Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN
Elemen Mesin adalah bagian dari komponen tunggal yang dipergunakan pada
konstruksi mesin, dan setiap bagian mempunyai fungsi dan kegunaan yang mampu bersinergi
antara satu dengan lainnya. Dengan pengertian tersebut diatas, maka elemen mesin memiliki
3 pengertian, yaitu :
Pesawat atau alat yang berfungsi untuk memindahkan energi mekanis dari suatu
tempat (penggerak) ketempat yang lain (yang digerakan).
Pesawat atau alat yang berfungsi untuk mengubah suatu bentuk energi menjadi
bentuk energi yang lain.
Pesawat atau alat yang berfugsi untuk mengubah energi alam menjadi energi
mekanis.

TURBI

GEA

LISTR

MOTO
R

GENERATOR
LISTRIK

DIE

MESIN
JAHIT

MEKAN

BENSIN
(Sebagai Bahan
Bakar)

BAB II
1

MEKAN
IS

SAMBUNGAN PASAK ( KEYS )

A.Definisi
Pasak adalah elemen mesin yang berfungsi untuk menyambung/menghubungkan poros
dengan elemen mesin yang lain sebagai contoh Pasak digunakan untuk menyambung dua
bagian batang (poros) atau memasang roda, roda gigi, roda rantai dan lain-lain pada poros
sehingga terjamin tidak berputar pada poros.
Pemilihan jenis pasak tergantung pada besar kecilnya daya yang bekerja dan kestabilan
bagian-bagian yang disambung.
Untuk daya yang kecil, antara naf roda dan poros cukup dijamin dengan baut tanam (set
screw).
B.Macam-Macam Pasak
Dilihat cara pemasangannya, pasak dapat dibedakan yaitu :
1. Pasak memanjang
Jenis pasak memanjang yang banyak digunakan ada bermacam-macam yaitu :
Sunk Keys (pasak benam)
Pasak benam ada beberapa jenis yaitu :
a. Pasak benam segi empat (Rectangular Sunk key)

=Torsi yang ditransmisikan

=Gaya tangensial

=Diameter poros

=panjang pasak
2

2
b
3

=lebar pasak=d/4

2
b
=Tebal pasak = 3

=Tegangan geser pasak

=Tegangan permukaan(tegangan bidang)pasak

b. Pasak bujur sangkar (Square key) Bentuknya sama seperti Rectangular sunk key, tetapi
lebar dan tebalnya sama yaitu :
w = t = d/4
c. Parallel Sunk key (pasak benam sejajar)
Bentuknya sama seperti di atas, tapi penggunaannya bila pemakaian di atas belum mampu
memindahkan daya, maka pasak tersebut dipasang sejajar

d. Pasak Berkepala (Gib head key) Pasak ini digunakan biasanya untuk poros berputar bolak
balik

e. Pasak Tembereng (woodruff key) Pasak jenis ini digunakan untuk poros dengan puntir / daya
tidak terlalu besar.

f. Pasak Pelana (Saddle key) Jenis pasak ini pemakaian umum untuk menjamin hubungan
antara naf roda dengan poros

g. Tangent key Pemakaiannya sama seperti pasak pelana, tetapi pasaknya dipasang dua
buah berimpit.

h. Pasak bulat (Round keys) Jenis pasak ini, biasanya digunakan untuk memindahkan
4

daya relatip kecil.

i. Pasak gigi (Splines) Jenis pasak ini bahannya dibuat satu bahan dengan poros dan
biasanya digunakan untuk memindahkan daya serta putaran yang cukup besar dan arah
kerja putarannya bolak balik.

Bila direncanakan poros tersebut mampu memindahkan daya sebesar P (KW) dengan
putaran (n) rpm, maka sudah barang tentu pasak yang akan direncanakan tersebut juga
harus mampu meneruskan daya dan putaran, sehingga besar torsi (T) yang bekerja pada
poros yaitu :

dimana :
p = daya yang akan dipindahkan (watt)
n = putaran dalam (rpm)
d = Diameter poros

p = Tegangan puntir yang diizinkan untuk bahan poros


C.Persamaan Umum
Secara umum persamaannya ialah

T =l. w . t .

d
2

t
d
T =l. .c .
2
2

l=panjang pasak
w =lebar pasak
=Tegangan geser pasak
C=Tegangan permukaan(tegangan bidang)pasak

Untuk ukuran lebar dan tebal pasak biasanya sudah distandarisasi maka hasil
perhitungan harus dipilih ukuran yang ada pad astandarisasi.Bila hasil perhitungan,
ukurannya tidak ada yang cocok dalam tabel pasak, maka ukuran pasak yang diambil
adalah ukuran yang lebih besar.
Di bawah ini dicantumkan ukuran lebar dan tebal pasak, sesuai dengan standart yang
dipasaran

