Anda di halaman 1dari 9

GELOMBANG DAN OPTIK

GELOMBANG PADA GAS

DISUSUN OLEH:

FITRI ELI ROSIDAH

(13030184002)

AWANG LAZUARDI

(13030184008)

ZAZILATUL UMAROH

(13030184022)

MEYRINDA TOBING

(13030184030)

SRI WULANDARI

(13030184038)

ARDILLA SAFITRI

(13030184040)

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN FISIKA
PENDIDIKAN FISIKA A 2013
2015

Gelombang Tekanan dalam Kolom Gas (Elastik Longitudinal)


Pandang gelombang elastik longitudinal dalam kolom gas yang disebabkan oleh
perubahan tekanan dalam kolom gas. Bunyi adalah contoh yang terpenting dari tipe
gelombang ini. Untuk mudahnya hanya akan kita pandang rambat gelombang dalam gas yang
berada dalam pipa silindris (tabung). Ada perbedaan yang sangat penting antara gelombang
elastis dalam gas dengan gelombang elastis dalm batang pejal. Gas sangat mudah ditekan
(very compressible) dan bila terjadi fluktuasi tekanan dalam gas, maka kerapatan gas akan
berubah sesuai dengan fluktuasi tekana.

Gambar 1.6 Gelombang tekanan dalam kolom gas


P0

Dalam keadaan setimbang, tekanan dan kerapatan gas adalah


sama di semua bagian volume gas. Artinya,

P0

tekanan gas ini diganggu, elemen volume

A dx

perbedaan tekanan

dan

p'

dan

'

adalah:

S ' S=dx+ dS
dx+

sejauh

'

tidak bergantung pada

yang

x . Jika

dalam gambar 1.6 akan bergerak karena

pada salah satu sisi dan sisi yang lain memberikan gaya
A

resultan. Adanya gaya resultan ini menyebabkan bagian


bagian

dan

berpindah sejauh

dan

sedemikian sehingga total elemen volume setelah deformasi


(sama halnya seperti perubahan kecepatan). Massa dari elemen

volume sebelum diganggu adalah

0 A dx

. Jika

adalah kerapatan gas setelah

terganggu, maka massa dari elemen volume terganggu adalah :

A ( dx+ dS) .

Menurut Hukum Kekekalan Massa, kedua massa elemen volume tersebut harus sama, jadi
A ( dx +dS )=0 Adx

atau

1+

S
= 0
x

= 0 1+

Maka:

S
x

Menurut ekspansi binomial Newton:


(a+ b) n=an +na n1 b+

n( n1) n2 2
a b +
2!

Jadi:
S
x

Pada umumnya

1+

S
x

=1

sangat kecil, maka

S S 2 S 3
+

+
x x
x

( ) ( )

S
x

S
= 0 1
x

Jadi

0= 1+

Tekanan

S
x

1+

Taylor, fungsi

S
x

atau

1-21

mempunyai hubungan dengan kerapatan gas


x

atau

P=f () . Menurut

dapat ditulis sebagai:


df
dx

( )

P=P ( )=P ( 0 ) + ( 0 )

dP
d

f ( x )=f ( x0 ) + ( xx 0 )

x= x0

1
d2 f
xx 0 )2
(
2!
d x2

( )

+
x=x 0

( )
(
)(
)

1
0
2!

