Anda di halaman 1dari 47

PATOLOGI SERTA TERAPINYA

DALAM

ILMU ADMINISTRASI DAN ORGANISASI

KONSEP TEORITIS DAN PEMIKIRAN ILMIAH ADMINISTRASI

BAB 1. KONSEP ADMINISTRASI

Pemahaman tentang administrasi sebenarnya mengandung berbagai konsep yang


terdiri dari berbagai variasi dengan mengandung makna masing-masing namun memiliki
keterkaitan dan kebersamaan dalam keberadaannya. Pengalaman inderawi dari seseorang
yang didukung oleh data empirik dapat membekali pengetahuan yang melahirkan konsep
administrasi dengan bahan-bahan deskriptif dan aktual yang sangat penting, dalam rangka
penegmbangan pola pikiran rasionalitas yang berwawasan konseptual dan kemahiran dalam
profesionalitas administrasi.

Keberadaan konsep administrasi tentunya melalui proses yang panjang dan pemikiran
yang mendalam, dimulai dari dorongan kemauan untuk mengetahui kemudian diperkuat oleh
kemampuan menalar dalam suatu proses pemikiran. Keterpaduan antara kemauan atau
keinginan dengan kemampuan menalar atau berfikir akan menciptakan dasar pengetahuan
yang diistilahkan dengan knowledge. Pengetahuan yang direduksi oleh pemahamn secara
mendalam atau sering juga disebut dengan istilah idea, pengertian atau biasa juga disebut
dengan pemahaman secara mendalam dari berbagai pengetahuan maka melahirkan yang
disebut dengan konsep. Oleh sebab itu pengertian atau pemahaman tentang konsep adalah
akumulasi dari idea yang mengandung berbagai variasi dan setiap variasi mengandung
berbagai nilai-nilai.

Dewasa ini menunjukkan bahwa perkembangan administrasi baik pada bidang


negara(pemerintah) maupun bidang bisnis pertumbuhannya terjadi dengan pesat, sebenarnya
itu adalah akibat dari berbagai faktor yang semuanya berkisar pada dinamika perkembangan
1
pemikiran dan tindakan manusia dalam ikatan kerjasama. Adanya dinamika tadi akan
memunculkan berbagai fenomena administrasi dan para administrator harus cermat
menganalisanya dengan pemanfaatan nilai konseptual dan keprofesionalan administrasi agar
dapat mewujudkan kesejahteraan manusia yang terikat didalam kerjasama maupun
masyarakat pada umumnya. Titik tolak utama melihat konseptual administrasi adalah adanya
kebebasan intelektual manusia untuk melakukan suatu pemikiran sehingga dapat menemukan
hakekat kandungan kebenaran konsep administrasi. Kebebasan tersebut antara lain ;
kebebasan berfikir, bertindak, bersaing, moral, dan kebebasan berserikat.

1. Pengertian Administrasi

Banyak para ahli yang mengemukakan pendapatnya mengenai pengertian


administrasi, argumentasi tersebut berbeda-beda, walaupun pemaknaanya memiliki
persamaan. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh latar belakang pengalaman dan pendalaman
dari masing-masing ilmuwan administrasi itu sendiri. Salahsatunya yang memberikan
sumbangsih di dunia administrasi adalah Sondang P.Siagian. beliau mengatakan bahwa
administrasi adalah “ Keseluruhan proses kerjasama dua orang atau lebih yang didasarkan
pada rasionalitas tertentu dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya
dengan memanfaatkan sarana dan prasarana tertentu secara berdayaguna dan berhasilguna.

Pemahamannya bahwa pemikiran dan tindakan sebelum dilaksanakan terlebih dahulu


diputuskan berdasarkan komitmen atau kesepakatan semua manusia yang terikat dalam
kerjasama tersebut. Ada lagi pengertian adminnistrasi dari Hadari Nawawi, dia mengatakan
bahwa administrasi berarti “rangkaian kegiatan atau proses pengendalian acara atau sistem
kerjasama sejumlah orang, agar berlangsung efektif dan efisian dalam mewujudkan tujuan
bersama.” Pemikiran Nawawi tersebut adalah melihat bahwa ajaran moralitas dan ajaran
etika adminisrasi tersebut sangat penting dalam kehidupan manusia. Dari kedua argumentasi
tadi dapat dilihat walaupun pemaparannya berbeda namun tetap saja memiliki pemaknaan
yang sama yaitu, adanya manusia yang lebih dari dua orang, ada tujuan yang jelas,
pembagian tugas yang jelas, lalu tindakan efektik dan efisien, serta tindakan yang
rasionalitas.

2. Fenomenologis Administrasi

2
Juhaya S.Praja mengatakan bahwa fenomenologis adalah realitas dalam arti yang ada
diluar dirinya dan ini hanya dapat dicapai dengan mengalami secara intuisi, maka apa yang
kita anggap sebagai realitas dalam pandangan biasa itu untuk sementara harus ditinggalkan.
Pemikiran terhadap pendekatan fenomenologi administrasi sangat besar pengaruhnya di
dalam keberhasilan pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Fenomenologi
administrasi dilihat dari sudut pandangnya ada beberapa macam, antara lain, fenomena
politik, sosial, alam, organisasi, lingkungan, ekonomi, dan fenomena keamanan.

3. Empirikal Administrasi

Empirikal merupakan sinonim realiatas administrasi yang bisa berkembang dalam


alam pikiran manusia dan alam nyata di sekitar kehidupan manusia yang sering diistilahkan
dengan bendawi. Atau bisa juga diartikan dengan keadaan tentang ada dan yang dapat
ditangkap oleh indera. Empirikal administrasi ada beberapa macam, ada;

a. Empirikal keilmuan administrasi, meliputi kebenaran konseptual


administrasi, kebenaran teoritis administrasi,kebenaran berfikir administrasi.

b. Empirikal profesional administrasi, meliputi kebenaran menata administrasi,


mencipta administrasi, dan mendesain administrasi.

4. Kebenaran Ilmiah Administrasi

Wujud kebenaran ilmu administrasi sangat banyak jenisnya, antara lain adalah;
Kebenaran sumber, kebenaran data, iformasim analisis, kebenaran berfikir, dan kebenaran
bertindak. Fenomena menunjukkan bahwa kebenaran administrasi tampaknya sudah berada
di cakrawala yang luas dan hampir tidak jelas lagi dinding pemisah yang tidak dapat
ditembus oleh pemikiran dalam pembenaran ilmuan administrasi. Kini manusia sebagai
pencari pencari pembenaran administrasi senantiasa mengalami kelelahan dalam rangka
mengikuti dinamika perkembangan dan perubahan yang begitu cepat di bidang ilmu
admnistrasi yang tidak memiliki lagi batas akhir dalam pencapaian tujuan.

5. Fokus Kajian Administrasi

3
Objektivitas kajian ilmu administrasi sepatutnya mengikuti alur pemikiran yang
pendekatannya secara radikal, menyeluruh, rasional dan objektif yang memfokuskan kepada
hakekat realitas awal dan akhir terhadap perkembangan ilmu administrasi yang hanya
berada dalam alam pemikiran manusia. Sedangkan subjektivitasya terhadap kajian
administrasi dapat dilihat atas tindakan yang spekulatif dan tidak mengarah kepada
pandangan yang sbenarnya. Fokus kajian administrasi sesungguhnya sangat banyak, namun
secara universal dapat dilihat seperti;

a. Administrasi kepegawaian, berfikir di bidang administrasi adalah masalah


pegawai.termasuk tugas dan taanggung jawabnya.

b. Administrasi keuangan, aktivitas tentang pengaturan dan keteraturan tentang


pembiayaan seluruh aktivitas administrasi dapat terpenuhi dengan baik dan
kerjasama yang dilakukan dapat berjalan sesuai dengan harapan sebelumnya.

c. Administrasi perkawinan, penataan agar perkawinan dapat lebih efektif dan


efisien.

d. Administrasi rumahtangga,

e. Administrasi pernahanan

f. Administrasi perkantoran

g. Administrasi kearsipan.

Penetapan fokus yang tepat dalam rangka pelaksanaan aktivitas administrasi yang
telah ditentukan sebelumnya itu merupakan suatu gambaran bahwa kan memberikan suatu
keberhasilan secara berdayaguna dan berhasilguna. Demikian pula sebaliknya, ketidakjelasan
fokus administrasi yang akan dilaksanakan itu dapat dipastikan akan mengalami hambatan-
hambatan. Jika hambatan ini tidak dapat diatasi maka tentu akan terjadi kegagalan dan
akhirnya aktivitas administrasi yang bersangkutan akan mati.

BAB 2. PEMIKIRAN ILMIAH ADMINISTRASI

4
Pemikiran ilmiah di bidang administrasi adalah sesuatu usaha yang dilakukan secara
sadar untuk memahami dan mendalami makna dan hakekat yang dikandung dalam ajaran
ilmu administrasi itu sendiri. Akumulasi dari konsep melahirkan proposisi, yaitu suatu
pemahaman terhadap objek dan subjek tertentu secara mendalam. Pengkajian proposisi
secara mendalam ini akan melalui berbagai alat ukur, teknik analisis, dan semacamnya akan
melahirkan atau menciptakan teori. Oleh sebab itu keberadaan ilmu administrasi tentunya
melalui proses pengkajian dariberbagai proposisi yang bekaitan dengan pemikiran
administrasi, sehingga melahirkan teori dan bila dikaji secara terus-menerus dan konsisten
kebenarannya maka terciptalah apa yang kita sebut dengn ilmu.

Dalam proses pengembangan ilmu administrasi antara lain yang sering dilakukan
adalah melalui penelitian baik secara kuantitatif maupun kualitatif mengakibatkan pergeseran
suatu teori sehingga lahir istilah teori klasik dan teori baru.

1. Pemikiran Ontologi dalam Administrasi

Pemikiran ontologi merupakan salah satu cabang kajian dari filsafat ilmu yang
mengorientasikan pada pemikiran secara mendalam terhadaap hakekat dan makna hakiki
yang dikandung dari salah satu cabang ilmu yang bersangkutan termasuk ilmu administrasi.
Pendekatan pemikiran ontologi administrasi terhadap berbagai persoalan atau
masalahmembuka kemungkinan(opportunity) bagi terjadinya suatu perdebatan yang seru dan
berlangsung terus-menerus antara berbagai para ilmuwan administrasi yang satu dengan
golongan ilmuwan administrasi lainnya , sekalipun hampir hampir tidak ada ilmuwan
administrasi yang muncul secara dominan, tetapi senantiasa terjadi tandingan-tandingan yang
bermunculan dari pemikir-pemikir ilmu administrasi lainnya.

Persoalan yang menyangkut ontologi di bidang ilmu administrasi relatif semakin


misterius ketika elemen sikap dan pandangan ilmuwan administrasi menjadi kritis, salin
mempertahankan pola pemikiran yang masing-masing meyakini kebenarannya. Sikap dan
pandangan seperti ini senantiasa berkembang bukan saja di kalangan ilmuwan administrasi,
tapi sampai kepada kaum profesional administrasi. Akal dan pola pikir sebenarnya berfungsi
untuk mengoperasionalkan otak dalam rangka mencari rangka mencari kebenaran ontologis
di bidang administrasi, baik sebagai ilmu pengetahuan dan teknologi maupun sebagai

5
profesionalisme. Kajian utama ontologi administrasi sebenarnya tidak saja terpusat pada
perwujudan, melainkan berada pada lingkungan universal namun senantiasa berada
mendalami untuk menenemukan inti atau hakikat kebenaran yang terkandung dalam setiap
kenyataan yang ditampakkan.

