Anda di halaman 1dari 24

PREFERENDUM

LAPORAN

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Ekologi


Yang dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Suhadi, M.Si dan Dr. Ibrohim, M.Si

Disusun oleh:
Offering G
Kelompok 7
Lailatul Qomariyah

(130342603489)

Nining Nurnaningsih

(130342603)

Putrid Deviyan Nasari

(130342603)

Sisca Maylinda Sari

(130342603)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
FEBRUARI 2015

A. Topik : Preferendum
B. Tujuan :
Tujuan dari praktikum ini adalah sebagaiberikut :
1. Mengetahui efek membatasi dari kondisi factor suhu terhadap sebaran
individu-individu.
2. Mengetahui kondisi suhu preferendumnya dari suatu organisme.
3. Memeriksa ada tidaknya pengaruh aklimasi terhadap efek membatasi
dan preferendum tersebut.
C. Dasar Teori
Aklimatisasi adalah usaha manusia untuk menyesuaikan hewan
terhadap kondisi faktor lingkungan di habitat buatan yang baru. Aklimasi
adalah usaha yang dilakukan manusia untuk menyesuaikan hewan terhadap
kondisi suatu factor lingkungan tertentu dalam laboratorium (Dharmawan,
2005).
Konsep kisaran toleransi, faktor pembatas maupun preferendum
diterapkan dibidang bidang pertanian, peternakan, kesehatan, konservasi dan
lain-lain. Hal ini dilakukan dengan harapan kinerja biologi hewan,
pertumbuhan dan reproduksi dapat maksimum dan untuk kondisi hewan yang
merugikan kondisi lingkungan biasanya dibuat yang sebaliknya (Dharmawan,
2005).
Setiap hewan memiliki kisaran toleransi yang bervariasi, maka
kehadiran di suatu habitat sangat ditentukan oleh kondisi dari faktor
lingkungan di tempat tersebut. Kehadiran dan kinerja populasi hewan di suatu
tempat menggambarkan tentang kondisi faktor-faktor lingkungan di tempat
tersebut. Oleh karena itu ada istilah spesies indikator ekologi, baik kajian
ekologi hewan maupun ekologi tumbuhan. Spesies indicator ekologi adaalah
suatu spesies organisme yang kehdirannya ataupun kelimpahannya dapat
memberi petunjuk mengenai bagaimana kondisi factor-faktor fisik kimia
disuatu tempat (Dharmawan, 2005).
Suatu individu yang dikenal suhu nisbi tinggi untuk beebrapa hari
(atau mungkin kurang dari itu) dapat tergeser keseluruhan tanggapan terhadap
suhu ke atas sepanjang skala suhu, dan beberapa hari dikenai suhu nisbi

rendah dapat menggeser tanggapan itu ke bawah. Proses ini biasanya disebut
sebagai aklimasi jika perubahan dilaksanakan di kondisi laboratorium dan
aklimatisasi jika terjadi di lapangan. Aklimatisasi yang terlalu cepat dapat
merupakan

malapetaka. Disamping itu individu biasanya berbeda dalam

tanggapan terhadap suhu tergantung pada stadium dalam perkembangan yang


mankah yang dicapainya (Soetjipto, 1993).
D. Alat dan Bahan
Alat :

Bahan :

Aklimator

- Es Batu

Akuarium

- Karet

Thermometer suhu (batang)

- Korek Api

Kompartemen

- Ikan gatul

Ember

Saringan ikan

Aerator

Kompor Spirtus

E. Prosedur Kerja
Sehari sebelum percobaan setiap kelompok mengumpulkan ikan-ikan sampel
Melakukan perlakuan 1 fase ikan untuk tiap-tiap kelompok
Mengaklimasi ikan-ikan tersebut selama 24 jam menjelang percobaan pada
suhu rendah (20oC), suhu kamar (25oC) dan suhu tinggi (30oC)
Meletakkan thermometer batang yang telah distandarisasi suhunya pada
tempat yang disediakan di setiap kompartemen
Kompartemen di salah satu ujung diisi dengan bongkahan-bongkahan es
sedangkan di ujung lainnya dipanasi dengan nyala api

Setelah suhu kompartemen bergradasi ikan dimasukkan sebanyak 10 ekor


yang telah diaklimasi pada kompartemen tengah. Kemudian diamati hasilnya
F. Data

Aklimasi suhu 20oC


Suhu Kompamenter

Fase

Waktu

Ulangan
15oC

17,5o

20oC

22,5o

C
4

C
1

C
-

o
1.