Tabel standart Pasak melintang menurut IS : 2292 dan 2293 1963

D. Material Pasak
Karena beban pasak adalah geser, maka digunakan material ulet dan lunak. Baja karbon
rendah adalah material yang sering digunakan. Untuk keadaan korosif, digunakan kuningan
atau stainless steel Perancangan Pasak Diameter poros di mana alur pasak berada
mempengaruhi lebar pasak, tinggi pasak juga dipengaruhi oleh lebar pasak. Sehingga variabel
perancangan yang digunakan adalah panjang dan jumlah pasak tiap hub-nya. Panjang pasak
paralel dan miring bisa sama dengan panjang hub. Untuk lebar pasak woodruff tertentu,
terdapat beberapa diameter dan menentukan panjang masuknya pasak pada hub. Semakin
besar diameter pasak woodruff, semakin dalam alur pasak, sehingga poros semakin lemah.
Kalau dibutuhkan 2 buah, pasak kedua bisa ditambahkan pada posisi 90 dari pasak pertama.
Jika terjadi overload beban, pasak dirancang supaya gagal terlebih dahulu sebelum alur pasak
atau bagian lain dari poros gagal. Pasak berperan sebagai pengaman untuk melindungi bagian
yang lebih mahal karena pasak relatif lebih murah dan mudah untuk diganti. Hal ini menjadi
alasan kenapa material pasak dipilih ulet dan lunak dengan kekuatan lebih rendah dibanding
dengan material poros.

E. Contoh soal
1. Pasak persegi panjang untuk poros berdiameter 50mm.Tegangan geser dan tegangan
permukaan bahan masing-masing 42 Mpa dan 70 Mpa,carilah panjang pasak!
Diketahui
d=50 mm

=42 Mpa= 42 N/mm2


C=70Mpa=70N/mm2
d=50mm..........Tabel :w=16mm
t=10mm
Ditanya=l
Jawab:

d
T=l.w.t. 2

T=L.16.42.

50
2

T=16.800.l N.mm

t
d
c
T=l. 2 .
. 2
10
50
T= 10. 2 .70 . 2

T=8750 l N.mm
50

T= 3
. d .= .42.
16
16
Sehingga
6

8750.l=1.03 .10

l = 117,7mm
8

120 mm
2. Sebuah poros diameter 45mm,teganagn luluhnya 400 Mpa.Pasak yang digunakan
mempunyai lebar 14mm dan tebal 9mm,Tegangan luluhnya 340 Mpa.Hitunglah
panjang pasak jika digunakan faktor keamanan 2!
Diketahui:
d=45mm
yt poros =400 Mpa = 400N/mm2
yt pasak =340 Mpa = 340N/mm2
Fs=2
d=45mm

w=14mm dan t=9mm

Penyelesaian:
s=

yt 400
N
=
=100
2. fs 2.2
mm2

t=

yt 340
N
=
=85
2
2. fs 2.2
mm

T=

3
. d = .100 . 453 .=1,8. 106 N . mm
16
16

T =l. w .k .

l=

2d
2. 1,8.106
=
=67,2 mm
w .k . d 14.85 .45

T =l .

l=

d
2

t
d
ck .
2 .
2

2.2T
4.1,8. 106
=
=104,6 mm
tck . d
340
9.
.45
2

diambil l=104,6mm
105mm

BAB III
POROS(SHAFT)
A. Definisi

Poros adalah salah satu bagian dari mesin yang berfungsi untuk meneruskan daya dari
suatu mesin penggerak ke mesin yang digerakkan. Daya yang diteruskan poros oleh gaya
tangensial dan resultan torsi ditentukan oleh daya yang diijinkan oleh poros itu sendiri untuk
diteruskan ke bebeberapa mesin yang terhubung oleh poros.
Gandar (berputar atau diam) atau poros adalah untuk menopang bagian mesin yang diam,
berayun atau berputar, tetapi tidak menderita momen putar dan dengan demikian tegangan
utamanya adalah tekukan (bending). Gandar pendek juga disebut sebagai baut. Bagian yang
berputar dalam bantalan dari gandar (dan poros) disebut tap. Poros (keseluruhannya berputar)
adalah untuk mendukung suatu momen putar dan mendapat tegangan puntir dan tekuk.
Menurut arah memanjangnya (longitudinal) maka dibedakan poros yang bengkok (poros
engkol) terhadap poros lurus biasa, sebagai poros pejal atau poros berlubang, keseluruhannya
10

rata atau dibuat mengecil. Menurut penampang melintangnya disebutkan sebagai poros bulat
dan poros profil (contohnya dengan profil alur banyak dan profil K). Disamping itu dikenal
juga poros engsel, poros teleskop, poros lentur, dan lain-lain. Persyaratan khusus terhadap
design dan pembuatan adalah sambunagn dari poros dan naf serta poros dengan poros.
Poros dalam sebuah mesin berfungsi untuk meneruskan tenaga bersamasama dengan
putaran. Setiap elemen mesin yang berputar, seperti cakara tali, puli sabuk mesin, piringan
kabel, tromol kabel, roda jalan dan roda gigi, dipasang berputar terhadap poros dukung yang
tetap atau dipasang tetap pada poros dukung yang berputar. Contohnya sebuah poros dukung
yang berputar , yaitu poros roda keran berputar gerobak.

B. Macam-Macam Poros
1.

Poros transmisi
Merupakan suatu poros yang mendukung beban puntir murni atau kombinasi antara
beban puntir dan lenturJadi, poros ini berfungsi untuk memindahkan tenaga mekanik
salah satu elemen mesin ke elemen mesin yang lain.Dalam hal ini elemen mesin
menjadi terpuntir (berputar) dan dibengkokkan. Daya ditransmisikan kepada poros ini
melalui kopling, roda gigi, puli sabuk atau sproket rantai, dan lain-lain.