Eksistensi ontologis administrasi berorientasi pada keberadaan terhadap suatu


kebenaran yang sesungguhnya, sedangkan esensinya berorientasi pada pemahaman atau
pengertian terhadap manusia yang mempelajari ilmu administrasi itu sendiri. Pemisahan
antara esensi dan eksisitensi ontologi di bidang ilmu administrasi sesungguhnya terletak pada
cara proses berfikir untuk melakukan suatu kegiatan pertimbangan manusia itu sendiri yang
berkaitan antara pemberian saatu pengertian dengan keadaan yang sesungguhnya apa yang
dialami secara nyata oleh manusia yang bersangkutan itu. Maka dengan demikian pada
dasarnya dilakukan oleh pertimbangan dengan menangkap suatu objek atau kenyataan
dengan menggunakan ide yang cemerlang atau kedalaman pemikiran manusia di bidang ilmu
administrasi. Sebagai gambaran, manusia melakukan proses pertimbangan ontologi pada
bidang ilmu administrasi sehingga esensi dan eksistensinya dalam kehidupan manusia dapat
memberikan manfaat , namun demikian tidak selamanya berjalan mulus dalam kesadaran
pemikiarn tetapi senantiasa mengalami kebuntuan. Bagi manusia dalam kesadaran berfikir
tentang ontologi di bidang administrasi tidak selamanya dapat sadar berfikir secara lancar,
tetapi senantiasa mengalami kebuntuan karena faktor lupa yang tidak bisa dihindari.
Sebaliknya kelancaran biasanya didukung oleh faktor ingatan yang kuat sebagai potensi
peningkatan kecerdasan penalaran dalam pengungkapan kesadaran berfikir terutama yang
berkaitan dengan ontologi di bidang ilmu administrasi.

2. Pemikiran Epistemologi dalam Administrasi

Epistemologi merupakan bagian integral dari ilmu administrasi yang mengajari dan
menentukan kodrat atau lingkup kajian maupun jenis ilmu pengetahuan dan teknologi di
bidang administrasi serta pembentukannya. Pengembangan IPTEK di bidang administrasi
dalam kehidupan manusia merupakan kajian utama epistimologi. Usaha pengembangan ilmu
pengetahuan di bidang administrasi senantiasa berdasarkan etika, estetika, metode, dan
prosedur yang dilakukan untuk pengembangannya. Oleh karena itu dapat melahirkan
pertanyaan yang sangat mendasar ; untuk apakah pengembangan ilmu administrasi itu. Ilmu
6
administrasi dengan keuniversalannya berarti akan kita temukan jawaban yang berbeda dari
ilmuwan yang satu dengan ilmuwan administrasi lainnya. Pengembangan ilmu administrasi
bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan berfikir dan kemahiran bertindak bagi manusia
yang mendalaminya.

3. Pemikiran Aksiologi dalam Administrasi

Pemikiran aksiologi di bidang administrasi adalah penggunaan kemampuan yang


dilahirkan oleh pemikiran dan kemahiran yang dilahirkan oleh kebiasaan dalam kebenaran
terhadap sesuatu wujud, sehingga dapat memberikan manfaat atau kegunaan dalam
kehidupan manusia yang melakukan proses kerjasama dalam rangka mencapai tujuan yang
telah ditetapkan sebelumnya. Esensi dan eksistensi alam sadar manusia sangat ditentukan
oleh besarnya stmulus atau rangsangan, ingatan merupakan bagian dari alam sadar. Oleh
sebab itu esensi dan eksistensi ilmu administrasi adalah kesadaran, semakin besar stimulus
atau rangsangan akan semakin lama pula kesadaran terhadap wujud stimulus yang
bersangkutan. secara alamiah manusia dalamproses kehidupannya dengan berbagai macam
stimulus yang harus dihadapi oleh manusia yang bersangkutan. jadi asal mula stimulus
yang dihadapi manusia itu akan berproses secara alamiah dengan menuju ke alam ambang
sadar, yaitu suatu kondisi manusia dalam alam pikirannya antara dapat disadari dengan tidak
atau dengan kata lain antara ingat dengan tidak ingat, selanjutnya akan tergeser kepada alam
bawah sadar yang sering diistilahkan dengan alam lupa

4. Pemikiran Subjektivitas dan Objektivitas dalam Administrasi

Konteks kajian administrasi mempunyai kecenderungan kepada masalah pengaturan


dan keteraturan proses kerjasama manusia dalam organisasi baik organisasi pemerintahan
maupun organisasi swasta maupun organisasi kemasyarakatan dalam bangunan ilmu
administrasi.

a. Pemikiran subyektivitas dalam administrasi

Administrasi dapat dilihat dari subjektivitas di posisi administrasi sebagai IPTEK


maupun sebagai aktivitas atau pekerjaan.apabila administrasi dilihar sebagai
IPTEK perkembangannya senantiasa tercipta pertentangan untuk saling

7
mempertahankan konsep-konsep antara ilmuwan. Dan administrasi kedudukannya
sebagai aktivitas atau pekerjaan untuk mencari nafkah bagi umat manusia juga
senantiasa terjadi pertarungan yang tajam dengan masing-masing memperahankan
kemahiran dalam melakukan suatu pekerjaan di bidang administrasi. Pertarungan
baik dipandang sebagai tataran konseptual di bidang ilmu administrasi maupun
kemahiran melakukan suatu jenis pekerjaan yang bertentangan dengan normatif
adlah merupakan pemikiran dan tindakan subjektivitas administrasi.

b. Pemikiran objektivitas dalam administrasi

Penelusuran objektifitas pemikiran dalam administrasi dapat dilihat dari dua


sudut. Pertama dari sudut objek materialnya, adalah sesuatu yang menjadi sasaran
perhatian secara detail tentang makna kandungan di dalam penalaran manusia
yang mempelajari ilmu administrasi. Kedua, dari sudut pandang objek formalnya
bahwa ilmu administrasi memiliki ruang lingkup kajian dengan metode yang
jelas. Dikatakan administrasi berada dimana-mana karena memang ilmu
administrasi bersifat objektif, netral, dan bebas dari nilai, sehingga tidak terbatas
keberadaannya di dalam pikir rasional manusia dan siapapun dan dimanapun, hal
inilah yang menandakan bahwa ilmu administrasi berlaku secara universal.

5. Pemikiran Kognitif, Afektif dan Konatif dalam Administrasi

Kegunaan atau pemanfaatan pemikiran rasional dan kemahiran melakukan aktivitas


yang berkaitan dengan administrasi merupakan suatu peranan penting dalam rangka usaha
peningkatan kesejahteraan dan kebahagiaan setiap manusia yang terikat dalam bentuk
kerjasama.etika dan moralitas administrasi untuk mencapai kegunaan dan pemanfaatan ilmu
administrasi untuk mencapai kegunaan da pemanfaatan IPTEK lainnya, melainkan saling
melengkapi dan memperkuat.

a. Pemikiran kognitif dalam administrasi

Kognitif dalam administrasi adalah suatu bentuk kemampuan yang dimiliki oleh
manusia terhadap kedalaman kepemilikan ilmu pengetahuan khususnya di bidang
administrasi yang dapat menciptakan pengertian, pemahaman, dan penghayatan

8
serta dapat diingat kembali disaat dibutuhkan. Landasan kemampuan kognitif
sebenarnya adalah rasio dan pemikiran bagi manusia yang bertujuan mendalami
kemampuan atau pengetahuan di bidang administrasi. Kematangan kognitif
pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia berarti pula kematangan rasional
dalam pemikirannya yang digunakan untuk pengembangan IPTEK administrasi
dalam rangka menciptakan kesejahteraan manusia yang terikat dalam bentuk
kerjasama. Salahsatu sifat manusia dalam meningkatkan kematangan kognitif
adalah kesadaran, baik yang berkaitan dengan tindakan atau pekerjaan sehingga
dapat menciptakan kemahiran maupun kesadaran berfikir untuk menciptakan
kecerdasan dalam mengemukakan suatu argumentasi dan narasi yang tertuang ke
dalam tulisan maupun lisan. Maka dengan kesadaran yang dimiliki manusia tadi
akan mudah tercapainya efektif dan efisiensi dalam pencapaian tujuan yang sesuai
denga harapan yang telah ditentukan sebelumnya.

b. Pemikiran afektif dalam administrasi

Afektif dalam bidang administrasi adalah kemapuan yang dimiliki oleh manusia
yang mendalami IPTEK di bidang administrasi sehingga dapat mengetahui
tentang rasa cinta, indah, dan semacamnya, dalam melakukan interaksi dan
bereaksi terutama antara sesama manusia sebagai ikatan kerjasama, lingkungan
sekitar dan sebagainya menuju terciptanya kebahagiaan yang mendalam.
Penilaian rasa terhadap hubungan antara pemikiran dengan tindakan sebenarnya
dapat terjelma dr dua sudut pandang yang selalu bertentangan, misalnya
gambaran tentang kebaikan dengan keburukan, gambaran kecintaan dengan
kebencian. Afektif dalam administrasi merupakan pelengkap dalam kehidupan
manusia yang melahirkan intelektualitas yang objektif dan rasional.

c. Pemikiran Konatif dalam Administrasi

Administrasi sebagai ilmu outputnya adalah pemikiran yang sistematis dan


berkembang pada dunia maya atau dunia abstrak. Sedangkan administrasi sebagai
profesi outputnya adalah dunia nyata atau konkret. Unsur utama administrasi
adalah manusia yang memiliki kemampuan konatif atau sering juga diistilahkan

9
pisikomotorik, yaitu suatu kemampuan yang dapat digunakan untuk mewujudkan
apa yang dicita-citakan melalui suatu aktivitas. Kemampuan seorang
administrator dalam menemukan tujuan lazimnya mempertahankan bahwa berapa
bentuk berdasarkan pembagian kerja dalam suatu organisasi, walaupun kadang-
kadang tidak dapat dihindarkan pembagian kerja yang dipaksakan karena
dipengaruhi berbagai variabel yang sangat subyektif terhadap administrator yang
bersangkutan. Pembagian kerja yang rasional dan sehat itu selalu memiliki
sollidaritas yang tinggi dan melahirkan tim kerja yang harmonis dalam arti terjadi
saling kepercayaan dari seluruh anggota organisasi yang bersangkutan.

Manusia bekerja sebagai profesional di bidang administrasi didorong dua


jenis motif;

• Motif yang mengutamakan hasil yang dicapai dengan mengabaikan


nilai- nilai moralitas, walaupun dalam mencapai hasil itu senantiasa
mengatasnamakan ajaran moral, agama, dan etika, tetapi setelah mencapai
hasil yang diinginkan ajaran tadi ditinggalkan. Fenomena ini tergambar
dalam penyelenggaraan administrasi negara, ketika belum memperoleh
hasil senantiasa menganjurkan tentang kejujuran berdasarkan ketiga ajaran
tersebut, tetapi setelah memperoleh peluang nampaklah sogok dan maling
yang menjadi topik utamanya.

• Mengutamakan ajaran moralitas, agama, dan ajaran etika secara


konsisten serta senantiasa berusaha menghindari biusan jabatan, harta dan
semacamnya. Kenyataannya dalam administrasi negara indonesia hal ini
menjadi nilai yang terlupakan bahkan dianggap menghambat dalam
mencapai hasil yang diinginkan.

PENYAKIT ADMINISTRASI, KEJAHATAN ADMINISTRASI, DAN KEMARJINALAN


ADMINISTRASI

BAB 1. PENYAKIT MANUSIA dan TERAPINYA

10
Kelebihan manusia dengan kepemilikan ilmu pengetahuannya, membuat manusia
dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Kewajaran gelar manusia sebagai
makhluk yang mulia dibandingkan dengan makhluk lainnya menyebabkan manusia
senantiasa berusaha menciptakan inovasi-inovasi tujuan hidup yang lebih baik, sehingga
dapat menghindarkan diri dari virus-virus penyakit yang dapat berakibat fatal dalam
kehidupan setiap manusia sebagai bagian integral terhadap proses administrasi. Yang
dimaksud inovasi untuk mewujudkan harapan kehidupan manusia yang layak, menurut
Purwanto, kata inovasi secara harfiah memiliki dua pengertian; pertama, inovasi sebagai kata
sifat artinya sebagai pengenalan sesuatu yang baru; kedua, inovasi sebagai kata benda
mengacu kepada pengertian suatu ide baru, cara baru atau penemuan. Manusia dalam
melakukan suatu aktivitas sehari-harinya akan mengalami perubahan dalam peningkatan
apabila memiliki inovasi yang tepat. Banyak manusia yang merasa sudah mencapai apa yang
telah dicita-citakannya atau dengan kata lain telah mencapai puncak kesuksesan pada jabatan
atau karier dalam administrasi terutama pada administrasi Negara.

