Anda di halaman 1dari 49

CASE

REPORT

FISTULA PREAURIKULA

Disusun oleh:
Greysia Manarisip (1161050154)
Pembimbing:
Dr. Bambang Suprayogi, Msi.Med. Sp. THT-KL

KEPANITERAAN ILMU PENYAKIT THT


PERIODE 14 Desember 2015 23 Januari 2016
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA

DATA PASIEN
: W.N
Nama
No.RM
: 231470
Jenis kelamin : Laki-Laki
: 18 tahun
Umur
: Islam
Agama
: Pelajar (SLB)
Pekerjaan
: srandakan bantul
Alamat
Tanggal masuk RSUD : 2 november 2013

ANAMNESIS

Keluhan Utama:
benjolan kemerahan di telinga kanan dan terasa nyeri.

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang dengan keluhan sejak 5 hari yang lalu terdapat benjolan pada
bagian depan dari daun telinga kanannya. Benjolan terasa nyeri, panas, dan
kulit di sekitar benjolan memerah. Di dekat benjolan tersebut terdapat lubang
kecil di ujung telinga. Terkadang dari lubang kecil tersebut keluar cairan
berupa nanah, namun cairan yang keluar hanya sedikit. OS merasa sangat
terganggu sekali. OS mengaku sudah sempat memeriksakan diri ke
puskesmas, diberi obat minum (OS mengaku tidak tahu obat apa) namun tidak
ada perbaikan.

OS juga mengeluh nyeri tenggorokan. Nyeri telan (-). Dari autoanamnesis


dengan ibu OS, didapatkan informasi OS sering mengalami batuk dan
pilek kambuh-kambuhan. Bila batuk keluar lendir berwarna putih kental.
Bila tidur, OS mendengkur. Ibu OS juga mengatakan bila telinga sebelah
kiri sudah tuli sejak lahir.

Keluhan keluar cairan, dan darah dari lubang telinga kanan (-), Riwayat
terbentur/trauma pada telinga/kepala (-). Demam (-), pusing (-). Riwayat
alergi obat dan makanan (-), penyakit kencing manis (-), penyakit jantung
(-), darah tinggi (-), riwayat penyakit Asthma (-) , penyakit paru kronis
lainnya dan penyakit ginjal (-).

Riwayat Penyakit Dahulu :


Pada bulan agustus 2013, OS pernah mengalami penyakit serupa ( benjolan
juga pada telinga kanan). Pada waktu itu OS berobat ke poli THT RSUD
Panembahan Senopati, kemudian dilakukan tindakan (insisi). Dari benjolan
keluar darah dan nanah sekitar 6 cc. Setelahnya kemudian OS membaik.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Riwayat menderita penyakit yang serupa disangkal.

Kepala
:
Normocephal, rambut hitam dengan distribusi
merata dan tidak mudah dicabut.
Mata
:
Konjungtiva anemis -/- , sklera ikterik -/-, pupil bulat
isokor kanan dan kiri, refleks cahaya langsung +/+,
refleks cahaya tidak langsung +/+.
Hidung
:
tidak tampak kelainan, deviasi septum (-), sekret (-).
Telinga
: terdapat benjolan ditelinga kanan ,
serumen -/Mulut dan bibir
: Tidak sianosis, mukosa tidak kering
Leher
: Trakea lurus di tengah, tidak teraba massa

Status Lokalis THT


Kanan
Pemeriksaan telinga
Bentuk telinga luar
Terdapat benjolan sebesar biji
salak berisi cairan di
preaurikular, kemerahan (+) ,

Kiri
Normal
Deformitas (-), terdapat saluran
kecil di depan heliks

nyeri tekan (+)


Deformitas (+) terdapat saluran
kecil di depan heliks
Daun telinga

nyeri tekan tragus (+), nyeri

Normotia, nyeri tarik (-), nyeri

tarik (-), nyeri tekan mastoid (-)

tekan tragus (-), nyeri tekan


mastoid (-)

Retroaurikular
Mukosa
Sekret

Sikatriks(-), fistel (-)

Sikatriks(-), fistel (-)

Hiperemis (-)

Hiperemis (-)

