berada pada abdomen di atas pubis.
Dimana ukurannya secara bertahap membesar ketika sedang menampung jumlah
air kemih yang secara teratur bertambah. Apabila kandung kemih telah penuh, maka
akan dikirim sinyal ke otak dan menyampaikan pesan untuk berkemih. Selama
berkemih, sfingter lainnya yang terletak diantara kandung kemih dan uretra akan
membuka dan akan diteruskan keluar melalui uretra. Pada saat itu, secara bersamaan

dinding kandung kemih berkontrasksi yang menyebabkan terjadinya tekanan sehingga


dapat membantu mendorong air kemih keluar menuju uretra.
b. Uretra
Saluran kemih (uretra) merupakan saluran sempit yang berpangkal pada
kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar. Pada laki-laki uretra
berjalan berkelok-kelok melalui tengah-tengah prostat kemudian menembus lapisan
fibrosa yang menembus tulang pubis ke bagian penis panjangnya 20 cm. Uretra pada
laki-laki terdiri dari uretra prostatika, uretra membranosa, dan uretra kavernosa.
Uretra prostatika merupakan saluran terlebar dengan panjang 3 cm, dengan
bentuk seperti kumparan yang bagian tengahnya lebih luas dan makin ke bawah makin
dangkal

kemudian

membranosamerupakan

bergabung

dengan

uretra

membranosa.

Uretra

saluran yang paling pendek dan paling dangkal. Uretra

kavernosa merupakan saluran terpanjang dari uretra dengan panjang kira-kira 15 cm.
Pada wanita, uretra terletak di belakang simfisis pubis berjalan miring sedikit kearah
atas, panjangnya 3-4 cm. Muara uretra pada wanita terletak di sebelah atas vagina
(antara clitoris dan vagina) dan uretra disini hanya sebagai saluran ekskresi. Uretra
wanita jauh lebih pendek daripada uretra laki-laki.

PENYEBAB TERJADINYA BATU SALURAN KEMIH


Terbentuknya batu bisa terjadi karena air kemih jenuh dengan garam-garam
yang dapat membentuk batu atau karena air kemih kekurangan penghambat
pembentukan batu yang normal.Sekitar 80% batu terdiri dari kalsium, sisanya
mengandung berbagai bahan, termasuk asam urat, sistin dan mineral struvit.
Batu struvit (campuran dari magnesium, amonium dan fosfat) juga disebut batu
infeksi karena batu ini hanya terbentuk di dalam air kemih yang terinfeksi.Ukuran batu
bervariasi, mulai dari yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang sampai yang
sebesar 2,5 sentimeter atau lebih. Batu yang besar disebut kalkulus staghorn. Batu ini
bisa mengisi hampir keseluruhan pelvis renalis dan kalises renalis.

KLASIFIKASI BATU SALURAN KEMIH


Komposisi kimia yang terkandung dalam batu ginjal dan saluran kemih dapat
diketahui dengan menggunakan analisis kimia khusus untuk mengetahui adanya
kalsium, magnesium, amonium, karbonat, fosfat, asam urat oksalat, dan sistin.
a. Batu kalsium
Kalsium adalah jenis batu yang paling banyak menyebabkan BSK yaitu sekitar
70%-80% dari seluruh kasus BSK. Batu ini kadang-kadang di jumpai dalam bentuk
murni atau juga bisa dalam bentuk campuran, misalnya dengan batu kalsium oksalat,
batu kalsium fosfat atau campuran dari kedua unsur tersebut. Terbentuknya batu
tersebut diperkirakan terkait dengan kadar kalsium yang tinggi di dalam urine atau
darah dan akibat dari dehidrasi. Batu kalsium terdiri dari dua tipe yang berbeda, yaitu:
a.1 Whewellite (monohidrat) yaitu , batu berbentuk padat, warna cokat/ hitam
dengan konsentrasi asam oksalat yang tinggi pada air kemih.
a.2 Kombinasi kalsium dan magnesium menjadi weddllite (dehidrat) yaitu
batu berwarna kuning, mudah hancur daripada whewellite.
b. Batu asam urat
Lebih kurang 5-10% penderita BSK dengan komposisi asam urat. Pasien
biasanya berusia > 60 tahun. Batu asam urat dibentuk hanya oleh asam urat.
Kegemukan, peminum alkohol, dan diet tinggi protein mempunyai peluang lebih besar
menderita penyakit BSK, karena keadaan tersebut dapat meningkatkan ekskresi asam
urat sehingga pH air kemih menjadi rendah. Ukuran batu asam urat bervariasi mulai dari
ukuran kecil sampai ukuran besar sehingga membentuk staghorn (tanduk rusa). Batu
asam urat ini adalah tipe batu yang dapat dipecah dengan obat-obatan. Sebanyak 90%
akan berhasil dengan terapi kemolisis.
c. Batu struvit (magnesium-amonium fosfat)
Batu struvit disebut juga batu infeksi, karena terbentuknya batu ini disebabkan
oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab infeksi ini adalah golongan kuman
pemecah urea atau urea splitter yang dapat menghasilkan enzim urease dan merubah
urine menjadi bersuasana basa melalui hidrolisis urea menjadi amoniak. Kuman yang
termasuk pemecah urea di antaranya adalah : Proteus spp, Klebsiella, Serratia,
Enterobakter, Pseudomonas, dan Staphiloccocus. Ditemukan sekitar 15-20% pada
penderita BSK Batu struvit lebih sering terjadi pada wanita daripada laki-laki. Infeksi