Manusia yang sukses dalam mengembang karier, dapat dipastikan memberikan


manfaat secara social, ekonomi maupun politik bagi kehidupan administrasi. Namun
demikian kadang manusia yang bersangkutan sesungguhnya mengalami kegagalan dalam
menemukan hakikat jati dirinya sendiri. Kondisi yang dia alami manusia seperti ini
merupakan suatu penyakit yang banyak diderita manusia khususnya pada zaman modern
sekarang ini gambaran semacam ini adalah orang yang tidak mengetahui tujuan hidupnya
secara jelas. Terdapat pertalian yang sangat erat dalam kehidupan manusia antara kebutuhan
yang memuaskan fisik dengan kebutuhan yang memuaskan non fisik, antara manusia
pembangun teori dengan manusia pengguna teori, antara manusia berpikir dengan manusia
yang bekerja dan lain sebagainya. Pertalian ini dapat menentukan keanekaragaman
peradaban manusia. Corak dan warna peradaban manusia dari suatu zaman atau suatu daerah
ditentukan oleh jenis kebutuhan, bangunan teori yang diembannya, cara berpikir terhadap
alam sekitarnya dan lain sebagainya. Hal ini tumbuh dan berkembang mengikuti dinamika
perubahan manusianya itu sendiri. Dalam perkembangan sosial manusia, banyak dikeluhkan
sifat materialistik, kebiasaan konsumtif, hidup dalam kemiskinan, yang mendorong manusia
melakukan korupsi yang merupakan bentuk virus penyakit manusia yang telah mengakar

11
pada dunia empirik. Kondisi ini yang banyak merasakan adalah angkatan kaum muda yang
dibesarkan atas kevakuman nilai-nilai moralitas.

Proses modernisasi perkembangan manusia ternyata tidak selamanya memberikan


hasil yang sesuai dengan harapan, melainkan menciptakan persoalan baru dalam kehidupan
manusia. Akibat yang paling nyata terhadap kehidupan manusia adalah proses pergeseran
budaya yang tidak signifikan dengan nilai-nilai dasar (cultural loss). Masyarakat tertentu
hingga sebagian besar manusia kehilangan makna dan pandangan hidupnya. Irasionalisme
dan mistisisme dalam budaya dikritik tajam oleh angkatan muda karena dipandang sebagai
penyakit yang dapat merusak harkat dan hakekat manusia. Kelemahan manusia tampak
sebagai fakta yang menekankan kehidupan dan mewakili dalam kegagalan jika dihadapkan
pada persaingan untuk mencapai suatu harapan. Manusia yang memiliki kelemahan
merupakan penghambat dalam menciptakan inovasi, tetapi bila memiliki kekuatan akan
mempercepat dalam menciptakan inovasi, yang meliputi :

1. Hargai semua ide yang baru dari berbagai sumber yang dapat dijadikan bahan dalam
menciptakan pembaharuan terhadap diri kita, dan terhadap orang lain.

2. Pengaruhi orang lain yang dianggap harus memerlukan persetujuan atau kesepakatan
dalam menciptakan suatu perubahan sesuai dengan yang kita kehendaki bersama.

3. Terima dengan lapang dada kritikan dan masukan terutama yang menunjukkan
kelemahan dalam menangkal kegagalan.

4. Lakukan identifikasi semua ide atau kritikan, baik yang menunjukkan kegagalan
maupun yang menunjukkan keberhasilan.

5. Ciptakan mawas diri dari semua aspek tindakan yang memungkinkan dapat
menciptakan pertentangan yang berpotensi melahirkan kegagalan.

6. Meyakinkan bahwa penerimaan dan pemberian informasi senantiasa mengandung


kebenaran dan dapat dimanfaatkan.

Pada awal terjadinya suatu proses perubahan membutuhkan pemikiran kritis dalam
rangka mengenali dan mengantisipasi apakah memiliki kekuatan dalam menghadapi

12
perubahan tersebut, ataukah sebaliknya akan kita dihadapkan kegagalan dalam menghadapi
perubahan tersebut. Inisiatif untuk mengantisipasi perubahan dalam suatu bentuk
pelaksanaan aktivitas administrasi senantiasa diperlukan suatu bentuk kesepakatan atau
komitmen, sehingga perubahan yang akan terjadi itu dapat memberikan manfaat secara
maksimal untuk menciptakan kesejahteraan umat manusia itu sendiri. Merenungkan tentang
umat manusia, berarti merenungkan tentang sejarah penderitaan baik yang ditimbulkan
secara alamiah maupun penderitaan yang diciptakan oleh manusia itu sendiri.

Penderitaan yang dialami oleh manusia karena disebabkan oleh manusia itu sendiri
merupakan suatu catatan para ahali untuk melakukan suatu renungan dalam rangka
menganalisis agar dapat meminimalisir penderitaan yang disebabkan oleh manusia itu
sendiri. Pemikiran tentang penderitaan manusia yang disebabkan oleh virus patologi sosial,
memang sulit menentukan kepastian jenis virus sebagai penyebabnya, tetapi yang pasti
adalah ketidakpastian. Penentuan jenis dan bentuk virus sudah sulit dipastikan karena
penyakit sosial ini virusnya sangat beraneka ragam dalam komunitas manusia tertentu.
Misalnya penyakit kemiskinan. Oleh sebab itu untuk menerapinya memerlukan juga variasi
yang disesuaikan dengan tuntutan manusia yang bersangkutan.

1. Penyakit Iri Hati dan Terapinya

Keberhasilan seseorang merupakan refleksi dari kesadaran dari suatu sasaran kegiatan
atau pekerjaan yang dilakukan secara terencana dengan tahapan yang sistematis, demikian
pula sebaliknya kegagalan seseorang terhadap suatu bidang usaha karena tidak dilakukan
secara sadar, dalam artian dilakukan secara sembrono atau dilakukan asal-asalan.

Bekerja bergerak maju atau berusaha menciptakan perubahan menuju yang lebih
baik, jelas lebih mudah dilakukan bila memiliki kemampuan masa depan. Kunci keberhasilan
untuk meraihnya adalah adanya keterlibatan lebih awal dengan melakukan konsultasi
sedemikian rupa sehingga perubahan yang terjadi mengarah kepada hal-hal yang bermanfaat
dan sifatnya positif. Idealnya perhatian terbesar yang seharusnya kita lakukan adalah sesuatu
yang harus dikerjakan untuk organisasi dan bukan apa yang dikerjakan organisasi untuk kita.

Bagi manusia yang tidak berdaya akan mengalami ketakutan, tetapi kondisi semacam
itu sangat memungkinkan akan melahirkan kekuatan. Perubahan seperti ini dari diri manusia
13
menjadi suatu alasan yang kuat karena keirihatian terhadap orang lain itu memperoleh
kakuatan untuk melakukan penindasan terhadap orang lain, dan merasa bangga jika orang
lain itu mengalami kegagalan dan penderitaan. Rekasi yang paling alami pada diri manusia
terhadap masalah yang baru dan tidak diharapkan sebelumnya adalah melakukan penolakan,
dan bila tidak terpenuhi maka akan melakukan perlawanan. Dalam melakukan rekasi yang
cepat biasanya dimilki oleh orang yang bertipe toleran, konvensional, dan pemberontak
dalam rangka menyingkirkan para pembuat masalah. Iri hati adalah suatu penyakit sosial
yang berkembang dalam kehidupan manusia baik yang terselubung maupun terang-terangan
yang dinampakkan pada perilakunya. Penyakit iri hati dalam sebuah organisasi sangat
berbahaya dalam perkembangan organisasi yang bersangkutan, karena bisa saja mematikan
kreativitas manusia yang terdapat dalam organisasi bahkan organisasi tersebut terancam
bhubar.

Oleh sebab itu penyakit iri hati bagi manusia dalam organisasi harus diterapi untuk
menciptakan keharmonisan dan kedamaian. Keperkasaan manusia dalam organisasi
tergantung pada elemen-elemen kesempatan yang dapat diraihnya terutama cara
memperolehnya bertentangan dengan norma-norma yang berlaku. Hal ini dapat menciptakan
virus patologi iri hati terutama bagi manusia yang tidak memiliki kesempatan meraih
kesempatan yang sama. Dewasa ini manusia sedang dihadapkan dengan masalah, bagaimana
mendukung kemajuan teknologi dan polarisasi modernisasi manusia yang lebih cenderung
berifat konsumtif. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta polarisasi
modernisasi, kenyataannya semakin memperkuat timbulnya perasaan keirihatian terhadap
manusia lainnya. Penyebab munculnya keirihatian dari setiap komunitas manusia adalah
sebagai berikut :

a. Komunitas manusia anak-anak. Derajatnya sangat rendah tetapi frekuensinya


tinggi. Konflik yang diciptakan karena keirihatian dalam lingkungan anak-anak
menunjukkan intensitasnya sangat rendah dan tidak berlangsung lama. Untuk
menerapi konflik akibat dari keirihatian pada golongan anak-anak ini, cukup
membiarkan dan tidak memihak di antara mereka.

b. Komunitas manusia dewasa. Intensitas keirihatian bagi manusia dewasa


frekuensi keirihatian rendah, tetapi derajatnya dapat dikatakan sangat tinggi.
14
Akibat dari pada keirihatian manusia dewasa dapat menciptakan konflik dan
menciptakan keresahan manusia lainnya atau masyarakat disekitarnya. Untuk
menanggulangi keirihatian bagi manusia dewasa ini, perlu diperlakukan secara
dewasa pula dengan materi yang lebih banyak mengarah kepada moralitas dan
rasionalitas ketimbang bujukan atau rayuan yang tidak meiliki makna berarti
dalam dunia manusia dewasa.

c. Komunitas manusia orang tua. Intensitas keirihatian yang sifatnya


terselubung lebih tinggi frekuensinya dibandingkan dengan intensitas keirihatian
yang sifatnya terang-terangan. Secara umum orang tua dalam melakukan interaksi
dengan sesame manusia biasanya serba hati-hati, tetapi keirihatian terhadap
seseorang tidak dapat terhindarkan dan bahkan derajatnya sangat tinggi walaupun
secara realitas frekuensinya lebih tinggi. Terapinya harus dilakukan secara hati-
hati karena mungkin saja bisa terjadi tujuan untuk menerapi tapi hasil yang
dicapai adalah virus patologi yang memungkinkan lebih ganas dari virus
sebelumnya.

d. Komunitas manusia pegawai. Manusia sebagai pegawai negeri atau pegawai


swasta intensitas keirihatian terhadap sesama pegawai dimana setiap hari saling
berinteraksi dan memahami kondisi dan kualitas masing-masing mendorong
terciptanya keirihatian dengan frekuensi dan derajatnya meningkat atau dengan
kata lain sangat kuat. Terapinya adalah penegakan disiplin harus dilakukan
kemudian diikuti dengan pemberian sanksi yang tegas dan adil.

e. Komunitas manusia pejabat. Keirihatian sebagai pejabat dapat memberikan


dua sasaran tembak; pertama, iri terhadap bawahannya karena meiliki kelebihan,
pejabat yang bersangkutan kemungkinan tidak akan memberikan peluang pada
bawahannya itu untuk lebih berkembang: kedua, adalah keirihatian terhadap
sesame pejabat. Terapinya adalah menciptakan kekuatan moralitas dan
menyandarkan dalam wawasan keimanan dengan meningkatkan rasa kasih sayang
kepada sesame manusia.

15
f. Komunitas manusia pengusaha. Realitas di dunia internasional, nasional,
maupun regional terhadap keirihatian antara komunitas manusia pengusaha
senantiasa mengalami peningkatan frekuensinya. Virus penyakit iri hati dan usaha
untuk penanggulangannya tentunya dibutuhkan komitmen secara sehat serta
saling menghormati dalam suasana tertentu.

