Anda di halaman 1dari 9

PENGARUH METODE SIMULASI PERMAINAN DAN

BRAINSTORMING TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP


PENGURUS PIK-R SMA TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI
REMAJA DI KOTA MAKASSAR
Andi Zulkifli,1 Buraerah H.Abd Hakim,2 Muliani Ratnaningsih1
1

Bagian Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin


Bagian Biostatistik/KKB Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin
Jl. Perintis Kemerdekaan KM 10 Tamalanrea Makassar, 90245

E-mail: zulkifliabdullah@yahoo.com

Abstrak
Remaja saat ini mengalami kerentanan terhadap berbagai ancaman risiko kesehatan terutama yang berkaitan
dengan kesehatan seksual dan reproduksi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode simulasi
permainan dan metode brainstorming terhadap pengetahuan dan sikap pengurus PIK-R SMA tentang kesehatan
reproduksi remaja di SMA Negeri 5, SMA Negeri 15, dan SMA Negeri 21 Makassar. Penelitian ini
menggunakan metode quasi eksperimen dengan rancangan randomized control group pretest postest design.
Sampel yang diambil sebanyak 114 pengurus PIK-R.Penarikan sampel dilakukan secara simple random
sampling.Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner.Data dianalisis melalui uji t
berpasangan, uji Wilcoxon, uji Mann-Withney, dan uji One-Way Anova. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa responden dengan jenis kelamin perempuan pada ketiga kelompok penelitian tertinggi yaitu simulasi
permainan 86,8%, brainstorming 52,6%, dan control 92,1%. Rata-rata umur responden berumur 15 tahun.
Terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata peningkatan skor pengetahuan dan sikap antara kelompok simulasi
permainan, brainstorming, dan kontrol pada saat post test (p = 0,000). Ada pengaruh metode simulasi permainan
terhadap peningkatan skor pengetahuan (p = 0,000) dan sikap (p = 0,000) responden tentang kesehatan
reproduksi. Ada pengaruh metode brainstorming terhadap peningkatan skor pengetahuan (p = 0,000) dan sikap
(p = 0,000) responden tentang kesehatan reproduksi. Metode simulasi permainan lebih efektif dibanding metode
brainstorming dalam meningkatkan skor sikap sedangkan metode brainstorming lebih efektif dibanding metode
simulasi permainan dalam meningkatkan skor pengetahuan.Pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi
remaja menggunakan metode simulasi permainan dan brainstorming dapat meningkatkan pengetahuan dan
sikap remaja sebagai pencegahan primer pada siswa dan siswi di Kota Makassar.

Abstract
The Effect of Simulated Games and Brainstorming Methods on Knowledge and Attitudes of Board PIK-R
SMA About Adolescent Reproductive Health In Makassar. Teens today susceptible various threats especially
health risks related sexual and reproductive health. This study aimed to determine effect of the simulation game
and brainstorming method on knowledge and attitudes PIK-R SMA about adolescent reproductive health in
SMA 5, SMA 15 and SMA 21 Makassar. This study uses a quasi-experimental design with a randomized control
group pretest-posttest design. Samples 114 PIK-R broad member. Sampling by simple random sampling. Data
was collected using questionnaire. Data were analyzed by paired t test, Wilcoxon, Mann-Whitney, and One-Way
ANOVA. Results of this study indicate that respondents with female gender in all three study groups, simulation
game 86.8%, 52.6% brainstorming, and control 92.1%. The average age of respondents was 15 years. There is
statistically significant difference in average improvements core of knowledge and attitude among group
simulation games, brainstorming, and control at the time of post-test (p =0.000). There is the influence of
simulation game to increase knowledge score (p =0.000) and attitude (p =0.000) respondents about reproductive
health. There is influence of brainstorming methods to increase knowledge score (p =0.000) and attitude (p
=0.000) respondents about reproductive health. Game simulation method was more effective than brainstorming
method to improve the attitude scores while brainstorming method is more effective than the method of
simulation games in improving knowledge score. Health education on adolescent reproductive health using

simulation games and brainstorming can increase their knowledge and attitudes as primary prevention in
adolescent boys and girls in Makassar.
Keywords: simulation games, brainstorming, knowledge, attitudes, reproductive health