10

saluran kemih terjadi karena tingginya konsentrasi ammonium dan pH air kemih >7.
Pada batu struvit volume air kemih yang banyak sangat penting untuk membilas bakteri
dan menurunkan supersaturasi dari fosfat.
d. Batu Sistin
Batu Sistin terjadi pada saat kehamilan, disebabkan karena gangguan ginjal.
Merupakan batu yang paling jarang dijumpai dengan frekuensi kejadian 1-2%.
Reabsorbsi asam amino, sistin, arginin, lysin dan ornithine berkurang, pembentukan
batu terjadi saat bayi. Disebabkan faktor keturunan dan pH urine yang asam. Selain
karena urine yang sangat jenuh, pembentukan batu dapat juga terjadi pada individu yang
memiliki riwayat batu sebelumnya atau pada individu yang statis karena imobilitas.
Memerlukan pengobatan seumur hidup, diet mungkin menyebabkan pembentukan batu,
pengenceran air kemih yang rendah dan asupan protein hewani yang tinggi menaikkan
ekskresi sistin dalam air kemih.
EPIDEMIOLOGI
Distribusi dan Frekuensi
Berdasarkan data dari Urologic Disease in America pada tahun 2000, insidens
rate tertinggi kelompok umur berdasarkan letak batu yaitu saluran kemih atas adalah
pada kelompok umur 55-64 tahun 11,2 per-100.000 populasi, tertinggi kedua adalah
kelompok umur 65-74 tahun 10,7 per-100.000 populasi. Insidens rate tertinggi jenis
kelamin berdasarkan letak batu yaitu saluran kemih atas adalah pada jenis kelamin lakilaki 74 per-100.000 populasi, sedangkan pada perempuan 51 per-100.000 populasi.
Insidens rate tertinggi kelompok umur berdasarkan letak batu yaitu saluran kemih
bawah adalah pada kelompok umur 75-84 tahun 18 per-100.000 populasi, tertinggi
kedua adalah kelompok umur 65-74 tahun 11 per-100.000 populasi. Insidens rate
tertinggi jenis kelamin berdasarkan letak batu yaitu saluran kemih bawah adalah jenis
kelamin laki-laki 4,6 per-100.000 populasi sedangkan pada perempuan 0,7 per-100.000
populasi.
Analisis jenis batu berdasarkan jenis kelamin di Amerika Serikat pada tahun
2005, jenis kelamin laki-laki dengan batu kalsium 75%, batu asam urat 23,1%, batu
struvit 5%, dan batu cysteine 0,5%, sedangkan pada perempuan jenis batu kalsium
86,2%, batu asam urat 11,3%, batu struvit 1,3%, dan batu cysteine 1,3%. Analisis jenis