Virus penyakit iri hati sulit menemukan pengobatan yang dapat menyembuhkannya
karena memang merupakan suatu dinamika kehidupan manusia itu sendiri. Penyakit iri hati
sesungguhnya tidak selamanya kita pandang selalu negatif dan menakutkan, tetapi juga kita
bisa mendatangkan suatu hal yang positif, tetapi yang penting bagaimana kita menyikapi
penyaki iri hati itu sendiri. Kemauan untuk menghindari suatu virus patologi iri hati
sesungguhnya terbentuk karena melalui proses yang panjang dari pengalaman-pengalaman
dalam perjalanan hidup masing-masing manusia.

2. Penyakit Adu Domba dan Terapinya

Kesejahteraan merupakan keberhasilan manusia terhadap pelaksanaan aktivitas yang


telah direncanakan atau dengan kata lain sebagai bidang pekerjaan yang diminatinya karena
memiliki kemampuandan keunggulan terhadap manusia lainnya. Demikian pula halnya
masalah penyakit adu domba bisa saja terdapat pada praktisi atau ilmuwan, khususnya
ilmuwan dan praktisi administrasi sebagai manusia pelaksana dan pemikir dalam
menciptakan pengaturan dan keteraturan dalam proses kerjasama.

Kemampuan manusia bukanlah semata-mata keahlian untuk mengekspresikan


pengetahuan dalam memperoleh keinginan, tetapi pada dasarnya sebagai sarana untuk
mengenali siapa dirinya sendiri, karena kemampuan merupakan alat terpenting bagi manusia
untuk menguasai dunia dan melakukan interaksi dengan sesamanya maupun lingkungan
sekitarnya. Oleh sebab itu dalam menciptakan kelayakan atau kesejahteraan bagi setiap
manusia adalah dengan adanya korelasi atas formulasi secara signifikan antara kemampuan,
pemahaman dan keberhasilan, yang meliputi :

a. Cepat tanggap.

b. Kejelasan peran

16
c. Keseimbangan strategi dengan taktik.

d. Ketepatan komunikasi.

Tindakan adu domba yang senantiasa dilakukan oleh manusia terhadap manusia
lainnya, baik masyarakat yang hidup di pedesaan maupun yang hidup di perkotaan selalu
mengandung dua sudut pandang; pertama, memberikan manfaat yang positif manusia yang
diadudombakan itu; dan kedua, menciptakan kesengsaraan dan bahkan malapetaka bagi
manusia yang diadudombakan itu. Penyakit adu domba adalah suatu tindakan manusia yang
menciptakan peta konflik antara komunitas manusia yang satu dengan komunitas manusia
lainnya, sehingga terjadi adu argumentasi bahkan sampai terjadi adu fisik yang pada akhirnya
kedua-duanya mengalami kekalahan dan yang menang adalah yang melakukan adu domba
tersebut.

3. Penyakit Etika, Estetika dan Terapinya

Tingkat kekacauan dan ketidakpahaman hakikat etika akan menimbulkan


penentangan dan permusuhan antara manusia itu sendiri, baik sebagai pemikir dan pelaksana
maupun sebagai anggota organisasi sampai kepada anggota masyarakat pada umumnya.

Mempertahankan pemikiran dan tindakan otoritas kesucian banyak terjadi dalam


masyarakat awam terutama memiliki anggapan yang picik. Oleh karena itu menciptakan
reaksi terhadap mereka yang memiliki pemikiran yang berlawanan. Jika pola pemikiran ini
terjadi di kalangan kaum cendekiawan, tokoh pendidikan, kalangan perguruan tinggi, maka
kondisi semacam ini merupakan pertanda krisi intelektual yang mendekati taraf
memprihatinkan, yang pada akhirnya akan memunculkan virus penyakit etika dalam
pemikiran manusia.

Etika adalah sekumpulan aturan hidup dalam komunitas manusia tertentu untuk
menciptakan keteraturan, kedamaian dan dapat menciptakan kejelasan suatu tindakan atau
perbuatan manusia yang bisa dilakukan dan yang tidak dapat dilakukan. Penyakit etika
adalah suatu perbuatan atau tindakan seseorang atau sekelompok orang yang melakukan
pertentangan ketentuan yang telah menjadi kesepakatan secara berkesinambungan dalam
17
komunitas manusia tertentu. Penerapan suatu etika dalam proses kegiatan administrasi adalah
untuk memberikan keberhasilan yang berdayaguna dan berhasil guna dan harus ditopang
dengan estetika.

Estetika adalah suatu metode dan teknik untuk mengimplementasikan ketentuan yang
terdapat dalam etika, sehingga dapat menciptakan suatu kesenangan, kecintaan, keindahan
dan sejenisnya. Nilai-nilai etika dan estetika tersebar pada diri manusia, keluarga, kelompok,
organisasi bahkan sampai kepada Negara internasional. Pertalian dari nilai-nilai etika dan
estetika ini dengan sebarannya, memang tidak dapat disangkal bahwa etika di satu pihak
komunitas manusia tertentu berbanding terbalik dengan etika yang dipanuti komunitas
lainnya. Etika dan estetika sangat dibutuhkan untuk sarana pencegahan berkembangnya suatu
bentuk virus patologi yang akan menghambat perkembangan aktivitas administrasi.
Kreativitas dalam administrasi merupakan perpaduan antara pengetahuan dan imajinasi
dengan ketrampilan atau kemahiran palaksanaan suatu aktivitas administrasi.

4. Penyakit Fanatisme dan Terapinya

Keteguhan dalam pendirian dan ketangguhan dalam pemikiran adalah sesuatu hal
yang sangat positif dalam suatu aktivitas, tetapi keteguhan pemikiran dan keteguhan dalam
pendirian serta kematangan dalam tindakan yang berlawanan dengan perubahan secara
alamiah sebenarnya dapat merugikan dirinya sendiri, keluarga, kelompok dan mungkin saja
kehidupan organisasi secara luas. Hal inilah yang dimaksud dengan penyakit fanatisme.

Mengatasi penyakit fanatisme pada hakikatnya merupakan suatu upaya untuk


mengcakrawalakan wawasan keilmuan, wawasan ketaqwaan, pengkayaan pengalaman,
kelestarian budaya dan ketaatan terhadap etika dalam menghadapi berbagai kondisi yang
senantiasa dapat mengalami perubahan, baik yang disebabkan oleh lingkungan sosial
maupun karena kondisi manusia itu sendiri. Penyakit fanatisme merupakan penyakit
multidimensi dan multiancaman, karena memang berada dalam seluruh aspek kehidupan
manusia yang penanganannya tidak cukup hanya peningkatan wawasan keilmuan, keimanan,
pemberdayaan, dan lain sebagainya, tetapi harus dilakukan secara simultan dan bukan secara

18
parsial dari seluruh aspek pemikiran dan aktivitas dalam rangka mewujudkan proses
kerjasama sebuah organisasi.

5. Penyakit Cinta dan Terapinya

Penyakit cinta adalah suatu proses tindakan atau ucapan bahasa yang dapat
menciptakan akibat penderitaan diri sendiri, orang lain, maupun perusakan makhluk dan
lingkungan sekitarnya. Salah satu langkah yang dipergunakan dalam rangka menetralisir
penyakit cinta adalah dengan melakukan perundingan antara kedua belah pihak yang
dimediasi oleh perunding yang memiliki kemahiran untuk mengatasi masalah-masalah yang
ditimbulkan oleh virus penyakit cinta. Pelaku perundingan diharapkan mampu menciptakan
situasi dimana perbedaan-perbedaan pendapat tidak lagi menentukan dan pihak-pihak yang
memiliki kepentingan yang berbeda dapat menaati apa yang dianjurkan oleh juru runding,
sehingga kedamaian dan cinta kasih dapat terwujud dengan baik. Jenis virus penyakit cinta :

a. Cinta jabatan.

b. Cinta pekerjaan.

c. Cinta teman.

d. Cinta keluarga.

e. Cinta harta.

BAB 2. PENYAKIT ADMINISTRASI dan TERAPINYA

Penyakit atau patologi administrasi adalah suatu fenomena sosial yang tingkah
lakunya bertentangan dengan kaidah-kaidah, norma-norma, moralitas,dan rasionalitas yang
dipersyaratkan oleh administrasi itu sendiri. Menurut Kartini Kartono, patologi administrasi
adalah ”semua tingkah laku yang bertentangan dengan norma kebaikan , stabilitas lokal,
pola kesederhanaan, moral, hak milik, solidaritas kekeluargaan, hidup rukun
bertetangga,disiplin kebaikan dan hukum formal. Penyakit atau patologi administrasi, secara
umum dapat diartikan sebagai suatu keadaan di mana manusia sebagai unsur utama dalam
administrasi, niat utamanya seharusnya adalah bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan
bersama, tetapi niat utamanya disini berubah menjadi bekerjasama untuk memenuhi
19
kebutuhan pribadi dengan mengorbankan orang lain. Macam-macam Penyakit Administrasi
dan Terapinya:

1. Penyakit Nepotisme dalam Administrasi dan Terapinya

Penyakit nepotisme dalam administrasi, artinya, ada secara individu atau sekelompok
manusia yang menikmati suatu hasil dari kerjasama sebagian besar manusia yang merasa
dirugikan dan dizalimi oleh seseorang atau sekelompok kecil orang tetapi memiliki otoritas
yang sangat besar. Jadi dengan leluasa melakukan penindasan dan pemerasan terhadap
orang lain. Penyakit nepotisme administrasi juga menciptakan suatu perubahan dalam
sebuah bentuk kerjasama, tetapi perubahan yang diciptakan tersebut berorientasi kepada
perubahan negatif, atau dengan kata lain perubahan dalam arti penurunan dari seluruh aspek
yang dimiliki oleh bentuk kerjasama. Sebagai contoh, jangkauan kegiatan operasional
dengan unit organisasi sebanyak sepuluh, tetapi setelah diserang penyakit nepotisme
administrasi maka semakin lama semakin berkurang unitnya.

Penanganan virus penyakit nepotisme dalam administrasi seharusnya dilakukan


secara terus menerus, karena kemungkinan akan berkembang apabila kita tidak waspada.
Tindakan yang dilakukan itu merupakan suatu permulaan karena diawali oleh pemikiran
yang dilandasi wawasan keilmuan, ketangguhan moralitas, dan ketangguhan iman. Oleh
sebab itu kita semua harus senantiasa menjujung tinggi nilai-nilai kebenaran, sehingga
virus-virus penyakit nepotisme itu akan mengancam kehidupan kita setiap saat .Sebaiknya
semua manusia yang terlibat dalam kerjasama untuk melakukan aktivitas administrasi saling
mengontrol dan me- ngingatkan antara satu dengan yang lainnya akan bahaya laten virus
penyakit nepotisme itu.

2. Penyakit Kolusi dalam Administrasi dan Terapinya

Administrasi berfungsi sebagai alat pikir ilmiah untuk menciptakan pengaturan dan
keteraturan dalam kehidupan berserikat antara manusia yang satu dengan manusia lainnya.
Jika administrasi tidak dapat lagi menciptakan pengaturan dan keteraturan ini, maka
fenomena ini memberikan informasi bahwa administrasi itu mengalami gejala penyakit
kolusi dan perlu segera ditangani oleh konsultan yang handal. Menurut Dubrin dalam
Wibowo, terapi dari penyakit kolusi:
20
a. Sumber daya pengetahuan (knowledge resources)

b. Sumber daya ilmu (science resources)

c. Sumber daya fisik ( physical resources)

d. Sumber daya informasi (informational resources)

e. Sumber daya analisis (analysis resources)

f. Sumber daya finansial (financial resources)

g. Sumber daya komitmen (commitment resources)

h. Sumber daya manusia (human resources)

i. Sumber daya kekuasaan (power resources)

j. Sumber daya organisasi (organization resources)

3. Penyakit Korupsi dan Terapinya

Korupsi suatu perbuatanm atau tindakan seseorang atau beberapa orang, baik
statusnya sebagai bawahan maupun sebagai pejabatdalam suatu organisasi, baik organisasi
negara, pejabat pemerintah,pejabat politik, dsb, yang melakukan pelanggaran etika,
moralitas, rasionalitas, keimanan, dan peraturan perUUan yang berlaku dengan
caramendapatkan sesuatu keuntungan dalam rangka memenuhi keinginan dan kebutuhan
seseorang atau beberapa orang yang dapat berakibat merugikan orang lain, negara,
pemerintah maupun organisasi swasta lainnya.

