Anda di halaman 1dari 112

DIREKTORAT KONSERVASI DAN KEANEKARAGAMAN HAYATI LAUT

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2015

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN


MONITORING POPULASI PENYU
Penanggung Jawab :
Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut

Penyusun :
Didi Sadili, Dit. KKHL-KKP
Dwi Suprapti, WWF-Indonesia
Sarmintohadi, Dit. KKHL-KKP
Ihsan Ramli, Dit. KKHL-KKP
Yudha Miasto, Dit. KKHL-KKP
Heri Rasdiana, Dit. KKHL-KKP
Prabowo, Dit. KKHL-KKP
Rian Puspita Sari, Dit. KKHL-KKP
Marina Monintja, Dit. KKHL-KKP
Nina Tery, Dit. KKHL-KKP
Syifa Annisa, Dit. KKHL-KKP

Editor:
Agus Dermawan, Direktur KKHL
Kontributor:
WWF-Indonesia
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana

Diterbitkan Oleh:
DIREKTORAT KONSERVASI DAN KEANEKARAGAMAN HAYATI LAUT
DITJEN PENGELOLAAN RUANG LAUT
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2015

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

ii

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

KATA PENGANTAR
Penyu merupakan salah satu jenis reptil yang hidup di laut yang
mempunyai kemampuan bermigrasi jarak jauh di sepanjang kawasan Samudera
Hindia, Samudra Pasifik dan Asia Tenggara. Secara internasional keberadaan penyu
telah lama mengalami keterancaman, termasuk di Indonesia. Ancaman kepunahan
penyu dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik oleh faktor alam maupun faktor
kegiatan manusia yang berdampak negatif.
Kerusakan habitat pantai dan ruaya pakan, kematian akibat interaksi
dengan aktivitas perikanan, pengelolaan dengan teknik-teknik konservasi yang tak
memadai, perubahan iklim, penyakit serta pengambilan penyu dan telurnya yang tak
terkendali merupakan faktor-faktor penyebab penurunan populasi penyu. Hewan
berpunggung keras ini tergolong hewan yang dilindungi dengan kategori Appendiks
I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna),
sehingga segala bentuk pemanfaatan dan peredarannya harus mendapat perhatian
secara serius. Selain itu karakteristik siklus hidup penyu sangat panjang dan unik,
sehingga untuk mencapai kondisi stabil (kondisi dimana kelimpahan populasi
relatif konstan selama 5 tahun terakhir) dapat memakan waktu cukup lama.
Kondisi inilah yang menyebabkan semua jenis penyu di Indonesia
diberikan status dilindungi oleh negara sebagaimana tertuang dalam PP Nomor 7
tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Akan
tetapi pemberian status perlindungan saja tidak cukup untuk memulihkan atau
setidaknya mempertahankan populasi penyu di Indonesia. Oleh karena itu
dibutuhkan tindakan nyata dalam melakukan pengelolaan konservasi penyu yang
komprehensif, sistematis dan terukur. Salah satu tantangan utama dalam program
konservasi penyu adalah masih terbatasnya data dan informasi tentang status
populasi penyu di Indonesia.
PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

iii

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Penyusunan buku Pedoman Identifikasi dan Monitoring Populasi Penyu


diharapkan dapat menjadi acuan bagi berbagai pihak di dalam melakukan
pemantauan populasi penyu di Indonesia, khususnya di beberapa habitat utama
peneluran penyu di Indonesia.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah
memberikan saran dan masukan sehingga tersusunnya Pedoman Identifikasi dan
Monitoring Populasi Penyu ini dapat diselesaikan.
Jakarta,

2015

Direktur Konservasi dan


Keanekaragaman Hayati Laut

AGUS DERMAWAN

iv

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................... iii
DAFTAR ISI .....................................................................................................
v
DAFTAR TABEL ............................................................................................ vii
DAFTAR GAMBAR........................................................................................ viii
DAFTAR LAMPIRAN....................................................................................
x
BAB 1. PENDAHULUAN .........................................................................
1.1 Latar Belakang .........................................................................
1.2 Maksud dan Tujuan ................................................................
1.3 Ruang Lingkup ........................................................................

1
1
3
3

BAB 2. BIOEKOLOGI ...............................................................................


5
2.1 Anatomi ....................................................................................
5
2.2 Taksonomi dan Klasifikasi ....................................................
6
2.3 Kunci Identifikasi ................................................................... 10
2.3.1 Morfologi ....................................................................... 10
2.3.2 Jejak, Ukuran Sarang dan Kebiasaan Bertelur ......... 15
2.3.3 Karakteristik Habitat Peneluran ................................ 22
2.3.4 Distribusi dan Sebaran ................................................. 23
2.4 Reproduksi ............................................................................... 26
2.4.1 Perkawinan .................................................................... 26
2.4.2 Perilaku Peneluran ....................................................... 29
2.5 Siklus Hidup ............................................................................ 32
2.6 Kelimpahan dan Kecenderungan Populasi Penyu di
Indonesia .................................................................................. 34
2.6.1 Penyu Belimbing di Jamursba Medi, Papua ............. 34
2.6.2 Penyu Hijau di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur
2.6.3 Penyu Hijau di Pantai Sukamade, Jawa Timur ........ 37
2.6.4 Penyu Lekang di Pantai Ngagelan, Jawa Timur ...... 38
2.6.5 Penyu Hijau di Pantai Pangumbahan, Jawa Barat ... 40
2.6.6 Penyu Hijau dan Penyu Sisik, Pantai Peneluran Paloh,
Kalimantan Barat .......................................................... 41
2.7 Kelompok (Keragaman) Populasi Penyu di Indonesia .... 42
2.8 Jalur Migrasi ............................................................................ 45
2.8.1 Jalur Migrasi Penyu Hijau ........................................... 45
PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

2.8.2 Jalur Migrasi Penyu Belimbing ...................................


2.8.3 Jalur Migrasi Penyu Lekang ........................................

47
49

BAB 3

TEKNIK MONITORING ...........................................................


3.1 Persiapan ..................................................................................
3.1.1 Alat dan Bahan ............................................................
3.1.2 Menentukan Waktu dan Jumlah Pemantau ............
3.2 Metode Pengumpulan Data ..................................................
3.2.1 Pemantauan di Habitat Peneluran ............................
3.2.2 Monitoring Telur dan Sarang Telur ........................
3.2.3 Monitoring Tukik .......................................................
3.2.4 Survei Pantai Peneluran ............................................
3.3 Pemanfaatan Penyu ................................................................
3.4 Ancaman Terhadap Penyu ...................................................
3.5 Tabulasi Data ...........................................................................
3.6 Menduga Ukuran (Jumlah) Populasi Per Satuan Waktu ..
3.7 Teknik Monitoring Bycacth Penyu dan Penanganannya ....
3.7.1 Pendataan Bycatch ETP pada Penyu ..........................
3.7.2 Penanganan Bycacth Penyu ..........................................
3.7.3 Penanganan Penyu di Atas Kapal ..............................

51
52
52
53
55
55
56
57
61
63
64
67
68
72
72
73
75

BAB 4

PELAPORAN
4.1 Penyusunan Laporan ..............................................................
4.2 Penyampaian Laporan ............................................................

79
80

PENUTUP .......................................................................................

81

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

82

LAMPIRAN ......................................................................................................

84

BAB 5

vi

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

DAFTAR TABEL
Tabel 1.

Identifikasi penyu berdasarkan karakteristik eksternal


(morfologi) .....................................................................................

11

Tabel 2.

Ciri-ciri bentuk luar (morfologi) tukik setiap jenis penyu.......

14

Tabel 3.

Identifikasi berdasarkan jejak (track) dan ukuran sarang ........

16

Tabel 4.

Ukuran kedalaman dan diameter sarang menurut jenis


penyu...............................................................................................

20

Jumlah dan ukuran telur penyu serta ukuran karakteristik


penyu ketika bertelur ....................................................................

21

Tabel 6.

Karakteristik habitat peneluran beberapa jenis penyu ............

22

Tabel 7.

Distribusi dan sebaran jenis penyu ............................................

25

Tabel 8.

Cara menentukan jenis kelamin penyu ......................................

28

Tabel 9.

Waktu (timing) peneluran menurut spesies (jenis) penyu ........

29

Tabel 5.

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

vii

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.

Anatomi eksternal penyu .........................................................

Gambar 2.
Gambar 3.
Gambar 4.
Gambar 5.

Penyu hijau (Chelonia mydas) .....................................................


Penyu lekang (Lepidochelys olivacea) ...........................................
Penyu belimbing (Dermochelys coriacea).....................................
Penyu sisik (Eretmochelys imbricate) ...........................................

7
8
8
9

Gambar 6.
Gambar 7.
Gambar 8.

Penyu tempayan (Caretta caretta) ..............................................


Penyu pipih (Natator depressus) .................................................
Kunci identifikasi penyu berdasarkan karakteristik
eksternal (morfologi) ................................................................

9
10

Gambar 9. Morfologi jenis-jenis tukik .......................................................


Gambar 10. Contoh jejak beberapa jenis penyu .........................................
Gambar 11. Sebaran beberapa jenis penyu laut di Indonesia ...................

16
19
25

Gambar 12. Perkawinan dan lokasi peneluran penyu................................


Gambar 13. Perkawinan penyu di perairan dangkal terbawa arus
hingga ke pantai ........................................................................
Gambar 14. Perbedaan jenis kelamin penyu ...............................................
Gambar 15. Tahapan penyu bertelur ...........................................................

27

Gambar 16. Skema siklus hidup penyu ........................................................


Gambar 17. Jumlah populasi sarang di pantai Jamursba Medi tahun
1981-2011 ...................................................................................

33

Gambar 18. Jumlah populasi sarang di Pulau Sangalaki tahun 20022012 .............................................................................................
Gambar 19. Jumlah populasi sarang di pantai Sukamade tahun 19802012 ............................................................................................
Gambar 20. Jumlah populasi sarang di pantai Ngagelan tahun 19842011 .............................................................................................
Gambar 21. Jumlah populasi sarang di pantai Pangumbahan tahun
2009-2011 ...................................................................................
viii

13

27
28
31

35
36
38
39
40

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Gambar 22. Jumlah populasi sarang di pantai Paloh tahun 2009-2012 ..


Gambar 23. Status stok genetik penyu belimbing di dunia ......................
Gambar 24. Migrasi pasca bertelur penyu hijau di tiga lokasi
peneluran di Indonesia .............................................................
Gambar 25. Lintasan enam penyu belimbing menggunakan satelit
telemetri pasca bertelur ............................................................
Gambar 26. Lintasan tiga penyu belimbing menggunakan satelit
telemetri pasca bertelur ............................................................
Gambar 27. Lintasan penyu lekang menggunakan satelit telemetri
pasca bertelur .............................................................................
Gambar 28. Tahapan penyu bertelur ...........................................................
Gambar 29. Tukik menuju laut ....................................................................
Gambar 30. Pengukuran CCL dan CCW pada saat monitoring penyu
di pantai peneluran ...................................................................
Gambar 31. Pengukuran track penyu pada saat monitoring penyu di
pantai peneluran .......................................................................
Gambar 32. Jenis-jenis termometer pengukur suhu pasir .......................
Gambar 33. Contoh metal tag untuk penyu dan contoh pemasangan tag
pada applicator .............................................................................
Gambar 34. Pemasangan tag yang salah dan pemasangan tag yang
benar ............................................................................................
Gambar 35. Pemotongan tali pancing pada penyu .....................................

42
44
46
48
48
49
55
57
59
59
61
71
71
74

Gambar 36. Mengangkat penyu ke atas kapal ............................................


Gambar 37. Penanganan penyu di atas kapal .............................................
Gambar 38. Melakukan penyadaran (resusitasi) dan pelepasan penyu
ke laut .........................................................................................

74
75

Gambar 39. Tehnik pengoperasian de-hooker ..............................................

78

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

ix

77

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Lembar monitoring jejak penyu ..............................................

87

Lampiran 2.
Lampiran 3.
Lampiran 4.
Lampiran 5.

Lembar monitoring peneluran ................................................


Lembar presentase penetasan..................................................
Lembar monitoring penyu yang mati .....................................
Lembar monitoring peneluran induk penyu .........................

88
89
90
91

Lampiran 6. Pendataan individu penyu yang mendarat ke pantai


peneluran (bertelur maupun tidak) .........................................
Lampiran 7. Spesies terkait secara ekologi (ERS) yang tertangkap .........

92
93

Lampiran 8. Panduan penanganan penyu yang tertangkap jaring atau


rawai/longline .............................................................................. 100

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

BAB-1
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Penyu merupakan reptil yang hidup di laut serta mampu bermigrasi


jarak jauh di sepanjang kawasan Samudera Hindia, Samudra Pasifik dan Asia
Tenggara. Keberadaannya telah lama terancam, baik karena alam maupun
kegiatan manusia yang membahayakan populasinya secara langsung maupun
tidak langsung.
Dari tujuh jenis penyu di dunia, tercatat enam jenis penyu yang
hidup di perairan Indonesia yaitu penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik
(Eretmochelys imbricata), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu pipih
(Natator depressus), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), serta penyu
tempayan (Caretta caretta). Jumlah ini sebenarnya masih menjadi perdebatan
karena Nuitja (1992) menyebutkan hanya lima jenis yang ditemukan di
Indonesia, dimana Caretta caretta dinyatakan tidak ada. Namun, beberapa
peneliti mengungkapkan bahwa Caretta caretta memiliki daerah jelajah yang
meliputi Indonesia (Limpus, et al., 1992; Charuchinda, et al., 2002).
Pergeseran fungsi lahan yang menyebabkan kerusakan habitat
pantai dan ruaya pakan, kematian penyu akibat kegiatan perikanan,
pengelolaan dengan teknik-teknik konservasi yang tidak memadai,
perubahan iklim, penyakit, pengambilan penyu dan telurnya serta ancaman
predator merupakan faktor-faktor penyebab penurunan populasi penyu.
Selain itu, karakteristik siklus hidup penyu sangat panjang (terutama penyu
hijau, penyu sisik dan penyu tempayan) dan untuk mencapai kondisi stabil
(kelimpahan populasi konstan selama 5 tahun terakhir) dapat memakan
PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

waktu cukup lama sekitar 3040 tahun, maka sudah seharusnya pelestarian
terhadap satwa langka ini menjadi hal yang mendesak.
Kondisi inilah yang menyebabkan semua jenis penyu di Indonesia
diberikan status dilindungi oleh negara sebagaimana tertuang dalam PP
Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis-jenis Tumbuhan dan Satwa
yang Dilindungi.
Secara internasional, penyu masuk ke dalam daftar merah (red list)
IUCN dan Appendiks I CITES yang berarti bahwa keberadaannya di alam
terancam punah sehingga segala bentuk pemanfaatan dan peredarannya
harus mendapat perhatian secara serius. Konservasi penyu secara
internasional mulai bergaung saat The First World Conference on the Conservation
of Turtles yang dilaksanakan di Washington DC, pada tanggal 26 sampai 30
November 1979. Konferensi tersebut dihadiri oleh sekitar 300 orang ahli
ekologi penyu, biologi satwa, biologi perikanan dan konservasionis yang
membahas lebih dari 60 paper dan melakukan analisis dalam menyelamatkan
populasi setiap spesies yang hidup di masing- masing negara.
Sejauh ini berbagai kebijakan terkait pengelolaan penyu sudah
cukup banyak dilakukan, baik oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan, maupun Kementerian Kelautan dan Perikanan. Bahkan
pemerintah secara terus-menerus mengembangkan kebijakan-kebijakan yang
sesuai dalam upaya pengelolaan konservasi penyu dengan melakukan
kerjasama regional seperti IOSEA-CMP, SSME dan BSSE. Munculnya UU
No. 31 tahun 2004 tentang Perikanan dan PP No. 60 tahun 2007 tentang
Konservasi Sumber Daya Ikan membawa nuansa baru dalam pengelolaan
konservasi penyu.
Namun pemberian status perlindungan saja tidak cukup untuk
memulihkan atau setidaknya mempertahankan populasi penyu di Indonesia.
Pengelolaan konservasi yang komprehensif, sistematis dan terukur mesti
segera dilaksanakan, diantaranya dengan cara memberikan pengetahuan
2

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

teknis tentang pengelolaan konservasi penyu bagi pihak-pihak terkait


khususnya pelaksana di lapang. Namun sampai saat ini buku lengkap yang
memuat informasi tentang pengelolaan konservasi penyu sangat sedikit yang
mudah dipahami oleh semua kalangan.
Sejalan dengan upaya pengelolaan konservasi penyu di Indonesia,
maka buku pedoman teknis bagi para pelaku pengelolaan konservasi penyu
di lapangan sangat diperlukan, diantaranya adalah buku Pedoman
Identifikasi dan Monitoring Populasi Penyu sebagai panduan dalam
melakukan identifikasi dan aktivitas monitoring penyu baik di kawasan
konservasi maupun di luar kawasan konservasi di Indonesia.

1.2

Maksud dan Tujuan

Maksud penulisan buku ini adalah untuk memberikan pengetahuan


dan pemahaman kepada masyarakat luas tentang teknik identifikasi jenisjenis penyu dan monitoring populasi penyu. Selain itu, buku ini diharapkan
dapat memperkaya khazanah ilmu dan pengetahuan guna mendorong upaya
pengelolaan dan konservasi penyu di Indonesia.
Tujuan penulisan buku ini adalah untuk menyebarluaskan
(mensosialisasikan) teknik identifikasi dan monitoring populasi penyu, serta
informasi dan pengetahuan tentang penyu secara lengkap meliputi aspek
biologi, ekologi dan konsepsi.
Buku yang tersusun diharapkan dapat menjadi pegangan dan
pedoman teknis, khususnya bagi para praktisi dan tenaga lapangan yang
berkecimpung dalam kegiatan pengelolaan konservasi penyu.

