Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bayi yang baru lahir, baik bayi yang lahir dengan berat lahir rendah
(BBLR) ataupun bayi yang lahir normal belum mampu mempertahankan suhu
badannya, dan membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan dunia luar.
Perubahan kondisi terjadi pada neonatus yang baru lahir. Di dalam tubuh
ibunya, suhu tubuh fetus selalu terjaga, begitu lahir maka hubungan dengan
ibunya sudah terputus dan neonatus harus mempertahankan suhu tubuhnya
sendiri melalui aktifitas metabolismenya. Semakin kecil tubuh neonatus,
semakin sedikit cadangan lemaknya. Semakin kecil tubuh neonatus juga
semakin tinggi rasio permukaan tubuh dengan massanya.Temperatur rektal
biasanya lebih rendah 1-2 0F atau 0,556- 1,112 oC di banding suhu inti
tubuhnya. Suhu membran timpani sangat akurat karena telinga tengah
mempunyai sumber vascular yang sama sebagaimana vaskular yang menuju
hipotalamus.
Pada bayi dengan berat badan saat kelahiran di bawah rata-rata bayi
normal, temperatur kulit bayi dan suhu badan cenderung mengalami penurunan,
yang disebabkan hilangnya panas karena permukaan yang berhubungan
langsung dengan bayi lebih dingin, hilangnya panas di udara karena
pergerakan bayi, hilangnya panas ke obyek yang lebih dingin yang bukan
kontak langsung dengan bayi, dan hilangnya panas dari permukaan kulit
dan paru-paru sehingga diperlukan proses adaptasi lingkungan di luar
rahim dalam kondisi yang terkontrol. Suhu permukaan kulit meningkat
atau turun sejalan dengan perubahan suhu lingkungan.Sedangkan suhu inti
tubuh diatur oleh hipotalamus. Pengaturan tersebut masih belum matang
dan belum efisien. Oleh sebab itu ada lapisan yang penting yang dapat
membantu untuk mempertahankan suhu tubuhnya serta mencegah

kehilangan panas tubuh yaitu rambut, kulit, dan lapisan lemak bawah kulit.
Ketiga lapisan tersebut dapat berfungsi dengan baik dan efisien atau tidak
bergantung pada ketebalannya.Sayangnya sebagian besar BBLR tidak
mempunyai lapisan yang tebal pada ketiga unsur tersebut.
Transfer panas melalui lapisan pelindung tersebut dengan lingkungan
berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama panas inti tubuh disalurkan
menuju kulit.Tahap kedua panas tubuh hilang melalui radiasi, konduksi,
konveksi atau evaporasi. Bayi dengan kondisi BBLR harus dirawat secara
intensif dalam sebuah inkubator bayi.
Prinsip dasar dari inkubator bayi adalah sebagai alat yang berfungsi
untuk memberikan suhu tertentu kepada bayi yang baru lahir (terutama bayi
prematur dan bayi normal yang memiliki berat badan kurang dari standar).
Bayi dalam kondisi tersebut masih memerlukan suhu yang rata-rata sama
dengan suhu kandungan ibu mereka karena bayi prematur tidak bisa
beradaptasi dengan suhu di lingkungan sekitar yang relatif lebih rendah. Di
dalam inkubator, bayi akan memperoleh lingkungan dengan suhu sama
dengan lingkungan di dalam kandungan ibunya yaitu sekitar 28C - 38C.
Saat ini masih terdapat klinik-klinik persalinan atau puskesmas yang
masih menggunakan inkubator bayi dengan sistem konvensional dan masih
kurangnya jumlah kepemilikan inkubator.

Hal

ini

disebabkan

harga

inkubator yang berteknologi tinggi belum terjangkau dan masalah


pendistribusian ke daerah-daerah terpencil di Indonesia menyebabkan
turunnya kualitas pelayanan dalam perawatan bayi baru lahir terutama bayi
dengan BBLR
Dalam sistem inkubator dibutuhkan kemudahan sistem pengamatan
temperatur lingkungan pada bayi sehingga proses perawatan dapat
berjalansebaik-baiknya. Namun pada banyak sistem inkubator yang
digunakan di Indonesia, terutama di daerah-daerah dengan penduduk

kurang mampu hanya menggunakan perangkat seadanya, yaitu perangkat


pengendali temperatur bagi bayi masih dioperasikan secara manual,
bahkan masih ada penggunaan pemanas lampu sebagai perangkat bantu
dalam memberikan temperatur lingkungan yang optimal bagi bayi.
Oleh karena itu, diperlukan adanya inkubator yang memiliki fasilitas
lebih baik dibandingkan dengan inkubator sederhana, tetapi dengan harga
yang ekonomis, sehingga dapat dijangkau oleh rumah sakit atau instansi
kesehatan kelas menengah ke bawah seperti klinik-klinik bersalin dan
puskesmas. Inkubator bayi ekonomis tersebut harus memiliki fungsifungsi utama dari sebuah inkubator digital tetapi memiliki harga yang
terjangkau.
Inkubator bayi mikrokontroler adalah salah satu pengembangan
mutakhir dari kemajuan teknologi dalam dunia kesehatan. Dengan
berbagai

macam

penyempurnaan

ditemukan

incubator

bayi

mikrokontroler dengan beraneka jenis dan spesifikasinya yang lebih


canggih dari waktu ke waktu. Modifikasi terbaru dari mikrokontroler
incubator adalah dengan menambahkan sistem yang dapat mendeteksi
temperature dan kelembapan melalui jaringan LAN hingga SMS.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengembangan teknologi incubator bayi berbasis
microcontroller.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui konsep BBLR
b. Untuk mengetahu konsep incubator secara umum
c. Untuk megetahui konsep incubator bayi berbasis mikrokontroler
d. Untuk menganalisis jurnal tentang pengembangan teknologi incubator
bayi berbasis mikrokontroler
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Berat badan Bayi Lahir Rendah (BBLR)


1. Pengertian
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir
kurang dari 2500 gram tanpa memandang usia gestasi. BBLR dapat terjadi
pada bayi kurang bulan (< 37 minggu) atau pada bayi cukup bulan
(intrauterine growth restriction) (Pudjiadi, 2010).
Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat
badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram sampai dengan
2499 gram (Hassan, 2005).
Bayi berat lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang
dari 2500 gram pada waktu lahir (Nurarif, 2013)
Berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat badan
2500 gram atau kurang pada saat lahir, bayi baru lahir ini dianggap
mengalami kecepatan pertumbuhan intrauterine kurang dari yang
diharapkan atau pemendekan periode gestasi (Bobak, 2004).
2. Klasifikasi
Ada beberapa cara dalam mengelompokkan BBLR (Proverawati dan
a.

