Anda di halaman 1dari 129

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI (PKP) APOTEKER DI DINAS KESEHATAN DAN UPT PUSKESMAS MARGA I KABUPATEN TABANAN (1 Juni 2015 1 Juli 2015)

MARGA I KABUPATEN TABANAN (1 Juni 2015 – 1 Juli 2015) OLEH: Made Kalih Sindu Budari,
MARGA I KABUPATEN TABANAN (1 Juni 2015 – 1 Juli 2015) OLEH: Made Kalih Sindu Budari,

OLEH:

Made Kalih Sindu Budari, S. Farm.

(1408525010)

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA JIMBARAN

2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat karunia yang dilimpahkan, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Dinas Kesehatan dan UPTD Puskesmas Marga I Kabupaten Tabanan tepat pada waktunya. Laporan ini merupakan tugas akhir bagi mahasiswa Program Studi Apoteker Jurusan Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana sebagai syarat untuk meraih gelar Apoteker (Apt.). Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu, penulis

mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca sebagai pengembangan dan penyempurnaan tulisan ini. Tersusunnya laporan ini tentu tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Bapak I G.N. Jemmy Anton Prasetia, S.Farm., M.Si., Apt.selaku Ketua Program Studi Profesi Apoteker, Universitas Udayana.

2. Bapak Dr.rer.nat. I M.A. Gelgel Wirasuta, M.Si., Apt. selaku Ketua Jurusan Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana.

3. Bapak dr. I Nyoman Suratmika, M.Kes. selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan, beserta staf.

4. Bapak I Made Abdi Gunawan, S.Farm., Apt. selaku Kepala Seksi Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan, beserta staf.

5. Ibu Ni Wayan Balik Agus Astiti, S.Si., Apt. selaku pembimbing lapangan dalam penyusunan laporan ini.

6. Bapak dr. I Wayan Suarnaya, M.Kes. selaku kepala UPTD Puskesmas Marga I beserta seluruh staf, yang telah membimbing selama pelaksanaan PKPA.

7. Ibu Ni Putu Ari Juliarti, SE., yang telah banyak membimbing penulis di lapangan, dan seluruh staf pegawai Puskesmas Marga I yang telah membantu penulis dalam penyusunan laporan ini

8. Ibu Ni Made Pitri Susanti, S.Fram., M.Si., Apt. selaku pembimbing akademik dalam penyusunan laporan ini.

9. Seluruh dosen dan staf pegawai Jurusan Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana atas segala bimbingan dan bantuan berupa dukungan, semangat, dan motivasi.

10. Seluruh keluarga dan teman-teman yang telah membantu penulis dalam

menyelesaikan laporan ini. Akhirnya dengan segala kerendahan hati Laporan ini ditujukan kepada Jurusan Farmasi MIPA Universitas Udayana, semoga dapat memberikan manfaat.

Tabanan, Juli 2015

Penulis

DAFTAR ISI

 

Hal

HALAMAN JUDUL

i

LEMBAR PENGESAHAN

ii

KATA PENGANTAR

iii

DAFTAR ISI

v

DAFTAR TABEL

viii

DAFTAR GAMBAR

ix

DAFTAR LAMPIRAN

x

BAB I

PENDAHULUAN

1

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Tujuan PKP Apoteker di Pemerintahan

3

1.2.1 Tujuan Umum PKP Apoteker di Pemerintahan

3

1.2.2 Tujuan Khusus PKP Apoteker di Pemerintahan

3

1.3 Manfaat PKP Apoteker di UPTD Pemerintahan

4

1.4 Pelaksanaan PKP Apoteker di Dinas Kesehatan

4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

6

2.1 Profil Dinas Kesehatan

6

2.1.1 Profil Dinas Kesehatan Provinsi Bali

5

2.1.2 Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan

8

2.2 Tugas dan Funsi Dinas Kesehatan

11

2.2.1 Tugas Dinas Kesehatan Provinsi Bali

11

2.2.2 Tugas DInas Kesehatan Kabupaten Tabanan

12

2.3 Fungsi Dinas Kesehatan

14

2.3.1 Fungsi Dinas Kesehatan Provinsi Bali

14

2.3.2 Fungsi Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan

14

2.4 Tinjauan Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan

15

2.4.1

Tugas dan Fungsi UPTD Instalasi Farmasi Tabanan

20

2.4.2 Tata Cara Pengelolaan Obat dan Perbekalan Farmasi

2.5 Tinjauan Umum Puskesmas

 

35

 

2.5.1 Pengertian Puskesmas

35

2.5.2 Kompetensi Apoteker di Puskesmas

 

36

2.5.3 Sarana dan Prasarana di Puskesmas

37

2.6 Tinjauan Puskesmas Marga I

 

38

 

2.6.1 Profil Umum Puskesmas Marga I

 

38

2.6.2 Visi dan Misi Puskesmas Marga I

40

2.6.3 Struktur Organisasi Puskesmas Marga I

 

41

2.6.4 Pelayanan Kesehatan Puseksmas Marga I

41

2.6.5 Tugas dan Fungsi Puskesmas Marga I

 

42

2.6.6 Program Puskesmas Marga I

 

44

2.6.7 Penggunaan Obat Rasional (POR)

 

46

2.6.8 Pengelolaan Obat di Puskesmas Marga I

 

48

BAB III

KEGIATAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER (PKPA) DAN PEMBAHASAN

58

3.1 PKPA di Dinas Kesehatan Provinsi Bali

 

58

 

3.1.1

Pembekalan Umum tentang Dinas Kesehatan Provinsi

 

Bali

59

 

3.1.2

Tantangan,

Strategi,

dan

Pola

Pikir

Pelayanan

 

Kefarmasian

 

59

 

3.1.3

Regulasi dan Pedoman Pendukung untuk Pelaksanaan Pelayanan Kefarmasian

60

3.1.4

Pengelolaan Sediaan Farmasi di Dinkes Provinsi Bali

60

3.1.5

Tugas

Pokok

Seksi

Sertifikasi

Perijinan dan

 

Perbekalan Kefarmasian

 

60

 

3.1.6

Alur Penyediaan Obat

63

3.1.7

Alur Distribusi Obat

64

3.2 PKPA di Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan

 

65

 

3.2.1

Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan

65

di Bidang Kesehatan

66

 

3.2.3

Pengelolaan Obat di Dinkes Kabupaten Tabanan

67

3.3 PKPA di Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan

68

3.3.1 Pengelolaan Sediaan Farmasi di Instalasi Farmasi

 

Tabanan

69

 

3.3.2 Visitasi di Instalasi Farmasi Tabanan

76

3.4 PKPA di UPTD Puskesmas Marga I

77

3.4.1

Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Marga I

78

3.4.2

Pengelolaan Perbekalan Sediaan Farmasi di Apotek Puskesmas Marga I

84

3.4.3

Permasalahan pada Pengelolaan Obat di Gudang Farmasi Puskesmas Marga I

93

3.4.5

Pelaksanaan PKPA di Sub-Unit Puskesmas yaitu Puskesmas Keliling di Desa Pinge

94

3.4.6

Analisa Penggunaan Obat Rasional (POR) untuk ISPA non Pneumonia, Diare non SPesifik dan Myalgia

95

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

111

4.1 Kesimpulan

112

4.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

 

113

LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Standar Kegiatan Gudang Obat

47

Tabel 2.2 Protap Perencanaan Kebutuhan Obat di Gudang Obat

48

Tabel 2.3 Protap Pengadaan Kebutuhan Obat di Gudang Obat

49

Tabel 2.4 Protap Penerimaan Obat di Gudang Obat

50

Tabel 2.5 Protap Penyimpanan Obat di Gudang Obat

52

Tabel 2.6 Protap Pendistribusian Obat di Gudang Obat

52

Tabel 2.7 SOP Pemberian Obat dalam Bentuk Puyer

55

Tabel 2.8 SOP Pemberian Obat dalam Bentuk Sirup Kering Antibiotik

56

Tabel 2.7 SOP Pemberian Obat dalam Bentuk Tablet, Kapsul, dan Kaplet

57

Tabel 3.1 Kegiatan PKPA di Dinas Kesehatan Provinsi Bali

60

Tabel 3.2 Kegiatan PKPA di Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan

62

Tabel 3.3 Data Sepuluh Besar Penyakit Terbanyak di Kabupaten Tabanan

64

Tabel 3.4 Kegiatan PKPA di Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan

65

Tabel 3.5 Kegiatan PKPA di UPTD Puskesmas Marga I

71

Tabel 3.6 Sepuluh Besar Penyakit Terbanyak di UPTD Puskesmas Marga I

80

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1

Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Provinsi Bali

8

Gambar 2.2

Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan

11

Gambar 2.3

Alur Pelayanan Pasien di Puskesmas Marga I

35

Gambar 3.1

Grafik Sepuluh Besar Penggunaan Obat

Terbanyak Di UPTD Puskesmas Marga I

81

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1. Denah Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan ……………. 91

Lampiran 2

Form Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) UPTD Puskesmas……………

93

Lampiran 3

Form Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) sub unit UPTD Puskesmas…….

94

Lampiran 4.

Berita Acara Penyerahan Obat………………

…………….

95

Lampiran 5. Penggunaan Obat Rasional di UPTD Puskesmas Marga I Bulan

 

Desember 2014………………………………

…………….

98

Lampiran 6.

Data Analisis POR Bulan Juli-Desember 2014…………….

104

Lampiran 7.

Neraca Persediaan Obat di Puskesmas Marga I………….

105

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis sesuai dengan UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Kesehatan juga merupakan hak asasi manusia serta merupakan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia, sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Untuk mewujudkan hal tersebut, diselenggarakan program pembangunan kesehatan yang merupakan bagian integral dan terpenting dari pembangunan nasional. Pembangunan dilakukan secara berkelanjutan, terencana, dan terarah. Adapun tujuan pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Berdasarkan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, upaya pembangunan yang dilakukan pemerintah daerah adalah dengan menyelenggarakan otonomi daerah. Dan dalam menyelenggarakan otonomi tersebut, daerah mempunyai kewajiban salah satunya untuk menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan. Sejalan dengan hal tersebut, upaya pembangunan kesehatan dilakukan melalui pembentukan Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Dinas kesehatan memiliki tanggung jawab dalam melakukan upaya kesehatan agar mencapai langkah Millenium Development Goals (MDGs) yang merupakan program prioritas Kementerian Kesehatan RI tahun 2010-2014. Menurut struktur organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan tahun 2014, pekerjaan kefarmasian berada di Bidang Penunjang Pelayanan Medis tepatnya di Seksi Instalasi Farmasi serta di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Puskesmas. Puskesmas merupakan UPTD yang berada di wilayah kecamatan , yang melaksanakan tugas-tugas operasional pembangunan kesehatan (Dinkes Tabanan, 2013).

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 128 Tahun 2004 Tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat, Puskesmas merupakan ujung tombak pembangunan kesehatan di Indonesia yang bertanggungjawab dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan. Sedangkan berdasarkan PP 51 tahun 2009, puskesmas merupakan salah satu tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian, dimana yang berhak melakukan pekerjaan kefarmasian yaitu tenaga teknis kefarmasian dan apoteker, sedangkan yang berhak melakukan pelayanan kefarmasian di puskesmas adalah apoteker. Pelayanan kefarmasian yang dimaksud adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Penyelenggaraan program-program peningkatan kesehatan masyarakat tentunya perlu ditunjang dengan pelayanan kefarmasian yang bermutu. Oleh sebab itu, tenaga farmasi dituntut untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan, keterampilan, serta kemampuan untuk bekerja sebagai suatu tim dengan tenaga kesehatan lainnya di lembaga Pemerintahan. Program Pendidikan Profesi Apoteker Universitas Udayana sedang menyelenggarakan Praktek Kerja Profesi Apoteker. Berdasarkan uraian di atas maka Instalasi Farmasi dan puskesmas dapat dijadikan sarana pendidikan mahasiswa PKPA (Praktek Kerja Profesi Apoteker) untuk belajar mengenai cara pengelolaan dan manajemen kefarmasian serta belajar memberikan pelayanan kesehatan (pelayanan kefarmasiaan) yang sesuai dengan standar yang berlaku di samping pembelajaran langsung di Dinas Kesehatan sendiri yang mengkoordinasikan seluruh pekerjaan di bidang kesehatan termasuk kefarmasian. Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan unit pelaksana teknisnya Puskesmas bersama pusat manajemen kefarmasian di instalasi farmasi adalah sebagai sarana untuk mengetahui peran apoteker dalam bidang pemerintahan. Adapun Praktek Kerja Profesi Apoteker ini juga sebagai suatu upaya untuk meningkatkan kemampuan calon apoteker dalam bekerja sama dengan profesi

kesehatan lainnya di lembaga pemerintahan. Dengan demikian, diharapkan calon apoteker dapat mengabdikan diri sebagai apoteker yang profesional.

1.2 Tujuan PKP Apoteker di Pemerintahan

1.2.1 Tujuan Umum PKP Apoteker di Pemerintahan Tujuan umum Praktek Kerja Profesi Apoteker di Pemerintahan, yaitu:

1. Pengenalan tugas pokok dan fungsi apoteker di Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten/Kota, Instalasi Farmasi Kabupaten, dan Puskesmas.

2. Pengenalan peran apoteker dalam bidang pengawasan, regulasi, dan pengadaan perbekalan farmasi oleh pemerintah.

3. Praktek manajemen sistem pengadaan perbekalan farmasi dari tingkat Puskesmas, Instalasi Farmasi Kabupaten, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Provinsi.

1.2.2 Tujuan Khusus PKP Apoteker di Pemerintahan Tujuan khusus Praktek Kerja Profesi Apoteker di Pemerintahan, yaitu:

1. Mengetahui secara umum mengenai visi dan misi, struktur organisasi, program-program Dinas Kesehatan Provinsi Bali, alur pemerintahan dan distribusi obat serta peranan dan fungsi apoteker di Dinas Kesehatan Provinsi Bali

2. Meningkatkan pemahaman calon apoteker tentang peran, fungsi, posisi, dan tanggung jawab apoteker di Dinas Kesehatan, Instalasi Farmasi Kabupaten dan Puskesmas.

3. Membekali calon apoteker agar memiliki wawasan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman praktis untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di Puskesmas.

4. Mempersiapkan calon apoteker dalam memasuki dunia kerja sebagai tenaga kerja farmasi yang profesional, dalam kaitan dengan peran, tugas, dan fungsi apoteker dalam bidang kesehatan masyarakat.

5. Memberi gambaran nyata tentang permasalahan (problem-solving) praktek dan pekerjaan kefarmasian di Dinas Kesehatan, Instalasi Farmasi Kabupaten, dan Puskesmas.

1.3 Manfaat PKP Apoteker di Pemerintahan Manfaat dari Praktek Kerja Profesi (PKP) Apoteker di pemerintahan antara lain:

1. Mengetahui, memahami tugas dan tanggung jawab apoteker dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian di Dinas Kesehatan dan Puskesmas.

2. Mendapatkan pengalaman praktis mengenai pekerjaan kefarmasian di Puskesmas.

3. Meningkatkan rasa percaya diri untuk menjadi apoteker yang profesional.

4. Membekali calon apoteker agar memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap-perilaku (profesionalisme) serta wawasan dan pengalaman nyata (reality) untuk melakukan praktek profesi dan pekerjaan kefarmasian di Puskesmas.

5. Memberi kesempatan kepada calon apoteker untuk melihat dan mempelajari strategi dan pengembangan praktek profesi apoteker di Puskesmas.

6. Memberi gambaran nyata tentang permasalahan (problem-solving) praktek dan pekerjaan kefarmasian di Puskesmas.

1.4 Pelaksanaan PKP Apoteker Pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Pemerintahan dilakukan pada 4 tempat, yaitu:

1. Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Bali yang berlangsung selama 1 hari, dilaksanakan pada tanggal 1 Juni 2015.

2. Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan yang berlangsung selama 1 hari, dilaksanakan pada tanggal 3 Juni 2015.

4.

Puskesmas Marga I Tabanan yang berlangsung selama 20 hari kerja, dilaksanakan sejak tanggal 9 Juni sampai 1 Juli 2015.

BAB II TINJAUAN MENGENAI DINAS KESEHATAN DAN PUSKESMAS

2.1.Profil Dinas Kesehatan 2.1.1 Profil Dinas Kesehatan Provinsi Bali Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 2 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Provinsi Bali menetapkan bahwa Dinas Kesehatan

Provinsi Bali sebagai unsur pelaksana otonomi daerah di bidang kesehatan yang dipimpin oleh Kepala Dinas, berkedudukan dibawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah. Dinas Kesehatan Provinsi Bali daalam menjalankan tugas dan kegiatannya menggunakan visi dan misi sebagai berikut:

a. Visi

Bali sehat menuju Bali yang maju, aman, damai dan sejahtera

b. Misi

1. Memelihara, meningkatkan dan mengembangkan upaya kesehatan yang merata, bermutu dan terjangkau bagi seluruh masyarakat Bali.

2. Meningkatkan peran serta masyrakat untuk hidup bersih dan sehat.

3. Meningkatkan kemandirian masyarakat dalam bidang kesehatan.

(Dinas Kesehatan Provinsi Bali, 2010) Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 4 Tahun 2011, struktur organisasi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Dinas Kesehatan Provinsi Bali terdiri atas:

1. Kepala Dinas

2. Sekretariat, yang membawahi:

a. Sub Bagian Kepegawaian

b. Sub Bagian Umum

3.

Bidang Pengkajian dan Pengembangan, yang membawahi:

a. Seksi Evaluasi dan Pelaporan

b. Seksi Pengendalian Pengkajian dan Pengembangan

c. Seksi Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM)

4. Bidang Kesehatan Masyarakat, yang membawahi:

a. Seksi Promosi Kesehatan

b. Seksi Gizi Masyarakat

c. Seksi Kesehatan Keluarga

5. Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, membawahi:

a. Seksi Pengendalian Pencegahan Penyakit.

b. Seksi Penanggulangan Penyakit

c. Seksi Penyehatan Lingkungan

6. Bidang Pelayanan Kesehatan, yang membawahi:

yang

a. Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar

b. Seksi Pelayanan Kesehatan Rujukan

c. Seksi Sertifikasi, Perizinan, dan Perbekalan Kesehatan.

Adapun struktur organisasi Dinas Kesehatan Provinsi Bali secara keseluruhan

dapat dilihat pada Gambar 2.1.

KEPALA DINAS KESEHATAN

SEKRETARIS KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL SUB BAG SUB BAG KEU & SUNPROG SUB BAG UMUM KEPEGAWAIA
SEKRETARIS
KELOMPOK JABATAN
FUNGSIONAL
SUB BAG
SUB BAG KEU
& SUNPROG
SUB BAG
UMUM
KEPEGAWAIA
KA
KA
Bidang Pengkajian
Bidang Kesehatan
Bidang Pelayanan
& Pengembangan
Masyarakat
KA
Bidang Pengendalian,
Penyakit & Penyehatan
Lin kun an
KA
Kesehatan
SEKSI
SEKSI
SEKSI
SEKSI
Pengkajian &
Promosi
Pelayanan
Pengendalian
Pengembangan
Kesehatan
Pelayanan
Pencegahan
SEKSI
SEKSI
SEKSI
SEKSI
Jam
Gizi
Penanggulangan
Pelayanan
Pemeliharaan
Masyarakat
Penyakit
Kesehatan Rujukan
SEKSI
SEKSI
SEKSI
SEKSI
Evaluasi
Kesehatan
Sertifikasi,
Penyehatan
& Pelaporan
Keluarga
Perizinan &
Lingkungan
Perbekalan

UPTD

Gambar 2.1 Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Provinsi Bali (DinKes Bali,

2011).

Dinas Kesehatan Provinsi Bali ditunjang oleh 4 Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dan sarana pelayanan kesehatan. Adapun data sarana pelayanan kesehatan yang menjadi tanggung jawab pekerjaan Dinas Kesehatan Provinsi Bali tahun 2014 dapat dilihat pada tabel 2.1.