1.3 Ruang Lingkup


Pedoman umum identifikasi dan monitoring populasi penyu ini
memuat informasi tentang metode monitoring populasi penyu dan informasi

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

lain yang terkait dengan pengelolaan penyu. Informasi yang diuraikan dalam
buku pedoman ini penting untuk memberikan wawasan bagi pelaku
monitoring atau para pemangku kepentingan terkait. Secara umum pedoman
umum ini terdiri dari lima bab, yaitu:
Bab 1. Pendahuluan, berisi tentang latar belakang, maksud dan tujuan,
dan ruang lingkup;
Bab 2. Bioekologi, berisi tentang anatomi, taksonomi dan klasifikasi,
kunci identifikasi, reproduksi, siklus hidup, kelimpahan dan
kecenderungan populasi penyu Indonesia, kelompok (keragaman)
populasi penyu di Indonesia, dan jalur migrasi;
Bab 3. Teknik monitoring, berisi tentang persiapan, metode
pengumpulan data, pemanfaatan penyu, ancaman terhadap penyu,
tabulasi data, menduga ukuran (jumlah) populasi per satuan waktu,
teknik monitoring by catch penyu dan penanganannya;
Bab 4. Pelaporan, berisi tentang penyusunan laporan, dan penyampaian
laporan;
Bab 5. Penutup.
Dari tujuh spesies penyu di dunia, di Indonesia terdapat enam jenis
penyu yaitu penyu hijau, penyu pipih, penyu lekang, penyu sisik, penyu
tempayan dan penyu belimbing. Penyu kempi atau Lepidochelys kempi tidak
ditemukan di wilayah perairan Indonesia, oleh karena itu pada pedoman ini
tidak diikutkan pembahasan tentang penyu kempi.
Dengan demikian, dengan adanya buku ini dapat memudahkan para
stakeholder dalam mengindentifikasi dan memonitoring populasi penyu di
Indonesia, terutama di daerah utama peneluran penyu.

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

BAB-2
BIOEKOLOGI PENYU
2.1 Anatomi Penyu
Pengenalan terhadap bagian-bagian tubuh penyu beserta fungsinya
sangat diperlukan agar dapat melakukan identifikasi dengan baik. Secara
umum, tubuh penyu terdiri dari bagian-bagian:
1) Karapas, yaitu bagian tubuh yang dilapisi zat tanduk, terdapat di
bagian punggung dan berfungsi sebagai pelindung.
2) Plastron, yaitu lapisan tubuh bagian bawah sebagai penutup pada
bagian dada dan perut.
3) Inframarginal, yaitu keping penghubung antara bagian pinggir karapas
dengan plastrn. Bagian ini dapat digunakan sebagai salah satu kunci
identifikasi.
4) Flipper depan, yaitu sirip atau kaki bagian depan yang berfungsi
sebagai alat dayung.
5) Flipper belakang, yaitu kaki bagian belakang (pore flipper), berfungsi
sebagai alat penggali dan kemudi.
6) Scutes vertebrae adalah lapisan keratin berupa lempengan sisik yang
ditemukan pada bagian tengah karapas.
7) Scutes costal adalah lempengan sisik yang ditemukan pada bagian
samping karapas
8) Scales adalah lempengan sisik yang menutup bagian flipper dan kepala.

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Dorsal

Karapas

Plastron
Medial
Lateral

Ventral
Distal
Anterior

Posterior

Dorsal/ Atas
Scute Costae

Scute Vertebrae

Ventral/ Bawah

Proksimal

Head/ Kepala

Fore flipper

Hind

Gambar 1. Anatomi eksternal penyu: (a) karapas dan plastron (atas); (b)
bagian dorsal, ventral dan kepala (bawah) (Sumber: Wyneken,
1996)
2.2

Taksonomi dan Klasifikasi


Menurut Carr (1972), penyu termasuk ke dalam Ordo Testudinata
yang memiliki dua famili yang masih bertahan hingga saat ini , yaitu:
A. Famili
: Cheloniidae, meliputi :
Spesies
: 1) Chelonia mydas (penyu hijau)
2) Natator depressus (penyu pipih)

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

B. Famili
Spesies

3) Lepidochelys olivacea (penyu lekang)


4) Lepidochelys kempi (penyu kempi)
5) Eretmochelys imbricata (penyu sisik)
6) Caretta caretta (penyu tempayan atau penyu karet)
: Dermochelyidae, meliputi :
: 7) Dermochelys coriacea (penyu belimbing)

Dari tujuh spesies penyu di atas, penyu kempi (Lepidochelys kempi)


tidak ditemukan di wilayah perairan Indonesia, tapi berada di Amerika Latin
dan perairan pantai timur Amerika Serikat.
Klasifikasi jenis penyu laut yang hidup di perairan Indonesia adalah
sebagai berikut :
1. Penyu hijau, Green Turtle [Chelonia mydas (Linnaeus, 1758)]
Kingdom
Phylum
Class
Sub Class
Ordo
Family
Genus
Species

: Animalia
: Chordata
: Reptilia
: Anapsida
: Testudines
: Chelonidae
: Chelonia
: Chelonia mydas
Gambar 2. Penyu hijau (Chelonia mydas)
(Sumber: WWF Indonesia)

Nama lokal :

Penyu hijau, penyu daging (Bali), penyu pendok


(Karimun Jawa), penyu sala (Sumbawa), Katuwang
(Sumatera Barat), Panyo kambau (Paloh)

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

2. Penyu lekang, Olive Ridley [Lepidochelys olivacea (Eschscholtz, 1829)]


Kingdom
Phylum
Class
Sub Class
Ordo
Famili
Genus
Species

: Animalia
: Chordata
: Reptilia
: Anapsida
: Testudines
: Chelonidae
: Lepidochelys
Gambar 3. Penyu lekang (Lepidochelys olivacea)
: Lepidochelys olivacea
(Sumber: WWF Indonesia)

Nama lokal : Penyu sisik semu, penyu lekang, penyu batu, penyu abuabu, penyu slengkrah (Jawa Timur), Panyo Karahan
(Paloh)
3. Penyu belimbing, Leatherback Turtle [Dermochelys coriacea (Vandelli, 1761)]
Kingdom
Phylum
Class
Sub Class
Ordo
Famili
Genus
Species

: Animalia
: Chordata
: Reptilia
: Anapsida
: Testudines
: Dermochelydae
: Dermochelys
: Dermochelys coriacea
Gambar 4. Penyu belimbing (Dermochelys coriacea)
(Sumber: WWF Indonesia)

Nama lokal : Penyu belimbing, Panyo Timbau (Paloh)

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

4. Penyu sisik, Hawksbill Turtle, [Eretmochelys imbricata (Eschscholtz, 1829)]


Kingdom
Phylum
Class
Sub Class
Ordo
Family
Genus
Spesies

: Animalia
: Chordata
: Reptilia
: Anapsida
: Testudines
: Chelonidae
: Eretmochelys
: Eretmochelys imbricata

Gambar 5. Penyu sisik (Eretmochelys


imbricate) (Sumber: WWF
Indonesia

Nama lokal : Penyu sisik (Bali, Jawa Barat, Sumatera Barat, Pulau
Seribu, Sulawesi, Kalimantan Timur), penyu sisir
(Madura), penyu genting (Jawa Timur), Panyo Sisek
(Paloh)
5.

Penyu tempayan, Loggerhead Turtle [Caretta caretta (Linnaeus, 1758)]


Kingdom : Animalia
Phylum
: Chordata
Class
: Reptilia
Sub Class : Anapsida
Ordo
: Testudines
Family
: Chelonidae
Genus
: Caretta
Spesies
: Caretta caretta
Gambar 6. Penyu tempayan (Caretta caretta)
(Sumber: WWF Indonesia

Nama lokal : Penyu karet, penyu merah, penyu tempayan

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

6.

Penyu pipih , Flatback Turtle [Natator depressus (Garman, 1880)]


Kingdom : Animalia
Phylum
: Chordata
Class
: Reptilia
Sub Class : Anapsida
Ordo
: Testudines
Family
: Chelonidae
Genus
: Natator
Spesies
: Natator depressus
Nama lokal : Penyu pipih
Gambar 7. Penyu pipih (Natator depressus)
(Sumber: WWF Indonesia

2.3

Kunci Identifikasi Penyu


Identifikasi jenis penyu dapat dilakukan berdasarkan pada hal-hal
berikut:
a. Bentuk luar (morfologi)
b. Tanda-tanda khusus pada karapas dan sisik kepala
c. Jejak dan ukuran sarang (diameter dan kedalaman sarang) serta
kebiasaan bertelur
d. Pilihan habitat peneluran
2.3.1 Morfologi
Perbedaan karakteristik eksternal antar spesies penyu terletak pada :
1. Jenis cangkangnya (lunak atau keras) serta ada atau tidaknya
lempengan sisik di kepala (scales) dan di karapas (scutes).
2. Jumlah dan susunan lempengan (scutes) pada cangkang, baik
cangkang bagian atas (karapas) maupun cangkang bagian bawah
(plastron).
3. Jumlah lempengan sisik (scales) pada kepala.

10

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Identifikasi penyu berdasarkan bentuk luar (morfologi) setiap jenis


dapat dilihat pada Tabel 1. Tata cara atau kunci identifikasi jenis penyu
berdasarkan ciri-ciri morfologi dapat dilihat pada Gambar 8.
Tabel 1. Identifikasi penyu berdasarkan karakteristik eksternal (morfologi)
Kode Spesies/
Jenis Penyu
Penyu belimbing
(Dermochelys coriacea)
Penyu hijau
(Chelonia mydas)
Penyu pipih
(Natator depressus)
Penyu sisik
(Eretmochelys imbricate)
Penyu tempayan
(Caretta caretta)
Penyu lekang
(Lepidochelys olivacea)

Karakteristik Eksternal
Jumlah
Jenis
Jumlah scutes
Jumlah scales
cangkang/ scutes costal inframarginal
(pada
prefrontal
Shell
(pada plastron)
karapas)
Lunak
-

Jumlah scales
postocular/
posorbital
-

Keras

4 pasang

4 pasang

1 pasang

4 pasang

Keras

4 pasang

4 pasang

1 pasang

3 pasang

Keras

4 pasang

1 pasang

2 pasang

3 pasang

Keras

5 pasang

3 pasang

2 pasang

3 pasang

Keras

5 pasang atau
lebih

4 pasang

2 pasang

3 pasang

Catatan:
1. Penyu pipih (Natator depressus) endemik di perairan Australia dan sangat
jarang ditemukan di Indonesia.
2. Costal scutes penyu sisik (Eretmochelys imbricate) cenderung tumpang
tindih/overlapping.
3. Pada scutes inframarginal penyu lekang (Lepidochelys olivacea) terdapat
lubang-lubang/pores.

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

11

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Jenis Penyu

Penyu
belimbing

Penyu
hijau

Penyu
pipih

Penyu
sisik

12

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Penyu
tempayan

Penyu
lekang

Gambar 8.

Kunci identifikasi penyu berdasarkan karakteristik eksternal


(morfologi) (Sumber: Adnyana et al., 2008)

Adapun ciri-ciri bentuk luar (morfologi) anak penyu (tukik)


disajikan pada Tabel 2 dan bentuk tukik penyu dapat dilihat pada Gambar 9.

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

13

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Tabel 2. Ciri-ciri bentuk luar (morfologi) tukik setiap jenis penyu


No.

14

Jenis Penyu

Ciri-ciri Morfologi

Penyu hijau
(Chelonia mydas)

Karapas melebar, berwarna kehitaman pada


bagian karapas dan bagian tepi karapas bergaris
putih tipis serta plastron berwarna putih. Jumlah
scales dan scutes sama dengan penyu hijau dewasa.

Penyu pipih
(Natator depressus)

Ukuran lebih besar dari tukik penyu hijau.


Karapas meluas, berbentuk oval tidak
meruncing di belakang, berwarna keabuan pada
bagian karapas dan pada bagian tepi karapas
berwarna putih lebih lebih lebar dari penyu
hijau. Jumlah scales dan scutes sama dengan penyu
pipih dewasa

Penyu lekang
(Lepidochelys olivacea)

Penyu sisik
(Eretmochelys imbricate)

Jumlah scales dan scutes sama dengan penyu


lekang dewasa. Berwarna hitam pekat secara
keseluruhan dan memiliki sisik semu.
Jumlah scales dan scutes sama dengan penyu sisik
dewasa. Berwarna coklat kehitaman dan bentuk
karapas memanjang.

Penyu belimbing
(Dermochelys coriacea)

Karapas berbentuk buah belimbing


berwarna hitam berbintik putih.

Penyu tempayan
(Caretta caretta)

Jumlah scales dan scutes sama dengan penyu


tempayan dewasa berwarna kecoklatan dan
memiliki bentuk karapas memanjang seperti
bentuk tempayan.

dan

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Penyu pipih
Penyu belimbing

Penyu sisik

Penyu hijau

Penyu tempayan

Penyu lekang

(a) tampak malam

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

15

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Penyu tempayan

Penyu hijau

Penyu sisik

Penyu pipih

Penyu belimbing

Penyu lekang

(b) tampak siang


Gambar 9. Morfologi jenis-jenis tukik: (a) jika dilihat tanpa cahaya/tampak
malam (atas) (b) jika dilihat saat ada cahaya/tampak siang
(bawah) (Sumber: Eckert et al., 1999)
2.3.2 Jejak, Ukuran Sarang dan Kebiasaan Bertelur
Identifikasi jenis penyu berdasarkan jejak (track), ukuran sarang dan
kebiasaan bertelur penyu dijelaskan pada Tabel 3 di bawah ini.
Tabel 3. Identifikasi berdasarkan jejak (track) dan ukuran sarang
Identifikasi
No.

Jenis Penyu
Jejak/track

16

Penyu hijau
(Chelonia mydas)

Lebar jejak 100 cm


Bentuk pintasan jelas,
jejak
(track)
yang
terbentuk pada pasir
berpola simetris yang

Ukuran Sarang dan


Kebiasaan Bertelur
Kedalaman antara
55-60 cm
Bertelur
pada
malam hari
Interval peneluran

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Identifikasi
No.

Jenis Penyu
Jejak/track

Penyu pipih
(Natator
depressus)

Penyu lekang
(Lepidochelys
olivacea)

dibuat oleh flipper


depan.
Lebar jejak 90 cm
Jejak (track) yang
terbentuk pada pasir
berpola simetris yang
dibuat oleh flipper
depan.

Lebar jejak 80 cm
Bentuk pintasan/ jejak
dangkal, jejak yang
dibuat flipper depan
tidak simetris

Ukuran Sarang dan


Kebiasaan Bertelur
per musim 1017
hari
Kedalaman antara
60-67 cm
Pembuatan sarang
dilakukan di pantai
terbuka yang luas,
di daratan atau di
pulau-pulau besar
berhabitat karang
Bertelur
pada
malam dan siang
hari
Interval peneluran
permusim 9 23
hari
Kedalaman antara
37-38 cm
Bertelur setiap saat
(malam atau siang),
ditemukan secara
serentak dalam
beberapa hari
arribada. Arribada
adalah perilaku unik
dari betina
Lepidochelys olivacea
yang bersarang
secara serentak pada
waktu tertentu.
Penyu ini bertelur di
daerah tropis

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

17

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Identifikasi
No.

Jenis Penyu
Jejak/track

Penyu sisik
(Eretmochelys
imbricate)

Lebar jejak 75 cm
Bentuk pintasan
dangkal, jejak yang
dibuat tidak simetris

Penyu
belimbing
(Dermochelys
coriacea)

Lebar jejak minimal


150 cm
Pintasan sangat dalam
dengan bentuk jejak
berpola simetris yang
dibuat oleh flipper
depan

18

Ukuran Sarang dan


Kebiasaan Bertelur
berpohon.
Interval
bertelur
permusim 14 30
hari
Kedalaman antara
35-42 cm
Tempat bertelur
dipilih di pasir koral
atau pasir granit.
Kedalaman sarang
paling dangkal
dibanding sarang
penyu jenis lainnya.
Interval peneluran
permusim 11
28 hari.
Dapat bertelur pada
malam dan siang
hari
Kedalaman sarang
>100cm
Bertelur di pantai
yang luas dan
panjang di daerah
tropis
Interval peneluran
permusim 9 10
hari
Bertelur pada
malam hari

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Identifikasi
No.

Jenis Penyu
Jejak/track

Penyu
tempayan
(Caretta caretta)

Lebar track 90 cm
Pintasannya jelas dan
dalam. Bentuk jejak
diagonal yang berpola
tidak simetris dibuat
oleh kaki depannya.

Ukuran Sarang dan


Kebiasaan Bertelur
Kedalaman antara
39-55 cm
Pembuatan sarang
umumnya dilakukan
di pantai pada
daratan pulau besar.
Interval peneluran
permusim 13
17 hari
Bertelur pada
malam hari

Pemantauan jejak setiap jenis penyu yang akan bertelur dilakukan


mulai dari jejak saat naik yaitu dari permukaan air menuju intertidal sampai
daerah vegetasi atau lokasi yang cocok untuk digali oleh penyu. Pemantauan
jejak terbaik dilakukan pada malam hari yaitu beberapa saat setelah penyu
kembali ke laut agar jejak masih terlihat jelas untuk tujuan identifikasi.
Contoh jejak beberapa jenis penyu disajikan pada Gambar 10 di bawah ini.

(a)

(b)

(c)

Gambar 10. Contoh jejak/track beberapa jenis penyu: (a) penyu tempayan;
(b)
penyu
hijau;
dan
(c)
penyu
belimbing
(http://www.gumbolimbo.org/nesting)

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

19

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Panjang kaki belakang (pore flipper) pada penyu jenis tertentu


menentukan dalamnya sarang. Secara umum penyu mampu membuat
lubang sarang sejauh panjang jangkauan kaki belakangnya untuk menggali
pasir di sekitarnya. Sarang yang paling dangkal adalah yang dibuat oleh
penyu sisik karena kaki belakang penyu sisik adalah yang terpendek diantara
penyu lainnya. Beberapa ukuran sarang yang dibuat oleh setiap jenis penyu
yang ada di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Ukuran kedalaman dan diameter sarang menurut jenis penyu
No.

Jenis Penyu

Penyu hijau
(Chelonia mydas)
Penyu pipih
(Natator depressus)
Penyu lekang
(Lepidochelys olivacea)
Penyu sisik
(Eretmochelys imbricate)
Penyu belimbing
(Dermochelys coriacea)
Penyu tempayan
(Caretta caretta)

2
3
4
5
6

Kedalaman
Sarang (cm)

Diameter Sarang
(cm)

55-60

23-25

60-67

25-30

37-38

20-21

35-42

18-22

>100

30-35

39-55

18-25

Ukuran telur penyu cenderung mempunyai korelasi dengan jenis


penyu yang bertelur. Besar, jumlah dan ukuran telur penyu laut serta
beberapa karakteristik penyu ketika bertelur menurut WWF-Indonesia dan
Universitas Udayana (2009) disajikan pada Tabel 5.

