Anda di halaman 1dari 15

1

PENGANTAR ILMU KEPENDUDUKAN


PENDAHULUAN
Sumber Daya Manusia merupakan komponen pembangunan yang penting disamping Sumber Daya Alam dan
Teknologi. Pesatnya pembangunan ekonomi di Jepang dan Eropa Barat yang mengalami kehancuran total pada
Perang Dunia II, terutama disebabkan oleh karena negara-negara tersebut telah memiliki sumber daya manusia
yang memadai dan berkualitas. Sehubungan dengan hal tersebut, sangatlah penting untuk meneliti dan
mengevaluasi sumber daya manusia yang ada di suatu wilayah.
Dalam perencanaan pembangunan, data kependudukan memegang peranan yang penting. Makin lengkap dan
akurat data kependudukan yang tersedia, makin mudah dan tepat rencana pembangunan itu dibuat. Sebagai
contoh, dalam perencanaan pendidikan, diperlukan data mengenai jumlah penduduk dalam usia sekolah, dan
para pekerja dalam bidang kesehatan masyarakat memerlukan informasi tentang tinggi rendahnya angka
kematian dan angka morbiditas penduduk. Dan banyak lagi hal-hal lain dimana data kependudukan sangat
diperlukan dalam perencanaan pembangunan.
Untuk dapat memahami keadaan kependudukan di suatu daerah atau negara maka perlu didalami kajian
Demografi. Di negara-negara yang sedang membangun, data komponen demografi hakiki umumnya tidak
lengkap, dan andaikata ada reabilitasnya pun sangat rendah. Untuk mengatasi kekurangan ini, ahli demografi
membuat perkiraan (estimasi) komponen demografi berdasarkan data hasil Sensus Penduduk atau data
sekunder.

KONSEP DAN DEFINISI DEMOGRAFI


Berdasarkan Multilingual Demographic Dictionary (IUSSP, 1982), definisi demografi adalah studi yang
mempelajari penduduk (suatu wilayah) terutama mengenai jumlah, struktur (komposisi penduduk) dan
perkembangannya (perubahannya).
Philip M. Hauser dan Dudley Duncan (1959) mengusulkan bahwa definisi demografi adalah studi yang
mempelajari jumlah, persebaran, territorial dan komposisi penduduk serta perubahan-perubahannya dan
sebab-sebab perubahan itu, yang biasanya timbul karena natalitas, mortalitas, gerak teritorial (migrasi), dan
mobilitas sosial (perubahan status).
Dapat disimpulkan bahwa demografi mempelajari struktur dan proses penduduk di suatu wilayah. Struktur
penduduk meliputi: jumlah, persebaran, dan komposisi penduduk. Struktur penduduk ini selalu berubah-ubah
dan perubahan tersebut disebabkan karena proses demografi, yaitu: kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas),
dan migrasi penduduk.
Demografi mempelajari aspek kependudukan yang statis dan dinamis. Aspek statis dilihat melalui data hasil
sensus penduduk (cacah jiwa) dan aspek dinamis dilihat dari proses kelahiran, kematian, dan migrasi penduduk
yang terus berubah-ubah setiap waktu. Kedua aspek tersebut seperti dua sisi mata uang yang saling pengaruhmempengaruhi. Sebagai contoh, tingginya tingkat fertilitas di suatu daerah, berpengaruh pada tingginya
persentase penduduk usia muda.

Wawan Ibrahim 2013 2014 . Source at http://sevenmomentum.blogspot.com/

2
Demografi tidaklah mempelajari penduduk sebagai individu, tetapi penduduk sebagai suatu kumpulan
(agregates atau collection). Demografi juga bersifat analitis matematis, yang berarti didasarkan atas analisis
kuantitatif, dan karena sifatnya yang demikian maka demografi sering pula disebut sebagai statistik penduduk.
Demografi murni (pure demography) atau disebut juga demografi formal (formal demography) hanya
mendeskripsikan atau menganalisis variabel-variabel demografi.
Kajian demografi biasanya diampu oleh ahli-ahli ilmu lain terutama ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, ekonomi,
dan biologi (Yaukey, 1990). Namun, demografi memiliki suatu metode tersendiri terutama dalam mengukur
maupun membuat estimasi variabel demografi baik untuk masa lampau, sekarang, dan masa yang akan datang.

STUDI KEPENDUDUKAN
Studi kependudukan (population studies) kajiannya lebih luas daripada kajian demografi murni, karena di dalam
memahami struktur dan proses kependudukan di suatu daerah, faktor-faktor non demografis ikut dilibatkan.
Misalnya dalam memahami trend fertilitas di suatu daerah tidak hanya cukup diketahui trend pasangan usia
subur, tetapi juga faktor sosial budaya yang ada di daerah tersebut.
Yaukey (1990) menggambarkan hubungan yang kompleks di atas dengan memilah antara dua buah lingkaran
(lihat gambar). Variabel demografi terletak pada lingkaran I (kecil) dan variabel non demografi pada lingkaran II
(besar). Apabila variabel pada lingkaran I berasosiasi akan menghasilkan kajian demografi, dan apabila asosiasi
terjadi pada variabel lingkaran I dengan variabel lingkaran II maka akan menghasilkan kajian studi
kependudukan. Misalnya produktifitas angkatan kerja (lingkaran II) akan dipengaruhi oleh besarnya jumlah
angkatan kerja (lingkaran I).
Tanda panah bermata dua berarti hubungan antara variabel-variabel tersebut bersifat timbal-balik. Dengan
adanya hubungan timbal-balik tersebut, maka akan memberikan kebebasan pada pakar-pakar ilmu lain
(terutama ilmu sosial) untuk menganalisis lebih mendalam hubungan antara variabel demografi dengan variabel
non demografi yang pada akhirnya muncullah kajian-kajian demografi sosial (social demography) seperti
demografi ekonomi (economic demography) dan sebagainya (IUSSP, 1982).

