Anda di halaman 1dari 23

A.

IDENTITAS PEMRAKARSA / PENANGGUNGJAWAB

Identifikasi pemrakarsa / penanggungjawab kegiatan dan/atau usaha sangat diperlukan untuk


kepentingan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Pemrakarsa / penanggungjawab adalah
pihak yang berkompeten untuk melaksanakan seluruh upaya yang tertuang dalam Dokumen
UKL-UPL.

Adapun identitas pemrakarsa / penanggungjawab yang dimaksud adalah sebagai berikut :


a.

Nama Pemrakarsa / Penanggungjawab :

Novria Ashara

b.

Tempat / Tanggal Lahir

Lampung, 10 Nopember 1979

c.

Jenis Kelamin

Perempuan

d.

Kewarganegaraan

WNI

e.

Agama

Islam

f.

Alamat Sesuai KTP

Kebagusan

Besar

Kav.19K

Kelurahan

Kebagusan Kecamatan Pasar Minggu Jakarta


Selatan
g.

Nomor Telepon HP.

08122201426

h.

Nomor Telepon Rumah

0231 - 8336598

i.

Bertindak untuk dan atas nama

PT. Dian Karya Estate

j.

Jabatan dalam Perusahaan

Direktur

B.

RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN

Rencana usaha dan/atau kegiatan memberikan gambaran tentang nama, lokasi dan batasbatasnya, skala/besaran usaha, dan garis besar komponen rencana usaha. Secara rinci dapat
dijelaskan sebagai berikut:

B.1. Nama Usaha dan/ atau Kegiatan

Perumahan

B.2. Lokasi Rencana Usaha dan/atau Kegiatan

Jalan Kayuwalang
Kelurahan Karya Mulya
Kecamatan Kesambi Kota
Cirebon

B.3 Batas Lokasi Usaha dan/atau Kegiatan

Lokasi pendirian Hotel Grand Prima Cirebon dibatasi oleh :


a. Sebelah Utara
:

Perumahan

b. Sebelah Timur

Sungai

c. Sebelah Selatan

Perumahan

d. Sebelah Barat

PT. Dian Karya Estate

e. Posisi Titik Koordinat GPS.

B.4 Skala / Besaran Usaha dan/atau Kegiatan


Pembangunan area perumahan yang diprakarsai oleh PT. Dian Karya Estate merupakan upaya
pemenuhan kebutuhan masyarakat akan lahan hunian di kota Cirebon. Area perumahan yang
dikembangkan dilengkapi dengan saluran drainase, sistem buangan air kotor dan tempat
pembuangan sementara sampah serta ruang terbuka hijau.
Perumahan di lokasi Kayuwalang ini dibangun di atas tanah seluas 63.050 m 2 dengan alokasi
pemanfaatan lahan sebagai berikut :
a. Luas Tanah Keseluruhan

63.050 m2

b. Luas Tanah Tertutup Bangunan

35.000 m2,

dengan pembagian cluster tipe fisik bangunan sebagai berikut :

Tipe Azalea
Luas tanah
Luas bangunan

:
:

90 m

84 m2

Tipe Bougenville
- Luas tanah
- Luas bangunan

: 87 m2
: 90 m2

Tipe Chrysant
- Luas tanah
- Luas bangunan

: 98 m2
: 95 m2

Tipe Boulevard
- Luas tanah
- Luas bangunan

: 112,5 m2
: 200 m2

c. Luas Tanah Terbuka (jalan, saluran dll)


:

18.050 m2

d. Luas Ruang Terbuka Hijau (taman)