20

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Tabel 5. Jumlah dan ukuran telur penyu serta karakteristik penyu ketika
bertelur
Parameter

Hijau
Malam

Pipih
Malam

Jenis Penyu
Lekang
Sisik
Belimbing Tempayan
malam
Siang dan
Malam
Malam
malam

Saat bertelur
(umumnya)
Lama
1-1,5
1,5-2
menyelesaikan 2-3 jam
1 jam
1,5 jam
jam
jam
ritual bertelur
Selang bertelur
per musim
10-17 hari 13-18 hari 17-30 hari 13-15 hari 9-10 hari
peneluran
Selang bertelur
2,86 0,23
1,7 0,3 2,90 0,11 2,28 0,14
antar musim
2,65 tahun
tahun
tahun
tahun
tahun
peneluran
Lama berahi
Lebar track
Panjang lengkung karapas
(saat bertelur)
Jumlah sarang
telur per
musim bertelur
Jumlah telur
per sarang
Berat telur

7-10 hari 7-10 hari 7-10 hari 7-10 hari 7-10 hari
100 cm

90 cm

80 cm

75 cm

150 cm

99,1 1,9 90,7 0,9 66,0 1,1 78,6 1,7 148,7 1,7
cm
cm
cm
cm
cm

2,93 0,28

112,8 3,7
butir
46,1 1,6
gram
Diameter telur 44,9 0,7
mm
Volume telur 45,8 1,2
cc
Berat tukik
24,6 0,91
baru menetas
gram

2,84
52,8 0,9
butir
51,4 0,4
gram
51,5 0,3
mm
70,8 1,1
cc
39,3
2,42 gram

2,21 0,79

2,74
0,22

6,17 0,47

109,9 1,8 130 6,8 81,5 3,6


butir
butir
butir
26,6 0,9 75,9 4,2
35,7 gram
gram
gram
39,3 0,4 37,8 0,5 53,4 0,5
mm
mm
mm
31,8 1,1 28,7 1,3
79,7 2,4 cc
cc
cc
14,8
44,4 4,16
17 gram
0,61 gram
gram

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

1-2 jam

13-17 hari

2,59 0,15
tahun
7-10 hari
>90 cm
87,0 1,6
cm

3,49 0,20
112,4 2,2
butir
32,7 2,8
gram
40,9 0,4
mm
36,2 1,1 cc
19,9 0,68
gram

21

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

2.3.3 Karakteristik Habitat Peneluran


Semua jenis penyu, termasuk yang hidup di perairan Indonesia,
memiliki daerah peneluran yang khas. Hasil penelitian di berbagai kawasan
dunia sejak tahun 1968 hingga 2009 diperoleh kesimpulan seperti tersebut
pada Tabel 6.
Tabel 6. Karakteristik habitat peneluran beberapa jenis penyu
No.

22

Jenis Penyu

Penyu hijau
(Chelonia mydas)

Penyu pipih
(Natator depressus)

Penyu lekang
(Lepidochelys olivacea)

Penyu sisik
(Eretmochelys imbricate)

Penyu belimbing
(Dermochelys coriacea)

Karakteristik Habitat
Jika di sepanjang pantai ditemukan
pohon Hibiscus tilacus, Terminalia
catappa dan Pandanus tectorius dengan
jenis pasir terdiri dari mineral kuarsa
dan pasir berwarna putih kecoklatan.
Daerah peneluran terdiri dari pasir
putih, dimana banyak ditemukan
sand dunes tidak terdapat vegetasi
pantai, hanya ada rumput-rumputan
dan tanaman perdu.
Daerah peneluran penyu lekang terdiri
dari butiran pasir hitam, memiliki
kandungan mineral opac lebih dari
70%.
Daerah peneluran penyu sisik terdiri
dari butiran pasir koral hasil
hempasan ombak/gelombang, warna
pasir putih atau kekuningan.
Penyu belimbing seringkali menyukai
habitat peneluran penyu hijau. Untuk
membedakannya dapat dilihat dari
jarak antara sarang asli dan sarang

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Penyu tempayan
(Caretta caretta)

palsu yang dibuat penyu. Apabila jarak


antara sarang asli dengan sarang palsu
sekitar 1-2 meter, maka tempat
tersebut habitat peneluran penyu
hijau. Sedangkan penyu belimbing
membuat jarak lebih dari 2 meter
bahkan mencapai 5 meter antara
sarang asli dengan yang palsu.
Daerah peneluran di pantai berpasir
yang terdiri dari butiran berdiameter
medium dengan material pasir silika.
Di Pulau Heron, Australia ditemukan
penyu tempayan bertelur di pantai
peneluran yang terdiri dari koral.

2.3.4 Distribusi dan Sebaran


Distribusi beberapa jenis penyu secara umum dapat dilihat pada Tabel
7 dan Gambar 6 di bawah ini.
Tabel 7. Distribusi dan sebaran jenis penyu
No.
1

Jenis Penyu
Penyu hijau
(Chelonia mydas)

Distribusi dan Sebaran


Samudera Pasifik, Samudera Atlantik
dan Samudera Hindia. Penyu hijau
merupakan jenis penyu yang banyak
dijumpai di Perairan Indonesia, mulai
dari wilayah Indonesia bagian barat
(Aceh, Sumatera Barat, Riau,
Kepulauan Riau, Bangka-Belitung
dan Kalimantan Barat), bagian
tengah
(Kepulauan
Seribu,
Kalimantan Timur, Kalimantan

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

23

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

No.

24

Jenis Penyu

Penyu pipih
(Natator depressus)

Penyu lekang
(Lepidochelys olivacea)

Penyu sisik
(Eretmochelys imbricate)

Penyu belimbing
(Dermochelys coriacea)

Distribusi dan Sebaran


Selatan, Jawa Barat dan Jawa Timur),
hingga bagian timur (Bali, NTB,
NTT, Sulawesi dan Papua).
Penyu pipih sampai dengan saat ini
hanya ditemukan bertelur di benua
Australia sehingga sering disebut
endemik Australia dan penyebaran
dan ruaya hidupnya lebih sempit
dibandingkan jenis penyu-penyu
lainnya.
Samudera Indo-Pasifik dan Samudera
Atlantik. Di Indonesia agak sulit
diketahui penyebarannya secara pasti,
banyak ditemui di daerah Jawa Timur
dan Bali dibandingkan lokasi lainnya
di Indonesia.
Samudera Pasifik, Samudera Atlantik
dan Samudera Hindia, terutama
hidup di daerah tropis dan subtropis.
Perairan-perairan karang terutama
pada pulau-pulau kecil di Laut Jawa,
Laut Flores, Selat Makassar, Selat
Karimata, Pulau Menjangan, dll.
Penyu belimbing dapat ditemukan
dari perairan tropis hingga ke laut
kawasan sub-kutub dan biasa bertelur
di pantai-pantai di kawasan tropis.
Spesies ini menghabiskan sebagian
besar hidupnya di lautan terbuka dan

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

No.

Jenis Penyu

Penyu tempayan
(Caretta caretta)

Distribusi dan Sebaran


hanya muncul ke daratan pada saat
bertelur.
Penyu tempayan ini sangat jarang
ditemui dan berdasarkan laporan
pernah ditemukan di Pulau Komodo,
Nusa Tenggara Barat. Spesies ini
menjadikan Pulau Komodo hanya
sebagai tempat makannya dan hingga
saat ini belum didapatkan informasi
lokasi pantai peneluran penyu
tempayan di Indonesia.

Gambar 11. Sebaran beberapa jenis penyu laut di Indonesia (Habitat pakan
dan pantai penelurannya) (Sumber : WWF Indonesia)

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

25

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

2.4. Reproduksi Penyu


Reproduksi penyu adalah proses regenerasi yang dilakukan penyu
dewasa jantan dan betina melalui tahapan perkawinan, peneluran sampai
menghasilkan generasi baru (tukik). Tahapan reproduksi penyu dapat
dijelaskan sebagai berikut di bawah ini.
2.4.1 Perkawinan
Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor penyu, dari ratusan
butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak 13%
yang berhasil mencapai dewasa. Penyu melakukan perkawinan di dalam air
laut, terkecuali pada kasus penyu tempayan yang akan melakukan
perkawinan meski dalam penangkaran apabila telah tiba masa kawin. Penyu
melakukan perkawinan dengan cara penyu jantan bertengger di atas
punggung penyu betina (Gambar 13). Pada waktu akan kawin, alat kelamin
penyu jantan yang berbentuk ekor akan memanjang ke belakang sambil
berenang mengikuti kemana penyu betina berenang. Penyu jantan kemudian
naik ke punggung betina untuk melakukan perkawinan. Selama perkawinan
berlangsung, penyu jantan menggunakan kuku kaki depan untuk menjepit
tubuh penyu betina agar tidak mudah lepas. Kedua penyu yang sedang
kawin tersebut timbul tenggelam di permukaan air dalam waktu cukup lama,
bisa mencapai 6 jam lebih. Umumnya, peroses perkawinan terjadi di perairan
dangkal dan dekat lokasi peneluran.

26

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Gambar 12. Perkawinan dan lokasi peneluran penyu


(Sumber : WWF Indonesia)

Gambar 13. Perkawinan penyu di perairan dangkal terbawa arus hingga ke


pantai (Sumber : WWF-Indonesia)

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

27

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Untuk membedakan kelamin penyu dapat dilakukan dengan cara


sexual dimorphism, yaitu membedakan ukuran ekor dan kepala penyu
sebagai berikut (Tabel 8 dan Gambar 14).
Tabel 8. Cara penentuan jenis kelamin penyu
No

Jenis Kelamin

Uraian
Jantan

1
2

Kepala
Ekor

Lebih kecil
Lebih kecil, memanjang

(a)

Betina
Lebih besar
Lebih pendek, agak
besar

(b)

Gambar 14. Perbedaan jenis kelamin penyu: (a) jantan dan (b) betina
(Sumber : WWF Indonesia)
Setiap jenis penyu melakukan kopulasi di daerah sub-tidal pada saat
menjelang sore hari atau pada matahari baru terbit. Setelah 2-3 kali
melakukan kopulasi, beberapa minggu kemudian penyu betina akan mencari
daerah peneluran yang cocok sepanjang pantai yang diinginkan.

28

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

2.4.2 Perilaku Peneluran


Ketika akan bertelur penyu akan naik ke pantai. Hanya penyu betina
yang datang ke daerah peneluran, sedangkan penyu jantan berada di daerah
sub-tidal. Penyu bertelur dengan tingkah laku yang berbeda sesuai dengan
spesies masing-masing. Setiap spesies penyu memiliki waktu (timing)
peneluran yang berbeda satu sama lain, seperti yang tersebut pada Tabel 9.
Tabel 9. Waktu (timing) peneluran menurut spesies (jenis) penyu
No.

Jenis penyu

Penyu hijau
(Chelonia mydas)

Penyu pipih
(Natator depressus)
Penyu lekang
(Lepidochelys olivacea)
Penyu sisik
(Eretmochelys imbricate)
Penyu belimbing
(Dermochelys coriacea)
Penyu tempayan
(Caretta caretta)

3
4
5
6

Waktu peneluran
Mulai matahari tenggelam dan paling
banyak ditemukan ketika suasana gelap
gulita (jam 21.00-02.00).
Malam dan siang
Saat menjelang malam (jam 20.00 - 24.00)
Waktu peneluran tidak dapat diduga,
kadang malam hari tetapi bisa siang hari
Ketika malam mulai menjelang (jam
20.00-03.00)
Malam

Lama antara peneluran yang satu dengan peneluran berikutnya


(interval peneluran) dipengaruhi oleh suhu air laut. Semakin tinggi suhu air
laut, maka interval peneluran cenderung semakin pendek. Sebaliknya
semakin rendah suhu air laut, maka interval peneluran cenderung semakin
panjang.

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

29

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Tahapan bertelur pada berbagai jenis penyu umumnya berpola sama.


Tahapan yang dilakukan dalam proses betelur adalah sebagai berikut
(Gambar 15):
1. Penyu menuju pantai, muncul dari hempasan ombak
2. Naik ke pantai, diam sebentar dan melihat sekelilingnya, bergerak
melacak pasir yang cocok untuk membuat sarang. Jika tidak cocok,
penyu akan mencari tempat lain.
3. Penyu membersihkan tempat yang cocok untuk bertelur
4. Menggali kubangan untuk tumpuan tubuhnya (body pit)
5. Dilanjutkan menggali sarang telur di dalam body pit. Umumnya penyu
membutuhkan waktu 45 menit untuk menggali sarang.
6. Penyu mengeluarkan telurnya satu per satu, kadangkala serentak dua
sampai tiga telur. Ekor penyu melengkung ketika bertelur. Umumnya
penyu membutuhkan waktu 10 20 menit untuk meletakkan telurnya.
7. Sarang telur ditimbun dengan pasir menggunakan sirip belakang
8. Penyu menimbun kubangan (body pit) dengan ke empat kakinya. Penyu
membuat penyamaran jejak untuk menghilangkan lokasi bertelurnya.
9. Kembali ke laut, menuju deburan ombak dan menghilang di antara
gelombang. Pergerakan penyu ketika kembali ke laut ada yang bergerak
lurus atau melalui jalan berkelok-kelok.
Penyu betina akan kembali ke ruaya pakannya setelah musim
peneluran berakhir, dan tidak akan bertelur lagi untuk 28 tahun mendatang.

30

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

6. Meletakan Telur
9. Kembali Kelaut

Gambar 15. Tahapan penyu bertelur (Sumber : WWF Indonesia)


Berdasarkan gambar di atas, diketahui bahwa dalam tahapan penyu
bertelur terdapat tahap sensitif (merah), semi sensitif (kuning) dan tidak
sensitif (hijau). Oleh karena itu di dalam melakukan kegiatan monitoring
maupun pendataan sebaiknya dilakukan pada tahapan berwarna hijau
dan/atau kuning agar tidak menggangu penyu yang hendak bertelur di
pantai.

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

31

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

2.5

Siklus Hidup
Seluruh spesies penyu memiliki siklus hidup yang sama. Penyu
mempunyai pertumbuhan yang sangat lambat dan memerlukan berpuluhpuluh tahun untuk mencapai usia reproduksi. Penyu dewasa hidup
bertahun-tahun di satu tempat sebelum bermigrasi untuk kawin dengan
menempuh jarak yang jauh (hingga 3.000 km) dari ruaya pakan ke pantai
peneluran. Pada umur yang belum terlalu diketahui (sekitar 20-50 tahun)
penyu jantan dan betina bermigrasi ke daerah peneluran di sekitar daerah
kelahirannya. Perkawinan penyu dewasa terjadi di lepas pantai satu atau dua
bulan sebelum peneluran pertama di musim tersebut. Baik penyu jantan
maupun betina memiliki beberapa pasangan kawin.
Penyu betina menyimpan sperma penyu jantan di dalam tubuhnya
untuk membuahi tiga hingga tujuh kumpulan telur (nantinya menjadi 3-7
sarang) yang akan ditelurkan pada musim tersebut. Penyu jantan biasanya
kembali ke ruaya pakannya sesudah penyu betina menyelesaikan kegiatan
bertelur dua mingguan di pantai. Penyu betina akan keluar dari laut jika telah
siap untuk bertelur, dengan menggunakan sirip depannya menyeret
tubuhnya ke pantai peneluran. Penyu betina membuat kubangan atau lubang
badan (body pit) dengan sirip depannya lalu menggali lubang untuk sarang
sedalam 30-60 cm dengan sirip belakang. Jika pasirnya terlalu kering dan
tidak cocok untuk bertelur, si penyu akan berpindah ke lokasi lain.
Penyu mempunyai sifat kembali ke rumah (strong homing instinct) yang
kuat (Clark, 1967 dalam Nuitja, 1992; McConnaughey, 1974; Mortimer &
Carr, 1987), yaitu migrasi antara lokasi mencari makan (feeding ground) dengan
lokasi bertelur (breeding ground). Migrasi ini dapat berubah akibat berbagai
alasan, misalnya perubahan iklim, kelangkaan pakan di alam, banyaknya
predator termasuk gangguan manusia, dan terjadi bencana alam yang hebat
di daerah peneluran, misalnya tsunami. Siklus hidup penyu secara umum
dapat dilihat pada pada Gambar 16.

32

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Gambar 16.

Siklus hidup penyu (Sumber: Pusat Pendidikan dan


Konservasi Penyu, Serangan, Bali)

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

33

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

2.6

Kelimpahan dan Kecenderungan Populasi Penyu di Indonesia


Suatu upaya untuk mereka-reka kelimpahan populasi berbagai jenis
penyu yang ada di Indonesia sebelum tahun 1997 pernah dilakukan
(Tomascik, 1997). Namun demikian, setelah periode tersebut pembaruan
(update) data belum pernah dilakukan. Saat ini, data kelimpahan populasi
yang diperoleh dari hasil pemantauan dalam kurun lebih dari lima tahun
hanya ada untuk beberapa lokasi peneluran, seperti Jamursba Medi di Papua,
Kabupaten Berau - Kalimantan Timur, serta pantai Sukamade dan Ngagelan
di Jawa Timur. Kecuali populasi bertelur penyu lekang di pantai peneluran
Alas Purwo, Jawa Timur, populasi semua jenis penyu di lokasi lainnya
mengalami penurunan.
2.6.1

Penyu Belimbing di Jamursba Medi, Papua


Pantai Jamursba Medi (00200022LS dan 132025132039BT) adalah
lokasi peneluran penyu belimbing terbesar di kawasan Pasifik dengan
panjang pantai adalah 18 km (Hitipeuw et al., 2007). Berdasarkan analisis
data hasil pemantauan terhadap populasi penyu belimbing oleh WWF
Indonesia (2012) diketahui bahwa selama lima tahun terakhir (waktu
pengamatan Januari-Desembar) di pantai Jamursba Medi menunjukkan
adanya kecenderungan penurunan jumlah sarang (Gambar 17) dari tahun ke
tahun yaitu pada tahun 2007 jumlah sarang (nest count) terdapat sebanyak 562
sarang, tahun 2008 jumlah sarang sebanyak 526 sarang, tahun 2009 sebanyak
529 sarang, tahun 2010 sebanyak 372 sarang, sedangkan pada tahun 2011
sebanyak 464 sarang.