Wawan Ibrahim 2013 2014 . Source at http://sevenmomentum.blogspot.com/

SUMBER DATA DEMOGRAFI


Untuk mengetahui jumlah penduduk di suatu negara, dibuatlah suatu sistem pengumpulan data penduduk.
Pada umumnya ada tiga sistem pengumpulan data penduduk, untuk data struktur penduduk dikumpulkan
dengan melaksanakan cacah jiwa atau Sensus Penduduk yang dilaksanakan pada waktu tertentu (biasanya
sepuluh tahun sekali). Untuk data penduduk yang dinamis (proses penduduk) dikumpulkan lewat registrasi
penduduk dan dilaksanakan pada setiap saat. Data khusus mengenai karakteristik penduduk misalnya mobilitas
tenaga kerja yang menuju ke luar negeri diperoleh dengan melaksanakan Survei Penduduk oleh instansi
tertentu. Sistem pengumpulan data ini mula-mula dikembangkan di negara barat kemudian berkembang di
negara lain.
1. SENSUS PENDUDUK
Sensus penduduk sering pula disebut cacah jiwa mungkin mempunyai sejarah setua sejarah peradaban manusia.
Ada tanda-tanda pencacahan penduduk telah dilaksanakan di Babilonia 4000 BC, begitu pula di Mesir 2500 BC
dab di Cina 3000 BC. Pada abad ke-16 dan 17 beberapa sensus penduduk telah dilaksanakan di Italia, Sisilia, dan
Spanyol. Pada masa itu cacah jiwa dilaksanakan untuk tujuan militer, pemungutan pajak, dan perluasan wilayah.
Sensus Penduduk dalam arti modern telah dilaksanakan di Quebec pada tahun 1666, dan di Swedia pada tahun
1749 (Pollard, et al.1974). Di Amerika Serikat, sensus penduduk mulai dilaksanakan pada tahun 1790, dan di
Inggris pada tahun 1801. Pelaksanaan sensus penduduk di Inggris diikuti oleh negeri-negeri jajahannya. Di
Indonesia, Raffles pada masa pemerintahannya yang singkat pada tahun 1815 melakukan perhitungan jumlah
penduduk di Jawa dan di India dilaksanakan pada tahun 1881 (Said Rusli, 1963). Hingga permulaan abad ke-20,
sekitar 20% dari penduduk dunia telah dihitung melalui Sensus Penduduk (Mantra, 1985).
Dalam pelaksanaannya, sensus penduduk memiliki ciri khas diantaranya:
1. Bersifat individual, informasi demografi dan sosila ekonomi yang dikumpulkan bersumber dari individu
baik sebagai anggota rumah tangga maupun sebagai anggota masyarakat.
2. Bersifat universal, pencacahan bersifat menyeluruh.
3. Pencacahan diselenggarakan serentak di seluruh negara.
4. Sensus penduduk dilaksanakan secara periodik, yaitu pada tahun-tahun yang berakhiran angka kosong
(0).
Penduduk yang dicacah meliputi penduduk de jure (penduduk yang berdomisili di daerah tersebut) dan
penduduk de facto, penduduk yang bertempat tinggal di suatu wilayah pada jangka waktu tertentu tetapi tidak
termasuk penduduk resmi bagi wilayah yang bersangkutan.
Topik-topik minimal yang ditanyakan pada saat sensus penduduk, diantaranya:
1. Geografi dan Migrasi Penduduk. Tempat tinggal tetap atau tempat tinggal saat pencacahan. Termasuk
diantaranya adalah tempat lahir, lama tinggal di daerah seberang, dan tempat tinggal beberapa tahun
yang lalu.
2. Rumah tangga. Hubungan masing-masing anggota keluarga dengan kepala rumah tangga.
3. Karakteristik Sosial dan Demografi. Diantaranya adalah jenis kelamin, umur, status perkawinan,
kewarganegaraan, agama, bahasa, suku (etnis) atau kebangsaan.
4. Fertilitas dan Mortalitas. Diantaranya adalah anak yang lahir hidup, anak masih hidup, umur waktu
kawin, lama kawin, jumlah anak lahir hidup 12 bulan sebelum hari sensus, jumlah bayi yang meninggal
12 bulan sebelum hari sensus, dan yatim karena kematian ibu.
5. Karakteristik Pendidikan. Diantaranya adalah tingkat pendidikan, melek huruf, school attendance, dan
educational qualifications.
6. Karakteristik Ekonomi. Diantaranya adalah aktivitas ekonomi, kedudukan dalam aktivitas, industri,
status pekerja, jam kerja, pendapatan, dan aktivitas menurut sektor.
Wawan Ibrahim 2013 2014 . Source at http://sevenmomentum.blogspot.com/