1. Pendahuluan
Remaja saat ini sedang mengalami kerentanan
terhadap berbagai ancaman risiko kesehatan
terutama yang berkaitan dengan kesehatan seksual
dan reproduksi.Ancaman yang dapat dilihat hingga
saat ini adalah seks pranikah, kehamilan dini,
aborsi, infeksi menular seksual, HIV dan AIDS
serta kekerasan seksual.Rendahnya pengetahuan
mengenai kesehatan reproduksi dan kuatnya
dukungan sosial terhadap hubungan seksual
pranikah membuat remaja menjadi populasi yang
berisiko.
Kesehatan reproduksi remaja merupakan
faktor penting yang harus mendapat perhatian
untuk mewujudkan masyarakat sehat, sesuai visi
Indonesia Sehat 2015. Remaja sebagai kelompok
umur terbanyak dalam struktur penduduk
Indonesia, merupakan fokus perhatian dan
intervensi yang strategis bagi pembagunan sumber
daya manusia masa depan sebagai generasi penerus
bangsa. Kelompok remaja rentan usia 10-19 tahun,
sesuai dengan proporsi remaja di dunia
diperkirakan 1,2 miliar atau sekitar 1/5 dari jumlah
penduduk dunia.1
Menurut World Health Organization (WHO), tiap
tahunnya ada 340 juta kasus baru infeksi bakteri
lewat hubungan seksual, seperti chlamydia dan
gonorhea (penyakit kencing nanah) terutama pada
kelompok umur 15-49 tahun. Infeksi Human
Papiloma Virus (HPV) yang terjangkit lewat
hubungan seksual kaitannya dengan kanker kanker
leher rahim dan sudah menyerang 490.000 wanita,
dengan angka kematian pertahunnya sebesar
240.000.Lebih jauh lagi, ada berjuta kasus infeksi
sehubungan dengan HIV, terjadi setiap tahunnya.
Lebih dari 100 juta infeksi yang dapat
disembuhkan karena hubungan seksual setiap tahun
dan sebagian besar dari 4,1 juta infeksi baru HIV
menyerang remaja berusia 15-24 tahun. Bagi
mereka yang sering melakukan hubungan seksual
(usia 10-19 tahun).2
Sekitar 16 juta remaja perempuan perempuan
melahirkan setiap tahun, sebagian besar di negara
berpenghasilan
rendah
dan
menengah.
Diperkirakan 3 juta perempuan berusia 15-19
menjalani aborsi yang tidak aman setiap tahun. Di
negara berpenghasilan rendah dan menengah,
komplikasi dari kehamilan dan persalinan
merupakan penyebab utama kematian di kalangan
perempuan berusia 15-19 tahun. Kematian bayi
baru lahir sebasar 50% lebih tinggi pada bayi yang
memiliki ibu berusia 20-29 tahun. Kurangnya

pendidikan seksualitas di banyak negara menjadi


sebuah ukuran cakupan global terkait dengan
pendidikan seksualitas, sehingga diperkirakan 36%
dari laki-laki muda dan 24% dari wanita muda
berusia 15-24 tahun di negara berpenghasilan
rendah dan menengah memiliki pengetahuan
komprehensif benar tentang bagaimana mencegah
HIV.3
Menurut United Nations Population Fund (UNFA),
lebih dari separuh populasi dunia dibawah usia 25
tahun.4 Jumlah orang berusia 10-19 tahun adalah
1,1 miliar pada tahun 2010 dan diperkirakan 1,3
miliar pada tahun 2020, peningkatan yang terjadi
22%. Data menunjukkan 15 juta perempuan remaja
melahirkan setiap tahun, terutama di negara
berkembang. Angka kematian bayi dari ibu remaja
adalah 1,5 kali lebih tinggi daripada ibu yang
berusia 20-29 tahun. Kasus aborsi terjadi 4,4 juta
terjadi pada remaja perempuan setiap tahun. 1 dari
20 remaja terutal infeksi menular sekual setiap
tahun. Setengah dari kasus infeksi HIV pada orang
dengan usia dibawah 25 tahun.4
Kesehatan reproduksi, pengetahuan dan perilaku
remaja masih cukup memprihatinkan yang dapat
dilihat dari data Survei Kesehatan Reproduksi
Remaja Indonesia Tahun 2007 (SKRRI, 2007)
yang menunjukkan pengetahuan remaja umur 1524 tahun tentang kesehatan reproduksi masih
rendah, 21% remaja perempuan tidak mengetahui
sama sekali perubahan yang terjadi pada remaja
laki-laki saat pubertas.5 Pengetahuan remaja
tentang masa subur relatif masih rendah.Hanya
29% wanita dan 32% pria memberi jawaban yang
benar bahwa seorang perempuan mempunyai
kesempatan besar menjadi hamil pada pertengahan
siklus periode haid. Remaja yang belum menikah
umur 15-24 tahun yang mendengarkan pesan dari
media tentang penundaan usia kawin sebesar
12,9%, informasi tentang HIV/AIDS sebesar
40,8%, informasi tentang kondom sebesar 29,6%,
pencegahan kehamilan sebesar 23,4%, dan Infeksi
menular
Seksual
(IMS)
sebesar
18,4%.
Pengetahuan remaja tentang cara penting untuk
menghindari infeksi menular HIV masih terbatas,
hanya 14% wanita dan 15% pria menyebutkan
pantang berhubungan seks, 18% wanita dan 25%
pria menyebutkan menggunakan kondom, serta
11% wanita dan 8% pria menyebutkan membatasi
jumlah pasangan seksual sebagai cara menghindari
HIV dan AIDS. Jumlah orang hidup dengan HIV
dan AIDS sampai dengan bulan Maret 2007
mencapai 20.564 kasus, 54,3% dari angka tersebut