34

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Gambar 17.

Jumlah populasi sarang di pantai Jamursba Medi tahun 1981 2011 (Sumber: BKSDA Sorong dan WWF Indonesia)

2.6.2 Penyu Hijau di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur


Kawasan perairan Berau (0204942.6 - 01020.06 LU dan
11705917.16 - 1190250.30 LS) merupakan habitat bertelur dan habitat
pakan bagi penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys
imbricata) terbesar di Indonesia. Pada perairan ini terdapat 31 pulau-pulau
kecil dimana 9 diantaranya tempat penyu bertelur, yaitu Pulau Derawan, P.
Sangalaki, P. Bilang-Bilangan, P. Mataha, P. Samama, P. Maratua, P. Sambit,
P. Balikukup, dan P. Kaniungan. Empat pulau yang disebutkan pertama
adalah merupakan prioritas pemantauan penyu hijau.
PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

35

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Berdasarkan Suprapti et al. (2014), kegiatan konservasi di Kabupaten


Berau menunjukkan bahwa wilayah Pulau Derawan sejak Juni 2003 hingga
Mei 2014 (11 tahun) telah berhasil menyelamatkan 2.141 sarang telur penyu
dari ancaman perburuan dan menetaskan tukik sejumlah 138.549 ekor.
Kegiatan konservasi yang dilakukan di Pulau Sangalaki sejak tahun 2002
hingga 2014 telah berhasil menyelamatkan 40.407 sarang telur dan
menghasilkan tukik sejumlah 1.665.024 ekor. Sedangkan kegiatan konservasi
yang dilakukan di wilayah selatan yaitu Pulau Mataha dan P. Bilang-bilangan
sejak 2011 hingga Mei 2014 (3,5 tahun) telah berhasil menyelamatkan 8.327
dan 19.692 sarang telur dengan jumlah tukik yang berhasil menetas sejumlah
416.258 dan 1.109.144 ekor. Dengan demikian, upaya konservasi yang
dilakukan sejak periode 2002 hingga 2014 di Kabupaten Berau telah berhasil
memproduksi tukik penyu sejumlah 3.328.925 ekor. Meskipun upaya
konservasi dinilai cukup berhasil berdasarkan produksi tukik yang
dihasilkan, namun pemantauan populasi yang dilakukan khususnya di Pulau
Sangalaki sejak awal tahun 2002 menunjukkan kecenderungan populasi
sarang yang menurun (Gambar 18).

Gambar 18. Jumlah populasi sarang di Pulau Sangalaki tahun 2002 2012
(Sumber Data : BKSDA Kaltim dan WWF Indonesia)

36

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

2.6.3

Penyu Hijau di Pantai Sukamade, Jawa Timur


Pantai Sukamade (8o33 8o38 LS dan 113o50 113o58BT) yang
terletak di kawasan Taman Nasional Meru Betiri adalah salah satu pantai
peneluran penting di Jawa Timur. Empat jenis penyu dilaporkan bertelur di
sepanjang 3 km pantai peneluran ini, yaitu penyu hijau, penyu belimbing,
penyu sisik, dan penyu lekang. Namun demikian, data yang dikumpulkan
sejak periode awal 1980-an menunjukkan hanya penyu hijau yang masih
dominan ditemukan bertelur, sedangkan jenis lainnya sangat jarang. Jumlah
sarang telur per tahun yang ditemukan di Sukamade berkisar antara 177
2.072 dengan rerata (SD) 747 475. Suatu kajian yang dilakukan oleh tim
gabungan dari Universitas Udayana, WWF Indonesia, dan pengelola Taman
Nasional Meru Betiri pada tahun 2004-2005 memperkirakan bahwa jumlah
penyu hijau yang bertelur di lokasi ini tak kurang dari 500 ekor per tahun
(Adnyana et al., 2010). Musim peneluran terjadi sepanjang tahun dengan
musim puncak sekitar bulan November-Desember. Cakupan wilayah
peneluran yang relatif pendek (3 km) memungkinkan dilakukannya
pemantauan yang intensif. Pemantauan populasi yang dilakukan di wilayah
ini sejak awal 1970-an menunjukkan kecenderungan populasi sarang yang
menurun (Gambar 19).

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

37

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Gambar 19. Jumlah populasi sarang di pantai Sukamade tahun 1980 2012
(Sumber: TN. Meru Betiri, Universitas Udayana dan WWF
Indonesia)
2.6.4

Penyu Lekang di Pantai Ngagelan, Jawa Timur


Pantai Ngagelan yang terletak di Taman Nasional Alas Purwo, Jawa
Timur (8o2646 - 8o4700 LS dan 114o2016 - 114o3600 BT) juga
merupakan lokasi peneluran bagi empat jenis penyu (penyu hijau, penyu
belimbing, penyu sisik, dan penyu lekang). Namun, jika pantai Sukamade
didominasi oleh penyu hijau, maka di pantai Ngagelan, mayoritas jenis yang
ditemukan adalah penyu lekang (Lepidochelys olivacea). Musim puncak
peneluran di sepanjang 18 km pantai peneluran ini adalah sekitar bulan April
September.
Fenomena menarik ditemukan pada data peneluran penyu yang
dikumpulkan oleh para petugas lapangan Taman Nasional Alas Purwo sejak
tahun 1983 2008. Dari seri data yang ada, tampak bahwa populasi penyu
(>95% penyu lekang) yang bertelur meningkat tajam dari tahun ke tahun

38

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

(Gambar 20). Jika data ini merefleksikan kejadian yang sebenarnya, maka hal
ini semestinya dapat dipakai sebagai contoh keberhasilan suatu pengelolaan
konservasi penyu di Indonesia. Namun demikian, mengingat kompleksitas
isu konservasi penyu, maka data harus diinterpretasi dengan hati-hati.
Tingkat eksploitasi penyu lekang untuk diambil dagingnya yang relatif
rendah dibandingkan dengan penyu hijau, atau untuk diambil cangkangnya
dibandingkan dengan penyu sisik, mungkin merupakan salah satu argumen
dari fenomena ini. Meningkatnya upaya pemantauan oleh para petugas
lapangan pada tahun-tahun belakangan (seiring dengan meningkatnya isu
konservasi penyu) di Taman Nasional Alas Purwo adalah faktor lain yang
sangat signifikan. Apapun alasannya, ini adalah fenomena positif yang mesti
dipertahankan di tengah-tengah menurunnya populasi penyu di hampir
semua lokasi peneluran di Indonesia.

Gambar 20. Jumlah populasi sarang di pantai Ngagelan tahun 1984 2011
(Sumber: Taman Nasional Alas Purwo)

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

39

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

2.6.5 Penyu Hijau di Pantai Pangumbahan, Jawa Barat


Pesisir pantai Pangumbahan Kabupaten Sukabumi merupakan habitat
peneluran bagi setidaknya tiga jenis penyu yaitu penyu hijau (Chelonia mydas),
penyu lekang (Lepidochelys olivacea) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata).
Namun, pada tahun 1996 pernah dilaporkan juga terdapat satu ekor penyu
belimbing (Dermochelys coreacea) yang bertelur di pantai Pangumbahan.
Panjang pantai Pangumbahan yang menjadi habitat peneluran penyu (nesting
ground) mencapai 2.300 m dan luas kawasan mencapai 58,4 Ha.
Berdasarkan hasil pemantauan, penyu yang mendarat di pantai
Pangumbahan baik bertelur maupun tidak dari tahun 2009 2011
menunjukkan bahwa pada tahun 2009 jumlah sarang tercatat sejumlah 1.695
sarang, tahun 2010 sebanyak 1.733 sarang, dan tahun 2011 terdapat 1.508
sarang. Adapun musim puncak peneluran terjadi pada bulan Oktober
November.

Gambar 21. Jumlah populasi sarang di pantai Pangumbahan tahun 2009


2011 (Sumber: DKP Pangumbahan)

40

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

2.6.6

Penyu Hijau dan Penyu Sisik, Pantai Peneluran Paloh,


Kalimantan Barat
Pantai peneluran Paloh adalah habitat peneluran bagi setidaknya dua
jenis penyu yaitu penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys
imbricata). Kadang-kadang, pantai ini juga didatangi oleh penyu belimbing
(Dermochelys coriacea) dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea) untuk bertelur,
namun jumlahnya tak signifikan. Pantai Paloh berada di dataran rendah
utara Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat dan tepat berada di
ekor Pulau Kalimantan.
Untuk mengetahui populasi penyu di wilayah ini, monitoring
dilakukan secara rutin dari tahun 2009 di dua bentang pantai yaitu Desa
Sebubus (01.56692LU, 109.22531BT - 01.51829LU, 109.20311BT)
sepanjang 19,3 km dan Temajuk (01.56692LU, 109.22531BT 01.59354LU, 109.31863BT) sepanjang 23 km. Berdasarkan hasil
monitoring yang dilaporkan oleh Suprapti (2012) menunjukkan bahwa
sejumlah 8.541 sarang telur penyu berhasil dipantau di kedua bentang pantai
(Sebubus dan Temajuk) selama periode Juni 2009 Agustus 2012. Sebagian
besar (98,31%) diidentifikasi sebagai sarang penyu hijau, dan hanya 1,69%
sarang penyu sisik. Secara umum, masa puncak peneluran terjadi pada bulan
Juni, Juli, atau Agustus. Kecenderungan populasi penyu yang bertelur selama
periode pemantauan ini terlihat menurun (Gambar 22).

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

41

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Gambar 22. Jumlah populasi sarang di pantai Paloh tahun 2009 2012
(Sumber: WWF Indonesia)
2.7

Kelompok (Keragaman) Populasi Penyu di Indonesia


Secara taksonomi, dewasa ini hanya dikenal tujuh jenis penyu. Namun,
dengan teknik genetik, telah diketahui bahwa setiap jenis terdiri dari berbagai
populasi atau stok. Suatu penelitian yang dilakukan oleh NOAA (Dutton et
al, tidak dipublikasi) menunjukkan bahwa populasi penyu belimbing yang
bertelur di pantai Jamursba Medi sejenis dengan penyu belimbing yang
bertelur di Papua New Guinea dan Kepulauan Solomon (Gambar 23).
Populasi penyu ini kemudian disebut sebagai kelompok Pasifik Barat yang
memiliki keragaman genetik berbeda dengan kelompok lainnya yaitu
kelompok Pasifik Timur (Meksiko, Costa Rica, dan Amerika Tengah) serta
kelompok Peninsula Malaysia yang kini dinyatakan telah punah.
Data genetik yang dikombinasikan dengan temuan penanda metal (metal
tag) maupun penelusuran satelit telemetri mengindikasikan bahwa penyu
belimbing yang berkembang biak (kawin dan bertelur) di Pasifik Barat
(termasuk populasi Papua) memiliki ruaya pakan dan berkembang di Pasifik
Utara. Sementara itu, stok populasi di Pasifik Timur diketahui beruaya pakan
42

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

di belahan Selatan (southern hemisphere) yang meliputi perairan dekat Peru dan
Chile.
Studi keragaman genetik dengan teknik DNA mitokondrial pada penyu
hijau menunjukkan bahwa populasi bertelur di tujuh pantai peneluran yaitu
pantai Sukamade (Jawa Timur), pantai Pangumbahan (Jawa Barat), Pulau
Sangalaki (Kalimantan Timur), Pulau Derawan (Kalimantan Timur), Pulai
Piai (Raja Ampat), Pulau Enu (Aru), serta pantai Paloh (Kalimantan Barat)
berbeda satu dengan yang lainnya dan dinyatakan sebagai stok populasi atau
unit pengelolaan (management unit) yang masing-masing berdiri sendiri
(Adnyana et al., 2007; Velez-Zuazo et al., 2007; Moritz et al., 2002). Hanya
populasi penyu di pantai Paloh diduga memiliki keragaman yang sama
dengan populasi penyu di Sarawak (Moritz et al., 2002).
Secara teoritis, terjadinya pertukaran individu petelur (dari lokasi
peneluran satu dengan lainnya) pada populasi dengan stok genetik yang
berbeda hampir tidak terjadi, dan setiap populasi akan memberikan respon
terpisah terhadap adanya suatu ancaman maupun pengelolaan konservasi
(Moritz et al., 2002). Dengan ilustrasi lain, keberhasilan proteksi penyu yang
bertelur di Pulau Sangalaki tak akan memberikan efek positif bagi populasi
penyu yang bertelur di pulau di dekatnya, yaitu Pulau Derawan (keduanya
memiliki keragaman genetik yang berbeda). Dengan demikian, fokus
konservasi mesti dilakukan pada kedua populasi tersebut. Sementara itu,
karena memiliki keragaman genetik yang sama, maka masih eksisnya penyu
hijau di pantai Paloh (Kalimantan Barat) sedikit banyak adalah akibat dari
upaya proteksi yang dilakukan di pantai di dekatnya (Sarawak - Malaysia),
demikian pula sebaliknya.
Selain identifikasi terhadap keragaman genetik populasi penyu yang
bertelur, kajian terhadap keragaman populasi penyu di dua ruaya pakan
(perairan Aru Tenggara dan perairan di dekat Pulau Panjang, Kalimantan
Timur) juga telah dilakukan. Telaah stok campuran (mixed stock assessment)
yang dilakukan di ruaya pakan perairan Aru Tenggara menunjukkan adanya

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

43

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

agregasi populasi penyu yang tidak saja berasal dari pulau-pulau peneluran di
dekatnya, namun juga dari Papua Nugini dan Great Barrier Reef bagian utara,
Australia (Moritz et al., 2002). Sementara itu, penyu-penyu yang ada di ruaya
pakan Pulau Panjang diketahui berasal dari populasi yang bertelur di P.
Derawan, P. Sangalaki, kepulauan penyu yang ada di Malaysia-Filipina, serta
Micronesia (Cahyani et al., 2007). Ini menegaskan pentingnya kolaborasi
internasional dalam pengelolaan suatu ruaya pakan dengan stok populasi
penyu yang majemuk.

Gambar 23. Status stok genetik penyu belimbing yang masih tersisa di dunia.
Pada Gambar 23, area berwarna solid menunjukkan lokasi
peneluran dengan stok genetik definitif. Sedangkan area bergaris-garis
menunjukkan lokasi peneluran penyu belimbing dengan stok genetik yang
belum sepenuhnya diketahui. Stok populasi yang ada di Papua sejenis
dengan yang ada di Papua Nugini dan Kepulauan Solomon. Stok populasi
penyu belimbing yang bertelur di Malaysia dinyatakan telah punah (Dutton,
data tak dipublikasi).

44

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

2.8

Jalur Migrasi
Upaya konservasi penyu tak akan pernah cukup jika hanya dilakukan
di lokasi peneluran saja, karena penyu adalah satwa bermigrasi. Penyu yang
telah mencapai usia dewasa di suatu ruaya peneluran (foraging ground) akan
bermigrasi ke lokasi perkawinan dan pantai peneluran (breeding and nesting
migration). Setelah mengeluarkan semua telurnya, penyu betina akan kembali
bermigrasi ke ruaya pakannya masing-masing (post-nesting migration).
Demikian pula halnya dengan penyu jantan, yang akan bermigrasi kembali
ke ruaya pakannya setelah selesai melakukan perkawinan. Pengetahuan
tentang jalur migrasi penyu diperoleh dengan penerapan teknik penelusuran
menggunakan satelit telemetri. Di Indonesia, studi ini dilakukan secara
intensif pada jenis penyu hijau, lekang dan belimbing. Studi pada penyu sisik
juga pernah dilakukan di Pulau Segamat (Halim et al., 2001) dan MalukSumbawa (Adnyana et al., 2008), namun dengan jumlah penyu yang sangat
sedikit yaitu dua ekor penyu di Segamat dan seekor penyu di Sumbawa.
Studi dengan ukuran sampel kecil tersebut menunjukkan bahwa pergerakan
penyu sisik di kedua wilayah peneluran ini hanya bersifat lokal, artinya tidak
terlalu jauh dari lokasi penelurannya. Contoh jalur migrasi beberapa jenis
penyu di Indonesia adalah sebagai berikut di bawah ini.
2.8.1 Jalur Migrasi Penyu Hijau
Studi tentang migrasi pasca bertelur penyu hijau di Indonesia telah
dilakukan di beberapa lokasi peneluran, yaitu Kepulauan Raja AmpatPapua
(Gearheart et al., 2005), Pulau MisolPapua (Jayaratha & Adnyana, 2009),
Berau - Kalimantan Timur (Adnyana et al., 2007) serta Sukamade-Jawa
Timur (Jayaratha & Adnyana, 2009). Studi-studi tersebut menunjukkan
bahwa hanya sebagian kecil penyu beruaya pakan di area yang dekat dengan
area perkawinan maupun bertelurnya. Ini ditemukan pada sebagian penyu
yang ditagging di Raja Ampat dan di Pulau Misol-Papua. Sebagian besar
lainnya bermigrasi ke area yang berjarak hingga ribuan kilometer dari lokasi
bertelur dan menunjukkan jalur maupun tujuan yang relatif konsisten. Pola
PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

45

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

pergerakan migrasi penyu hijau cenderung bergerak melalui pesisir.


Pergerakan lintas samudera ditemukan pada penyu hijau yang ditagging di
pantai Sukamade-Jawa Timur. Penyu hijau di Raja Ampat sebagian besar
bermigrasi turun ke arah Laut Arafura, dan sebagian lainnya ke Laut SuluSulawesi dan Laut Jawa (Kalimantan Selatan). Penyu hijau di Sukamade
sebagian besar bermigrasi ke Australia bagian barat dan sebagian lagi ke
Kepulauan Tengah (antara DompuSulawesi Selatan). Penyu hijau di Berau
semuanya bermigrasi ke Laut Sulu, sebagian ke wilayah perairan Filipina dan
sebagian lagi ke wilayah perairan Sabah-Malaysia (Gambar 24).