Ismawati, 2010):
Menurut harapan hidupnya
1) Bayi berat lahir rendah (BBLR) dengan berat lahir 1500-2500
gram.
2) Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) dengan berat lahir 10001500 gram.
3) Bayi berat lahir ekstrim rendah (BBLER) dengan berat lahir kurang

b.

dari 1000 gram.


Menurut masa gestasinya
1) Prematuritas murni yaitu masa gestasinya kurang dari 37 minggu
dan berat badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi
atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa
kehamilan (NKB-SMK).
2) Dismaturitas yaitu bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat
badan seharusnya untuk masa gestasi itu. Bayi mengalami retardasi
pertumbuhan intrauterin dan merupakan bayi kecil untuk masa
kehamilannya (KMK).

3. Faktor Penyebab
Beberapa penyebab dari bayi dengan berat badan lahir rendah
(Proverawati,2010).
a.

Faktor ibu
1) Penyakit
a) Mengalami komplikasi kehamilan, seperti anemia, perdarahan
antepartum, preekelamsi berat, eklamsia, infeksi kandung
kemih.
b) Menderita penyakit seperti malaria, infeksi menular seksual,
hipertensi, HIV/AIDS, TORCH, penyakit jantung.
c) Penyalahgunaan obat, merokok, konsumsi alkohol.
2) Ibu
a) Angka kejadian prematitas tertinggi adalah kehamilan pada
usia < 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.
b) Jarak kelahiran yang terlalu dekat atau pendek (kurang dari 1
tahun).
c) Mempunyai riwayat BBLR sebelumnya.
3) Keadaan sosial ekonomi
a) Kejadian tertinggi pada golongan sosial ekonomi rendah. Hal
ini dikarenakan keadaan gizi dan pengawasan antenatal yang

b.

kurang.
b) Aktivitas fisik yang berlebihan
c) Perkawinan yang tidak sah
Faktor janin
Faktor janin meliputi : kelainan kromosom, infeksi janin kronik
(inklusi sitomegali, rubella bawaan), gawat janin, dan kehamilan

c.

kembar.
Faktor plasenta
Faktor plasenta disebabkan oleh : hidramnion, plasenta previa, solutio
plasenta, sindrom tranfusi bayi kembar (sindrom parabiotik), ketuban
pecah dini.

4. Tanda Dan Gejala Klinis


Secaraumumgambaranklinispadabayiberatbadanlahirrendahsebagaiberikut:
a.

Berat badan lahir 2500 gram, panjang badan 45 Cm, lingkar dada
30 Cm, lingkar kepala 33 Cm.

b.
c.

Masa gestasi 37 minggu


Penampakan fisik sangat tergantung dari maturitas atau lamanya
gestasi; kepala relatif lebih besar dari badan, kulit tipis, transparan,
banyak lanugo, lemak sub kutan sedikit, osifikasi tengkorak sedikit,
ubun-ubun dan sutu lebar, genetalia immatur, otot masih hipotonik
sehingga tungkai abduksi, sendi lutut dan kaki fleksi, dan kepala

d.

menghadap satu jurusan.


Lebih banyak tidur dari pada bangun, tangis lemah, pernafasan belum
teratur dan sering terjadi apnea, refleks menghisap, menelan, dan
batuk belum sempurna (Wong, 2004).

5. Patofisiologi

Menurunnyasimpananzatgizi.Hampir semua lemak, glikogen, dan


mineral, seperti zat besi, kalsium, fosfor dan seng dideposit selama 8
minggu terakhir kehamilan.Dengan demikian bayi preterm mempunyai
peningkatan

potensi

terhadap

hipoglikemia,

rikets

dan

anemia.Meningkatnya kkal untuk bertumbuh.BBLR memerlukansekitar


120 kkal/ kg/hari, dibandingkanneonatusatermsekitar 108 kkal/kg/hari.
Belum matangnya fungsi mekanis dari saluran pencernaan.
Koordinasi antara isap dan menelan, dengan penutupan epiglotis untuk
mencegah aspirasi pneumonia, belum berkembang dengan baik sampai
kehamilan 32-42 minggu.Penundaan pengosongan lambung dan buruknya
motilitas usus sering terjadi pada bayi preterm.Kurangnya kemampuan
untuk mencerna makanan. Bayi preterm mempunyai lebih sedikit
simpanan garam empedu, yang diperlukan untuk mencerna dan
mengabsorbsi lemak, dibandingkan bayi aterm. Produksi amilase pankreas
dan lipase, yaitu enzim yang terlibat dalam pencernaan lemak dan
karbohidrat juga menurun. Kadar laktase juga rendah sampai sekitar
kehamilan 34 minggu.Paru-paru yang belum matang dengan peningkatan
kerja bernafas dan kebutuhan kalori yang meningkat .Masalah pernafasan
juga akan mengganggu makanan secara oral.
Potensialuntukkehilanganpanas akibat luasnya permukaan tubuh
dibandingkan dengan berat badan, dan sedikitnya lemak pada jaringan
bawah kulit memberikan insulasi.Kehilangan panas ini meningkatkan
keperluan kalori.
6. Pemeriksaan Penunjang
a.
Radiologi
Foto thoraks/baby gram pada bayi baru lahir dengan usia kehamilan
kurang bulan, dapat dimulai pada umur 8 jam. Gambaran foto thoraks
pada bayi dengan penyakit membran hyalin karena kekurangan
surfaktan berupa terdapatnya retikulogranular pada parenkim dan
bronkogram udara. Pada kondisi berat hanya tampak gambaran white
lung (Masjoer, dkk, 2000).

USG kepala terutama pada bayi dengan usia kehamilan 35 minggu


dimulai pada umur 2 hari untuk mengetahui adanya hidrosefalus atau
perdarahan intrakranial dengan memvisualisasi ventrikel dan struktur
otak garis tengah dengan fontanel anterior yang terbuka (Merenstein,
b.