Tabel 2.1 Data Sarana Dinas Kesehatan Provinsi Bali Tahun 2014

No

Nama Sarana

Jumlah

1

Rumah Sakit Pemerintah

15

2

Rumah Sakit Swasta

35

3

Instalasi Farmasi

9

4

Puskesmas

120

5

Puskesmas Perawatan

33

6

Pustu (Puskesmas Pembantu)

527

7

Pedagang Besar Farmasi (PBF)

60

8

Pedagang Besar Bahan Baku Farmasi ( PBBBF)

1

9

Toko Obat

238

10

Apotek

597

11

Industri Obat Tradisional (IOT)

1

12

Usaha Mikro Obat Tradisional ( UKOT)

14

13

Industri Kosmetik (IKOS)

26

14

Penyalur Alat Kesehatan (PAK)

17

(DinKes Bali, 2014)

2.1.2 Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan Tabanan merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Bali yang secara geografis terletak di tengah Pulau Bali. Pemerintah Daerah Kabupaten Tabanan memiliki visi untuk mewujudkan masyarakat Tabanan Sejahtera, Aman dan Berprestasi (SERASI). Tabanan SERASI adalah terwujudnya keseimbangan masyarakat Tabanan dalam membangun individu, keluarga dan komponen masyarakatnya sehingga timbul keharmonisan dalam meraih kesejahteraan, rasa aman dan prestasi yang setinggi-tingginya, dengan landasan keselarasan hubungan manusia dengan sesama manusia, dengan lingkungannya dan dengan Tuhannya. Salah satu misi dari Pemerintah Daerah Kabupaten Tabanan adalah mewujudkan masyarakat dengan derajat kesehatan tinggi. Adapun prioritas program kesehatan Pemerintah Daerah Kabupaten Tabanan, yaitu:

a. Prioritas umum (Kesehatan dan Perlindungan Sosial) antara lain kesehatan terjangkau untuk masyarakat, promosi kesehatan lintas sektor, pemerataan tenaga dokter dan tenaga medis lainnya di seluruh kecamatan, penerapan program kesehatan preventif, jaminan kesehatan dan jaminan sosial.

b. Prioritas khusus antara lain puskesmas prima, beasiswa kedinasan kedokteran umum dan paramedik, desa siaga, program derajat sehat melalui kesehatan promotif dan preventif serta peningkatan proporsional jasa medis. Dalam menjalankan tugas dan program kerja khususnya pembangunan di bidang kesehatan, Pemerintah Daerah Kabupaten Tabanan dibantu oleh SKPD Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan yang berlokasi di Jalan Gunung Agung No. 82 Tabanan. Visi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan yaitu terwujudnya

masyarakat Tabanan sehat melalui suatu sistem pelayanan kesehatan yang baku, terstandar dan fleksibel melalui reformasi bidang kesehatan secara bertahap. Misi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan adalah sebagai berikut:

a. Merencanakan pembangunan kesehatan dan melaksanakan pengaturan, pengorganisasian sistem kesehatan di Kabupaten Tabanan.

b. Memberikan perizinan pada sarana kesehatan, kerja/praktek tenaga kesehatan, dan distribusi obat di Kabupaten Tabanan.

c. Menyelenggarakan sistem pembiayaan kesehatan melalui sistem asuransi, dengan sasaran seluruh lapisan masyarakat, yang dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan.

d. Meningkatkan kualitas dan pendayagunaan tenaga kesehatan secara bertahap dan berkesinambungan.

e. Menyelenggarakan upaya pelayanan dan promosi kesehatan masyarakat.

f. Menyelenggarakan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit serta upaya kesehatan lingkungan pada masyarakat di Kabupaten Tabanan.

g. Menyelenggarakan perencanaan, pengadaan, dan pendistribusian obat pelayanan kesehatan dasar esensial serta melaksanakan pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan napza.

h. Melaksanakan bimbingan, pengendalian dan pengawasan sarana pelayanan kesehatan di Kabupaten Tabanan. Melakukan pengembangan kerjasama lintas sektoral di Kabupaten Tabanan dan meningkatkan kerjasama antar daerah

Struktur organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan yaitu:

KEPALA DINAS KESEHATAN SEKRETARIS SUB BAG SUB BAG SUB BAG UMUM KEUANGA KEPEGAWA BIDANG BIDANG
KEPALA DINAS
KESEHATAN
SEKRETARIS
SUB BAG
SUB BAG
SUB BAG
UMUM
KEUANGA
KEPEGAWA
BIDANG
BIDANG BINA
BIDANG
BIDANG
PELAYANAN DAN
KESEHATAN
PENGENDALIAN
PENUNJANG
KESEHATAN
MASYARAKAT
PENYAKIT DAN
PELAYANAN
SEKSI
SEKSI
SEKSI
SEKSI
Puskesmas dan
Kesehatan Ibu,
Pencegahan Penyakit
Instalasi Farmasi
pelayanan Kesehatan
Anak, Keluarga
dan Surveilans
SEKSI
SEKSI
SEKSI
SEKSI
Pelayanan Kesehatan
Gizi
Pemberantasan
Laboratorium
Khusus
Penyakit
Kesehatan
SEKSI
SEKSI
SEKSI
Kesehatan Lingkungan
SEKSI
Promosi
Registrasi, Perijinan,
Pendidikan &
Kesehatan dan
Akreditasi, Sertifikasi
Pelatihan Teknis
UPTD (Puskesmas)

2.2 Tugas Dinas Kesehatan

Berdasarkan Pasal 13 dan pasal 14 UU No. 32 Tahun 2004 (Presiden RI, 2004) Pemerintah Daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota wajib melaksanakan tugas dalam penanganan kesehatan. Oleh karena itu, Pemerintah Daerah, baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota, harus dapat memenuhi hak- hak konstitusional bagi seluruh warga masyarakat pada masing-masing wilayah kerjanya dalam bentuk pelayanan langsung kepada masyarakat. Sesuai dengan PP No. 38 Tahun 2007 maka urusan di bidang kesehatan yang menjadi

tugas

daerah,

baik Daerah

Provinsi maupun Kabupaten/Kota

(Presiden RI,

2007).

2.2.1 Tugas Dinas Kesehatan Provinsi Bali Adapun Tugas Dinas Kesehatan Pemerintah Daerah Provinsi meliputi:

- Bimbingan dan pengendalian standar, norma, prosedur, persyaratan dan kriteria bidang kesehatan.

- Penyelenggaraan survailans, epidemiologi, penyelidikan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan gizi buruk lintas Kabupaten/Kota.

- Penyelenggaraan pencegahan dan penanggulangan penyakit menular lintas Kabupaten/Kota.

- Penyelenggaraan pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan skala Provinsi.

- Pemantauan penanggulangan gizi buruk.

- Pengendalian operasional penanggulangan bencana dan wabah skala Provinsi.

- Bimbingan dan pengendalian pelayanan kesehatan haji.

- Bimbingan dan pengendalian upaya kesehatan pada daerah perbatasan, terpencil, rawan dan kepulauan skala Provinsi.

- Bimbingan dan pengendalian Penyelenggaraan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Nasional.

- Pengelolaan Jaminan Kesehatan skala Provinsi.

- Penyediaan dan pengelolaan buffer stock obat Provinsi, alat kesehatan, reagensia dan vaksin lainnya.

- Penempatan tenaga kesehatan strategis, pemindahan tenaga tertentu antar Kabupaten/Kota skala Provinsi.

- Registrasi, akreditasi, sertifikasi sarana kesehatan sesuai peraturan perundang-undangan.

- Sertifikasi sarana produksi dan distribusi alat kesehatan, PKRT Kelas II.

- Pemberian rekomendasi izin tenaga kesehatan asing.

- Pemberian rekomendasi izin sarana kesehatan tertentu yang diberikan oleh Pemerintah Pusat.

- Pemberian izin sarana kesehatan meliputi RS Pemerintah Klas B non pendidikan, RS Khusus, RS Swasta serta sarana kesehatan yang setara.

- Pemberian rekomendasi izin industri komoditi kesehatan, PBF dan PBAK.

- Pemberian izin PBF Cabang dan Industri Kecil Obat Tradisional.

- Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan kesehatan yang mendukung perumusan kebijakan Provinsi.

- Pengelolaan survei kesehatan daerah skala Provinsi.

- Pemantauan pemantapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kesehatan.

- Pengelolaan pelayanan kesehatan rujukan sekunder dan tersier tertentu.

- Penyelenggaraan promosi kesehatan.

- Penyelenggaraan kerjasama luar negeri skala Provinsi.

- Pembinaan, monitoring, pengawasan dan evaluasi skala Provinsi.

- Pendayagunaan tenaga kesehatan skala Provinsi.

- Pelatihan diklat fungsional dan teknis skala Provinsi.

- Pengelolaan sistem informasi kesehatan lingkup Provinsi

(DepKes RI, 2008).

2.2.2 Tugas Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan Adapun tugas Dinas Kesehatan Kabupaten, meliputi:

- Penyelenggaraan, bimbingan dan pengendalian operasionalisasi bidang kesehatan.

- Penyelenggaraan survailans epidemiologi, penyelidikan KLB dan gizi buruk

- Penyelenggaraan pencegahan dan penanggulangan penyakit menular.

- Penyelenggaraan pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan skala Kabupaten/Kota.

- Penyelenggaraan penanggulangan gizi buruk.

- Pengendalian operasional penanggulangan bencana dan wabah skala Kabupaten/Kota.

- Penyelenggaraan pelayanan kesehatan haji setempat.

- Penyelenggaraan upaya kesehatan pada daerah perbatasan, terpencil, rawan dan kepulauan skala Kabupaten/Kota.

- Penyelenggaraan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Nasional.

- Pengelolaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan sesuai kondisi lokal.

- Penyediaan dan pengelolaan buffer stock obat Provinsi, alat kesehatan, reagensia dan vaksin.

- Penempatan tenaga kesehatan strategis.

- Registrasi, akreditasi, sertifikasi tenaga kesehatan tertentu sesuai peraturan perundang-undangan.

- Registrasi, akreditasi, sertifikasi sarana kesehatan sesuai peraturan perundangan-undangan.

- Pengambilan sampling atau contoh sediaan farmasi di lapangan.

- Pemeriksaan setempat sarana produksi dan distribusi sediaan farmasi.

- Pengawasan dan registrasi makanan minuman produksi rumah tangga.

- Sertifikasi alat kesehatan dan PKRT kelas I.

- Pemberian izin Praktik tenaga kesehatan tertentu.

- Pemberian rekomendasi izin sarana kesehatan tertentu yang diberikan oleh Pemerintah Pusat dan Provinsi.

- Pemberian izin sarana kesehatan meliputi RS Pemerintah klas C, klas D, RS Swasta yang setara, praktik berkelompok, klinik umum/spesialis, Rumah Bersalin, Klinik Dokter Keluarga/Dokter Gigi Keluarga, Kedokteran komplementer, dan pengobatan tradisional serta sarana penunjang yang setara.

- Pemberian rekomendasi izin PBF Cabang, PBAK dan industri kecil obat tradisional.

- Pemberian izin apotek, toko obat.

- Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan kesehatan yang mendukung perumusan kebijakan Kabupaten/Kota.

- Pengelolaan survei kesehatan daerah skala Kabupaten/Kota.

- Implementasi penapisan IPTEK di bidang pelayanan kesehatan.

- Pengelolaan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan sekunder.

- Penyelenggaraan promosi kesehatan.

- Perbaikan gizi keluarga dan masyarakat.

- Penyehatan lingkungan dan pengendalian penyakit.

- Penyelenggaraan kerjasama luar negeri skala Kabupaten/Kota.

- Pembinaan, monitoring, pengawasan dan evaluasi skala Kabupaten/Kota.

- Pengelolaan sistem informasi kesehatan Kabupaten/Kota

(DepKes RI, 2008).

2.3 Fungsi Dinas Kesehatan

2.3.1 Fungsi Dinas Kesehatan Provinsi Bali Dinas Kesehatan bertugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah dalam

Dalam

melaksanakan tugas tersebut, Dinas Kesehatan memiliki beberapa fungsi, yaitu:

a. Perumusan kebijakan teknis di bidang kesehatan

b. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang kesehatan

c. Pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya

d. Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Gubernur.

bidang kesehatan berdasarkan

asas

otonomi

dan

tugas

pembantuan.

2.3.2 Fungsi Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan

Sedangkan Fungsi dari Dinas Kesehatan Kabupaten yaitu:

a. Perumusan kebijakan teknis di bidang kesehatan lingkup kabupaten.

b. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang kesehatan lingkup kabupaten.

c. Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang pelayanan kesehatan, pencegahan penyakit dan penyehatan lingkungan, upaya kesehatan masyarakat, rujukan, keluarga gizi dan sumber daya kesehatan lingkup kabupaten.

d. Pemantauan, evaluasi dan pelaporan bidang kesehatan lingkup kabupaten.

e. Pelaksanaan tugas kesekretariatan dinas.

f. Pelaksanaan tugas lain di bidang kesehatan yang diserahkan oleh bupati sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya

(Anonim, 2012).

2.4

Tinjauan UPT Instalasi Farmasi Tabanan

Pengelolaan obat dan perbekalan farmasi merupakan salah satu pendukung penting dalam pelayanan kesehatan. Demikian juga halnya pengelolaan obat di pelayanan kesehatan dasar mempunyai peran sangat signifikan dalam pelayanan kesehatan di puskesmas. Oleh karena itu pengembangan pengelolaan obat di kabupaten/kota harus dilakukan secara terus menerus. Hal ini perlu dilakukan agar dapat mendukung kualitas pelayanan kesehatan dasar. Perbaikan secara menyeluruh di semua aspek pelayanan kesehatan dasar diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat. Oleh karena itu, untuk lebih meningkatkan keberadaan gudang farmasi kabupaten/kota dalam

rangka menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, di dalam KONAS tahun 2005 disebutkan bahwa keberadaan gudang farmasi kabupaten/kota diubah namanya menjadi Instalasi Farmasi Kabupaten/IFK (DepKes RI, 2011). Kebijakan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan di Kabupaten/Kota dipusatkan pada Unit Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota yang lebih dikenal dengan kebijakan satu pintu (One Gate Policy Drug Supply Management). Adapun fungsi yang harus dijalankan meliputi perencanaan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, pencatatan pelaporan dan evaluasi yang terintegrasi dengan unit kerja terkait. Kebijakan ini didasarkan kepada efisiensi, efektivitas, dan profesionalisme. Pengelolaan mencakup seluruh obat publik dan perbekalan kesehatan yang berasal dari semua sumber anggaran dan menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan di Kabupaten/Kota (DepKes RI, 2011). Keberadaan Instalasi Farmasi di Kabupaten/Kota antara lain bertujuan untuk menjamin:

1. Efisiensi dan efektifitas pemanfaatan alokasi dana.

2. Ketersediaan obat publik dan perbekalan kesehatan di unit pelayanan kesehatan dasar

3. Penggunaan obat secara rasional

(DepKes RI a, 2007) Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan berada di bawah Bidang Layanan Penunjang Medis yang bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Kesehatan

Kabupaten Tabanan. Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan terletak di Jalan Hassanudin No. 7 Tabanan. Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan melaksanakan pengelolaan obat untuk kebutuhan Puskesmas dan kebutuhan obat program tertentu untuk Rumah Sakit se-Kabupaten Tabanan. Obat-obat yang bersumber dari dana PKD, JKN, APBD provinsi dan kabupaten serta obat-obat program diterima, disimpan dan disalurkan kembali oleh Instalasi Farmasi ke Puskesmas. Selain itu, Rumah Sakit Swasta dan Pemerintah juga dapat meminta obat program ke Instalasi Farmasi. Kegiatan pengelolaan obat di Instalasi Farmasi dimulai dari perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian serta monitoring di Puskesmas. Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan dikelola oleh enam orang tenaga kerja yang terdiri dari tiga orang tenaga apoteker, dua orang asisten apoteker serta satu orang tenaga administrasi. Dalam Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan tidak terdapat sub unit khusus tetapi telah dilakukan pembagian tugas, yaitu Kepala Instalasi Farmasi dijabat oleh I Made Abdi Gunawan, S.Farm., Apt., urusan Pengadaan ditangani oleh Ni Wayan Balik Agus Astiti, S.Si., Apt., dan urusan Aset, Pelaporan, serta Persediaan ditangani oleh Ni Luh Wina Lestari, S.Farm., Apt. terdapat dua asisten apoteker yang bertugas membantu dalam hal pendistribusian dan pencatatan serta satu orang tenaga kontrak yang ditugaskan dalam membantu proses penerimaan, dan pendistribusian (Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan, 2014). Seksi Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan dipimpin oleh Kepala Seksi Instalasi Farmasi yaitu seorang apoteker. Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2005, Kepala Seksi Instalasi Farmasi bertugas melaksanakan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan, memantau penggunaan obat rasional dan pengadaan obat dan perbekalan kesehatan. Rincian tugas Kepala Seksi Instalasi Farmasi adalah sebagai berikut:

1. Melaksanakan Kegiatan Seksi Instalasi Farmasi, meliputi:

a. Menyusun rencana tahunan kebutuhan obat kabupaten. b. Memeriksa kondisi fisik barang dan kesesuaian dengan dokumen pengiriman dan dokumen pengadaan (contohnya adalah dokumen kontrak)

c. Mengatur

tata

letak

penyimpanan

obat

agar

sesuai

standar

baku

penyimpanan.

 

d. Pendistribusian obat ke Puskesmas (tahap persiapan dan pelaksanaan).

 

e. Perhitungan fisik obat (stok opname).

 

f. Persediaan di gudang obat farmasi kabupaten.

2. Membagi

tugas

dengan

bawahan

sesuai

dengan

pedoman

kerja

yang

ditetapkan agar tugas-tugas terbagi habis.

3. Memberikan petunjuk pada bawahan agar hasil kerja sesuai dengan yang

diharapkan.

4. Membimbing, mengarahkan bawahan dalam pelaksanaan tugas.

5. Menilai kerja bawahan sebagai bahan pengembangan karier.

6. Menginventarisasi permasalahan seksi farmasi serta mengupayakan alternatif

pemecahannya.

7. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh atasan.

8. Membuat laporan hasil kegiatan kepada atasan sebagai bahan informasi dan pertanggung jawaban:

a. Laporan Penggunaan Obat Rasional.

b. Laporan Monitoring Ketersediaan Obat.

c. Laporan Ketersediaan Obat Program Khusus.

d. Laporan Penggunaan Obat Generik

e. Laporan Realisasi Pengadaan

f. Laporan UKP4

g. Laporan Penggunaan Obat Narkotika dan

Psikotropika di Apotek,

Puskesmas, dan Rumah Sakit (swasta dan pemerintah).

h. Laporan Nilai Stok Obat Kabupaten Tabanan Semester I dan II. (DinKes Tabanan, 2011)

Berdasarkan

Asuhan

Direktorat

Bina

Obat

Publik dan Perbekalan

Kesehatan, ketersediaan sarana

yang

ada

di

Instalasi

Farmasi

Provinsi/

dan

mengoptimalkan proses pengelolaan obat serta perbekalan kesehatan. Adapun

Kabupaten/ Kota bertujuan untuk

mendukung

jalannya

organisasi

sarana yang sebaiknya tersedia di Instalasi Farmasi adalah:

a.

Gedung, dengan luas 300 m 2 600 m 2

b. Kendaraan roda dua dan roda empat, dengan jumlah 1 3 unit

c. Komputer + Printer, dengan jumlah 1 3 unit

d. Telepon & Facsimile, dengan jumlah 1 unit

e. Sarana penyimpanan:

- Rak

: 10 15 unit

- Pallet

: 40 60 unit

- Lemari

: 5 - 7 unit

- Lemari Khusus : 1 unit

f. Sarana Administrasi Umum :

- Brankas

: 1 unit

- Mesin Tik

: 1 2 unit

- Lemari arsip : 1 2 unit

g. Sarana Administrasi Obat dan Perbekalan Kesehatan

- Kartu Stok/Kartu Persediaan Obat

- Buku Harian Pengeluaran Barang

- SBBK, LPLPO

- Buku Rencana Distribusi

- Lembar bantu penentuan proporsi stok optimum

h. Sarana Penyimpanan Obat di Puskesmas Daerah Perbatasan

1. Gedung, dengan luas 100 m2 200 m2

2. Sarana penyimpanan:

- Rak

: 5 10 unit

- Pallet

: 10 20 unit

- Lemari

: 1 - 2 unit

- Lemari Khusus : 1 unit

3. Sarana Administrasi Umum:

: 1 unit

- Lemari arsip : 1 unit

- Mesin Tik

Sarana yang saat ini dimiliki oleh Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan tidak sepenuhnya sesuai dengan sarana dan prasarana yang direkomendasikan

oleh Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. Hal ini berkaitan

dengan

pemerintah daerah. Adapun sarana yang tersedia di Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan adalah:

yang diatur oleh

pengelolaan

sumber

dana

dan

penyediaan

sarana

1)

Gedung.

2)

Kendaraan.

3)

3 unit komputer + printer.

4)

Telepon dan mesin fax.

5)

Lemari arsip.

6)

Kursi dan sofa

7)

Sarana penyimpanan yaitu :

- Pallet.

- Rak

- Lemari.

- Lemari khusus dan lemari pendingin.

8)

Sarana administrasi obat dan perbekalan kesehatan

- Kartu stok.

- Buku barang masuk.

- Buku harian pengeluaran barang.

- Buku pencatatan obat kaduluwarsa

- Buku pencatatan obat habis

- LPLPO.

- Buku rencana distribusi.

9) Lembar bantu penentuan proporsi stok optimum.

