Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI NY. U


DENGAN HIPERBILIRUBIN DI RUANG ASTER
RSD Dr. SOEBANDI JEMBER

Oleh:
Erda Riyadi Apriawan S.Kep
NIM 1501031034

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
NOVEMBER 2015

A. PENGERTIAN
Ikterus adalah warna kuning pada kulit, konjungtiva, dan mukosa akibat penumpukan
bilirubin dalam serum. Lebih dari sepuluh bayi normal dan sebagian besarbayi kurang bulan
mengalami ikterus (Tanto, 2014).
Ikterus dapat diklasifikan menjadi ikterus normal (fisiologis) dan patologis. Ikterus
fisiologis ditandai keadaan umum bayi toleransi minum baik, berat badan naik dan kurang
menghilang pada minggu 1-2 pasca kelahiran. Sedangkan ikterus patologis memiliki ciri :
1. Dimulai sebelum usia 24 jam
2. Peningkatan bilirubin serum > 5 mg/dL/24 jam atau kadar bilirubin terkonjugasi >2
mg/dL (20% bilirubin total).
3. Disertai demam atau tanda sakit (muntah alergi, kesulitan minum penurunan berat
badan, asfiksia,apnea, takipnea, instabilitas).
4. Ikterus pada bayi berat lahir rendah
5. Ikterus berat badan pada neonatus kurang badan (telapak tangan dan kaki bayi
kuning).
6. Menetap > 2 minggu (Tanto, 2014).

B. PEMBAGIAN IKTERUS
1. FISIOLOGIS
Ikterus fisiologis adalah ikterus normal yang dialami oleh bayi baru lahir, tidak
mempunyai dasar patologis sehingga tidak berpotensi menjadi kern ikterus.
Ikterus fisiologis ini memiliki tanda-tanda berikut:
a. Timbul pada hari kedua dan ketiga setelah bayi lahir
b. Kadar bilirirubin indirect tidak lebih dari 10 mg% pada neonatus cukup bulan
c.
d.
e.
f.

dan 12,5 mg% pada neonatus kurang bulan.


Kecepatan kadar bilirubin tidak lebih dari 5 mg% per hari
Kadar bilirubin direct tidak lebih dari 1 mg%
Ikterus menghilang pada 10 hari pertama.
Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologis

2. PATOLOGIS
Ikterus patologis adalah ikterus yang mempunyai dasar patologis dengan kadar
bilirubin mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubinemia. Ikterus patologis
memiliki tanda dan gejala sebagai berikut:
a. Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama
b. Kadar bilirubin melebihi 10mg% pada neonatus cukup bulan atau melebihi
12,5mg% pada neonatus cukup bulan

c.
d.
e.
f.

Peningkatan bilirubin melebihi 5 mg% perhari


Ikterus menetap sesudah 2 minggu perama
Kadar bilirubin direct lebih dari 1 mg%
Mempunyai hubungan dengan proses hemolitik (Dewi, 2011).

Rumus Kramer
Derajat

Luas ikterus

Kadar bilirubin
(mg%)

1
2
3
4

Kepala dan leher


Derajat 1+ badan bagian atas
Derajat 1,2 + bagian badan bawah dan lutut
Derajat 1,2,3 + lengan dan kaki dibawah

tungkai
5
Derajat 1,2,3,4 + tangan dan kaki
(Dewi, 2011).