2002).
Laboratorium
1 Darah Rutin
a) Hematokrit (HCT): Bayi usia 1 hari 48-69%, bayi usia 2 hari
48-75%, bayi usia 3 hari 44-72%.
b) Hemoglobin (Hb) untuk bayi usia 1-3 hari 14,5-22,5 g/dl.
c) Hb A > 95% dari total atau 0,95 fraksi Hb.
d) Hb F : bayi usia 1 hari 63-92%, bayi usia 5 hari 65-88%, bayi
usia 3 minggu 55-85%, usia 6-9 minggu 31-75%.
e) Jumlah leukosit : bayi baru lahir 9,0-30,0 x 103 sel/mm3 ( L),
bayi usia 1 hari/24 jam 9,4-43,0 x 10 3 sel/mm3 ( L), usia 1
2

bulan 5,0-19,5 x 103 sel/mm3 ( L).


Bilirubin
a) Total (serum): 0-1 hari 8,0 mg/dl, 1-2 hari 12,0 mg/dl, 2-5 hari
16,0 mg/dl, kemudian 2,0 mg/dl.
b) Direk (terkonjugasi) : 0,0-0,2 mg/dl
Glukosa (812 jam post natal), disebut hipoglikemi bila konsentrasi
glukosa plasma < 50 mg/dl.Serum :
a) Tali pusat 45-96 mg/dl
b) Bayi baru lahir (usia 1 hari) 40-60 mg/dl
c) Bayi usia > 1 hari 50-90 mg/dl.
Analisa gas darah
a) Tekanan parsial CO2 (PCO2) bayi baru lahir 27-40 mmHg
b) Tekanan parsial O2 (PO2) : lahir 8-24 mmHg, 5-10 menit 3375 mmHg, 30 menit 31-85 mmHg, > 1 jam 55-80 mmHg, 1
hari 54-95 mmHg, kemudian (menurun sesuai usia) 83-108
mmHg.
c) Saturasi oksigen (SaO2): bayi baru lahir 85-90%, kemudian 95-

c.

99%.
d) pH bayi prematur (48 jam) 7,35-7,50.
Tes kocok/shake test
Sebaiknya dilakukan pada bayi yang berusia < 1 jam dengan
mengambil cairan amnion yang tertelan di lambung dan bayi belum

diberikan makanan. Cairan amnion 0,5 cc ditambah garam faal 0,5 c,


kemudian ditambah 1 cc alkohol 95% dicampur dalam tabung
kemudian dikocok 15 detik, setelah itu didiamkan 15 menit dengan
tabung tetap berdiri.
Interpretasi hasil:
(+) : Bila terdapat gelembung-gelembung yang membentuk cincin
artinya surfaktan terdapat dalam paru dengan jumlah cukup.
(-) : Bila tidak ada gelembung atau gelembung sebanyak permukaan
artinya paru-paru belum matang/tidak ada surfaktan.
Ragu : Bila terdapat gelembung tapi tidak ada cincin.Jika hasil
menunjukkan ragu maka tes harus diulang.
7. Komplikasi
a.

Sindroma aspirasi mekonium (kesulitan bernafas).

b.

Hipoglikemi simtomatik.

c.

Asfiksis neonatorum

d.

Penyakit membran hialin.

e.

Hiperbilirubinemia.

f.

Sepsis neonatorum.

8. Penatalaksanaan BBLR
a.
Dukungan respirasi
Tujuan primer dalam asuhan bayi resiko tinggi adalah mencapai dan
mempertahankan respirasi. Banyak bayi memerlukan oksigen suplemen
dan bantuan ventilasi. Bayi dengan atau tanpa penanganan suportif ini
diposisikan untuk memaksimalkan oksigenasi karena pada BBLR
beresiko mengalami defisiensi surfaktan dan periadik apneu. Dalam
kondisi seperti ini diperlukan pembersihan jalan nafas, merangsang
pernafasan, diposisikan miring untuk mencegah aspirasi, posisikan
tertelungkup jika mungkin karena posisi ini menghasilkan oksigenasi
yang lebih baik, terapi oksigen diberikan berdasarkan kebutuhan dan

penyakit bayi. Pemberian oksigen 100% dapat memberikan efek edema


b.

paru dan retinopathy of prematurity.


Termoregulasi
Kebutuhan yang paling krusial pada BBLR setelah tercapainya respirasi
adalah pemberian kehangatan eksternal. Pencegahan kehilangan panas
pada bayi distress sangat dibutuhkan karena produksi panas merupakan
proses kompleks yang melibatkan sistem kardiovaskular, neurologis,

c.

dan metabolik.
Perlindungan terhadap infeksi
Perlindungan terhadap infeksi merupakan bagian integral asuhan semua
bayi baru lahir terutama pada bayi preterm dan sakit. Pada bayi BBLR
imunitas seluler dan humoral masih kurang sehingga sangat rentan
denan penyakit.
Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah infeksi antara lain :
1) Semua orang yang akan mengadakan kontak dengan bayi harus
melakukan cuci tangan terlebih dahulu.
2) Peralatan yang digunakan dalam asuhan bayi harus dibersihkan
secara

teratur.

Ruang

perawatan

bayi

juga

harus

dijaga

kebersihannya.
3) Petugas dan orang tua yang berpenyakit infeksi tidak boleh
memasuki ruang perawatan bayi sampai mereka dinyatakan sembuh
atau disyaratkan untuk memakai alat pelindung seperti masker
d.

ataupun sarung tangan untuk mencegah penularan.


Hidrasi
Bayi resiko tinggi sering mendapat cairan parenteral untuk asupan
tambahan kalori, elektrolit, dan air. Hidrasi yang adekuat sangat penting
pada bayi preterm karena kandungan air ekstraselulernya lebih tinggi
(70% pada bayi cukup bulan dan sampai 90% pada bayi preterm). Hal
ini dikarenakan permukaan tubuhnya lebih luas dan kapasitas osmotik
diuresis terbatas pada ginjal bayi preterm yang belum berkembang
sempurna sehingga bayi tersebut sangat peka terhadap kehilangan

e.

cairan.
Nutrisi
Nutrisi yang optimal sangat kritis dalam manajemen bayi BBLR tetapi
terdapat kesulitan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi mereka karena

10

berbagai mekanisme ingesti dan digesti makanan belum sepenuhnya


berkembang. Jumlah, jadwal, dan metode pemberian nutrisi ditentukan
oleh ukuran dan kondisi bayi. Nutrisi dapat diberikan melalui
parenteral ataupun enteral atau dengan kombinasi keduanya.
Bayi akan mengalami kesulitan dalam koordinasi mengisap, menelan,
dan bernapas sehingga berakibat apnea, bradikardi, dan penurunan
saturasi oksigen. Pada bayi dengan reflek menghisap dan menelan yang
kurang, nutrisi dapat diberikan melalui sonde ke lambung. Kapasitas
lambung bayi prematur sangat terbatas dan mudah mengalami distensi
abdomen yang dapat mempengaruhipernafasan. Kapasitas lambung
berdasarkan umur dapat diukur sebagai berikut (Jones, dkk., 2005) :
Umur
Bayi baru lahir
1 minggu
2-3 mingu
1 bulan
3 bulan
1 tahun
f.