Juvenil

2 menit

4 menit

6 menit

8 menit

10 menit

2.

Grafit

2 menit

4 menit

6 menit

25oC

27,5oC

30oC

32,5

35oC

8 menit

10 menit

3.

Non

2 menit

30oC

32,5

35oC

Grafit

4 menit

6 menit

8 menit

10 menit

Aklimasi suhu 25oC


Suhu Kompamenter

Fase

Waktu

Ulangan
15oC

17,5o

20oC

22,5o

C
4

C
-

C
2

10

o
1.

Juvenil

2 menit

4 menit

25oC

27,5oC

6 menit

8 menit

10 menit

2.

Grafit

2 menit

4 menit

6 menit

8 menit

10 menit

3.

Non

2 menit

Grafit

4 menit

6 menit

8 menit

10 menit

30oC

32,5

35oC

Aklimasi suhu 30oC


Suhu Kompamenter

Fase

Waktu

Ulangan
15oC

17,5o

20oC

22,5o

C
-

C
-

o
1.

Juvenil

2 menit

4 menit

6 menit

8 menit

10 menit

2.

Grafit

2 menit

25oC

27,5oC

C
-

4 menit

6 menit

8 menit

10 menit

3.

Non

2 menit

Grafit

4 menit

6 menit

8 menit

10 menit

G. Analisis Data
Pada praktikum preferendum ini dengan menggunakan ikan gatul yang
fasenya berbeda-beda, yaitu pada fase juvenile, fase grafit dan fase non grafit.

Kemudian ikan-ikan tersebut di aklimasi pada suhu 20 oC, suhu 25oC dan suhu
30oC. Selanjutnya ikan akan diuji pada suhu yang berbeda-beda yaitu 15 0C,
17,5oC, 20oC, 22,5oC, 25oC, 27,5oC, 30oC, 32,5oC dan 35oC. Sehingga kita bisa
mengamati pada suhu ke berapa ikan bisa hidup optimal. Berdasarkan data
pengamatan, data dianalisis dengan diaplikasikan ke dalam grafik. Data
diambil dengan 3 kali pengulangan, dimana data yang diambil telah diratarata.
Table data aklimasi 20oC pada menit ke-2 (rata-rata)
No. Fase
1
Juvenile
2
Grafit
3
Non Grafit
Keterangan :
Juvenile

15oC
1
0
0

17,5oC
1
0
1

20oC
3
0
2

22,5oC
2
2
4

25oC
1
1
2

27,5oC
0
2
0

30oC
0
4
0

32,5oC
0
1
0

35oC
0
0
0

: Pada menit ini, terdapat 2 ikan yang mati pada ulangan pertama. Ikan
tersebut mati pada suhu ke-15oC dan 27,5oC.

Grafit

: pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.

Non grafit : pada menit ini, terdapat 1 ikan yang mati pada suhu ke-15 oC pada
ulangan pertama.
Jadi, sisa ikan fase juvenil ada 8 ekor, ikan pada fase grafit ada 10 ekor
dan ikan pada fase non grafit ada 9 ekor.
Grafik data aklimasi 20oC pada menit ke-2 (rata-rata)

Table data aklimasi 20oC pada menit ke-4 (rata-rata)


No. Fase
1
Juvenile
2
Grafit
3
Non Grafit
Keterangan :

15oC
1
0
0

17,5oC
1
0
0

20oC
2
1
3

22,50C
2
2
5

25oC
2
3
1

27,5oC
0
2
0

30oC
0
1
0

32,5oC
0
1
0

35oC
0
0
0

Juvenile

: pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.

Grafit

: pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.