++

x=x 0

1
dn f
xx 0 )n
(
n!
d xn

( )

x=x 0

d P
2
d

+
x= x 0

Untuk perubahan kerapatan yang relatif kecil, kita hanya mengambil dua suku pertama:
P=P ( 0 ) + ( 0 )

( dPd )

= 0

P=P0 + ( 0 )

Jadi,

Besaran
dari :

; P ( 0 )=P0

B=0

( dpd )

= 0

( dPd )

= 0

disebut elastisitas modulus bulk (modulus limbak), berasal

P=B

atau P=+ B
V

Atau

( dPd )

=
= 0

B
0

P=P0 + B

maka :
( 0)
0

(1-22)

Dengan menggunakan persamaan (1-21), persamaan (1-22) dapat ditulis sebagai berikut :
0
P=P0 + B

( Sx )

Atau
P=P0 B

( Sx )

(1-23)

Persamaan (1-23) menyatakan hubungan antara tekanan di suatu titik dengan deformasi di
titik itu (untuk batang elastis, hal ini ekuivalen dengan persamaan 1-11).
Selanjutnya kita memerlukan gerak dari elemen volume seperti gambar 1.6.
Massa elemen volume adalah

Adx

dan percepatannya

Gas di sebelah kiri A menekan ke kanan dengan gaya


menekan ke kiri dengan gaya
sumbu x positif adalah

P' A

2 S
t 2

( )
PA

dan gas di sebelah kanan A

(lihat gambar 1.6). Jadi resultan gaya dalam arah

( PP' ) A=AdP , sebab

dP=P ' P . Persamaan geraknya

P
2 S
=0 2
x
t

(1-

adalah :
2 S
AdP= 0 Adx 2
t
Atau

24)

Dalam hal ini kita mempunyai medan pergeseran 5 dan medan tekanan p. Persamaan (1-22)
dan (1-23) menunjukkan relasi antara kedua medan tersebut. Bila persamaan (1-23) kita
turunkan terhadap x dan mengingat p, adalah konstan, maka :
p
S
=
B
x
x

, jika dibandingkan dengan persamaan (1-24), di dapat :


S
t

S
x

1-25

Selagi lagi kita dapatkan bentuk persamaan yang sama dengan bentuk Persamaan (1-5) dan
kita dapat menyimpulkan, pergeseran karena gangguan pada tekanan dalam gas merambat
dalam kecepatan :
v=

1-26

Turunkan dengan mengkombinasikan Persamaan (1-23) dan (1-24) bahwa :



t

B
P

Inilah sebabnya kita sebut gelomang elastik dalam gas adalah gelombang tekanan. Bunyi
adalah salah satu contoh gelombang tekanan di udara. Suatu ledakan, dapat disebabkan oleh
kenaikan tekanan setempat (lokal) secara tiba-tiba, yang membuat suatu gelombang tekanan
yang besar, tetapi di sini fluktuasi dalam kerapatan dapat terjadi sedemikian besar sehingga
pendekatan yang kita buat tidak lagi berlaku dan akan didapatkan suatu persamaan
gelombang yang lebih kompleks. Dengan cara mengkombinasikan Persamaan (1-22) dan (125) dapat diturunkan :

t

B
P

(gelombang kerapatan)

Gerak gelombang dalam gas umumnya terjadi secara proses adiabatik artinya tidak terjadi
pertukaran panas dalam elemen-elemen volume gas. Pada proses adiabatik: pv = C, maka p =
C, dengan adalah besaran karakteristik untuk tiap gas. Untuk kebanyakan gas diatomik
1,4 =
Jadi

Cp
C v , disebut konstanta Laplace.

dp
( ) = Co -1

B=

( dpd )=C =P

Jika indeks nol dihapus dan disubstitusikan B ke persamaan (1-26_ kita dapatkan cepat
rambat gelombang tekanan dalam gas.
v=

p
127

v=

Jika

diperoleh dari peristiwa isotermis (suhu konstan), maka pada 0 C didapat

vbunyi = 280 m/s, padahala menurut eksperimen, pada 0 C vbunyi =330 m/s, jadi berarti peristiwa
pada rambat bunyi bukan isotermik melainkan adiabatik. Menurut Laplace, jika gas dalam
keadaan kompresi, gas dipanaskan di bagian yang diganggu dengan suhu tidak konstan, dan
peristiwa ini cepat sekali sehingga tak ada pertukaran panas dengan sekelilingnya, untuk ini
digunakan :
v=