(DinKes Tabanan, 2014)

2.4.1. Tugas dan Fungsi UPT Instalasi Farmasi Tabanan Pentingnya keberadaan Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota mengacu pada landasan hukum yang mengatur mengenai pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan yaitu UU No. 36 Tahun 2009 terutama pasal 36 Dan pasal 37 yang menyebutkan bahwa pemerintah menjamin ketersediaan, pemerataan, dan

keterjangkauan perbekalan kesehatan, terutama Obat Esensial. Pengelolaan perbekalan kesehatan ini bertujuan untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar

masyarakat dan mengupayakan ketersediaan, distribusi, keamanan, mutu, efektifitas, keterjangkauan obat, vaksin serta alat kesehatan. Sistem pengelolaan ini diharapkan dapat menunjang pelayanan kesehatan daerah sehingga memberikan pelayanan kesehatan yang prima, merata dan terjangkau, termasuk pelayanan kefarmasian dapat tercapai (DepKes RI, 2014). Adapun tugas pokok dan fungsi dari seksi instalasi farmasi meliputi:

1. Perencanaan kebutuhan obat dan perbekalan kesehatan untuk pelayanan kesehatan dasar disusun oleh tim perencanaan obat terpadu berdasarkan system “bottom up

2. Perhitungan rencana kebutuhan obat untuk satu tahun anggaran disusun dengan menggunakan pola konsumsi dan atau epidemiologi.

3. Mengkoordinasikan perencanaan kebutuhan obat dari beberapa sumber dana, agar jenis dan jumlah obat yang disediakan sesuai dengan kebutuhan dan tidak tumpang tindih.

4. Mengajukan rencana kebutuhan obat ke Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan yang selanjutnya diajukan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota, Pusat, Provinsi dan sumber lainnya.

5. Menyimpan obat dan perbekalan kesehatan di UPOPPK.

6. Mengawasi mutu sediaan obat dan perbekalan kesehatan yang disimpan di UPOPPK.

7. Mendistribusikan obat dan perbekalan kesehatan dari UPOPPK ke unit pelayanan kesehatan dasar (puskesmas) sesuai LPLPO.

8. Melakukan pengawasan pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan di UPK

9. Monitoring dan evaluasi ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan di kabupaten.

10. Mengevaluasi LPLPO dan monitoring absensi laporan penggunaan Narkotika dan psikotropika yang dilakukan unit pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta.

11. Melakukan Pelatihan Petugas Pengelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan untuk Puskesmas 12. Melakukan Bimbingan Teknis, Monitoring dan Evaluasi Ketersediaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan ke Puskesmas 13. Melaksanakan Advokasi Penyediaan Anggaran Kepada Pemerintah Kabupaten/Kota 14. Bertanggungjawab terhadap penanganan obat dan perbekalan kesehatan yang rusak dan kadaluwarsa. 15. Melaksanakan tugas lain yang dibebankan oleh atasan

2.4.2 Tata Cara Pengelolaan Obat atau Perbekalan Farmasi di UPT

Instalasi

Farmasi Tabanan

Ruang lingkup pengelolaan obat dan perbekalan farmasi di Instalasi Farmasi mencakup perencanaan, permintaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian, penggunaan, pencatatan/pelaporan, serta pemusnahan (DepKes RI,

2004).

A. Perencanaan Perencanaan bertujuan untuk memperkirakan jenis dan jumlah obat serta

perbekalan kesehatan yang mendekati kebutuhan, meningkatkan penggunaan obat secara rasional dan meningkatkan efisiensi penggunaan obat. Berbagai kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan kebutuhan obat antara lain:

a. Tahap Pemilihan Obat Fungsi pemilihan obat adalah untuk menentukan obat yang benar- benar diperlukan sesuai dengan pola penyakit. Dalam perencanaan kebutuhan obat yang tepat, diawali dengan dasar-dasar seleksi kebutuhan obat yang meliputi :

- Obat dipilih berdasarkan seleksi ilmiah, medik dan statistik yang memberikan efek terapi jauh lebih baik dibandingkan resiko efek samping yang akan ditimbulkan.

- Jenis obat yang dipilih seminimal mungkin, hal ini untuk menghindari duplikasi dan kesamaan jenis. Apabila terdapat beberapa jenis obat dengan indikasi yang sama dalam jumlah banyak, maka kita memilih berdasarkan Drug of Choice dari penyakit yang prevalensinya tinggi.

- Jika ada obat baru, harus ada bukti yang spesifik untuk efek terapi yang lebih baik.

- Hindari penggunaan obat kombinasi kecuali jika obat tersebut mempunyai efek yang lebih baik dibandingkan obat tunggal (DepKes RI, 2002). Pemilihan obat didasarkan pada Obat Generik terutama yang tercantum dalam Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dengan berpedoman pada harga yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan yang masih berlaku (DepKes RI, 2002). Selain itu, pemilihan obat juga dapat didasarkan atas usulan dari dokter-dokter puskesmas dan permintaan puskesmas keliling.

b. Tahap Kompilasi Pemakaian Obat Perencanaan kebutuhan obat tahunan untuk Puskesmas dipertimbangkan berdasarkan data pemakaian obat. Ketepatan dan kebenaran data di Puskesmas akan berpengaruh terhadap ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan secara keseluruhan di Kabupaten/Kota. Data pemakaian obat dilaporkan Puskesmas sub unit ke kepala Puskesmas secara periodik menggunakan LPLPO sub unit. Sedangkan data pemakaian obat diajukan kepala Puskesmas kepada kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan menggunakan LPLPO. Selanjutnya, UPOPPK akan melakukan kompilasi dan analisa terhadap kebutuhan obat Puskesmas di wilayah kerjanya (DepKes RI a, 2004). Kompilasi pemakaian obat berfungsi untuk mengetahui pemakaian bulanan masing-masing jenis obat di Puskesmas selama setahun dan sebagai pembanding bagi stok optimum. Informasi yang didapat dari kompilasi pemakaian obat adalah:

- Jumlah pemakaian tiap jenis obat pada masing-masing Unit Pelayanan Kesehatan/Puskesmas.

- Persentase pemakaian tiap jenis obat terhadap total pemakaian setahun seluruh Unit Pelayanan Kesehatan/Puskesmas.

- Pemakaian rata-rata untuk setiap jenis obat untuk tingkat Kabupaten/Kota secara periodik

(DepKes RI, 2002).

c. Tahap Perhitungan Kebutuhan Obat Pendekatan dalam penentuan kebutuhan obat dapat dilakukan melalui metode konsumsi dan morbiditas. Metode konsumsi didasarkan atas analisis data konsumsi obat tahun sebelumnya. Jenis data yang perlu disiapkan untuk metode konsumsi adalah:

- Alokasi dana

- Daftar obat

- Stok awal

- Penerimaan

- Pengeluaran

- Sisa stok

- Obat hilang/rusak, kadaluarsa

- Kekosongan obat

- Pemakaian rata-rata/pergerakan obat pertahun

- Lead time

- Stok pengaman

- Perkembangan pola kunjungan

Contoh:

(DepKes RI, 2002).

Selama tahun 2003 (Januari-Desember) pemakaian Parasetamol tablet sebanyak 2.500.000 tablet untuk pemakaian selama 10 bulan. Pernah terjadi kekosongan selama 2 bulan. Sisa stok per 31 Desember 2003 adalah 100.000 tablet.

i) Pemakaian rata-rata Parasetamol tablet perbulan tahun 2002 adalah 2.500.000 tablet/10 = 250.000 tablet.

ii) Pemakaian Parasetamol tahun 2003 (12 bulan) = 250.000 tablet x 12 = 3.000.000 tablet.

iii) Pada umumnya stok pengaman berkisar antara 10 20 % (termasuk untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan kunjungan). Misalkan berdasarkan evaluasi data diperkirakan 20% = 20% x 3.000.000 tablet = 600.000 tablet.

iv) Pada umumnya lead time berkisar antara 3-6 bulan. Misalkan lead time diperkirakan 3 bulan = 3 x 250.000 tablet = 750.000 tablet.

v) Kebutuhan Parasetamol tahun 2002 adalah = b + c + d, yaitu 3.000.000 tablet + 600.000 tablet + 750.000 tablet = 4.350.000 tablet.

vi) Rencana pengadaan Parasetamol untuk tahun 2004 adalah hasil

perhitungan kebutuhan (e) sisa stok = 4.350.000 tablet 100.000 tablet = 4.250.000 tablet = 4.250 kaleng/botol @ 1000 tablet (DepKes RI, 2002). Metode morbiditas adalah perhitungan kebutuhan obat berdasarkan pola penyakit, perkiraan kenaikan kunjungan dan lead time. Langkah-langkah dalam metode ini adalah:

- Menentukan jumlah penduduk yang akan dilayani

- Menentukan jumlah kunjungan kasus berdasarkan frekuensi penyakit.

- Menyediakan standar/pedoman pengobatan yang digunakan

- Menghitung perkiraan kebutuhan obat.

- Penyesuaian dengan alokasi dana yang tersedia

(DepKes RI, 2002).

d. Tahap Proyeksi Kebutuhan Obat Pada tahap proyeksi kebutuhan obat kegiatan yang dilakukan yaitu:

- Menetapkan rancangan stok akhir periode yang akan datang. Rancangan stok akhir diperkirakan sama dengan hasil perkalian antara waktu tunggu dengan estimasi pemakaian rata-rata/bulan ditambah stok penyangga.

- Menghitung rancangan pengadaan obat periode tahun yang akan

datang. Perencanaan pengadaan obat tahun yang akan datang dapat

dirumuskan sebagai berikut:

Keterangan:

a = b + c + d e - f

a

= Rancangan pengadaan obat tahun yang akan datang.

b

= kebutuhan obat untuk sisa periode berjalan.

c

= Kebutuhan obat untuk tahun yang akan datang.

d

= Rancangan stok akhir.

e

= Stok awal periode berjalan/stok per 31 Desember Unit Pengelola

Obat/

Gudang Farmasi Kabupaten dan Unit Pelayanan Kesehatan.

f

= Rencana penerimaan obat pada periode berjalan

- Menghitung rencana anggaran untuk total kebutuhan obat dengan cara:

i) Melakukan analisis ABC-VEN.

ii) Melakukan prioritas kebutuhan dan penyesuaian kebutuhan dengan

anggaran yang tersedia.

iii) Menyusun prioritas kebutuhan dan penyesuaian kebutuhan

berdasar data 10 penyakit terbesar.

- Pengalokasian kebutuhan obat persumber anggaran, dengan melakukan

kegiatan:

i) Menetapkan kebutuhan anggaran untuk masing-masing obat

persumber anggaran.

ii) Menghitung persentase belanja untuk masing-masing obat terhadap

masing-masing sumber anggaran.

iii) Menghitung persentase anggaran masing-masing obat terhadap

total anggaran dari semua sumber.

(DepKes RI, 2002).

e. Tahap Penyesuaian Rencana Pengadaan Obat

dengan

jumlah dana yang tersedia, maka informasi yang diperoleh yaitu jumlah

rencana pengadaan, skala prioritas masing-masing jenis obat dan jumlah

Dengan

melaksanakan

penyesuaian

rencana

pengadaan

obat

kemasan untuk rencana pengadaan obat tahun yang akan datang. Teknik manajemen untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi adalah dengan analisa ABC-VEN (DepKes RI, 2002).

B. Pengadaan Pengadaan obat publik dan perbekalan kesehatan merupakan proses untuk penyediaan obat yang dibutuhkan di UPK. Pengadaan obat publik dan perbekalan kesehatan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Instansi Pemerintah dan Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Tujuan pengadaan obat adalah tersedianya obat dengan jenis dan jumlah yang cukup sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan dengan mutu terjamin serta dapat diperoleh pada saat diperlukan. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pengadaan ini adalah kriteria obat, persyaratan pemasok, penentuan waktu pengadaan dan kedatangan obat serta penerimaan dan pemeriksaan obat (DepKes RI, 2002). Kriteria obat publik dan perbekalan kesehatan terdiri dari kriteria umum dan kriteria mutu obat. Kriteria umum yaitu: obat termasuk dalam Daftar Obat PKD dan Obat Program Kesehatan yang didasarkan pada Obat Generik yang tercantum dalam DOEN yang masih berlaku, obat telah memiliki izin edar atau nomor registrasi dari Departemen Kesehatan RI, batas kadaluarsa obat pada saat pengadaan minimal 2,5 tahun dan dapat ditambahkan bahwa 6 bulan sebelum masa kadaluarsa dapat diganti dengan obat yang masa kadaluarsanya lebih jauh (DepKes RI, 2002). Kriteria mutu obat yaitu: persyaratan mutu obat harus sesuai dengan persyaratan mutu yang tercantum dalam Farmakope Indonesia edisi terakhir dan industri farmasi yang memproduksi obat bertanggung jawab terhadap mutu obat melalui pemeriksaan mutu yang dilakukan oleh penanggung jawab mutu industri farmasi bersangkutan. Pemeriksaan mutu secara organoleptik dapat dilakukan oleh Apoteker penanggung jawab gudang yang kemudian bila terjadi keraguan terhadap mutu obat dapat dilakukan pemeriksaan mutu di laboratorium yang

ditunjuk pada saat pengadaan/pembelian dan merupakan tanggung jawab distributor yang mengadakan (DepKes RI, 2002). Pemilihan pemasok penting karena dapat mempengaruhi baik kualitas maupun biaya obat yang dibutuhkan. Hal-hal berikut perlu diperhatikan pada pemilihan pemasok:

- Memiliki izin Pedagang Besar Farmasi/Industri Farmasi.

- Bagi PBF harus mendapat dukungan dari Industri Farmasi yang memiliki sertifikat CPOB.

- Bagi Industri Farmasi harus yang telah memiliki Sertifikat CPOB.

- PBF/Industri Farmasi sebagai supplier harus memiliki reputasi yang baik dalam bidang pengadaan obat.

- Pemilik dan atau Apoteker/Asisten Apoteker penanggung jawab PBF, Apoteker penanggung jawab produksi dan quality control Industri Farmasi tidak sedang dalam proses pengadilan.

C. Penerimaan Penerimaan adalah suatu kegiatan dalam menerima obat-obatan yang diserahkan dari unit pengelola yang lebih tinggi kepada unit pengelola di bawahnya. Petugas penerimaan obat wajib melakukan pengecekan terhadap obat- obat yang diserahkan, mencakup jumlah kemasan, jenis dan jumlah obat, bentuk obat sesuai dengan isi dokumen dan ditandatangani oleh petugas penerima. Bila tidak memenuhi syarat petugas penerima dapat mengajukan keberatan. Jika terdapat kekurangan, penerima obat wajib menuliskan jenis yang kurang (jumlah kurang) dan rusak. Setiap penambahan obat-obatan, dicatat dan dibukukan pada buku penerimaan obat dan kartu stok. Fungsi pencatatan tersebut adalah:

- Sebagai lembar kerja bagi pencatatan penerimaan obat.

- Sebagai sumber data dalam melakukan kegiatan distribusi ke unit pelayanan.

- Sebagai sumber data untuk mengitung persentase realisasi kontrak pengadaan obat

(DepKes RI, 2002).

D.

Penyiapan

Penyimpanan adalah suatu kegiatan pengamanan terhadap obat-obatan yang diterima agar aman (tidak hilang), terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap terjamin. Penyimpanan bertujuan agar obat yang tersedia di unit pelayanan kesehatan mutunya dapat dipertahankan (DepKes RI, 2002). Sarana dan prasarana Instalasi Farmasi diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Adapun sarana yang minimal sebaiknya tersedia adalah sebagai berikut :

-

Gedung, dengan luas 300 m2 600 m2

-

Kendaraan roda dua dan roda empat, dengan jumlah 1 3 unit.

-

Komputer + Printer, dengan jumlah 1 3 unit.

-

Telepon & Faximile, dengan jumlah 1 unit.

-

Sarana penyimpanan, seperti : rak, pallet, lemari obat, dan lain-lain (MenKes RI, 2011).

E.

Pendistribusian

Distribusi adalah suatu rangkaian kegiatan dalam rangka pengeluaran dan pengiriman obat-obatan yang bermutu, terjamin keabsahan serta tepat jenis dan jumlah dari instalasi farmasi secara merata dan teratur untuk memenuhi kebutuhan unit-unit pelayanan kesehatan. Tujuan distribusi adalah terlaksananya distribusi obat publik dan perbekalan kesehatan secara merata dan teratur sehingga dapat diperoleh pada saat dibutuhkan serta terjaminnya ketersediaan obat publik dan perbekalan kesehatan di UPK. Kegiatan distribusi obat publik dan perbekalan kesehatan di Instalasi Farmasi terdiri dari kegiatan distribusi rutin yang mencakup distribusi untuk kebutuhan pelayanan umum di unit pelayanan kesehatan dan kegiatan distribusi khusus yang mencakup distribusi obat publik dan perbekalan kesehatan di luar jadwal distribusi rutin (DepKes RI, 2007). Perencanaan distribusi rutin meliputi penentuan stok optimum dan frekuensi pengiriman. Perumusan stok optimum persediaan dilakukan dengan memperhitungkan siklus distribusi rata-rata pemakaian, waktu tunggu serta ketentuan mengenai stok pengaman. Tujuan dari penetapan rencana ketersediaan pada akhir atau awal rencana distribusi adalah untuk memastikan bahwapersediaan obat di Instalasi Farmasi cukup untuk melayani kebutuhan obat

selama periode distribusi tersebut. Frekuensi pengiriman obat-obatan ke unit pelayanan kesehatan ditetapkan dengan memperhatikan anggaran yang tersedia, jarak Unit Pelaksana Kesehatan dari Instalasi Farmasi, fasilitas gudang Unit Pelaksana Kesehatan, sarana yang ada di Instalasi Farmasi, jumlah tenaga di Instalasi Farmasi dan faktor geografis dan cuaca (DepKes RI, 2007). Kegiatan distribusi khusus di Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota dilakukan sebagai berikut :

- Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota menyusun rencana distribusi obat untuk masing-masing program sesuai dengan rencana pelaksanaan kegiatan program yang diterima dari Dinas Kesehatan Provinsi atau Kabupaten/Kota. Instalasi Farmasi di Kabupaten/Kota bekerjasama dengan penanggung jawab program mengusahakan pendistribusian obat sebelum pelaksanaan kegiatan masing-masing program.

- Distribusi obat program kepada Puskesmas dilakukan atas permintaan penanggung jawab program yang diketahui oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

- Untuk pelaksanaan program penanggulangan penyakit tertentu seperti malaria, dan penyakit kelamin, bilamana obatnya diminta langsung oleh petugas program kepada Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota tanpa melalui Puskesmas, maka petugas yang bersangkutan harus membuat permintaan tertulis yang diketahui oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

- Obat program yang diberikan langsung oleh petugas program kepada penderita di lokasi sasaran, diperoleh/diminta dari Puskesmas yang membawahi lokasi sasaran. Setelah selesai pelaksanaan pemberian obat, bilamana ada sisa obat harus dikembalikan ke Puskesmas yang bersangkutan. Khusus untuk program diare diusahakan ada sejumlah persediaan obat di Posyandu yang pengadaannya diatur oleh Puskesmas

(DepKes RI, 2007). Obat-obatan yang telah dikeluarkan harus segera dicatat dan dibukukan pada Buku Harian Pengeluaran Obat mengenai data obat dan dokumen obat tersebut. Fungsinya adalah sebagai dokumen yang memuat semua catatan pengeluaran,

baik mengenai data obatnya maupun dokumen yang menyertai pengeluaran obat tersebut. Data ini nantinya dapat dipergunakan sebagai sumber perencanaan dan pelaporan (DepKes RI, 2007).

F. Pencatatan dan Pelaporan

Pencatatan dan pelaporan data obat di Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka pengelolaan obat secara tertib baik obat yang diterima, disimpan, didistribusikan. Kegiatan pencatatan dan pelaporan bertujuan untuk tersedianya data mengenai jenis dan jumlah penerimaan, persediaan, pengeluaran/penggunaan dan data mengenai waktu dari seluruh rangkaian kegiatan mutasi obat. Sebagian dari kegiatan pencatatan dan pelaporan obat ini telah diuraikan pada masing-masing aspek pengelolaan obat. Berikut ini akan diuraikan secara ringkas kegiatan pencatatan dan pelaporan obat yang perlu dilakukan oleh Instalasi Farmasi (DepKes RI, 2007). Sebagai unit kerja yang secara fungsional berada di bawah dan langsung bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, maka Instalasi Farmasi memiliki kewajiban untuk melaporkan kegiatan pengelolaan obat yang dilaksanakan. Laporan yang perlu disusun Instalasi Farmasi terdiri dari:

a. Laporan mutasi obat Laporan mutasi obat adalah laporan berkala mengenai mutasi obat yang

dilakukan per periode pendistribusian yang memuat jumlah penerimaan, pengeluaran dan sisa persediaan di Instalasi Farmasi, kecuali Narkotika dan Psikotropika yang dilakukan setiap bulan. Petugas pencatatan, pelaporan dan evaluasi mempersiapkan/ membuat laporan mutasi obat berdasarkan data penerimaan dan pengeluaran obat. Kegunaan laporan mutasi obat ini adalah:

i) Untuk mengetahui jumlah penerimaan dan pengeluaran obat per triwulan

ii) Untuk mengetahui sisa persediaan obat pada akhir triwulan

iii) Untuk pertanggung jawaban Kepala Instalasi Farmasi/Bendaharawan Barang sesuai peraturan perundangan berlaku.