Walaupun pengumpulan data dalam sensus penduduk dilaksanakan secara aktif oleh petugas, namun masih
juga terdapat kesalahan. Yaukey (1990) mengelompokkan kesalahan itu menjadi tiga, yaitu: kesalahan cakupan
(error of coverage), kesalahan isi pelaporan (error of content), dan kesalahan ketepatan laporan (estimating
error).
Kesalahan cakupan adalah kesalahan dimana tidak seluruh penduduk tercacah, dan bagi yang tercacah
ada sebagian dari mereka tercacah dua kali.
Kesalahan isi pelaporan, meliputi kesalahan pelaporan dari responden, misalnya kesalahan pelaporan
tentang umur.
Kesalahan ketepatan pelaporan dapat terjadi karena kesalahan petugas sensus atau kesalahan
responden sendiri. Misalnya responden adalah wanita berumur 15 tahun tetapi jumlah anak yang
dilahirkan sepuluh orang.
Sejak proklamasi kemerdekaan hingga hingga tahun 2000 di Indonesia telah lima kali dilaksanakan sensus
penduduk yaitu tahunn 1961, 1971, 1980, 1990, dan tahun 2000. Sensus penduduk yang dilaksanakan tahun
1961 menggunakan dua pencacahan, yang pertama pendaftaran rumah tangga yang dilaksanakan tanggal 31
Maret 1961 disusul oleh pencacahan lengkap yang dilaksanakan tanggal 31 Oktober 1961. Tanggal 31 Oktober
di Indonesia ditetapkan sebagai Hari Sensus. Pelaksanaan Sensus Penduduk tahun 2000 dilaksanakan tanggal
30 Juni 2000. Begitu pula untuk sensus selanjutnya dimana hari H adalah tanggal 30 Juni.
Konsep atau definisi Sensus Penduduk yang dipergunakan yaitu penduduk yang dicacah, blok sensus, klasifikasi
daerah perkotaan / pedesaan, bangunan, rumah tangga, dan anggota rumah tangga.
2. REGISTRASI PENDUDUK
Komponen penduduk yang dinamis seperti kelahiran, kematian, mobilitas penduduk, perkawinan perceraian,
perubahan pekerjaan, yang dapat terjadi setiap saat tidak dapat terjaring di dalam sensus penduduk. Untuk
menjaring data ini maka diadakan cara pengumpulan data baru yang disebut dengan Registrasi Penduduk.
Registrasi Penduduk ini dilaksanakan oleh Kantor Pemerintahan Dalam Negeri.
Registrasi penduduk mulai dilaksanakan di beberapa negara di dunia pada abad ke-16. Pencatatan ini terutama
dilaksanakan oleh gereja-gereja Kristen di Inggris, dan negara-negara lain di Eropa. Penerbitan data registrasi
yang teratur dimulai di Inggris pada tahun 1839 di bawah pimpinan Dr. William Far (Syryock et al, 1971). Di luar
Eropa, registrasi penduduk dilaksanakan di Cina dan merambat ke Jepang pada abad ke-17. Sistem registrasi
penduduk ini akhirnya menjalar juga ke negara-negara Asia dan Afrika, diperkenalkan oleh negara-negara yang
menjajah.
Sistem registrasi penduduk di Indonesia telah dimulai pada tahun 1815 oleh Raffles. Setelah Inggris
meninggalkan Indonesia, Belanda meneruskan pelaksanaan registrasi tersebut tapi tidak maksimal. Setelah
tahun 1950, pemerintah Belanda mulai memberikan perhatian lebih baik terhadap sistem registrasi penduduk.
Mulai tahun 1880 pemerintah kolonial Belanda melakukan pencatatan dan pelaporan penduduk dengan sistem
kartu mingguan yang hasilnya masih belum baik (Gardiner, 1981).
Pada masa pendudukan Jepang, sistem registrasi penduduk menggunakan sistem registrasi vital, yaitu registrasi
yang menyangkut kelahiran, kematian, kematian janin, abortus, perkawinan, dan perceraian (Said Rusli, 1983).
Setelah Indonesia merdeka, sistem registrasi penduduk diteruskan lagi. Sistem kartu mingguan yang dulu
diterapkan diubah menjadi laporan mingguan tingkat kecamatan. Tiap minggu kepala-kepala desa berkumpul
di kantor kecamatan menyerahkan data mengenai perubahan-perubahan penduduk yang ada selama seminggu
di desanya (Gardiner, 1981). Pencatatan peristiwa-peristiwa vital di Indonesia tidak dilaksanakan oleh satu
Kementrian, tetapi oleh beberapa Kementrian tergantung dari jenis datanya.
Wawan Ibrahim 2013 2014 . Source at http://sevenmomentum.blogspot.com/

Hingga kini data hasil registrasi masih mempunyai kelemahan-kelemahan (tidak lengkap dan reliabilitasnya
rendah). Hal ini karena kurangnya pengetahuan penduduk tentang manfaat data tersebut. Banyak dari para
pamong yang ditugaskan untuk mencatat data statistik tersebut belum mengerti maksud dan kegunaan data
registrasi penduduk.
3. SURVEY PENDUDUK
Hasil sensus penduduk dan registrasi penduduk mempunyai keterbatasan. Sistem tersebut hanya menyediakan
data statistik kependudukan, dan kurang memberikan informasi tentang sifat dan perilaku penduduk setempat.
Untuk mengatasi keterbatasan ini, perlu dilaksanakan survey penduduk yang sifatnya lebih terbatas dan
informasi yang dikumpulkan lebih luas dan mendalam. Biasanya survey penduduk ini dilaksanakan dengan
sistem sampel atau dalam bentuk studi kasus.

KOMPOSISI PENDUDUK
ANALISIS DATA
Data penduduk yang didapatkan dari hasil sensus penduduk, registrasi maupun survey, susunannya masih
belum teratur sehingga sulit untuk dibaca, apalagi diinterpretasi. Menyederhanakan data ke dalam bentuk yang
mudah dibaca dan diinterpretasi disebut menganalisa data (Sofian Effendi et al, 1983). Dalam proses ini
seringkali digunakan statistik yang memang berfungsi untuk menyederhanakan data.
DATA

DIPROSES (DIANALISIS)

INFORMASI

Komposisi penduduk adalah pengelompokan penduduk atas variabel-variabel tertentu. Bermacam-macam


komposisi penduduk dapat dibuat, misalnya komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin, status
perkawinan, tingkat pendidikan, lapangan pekerjaan, bahasa dan agama.
TABEL FREKUENSI
Setelah daftar pertanyaan diisi, langkah selanjutnya ialah membuat tabel frekuensi tunggal misalnya komposisi
penduduk menurut agama yang dianut.

