Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Kebijakan pemerintah untuk menaikan harga bahan bakar minyak
(BBM) dalam negeri menyebabkan perubahan perekonomian secara drastis.
Kenaikan BBM ini akan diikuti oleh naiknya harga barang-barang dan jasajasa di masyarakat. Kenaikan harga barang dan jasa ini menyebabkan tingkat
inflasi di Indonesia mengalami kenaikan dan mempersulit perekonomian
masyarakat terutama masyarakat yang berpenghasilan tetap.
Jika terjadi kenaikan harga BBM di negara ini, akan sangat
berpengaruh terhadap permintaan (demand) dan penawaran (supply).
Permintaan adalah keinginan yang disertai dengan kesediaan serta
kemampuan untuk membeli barang yang bersangkutan (Rosyidi, 2009:291).
Sementara penawaran adalah banyaknya jumlah barang dan jasa yang
ditawarkan oleh produsen pada tingkat harga dan waktu tertentu.
Permintaan dari masyarakat akan berkurang karena harga barang dan
jasa yang ditawarkan mengalami kenaikan. Begitu juga dengan penawaran,
akan berkurang akibat permintaan dari masyarakat menurun. Harga barangbarang dan jasa-jasa menjadi melonjak akibat dari naiknya biaya produksi dari
barang dan jasa. Ini adalah imbas dari kenaikan harga BBM. Hal ini sesuai
dengan hukum permintaan, Jika harga suatu barang naik, maka jumlah
barang yang diminta akan turun, dan sebaliknya jika harga barang turun,
jumlah barang yang diminta akan bertambah (Jaka, 2007:58).

Page 1

Masalah lain yang akan muncul akibat dari kenaikan harga BBM
adalah kekhawatiran akan terhambatnya pertumbuhan ekonomi. Ini terjadi
karena dampak kenaikan harga barang dan jasa yang terjadi akibat komponen
biaya yang mengalami kenaikan. Kondisi perekonomian Indonesia juga akan
mengalami masalah. Daya beli masyarakat akan menurun, munculnya
pengangguran baru, dan sebagainya.
Inflasi yang terjadi akibat kenaikan harga BBM tidak dapat atau sulit
untuk dihindari, karena BBM adalah unsur vital dalam proses produksi dan
distribusi barang. Disisi lain, kenaikan harga BBM juga tidak dapat dihindari,
karena membebani APBN. Sehingga Indonesia sulit untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi, baik itu tingkat investasi, maupun pembangunanpembangunan lain yang dapat memajukan kondisi ekonomi nasional.
Dengan naiknya tingkat inflasi, diperlukan langkah-langkah atau
kebijakan-kebijakan

untuk

mengatasinya,

demi

menjaga

kestabilan

perekonomian nasional. Diperlukan kebijakan pemerintah, dalam hal ini Bank


Sentral yakni Bank Indonesia untuk mengatur jumlah uang yang beredar di
masyarakat. Jumlah uang yang beredar di masyarakat ini berhubungan dengan
tingkat inflasi yang terjadi. Banyaknya uang yang beredar di masyarakat ini
adalah dampak konkret dari kenaikan harga BBM.
Bank Indonesia selaku lembaga yang memiliki wewenang untuk
mengatasi masalah ini, selain pemerintah tentunya, bertugas untuk mengatur
jumlah uang yang beredar di masyarakat. Salah satu langkah yang dilakukan
untuk mengatasi inflasi ini adalah dengan mengatur tingkat suku bunga.
Kebijakan menaikan dan menurunkan tingkat suku bunga ini dikenal dengan
sebutan politik diskonto yang merupakan salah satu instrumen kebijakan
moneter.