Menurut Wahyudi Kumurotomo, korupsi adalah:

a. Setiap perbuatan yang dilakukan oleh siapapun juga untuk kepentingan diri
sendiri, untuk kepentingan orang lain, atau untuk kepentingan suatu badan yang
langsung menyebabkan kerugian bagi keuangan dan perekonomian negara.
21
b. Setiap perbuatan yang dilakukan oleh seorang pejabat yang menerima gaji
atau upah dari keuangan negara ataupun dari suatu badan yang menerima bantuan
dari keuangan negara atau daerah dengan mempergunakan kesempatan atau
kewenangan atau kekuasaan yang diberikan kepadanya oleh jabatan, langsung
atau tidak langsung membawa keuntungan atau material baginya.

Terapi penyakit korupsi dalam administrasi adalah dengan cara:

a. Penyadaran etika

b. Penyadaran moralitas

c. Peningkatan keimanan

d. Kelayakan hidup

e. Penegakan peraturan

f. Pemberian pemahaman

g. Pemberian sanksi

4. Penyakit Keserakahan dalam Administrasi dan Terapinya

Penyakit keserakahan dalam administrasi adalah suatu metode, teknik dan


taktik yang dilakukan seseorang anggota yang terikat dalam ikatan bentuk kerjasama
berpikir dan bertindak untuk dapat menguasai sebagian atau keseluruhan faktor-faktor
kenikmatan (material/benda) dengan mengorbankan orang lain. Menurut Jalaluddin,
terapi patologi keserakahan adalah sbb:

a. Kegiatan berkarya, bekerja, dan mencipta, serta melaksanakan dengan sebaik-


baiknya tugas dan kewajiban masing-masing.

b. Keyakinan atas penghayatan nilai-nilai tertentu (kebenaran, keindahan,


keimanan dan lainnya)

c. Sikap tepatyang diambil dalam keadaan dan penderitaan yang tidak terelakkan
terhadap setiap manusia.
22
5. Penyakit Egoisme dalam Administrasi dan Terapinya

Penyakit Egoisme dalam Administrasi adalah sifat-sifat manusia yang terikat


dalam bentuk kerjasama yang selalu ingin menang sendiri ketika mendiskusikan suatu
pemikiran, baik secara ilmiah maupun pemikiran terhadap suatu penyelesaian
permasalahan atau suatu kegiatan. Secara fenomenologis, manusia yang memiliki
sifat-sifat egoisme adalah manusia yang mempunyai kecendrungan sebagai manusia
tertutup (introver) Biasanya orang seperti ini berpikiran rasional dan cerdas namun
juga mempunyai kecendrungan sebagai manusia yang kikir dan kepeduliannya
terhadap manusia lainnya sangat kecil, bahkan hampir tidak ada.

Terapi penyakit egoisme dalam administrasi adalah sbb:

a. Melalui interaksi social

b. Melalui keterbukaan

c. Melalui pendidikan dan pelatihan

d. Melalui kelompok informal dan formal

BAB 3. PENYAKIT BIROKRASI dan TERAPINYA

Kekuasaan dan kewenangan manusia yang terikat dalam sebuah birokrasi memiliki
tingkatan yang berbeda-beda, semakin tinggi posisi seseorang maka kekuasaan dan
kewenangan semakin besar tetapi tanggung jawab dalam penyelesaian berbagai aktivitas
semakin kecil dan sebaliknya. Fenomena ini dalam birokrasi mendorong manusia untuk
dapat merebut kekuasaan dan kewenangan yang lebih tinggi. Perebutan kekuasaan dan
kewenangan yang tidak didasarkan kepada profesionalisme, rasionalisme dan moralitas
merupakan suatu penyakit atau patologi dalam birokrasi. Hal ini akan berakibat:

1. Perubahan yang terjadi dalam birokrasi bukan didasari kepada tindakan


profesionalitas, rasionalitas danmoralitas sehingga kehidupan birokrasi semakin
lemah dan lesu.

23
2. Tidak efektif dan efisiensinya dalam mengembangkan tuntutan para anggota birokrasi
terhadap performa profuknya dengan kebutuhan pengembangan birokrasi itu sendiri.
3. Tidak termotivasinya anggota birokrasi untuk mengembangkan kreativitas dan
inovasinya.
4. Setiap anggota birokrasi dalam melakukan suatu tindakan bukan lagi berdasarkan
kepada pemikiran rasional, tetapi kecenderungan tindakannya irasional.
5. Interaksi dan reaksi baik anggota birokrasi, antara anggota birokrasi dengan anggota
masyarakat lainnya senantiasa mengabaikan norma-norma moralitas.

Untuk menyembuhkan patologi birokrasi tersebut maka birokrasi memerlukan manusia yang
memiliki keunggulan:

1. Unggul dalam penguasaan ilmu dan teknologi


2. Unggul dalam penguasaan stategik
3. Unggul dalam berkolaborasi
4. Unggul dalam bernegosiasi
5. Unggul dalam penguasaan informasi.

Penyakit/ patologi birokrasi:

1. Persekongkolan Jabatan dan terapinya


Persekongkolan jabatan adalah suatu usaha yang dilakukan dua orang atau lebih
dengan menciptakan kesepakatan guna mempertahankan atau memperoleh suatu jabatan
tertentu dalam organisasi dengan mengorbankan orang lain. Persekongkolan jabatan dapat
menciptakan ketidakstabilan dan bahkan memungkinkan kematian sebuah organisasi.

Langkah-langkah mencegah terjadinya patologi persekongkolan jabatan:

a. Pengisian atau rekrutmen jabatan, merupakan suatu usaha sadar dengan


mempertimbangkan dari berbagai hal dalam jabatan baik yang memberikan
keuntungan maupun hal yang merugikan.
24
b. Kejelasan batasan kewenangan dan tanggungjawab dalam jabatan.
c. Kejelasan persyaratan jabatan
d. Keterbukaan besaran penghasilan dalam suatu jabatan.

2. Persekongkolan Pekerjaan dan terapinya


Patologi yang berupa persekongkolan pekerjaan dapat terjadi dalam rangka
pendistribusian pekerjaan terutama pekerjaan yang melekat pada jabatan dan lebih banyak
kontribusi besaran penghasilan bagi yang melakukan pekerjaan dalam jabatan tersebut
terutama pada jenjang yang lebih tinggi.

Terapi untuk menurangi dan menghilangkan persekongkolan pekerjaan:

a. Menciptakan kondisi social yang baik


b. Menciptakan emosional yang cerdas
c. Menciptakan intelektualitas yang baik
d. Menciptakan karakter yang baik
e. Menciptakan spiritualitas yang baik

3. Persekongkolan Status dan Terapinya


Mempertahankan berbagai status yang dimiliki individu, kelompok yang bukan
dilandasi dari profesionalisme dan kemampuan dalam pengetahuan dan keterampilan
merupakan salah bentuk persekongkolan status. Persekongkolan status dapat diartikan atau
dipandang secara negatif karena berpatokan kepada pengalaman yang dirasakan manusia
yang bersangkutan, di mana terkena imbas dari tindakan atau perbuatan persekongkolan
tersebut selalu dalam posisi yang dirugikan. Apabila imbasan dari tindakan persekongkolan
dalam rangka mempertahankan status yang dimilikinya menyebabkan melemahnya atau
merugikan organisasi maka hal ini merupakan patologi.

Langkah-langkah dalam rangka penyembuhan:

a. Menanamkan pengertian tentang penyakit persekongkolan status dalam


aktivitas administrasi dapat merugikan kelompok manusia yang bersekongkolan,

25
dan lebih-lebih kepada pengembangan dan penguatan proses administrasi dalam
pencapaian tujuan.
b. Memberikan kesadaran bahwa hasil yang dicapai akibat penyakit
persekongkolan status dalam aktivitas administrasi akan banyak menimbulkan
kerugian disbanding manfaat.
c. Memberikan teknik-teknik menghindarinya.

4. Persekongkolan Kolega dan Terapinya


Interaksi dan reaksi jaringan dalam keprofesian atau kolega sangat akrab terutama
dalam interaksi dan bereaksi terhadap persekongkolan. Interaksi dan reaksi dari sekelompok
manusia yang tujuannya memperoleh suatu manfaat tetapi berdampak negative dalam arti
merugikan kelompok manusia lain ataupun organisasinya dikategorikan sebagai patologi
persekongkolan kolega. Persekongkolan kolega senantiasa menggunakan “life skill” namun
pemanfaatannya seringkali merugikan orang lain.

Pemanfaatan life skill dalam kehidupan antara lain:

a. Kecakapan individu (individual skill)


b. Kecakapan kelompok (group skill)
c. Kecakapan social (social skill)
d. Kecakapan akademik (academic skill)
e. Kecakapan aktualisasi (actualitation skill)
f. Kecakapan emosional (emotional skill)
g. Kecakapan intelegensi (intelligence skill)

5. Persekongkolan Keluarga dan Terapinya


Menanggulangi patologi persekongkolan keluarga dalam kehidupan administrasi, hal
ini dapat dijelaskan bahwa dalam kehidupan administrasi terdiri atas beberapa pandangan
terhadap anggota keluarga:

a. Anggota keluarga dengan hubungan darah

26
Administrasi sebagai proses kerjasama memungkinkan terjadi adanya anggota
memiliki hubungan darah seperti anak, saudara dll. Hal ini akan menciptakan
hubungan emosional, saling melindungi, saling mendukung dalam tindakan
sehingga akan menimbulkan patologi persekongkolan keluarga. Sehingga untuk
mengatasinya diperlukan kesadaran dan penentuan ketentuan yang tegas.

b. Anggota keluarga bukan hubungan darah


Untuk mencegah hal ini adalah penegakan hukum, konsistensi dalam penerapan
kebijakan dan perlakuan adil pada semua anggota dalam birokrasi.

c. Anggota keluarga dalam arti luas


Adalah semua anggota ikatan kerjasama dari seluruh tingkatan kedudukan yang
tergolong dalam anggota keluarga birokrasi. Untuk mencegah terjadinya patologi
perlu menciptakan kondisi bangunan yang berwawasan kekeluargaan dan
kebersamaan serta menegakkan kebenaran.

d. Anggota keluarga dalam arti sempit


Adalah sebagian kecil anggota birokrasi yang mengadakan kesepakatan dalam
persekongkolan karena memiliki tujuan yang sama dan menindas pada orang yang
sama pula. Untuk menerapinya, dengan memberikan pemahaman dalam kebersamaan
dari seluruh anggota birokrasi yang diikat dalam bentuk kerjasama.

6. Persekongkolan Pertemanan dan Terapinya


Persekongkolan pertemanan merupakan suatu taktik yang dilakukan oleh beberapa
orang yang diikat rasa pertemanan untuk mencapai maksud dan tujuan yang mereka telah
disepakati dan bertentangan maksud dengan tujuan birokrasi itu sendiri.

Persekongkolan pertemanan merupakan fenomena social yang sulit dicegah karena


persekongkolan pertemanan ini suatu kebutuhan baik individu, kelompok, birokrasi,
organisasi,bahkan kebutuhan social. Oleh karena itu jangan berpikir untuk menghilangkan
persekongkolan pertemanan tetapi yang perlu dipikirkan adalah bagaiman persekongkolan
tersebut senantiasa dilakukan secara positif dalam kehidupan birokrasi.