5
9
11
12
16

C. ETIOLOGI
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya ikterus, yaitu sebagai berikut:
1. Prahepatik (ikterus hemolitik)
Ikterus ini disebabkan karena produksi bilirubin yang meningkat pada proses
hemolisis sel darah merah (ikterus hemolitik). Peningkatan bilirubi dapat disebabkan
oleh beberapa faktor, diantaranya adalah infeksi kelainan sel darah merah dan toksin
dari luar tubuh, serta dari tubuh itu sendiri.
2. Pascahepatik (obstruktif).
Adanya obstruksi pada saluran empedu yang mengakibatkan bilirubin konjugasiakan
kembali lagi ke dalam sel hati dan masuk ke dalam aliran darah, kemudian sebagian
masuk dalam ginjal dan diekskresikan dalam urine. Sementara itu, sebagian lagi
tertimbun dalam tubuh sehingga kulitdan sklera berwarna kuning kehijauan serta
gatal. Sebagai akibat dari obstruksi saluran empedu menyebabkan ekskresi bilirbin
kedalam saluran pencernaan berkurang, sehingga feses akan berwarna putih keabuabuan, liat dan seperti dempul.
3. Hepatoseluler (ikterus hepatik).
Konjugasi bilirubin terjadi pada sel hati, apabila sel hati mengalami kerusakan maka
secara otomatis akan mengganggu proses konjugasi bilirubin direct meningkat dalam
aliran darah. Bilirubin direct mudah diekskresikan oleh ginjal karena sifatnya yang
mudah larut dalam air, namun sebagian masih dalam aliran darah (Dewi, 2011)
D. MANIFESTASI KLINIS
Dikatakan hiperbilirubinemia jika (Nurarif, 2015):
1. Ikterus terjadi 24 jam pertama
2. Peningkatan konsentrasi bilirubin 5% atau lebih setiap 24 jam

3. Konsentrasi bilirubin serum sewaktu 10 mg% pada neonatus kurang bulan dan 12,5
mg % pada neonatus cukup bulan
4. Ikterus yang disertai proses hemolisis (inkompatibilitas darah, defisiensi enzim G-6PD dan sepsis)
5. Ikterus yang disertai keadaan sebagai berikut:
Berat lahir < 2000 gram
Masa gestasi < 36 minggu
Asfiksia, hiposia, sindrom gangguan pernafasan
Infeksi
Trauma lahir pada kepal
Hipoglikemia, hiperkarbia
Hiperosmolalitas darah
Pemeriksaan fisik:
1. Warna ikterik seperti kulit jeruk lemon (ikterik sedang) disertai anemia, mengarah ke
ikterik prahepatik
2. Ikterik warna tua mengarah ke ikterik hepatik atau pascahepatik

Penegakan diagnosis ikterus Neonatus berdasarkann waktu kejadiannya


Waktu
Hari ke 1

Diagnosa banding
Anjuran pemeriksaan
Penyakit hemolitik (bilirubin - Kadar bilirubin serum
indirek

berkala,

- Inkompatibilitas (Rh, ABO)


- Sferositosis
- Anemia hemolitik non

retikulosit, sediaan apus

sferositosis(misal: defisiensi
G6PD)
- Ikterus obstruksi (bilirubin
direk)
- Hepatitis

neonatal

o.k

HB,

darah
- Golongan

HT,

darah

ibu/bayi/uji Coomb
- Uji tapis defisiensi
enzim
- Uji serologi terhadap
TORCH

TORCH
Hari ke-2 s.d ke-5

- Kuning pada bayi prematur


- Kuning fisiologik
- Sepsis
- Darah ekstravaskular

- Hitung

jenis

darah

lengkap
- Urin mikroskopik
biakan urin
- Pemeriksaan
infeksi bakteri

&

terhadap

- Polisitemia

- Golongan

- Sferositosis kongenital
Hari ke-5 s.d ke-10

darah

ibu/bayi, uji Coomb

- Sepsis
- Kuning karena ASI

- Uji fungsi tiroid


- Uji tapis enzim G6PD

- Defisiensi

- Gula dalam urin

- Hipotiroidisme

- Pemeriksaan

terhadap

sepsis
- Galaktosemia
Hari ke-10 atau lebih

- Obat-obatan
- Atresia biliaris
- Hepatitis neonatal
- Kista koledokus
- Sepsis (terutama

- Urin
infeksi

saluran kemih)
- Stenosis pilorik

mikroskopik

&

biakan urin
- Uji serologic terhadap
TORCH
- Alfa feto protein, alfa-1
antitriptisan
- Biopsi hati
- Kolesistografi
- Uji rose-bengal