Page 2

Dari latar belakang diatas, maka dalam makalah ini penulis akan
membahas mengenai Dampak Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM)
Terhadap Tingkat Inflasi dan Perekonomian Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun masalah-masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah
mengenai dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terhadap
perekonomian Indonesia, yang didalamnya juga berdampak pada tingkat
inflasi. Masalah ini diambil karena kenaikan harga BBM dapat mempengaruhi
kondisi perekonomian nasional. Dalam makalah ini, penulis merumuskan
masalah sebagai berikut :
1. Apa saja dampak dari kenaikan harga BBM?
2. Bagaimana dampak kenaikan harga BBM terhadap inflasi dan
perekonomian Indonesia?
3. Bagaimana langkah yang ditempuh pemerintah untuk mengatasi inflasi
yang disebabkan oleh Kenaikan harga BBM ?
1.3 Tujuan Masalah
Dari masalah diatas, secara garis besar tujuan dari penyusunan
makalah ini adalah untuk menjelaskan mengenai dampak dari kenaikan harga
BBM. Adapun tujuan dari makalah ini adalah agar dapat mengetahui secara
jelas mengenai :
1. Dampak dari kenaikan harga BBM, baik itu dampak positif maupun
dampak negatifnya.
2. Dapat mengetahui

mengenai

dampak

kenaikan

harga

BBM

terhadap inflasi yang akan terjadi.


3. Mengetahui langkah-langkah pemerintah dalam mengatasi inflasi.

1.4 Manfaat Makalah

Page 3

Makalah ini disusun dengan harapan dapat memberikan kegunaaan


atau manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis,
makalah ini berguna sebagai pengembangan ilmu, sesuai dengan
masalah yang dibahas dalam makalah ini. Secara praktis, makalah ini
diharapkan bermanfaat bagi:
1. Penulis, seluruh kegiatan penyusunan dan hasil dari penyusunan
makalah ini diharapkan dapat menambah pengalaman, wawasan dan
ilmu dari masalah yang dibahas dalam makalah ini;
2. Pembaca, makalah ini daharapkan dapat dijadikan sebagai sumber
tambahan dan sumber informasi dalam menambah wawasan pembaca.

Page 4

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Landasan Teoretis


2.1.1

Pengertian Inflasi
Dalam ilmu ekonomi, kata inflasi sering muncul, terutama jika dalam

pembahasan mengenai ilmu ekonomi makro. Begitu juga dalam masalah


keuangan dan perbankan. Secara sederhana, inflasi dapat diartikan sebagai
turunnya atau melemahnya nilai mata uang akibat banyaknya jumlah uang
yang beredar dimasyarakat. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata
inflasi memiliki arti kemerosotan nilai uang (kertas) karena banyaknya dan
cepatnya uang (kertas) beredar sehingga menyebabkan naiknya harga barangbarang (Depdiknas, 2005:423).
Menurut Jaka (2007:113) menyatakan, Inflasi adalah suatu gejala
ekonomi dimana terjadi kemerosotan nilai uang karena banyaknya uang yang
beredar atau suatu keadaan yang menyatakan terjadinya kenaikan harga-harga
secara umum dan menunjukan suatu proses turunnya nilai uang secara
continue.
Pendapat lain menyatakan bahwa inflasi adalah proses meningkatnya
harga-harga secara umum dan terus-menerus berkaitan dengan mekanisme
pasar yang disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat
yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau
bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran
distribusi barang (Samuelson, 1986:292). Inflasi terjadi apabila tingkat harga
dan biaya umum naik; harga bahan pokok, harga bahan bakar, tingkat upah,
harga tanah, sewa barang-barang modal juga naik (Samuelson, 1986:293).

Page 5

Ada beberapa pengertian inflasi yang disampaikan para ahli. Menurut


A.P. Lehner, inflasi adalah keadaan dimana terjadi kelebihan permintaan
(Excess Demand) terhadap barang-barang dalam perekonomian secara
keseluruhan. Ahli yang lain, yaitu Ackley memberi pengertian inflasi sebagai
suatu kenaikan harga yang terus menerus dari barang dan jasa secara umum
(bukan satu macam barang saja dan sesaat). Sedangkan menurut Boediono,
inflasi sebagai kecenderungan dari harga-harga untuk naik secara umum dan
terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat
disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada atau
mengakibatkan kenaikan sebagian besar dari barang-barang lain.
Dalam definisi lain, inflasi merupakan proses dimana terjadinya
kenaikan harga barang-barang dan jasa-jasa secara menyeluruh dalam satu
periode tertentu, biasanya dalam satu tahun. Inflasi terjadi ketika harga
mengalami

kenaikan,

sementara

nilai

uang

mengalami

penurunan.