Penduduk Indonesia Menurut Agama yang Dianut


Tahun 1990 (x 1000)
Agama
Islam
Katholik
Kristen
Hindu
Budha
Lainnya
Jumlah

Jumlah
156.318,6
6.411,8
10.820,8
3.287,3
1.840,7
568,6
179.247,8

Persen
87,21
3,58
6,04
1,83
1,02
0,32
100,0

Sumber: BPS 1993

Wawan Ibrahim 2013 2014 . Source at http://sevenmomentum.blogspot.com/

6
Komposisi penduduk yang sering digunakan untuk analisis dan perencanaan pembangunan adalah komposisi
penduduk menurut umur dan jenis kelamin yang biasanya dijadikan satu dalam suatu tabel. Penduduk yang
termasuk kelompok umur 5-9 tahun misalnya adalah semua penduduk yang telah merayakan ulang tahunnya
yang kelima, tetapi belum merayakan ulang tahunnya yang kesepuluh.
Kelompok
Umur (tahun)
0-4
5-9
10-14
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
55-59
60-64
65+
Jumlah

Laki-laki
306
357
415
515
529
483
412
346
274
234
194
165
177
172
4.578

Jenis Kelamin
%
Perempuan
6,7
288
7,8
362
9,1
385
11,2
439
11,6
416
10,6
374
9,0
386
7,5
279
6,0
258
5,1
229
4,2
190
3,6
176
3,9
172
3,7
181
100,0
4.135

%
7,0
8,8
9,3
0,6
0,1
9,0
9,3
6,7
6,2
5,5
4,6
4,3
4,2
4,4
100,0

Struktur umur penduduk antara negara satu dengan yang lainnya tidak sama. Struktur umur penduduk
dipengaruhi oleh tiga variabel demografi, yaitu kelahiran, kematian dan migrasi.
Suatu negara dikatakan berstruktur umur muda, apabila kelompok penduduk yang berumur di bawah 15 tahun
jumlahnya lebih dari 40%, sedangkan jumlah kelompok penduduk usia 65 tahun kurang dari 10%. Umumnya
negara-negara yang sedang berkembang seperti Burma, India dan Indonesia, struktur penduduknya muda.
Sebaliknya negara-negara maju seperti Jepang, Jerman dan Amerika Serikat mempunyai struktur penduduk tua.
Perbadaan struktur umur akan menimbulkan pula perbedaan dalam aspek sosial-ekonomi seperti masalah
angkatan kerja, pertumbuhan penduduk, dan masalah pendidikan.
PIRAMIDA PENDUDUK
Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin dapat digambarkan secara visual pada sebuah grafik yang
disebut Piramida Penduduk.
Sering pada tabel komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin terdapat kelompok penduduk yang
tidak diketahui umurnya dan kelompok ini tidak dapat dimasukkan pada kelompok umur tertentu dan di dalam
tabel disebut dengan kelompok not stated (NS), sudah tentu penduduk NS ini tidak dapat digambarkan dalam
piramida penduduk. Jika penduduk dalam kategori ini sedikit, maka kelompok penduduk ini dapat disebarkan
ke kelompok-kelompok umur yang lain dengan menggunakan teknik pro-rating.
Teknik pro-rating dapat dilakukan dengan 2 cara:
1. Mengalikan masing-masing kelompok penduduk menurut umur dengan faktor pengali k yang dapat dicari
dengan rumus:
Jumlah seluruh penduduk
k=
Jumlah seluruh penduduk - NS
2. Jumlah penduduk kelompok umur tertentu ditambah dengan hasil perkalian proporsi penduduk kelompok
umur di atas dengan jumlah seluruh penduduk, kemudian dikali jumlah penduduk NS.

Wawan Ibrahim 2013 2014 . Source at http://sevenmomentum.blogspot.com/

7
Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Wilayah Tertentu
Pada Tahun Tertentu, Sebelum dan Sesudah Dilaksanakan Pro-rating (x1000)
Umur
0-4
5-9
10-14
15-19
25-34
35-44
45-54
55-64
65-74
75+
Tak terjawab (NS)
Jumlah

Sebelum Pro-rating
8.462
7.684
4.319
3.834
7.334
5.720
3.559
1.898
796
376
60
44.042

Sesudah Pro-rating
8.473
7.694
4.324
3.843
7.343
5.727
3.563
1.900
797
378
44.042

Catatan: Sebagai ilustrasi diambil kelompok umur 10-14 tahun dipro-rating dengan 2 cara:
Cara 1:

a. k = 44.042.000 : (44.042.000 - 60) = 1,00136419


b. Jumlah penduduk umur 10-14 tahun sebelum pro-rating = 4.319.000
Setelah pro-rating = 4.319.000 x 1,00136419 = 3.324.000

Cara 2:

Setelah pro-rating = 4.319.000 + (4.319.000 : 44.042.000) x 60 = 4.324.000

Berdasarkan komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin, karakteristik penduduk suatu negara dapat
dibedakan menjadi 3 kelompok:
1. Ekspansif, jika sebagian besar penduduk berada pada kelompok umur muda. Tipe ini umumnya terdapat
pada negara-negara yang mempunyai angka kelahiran dan angka kematian tinggi. Negara-negara yang
termasuk tipe ini diantaranya Indonesia, Malaysia, Philipina, India, dan Costa Rica.
2. Konstruktif, jika penduduk yang berada dalam kelompok termuda jumlahnya sedikit. Tipe ini terdapat pada
negara-negara dimana tingkat kelahiran turun dengan cepat, dan tingkat kematiannya rendah. Contohnya
Jepang dan Swedia.
3. Stasioner, jika banyaknya penduduk dalam tiap kelompok umur hampir sama. Terdapat pada negara-negara
yang memiliki tingkat kelahiran dan tingkat kematian rendah, contohnya terdapat pada negara-negara
Eropa Barat misalnya Jerman.