adalah remaja. Selain itu, pendapat remaja tentang


umur kawin ideal untuk perempuan 23,1 tahun dan
untuk pria 25,9 tahun, sedangkan rata-rata umur
ideal menikah bagi perempuan 22 tahun dan pria
25 tahun. Pendapat diantara remaja yang tidak
tamat SMA tentang umur ideal mempunyai anak
pertama kali adalah antara 20-24 tahun dan
mempunyai 2 anak, yaitu masing-masing 63%
remaja perempuan dan 55% remaja laki-laki.5
Selanjutnya hasil survei Rencana Pembagunan
Jangka Menegah Nasional (RPJMN) 2010-2014
menunjukkkan remaja yang terpapar informasi
PIK-R (Pusat Informasi Konseling Remaja)
mencapai 28%.Berarti hanya 28 dari 100 remaja
yang akses dengan kegiatan yang berkaitan dengan
informasi kesehatan reproduksi. Selain itu, target
2014 untuk menurunkan angka kematian ibu
melahirkan yaitu 118 per 100.000 kelahiran hidup
dari status awal tahun 2008 yaitu 228 per 100.000
kelahiran hidup.6
Selain itu, tidak tersedianya informasi yang akurat
dan benar tentang kesehatan reproduksi memaksa
remaja untuk berusaha sendiri mencari akses dan
melakukan eksplorasi sendiri. Media internet,
televisi, majalah dan bentuk media lain sering kali
dijadikan sumber oleh para remaja untuk
memenuhi tuntutan keingintahuan tentang seksual.
Penelitian Pradana (2008) menunjukkan dari
remaja usia 12-18 tahun, 16% mendapat informasi
seputar seks dari teman, 35% dari film porno,
hanya 5% dari orang tua.7 Informasi yang tidak
tepat mengarahkan remaja merusak masa
depannya.
Beberapa bentuk metode pendidikan kesehatan
yang sering dilakukan misalnya penyuluhan atau
ceramah, namun kenyataannya metode ini belum
memberikan kontribusi pengetahuan yang memadai
bagi siswa dan cenderung membosankan. Oleh
karena itu, perlu dilakukan metode lain seperti
simulasi permainan, hal ini cenderung dinilai lebih
bermuatan, karena sifatnya tidak monoton dan
langsung berdasarkan analisis kasus, dan
melibatkan objek secara menyeluruh dan aktif.
Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti
pengaruh merode simulasi permainan dan
brainstorming terhadap pengetahuan dan sikap
pengurus PIK-R SMU tentang kesehatan
reproduksi remaja di Kota Makassar, sehingga
dapat dilakukan langkah strategis dalam
memberikan pendidikan kesehatan terhadap siswa
lainnya.
2.

Metode

Lokasi dan rancangan penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 5


Kecamatan Panakkukang, SMA Negeri 15
Kecamatan Biringkanaya, dan SMA Negeri 21
Kecamatan
Tamalanrea
di
Kota
Makassar.Pemilihan lokasi ini berdasarkan hasil
acak dari sekolah yang memiliki Pusat Informasi
dan Konseling Remaja (PIK-R). Jenis penelitian
eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini
adalah quasi eksperimen (eksperimen semu)
dengan rancangan randomized control group
pretest posttest design.
Populasi dan sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
pengurus aktif PIK-R yang telah dibentuk BKKBN
dan bertugas di masing-masing SMA Negeri di
Kota Makassar Tahun 2013. SMA yang memiliki
PIK-R adalah SMA Negeri 5, SMA Negeri 15,
SMA Negeri 16, SMA Negeri 19 dan SMA Negeri
21 Makassar. Penelitian ini membutuhkan tiga
sekolah yang bertindak sebagai kelompok
intervensi I, kelompok intervensi II, dan kelompok
kontrol sehingga dipililihlah sekolah dengan
caraSimple Random Sampling. Setelah proses
penarikan sampel dilakukan, terdapat tiga sampel
sekolah. Untuk kelompok intervensi simulasi
permainan dilaksanakan di SMA Negeri 15
Makassar pada 38 orang, kelompok intervensi
brainstorming dilaksanakan di SMA Negeri 21
Makassar pada 38 orangdan kelompok kontrol
SMA Negeri 5 Makassar pada 38 orang, sehingga
jumlah sampel sebanyak 114 orang.
Metode pengumpulan data
Pengumpulan data primer meliputi nilai
pengetahuan dan sikap tentang kesehatan
reproduksi remaja pre dan post test dilakukan oleh
peneliti. Pengetahuan diukur dengan mengisi
kuesioner yang berisi 30 pertanyaan, sikap diukur
dengan mengisi kuesioner yang berisi 20
pertanyaan. Adapun karakteristik responden yang
meliputi jenis kelamin, umur, status keanggotaan
PIK-R, pendidikan orang tua (ayah), pekerjaan
orang tua (ayah), dan sumber informasi pertama
tentang kesehatan reproduksi.
Analisis data
Untuk menganalisis pengaruh metode simulasi
permainan dan brainstorming untuk skor
pengetahuan digunakan uji t berpasangan (paired ttest). Untuk menganalisis skor sikap digunakan uji
Wilcoxon.
Selanjutnya
menganalisis
skor
pengetahuan dan sikap antara kelompok simulasi
permainan
dengan
kontrol,
kelompok
brainstorming dengan kontrol, dan kelompok
simulasi
permainan
dengan
kelompok
brainstorming digunakan uji Mann-Whitney.
Kemudian untuk menganalisis perbedaan skor
pengetahuan dan skor sikap tentang kesehatan
reproduksi remaja pada ketiga kelompok penelitian

yaitu metode simulasi permainan, metode


brainstorming, dan kontrol menggunakan uji One
Way-ANOVA.
3.