(-)

(-)

Membran

Utuh, hiperemis (-),

MT tidak terlihat /

timpani

reflex cahaya jam 5,

terindentifikasi

warna putih mengkilat,


perforasi -, retraksi -

Tes Penala
Test
Rinne
Weber
swabach
Penala yg digunakan

Kanan

Kiri

Lateralisasi ke telinga kanan


Pasien=pemeriksa

Pasien tidak
mendengar

512 Hz

512 Hz

Pemeriksaan hidung
Kanan

Kiri

Deformitas

Tidak ada

Tidak ada

Nyeri tekan

Dahi (-), pipi (-), depan

Dahi (-), pipi (-), depan

telinga (-)

telinga (-)

Dahi (-), pipi (-), depan

Dahi (-), pipi (-), depan

telinga (-)

telinga (-)

(-)

(-)

Nyeri ketuk

Krepitasi
Transluminasi

Terang pada sinus maksilaris Terang pada sinus maksilaris

Rhinoskopi Anterior
Kanan

Kiri

Sekret (-), krusta (-)

Sekret (-), krusta (-)

Konka inferior

Hipertrofi (-), hiperemis (-)

Hipertrofi (-), hiperemis (-)

Konka media

Sulit dinilai

Sulit dinilai

Konka superior

Sulit dinilai

Sulit dinilai

Pus (-), polip (-)

Pus (-), polip (-)

Lapang

Lapang

Hiperemis (-)

Hiperemis (-)

Sekret

(-)

(-)

Septum

Deviasi (-)

Deviasi (-)

Dasar hidung

Normal

Normal

Aliran Udara

Hambatan (-)

Hambatan (-)

Vestibulum

Meatus nasi media


Kavum nasi
Mukosa

Pemeriksaan Tenggorok

Anatomi Telinga

FISIOLOGI PENDENGARAN

EMBRIOLOGI TELINGA LUAR

TelingaLuar
Telinga luar berasal dari kantong dan celah brankial 1
danperkembangannya mulai pada minggu ke-4
kehamilan.

DaunTelinga
Pertumbuhan daun telinga dimulai pada minggu ke-4 dari
kehidupan fetus, dimana bagian mesoderm dari cabang 1
dan 2 brankial membentuk 6 tonjolan (Hillock of His) yang
mengelilingi perkembangan liang telinga luar dan
kemudian bersatu untuk membentuk daun telinga dan
telinga dengan pembagian sebagai berikut:

Cabang brankial 1 :
Tonjolan 1 :
membentuk tragus
Tonjolan 2 :
membentuk krus
helisis
Tonjolan 3 :
membentuk heliks
Cabang brankial 2 :
Tonjolan 4 :
membentuk anti heliks
Tonjolan 5 :
membentuk anti tragus
Tonjolan 6 :
membentuk lobulus
dan heliks bagian
bawah

Anatomi Telinga Luar

FISTULA PREAURIKULAR
Merupakan kelainan kongenital telinga luar yang berupa
lubang berbentuk bulat lonjong dengan ukuran seujung
pensil. Ditemukan di depan tragus.
Suatu kanal/lubang/traktus yang didasari oleh epitel
skuamosa yang
bermula di sekitar daun telinga.

Fistula preaurikular
kongenital

FISTULA PREAURIKULAR
Terjadi ketika pembentukan daun telinga pada masa
embrio. Kelainan ini berupa gangguan embrional pada
arkus brakial 1 dan 2.
Fistula preaurikular merupakan kelainan kongenital yang
diturunkan secara autosomal dominan inkomplit.

Kelainan ini dapat muncul secara spontan. Fistula dapat


terjadi secara bilateral pada 25-50% kasus dan fistula
preaurikular bilateral lebih sering herediter.

ETIOLOGI
KONGENITAL
Terbentuk akibat gangguan embrional berupa kegagalan
penggabungan dan penutupan arkus brankialis pertama
dan kedua dari Hillocks of His.
Pada usia janin 4 minggu arkus brankialis tampak di
permukaan janin.