2.

Spindel
Poros spindle merupakan poros transmisi yang relatip pendek, misalnya pada poros
utama mesin perkakas dimana beban utamanya berupa beban puntiran. Selain beban
puntiran, poros spindle juga menerima beban lentur (axial load). Poros spindle dapat
digunakan secara efektip apabila
yang terjadi pada poros tersebut kecil.

3. Gandar
Merupakan poros yang tidak berputar, yang mendukung beban lentur murni.Gandar
adalah poros yang tidak mendapatkan beban puntir,bahkankadang-kadang tidak
boleh berputar. Contohnya seperti yang dipasang diantara roda-roda kereta barang.
C. Jenis Jenis Bantalan

11

Untuk menumpu poros berbeban, maka digunakan bantalan, sehingga putaran atau gerakan
bolak-balik dapat berlangsung secara halus dan tahan lama. Posisi bantalan harus kuat, hal ini
agar elemen mesin dan poros bekerja dengan baik.
Berdasarkan gerakan bantalan terhadap poros, maka bantalan
dibedakan menjadi dua hal berikut :
1. Bantalan luncur, dimana terjadi gerakan luncur antara poros dan bantalan karena
permukaan poros ditumpu oleh permukaan bantalan dengan lapisan pelumas.

2. Bantalan gelinding, dimana terjadi gesekan gelinding antara bagian yang berputar dengan
yang diam melalui elemen gelinding seperti rol atau jarum. Berdasarkan arah beban terhadap
poros, maka bantalan dibedakan menjadi tiga hal berikut :
a. Bantalan radial, dimana arah beban yang ditumpu bantalan tegaklurus dengan poros.
b. Bantalan aksial, dimana arah beban bantala ini sejajar dengan sumbu poros.Bantalan aksial
digunakan untuk menahan gaya aksial. Adapun macamnya, yaitu bantalan telapak dan
bantalan kerah. Pada bantalan telapak, tekanan yang diberikan oleh bidang telapak poros
kepada bidang bantalan semakin besar untuk titik yang semakin dekat dengan pusat

c. Bantalan gelinding khusus, dimana bantalan ini menumpu beban yang arahnya sejajar dan
tegak lurus sumbu poros.Keuntungan dari bantalan ini mempunyai gesekan yang sangat kecil
dibandingkan dengan bantalan luncur. Macam macam bantalan gelinding diantaranya:
Pertama. Bantalan bola radial alur dalam baris tunggal. Kedua, Bantalan bola radial magneto.
Ketiga. Bantalan bola kontak sudut baris tunggal. Keempat. Bantalan bola mapan sendiribaris
ganda.
12

D. Tegangan pada Poros


1. Poros Transmisi
Poros dengan Puntiran Murni
Poros pejal
Torsi yang dapat ditransmisikan :
T

=
r
J
T=
d=

. . d3
16

16.T
.

T =Torsi yang ditransmisikan.................N.mm


J = Momen inersia polar.........................mm4
r = Jari jari poros(d/2).............................mm

= Tegangan geser bahan poros............N/mm2

d = Diameter Poros..................................mm
Torsi yang akan ditransmisikan
T=

60. P
2. . N

Sumber Tenaga

= Daya yang akan ditransmisikan........................ Watt

= Putaran Proses...................................................rpm

= Torsi yang akan ditransmisikan.........................N.mm


13

Poros berlubang
Torsi yang dapat ditransmisikan
T=

. . d o3 ( 1k 4 )
16

do

16 T
4
. ( 1k )

di
k dalah faktor diameter(ratio)= d o
do = diameter luar poros...............mm
di = diameter dalam poros............mm

c. Jika poros terbuat dari bahan yang ulet (baja), diselesaikan dengan teori tegangan geser
maksimum ( Teori GUESTS )
Poros pejal :
Torsi ekuivalen yang dapat ditransmisikan :

3
T e= .. d
16

d=

16 T e
.

T e= M 2 +T 2

Poros Berbentuk pipa


T

e=

.. do3 (1k 4 )
16

d o=

16. T e
.(1k 4)

Te

: torsi ekuivalen ..................(N.mm)

: momen lentur ...................(N.mm)

: momen puntir ...................(N.mm)

14

d. Jika poros terbuat dari bahan yang rapuh (besi tuang) diselesaikan dengan teori
tegangan normal maksimum ( Teori RANKINES )
Poros pejal :
Momen lentur ekuivalen yang dapat ditransmisikan :

3
M e = b d
32
d=

32 M e
.b

1
M e = (M +T e )
2

M e=

b d o3 ( 1k 4 )
32

d o= 3

32 M e
. b ( 1k 4 )

2. Poros Dukung (GANDAR)


Merupakan poros yang mendukung beban(Momen) lentur murni.
Poros pejal :
Momen lentur ekuivalen yang dapat didukung :

M = b d 3
16
d=

32 M
.b

: momen lentur (N.mm)

: tegangan lentur poros (N/mm2)


Poros berbentuk pipa

M e=

3
4
d ( 1k )
32 b

d o= 3

32 M
. b ( 1k 4 )

15

k=

di
do

do = diameter luar poros...............mm


di = diameter dalam poros............mm
E. Poros dengan Beban Berfluktuasi
Pembahasan yang telah dilakukan di atas adalah poros dengan beban torsi dan momen
lentur konstan.Jika terjadi fluktuasi beban baik torsi maupun lentur, maka perlu
ditambahkan faktor yang berkaitan dengan fluktuasi torsi maupun lenturan.
Jika :
Km : factor momen lentur akibat kombinasi beban shock dan fatigue.
Kt