Inflasi juga dapat diartikan sebagai proses menurunnya nilai mata uang yang
diakibatkan karena jumlah uang yang beredar di masyarakat lebih banyak
dibandingkan jumlah barang dan jasa yang tersedia. Berdasarkan berbagai
definisi yang telah dikemukakan di atas, maka dapat diambil kesimpulan
bahwa secara umum inflasi adalah suatu gejala naiknya harga secara terusmenerus (berkelanjutan) terhadap sejumlah barang. Kenaikan yang sifatnya
sementara tidak dikatakan inflasi dan kenaikan harga terhadap satu jenis
komoditi juga tidak dikatakan inflasi.
2.1.2

Pengertian Perekonomian
Sebelum membahas perekonomian, perlu dibahas mengenai ilmu

ekonomi.

Menurut

Samuelson

(1986:5)

mengatakan,

Ilmu

ekonomi

merupakan suatu studi tentang perilaku orang dan masyarakat dalam memilih
dan menggunakan sumberdaya yang langka dan yang memiliki beberapa
alternatif penggunaan, dalam rangka memproduksi berbagai komoditi, untuk

Page 6

kemudian menyalurkannya - baik saat ini maupun dimasa depan kepada


berbagai individu dan kelompok yang ada dalam suatu masyarakat.
Sementara secara etimologi, kata ekonomi berasal dari bahasa Yunani,
yaitu Oikos,yang berarti rumah tangga, dan Nomos, yang berarti aturan. Jadi
ekonomi secara bahasa adalah aturan rumah tangga (Jaka, 2007:96). Secara
istilah ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari berbagai tindakan
manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang tidak terbatas dengan alat
pemuas kebutuhan yang terbatas.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, ekonomi diartikan sebagai ilmu
mengenai asas-asas produksi, distribusi dan pemakaian barang-barang serta
kekayaan (seperti keuangan, perindustrian dan perdagangan) (Depdiknas,
2005:287). Sementara perekonomian diartikan sebagai tindakan (aturan atau
cara) berekonomi (Depdiknas, 2005:287). Dalam suatu Negara, ekonomi
merupakan suatu tata kehidupan yang sangat penting. Perekonomian di suatu
Negara merupakan suatu system yang digunakan oleh pemerintah untuk
mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya, baik itu sumber daya alam
maupun sumber daya manusia.
2.1.3

Pembahasan
Pada bagian pembahasan ini, penulis membahas mengenai permasalahan-

permasalahan yang telah dirumuskan dalam rumusan masalah. Masalahmasalah ini dibahas dan disesuaikan dengan teori-teori yang sesuai dengan
permasalahan.
A. Jenis-Jenis Inflasi
I.
Berdasarkan Tingkat Keparahan
1.

Inflasi ringan (creeping inflation)


Besarnya inflasi ini di bawah 10% dalam setahun.

2.

Inflasi sedang
Besarnya inflasi antara 10% - 30% setahun.

Page 7

3.

Inflasi berat
Besarnya inflasi antara 30% - 100%.

4.

Hiperinflasi
Besarnya inflasi ini diatas 100% dalam setahun.

b.

Berdasarkan Sumbernya

1.

Importer Inflation
Inflasi ini berasal atau bersumber dari luar negeri, yang terjadi karena adanya
kecenderungan kenaikan barang-barang di luar negeri.

2.

Domestic Inflation
Inflasi ini berasal atau bersumber dari dalam negeri sendiri, yang akan
memengaruhi

pertumbuhan

perekonomian

dalam

negeri.