Laporan mutasi obat ini dibuat rangkap 2, laporan asli dikirim kepada atasan langsung (Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota) dan satu untuk arsip (DepKes RI, 2007).

i. Laporan kegiatan distribusi Laporan kegiatan distribusi berfungsi sebagai laporan Puskesmas atas mutasi obat dan kunjungan resep per tahun. Laporan ini menggunakan kartu dari tiap UPK. Informasi yang didapat antara lain: jumlah obat yang tersedia (stok akhir), jumlah obat yang diterima dan jumlah kunjungan resep. Informasi yang didapat bermanfaat untuk mengetahui jenis dan jumlah persediaan obat di setiap UPK, perbandingan sisa stok dengan pemakaian per bulan dan perbandingan jumlah persediaan dengan jumlah pemakaian per bulan (DepKes RI, 2007).

j. Laporan pencacahan persediaan akhir tahun anggaran Laporan Pencacahan Persediaan Akhir Tahun Anggaran dibuat pada setiap akhir tahun anggaran yang memuat jumlah penerimaan dan pengeluaran selama 1 tahun anggaran dan sisa persediaan pada akhir tahun anggaran yang bersangkutan. Kegunaan Laporan Pencacahan Persediaan Akhir Tahun Anggaran adalah:

i) Untuk mengetahui jumlah penerimaan dan pengeluaran obat selama 1 tahun anggaran.

ii) Untuk mengetahui sisa persediaan obat pada akhir tahun anggaran.

iii) Sebagai pertanggung jawaban dari Kepala Instalasi Farmasi/ Bendaharawan Barang kepada Dinkes Kabupaten.

iv) Laporan tahunan/profil pengelolaan obat di Kabupaten/Kota.

Laporan pencacahan persediaan akhir tahun anggaran ini dibuat rangkap 2, laporan asli dikirim kepada atasan langsung (Kepala Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota) dan satu untuk arsip (DepKes RI, 2007).

H. Pemusnahan/Penghapusan Penghapusan adalah rangkaian kegiatan pemusnahan sediaan farmasi dalam rangka pembebasan barang milik/kekayaan negara dari tanggung jawab

berdasarkan peraturan perundangan-undangan yang berlaku Tujuan penghapusan sediaan farmasi adalah sebagai berikut:

a. Penghapusan merupakan bentuk pertanggung jawaban petugas terhadap sediaan farmasi/obat-obatan yang diurusnya, yang sudah ditetapkan untuk dihapuskan/dimusnahkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. b. Menghindarkan pembiayaan (biaya penyimpanan, pemeliharaan, penjagaan dan lain-lain) atau barang yang sudah tidak layak untuk dipelihara. c. Menjaga keselamatan dan terhindar dari pengotoran lingkungan (DepKes RI,

2007).

Kegiatan Penghapusan Sediaan Farmasi terdiri dari:

- Sediaan farmasi/obat-obatan yang akan dihapuskan dibuatkan daftar beserta alasan-alasannya.

- Sediaan farmasi/obat-obatan yang kadaluwarsa/rusak disimpan pada tempat tertentu dipisahkan sampai pelaksanaan pemusnahan.

- Narkotika dan psikotropika dipisahkan dari obat lainnya.

- Sediaan farmasi/obat-obatan yang akan dihapuskan dilaporkan kepada atasan.

- Panitia pemeriksaan sediaan farmasi/obat-obatan dibentuk melalui Surat Keputusan Bupati/Walikota.

- Berita Acara Hasil Pemeriksaan sediaan farmasi/obat-obatan dibuat oleh Panitia Pemeriksaan dan Penghapusan sediaan farmasi/obat-obatan.

- Penghapusan dilaksanakan setelah ada keputusan dari yang berwenang (DepKes RI, 2007).

I. Supervisi dan Evaluasi

Pengelolaan obat terpadu di Kabupaten/Kota meliputi pengelolaan di bidang pengadaan, bidang distribusi dan pelayanan di Kabupaten/Kota yang memperhatikan aspek logistik dan penggunaan obat dengan tujuan untuk meningkatkan pemanfaatan sumber daya sehingga lebih berdaya guna dan berhasil guna dalam menunjang tercapainya sasaran-sasaran di bidang kesehatan. Supervisi bertujuan untuk peningkatan produktivitas para petugas pengelola obat agar mutu pelayanan obat menjadi optimal. Hal-hal yang menjadi ruang lingkup supervisi adalah sarana infrastruktur, sistem pengelolaan (perencanaan,

pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pencatatan dan pelaporan, monitoring dan evaluasi), sumber daya manusia (jumlah dan kualifikasi), quality assurance dan tersedianya buku-buku pedoman, sarana informasi (DepKes RI, 2007). Evaluasi adalah serangkaian prosedur untuk menilai suatu program dan memperoleh informasi tentang keberhasilan pencapaian tujuan, kegiatan, hasil dan dampak serta biayanya. Fokus utama dari evaluasi adalah mencapai perkiraan yang sistematis dari dampak program. Hal-hal yang merupakan indikator evaluasi pengelolaan obat di kabupaten/kota adalah:

- Alokasi dana pengadaan obat

- Prosentasi alokasi dana pengadaan obat

- Biaya obat perpenduduk

- Ketersediaan obat sesuai kebutuhan

- Pengadaan obat esensial

- Pengadaan obat generik

- Biaya obat per kunjungan kasus penyakit

- Biaya obat per kunjungan resep

- Kesesuaian item obat yang tersedia dengan DOEN

- Kesesuaian ketersediaan obat dengan pola penyakit

- Tingkat ketersediaan obat

- Ketepatan perencanaan

- Prosentase dan nilai obat rusak atau kadaluarsa

- Ketepatan distribusi obat

- Prosentase penyimpangan jumlah obat yang didistribusikan

- Prosentase rata-rata bobot dari variasi persediaan

- Rata-rata waktu kekosongan obat

- Prosentase penggunaan obat tertentu

- Polifarmasi

- Prosentase penggunaan obat rasional

- Prosentase Obat yang tidak diresepkan

- Ketepatan waktu LPLPO

- Ketersediaan obat di pedesaan

- Kesesuaian ketersediaan obat program dengan jumlah kebutuhan

- Kesesuaian permintaan obat Buffer Stock

(DepKes RI, 2007). Dari berbagai indikator tersebut diatas dapat ditentukan berapa besar keberhasilan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan di daerah. Salah satu keberhasilan pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan adalah ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan untuk pelayanan kesehatan dasar mencapai 90% (DepKes RI, 2007).

2.5 Tinjauan Umum Puskesmas 2.5.1. Pengertian Puskesmas Puskesmas adalah unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Secara nasional standar wilayah kerja Puskesmas adalah satu kecamatan. Apabila di satu kecamatan terdapat satu atau lebih puskesmas maka tanggung jawab wilayah kerja dibagi antar puskesmas dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah yaitu desa/kelurahan atau dusun/rukun warga (DepKes RI, 2007). Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah tercapainya kecamatan sehat menuju terwujudnya Indonesia Sehat (DepKes RI, 2007). Kecamatan sehat mencakup 4 indikator utama, yaitu lingkungan sehat, perilaku sehat, cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu dan derajat kesehatan penduduk. Misi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan puskesmas adalah mendukung tercapainya misi pembangunan kesehatan nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat mandiri dalam hidup sehat dengan cara sebagai berikut:

1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya 2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah kerjanya 3. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang diselenggarakannya

4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya

(DepKes RI, 2007).

2.5.2 Kompetensi Apoteker di Puskesmas

Menurut Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, sumber daya manusia untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di puskesmas adalah apoteker. Kompetensi apoteker di puskesmas sebagai berikut:

- Mampu menyediakan dan memberikan pelayanan kefarmasian yang bermutu

- Mampu mengambil keputusan secara professional

- Mampu berkomunikasi yang baik dengan pasien maupun profesi kesehatan lainnya dengan menggunakan bahasa verbal, nonverbal maupun bahasa lokal

- Selalu belajar sepanjang karier baik pada jalur formal maupun informal, sehingga ilmu dan keterampilan yang dimiliki selalu baru (up to date). Sedangkan asisten apoteker hendaknya dapat membantu pekerjaan apoteker dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian tersebut.

(Depkes RI, 2006)

2.5.3 Sarana dan Prasarana di Puskesmas

Prasarana merupakan tempat, fasilitas, dan peralatan yang secara tidak langsung mendukung pelayanan kesehatan, sedangkan sarana adalah suatu tempat, fasilitas, dan peralatan yang secara langsung terkait dengan pelayanan kesehatan. Dalam upaya mendukung pelayanan kefarmasian di puskesmas, diperlukan prasarana dan sarana yang memadai disesuaikan dengan kebutuhan masing- masing puskesmas dengan memperhatikan luas cakupan, ketersediaan ruang rawat inap, jumlah karyawan, angka kunjungan, dan kepuasan pasien. Prasarana dan sarana yang harus dimiliki Puskesmas untuk meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian, antara lain:

- Papan nama “apotek” atau “kamar obat” yang dapat terlihat jelas oleh pasien.

- Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien.

- Peralatan penunjang pelayanan kefarmasian, antara lain timbangan gram dan miligram, mortir-stamper, gelas ukur, corong, rak alat-alat, dan lain-lain.

- Tempat dan alat untuk menunjukkan informasi obat bebas dalam upaya penyuluhan pasien, misalnya untuk memasang poster, tempat brosur, leaflet, booklet, dan majalah kesehatan.

- Sumber informasi dan literatur obat yang memadai untuk pelayanan informasi obat antara lain Farmakope Indonesia edisi terakhir, Informasi Spesialite Obat (ISO) dan Informasi Obat Nasional Indonesia (IONI).

- Tempat dan alat untuk melakukan peracikan obat yang memadai.

- Tempat penyimpanan obat khusus, seperti lemari es untuk supositoria, serum dan vaksin, serta lemari terkunci untuk penyimpanan narkotika sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

- Kartu stok untuk masing-masing jenis obat atau komputer agar pemasukan dan pengeluaran obat, termasuk tanggal kadaluarsa obat, dapat dipantau dengan baik.

- Tempat penyerahan obat yang memadai, yang memungkinkan untuk melakukan pelayanan informasi obat.

(Depkes RI, 2006)

2.6 Tinjauan Puskesmas Marga I

2.6.1 Profil Umum Puskesmas Marga I

A. Geografi UPTD Puskesmas Marga I merupakan puskesmas yang terletak di Kabupaten

Tabanan, Kecamatan Marga, Desa Marga dengan luas wilayah kerja 25,68 km 2 dengan batas wilayah yaitu:

- Batas Utara adalah Kecamatan Baturiti

- Batas Timur adalah Kecamatan Penebel,

- Batas Selatan adalah Wilayah Kerja Puskesmas Marga II,

- Batas Barat adalah Kabupaten Badung. UPTD Puskesmas Marga I ini meliputi 10 Desa dari 42 dusun yang ada di kecamatan Tabanan yaitu:

- Desa Batan Nyuh terdiri dari 4 dusun,

- Desa Tua terdiri dari 3 dusun,

- Desa Petiga terdiri dari 3 dusun,

-

Desa Geluntung terdiri dari 4 dusun,

-

Desa Payangan terdiri dari 9 dusun,

-

Desa Marga terdiri dari 4 dusun,

-

Desa Marga Dauh Puri terdiri dari 2 dusun,

-

Desa Marga Dajan Puri dari 4 dusun,

-

Desa Kuwun terdiri dari 5 dusun,

-

Desa Baru terdiri dari 4 dusun

B.

Demografi

Jumlah penduduk di wilayah kerja UPTD Puskesmas Marga I yaitu sebanyak 25.430 jiwa yang meliputi 12.373 jiwa laki-laki dan 13.057 jiwa penduduk perempuan. Kepadatan penduduk di wilayah kerja UPTD Puskesmas Marga I yaitu 990 jiwa/Km 2 .

C. Agama dan Kebudayaan Sebagian besar penduduk yang ada di wilayah kerja UPTD Puskesmas Marga

I beragama Hindu dan Sisanya beragama Islam dan Kristen.

D. Sosial Ekonomi Masyarakat Mata pencaharian penduduk di wilayah kerja UPTD Puskesmas Marga I

petani. Berikut adalah perincian mata pencaharian

penduduk di wilayah kerja Puskesmas Marga I:

sebagian

besar

sebagai

-

Petani

: 3.125 jiwa

-

Tukang

: 1.148 jiwa

-

Dagang

:

776 jiwa

-

Pegawai Negeri

:

617 jiwa

-

Pegawai Swasta

:

380 jiwa

-

ABRI

:

25 jiwa

E.

Sarana dan Prasarana

Sarana Komunikasi

yang

ada

yaitu

berupa

radio,

TV,

koran,

radio

Komunikasi, dan Telepon. Sarana Pendidikan yang ada yaitu:

- TK

: 12 buah

- SD

: 20 buah

- SMP

:

2 buah

- SMA :

2 buah

Sarana kesehatan berupa:

-

Puskesmas Pembantu

: 2 buah

-

Polindes

: 9 buah

-

Puskesmas Keliling

: 1 buah

-

Ambulance

: 1 buah

-

Sepeda Motor

: 4 buah

F.

Data Ketenagaan Tenaga kerja UPTD Puskesmas Marga I yang ada saat ini berjumlah 43 orang

dengan perincian sebagai berikut:

- Dokter Umum

: 2 orang

- Dokter Gigi

: 2 orang

- Perawat

: 7 orang

- Perawat Gigi

: 3 orang

- Pegawai Administrasi

: 37 orang

- Bidan

: 15 orang

- Asisten Apoteker

: 1 orang

- Pegawai Kontrak

: 3 orang

- Tenaga Sukarela

: 3 orang

- Pegawai kebersihan

: 1 orang

2.6.2 Visi dan Misi Puskesmas Marga I

Sesuai dengan visi Indonesia Sehat 2013 dan kebutuhan pembangunan sektor kesehatan, Depkes Pusat menetapkan visi dan misi pembangunan kesehatan adalah terwujudnya kabupaten dan kecamatan sehat 2013. Kecamatan sehat 2013

merupakan gambaran masyarakat kecamatan masa depan yang hidup di lingkungan yang sehat dan perilaku hidup masyarakatnya yang juga sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan di wilayahnya dengan mendapatkan pelayanan bermutu, serta memiliki derajat kesehatan yang baik.

a. Visi UPTD Puskesmas Marga I yaitu menjadi puskesmas mandiri dan inovatif dengan pelayanan prima guna terwujudnya kecamatan dan kabupaten sehat.

b. Misi UPTD Puskesmas Marga I adalah :

1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerja puskesmas.

2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat

3. Memelihara dan meningkatkan mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan di wilayah kerja.

4. Meningkatkan keterampilan petugas sesuai bidang kerjanya melalui pelayanan yang ramah dan pelayanan yang prima untuk mencapai kemandirian puskesmas.

(Puskesmas Marga I, 2014)

2.6.3 Struktur Organisasi Puskesmas Marga I

Kepala Puskesmas Kelompok Jabatan Tata Usaha UKP Koordinator UKM Koordinator Keuangan Kepegawaian Poli Umum Poli
Kepala Puskesmas
Kelompok Jabatan
Tata Usaha
UKP Koordinator
UKM Koordinator
Keuangan
Kepegawaian
Poli Umum
Poli Gigi
Program
Program KIA
Poli KIA
UGD
Program Gizi
Program
Logistik
Pengembangan
Program
Apotek dan Gudang
Obat
Pustu Tua
Pustu Kalibalang
Polindes Marga
Polindes Marga Dajan
Polindes Tua
Polindes
Polindes Kuwun
Polindes Marga Dauh
Polindes Petiga
Polindes
Polindes

2.6.4 Pelayanan Kesehatan Puskesmas Marga I

A. Layanan di Dalam Gedung

Pelayanan kesehatan di dalam gedung diberikan pada pasien Umum / JKBM / Askes / Jamkesmas adalah sebagai berikut:

-

Poli Umum.

-

Poli Gigi.

-

BP dan UGD Jam Kerja.

-

Poli Imunisasi melayani imunisasi dasar (BCG, DPT, Polio, HB, Campak).

-

Poli Konsultasi Ibu dan Anak yang memberikan layanan KIA komprehensif seperti : pemeriksaan ibu hamil dan segala hal yang berkaitan dengan ibu dan anak.

-

Laboratorium.

B.

Layanan di luar Gedung Pelayana kesehatan di luar gedung meliputi:

-

Puskesmas Keliling (Pusling).

-

Posyandu.

C.

Waktu Pelayanan dan Jam Kerja UPTD Puskesmas Marga I memiliki waktu pelayanan dan jam kerja yang berbeda antara lain:

-

Senin Kamis

Jam pelayanan

: 07.30 14.00 WITA

-

Jumat dan Sabtu Jam Pelayanan

: 07.30 13.00 WITA

(Puskesmas Marga I, 2014)

2.6.5 Tugas dan Fungsi Puskesmas Marga I

Fungsi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas menurut PERMENKES No. 128 tahun 2004 adalah sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, pusat pelayanan kesehatan strata I meliputi pelayanan kesehatan perorganisasian dan masyarakat (Puskesmas Marga I, 2014). Program dan upaya kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas merupakan program pokok yang wajib dilaksanakan oleh pemerintah dalam

mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa puskesmas memiliki peranan yang sangat penting dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya. Puskesmas perlu ditunjang dengan pelayanan kefarmasian yang bermutu dalam memberikan pelayanan kesehatan yang efisien dan efektif, bermutu, terjangkau sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah kerjanya. Dalam melaksanakan upaya tersebut, diperlukan suatu pemahaman tentang pelayanan kesehatan yang berfokus pada pasien tidak lagi berpfokus pada obat (Depkes RI, 2006). Oleh karena itu, sesuai dengan visi pembangunan kesehatan yaitu terwujudnya kecamatan sehat menuju Indonsia sehat, UPTD Puskesmas Marga I melaksanakan upaya kesehatan sebagai berikut. a. Upaya Promosi Kesehatan Masyarakat meliputi: penyuluhan Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), bayi mendapat ASI ekslusif, mendorong upaya terbentuknya Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat serta penyuluhan napza. b. Upaya Penyehatan Lingkungan (PL) meliputi: pengawasan kualitas air, hygiene dan sanitasi makanan dan minuman, penyehatan tempat pembuangan sampah dan limbah, penyehatan lingkungan pemukiman dan jamban keluarga, pengawasan sanitasi tempat-tempat umum. c. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta Keluarga Berencana (KB) meliputi: kegiatan kesehatan ibu, kesehatan bayi, upaya kesehatan balita dan anak pra sekolah, upaya kesehatan anak usia sekolah dan remaja serta

pelayanan keluarga berencana.

d. Upaya Kesehaan Gizi Masyarakat meliputi: pemberian kapsul vitamn A, pemberian tablet zat besi, pemberian PMT pemulihan balita gizi buruk

e. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular, meliputi:

pelaksanaan imunisasi, pencegahan TB paru, malaria, kusta, pelayanan imunisasi, diare, ISPA, demam berdarah dengue (DBD), pencegahan dan penanggulangan PMS dan HIV/AIDS.

f. Upaya pengobatan, meliputi: proses pengobatan dan pemeriksaan laboratorium sederhana.

g. Upaya kesehatan pengembangan, merupakan upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat serta disesuaikan dengan kemampuan masyarakat. Upaya kesehatan pengembangan ini meliputi: Upaya Kesehatan Sekolah (UKS), Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat, Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS), Upaya Kesehatan Jiwa, Upaya Kesehatan Usia Lanjut, Upaya Kesehatan Mata, Upaya Pengobatan Tradisional, Upaya Kesehatan Kerja, dan Upaya Kesehatan Olah raga (Kesorga).

h. Upaya Kesehatan Penunjang, meliputi: Laboratorium, Sistem Pencatatan dan Pelaporan Tingkat Puskesmas (SPPTP), dan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM).

(Puskesmas Marga I, 2014)

2.6.6 Program Puskesmas Marga I

Dalam rangka mewujudkan visi pembangunan kesehatan, Puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan di tingkat pertama. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 128 Tahun 2004, upaya kesehatan tersebut dikelompokkan menjadi 2, yaitu upaya kesehatan wajib dan

upaya kesehatan pengembangan. Dalam melaksanakan ketentuan tersebut, UPTD Puskesmas Marga I menyelenggarakan upaya kesehatan wajib, upaya pengembangan kesehatan, serta upaya kesehatan penunjang (Puskesmas Marga I,

2014).

A. Upaya Kesehatan Wajib

Upaya kesehatan wajib puskesmas merupakan upaya yang ditetapkan berdasarkan komitmen nasional, regional, dan global serta yang mempunyai daya ungkit tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan wajib ini harus diselenggarakan oleh setiap puskesmas yang ada di wilayah puskesmas. Upaya kesehatan wajib yang diselenggarakan UPTD Puskesmas Marga I, meliputi:

-

Upaya Promosi Kesehatan Masyarakat (PKM).

-

Upaya Kesehatan Lingkungan (PL).

-

Upaya Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta Keluarga Berencana (KB).

-

Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat.

-

Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular. (Puskesmas Marga I, 2014)

B.