: faktor torsi/puntiran akibat kombinasi beban shock dan fatigue

Maka

16

F.Perencanaan Poros
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan poros antara lain:
1. Kekuatan poros
Pada poros transmisi misalnya dapat mengalami beban puntir atau lentur atau gabungan
antara puntir dan lentur. Juga ada poros
yangmendapatkan beban tarik atau tekan, seperti poros balingbaling kapal atau turbin.
Kelelahan tumbukan atau pengaruh konsentrasi tegangan bila diameter poros diperkecil
(poros bertangga) atau bila poros mempunyai alur pasak harus diperhatikan. Jadi, sebuah
poros harus direncanakan cukup kuat untuk menahan beban-beban yang terjadi.
2. Kekakuan poros
Walaupun sebuah poros mempunyai kekuatan yang cukup, tetapijika lenturan dan defleksi
puntirannya terlalu besar, maka hal ini akan mengakibatkan ketidaktelitian (pada mesin
perkakas) atau getaran dan suara (misalnya pada turbin dan kotak roda gigi).Pada poros
transmisi,sudut puntir yang diperbolehkan tidak boleh dari 0,25 per meter.
Besarnya sudut puntir ditentukan:
=

T .L
J .G

=Sudut puntir..................................rad

=Torsi..............................................N.mm

=Panjang Torsi................................mm

=Modulud Kekakuan Poros............N/mm2

=Momen inersia sudut.....................mm4


4
= 32 d ........................................Poros Pejal

4
4
(d o d i )
= 32

17

d=

32.T . L
.6 .

1= 180 rad
3. Putaran kritis
Putaran kritis terjadi jika putaran mesin dinaikkan pada suatu harga putaran tertentu sehingga
dapat terjadi getaran yang terlalu besar. Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan pada poros
dan bagianbagian yang lainnya. Untuk itu, maka poros harus direncanakan sedemikian rupa
sehingga putaran kerjanya lebih rendah dari putaran kritis.
4. Korosi
Bahan-bahan tahan korosi harus dipilih untuk poros propeller dan pompa bila terjadi kontak
dengan fluida yang korosif. Demikian pula untuk poros-poros yang terancam kavitas dan
poros mesin yang sering berhenti lama.
5. Material Poros
Baja sering digunakan karena modulus elastisitasnya tinggi, sehingga ketahannyaterhadap
defleksi tinggi. Besi cor dan besi nodular digunakan ketika gear atau komponen lain
terintegrasi pada poros. Perunggu dan stailess steel digunakan di laut atau pada kondisi
korisif lainnya. Through atau case hardened steel sering digunakan pada poros yang
digunakan juga sebagai jurnal pada sleeve bearing. Kebanyakan poros terbuat dari baja
karbon rendah dan medium yang dirol panas (hot rolled) maupun dingin (cold rolled). Ketika
diperlukan kekuatan yang lebih tinggi, bisa digunakan baja paduan. Cold rolled sering
digunakan pada poros diameter kecil (sampai diameter 3 in.), sedangkan hot rolled untuk
diameter yang lebih besar. Untuk material
yang sama, sifat mekanik pada cold rolled lebih besar, tetapi akan terjadi tegangan sisa pada
permukaan. Alur pasak, groove dan step akan melokalisasi adanya tegangan sisa dan akan
mengakibatkan warping. Permukaan poros yang di roll panas harus dimesin untuk
menghilangkan karburizing pada permukaan, sedangkan permukaan yang di roll dingin
dibiarkan, kecuali pada bagian dispesifikasikan pada perancangan, seperti untuk tempat
bantalan Pada perancangan bahan poros ini terdapat perlakuan panas. Perlakuan panas adalah
proses pada saat bahan dipanaskan hingga suhu tertentu dan selanjutnya didinginkan dengan
cara tertentu pula. Tujuannya adalah untuk mendapatkan sifat-sifat yang lebih baik dan yang
diinginkan
sesuai dengan batas-batas kemampuannya. Sifat yang berhubungan dengan maksud dan
tujuan perlakuan panas tersebut meliputi:
1. Meningkatnya kekuatan dan kekerasannya.