Non grafit : pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.
Jadi, sisa ikan masih sama seperti pada menit ke-2 yaitu fase juvenil ada 8
ekor, ikan pada fase grafit ada 10 ekor dan ikan pada fase non grafit ada 9 ekor.
Grafik data aklimasi 20oC pada menit ke-4 (rata-rata)

Table data aklimasi 20oC pada menit ke-6 (rata-rata)


No. Fase
1
Juvenile
2
Grafit
3
Non Grafit
Keterangan :
Juvenile

15oC
2
0
0

17,5oC
0
0
0

20oC
1
2
1

22,50C
3
1
2

25oC
1
4
5

27,5oC
0
2
1

30oC
0
1
0

32,5oC
0
1
0

: pada menit ini, terdapat 1 ikan yang mati pada suhu 15 oC pada
ulangan pertama

Grafit

: pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.

Non grafit : pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.
Jadi, sisa ikan pada menit ini yaitu fase juvenil ada 7 ekor, ikan pada fase
grafit ada 10 ekor dan ikan pada fase non grafit ada 9 ekor.
Grafik data aklimasi 20oC pada menit ke-6 (rata-rata)

35oC
0
0
0

Table data aklimasi 20oC pada menit ke-8 (rata-rata)


No. Fase
1
Juvenile
2
Grafit
3
Non Grafit
Keterangan :

15oC
0
0
0

17,5oC
0
1
0

20oC
6
1
2

22,50C
1
3
1

Juvenile

: pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.

Grafit

: pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.

25oC
0
4
3

27,5oC
0
1
2

30oC
0
0
0

32,5oC
1
0
0

35oC
0
0
0

Non grafit : pada menit ini, terdapat 1 ikan yang mati pada suhu 15 oC pada
ulangan pertama.
Jadi, sisa ikan pada menit ini yaitu fase juvenil ada 7 ekor, ikan pada fase
grafit ada 10 ekor dan ikan pada fase non grafit ada 8 ekor.
Grafik data aklimasi 20oC pada menit ke-8 (rata-rata)

Table data aklimasi 20oC pada menit ke-10 (rata-rata)


No. Fase
1
Juvenile
2
Grafit
3
Non Grafit
Keterangan :

15oC
1
1
0

17,5oC
0
0
1

20oC
2
4
4

22,50C
1
0
2

25oC
2
3
1

27,5oC
0
2
0

30oC
0
0
0

32,5oC
0
0
0

35oC
0
0
0

Juvenile

: pada menit ini, terdapat 1 ikan yang mati pada suhu 15 oC pada
ulangan pertama.

Grafit

: pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.

Non grafit : pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.
Jadi, sisa ikan pada menit ini yaitu fase juvenil ada 6 ekor, ikan pada fase
grafit ada 10 ekor dan ikan pada fase non grafit ada 8 ekor.
Grafik data aklimasi 20oC pada menit ke-10 (rata-rata)

Table data aklimasi 25oC pada menit ke-2 (rata-rata)


No. Fase
1
Juvenile
2
Grafit
3
Non Grafit
Keterangan :
Juvenile

15oC
1
0
4

17,5oC
1
1
3

20oC
3
1
0

22,50C
3
3
1

25oC
0
3
0

27,5oC
0
1
0

30oC
0
0
0

32,5oC
0
1
0

: pada menit ini, terdapat 2 ikan yang mati pada suhu 17,5 oC pada
ulangan pertama dan suhu 15oC pada ulangan ketiga.

Grafit

: pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.

Non grafit : pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.
Jadi, sisa ikan pada menit ini yaitu fase juvenil ada 8 ekor, ikan pada fase
grafit ada 10 ekor dan ikan pada fase non grafit ada 10 ekor.
Grafik data aklimasi 25oC pada menit ke-2 (rata-rata)

35oC
0
0
2

Table data aklimasi 25oC pada menit ke-4 (rata-rata)


No. Fase
1
Juvenile
2
Grafit
3
Non Grafit
Keterangan :

15oC
0
0
1

17,5oC
0
0
3

20oC
2
0
1

22,50C
1
2
1

Juvenile

: pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.

Grafit

: pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.