Wawan Ibrahim 2013 2014 . Source at http://sevenmomentum.blogspot.com/

PERKEMBANGAN PENDUDUK DUNIA TRANSISI VITAL DAN


TRANSISI MOBILITAS PENDUDUK
Hingga kini sebenarnya belum ada informasi tentang perkembangan penduduk dunia yang bisa dipercaya,
terutama mengenai gambaran demografi pada abad-abad permulaan kehidupan manusia. Beberapa ahli
membuat estimasi tentang jumlah penduduk dan perkembangan penduduk dunia pada waktu yang lampau.
Perkembangan penduduk dunia sengat erat kaitannya dengan perkembangan peradaban manusia dalam
berinteraksi dengan alam sekitarnya. Hingga kini ada 3 tahap perkembangan peradaban manusia:
Pertama, jaman ketika manusia mulai menggunakan alat-alat untuk menanggulangi kehidupannya.
Kedua, jaman ketika manusia mulai mengembangkan usaha pertanian menetap.
Ketiga, jaman mulainya era industrialisasi, yaitu sekitar pertengahan abad ke-17 sesudah Masehi.
Perkiraan Pertumbuhan Penduduk Dunia Hingga Tahun1960

Tahun

Perkiraan Jumlah
Penduduk

Rata-rata Pertumbuhan
Penduduk dari Tahun
Yang Mendahuluinya

10.000.000 B.C.
5.000 B.C.
0
1.300
1.650
1.700
1.750
1.800
1.850
1.900
1.950
1.960

100 ribu -10 juta


5 juta -10 juta
200 juta
400 juta
500 juta
600 juta
700 juta
900 juta
1.200 juta
1.600 juta
2.400 juta
2.800 juta

Lebih rendah dari 0,05


Idem
Idem
Idem
0,1
0,2
0,3
0,4
0,5
0,6
0,8
1,7

Jumlah Tahun Penduduk


Berlipat Dua dari Jumlah
Penduduk Tahun Yang
Mendahuluinya
Sangat lama sekali
Idem
Idem
Idem
1.000
300
230
180
140
120
90
40

Sumber: Tomlinson (1965)

Sejalan dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi dalam mengolah
sumber daya alam, tingkat kehidupan manusia menjadi semakin baik.
TRANSISI VITAL
Transisi vital adalah perubahan-perubahan tingkat kelairan dan tingkat kematian dimulai dari tingkat kelahiran
dan kematian yang tinggi, berangsur-angsur berubah menjadi tingkat kelahiran dan kematian yang rendah, dan
tingkat kematian menurun lebih cepat dibandingkan dengan tingkat kelahiran.
Menurut Bogue (1969) transisi vital dibagi menjadi 3 tahap:
1. Pra-transisi (pre-transitional), dari A hingga B, dengan ciri-ciri tingkat kelahiran dan tingkat kematian
yang sama-sama tinggi. Angka pertumbuhan penduduk alami sangat rendah (bahkan mendekati nol).
Di Eropa masa ini terjadi sebelum tahun 1650 dan menyebabkan penduduk dunia stabil.
2. Transisi (transitional), dari B ke E dicirikan dengan penurunan tingkat kelahiran dan kematian,
mengakibatkan tingkat pertumbuhan panduduk alami sedang atau tinggi. Fase transisi ini dibagi lagi
menjadi 3 bagian:
a. Permulaan Transisi (early transitional), dari B ke C dicirikan dengan tingkat kematian menurun,
tetapi tingkat kelahiran tetap tinggi, bahkan ada kemungkinan meningkat karena perbaikan
kesehatan.
Wawan Ibrahim 2013 2014 . Source at http://sevenmomentum.blogspot.com/

9
b. Pertengahan Transisi (mid-transitional), dari C ke D dimana tingkat kelahiran dan kematian keduaduanya menurun, tetapi tingkat kematian menurun lebih cepat dari tingkat kelahiran.
c. Akhir Transisi (post-transitional), dari D ke E dimana tingkat kematian rendah dan tidak berubah
atau menurun hanya sedikit, dan angka kelahiran antara sedang dan rendah, dan berfluktuasi atau
menurun. Pengetahuan tentang kontrasepsi meluas.
3. Pasca Transisi (post-transitional), dari ke F yang dicirikan oleh tingkat kematian dan tingkat kelahiran
kedua-duanya rendah; hampir semuanya mengetahui cara-cara kontrasepsi dan dipraktekkan. Tingkat
kelahiran dan tingkat kematian (vital rates) mendekati kesimbangan. Pertumbuhan penduduk alami
amat rendah dalam jangka waktu yang panjang.
Indonesia diperkirakan akan mengakhiri proses transisi vital pada tahun 2005 dengan nilai-nilai:
a. Angka harapan hidup waktu lahir (eo) lebih dari 65 tahun.
b. Fertilitas Total (Total Fertility Rate = TFR) mendekati 2.
c. Tingkat replacement Net Reproduction Rate (NRR) = 1. (Suriastini, 1995)
Menurut Suriastini (1995) perbedaan secara regional dalam angka kematian dan kelahiran menyebabkan tidak
semua propinsi akan menyelesaikan proses transisinya pada tahun 2005, seperti yang akan dicapai pada tingkat
nasional. Perbedaan angka fertilitas antar propinsi di Indonesia tampak cukup berarti. Terjadinya perbedaan ini
bukan hanya disebabkan oleh adanya perbedaan keadaan sosial ekonomi dan budaya, juga karena adanya
perbedaan waktu pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB).
TRANSISI MOBILITAS PENDUDUK
Zelinsky (1971) dalam menyusun hipotesis transisi mobilitas penduduk mengasumsikan adanya hubungan
antara tahapan pembangunan ekonomi dengan pola mobilitas penduduk. Dikemukakannya bahwa
pertumbuhan mobilitas penduduk adalah bagian dari proses modernisasi. Dlam kaitan ini ia membedakan
masyarakat menjadi 2 tipe, yaitu masyarakat pra modern dan modern. Berdasarkan perkembangan peralihan
dari masyarakat pra modern menuju masyarakat modern amat jelas pola-pola mobilitas penduduk membentuk
suatu keteraturan dalam waktu tertentu.