18

2. Mengurangi tegangan.
3. Melunakkan .
4. Mengembalikan pada kondisi normal akibat pengaruh pengerjaan
sebelumnya.
5. Menghaluskan butir kristal yang akan berpengaruh terhadap keuletan bahan.
Untuk proses pembuatan poros dengan melakukan hardening permukaan. Pemanasan
poros ini dilakukan di atas suhu transformasi fase dan selanjutnya didinginkan dengan cepat
sekali pada suhu kamar. Sehingga terbentuk suatu fase yang stabil pada suhu tinggi,
pengerasan dengan cara ini mengakibatkan terbentuknya susunan yang tidak stabil. Tetapi
inilah yang membuat elemen poros ini tidak mudah aus tergerus oleh gesekan yang ada.
Untuk mendapatkan sifat-sifat bahan untuk poros yang lebih baik sesuai dengan karakter
yang diinginkan dapat dilakukan melalui pemanasan dan pendinginan. Tujuannya adalah
mengubah struktur mikro sehingga bahan dikeraskan, dimudahkan atau dilunakan.
Pemanasan bahan dilakukan diatas garis transformasi kira-kira pada 770 derajat C sehingga
perlit yang ada pada bakal poros itu berubah menjadi austenit yang homogen karena terdapat
cukup karbon. Pada suhu yang lebih tinggi ferrit menjadi austenit karena atom karbon difusi
ke dalam ferrit tersebut. Untuk pengerasan baja, pendinginan dilakukan dengan cepat melalui
pencelupan kedalam air, minyak atau bahan pendingin lainnya sehingga atom-atom karbon
yang telah larut dalam austenit tidak sempat membentuk sementit dan ferrit akibatnya
austenit menjadi sangat keras yang disebut martensit. Pada baja setelah terjadi austenit dan
ferrit kadar karbonya akan menjadi makin tinggi sesuai dengan penurunan suhu dan akan
membentuk hipoeutektoid. Pada saat pemanasan maupun pendinginan difusi atom karbon
memerlukan waktu yang cukup. Laju difusi pada saat pemanasan ditentukan oleh unsur-unsur
paduanya dan pada saat pendinginan cepat austenit yang berbutir kasar akan mempunyai
banyak martensit. Austenit serta martensit inilah yang nantinya akan menjadi sumber
kekerasan luar dari poros
Aturan umum perancangan poros :
a. Untuk meminimalisasi defleksi dan tegangan, poros diusahakan sependek mungkin dan
meminimalisasi keadaan overhang,
b. Sebisa mungkin menghindari susunan batang kantilever, dan mengusahakan tumpuan
sederhana, kecuali karena tuntutan perancangan. Hal ini karena batang kantilever akan
terdefleksi lebih besar,
c. Poros berlubang mempunyai perbandingan kekakuan dengan massa (kekakuan spesifik)
lebih baik dan frekuensi pribadi lebih besar dari pada poros pejal, tetapi harganya akan lebih
mahal dan diameter akan lebih besar,
d. Usahakan menghindarkan kenaikan tegangan pada lokasi momen bending yang besar jika
memungkinkan dan meminimalisasi efeknya dengan cara menambahkan fillet dan relief.
19

e. Jika tujuan utamanya adalah meminimalisasi defleksi, baja karbon rendah baik untuk
digunakan karena kekakuannya setinggi baja dengan harga yang lebih murah dan pada poros
yang dirancang untuk defleksi, tegangan yang terjadi cenderung kecil,
f. Defleksi pada roda gigi yang terpasang pada pada poros tidak boleh melebihi 0.005 inch
dan slope relatif antar sumbu roda gigi harus kurang dari 0.03.
g. Jika digunakan plain bearing, defleksi poros pada arah sepanjang bantalan harus kurang
dari tebal lapisan oli pada bantalan,
h. Jika digunakan non-self-alligning rolling element bearing, defleksi sudut poros pada
bantalan harus dijaga kurang dari 0.04,

G. Contoh-contoh soal
1. Poros berputar 200 rpm untuk meneruskan daya : 20 kW. Poros dibuat dari mild steel
dengan tegangan geser ijin 42 MPa. Hitunglah diameter poros!
Jawab :
Diketahui :
N = 200 rpm
P = 20 kW = 20 000 W
= 42 MPa=42N/mm2
Ditanya:d
Penyelesaian:
T=

60 P
60.20 .10 3
=
2. . N
2. .200
=955 N.m
=955.103N.mm

d=

d=

16.T
.

16.955. 103
.42

48,7 mm

50 mm
2. Sebuah poros mentransmisikan 1 MW pada 240 rpm.Hitung diameter poros jika torsi
maksimumnya 20%nlebih besar dari rata-rata,tegangan geser yang diperbolehkan 60
Mpa.
20

Diketahui:
P=1MW=106
N=240rpm
Tmax=1,2Trata-rata
=60Mpa=60N/mm2
Ditanya:d
60 P 60.10 6
T=
=
2 N 2 .240
=39784 N.m
T max=1,2. T ratarata
=1,2.39784.103 N.mm
d=

16.T maks
.

16.1,2.39784 .103
.60

=159,4 mm
160mm

3. Hitunglah diameter sebuah poros pejal(solid)yang mentransmisikan 20kw pada 200


rpm.Tegangan geser bahan poros 360 Mpa dengan faktor keamanan 8.Jika poros
bebrbetuk pipa(hollow) diperlukan untuk menggantikan poros pejal,hitunglah
diameter dalam dan luar poros jika perbandingan diamater dalam dengan diamater
luar 0,5.
Diketahui:
P=20KW=20.103
N=200 rpm
u=360 Mpa=360 N/mm2
fs=8
k=di/do=0,5

u 360
N
=
=45
fs
8
mm2

21

Poros Pejal
T=

60 P
60.20 .10 3
=
2. . N
2 .200
=955 N.m
=955.103mm
d=

16 T
.

16.955 .10 3
.45

=47,6 mm 50 mm
Poros Berbentuk pipa
d o=

16. T e

d o= 3

.(1k 4)
16.955 . 103
4
.45( 10,5 )