Upaya Pengembangan Kesehatan

Upaya kesehatan pengembangan Puskesmas merupakan upaya yang ditetapkan berdasarkan pemasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat

serta

yang

tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 128 Tahun 2004. Adapun upaya kesehatan pengembangan yang dilaksanakan di UPTD Puskesmas Marga I, meliputi:

pengembangan

yang disesuaikan dengan kemampuan puskesmas. Upaya kesehatan

dipilih

dari

daftar

upaya

kesehatan

pokok

puskesmas

- Upaya Kesehatan Sekolah (UKS).

- Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat.

- Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS).

- Upaya Kesehatan Jiwa.

- Upaya Kesehatan Usia Lanjut.

- Upaya Kesehatan Mata.

- Upaya Pengobatan Tradisional.

- Upaya Kesehatan Kerja.

- Upaya Kesehatan Olah raga (Kesorga).

(Puskesmas Marga I, 2014)

Upaya kesehatan penunjang yang dilaksanakan di UPTD Puskesmas Marga I meliputi:

- Laboratorium.

- Sistem Pencatatan dan Pelaporan Tingkat Puskesmas (SPPTP).

- Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM).

(Puskesmas Marga I, 2014)

2.6.7 Penggunaan Obat Rasional (POR) Dasar hukum mengenai kebijakan Penggunaan Obat Rasional (POR) di Indonesia mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.189/SK/Menkes/III/2006 tentang Kebijakan Obat Nasional yang membahas tentang Kebijakan Penggunaan Obat Rasional. Penggunaan Obat Rasional (POR) merupakan penggunaan obat dimana pasien menerima obat yang sesuai dengan kebutuhannya, dalam periode waktu yang adekuat, dan dengan harga yang

terjangkau (WHO, 1985). Kriteria penggunaan obat yang rasional (POR) meliputi:

a. Tepat Diagnosis Obat diberikan sesuai dengan diagnosis. Apabila diagnosis tidak ditegakkan dengan benar maka pemilihan obat akan salah.

b. Tepat Indikasi Obat yang diberikan harus yang tepat bagi suatu penyakit.

c. Tepat Obat Obat yang dipilih harus memiliki efek terapi sesuai dengan penyakit.

d. Tepat Dosis Dosis, jumlah, cara, waktu, dan lama pemberian obat harus tepat. Apabila salah satu dari empat hal tersebut tidak dipenuhi, maka efek terapi dapat tidak tercapai.

- Tepat Jumlah Obat yang diberikan harus dalam jumlah yang cukup untuk pasien.

- Tepat Cara Pemberian Cara pemberian obat yang tepat, misalnya pada pemberian antibiotik, yaitu tidak boleh dicampur dengan susu karena akan membentuk ikatan sehingga tidak dapat diabsorpsi.

- Tepat Interval Waktu Pemberian Cara pemberian obat hendaknya dibuat sederhana dan praktis agar mudah dipatuhi oleh pasien. Semakin sering frekuensi pemberian obat dalam satu hari (misalnya 4 kali sehari), semakin rendah tingkat ketaatan minum obat. Obat yang harus diminum 3 x sehari harus diartikan bahwa obat tersebut harus diminum dengan interval setiap 8 jam.

- Tepat Lama Pemberian Lama pemberian obat harus tepat sesuai masing-masing penyakit. Misalnya, untuk antibiotik lama pemberian minimal adalah 3 hari.

e. Tepat Penilaian Kondisi Pasien Penggunaan obat disesuaikan dengan kondisi pasien, antara lain dengan memperhatikan kontraindikasi obat, komplikasi, kehamilan, menyusui, lanjut usia, dan bayi.

f. Waspada Efek Samping Obat dapat menimbulkan efek samping, yaitu efek tidak diinginkan yang timbul pada pemberian obat dengan dosis terapi, seperti timbulnya ngantuk, mual, muntah, gatal-gatal, dan lain sebagainya.

g. Efektif, Aman, Mutu Terjamin, Tersedia Setiap Saat, dan Harga Terjangkau

h. Untuk mencapai kriteria efektif, aman, mutu terjamin, tersedia setiap saat, dan harga terjangkau, obat dibeli melalui jalur resmi.

i. Tepat Tindak Lanjut (Follow Up) Apabila pengobatan sendiri telah dilakukan, bila sakit berlanjut konsultasikan ke dokter.

j. Tepat Penyerahan Obat (Dispensing) Penggunaan obat rasional melibatkan penyerah obat dan pasien sendiri sebagai konsumen. Resep yang dibawa ke apotek atau tempat penyerahan obat di Puskesmas harus dipersiapkan obatnya dan diserahkan kepada pasien dengan informasi yang tepat.

k. Pasien Patuh Terhadap Perintah Pengobatan yang Diberikan Ketidakpatuhan minum obat dapat terjadi pada keadaan-keadaan seperti berikut.

- Jenis sediaan obat beragam.

- Jumlah obat terlalu banyak.

- Frekuensi pemberian obat per hari terlalu sering.

- Pemberian obat dalam jangka panjang tanpa informasi.

- Pasien tidak mendapatkan informasi yang cukup mengenai cara menggunakan obat.

- Timbulnya efek samping.

(DepKes RI, 2008)

2.6.8 Pengelolaan Obat di Puskesmas Marga I

Pengelolaan perbekalan farmasi di Puskesmas Marga I berpusat pada gudang obat dan Apotek yang dikelola oleh seorang asisten apoteker. Pengelolaan obat di puskesmas bertujuan untuk menjamin kelangsungan ketersediaan dan keterjangkauan pelayanan obat yang efisien, efektif dan rasional. Ruang lingkup pengelolaan obat secara keseluruhan mencakup perencanaan, permintaan, penerimaan, penyimpanan, distribusi, pengendalian penggunaan dan pencatatan dan pelaporan serta pengelolaan obat expired dan rusak.

A. Perencanaan Perencanaan adalah suatu proses kegiatan seleksi obat dan perbekalan kesehatan untuk menentukan jumlah obat dalam rangka pemenuhan kebutuhan Puskesmas. Tujuan perencanaan adalah untuk mendapatkan:

- Perkiraan jenis dan jumlah obat dan perbekalan kesehatan yang mendekati kebutuhan.

- Meningkatkan penggunaan obat yang rasional.

- Meningkatkan efisiensi pengunaan obat. Data mutasi obat puskesmas merupakan salah satu faktor utama dalam mempertimbangkan perencanaan kebutuhan obat tahunan. Ketepatan dan kebenaran data di puskesmas akan berpengaruh terhadap ketersediaan dan perbekalan kesehatan secara keseluruhan di Kabupaten/Kota. Dalam proses perencanaan kebutuhan obat pertahun puskesmas diminta menyediakan data pemakaian obat dengan mengunakan LPLPO. Selanjutnya Unit Pengelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan (UPOPPK) yang akan melakukan kompilasi dan

analisa terhadap kebutuhan obat Puskesmas diwilayah kerjanya (DepKes RI,

2004).

Perencanaan juga dilakukan dengan mengecek obat yang habis atau yang kurang dibandingkan dengan stok optimum serta menentukan kategori pemakaian obat sering, jarang atau tidak pernah digunakan.

B. Permintaan Permintaan obat bertujuan untuk memenuhi kebutuhan obat di masing- masing unit pelayanan kesehatan sesuai dengan pola konsumsi obat di masing- masing wilayah kerjanya. Permintaan obat untuk mendukung pelayanan obat di masing-masing Puskesmas diajukan oleh Kepala Puskesmas kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan menggunakan format LPLPO, sedangkan permintaan dari sub unit ke Kepala Puskesmas dilakukan secara periodik menggunakan LPLPO Sub unit. Berdasarkan pertimbangan efisien dan ketepatan waktu penyerahan obat kepada Puskesmas, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat menyusun petunjuk lebih lanjut mengenai alur permintan dan penyerahan obat secara langsung dari UPOPPK ke Puskesmas. Alur permintaan obat dapat dilihat pada gambar 2.3

Alur permintaan obat dapat dilihat pada gambar 2.3 Gambar 2.3 Alur Permintaan Obat Puskesmas - Kegiatan

Gambar 2.3 Alur Permintaan Obat Puskesmas

- Kegiatan permintaan terdiri dari permintaan rutin dan permintaan khusus. Permintaan rutin dilakukan sesuai jadwal, sedangkan permintaan khusus dilakukan jika kebutuhan meningkat, menghindari kekosongan dan penanganan kejadian luar biasa.

- Menentukan jumlah permintaan berdasarkan data pemakaian obat peride sebelumnya, jumlah kunjungan, data penyakit dan frekuensi distribusi obat oleh UPOPPK

- Menghitung kebutuhan obat dilakukan dengan memperkirakan jumlah periode yang akan datang sama dengan pemakaian periode sebelumnya. Perhitungan kebutuhan obat dapat dilihat pada rumus dibawah:

SO = SK+WT+SP+WK

Keterangan:

SO

= Stok optimum

SK

= Stok Kerja adalah pemakaian rata-rata per periode distribusi

WK = Waktu kekosongan obat (lamanya kekosongan obat dihitung dalam hari) WT = Waktu tunggu (Lead Time), dihitung mulai dari permintaan obat oleh Puskesmas sampai dengan penerimaan obat di Puskesmas. SP = Stok penyangga (buffer stock) adalah persediaan obat untuk mengantisipasi terjadinya peningkatan kunjungan, keterlambatan kedatangan obat, dan pemakaian.

C. Penerimaan Penerimaan adalah suatu kegiatan menerima obat-obatan yang diserahkan dari unit pengelola yang lebih tinggi kepada unit pengelolaan di bawahnya. Tujuan penerimaan adalah agar obat yang diterima sesuai dengan kebutuhan berdasarkan permintaan yang diajukan oleh Puskesmas. Setiap penyerahan obat oleh UPOPPK kepada Puskesmas dapat dilaksanakan setelah mendapat persetujuan dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau pejabat yang berwenang (DepKes RI, 2004). Petugas penerimaan obat melakukan pengecekan terhadap obat-obat yang diserahkan, mencakup jumlah kemasan/peti, jenis dan jumlah obat, bentuk obat sesuai dengan isi dokumen (LPLPO) dan ditanda tangani oleh petugas

penerima/diketahui Kepala Puskesmas. Selain pemeriksaan nama, jenis, jumlah dan ED, pemeriksaan saat penerimaaan juga perlu memeriksa kualitas fisik sediaan. Bila tidak memenuhi persyaratan petugas penerima dapat mengajukan keberatan. Jika terdapat kekurangan, penerima obat wajib menuliskan jenis yang kurang. Setiap penambahan obat-obatan, dicatat dan dibukukan pada buku penerimaan. Setelah semua pemeriksaan dilakukan dilanjutkan dengan penyimpanan obat.

D. Penyimpanan Penyimpanan adalah suatu kegiatan pengamanan terhadap obat-obatan yang diterima agar aman (tidak hilang), terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap terjamin. Menurut Pedoman Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas (2007), terdapat beberapa sistem yang umum dalam pengaturan obat:

- Alfabetis berdasarkan nama generik Obat disimpan berdasarkan urutan alfabet nama generiknya. Saat menggunakan sistem ini, pelabelan harus diubah ketika daftar obat esensial direvisi atau diperbaharui.

- Kategori terapetik atau farmakologi Obat disimpan berdasarkan indikasi terapetik dan kelas farmakologinya.

- Bentuk sediaan Dalam sistem ini, obat disimpan berdasarkan bentuk sediaannya. Dimana sediaan padat dipisahkan dari sediaan cair, dan cairan seperti infus sebaiknya di letakkan di rak bawah. Selanjutnya metode-metode pengelompokan lain dapat digunakan untuk mengatur obat secara rinci. Kondisi penyimpanan yang dipersyaratkan, salah satu contohnya adalah penyimpanan sediaan cair pada rak.

- Frekuensi penggunaan Untuk obat yang sering digunakan (fast moving) seharusnya disimpan pada ruangan yang dekat dengan tempat penyiapan obat. Selain itu persyaratan gudang penyimpanan obat adalah sebagai berikut:

- Persyaratan gudang meliputi: luasnya minimal 3x4m 2 , ruangan kering tidak lembab, ada ventilasi, lantai terbuat dari tegel/semen, dinding dibuat licin, mempunnyai kunci, tersedia lemari/laci khusus untuk narkotik dan psikotropika dan ada pengukur suhu ruang.

- Pengaturan penyimpanan disusun secara alphabetis, dirotasi dengan system FIFO dan FEFO, obat disimpan di rak, cairan dipisahkan dari padatan dan sera, vaksin, suppositoria disimpan dalam lemari pendingin. Dalam penyimpanan obat harus memperhatikan kondisi-kondisi tertentu untuk menjamin sediaan obat stabil selama penyimpanan. Kondisi penyimpanan tersebut meliputi:

- Kondisi penyimpanan

Untuk menjaga mutu obat perlu diperhatikan factor-faktor sebagai berikut:

1.

Kelembaban Udara lembab dapat mempercepat kerusakan obat sehingga perlu dilakukan upaya-upaya yaitu ventilasi harus baik, simpan obat ditempat kering, wadah harus tertutup rapat, bila memungkinkan pasang kipas angina atau AC, biarkan pengering ada dalam wadah tablet atau kapsul.

2.

Sinar Matahari Sediaan cairan, larutan dan injeksi cepat rusak jika terkena matahari sehingga untuk mencegah kerusakan dilakukan: wadah botol atau vial yang berwarna gelap, jangan biarkan diruang terbuka, obat yang penting disimpan di lemari, jendela diberi gorden dan kaca jendela dicat putih.

3.

Temperatur/Panas Sediaan seperti salep, krim dan supositoria sangat sensitive terhadap pengaruh panas dan dapat memelh sehingga dihindarkan dari udara panas. Beberapa jenis obat juga harus disimpan dalam suhu 4-8°C seperti: vaksin, sera, produk darah, antitoksin, insulin, injeksi antibiotika yang sudah dipakai dan injeksi oksitosin. Cara mencegah kerusakan karena panas yaitu: pasang ventilasi udara, atap gedung dibuat dari metal, buka jendela sehingga terjadi sirkulasi udara.

Untuk menghindari kerusakan fisik dilakukan hal berikut:

Dus obat jangan ditumpuk terlalu tinggi karena obat yang ada di dalam dus bagian tengah ke bawah dapat pecah dan rusak, selain itu akan menyulitkan pengambilan obat dalam dus yang teratas.

Penumpukan dus obat sesuai dengan petunjuk pada karbon, jika tidak tertulis pada karton maka maksmal ketinggian tumpukan delapan dus.

Hindari kontak benda-benda yang tajam.

5. Kontaminasi bakteri Wadah obat harus selalu tertutup rapat. Apabila wadah terbuka maka obat mudah tercemar oleh bakteri dan jamur Pengotoran

Ruang yang kotor dapat mengundang tikus dan serangga lain yang kemudian merusak obat. Oleh karena itu ruangan harus dibersihkan satu minggu sekali, lantai disapu dan di pel dan rak dibersihkan. Beberapa obat perlu disimpan pada tempat khusus untuk memudahkan pengawasan, yaitu:

- Obat golongan narkotika dan psikotropika masing-masing disimpan dalam lemari khusus dan terkunci. - Obat-obat seperti vaksin dan supositoria harus disimpan dalam lemari pendingin untuk menjamin stabilitas sediaan. - Beberapa cairan mudah terbakar seperti aseton, eter dan alkohol disimpan dalam lemari yang berventilasi baik, jauh dari bahan yang mudah terbakar dan peralatan elektronik. Cairan ini disimpan terpisah dari obat-obatan. (Depkes RI, 2006)

E. Distribusi Distribusi merupakan kegiatan pengeluaran dan penyerahan obat secara merata dan teratur untuk memenuhi kebutuhan sub-sub unit pelayanan kesehatan. Tujuannya adalah memenuhi kebutuhan obat sub unit yang ada diwilayah puskesmas dengan jenis, mutu, jumlah, dan tepat waktu. Kebutuhan sub unit pelayanan kesehatan yang ada di wilayah kerja Puskesmas dapat berupa sub unit kesehatan di lingkungan Puskesmas (kamar obat dan laboratorium), Puskesmas

6.

pembantu, Puskesmas keliling, dan posyandu. Kegiatan yang dilakukan dalam proses distribusi ini antara lain, menentukan frekuensi distribusi, menentukan jumlah dan jenis obat yang diberikan, dan melaksanakan penyerahan obat (DepKes RI, 2004). Kegiatan distribusi meliputi menentukan frekuensi distribusi, menentukan jumlah dan jenis obat yang diberikan dan melaksanakan penyerahan obat. Gudang obat Puskesmas mendistribusikan obat ke apotek puskesmas, pustu, pusling, dan poskesdes bersama-sama dengan formulir LPLPO yang disimpan sebagai tanda bukti penerimaan obat. Obat yang diterima oleh sub unit kemudian didistribusikan ke pasien berdasarkan resep dokter yang diterima.

F. Pengendalian

Pengendalian persediaan adalah suatu kegiatan untuk memastikan tercapainya sasaran yang diinginkan sesuai dengan strategi dan program yang telah ditetapkan sehingga tidak terjadi kelebihan dan kekurangan obat di unit pelayanan kesehatan dasar. Pengendalian obat terdiri dari pengendalian persediaan, pengendalian penggunaan, dan penanganan obat hilang. Kegiatan yang dilakukan dalam proses pengendalian meliputi:

-

Memperkirakan pemakaian rata-rata periode tertentu di Puskesmas dan seluruh unit pelayanan. Jumlah stok ini disebut stok kerja

-

Menentukan stok optimum yang merupakan jumlah stok optimal yang harus ada untuk unit pelayanan agar tidak mengalami kekurangan.

-

Menentukan stok pengaman yang merukanan jumlah stok untuk mencegah hal yang tidak terduga.

-

Menentukan waktu tunggu (leadtime), yaitu waktu yang diperlukan mulai dari pemesanan sampai obat diterima.

G.

Pelayanan Obat

Pelayanan obat merupakan proses kegiatan yang meliputi aspek teknis dan non teknis yang harus dikerjakan mulai dari penerimaan resep hingga penyerahan

obat kepada pasien. Tujuan pelayanan obat adalah agar pasien mendapat obat

sesuai dengan resep dokter dan mendapat informasi yang baik dan benar mengenai obat yang diterima. Informasi yang diberikan meliputi nama obat, indikasi obat, dosis, cara penggunaan, dan efek samping. Kegiatan pelayanan obat meliputi penataan pelayanan obat, penyiapan obat, penyerahan obat, informasi obat, dan perlengkapan peracikan obat.

H. Pencatatan dan Pelaporan Pencatatan dan pelaporan data obat di Puskesmas merupakan rangkaian kegiatan dalam rangkat penatalaksanaan obat-obatan secara tertib, baik obat- obatan yang diterima, disimpan, didistribusikan dan digunakan di Puskesmas dan atau unit pelayanan lainnya. Puskesmas bertanggungjawab atas terlaksananya pencatatan dan pelaporan obat yang terlibat dan lengkap serta tepat waktu. Tujuan dari pencatatan dan pelaporan adalah sebagai bukti bahwa suatu kegiatan telah dilakukan, sebagai sumber data untuk pengendalian dan pengaturan, sebagai sumber data untuk menyusun laporan.

- Sarana pencatatan dan pelaporan Sarana yang digunakan untuk pencatatan dan pelaporan di Puskesmas adalah LPLPO, kartu stok dan buku catatan harian. LPLPO juga dimanfaatkan untuk analisi penggunaan, perencanaan kebutuhan obat, pengendalian persediaan dan pembuatan laporan pengelola obat. Untuk sub unit pencatatan dilakukan di LPLPO dan buku catatan penggunaan harian.

- Penyelanggraan pencatatan Penyelenggaraan pencatatan dilakukan setiap obat dikeluarkan dari gudang ataupun digunakan di unit pelayanan dengan menggunakan kartu stok. Laporan penggunaan dan permintaan dibuat berdasarkan cacatan penggunaan harian.

- Alur pelaporan Data LPLPO merupakan kompilasi dari data LPLPO sub unit dan Puskesmas Induk dimana LPLPO dibuat 3 rangkap meliputi:

i) Dua rangkap untuk diberikan ke Dinkes Kabupaten/Kota melalui UPOPPK, untuk diisi jumlah yang diserahkan. Setelah ditanta tangani disertai satu rangkap LPLPO dan satu rangkap lainya disimpan di

UPOPPK.

ii) Satu rangkap untuk arsip Puskesmas.

- Periode pelaporan Pelaporan dilakukan secara periodic, setiap awal bulan. Untuk Puskesmas yang mendapat distribusi setiap bulan LPLPO dikirim setiap awal bulan, begitu juga untuk Puskesmas yang mendapatkan distribusi setiap triwulan. (Dinkes Provinsi Bali, 2007). Pencatatan untuk obat yang rusak dan kadaluarsa dilakukan dimasing- masing puskesmas, baik untuk obat-obat yang dilaporkan dari pustu maupun unit-unit pelayanan kehatan lain. Dari puskesmas dilakukan pelaporan ke gudang obat untuk nantinya dilakukan pencatatan dan akhirnya akan diajukan permohonan pemusnahan ke inspektorat.

I. Penanganan Obat Expired Date (ED) dan Rusak

Pelaksanaan penarikan atau pengembalian obat ED atau rusak didelegasikan oleh Kepala Puskesmas kepada Petugas Gudang Puskesmas. Upaya yang dilakukan untuk menarik kembali obat yang Expired Date atau rusak dari seluruh Sub Unit di wilayah kerja Puskesmas induk. Petugas dapat melaksanakan

penarikan kembali obat yang Expired Date atau rusak dari sub unit puskesmas yang selanjutnya akan dikirim ke Gudang Farmasi Kabupaten. Prosedur pengembalian obat ED dan rusak adalah sebagai berikut:

- Menghitung fisik obat yang sudah Expired Date (ED)/rusak.

- Mencatat nama obat, satuan obat, jumlah obat, no.batch, dan tanggal EDnya obat.

- Membuat berita acara pengembalian obat Expired Date (ED)/rusak disertai Lampiran Obat Expired Date (ED)/rusak yang ditandatangani oleh petugas beserta Pimpinan.

- Melaksanakan pengembalian obat dari sub unit ke Gudang Puskesmas, dilakukan setiap ada obat Expired Date (ED)/rusak di sub unit puskesmas.

BAB III KEGIATAN PKP APOTEKER DAN PEMBAHASAN TUBULAR LOG BOOK

Praktek Kerja Profesi (PKP) Apoteker di pemerintahan terdiri dari 4 rangkaian kegiatan yaitu Praktek Kerja Profesi (PKP) Apoteker di Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Praktek Kerja Profesi (PKP) Apoteker di Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan, Praktek Kerja Profesi (PKP) Apoteker di UPT Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan, dan Praktek Kerja Profesi (PKP) Apoteker di UPTD Puskesmas Marga I Kabupaten Tabanan. PKP Apoteker di pemerintahan dilaksanakan selama hari kerja dimulai dari tanggal 1 juni 2015 hingga tanggal 1 juli 2015. Kegiatan PKPA ini dilaksanakan sebanyak lima satuan kredit semester (5 SKS), dimana pelaksanaan 1 SKS terbagi untuk PKPA di Dinas Kesehatan Provinsi Bali, 1 SKS Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan, dan Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan, sedangkan 3 SKS untuk pelaksanaan PKPA di UPTD Puskesmas Marga I.

3.1 Praktek Kerja Profesi Apoteker di Dinas Kesehatan Provinsi Bali

Pelaksanaan PKPA di Dinas Kesehatan Provinsi Bali dilaksanakan selama 1 hari pada tanggal 1 Juni 2015. Kegiatan yang dilakukan adalah pembekalan

melalui kuliah umum dan diskusi yang diberikan oleh Ibu dr. Ni Made Laksmiwati dapat dilihat pada Tabel 3.1. Tabel 3.1 Rincian kegiatan PKPA di Dinas Kesehatan Provinsi Bali.

Bidang

Aspek Umun Kesehatan Pekerjaan Kefarmasian

Materi

Pembekalan umum di Dinkes Privinsi Bali Profil umum Dinkes Provinsi Bali, visi dan misi, struktur organisasi, program-program Dinas Kesehatan Provinsi Bali, alur pemerintahan dan distribusi obat serta peranan dan fungsi apoteker di Dinas Kesehatan Provinsi Bali

Uraian

Kegiatan

Penyampaian materi oleh Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan mengenai:

PKPA

1. Pengenalan mengenai gambaran umum tentang pekerjaan kefarmasian di Provinsi Bali 2. Tantanagan, Strategi, dan pola pikir pelayanan kefarmasian. 3. Regulasi dan pedoman pendukung untuk pelaksanaan pelayanan kefarmasian. 4. Pengelolaan sediaan farmasi di Dinkes Provinsi Bali

   

5. Tenaga farmasi seksi sertifikasi perijinan dan perbekalan kefarmasian.

6. Alur penyediaan obat.

7. Alur distribusi obat.

8. Tata cara memperoleh STRA, SIPA, SIKA

Diskusi mengenai materi yang disampaikan.

Hari/Tanggal

 

Senin, 1 juni 2015

Alokasi waktu

Nama

dan

Paraf

Paraf dr. Ni Made laksmiwati

preseptor

3.1.1. Pembekalan Umum tentang Dinas Kesehatan Provinsi Bali.

Pembekalan dilakukan melalui kuliah dan pemaparan, yang kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab. Profil, visi dan misi Dinas Kesehatan Provinsi Bali, serta struktur organisasi Dinas Kesehatan Provinsi Bali telah terlampir dalam bab II.

3.1.2. Tantangan, Strategi, dan Pola Pikir Pelayanan Kefarmasian

Berdasarkan kuliah umum yang diberikan oleh Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan diketahui adanya tantangan dalam pelayanan kefarmasian terkait dalam

kuantitas dan kualitas tenaga kefarmasian yang belum merata dan belum optimal. Hal ini tentu saja mempengaruhi tingkat kesuksesan penggunaan obat yang rasional. Untuk mengatasi hal tersebut, Dinas Kesehatan Provinsi Bali berupaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Bali dengan cara meningkatkan ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat dan alat kesehatan serta menjamin keamanan, khasiat, kemanfaatan dan mutu sediaan

farmasi, alat kesehatan dan makanan dimana strategi yang diterapkan antara lain:

1. Meningkatkan Penggunaan Obat Rasional (POR).

2. Meningkatkan pelayanan kefarmasian yang bermutu.

3. Meningkatkan ketersediaan, dan keterjangkauan obat, terutama obat esensial generik.

Meningkatkan keamanan, khasiat dan mutu obat dan makanan beredar.

3.1.3.

Regulasi dan Pedoman Pendukung untuk Pelaksanaan Pelayanan

Kefarmasian. Dalam keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pelayanan kefarmasian, Dinas Kesehatan Provinsi Bali berpedoman pada:

1. UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

2. UU No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit

3. PP No. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian

4. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1197/Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit

5. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek

6. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.HK.02.02/MENKES/068/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah.

3.1.4. Pengelolaan Sediaan Farmasi di Dinkes Provinsi Bali

Pengelolaan sediaan farmasi di Dinkes Provinsi Bali merupakan suatu siklus

yang terdiri dari 9 proses, yaitu:

1. Pemilihan.

2. Perencanaan.

3. Pengadaan.

4. Penerimaan.

5. Penyimpanan.

6. Distribusi.

7. Pengendalian.

8. Penghapusan.

9. Administrasi dan pelaporan.

3.1.5. Tugas Pokok Seksi Sertifikasi Perijinan dan Perbekalan Kefarmasian.

Tenaga kesehatan di Seksi Sertifikasi Perijinan Dan Perbekalan Kesehatan di Dinas Kesehatan Provinsi Bali tahun 2014 berjumlah 17 orang yang terdiri dari:

1.

2.

3.

Apoteker Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) Tenaga Kesehatan lain

: 3 orang : 2 orang :12 orang

Adapun tugas Seksi Sertifikasi, Perijinan, dan Perbekalan Kesehatan (SPPK)

Dinas Kesehatan Provinsi Bali adalah:

1. Pengelolaan obat publik.

a. Perencanaan kebutuhan Obat Buffer Stok dan Obat Program.

b. Pengadaan Obat Buffer Stok.

c. Pelaporan.

2. Pengelolaan gudang farmasi

fungsi

Tugas

Kesehatan (SPPK) dalam pengelolaan gudang farmasi adalah sebagai berikut:

a. Penyimpanan obat.

b. Distribusi obat.

c. Pelaporan.

d. Pemusnahan obat.

pokok

dan

Seksi

Sertifikasi,

Perijinan,

dan

Perbekalan

3. Perizinan, pembinaan dan pengawasan alat kesehatan (Alkes) dan perbekalan kesehatan rumah tangga (PKRT).

Perijinan, dan Perbekalan

alat

kesehatan (Alkes) dan perbekalan kesehatan rumah tangga (PKRT) adalah sebagai berikut:

Tugas

pokok

dan

fungsi

Seksi

Sertifikasi,

Kesehatan (SPPK) dalam Perizinan, pembinaan dan pengawasan

a. Perizinan Penyaluran Alat Kesehatan (PAK) pusat dan cabang.

b. Perizinan sertifikat produksi PKRT.

c. Pembinaan sarana distribusi alkes.

d. Pengawasan alkes dan PKRT baik pre market maupun post market

(melalui sampling alkes dan PKR).

4. Perizinan dan pembinaan sarana produksi dan distribusi obat, obat tradisional

dan kosmetika.

Tugas pokok dan fungsi Seksi Sertifikasi, Perijinan, dan Perbekalan Kesehatan (SPPK) dalam perizinan dan pembinaan sarana produksi dan

distribusi obat, obat tradisional dan kosmetika adalah sebagai berikut:

a. Perizinan Pedagang Besar Farmasi (PBF) pusat dan cabang.

b. Perizinan industri kosmetika.

c. Perizinan Usaha Obat Tradisional (Industri Obat Tradisional/IOT dan Usaha Kecil Obat Tradisional/UKOT).

d. Pembinaan sarana produksi dan distribusi obat, obat tradisional, dan kosmetika.

e. Pelaporan terkait penggunaan obat narkotika dan psikotropika oleh sarana

kefarmasian

5. Peningkatan pelayanan kefarmasian. Tugas pokok dan fungsi Seksi Sertifikasi, Perijinan, dan Perbekalan Kesehatan (SPPK) dalam peningkatan pelayanan kefarmasian adalah sebagai berikut:

a. Pembinaan saran serta tenaga kesehatan dan kefarmasian.

b. Pelaporan kegiatan kefarmasian (Penggunaan Obat Rasional/POR dan

Pelayanan Inforasi Obat/PIO).

6. Pembinaan dan pengawasan makanan. Tugas pokok dan fungsi Seksi Sertifikasi, Perijinan, dan Perbekalan

Kesehatan (SPPK) dalam pembinaan dan pengawasan makanan adalah sebagai berikut:

a. Pembinaan terkait keamanan makanan dan jajanan anak sekolah.

b. Pengawasan makanan melalui uji bahan berbahaya pada makanan (seperti:

formalin, borak, pengawet dan pewarna).

7. Perizinan sarana dan tenaga kesehatan. Tugas pokok dan fungsi Seksi Sertifikasi, Perijinan, dan Perbekalan Kesehatan (SPPK) dalam perizinan sarana dan tenaga kesehatan adalah sebagai berikut:

a. Perizinan Laboratorium

b. Penerbitan rekomendasi surat tugas dokter spesialis.

8. Administrasi (Perencanaan, pelaporan, dan evaluasi hasil kegiatan). Tugas pokok dan fungsi Seksi Sertifikasi, Perijinan, dan Perbekalan

Kesehatan (SPPK) dalam perizinan sarana dan tenaga kesehatan Administrasi (Perencanaan, pelaporan, dan evaluasi hasil kegiatan) adalah sebagai berikut:

a. Penyusunan rencana kerja tahunan dari berbagai sumber dana (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah/APBD, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/APBN, dan Dana Alokasi Khusus).

b. Pelaporan SAI (SAK dan SIMAK-BMN).

c. Pelaporan dan evaluasi hasil kegiatan APBN dan APBD.

d. Pengumpulan data kefarmasian dan alat kesehatan.

e. Penyusunan profil kefarmasian dan alkes.

9. Pertanggungjawaban keuangan. Tugas pokok dan fungsi Seksi Sertifikasi, Perijinan, dan Perbekalan Kesehatan (SPPK) dalam pertanggungjawaban keuangan adalah sebagai

berikut:

a.

Melaksanakan proses penyelesaian pertanggungjawaban keuangan dari masing-masing kegiatan.

b.

Pelaporan.

3.1.6.

Alur Penyediaan Obat

Penyediaan

obat

secara

nasional

yang

melibatkan

Dinas

Kesehatan

di

Indonesia adalah mengikuti alur seperti gambar 3.1.

melibatkan Dinas Kesehatan di Indonesia adalah mengikuti alur seperti gambar 3.1. Gambar 3.1 Alur Penyediaan Obat

Gambar 3.1 Alur Penyediaan Obat Nasional

Keterangan:

1. Dana dari Pemerintah Pusat (APBN) dibagi menjadi dua yaitu dana untuk Kementrian Kesehatan, tepatnya Dirjen Bina Farmasi, dan dana untuk DAK.

2. Dana untuk Dirjen Bina Farmasi selanjutnya diperuntukkan untuk penyedian obat di IF Pusat yaitu untuk pengadaan obat untuk bencana (persiapan bila terjadi KLB), obat program PP dan PL serta obat untuk flu burung. Dana tersebut juga disalurkan ke Embarkasi Debarkasi Haji yaitu untuk pengadaan vaksin dan obat-obatan untuk masyarakat Indonesia yang akan naik haji.

3. Obat-obat yang disediakan oleh IF Pusat lalu disalurkan ke Dinkess Provinsi untuk didistribusikan ke Pelayanan Kesehatan Masyarakat yang memerlukan. Adapun siklus distribusi obat lintas provinsi ditampilkan pada Gambar 3.2.

4. Selain menerima obat dari IF Pusat, obat-obat yang disediakan oleh IF Provinsi juga bersumber dari dana APBD I. Obat-obat yang disediakan oleh Dinkes Provinsi adalah obat vaksin, obat program PP dan PL, obat program gizi dan KIA dan obat untuk bencana atau KLB.

5. Dana untuk DAK akan disalurkan ke Dinkes Kabupaten/Kota. Selanjutnya DAK akan digunakan untuk penyediaan obat-obat PKD di dinas setempat.

6. Selain dana DAK, Dinkes memiliki dana APBD II yang digunakan untuk penyediaan obat penunjang yang tidak terdapat dalam PKD namun diperlukan oleh masyarakat di wilayah kerja Dinkes Kabupaten/Kota.

3.1.7. Alur Distribusi Obat

Berdasarkan program lintas provinsi, alur distribusi obat hingga sampai ke Dinkes Kabupaten/Kota diawali dari Direktorat Jenderal Bina Farmasi dan Alat

Kesehatan. Alur tersebut dapat dilihat pada gambar 3.2.

Alat Kesehatan. Alur tersebut dapat dilihat pada gambar 3.2. Gambar 3.2 Siklus Distribusi Obat Program Lintas

Gambar 3.2 Siklus Distribusi Obat Program Lintas Provinsi

Keterangan:

1. Garis 1: Direktorat Jenderal Bina Farmasi dan Alat Kesehatan bertugas menyalurkan obat dan alat kesehatan ke Dinas Kesehatan Provinsi

2. Garis 2: Dinas Kesehatan Provinsi selanjutnya bertugas menyalurkan obat dan alat kesehatan ke Instalasi Farmasi Provinsi.

4. Garis 2a: Tim Program Pusat selanjutnya bertugas mendistribusikan obat program kepada pemegang program di Dinas Kesehatan Provinsi.

5. Garis 3a: Pemegang program di Dinas Kesehatan Provinsi selanjutnya bertugas mendistribusikan obat program ke pemegang program Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

6. Garis 1b, 2b: Pemegang program di Dinas Kesehatan Provinsi juga dapat melaporkan obat program yang diterima untuk selanjutnya disimpan di Instalasi Farmasi Provinsi.

7. Garis 3b: Instalasi Farmasi Provinsi selanjutnya dapat menyalurkan obat program ke Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota dengan tembusan ke pemegang program di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

8. Garis 1c, 2c: Pemegang program Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota juga harus melaporkan obat-obat program yang diterima ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk selanjutnya didistribusikan ke Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota.

9. Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota selanjutnya bertugas mendistribusikan obat program ke Pelayanan Kesehatan Masyarakat (PKM) yaitu puskesmas.

3.2 Praktek Kerja Profesi Apoteker di Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan dilaksanakan selama satu hari, yaitu pada hari Rabu 3 Juni 2015. Adapun uraian kegiatan PKPA di Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan ditampilkan pada tabel 3.2. Tabel 3.2 Rincian Kegiatan PKPA di Dinkes Kabupaten Tabanan

Bidang

Aspek Umum Kesehatan dan Pekerjaan Kefarmasian

Materi

Pembekalan umum di Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan

a. Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan

b. Visi dan misi Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan

c. Peranan pekerjaan kefarmasian di pemerintahan Kabupaten Tabanan

Uraian

Kegiatan

Pembekalan mengenai Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan yang meliputi:

PKPA

a. Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan

b. Program kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan

c. Pengelolan obat di Dinas Kesehatan Tabanan

Hari/Tanggal

 

Rabu, 3 Juni 2015

Nama

dan

Paraf

 

Preseptor

3.2.1 Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan

Profil, visi dan misi Dinas Kesehatan Provinsi Bali, serta struktur organisasi

Dinas Kesehatan Provinsi Bali telah terlampir dalam bab II.

3.2.2

Program Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan di Bidang Kesehatan

melalui

program kegiatan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten

Pembangunan

kesehatan

di

kabupaten

Tabanan

dilakukan

pelaksanaan

berbagai

Tabanan yang meliputi:

a. Program Obat dan Perbekalan Kesehatan

b. Program Upaya Kesehatan Masyarakat

c. Program Pengawasan Obat dan Makanan

d. Program Pengembangan Obat Asli Indonesia

e. Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan masyarakat

f. Program Perbaikan Gizi Masyarakat

g. Program Pengembangan Lingkungan Sehat

h. Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular

i. Program Standarisasi Pelayanan Kesehatan

j. Program Pelayanan Kesehatan Penduduk Miskin

k. Program pengadaan, peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas/puskesmas pembantu dan jaringannya

l. Program kemitraan peningkatan pelayanan kesehatan

m. Program peningkatan pelayanan kesehatan anak balita

n. Program peningkatan pelayanan kesehatan lansia

o. Program pengawasan dan pengendalian kesehatan makanan

p. Program peningkatan keselamatan ibu melahirkan dan anak

q. Program pengembangan sumber daya manusia kesehatan Berbagai program tersebut bertujuan untuk dapat meningkatkan pelayanan

kesehatan

masyarakat

serta menunjang pemerataan pelayanan kesehatan di

Kabupaten

Tabanan.

Dari

keseluruhan

program

tersebut, terdapat beberapa

program yang secara khusus berkaitan dengan pengelolaan dan pelayanan obat serta perbekalan kesehatan, dimana membutuhkan peran serta tenaga kefarmasian

dalam pelaksanaannya. Adapun program yang berkaitan dengan tugas tenaga kefarmasian yaitu:

a. Pengadaaan obat dan perbekalan kesehatan

b. Peningkatan pemerataan obat dan perbekalan kesehatan

c. Peningkatan keterjangkauan harga obat dan perbekalan kesehatan terutama untuk penduduk miskin

d. Peningkatan mutu pelayanan farmasi komunitas dan rumah sakit

e. Peningkatan mutu penggunaan obat dan perbekalan kesehatan

f. Pengadaan reagen laboratorium

g. Pengawasan obat, makanan, alat kesehatan serta perbekalan kesehatan rumah tangga (PKRT)

h. Pengembangan obat asli Indonesia

3.2.3 Pengelolaan Obat di Dinas Kesehatan Tabanan

Dalam melaksanakan perencanaan metode yang digunakan adalah metode consumtion based. Metode ini merupakan metode perhitungan kebutuhan obat berdasarkan data pemakaian obat pada tahun sebelumnya. Rumus yang digunakan

adalah :

Rencana kebutuhan obat tahun ini = jumlah pemakaian tahun lalu + stok kosong + kebutuhan lead time + safety stock sisa stok tahun lalu

Metode ini dapat berjalan dengan baik jika data penggunaan obat dari tahun ke tahun tersedia secara lengkap dan konsumsi di unit-unit pelayanan bersifat konstan atau tidak fluktuatif. Oleh karena itu, pendataan secara lengkap konsumsi obat selama satu tahun sebelumnya yang mengakomodasi kondisi-kondisi yang dipengaruhi oleh musim (seasonal variation). Perencanaan obat di Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan mengacu pada data sepuluh besar penyakit dan sepuluh besar penggunaan obat yang dikumpulkan dari seluruh UPTD Puskesmas yang berada di Kabupaten Tabanan Sepuluh besar penyakit dan sepuluh besar penggunaan di Kabupaten Tabanan disajikan dalam tabel 3.3. Tabel 3.3 Data Sepuluh Besar Penyakit Terbanyak di Kabupaten Tabanan

No

Nama Penyakit

Jumlah

Rangking

1

Infeksi akut pada saluran pernafasan

138.630

I

2

Penyakit pada sistem otot

73.853

II

3

Tekanan darah tinggi

49.605

III

4

Penyakit lain pada saluran pernafasan

49.135

IV

5

Kecelakaan dan ruda paksa

32.471

V

6

Tukak Lambung

26.239

VI

7

Penyakit pulpa

25.186

VII

8

Gangguan gigi

22.139

VIII

9

Penyakit kulit alergi

20.775

IX

10

Penyakit kulit infeksi

18.873

X

Jika dilihat dari data tabel, maka kasus infeksi akut pada saluran pernafasan menduduki urutan teratas dengan jumlah sebesar 138.630 kasus sedangkan untuk kasus lainnya dapat dilihat pada tabel 3.3. Proses perencanaan dan pengadaan obat di Kabupaten Tabanan juga diperlukan peran serta apoteker di Dinkes Tabanan. Sehingga obat yang diadakan sesuai dengan berdasarkan aspek penyakit dan juga didasarkan kebutuhan masing- masing yang berada diwilayah kerja Dinkes Tabanan. Sehingga kemungkinan penumpukan stok obat yang tidak terpakai dan ketidaksediaan obat dapat diminimalisir.

3.3 Praktek Kerja Profesi Apoteker di Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan PKPA (Praktek Kerja Profesi Apoteker) di Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan dilaksanakan selama 3 hari (4, 5 dan 8 Juni 2015). Kegiatan yang dilakukan meliputi pembekalan umum mengenai profil dan pengelolaan perbekalan farmasi serta visitasi gudang yang didampingi oleh Pelaksana Teknis Kepala Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan yaitu Bapak I Made Abdi Gunawan, S.Farm, Apt. Adapun rincian kegiatan di gudang farmasi kabupaten Tabanan akan diuraikan dalam tabel 3.3 berikut:

Tabel 3.4 Tabel 3.4 Rincian Kegiatan PKPA di Dinkes Kabupaten Tabanan

Bidang

Aspek Umum Kesehatan dan Pekerjaan Kefarmasian

Materi

a. Kunjungan ke Gudang Farmasi Kabupaten/ Kota b. Mendapatkan informasi mengenai pengelolaan obat di Gudang Farmasi Kabupaten/ Kota

Uraian

Kegiatan

Pembekalan materi oleh Pelaksana Teknis Kepala Instalasi Farmasi

PKPA

Kabupaten Tabanan mengenai:

a. Manajemen pengelolaan obat dan alat kesehatan di Gudang Farmasi

Kabupaten

b.Pemaparan tentang Standar Operational Prosedur di Gudang Farmasi

Kabupaten maupun Puskesmas.

c. Berkunjung ke Gudang Farmasi Kabupaten Tabanan, melihat sistem

penataan obat, berkas berkas administrasi, berkeliling gudang, dan

diskusi dengan kepala Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan

Hari/Tanggal

 

4, 5 dan 8 Juni 2015

Nama

dan

Paraf

 

Preseptor

3.3.1. Pengelolaan Obat di Instalasi Farmasi Tabanan Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan bertanggung jawab terhadap pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan termasuk di dalamnya pelatihan penggunaan obat rasional serta melakukan koordinasi dalam perencanaan dan pengadaan obat dan perbekalan kesehatan. Keikutsertaan apoteker pengelola Instalasi di Kabupaten Tabanan dirasa perlu terutama dalam hal pengadaan dan perencanaan obat yang dibutuhkan setiap puskesmas- puskesmas di wilayah kerja Instalasi Kabupaten Tabanan, sehingga penumpukan stok obat yang tidak terpakai dan ketidaksediaan obat dapat diminimalisir. Adapun siklus pengelolaan obat yang dilakukan di gudang farmasi Kabupaten Tabanan meliputi perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pelaporan, pemusnahan serta dokumentasi A. Perencanaan Perencanaan obat di Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan bertujuan untuk menentukan daftar obat yang akan diadakan. Obat yang akan diadakan dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu obat untuk PKD, PPKD, obat dari kapitasi BPJS Kesehatan, serta obat-obat program yang pendanaannya menggunakan dana APBD. Dalam melakukan perencanaan, gudang farmasi Kabupaten Tabanan menggunakan pendekatan dengan metode kombinasi antara sistem konsumsi dengan morbiditas, sehingga proses seleksi obat yang didasarkan pada prevalensi penyakit tertinggi dan dikombinasikan dengan tingginya penggunaan obat

(konsumsi) di unit pelayanan kesehatan. Data kompilasi yang tercatat di Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan setiap tahunnya digunakan sebagai dasar perencanaan untuk tahun selanjutnya. Perhitungan konsumsi obat menggunakan pedoman data LPLPO, dimana gudang farmasi melakukan perencanaan dengan mengkompilasi pemakaian bulanan masing-masing jenis obat di Puskesmas selama setahun. Rencana kebutuhan alat-alat kesehatan dibuat dalam laporan usulan kebutuhan barang yang dibuat satu tahun sekali. Sedangkan Rencana Kebutuhan Obat (RKO) dibuat untuk perencanaan obat, bahan, dan reagen selama setahun dan diperhitungkan dengan cara sebagai berikut:

RKO (dalam setahun) = rata-rata penggunaan obat per bulan x 18 sisa stok akhir tahun

Rencana tersebut selanjutnya diajukan oleh kepala instalasi farmasi kabupaten kepada kepala dinas kesehatan kabupaten tabanan yang selanjutnya pengajuan anggaran tersebut ditembuskan ke dinas provinsi untuk memperoleh persetujuan. Persetujuan terhadap perencanaan kebutuhan obat dipertimbangkan berdasarkan anggaran dana yang tersedia. Pengadaan obat generik berasal dari dana PKD yang pengadaaannya mulai dilakukan pada triwulan ke-1, untuk obat-obat penunjang diluar obak PKD diadakan dengan dana PPKD.

B. Pengadaan Obat yang diadakan Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan terdiri dari obat PKD, obat PPKD, obat dari kapitasi JKN dan obat Program. Sumber dana dalam pengadaan obat di gudang farmasi berasal dari tiga sumber yakni DAK, APBD dan kapitasi JKN. Pemilihan obat yang diadakan dari ketiga sumber dana tersebut harus sangat diperhatikan agar tidak terjadi duplikasi obat yang diadakan. Pengadaan obat yang dilaksanakan dengan menggunakan teknologi informasi dan transaksi elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) dibuat untuk mewujudkan harapan pelaksanaan pengadaan obat pemerintah secara elektronik. Layanan yang

tersedia dalam SPSE saat ini adalah e-Tendering yaitu tata cara pemilihan penyedia obat yang dilakukan secara terbuka dan dapat diikuti oleh semua penyedia obat yang terdaftar pada sistem pengadaan secara elektronik dengan menyampaikan 1 (satu) penawaran dalam waktu yang telah ditentukan. Tata cara e-Tendering, syarat dan ketentuan serta panduan pengguna (user guide) diatur dalam Peraturan Kepala LKPP Nomor 18 Tahun 2012 tentang e-Tendering. Selain itu di dalam SPSE juga telah disiapkan Fasilitas untuk proses audit secara online (e-Audit), dan e-Purchasing Obat Pemerintah. e-Purchasing dibuat agar proses untuk pengadaan obat pemerintah dapat dilakukan secara elektronik. Dalam e-Purchasing Obat Pemerintah, terdapat fitur untuk pembuatan paket, unduh (download) format surat pesanan, unduh format standar kontrak, unggah (upload) hasil scan kontrak yang sudah ditandatangani, sampai dengan cetak pesanan obat. Dengan adanya e-Purchasing Obat Pemerintah, diharapkan proses pengadaan obat pemerintah dapat dimonitor dan lebih transparan.

C. Penerimaan Untuk gudang farmasi Kabupaten Tabanan, obat yang diterima dapat berasal dari PBF yang memenangkan lelang serta gudang farmasi Provinsi Bali. Petugas penerimaan obat wajib melakukan pengecekan terhadap obat-obat yang diserahkan mencakup nama obat, jumlah kemasan/peti, jenis dan jumlah obat, bentuk sediaan obat, nomor batch, kemasan serta masa kadaluarsa sesuai dengan isi dokumen dan ditandatangani oleh petugas penerima. Pada setiap penerimaan obat dan perbekalan kesehatan, petugas di Gudang Farmasi Kabupaten Tabanan akan melakukan pemeriksaan yang meliputi yaitu pemerikasaan sumber obat, nama obat, jumlah kemasan/peti, jenis dan jumlah obat dan bentuk sediaan obat yang kemudian dicocokan dengan surat pesanan atau faktur. Petugas bagian penerimaan juga wajib melakukan pengecekan terhadap nomor batch pada tiap kemasannya serta masa kadaluarsa produk yang diterima. Gudang Farmasi Kabupaten Tabanan telah mempersyaratkan bahwa produk yang diterimaadalah produk yang setiap itemnya dengan masa kadaluarsa minimal 2

tahun. Pengiriman barang dilakukan oleh distributor secara berkala, sehingga pemeriksaan barang dapat langsung dilakukan saat penerimaan barang dan jika ditemui adanya barang yang rusak atau tidak sesuai atau mendekati kadaluarsa akan dapat langsung dikonfirmasikan kepada pihak distributor untuk diganti. Setelah dilakukan pengecekan maka barang ditata dan dicatat dalam kartu stok barang dan juga dicatat pada buku barang masuk. Penerimaan obat dan perbekalan kesehatan di Gudang Farmasi Kabupaten Tabanan berlangsung dalam beberapa periode.

D. Penyimpanan Sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan yang tersedia di gudang farmasi Kabupaten Tabanan disimpam berdasarkan volume barang, yaitu barang dengan volume besar di simpan terpisah dengan barang dengan volume kecil. Sediaan dengan volume kecil diutamakan untuk disimpan pada rak yang tersedia, sedangkan sediaan dengan volume besar disimpan dengan menggunakan bantuan pallet. Penggunaan pallet dapat memberikan keuntungan dalam penyimpanan obat, antara lain memberikan sirkulasi udara dari bawah dan perlindungan terhadap banjir, peningkatan efisiensi penanganan stok, dapat menampung obat lebih banyak, menjaga obat agar tidak rusak karena lembab, dan pallet lebih murah daripada rak. Dus-dus ditumpuk sesuai dengan petunjuk (tidak boleh terbalik, jumlah maksimal tumpukan dan lain-lain). Selain itu penyimpanan juga dilakukan berdasarkan bentuk sediaan, dimana sediaan cair seperti sirup diutamakan disimpan pada rak, sediaan pada disimpang pada ruangan menggunakan bantuan pallet, untuk sediaan suppositoria dan vaksin disimpan dalam lemari pendingin. Obat yang tersedia di Gudang Farmasi Tabanan dibedakan berdasarkan sumber anggaran barang (PKD, PPKD, Askes dan Obat Program). Penyimpanan barang juga dilakukan menurut stabilitas sediaan dan ketentuan khusus penyimpanan barang/sediaan farmasi. Obat yang stabilitasnya dapat dipengaruhi oleh temperatur, udara, cahaya dan kontaminasi bakteri disimpan pada tempat yang sesuai. Di Gudang Farmasi Kabupaten Tabanan tidak tersedia sediaan narkotika dan hanya tersedia sediaan psikotropika. Untuk obat

golongan psikotropika, sediaan dikumpulkan menjadi satu dan disimpan pada rak kaca yang tersedia di kamar obat I secara khusus. Penyimpanan di gudang farmasi menggunakan prinsip First Expired date First Out (FEFO) dan First In First Out (FIFO) dalam penyusunan obat yaitu obat yang masa kadaluwarsanya lebih awal atau yang diterima lebih awal haru digunakan lebih awal sebab umumnya obat yang datang lebih awal biasanya juga diproduksi lebih awal dan memiliki masa kadaluwarsa yang lebih awal.

E. Pendistribusian

Pendistribusian obat oleh Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan berdasarkan permintaan Unit Pelayanan Kesehatan melalui LPLPO dengan memperhitungkan sisa stok yang tersedia di Instalasi Farmasi maupun di Unit Pelayanan. Pendistribusian obat dilaksanakan setiap bulan dengan sistem penyerahan dan pengambilan. Bila kebutuhan melebihi dari yang didistribusikan melalui LPLPO, petugas Unit Pelayanan Kesehatan datang ke UPT Instalasi Farmasi untuk mengambil obat-obatan yang dibutuhkan. Proses pendistribusian obat dari Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan sudah sesuai prosedur, proses pendistribusian sudah terkontrol setiap obat yang akan dikirim ke Puskesmas dicatat pada kartu stok induk dan harian obat. Obat yang dikirim merupakan jenis obat yang telah sebelumnya diminta melalui LPLPO oleh masing-masing UPTD Puskesmas di Kabupaten Tabanan. Terkadang jumlah obat yang tidak sesuai dengan yang dipesan dalam LPLPO dikarenakan beberapa faktor yaitu tidak tersedianya stok obat atau stok habis, analisa tersendiri oleh Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan sehingga diambil keputusan jumlah obat yang dikirim tidak sesuai dengan yang dipesan, dan faktor terakhir dikarenakan human error.

F. Pelaporan dan Pencatatan

Pencatatan dan pelaporan bertujuan untuk menyediakan data mengenai jenis dan jumlah penerimaan, persediaan, pengeluaran/ penggunaan dan data mengenai waktu dari seluruh rangkaian kegiatan mutasi obat. Pencatatan dan pelaporan yang

dilakukan oleh bagian Gudang Farmasi Kabupaten Tabanan meliputi:

- Kartu Stok Obat Kartu stok obat berfungsi untuk mencatat penerimaan dan pengeluaran masing- masing obat dalam upaya pengendalian stok obat yang tersedia. Kartu stok obat diletakkan berdekatan atau diatas box masing-masing obat untuk memudahkan dalam pencatatan. Pencatatan pada kartu stok obat dilakukan untuk setiap proses mutasi obat (penerimaan, pengeluaran, hilang, rusak/daluwarsa). Adapun informasi yang termuat dalam kartu stok meliputi nama obat, no. Registrasi obat, bentuk sediaan, kemasan, kolom untuk tanggal, nomor faktur, kolom uraian yang berisi data puskesmas penerima obat saat pengeluaran obat dari gudang, jumlah obat yang diterima, jumlah obat yang dikeluarkan, jumlah sisa stok, paraf petugas, tanggal kadaluarsa serta kolom keterangan. Format kartu stok yang digunakan di gudang farmasi Kabupaten Tabanan dapat dilihat pada gambar 3.4.

 

KARTU STOK OBAT

 

Nama Obat:

 

No. Register:

 

Bentuk Sediaan:

 

Kemasan:

Tgl.

Faktur

Uraian

Masuk

Keluar

Jumlah

Paraf

Exp.

Ket.

No.

Sisa

Petugas

Date

Gambar 3.1 Format Kartu Stok Obat di Gudang Farmasi Kabupaten Tabanan

- Laporan Pemakaian Narkotika dan Psikotropika Pelaporan pemakaian narkotika dan psikotropika tidak dilakukan secara manual, akan tetapi dilakukan melalui jaringan internet menggunakan Sistem Pelaporan online ini disebut Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP). SIPNAP terdiri dari software tingkat Unit Pelayanan (Apotek, Puskesmas dan Rumah sakit); Software tingkat Dinas Kesehatan Kab/Kota dan Pelaporan ke Provinsi dan Pusat yang digunakan untuk melakukan pelaporan melalui sistem Online dengan memanfaatkan jaringan internet.

- Pencatatan dan Pelaporan Rutin lainnya Adapun bentuk pencatatatan dan pelaporan lainnya yang rutin dilakukan di

Gudang Farmasi Kabupaten meliputi:

1. Buku Catatan Harian Penerimaan Barang Masuk

2. Buku Catatan Harian Pengeluaran Barang

3. Buku Pencatatan Obat Kadaluwarsa

4. Buku Pencatatan Obat Habis

5. Laporan Mutasi Obat Bulanan

G. Penghapusan/Pemusnahan Kegiatan pemusnahan dilakukan terhadap seluruh sediaan farmasi/obat-obatan yang kedaluwarsa/rusak yang terdapat di gudang farmasi Kabupaten Tabanan. Kumpulan obat yang akan dimusnahkan juga berasal dari stok obat yang rusak atau kadaluarsa di unit pelayanan kesehatan yang telah dikumpulkan ke bagian gudang farmasi. Proses pemusnahan dilakukan di TPA Mandung pada bulan Februari setiap tahunnya. Adapun tahapan dari kegiatan pemusnahan diawali dengan pembuatan daftar sediaan farmasi/ obat-obatan yang akan di hapuskan beserta alasan-alasannya oleh petugas di gudang farmasi. Selanjutnya dilakukan pelaporan ke bagian inspektorat Pemerintah Daerah Kabupaten Tabanan agar dilakukan pemeriksaan. Tim Inspektorat kemudian melakukan pemeriksaan terhadap obat yang rusak dan kadaluarsa. Tim ini juga sekaligus menjadi saksi dari kegiatan pemusnahan dan menandatangi berita acara Pemeriksaan Sediaan Farmasi/obat-obatan Rusak dan Kadaluarsa. Metode pemusnahan yang digunakan didasarkan pada bentuk sediaan, dimana sediaan obat psikotropika dan narkotika dipisahkan terlebih dahulu dengan sediaan non-psikotropika. Sediaan padat seperti tablet dan kapsul dilepaskan dari kemasan primernya dan kemudian dimusnahkan dengan cara digilas. Sediaan cair seperti sirup dan sediaan injeksi dimusnahkan dengan cara digilas menggunakan alat berat. Adapun saksi-yang terlibat dalam kegiatan pemusnahan sediaan farmasi di antaranya Kepala Inspektorat, Kepala Bagian Keuangan Pemerintah Daerah, Kepala Bagian Perlengkapan Pemda, dan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kabupaten Tabanan. Setelah pemusnahan, dilakukan pembuatan berita

acara pemusnahan yang tembusannya ditujukan ke pihak BPOM dan Pemda. Untuk obat narkotika dan psikotropika, tembusan ditujukan ke BPOM, sedangkan untuk obat non narkotik dan non psikotropik, tembusan ditujukan ke BPOM dan Pemda. Proses penghapusan di Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan mengalami beberapa kendala, misalnya belum tersedianya ruangan khusus penyimpanan obat- obat yang akan dihapus, selain itu pendanaan proses penghapusan itu sendiri yang membutuhkan dana yang tidak sedikit. Maka dari itu, banyak obat yang akan dihapus di Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan terlihat menumpuk dan belum mendapat penanganan sesuai prosedur.

3.3.2. Visitasi di Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan Kegiatan visitasi dilakukan dengan berkeliling gudang sambil mendengar penjelasan Pelaksana Teknis Kepala Instalasi Farmasi mengenai tata cara penyimpanan barang serta kendala yang dihadapi. Denah gudang Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan dapat dilihat pada lampiran 1. Gedung Instalasi

Farmasi ini memiliki 7 ruangan dimana terdapat 4 ruangan-ruangan seperti kamar kecil, 1 ruangan utama yang besar serta 2 ruangan memanjang di bagian belakang. Berikut penjelasannya:

Ruang 1

: Ruang Kepala Instalasi

Ruang 2

: untuk obat-obatan volume besar umumnya obat simptomatis

Ruang 3 : untuk menyimpan tetes mata, suppositoria, sediaan larutan, injeksi

yang perlu suhu khusus di bawah 25 o C, ada pula kulkas untuk menyimpan ABU (Anti Bisa Ular), Dulcolax suppo, dan Proris suppo yang perlu suhu di bawah 10 o C Ruang 4 : untuk menyimpan obat-obat lainnya dalam jumlah kecil dan perlu suhu penyimpanan khusus di bawah 25 o C

Ruang 5

: untuk menyimpan obat program seperti HIV, vitamin A, TBC kategori

Ruang 6

I, II, sisipan dan anak, KB depo untuk tiga bulan, flu burung : tempat penyimpanan sama halnya dengan ruang IV

Ruang 7

: untuk menyimpan obat dalam jumlah besar

Ruang 8 : untuk menyimpan alat kesehatan seperti spuit, perban, pot dahak, serta ada obat program maupun tidak. Ada pula obat-obatan yang akan dimusnahkan yang ditempatkan terpisah Diharapkan ke depannya dapat dilengkapi pula dengan lemari khusus psikotropika, alat pengukur kelembaban serta suhu tersedia, diukur dan diatur setiap harinya demi menjaga mutu obat yang disimpan. Kekurangan yang ada di Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan yaitu bangunan yang tidak memadai sehingga perlu suatu bangunan yang dirancang sesuai dengan prosedur penyimpanan obat yang baik serta fasilitas penunjang agar stabilitas obat yang disimpan tetap terjaga dengan baik. Selain itu penyimpanan obat-obatan yang sudah rusak atau kadaluarsa di Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan masih belum diorganisir dengan baik, dimana tempat penyimpanan obat rusak dan kadaluarsa terlihat masih menjadi satu ruangan dengan yang belum kadaluarsa diletakkan di sudut ruangan. Hal tersebut memungkinkan terjadinya kontaminasi dengan obat lainnya dan yang terparah dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Untuk proses pendistribusian obat ke pelayanan kesehatan di Kabupaten Tabanan diharapkan kedepannya disediakan mobil khusus yang sesuai dengan prodesur pendistribusian obat yang baik sehingga stabilitas obat yang didistribusikan tetap baik.