11

batu berdasarkan jenis kelamin di Australia Selatan pada tahun 2005 yaitu pada jenis
kelamin laki-laki jenis batu kalsium oksalat 73%, batu asam urat 79%, sedangkan pada
perempuan jenis batu struvit 58%. Analisis jenis batu berdasarkan kelompok umur, jenis
batu kalsium oksalat 50-60 tahun, batu asam urat 60-65 tahun dan batu struvit 20-55
tahun.
Penelitian yang dilakukan oleh Hardjoeno dkk pada tahun 2002-2004 di RS
dr.Wahidin Sudirohusodo Makasar berdasarkan jenis kelamin proporsi tertinggi adalah
jenis kelamin laki-laki 79,9 % sedangkan wanita 20,1%.Di RSUP Sanglah Denpasar
pada tahun 2007 jumlah pasien rawat inap BSK 113 orang, berdasarkan kelompok umur
proporsi tertinggi adalah kelompok umur 46-60 tahun 39,8%, berdasarkan jenis kelamin
proporsi tertinggi adalah jenis kelamin laki-laki 80,5%, dan berdasarkan jenis batu
proporsi yang tertinggi adalah jenis batu kalsium oksalat 100%, struvite 96,5%, dan
Cystine 66,4% .
Determinan
Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya
BSK pada seseorang. Faktor-faktor tersebut adalah faktor intrinsik, yaitu keadaan yang
berasal dari tubuh seseorang dan faktor ekstrinsik, yaitu pengaruh yang berasal dari
lingkungan disekitarnya.
a. Faktor Intrinsik
Faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam individu sendiri.
Termasuk faktor intrinsik adalah umur, jenis kelamin, keturunan, riwayat
keluarga.
a.1 Umur
Umur terbanyak penderita BSK di negara-negara Barat adalah 20-50
tahun,

sedangkan di Indonesia terdapat pada golongan umur 30-60 tahun.

Penyebab pastinya belum diketahui, kemungkinan disebabkan karena adanya


perbedaan faktor sosial ekonomi, budaya, dan diet. Berdasarkan penelitian
Latvan, dkk (2005) di RS.Sedney Australia, proporsi BSK 69% pada kelompok

12

umur 20-49 tahun. Menurut Basuki (2011), penyakit BSK paling sering
didapatkan pada usia 30-50 tahun.
a.2 Jenis kelamin
Kejadian BSK berbeda antara laki-laki dan wanita. Jumlah pasien lakilaki tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan pasien perempuan. Tingginya
kejadian BSK pada laki-laki disebabkan oleh anatomis saluran kemih pada lakilaki yang lebih panjang dibandingkan perempuan, secara alamiah didalam air
kemih laki-laki kadar kalsium lebih tinggi dibandingkan perempuan, dan pada
air kemih perempuan kadar sitrat (inhibitor) lebih tinggi, laki-laki memiliki
hormon testosterone yang dapat meningkatkan produksi oksalat endogen di hati,
serta adanya hormon estrogen pada perempuan yang mampu mencegah agregasi
garam kalsium. Insiden BSK di Australia pada tahun 2005 pada laki-laki 100300 per 100.000 populasi sedangkan pada perempuan 50-100 per 100.000
populasi.
a.3 Heriditer/ Keturunan
Faktor keturunan dianggap mempunyai peranan dalam terjadinya
penyakit BSK. Walaupun demikian, bagaimana peranan faktor keturunan
tersebut sampai sekarang belum diketahui secara jelas. Berdasarkan penelitian
Latvan, dkk (2005) di RS. Sedney Australia berdasarkan keturunan proporsi
BSK pada laki-laki 16,8% dan pada perempuan 22,7%.
b. Faktor Ekstrinsik
Faktor ekstrinsik adalah faktor yang berasal dari lingkungan luar
individu seperti geografi, iklim, serta gaya hidup seseorang.
b.1 Geografi
Prevalensi BSK banyak diderita oleh masyarakat yang tinggal di daerah
pegunungan. Hal tersebut disebabkan oleh sumber air bersih yang dikonsumsi
oleh masyarakat dimana sumber air bersih tersebut banyak mengandung mineral

13

seperti phospor, kalsium, magnesium, dan sebagainya. Letak geografi


menyebabkan perbedaan insiden BSK di suatu tempat dengan tempat lainnya.
Faktor geografi mewakili salah satu aspek lingkungan dan sosial budaya seperti
kebiasaan makanannya, temperatur, dan kelembaban udara yang dapat menjadi
predoposisi kejadian BSK.
b.2 Faktor Iklim dan Cuaca
Faktor iklim dan cuaca tidak berpengaruh langsung, namun kejadiannya
banyak ditemukan di daerah yang bersuhu tinggi. Temperatur yang tinggi akan
meningkatkan jumlah keringat dan meningkatkan konsentrasi air kemih.
Konsentrasi air kemih yang meningkat dapat menyebabkan pembentukan kristal
air kemih. Pada orang yang mempunyai kadar asam urat tinggi akan lebih
berisiko menderita penyakit BSK.
b.3 Jumlah Air yang di Minum
Dua faktor yang berhubungan dengan kejadian BSK adalah jumlah air
yang diminum dan kandungan mineral yang terdapat dalam air minum tersebut.
Bila jumlah air yang diminum sedikit maka akan meningkatkan konsentrasi air
kemih, sehingga mempermudah pembentukan BSK.
b.4 Diet/Pola makan
Diperkirakan diet sebagai faktor penyebab terbesar terjadinya BSK.
Misalnya saja diet tinggi purine, kebutuhan akan protein dalam tubuh normalnya
adalah 600 mg/kg BB, dan apabila berlebihan maka akan meningkatkan risiko
terbentuknya BSK. Hal tersebut diakibatkan, protein yang tinggi terutama
protein hewani dapat menurunkan kadar sitrat air kemih, akibatnya kadar asam
urat dalam darah akan naik, konsumsi protein hewani yang tinggi juga dapat
meningkatkan kadar kolesterol dan memicu terjadinya hipertensi.
b.5 Jenis Pekerjaan