48,6 mm

50 mm
k=di/do..di=k.do
=0,5.50
=25 mm

4. Sebuah poros mendukung momen lentur 5.106 N.mm.Tegangan lentur bahan poros
100 Mpa,Hitunglah diameter poros.
Diketahui:
M=5.10 N.mm
b=100 Mpa=100 N/mm2
Ditanya:d
Penyelesaian:

22

d= 3

32 M
.b

32.5 .106
d=
.100
3

=79,8mm
80mm
5. Sebuah poros mendukung momen lentur 3000 N.m dan torsi 10000 N.m.Tegangan
tarik dan tegangan geser yang didijinan berturut-turut 700 Mpa dan 500 Mpa,Jika
menggunakan faktor keamanan 6,hitunglah diameter poros.
Diketahui:
M=3000 N.m = 3000.103 N.mm
T=10000 N.m =10000.103 N.mm
u=700Mpa = 700 N/mm2
u=500 Mpa

=500 N/mm2

fs=6
Ditanya: d
Penyelesaian

b=t=
=
=
=

tu
fs
700
6

=116,7N/mm2

u
fs
500
6

= 83,3N/mm2

Teori Tegangan Maksimum

23

T e= M 2 +T 2
10.106

2
( 3. 106 ) +
T e =

d=

10,44.106 N.mm

16 T e
.

16.10,44 . 10
.83,3

= 86mm

Teori Tegangan normal maksimum


1
M e = ( M+T e )
2
6

3.10
1

2

+10,44.

6,72.

d=

106

106 N . mm

32 M e
.b

32.6,72. 106
d=
.116,7
3

=83,7 mm
Diameter yang diambil yang terbesar
d=86 mm
d90 mm
6. Sebuah spindell mentransmisikan 4kw,800 rpm.sudut puntirnya tidal lebih dari 0,25
per meter.Modulud kekakuan bahan spindel 84 Gpa,hitung diameter spindel dan
tegangan gser yang terjadi pada spindell!
Diketahui:
24

P=400kw=4.103w
N=800 rpm

0,25.
=0,0044 rad
=25=
180
L=1m=1000mm
G=84 Gpa=84.103N/mm2
Penyelesian:
60 P
T=
2. . N
3

60.4 .10
=47,74 N .m
2. .800

= 47740 N.mm
=

T .L
T.L
J=
J .G
G .

J=

4
d
32

4 T.L
d=
32
G.

T=

47740.1000
3
84.10 .0,0044

d4=

32.47740.1000
.84 . 103 .0,0044

= 33,87mm 35mm

3
.d
16

16 T
3
.d

16.47740
.35 3

=5,67 N/mm2
=5,67 Mpa
25

BAB IV
KOPLING
A. Defenisi Kopling dan Jenis-jenisnya
Kopling adalah suatu elemen mesin yang berfungsi untuk mentransmisikan daya dari poros
penggerak (driving shaft) ke poros yang digerakkan (driven shaft), dimana putaran inputnya
akan sama dengan putaran outputnya. Tanpa kopling, sulit untuk menggerakkan elemen
mesin sebaik-baiknya. Dengan adanya kopling pemindahan daya dapat dilakukan dengan
teratur dan seefisien mungkin.
Beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah kopling adalah:
1. Mampu menahan adanya kelebihan beban.
2. Mengurangi getaran dari poros penggerak yang diakibatkan oleh gerakan dari elemen lain.
3. Mampu menjamin penyambungan dua poros atau lebih.
26

4. Mampu mencegah terjadinya beban kejut.

Untuk perencanaan sebuah kopling kita harus memperhatikan kondisi-kondisi sebagai


berikut:
1. Kopling harus mudah dipasang dan dilepas
2. Kopling harus dapat mentransmisikan daya sepenuhnya dari poros
3. Kopling harus sederhana dan ringan
4. Kopling harus dapat mengurangi kesalahan hubungan pada poros

Kopling ditinjau dari cara kerjanya dapat dibedakan atas dua jenis:
1.

Kopling Tetap

2.

Kopling Tak Tetap

Kopling Tetap
Kopling tetap adalah suatu elemen mesin yang berfungsi sebagai penerus putaran dan daya
dari poros penggerak ke poros yang digerakkan secara pasti (tanpa terjadi slip), dimana
sumbu kedua poros tersebut terletak pada satu garis lurus atau dapat sedikit berbeda
sumbunya. Kopling tetap selalu dalam keadaan terpasang, untuk memisahkannya harus
dilakukan pembongkaran.
Kopling tetap terbagi atas: /4/
1. Kopling kaku
Kopling kaku dipergunakan bila kedua poros harus dihubungkan sumbu segaris, dan
dipakai pada poros mesin dan transmisi umum di pabrik-pabrik, kopling ini terdiri atas :
a. Kopling bus
b. Kopling flens kaku
c. Kopling flens tempa

2. Kopling luwes
27

Kopling luwes ( fleksibel ) memungkinkan adanya sedikit ketidaklurusan sumbu poros


yang terdiri atas:
a. Kopling flens luwes
b. Kopling karet ban
c. Kopling karet bintang
d. Kopling gigi
e. Kopling rantai

3. Kopling universal
Kopling universal digunakan bila kedua poros akan membentuk sudut yang cukup besar,
terdiri dari:
a. Kopling universal hook
b. Kopling universal kecepatan tetap

Kopling universal digunakan bila poros penggerak dan poros yang digerakkan membentuk
sudut yang cukup besar.

