Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Pembahasan ini mengupas langkah permulaan dari proses pengembangan

instruksional, yaitu mengidentifikasi kebutuhan instruksional. Langkah ini adalah


titik tolak dan sumber bagi langkah-langkah berikutnya. Karena itu, kebingungan
yang terjadi dalam langkah permulaan ini akan menyebabkan seluruh kegiatan
pengembangan instruksional kehilangan arah.
Langkah ini merupakan rangkaian dari dua kegiatan yang dijadikan satu
karena keduanya sangat berkaitan. Hasil kegiatan pertama yaitu mengidentifikasi
kebutuhan instrusional. Tidak lain daftar pengetahuan, keteraampilan dan sikap
yang masih belum dikuasai siswa dan perlu dikuasai siswa. Atas dasar hasil
kegiatan pertama ini dilakukan langkah yang kedua yaitu perumusan TIU.
Karena itu, setelah mempelajari makalah ini diharapkan dapat menerapkan
prosedur mengidentifikasi kebutuhan instruksional.
1.2.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat diambil rumusan masalah

sebagai berikut:
1) Apa pengertian dari kebutuhan instruksional:
2) Siapa yang membutuhkan kebutuhan instruksional?
3) Bagaimana langkah-langkah untuk mengidentifikasi

kebutuhan

1.3.

intruksional?
Tujuan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat diambil tujuan masalah

sebagai berikut:
1) Untuk mengetahui pengertian dari kebutuhan instruksional
2) Untuk mengetahui siapa yang membutuhkan kebutuhan instruksional
3) Untuk mengetahui bagaimana langkah-langkah kebutuhan instruksional

1.4.

Manfaat Pembahasan

Hasil pembahasan makalah ini diharapkan memberikan pengertian dan


manfaat bagi mahasiswa dan pembacanya. Ada beberapa manfaat yang dapat kami
lampirkan, antara lain:
1) Sebagai sarana pembelajaran bagi mahasiswa dan pembaca untuk referensi
belajar
2) Memberikan kemudahan untuk memahami materi pembelajaran karena di
ambil dari sumber yang ada
3) Memperkaya dan mengembangkan kemampuan dalam kehidupan secara
memperluas pengetahuan mahasiswa dan pembacanya.

BAB II
PEMBAHASAN
2

2.1.

Mengidentifikasi Kebutuhan Instruksional

2.1.1. Pengertian Kebutuhan Instruksional


Kebutuhan adalah kesenjangan keadaan saat ini dibandingkan dengan
keadaan yang seharusnya. Dengan perkataan lain, setiap keadaan yang kurang dari
yang seharusnya menunjukkan adanya kebutuhan. Apabila kedua keadaan itu
beras atau menimbulkan akibat lebih jauh sehingga perlu ditempatkan sebagai
prioritas untuk diatasi, kebutuhan tersebut disebut masalah.
Dalam bidang pendidikan misalnya, keadaan saat ini menunjukkan
lambatnya para lulusan menerima ijazah dari perguruan tinggi tempat mereka
kuliah. Setelah diteliti ternyata penyebabnya adalah tidak adanya petugas khusus
yang diberi tanggung jawab menyelesaikan ijazah tersebut. Dalam keadaan seperti
ini masalah yang muncul adalah tidak adanya tenaga yang diberi tugas untuk
mempersiapkan mencetak dan menyerahkan ijazah kepada lulusan. Untuk
menyelesaikan masalah ini diperlukan pengadaan tenaga khusus untuk tugas
tersebut. Tenaga ini mungkin diambilkan dari unit lain atau direktur baru.
Suatu contoh lain, buruknya hasil dari cetakan majalah yang dikeluarkan
suatu lembaga pendidikan, sehingga menyebabkan munculnya protes dari
pembacanya. Setelah diteliti ternyata hal tersebut disebabkan mesin yang tidak
berfungsi dengan normal. Untuk itu diperlukan perbaikan atau penggantian
beberapa bagian dari mesin itu.
Kedua contoh sederhana diatas tidak berhubungan langsung dengan
system instruksional. Keduanya bukan kebutuhan insternasional. Memang tidak
semua kebutuhan dan masalah dapat disebut sebagai kebutuhan instruksional
karna belum tentu memerlukan penyelesaian dengan melaksanakan kegiatan
instruksional.
Sering kali orang mempercampuradukkan kebutuhan (needs) dengan
kegiatan (wants). Kebutuhan adalah kesenjangan antara keadaan sekarang dengan
yang seharusnya. Kebutuhan yang menjadi prioritas untuk dipecahkan adalah
masalah. Sehingga dapat dikatakan kalau orang menyebut kebutuhan. Pikiran kita

mengkaitkannya dengan masalah. Sedangkan keinginan atau cita-cita (desire)


terkait dengan pemecahan terhadap suatu masalah.
Karena itu Kaufman (1982) mengajak kita untuk menghentikan kebiasaan
melompat ke pemecahan masalah (keinginan) sebelum kita yakin apa masalah
yang kita hadapi. Bila dapat menghentikan kebiasaan yang keliru itu kita akan
menghemat biaya, waktu dan sumber daya manusia.
Proses identifikasi kebutuhan yang dimulai dari mengidentifikasi
kesenjangan antara keadaan sekarang dengan keadaan yang dihadapkan sekaligus
dilanjutkan sampai kepada proses pelaksanaan pemecahan masalah dan evaluasi
terhadap efektifitas dan efesiensinya. Hal ini dapat dipahami karena para ahli
dalam bidang ini membahas proses penilaian kebutuhan (need assessment) secara
tersendiri. Bila mereka tidak mengaitkannya dengan proses selanjutnya, yaitu
pelaksanaan pemecahan masalah dan evaluasinya. Proses menilai kebutuhan itu
akan kehilangan makna.
Tetapi lain halnya yang dibahas dalam buku ini. Proses tersebut
ditempatkan sebagai bagian pemulaan dari proses pengembangan. Sedangkan dari
proses pengembangan sendiri adalah bagian pemulaan dari siklus kegiatan
instruksional yang masih harus diikuti dengan pelaksanaan dan evaluasi
instruksional. Karena itu, dalam bab ini mengidentifikasi kebutuhan instruksional
itu hanya sampai pada perumusan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang perlu
diajarkan kepada siswa. Selanjutnya, hasil tersebut dijadikan dasar perumusan
TIU.
2.1.2. Sumber Informasi dalam Mengindentifikasi Kebutuhan Instruksional
Dari hasil evaluasi pada akhir suatu pelajaran siswa berpendapat bahwa
apa yang diperoleh dalam pembelajaran itu kurang berguna bagi mereka. Di
samping itu, penyajiannya tidak menarik serta sulit dipahami. Mereka berpendapat
bahwa sebagianisi mata pelajaran itu kurang relevan. Disamping itu, tesnya
kurang tersusun dengan baik. Masalahnya adalah kurang baiknya kualitas sistem
instruksional untuk mata pelajaran tersebut. Untuk mengatasi masalah ini mata
pelajaran itu harus didesain kembali.
4

Dari contoh diatas dapat dilihat pendapat dari pihak siswa dan mengajar
tentang kesenjangan kualitas instruksional dalam suatu mata pelajaran. Keduanya
kebetulan satu pendapat. Tetapi, dalam kasus yang lain pendapat kedua pihak
tersebut mungkin berbeda.
Siapa sebenarnya yang menentukan ada tidaknya kebutuhan instruksional?
Apakah pendidik termasuk di dalamnya pengajar dan pengelola program
pendidikan, orang tua atau masyarakat?
Kaufman dan English (1979) menjawab: mereka semua. Bagaimana
dengan siswa? Apakah siswa tidak perlu didengar apa masalah atau kebutuhan
yang dihadapinya? Dick dan Carey (1985) mengutip Rossett (1982) yang
mengatakan keharusan melibatkan siswa dalam proses mengidentifikasi
kebutuhan. Siswa yang dilibatkan dalam mengidentifikasikan masalah ini
haruslah siswa yang sudah matang terutama siswa yang sudah bekerja agar dapat
memberikan gambaran masalah yang relevan dengan pekerjaannya sehari-hari.
Dengan demikian, dapat diharapkan bahwa pelajaran yang diterimanya sesuai
dengan kebutuhannya.
Jadi, ada tiga kelompok yang dapat dijadikan sumber informasi dalam
mengidentifikasi kebutuhan instruksional, yaitu:

Siswa (terutama siswa yang sudah bekerja)

Masyarakat (termasuk orang tua dan orang tua yang akan


menggunakan lulusan)

Pendidik (termasuk pengajar dan pengelola program pendidikan).

Secara umum informasi yang akan dicari dalam proses mengidentifikasi


kebutuhan instruksional adalah kompetensi siswa saat ini dan kopetensi siswa
yang seharusnya dikuasai agar ia atau mereka dapat dilaksanakan pekerjaan atau
tugasnya dengan baik.
Bagi seorang pengembang instruksional informasi yang bermanfaat adalah
informasi tentang kurangnya prestasi siswa yang disebabkan oleh kurangnya
pengetahuan atau ketrampilan siswa, bukan yang disebabkan oleh kekurangan
perataan kerja. Sikap atasan atau lingkungan kerja lainnya. Hanya masalah yang

disebabkan kurangnya siswa dalam mendapatkan kesempatan pendidikan atau


training yang dapat diatasi dengan kegiatan instruksional.
Sering kali pengembangan terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa
setiap indikator yang menunjukkan rendahnya prestasi siswa atau pegawai harus
diselesaikan dengan pemberian pelajaran atau latihan. Seharusnya pengembangan
instrusional melakukan satu langkah tambahan yaitu mencari factor penyebab
kekurang mampuan siswa sebelum menentukan cara membantunya dalam
mencapai kemampuan yang diharapkan. Siswa yang mempunyai kemampuan
rendah mungkin disebabkan oleh berbagai hal seperti suasana hidup dirumah
bersama keluarga, peralatan belajar, atau biaya. Dalam situasi seperti itu biarpun
ia diberi pelajaran atau latihan berulang kali, hasilnya tidak akan menggembirakan
karena pemberian pelajaran atau pelatihan bukanlah pemecahan masalah yang
tepat.
Untuk menghindari kesalahan dalam memutuskan cara memecahkan
masalah, berikut ini disampaikan langkah-langkah yang sistematik dalam
menentukan kebituhan instruksional.
2.1.3. Langkah-Langkah Mengidentifikasi Kebutuhan Instruksional
Mengidentifikasi kebutuhan instruksional adalah suatu proses untuk:
a) Menentukan kesenjangan penampilan siswa yang disebabkan kekurangan
kesempatan mendapatkan latihan pada masa lalu
b) Mengidentifikasi bentuk latihan atau kegiatan instruksional yang paling
tepat
c) Menentukan populasi sasaran yang dapat mengikuti kegiatan instruksional
tersebut.
Langkah 1:
Mengidentifikasi kesenjangan hasil produk atau prestasi siswa atau
karyawan saat ini dengan hasil yang seharusnya,berarti menjelaskan perbedaan
antara hasil atau produksi kerja saat ini dengan yang diharapkan. untuk
mendapatkan kedua jenis data ini pengembang instruksional dapat membaca dari
laporan tertulis (bila ada), observasi, interview, kuesioner, atau data dari dokumen
6

lain yang dapat dipercaya yang terdapat disekolah atau tempat kerja siswa atau
karyawan. Data tersebut harus menyangkut hasil produk atau prestasi, bukan
proses belajar siswa atau proses kerja karyawan.
Langkah 2:
Mengetahui hasil kesenjangan hasil seperti yang dikemukakan dalam
langkah 1 di atas tidaklah cukup untuk mengambil suatu tindakan memecahkan
masalah. pengembang instruksional harus menilai kesenjangan tersebut dari segi:
a) Tingkat signifikasi pengaruhnya
b) Luas ruang lingkupnya
c) Pentingnya peranan kesenjangan tersebut terhadap masa depan lembaga
atau program.
Menilai signifikasi pengaruh suatu kesenjangan tersebut untuk diatasi,
merupakan hal yang relatif. Pengembangan instruksional harus mampu
menyajikan nilai kerugian yang ditimbulkan kesenjangan tersebut dalam bentuk:
uang, waktu, pemborosan bahan, penyusutan produksi kerja, penyusutan kualitas
kerja, bahaya yang ditimbulkan dan factor-faktor yang tidak dapat dihitung dalam
bentuk biaya, seperti menurunnya rasa aman, berkurangnya kerja sama, dan
merosotnya motivasi.
Mager dan Pipe (1984) memberi contoh sederhana cara menghitung nilai
kesenjangan dalam bentuk uang. Seorang pengawas (supervisor) mengeluh
tentang bahan yang harus dikerjakan kembali oleh 12 pengetiknya. Kurang lebih
12% dari waktu kerja digunakan mengerjakan kembali kesalahan-kesalahan dalam
mengetiknya. Bila kesenjangan ini dihitung dengan uang, dalam waktu satu tahun
akan menjadi $ 72.000 atau sekitar Rp 125.000.000,00. Angka ini diperoleh dari
hitungan sebagai berikut:
Upah rata-rata per jam $ 12
Mereka bekerja 5 hari (seminggu)= 48 minggu (setahun)
Jadi, 48 (minggu) x 5 (hari) x 2 (jam) x 12 (orang) x $12 (upah per jam) = $
72.00.
Bila kesenjangan tersebut dianggap tidak menjadi prioritas yang harus
diatasi, maka kesenjangan tersebut tidak dianggap sebagai masalah yang harus
7

diatasi. Tetapi, bila tidak ada kesenjangan yang lain kecuali kesenjangan tersebut
maka, kesenjangan mempunyai pengaruh yang berarti. Kesenjangan tersebut
mempunyai ruang lingkup luas, dan penting. Maka perlu di teruskan ke langkah 3.
Langkah 3:
Menganalis kemungkinan penyebab kesenjangan melalui pelaksanaan
observasi, interview, dan analisis logis
Memisahkan kemungkinan penyebab yang tidak berasal dari kekurangan
pengetahuan, ketrampilan dan sikap untuk diserahkan penyelesaiannya pada pihak
lain
Mengelompokan kemungkinan penyebab yang berasal dari kekurangan
pengetahuan, keterampilan dan sikap tertentu untuk diteruskan ke langkah 4.
Langkah 4:
Menginterview

siswa

atau

karyawan

yang

bersangkutan

untuk

memisahkan antara yang sudah pernah dan yang belum pernah memperoleh
pendidikan atau latihan dalam bidang kerjanya. Siswa yang sudah pernah
mendapatkan pendidikan dan latihan meneruskan ke langkah 5, sedangkan yang
tidak pernah mendapatkan pendidikan dan latihan tersebut meneruskan ke langkah
8.
Langkah 5:
Selanjutnya,

mengelompokkan

yang

sudah

pernah

mendapatkan

pendidikan dan latihan dalam dua kelompok. Yaitu yang sering dan yang jarang.
Kemudian terus ke langkah berikutnya, yaitu langkah ke 6 dan 7.
Langkah 6:
Kelompok yang telah sering mendapatkan pendidikan dan latihan diberi
umpan balik atas kekurangannya dan diminta mempraktikkannya kembali sampai
dapat melakukan tugasnya seperti yang diharapkan.
Langkah 7:
Kelompok yang masih jarang mendapatkan kesempatan mengikuti
pendidikan dan latihan dalam pengetahuan, ketrampilan atau sikap yang relevan
dalam bidang kerjanya diberi kesempatan mempraktikkan lebih banyak apa yang

telah diperolehnya dari pendidikan atau latihan masa lalu. Supervise dari dekat
diperlukan sampai mereka mencapai hasil kerja yang diharapkan.
Langkah 8:
Untuk kelompok siswa atau karyawan yang belum pernah mempelajari
pengetahuan, ketrampilan dan sikap tersebut, pengembangan instruksional terlebih
dahulu merumuskan tujuan instruksional umum (TIU). Dalam contoh diatas
ketrampilan yang harus masuk dalam TIU tersebut adalah mengetik dengan teknik
yang benar dengan skor minimal tertentu. Bagaimana mengidentifikasi kebutuhan
instruksional untuk program pendidikan yang lain, seperti mata kuliah yang
banyak berorientasi pada segi akademis-teoretis?
Mengidentifikasi kebutuhan instruksional adalah kegiatan awal dari
kegiatan menentukan tujuan instruksional umum. Seorang pengajar yang telah
atau baru akan mengajarkan mata pelajaran yang sudah biasa diajarkan di lembaga
tempat ia mengajar, seperti di perguruan tinggi pada umumnya, tidak melakukan
proses mengidentifikasi kebutuhan instruksional seperti yang telah digambarkan
di atas karena berbagai alasan.
Pertama, siswa yang mengikuti mata pelajaran itu umumnya belum
bekerja. Bahkan, mereka belum tentu tahu jenis pekerjaan yang akan dihadapinya
kelak. Walaupun ada yang bekerja saat ini. Mereka tidak bekerja dalam bidang
yang sama.
Kedua, mata pelajaran yang akan diajarkan telah tertentu, bahkan
seringkali telah ditentukan ruang lingkup dan garis besar isinya oleh lembaga
pendidikan yang bersangkutan.
Ketiga, mata pelajaran itu belum tentu hanya terkait kepada satu jurusan
atau program studi. Tetapi mungkin bersifat umum seperti Mata Kuliah Dasar
Umum (MKDU). mata kuliah wajib Fakultas dan semacamnya. Kadang-kadang
mata kuliah seperti itu terkait dengan kebudayaan dan filsafat negara.
Dalam keadaan seperti itu pengembangan instruksional tidak mungkin
melakukan identifikasi kebutuhan instruksional yang berorientasikan kepada
pekerjaan tertentu. Pengajar senior, pengembang kurikulum, para ahli, pimpinan
lembaga pendidikan yang mewakili kelompok pendidik dan pembimbing lembaga
9

pemerintah dan perusahaan swasta yang akan menggunakan lulusan dapat


dijadikan sumber pemberian informasi tentang kebutuhan instruksional untuk
mata pelajaran tersebut. Tyler (1949) menggolongkan pengajar yang disebut
artistic teachers. Walaupun tidak mempunyai gambaran yang jelas tentang tujuan
instruksional, mereka mempunyai intuisi tentang apa yang dimaksud dengan
mengajar yang baik, apa bahan-bahan pelajaran yang baik, apa isi pelajaran yang
sebaiknya diajarkan dan bagaimana mengembangkan topik-topik yang efektif bagi
siswa. Demikian pula dengan pimpinan lembaga pendidikan, lembaga
pemerintahan dan perusahaan swasta memperoleh informasi yang berharga bagi
pengembangan instruksional dalam mengidentifikasi kebutuhan instruksional.
Kemudian informasi itu dianalisis dan hasilnya dijadikan dasar untuk
merumuskan tujuan instruksional umum dan komponen berikutnya.
Disamping itu, sumber lain yang tidak kalah pentingnya adalah rumusan
TIU untuk mata kuliah yang samadi lembaga lain. Bila rumusan TIU tersebut
telah ada. Pengembang instruksional dapat diharapkan mampu menyusun
rumusan TIU yang dapat diterima oleh berbagai pihak yang bersangkutan.
TIU yang telah dirumuskan atas dasar hasil interviu dengan kelompok
pendidik dan masyarakat yang akan menggunakan lulusan perlu petunjuk kembali
kepada pihak yang diinterview untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaanpertanyaan sebagai berikut:
Apakah TIU ini konsisten dengan tujuan kurikulum, tujuan instruksional
dan tujuan pendidikan secara nasional?
Apakah siswa yang mengambil mata pelajaran tersebut dapat mencapai
pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang tercantum dalam TIU tersebut, apakah
kelompok pendidikan dan masyarakat yang akan menggunakan lulusan itu telah
puas?
Apakah pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang dirumuskan dalam TIU
itu penting bagi kehidupan siswa?
Khusus

pertanyaan

nomor

3,

pengembang

instruksional

perlu

mengumpulkan data dari sekelompok siswa yang dapat mewakili populasi sasaran
di samping dari kelompok pendidik dan masyarakat. Usaha pengembangan
10

instruksional untuk mendapatkan rumusan TIU yang mencerminkan kebutuhan


ketiga pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan tersebut tidaklah mudah,
setidak-tidaknya pengembang instruksional harus melalui jalan yang panjang.
Usaha seperti ini sangat penting artinya untuk menentukan dapat tidaknya kualitas
lulusan suatu program pendidikan diterima oleh masyarakat dan pendidik serta
dapat memenuhi kebutuhan hidup lulusan itu sendiri.

11

BAB III
PENUTUP
4.1.

Kesimpulan
Pengembangan

instruksional,

yaitu

mengidentifikasi

kebutuhan

instruksional dan penulisan tujuan instruksional umum (TIU).


Langkah ini adalah titik tolak dan sumber bagi langkah-langkah berikutnya.
Karena itu, kebingungan yang terjadi dalam langkah permulaan ini akan
menyebabkan seluruh kegiatan pengembangan instruksional kehilangan arah.
Langkah ini merupakan rangkaian dari dua kegiatan yang dijadikan satu karena
keduanya sangat berkaitan. Hasil kegiatan pertama yaitu mengidentifikasi
kebutuhan instrusional.
Tujuan instruksional, disamping berfungsi sebagai suatu yang akan
dicapai, berfungsi pula sebagai kriteria untuk mengukur keberhasilan suatu
kegiatan instruksional.
4.2.

Saran
Dengan memahami analisis kebutuhan instruksional dalam makalah ini,

berarti kita telah memahami dan dapat mengaplikasikannya terutama penerapan


langkah-langkah pengindentifikasian kebutuhan instruksional. Penulis telah
berupaya membahas analisis kebutuhan instruksional ini. Penulis menyadari
terdapat kekurangan dalam penulisan makalah ini, oleh sebab itu penulis
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca.

DAFTAR PUSKATA
12

Suparman, atwi. 1991. Desain Instruksional: Mengidentifikasi Kebutuhan


Instruksional dan Menulis Tujuan Instruksional Umum. Jakarta: Bank
Dunia XVII

13