14

Kejadian BSK lebih banyak terjadi pada orang-orang yang banyak duduk
dalam melakukan pekerjaannya.
b.6 Kebiasaan Menahan Buang Air Kemih
Kebiasaan menahan buang air kemih akan menimbulakan statis air
kemih yang dapat berakibat timbulnya Infeksi Saluran Kemih (ISK). ISK yang
disebabkan oleh kuman pemecah urea dapat menyebabkan terbentuknya jenis
batu struvit.
GEJALA GEJALA BATU SALURAN KEMIH
Manisfestasi klinik adanya batu dalam saluran kemih bergantung pada adanya
obstruksi, infeksi, dan edema. Ketika batu menghambat aliran urine, terjadi obstruksi
yang dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala
ginjal serta ureter proksimal. Infeksi biasanya disertai gejala demam, menggigil, dan
dysuria. Namun, beberapa batu jika ada gejala tetapi hanya sedikit dan secara perlahan
akan merusak unit fungsional (nefron) ginjal, dan gejala lainnya adalah nyeri yang luar
biasa ( kolik).
Gejala klinis yang dapat dirasakan yaitu :
a. Rasa Nyeri
Lokasi nyeri tergantung dari letak batu. Rasa nyeri yang berulang (kolik)
tergantung dari lokasi batu. Bila nyeri mendadak menjadi akut, disertai nyeri tekan
diseluruh area kostovertebratal, tidak jarang disertai mual dan muntah, maka pasien
tersebut sedang mengalami kolik ginjal. Batu yang berada di ureter dapat
menyebabkan nyeri yang luar biasa, akut, dan kolik yang menyebar ke paha dan
genitalia. Pasien sering ingin merasa berkemih, namun hanya sedikit urine yang
keluar, dan biasanya air kemih disertai dengan darah, maka pasien tersebut
mengalami kolik ureter.
b. Demam

15

Demam terjadi karena adanya kuman yang beredar di dalam darah


sehinggamenyebabkan suhu badan meningkat melebihi batas normal. Gejala ini
disertai jantung berdebar, tekanan darah rendah, dan pelebaran pembuluh darah di
kulit.
c. Infeksi
BSK jenis apapun seringkali berhubungan dengan infeksi sekunder akibat
obstruksi dan statis di proksimal dari sumbatan. Infeksi yang terjadi di saluran kemih
karena kuman Proteus spp, Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas, dan
Staphiloccocus.
d. Hematuria dan kristaluria
Terdapatnya sel darah merah bersama dengan air kemih (hematuria) dan air
kemih yang berpasir (kristaluria) dapat membantu diagnosis adanya penyakit BSK.
e. Mual dan muntah
Obstruksi saluran kemih bagian atas (ginjal dan ureter) seringkali menyebabkan
mual dan muntah.

PENATALAKSANAAN MEDIS BATU SALURAN KEMIH


Tujuan dasar penatalaksanaan medis BSK adalah untuk menghilangkan batu,
menentukan jenis batu, mencegah kerusakan nefron, mengendalikan infeksi, dan
mengurangi obstruksi yang terjadi. Batu dapat dikeluarkan dengan cara medikamentosa,
pengobatan medik selektif dengan pemberian obat-obatan, tanpa operasi, dan
pembedahan terbuka
Medikamentosa
Terapi medikamentosa ditujukan untuk batu yang berukuran lebih kecil yaitu
dengan diameter kurang dari 5 mm, karena diharapkan batu dapat keluar tanpa