28

2.1.1 Kopling Tidak Tetap


Kopling tidak tetap adalah kopling yang digunakan untuk menghubungkan poros penggerak
dan poros yang digerakkan dengan putaran yang sama saat meneruskan daya. Kopling juga
dapat melepaskan hubungan kedua poros tersebut dalam keadaan diam maupun berputar
tanpa harus menghentikan putaran dari poros penggerak.
Kopling tak tetap meliputi:
1. Kopling cakar, terdiri dari:
a. Kopling cakar persegi
b. Kopling cakar spiral

29

c.

Kopling kerucut

d.

Kopling friwil

2. Kopling pelat, terdiri dari:


a. Menurut jumlah pelatnya:

Kopling pelat tunggal

Kopling pelat banyak


b. Menurut cara pelayanannya:

Kopling pelat cara manual

Kopling pelat cara hidrolik

Kopling pelat cara pneumatik

c. Menurut pelumasannya:

Kopling pelat kering

Kopling pelat basah

30

Secara umum kopling pelat adalah kopling yang menggunakan satu pelat atau lebih yang
dipasang diantara kedua poros serta membuat kontak dengan poros tersebut, sehingga terjadi
penerusan daya melalui gesekan antara sesamanya. Konstruksi kopling ini cukup sederhana,
dapat dihubungkan dan dilepaskan dalam keadaan berputar karena itu kopling ini sangat
banyak dipakai.

Komponen Utama Kopling


31

Roda Penerus
Selain sebagai penstabil putaran motor,roda penerus juga berfungsi sebagai dudukan hampir
seluruh komponen kopling.
Pelat Kopling
Kopling berbentuk bulat dan tipis terbuat dari plat baja berkualitaas tinggi. Kedua sisi plat
kopling dilapisi dengan bahan yang memiliki koefesien gesek tinggi.
Bahan gesek ini disatukan dengan plat kopling dengan menggunakan keling
( rivet).

Pelat Tekan
Pelat tekan kopling terbuat dari besi tuang.pelat tekan berbentuk bulat dan diameternya
hampir sama dengan diameter plat kopling. salah satu sisinya (sisi yang berhubungan
dengan plat kopling) dibuat halus, sisi ini akan menekan plat kopling dan roda penerus,
sisi lainnya mempunyai bentuk yang disesuaikan dengan kebutuhan penempatan
komponen kopling lainnya.
Unit Plat Penekan
32

Sebagai satu kesatuan dengan plat penekan, pelat penekan dilengkapi dengan
sejumlah pegas spiral atau pegas diaphragma. tutup dan tuas penekan. Pegas
digunakan untuk memberikan tekanan terhadap pelat tekan, pelat kopling dan roda
penerus. jumlah pegas (kekuatan tekan) disesuikan dengan besar daya yang harus
dipindahkan.

Mekanisme Penggerak
Komponen penting lainnya pada kopling ialah mekanisme pemutusan hubungan (tuas
tekan). mekanisme ini di lengkapi dengan bantalan bola, bantalan bola diikat pada bantalan
luncur yang akan bergerak maju/mundur pada sambungan.
Bantalan bola yang dilengkapi dengan permukaan tekan akan mendorong tuas tekan.

33

Rumah Kopling
Rumah kopling terbuat dari besi tuang atau aluminium. rumah kopling menutupi seluruh unit
kopling dan mekanisme penggerak. rumah kopling umumnyamempunyai daerah
Cara Kerja Kopling
Pada saat pedal kopling ditekan/diinjak, ujung tuas akan mendorong bantalan luncur
kebelakang. bantalan luncur akan menarik plat tekan melawan tekananpegas.
terbuka yang berfungsi sebagai saluran sirkulasi udara.

34

Pada saat pelat tekan bergerak mundur, pelat kopling terbebas dari roda penerus dan
perpindahan daya terputus. bila tekanan pedal kopling dilepas, pegas kopling akan
mendorong pelat tekan maju dan menjepit pelat kopling dengan roda penerus dan terjadi
perpindahan daya.
Pada saat pelat tekan bergerak kedepan,pelat kopling akan menarik bantalan luncur, sehingga
pedal kopling kembali ke posisi semula. selain secara mekanik, sebagai mekanisme pelepas
hubungan.
Sekarang sudah banyak digunakan sistem hidrolik dan booster. secara umum, sistem hidrolik
dan hidrolik booster adalah sama. perbedaannya adalah pada sistem hidrolik booster ,
digunakan booster untuk memperkecil daya tekan pada pedal kopling. pemilihan sistem yang
digunakan disesuikan dengan kebutuhan. Pada sistem hidrolik, pada saat pedal kopling
ditekan, maka batang penerus akan mendorong piston pada master silinder kopling,
fluidapada sistem akan meneruskan daya ini keselinder pada unit kopling, dan piston silinder
unit kopling akan mendorong tuas, dan seperti pada sistem mekanik, pelat kopling terlepas,
sehingga penerusan daya dari motor ke transmisi terputus.
Cara kerja sistem hidrolik ini sama seperti cara kerja pada sistem rem.