Gambar 23. Migrasi pasca bertelur penyu hijau di tiga lokasi peneluran di
Indonesia.
Pada Gambar 23, penyu hijau di Raja Ampat (RA) sebagian besar
bermigrasi turun ke arah Laut Arafura, dan sebagian lainnya ke Laut SuluSulawesi dan Laut Jawa (Kalimantan Selatan). Penyu hijau di Sukamade (S)
sebagian besar bermigrasi ke Australia bagian barat dan sebagian lagi ke

46

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Kepulauan Tengah (antara DompuSulawesi Selatan). Penyu hijau di Berau


(B) semuanya bermigrasi ke Laut Sulu-Sulawesi.
2.8.2 Jalur Migrasi Penyu Belimbing
Penyu belimbing diketahui memiliki kisaran pergerakan yang paling luas
dibandingkan dengan reptil lautan lainnya, telah terbukti bermigrasi
melintasi Samudera Pasifik maupun Atlantik (Ferraroli et al., 2004; Hays et
al., 2004; James et al., 2005; Eckert, 2006; Benson et al., 2007). Penyu
belimbing yang bertelur di Amerika Tengah dan Meksiko diketahui
bermigrasi ke arah selatan menuju perairan hangat/tropis Pasifik selatan
(Eckert & Sarti, 1997).
Studi yang dilakukan terhadap sembilan ekor penyu belimbing pasca
bertelur di pantai peneluran Jamursba Medi menunjukkan bahwa penyupenyu tersebut bergerak menuju berbagai perairan tropis, yaitu ke perairan
Filipina dan Malaysia, perairan Jepang, hingga menyeberangi garis ekuator
Pasifik ke perairan hangat di Amerika Utara (Benson et al., 2007). Penyu
belimbing yang menyeberangi Samudera Pasifik tiba di Perairan dekat
Oregon-USA pada bulan Agustus, saat tingginya agregasi ubur-ubur
(Shenker, 1984). Ini menunjukkan bahwa tujuan migrasi berhubungan
dengan tersedianya sumber pakan (Benson et al., 2007). Hubungan langsung
antara lokasi peneluran Pasifik Barat dan ruaya pakan di Timur Laut Pasifik
menegaskan konklusi mengenai struktur stok (genetik) (Dutton et al., 2000)

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

47

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Gambar 24. Lintasan enam penyu belimbing pasca-bertelur menggunakan


satelit telemetri (Sumber: Benson et al., 2007).
Pada Gambar 24, tanda bintang menunjukkan lintasan enam penyu
belimbing yang bergerak dari Jamursba Medi ke arah utara atau timur laut.
Lingkaran kecil hitam sepanjang lintasan menunjukkan lokasi bulanan.
Lingkaran kosong besar menunjukkan lokasi transmisi terakhir (Benson et
al., 2007).

Gambar 25.

48

Lintasan tiga penyu belimbing pasca-bertelur menggunakan


satelit telemetri (Sumber: Benson et al., 2007).
PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Pada Gambar 25, tanda bintang menunjukkan lintasan tiga penyu


belimbing yang bergerak dari Jamursba Medi ke arah barat. Lingkaran kecil
hitam/penuh menunjukkan lokasi bulanan, sedangkan lingkaran besar
kosong menunjukkan lokasi transmisi terakhir (Benson et al., 2007)
2.8.3 Jalur Migrasi Penyu Lekang
Penelusuran pergerakan pasca-bertelur terhadap penyu lekang telah
dilakukan di dua wilayah peneluran, yaitu bagian selatan (Alas Purwo-Jawa
Timur dan Bali) serta di utara (Jamursba Medi dan Kaironi, Papua). Dari 4
penyu yang diamati di wilayah selatan, 3 ekor (75%) bermigrasi ke arah barat
menuju perairan Provinsi Jawa Barat, sedangkan yang seekor bergerak
mengelilingi wilayah selatan dan timur Pulau Bali sebelum bergerak menuju
Laut Jawa. Sementara itu, seluruh (5 ekor) penyu dari wilayah utara
bermigrasi menuju selatan hingga Laut Banda serta L. Arafura (Gambar 26).

(a)

(b)

Gambar 26. Lintasan penyu lekang pasca-bertelur menggunakan satelit


telemetri: (a) di Alas Purwo dan Bali; dan (b) Kepala Burung
Papua (Sumber: Adnyana & Hitipeuw, 2009)

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

49

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

50

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

BAB-3
TEKNIK MONITORING
Monitoring atau pemantauan terhadap penyu merupakan salah satu
langkah penting untuk mengevaluasi tingkat upaya pengelolaan konservasi
penyu. Kegiatan monitoring dari sisi waktu ada yang dilakukan secara rutin,
periodik, dan insidental, tergantung kepada kondisi populasi penyu dan
intensitas kehadiran penyu pada suatu kawasan.
Kegiatan monitoring rutin dapat dilakukan di kawasan konservasi
penyu atau di habitat peneluran maupun stasiun penangkaran penyu.
Sedangkan, kegiatan monitoring periodik dapat dilakukan dalam periode
tertentu, misalnya setiap minggu atau setiap bulan. Sedangkan kegiatan
monitoring insidental dilakukan apabila terjadi kasus-kasus tertentu di luar
kebiasaan, misalkan adanya pencemaran, bencana alam, atau kematian masal.
Kegiatan monitoring juga dapat dilakukan secara langsung maupun
tidak langsung (dengan bantuan alat), seperti memantau intensitas peneluran
dan pertumbuhan dengan bantuan metal tag, dan untuk memantau pola
migrasi penyu dengan bantuan tagging satelite.
Beberapa aspek yang dimonitor antara lain:
Monitoring telur dan sarang telur (pantai peneluran, dimensi
sarang penyu dan lubang telur, dimensi telur, jumlah telur,
tingkat penetasan)
Monitoring tukik
Monitoring terhadap penyu yang bertelur

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

51

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

3.1 Persiapan
3.1.1 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang diperlukan bervariasi, tergantung dari target atau
tujuan pemantauan (data yang hendak dikumpulkan), cakupan wilayah pantai
yang dipantau, situasi keadaan medan pantai yang dipantau, serta jumlah dan
kualifikasi anggota tim pemantau. Secara umum, alat dan bahan tersebut
meliputi dua kategori, yaitu alat dan bahan yang berhubungan dengan data
dan pengambilan sampel, serta yang berhubungan dengan perlengkapan
personal.
Alat dan bahan untuk melakukan pengambilan data (pengukuran dan
pengambilan sampel terdiri atas:
a. kertas data (data sheet)
b. alat menulis (pulpen dan/atau pensil). Pensil lebih balk, karena
hasil tulisan tidak akan hilang jika kertas basah (kena air)
c. gulungan dan pita meteran
d. galie meter atau jangka sorong
e. alat penimbang penyu dan telur penyu
f. tali berukuran besar (untuk mengikat dan menimbang penyu)
g. label dan botol-botol atau tabung-tabung kecil untuk menyimpan
sampel jaringan tubuh penyu (misalnya sampel genetik seria gonad
penyu). Jika ada, tabung dengan tutup berulir lebih baik.
h. alat pengambil sampel jaringan (biopsy punches, atan gunting atau
pisau bedah)
i. larutan pengawet (preservatil) untuk sampel jeringan tubuh penyu.
Pengawet untuk material pemeriksaan genetik dipergunakan
alkohol 70% atau absolut, atau lanstan DMSO.
j. slop tangan (hand glove) untuk pengambilan sampel jaringan tubuh
(misalnya kulit) penyu
k. kapas dan tisu untuk membersihkan jaringan
l. penanda logam (metal tag) dan pemasangnya (applicator)
m. ember atau container untuk memindahkan telur penyu jika
diperlukan
52

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

n. temperatur logger atau data logger untuk mengukur temperatur


sarang telur
o. GPS (global positioning system) untuk mendata titik koordinat
p. kamera
q. tablet android untuk pendataan berbasis online
Lokasi peneluran penyu umumnya terpencil dan sulit diakses, dengan
demikian selain membawa alat dan bahan untuk pengumpulan data,
pemantau juga mesti melengkapi diri dengan peralatan dan bahan untuk
bertahan hidup, seperti:
a. tenda (camping gear)
b. sleeping bag
c. obat nyamuk (lebih baik yang bentuk oles)
d. perlengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K)
e. lampu senter dan lampu penerang. Catatan: lampu penerang tak
boleh dipakai saat melakukan pemantauan di pantai.
f. jas hujan dan/atau payung
g. tabir surya (sun cream atau sun block)
h. ransum (air dan makanan)
i. pakaian pengganti secukupnya
j. alat komunikasi di daerah terpencil (radio komunikasi)
k. korek api
3.1.2 Menentukan Waktu dan Jumlah Pemantau
Pemantauan bisa dilakukan pada malam, pagi dan sore hari,
tergantung dari situasi dan kondisi pada lokasi setempat. Pemantauan pada
malam hari umumnya dilakukan pada lokasi dimana ancaman terhadap
keamanan penyu dan/atau telurnya relatif tinggi. Ancaman dimaksud
meliputi, antara lain: pencurian penyu dan/atau telurnya, terdegradasinya
pantai peneluran sehingga tak kondusif untuk penetasan alami, serta
kehadiran predator (babi hutan, biawak, anjing liar, dan lainnya) yang cukup
banyak.
PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

53

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Pemantauan malam umumnya dilakukan untuk mengumpulkan data


yang meliputi: jumlah penyu yang naik bertelur, jumlah sarang telur penyu,
data morfometri penyu (panjang dan lebar lengkung karapas serta berat
badan), sampel jaringan tubuh penyu, serta pemasangan metal tag. Pada
kondisi tertentu, pemantauan malam juga memungkinkan dilakukannya
relokasi sarang telur penyu ke lokasi yang lebih aman, baik dari
kemungkinan dicuri, maupun karena terancam predator alam dan pasang air
laut.
Pemantauan pagi umumnya dilakukan di pantai yang sarang telur
penyunya aman dari segala gangguan. Pemantauan hanya dilakukan untuk:
mengamati jejak atau track penyu, untuk menduga jumlah individu yang naik
pada malam sebelumnya, serta jumlah sarang telur penyu yang dihasilkan.
Cara ini baik untuk memprediksi/menentukan jumlah populasi ketika
pengamatan yang lebih detail tak bisa dilakukan.
Pemantauan sore umumnya berhubungan dengan sarang telur penyu
dan segala data yang terkait dengannya, misalnya angka penetasan dan rasio
kelamin tukik yang dihasilkan. Hal ini disebabkan karena secara alamiah,
tukik menetas saat sore hingga menjelang malam.
Jumlah personel pemantau yang diperlukan per satu satuan wilayah
dan waktu tak bisa ditentukan dengan ideal. Hal ini tergantung dari situasi
dan kondisi setempat serta jenis data yang hendak dikumpulkan. Sebagai
patokan, di beberapa daerah di Indonesia, jumlah personel yang dibutuhkan
untuk memantau pantai sepanjang 1.000-2.000 m adalah 4-6 orang. Jumlah
tersebut akan ditambah sesuai dengan bertambahnya panjang pantai yang
dipantau. Personel dimaksud dibagi menjadi dua kelompok, yang bekerja
selama masing-masing 6-8 jam. Kelompok pertama, misalnya bekerja dari
pukui 17.00 atau 20.00 malam sampai pukul 12.00 siang, dan selanjutnya
diganti oleh kelompok kedua hingga pukui 07.00 atau pukul 08.00 pagi.
Sebagai catatan, pemantauan intensif idealnya dilakukan setiap hari
sepanjang tahun. Jika tak memungkinkan, maka bisa dilaksanakan secara
konsisten pada periode yang sama setiap tahun, misalnya selama musim
peneluran puncak yang berlangsung selama 3-4 bulan. Pada bulan-bulan
54

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

selanjutnya, pemantauan bisa dimodifikasi sesuai dengan sumber daya yang


ada.

3.2 Metode Pengumpulan Data

Lama proses 1-11 jam


Rerata 2-3 jam

3.2.1 Pemantauan di Habitat Peneluran


Ketika seekor penyu terlihat bergerak ke pantai, pemantau tidak boleh
serta merta mengganggu penyu tersebut, apalagi langsung mencoba
melakukan pengukuran dan pengambilan sampel. Tahapan-tahapan yang
akan dilakukan oleh seekor penyu saat bertelur mesti dipahami, dan
pemantau harus mengetahui tahapan dimana gangguan terhadap penyu
dapat dilakukan. Proses penyu bertelur bisa dipilah menjadi beberapa
tahapan seperti skema berikut:

Gambar 28. Tahapan penyu bertelur (Sumber: Adnyana & Hitipeuw, 2009)

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

55

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Keterangan:
1. Langkah 1-7 menunjukkan periode saat penyu berada dalam
keadaan sangat sensitif, tidak boleh ada gangguan berasal dari sinar,
pergerakan maupun sentuhan.
2. Langkah 7, 10, dan 11 menunjukkan periode saat penyu berada
dalam keadaan sensitivitas medium, sinar lembut (tidak pada area
kepala) dan sentuhan ringan bisa ditolerir.
3. Langkah 8 dan 9 menerangkan periode saat sensitivitas penyu relatif
rendah, pergerakan dan sinar terang bisa ditolerir.
3.2.2

Monitoring Telur dan Sarang Telur


Monitoring terhadap telur dan sarang telur penyu dilakukan sejak
awal penyu mulai bertelur hingga telur-telur tersebut menetas menjadi tukik.
Monitoring ini harus dilakukan rutin setiap hari hingga telur-telur menetas
menjadi tukik. Beberapa aktivitas yang harus dilakukan selama monitoring
telur dan sarang telur diantaranya sebagai berikut:
a. mengukur diameter dan lubang sarang telur
b. menghitung jumlah telur yang dilepaskan oleh penyu pada setiap
sarangnya
c. mengukur diameter dan berat telur penyu
d. melakukan penandaan pada sarang telur dan pemagaran di sekitar
sarang telur (baik pada pembinaan habitat peneluran secara alami
maupun semi alami), terutama agar terlindung dari predator
e. memindahkan telur-telur penyu jika sarang telur berada pada
daerah intertidal (daerah yang terpengaruh pasang surut) ke daerah
supratidal (di atas daerah intertidal dimana tidak terpengaruh
pasang surut).
f. menghitung jumlah dan persentase telur yang menetas menjadi
tukik

56

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

g. melakukan pemantauan terhadap kondisi sarang telur secara rutin


hingga telur-telur menetas menjadi tukik
3.2.3

Monitoring Tukik
Monitoring terhadap tukik mulai dilakukan setelah tukik baru
menetas. Pemantauan terhadap tukik tersebut meliputi:
a. jumlah dan persentase tukik yang menetas terhadap jumlah telur
b. jumlah dan persentase tukik hidup terhadap tukik yang menetas
c. rasio kelamin tukik yang menetas dan yang hidup
d. pengukuran berat dan parameter morfometri tukik yang hidup
(panjang lengkung karapas dan lebar lengkung karapas)
e. selain itu, dalam monitoring tukik ini juga harus diarahkan agar
tukik dapat menuju laut secara sendiri atau alami.

Gambar 29. Tukik menuju laut (Sumber: WWF Indonesia)


3.2.4

Monitoring Penyu yang Bertelur


Monitoring terhadap penyu yang bertelur dilakukan setelah penyu
tersebut mengeluarkan telurnya atau pada saat penyu akan kembali ke laut

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

57

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

setelah bertelur. Pada kondisi tersebut, aktivitas-aktivitas yang dilakukan


pada penyu tersebut tidak akan mengganggu penyu. Kegiatan-kegiatan yang
dilakukan pada penyu yang bertelur diantaranya:
a. pengukuran berat dan morfometri penyu (panjang lengkung karapas
atau curve carapace length/CCL dan lebar lengkung karapas atau curve
carapace width/CCW) (Gambar 30).
b. monitoring track penyu (lebar dan pola track penyu ketika datang
dan kembali ke laut) (Gambar 31).
c. jika diperlukan pemasangan tag (tagging), untuk mengetahui pola
migrasi, intensitas peneluran penyu, pertumbuhan penyu (CCL,
CCW dan bobot) dan ada tidaknya rekrutmen atau penambahan
populasi penyu
d. pencatatan suhu pasir dalam sarang

Gambar 30.

58

Pengukuran CCL dan CCW pada saat monitoring penyu di


pantai peneluran (Sumber : WWF Indonesia)

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Gambar 31. Pengukuran track penyu pada saat monitoring penyu di pantai
peneluran (Sumber : WWF Indonesia)
Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika mengamati penyu bertelur
antara lain:
a. tempat, waktu, orang yang menyaksikan, cuaca, kondisi laut, dll
b. kondisi pantai peneluran (sampah, benda-benda yang terdampar, dam,
binatang-binatang, ada tidaknya orang lain yang turut menyaksikan,
cahaya lampu, api unggun, dll)
c. jenis penyu yang naik untuk bertelur
d. catat kelakukan penyu selama bertelur
e. banyaknya telur
f. ukuran badan penyu (panjang karapas, lebar karapas, berat, dll)
PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

59

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

g.
h.
i.
j.

keadaan sisik pada karapas, kepala, jumlah sisik pada kaki, dll
cacat (ada tidak cacat pada tubuh, sisik atau kakinya yang tidak cukup, dll)
mahluk hidup yang melekat di tubuhnya (teritip, lumut, kerang, dll)
lain-lain (jenis makanan, pengambilan darah, suhu badan, tag bila ada, dll)
Telur yang tertimbun di dalam pasir akan berkembang dan sangat
dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Untuk mengetahui perkembangan telur
di dalam sarang perlu dilakukan pengamatan terhadap suhu pasir. Alat
pengukur suhu pasir yang biasa digunakan ada 3 (tiga) macam, masingmasing mempunyai kelebihan dan kelemahan. Alat-alat tersebut yaitu:
a. Termometer tubuh
Alat ini terbuat dari kaca dengan air raksa di dalamnya. Untuk mengukur
suhu pasir cukup dengan menyisipkannya ke dalam pasir. Kelemahan alat
ini tidak dapat digunakan secara kontinyu, karena perubahan suhu pasir
yang cukup besar dapat secara tiba-tiba.
b. Termometer pencatat otomatis
Alat ini terdiri dari sensor dan alat perekam (kertas pencatat) suhu. Alat
ini digunakan dengan cara ditimbun dalam pasir, maka suhu pasir dan
perubahannya akan tercatat secara otomatis pada kertas pencatat. Alat ini
dapat dilakukan secara terus-menerus, namun kelemahannya tidak dapat
digunakan di tempat terpencil yang tidak memiliki ketersediaan aliran
listrik secara kontinyu 24 jam. Alat ini membutuhkan aliran listrik yang
terus-menerus.
c. Termometer memori
Alat ini terdiri dari sensor, pencatat memori dan baterai yang menyatu.
Alat ini cukup ditimbun dalam pasir ketika akan digunakan untuk
mengukur suhu pasir dalam waktu yang cukup lama. Kelemahan alat ini
tidak dapat memberikan data apabila alat tidak tertimbun dalam pasir
(berada di luar timbunan).