25oC
0
6
1

27,5oC
2
1
1

30oC
0
1
0

32,5oC
0
0
0

35oC
3
0
2

Non grafit : pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.
Jadi, sisa ikan pada menit ini sama seperti menit ke-2 yaitu fase juvenil
ada 8 ekor, ikan pada fase grafit ada 10 ekor dan ikan pada fase non grafit ada 10
ekor.
Grafik data aklimasi 25oC pada menit ke-4 (rata-rata)

Table data aklimasi 25oC pada menit ke-6 (rata-rata)


No. Fase
1
Juvenile
2
Grafit
3
Non Grafit
Keterangan :

15oC
0
1
0

17,5oC
0
1
0

20oC
2
2
2

22,50C
0
1
3

25oC
1
3
2

27,5oC
0
1
2

30oC
0
1
0

32,5oC
0
0
0

35oC
4
0
1

Juvenile

: pada menit ini, terdapat 1 ikan yang mati pada suhu 15 oC pada
ulangan pertama.

Grafit

: pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.

Non grafit : pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.
Jadi, sisa ikan pada menit ini yaitu fase juvenil ada 7 ekor, ikan pada fase
grafit ada 10 ekor dan ikan pada fase non grafit ada 10 ekor.
Grafik data aklimasi 25oC pada menit ke-6 (rata-rata)

Table data aklimasi 25oC pada menit ke-8 (rata-rata)


No. Fase
1
Juvenile
2
Grafit
3
Non Grafit
Keterangan :

15oC
0
0
0

17,5oC
0
0
0

20oC
3
2
1

22,50C
1
1
1

Juvenile

: pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.

Grafit

: pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.

25oC
3
3
4

27,5oC
0
1
2

30oC
0
2
2

32,5oC
0
0
0

Non grafit : pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.
Jadi, sisa ikan pada menit ini sama pada menit ke-6 yaitu fase juvenil ada
7 ekor, ikan pada fase grafit ada 10 ekor dan ikan pada fase non grafit ada 10 ekor.

Grafik data aklimasi 25oC pada menit ke-8 (rata-rata)

35oC
0
1
0

Table data aklimasi 25oC pada menit ke-10 (rata-rata)


No. Fase
1
Juvenile
2
Grafit
3
Non Grafit
Keterangan :

15oC
0
0
0

17,5oC
0
0
2

20oC
2
2
1

22,50C
1
1
2

Juvenile

: pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.

Grafit

: pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.

25oC
2
3
3

27,5oC
1
3
1

30oC
1
1
1

32,5oC
0
0
0

35oC
0
0
0

Non grafit : pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.
Jadi, sisa ikan pada menit ini sama pada menit ke-8 yaitu fase juvenil ada
7 ekor, ikan pada fase grafit ada 10 ekor dan ikan pada fase non grafit ada 10 ekor.
Grafik data aklimasi 25oC pada menit ke-10 (rata-rata)

Table data aklimasi 30oC pada menit ke-2 (rata-rata)


No. Fase
1
Juvenile
2
Grafit
3
Non Grafit
Keterangan :

15oC
3
0
1

17,5oC
0
0
5

20oC
2
0
1

22,50C
0
1
0

25oC
0
3
1

27,5oC
0
2
1

30oC
0
4
0

32,5oC
0
0
0

35oC
3
0
1

Juvenile

: pada menit ini, terdapat 2 ikan yang mati pada suhu 15 oC pada
ulangan pertama.

Grafit

: pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.

Non grafit : pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.
Jadi, sisa ikan pada menit ini, yaitu fase juvenil ada 8 ekor, ikan pada fase
grafit ada 10 ekor dan ikan pada fase non grafit ada 10 ekor.
Grafik data aklimasi 30oC pada menit ke-2 (rata-rata)

Table data aklimasi 30oC pada menit ke-4 (rata-rata)


No. Fase
1
Juvenile
2
Grafit
3
Non Grafit
Keterangan :

15oC
3
0
1

17,5oC
0
0
5

20oC
2
0
1

22,50C
0
1
0

Juvenile

: pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.

Grafit

: pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.