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. USG, radiologi
2. Kadar bilirubin serum (total)
3. Darah tepi lengkap dan gambaran apusan darah tepi
4. Penentuan golongan darah dan Rh dari ibu dan bayi
5. Pada ikterus yang lama, lakukan uji fungsi hati, uji fungsi tiroid, uji urin terhadap
galaktosemia
6. Bila secara klinis dicurigai sepsis, lakukan pemeriksaan kultur darah, urin, IT rasio
dan pemeriksaan Creaktif protein (CRP) (Nurarif, 2015).
F. PATOFISIOLOGI
Bilirubin adalah produk penguraian heme. Sebagian besar (85-90%) terjadi dari
penguraian hemoglobin dan sebagian kecil (10-15%) dari senyawa lain seperti mioglobin. Sel
retikuloendotel menyerap kompleks haptoglobin dengan hemoglobin yang telah dibebaskan
dari sel darah merah. Sel-sel ini kemudian mengeluarkan besi dari heme sebagai cadangan
untuk sintesis berikutnya dan memutuskan cincin heme untuk menghasilkan tertapirol
bilirubin, yang disekresikan dalam bentuk yang tidak larut dalam air (bilirubin tak
terkonjugasi, indirek). Karena ketidaklarutan ini, bilirubin dalam plasma terikat ke albumin
untuk diangkut dalam medium air. Sewaktu zat ini beredar dalam tubuh dan melewati lobulus

hati, hepatosit melepas bilirubin dari albumin dan menyebabkan larutnya air dengan mengikat
bilirubin ke asam glukoronat (bilirubin terkonjugasi, direk).
Dalam bentuk glukoronida terkonjugasi, bilirubin yang larut tersebut masuk ke sistem
empedu untuk diekskresikan. Saat masuk ke dalam usus, bilirubin diuraikan oleh bakteri
kolon menjadi urobilinogen. Urobilinogen dapat diubah menjadi sterkobilin dan
diekskresikan sebagai feses. Sebagian urobilinogen direabsorsi dari usus melalui jalur
enterohepatik, dan darah porta membawanya kembali ke hati. Urobilinogen daur ulang ini
umumnya diekskresikan ke dalam empedu untuk kembali dialirkan ke usus, tetapi sebagian
dibawa oleh sirkulasi sistemik ke ginjal, tempat zat ini diekskresikan sebagai senyawa larut
air bersama urin.
Pada dewasa normal level serum bilirubin 2mg/dl dan pada bayi yang baru lahir akan
muncul ikterus bila kadarnya >7mg/dl.
Hiperbilirubinemia dapat disebabkan oleh pembentukan bilirubin yang melebihi
kemampuan hati normal untuk ekskresikannya atau disebabkan oleh kegagalan hati (karena
rusak) untuk mengekskresikan bilirubin yang dihasilkan dalam jumlah normal. Tanpa adanya
kerusakan hati, obstruksi saluran ekskresi hati juga akan menyebabkan hiperbilirubinemia.
Pada semua keadaan ini, bilirubin tertimbun di dalam darah dan jika konsentrasinya
mencapai nilai tertentu (sekitar 2- 2,5mg/dl), senyawa ini akan berdifusi ke dalam jaringan
yang kemudian menjadi kuning. Keadaan ini disebut ikterus atau jaundice (Wardah, 2015).
G. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan umum
a. Memeriksa golongan darah ibu,(Rh, ABO) dan lain-lain pada waktu hamil.
b. Mencegah trauma lahir, pemberian obat pada ibu hamil, atau bayi baru lahir yang
dapat menimbulkan ikterus, infeksi dan dehidrasi.
c. Pemberian makanan dini dengan jumlah cairan dan kalori yang sesuai.
d. Imunisasi yang cukup baik di tempat bayi dirawat.
e. Pengobatan terhadap faktor penyebab bila diketahui.
2. Penatalaksaan berdasarkan waktu timbulnya ikterus
a. Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama pemeriksaan yang dilakukan:
1) Kadar bilirubin serum berkala
2) Darah tepi lengkap
3) Golongan darah ibu dan bayi diperiksa
4) Pemeriksaan penyaring defisiensi enzim G-6-PD biakan darah atau biopsi
hepar bila perlu
b. Ikterus yang timbul 24-72 jam setelah lahir, pemeriksaan yang perlu diperhatikan:
1) Bila keadaan bayi dan peningkatan tidak cepat dapat dilakukan pemeriksaan
darah tepi
2) Periksa kadar bilirubin berkala
3) Pemeriksaan peyaring enzim G-6-PD
4) Biakan darah, biopsi hepar bila indikasi