TEORI KEPENDUDUKAN
1. ALIRAN MALTHUSIAN DAN NEO-MALTHUSIAN
Aliran Malthusian
Aliran ini dipelopori oleh seorang pendeta Inggris bernama Thomas Robert Malthus (1766-1834). Dia
menyatakan bahwa penduduk (seperti juga tumbuhan dan binatang) apabila tidak ada pembatasan, akan
berkembang biak dengan cepat dan memenuhi beberapa bagian dari permukaan bumi (Weeks, 1992). Tingginya
pertumbuhan penduduk ini disebabkan karena hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan tidak bisa
dihentikan. Malthus juga berpendapat bahwa manusia untuk hidup memerlukan bahan makanan, sedangkan
laju pertumbuhan bahan makanan jauh lebih lambat dibandingkan dengan laju petumbuhan penduduk. Apabila
tidak diadakan pembbatasan terhadap pertumbuhan penduduk, maka manusia akan mengalami kekurangan
bahan makanan. Inilah sumber dari kemelaratan dan kemiskinan manusia.
Pembatasan Pertumbuhan Penduduk
Preventive Checks
(lewat penekanan kelahiran)
Vice
Moral Restraint
(usaha pengurangan
(pengekangan diri)
kelahiran)

Positive Checks
(lewat proses kematian)
Vice
Misery
(segala jenis pencabutan
(keadaan yang
nyawa)
menyebabkan kematian)

Wawan Ibrahim 2013 2014 . Source at http://sevenmomentum.blogspot.com/

10
Segala usaha mengekang
nafsu seksual
Penundaan perkawinan

Pengguguran
kandungan
Homoseksual
Promiscuity
Adultery
Penggunaan alat-alat
kontrasepsi

Pembunuhan anak-anak
Pembunuhan orangorang cacat
Pembunuhan orangorang tua

Epidemi
Bencana alam
Peperangan
Kelaparan
Kekurangan pangan

Aliran Neo-Malthusian
Kelompok ini dipelopori oleh Garret Hardin dan Paul Ehrlich. Kelompok ini tidak sependapat dengan Malthus
bahwa mengurangi jumlah penduduk cukup dengan moral restraint saja. Untuk keluar dari perangkap Malthus,
mereka menganjurkan menggunakan semua cara-cara preventive checks, misalnya dengan penggunaan alatalat kontrasepsi untuk mengurangi jumlah kelahiran dan pengguguran kandungan (abortions).
2. ALIRAN MARXIST
Aliran ini dipelopori oleh Karl Mark dan Frederich Engels. Menurut Mark tekanan penduduk yang terdapat di
suatu negara bukanlah tekanan penduduk terhadap bahan makanan, tetapi tekanan penduduk terhhadap
kesempatan kerja. Kemelaratan terjadi bukan karena disebabkan pertumbuhan penduduk yang terlalu cepat,
tetapi kesalahan masyarakat itu sendiri seperti yang terjadi pada negara-negara kapitalis. Kaum kapitalis
membeli mesin-mesin untuk menggantikan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh buruh.
3. TEORI KEPENDUDUKAN MUTAKHIR
Kelompok Teori Fisiologi dan Sosial Ekonomi
John Stuart Mill. Seorang ahli filsafat dan ahli ekonomi berkebangsaan Inggris yang dapat menerima pendapat
Malthus mengenai laju pertumbuhan penduduk melampaui laju pertumbuhan bahan makanan sebagai suatu
aksioma. Namun dia juga berpendapat bahwa pada situasi tertentu manusia dapat mempengaruhi perilaku
demografinya. Dikatakannya bahwa produktivitas seseorang yang tinggi cenderung ingin memiliki keluarga yang
kecil. Dalam situasi ini fertilitas akan rendah. Jadi taraf hidup merupakan determinan fertilitas.
Arsene Dumont. Seorang ahli demografi bangsa Perancis yang hidup pada akhir abad-19. Ia menyatakan teori
penduduk baru yang disebut teori kapilaritas sosial. Kapilaritas sosial mengacu pada keinginan seseorang untuk
mencapai kedudukan yang tinggi di dalam masyarakat. Sebagai contoh seorang ayah yang selalu mengharapkan
dan berusaha agar anaknya memperoleh kedudukan yang tinggi melebihi apa yang telah dicapainya sendiri.
Untuk mencapai kedudukan yang tinggi dalam masyarakat, keluarga yang besar merupakan beban yang berat
dan perintang. Konsep ini dibuat berdasarkan atas analogi bahwa cairan akan naik pada sebuah pipa kapiler.
Emile Durkheim. Seorang ahli sosiologi Perancis yang hidup pada akhir abad ke-19. Ia menekankan perhatiannya
pada keadaan akibat dari adanya pertumbuhan penduduk yang tinggi (Weeks, 1992). Pada suatu wilayah
dimana angka kepadatan penduduknya tinggi akibat dari tingginya laju pertumbuhan penduduk, akan timbul
persaingan diantara penduduk untuk dapat mempertahankan hidup. Dalam usaha memenangkan persaingan
tiap-tiap orang berusaha untuk meningkatkan pendidikan dan keterampilan, dan mengambil spesialisasi
tertentu. Keadaan seperti ini terlihat jelas pada masyrakat perkotaan dengan kehidupan yang kompleks.
Michael Thomas Sadler. Daya reproduksi manusia dibatasi oleh jumlah penduduk yang ada di suatu Negara
atau wilayah. Jika kepadatan penduduk tinggi, daya reproduksi manusia akan menurun, sebaliknya jika
kepadatan penduduk rendah, daya reproduksi manusia akan meningkat.
Doubleday. Daya reproduksi penduduk berbanding terbalik dengan bahan makanan yang tersedia. Jadi
kenaikan kemakmuran menyebabkan turunnya reproduksi manusia. Jika suatu makhluk diancam bahaya,

Wawan Ibrahim 2013 2014 . Source at http://sevenmomentum.blogspot.com/

11
mereka akan mempertahankan diri dengan segala yang mereka miliki. Mereka akan mengimbanginya dengan
daya reproduksi yang lebih besar (Iskandar, 1980).
Kelompok Teori Teknologi yang Optimis
Mereka beranggapan bahwa manusia dengan ilmu pengetahuannya mampu melipatgandakan produksi
pertanian. Mereka mampu mengubah kembali (recycling) barang-barang yang sudah habis dipakai, sampai
akhirnya dunia ketiga mengakhiri masa transisi demografinya.
Kelompok Malthus dan kelompok teknologi mendapat kritik dari kelompok ekonomi, karena kedua-duanya
tidak memperhatikan masalah-masalah organisasi sosial dimana distribusi pendapatan tidak merata.