anggota PIK-R setiap sekolah juga berbeda yaitu


SMA Negeri 15 Makassar sebanyak 28 orang
(73,7%), SMA Negeri 21 Makassar sebanyak 6
orang (76,3%), dan SMA Negeri 5 Makassar
sebanyak 5 orang (78,9%). Tingkat pendidikan
orang tua (ayah) untuk ketiga kelompok penelitian
tertinggi untuk tingkat pendidikan sarjana (S1)
dengan rincian kelompok simulasi permainan
sebanyak
20
orang
(52,6%),
kelompok
brainstorming
sebanyak 24 orang (63,2%),
kelompok kontrol sebanyak 22 orang (57,9%).
Jenis pekerjaan orang tua (ayah) untuk ketiga
kelompok penelitian didominasi oleh pegawai
negeri sipil (PNS) dengan rincian kelompok
simulasi permainan sebanyak 21 orang (55,3%),
kelompok brainstorming sebanyak 27 orang
(71,1%), dan kelompok kontrol sebanyak 24 orang
(63,2%). Sumber informasi tentang kesehatan
reproduksi remaja untuk ketiga kelompok
penelitian.Kelompok simulasi permainan (SMA
Negeri 15 Makassar) tertinggi bersumber dari
orang tua yaitu 50 orang (50%). Kelompok
brainstorming (SMA Negeri 21 Makassar) tertinggi
bersumber dari teman sebaya sebanyak 20 orang
(52,6%). Kelompok kontrol (SMA Negeri 5
Makassar) tertinggi bersumber dari orang tua
sebanyak 23 orang (60,5%).

Hasil

Karakteristik sampel
Tabel 1 menunjukkan bahwa rata-rata umur
responden pada ketiga kelompok penelitian adalah
15 tahun dengan rincian kelompok simulasi
permainan sebanyak 27 (71,1%), kelompok
brainstorming sebanyak 27 (71,1%), dan 11
(28,9%). Karakteristik responden berdasarkan jenis
kelamin pada ketiga kelompok penelitian
didominasi oleh perempuan dengan rincian
kelompok simulasi permainan sebanyak 33
(86,8%), kelompok brainstorming sebanyak 20
(52,6%), dan kelompok kontrol sebanyak 35
(92,1%). Status keanggotaan PIK-R responden
pada ketiga kelompok penelitian masing-masing
terdiri dari seorang ketua, seorang sekretaris, dan
seorang bendahara. Namun, koordinator divisi
berbeda setiap sekolah masing-masing berbeda
yaitu SMA Negeri 15 Makassar (kelompok
simulasi permainan) sebanyak 7 orang (18,4%),
SMA
Negeri
21
Makassar
(kelompok
brainstorming) sebanyak 6 orang (15,8%), dan
SMA Negeri 5 Makassar (kelompok kontrol)
sebanyak 5 orang (13,2%). Selain itu, jumlah

Tabel 1. Karakteristik responden pada ketiga kelompok penelitian


Karakteristik Responden

Simulasi Permainan
(n=38)
n
%

Brainstorming
(n=38)
n
%

Kontrol
(n=38)
n

Umur
14 tahun
15 tahun
16 tahun
17 tahun
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Status Keanggotaan
Ketua
Sekretaris
Bendahara
Koordinator Divisi
Anggota
Pendidikan Orang Tua
Tidak Sekolah
SD
SMA
S1
S2
S3
Pekerjaan Orang Tua
PNS
ABRI
Pegawai Swasta
Petani
Buruh

1
27
9
1

2,6
71,1
23,7
2,6

2
27
9
0

5,3
71,1
23,7
0,0

0
11
22
5

0,0
28,9
57,9
13,2

5
33

13,2
86,8

18
20

47,4
52,6

3
35

7,9
92,1

1
1
1
7
28

2,6
2,6
2,6
18,4
73,7

1
1
1
6
29

2,6
2,6
2,6
15,8
76,3

1
1
1
5
30

2,6
2,6
2,6
13,2
78,9

0
1
12
20
4
1

0,0
2,6
31,6
52,6
10,5
2,6

0
0
3
24
10
1

0,0
0,0
7,9
63,2
26,3
2,6

1
0
3
22
10
2

2,6
0,0
7,9
57,9
26,3
5,3

21
1
15
0
1

55,3
2,6
39,5
0,0
2,6

27
0
11
0
0

71,1
0,0
28,9
0,0
0,0

24
3
10
1
0

63,2
7,9
26,3
2,6
0,0

Sumber Informasi Pertama tentang


Kesehatan Reproduksi
Media Cetak
Media Elektronik
Teman Sebaya
Tenaga Medis
Guru
Orang tua

3
13
5
2
13
19

7,9
34,2
13,2
5,3
34,2
50,0

Pengaruh intervensi
Pengaruh simulasi permainan dan brainstorming
Tabel 2 menunjukkan bahwa ada peningkatan ratarata skor pengetahuan responden tentang kesehatan

14
15
20
8
18
16

36,8
39,5
52,6
21,1
47,4
42,1

13
18
14
3
9
23

34,2
47,4
36,8
7,9
23,7
60,5

reproduksi remaja setelah dilaksanakannya metode


simulasi permainan.