10.000 m2

B.5 Garis Besar Komponen Rencana Usaha dan/atau Kegiatan


a. Kesesuaian Lokasi Kegiatan dengan Rencana Tata Ruang
Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Cirebon Nomor 08 Tahun 2012 tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah Kota Cirebon Tahun 2011-2031, diketahui bahwa lokasi
perumahan Jalan Kayu Walang RT 04 RW 07 sesuai dengan peruntukkannya yaitu
SWK III sebagai Fungsi Utama Perumahan dan Pendidikan serta Fungsi Pendukung
yaitu Pemerintahan, Perdagangan dan Jasa, Wisata, Pergudangan, Pemakaman,
Fasilitas Sosial, RTH, Fasilitas Olah Raga dan Fasilitas Pendidikan.
Kesesuaian peruntukkan tersebut telah disahkan dengan penerbitan Izin Prinsip oleh
Walikota Cirebon Nomor 503/870/BAPPEDA tanggal 26 Juni 2015.
b. Penggunaan Lahan di Sekitar Lokasi Usaha dan/atau Kegiatan
Penggunaan lahan di sekitar lokasi pembangunan perumahan didominasi oleh
kegiatan perdagangan, fungsi perkantoran dan perumahan. Sebagian lahan dari area
lokasi yang telah disiapkan berada di batas kotamadya dan sisa lahan sebagian
berada di batas kabupaten.
Fungsi perumahan dan pergudangan serta akses jalan utama merupakan penggunaan
lahan yang paling menonjol di sebelah utara dan selatan dari lokasi kegiatan.
Sedangkan, jalan layang tampak di bagian timur dan beberapa jalan akses menuju

gerbang perumahan lainnya serta sejumlah lahan kosong berada di sebelah barat dari
lokasi kegiatan

c. Uraian Mengenai Komponen Kegiatan yang Dapat Menimbulkan Dampak


Lingkungan
Setiap tahapan dalam kegiatan yang meliputi tahapan pra konstruksi, konstruksi, dan
pasca konstruksi akan dijabarkan pada bagian ini, sebagai berikut:
c.1

Tahap Pra Konstruksi


Tahapan pra konstruksi pada kegiatan pembangunan perumahan terdiri dari :

Pembukaan Lahan
Kegiatan pembangunan perumahan diawali dengan tahapan penyiapan
lahan, yaitu perolehan hak milih tanah / lahan. Alih fungsi lahan ini
melibatkan proses ganti rugi hak penduduk setempat yang memiliki lahanlahan

persawahan

yang

akan

digunakan

sebagai

lokasi

kegiatan

pembangunan area perumahan serta pengesahan hak milik tanah atas


perusahaan pada badan pengesahan terkait.

Perubahan Persepsi Masyarakat


Tahapan pengubahan lahan yang telah dikerjakan dapat memicu timbulnya
persepsi masyarakat terhadap kegiatan awal pembangunan perumahan.
Persepsi yang timbul dapat berupa reaksi atas perubahan fungsi lahan,
harapan akan tersedianya peluang kerja dan pemenuhan kebutuhan lahan
huni.

c.2

Tahap Konstruksi
Tahap konstruksi pada kegiatan pembangunan perumahan meliputi :
Penerimaan tenaga kerja
Penerimaan tenaga kerja dilakukan oleh manajemen, dengan mengikuti alur
teknis dan jadwal pekerjaan. Pelaksanaan konstruksi fisik perumahan ini
dijadwalkan berlangsung selama

tahun, pekerjaan telah dimulai di

bulan April-2015 dan akan ditargetkan selesai dan siap huni pada tahun
20

.Tahapan konstruksi pada perumahan ini melibatkan tiga personil

berdasarkan kualifikasi pada setiap alur pekerjaan, yaitu site manajer,


mandor dan para pelaksana (tukang dan laden).
Seleksi penerimaan tenaga kerja yang dilakukan oleh manajemen hanya
terbatas sampai pada tingkat mandor. Kebutuhan akan jumlah dan komposisi
tenaga kerja pelaksana dikoordinasikan oleh masing-masing mandor sesuai

dengan spesifikasi pekerjaan yang akan dilaksanakan. Berikut gambaran


mengenai kebutuhan / komposisi tenaga kerja yang dibutuhkan :
TABEL B.1.
DAFTAR KEBUTUHAN TENAGA KERJA KONSTRUKSI
No
.

Klasifikas
i Pekerja

Jenis
Kelamin

Daerah
Asal

Pendidikan

Keteranga
n

Tahap Konstruksi
1.