Setelah minggu ke-6 arkus hioid dan arkus mandibular


menyatu dan melintas di bawah kedudukan CAE, lalu
kemudian menutup, menyatu di leher regio sub mandibular.

Muara fistula terletak pada krus helisis, sebagian yang


lain meluas dari pinggir bawah heliks ke sudut mulut.

Fistula preaurikular biasanya ditemukan pada lateral,


superior dan posterior dari nervus fasialis dan kelenjar
parotis. Pada hampirsemua kasus, salurannya terhubung
ke perikondrium dari kartilago daun telinga. Salurannya
dapat mengarah ke kelenjar parotis.

Dari muara fistula sering keluar cairan yang


berasal dari kelenjar sebasea.
Fistula ini sering menjadi infeksi dan bakteri yang
sering menyebabkan infeksi ini adalah :
Staphylococcus epidermidis (31%)
Staphylococcus aureus (31%)
Streptococcus viridans (15%)
Peptococcus species (15%)
Proteus species (8%)

Gambaran Klinis

Asimptomatik
Nyeri
Bengkak
Abses
Keluar cairan

Gambaran Histologi
Sinus preaurikular terdiri dari struktur tubular yang sederhana atau pola
arborise pada dindingnya, tipis dan berkilau atau putih dan menebal

Patogenesis
Selama embriogenesis aurikula muncul dari
arkus brakial 1 dan 2 pada minggu ke 6 kehamilan
Arkus-arkus tersebut terpisah satu dengan lainnya
oleh celah brakial ektoderm ke arah luar dan oleh
kantong faringeal endoderm ke arah dalam
Arkus brakial 1 dan 2 brakial masing-masing
membentuk 3 tonjolan (hillocks) hillocks if his
tiga hillocks muncul dari tepi bawah arkus brakial
1 dan 3 dari batas atas arkus brakial kedua
hillocks ini seharusnya bergabung selama
beberapa minggu kemudian pada masa
embriogenesis kegagalan penggabungan
fistel preaurikular

INSIDENSI
Insiden di Amerika Serikat diperkirakan 00,9% sedangkan
di New York 0,23%. Di beberapa negara Asia dan Afrika
insiden
diperkirakan 410%.
Di RSUP Dr. Sardjito Jogyakarta (1998) terdapat 4 kasus
fistula aurikula kongenital yang dilakukan pembedahan
karena terjadi infeksi yang berulang.

Di RSUP H. Adam Malik Medan (Januari 2000 Pebruari


2004)
ditemukan 12 kasus fistula preaurikular kongenital.

GEJALA KLINIS

1. Asimptomatik. Hanya sepertiga orang menyadari


adanya kelainan ini.
2. Pasien yang datang, biasanya telah ada drainase
kronik, intermitten, dengan material purulen, di
tempatnya yang terbuka.
3. Pasien umumnya datang setelah terjadi obstruksi
dan infeksi fistel (rasa sakit & bengkak di depan
telinga serta demam).
4. Pasien mungkin datang dengan selulitis fasial atau
ulserasi yang berlokasi padabagian depan telinga.
Ulserasi ini sering diobati tanpa mengetahui
sumberprimernya dan fistula preaurikular menjadi

DIAGNOSIS
Anamnesa riwayat keluarga
Pada inspeksi, ditemukannya muara fistula di depan
telinga, muncul sebagai celah kecil, pada arah tepi
depan heliks asendens.
Infeksi: tanda-tanda radang disertai pengeluaran
sekret, dan gejala sisa jaringan parut (scarring)
Pemeriksaan radiologi (fistulografi) dilakukan untuk
mengetahui panjang fistula

Diagnosis Banding

Furunkel
Kista Sebasea
Body Piercing

Laboratorium dan
Radiologi
Kultur pus
Fistula probing
Fistulography
Ultrasonography

PENATALAKSANAAN

Pencegahan infeksi
membersihkan muara dari
sumbatan dengan alkohol atau cairan antiseptik lainnya
secara
rutin.
Kompres
hangat
Pemberian antibiotik (tidak diperlukan apabila tidak
ada tanda infeksi dan harus berdasarkan uji
sensitivitas antibiotik)
Jika terdapat abses, abses tersebut harus diinsisi dan
didrainase dan eksudat harus dikirim untuk dilakukan
pengecatan gram dan kultur untuk dapat memilih
antibiotik yang tepat.
Pengangkatan Fistel