27
BAB 4. KEJAHATAN ADMINISTRASI
Interaksi manusia dalam administrasi banyak terjadi hubungan yang bersumber dari
tuntutan motif-motif dengan melibatkan suatu kombinasi persaan dan tuntutan kebutuhan
yang berbeda-beda antara manusia yang satu dengan manusia yang lainya. Interaksi manusia
dalam administrasi secara realitas memiliki tujuan yang sama tetapi secara terselubung
memiliki tujuan yang berbeda-beda pula. Ketidaktercapaian tujuan yang terselubung setiap
manusia yang terikat dalm bentuk kerja sama kemungkinan akan terdorong dalam tindakan
yang tidak sesuai lagi ketentuan yang ada, sehingga tujuan yang terselubung itu dapat dicapai
sesuai harapan yang mereka inginkan.
Dalam menentukan kejahatan dari suatu tindakan atau perbuatan manusia, memang
mengalami kesulitan ketika kita berada pada posisi netral. Manusia memungkinkan tidak
tergoda pada penerapan khusus tentang ajaran-ajaran administrasi terutama contennya yang
menentang mewabahnya virus patologi kejahatan dalam administrasi, khususnya bagi
administrasi Negara yang orientasinya peningkatan kesejahteraan, keteraturan dalam
melakukan aktifitas, dan pengaturan yang terarah dan sistematis. Untuk sementara kita bias
melihatnya bahwa konsesus yang tumpang tindih terhadap pandangan-pandangan yang
berkembang dan bertahan pada suatu rezim konstitusional yang bersifat tidak adil dapat kita
katakana melibatkan dalam perkembangan kejahatan administrasi.
1. Perampokan dalam Administrasi
Virus penyakit perampokan administrasi merupakan suatu pelanggaran kontrak
social yang kita telah terima sewaktu menciptakan kesepakatan untuk melaksanankan
aktifitas administrasi. Salah satu persoalan yang paling rumit adalah menafsirkan struktur
social yang telah dirumuskan dalam administrasi, apakah struktur yang sifatnya hirarki
merupakan bagian hakiki dalam nilai normative adminisrasi dan juga berlaku dalam
kehidupan social? Penjabaran pemikiran tentang nilai yang terkandung dalam kontrak social
bukanlah merupakan suatu teka teki yang harus dipecahkan, melainkan merupakan suatu
bentuk gambaran yang dituangkan kedalam narasi dengan menggunakan teknik dan metode
tertentu sehingga virus patologi administrasi tidak perlu ditakuti karena memang tidak
pernah ada.
Kelompok yang melakukan suatu perbuatan yang senantiasa mengumpulkan
persyaratan administrasi secara sembunyi-sembunyi serta tidak legal, tentunya perbuatan

28
yang bertentangan dengan norma- norma akan merugikan semua pihak. Perbuatan semacam
ini sesungguhnya merupakan atau tergolong pada penyakit atau patologi perampokan asset
yang dipunyai oleh administrasi. Untuk mencegahnya dapat dilakukan:
a. Perampokan hak cipta.
b. Perampokan material
c. Perampokan informasi
d. Perampokan hak milik
e. Perampokan terselubung
f. Perampokan terang- terangan
g. Perampokan system
h. Perampokan komunikasi
Dengan mempertimbangkan kemudahan atau kesulitan-kesulitan dalam proses
pelaksaan aktifitas administrasi yang dapat menciptakan virus penyakit perampokan pada
manusia dalam administrasi, pada dasarnya para pemikir administrasi dalam decade ini telah
banyak mengajukan gagasan-gagasan mereka dalam rangka menerapi virus penyakit
perampokan dalam pelaksanaan aktifitas administrasi yang kecenderungannya senantiasa
mengalami frekwensi dan derajatnya semakin meningkat dan tambah kuat. Ketiadaan virus
penyakit perampokan yang dilakukan oleh unsure manusia dalam administrasi akan
menciptakan kondisi normalisasi untuk proses kerjasama dalam pencapaian tujuan yang
mereka sepakati sebelumnya.
2. Pembunuhan Karakter dalam Administrasi
Pembunuhan karakter manusia dalam proses kerja sama yang di persyaratkan oleh
administrasi selalu menciptakan kebencian terhadap pelaku pembunuh karakter, walaupun
mereka juga tahu dalam memerangi hal itu akan mengalami risiko dalam menegakan
keadilan manusia yang terikat dalam bentuk kerja sama. Apabila kondisi ini dibiarkan selalu
berkembang dengan aktifitas yang mengarah kepada kejahatan terutama pada mematikan
karakter manusia, pastilah akan berakibat negative terhadap kemajuan atau perkembangan
administrasi dalam sebuah organisasi baik di pemerintahan maupun organisasi swasta.
Memang ini sangat mengkhawatirkan jika yang terjadi bukan saja fenomena tapi sudah
merupakan realitas dimana kemalasan dan kelesuan kerja Nampak di depan mata karna
akibat virus pembunukan karakter.

29
Seandainya terjadi virus patologi yang dapat mematikan karakter manusia
dalam administrasi, tentunya kita harus berpikir untuk menerapinya sehingga tidak lebih
membesar yang akan berakibat merugikan administrasi. Setiap ikatan kerjasama manusia itu
senantiasa tidak lepas dari pada prinsip-prinsip yang antara satu dengan lainya memiliki
keterkaitan, yaitu:
a. Manusia dalam melakukan aktifitas yang dipersyaratkan administrasi
bertindak sesuai dengan kodratinya dan harus dihormati kodrati yang dimiliki
manusia yang bersangkutan itu.
b. Menentukan apa yang baik tindakan manusia dalam aktifitas yang
dipersyaratkan oleh administrasi itu sendiri, harus dilaksanakan dengan baik pula
dan berusaha menghindari tindakan yang berakibat merugikan semua pihak.
c. Tidak ,memaksakan jangkauan tindakan dan tanggung jawab karena memang
manusia memiliki keterbatasan. Hal itu harus disadari sehingga keharmonisan
dalam ikatan kerja sama itu senantiasa terlaksana dengan baik.
3. Penjajahan dalam Administrasi
Manusia dalam administrasi senantiasa kehilangan hak-hak dasar karena disebabkan
oleh penindasan-penindasan penjajahan yang juga sering di istilahkan dengan kolonialisme.
Oleh sebab itu harus kita perjuangkan dan harus pula di hormati hak dasar manusia. Setiap
manusia dimana keberadaannya dalam administrasi senantiasa kita dapat memperlihatkan
rasa hormat yang tulus ikhlas serta mau mengakui status mereka dalam situasi
bagaimanapun kondisinya. Perlakuan penjajahan terhadap manusia lainya tidak ada lagi
keramahan dan kebaikan yang harus kita peroleh melainkan sebuah cacian atau ejekan
seakan-akan tidak pernah kita melakukan suatu kebaikan yang berkaitan dengan kehidupan
ekonomi maupun kehidupan social kemasyarakatan lainnya. Sebenarnya virus penyakit
penjajahan yang menyakiti manusia yang terikat dalam administrasi, dapat kita telusuri dari
sisi pandang :
a. Sisi pandang penjajah
Keunggulan seorang manusia dalam administrasi sangat berpotensi menjadi
penjajah, misalnya keunggulan dalam jabatan, pengetahuan, pengalaman, dan
semacamnya yang dapat difungsikan untuk digunakan memaksakan kepada orang
lain dalam administrasi yang memiliki kelemahan dan ketidakberdayaan.

30
b. Sisi pandang yang dijajah
Kelemahan seorang manusia dalam administrasi juga sangat berpotensi dijajah
atau dipaksa untuk melakukan sesuatu berdasarkan keinginan si penjajah itu,
karena mereka memiliki kekuatan dalam keunggulan untuk dapat melakukan
pemaksaan orang lain yang terikat dalam administrasi.
4. Pemalsuan dalam Administrasi
Aspirasi manusia untuk memahami dunia administrasi , social , dan alam sekitarnya
melalui akal pikiran yang rasional dengan menggunakan pengetahuan dan teknologi demi
kemajuan manusia baik sebagai bagian dari administrasi, anggota masyarakat, maupun
sebagai warga Negara, sama sekali bukan hal yang baru tetapi keberadaanya sejak manusia
melakukan ikatan kerja sama dalam administrasi itu sendiri, ikatan social kemasyarakatan
maupun sebagai warga Negara. Demikian pula halnya dengan kepalsuan bukan suatu hal
yang baru tetapi berkembang seiring dengan dinamika perkembangan manusia yang
bersangkutan. Kepalsuan adalah suatu jenis virus patologi yang menyerang dalam proses
aktifitas administrasi. Jenis-jenis virus pemalsuan administrasi :
a. Pemalsuan dokumen
b. Pemalsuan pemikiran
c. Pemalsuan tindakan
d. Pemalsuan informasi
e. Pemalsuan bentuk
f. Pemalsuan kualitas
g. Pemalsuan kuantitas
h. Pemalsuan merek

5. Rekayasa dalam Administrasi


Pengertian rekayasa dapat dilihat dari dua sisis pandang, pertama dari pemahaman
bahwa rekayasa itu adalah suatu proses pemikiran untuk merubah sesuatu untuk lebih
mudah dilakukan atau lebih memberikan manfaat kepada kehidupan yang lebih layak.
Selanjutnya pengertian rekayasa sebagai virus patologi administrasi adalah suatu tindakan
yang dilakukan seseorang atau beberapa orang yang dapat merugikan orang lain yang terikat
dalam bentuk kerja sama. Pandangan yang menganggap bahwa rekayasa disini berarti

31
campur tangan dari orang-orang yang memiliki kompetensi yang didasari dengan kesadaran
yang tinggi akan memberikan manfaat meningkatkan kesejahteraan manusia dalam
administrasi.tetapi sebaliknya bila rekayasa bertujuan mendapatkan sesuatu yang sesuai
dengan kehendaknya tanpa memerlukan kemampuan kompetensi dan kesadaran yang tinggi,
hal inilah yang sesungguhnya menjadi topic pembahasan selanjutnya.
Tetapi kita juga dapat melihat bahwa rekayasa aktifitas dan output administrasi
adalah suatu realitas yang dapat menyengsarakan manusia. Sekarang bagaimanakah wujud
virus patologi atau penyakit rekayasa dalam administrasi baik aktifitas pada bidang Negara
atau pemerintah maupun aktifitas pada perusahaan bidang swasta?jawabanya yaitu :
a. Rekaya input
b. Rekayasa output
c. Rekayasa pemikiran
d. Rekayasa penggunaan
e. Rekayasa informasi
f. Rekayasa perilaku
g. Rekayasa bentuk
h. Rekayasa dokumen
i. Rekayasa aturan
j. Rekayasa bukti
Argumentasi yang dikemukakan d atas sebagai bagian dari virus patologi atau
penyakit rekayasa dalam administrasi adalah suatu yang dapat berakibat mengurangi atau
meniadakan dayaguna dan hasilguna serta rasionalitas pada aktifitas administrasi itu sendiri.
Tindakan rekayasa manusia dalam administrasi sebenarnya dapat merugikan semua manusia
secara sistemik karena baik bagi anggota organisasi maupun sebagai warga masyarakat
dalam arti yang makro.

BAB 5. KEMARJINALAN ADMINISTRASI

Keterpinggiran atau kemarjinalan merupakan masalah besar yang dihadapi manusia


utamanya pada tingkat pimpinan dalam administrasi karena dapat berakibat negative dalam
melakukan interaksi dan beraksi dengan manusia lainnya. Kemarjinalan adalah sesuatu
keterpaksaan seseorang dalam menghadapi kenyataan kehidupan sehari-hari yang mungkin
32
sesekali terkait secara mendalam dengan pergaulan dalam menjalankan proses aktivitas
administrasi secara menyeluruh. Salah satu kajian atau materi dari pada administrasi Negara
atau administrasi pemerintahan berkewajiban mengurangi dan kalau perlu menghilangkan
kemarjinalan (kepinggiran) komunitas masyarakat tertentu dalam kekuasaan Negara atau
memerintah itu menjadi masyarakat sejahtera, adil dan damai.

Salah satu virus penyakit yang diderita masyarakat dari berbagai Negara di dunia ini
adalah virus penyakit atau patologi kemarjinalan, baik yang berhubungan dengan kehidupan
ekonomi, pendidikan, kemoralan, keagamaan, penguasaan komunikasi, keterbelakangan
peradaban dan lain sebagainya. Salah satu hal yang terpenting dalam penanggulangan
kemarjinalan adalah melakukan pembangunan sebagai sebuah sistem yang cukup
representative untuk merefleksikan peranan atau posisi Negara atau pemerintahan yang
terimplementasikan dalam marteri kajian administrasi pembangunan. Menurut Philip
Quarles, pembangunan merupakan suatu proses yang multisegi dan multisuara serta tempat
perdebatan yang kompleks.