Kapasitas (ml)
10-20
30-90
75-100
90-150
150-200
210.360

Penghematan energi
Salah satu tujuan utama perawatan bayi resiko tinggi adalah menghemat
energi, Oleh karena itu BBLR ditangani seminimal mungkin. Bayi yang
dirawat di dalam inkubator tidak membutuhkan pakaian , tetapi hanya
membutuhkan popok atau alas. Dengan demikian kegiatan melepas dan
memakaikan pakaian tidak perlu dilakukan. Selain itu, observasi dapat
dilakukan tanpa harus membuka pakaian.
Bayi yang tidak menggunakan energi tambahan untuk aktivitas
bernafas, minum, dan pengaturan suhu tubuh, energi tersebut dapat
digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan. Mengurangi tingkat
kebisingan lingkungan dan cahaya yang tidak terlalu terang
meningkatkan kenyamanan dan ketenangan sehingga bayi dapat
beristirahat lebih banyak.

11

Posisi telungkup merupakan posisi terbaik bagi bayi preterm dan


menghasilkan oksigenasi yang lebih baik, lebih menoleransi makanan,
pola tidur-istirahatnya lebih teratur. Bayi memperlihatkan aktivitas fisik
dan penggunaan energi lebih sedikit bila diposisikan telungkup.
PMK akan memberikan rasa nyaman pada bayi sehingga waktu tidur
bayi akan lebih lama dan mengurangi stress pada bayi sehingga
mengurangi penggunaan energi oleh bayi.

B. Konsep Incubator
1. Sejarah Incubator Bayi
Inkubator bayi pertama kali dikembangkan pada pertengahan abad
ke 19, berdasarkan inkubator yang digunakan untuk menetaskan telur
ayam. Dr. Stephane Tarnier adalah seorang dokter berkebangsaan Perancis
yang dikenal sebagai bapak inkubator, setelah berhasil membuat inkubator
pertama yang digunakan untuk menjaga bayi di rumah sakit bersalin di
Paris tetap hangat. Metode yang dikembangkan oleh Dr. Stephane Tarnier
ini adalah metode penghangatan tertutup yang pertama di dunia. Pada
tahun 1931 Dr A. Robert Bauer MD di rumah sakit Henry Ford di Detroit,
berhasil menggabungkan panas, kelembaban, kemudahan perawatan, dan
kemudahan aksesibilitas pada incubator.
2. Pengertian Inkubator
Inkubator Bayi merupakan salah satu alat medis yang berfungsi
untuk menjaga suhu sebuah ruangan supaya suhu tetap konstan /stabil.
Pada modifikasi manual-otomatis inkubator bayi, terdapat sebuah boks
kontrol yang dibagi menjadi 2 bagian (bagian atas dan bagian bawah).
Boks bagian atas digunakan untuk meletakkan sensor, display sensor
kontroler, rangkaian elektronik. Sedangkan pada boks bagian bawah dibagi
menjadi 3ruangan yang dibatasi dengan sekat, yang digunakan untuk
meletakkan heater, tempat/wadah air dan kipas. Sensor yang digunakan
adalah sensor suhu (PT100) dan sensor kelembapan, dimana sensor suhu

12

PT100 dan sensor kelembapan diletakkan di dalam bokstidur bayi (di luar
boks kontrol). Pada sensor suhu PT100 dan sensor kelembapan
terdapatdisplay yang sekaligus sebagai driver sensor yang digunakan
untuk mengetahui sertamemberikan setting suhu dan kelembapan dalam
ruangan boks tidur bayi sesuai yang dikehendaki.
Yang menjadi actuator dari alat ini adalah heater dan kipas.
Heater berfungsi sebagai pemanas ruangan, sedangkan kipas berfungsi
untuk menyalurkan udara panas yangdipancarkan heater menuju ruangan
tempat air dan menuju boks tidur bayi melalui selang. Sebagai
kontrolernya, digunakan sebuah PIC Microchip 16F877A. Dimana PIC
tersebut juga berfungsi untuk menghubungkan boks kontrol dengan
komputer (CPU) secara serial supaya dapat memberikan tampilan serta
dapat memberikan setting suhu sesuai denganyang dikehendaki melalui
komputer.
Inkubator merupakan salah satu (cara ke 4) dr lima cara
menghangatkan dan mempertahankan suhu tubuh (kontak skin dengan
skin; kangaroo mother care/KMC;pemancar panas; ruangan yg hangat). Di
mana sebelumnya dan sesudahnya dilakukan monitoring dan evaluasi
pengukuran suhu tubuh.
3. Tujuan Pemberian Inkubator
a. Penghangatan berkelanjutan bayi
b. Dengan berat badan < 1500 gr yang tidak dapat dilakukan kangaroo
mothercare/KMC Untuk bayi sakit berat : sepsis, gangguan nafas berat
4. Cara Menggunakan
1. Bersihkan inkubator dengan desinfektan setiap hari, dan bersihkan
secara keseluruhan setiap minggu atau setiap akan digunakan
2. Tutup matras dengan kain bersih
3. Kosongkan air reservoir, dapat tumbuh bakte-ria yg berbahaya dlm air
dan meyerang bayi
4. Atur suhu sesuai dengan umur dan BB bayi (lihat tabel)
5. Hangatkan inkubator sebelum digunakan

13

6. Bila diperluksan lakukan pengamatan seluruh tubuh bayi atau terapi


sinar, lepas semua pakaian bayi dan segera diberikan pakaian kembali
stlh selesai
7. Tutup indikator scpt mungkin, jaga lubang selalu tertutup agar
inkubator tetap hangat
8. Gunakan satu inkubator untuk satu bayi