Site
Manager

Laki-laki

Lokal

S1-T. Sipil

1 orang

2.

Mandor

Laki-laki

Lokal

SLTA

Orang

3.

Pelaksana

Laki-laki

Lokal

SLTA/SLTP

Orang

Jumlah :

Orang

Sumber : Manajemen PT Dian Karya Estate, 2015.


Pembuatan Jalan Kerja
Jalan kerja merupakan akses utama sebelum memasuki tahapan konstruksi
lebih lanjut. Pembuatan jalan kerja di atas badan air diyakini telah
memberikan kontribusi pengendapan material konstruksi seperti sisa adukan
semen di dasar saluran atau sungai.
Mobilisasi Alat dan Bahan

Tahap konstruksi pembangunan perumahan termasuk dalam pekerjaan yang


membutuhkan berbagai alat berat dalam pelaksanaannya. Alat berat yang
digunakan pada umumnya dalam lokasi proyek pembangunan perumahan
adalah bulldozer, wheel loader, excavator dan compactor. Mobilitas alat
berat dilakukan 2 (dua) kali, yaitu saat mendatangkan di awal dan di akhir
konstruksi.
Mobilitas material dilakukan dengan menggunakan angkutan dump truck
(untuk material pasir, bata, genteng, gypsum board, keramik, kayu, dll), dan
kendaraan jenis truk besar untuk material besi dan semen dengan ritasi
pengangkutan diperkirakan 2 (dua) kali sehari.

Pemotongan, Pengurugan dan Pemadatan Tanah


Tahapan ini meliputi arus keluar masuk angkutan dan frekuensi ritasi
dump truk pengangkut tanah sebanyak lima hingga tujuh kali sehari. Total
dump truk pengangkut tanah yang beroperasi adalah sebanyak 30 (tiga
puluh) unit kendaraan dengan waktu operasi dimulai dari pukul 07.0017.00 setiap hari selama tahapan pemadatan lahan.
5

Kegiatan suplai tanah urugan dilanjutkan dengan proses pemadatan tanah


menggunakan ekskavator dan compactor.

Pencemaran Badan Air (Masuknya polutan pada badan air)


Badan sungai yang berada di bagian depan dari lokasi pembangunan
bersifat rentan terhadap aktivitas tahapan konstruksi. Endapan sungai
akibat limpasan tanah dari kegiatan pemadatan dan pengurugan dapat
meningkatkan tekanan dan mengakibatkan banjir jika musim penghujan
tiba.

Peningkatan Kebutuhan Air


Kebutuhan air pada tahapan konstruksi didatangkan dari luar area dengan
truk tanki air. Penggunaan air pada tahapan konstruksi ini ditujukan untuk
mengurangi tingkat penyebaran debu dan menurunkan suhu panas pada
tanah dan lingkungan sekitar serta kebutuhan domestik para pekerja.

Kegiatan Domestik dan Operasional Pekerja


Aktivitas para pekerja pada area konstruksi dapat menghasilkan timbulan
sampah. Penyediaan TPS pada saat konstruksi perlu diperhatikan agar
timbulan sampah yang muncul tidak menimbulkan pencemaran pada
lingkungan sekitar.

Penambahan Peluang Kerja dan Berusaha


Proyek pembangunan perumahan dipandang masyarakat sekitar sebagai
kesempatan untuk menciptakan lapangan berdagang secara informal
dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan para pekerja.

Kesehatan dan Keselamatan Pekerja


Setiap kegiatan memiliki resiko terhadap para pelaku, dalam hal
pembangunan perumahan adalah resiko kecelakaan hingga kematian para
pekerja. Manajemen perusahaan perlu memperhatikan kepatuhan para
pekerja dalam memakai perlengkapan kesehatan dan keselamatan kerja
agar dapat menjamin zero accident dalam kegiatan.