16

intervensi medis. Dengan cara mempertahankan keenceran urine dan diet makanan
tertentu yang dapat merupakan bahan utama pembentuk batu ( misalnya kalsium) yang
efektif mencegah pembentukan batu atau lebih jauh meningkatkan ukuran batu yang
telah ada. Setiap pasien BSK harus minum paling sedikit 8 gelas air sehari.
Pengobatan Medik Selektif dengan Pemberian Obat-obatan
Analgesia dapat diberikan untuk meredakan nyeri dan mengusahakan agar batu
dapat keluar sendiri secara spontan. Opioid seperti injeksi morfin sulfat yaitu petidin
hidroklorida atau obat anti inflamasi nonsteroid seperti ketorolac dan naproxen dapat
diberikan tergantung pada intensitas nyeri. Propantelin dapatdigunakan untuk mengatasi
spasme ureter. Pemberian antibiotik apabila terdapat infeksi saluran kemih atau pada
pengangkatan batu untuk mencegah infeksi sekunder. Setelah batu dikeluarkan, BSK
dapat dianalisis untuk mengetahui komposisi dan obat tertentu dapat diresepkan untuk
mencegah atau menghambat pembentukan batu berikutnya.

ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy)


Merupakan tindakan non-invasif dan tanpa pembiusan, pada tindakan ini
digunakan gelombang kejut eksternal yang dialirkan melalui tubuh untuk memecah
batu. Alat ESWL adalah pemecah batu yang diperkenalkan pertama kali oleh Caussy
pada tahun 1980. Alat ini dapat memecah batu ginjal, batu ureter proximal, atau menjadi
fragmen-fragmen kecil sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran kemih. ESWL
dapat mengurangi keharusan melakukan prosedur invasif dan terbukti dapat
menurunkan lama rawat inap di rumah sakit.
Endourologi
Tindakan endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk mengeluarkan
BSK yang terdiri atas memecah batu, dan kemudian mengeluarkannya dari saluran
kemih melalui alat yang dimasukan langsung kedalam saluran kemih. Alat tersebut
dimasukan melalui uretra atau melalui insisi kecil pada kulit (perkutan). Beberapa
tindakan endourologi tersebut adalah :

17

a.PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy) adalah usaha mengeluarkan batu


yang berada di dalam saluran ginjal dengan cara memasukan alat endoskopi ke
sistem kalies melalui insisi pada kulit. Batu kemudian dikeluarkan atau dipecah
terlebih dahulu menjadi fragmen-fragmen kecil.
b. Litotripsi adalah memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan memasukan
alat pemecah batu (litotriptor) ke dalam buli-buli.
c.Ureteroskopi

atau

uretero-renoskopi

adalah

dengan

memasukan

alat

ureteroskopi per-uretram. Dengan memakai energi tertentu, batu yang berada di


dalam ureter maupun sistem pelvikalises dapat dipecah melalui tuntunan
ureteroskopi/ureterorenoskopi ini.
d.Ekstrasi Dormia adalah mengeluarkan batu ureter dengan menjaringnya
melalui alat keranjang Dormia.

Tindakan Operasi
Penanganan BSK, biasanya terlebih dahulu diusahakan untuk mengeluarkan
batu secara spontan tanpa pembedahan/operasi. Tindakan bedah dilakukan jika batu
tidak merespon terhadap bentuk penanganan lainnya. Ada beberapa jenis tindakan
pembedahan, nama dari tindakan pembedahan tersebut tergantung dari lokasi dimana
batu berada, yaitu :
a. Nefrolitotomi merupakan operasi terbuka untuk mengambil batu yang berada
di dalam ginjal
b.Ureterolitotomi merupakan operasi terbuka untuk mengambil batu yang berada
di ureter
c. Vesikolitomi merupakan operasi tebuka untuk mengambil batu yang berada di
vesica urinearia
d. Uretrolitotomi merupakan operasi terbuka untuk mengambil batu yang berada
di uretra