5. Cara Perawatan Bayi dalam Inkubator


Cara memberikan perawatan pada bayi dalam inkubator yaitu dengan
dimasukkan ke dalam alat yang berfungsi membantu terciptanya suatu
lingkungan yang cukup dengan suhu yang normal. Dalam pelaksanaan
perawatan di dalam inkubator terdapat dua cara yaitu dengan cara tertutup
dan terbuka.
a. Inkubator tertutup:
1)Inkubator harus selalu tertutup dan hanya dibuka dalam keadaan
tertentu seperti apnea, dan apabila membuka incubator usahakan
suhu bayi tetap hangat dan oksigen harus selalu disediakan.
2)Tindakan perawatan dan pengobatan diberikan melalui hidung.
3)Bayi harus keadaan telanjang (tidak memakai pakaian) untuk
memudahkan observasi
4)Pengaturan panas disesuaikan dengan berat badan dan kondisi
tubuh.
5)Pengaturan oksigen selalu diobservasi.
6)Inkubator harus ditempatkan pada ruangan yang hangat kira-kira
dengan suhu 27 derajat celcius.
b. Inkubator terbuka:
1)Pemberian inkubator dilakukan dalam keadaan terbuka saat
pemberian perawatan pada bayi.
2)Menggunakan lampu pemanas untuk memberikan keseimbangan
suhu normal dan kehangatan.
3)Membungkus dengan selimut hangat.
4)Dinding keranjang ditutup dengan kain atau yang lain untuk
mencegah aliran udara.

14

5)Kepala bayi harus ditutup karena banyak panas yang hilang


melalui kepala.
6)Pengaturan suhu inkubator disesuaikan dengan berat badan sesuai
dengan ketentuan di bawah ini.
C. Inkubator Bayi Berbasis Mikrokontroler pada BBLR
Bayi dengan BBLR harus dirawat dalam suhu lingkungan yang netral
yaitu suhu yang diperlukan untuk konsumsi oksigen dan pengeluaran kalori
minimal. Menurut Thomas (1994) suhu aksilar optimal bagi bayi dalam
kisaran 36,5C 37,5C, sedangkan menurut Sauer dan Visser (1984) suhu
netral bagi bayi adalah 36,7C 37,3C.
Menghangatkan dan mempertahankan suhu tubuh bayi dapat dilakukan
melalui beberapa cara, yaitu (Kosim Sholeh, 2005):
1. Kangaroo Mother Care atau kontak kulit dengan kulit antara bayi dengan
ibunya. Jika ibu tidak ada dapat dilakukan oleh orang lain sebagai
penggantinya.
2. Pemancar pemanas
3. Ruangan yang hangat
4. Inkubator
Suhu inkubator yang direkomendasikan menurut umur dan berat:
Berat
0

<1500 gr
1500-2000 gr
2100-2500 gr
>2500 gr

35 C
1-10 hari

Suhu inkubator (0C) menurut umur


340C
330C
11 hari -3 minggu 3-5 minggu
1-10 hari
11 hari-4 minggu
1-2 hari
3 hari-3 minggu
1-2 hari

320C
>5 minggu
>4 minggu
>3 minggu
>2 hari

Saat ini inkubator bayi yang beredar dan dijual di pasaran dapat dikelompokan
menjadi dua jenis, yaitu: inkubator bayi sederhana dan inkubator bayi digital.
1. Inkubator bayi sederhana
Inkubator bayi sederhana adalah inkubator yang banyak digunakan oleh
instansi kesehatan kelas menengah ke bawah. Inkubator bayi sederhana,
biasanya hanya terdiri dari box (kotak tempat bayi), penghangat, dan alat
pengukur suhu ruang.
Penggunaan inkubator bayi sederhana dirasa kurang efektif, karena tidak
terdapat

fasilitas

pengaturan

suhu

15

ruang

inkubator.

Hal

tersebut

menyebabkan panas pada inkubator tidak dapat disesuaikan dengan


kebutuhan akan panas yang berbeda beda antara satu bayi dengan bayi
lainnya.
2. Inkubator bayi digital
Inkubator bayi digital adalah pengembangan dari inkubator bayi sederhana.
Inkubator ini telah dilengkapi fasilitas tambahan yang dapat mengoptimalkan
fungsi inkubator dalam menunjang keadaan bayi baru lahir misalnya,
fasilitas pengatur suhu dan kelembaban, serta fasilitas keamanan apabila
terdapat error pada salah satu fungsi inkubator berupa alarm. Seiring dengan
bertambahnya fasilitas pada inkubator, akan membuat harga inkubator
semakin mahal. Hal inilah yang membuat penyebaran inkubator bayi digital
tidak merata di Indonesia.
Secara garis besar, inkubator yang dirancang terdiri dari dua bagian utama
yaitu,
1. Pemanas
Pemanas adalah alat yang digunakan untuk mengubah besaran listrik menjadi
besaran kalor (panas). Pemanas pada inkubator menggunakan elemen
pemanas setrika yang terbuat dari kawat nikelin yang berupa lilitan
sederhana yang terbungkus lapisan pembungkus. Pemanas ini dipilih karena
harganya murah dan mudah didapatkan. Selain itu elemen pemanas juga
dapat menghasilkan panas yang tinggi dalam waktu singkat jika
dibandingkan dengan lampu pijar, karena pada lampu pijar hanya 90% dari
keseluruhan energi yang berubah menjadi panas sedangkan 10% berubah
menjadi cahaya. Sumber pemanas ini berasal dari tegangan AC 220V.
2. Tempat Penghangat Bayi
Kotak inkubator atau tempat penghangat bayi dibentuk seperti aquarium
bagian atas yang tertutup, berbahan dasar acrylic, dan kerangka kotak yang
terbuat dari aluminium. Sedangkan bagian bawah kotak yang berfungsi
sebagai tempat penyimpanan rangkaian pemanas dan rangkaian pengendali
terbuat dari triplek dan kayu yang dilapisi aluminium foil.
Hal hal yang perlu diperhatikan pada kotak inkubator yaitu temperatur dan

16

kelembaban, serta sirkulasi udara dan pemerataan penyebaran panas.