Domestic

inflation terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan
cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga mengalami
kenaikan.
c.

Berdasarkan Penyebabnya

1.

Demand Full Inflation


Adalah inflasi yang timbul karena adanya kenaikan yang sangat tinggi terhadap
permintaan barang dan jasa.

2.

Cost Push Inflation


Adalah inflasi yang terjadi karena adanya kenaikan biaya produksi barang-barang
dan jasa-jasa, bukan karena adanya ketidak seimbangan antara permintaan dan
penawaran.
Selain demand full inflation dan cost push inflation, ada beberapa jenis inflasi
jika dilihat dari faktor penyebabnya, yaitu:
1. Inflasi Tarikan Permintaan
Inflasi tarikan permintaan terjadi sebagai akibat dari adanya kenaikan permintaan
agregat (AD) yang terlalu besar atau pesat dibandingkan dengan penawaran atau
produksi

agregat.

2. Inflasi Dorongan Biaya


Inflasi dorongan biaya terjadi sebagai akibat adanya kenaikan biaya produksi yang
pesat dibandingkan dengan produktivitas dan efisiensi proses produksi dari suatu

Page 8

perusahaan.
3. Inflasi Struktural
Inflasi struktural terjadi akibat dari berbagai kendala atau kekakuan struktural
yang menyebabkan penawaran menjadi tidak responsif terhadap permintaan yang
meningkat.
2.

Penyebab Terjadinya Inflasi


Inflasi terjadi apabila tingkat harga dan biaya umum naik; harga bahan pokok,
harga bahan bakar, tingkat upah, harga tanah, sewa barang-barang modal juga
naik. Selain itu, inflasi juga diakibatkan oleh:

a.

Pengeluaran pemerintah lebih banyak dari permintaan,

b.

Adanya tuntutan upah yang tinggi,

c.

Adanya lonjakan permintaan barang-barang dan jasa-jasa,

d.

Adanya kenaikan dalam biaya produksi.


Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan (kelebihan
likuiditas/uang/alat tukar) dan yang kedua adalah desakan (tekanan) produksi dan
distribusi (kurangnya produksi (product or service) juga termasuk kurangnya
distribusi). Untuk sebab pertama lebih dipengaruhi dari peran negara dalam
kebijakan moneter (Bank Sentral), sedangkan untuk sebab kedua lebih
dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan eksekutor yang dalam
Hal ini dipegang oleh pemerintah ( Government ) seperti kebijakan fisikal
(perpajakan/pungutan/insentif/disinsentif),

kebijakan

pembangunan

infrastruktur dan regulasi.


Inflasi tarikan permintaan (demand pull inflation) terjadi akibat adanya
permintaan total yang berlebihan dimana biasanya dipicu oleh membanjirnya
likuiditas di pasar sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan
pada tingkat harga. Bertambahnya volume alat tukar atau likuiditas yang terkait
dengan permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya
permintaan terhadap faktor-faktor produksi tersebut. Meningkatnya permintaan
terhadap