Gelombang ini dengan S sebagai medan merupakan gelombang longitudinal kerena


pergeserannya sejajar dengan arah rambat. Tekanan p di sini bukan merupakan vektor dan
tidak mempunyai arah. Arah F adalah normal pada permukaan didapat dari perbedaan
tekanan. Jadi, gerak gelombang dari medan tekanan adalah gelombang skalar, demikian pula
gelombang kerapatannya.
Dalam pelajaran mengenai panas, terdapat hubungan antara tekanan p dan volume V
dalam gas (persamaan keadaan), yaitu :
pV = nRT ; n = jumlah mol dari molekul gas, R = konstanta gas
=

m
m
; n= ( M=berat molekul=massa1 mol)
V
M

pV =

m
m
P RT
RT atau = atau =
M
V
M

Subtitusikan ke dalam persamaan (1-27), didapat :

v=

RT
R
= = T = T
m
m

Dengan

R
m

Secara percobaan dapat dihitung koefisien = 20,055 (untuk udara).


Jadi:

v=

RT
= T =20,055 T
M

m
s

(1-28)

Marilah kita misalkan gelombang pergeseran (simpangan) adalah harmonik dinyatakan


sebagai S(x,t) = So sin (kx t) maka;
S
=k S o cos(kxt ) ; dari persamaan (1-23)
X
p= po

S
X

atau

p po =B k So cos (kxt)

Dari Persamaan (1-26):

v=

B
o

atau

B=o v2

(1-29a)

disubtitusi ke dalam persamaan (1-29a)

didapat
2

p po =o v k S o cos (kx t)
p=Po cos( kxt )

(1-29b)

Po adalah amplitudo gelombang tekanan


Jadi gelombang tekanan berosilasi dengan amplitudo rata-rata
Po=B k So =o k v 2 S o= o v S o
Dari persamaan (1-21)

Po

;
(1-30)

o=o

S
=S o cos( kxt )
X
=o cos(kxt )

Persamaan (1-31) merupakan prsamaan gelombang kerapatan dengan ampltudo


o=

Mengingat

k=

o S o
v

(1-31)
o o k S o

(1-32)

Gelombang tekanan (Persamaan 1-29 b) dan gelombang kerapatan (Persamaan 1-31) berbeda
fase 90 dengan gelombang simpangan.
v =

Dari persamaan :

RT
M

dapat disimpulkan :

1) Cepat rambat bunyi dalam gas tidak bergantung pada tekanannya


2) Cepat rambat bunyi dalam gas berbanding lurus dengan akar temperatur mutlaknya
(untuk gas yang sama)
Jadi : v : v = T : T
1

3) Cepat rambat bunyi dalam gas berbanding terbalik dengan akar massa 1 mol gas.
1
1

Jadi: v 1 : v 2 =
:
M1
M2
Akibat dari kesimpulan 1) dan 2), kiranya dapatlah dipahami jika pada malam hari
bunyi dapat terdengar lebih jauh dari pada waktu siang haru. Pada siang hari, bagian
udara yang dekat tanah bersuhu lebih tinggi dari udara di atasnya. Akibatnya arah
rambat bunyi akan melengkung ke atas. Jadi bunyi tidak dapat terdengar dari jarak
yang cukup jauh sebab tidak sampai ke telinga kita ( lihat gambar 1.7 a)
SEJUK

PANAS

Sumber Bunyi Telinga pendengar


a)Arah bunyi pada siang hari

Sumber Bunyi
b)Arah bunyi pada malam hari
Gambar 1.7

Sebaliknya pada malam hari, suhu udara dekat permukaan tanah lebih rendah dari
udara di atasnya. Akibatnya arah rambat bunyi melengkung ke bawah, hingga bunyi dapat
terdengar pada jarak yang relatif lebih jauh, daripada siang hari ( lihat gambar 1.7 b)