BEBERAPA UKURAN KOMPONEN DEMOGRAFI


Pada dasarnya ukuran-ukuran yang digunakan dalam demografi sama dengan ukuran-ukuran yang digunakan
pada ilmu yang lain, yaitu ukuran absolut dan ukuran relatif. Pengukuran struktur demografi yang datanya
berasal dari sensus penduduk atau data sekunder berbeda dengan pengukuran proses demografi yang dapat
terjadi pada setiap saat misalnya kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas) dan mobilitas penduduk.
PENGUKURAN STRUKTUR DEMOGRAFI
Bilangan Absolut
Pada awalnya data demografi disajikan dalam bentuk bilangan atau jumlah absolut. Dari bilangan absolut ini
kemudian dikembangkan menjadi bilangan relatif, dengan maksud agar lebih mudah untuk mengadakan analisis
dan ukuran satu dengan yang lain dapat diperbandingkan.
Bilangan Relatif
Beberapa pengukuran dengan bilangan relatif adalah sebagai berikut:
1. Proporsi

= +

atau

= +

2. Persentase

. =

x 100

atau

. =

x 100

3. Perbandingan
. =

4. Rasio (Ratio)
Rasio adalah perbandingan dua perangkat yang dinyatakan dalam suatu ukuran tertentu. Dalam
pengerjaannya, rasio (ratio) adalah perbandingan dikalikan 100. Ukuran rasio ini sangat sering dipergunakan
Berikut ini beberapa pengukuran rasio yang sering ditampilkan:
a. Rasio Jenis Kelamin (Sex Ratio = SR)
=

xk

xk

b. Rasio Jenis Keamin Menurut Umur


c. Rasio Menurut Jenis Kelamin Kelahiran (Sex Ratio at Birth = SRB)
=

x k

d. Rasio Anak Perempuan (Child Women Ratio = CWR)


Wawan Ibrahim 2013 2014 . Source at http://sevenmomentum.blogspot.com/

12
=

()
)

x k

e. Rasio Beban Tanggungan (Dependency Ratio = DR)


=

() + (+)
()

x k

f. Kepadatan Penduduk (Man Land Ratio = MLR)


( /)

Kepadatan penduduk di suatu wilayah dapat dibagi menjadi 4 bagian:


(1) Kepadatan Penduduk Kasar (Crude Density of Population = CDP) atau sering disebut juga sebagai
Kepadatan Penduduk Aritmatika, yaitu banyaknya penduduk per satuan luas.
(2) Kepadatan Penduduk Fisiologis (Physiological Density = PD), yaitu jumlah penduduk tiap kilometer
persegi tanah pertanian.

(3) Kepadatan Penduduk Agraris (Agricultural Density = AD), yaitu jumlah penduduk petani tiap-tiap km2
tanah pertanian.

(4) Kepadatan Penduduk Ekonomi (Economical Density of Population = EDP), yaitu besarnya jumlah
penduduk pada suatu wilayah didasarkan atas kemampuan wilayah bersangkutan.

x 100

g. Tekanan Penduduk Terhadap Lahan Pertanian


(1) Tekanan Penduduk Model I menganggap penduduk hanya hidup dari lahan pertanian yang
digarapnya.

. (+)

(2) Tekanan Penduduk Model II merupakan pengembangan model I dengan menambahkan pendapatan
penduduk dari sektor pertanian, ini berarti bahwa makin besar pendapatan penduduk dari sektor
non pertanian, tekanan penduduk pada lahan pertanian berkurang.

= (1- ) .

. (+)

(3) Tekanan Penduduk Model III menambahkan nilai manfaat lahan untuk petani penggarap. Makin tinggi
produktifitas lahan, makin banyak pendapatan petani penggarap, dan makin besar pendapatan yang
bekerja di luar sektor pertanian, makin rendah tekanan penduduk terhadap lahan pertanian.

= (1- ) .

. (+)
.

(Otto Sumarwoto, 1985)


PENGUKURAN PROSES DEMOGRAFI
Pengukuran proses demografi menggunakan tingkat (rate) atau angka.
Wawan Ibrahim 2013 2014 . Source at http://sevenmomentum.blogspot.com/

13
. =



( )

x 1000

Perhitungan jumlah tahun kahidupan dengan cara di atas untuk penduduk yang jumlahnya besar, memakan
waktu yang lama. Untuk keperluan ini dipergunakan perkiraan (an aproximation). Diasumsikan bahwa jumlah
kelahiran, kematian, migrasi masuk dan migrasi keluar, tersebar merata pada periode tahun yang dihitung, maka
jumlah kumulatif tahun kehidupan besarnya tidak jauh berbeda dengan jumlah penduduk pertengahan tahun
Pm (30 Juni).

atau

= +

[ + ]
[ ]

PERTUMBUHAN PENDUDUK
Pertumbuhan penduduk di suatu wilayah dipengaruhi oleh besarnya kelahiran (Birth = B), kematian (Death = D),
migrasi masuk (In Migration = IM) dan migrasi keluar (Out Migration = OM).
1. Persamaan Berimbang
Metode yang amat sederhana untuk menghitung perubahan penduduk dari tahun ke tahun.
= + (B D) + (IM OM)
2. Laju Pertumbuhan Penduduk Geometris (LPPG) (Geometric Growth)
Merupakan tingkat pertumbuhan penduduk yang bertahap (decreate), yaitu dengan memperhitungkan
pertumbuhan penduduk hanya pada akhir tahun dari suatu periode.

= ( + )
3. Laju Pertumbuhan Penduduk Eksponensial (LPPE) (Exponential Growth)
Merupakan pertumbuhan penduduk yang berlangsung terus-menerus (continuous).