faktor

produksi

itu

kemudian

menyebabkan

hargafaktor

produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam

Page 9

permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full


employment, dimanana biasanya lebih disebabkan oleh rangsangan volume
likuiditas dipasar yang berlebihan. Membanjirnya likuiditas di pasar juga
disebabkan oleh banyak faktor selain yang utama tentunya kemampuan bank
sentral dalam mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan suku bunga bank
sentral, sampai dengan aksi spekulasi yang terjadi di sektor industri keuangan.
Inflasi desakan biaya (cost push inflation) terjadi akibat adanya kelangkaan
produksi dan juga termasuk adanya kelangkaan distribusi, meskipun permintaan
secara umum tidak ada perubahan yang meningkat secara signifikan. Adanya
ketidak-lancaran aliran distribusi ini atau berkurangnya produksi yang tersedia
dari rata-rata permintaan normal dapat memicu kenaikan harga sesuai dengan
berlakunya hukum permintaan dan penawaran, atau juga karena terbentuknya
posisi nilai keekonomian yang baru terhadap produk tersebut akibat pola atau
skala distribusi yang baru. Berkurangnya produksi sendiri bisa terjadi akibat
berbagai hal seperti adanya masalah teknis di sumber produksi, bencana alam,
cuaca, atau kelangkaan bahan baku untuk menghasilkan produksi, aksi spekulasi
(penimbunan), sehingga memicu kelangkaan produksi yang terkait tersebut di
pasaran. Begitu juga hal yang sama dapat terjadi pada distribusi, dimana dalam
hal ini faktor infrastruktur memainkan peranan yang sangat penting.
Jika dihubungkan dengan kenaikan harga BBM, inflasi yang terjadi
disebabkan oleh adanya tekanan dalam proses produksi dan distribusi. Para
produsen akan mengurangi jumlah barang yang akan diproduksi atas
pertimbangan biaya produksi yang melonjak. Kalaupun proses produksi tetap
lancar, proses distribusi lah yang akan menghambatnya. Akibat dari kenaikan
harga BBM biaya atau ongkos untuk mendistribusikan barang hasil produksi akan
mengalami
semakin besar. Untuk menutupi sumber subsidi, salah satunya adalah kenaikan
pendapatan ekspor. Karena kenaikan harga minyak dunia juga mendorong naiknya
harga ekspor komoditas tertentu. Seperti kelapa sawit, karena minyak sawit
mentah (CPO) merupakan subsidi minyak bumi. Income dari naiknya harga CPO

Page 10

tidak akan sebanding dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk subsidi
minyak

3.

Dampak Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM)


Dalam situasi ekonomi masyarakat yang sulit, maka kenaikan BBM bisa
kontraproduktif. Kenaikan harga BBM akan menimbulkan kemarahan masal,
sehingga ketidakstabilan dimasyarakat akan meluas (Hamid, 2000:144). Sebagian
masyarakat merasa tidak siap untuk menerima kenaikan harga BBM. Kenaikan
BBM ini merupakan tindakan pemerintah yang beresiko tinggi.
Meskipun demikian, kenaikan harga BBM juga dapat menimbulkan dampak
yang positif.

a.

Dampak Positif

1)

Munculnya

bahan

bakar

dan

kendaraan

alternatif

Seiring dengan melonjaknya harga minyak dunia, muncul berbagai bahan bakar
alternatif baru. Yang sudah di kenal oleh masyarakat luas adalah BBG (Bahan
Bakar Gas). Harga juga lebih murah dibandingkan dengan harga BBM bersubsidi.
Ada juga bahan bakar yang terbuat dari kelapa sawit. Tentunya bukan hal sulit
untuk menciptakan bahan bakar alternatif mengingat Indonesia adalah Negara
yang kaya akan Sumber Daya Alam. Selain itu, akan muncul juga berbagai
kendaraan pengganti yang tidak menggunakan BBM, misalnya saja mobil listrik,
mobil yang berbahan bakar gas, dan kendaraan lainnya.
2)

Pembangunan Nasional akan lebih pesat


Pembangunan nasional akan lebih pesat karena dana APBN yang awalnya
digunakan untuk memberikan subsidi BBM, jika harga BBM naik, maka subsidi
dicabut dan dialihkan untuk digunakan dalam pembangunan di berbagai wilayah
hingga ke seluruh daerah.

3)

Hematnya APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara)

Page 11

Jika harga BBM mengalami kenaikan, maka jumlah subsidi yang dikeluarkan oleh
pemerintah akan berkurang. Sehingga Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
dapat diminimalisasi.
4)

Mengurangi Pencemaran Udara


Jika harga BBM mengalami kenaikan, masyarakat akan mengurangi pemakaian
bahan bakar. Sehingga hasil pembuangan dari bahan bakar tersebut dapat
berkurang, dan akan berpengaruh pada tingkat kebersihan udara.

b.

Dampak negatif

1)

Harga barang-barang dan jasa-jasa menjadi lebih mahal.