1. Temperatur dan Kelembaban
Di udara terdapat uap air yang berasal dari penguapan samudera (sumber
utama). Sumber lainnya berasal dari danau-danau, sungai, tumbuh
-tumbuhan dan sebagainya.
Ada dua macam kelembaban udara:
a. Kelembaban udara absolut, adalah banyaknya uap air yang terdapat di
udara pada suatu tempat. Dinyatakan dengan banyaknya gram uap air
dalam satu meter kubik udara.
b. Kelembaban udara relatif, adalah perbandingan jumlah uap air
dalamudara (kelembaban absolut) dengan kapasitas udara untuk
menampung uap air dalam suhu yang sama dan dinyatakan dalam persen
(%). Relative Humidity (RH) secara umum mampu mewakili pengertian
kelembaban. Untuk mencari nilai Relative Humidity, pertama harus
diketahui Absolute Humidity. Kapasitas udara untuk menampung uap air
berbading lurus dengan suhu udara, semakin tinggi suhu udara semakin
besar juga kapasitas udara untuk menampung uap air. Hal inilah yang
menyebabkan semakin tinggi temperatur udara maka semakin kecil
kelembaban udara. Pembacaan 100% RH berarti udara telah saturasi
(seluruh kapasitas udara untuk menampung uap air telah penuh)
2. Sirkulasi Udara dan Pemerataan Penyebaran Panas
Kotak inkubator yang dibuat harus memiliki saluran sirkulasi udara panas
yang merata di setiap sisinya, sehingga penyebaran panas dari ruang
pemanas menuju ke dalam ruang utama inkubator dapat merata. Pembuatan
ventilasi udara yang tepat juga dibutuhkan pada kotak inkubator yang dibuat,
sehingga dapat terjadi sirkulasi udara panas di dalam inkubator dengan udara
di luar inkubator serta menjadi saluran masuknya oksigen ke dalam
inkubator.
D. Jenis Rangkaian Incubator Mikrokontroler
1. Pengendali Mikro Atmega 8535

17

Berdasarkan arsitekturnya, AVR merupakan pengendali mikro RISC


(Reduce Instruction Set Computer) dengan lebar bus data 8 bit. Berbeda
dengan sistem AT89S51/52 yang memiliki frekuensi kerja seperduabelas
kali frekuensi osilator, frekuensi kerja pengendali mikro AVR ini pada
dasarnya sama dengan frekuensi osilator. Hal tersebut menyebabkan
kecepatan kerja AVR untuk frekuensi osilator yang sama, akan dua belas
kali lebih cepat dibandingkan dengan pengendali mikro keluarga
AT89S51/52. Semua jenis AVR telah dilengkapi dengan memori flash
sebagai memori program. Kapasitas memori flash yang dimiliki bervariasi
dari 1K sampai 128 KB.
Secara teknis, memori jenis ini dapat diprogram melalui saluran
antarmuka yang dikenal dengan nama Serial Peripheral Interface (SPI)
yang terdapat pada setiap seri AVR tersebut. Untuk penyimpanan data,
pengendali mikro AVR menyediakan dua jenis memori yang berbeda:
EEPROM (Electrically Erasable Programmable Read Only Memory) dan
SRAM (Static Random Access memory). EEPROM umumnya digunakan
untuk menyimpan data-data program yang bersifat permanen, sedangkan
SRAM digunakan untuk menyimpan data variabel yang dimungkinkan
berubah setiap saatnya. Kapasitas simpan data kedua memori ini bervariasi
tergantung pada jenis AVR-nya. Untuk seri AVR yang tidak memiliki
SRAM, penyimpanan data variabel dapat dilakukan pada register
serbaguna yang terdapat pada CPU pengendali mikro tersebut.
ATMega8535 memiliki bagian sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

Saluran I/O sebanyak 32 buah, yaitu Port A, Port B, Port C dan Port D.
CPU yang terdiri atas 32 buah register.
ADC 10 bit sebanyak 8 saluran.
Tiga buah timer/counter dengan kemampuan pembandingan.
Watchdog timer dengan osilator internal.
Internal SRAM sebesar 512 byte.
Memori flash sebesar 8 kB dengan kemampuan Read While Write.
Unit interupsi internal dan eksternal.
Port antarmuka SPI.
EEPROM sebesar 512 byte yang dapat diprogram saat operasi
Antarmuka komparator analog.
Port USART untuk komunikasi serial.

18

2. Sensor Suhu dan Kelembaban Udara


Pada inkubator, kestabilan suhu dan kondisi kelembaban di ruang
incubator merupakan suatu hal yang sangat penting, sehingga diperlukan
pemantauan temperature dan kelembaban ruang inkubator, yang nantinya
akan menggunakan SHT11 yang presisi, tidak memerlukan kalibrasi dan
stabil.

SHT11

menggunakan

2-wire

interface

sehingga

mudah

dikendalikan oleh pengendali mikro. SHT11 merupakan sensor ganda


untuk temperatur dan kelembaban secara digital. Produk ini mulai
dipasarkan Februari 2002 yang diproduksi oleh SENSIRION. Company di
Zurich (Switzerland). SHT11 mempunyai kisaran pengukuran kelembaban
antara 0-100% RH dengan akurasi 3% RH dan kisaran pengukuran suhu
antara -40C 123,80C dengan akurasi 0.40C. Sensor SHT11 memiliki
fasilitas koneksi dengan interface 2-wire, interface 2-wire ini dihubungkan
dengan pengendali mikro, umumnya bentuk gambar rangkaian
Keluaran yang dihasilkan berupa sinyal digital, waktu respon yang
cepat, tidak sensitif terhadap gangguan luar. Adapun blok diagram SHT 11
dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.