25oC
0
3
1

27,5oC
0
2
1

30oC
0
4
0

32,5oC
0
0
0

Non grafit : pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.
Jadi, sisa ikan pada menit ini sama seperti menit sebelumnya, yaitu fase
juvenil ada 8 ekor, ikan pada fase grafit ada 10 ekor dan ikan pada fase non grafit
ada 10 ekor.
Grafik data aklimasi 30oC pada menit ke-4 (rata-rata)

35oC
3
0
1

Table data aklimasi 30oC pada menit ke-6 (rata-rata)


No. Fase
1
Juvenile
2
Grafit
3
Non Grafit
Keterangan :

15oC
0
0
1

17,5oC
1
0
5

20oC
2
0
3

22,50C
0
0
0

Juvenile

: pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.

Grafit

: pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.

25oC
0
3
0

27,5oC
2
3
1

30oC
1
3
0

32,5oC
0
1
0

35oC
2
0
0

Non grafit : pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.
Jadi, sisa ikan pada menit ini sama seperti menit sebelumnya, yaitu fase
juvenil ada 8 ekor, ikan pada fase grafit ada 10 ekor dan ikan pada fase non grafit
ada 10 ekor.
Grafik data aklimasi 30oC pada menit ke-6 (rata-rata)

Table data aklimasi 30oC pada menit ke-8 (rata-rata)


No. Fase
1
Juvenile

15oC
0

17,5oC
0

20oC
0

22,50C 25oC
0
1

27,5oC 30oC
1
2

32,5oC 35oC
0
2

2
Grafit
3
Non Grafit
Keterangan :
Juvenile

0
1

0
5

1
3

1
0

3
1

3
0

2
0

0
0

0
0

: pada menit ini, terdapat 2 ikan yang mati pada suhu 15 oC pada
ulangan pertama.

Grafit

: pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.

Non grafit : pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.
Jadi, sisa ikan pada menit ini yaitu fase juvenil ada 6 ekor, ikan pada fase
grafit ada 10 ekor dan ikan pada fase non grafit ada 10 ekor.
Grafik data aklimasi 30oC pada menit ke-8 (rata-rata)

Table data aklimasi 30oC pada menit ke-10 (rata-rata)


No. Fase
1
Juvenile
2
Grafit
3
Non Grafit
Keterangan :

15oC
1
0
3

17,5oC
0
0
4

20oC
0
2
1

22,50C
0
1
2

Juvenile

: pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.

Grafit

: pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.

25oC
0
3
0

27,5oC
0
3
0

30oC
0
1
0

32,5oC
1
0
0

Non grafit : pada menit ini, ikan tidak ada yang mati.
Jadi, sisa ikan pada menit ini sama seperti menit sebelumnya yaitu fase
juvenil ada 6 ekor, ikan pada fase grafit ada 10 ekor dan ikan pada fase non grafit
ada 10 ekor.
Grafik data aklimasi 30oC pada menit ke-10 (rata-rata)

35oC
4
0
0

H. Pembahasan
Ikan

Gathul

(Poecilia

sp.)

merupakan

salah

satu

contoh

Elasmobranchii yang mudah didapatkan dan biasanya banyak ditemui pada


sungai-sungai. Ikan Gathul ini cukup berbeda dari ikan lainnya karena
fertilisasinya secara internal. (Yatim, 1994).
Menurut Yonandre (2010), ditemukan ikan gathul dapat hidup secara
alami di lingkungan air dingin dengan suhu 22,5C dan lingkungan panas pada
suhu 30C. Pada umunya ikan gathul dapat hidup di air yang bersuhu antara
20C -30C.
Suhu merupakan faktor penting dalam ekosistem perairan (Ewusie,
1990). Kenaikan suhu air dapat menimbulkan kehidupan ikan dan hewan air
lainnya terganggu (Aprianto dan Liviawati, 1992). Menurut Soetjipta (1993),
air memiliki beberapa sifat termal yang unik, sehingga suhu dalam air berjalan
lebih lambat dari pada udara. Selanjutnya Soetjipta menambahkan bahwa
walaupun suhu kurang mudah berubah di dalam air dari pada udara, namun
suhu merupakan faktor pembatas utama. Oleh karena itu, makhluk akuatik
sering mengalami toleransi yang sempit.
Dalam Susanto, Pudyo. 2000 (24-25), hewan-hewan air biasanya
mempunyai rentangan toleransi yang sempit terhadap suhu. Hal ini
berhubungan dengan rentangan perubahan suhu air yang tidak terlalu jauh.
Meskipun beberapa jenis hewan dapat bertahan hidup pada suhu ekstrem atas
atau bawah, tetapi kebanyakan hewan hanya bertahan hidup pada temperatur
yang sesuai dengann kemampuan adaptasinya. Perubahan temperature juga
berpengaruh terhadap perkembangbikan dan pertumbuhan hewan.