Harga barang dan jasa akan mengalami kenaikan disebabkan oleh naiknya biaya
produksi sebagai imbas dari naiknya harga bahan bakar.

2)

Apabila harga BBM memang dinaikkan, maka akan berdampak bagi


perekonomian khususnya UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah)

3)

Meningkatnya biaya produksi yang diakibatkan oleh: misalnya harga bahan,


beban transportasi dll.

4)

Kondisi keuangan UMKM menjadi rapuh, maka rantai perekonomian akan


terputus.

5)

Terjadi Peningkatan jumlah pengangguran.


Dengan meningkatnya biaya operasi perusahaan, maka kemungkinan akan terjadi
PHK.

6)

Inflasi
Inflasi akan terjadi jika harga BBM menglami kenaikan. Inflasi yang terjadi
karena meningkatnya biaya produksi suatu barang atau jasa.

4.

Dampak Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Terhadap Inflasi


dan Perekonomian
Jika terjadi kenaikan harga BBM, maka akan terjadi inflasi. Terjadinya inflasi
ini tidak dapat dihindari karena bahan bakar, dalam hal ini premium, merupakan
kebutuhan vital bagi masyarakat, dan merupakan jenis barang komplementer.
Meskipun ada berbagai cara untuk mengganti penggunaan BBM, tapi BBM tidak
dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Page 12

Inflasi akan terjadi karena apabila subsidi BBM dicabut, harga BBM akan
naik. Masyarakat mengurangi pembelian BBM. Uang tidak tersalurkan ke
pemerintah tapi tetap banyak beredar di masyarakat. Jika harga BBM naik, harga
barang dan jasa akan mengalami kenaikan pula. Terutama dalam biaya produksi.
Inflasi yang terjadi dalam kasus ini adalah Cost Push Inflation. Karena inflasi
ini terjadi karena adanya kenaikan dalam biaya produksi. Ini jika inflasi dilihat
berdasarkan penyebabnya. Sementara jika dilihat berdasarkan sumbernya, yang
akan terjadi adalah Domestic Inflation, sehingga akan berpengaruh terhadap
perekonomian dalam negeri.
Kenaikan harga BBM akan membawa pengaruh terhadap kehidupan iklim
berinvestasi. Biasanya kenaikan BBM akan mengakibatkan naiknya biaya
produksi, naiknya biaya distribusi dan menaikan juga inflasi. Harga barang-barang
menjadi lebih mahal, daya beli merosot, kerena penghasilan masyarakat yang
tetap. Ujungnya perekonomian akan stagnan dan tingkat kesejahteraan terganggu.
Di sisi lain, kredit macet semakin kembali meningkat, yang paling parah
adalah semakin sempitnya lapangan kerja karena dunia usaha menyesuaikan
produksinya sesuai dengan kenaikan harga serta penurunan permintaan barang.
Hal-hal di atas terjadi jika harga BBM dinaikkan, Bagaimana jika tidak?
Subsidi pemerintah terhadap BBM akan semakin meningkat juga. Meskipun
negara

kita

merupakan

penghasil

minyak,

dalam

kenyataannya

untuk

memproduksi BBM kita masih membutuhkan impor bahan baku minyak juga.
Dengan tidak adanya kenaikan BBM, subsidi yang harus disediakan
pemerintah juga semakin besar. Untuk menutupi sumber subsidi, salah satunya
adalah kenaikan pendapatan ekspor. Karena kenaikan harga minyak dunia juga
mendorong naiknya harga ekspor komoditas tertentu. Seperti kelapa sawit, karena
minyak sawit mentah (CPO) merupakan subsidi minyak bumi. Income dari
naiknya harga CPO tidak akan sebanding dengan besarnya biaya yang harus
dikeluarkan untuk subsidi minyak.
5.

Dampak Inflasi Terhadap Perekonomian Nasional


Kenaikan harga BBM berdampak pada meningkatnya inflasi. Dampak dari
terjadinya inflasi terhadap perekonomian nasional adalah sebagai berikut:

Page 13

1.