3. Jika setelah tiga empat hari kelebihan bilirubi masih terjadi, maka bayi harus segera
mendapatkan terapi.
a. Terapi sinar (fototerapi)
Terapi sinar dilakukan selama 24 jam atau setidaknya sampai kadar bilirubi dalam
darah kembali ke ambang batas normal
b. Terapi tranfusi
Jika setelah menjalani foto terapi tak ada perbaikan dan kadar bilirubin terus
miningkat, hingga mencapai 20 mg/dl atau lebih, maka perlu dilakukan terapi
transfusi darah. Dikhawatirkan kelebihan bilirubin dapat menimbulkan kerusakan
sel saraf (kern ikterus).
c. Terapi obat-obatan\
d. Menyusui bayi dengan ASI
Seperti diketahui, ASI memiliki zat-at terbaik bagi bayi yang dapat memperlancar
buang air besar dan kecilnya\
e. Terapi sinar matahari
Terapi dengan sinar matahari hanya merupakan terapi tambahan. Biasanya
dianjurkan setelah bayi selesai dirawat di rumah sakit (Nurarif, 2015)

H. PATWAY
hemoglobin

hemo

feco
Ikterus neonatus

globin
Peningkatan destruksi eritrosit
(gangguan konjungsi bilirubin/
gangguan transport
bilirubin/peningkatanbiliverdin
siklus
enteropetik) Hb dan eritrosit
abormal

Hepar
tidak
mampumelebihi
melakukan
Suplai
bilirubin
Sebagian
masuk kembali
ke
Pemecahan
bilirubin
berlebih
tampungan
hepar
konjugasi
siklus
emerohepatik

anemia
Gangguan perfusi jaringan

Ikterus pada sklera leher


dan badan, peningkatan
bilirubin indirect > 12mg/dl

Peningkatan
bilirubin
unjongned dalam darah
pengeluaran
meconium
terlambat/obstruksi
usus
tinja berwarna pucat

Ikterus neonatorum

Kerusakan integritas kulit

Indikasi fototerapi

Gangguan suhu tubuh

Sinar dengan intensitas

Risiko cedera

tinggi

Ketidakefektifan

Kurangya volume cairan

termoregulasi
(Nurarif, 2015).

tubuh

I. KONSEP KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Aktivitas/ istirahat : letargi, malas
b. Sirkulasi : mungkin pucat, menandakan anemia
c. Eliminasi : Bising usus hipoaktif, vasase meconium mungkin lambat, faeces
mungkin lunak atau coklat kehijauan selama pengeluaran billirubin. Urine
berwarna gelap.
d. Makanan cairan : Riwayat pelambatan/ makanan oral buruk.
e. Palpasi abdomen : dapat menunjukkan pembesaran limpa, hepar.

f. Neurosensori :
1) Chepalohaematoma besar mungkin terlihat pada satu atau kedua tulang
parietal yang berhubungan dengan trauma kelahiran.
2) Oedema umum, hepatosplenomegali atau hidrops fetalis, mungkin ada dengan
inkompathabilitas Rh.
3) Kehilanga refleks moro, mungkin terlihat.
4) Opistotonus, dengan kekakuan lengkung punggung, menangis lirih, aktifitas
kejang.
g. Pernafasan : krekels (oedema fleura)
h. Keamanan : Riwayat positif infeksi atau sepsis neonatus, akimosis berlebihan,
pteque, perdarahan intrakranial, dapat tampak ikterik pada awalnya pada wajah
dan berlanjut pada bagian distal tubuh.
i. Seksualitas : mungkin praterm, bayi kecil usia untuk gestasi (SGA), bayi dengan
letardasio pertumbuhan intra uterus (IUGR), bayi besar untuk usia gestasi (LGA)
seperti bayi dengan ibu diabetes. Terjadi lebih sering pada bayi pria daripada bayi
wanita (Wardah, 2015).
2. Diagnosa keperawatan
a. Risiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan hilangnya air (IWL) tanpa
disadari akibat dari fototerapi dan kelemahan menyusu.
b. Risiko tinggi cedera berhubungan dengan komplikasi tranfusi tukar.
c. Risiko injuri pada mata dan genetalia berhubungan dengan foto terapi.
d. Risiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan fototerapi.
e. Risiko injuri berhubungan dengan peningkatan serum bilirubin sekunder dari
pemecahan sel darah merah dan gangguan eksresi bilirubin
3. Rencana Tindakan
a. Risiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan hilangnya air (IWL) tanpa
disadari akibat dari fototerapi dan kelemahan menyusu.
Tujuan : Memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi .
Intervensi :
1) Pertahankan intake : beri minum sesuai kebutuhan karena bayi malas minum
berikan berulang-ulang, jika tidak mau menghisap dapat diberikan
menggunakan sendok atau sonde.
2) Berikan terapi infus sesuai program bila indikasi : meningkatnya temperatur,