Pada praktikum yang telah dilakukan, terdapat tiga macam perlakuan


aklimasi suhu yaitu 20C, 25C, dan 30C selama 2 hari. Setelah dianalisis,
faktor pembatas berupa suhu tersebut dikaitkan apakah ada pengaruhnya
terhadap sebaran ikan-ikan yang terdapat pada kompartemen.
Pada praktikum pertama mengggunakan

ikan gathul

dengan suhu

aklimasi 20C pada fase juvenile, menit ke 2, 4, 6, 8, 10 didapatkan hasil


bahwa ikan gathul lebih banyak menempati suhu 20C selain itu juga terdapat
pada suhu 15C, 17,5C, 22,5C, 25C, 32,5 C serta ada juga yang lethal
pada suhu 15C dan 27,5C . Hal tersebut telah sesuai dengan teori bahwa
menurut Dharmawan (2005) menyatakan tujuan dari aklimasi adalah
membiasakan individu dengan lingkungan barunya sehingga ikan akan paling
banyak berada pada kisaran suhu 20 C dimana ia pernah diaklimasikan
(cocok pada suhu tempat tersebut). Untuk ikan-ikan yang lain yang
menempati suhu lain, mungkin ikan tersebut sedang berenang bebas atau
bermain-main dengan lingkungan baru yaitu medium yang lebih kecil
Sedangkan untuk ikan gathul yang lethal pada suhu 15C hal tersebut
dikarenakan kesalahan praktikan karena membiarkan ikan terperangkap pada
es batu sehingga membuat ikan lethal dan yang lethal pada suhu 27,5C
dikarenakan ikan tidak dapat beradaptasi dengan suhu tersebut sehingga ikan
stress menghadapi kondisi barunya.
Pada praktikum mengggunakan ikan gathul dengan suhu aklimasi 20C
pada fase gravit, menit ke 2, 4, 6, 8, 10 didapatkan hasil bahwa ikan gathul
lebih banyak menempati suhu 25C, selain itu juga terdapat pada suhu 15C,
17,5C, 22,5C, 25C, 27,5C, 30C, 32,5C. Hal tersebut sesuai dengan teori
bahwa menurut Tunas (2005) pada dasarnya suhu rendah memungkinkan air
mengandung oksigen lebih tinggi, tetapi suhu rendah menyebabkan stress
pernafasan pada ikan berupa penurunan laju respirasi dan denyut jantung
sehingga dapat berlanjut dengan pingsannya ikan-ikan akibat kekurangan
oksigen. Sehingga pada umumnya ikan lebih menyukai suhu yang relatif
hangat untuk proses fisiologis dalam tubuhnya ataupun inkubasi telur
maksimal untuk yang gravit. Jadi kebanyakan ikan gravid berada pada suhu
hangat atau tinggi karena karena untuk proses fisiologisnya.

Pada praktikum selanjutnya mengggunakan ikan gathul dengan suhu


20C pada fase non gravit menit ke 2, 4, 6, 8, 10 didapatkan hasil bahwa ikan
gathul lebih banyak menempati suhu 25C selain itu juga terdapat pada suhu
15C, 17,5C, 22,5C, 20,5C, 27,5C serta terdapat 1 ikan gathul yang letal
pada suhu 15C . Hal tersebut tidak sesuai menurut teori dikarenakan menurut
Dharmawan (2005) menyatakan tujuan dari aklimasi adalah membiasakan
individu dengan lingkungan