Tabel 2. Uji t-berpasangan skor pengetahuan dan sikap pengurus PIK-R SMA tentangkesehatan reproduksipada dua
kelompok perlakuan
Nilai Statistik

Skor Pengetahuan
Pre Test
Post Test

Simulasi Permainan
Mean
SD
SE
p value

17,58
4,157
0,674

Brainstorming
Mean
SD
SE
p value

19,68
2,682
0,435

Skor Sikap
Pre Test

Post Test

50,84
7,803
2,50

58,92
1,950
18,94

26,47
2,436
0,395
0,000

0,000
27,03
1,551
0,252

41,13
9,831
0,00

0,000

Hasil uji statistik didapatkan nilai p =


0,000 (p < 0,05) yang menunjukkan bahwa ada
perbedaan signifikan rata-rata skor pengetahuan
responden sebelum dan setelah pelaksanaan metode
simulasi permainan, sehingga dapat disimpulkan
bahwa ada pengaruh metode simulasi permainan
terhadap pengetahuan responden tentang kesehatan
reproduksi remaja. Selanjutnya ada peningkatan
rata-rata skor sikap responden tentang kesehatan
reproduksi remaja setelah dilaksanakannya metode
simulasi permainan. Hasil uji statistik didapatkan
nilai p = 0,000 (p < 0,05) yang menunjukkan
bahwa ada perbedaan signifikan rata-rata skor
sikap responden sebelum dan setelah pelaksanaan
metode simulasi permainan, sehingga dapat
disimpulkan bahwa ada pengaruh metode simulasi
permainan terhadap sikap responden tentang
kesehatan reproduksi remaja. Untuk metode
brainstorming ada peningkatan rata-rata skor

59,26
1,107
19,50
0,000

pengetahuan
responden
tentang
kesehatan
reproduksi remaja setelah dilaksanakannya metode
brainstorming. Hasil uji statistik didapatkan nilai p
= 0,000 (p < 0,05) yang menunjukkan bahwa ada
perbedaan signifikan rata-rata skor pengetahuan
responden sebelum dan setelah pelaksanaan metode
brainstorming, sehingga dapat disimpulkan bahwa
ada pengaruh metode brainstorming terhadap
pengetahuan
responden
tentang
kesehatan
reproduksi remaja. Selanjutnya ada peningkatan
rata-rata skor sikap responden tentang kesehatan
reproduksi remaja setelah dilaksanakannya metode
brainstorming. Hasil uji statistik didapatkan nilai p
= 0,000 (p < 0,05) yang menunjukkan bahwa ada
perbedaan signifikan rata-rata skor sikap responden
sebelum dan setelah pelaksanaan metode
brainstorming, sehingga dapat disimpulkan bahwa
ada pengaruh metode brainstorming terhadap sikap
responden tentang kesehatan reproduksi remaja.

Tabel 3. Uji Mann-Whitney skor pengetahuan dan sikap pengurus PIK-R SMA tentang kesehatan reproduksi pada
kelompok simulasi permainan
Nilai Statistik
Pengetahuan
n
Mean Rank
p value
Sikap

Pre Test
Simulasi Permainan
38
31.30

Kontrol
38
45.70

0,004

Post Test
Simulasi Permainan
38
56.26

Kontrol
38
50.74

0,000

n
Mean Rank
p value

38
23,33

38
53,67

38
57,67

0,000

38
53,67
0,000

sehingga dapat disimpulkan bahwa peningkatan


skor sikap karena adanya pengaruh simulasi
permainan.

Tabel 3 menunjukkan Hasil uji statistik saat pre test


didapatkan nilai p = 0,004 (p<0,05) yang
menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan ratarata skor pengetahuan responden antara kelompok
simulasi permainan dengan kelompok kontrol.
Selain itu, nilai p = 0,000 (p<0,05) saat post test
menunjukkan adanya perbedaan signifikan rata-rata
skor pengetahuan responden setelah pelaksanaan
intervensi pada kedua kelompok penelitian. Skor
pengetahuan pada kelompok metode simulasi
permainan meningkat sebesar 44,4% setelah
intervensi sedangkan pada kelompok kontrol
mengalami peningkatan sebesar 9,9% sehingga
dapat disimpulkan bahwa peningkatan skor
pengetahuan karena adanya pengaruh simulasi
permainan. Hasil uji statistik saat pre test
didapatkan nilai p = 0,000 (p>0,05) yang
menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan ratarata skor sikap responden antara kelompok simulasi
permainan dengan kelompok kontrol. Selain itu,
nilai p = 0,000 (p<0,05) saat post test menunjukkan
adanya perbedaan signifikan rata-rata skor sikap
responden setelah pelaksanaan intervensi pada
kedua kelompok penelitian. Skor sikap pada
kelompok metode simulasi permainan meningkat
sebesar 60,6% setelah intervensi sedangkan pada
kelompok kontrol tidak mengalami perubahan

Tabel 4 menunjukkan Hasil uji statistik saat pre test


didapatkan nilai p = 0,174 (p>0,05) yang
menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan
signifikan rata-rata skor sikap responden antara
kelompok brainstorming dengan kelompok kontrol.
Akan tetapi, nilai p = 0,000 (p<0,05) saat post test
menunjukkan adanya perbedaan signifikan rata-rata
skor sikap responden setelah pelaksanaan
intervensi pada kedua kelompok penelitian. Skor
sikap pada kelompok metode brainstorming
meningkat sebesar 36,3% setelah intervensi
sedangkan pada kelompok kontrol mengalami
peningkatan sebesar
2,4% sehingga dapat
disimpulkan bahwa peningkatan skor sikap karena
adanya pengaruh brainstorming. Selanjutnya Hasil
uji statistik saat pre test didapatkan nilai p = 0,744
(p>0,05) yang menunjukkan bahwa tidak ada
perbedaan signifikan rata-rata skor sikap responden
antara kelompok simulasi permainan dengan
kelompok brainstorming. Akan tetapi, nilai p =
0,000 (p<0,05) saat post test menunjukkan ada
perbedaan signifikan rata-rata skor sikap responden
setelah pelaksanaan intervensi pada kedua
kelompok penelitian.