Pembahasan kopling tetap difokuskan pada kopling flens

Kopling Flens
Kopling Flens protected

Kopling Flens Unprotected

35

Desain dan Perhitungan Kopling Flens

36

d=Diameter poros atau diameter dalam hub


D=Diameter luar naf(hub)
L=Panjang hub
D1=Diameter lingkaran kerja baut
D2=Diameter luar flens
n=Jumlah bout
d1=Diameter nominal bout
tf=Tebal flens

D=2d
L=1,5d
D1=3d
D2=4d
tf=0,5d

a. Perencanaan Hub

37

T=

Jika

D d
C
16
D

k=

3
4
makaT = c D ( 1k )
D
16

C =Tegangan geser yang diijinkam material hub N/mm2


b. Perencanaan pasak
T =l. w .k .

l
w
t
k

d
2

=Panjang Pasak...mm
=lebar pasakmm
=Tebal pasak...mm
=Tegangan geser psak yang diijinkan. N/mm2

t
d
T =l. ck .
2
2
ck=Tegangan tekan bahan pasak(tegangan permukaann)..

N/mm2

c. Perenecanaan flens
T = . D .t f .c .

D
2

2
t
= 2 D .c . f
d. Perencanaan Bout
D

T = d 12 .b . n . 1
4
2
b=Tegangan geser yang diijinkan dari bahan bout.. N/mm2
T =n . d 1 . t f .eb .

D1
2

38

eb=Tegangan tekan bahan bout

Dimensi standar Desain kopling flens

Keterangan :
Satuan : mm
Jika tidak disebutkan secara khusus, angka-angka dalam table berlaku umu baik untuk
halus maupun kasar.
Pemakaian angkan-angka dalam kurung sejauh mungkin dihindari.
Jumlah baut vs diameter poros, desain kopling flens

39

Material yang biasa digunakan pada kopling flens

Beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah kopling adalah:


1. Mampu menahan adanya kelebihan beban.
2. Mengurangi getaran dari poros penggerak yang diakibatkan oleh gerakan
darielemen lain.
3. Mampu menjamin penyambungan dua poros atau lebih.
4. Mampu mencegah terjadinya beban kejut.
Untuk perencanaan sebuah kopling kitaharus memperhatikan kondisi-kondisi sebagai
berikut:
1. Kopling harus mudah dipasang dan dilepas
2. Kopling harus dapat mentransmisikan daya sepenuhnya dari poros
40

3. Kopling harus sederhana dan ringan


4. Kopling harus dapat mengurangi kesalahan hubungan pada poros

D. Contoh Soal
1. Sebuah kopling flens mentransmisikan15 kw pada 900 rpm dari suatu motor
listrik ke sebuah kompresor dengan faktor service 1,35.Kekuatan bahan yang
diijinkan:Tegangan geser bahan poros bout dan pasak 40 Mpa,Tegangan tekan
bahan bout dan pasak 80 Mpa,Tegangan geser bahan hub 8 Mpa.Tentukan
ukuran masing-masing kopling!
Diketahui:
P=15 kw=15.103 w
N=900 rpm
fs=1,35
s=b=k=40Mpa=40N/mm2
cb=ck=80 Mpa=80N/mm2
k=8 Mpa=8 N/mm2
Penyelesaian:
Perencanaan hub
T=

60 P
60.15 .10 3
=
=159,13 N . m
2. . N
2. .900

T maks=1,35.159,13=215 N . m=215.103

T=

. d3
16 s

d= 3

16.T 3 16.215. 103


=
.s
.40
=30,1 mm
35 mm

D=2.d=2.35=70 mm
L=1,5.d=1,5.35=52,5 mm
T=

D d

= C D3 ( 1k 4 )
16 C
D
16

41

k=

d
D

c =

16. T
D
. 4 4

D d
435

70
3
16.215 . 10 70

=3,4 N/mm2=3,4 Mpa


Karena 3,4 Mpa 8 Mpa maka aman
Perencanaan pasak
Untuk d
=35 mm
maka w
=12 mm
t=w=12 mm
l=L=52,5mm
T =l. w .k .

d
2
3

k=

2. T
2.215 . 10
N
=
=19,5
2
l. w .d 52,5.12.35
mm

Karena

k =19,5

N
N
< 40
Berarti aman
2
2
mm
mm

t
d
T =l. ck .
2
2
4. T
4.215 .103
N
=
=39
ck =
l .t . d 52,5.12.35
mm2

Karena

k =39

N
N
<80
Berarti aman
2
2
mm
mm

Perencanaan flens
tf =0,5d=0,5.35=17,5 mm
42

2
t
T= 2 D .c . f
3

c =

2. T
2.215 .10
=
2
2
. D .f .70 .17,5

= 1,6

Karena

c =1,6

N
2
mm

N
N
<8
Berarti aman
2
2
mm
mm

Perencanaan Bout
Karena diameter poros d=35mm,maka jumlah bout,n=3
D1=3d=3.35=105 mm
D

T = d 12 .b . n . 1
4
2

d 1=
d 1=

4.2 .T
.b .n . D1
8.215 .103
.40 .3.105

= 6,6 mm
8 mm
Ukuran bout 8 mm
D2=4d=4.35=140 mm
T =n . d 1 . t f .eb .

eb

D1
2

2. T
n . d 1 . t f . D1

43

Karena

eb

2.215 .10
=9,7 N /mm 2
3.8 .17,5 .105

=9,7

N
N
<80
Berarti aman
2
mm
mm2

44

45