FOLLOW UP
Perawatan pasien Rawat Inap
Jika fistula terbentuk kembali, fistula tersebut harus diangkat
secara penuh.
Perawatan pasien Rawat Jalan
Jika fistula preaurikular mengalami infeksi yang berulang dan
pasien tidak ingin dioperasi, sekret yang dihasilkan pada fistula
tersebut dapat di kultur untuk mengetahuipemberian antibiotik
yang tepat yang dapat mengkover kuman penyebabnya.
Pengobatan Pasien Rawat Inap dan Rawat Jalan
Biasanya, tidak ada obat yang harus diberikan, tetapi jika infeksi
terjadi, antibiotik dapat diberikan. Sekret dari fistula harus di
kultur sebelum pemberian antibiotik.
Pencegahan
Jika fistula mengalami infeksi yang berulang, ini dapat diangkat
dengan tindakan operasi (diseksi & eksisi komplit).

TEKNIK OPERASI
KESULITAN SAAT OPERASI
Adanya percabangan fistula sehingga sulit untuk
menentukan luas keseluruhan saluran. Selama eksisi
pembedahan, harus diingat bahwa salurannya dapat
berkelok-kelok dengan cabang-cabangnya di subkuta-neus.
Diseksi sampai ke periosteum dari tulang temporal
biasanya dibutuhkan, dan semua cabang-cabang dari
salurannya harus diangkat untuk mencegah infeksi yang
berulang.
Pengangkatan yang tidak lengkap menimbulkan sinus yang
mengeluarkan cairan sehingga membutuhkan
pengangkatan yang lebih sulit dan lebih radikal.

Gambar 1.
Pada saat memulai
operasi, saluran diisi
melalui muaranya
dengan
methylene blue atau
brilliant green.

Menyuntikkannya harus
menggunakan
tekanan yang lembut untuk
memperlihatkan garis bentuk seluruh
sistem saluran.
Prosedur ini untuk memudahkan
diseksi selanjutnya; pewarnaan
keseluruhan jaringan yang
mengelilingi fistula harus dihindarkan.

Gambar 2.
Dibuat insisi berbentuk oval mengelilingi
muara fistula. Selanjutnya diseksi
diteruskan sampai ke saluran dan
kantong fistula. Diseksi ini
menggunakan gunting lengkung.

Gambar 3.
Bagian yang bergerak dari sistem
saluran dipegang secara hati-hati
dengan forsep dan dengan sedikit
penarikan dapat membebaskan
jaringan yang tidak terlihat.

Gambar 4.
Menunjukkan suatu fistula preaurikular
yang buntu dilengkapi oleh dua saluran
ke kartilago dari anterior tepi heliks
sesudah diseksi komplit;

KOMPLIKASI
Infeksi pada salurannya dengan pembentukan abses atau
ulserasi.
Infeksi dan ulserasi dapat terjadi pada bagian jauh dari
tempatnya yang terbuka.
Kekambuhan post operasi
ekstirpasi saluran fistula.

merupakan

komplikasi

dari

Komplikasi paska operasi yang juga dapat terjadi adsalah


paralisis fasialis.
Sebagian kekambuhan terjadi masa-masa awal setelah
operasi, berlangsung dalam 1 bulan prosedur. Kekambuhan
harus dicurigai ketika discharge dari saluran sinus tetap ada.

Komplikasi

Perdarahan
Infeksi
Paralisis Fasialis
Pembentukan Jaringan fibrotik atau keloid
Rekurensi

Identifikasi Saraf Fasialis

PROGNOSIS
Fistula preaurikular kongenital umumnya memiliki
prognosis yang baik.
Jika fistula preaurikular kongenital ini ditanggulangi
secara terampil dan cermat maka hasilnva akan
memuaskan dan kecil kemungkinan untuk residif.
Eksisi yang tidak komplit dapat menyebabkan
rekurensi fistel preaurikuler.
Insidensi rekurensi terjadi sekitar 0-42%.