c.3

Tahap Pasca-Konstruksi
Seiring dengan perkembangan kota Cirebon, maka banyak masyarakat dari luar
kota yang bermigrasi dan menetap di kota Cirebon. Hal ini berkorelasi dengan
peningkatan akan kebutuhan rumah tinggal. Lahan-lahan kosong yang
seharusnya menjadi ruang terbuka hijau dan daerah resapan air telah berubah
fungsi menjadi area perumahan. Namun, pembangunan perumahan ini
seharusnya memiliki kompensasi nyata untuk ruang terbuka hijau di dalam
komplek perumahan itu sendiri. Ketika suatu area perumahan telah siap dihuni,
tingkat hunian akan langsung meningkat dan mengundang pertumbuhan di
sektor-sektor lainnya serta dampak dari kegiatan masyarakat yang menghuni
6

area tersebut. Dampak-dampak lingkungan yang timbul setelah adanya tingkat


hunian adalah sebagai berikut :

Perubahan Persepsi Masyarakat


Timbulnya

daerah

hunian

baru

diasumsikan

dapat

menimbulkan

kecemburuan sosial antara penghuni area baru dengan penghuni daerah


hunian sekitar yang telah ada sebelumnya karena fasilitas yang terdapat
pada satu area hunian berbeda dengan area hunian lainnya.

Penambahan Peluang Kerja dan Berusaha


Interaksi sosial antara penghuni area perumahan dengan masyarakat sekitar
dapat menciptakan hubungan timbal balik yang dapat menciptakan
kesempatan kerja dan berusaha yang saling menguntungkan dalam rangka
memenuhi kebutuhan masing-masing individu.

Peningkatan Mobilitas Arus Kendaraan


Bertambahnya suatu tingkat hunian pada area tertentu dipercaya dapat
memberikan kontribusi pertambahan arus kendaraan di jalan akses utama.
Selain itu, arus keluar masuk kendaraan pada titik gerbang utama komplek
perumahan juga dapat menimbulkan kemacetan di jalan raya utama pada
waktu-waktu tertentu.

Kegiatan Domestik Rumah Tangga


Berdasarkan SNI 3242:2008,

rumah permanen menghasilkan timbulan

sampah sebesar 2.5 l/orang/hari. Oleh karena itu, perencanaan pengelolaan


sampah dan kapasitas Tempat Penampungan Sementara (TPS) dapat
direncanakan berdasarkan jumlah penghuni dan jumlah bangunan rumah
yang ada.
Sementara itu, kegiatan mencuci dan air kotor yang berasal dari kamar
mandi serta WC dialirkan menuju IPAL Komunal dan pemasangan septic
tank pada setiap rumah. Perhitungan kapasitas IPAL komunal didasarkan
pada perhitungan debit air limbah adalah 120 l/orang/hari pada rumah biasa
(Pergub. Propinsi DKI Jakarta No.122 Tahun 2005).

Pencemaran Air Pada Saluran Drainase Kota


Saluran drainase yang telah direncanakan adalah sebagai berikut :
Drainase Primer
Panjang

: 850 m

Lebar

: 60 cm
7

Tinggi/Kedalaman

: 60 cm

Drainase Sekunder

Panjang

: 4913

Lebar

49 cm

Tinggi/Kedalaman

52.5 cm

Drainase Tertier

Panjang

: 1524 m

Lebar

39 cm

Tinggi/Kedalaman

52.5 cm

Penggunaan Air Bersih Pada Kegiatan Rumah Tangga dan Ruang Terbuka
Hijau
Sumber air bersih yang digunakan berasal dari sumur artesis atau sumur bor
di dua titik dengan rencana kedalaman 3-4 m. Penggunaan air bersih
ditujukan untuk kebutuhan domestik setiap rumah dan penyiraman area
hijau di dalam komplek perumahan. Kebutuhan air bersih untuk setiap
individu pada perumahan adalah sebesar 30-50 l /orang/ hari (Kepmen
Kimpraswil 18 Desember 2001)

C.

DAMPAK LINGKUNGAN YANG DITIMBULKAN DAN UPAYA


PENGELOLAAN
HIDUP
SERTA
UPAYA
PEMANTAUAN
LINGKUNGAN HIDUP (UKL-UPL)

C.1.