60

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Data suhu pasir yang diperoleh dari alat-alat termometer di atas


dapat digunakan untuk mengetahui rasio jenis kelamin tukik, prosentase
penetasan, masa inkubasi, dan lain-lain. Gambar di bawah ini menyajikan
jenis-jenis termometer yang disebut di atas.

(c)
(c)
(a)

Gambar 32.

(b)

Jenis-jenis termometer pengukur suhu pasir: (a) termometer


tubuh; (b) termometer pencatat otomatis; (c) termometer
memori (Sumber: Yayasan Alam Lestari, 2000)

3.2.5 Survei Pantai Peneluran


Survei pantai peneluran dilakukan untuk menduga ukuran (jumlah)
populasi penyu yang bertelur di suatu pantai peneluran. Di Indonesia,
metodologi yang dipakai sangat variatif sehingga sulit membandingkan hasil
survei di satu lokasi peneluran dengan lokasi lainnya. Bahkan survei yang
dilaksanakan di satu pantai peneluran dalam periode berbeda dan
dilaksanakan oleh tim yang berbeda juga acapkali sulit dibandingkan. Oleh
karena itu, perlu disusun metode standar yang dapat menghasilkan data yang
bisa dimengerti oleh berbagai pihak. Berdasarkan cakupan wilayah dan data
yang hendak dikumpulkan, survei pantai peneluran dapat dikategorikan
menjadi dua, yaitu survei ekstensif dan survei intensif. Survei ekstensif bisa

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

61

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

dilaksanakan sekali dan dalam waktu relatif singkat di awal pelaksanaan suatu
program konservasi penyu. Survei intensif, seperti namanya, dilaksanakan
dengan intensif selama masa peneluran dalam kurun waktu panjang
(beberapa puluh tahun). Metode pertama, umumnya mencakup wilayah
pantai atau gugusan kepulauan satu stok populasi penyu yang sangat luas.
Metode kedua umumnya dilakukan dalam cakupan terbatas pada suatu
bentang pantai atau pulau yang diputuskan sebagai pantai indeks.
A. Survei ekstensif
Pada suatu bentang pantai, baik yang ada di daratan besar atau di
pulau-pulau kecil, survei pantai peneluran umumnya diawali dengan metode
ekstensif yang bertujuan untuk mengidentifikasi potensi lokasi peneluran,
musim bertelur, serta jenis penyu yang menggunakan pantai tersebut.
Setidaknya terdapat sembilan jenis informasi atau data yang
ditargetkan pada pelaksanaan survei jenis ini. Informasi tersebut meliputi:
1. Seberapa panjang (proporsi) pantai yang berpotensi sebagai habitat
peneluran?
2. Lokasi mana saja di lingkup pantai yang diobservasi pernah
dijumpai ada penyu bertelur?
3. Jenis penyu apa saja yang pernah bertelur di pantai yang ditarget?
4. Kapan musim bertelurnya?
5. Seberapa besar intensitas relatif bertelurnya penyu?
6. Daerah manakah yang ideal dipergunakan sebagai lokasi indeks yang
akan dipantau secara intensif?
7. Apa saja yang berpotensi sebagai ancaman terhadap habitat, telur,
tukik dan penyu dewasa?
8. Di wilayah manakah yang paling berpotensi untuk ditetapkan
sebagai fokus area pelaksanaan aktivitas konservasi?

62

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

9. Apa saja potensi aktivitas konservasi yang bisa dilakukan dan siapa
saja yang berpotensi dijadikan mitra?
lnformasi pada poin nomor 1, nomor 6 dan nomor 9 bisa
dikumpulkan setiap saat. Sedangkan informasi pada poin nomor 2 hingga
nomor 5 umumnya dicari dengan melakukan pengamatan langsung saat
musim bertelur. Jika karena satu dan lain hal pengamatan pada musim
bertelur tak bisa dilakukan, maka data jawaban untuk poin nomor 2 sampai
nomor 5 bisa dikumpulkan dengan wawancara dengan masyarakat lokal.
Namun demikian, validitas dan rehabilitas data jenis ini kurang baik.
Acapkali survei ekstensif didahului dengan kajian terhadap habitat
peneluran sepanjang garis pantai atau di suatu gugusan kepulauan dengan
menggunakan teknik pencitraan satelit (satellite image), foto udara (aerial photo),
atau dengan menganalis peta-peta terkini (up to date maps), yang kemudian
segera diikuti dengan pelaksanaan survei lapangan (ground survey) untuk
pembuktian.
B. Survei intensif
Setelah survei ekstensif dilakukan, maka dilanjutkan dengan survei
intensif untuk melakukan sensus populasi serta potensial reproduktif penyu.
Pemantauan atau survei intensif juga bisa ditambahkan untuk
mengidentifikasi stok genetik dan pergerakan penyu (biasanya dilakukan
dengan aplikasi teknik telemetri) untuk mengetahui unit pengelolaan suatu
populasi penyu dan wilayah yang mesti dicakup.
Survei intensif diawali dengan melakukan partisi pantai yang
ditetapkan sebagai panyai indeks. Pantai indeks adalah suatu ruas
pantai/pulau yang dipantau secara terus menerus dan dijadikan tolok ukur
untuk memprediksi populasi penyu di keseluruhan pantai/gugusan pulau.
Hal-hal yang akan diamati dalam pelaksanaan jenis survei ini
umumnya adalah:

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

63

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

1.
2.
3.
4.

Jumlah track dan/atau jumlah penyu yang naik ke pantai


Track baru dan lama
Penghitungan track baru
Estimasi proporsi memeti (false crawls).

3.3

Pemanfaatan Penyu
Pemanfaatan penyu secara ekstratif telah dilarang berdasarkan PP No.
7 tahun 1999, namun pemanfaatan secara tidak langsung dapat dilakukan
dengan membentuk ekowisata berbasis penyu di daerah konservasi penyu.
Teknis pengelolaan wisata berbasis penyu adalah sebagai berikut
(Adnyana & Suprapti, 2014):
a. Membuat atau mendesain tata ruang wilayah atau area yang akan
menjadi obyek wisata berbasis penyu. Beberapa bangunan yang
minimal harus ada adalah kantor pengelolaan dan pusat informasi
penyu. Pusat informasi penyu meliputi informasi tentang lokasi
peneluran (dapat di wilayah lain, tapi dengan sistem satu paket wisata),
lokasi penetasan semi alami, lokasi pemeliharaan tukik, dan lokasi
pelepasan tukik, termasuk di dalamnya desain vegetasi-vegetasi yang
sesuai dengan habitat penyu.
b. Konstruksi daerah wisata berbasis penyu sesuai dengan desain atau tata
ruang yang telah disusun pada poin a, termasuk penanaman vegetasivegetasi yang sesuai dengan habitat penyu. Bahan-bahan untuk
bangunan diupayakan dari bahan-bahan alami dengan tetap
memperhatikan kekuatan bangunan, seperti kayu, batang pohon, atap
jerami, jalan batu, dll. Pemakaian bahan bangunan dari pabrik digunakan
seminimal mungkin, misal bak pemeliharaan dari fiber atau keramik.
c. Membuat bahan-bahan untuk promosi, seperti leaflet, poster, dan booklet.
d. Melakukan promosi dan sosialisasi, misal melalui media cetak, media
elektronik, presentasi kelembaga-lembaga pendidikan.

64

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

e. Menggabungkan paket wisata berbasis penyu dengan paket-paket wisata


yang ada di sekitarnya, misal menjalin kerjasama dengan pemerintah
daerah, pengelola daerah/pulau wisata atau agen-agen perjalanan wisata,
wisata tradisional atau bentuk-bentuk wisata lain yang ada di sekitarnya.
f. Pengembangan wisata berbasis penyu harus tetap memperhatikan
kondisi dan kenyamanan bagi penyu untuk bertelur, mengingat sifat
penyu yang sangat sensitif terhadap gangguan cahaya, suara, dan
terhadap habitatnya.
3.4

Ancaman Terhadap Penyu


Tak seperti bangsa burung yang selalu menjaga dan mengerami telurtelurnya, penyu laut tidak memiliki kebiasaan ini. Penyu laut betina segera
akan meninggalkan telur-telurnya sesaat setelah ditelurkan, dan sepenuhnya
menyerahkan nasib sarang-sarang telurnya kepada alam.
Pada beberapa dasawarsa terakhir ini, penyu laut tidak lagi aman saat
bertelur di pantai, saat berenang maupun saat bermigrasi antara ruaya
bertelur dan ruaya pakan. Ribuan penyu per tahun acapkali tertangkap tidak
sengaja (bycatch) dan sengaja ditangkap untuk disembelih. Telurnya pun tidak
luput dari perburuan manusia. Tukik yang baru menetas baik yang menuju
laut maupun yang berada di perairan juga mendapat ancaman dari predator
alaminya.
Keberadaan penyu, baik di dalam perairan maupun ketika menuju
daerah peneluran banyak mendapatkan gangguan yang menjadi ancaman
bagi kehidupannya. Permasalahan-permasalahan yang dapat mengancam
kehidupan penyu secara umum dapat digolongkan menjadi ancaman alami
dan ancaman karena perbuatan manusia. Gangguan atau ancaman alami
yang setiap saat dapat mengganggu kehidupan penyu antara lain:
a. Pemangsaan (predation) tukik, baik terhadap tukik yang baru keluar
dari sarang (diantaranya oleh babi hutan, anjing liar, biawak dan

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

65

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

burung elang) maupun terhadap tukik di laut (diantaranya oleh ikan


cucut).
b. Penyakit, yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau karena
pencemaran lingkungan perairan.
c. Perubahan iklim yang menyebabkan permukaan air laut naik dan
banyak terjadi erosi pantai peneluran sehingga hal tersebut
berpengaruh terhadap berubahnya daya tetas dan keseimbangan
rasio kelamin tukik.
Sedangkan gangguan atau ancaman karena perbuatan manusia yang
setiap saat dapat mengganggu kehidupan penyu antara lain:
a. Tertangkapnya penyu karena aktivitas perikanan, baik disengaja
maupun tidak disengaja dengan berbagai alat tangkap, seperti
tombak, jaring insang (gillnet), pancing rawai (longline) dan pukat
(trawl).
b. Penangkapan penyu dewasa untuk dimanfaatkan daging, cangkang
dan tulangnya.
c. Pengambilan telur-telur penyu yang dimanfaatkan sebagai sumber
protein.
d. Aktivitas pembangunan di wilayah pesisir yang dapat merusak
habitat penyu untuk bertelur seperti penambangan pasir,
pembangunan pelabuhan dan bandara, pembangunan saranaprasarana wisata pantai dan pembangunan dinding atau tanggul
pantai.
Hampir seluruh pantai peneluran di Indonesia, baik yang ada di
daratan pulau-pulau besar maupun kecil dipengaruhi oleh semua ancaman
yang telah disebutkan sebelumnya. Oleh karena itu, tindakan konservasi
yang memadai sangat panting untuk segera dilakukan untuk menghindari,
atau setidak-tidaknya memperlambat kepunahan penyu.
Hal terpenting yang mesti dilakukan adalah melakukan identifikasi
sumber-sumber ancaman dan merumuskan tindakan paling strategis untuk
melakukan intervensi konservasi. Seperti telah ditulis sebelumnya,
66

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

keberhasilan suatu tindak konservasi hanya akan bisa diketahui jika data
mengenai kecenderungan populasi dan tahun ke tahun bisa dikumpulkan
dan dianalisis dengan baik.
3.5

Tabulasi Data
Data hasil monitoring dan survei yang telah dikumpulkan selanjutnya
dimasukkan dalam form data tabulasi sebagaimana format di bawah ini, atau
dapat diinput dalam aplikasi AKVO Flow yaitu aplikasi yang telah
disediakan berbentuk form pendataan penyu yang berbasis android.

Laporan Harian
(Pergunakan lembar berbeda untuk masing-masing penyu)
Tanggal :
Nama Pantai :
Pemantau
Cuaca
Jenis penyu
No

Track
(baru/lama)

Jam mulai :

Jam berakhir :

Jarak dari
Habitat
Jarak dari
pasang
(vegetasi/pasir/kampung) kampung/desa
tertinggi

Total track baru yang berakhir dengan sarang telur :


Total track lama yang berakhir dengan sarang telur :
Total track penyu memeti/yang tidak berakhir dengan peneluran (false
crawls) :
Jumlah penyu yang mati :
Jumlah sarang dimakan predator dan jenis predatornya :
Komentar :

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

67

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

3.6 Menduga Ukuran (Jumlah) Populasi Per Satu Satuan Waktu


Data jumlah track penyu yang berakhir dengan sarang telur penyu
adalah salah satu parameter penting dalam menduga ukuran populasi penyu
yang bertelur di satu lokasi peneluran. Agar seragam maka di lndonesia
satuan waktu dimaksud sebaiknya ditetapkan per-tahun. Parameter lainnya
adalah frekuensi bertelur seekor penyu per musim peneluran atau yang
secara singkat disebut dengan frekuensi bertelur. Dengan demikian jumlah
atau ukuran populasi penyu di satu pantai peneluran per tahun adalah
(Adnyana & Hitipeuw, 2009).
Ukuran populasi bertelur tahunan =

Total sarang telur penyu per tahun

Rerata jumlah sarang telur penyu yang


dihasilkan per induk per musim

Total sarang telur penyu per tahun bisa dihitung langsung dengan
melihat penyu bertelur atau dengan menduga melalui pemantauan jumlah
track yang berakhir dengan sarang telur seperti dijelaskan sebelumnya.
Rerata frekuensi bertelur seekor induk penyu per musim
peneluran bisa dicari dengan melakukan studi menggunakan penanda atau
yang di Indonesia dikenal dengan istilah tagging. Banyak jenis tag yang bisa di
pakai, namun umumnya metal tag adalah teknik penanda yang paling sering
dan relatif mudah diaplikasikan pada penyu laut. Di lndonesia dewasa ini
metal tag yang dipergunakan adalah jenis logam inconnel produksi National
Band and Tag, USA. Tag jenis titanium juga bisa dipergunakan (Adnyana &
Hitipeuw, 2009).
Selain untuk mengetahui frekuensi bertelur per musim peneluran,
pemasangan metal tag pada penyu laut juga dilakukan untuk mengetahui
interval bertelur (jarak waktu antara peneluran satu dengan yang selanjutnya
per satu musim bertelur), area migrasi (pergerakan perpindahan penyu dari
satu habitat ke habitat lainnya), pertumbuhan penyu (growth rate), dan jika
umur tag relatif panjang maka juga bisa dipakai untuk mengetahui interval
68

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

bertelur antar musim peneluran. Pencatatan terhadap nomor tag, pantai


peneluran tempat pemasangan, data-data penyu saat pemasangan (panjang
dan lebar lengkung karapas, jumlah sarang telur, jumlah telur per sarang)
mesti dilakukan dengan baik, jika tidak maka pemasangan tag tak akan
berguna dan bahkan terkesan menyakiti penyu itu sendiri.
Tagging intensif pernah dilakukan di pantai peneluran Sukamade (Jawa
Timur) dari tanggal 28 Desember 2004 sampai 31 Mei 2005. Dalam kurun
waktu tersebut jumlah sarang telur penyu yang berhasil diobservasi adalah
202 sarang. Untuk mengetahui frekuensi bertelur seekor penyu hijau per
musim, maka tagging dilakukan ternadap 101 ekor penyu. Dari pemantauan
yang dilakukan setiap malam di pantai Sukamade selama periode itu
diketahui bahwa frekuensi bertelur per musim seekor penyu berkisar antara
1 - 7 kali dengan rerata 2,2 1,86 (simpangan baku). Tenggang waktu antara
bertelur satu dengan lainnya (interval bertelur) berkisar antara 4 - 39 hari
dengan rerata 11.3 8.31 hari. Dari data ini, diketahui jumlah penyu yang
bertelur selama kurun waktu tersebut berkisar antara 29-202 ekor dengan
rerata 92 109 ekor. Kisaran yang sangat lebar ini terjadi karena saat
analisis, data interval bertelur yang lebih singkat dari 9 hari dan lebih lama
dari 18 hari. juga dianalisis. Padahal, secara teoritis data interval bertelur
mestinya ada diantara 9 - 18 hari. Data yang kurang dan 9 hari tak
memungkinkan secara biologi, sedangkan jika lebih dari 18 hari
kemungkinan penyu tersebut lepas dari pengamatan pemantau (Adnyana &
Hitipeuw, 2009).
Ketika rnempersiapkan pemasangan tag pada penyu, maka penyu
haruslah direstraint (dikendalikan) sedemikian rupa sehingga hanya mampu
melakukan gerakan sangat minimal. Induk penyu dapat berbahaya karena
sangat kuat. Ayunan flipper depannya yang cepat dan kuat dapat
menyebabkan luka. Oleh karena itu, pastikan ada anggota pemantau yang
membantu melakukan penanganan terhadap flipper yang akan dipasangi tag.
Berjongkok di depan kepala penyu akan dapat menghindari gerakan maju.