= .

4. Laju Pertumbuhan Penduduk di Daerah Perkotaan


Untuk wilayah perkotaan laju pertumbuhan penduduk dipengaruhi oleh faktor reklasifikasi. Reklasifikasi
adalah perubahan suatu wilayah dari pedesaan ke perkotaan. Disamping itu, ada beberapa kota-kota di
Indonesia seperti Surabaya dan Padang, melaksanakan perluasan wilayah yang menyebabkan terjadinya
pertambahan jumlah penduduk.

KEMATIAN (MORTALITAS)
Yang dimaksud dengan mati ialah peristiwa hilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen, yang
bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup (Budi Utomo, 1985). Artinya, mati tidak akan pernah ada jika
tidak ada kehidupan. Sedangkan hidup selalu dimulai dengan lahir hidup (live birth).
Disamping itu juga dikenal morbiditas yang diartikan sebagai penyakit atau kesakitan. Penyakit dan kesakitan
dapat menimpa manusia lebih dari satu kali dan selanjutnya rangkaian morbiditas ini (morbiditas kumulatif)
pada akhirnya menghasilkan peristiwa yang disebut kematian. Penyakit atau kesakitan adalah penyimpangan
dari keadaan yang normal, yang biasanya dibatasi pada kesehatan fisik dan mental (Budi Utomo, 1985).
SUMBER DATA MORTALITAS PENDUDUK

Wawan Ibrahim 2013 2014 . Source at http://sevenmomentum.blogspot.com/

14
Di Indonesia, sumber datanya adalah registrasi penduduk. Cara pengumpulannya prospektif, yaitu pencatatan
yang kontinyu terhadap tiap-tiap peristiwa kematian. Namun, hasil registrasi penduduk masih jauh dari
memuaskan, namun bila dibandingkan dengan pencatatan kelahiran, pencatatan kematian lebih lengkap.
PENGUKUHAN DATA KEMATIAN PENDUDUK
1. Tingkat Kematian Kasar (Crude Death Rate = CDR)
Banyaknya kematian pada tahun tertentu, tiap 1000 penduduk pada pertengahan tahun.

CDR =

x k

2. Tingakat Kematian Menurut Umur dan Jenis Kelamin (Age Specific Death Rate = ASDR)

x 1000

3. Tingkat Kematian Bayi (Infant Mortality Rate atau IMR)


IMR =

x k

4. Tingkat Kematian Anak


Merupakan jumlah kematian anak berumur 1-4 tahun selama satu tahun tertentu per 1000 anak umur yang
sama pada pertengahan tahun. Dengan demikian angka kematian anak tidak menyertakan angka kematian
bayi.
5. Tingkat Kematian Anak di Bawah Lima Tahun (Balita)
Merupakan jumlah kematian anak usia di bawah 5 tahun selama satu tahun per 1000 anak usia yang sama
(0-4) tahun pada pertengahan tahun. Angka ini sekaligus merefleksikan tinggi rendahnya angka kematian
bayi dan angka kematian anak.
STANDARISASI
Komposisi penduduk menurut umur sangat berpengaruh terhadap Tingkat Kematian Kasar. Karakteristikkarakteristik penduduk lainnya yang juga mempunyai pengaruh terhadap Tingkat Kematian Kasar adalah:
a. Antara penduduk daerah pedesaan dan daerah perkotaan
b. Penduduk dengan lapangan pekerjaan yang berbeda
c. Pendduduk dengan perbedaan pendapatan
d. Perbedaan jenis kelamin
e. Penduduk dengan perbedaan status kawin
PENYEBAB ENDOGEN DAN EKSOGEN DARI KEMATIAN BAYI
Kematian bayi endogen dalah kematian bayi yang disebabkan oleh faktor-faktor anak yang dibawa sejak lahir,
diwariskan oleh orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat dari ibunya selama kehamilan. Sedangkan
kematian bayi eksogen adalah kematian bayi disebabkan oleh faktor-faktor yang berhubungan dengan
pengaruh lingkungan luar. Pembedaan antara kedua jenis penyebab kematian tersebut idealnya dapat
dilakukan melalui data statistik penyebab kematian, tetapi dalam praktek tidak mudah karena masalah kualitas
data (United Nations, 1973).
PERKEMBANGAN (TREN) MORTALITAS DI INDONESIA

Wawan Ibrahim 2013 2014 . Source at http://sevenmomentum.blogspot.com/

15
Akibat dari ketidaklengkapan serta kurang dapat dipercayanya angka statistik vital di Indonesia, maka sangatlah
sulit untuk memperkirakan dengan tepat tren mortalitas di Indonesia dari masa ke masa.
MEKANISME PENURUNAN KEMATIAN BAYI DAN ANAK
Kematian bayi dan anak secara umum merupakan konsekuensi akhir dari perjalanan kumulatif dengan berbagai
pengalaman morbiditas dan jarang karena serangan penyakit tunggal. Dalam merencanakan dan melaksanakan
program-program kesehatan untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas perlu dibekali dengan peningkatan
pengetahuan yang lebih luas dan lebih mendalam, dan tidak hanya dibatasi pada penyakit penyebab kematian
saja.
ANGKA HARAPAN HIDUP PADA SUATU UMUR
Merupakan rata-rata jumlah tahun kehidupan yang masih dijalani oleh seseorang yang telah berhasil mencapai
umur tepat X dalam situasi mortalitas yang berlaku di lingkungan masyarakatnya. Angka harapan hidup waktu
lahir misalnya, merupakan rata-rata tahun kehidupan yang akan dijalani oleh bayi yang baru lahir. Misalnya
angka harapan hidup umur lima tahun berarti rata-rata tahun kehidupan pada masa yang akan datang dijalani
oleh mereka yang telah mencapai usia lima tahun.

DIAGRAM LEXIS

To be Continued

Wawan Ibrahim 2013 2014 . Source at http://sevenmomentum.blogspot.com/