Sumber Tegangan
SHT 11 ini membutuhkan sumber tegangan antara 2.4 V 5.5 V.
Setelah diberi tegangan, SHT11 membutuhkan waktu 11 ms untuk
mereset data yang artinya tidak ada perintah yang perlu dikirim
sebelum mencapai kondisi tersebut.
Setelah mengirim perintah ( 00000101 untuk kelembaban, dan
00000011 untuk suhu ) pengendali mikro harus menunggu maksimal
320 ms sampai pengukuran selesai. Setelah pengukuran selesai, SHT
11 mengatur pin DATA menjadi low dan masuk ke idle state.
Pengendali mikro harus menunggu

b. Protokol
Protokol yang dipakai untuk komunikasi dengan SHT11 ini
menggunakan Serial Interface Bidirectional 2-Wire. Berikut adalah
beberapa Pin pada protokol:

19

1) Pin SCK ( Serial Clock Input )


Pin SCK ini berfungsi untuk sinkronisasi koneksi antara pengendali
mikro dengan SHT11. Jika VDD < 4.5 V maka frekuensi maksimal
SCK hanya sampai 1 MHz, tetapi jika VDD > 4.5 V maka frekuensi
maksimal yang bisa dicapai sampai 5 MHz.
2) Pin DATA
Pin tristate DATA ini berfungsi untuk mengirim data masuk atau
keluar dari SHT 11. Pin DATA berubah setelah transisi dari 1 ke 0
dan akan menjadi valid pada transisi dari 0 ke 1 pada pin SCK.
Selama terjadi transmisi data dari pengendali mikro ke SHT 11, pin
DATA harus stabil ketika pin SCK bernilai 1. Untuk menghindari
sinyal yang bertumbukan, maka pengendali mikro seharusnya
hanya mengatur pin DATA bernilai 0. Pin Data ini membutuhkan
resistor pull-up untuk mengangkat sinyal ke kondisi high. Jika
perintah diterima dengan benar oleh SHT 11, maka SHT 11 akan
mengatur pin DATA menjadi low ( ACK bit ) setelah transisi dari 1
ke 0 pada sinyal clock ke- 8 pin SCK.
c.

Mengirim Perintah
Untuk inisialisasi pengiriman perintah dengan cara mengatur pin DATA
bernilai 0 ketika pin SCK bernilai 1, diikuti dengan sinyal low ( bernilai
0 ) dari pin SCK dan mengatur pin DATA bernilai 1 lagi ketika pin SCK
bernilai 1. Perintah yang dikirim terdiri dari 3 address bit ( 000 ) dan
5 command bit

d. Pengukuran
Setelah mengirim perintah (00000101 untuk kelembaban, dan
00000011 untuk suhu) pengendali mikro harus menunggu maksimal
320 ms sampai pengukuran selesai. Setelah pengukuran selesai, SHT 11
mengatur pin. DATA menjadi low dan masuk ke idle state. Pengendali
mikro harus menunggu data siap diambil terlebih dulu sebelum
mengatur pin SCK kembali untuk membaca data. Data hasil
pengukuran sensor disimpan sampai data dibaca oleh pengendali mikro.

20

Data yang dikirimkan oleh SHT11 ke pengendali mikro berupa 2 byte


data pengukuran dan 1 byte data crc-checksum. Pengendali mikro harus
mengenali tiap byte yang diterima dengan mengatur pin DATA menjadi
low. Nilai yang pertama kali diterima pengendali mikro adalah bagian
MSB. Komunikasi dihentikan setelah ACK bit dari crc-checksum. Jika
crc-checksum tidak digunakan, pengendali mikro dapat menghentikan
komunikasi setelah pengukuran data bagian LSB dengan menjaga ACK
bit tetap high.
3. TRIAC
Triode Alternating Current Switch atau saklar trioda untuk arus bolakbalik. TRIAC dapat menghantar arus dalam dua arah (bidirectional).
TRIAC dapat dipicu dengan tegangan polaritas positif maupun negatif
pada gerbangnya (GATE). Simbol dari TRIAC dapat dilihat. Adapun
elektroda dari TRIAC terdiri dari tiga kaki yaitu anoda 1 (A1), anoda 2
(A2), dan gate (G). Anoda 1 merupakan titik acuan untuk pengukuran arus
dan tegangan di kaki gate dan anode 2. Jika polaritas anoda 2 lebih positif
dari anoda 1 dan gate diberi polaritas positif maka TRIAC akan aktif.
Untuk mencapai keadaan terkonduksi, arus yang mengalir pada TRIAC
harus mencapai atau bahkan lebih besar daripada arus penahan (arus
holding ). Setelah terkonduksi, TRIAC akan tetap bekerja meskipun picu
pada gate TRIAC telah dihilangkan, selama arus yang mengalir pada
TRIAC telah mencapai nilai arus latching. Satu-satunya cara untuk
mematikan TRIAC adalah dengan mengurangi arus yang mengalir pada
TRIAC hingga lebih kecil daripada arus.
4.

Sensor Suhu LM35


LM35 adalah komponen sensor suhu berukuran kecil seperti transistor
(TO-92). Sensor suhu ini dapat mengukur suhu hingga lebih dari 100C.
Dengan tegangan keluaran yang terskala linier dengan suhu terukur, yaitu
10 mV/ C.

5. Modul Komunikasi RS 232 dan RS 485

21

RS 232 adalah salah satu antarmuka komputer yang paling populer,


karena dalam penggunaannya, komponen dan program yang dibutuhkan
sangat sederhana dan tidak mahal. Oleh karena itulah banyak yang
menggunakan RS 232 untuk membentuk sebuah jaringan komunikasi
antara dua piranti. Akan tetapi RS 232 tidak dapat membentuk sebuah
jaringan yang menghubungkan lebih dari dua piranti. Selain itu jarak
jaringan komunikasi data yang menggunakan RS 232 terbatas hanya 15
30 meter. Kelemahan dari RS 232 tersebut dapat diatasi dengan
menambahkan RS 485 pada sebuah jaringan. RS 485 mampu melibatkan
maksimal 32 piranti dan mampu mendukung komunikasi data hingga jarak
1200 meter [14]. Penggunaan RS 485 dalam komunikasi data memiki
pengaturan yang lebih kompleks dibandingkan dengan penggunaan RS
232, karena RS 485 tidak mendukung sistem full duplex seperti RS 232
sehingga pada sebuah jaringan yang menggunakan RS 485 tidak
dimungkinkan terjadinya pengiriman dan penerimaan data secara
bersamaan.
Pada RS 485 terdapat control pin yang mengatur fungsi kerja dari RS 485.
Oleh karena itu, diperlukan sebuah pemicu yang dihubungkan dengan
control pin yang mengatur fungsi RS 485 yang ada dalam jaringan
komunikasi data untuk mengatur kapan waktunya bertindak sebagai
pengirim data dan kapan bertindak sebagai penerima data.
6. Sistem Pengendali Pemanas
Kestabilan suhu pada inkubator bayi sangatlah penting, karena bayi baru
lahir akan membutuhkan tingkat kehangatan yang stabil, mengingat bayi
tersebut belum terbiasa beradaptasi dengan suhu di luar kandungan sang
ibu[15]. Oleh karena itu, dibutuhkan pengaturan pemanas agar dapat
mempertahankan panas inkubator sesuai dengan nilai yang dikehendaki.
Untuk mendapatkan hasil pengaturan sesuai dengan yang diharapkan maka
diperlukan suatu sistem pengendalian. Pada inkubator bayi ini,
pengendalian modul pemanas menggunakan metode kontrol on off
dengan histeresis. Kontrol on off sering digunakan di bidang industry