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

69

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Agar pemasangan sukses maka tag harus di pasang dengan benar agar
tak lepas dari flipper penyu. Tag yang lepas setelah dipasang tidak akan bisa
digunakan lagi. Tag diletakkan pada applicator dan diperiksa secara seksama
untuk memastikan bahwa lubang tag tepat pada posisi penguncinya, sehingga
bisa terkunci dengan tepat ketika applicator di tekan. Jangan menggunakan
tang biasa untuk memasang tag, karena applicator sudah didesain khusus
untuk pemasangan tag. Walau sangat jarang terjadi, jika tag yang akan
dipasang sedikit bengkok, maka mesti diluruskan kembali sehingga
pengaitnya akan benar-benar bisa mengunci di lubangnya.
Pemasangan dilakukan dengan menekan/menggenggam applicator
dengan sangat kuat sehingga bagian yang tajam dari tag dapat menemus
ipper penyu dan mengunci di lubang pengunci pada sisi lain dari tag tersebut.
Pastikan posisi ipper penyu ada dalam keadaan lurus saat pemasangan.
Lokasi terbaik untuk pemasangan tag adalah pada bagian kulit ipper depan
penyu. Pemasangan pada bagian keras/sisik flipper depan penyu, selain
sangat keras juga akan mudah lepas karena sisik tersebut akan mengalami
pengelupasan secara reguler. Khusus pada penyu belimbing pemasangan tag
sebaiknya pada ipper belakang, karena ipper depan terlalu besar.
Walaupun tidak terlalu besar/luas, pemasangan metal tag pada
penyu akan menyebabkan terjadinya luka. Oleh karena itu, area yang akan
dipasangi tag mesti dibersihkan terlebih dahulu dengan antiseptik (misalnya
alkohol 70% atau povidone iodine).
Tag mesti terpasang sedemikian rupa sehingga tidak terlalu longgar
atau terlalu kuat. Tag yang terlalu longgar akan mudah lepas dan akan
menarik perhatian predator penyu. Pemasangan tag yang terlalu ketat akan
menghambat pergerakan antara kulit dengan tag sehingga tidak cukup ruang
untuk kulit penyu bergerak sewaktu berenang. Ujung tag mesti benar-benar
dipastikan bengkok dan pada posisi mengunci. Tag acapkali kendor dan
terbuka serta hilang jika tidak terkunci dengan aman. Tag yang tidak
terpasang dengan baik sebaiknya dilepas dari dicatat sebelum diganti dengan
pemasangan tag baru.
70

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

(a)

(b)

Gambar 33. (a) Metal tag untuk penyu, dan (b) contoh pemasangan tag pada
applicator (Sumber: WWF Indonesia, 2009)

(a)

(b)

Gambar 34. (a) Contoh pemasangan tag yang salah yaitu dipasang longgar,
dan (b) contoh pemasangan tag yang tepat yaitu tidak terlalu
ketat dan tidak longgar serta berada di posisi kulit (interscales)
dekat ketiak (Sumber: WWF Indonesia, 2009)
Metal tag yang dimiliki Kementerian Kelautan Perikanan adalah yang
memiliki keterangan kode penomoran pada bagian depan yaitu 2 huruf
keterangan negara (ID), 6 digit angka penomoran yaitu dimulai dari
(000001) dan diakhiri dengan keterangan spesies penyu dengan kode huruf
(P). Contohnya : ID000012P. Sedangkan pada bagian belakang tag terdapat
keterangan alamat, email dan nomor telepon dari penanggung jawab
aktivitas pemantauan penyu, serta bertujuan agar laporan temuan penyu

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

71

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

bertagging dapat disampaikan dan sehingga dapat direcord di dalam baseline


data penyu Indonesia.
3.7 Teknik Monitoring Bycatch Penyu dan Penanganannya
Penyu termasuk salah satu satwa laut ETP (endangered, threatened and
protected) yang populasinya terancam yang salah satunya akibat tertangkap
secara tidak sengaja (bycacth) pada aktivitas penangkapan ikan. Berikut
dijelaskan teknik monitoring untuk menangani penyu sebagai bycacth sebelum
dilepaskan kembali ke laut.
3.7.1 Pendataan Bycatch ETP pada Penyu
Mencatat informasi penyu yang tertangkap tidak sengaja, antara lain:
a. Mencatat informasi umum terjadinya bycatch yang meliputi: waktu,
tanggal, dan posisi/koordinat tertangkapnya bycatch ETP.
b. Mencatat hal-hal yang bisa mempermudah proses identifikasi penyu
bycatch yang tertangkap (ciri-ciri, gambaran, kondisi, dan ukuran spesies)
c. Identifikasi spesies penyu. Mengidentifikasi spesies yang tertangkap dan
mengamati ciri-ciri fisiknya sesuai kunci identifikasi penyu.
d. Menuliskan kondisi penyu pada saat tertangkap dan dilepas. Contoh:
pada saat tertangkap, penyu dalam kondisi hidup namun seperti tidak
hidup/pingsan, dan pada saat dilepas penyu dalam keadaan hidup
sehat).
e. Sebelum dilepas sebaiknya dilakukan pengukuran terhadap penyu sesuai
petunjuk pengukuran morfologi penyu sebagaimana dijelaskan di atas.
Formulir pendataan bycatch ETP Penyu terlampir pada Lampiran 7.
Penanganan Bycacth Penyu
Jika melihat penyu pada tali pancing, maka tahapan penanganannya
sebagai berikut:
a. Pelankan kapal dan kecepatan line hauler (penggulung pancing)
b. Sesuaikan arah kapal menuju ke arah penyu
3.7.2

72

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

c. Kurangi tegangan/kendorkan main line dan branch line


d. Pegang snap branch line yang ada penyunya, teruskan bergerak ke arah
penyu dengan kecepatan rendah.
e. Hentikan kapal dan taruh dalam kondisi netral pada saat penyu berada di
samping kapal.
f. Raih kembali branch line dengan penyunya pelan-pelan, usahakan
keregangan senar pancing tetap lembut (kendor). Hindari menarik senar
dengan cepat. Jangan gunakan ganco atau benda tajam untuk menarik
penyu.
g. Pastikan sisa tali pancing cukup kendur untuk menjaga agar penyu di air
tetap dekat dengan kapal sampai kita putuskan lebih baik dilepas pada
saat penyu di dalam air atau lebih aman jika penyu diangkat ke atas kapal.
Jika penyu terlalu besar untuk diangkat ke atas kapal, maka tahapan
penanganannya sebagai berikut:
a. Jika terbelit (hidup) dan tidak terkena mata pancing, gunakan ganco
untuk menarik bagian tali pancing pada alat penarik-V dan gunakan
alat pemotong pancing (line cutter) untuk memotong tali pancing tersebut.
Potong tali pancing tersebut sedekat mungkin dengan mata pancing.
Jangan biarkan senar membelit penyu.
b. Jika pancing tersangkut di tubuh bagian luar, cobalah melepaskan mata
pancing tanpa mengangkat penyu dari air. Jika hal tersebut tidak
memungkinkan, potonglah tali pancing sedekat mungkin dengan mata
pancing.
c. Jika pancing tersangkut di dalam mulut penyu, potong branch line sedekat
mungkin dengan mata pancing dan biarkan pancing untuk mengurangi
kerusakan pada penyu.

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

73

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

(a)

(b)

Gambar 35. Pemotongan tali pancing pada penyu: (a) Posisikan penyu yang
terbelit tali pancing di samping kapal; (b) pemotongan tali
pancing sedekat mungkin dengan mata pancing yang tersangkut
dalam mulut penyu (Sumber: WWF Indonesia, 2014)
a.
b.
c.
d.

Jika penyu berukuran kecil, maka tahapan penanganannya adalah:


Bawa penyu ke atas kapal dengan meraih kedua cangkang dan siripnya,
atau gunakan serok (scoopnet) atau alat pengangkat yang lain
Jangan gunakan ganco
Jangan tarik branch linenya
Jangan cengkeram kelopak mata penyu untuk mengangkatnya ke atas
kapal

(a)

(b)

Gambar 36. Mengangkat penyu ke atas kapal: (a) jangan menggunakan


ganco untuk mengangkat penyu; (b) gunakan serok untuk
mengangkat penyu ke atas kapal (Sumber: WWF Indonesia,
2014).

74

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Setelah penyu diangkat ke atas kapal, maka penanganan penyu di


atas kapal adalah sebagai berikut:
a. Jika pancing terkena dengan jelas di mulut, paruh atau sirip penyu,
gunakan tang pemotong (bolt cutters) untuk memotong dan melepaskan
mata pancing.
b. Jika penyu terkena pancing jauh di dalam mulut atau tenggorokannya
dan terdapat alat pelepas pancing (de-hooker) di kapal, gunakan alat
tersebut untuk mengeluarkan pancing. Jika ada observer di kapal yang
membawa alat pelepas pancing (de-hooker), dia akan menggunakannya
untuk mengeluarkan pancing. Jika tidak ada alat pelepas pancing (dehooker), potong tali pancing sedekat mungkin dengan mata pancing.

(a)

(c)

(b)

(d)

Gambar 37. Penanganan penyu di atas kapal (Sumber: WWF-Indonesia,


2014)

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

75

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Keterangan:
a. Potong semua tali pancing yang membelit.
b. Gunakan de-hooker atau tang untuk melepaskan mata pancing.
c. Jika mata pancing terkait dalam mulut letakkan pengganjal pada mulutnya
untuk memudahkan proses pelepasan mata pancing penyu.
d. Jika mata pancing tidak terlihat gunakan de-hooker untuk mengeluarkan
pancing dari dalam mulut penyu namun jangan dipaksa.
Jika penyu yang dinaikkan ke atas kapal dalam keadaan pingsan, maka
tahapan penanganannya adalah sebagai berikut:
Letakkan penyu di tempat yang teduh, angkat bagian belakang perut
penyu dengan tinggi kira-kira 20 cm selama 4 jam (minimal) agar air yang
tertelan bisa dimuntahkan kembali.
Usahakan penyu dalam kondisi basah/lembab, sesekali semprot dengan
selang air yang ada di geladak kapal. Hindari menyiram kepala agar air
tidak masuk ke dalam hidung/mulut.
Lakukan penyadaran (resusitasi ) penyu, seperti pada Gambar 38.
Jika dalam 24 jam tidak ada respon, kembalikan penyu ke laut.
Mengembalikan penyu ke laut, langkah-langkahnya sebagai berikut:

Pastikan kapal berhenti dan bebas dari peralatan tangkap.

Lepaskan penyu pelan-pelan ke laut dengan kepala terlebih dahulu.

Pastikan penyu aman dari kapal sebelum mulai menjalankan mesin kapal
lagi.

76

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

(a)

(b)

(e)

(c)

(d)

(f)

Gambar 38. Melakukan penyadaran (resusitasi) (a-d) dan pelepasan penyu


ke laut (e-f) (Sumber: WWF Indonesia, 2014).
Keterangan:
a. Pegang karapas sebelah kanan dan kiri penyu. Guncangkan perlahan ke
arah kiri dan kanan.
b. Angkat secara bergantian, sisi kiri dan kanan penyu.
c. Berikan rangsangan pada jantung penyu dengan menekan berulang-ulang
depan karapas.
d. Periksa rekasi penyu dengan menyentuh mata atau ekornya (kloaka).
e. Jika dalam 24 jam tidak ada respon, lakukan pendataan/pencatatan bycacth
penyu
f. Kemudian kembalikan penyu secara perlahan-lahan ke laut
Penanganan penyu yang terkait mata pancing/kail baik di dalam mulut
atau di bagian luar tubuh seperti sirip dapat ditangani dengan alat bantu dehooker. Adapun langkah-langkah penanganannya, yaitu seperti pada Gambar
39.
PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

77

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Gambar 39.

Tehnik pengoperasian de-hooker (Sumber: WWF Indonesia,


2014)

Keterangan :
1. Posisikan de-hooker tegak lurus dengan tali pancing dan pastikan bagian
bulatannya menghadap ke atas.
2. Tarik de-hooker ke belakang hingga bagian bulatannya menyentuh tali
pancing.
3. Putar de-hooker putaran searah jarum jam hingga tali pancing berada
di tengah bagian bulatan de-hooker.
4. Dorong de-hooker mengikuti tali pancing hingga mencapai bagian
lengkungan mata kail
5. Pastikan bahwa tali tetap tegang dan sejajar dengan de-hooker.
6. Dorong de-hooker dengan kuat sambil menjaga tali senar tetap tegang
hingga pancing terlepas.
7. Keluarkan pancing secara perlahan

78

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

BAB-4
PELAPORAN
4.1

Penyusunan Laporan

Laporan kegiatan dibutuhkan untuk mendokumentasikan kegiatan di


lapangan dan memberikan rekomendasi tertulis pada otoritas pengelola.
Laporan juga berfungsi sebagai bentuk pertanggungjawaban kegiatan
terhadap donatur atau pun instansi terkait lainnya. Laporan dapat
memberikan informasi yang padat dan sistematik mengenai sebaran,
komposisi dan karakteristik populasi penyu, yang penting sebagai landasan
upaya pengelolaan penyu di Indonesia.
Outline atau susunan umum laporan dapat mengikuti contoh di bawah
ini:
KATA PENGANTAR
RINGKASAN
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
2. Tujuan
METODOLOGI
1. Waktu Kegiatan
2. Lokasi Kegiatan (dengan peta)
3. Metode
4. Analisa Data

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

79

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Hasil
2. Pembahasan
PENUTUP
1. Kesimpulan
2. Saran/Kebijakan
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

4.2.

Penyampaian Laporan
Penyampaian laporan kegiatan lapangan dalam rangka pendataan
populasi penyu laut, dapat disampaikan melalui:
Subdit Konservasi Jenis Ikan, Direktorat Konsevasi dan
Keanekaragaman Hayati Laut
Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Jl. Medan Merdeka Timur No. 16, Jakarta Pusat
Email:subditkonservasijenis@gmail.com. Telepon 021-3522045.
Penyampaian laporan dapat disampaikan dalam bentuk soft file yang
disampaikan melalui alamat email tersebut di atas, dan laporan kegiatan
pendataan populasi penyu (hard copy) dapat disampaikan melalui jasa
pengiriman/pos ke alamat tersebut di atas.

80

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

BAB-5
PENUTUP
Dengan tersusunnya pedoman umum ini, pemantauan populasi penyu
di seluruh wilayah perairan Indonesia diharapkan sudah dapat dilakukan
secara mandiri oleh instansi terkait dan unit penelitian teknis di daerahdaerah. Seperti diketahui bahwa perairan di seluruh wilayah Indonesia sangat
luas dan karenanya membutuhkan kegiatan-kegiatan monitoring yang akan
melibatkan banyak sumber daya manusia, baik masyarakat pemerhati
lingkungan, tenaga-tenaga ahli atau peneliti, maupun masyarakat nonspesialis yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Dengan keterlibatan beragam pemangku kepentingan (stakeholders)
di daerah-daerah, data populasi penyu dapat segera terkumpul secara
nasional dalam waktu singkat. Seperti diketahui bahwa data populasi penyu
sangat dibutuhkan untuk kepentingan pengelolaan yang berkelanjutan.
Gangguan-gangguan pada sediaan atau stok penyu perlu diketahui lebih dini
sebelum populasi biota laut ini kolaps dan jenisnya punah. Oleh karena itu
peran serta stakeholders di daerah-daerah sangat diharapkan untuk bergerak
bersama secara masal dalam pemantauan ikan-ikan rawan punah, seperti
penyu. Adapun target dalam pengelolaan adalah terciptanya gerakan nasional
yang bangkit dari kesadaran dan pertisipatif untuk menyelamatkan penyu.
Untuk itu, pedoman umum identifikasi dan monitoring penyu menjadi
sangat penting dalam memberikan landasan untuk keseragaman tindakan
dan kesamaan hasil serta data populasi penyu yang kredibel.
Dengan memperhatikan keragaman dari sumber daya manusia
tersebut, pedoman umum identifikasi dan monitoring populasi penyu ini

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

81

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

dibuat sesederhana mungkin. Namun, jika kemudian hari terdapat kesulitan


dalam pelaksanaan metode ini, maka langkah yang akan diambil adalah mulai
dari tindakan revisi, sosialisasi, korespondensi, dan/atau pelaksanaan
pelatihan.

82

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

DAFTAR PUSTAKA
Adnyana, W., L.P. Soede, G. Gearheart, and M. Halim, 2007. Status of the
Green Turtle (Chelonia mydas) Nesting and Foraging Populations of
Berau, East Kalimantan, with Particular Reference to Tagging Studies
to Underpin the Design of Sea Turtle Protected Area Networks.
Paper Presented in the Second Regional Technical Consultation on
Research for Stock Enhancement of Sea Turtles, 5 7 June 2007,
Kuala Lumpur, Malaysia. 15pp.
Adnyana, I. B. W., Lida Pet Soede, Geoffrey Gearheart, and Matheus Halim.
2008. Status of Green Turtle (Chelonia mydas) Nesting and Foreging
Populations of Berau, East Kalimantan, Indonesia, Including Results
from Tagging and Telemetry. Report to WWF Indonesia Turtle
Program. Indiana Ocean Turtle Newsletter 7: 2-11.
Adnyana, I.B & C. Hitipeuw. 2009. Panduan Melakukan Pemantauan
Populasi penyu di pantai peneluran di Indonesia. WWF-Indonesia,
Jakarta: v+31 hal.
Adnyana, W & D. Suprapti. 2014. Pedoman Pemanfaatan Penyu dan
Habitatnya Sebagai Objek Wisata dan Edukasi yang Berkelanjutan.
Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan, Kementerian
Kelautan dan Perikanan, Jakarta.
Benson, S.R., P.H. Dutton, C. Hitipeuw, B. Samber, J. Bakarbessy, and D.
Parker. 2007. Post-Nesting of Leatherback Turtles (Dermochelys
coriacea) from Jamursba-Medi, Birds Head Peninsula, Indonesia.
Chelonian Conservation and Biology, 2007, 6(1): 150-154. Chelonian
Reasearch Foundation
Cahyani, Ni Kadek Dita, I. B. W. Adnyana, I W. Arthana. 2007. Identifikasi
Jejaring Pengelolaan Konservasi Penyu Hijau (Chelonia mydas) Melalui
Penentuan Komposisi Genetik dan Metal Tag di Laut Sulu Sulawesi.
Tesis Megister, Program Magister Ilmu Lingkungan, Universitas
Udayana.
Carr, A. 1972. Great Reptiles, Great Enigmas, Audubon No. 2, pp 504515.