Penyebab berkembangbiaknya virus patologi kemarjinalan adalah kurangnya


peraturan-peraturan atau ketentuan-ketentuan dan bahkan adanya pengimplementasian
kecendrungan longgara dan tidak disertai pemberian sanksi yang berat mengakibatkan
fleksibilitas dan ketiadaan formalisasi, sehingga menciptakan gejala-gejala rangsangan
timbulnya suatu konflik yang berpotensi menyebar luasnya virus patologi kemarjinalan
dalam tubuh administrasi itu sendiri.

1. Marjinal Ekonomi

Pendekatan-pendekatan yang konvensional dalam penanganan kemarjinaan ekonomi


ditinjau dari sudut pandang kajian administrasi adalah menelaah kebijakan yang berkaitan
dengan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif, misalnya kebutuhan makanan,
perumahan, sandang dan sebagainya. Pemerintah dalam menetapkan kebijakan umum dalam
rangka menanggulangan virus penyakit kemarjinalan ekonomi melaksanakan pembangunan
dengan menggunakan rumusan universal.

Virus penyakit kemarjinalan ekonomi yang sebagian diderita masyarakat di belahan


bumi:
33
a. Kelaparan

Pelaksanaan pembangunan utamanya peningkatan faktor pemenuhan kebutuhan


di bidang pangan haruslah ditangani mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai
kepada pendistribusian hasil-hasilnya kepada kantong-kantong masyarakat
marjinal ekonomi.

b. Kesehatan

Kreativitas dan semangat kerja masyarakat sangatlah ditentukan oleh kadar


kesehatan masyarakat untuk melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan serta
menentukan jumlah dan kualitasnya hasil pekerjaan tersebut.

c. Perumahan

Salah satu tolok ukur untuk membandingkan bagi masyarakat yang sedang
dilanda virus patologi atau penyakit kemarjinalan ekonomi dengan masyarakat
yang memiliki8 kebutuhan kehidupan yang memadai adalah kondii tempat tinggal
mereka.

d. Daya beli masyarakat

Rendahnya daya beli masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup merupakan


indikatro untuk memperjelas komunitas masyarakat mana yang sedang menderita
penyakit kemarjinalan ekonomi.

e. Penghasilan yang rendah

Kemalasan atau ketidakseriusan komunitas masyarakat tertentu dalam


melaksanakan aktivitas sebagai mata pencaharian utamanya pasti menciptakana
penghasilan yang rendah serta mudah pula terkena virus patologi tau penyakit
kemarjinalan bidang ekonomi.

2. Marjinal Pendidikan

Untuk mewujudkan suatu perubahan dalam semua aspek kehidupan, maka peranan
pendidikan sangat menentukan di mana kita sadari bahwa dengan pendidikan yang memadai
34
pada diri manusia akan menciptakan kecerdasan baik kecepatan dan ketepatan berpikir
maupun kualitas dan kuantitas penggunaan keterampilan yang diperoleh melalui proses
pendidikan. H.A.R.Tilaar berpendapat bahwa proses pendidikan adalah proses
penyelamatan kehidupan social dan penyelamatan lingkungan yang meberikan jaminan
hidup yang berkesinambungan. Orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi dapat
memberikan jaminan baha hasil yang dicapai akan lebih berkualitas dan berkuantitas
sebagai aspek utama dalam pemenuhan kebutuhan hidup manusia.

Virus patologi kemarjinalan pendidikan:

a. Kebodohan

Kebodohan merupakan suatu virus penyakit kemarjinalan pendidikan karena tidak


memiliki pemikiran yang berwawasan keilmuan dan pekerjaan yang dilakukan
tidak dilandasi kemahiran atau keterampilan hasil pekerjaan yang dapat diperoleh
sangat rendah.

b. Ketergantungan

Ketidak mampuan seseorang untuk memenuhi tuntutan kehidupan dasarnya


sehingga mengharapkan uluran tangan orang lain merupakan sebahagian
pemikiran ketergantungan, bagi manusia yang sebahagian besar tuntutan
kehidupannya selalu digantungkan kepada orang lain, pasti selalu mengalami
keterbelakangan dan sulit memperoleh kehidupan dalam kesejahteraan.

c. Kekalahan

Dalam kehidupan manusia yang penuh dengan persaingan dan perebutan


pekerjaan atau jabatan, bagi manusia yang memiliki kualitas pemikiran yang
tinggi dengan perolehannya melalui proses pendidikan yang benar,
kemungkinannya akan memenangkan persaingan dan perebutan jabatan.

d. Kegagalan

35
Salah satu terapi untuk mencegah terjadinya kegagalan dalam melaksanakan tugas
atau pekerjaan adalah harus ditunjang oleh tingkat pendidikan yang sesuai dengan
jenis tugas atau pekerjaan bagi manusia yang bersangukutan.

e. Kemiskinan

Salah satu aspek kemiskinan adalah karena ketidakberdayaan, dan


ketidakmampuan karena tidak memiliki tingkat pendidikan yang memadai.

3. Marjinal Etika Moral

Shapiro mengatakan “kesulitan-kesulitan utama akan muncul dalam penentuan siapa


yang terkena dampak dan seberapa besar dampak yang diakibatkan atas memperlakukan
suatu ajaran moralitas dalam komunitas tertentu.” Dampak moralitas ini sebenarnya kita
melihat dari dua sisi padangan: pertama,damapak positif, artinya bahwa moralitas itu
senantiasa memberikan ketentraman dan ketenangan hidup komunitas manusia
tertentu;kedua,dampak negative, artinya bahwa interaksi dan reaksi dalam melakukan
aktivitas komunitas manusia terdapat perilaku atau aktivitas yang dilakukan tidak sesuai
dengan ketentuan ajaran moralitas mereka itu sendiri.

Virus patologi kemarjinalan moralitas dalam kaitannya dengan ajaran adiministrasi:

a. Ketidakpekaan terhadap perilaku

Suatu aktivitas untuk menyadarkan orang yang bersangkutan untuk tidak


melakukan suatu tindakan yang dapat merugikan orang lain dan bahkan
merugikan dirinya sendiri.

b. Ketidakpekaan terhadap lingkungan

Bersahabat dengan lingkungasn berarti kita menyayangi proses kehidupan kita


sendiri serta kelestarian lingkungan sekitar kita.

c. Ketidakpekaan terhadap aturan hidup

36
Etika dan peraturan terhadap perundang-undangan merupakan bagian integral
yang menciptakan dalam kehidupan komunitas masyarakat tertentu bisa hidup
dengan baik dan tenang.

d. Ketidakpekaan terhadap social

Manusia yang senantiasa mempraktikkan sifat yang itdak ada kepedulian social
ini perlu diganjar oleh sanksi yang sesuai dengan pembuatannya, agar menjadi
sadar dalam kehidupan social yang senantiasa memberikan rahmat dan
kebahagian hidup umat manusia.

e. Ketidakpekaan terhadap organisasi

Keberhasilan suatu organisasi dalam mewujudkan visi dan misinya berarti pula
keberhasilan manusia yang terlibat di dalamnya sebagai anggota organisasi.

f. Ketidakpekaan terhadap tugas

Pelaksanaan suatu tugas yang tepar dengan didukung oleh kemampuan dalam
keilmuan dan kemampuan keterampilan atau kemahiran terhadap suatu bidang
kegiatan akan memberikan hasil yang berdayaguna dan berhasilguna dalam
kehidupan manusia itu sendiri.

4. Marjinal Keagamaan

Kepercayaan atau keagamaan yang diyakini sesungguhnya merupakan sarana untuk


menciptakan kedamaian, ketenangan, kepedulian, keharmonisan dan lain sebagainya, Dalam
rangka terwujudnya kehidupan yang layak dan sejahtera bagi manusia yang bersangukutan.
Sebaliknya bahwa kemajinalan terhadap agama atau keyakinan vyang mereka percayai,
dapat dipastikan bahwa dalam kehidupan bagi manusia yang demikian itu senantiasa tidak
ada keseimbangan serta untuk membangun kepercayaan pada diri sendiri sulit terwujud,
termasuk membanguna kepercayaan terhadap pandangan orang lain kepada dirinya sehingga
sulit melakukan kerjasama yang baik.

Sekelumit penyebab virus patologi kemajinalan keagamaan:

37
a. Tindakan kebencian

Tindakan kebencian pada diri seorang manusia dapat terjadi yang ditujukan pada
dirinya sendiri, antara lain disebabkan karena ketidakmampuan mengatasi
kelemahan-kelemahannya.

b. Tindakan kebohongan

Virus kebohongan ini sangat merusak sendi-sendi kehidupan mulai dari tingkat
individual, keluarga, kelompok sampai kepada kehidupan kemasyarakatan dan
bernegara.

c. Tindakan penghianatan

Virus patoogi penghianatan adalah suatu tindakan yang sangat tidak terpuji karena
mengingkari apa yang telah mereka sepakati sebelumnya.

d. Tindakan kesombongan

Karakteristik manusia senantiasa merasa bahwa dialah yang paling terbaik,


terhebat, terpintar dan semacamnya, sedangkan orang lain dipandangnya jelek,
terbodoh dan semacamnya. Istilah-istilah ini merupakan bagian dari kesombongan
yang telah diaplikasikan dalam tindakan.

e. Tindakan kedurhakaan

Tindakan ini adalah suatu bentuk dosa kepada sesame manusia karena disebabkan
adanya sifat kesombongan, penganiayaan, perlawanan kepada orang tua dan
tindakan semacamnya.

f. Tindakan penghinaan

Semakin mendalam pengetahuan manusia tentang ajaran keagamaan yang


dipercayainya, semakin kuat pula terhadap pendirian sehingga tidak mudah terhina.

5. Marjinal komunikasi

38
Salah satu alat komunikasi yang paling efektif yang dapat dipergunakan adalah
bahasa. Bahasa merupakan alat terpenting untuk menguasai dunia, diri kita dan diri orang
lain, karena dia merupakan satu-satunya alat media dalam melakukan komunikasi yang
sangat efektif. Banyak faktor yang mempengaruhi manusia dalam melakukan komunikasi,
sehingga dapat menciptakan kesalahan dalam melakukan komunikasi mis-komunikasi.

Virus patologi kemarjinalan yang berkaitan dengan komunikasi:

a. Kemampuan komunikator

Orang yang memberikan suatu pesan dituntut memiliki kemampuan yang baik
yang berkaitan dengan wawasan keilmuannya maupun yang berkaitan dengan
keterampilan memberikan pesan sehingga maksud dan tujuan yang diharapkan
dapat memberikan respon.

b. Kemampuan komunikan

Kemampuan dan kecerdasan komunikan untuk menerima pemaknaan maupun


maksdu tujuan dari pesan itu sangat memegang peranan penting dalam rangka
memberikan manfaat atau bergunanya suatu pesan tersebut.

c. Ketepatan sarana komunikasi

Ketidaktepatan dsan ketidakjelasan saran komunikasi ini yang dipergunakan oleh


seseorang, sekelompok orang ataupun komunitas manusia tertentu sehingga
hakikat dan tujuan berkomunikasi tidak terwujud atau dengan kata lain
mengalami kegagalan.

d. Ketepatan prasarana komunikasi

Ketidaktersediaan prasarana akan mengakibatkan sulit tercipta komunikasi yang


baik.

e. Teknik penyampaian pesan dalam komunikasi

39
Kesalahan penyampaian pesan tentunya juga penerimanya akan mengalami
kesalahan. Oleh karena itu teknik penyampaian suatu pesan di dalam suatu bentuk
komunikasi dapat dikatakan sangat menentukan suksesnya suatu komunikasi.

6. Marjinal pekerjaan

Manusia dalam suatu Negara pemerintah sangat memegang peranan penting baik
fungsinya sebagai stabilisator dalam interaksi social maupun memperluas lapangan dan
kesempatan kerja bagi warganya, dalam artian bahwa semua manusia diberikan
kesempatan atau peluang yang sama untuk mendapatkan lapangan kerja yang wajar.
Oleh karena itu perluasan lapangan kerja merupakan tanggung jawab pemerintah
sehingga warga semuanya memiliki pekerjaan dan penghasilan yang tetap dalam rangka
memenuhi kebutuhan hidup dasarnya.