Tabel 4. Uji Mann-Whitney untuk pengetahuan dan sikap pengurus PIK-R SMA tentang kesehatan reproduksi
untuk kelompok brainstorming

Nilai Statistik
Pengetahuan
n
Mean Rank
p value
Sikap
n
Mean Rank
p value

Pre Test
Simulasi Permainan
38
31.30

Kontrol

Post Test
Simulasi Permainan

38
45.70

38
56.26

0,004
38
23,33

Analisis perbedaan skor pengetahuan dan


skor sikap tentang kesehatan reproduksi remaja
pada ketiga kelompok penelitian yaitu metode

38
50.74
0,000

38
53,67
0,000

Kontrol

38
57,67

38
53,67

0,000
simulasi permainan, metode brainstorming, dan
kontrol menggunakan uji One Way-ANOVA.

Tabel 5. Uji One-Way ANOVA skor pengetahuan dan sikap pengurus PIK-R SMA tentang kesehatan reproduksi
pada ketiga kelompok penelitian

Nilai Statistik
Pengetahuan
n
Mean
SD
SE

Simulasi Permainan
38
26,47
2,436
0,395

Kelompok Intervensi
Brainstorming
38
27,03
1,551
0,252

Kontrol
38
21,63
2,186
0,299

p value
0,000

Sikap
n
38
Mean
58,92
SD
1,950
SE
0,316
Tabel 5 menunjukkan hasil uji statistik
nilai p = 0,000 berarti pada alpha 5% dapat
disimpulkan ada perbedaan yang signifikan ratarata peningkatan skor pengetahuan dan sikap pada
ketiga kelompok penelitian.
4.

Pembahasan

Penelitian ini menunjukkan ada pengaruh metode


simulasi permainan dan brainstorming terhadap
pengetahuan dan sikap pengurus PIK-R SMA
tentang kesehatan reproduksi remaja, metode
brainstorming lebih berpengaruh dibanding metode
simulasi permainan terhadap pengetahuan pengurus
PIK-R SMA tentang kesehatan reproduksi remaja,
dan metode simulasi permainan lebih berpengaruh
dibanding metode brainstorming terhadap sikap
pengurus PIK-R SMA tentang kesehatan
reproduksi remaja.
Jarak antara pelaksanaan pre test dan post test
selama kurang lebih satu bulan. Hal ini sesuai
dengan Transtheoretical Theory Model (TTM)
yang dikemukakan oleh Prochasca yang
menyatakan bahwa untuk mengukur perubahan
yang masih dalam tahap persiapan (orang berminat
untuk mengambil tindakan dalam waktu dekat yang
dalam hal ini bisa diartikan sebagai sikap)
diperlukan waktu satu bulan.8 Selain itu, teori
model proses inovasi dan adopsi E.M Rogers
menyatakan bahwa menganalisis kondisi awal
sebelum memberikan pengetahuan dengan
beberapa pendekatan akan menghasilkan keputusan
untuk mengadopsi atau menolak menerima
pengetahuan untuk dapat diimplementasikan.9
Metode simulasi permainan adalah kegiatan
pembelajaran yang memberi kesempatan kepada
pembelajar untuk meniru satu kegiatan yang
dialami sehari-hari dengan diberikan secara
menyenangkan melaui permainan sederhana agar
membantu proses simulasi. Proses simulasi ini
secara aktif merangsang siswa untuk lebih fokus
memahami informasi yang diberikan, agar
tingkatan pengetahuan siswa untuk menjabarkan
keseluruhan informasi yang diperoleh lebih terinci,
sehingga ketika dilakukan post test terjadi
peningkatan pemahaman secara keseluruhan dari
indikator
pengetahuan
tentang
kesehatan
reproduksi remaja.
Hasil ini sesuai dengan penelitian Firman (2005)
menunjukkan pendidikan kesehatan dengan
menggunakan alat peraga dan metode simulasi
permainan mampu meningkatkan pengetahuan
siswa sebesar 68,2% dengan secara statistik dengan
nilai p = 0,037 dengan uji t-independent