barunya sehingga ikan akan paling banyak

berada pada kisaran suhu 20 C dimana ia pernah diaklimasikan. Hal tersebut


dikarenakan ikan tersebut sedang berenang bebas atau bermain-main dengan
lingkungan baru yaitu medium yang lebih kecil atau karena faktor diantaranya
suasana laboratorium yang tidak kondusif seperti ribut dan banyaknya
pergerakan. Sebab ikan gathul ini sangat sensitive terhadap pergerakan dan
suara dan untuk ikan gathul yang lethal hal tersebut dikarenakan ikan tidak
dapat beradaptasi dengan suhu barunya sehingga menyebabakan ikan stres
Pada praktikum selanjutnya menggunakan ikan gathul

dengan suhu

aklimasi 25C pada fase juvenile, menit ke 2, 4, 6, 8, 10 didapatkan hasil


bahwa ikan gathul lebih banyak menempati suhu 20C selain itu juga terdapat
pada suhu 15C, 17,5C, 22,5C, 20,5C, 27,5C, 30C, 32,5C dan ada 1
ekor ikan lethal pada suhu 15C . Hal tersebut tidak sesuai dengan teori
dikarenakan bahwa menurut Dharmawan (2005) seharusnya ikan akan
menyusaikan atau beradaptasi dengan lingkungan sebelumnya (aklimsi), dan
ikan pada stadia muda kisaran toleransinya rendah. Hal tersebut dikarenakan
ikan gathul yang suka berpindah dan berenang bebas, sehingga pada saat
pengamatan banyak yang berada pada suhu 25C dan ikan lethal disebabkan
suhu rendah memungkinkan air mengandung oksigen lebih tinggi, tetapi
suhu rendah menyebabkan stres pernafasan pada ikan berupa menurunnya
laju pernafasan dan denyut jantung sehingga dapat berlanjut dengan pingsan
atau lethalnya ikan-ikan akibat kekurangan oksigen.
Pada praktikum selanjutnya menggunakan ikan gathul

dengan suhu

aklimasi 25C pada fase gravit, menit ke 2, 4, 6, 8, 10 didapatkan hasil bahwa


ikan gathul lebih banyak menempati suhu 25C. Hal tersebut telah sesuai
dengan teori diakarenakan menurut Dharmawan (2005) hewan yang berbiak

membutuhkan kondisi lingkungan berada disekitar kondisi prefrendumnya


selain itu ikan pada fase gravit lebih menyukai suhu yang relatif hangat untuk
proses fisiologis dalam tubuhnya ataupun inkubasi telur maksimal untuk yang
gravit. Jadi kebanyakan ikan gravid berada pada suhu hangat atau tinggi
karena karena untuk proses fisiologisnya.
Pada praktikum selanjutnya menggunakan ikan gathul

dengan suhu

aklimasi 25C pada fase non gravit, didapatkan hasil bahwa ikan paling
banyak berada pada suhu 25C. Hal tersebut sudah sesuai dengan teori bahwa
menurut Dharmawan (2005) seharusnya ikan akan menyesuaiakan atau
beradaptasi dengan lingkungan sebelumnya

(aklimasi). Hal tersebut

menunjukkan bahwa pada ikan gathul non gravid dapat menyesuaikan diri
dengan lingkungan baru dengan suhu yang sama dengan suhu aklimasi.
Pada praktikum terakhir yaitu menggunakan suhu 30C. Pada uji
pertama yaitu menggunakan ikan gathul fase juvenile didapatkan hasil bahwa
ikan paling banyak menempati suhu 35C serta ada 4 ekor yang mati pada
suhu 15C. Hal tersebut tidak sesuai dengan teori dikarenakan menurut
Dharmawan (2005) seharusnya ikan dapat menyesuaiakan atau beradaptasi
dengan lingkungan sebelumnya (aklimsai) atau dikarenakan ikan sedang
berenang bebas atau bermain-main dengan lingkungan baru yaitu medium
yang lebih kecil, penyebab kematian ikan tersebut dikarenakan stress atau
belum bisa beradaptasi dengan lingkungan atau medium baru.
Praktikum