Inflasi akan mengakibatkan perubahan output dan kesempatan kerja di


masyarakat,

2.

Inflasi dapat mengakibatkan ketidak merataan pendapatan dalam masyarakat,

3.

Inflasi dapat menyebabkan penurunan efisiensi ekonomi.


Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif, tergantung parah atau
tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang
positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan
pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan
mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat
terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau
dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja,
menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat
dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri
ataukaryawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan
mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan
terpuruk dari waktu ke waktu.
Sementara dampak inflasi bagi masyarakat, ada yang merasa dirugikan dan
ada juga yang diuntungkan. Golongan masyarakat yang dirugikan adalah
golongan masyarakat yang berpenghasilan tetap, masyarakat yang menyimpan
hartanya dalam bentuk uang, dan para kreditur. Sementara golongan masyarakat
yang diuntungkan adalah kaum spekulan, para pedagang dan industriawan, dan
para debitur.
Inflasi dapat dikatakan sebagai salah satu indikator untuk melihat stabilitas
ekonomi suatu wilayah negara atau daerah. Yang mana tingkat inflasi
menunjukkan perkembangan harga barang dan jasa secara umum yang dihitung
dari indeks harga konsumen (IHK). Dengan demikian angka inflasi sangat
mempengaruhi daya beli masyarakat yang berpenghasilan tetap, dan disisi lain
juga mempengaruhi besarnya produksi dari suatu barang dan jasa.
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

Page 14

A.

Simpulan
Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, penulis dapat mengemukakan
simpulan dari masalah yang dibahas. Inflasi merupakan melemahnya atau
menurunnya nilai mata uang karena banyaknya jumlah uang yang beredar
dimasyarakat, atau suatau keadaan dimana terjadinya kenaikan harga-harga secara
umum dan terjadi secara terus-menerus (continue).
Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) akan berdampak bagi masyarakat.
Baik itu dampak positif maupun dampak negatif. Dampak yang signifikan akan
terjadi pada tingkat inflasi dan pada kondisi perekonomian nasional. Dampak
kenaikan harga BBM terhadap inflasi adalah akan terjadi kenaikan pada tingkat
persentase inflasi. Jumlah uang yang beredar di masyarakat akan bertambah, dan
akan berdampak pula pada harga berbagai jenis barang dan jasa. Kondisi
perekonomian akan mengalami goncangan, ketidakstabilan akan terjadi. Iklim
investasi akan menurun, sehingga berpengaruh pada jumlah pendapatan dan
pengeluaran pemerintah. Kebijakan pemerintah untuk mengatasi inflasi adalah
dengan kebijakan moneter. Seluruh instrumen kebijakan moneter efektif dalam
mengurangi dan mengatasi inflasi.

B. Saran
Sesuai dengan kesimpulan diatas, penulis merumuskan saran sebagai berikut.
1. Pemerintah hendaknya memilih waktu yang tepat untuk mengeluarkan kebijakan
menaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
2. Jika inflasi terjadi akibat dampak dari kebijakan pemerintah, diperlukan suatu
langkah yang tepat dalam mengatasi inflasi yang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

Page 15

Departemen Pendidikan Nasional. (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia.


Jakarta: Balai Pustaka.
Hamid, Edi Suandi. (2000). Perekonomian Indonesia: Masalah dan Kebijakan
Kontemporer. Jogjakarta: UII Press.
Jaka, Nur dkk. (2007). Intisari Ekonomi untuk SMA. Bandung: CV Pustaka
Mandiri.
Mankiw, N. Gregory. (2006). Makroekonomi Edisi-6. Jakarta: Erlangga.
Rosyidi, Suherman. (2009). Pengantar Teori Ekonomi: Pendekatan Kepada Teori
Ekonomi Mikro dan Makro. Jakarta: Rajawali Pers.
Samuelson, Paul A. dan William D. Nordhaus. (1986). Ekonomi Edisi Ke-12.
Jakarta: Erlangga.

Page 16