18

PENCEGAHAN BATU SALURAN KEMIH


Pencegahan BSK terdiri dari pencegahan primer atau pencegahan tingkat
pertama, pencegahan sekunder atau pencegahan tingkat kedua, dan pencegahan tersier
atau pencegahan tingkat ketiga. Tindakan pencegahan tersebut antara lain:
Pencegahan Primer
Tujuan dari pencegahan primer adalah untuk mencegah agar tidak terjadinya
penyakit BSK dengan cara mengendalikan faktor penyebab dari penyakit BSK.
Sasarannya ditujukan kepada orang-orang yang masih sehat, belum pernah menderita
penyakit BSK. Kegiatan yang dilakukan meliputi promosi kesehatan, pendidikan
kesehatan, dan perlindungan kesehatan. Contohnya adalah untuk menghindari terjadinya
penyakit BSK, dianjurkan untuk minum air putih minimal 2 liter per hari. Konsumsi air
putih dapat meningkatkan aliran kemih dan menurunkan konsentrasi pembentuk batu
dalam air kemih. Serta olahraga yang cukup terutama bagi individu yang pekerjaannya
lebih banyak duduk atau statis.
Pencegahan Sekunder
Tujuan dari pencegahan sekunder adalah untuk menghentikan perkembangan
penyakit agar tidak menyebar dan mencegah terjadinya komplikasi. Sasarannya
ditujukan kepada orang yang telah menderita penyakit BSK. Kegiatan yang dilakukan
dengan diagnosis dan pengobatan sejak dini. Diagnosis Batu Saluran Kemih dapat
dilakukan dengan cara pemeriksaan fisik, laboraturium, dan radiologis.
Hasil pemeriksaan fisik dapat dilihat berdasarkan kelainan fisik pada daerah
organ yang bersangkutan:
a. Keluhan lain selain nyeri kolik adalah takikardia, keringatan, mual, dan
demam (tidak selalu).
b. Pada keadaan akut, paling sering ditemukan kelembutan pada daerahpinggul
(flank tenderness), hal ini disebabkan akibat obstruksi sementara yaitu saat batu
melewati ureter menuju kandung kemih.Urinalisis dilakukan untuk mengetahui
apakah terjadi infeksi yaitu peningkatan jumlah leukosit dalam darah, hematuria
dan bakteriuria, dengan adanya kandungan nitrit dalam urine. Selain itu, nilai pH

19

urine harus diuji karena batu sistin dan asam Universitas Sumatera Utaraurat
dapat terbentuk jika nilai pH kurang dari 6,0, sementara batu fosfat dan struvit
lebih mudah terbentuk pada pH urine lebih dari 7,2.
Diagnosis BSK dapat dilakukan dengan beberapa tindakan radiologis yaitu:
a. Sinar X abdomen
Untuk melihat batu di daerah ginjal, ureter dan kandung kemih. Dimana dapat
menunjukan ukuran, bentuk, posisi batu dan dapat membedakan klasifikasi batu yaitu
dengan densitas tinggi biasanya menunjukan jenis batu kalsium oksalat dan kalsium
fosfat, sedangkan dengan densitas rendah menunjukan jenis batu struvit, sistin dan
campuran. Pemeriksaan ini tidak dapat membedakan batu di dalam ginjal maupun batu
diluar ginjal.
b. Intravenous Pyelogram (IVP)
Pemeriksaan ini bertujuan menilai anatomi dan fungsi ginjal. Jika IVP belum
dapat menjelaskan keadaan sistem saluran kemih akibat adanya penurunan fungsi ginjal,
sebagai penggantinya adalah pemeriksaan pielografi retrograd.
c. Ultrasonografi (USG)
USG dapat menunjukan ukuran, bentuk, posisi batu dan adanya obstruksi.
Pemeriksaan dengan ultrasonografi diperlukan pada wanita hamil dan pasien yang alergi
terhadap kontras radiologi. Keterbatasn pemeriksaan ini adalah kesulitan untuk
menunjukan batu ureter, dan tidak dapat membedakan klasifikasi batu.
d. Computed Tomographic (CT) scan
Pemindaian CT akan menghasilkan gambar yang lebih jelas tentang ukuran dan
lokasi batu.

Pencegahan Tersier

20

Tujuan dari pencegahan tersier adalah untuk mencegah agar tidak terjadi
komplikasi sehingga tidak berkembang ke tahap lanjut yang membutuhkan perawatan
intensif. Sasarannya ditujukan kepada orang yang sudah menderita penyakit BSK agar
penyakitnya tidak bertambah berat. Kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan
rehabilitasi seperti konseling kesehatan agar orang tersebut lebih memahami tentang
cara menjaga fungsi saluran kemih terutama ginjal yang telah rusak akibat dari BSK
sehingga fungsi organ tersebut dapat maksimal kembali dan tidak terjadi kekambuhan
penyakit BSK , dan dapat memberikan kualitas hidup sebaik mungkin sesuai dengan
kemampuannya.

21

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

1. R. Sjamsuhidajat., Wim de Jong. : Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Penerbit


Buku Kedokteran EGC.
2. Reksoprodjo. S, dkk : Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia/Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo.

22