38
38
59,26
53,34
0,000
1,107
4,122
0,180
0,669
menunjukkan terdapat pengaruh signifikan simulasi
dengan pengetahuan dan sikap siswa tentang
pendidikan kesehatan reproduksi.10 Selain itu,
penelitian Facturahman dkk (2006) menunjukkan
bahwa penggunaan metode simulasi permainan
dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap
upaya penanggulangan narkoba dan pencegahan
kehamilan tidak diinginkan, dengan perbedaan
rerata nilai 59,0 sebelum dilakukan intervensi
menjadi 73,5 setelah dilakukan intervensi simulasi
dan secara statistik dengan uji t-dependent
menunjukkan nilai p=0,004 terdapat perbedaan
signifikan pengetahuan siswa sebelum dan sesudah
dilakukan intervensi simulasi permainan, hasil uji tdependent juga menunjukkan nilai t=64,319
menunjukkan adanya pengaruh metode simulasi
permainan dengan pengetahuan dan sikap siswa
tentang penanggulangan narkoba dan pencegahan
kehamilan tidak diinginkan.11
Peningkatan pengetahuan responden setelah
mendapatkan pendidikan kesehatan metode
simulasi permainan sesuai dengan teori pendidikan
dan perilaku kesehatan.A Joint Commite on
Terminology in Health Education of United States
menyatakan bahwa pendidikan kesehatan adalah
pengalaman belajar yang bertujuan untuk
mempengaruhi pengetahuan, sikap dan perilaku
yang ada hubungannya dengan kesehatan
perorangan ataupun kelompok. Proses ini
mencakup dimensi dan kegiatan-kegiatan dari
intelektual, psikologi, dan sosial yang diperlukan
untuk
meningkatkan
kemampuan
dalam
mengambil keputusan secara sadar.12 Perubahan
peningkatan pengetahuan dan sikap siswa dengan
metode simulasi karena responden diajak untuk
memanfaatkan semua alat inderanya untuk
mempelajari dan memahami materi kesehatan
reproduksi
remaja.
Pendidikan
kesehatan
reproduksi disampaikan dengan pesan yang cepat
dan nyata melalui sosiodrama, sehingga tidak
menimbulkan kebosanan pada responden, dapat
menarik perhatian, menimbulkan rangsangan untuk
diikuti sehingga pemahaman responden lebih
komprehensif.
Metode curah pendapat (brainstorming) merupakan
modifikasi metode diskusi kelompok. Prinsipnya
sama dengan diskusi kelompok. Bedanya pada
permulaan pemimpin kelompok memancing
dengan satu masalah atau tanggapan (cara
pendapat). Dan tanggapan tersebut ditamping
dalam papan tulis.Sebelum semua peserta
mencurahkan pendapatnya, tidak boleh komentar
oleh siapa pun. Baru setelah selesai tiap anggota

dapat mengomentari akhirnya terjadi diskusi


(Notoatmojo, 2007).13 Pelaksanaan metode
brainstorming dapat dipandu oleh fasilitator yang
dapat memfasilitasi proses diskusi agar dapat
berjalan secara lancar. Fasilitator juga dapat
berperan sebagai narasumber bagi peserta
diskusi.Seorang fasilitator harus mempunyai
kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik,
agar mendengarkan pendapat setiap anggota
kelompok, menyimpulkan pendapat mereka,
menggali keterangan lebih lanjut dan menbuat
suasana menjadi akrab dengan peserta diskusi
kelompok.Fasilitator juga harus menghormati
sikap, pendapat dan perasaan dari setiap anggota.
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan
Handayani (2009) yang menunjukkan adanya
perbedaan
pengetahuan
pada
kelompok
brainstorming didapatkan nilai rerata pretest 16,56
dan rerata posttest 24,44 dengan selisih nilai rerata
pretest dan posttest 7,88.14 Hal ini menunjukkan
adanya peningkatan pengetahuan responden setelah
mendapat perlakuan. Analisis statistik dengan
analysis of variance terhadap nilai rerata posttest
pengetahuan menunjukkan p= 0,000 (p<0,05) yang
berarti terdapat perbedaan yang bermakna pada
pengetahuan responden tentang perilaku seks
pranikah sebelum dan setelah perlakuan.
Selanjutnya penelitiannya menunjukkan adanya
perbedaan sikap pada kelompok brainstorming
sebelum dan setelah intervensi dengan hasil
pengukuran sikap diperoleh nilai rerata pretest
75,19 dan rerata posttest 95,56 dengan selisih nilai
rerata pretest dan posttest 20,38. Hal ini
menunjukkan adanya peningkatan sikap responden
setelah mendapat perlakuan dari fasilitator. Analisis
statistik dengan ANOVA terhadap nilai rerata
posttest sikap pada kelompok brainstorming
menunjukkan p= 0,00 (p<0,05) yang berarti
terdapat perbedaan yang bermakna pada sikap
responden tentang perilaku seks pranikah sebelum
dan setelah perlakuan.
Teori Rosenberg menyatakan bahwa pengetahuan
dan sikap berhubungan secara konsisten. Bila
komponen kognitif (pengetahuan) berubah maka
akan diikuti pula dengan adanya perubahan sikap. 15
Sesuai dengan teori tersebut, peningkatan skor
pengetahuan responden pada penelitian ini setelah
intervensi metode simulasi permainan diikuti pula
oleh peningkatan skor sikapnya.
Faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelatihan
atau pendidikan, meliputi faktor pendidik
(fasilitator), kurikulum, kondisi peserta didik,
proses penyelenggaraan, sarana yang dipergunakan
serta metode dan media yang dipakai.16
Peningkatan pengetahuan pada metode simulasi
permainan dan brainstorming dapat disebabkan
oleh peran fasilitator yang dapat menyajikan materi