selanjutnya

yaitu

menggunakan

suhu

30C

dengan

menggunakan ikan gathul fase gravit didapatkan hasil bahwa ikan paling
banyak menempati suhu 25C. Hasil tersebut tidak sesuai dengan teori bahwa
menurut Dharmawan (2005) menyatakan bahwa hewan yang berbiak
membutuhkan kondisi lingkungan berada disekitar kondisi pereferendumnya
atau aklimasi dimana aklimasi berfungsi untuk membiasakan lingkungan baru
dengan lingkungan sebelumnya
Aklimasi di sini

berfungsi

untuk membiasakannlingkungan baru

dengan lingkungan sebelumnya. Selain itu

hewan yang sedang berbiak,

kisaran toleransinya lebih sempit dibandingkan dengan yang tak berbiak.


Sehingga hal tersebut dikarenakan karena adanya kesalahan praktikan yang di

pengaruhi oleh beberapa faktor seperti setiap individu memiliki kisaran


toleransi yang berbeda tu ikan sedang berenang bebas.
Pada

praktikum

selanjutnya

menggunakan

suhu

30C

dengan

menggunakan ikan gathul fase non gravit didapatkan hasil ikan paling banyak
berada pada suhu 17,5C. Hal tersebut tidak sesuai dengan teori dikarenakan
menurut Dharmawan (2005) seharusnya ikan dapat menyesuaiakan atau
beradaptasi dengan lingkungan sebelumnya (aklimasi). Kondisi tersebut
dikarenakan pada suhu rendah memungkinkan air mengandung oksigen lebih
tinggi jadi ikan senang pada suhu tersebut atau diakibatkan ikan sedang
bermainp-main atau bergerak bebas.
I. Kesimpulan
Pada praktikum ini dapat ditarik kesimpulannya adalah sebagai berikut:
1. Pada ikan gathul aklimatisasi 20 C pada fase juvenile didapatkan hasil
ikan paling banyak berada pada suhu 20 C, sedangkan pada fase gravit
ikan paling banyak berada pada suhu 25C, serta pada fase non gravit
didapatkan hasil ikan paling banyak terdapat pada suhu 25C.
2. Pada ikan gathul aklimatisasi 25 C pada fase juvenile didapatkan hasil
ikan paling banyak berada pada suhu 20 C, sedangkan pada fase gravit
ikan paling banyak berada pada suhu 25C, serta pada fase non gravit
didapatkan hasil ikan paling banyak terdapat pada suhu 25C.
3. Pada ikan gathul aklimatisasi 30C pada fase juvenile didapatkan hasil
ikan paling banyak berada pada suhu 32,5 C, sedangkan pada fase gravit
ikan paling banyak berada pada suhu 25C, serta pada fase non gravit
didapatkan hasil ikan paling banyak terdapat pada suhu 17,5C.
4. Daftar Pustaka
Aprianto, E., dan Liviawati, E. 1992. Pengendalian Hama & Penyakit
Ikan. Cetakan Pertama. Yogyakarta : Penerbit Kanisisus
Dharmawan, Agus, dkk. 2005. Ekologi Hewan. Malang : Universitas
Negeri Malang
Ewusie, J. Y. 1990. Ekologi Tropika. Bandung: Penerbit ITB.
Slamet, Adeng; Mgs.M.Tibrani. 2006. Diktat Penuntun Belajar Fisiologi
Hewan.

Inderalaya: FKIP Pendidikan Biologi, Universitas Sriwijaya.


Soetjipta. 1993. Dasar-dasar Ekologi Hewan. Yogyakarta. Depdikbud
Dirjen Dikti
Susanto. Pudyo. 2000. Pengantar Ekologi Hewan. Jakarta: Proyek
Pengembangan Guru Menengah Departemen Pendidikan Nasion
Trubus.2005. Pembudidayaan Artemia Untuk Pakan Udang & Ikan.
Jakarta:Trubus
Yatim, W. 1994. Reproduksi dan Embriologi. Bandung : Tarsito.
Yonandre, Berna Vricca, 2010. Morfologi Ikan Guppy (Poecilia sp.) yang
hidup di
Air Panas Dan Air Dingin. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas
Malang
5. Lampiran

Gambar 1.1 Menunjukkan Praktikum Refrendum