22

karena murah dan sederhana, dan cocok untuk pengendali suhu yang
merupakan sistem dengan respon lambat. Sinyal kontrol akan tetap pada
satu keadaan dan akan berubah ke keadaan lainnya bergantung pada nilai
error positif atau negatif.
Sinyal kontrol akan off saat keluaran menyentuh batas atas dan baru on
kembali ketika nilai keluaran telah menyentuh batas bawah. Band atau
rentang dari set point ini sering juga disebut dengan differential gap.
Dengan mengatur besarnya differential gap, maka frekuensi on off dapat
dikurangi, tetapi harus dibayar dengan penurunan akurasi terhadap set
point.

23

BAB III
ANALISIS JURNAL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan jurnal dengan judul Inkubator Bayi Berbasis Mikrokontroler


Dilengkapi Sistem Telemetri Melalui Jaringan Rs 485 yang diteliti oleh
Wijaya(2013) dapat dibahas bahwa pada penelitian ini dibuat sebuah inkubator
yang memiliki fasilitas lebih baik dari inkubator sederhana, tetapi dengan harga
terjangkau.Inkubator yang dirancang dan direalisasikan ini mempunyai pengatur
dan penampil suhu dan kelembaban ruang inkubator serta dilengkapi sistem
telemetri dengan program antarmuka yang dilengkapi data logger.
Perbandingan fitur beberapa inkubator yang sudah ada dan inkubator yang
dirancang.beberapa keunggulan dari incubator bayi ini meliputi:
1. Pada inkubator yang dibuat, pengaturan temperatur dilakukan dengan
mengendalikan pemanas sesuai dengan nilai umpan balik yang diterima
pengendali mikro dari sensor suhu dan kelembaban SHT 11. Nilai umpan
balik tersebut akan dibandingkan dengan nilai set point (nilai temperatur yang
dikehendaki), dan hasil perbandingan tersebut akan dijadikan acuan bagi
pengendali mikro untuk mengendalikan pemanas dan kipas sirkulasi udara.
2. Pengendali mikro yang digunakan merupakan pengendali mikro keluarga
AVR tipe ATmega8535
Pengendali mikro ini akan digunakan untuk mengendalikan beberapa modul
yang lain, yaitu:
a. Modul sensor SHT 11 dan LM35; mengendalikan dan menerima serta
mengolah data yang dihasilkan.
b. Modul pengendali pemanas; mengendalikan waktu pemicuan TRIAC.
c. Modul komunikasi data berbasis RS485; menerima perintah dari personal
komputer dan mengirim data sesuai perintah.

24

d. Modul LCD dan LED indikator; menampilkan nilai suhu dan kelembaban
ruang utama inkubator pada LCD dan menampilkan status kerja incubator
melalui LED indikator.
e. Modul tombol pengaturan; menerima masukan nilai suhu acuan.
f. Modul buzzer; memberikan peringatan saat terdapat kesalahan pada
sistem.
g. Modul kipas penghisap dan penghembus; mengendalikan kipas untuk
sirkulasi udara
3. Pada inkubator ini, modul komunikasi data berupa jaringan half duplex RS
485. Modul ini tetap membutuhkan RS 232, karena RS 485 tidak dapat secara
langsung dihubungkan pada komputer karena adanya perbedaan aras
tegangan. RS 232 digunakan untuk mengkonversi aras tegangan TTL dari RS
485 menjadi aras tegangan yang dapat diterima oleh komputer.
4. Inkubator bayi ini dilengkapi dengan modul emergency stop. Modul
emergency stop ini memiliki sistem sendiri, sehingga apabila terjadi suatu
kesalahan pada pengendali mikro, modul ini akan tetap aktif dan akan
memutuskan catu tegangan pada pengendali mikro serta memberikan
peringatan menggunakan buzzer. Modul ini menggunakan sebuah sensor suhu
LM 35 untuk memantau suhu elemen pemanas. Jika pengendali mikro
melakukan kesalahan dalam mengendalikan pemanas yang menyebabkan
pemanas tetap aktif meskipun suhu inkubator telah melampaui batas aman
yang maka modul ini akan memutus catu teganga pengendali mikro, sehingga
elemen pemanas menjadi tidak aktif.

25

Berdasarkan hasil yang telah didapat, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai
berikut ini:
1. Alat mampu mencapai nilai suhu yang dikehendaki pada kisaran 28 C 37
C dan menjaga suhu tetap stabil pada nilai suhu acuan yang dikehendaki.
2. Program aplikasi sistem telemetri dapat bekerja dengan baik, dengan fasilitas
data logger untuk mencatat hasil pengukuran terakhir dari setiap lima menit
selang pengukuran pada log file .
3. Alat yang dibuat memiliki nilai ralat maksimum pengaturan suhu sebesar
1C.

26

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
2. Saran

DAFTAR PUSTAKA

27

Hassan, Rusepno. 2005. Buku Kuliah 3 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Bagian
Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Herdman, T. 2012. Diagnosis Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2012-2014.
Jakarta : EGC
Merenstein, G.B. et all. 2002. Buku Pegangan Pediatri. Edisi 17. Widya Medika.
Jakarta
Nurarif, Amin H. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis dan NANDA. Yogyakarta : Mediaction
Proverawati, Atikah. 2010. BBLR : Berat Badan Lahir Rendah. Yogyakarta: Nuha
Medika.
Pudjiadi Antonius, H., Hegar Badriul, dkk. 2010. Pedoman Pelayanan Medis
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta: IDAI.
Wijaya, Roni. 2013. Inkubator Bayi Berbasismikrokontroler Dilengkapi Sistem
Telemetri Melalui Jaringan Rs 485. Techn Jurnal Ilmiah Elektroteknika
Vol. 12 No. 1 April 2013 Hal 75 90
Wong, L. D. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Edisi 4. EGC. Jakarta

28

Anda mungkin juga menyukai