meningkatnya konsentrasi urin, dan cairan hilang berlebihan.


3) Perhatikan frekuensi BAB, mungkin susu tidak cocok (jika bukan ASI) .
4) Kaji adanya dehidrasi: membran mukosa, ubun-ubun, turgor kulit, mata.
5) Monitor suhu tiap 2 jam.
b. Risiko tinggi cedera berhubungan dengan komplikasi tranfusi tukar.
Tujuan : menyelesaikan tranfusi tukar tanpa komplikasi dan menunjukkan
penurunan kadar bilirubin serum.
Intervensi :
1) Perhatikan kondisi tali pusat bayi sebelum tranfusi bila vena umbilikal
digunakan.
2) Pertahankan puasa selama 4 jam sebelum prosedur tindakan atau aspirasi isi
lambung.
3) Jamin ketersedian alat resusitatif
4) Pertahankan suhu tubuh sebelum, selama dan sesudah prosedur tindakan
5) Pastikan golongan darah serta faktor Rh bayi dan ibu
6) Pantau tekanan vena, nadi, warna, frekuensi pernafasan selama dan setelah
tranfusi
7) Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan
8) Pantau tanda ketidakseimbangan elektrolit
9) Kolaborasi :
a)

Pantau peneriksaan laboratorium sesuai indikasi ( kadar bilirubin


serum, protein total serum, kalsium dan kalium, glukosa, kadar Ph
serum

b)

Berikan albumin sesuai indikasi

c)

Kalsium glukonat 5 %

d)

Natium bikarbonat

e)

Protein sulfat

c. Risiko injuri pada mata dan genetalia berhubungan dengan foto terapi.
Tujuan : tidak terjadi kecelakaan pada mata selama terapi diberikan.
Intervensi :
1) Gunakan pelindung pada mata dan genetalia pada saat fototerapi.
2) Pastikan mata tertutup, hindari penekanan mata yang berlebihan karena dapat

menimbulkan jejas pada mata yang tertutup atau pada kornea .


d. Risiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan fototerapi.
Tujuan : tidak terjadi gangguan integritas kulit selama terapi diberikan.
Intervensi :
1) Inspeksi kulit setiap 4 jam.
2) Gunakan sabun bayi.
3) Merubah posisi bayi dengan sering.
4) Gunakan pelindung daerah genetal.
5) Gunakan pengalas yang lembut.
e. Reiiko injuri berhubungan dengan peningkatan serum bilirubin sekunder dari
pemecahan sel darah merah dan gangguan eksresi bilirubin.
Tujuan : bayi tidak mengalami kecelakaan selama perawatan.
Intervensi :
1) Cegah adanya injuri (internal).
2) Kaji hiperbilirubin tiap ( 1-4 jam) dan catat.
3) Berikan fototerapi sesuai program.
4) Monitor kadar bilirubin 4 8 jam sesuai program.
5) Antisipasi kebutuhan tranfusi tukar.
6) Monitor Hb da Hct.

DAFTAR PUSTAKA
Dewi, VNL, (2011). Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Saalemba Medika, Jakarta
Doenges Marilyn E, Moorhouse Mary F, Geissler Alice C, (2000). Rencana Asuhan
Keperawatan. EGC.
Nurarif AH, Kusuma H, (2015). Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkn diagnosa medis &
NANDA NIC NOC. Edisi revisi. jilid 3. Mediaction, Yogyakarta.
Tanto, C. (2014). Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius, Jakarta.
Wardah, Y, (2015). Laporan Pendahuluan Hiperbilirubinemia di Ruang Perinatologi RSUD
Kota Semarang.