dengan baik dan menarik serta pandai dalam


memandu jalannya diskusi kelompok.Untuk
mecairkan suasana dilakukan icebreaking dan
diselingi dengan humor.Selain itu, fasilitator yang
masih berusia muda dan berpenampilan menarik
sehingga peserta merasa santai dalam mengikuti
pendidikan.Hal ini sangat membantu responden
dalam memahami materi yang diberikan.
Metode brainstorming yang dilakukan merupakan
konsep dasar dalam meberikan pemahaman
pengetahuan
tentang
informasi
kesehatan
reproduksi bagi remaja dalam memberi gambaran
terhadap persepsi remaja pada situasi dan kondisi
yang menyangkut kesehatan reproduksinya
sehingga memberi pertimbangan psikologis
terhadap permasalahan kesehatan reproduksi yang
menyangkut dengan sebab dan akibatnya. Dengan
pertimbagan tersebut, remaja tidak hanya merasa
wajib akan tetapi juga meningkat pada kesadaran
akan kebutuhan untuk berprilaku sehat secara
reproduksi.
Suasana pendidikan informal yang dilakukan
dengan metode simulasi permainan juga
menyebabkan
responden
dapat
mengikuti
pendidikan dengan nyaman sehingga lebih mudah
dalam menerima materi.Selain itu, dalam metode
simulasi permainan peserta saling berinteraksi dan
bertukar informasi serta dibantu dengan media
beripa kartu-kartu organ reproduksi, sosiodrama,
role play, susun gambar, kartu pendapat dan ular
tangga sehingga peserta tidak mudah jenuh.Faktor
lain yang dapat mempengaruhi peningkatan
pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi
adalah faktor kecerdasan. Meskipun tingkat
kecerdasan tidak diteliti pengaruhnya dalam
penelitian ini, namun tingkat kecerdasan peserta
mempunyai pengaruh dan sumbangan yang cukup
besar dalam meningkatkan prestasi seseorang.
5.

Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan


bahwa ada pengaruh metode simulasi permainan
terhadap peningkatan skor pengetahuan (p = 0,000)
dan sikap (p = 0,000) responden tentang kesehatan
reproduksi. Ada pengaruh metode brainstorming
terhadap peningkatan skor pengetahuan (p = 0,000)
dan sikap (p = 0,000) responden tentang kesehatan
reproduksi. Metode simulasi permainan lebih
efektif dibanding metode brainstorming dalam
meningkatkan skor sikap sedangkan metode
brainstorming lebih efektif dibanding metode
simulasi permainan dalam meningkatkan skor
pengetahuan.Pendidikan
kesehatan
tentang
kesehatan reproduksi remaja menggunakan metode
simulasi permainan dan brainstorming dapat
meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja

sebagai pencegahan primer pada siswa dan siswi di


Kota Makassar.
DAFTAR PUSTAKA
1.
2.

3.

4.

5.
6.

7.

8.

Depkes RI. 2010. Sistem Kesehatan


Nasional.Jakarta : Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia.
WHO, 2011. A World Strategy For
Reproductive and Sexual Health. Geneva :
Health Messenger Magazine For Indonesian
Health Wokers by AIDE Medical International.
WHO, 2012. Maternal and Reproductive
Health.Geneva : Publication from World
Health Organization. Diakses pada tanggal 2
Maret
2013
pada
situs
http://www.who.int/gho/maternal_health/en/in
dex.html.
UNFPA. 2011. Reproductive Health Youth
People.Amerika : United Nations Population
Fund. Diakses pada tanggal 2 Maret 2013 pada
situs http://www.unfpa.org/public/
SKRRI.2007. Survei Kesehatan Reproduksi
Remaja.Jakarta : Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional (BKKN).
Badan Perencanaan Nasional. 2010. Buku I
RPJMN 2010-2014 : Prioritas Nasional.
Jakarta: BAPPENAS. Diakes pada tanggal 7
Maret
2013
di
situs
http://www.bappenas.go.id/node/0/2518/bukurpjmn-2010-2014/
Pradana, Aprillia Dian. 2008. Pengaruh
Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Terhadap
Pengetahuan Tentang Kesehatan Reproduksi
Pada Wanita.Surakarta : Universitas Sebelas
Maret.
Kholid, A. 2012. Promosi Kesehatan : Dengan
Pendekatan Teori dan Perilaku, Media, dan

Aplikasinya untuk Mahasiswa dan Praktisi


Kesehatan Jilid I. Jakarta : Rajawali Press.
9. Rogers, Everett M. 1992. Models of
Knowledge Transfer : Critical Perpectives.
Knowledge
and
Innovation
Management.Module
Reader.Hohenheim
University.
10. Firman, S.H. 2005. Pengaruh Guru
Pembimbing dalam Upaya Pencegahan
Penyalahgunaan Narkotika Pada Siswa SMA
Negeri dan Swasta Kota Palngkaraya. Jurnal
WARTA (9): 21-27.
11. Facturahman dkk.
2006. Peran Guru
Pembimbing dalam Upaya Pencegahan
Penyalahgunaan Narkotika pada siswa SMA
Negeri dan Swasta Kota Palangkaraya.Jurnal
Warta (9) : 21-27.
12. Machfoeddz, Ircham dkk. 2009. Pendidikan
Kesehatan
bagian
dari
Promosi
Kesehatan.Yogyakarta : Fitramaya.
13. Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Kesehatan
Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta : Rineka
Cipta.
14. Handayani, Sri. 2009. Efektivitas Metode
Dengan dan Tanpa Fasilitator Curah
Pendapat (Brainstorming) pada Peningkatan
Pengetahuan dan Sikap dan Motivasi Remaja
tentang Perilaku Seks Pranikah.Yogyakarta :
Berita Kedokteran Masyarakat Vol. 25 No.3
September 2009.
15. Hutauruk, M. R. 2009. Hubungan antara
Pengetahuan dan Sikap Orang tua tentang
Kelainan Refraksi pada Anak.Semarang :
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.
16. Depkes
RI.
1994.
Penyuluhan
Kesehatan.Jakarta : Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia.