Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM PTK IV

ABSORPSI

Disusun Oleh:
Ermawati
Heri Suhendri
Pramono Adi Nugroho

2004430034

Jurusan Kimia
Fakultas Teknik
Universitas Muhammadiyah Jakarta
2009
ABSORPSI

Djs art work

I.

MAKSUD DAN TUJUAN


1. Menghitung nilai koefisien perpindahan massa keseluruhan (K Ga)
2. Menghitung jumlah satuan perpindahan massa (NTU)
3. Menganalisa keterkaitan antara variabel-variabel proses dengan
KGa dan NTU

II. TEORI PERCOBAAN


Dalam kebanyakan operasi transfer massa, dua buah fase yang
saling tidak larut dikontakkan supaya diantara kedua fase tersebut
terjadi transfer bahan konstituen. Adapun fase-fase yang dikontakkan
dapat berupa : gas-cair, gas-padat cair-cair, dan cair-padat. Kontak
antara fase gas dengan fase cair dijumpai pada operasi distilasi,
absorbsi gas, desorpsi gas dan humidifikasi. Absorbsi adalah suatu unit
proses dimana sejumlah gas dikontakkan terhadap cairan, dengan
tujuan untuk melarutkan atau mereaksikan satu atau lebih komponen
yang terdapat dalam gas tersebut. Pada absorpsi gas uap yang dapat
larut diserap dari campurannya dengan gas tak aktif atau gas lemban
(gas inert) dengan bantuan zat cair dimana gas terlarut (solute gas)
dapat larut, banyak atau sedikit. Zat terlarut itu kemudian dipulihkan
dari zat cair dengan cara stripping, sedang zat cair yang meresap
selanjutnya dapat dibuang atau digunakan kembali. Kadang-kadang zat
terlarut itu dikeluarkan dari zat cair mengontakkannya dengan gas
lemban.
Alat yang digunakan dalam Absorbsi
Alat yang banyak digunakan absorbsi gas adalah menara isian
(packed column) yang pirantinya terdiri dari sebuah kolom yang
berbentuk silinder atau menara yang dilengkapi dengan pemasukkan
gas dan ruangan distribusi pada bagian bawah, pemasukkan zat cair
dan distribusinya dari atas sedangkan pengeluaran gas dan zat cair
masing-masing diatas dan dibawah, serta suatu massa bentukkan zat
padat tak aktif(inert) diatas penyangganya, bentukan itu disebut isian
menara
ruang

( Tower packing) penyangga itu harus mempunyai fraksi


terbuka

yang

cukup

besar

untuk

mencegah

terjadinya

Djs art work

pembanjiran pada piring penyangga. Zat cair yang masuk yang boleh
berupa pelarut murni atau larutan encer zat terlarut dalam pelarut,
disebut cairan lemah (weak liquor) diditribusikan dengan isian dengan
distributor, sehingga pada operasi yang ideal membasahi isian secara
seragam. Gas yang mengandung gas terlarut disebut gas kaya atau
rich gas (gas gemuk), masuk ke ruang pendistribusi yang terdapat
dibawah isian dan mengalir keatas melalui celah-celah anatara isian
berlawanan arah dengan zat cair. Isian itu memberikan permukaan
yang luas untuk kontak untuk zat cair dan gas. Zat terlarut yang ada
dalam gas gemuk itu diserap oleh zat cair segar yang masuk ke dalam
menara dan gas encer atau gas kurus (lean gas) keluar dari atas.
Sambil mengalir kebawah di dalam menara, zat cair itu makin lama
makin kaya akan zat terlarut dan zat pekat atau cairan kuat (strong
liquor) keluar dari bawah menara melalui lubang keluar zat.
Jenis-jenis isian menara yang

banyak

diciptakan

orang

banyak

diciptakan orang banyak sekali macamnya tetapi ada beberapa jenis


yang lazim dipakai. Isian menara ini terbagi atas dua jenis, yaitu jenis
yang diisikan dengan mencurahkan secara acak atau random kedalam
menara dan yang disusunkan secara teratur. Isian curah terdiri dari
satuan-satuan dengan dimensi utama sampai 3 inchi, dimana isian
yang ukurannya kurang dari 1 inchi terutama dipakai dalam kolomkolom laboratorium atau instalasi percontohan (pilot plant). Satuansatuan isian yang disusun dengan teratur biasanya mempunyai ukuran
antara 2 sampai 8 inchi.
Persyaratan pokok yang diperlukan untuk isian menara antara lain:
1. Harus tidak bereaksi secara kimia dengan fluida didalam
2. Harus kuat tetapi tidak terlalu berat
3. Harus mengandung cukup banyak isian untuk kedua arus tanpa
terlalu banyak zat cair yang terperangkap (hold up) atau
menyebabkan penurunan tekanan yang terlalu tinggi.
4. Harus memungkinkan terjadinya kontak yang memuaskan antara
zat cair dan gas
5. Harus tidak terlalu mahal

Djs art work

Teori Dua Tahanan


Didalam transfer massa antara fase ada tiga buah langkah
transfer yaitu transfer massa dari badan utama suatu fase ke antar
muka, transfer massa melalui bidang antar muka ke fase kedua dan
akhirnya transfer dari antar muka ke badan muka fase kedua.
Sekarang ditinjau sebuah kolom dinding pada seksi dinding
basah. Misalkan, bahwa larutan NaOH mengalir ke bawah melalui
permukaan dinding dalam pipa, sedangkan campuran udara- CO 2
konsentrasinya akan turun pada waktu campuran mengalir keatas
sedangkan konsentrasi CO2

dalam larutan NaOH akan bertambah

besar pada waktu larutan NaOH mengalir ke bawah. Dalam keadaan


tetap konsentrasi CO2 pada setiap tempat pada setiap seksi dinding
basah tidak berubah dengan perubahan dinding waktu. Pada suatu
tempat tertentu pada seksi dinding basah, solute akan ditransfer dari
fase gas ke fase cair melalui dinding antar muka fase.
Konsep yang banyak digunakan dalam mekanisme proses
absorbsi adalah teori dua film dari Whitmann yaitu batas antaranya
disebut dengan interface gas film dan cairan film. Berdasarkan teori ini,
massa ditransfer secara konveksi dimana dalam fase gas disebabkan
karena adanya perbedaan tekanan dalam fase cair karena adanya
perbedaan konsentrasi. Karena adanya perbedaan ini terjadi difusi
molekul gas tertentu melalui gas film, baru setelah itu menembus ke
dalam cairan film dan baru disebut cairan utama.
Neraca massa
Ditinjau suatu operasi transfer massa dalam keadaan tetap
secara arus berlawanan dimana fase-fase yang berkontak dan saling
tidak dapat larut adalah fase G dan L.

Gm
Y2

Lm
X2

Djs art work

Gm

Lm

Y1

X1

Ket:
Gm

: mol gas inert/waktu. Luas penampang kolom

Lm

: mol cairan bebas zat terlarut/waktu. Luas penampang kolom

: mol gas terlarut/mol gas inert pada fase gas

: mol gas terlarut/ mol pelarut inert pada fase cair

Apabila dibuat neraca massa komponen A disekitar alat transfer maka


akan diperoleh:
Gm(Y1 Y2) = Lm(X1 X2)

Gm (Y 1 Y 2 )
KGa = PZ ((Y 1 Y e1 ) (Y 2 Y e 2 )
ln (Y 1 Y e1 ) (Y 2 Y e 2 )
Ket:
Gm

= mol gas inert/waktu. Luas penampang kolom

NA

= kmol zat terlarut per unit waktu

= luas interface per unit volume kolom

= luas penampang kolom

= tinggi isian

= tekanan

KGa

= koefisien perpindahan massa keseluruhan

Lm

= mol cairan bebas zat terlarut/waktu. Luas penampang kolom

= mol gas terlarut/mol gas inert pada fase gas

= mol gas terlarut/ mol pelarut inert paad fase cair


Pada peristiwa absorbsi dimana terjadi reaksi kimia, yaitu reaksi

kimia antara gas CO2 terlarut yang akan diabsorbsi oleh larutan NaOH,
banyaknya CO2 yang terkandung dalam NaOH setelah direaksikan
dapat dihitung dengan melakukan titrasi kembali, yaitu dengan HCl
dan dua indikator, PP(phenolptalin), pH=8,3) dan Metil Orange,
pH=3,84
Dalam menetukan ukuran menara absorbsi, faktor yang penting
diperhitungkan adalah jumlah satuan perpindahan massa (NTU) dan
tinggi satuan perpindahan (HTU)

Djs art work

NTU dapat dihitung dari intgrasi perubahan komposisi per unit


driving force.
NTU =

Z x KGa x P
Gm

III. ALAT DAN BAHAN PERCOBAAN


1.

NaOH

2.

HCl

3.

Absorber

4.

Compressor

5.

Erlenmeyer

6.

Stopwatch

7.

Gas CO2

8.

Manometer

9.

Pompa

10.

Bubble Shopmeter

11.

Sabun

IV. PROSEDUR
1. Kalibrasi
Larutan penyerap

Dibuka penuh kran by pass (KL1),KL4 dan KL5

Ditutup kran KL2, KL3 and KL6

Pompa dinyalakan

Dibuka dan diatur kran KL1 dan KL2 sampai diperoleh skala yang
diinginkan pada manometer ML, diatur KL1 bila perlu

Cairan yang keluar dari keluaran Lo ditampung setiap selang waktu


tertentu dilakukan minimum tiga kali

Langkah 4 dan 5 diulangi untuk skala yang lain, operasi dihentikan

Udara

Dibuka penuh kran by pass (KU1) dan kran KU3 diarahkan ke


samping

Kran KU2 ditutup

Dipasang selang ke SU dan dihubungkan ke Bubble Shopmeter

Djs art work

Kompressor dinyalakan

Kran KU2 dibuka dan diatur KU1 bila perlu hingga diperoleh skala
yang diinginkan pada manometer MU

Tempat cairan sabun ditekan dan waktu yang diperlukan oleh


gelembuing

sabun

untuk

mencapai

volume

tertentu

diukur,

dilakukan tiga kali

Langkah 5 dan 6 diulangi untuk skala yang lain. Operasi dihentikan

Gas CO2

Ditutup penuh kran KC3 pada tabung CO2dan KC4 diarahkan ke


samping

Kran KC 2 dibuka sedikit

Dipasang selang ke SC dan dihubungkan dengan bubble shopmeter

Kran KC1 dibuka pelan

Kran KC3 dibuka pelan sampai diperoleh skala yang diinginkan


pada manometer MC3

Tempat larutan sabun ditekan dan diukur waktu yang diperlukan


oleh gelembung sabun untuk mencapaivolume tertentu dilakukan
tiga kali

Diulangi

langkah

dan

untuk

skala

yang

lain,

operasi

diberhentikan
2. Absorbsi

Dihitung dan ditentukan skala manometer dengan kecepatan yang


diinginkan

Mengalirkan larutan penyerap

Mengalirkan udara

Mengalirkan CO2

3. Titrasi

Standarisasi NaOH dengan asam oksalat 0,1 N dengan indikator pp

Standarisasi HCl dengan NaOH dengan indikator pp

Titrasi sampel dengan HCl dengan bantuan indikator pp dan MO

V. DATA PERCOBAAN & PERHITUNGAN

Djs art work

Kalibrasi

Larutan
Skala

: Air yang didapat setelah 5 detik

120

: Air yang didapat setelah 5 detik

180

: Air yang didapat setelah 5 detik

230

: Air yang didapat setelah 5 detik

ml
Skala

2
ml

Skala

3
ml

Skala

233,33
Skala

: Air yang didapat setelah 5 detik

280,00

ml
=

ml

Udara (P = 1,8 Kg/cm 2 )


Skala

: Kecepatan gelembung sabun =

8,29 dtk

Skala

: Kecepatan gelembung sabun =

3,48 dtk

Skala

: Kecepatan gelembung sabun =

2,34 dtk

Skala

: Kecepatan gelembung sabun =

2,10 dtk

Skala

: Kecepatan gelembung sabun =

1,59 dtk

CO 2 (P= 0,5 Kg/cm 2 )


Skala

: Kecepatan gelembung sabun

8,83

4,53

3,30

2,64

dtk
Skala

: Kecepatan gelembung sabun

dtk
Skala

: Kecepatan gelembung sabun

dtk
Skala

: Kecepatan gelembung sabun

dtk

Djs art work

Skala

: Kecepatan gelembung sabun

2,35

dtk
Pembuatan Larutan
Larutan NaOH (Mr= 40) 0,045 N ; 100 ml

N x BE x ml
1000

0,045 x 40 1 x 100
= 0,18 gram
1000

Larutan H 2 C 2 O 4 . 2H 2 O (Mr = 126) 0,045 N ; 100 ml

N x BE x ml
1000

0,045 x 126 2 x 100


= 0,2835 gram
1000

Larutan HCl (32% ; Bj = 1,16 gr/ml ; Mr = 36,5) 0,05

N ; 200 ml
N

% x Bjx1000
32 x 1,16 x1000
=
= 10,169 N
100 xBE
100 x36,5 1

V1 x N1 = V2 x N2
200 x 0,05 = V 2 x 10,169
V 2 = 0,98 ml
Standarisasi
Standarisasi NaOH dengan Asam Oxalat (H 2 C 2 O 4 .

2H 2 O)

N ox a l a t X V ox al a t = N Na O H X V N a OH
0,05 N

X 10 ml = N Na O H X 11,3 ml
N N a OH 1 = 0,0398 N = 0,04

Standarisasi HCl dengan NaOH 0,04 N


N HC l X V H Cl = N Na O H X V N a OH

Djs art work

10 ml

X N H Cl = 0,04 N

X 12 ml

N H Cl 1 = 0,048 N

Absorbsi

Perbedaan tekanan bottom dan Up = 7,5 Kgcm-2

Pressure gauge

= 8,0 Kgcm-2

Pressure gas CO2

= 0,5 Kgcm-2

Pressure udara

= 1,8 Kgcm-2

Floading

NaOH

= 8,0 Kgcm-2

Cairan

= 11,5 Kgcm-2

Udara

= 17,0 Kgcm-2

Gas CO2 = 0,0 Kgcm-2

Perbedaan tekanan = 15,0 Kgcm-2

Data Titrasi
Phenol Pthaleine / PP
Input (ml)

Output (ml)

0,9

1,1

0,8

0,7

0,7

Input (ml)

Output (ml)

2,8

3,9

3,7

4,7

3,6

5,7

Botol
1

Methyl Orange / MO
Botol
1

Djs art work

4,7

4,0

3,7

4,8

Kadar NaOH dan kadar Na 2 CO 3


NaOH

Na 2 CO 3 =

(V HClmo V HClpp ) x N HCl


V Sampel

(V HClmo ) x N HCl
V Sampel

Contoh perhitungan
Input 1
VHCl pp = 0,9 mL ; VHCl m o = 2,8 mL

NaOH

Na 2 CO 3 =

(0,9 2,8) x 0,048


= 0,018 N
5

2,8 x 0,048
5

= 0,027 N

Hasil Perhitungan
Kadar Normalitas NaOH
Input (N)

Output (N)

0.018

0,0

0,025

0,0

0,027

0,0

0,038

0,0

0,029

0,0

Botol
1

Kadar Normalitas Na2CO3


Input (N)

Output (N)

0,027

0,037

0,036

0,045

0,035

0,055

Botol
1

Djs art work

0,045

0,038

0,036

0,046

Gm (Y 1 Y 2 )
KGa = PZ ((Y 1 Y e1 ) (Y 2 Y e 2 )
ln (Y 1 Y e1 ) (Y 2 Y e 2 )
Gm =

udara x LajuVolumetrikUdara(skala5)
BMudara x LuasPenampang
Udara

udara =
Gm =
Y1 =
=
Lm =
=

BMudara x Pudara
= 3,265 gr/L
R xT

3,265gr / L x 0,214L / det


28,97gr / mol x (2,5cm2 )

= 1,23 x 10-3 mol/cm2.det

KecepatanVolumetrikCO2 (skala5)
KecepatanVolumetrikUdara(skala5)
3,30det
= 1,4103
2,34det

NaOH x LajuVolume
trik NaOH
BM NaOH x LuasPenampang
Kolom

3,265gr / L x (0,183L / 5 det)


40gr / mol x (2,5cm2 )

= 1,53 x 10-4 mol/cm2.det

Contoh Perhitungan X1 dan X2


Bot
ol
1
2
3
4
5
X1 =
=
X2 =

mol NaOH
Input( Output
N)
0,090
0,125
0,135
0,190
0,145

(N)
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0

mol Air
Input( Output
N)
0,5556
0,5556
0,5556
0,5556
0,5556

(N)
0,5556
0,5556
0,5556
0,5556
0,5556

mol CO2 out


mol H 2O out
0,090
= 0,1620
0,5556

molCO2 in
molH2O in

Djs art work

0
= 0,0
0,5556

Gm(Y1 Y2)