3.4. Praktek Kerja Profesi Apoteker di Puskesmas Marga I Kegiatan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) mahasiswa Program Pendidikan Profesi Apoteker, Jurusan Farmasi, Universitas Udayana di UPTD Puskesmas Marga I berlangsung pada tanggal 9 Juni 2015 hingga 1 Juli 2015. Selama melaksanakan PKPA ini, mahasiswa apoteker dapat memahami tata cara pengelolaan perbekalan farmasi, pelayanan kefarmasian kepada pasien yang datang ke apotek, serta mengetahui secara langsung permasalahan-permasalahan yang umumnya terjadi di Puskesmas, baik dalam bidang pengelolaan perbekalan farmasi maupun pelayanan kefarmasian. Adapun kegiatan yang dilakukan selama 21 hari kerja di Puskesmas Penebel I dapat dilihat dalam tabel 3.5 berikut:

Bidang

Aspek Umum Kesehatan dan Pekerjaan Kefarmasian

Materi

a. Pembekalan umum di Puskesmas

b. Profil umum puskesmas, fungsi puskesmas, visi dan misi puskesmas, kompetensi apoteker di puskesmas, tugas pokok dan fungsi apoteker di puskesmas

c. Pencarian informasi mengenai standar kegiatan gudang obat (tugas dan fungsi gudang obat puskesmas)

d. Perencanaan kebutuhan obat, permintaan obat, sistem penyimpanan obat, pendistribusian obat, administrasi kegiatan di gudang obat puskesmas dan proses pelaporan obat

e. Pencarian informasi dan pemahaman mengenai proses pelayanan resep di apotek puskesmas

f. Keterlibatan dalam kegiatan pelayanan resep di apotek puskesmas, penyiapan, peracikan, dan penyerahan obat yang disertai dengan KIE kepada pasien

g. Analisis rasionalitas pengobatan penyakit-penyakit endemik

h. Keterlibatan dalam proses pembuatan neraca persediaan, LPLPO, rekonsiliasi, penerimaan, penyimpanan, dan penditribusian obat ke unit pelayanan di puskesmas, pustu, dan puskesmas keliling.

Uraian Kegiatan PKPA

a. Menemui kepala puskesmas dan kepala tata usaha untuk melaporkan kegiatan PKPA.

b. Berkeliling Puskesmas untuk mengenali puskesmas bersama pembimbing lapangan.

c. Berdiskusi dengan kepala puskesmas dan pembimbing lapangan tentang profil puskesmas dan tugas pokok apoteker dipuskesmas.

d. Mencari Informasi mengenai standar operasional prosedur gudang farmasi dan apotek puskesmas Marga I.

e. Mencari Standar Operasional Prosedur dalam Pelayanan Resep.

f. Ikut terlibat dalam Proses Pelayanan Resep.

g. Menyimpan dan Mendokumentasikan Resep.

h. Ikut terlibat dalam kegiatan Puskesmas Keliling ke Desa Pinge

i. Membantu penanggung jawab gudang obat mengecek LPLPO sub unit

j. Pengkajian penggunaan antibiotik pada pasien ISPA non pneumonia dan diare non spesifik, serta penggunaan injeksi pada pasien myalgia.

k. Melaksanakan stok opname obat.

Hari/Tanggal (Alokasi Waktu)

9 Juni 2015-1 Juli 2015

Nama dan Paraf Preseptor

 

3.4.1. Pelayanan Kefarmasian di Apotek Puskesmas Marga I Dalam kegiatan PKPA di Puskesmas Marga I, mahasiswa ikut terlibat dalam pelayanan kefarmasian atau pelayanan obat di apotek Puskesmas Marga I.

Kegiatan pelayanan obat dilakukan hampir setiap hari selama kegiatan PKPA berlangsung. Apotek Puskesmas Marga I melayani resep dari Ruang Pemeriksaan

yang ditulis oleh dokter, Poli Gilut (gigi dan mulut) yang ditulis oleh dokter gigi dan dari ruang KIA/KB yang ditulis oleh bidan. Proses pelayanan kesehatan di Puskesmas Marga I meliputi:

a. Pasien JKMB/BPJS/JMK/umum mengambil nomor antrian.

b. Pendaftaran di loket. Petugas loket akan menginput data identitas pasien ke komputer.

c. Pasien mendapatkan pelayanan kesehatan di di laboratorium, KIA, poli gigi, serta di BP dan UGD puskesmas. Petugas menginput data penyakit yang diderita pasien serta terapi yang diberikan.

d. Resep yang diterima pasien dibawa dan diserahkan ke petugas apotek

e. Petugas apotek menerima resep, kemudian melakukan skrining resep. Jika ada yang kurang jelas mengenai resep atau mengenai obat, maka petugas apotek dapat menanyakan hal tersebut langsung ke dokter penulis resep.

f. Petugas apotek kemudian menyiapkan obat sesuai yang tertulis dalam resep.

g. Obat yang telah disiapkan dimasukkan ke dalam klip yang telah diberi keterangan tanggal resep, nama pasien, dosis penggunaan dalam sehari serta cara penggunaan obat (setelah atau sebelum makan).

h. Obat diserahkan kepada pasien disertai pemberian KIE.

i. Pasien dengan JKBM/BPJS/JMK tidak dikenakan biaya sedangkan untuk pasien umum membayar biaya sesuai tindakan medis yang diterima.

j. Petugas apotek menkonfirmasi pada data di komputer bahwa telah dilakukan pelayanan obat terhadap pasien. Apotek Puskesmas Marga I memiliki ruangan tersendiri yang dilengkapi fasilitas berupa meja untuk penempatan dan peracikan obat, mortir dan stamper, blender dan peralatan pengemas sediaan puyer, gelas ukur dan galon air untuk rekonstitusi sirup kering, lemari kaca sebagai tempat penyimpanan obat, jendela kecil untuk melakukan penyerahan obat dan pemberian informasi obat atau KIE pada pasien, komputer dan printer untuk melakukan pencatatan terhadap

pemakain obat. Prosedur tetap penyiapan obat dan SOP nya juga telah dipajang di dinding untuk mengatur pelaksanaan kegiatan penyiapan obat. Petugas yang melaksanakan pelayanan resep di apotek berjumlah 4 orang yaitu asisten apoteker sebagai penanggung jawab apotek sekaligus gudang obat dan 3 orang bidan. Fasilitas di Apotek Puskesmas Marga I belum semua dimanfaatkan secara optimal oleh petugas apotek. Untuk meracik sediaan puyer tidak menggunakan blender melainkan masih menggunakan mortir dan stemper, hal ini dikarenakan suara bising yang dihasilkan sehingga akan mengganggu kenyaman pasien dan petugas yang lainnya. Selain itu gelas ukur dan galon air saat ini tidak dimanfaatkan untuk rekonsiliasi sirup kering. Hal ini dikarenakan tidak adanya dana untuk isi ulang air galon. Oleh karena itu, untuk kedepannya diharapkan disediakannya dana dalam menunjang ketersediaan air untuk rekonsiliasi sirup kering di apotek. Rekonsiliasi sebaiknya dilakukan oleh tenaga kesehatan agar takaran air sebagai pelarut dalan rekonsilisasi sirup tepat sehingga tidak terjadi kekurangan atau kelebihan dosis dalam pemakaian obat. Pelayanan kefarmasian yang ada pada Puskesmas Marga I terdiri dari skrining resep, compounding and dispensing (penyiapan, pemberian etiket, dan penyerahan obat), serta memberikan pelayanan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) kepada pasien.

A. Skrining Resep

Resep yang dibawa oleh pasien diterima oleh petugas apotek yang kemudian dilakukan skrining resep. Skrining resep terdiri dari skrining administrasi (nama, umur, jenis kelamin, berat badan pasien), skrining farmasetik (bentuk dan

kekuatan sediaan, dosis dan jumlah obat, stabilitas dan ketersediaan, aturan dan cara penggunaan, inkomptibilitas), dan skrining farmakologi (ketepatan indikasi, dosis dan waktu penggunaan obat, melihat adanya duplikasi pengobatan, alergi, interaksi, efek samping, dan kontraindikasi) (Menkes RI, 2014). Pada prakteknya, skrining resep yang dilakukan di apotek Puskesmas Marga I yaitu skrining administrasi dan farmasetis. Petugas jarang memperhatikan

skrining farmakologi melihat apakah obat yang diterima pasien sudah tepat indikasi dan dosis obat untuk pasien tersebut dikarenakan pada resep tidak disertakan diagnosa pada pasien. Selain itu juga tidak adanya tenaga kefarmasian yang memiliki kompetensi di bidangnya seperti apoteker. Tenaga kefarmasian yang ada di Puskesmas Marga I hanya satu orang asisten apoteker yang sekaligus sebagai penanggung jawab gudang obat. Oleh karena itu penyerahan obat kepada pasien dilakukan oleh seorang bidan yang bukan merupakan tenaga kefarmasian. Petugas apotek di Puskesmas Marga I sudah melakukan pemeriksaan kesesuaian farmasetik seperti bentuk sediaan dan kekuatan sediaan, tetapi belum mempertimbangkan farmakologinya. Oleh karena itu, diperlukan tenaga kefarmasian tambahan sehingga nantinya penanggung jawab gudang dan penanggung jawab apotek dilakukan oleh dua orang yang berbeda.

B. Peracikan (Coumpounding) dan Penyerahan (dispensing) obat

Kegiatan peracikan dan penyerahan obat merupakan kegiatan pelayanan obat mulai dari pengambilan, menyiapkan/meracik obat, memberikan label/etiket, hingga menyerahkan sediaan farmasi dengan informasi yang memadai disertai dengan pendokumentasian (Menkes RI, 2014). Proses compounding dan dispensing obat di apotek Puskesmas Marga I dilakukan dengan berpedoman pada SOP yang ada. Compounding dan dispensing untuk setiap sediaan berbeda-beda,

diantaranya:

- Proses compounding dan dispensing sediaan tablet, kapsul dan kaplet Setelah dilakukan skrining terhadap resep yang terima, petugas apotek kemudian mengambil obat sesuai dengan permintaan yang tertulis pada resep. Etiket obat kemudian diisi dengan nomor resep, tanggal terima resep, nama pasien dan signa yang sesuai dengan permintaan dokter serta aturan pakai sebelum atau setelah makan. Sediaan tablet, kapsul atau kaplet di apotek Puskesmas Marga I dikemas dalam kemasan stripe, blister dan kalengan. Obat-obat yang diambil dalam kaleng, seperti Vitamin B 6 , dilakukan dengan sendok yang bersih. Namun dalam memberikan pelayanan petugas pelayanan

di apotek sering menggunakan tangan sehingga adanya tingkat kontaminasi

yang tinggi. Hal ini dapat mengurangi mutu obat yang diterima pasien.

- Proses compounding dan dispensing sediaan pulveres Proses compounding dan dispensing sediaan pulveres dilakukan dengan bantuan mortar dan stamper. Obat yang tertera dalam resep diambil sejumlah yang tertulis dalam resep kemudian dimasukkan ke dalam mortir. Obat kemudian digerus menggunakan stamper hingga tercampur secara homogen. Obat kemudian dikemas dalam kertas pembungkus sesuai dengan jumlah puyer yang dibutuhkan dan dimasukan ke dalam klip obat yang telah diisi tanggal, nama pasien, dan aturan pakai obat. Petugas apotek Puskesmas Marga I jarang membersihkan mortir, stamper dan sudip yang dilakukan untuk meracik obat, sehingga membuat obat yang diracik bercampur dengan sisa obat yang diracik sebelumnya. Hal ini sangat berbahaya ketika pada saat peracikan ada interaksi obat antara obat yang diracik sebelumnya dengan obat yang sedang diracik sehingga memberi dampak yang tidak baik pada pengobatan pasien.

- Proses compounding dan dispensing sediaan sirup kering Proses peracikan sirup kering sesuai SOP yaitu resep yang diterima dilakukan proses skrining resep kemudian diberikan nomor resep. Etiket obat kemudian diisi dengan nomor resep, tanggal terima resep, nama pasien dan

signa yang sesuai dengan permintaan dokter, dan berisi tanda kocok dahulu sebeluh digunakan. Obat sirup kering antibiotika diambilkan dalam lemari apotek, tutup botol dibuka dan ditambahkan air ke dalam botol sebanyak tanda yang tertera pada botol atau sesuai petunjuk sediaan (50mL). Air yang digunakan untuk merekonstitusi sirup kering adalah air mineral yang matang yang tidak panas dan dingin. Batas waktu penggunaan sirup yaitu selama 7 hari, sehingga perlu dilakukan edukasi kepada pasien. Peracikan sirup kering di apotek Puskesmas Marga I belum sesuai dengan SOP compounding dan dispensing sediaan sirup kering. Peracikan sirup kering

di apotek Puskesmas Marga I tidak dilakukan langsung oleh petugas Apotek

sehingga pasien melakukan peracikan sendiri di rumah. Hal ini sangat

berbahaya apabila terjadi kekurangan atau kelebihan air saat rekonsiliasi. Selain itu, keluarga pasien yang memiliki informasi yang kurang mengenai cara rekonsiliasi obat terkadang mencampurkan sirup kering dengan air panas sehingga zat aktif dalam sirup rusak dan tidak mampu memberikan efek farmakologi. Di apotek telah tersedia alat-alat untuk rekonsiliasi sirup kering yaitu 2 buah gelas ukur 100mL dan sebuah galon, tetapi galon tersebut tidak diisi lagi selama beberapa bulan terakhir karena tidak adanya dana untuk membeli air dan tidak ada yang bersedia membeli air terus menerus karena kurangnya tenaga kerja. Oleh karena itu disarankan agar disediakan dana lebih untuk membeli air galon di apotek sehingga proses rekonsiliasi obat dapat dilaksanakan dengan baik dan dapat mengurangi kesalahan dalam peracikan obat.

C. Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Setelah obat disiapkan, kemudian obat diserahkan kepada pasien disertai

dengan pemberian KIE. Adapun informasi yang umumnya diberikan kepada pasien pada saat penerimaan obat antara lain:

a. Nama obat, jumlah dan indikasi/kegunaan masing-masing obat

b. Aturan pakai obat seperti waktu minum obat, kocok terlebih dahulu untuk sediaan sirup, penggunaan antasida yang berupa tablet kunyah, aturan pakai salep mata, salep kulit, tetes telinga dan suppositoria, serta cara meminum sediaan puyer yang perlu dilarutkan dengan air terlebih dahulu

c. Lama pakai obat seperti obat antibiotik harus diminum hingga habis, obat- obat simptomatis dapat dihentikan jika gejala hilang, dan obat-obat penyakit kronik harus diminum teratur hingga habis.

d. Efek samping obat misalnya pemberian CTM yang menyebabkan kantuk dapat diinformasikan kepada pasien untuk meminimalkan penggunaan kendaraan untuk menghindari kecelakaan akibat kntuk.

e. Informasi mengenai kapan perlu dilakukan kontrol kembali. Informasi ini penting untuk memaksimalkan pengobatan yang dilakukan pasien. Kontrol kembali biasanya dilakukan setelah 3 hari atau setelah obat

habis. Apabila sebelum obat habis (kecuali antibiotik) pasien tidak kunjung sembuh maka pasien wajib kontrol kembali ke puskesmas untuk memperoleh pengobatan lanjutan atau rujukan ke Rumash Sakit Umum terdekat. KIE sangat penting dilakukan dalam pemberian informasi mengenai obat dari petugas apotek ke pasien, hal ini akan sangat mempengaruhi ketercapaian terapi dan meminimalkan medication error. Akan tetapi KIE yang diberikan oleh petugas apotek Puskesmas Marga I belum lengkap dimana ketika KIE informasi yang diberikan kepada pasien meliputi banyaknya jenis obat, nama obat dan cara pemakaian saja. Hal ini dikarenakan kurangnya tenaga kefarmasian di apotek puskesmas dan tidak jarang pasien terburu-buru ketika menerima obat.

3.4.2. Pengelolaan Perbekalan Sediaan Farmas di Apotek Puskemas Marga I Gudang Farmasi di apotek Puskesmas Marga I memiliki penanggung jawab seorang asisten apoteker. Dalam ruangan gudang obat terdapat rak kayu, rak kaca dan meja kerja yang digunakan oleh petugas untuk meletakkan arsip pencatatan dan melakukan kegiatan pencatatan dan pelaporan. Selain ditempatkan pada rak, adapula dus obat yang ditumpuk. Tumpukan dus obat masih memenuhi syarat yaitu tidak lebih dari 8 tumpukan. Obat-obat yang terdapat dalam gudang merupakan obat untuk PKD, PPKD, obat dari kapitasi BPJS, serta obat-obat program. Obat-obat tersebut tersusun secara alfabetis dalam rak berbeda sesuai dengan bentuk sediaan. Akan tetapi sediaan cair seperti sirup dan sirup kering tidak ditempatkan dalam rak namum masih ditemapatkan dalam box. Dalam gudang obat terdapat termometer ruangan dengan rata-rata suhu ruangan yaitu

27˚C.

Terdapat beberapa permasalahan yang ada di gudang obat Puskesmas Marga I yaitu tidak tersedianya AC dalam ruangan gudang obat. AC pada ruangan gudang obat diperlukan untuk dapat mengontrol suhu ruangan tetap stabil dan sesuai dengan persyaratan suhu penyimpanan obat sehingga mutu dan stabilitas obat terjamin. Rak penyimpanan obat di gudang obat rentan terhadap debu, serta tidak adanya alat pengukur kelembaban ruangan penyimpanan sehingga dapat

berpengaruh terhadap mutu obat yang disimpan. Selain itu, terdapat sediaan suppositoria yang tidak disimpan dalam kulkas. Apabila suppositoria yang telah dibuka tidak disimpan di kulkas maka kemungkinan sediaan suppositoria dapat meleleh. Pengelolaan obat di gudang obat Puskesmas Marga I meliputi perencanaan, pengadaan, penerimaan, distribusi, penyipanan, pemusnahan, dan pelaporan adalah sebagai berikut:

A. Perencanaan Perencanaan obat dan alkes yang dilaksanakan di UPTD Puskesmas Marga I menggunakan metode konsumsi. Puskesmas merencanakan kebutuhan obat dan alkes untuk apotek puskesmas, Puskesmas Pembantu (Pustu), Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), dan Puskesmas Keliling (PusKel). Perencanaan tersebut didasarkan pada Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) dari apotek, Pustu, Poskesdes, dan pusling. Adapun formulir LPLPO yang digunakan dapat dilihat pada Lampiran 2. Dalam perencanaan, mahasiswa berperan serta membantu kepala gudang obat untuk mengecek dan mengkompilasi kebutuhan perbekalan farmasi dari sub unit puskesmas berdasarkan LPLPO yang dikumpulkan setiap bulannya. Selanjutnya berdasarkan LPLPO tersebut, dihitung Rencana Kebutuhan Obat (RKO) untuk 1 bulan kedepannya yang diusulkan ke Instalasi Farmasi. Perencanaan obat dan alkes di Puskesmas Marga I juga mempertimbangkan aspek morbiditas, yakni didasarkan pada 10 besar jenis penyakit di Puskesmas Marga I, dimana obat yang dibutuhkan dalam pengobatan penyakit tersebut menjadi prioritas dalam pengadaan obat di Gudang Obat Puskesmas. Grafik 10 besar jenis penyakit terbanyak di Puskesmas Marga I tahun 2014 dapat dilihat pada gambar 3.4 Masalah yang sering terjadi dalam proses perencanaan obat adalah keterlambatan pengiriman LPLPO dari sub unit ke Puskesmas. Hal ini tentu akan menghambat proses perencanaan, sehingga petugas puskesmas harus menunggu semua laporan LPLPO dari sub unit. Selain itu, usulan perencanaan obat yang diajukan ke Instalasi Farmasi Kabupaten Tabanan umumnya

memerlukan waktu yang lama untuk dapat disediakan oleh Instalasi Farmasi Kabupaten. Pengatasan dari permasalah tersebut dapat dilakukan dengan memberikan batas waktu pengumpulan LPLPO dan pemberian usulan ke Instalasi Farmasi dilakukan lebih awal agar tidak terjadi kekosongan stok obat.

10 Besar Penyakit di Puskesmas

Marga I Periode Tahun 2014 35 30 25 20 15 10 5 0 Persentase Penyakit
Marga I Periode Tahun 2014
35
30
25
20
15
10
5
0
Persentase Penyakit

Gambar 3.5 Grafik 10 Besar Jenis Penyakit di Puskesmas Marga I Tahun 2014 Dalam melakukan proses perencanaan, Puskesmas Marga I telah memiliki Prosedur Tetap (PROTAP) yang telah ditetapkan oleh kepala Puskesmas Marga I. Adapun PROTAP perencanaan obat di Puskesmas Marga I dapat dilihat pada tabel 3.4. Tabel 3.5 Prosedur Tetap Perencanaan Obat Puskesmas Marga I

PUSKESMAS

MARGA I

PROTAP PERENCANAAN KEBUTUHAN OBAT

Pengertian

Suatu rencana yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan obat di Puskesmas Marga I

Tujuan

Petugas dapat merencanakan kebutuhan obat yang diperlukan dengan menggunakan metode konsumsi

Kebijaan

Pelaksanaan perencanaan kebutuhan obat telah didelegasikan oleh Kepala Puskesmas kepada Petugas Pengelola Obat Puskemas Marga I

Persiapan

Alat: laporan LPLPO seluruh sub unit dan SBBK<