Jenis virus patologi kemarjinalan pekerjaan:

a. Keterbatasan kemampuan

Adanya keterbatasan kemampuan, baik bagi penyedia lapangan kerja maupun


penyedia tenaga kerja yang meliputi keterbatasan penguasaan ilmu pengetahuan
dan teknologi serta kemahiran atau profesionalisme dalam bidang pekerjaan
tertentu, sehingga alat pemuas dalam kebutuhan tidak dapat terwujud dengan baik
sesuai harapan yang diinginkan semula.

b. Keterbatasan modal dasar

Penyedia lapanngan kerja maupun pencari kerja harus memiliki modal dasar yang
dapat dipergunakan setepat munkin, sehingga senantiasa dapat memberikan
keuntungan yang lebih memadai dan penguatan atau dengan kata lain
penambahan modal dasar itu semakin besar.

40
c. Keterbatasan pengalaman usaha

Pengalaman yang banyak dan disertai proses belajar yang baik sebenarnya
memberikan kekuatan keberhasilan dalam melakukan suatu usaha.

d. Keterbatasan jaringan

Perluasan lapangan kerja sangat ditentukan oleh kemampuan menjalin jaringan


kerja dari berbagai kalangan baik itu bersumber dari pemerintah atau penguasa,
maupun dari kalangan pengusaha itu sendiri.

e. Penjajahan dan pembodohan

Suatu fenomena bahkan sebagian penampakan nomena, baik dari kalangan


penguasa atau pemerintah maupun dari kalangan penyedia lapangan kerja itu
sendiri senantiasa melakukan penjajahan atau dengan kata lain tindakan
pemaksaan sesuai dengan keinginannya, maupun juga tindakan pembodohan bagi
manusia yang tidak memiliki keberdayaan, tetapi hanya memiliki ketergantungan
saja.

PENAMPILAN ORGANISASI

BAB 1. KONSEP ORGANISASI

Menurut Soedjadi organisasi adalah sekelompok manusia yang sengaja dikumpulkan


dalam suatu kerjasama yang efisien untuk mencapai suatau tujuan yang telah ditetapkan.

Beberapa cara pandang ahli terhadap organisasi yaitu :

1. Pemikiran organisasi sebagai suatau wadah


2. Pemikiran organisasi sebagai proses
3. Pemikiran organisasi sebagai aktivitas
4. Pemikiran organisasi sebagai formal
5. Pemikiran organisasi sebagai informal

41
Dalam sebuah organisai mengharapkan adanya hubungan yang positif terhadap
keinginan organisai dengan manusia yang menjadi anggotannya agar berjalan searah dan
menciptakan kekuatan serta pertumbuhan yang sehat.

Beberapa contoh organisasi :

1. Organisasi perikanan
2. Organisasi olah raga
3. Organisasi mahasiswa
4. Organisasi politik
5. Organisasi remaja mesjid
Setiap organisasi mempunyai karakteristik yang berbeda dengan organisasi lainnya
yang menjadi faktor unggulan dalam kompetisi dengan organisasi lainnya.

1. Efektifitas dan Efisiensi Organisasi


Efektifitas pengembangan organisasi adalah suatau yang mutlak dan harus dupelihara
dengan baik agar ketepatan darisemua hal yang berkaitan aktifitas oraganisasi yang sedang
maupun yang akan dikerjakan senangtiasa berjalan sesuai denagn apa yang diharapkan
Efisiensi adalah suatu usaha atau tindakan diamana seluruh komponen input yang
dimamfaatkan dapat menciptakan seluruh komponen output dengan baik.

2. Otoritas dalam Organisasi


Otoritas dalam organisasi dapak dilihat dari 2 sudut pandang yaitu,otoritas sebagai
kekuasaan dan otoritas sebagai kewenangan. Penyalahgunaan kekuasaan dan kewenangan
dalm organisasi dapat menyengsarakan anggotanya dam memberikan efek negatif pada
organisasi. Semua kegiatan organisasi adalah kosekuensi otoritas yang dipegang oleh satu
atau beberapa orang. Otoritas dipengang unsur pemimpin yang dibuktikan dengan surat
kaputusan.

Beberapa otoritas dalam organisasi :

a. Otoritas bidang keuangan


b. Otoritas bidang personalia
c. Otoritas bidang keamanan

42
d. Otoritas bidang kebijakan
e. Otoritas bidang kesejahteraan
f. Otoritas bidang penggajian.
Otoritas dalam organisasi dalam sebuah organisasi mempunyai pengaruh yang sangat
bagi organisasi karena menentukan berhasil atau hancurna sebuah organisasi..

3. Lingkungan Organisasi
Dinamika pembentukan atau pembubaran organisasi sebuah organisasi sangat
dipengaruhi besar kecilnya pengaruh lingkungan. Sebuah organisasi dapat berdiri
berdasarkan penerimaan dan penolakan dari lingkungan tempat organisasi itu didirikan.
Apabila diterima maka organisasi itu dapat didirikan dan sebaliknya penolakan
membubarkan organisasi.

Beberapa contoh lingkunan organisasi yaitu :

a. Lingkungan internal dalam organisasi


b. Lingkungan eksternal
c. Lingkungan kerja
d. Lingkungan sosial
e. Lingkungan lokal
f. Lingkungan nasional
g. Lingkungan Internasional
h. Lingkungan politik
i. Lingkungan ekonomi
Organisasi dapat diakatakan dapat mempunyai masalah sederhana apabila lingkunan
tidak mempunyai pengaruh dalam kelanjutan organisasi sebaliknya organisasi akan
mengalami masalah apabila pegaruh organisasi sangat besar.

4. Teknologi Organisasi
Pemamfaatan teknologi dalam organisasi diharapkan dapat menciptakan efektifitas
dan efisiensi serta produktifitas yang setinggi tingginya bagi setiap individu yang menjadi
anggota maupun manusia yang bertindak sebagai partisipan organisasi. Penggunaan
teknologi dapat memberiakn keungtungan perampingan organisasi dan pengurangan tenaga

43
manusia. Penggunaan teknologi yang muthahir dalam meningkatkan efektifitaa dan efisiensi
dari organisasi tersebut.

Keberadaan teknologi dalam organisasi tidak akan berguna bila tidak didukung oleh
SDM manusia yang handal karena penemuan dan penggunaan teknologi tersebut bersumber
dari manusia.

Beberapa contoh teknologi yang dibutuhkan dalam organisasi :

a. Teknologi informasi
b. Teknologi komunikasi
c. Teknologi perkantoran
d. Teknologi pendidikan
e. Teknologi transportasi
5. Struktur Organisasi
Gibson mengatakan struktur organisasi pola formal kegiatan dan hubungan diantara
berbagai sub-unit dalam sebuah organisasi. Struktur organisasi dapat dilihat dari 2 sisi yaitu :
pertama sebagai bagan kotak-kotak yang berarti struktur yang bersifat satis dan yang kedua
hubungan kegiatan yang merupakan struktur yang bersifat dinamis.

Fungsi struktur dalam organisasi adalah memberikan informasi kepada anggotanya untuk
mengetahui kegiatan atau pekerjaan yang akan dia kerjakan,berkonsultasi dan bertanggung
jawab kepada siapa agar proses kerjasama menuju pencapaian tujuan organisasi dapat dicapai
sesuai dengan perencanaan yangt telah ditetapkan sebelumnya.

Kelangsungan hidup organisasi bergantung kepada manusia yang ada didalamnya dan
pembagian tugas secara proporsional yang tergambar dalam strukturnya. Fungsi struktur
dalam organisasi yaitu :

a. kejelasan tanggung jawab


b. kejelasan kedudukan
c. kejelasan uraian tugas
d. kejelasan hubungan

44
BAB 2. KONSEP ETIKA ORGANISASI

Konsep etika organisasi sebenarnya pendekatan yang telah mendapat pengakuan dari
berbagai kalangan ilmuan yang pemikirannya didasrakan pasa konsep-konsep nilai-nilai
kehidupan manusia dalam organisasi

Konsep – konsep etika organisasi yaitu :

1. Konsep etika organisasi formal


2. Konsep etika organisasi informal
3. Konsep etika organisasi Negara
4. Konsep etika organisasi swasta

1. Persepsi Etika Organisasi

Etika adalah pernyataan nilai sebagai prasyrat dalam kehidupan komunitas manusia
sosial tertentu Pemikiran kaum organisatoris terhadap etika berlawanan dengan masyarakat
awam.

Persepsi anggota orgaisasi terhadap etika yaitu :

a. persepsi etika kerja


b. persepsi etika berkomunikasi
c. persepsi etika bertamu
d. persepsi etika rapat
e. persepsi etika berbicara
f. persepsi etika bergaul.
Persepsi etika organisasi secara umum dapat dikatakan sebagai cahaya yang
menerangi jalan-jalan yang menuju lokasi area pemikiran dan perbuatan tentang kebenaran.

2. Moralitas etika organisasi

Masalah moralitas etika organisasi yang sering terjadi yaitu masalah


korupsi,penyauapn serta pungli. Etika merupakan pilihan yang dapat memberikan
pemahaman dan penglihatan yang tajam terhadap realitas pelanggran moral yang dialkun

45
baik secara individual ataupun kelompok dalam organisasi pada umumnya. Dengan
pendekatan kajian terhadap moralitas etika dalam kehidupan organisasi, maupun terhadap
kehidupan sosial kemasyarakatan diharapkan kehadiran seorang pemimpin yang
menciptakan pembaharuan dalam rangka melakukan suatu tindakan yang kaitannya dengan
tindakan pengaturan sehingga dapat menciptakan keteraturan dari berbagai aktifitas maupun
dalam pergaulan kehidupan organisasi

Berbagai pendekatan dalam moralitas yaitu :

a. Pendekatan moralitas etika deontologis


b. Pendekatan moralitas etika teleologis
c. Pendekatan moralitas etika ideologi
d. Pendekatan moralitas etika organisatoris
e. Pendekatan moralitas etika sosial
f. Pendekatan moralitas etika kepemimnpinan.
3. Positivisme Organisasi

Aliran positivisme dalam organisasi pada dasarnya bersumber kepada hati nurani dan
perasaan terdalam manusia yang memancarkan cahaya kebenaran terhadap pelaksanaan
aktifitas sebuah organisasi. Pancaran kebenaran hati nurani dan perasaan terdalam manusia
diproses pikiran dengan jalan alam abstrak dengan alam realitas yang secara kongkret
terhadap fenomena sekaligus yang menjadi nomena dalam organisasi yang kemudian
dipersepsikan melalui suatu argumentasi. Sasaran seseungguhnya dari positivisme organisasi
adalah mencari kebenaran dan kebaikan dalam pelaksanaan berbagai tindakan organisasi
sehingga dapat memberikan hasil yang maksimal.

4. Rasionalisme Organisasi

Pemikiran rasional organisasi dalah pemikiran yang berorientasi kepada tindakan


yang dapat menerima akal pikiran terhadap pelaksanaan kegiatan organisasi.tindakan yang
dapat diterima disebut dengan tindakan yang rasional dan yang tidak dapat diterima sisebut
irasional. Salah satu wujud dalam rangka mencari kebenaran dalam aliran rasionalisme yang
digunakan manusia sebagai anggota organisasi adalah dengan merenung.

46
5. Budaya Organisasi
Keberadaan organisasi bukan terbenruk begitu saja tapi melalui suatu proses budaya
pada komunitas manusia tertentu. Pemahaman budaya organisasi diperoleh dari hasil
pembelajaran terus menerus dari seluruh aspek yang ada dalam organisasi tersebut.

Budaya organisasi terdiri atas :

a. Budaya kerja
b. Budaya berpikir
c. Budaya belajar
d. Budaya bergaul
e. Budaya bermasyarakat
f. Budaya siri
g. Budaya leluhur
h. Sistem Organisasi
Sistem organisasi mengarah kepada perubahan yang lebih baik dari keadaan yang
sebelumnya,tapi manusia sebagai bagian dalam organisasi selalu menolak terjadinya
perubahan dalam organisasi.

47