= Lm(X1 X2)

1,23 x 10-3 mol/cm2.det (1,4103 Y2)

= 1,53 x 10-4 mol/cm2.det

(0,162)
Y2

= 1,39

Dengan cara yang sama didapat:


Botol

X2(in)

X1(out
)

X1 - X2

0,1620

-0,1620

0,2250

-0,2250

0,2430

-0,2430

0,3420

-0,3420

0,2610

-0,2610

Y2
0,0013
9
0,0013
8
0,0013
8
0,0013
7
0,0013
8

Ye = m x
Ye (in) = m x (in)

atau

Y e out = m x (out)

Contoh perhitungan Ye in dan Ye out:


Ye (in) = 2,84 x 0,1620 = 0,4601
Ye out = 2.84 x 0

= 0,0

Dengan cara yang sama didapat:


Botol

Ye(in)

Ye(out)

1
2
3
4
5

0,4601
0,6390
0,6901
0,9713
0,7412

0
0
0
0
0

Sampel 1 (masukkan angka-angka yang diperoleh) :

Gm (Y1 Y 2 )
KGa = PZ ((Y1 Y e1 ) (Y 2 Y e 2 ) = 3,857 x 10-3 mol/atm.cm3.det
ln (Y1 Y e1 ) (Y 2 Y e 2 )

Djs art work

Z x KGa x P
= 366,89
Gm

NTU =

Dengan cara yang sama didapat:


Botol

KGa

3,857E-03

5,255E-03

5,746E-03

10,375E-03

6,296E-03

NTU
366,8
90
499,8
72
546,5
70
986,8
90
598,8
90

VI. PEMBAHASAN
Pada

absorpsi

gas

uap

yang

dapat

larut

diserap

dari

campurannya dengan gas tak aktif atau gas lemban (gas inert) dengan
bantuan zat cair dimana gas terlarut (solute gas) dapat larut, banyak
atau sedikit. Zat terlarut itu kemudian dipulihkan dari zat cair dengan
cara stripping, sedang zat cair yang meresap selanjutnya dapat
dibuang atau digunakan kembali. Kadang-kadang zat terlarut itu
dikeluarkan dari zat cair mengontakkannya dengan gas lemban.
Dan pada proses absorbsi juga, massa ditransfer secara
konveksi dimana dalam fase gas disebabkan karena adanya perbedaan
tekanan dalam fase cair karena adanya perbedaan konsentrasi. Karena
adanya perbedaan ini terjadi difusi molekul gas tertentu melalui gas
film, baru setelah itu menembus ke dalam cairan film dan baru disebut
cairan utama.
Dengan adanya dua proses tersebut zat terlarut yang terdapat
dalam gas dapat diserap dengan cairan sebagai media penyerapnya
karena terdapat pebedaan tekanan antara dan adanya pebedaan
tekanan
VII.KESIMPULAN
Dari percobaan didapatkan bahwa nilai normalitas suatu CO 2
semakin lama semakin naik dan konsentrasi NaOH semakin

Djs art work

lama semakin turun tetapi pada praktikum ini tidak seperti


yang diharapkan karena faktor penambahan NaOH di tengah
praktikum.
Perbedaan tekanan dapat mengabsorbsi zat terlarut dalam suatu
gas dengan media sebagai moderator
Kenaikan angka pada percobaan kedua atau ketiga disebabkan
oleh penambahan NaOH yang diberikan setengah daripada
sebelumnya
Pada praktikum ini didapat nilai koefisien perpindahan massa
keseluruhan dan semakin lama semakin turun tetapi pada
percobaan ketiga

nilai

K Ga naik kembali disebabkan oleh

penambahan NaOH di tengah praktikum.


Pada praktikum ini didapat jumlah perpindahan massa semakin
lama semakin turun tetapi pada percobaan ketiga

nilai NTU

naik kembali disebabkan oleh penambahan NaOH di tengah


praktikumjumlah satuan perpindahan massa
VIII.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimus, 2003. Penuntun Praktikum Operasi Teknik Kimia,


Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Mc Cabe, 1990. Operasi Teknik Kimia, Jilid I. Erlangga. Jakarta
Smith J. M. and Van Ness, H. C., 1999. Introduction to Chemical
Engineering Thermodynamics, Second Edition. Mc Graw Hill.
New York

Djs art work