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

83

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Charuchinda M.S., M. Monanunsap, and S. Chantropornsyl 2002, Status of


sea turtle conservation in Thailand. In Kinan I. (Ed), 2002, Western
Pacific Sea Turtle Cooperative Research and Management Workshop.
Dermawan, A. dkk. 2009. Pedoman Teknis Pengelolaan Konservasi Penyu.
Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan, Kementerian
Kelautan dan Perikanan, Jakarta : 123 hal.
Dutton, P.H., G. Balazs, A. Dizon, and A. Barragan. 2000. Genetic stock
identification and distribution of leatherbacks in the Pacific: potential
effects on declining populations. In the Proceeding of the Eighteenth
International Sea Turtle Symposium, Abreu-Grobois, F.A., R.
Briseno-Duenas, R. Marquez Millan and L. Sarti-Martinez, Editors.
U.S. Dept Commerce. NOAA Tech. Memo. NMFS-SEFSC-436, 3839, Miami, FL.
Dutton, P.H., Roden, S., Garrison, L., and Hughes, G. In Press. Genetic
Population Structure of Leatherbacks in the Atlantic Eluciated by
Microsatellite Markers. Proceeding of the 22nd Annual Symposium on
Sea Turtle Biology and Conservation. NOAA Tech. Memo.
Eckert K.L., K.A. Bjorndal, F.A. Abreu-Grobois, M. Donelly (Editors).
1999. Research and Management Techniques for the Conservation of
Sea Turtles. IUCN/SSC Marine Turtle Specialist Group Publication
No. 4.
Eckert, S.A. 2006. High-use oceanic areas for Atlantic leatherback sea turtles
(Dermochelys coriacea) as identified using satellite telemetered
location and dive information. Marine Biology 149:12571267.
Eckert, S.A. and Sarti, A.L. 1997. Distant fisheries implicated in the loss of
the worlds largest leatherback population. Marine Turtle Newsletter
78:27.
Ferraroli, S., Georges, J.Y., Gaspar, P., and Lemaho, Y. 2004. Where
leatherback turtles meet fisheries. Nature 429:521522.
Gearhart, J., Hataway, D., Hopkins, N., and Foster, D. 2015. 2012 Turtle
Excluder Device testing and gear evaluations. NOAA Technical
Memorandum NMFS-SEFSC-674, 39pp
Halim, M.H., Silalahi, S. dan Sugarjito, J. 2001. Conservation and utilization
trend of marine turtles in Indonesia. Tigerpaper, 28(4): 10-16.
84

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Hays, G.C., Houghton, J.D.R., and Myers, A.E. 2004. Pan-Atlantic


leatherback turtle movements. Nature 429:522.
James, M.C., Ottensmeyer, A.C., and Myers, R.A. 2005. Identification of
High-use Habitat and Threats to Leatherback Sea Turtles in Northern
Waters: New Directions for Conservation. Ecology Letters 8:195
201.
Adnyana I.B., Jayaratha I.M, 2009. Post-Nesting Migrations of Olive Ridley
Turtles (Lepidochelys Olivacea) from The Birds Head Peninsula of
Papua, Indonesia. Udayana University, Bali. Indonesia. Brief
Technical Report.
Limpus, C.J., J.D. Miller, C.J. Parmenter, D. Reimer, N. McLachlan, and R.
Webb. 1992. Migration of green (Chelonia mydas) and Loggerhead
(Carreta caretta) Turtles to and from Eastern Australian Rookeries.
Wildlife Res. 19(3): 347-358.
Lutz, P.L., J,A. Musick & J, Wyneken. 2003. The Biology of Sea Turtle
volume II. CRC Press, USA : 40 47 hal.
McConnaughey, B.H. 1974. Introduction to Marine Biology, Second Edition
With 287 Illustrations, The C.V. Mosby Co Saint Louis.
Mortimer, J.A. and A. Carr. 1987. Reproduction and Migrations of the
Ascension Island, Green Turtle (Chelonia mydas), Copeia No.1 pp 103113.
Moritz, C., D. Broderick, K. Dethmers, N.N. FitzSimmons, and C. Limpus.
2002. Population Genetics of Southeast Asian and Western Pasific
Green Turtles, Chelonia mydas. Final Report to UNEP/CMS.
Nuitja, I N. S, 1992. Biologi dan Ekologi Pelestarian Penyu Laut. IPB Press,
Bogor. 127 hal
Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu, Serangan, Bali
Shenker, J.M. 1984. Scyphomedusae in Surface Waters Near the Oregon
Coast, MayAugust, 1981. Estuarine Coastal Shelf Science 19:619
632.
Suprapti D., W. Adnyana dan R. Andar. 2014. Status populasi penyu dan
upaya konservasinya di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Universitas Udayana Bali-WWF Indonesia.
PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

85

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Tomascik, T., A.J. Mah, A. Nontji, and M.K. Moosa. 1997.The Ecology of
Indonesian Seas, Part Two, Vol VIII,Chapter 21, pp 1101 1131.
Periplus Edition.
Velez-Zuazo, X., W.D. Ramos, R.P. Van Dam, C.E. Diez, A. AbreuGrobois, and W.O. McMillan. 2008. Dispersal, Recruitment and
Migratory Behaviour in a Hawksbill Sea Turtle Aggregation. Mol. Ecol.
17:839-853.
Wyneken, J. 1996. 17th Annual Symposium on Sea Turtle Biology &
Conservation.Marine Turtle Newsletter No. 77. p. 27-28
Sea Turtle Nesting: 2015 Sea Turtle Nest Totals-Boca Raton Beaches.
http://www.gumbolimbo.org/nesting. Diunduh pada tanggal 17 Juni
2015.
WWF Indonesia 2014. Better Management Practices: Panduan Penanganan
Penyu, sebagai Hasil Tangkapan Sampingan (Bycatch) - Praktik pada
Alat Tangkap Longline dan Trawl.
Yayasan Alam Lestari. 2000. Mengenal Penyu. Yayasan Alam Lestari dan
Keidanren Nature Conservation Fund (KNCF) Jepang.

86

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

:
:
:

Lokasi Survei

Banyak jejak ditemukan

Banyak sarang ditemukan

b. Sepeda

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Keterangan :
*)
atas
: bila sarang terdapat di bawah pepohonan
tengah : bila sarang terdapat dalam jarak 3 meter dari pepohonan
bawah : bila sarang terdapat di antara tengah sampai di sepanjang garis pantai

Pemindahan
Ada/tidak
(Sebutkan tempatnya)

. Buah

87

Keterangan

d.

Jumlah telur
baik & rusak

c. Jalan kaki

. Buah

a. Dengan mobil

Jam ..

. Cuaca : ..

Telur
Lokasi Sarang *)
(Ada/Tidak) (atas, tengah, bawah)

Metode Survei

Jumlah
Lubang

Nama Pencacah/Pelaksana

Lokasi

Waktu

No
Jejak

Tanggal

Lampiran 1. Lembar monitoring jejak penyu

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Lampiran 2. Lembar monitoring peneluran


Tanggal

Cuaca

Waktu

Jam

Nama pencacah/pelaksana

Tanggal ditemukan sarang

Tanggal peneluran sesungguhnya

Perkiraan tanggal peneluran

Kedalaman sarang
- ketebalan penutup sarang
- kedalaman sampai dasar sarang

:
:

:
:
:
:

Banyaknya (jumlah) telur


- telur yang baik
- telur yang dirusak
- telur yang mati
- telur abnormal
Keterangan :
1)
2)

88

cara penentuan adalah bila hari sebelumnya tidak ada sarang


perkiraan umur jejak yang ditemukan, atau ambil sebutir telur lalu
periksa sudah terbentuk embrio atau belum

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Lampiran 3. Lembar presentase penetasan


Tanggal

Waktu

Cuaca
Jam .

Nama pencacah/pelaksana

Tanggal peneluran

Kondisi sarang

Metode survei

Telur yang berkurang

.(pasti atau perkiraan)


a. sarang alami
b. sarang yang hanya dipastikan telurnya
c. sarang yang telah digali namun ditutup
kembali
d. sarang yang dipindahkan
a. tukik keluar secara alami
b. tukik dikeluarkan
butir

Jumlah tukik yang keluar dari sarang

ekor

Jumlah tukik yang tertinggal

ekor

Telur yang berkurang

butir

Jumlah tukik yang keluar dari sarang

ekor

Jumlah tukik tertinggal

ekor

Telur yang gagal menetas


Jumlah telur yang tidak menetas
- tidak terlihat embrio
- ada embrio
- tidak terlihat karapas
- ada karapas (< 3cm)
- ada karapas (>3 cm)
Sebelum penetasan
- ada kuning telur
- tidak ada kuning telur

butir

:
:
:
:
:
:

butir
butir
butir
butir
butir
butir

:
:

butir
butir

Keterangan :
1) telur yang berkurang = banyaknya telur yang telah dibuang sampai dengan survei
dilakukan
2) jumlah tukik tertinggal = jumlah menetas jumlah yang keluar
3) telur yang gagal menetas = tukik tidak keluar dari cangkang telur

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

89

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Lampiran 4. Lembar monitoring penyu yang mati


Tanggal

Nama pencacah / pelaksana

Tempat Bangkai ditemukan

1.

Pembedahan

2.

No pengenal
Pembusukan

jenis penyu
jenis kelamin
standar panjang karapas (SCL)
panjang karapas minimum
lebar karapas
panjang karapas perut
ujung karapas bawah rectum
ujung karapas bawah ujung ekor

- gas

a. ada

- punggung

a. terkelupas
Depan

- keempat kaki
Belakang

: ..
:..
: (mm)
: (mm)
: (mm)
: (mm)
: (mm)
: (mm)

b. tidak
b. hampir
terkelupas
a. kiri
(ada/tidak)
a. kiri
(ada/tidak)
b. tidak

c. utuh
b. kanan
(ada/tidak)
c. kanan
(ada/tidak)

- kepala

a. ada

3.

Luka

Ada/tidak (sebutkan bagian tersebut)

4.

Mahluk hidup
lain di tubuh

5.

Ukuran tubuh

Ada/tidak
(jika ada, sebutkan di bagian mana dan nama mahluk
hidup tersebut)
a. kurus
b. sedang
c. gemuk

6.

Isi alat
pencernaan

a. lambung
b. usus

7.

Tanda yang digunakan untuk mengubur bangkai

90

..
..

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

No.
Tag

SCL

SCW

Jam
ditemukan

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Lokasi
2

Peneluran
ada/tidak

Jam
peneluran

Jumlah
telur

.. ekor
.. ekor

:
:
Lokasi
1

..
Jam
..
..
..
Pasang/surut

:
:
:
:
:
:

Keterangan :
Pengukuran dengan menggunakan alat jangka sorong
SCL
: Straight Carapace Length (panjang karapas)
SCW : Straight Carapace Width (lebar karapas)

No.

Tanggal
Waktu
Nama pencacah/pelaksana
Lokasi survei
Cuaca
Kondisi air laut
Banyak induk penyu yang mendarat
- penyu yang bertelur
- hanya mendarat saja

Lampiran 5. Lembar monitoring peneluran induk penyu

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Ket

91

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Lampiran 6. Pendataan individu penyu yang mendarat ke pantai peneluran


(bertelur maupun Tidak)

92

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Lampiran 7. Spesies terkait secara ekologis (ERS) yang tertangkap


kelompok API 1 dan 2
No Pengisian Data
1 Nama Pemantau

Petunjuk
Tuliskan nama lengkap anda (contoh Wahyu
Teguh)
2 Nomor ID Pemantau Tuliskan Nomor ID anda (Contoh BTG-1)
3
Tuliskan nama lengkap kapal, jangan
menggunakan singkatan (contoh KM. Mina
Bahari III) dan sertakan nomor SIPI
4 Trip / Seting
Tuliskan trip ke berapa dan seting ke berapa
dari kapal yang anda ikuti
Contoh Wahyu Teguh naik ke kapal sebagai
observer untuk pertama kali untuk mencatat
setting yang ketiga maka dituliskan 1/3.
5 Halaman
Nomor halaman dari keseluruhan formulir
contoh 1 dari 4, artinya angka 1
menunjukkan halaman yang ke berapa
sedangkan angka 4 adalah banyaknya
formulir-formulir yang digunakan dalam satu
trip. Hal ini diperlukan untuk memudahkan
pelacakan kalau ada halaman formulir yang
hilang.
6 Tanggal
Tuliskan tanggal pada waktu hewan tersebut
tertangkap
7 Waktu (pukul)
Tuliskan jam pada waktu hewan tersebut
tertangkap
8 Lintang
Tuliskan posisi lintang dari hewan tersebut
pada waktu tertangkap tidak sengaja. Contoh
pengisian kordinat sebagai berikut : 13367
9 Bujur
Tuliskan posisi bujur dari hewan tersebut pada
waktu tertangkap tidak sengaja. Contoh
pengisian kordinat sebagai berikut : 11543
372

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

93

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Khusus Penyu

10 Jumlah Sisik

Punggung (lateral
scutes)

Perut (inframarginal
scutes)

94

IDENTIFIKASI SPESIES
Jika yang tertangkap adalah penyu maka isi
kolom Jumlah dan Ukuran yang ada
keterangannya khusus penyu.
Jika spesies yang tertangkap tersebut penyu
tuliskan jumlah scute lateral, scute inframarginal dan
scale prefrontalnya. Keterangan letak scutes
(lempengan) dan scale (sisik) terdapat pada buku
identifikasi penyu. Jika yang tertangkap selain
penyu maka kolom ini harap dikosongkan/tidak
diisi.
Hitung jumlah Sisik yang terdapat pada bagian
punggung. Khusus untuk jenis penyu belimbing
tidak memiliki sisik punggung. Untuk lebih jelas
dapat melihat gambar dibawah ini :

Hitung jumlah sisik yang terdapat pada bagian


perut. Khusus untuk jenis penyu belimbing
tidak memiliki sisik perut. Untuk lebih jelas
dapat melihat gambar di bawah ini :

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Kepala (prefrontal
scutes)

Hitung jumlah sisik yang terdapat pada bagian


kepala. Khusus untuk jenis penyu belimbing
tidak memiliki sisik kepala. Untuk lebih jelas
dapat melihat gambar di bawah ini :

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

95

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

11 Ukuran Panjang
CCL (cm)

96

Ukur panjang lengkung karapas pada penyu atau


Curves Carapace Lenght. Satuan pengukuran
menggunakan cm. Untuk lebih jelas dapat
melihat gambar di bawah ini :

TTL (cm)

Ukur panjang total ekor pada penyu (Total Tail


Lenght). Satuan pengukuran menggunakan cm.
Untuk lebih jelas dapat melihat gambar di
bawah ini :

PTL (cm)

Ukur panjang ekor dari post cloacal pada penyu


(Post-cloacal Tail Lenght) . Satuan pengukuran
menggunakan cm. Untuk lebih jelas dapat
melihat gambar di bawah ini :

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

12 Foto
Y/N

Nomor

13 Pada Saat
Tertangkap
Kode kondisi

Deskripsi kondisi

Tulis Y jika anda mengambil foto


spesies/hewan laut ERS yang yang merupakan
hasil tangkapan sampingan dan diberikan strip
jika tidak mengambil fotonya
Tulis nomor urut dari foto yang diambil contoh
PL-3 artinya foto penyu lekang yang ke tiga
tertangkap tidak sengaja
KONDISI

Tuliskan kode kondisi saat spesies diperoleh


(diangkat ke atas kapal). Kode kondisi dapat
dilihat pada kolom keterangan kode kondisi
yang terdapat pada formulir
Tuliskan beberapa komentar kondisi pada waktu
spesies diperoleh/diangkat. Apa yang membuat
anda untuk menggolongkan keadaannya pada
kode kondisi yang anda pilih. Ini akan sangat
membantu untuk memprediksi lebih jauh
kondisi
pada
saat
spesies
tersebut
diperoleh/diangkat.
Contoh : Penyu yang didapatkan dalam kondisi
hidup, terdapat luka karena terjerat senar
pancing. Maka dituliskan H3

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

97

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

14 Pada saat dilepas


Kode kondisi

Deskripsi kondisi

Tuliskan kode kondisi saat spesies dilepas ke


laut (jika spesies tersebut di lepas kembali ke
laut). Kode kondisi dapat dilihat pada kolom
keterangan kode kondisi yang terdapat pada
formulir
Tuliskan beberapa komentar kondisi pada waktu
spesies dilepas. Apa yang membuat anda untuk
menggolongkan keadaannya pada kode kondisi
yang anda pilih. Ini akan sangat membantu
untuk memprediksi lebih jauh kondisi pada saat
spesies tersebut dilepas.
Contoh : Penyu yang akan dilepaskan dalam
kondisi hidup dan sehat, maka dapat dituliskan
H

15 Penanganan di
kapal

Tuliskan penanganan-penanganan yang anda


atau ABK lakukan pada spesies tersebut (jika
ada) untuk membantu penyu atau paus, atau hiu,
atau lumba-lumba atau burung laut dalam
memulihkan kondisinya kembali normal pada
waktu di atas kapal.

16 TAG/Tanda

TAG / tanda / label adalah lempengan


aluminium yang berisikan beberapa informasi
yang di kaitkan pada sayap/sirip penyu untuk
penandaan dan keperluan penelitian dari
migrasinya penyu.

Nomor

Tuliskan nomor TAG yang tertera di atas tag


tersebut

Tipe

Tuliskan tipe dari TAG tersebut (missal :


aluminium, plastik)

Organisasi

Tuliskan nama organisasi yang tertulis di dalam


TAG tersebut

98

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Keterangan

Sebutkan kondisi dari TAG tersebut. apakah


terpasang dengan baik, apakah tulisannya
mudah dibaca atau sudah kabur dll.
: Jangan lepaskan TAG, jika anda menemukan TAG pada spesies
tersebut. cukup catat informasi yang terdapat pada TAG tersebut,
karena sudah kewajiban kita (perjanjian internasional) untuk
menginformasikan kepada organisasi yang mempunyai TAG tersebut.
dan usahakan untuk mengambil foto dari TAG tersebut.

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU

99

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut
Kementerian Kelautan dan Perikanan

Lampiran 8. Panduan penanganan penyu yang tertangkap jaring atau


rawai/longline (Sumber: WWF Indonesia)

100

PEDOMAN IDENTIFIKASI DAN MONITORING POPULASI PENYU