Dampak Lingkungan yang Ditimbulkan


Prakiraan dampak yang akan terjadi pada kegiatan hotel berupa penurunan kualitas
lingkungan. Dampak yang sifatnya terus menerus akan terjadi selama umur pengelolaan
kegiatan berlangsung.
a. Tahap Konstruksi
8

a.1 Kegiatan Penerimaan Tenaga Kerja

Sumber Dampak
Kegiatan penerimaan tenaga kerja

Jenis Dampak
Kekhawatiran dari warga sekitarnya, khususnya tenaga kerja produktif,
karena tidak diterima sebagai pekerja konstruksi

Besaran Dampak
Sebanyak 45 tenaga kerja produktif di lingkungan RW setempat dan / atau
di Kelurahan Kebon Baru

a.2 Mobilisasi Peralatan dan Material


Sumber Dampak

Mobilisasi material /peralatan

Jenis Dampak
- Kemacetan lalu-lintas di akses masuk-keluar lokasi kegiatan (Jln.

Siliwangi)
Meningkatnya partikel debu di udara
Besaran Dampak
- Sebanyak 5-8 kendaraan mengalami tundaan di Jln. Siliwangi
- Perubahan kondisi udara ambient
-

a.3 Pemasangan / Penanaman Pondasi Tiang Pancang

Sumber Dampak
Kegiatan pemasangan / penanaman tiang pancang

Jenis Dampak
Kebisingan yang dapat mengganggu ketenangan lingkungan sekitarnya

Besaran Dampak
Peningkatan intensitas kebisingan melebihi 55 dBA

a.4 Pembangunan Gedung Hotel

Sumber Dampak
Kegiatan penambahan luas lantai bangunan

Jenis Dampak
Peningkatan volume air larian hingga menyebabkan genangan air di badan
jalan / lingkungan sekitarnya

Besaran Dampak
Peningkatan volume air larian hujan (run-off) sebesar 109,95 m3/hh

a.5 Pengoperasian Crane

Sumber Dampak
9

Kegiatan pengoperasian crane

Jenis Dampak
Bahaya jatuhnya material / bahan lain dari lengan crane

Besaran Dampak
Terjadinya kecelakaan hingga menyebabkan luka, cacat, atau meninggal
dunia

b. Tahap Operasional
b.1 Penggunaan Kamar Mandi, Cuci, Restoran, Cleaning Service, dan Penyiraman)

Sumber Dampak :
Kegiatan penggunaan kamar mandi, cuci, restoran, cleaning service, dan
penyiraman
Jenis Dampak :
Pencemaran air pada badan air penerima / sumber air

Besaran Dampak :
Timbulan limbah cair sebesar 7.500 liter/hari

b.2 Aktivitas Karyawan, Tamu, Restoran, dan Siklus Tanaman


Sumber Dampak :
Kegiatan aktivitas karyawan, tamu, restoran dan siklus tanaman
Jenis Dampak :
Terjadinya timbulan sampah organik dan anorganik
Besaran Dampak :
59,40 kg/hari
b.3 Pengoperasian Genset

Sumber Dampak :
Kegiatan pengoperasian genset

Jenis Dampak :
Pencemaran udara
Kebisingan
Timbulan oli bekas
Besaran Dampak :
- Kadar pencemar melebihi batas ambang batas BMLH
- Kebisingan melebihi 60 dBA
- Timbulan oli bekas yang berpotensi disalahgunakan

C.2.

UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP


a.Tahap Konstruksi
a.1

Kegiatan Penerimaan Tenaga Kerja


10

Sumber Dampak

Kegiatan penerimaan tenaga kerja


Upaya Pengelolaan

Cara/teknik pengelolaan yang dilakukan


-

Sosialisasi kepada warga sekitar tentang rencana penerimaan

tenaga kerja konstruksi;


Penerimaan tenaga kerja secara profesional dan selektif dengan
mengutamakan pemanfaatan tenaga kerja produktif setempat dan

/ atau di Kelurahan Kebon Baru


Lokasi Pengelolaan
- Kantor Kelurahan Kebon Baru
- Kantor Hotel Grand Prima
Waktu Pengelolaan
- 1 kali sebelum dilakukan seleksi penerimaan tenaga kerja

a.2

- 1 kali sebelum dilakukan seleksi penerimaan tenaga kerja


Kegiatan Material /Peralatan

Sumber Dampak

Kegiatan material /peralatan


Upaya Pengelolaan
Cara/teknik pengelolaan yang dilakukan
- Pembatasan

waktu

mobilisasi

kendaraan

pengangkut

material / peralatan
- Penggunaan terpal penutup bagi kendaraan pengangkut

pasir dan sejenisnya


Lokasi Pengelolaan
Jl. Siliwangi (depan akses masuk-keluar)

Area kegiatan

Waktu Pengelolaan
- Setiap malam, selama terjadi mobilisasi kendaraan
- Selama ada mobilisasi kendaraan

a.3 Penanaman / Pemasangan Tiang Pancang

Sumber Dampak

Kegiatan pemasangan/penanaman tiang pancang


Upaya Pengelolaan
Penanaman tiang pancang menggunakan sistem press/jack

pile
Lokasi Pengelolaan

Area kegiatan
Waktu Pengelolaan
Pada saat pemasangan / penanaman tiang pancang

11

a.4 Pembangunan Gedung Hotel


Sumber Dampak

Kegiatan konstruksi bangunan hotel (penambahan luas


lantai bangunan)
Upaya Pengelolaan
Cara/teknik pengelolaan yang dilakukan
-

Pembersihan saluran drainase sekitar;


Penyediaan lahan RTH min. 10% dari luas lahan
(1610,70 m2) , pembuatan sumur resapan sebanyak 6

buah dan lubang resapan biopori sebanyak 30 titik


Lokasi Pengelolaan

- Area kegiatan
- Area kegiatan operasional crane
- Sekeliling area kegiatan;
- Halaman Hotel Grand Prima
Waktu Pengelolaan
- Pada saat pemasangan / penanaman tiang pancang
- Pada saat operasionalisasi crane
- 1 kali seminggu selama kegiatan konstruksi berjalan
- Selama kegiatan konstruksi berjalan

b. Tahap Operasional
b.1 Kegiatan Operasional ( Kamar Mandi, Cuci, Restoran, Cleaning Service, dan
Penyiraman )
Sumber Dampak :

Kegiatan Operasional ( Kamar Mandi, Cuci, Restoran, Cleaning Service,


dan Penyiraman )

Upaya Pengelolaan :
menggunakan septic tank kedap air yang dilengkapi grease trap
membangun IPAL dengan pengolahan air limbah menggunakan sistem

biofilter kombinasi dengan sistem media nico filter


Lokasi Pengelolaan :
Halaman / ruang terbuka

Periode Pengelolaan :
pengurasan septic tank : 2 tahun sekali atau sewaktu penuh
IPAL : pencucian (back wash) filter setiap seminggu sekali

b.2 Kegiatan Domestik (Restoran, Kantor, Kamar Tamu, Lobi, Halaman / Taman)

Sumber Dampak :
Kegiatan domestik (restoran, kantor, kamar tamu, lobi, halaman / taman)

Upaya Pengelolaan :
12

Melakukan pembersihan rutin, penyediaan tempat sampah terpilah dan


pengelolaan sampah terpilah

Lokasi Pengelolaan :
Di setiap kamar tamu, lobi, kantor, dan restoran, halaman/taman) secara
rutin dan memilahnya

Periode Pengelolaan :
Setiap hari

b.3 Kegiatan Operasional Genset

Sumber Dampak :
Kegiatan operasional genset

Upaya Pengelolaan :
- Penempatan genset di tempat yang aman (kedap suara) dan jauh dari

aktivitas tenaga kerja/tamu


- Pemeliharaan genset sesuai manual operasi
- Oli bekas : dikumpulkan di tempat khusus / TPS limbah oli bekas
Lokasi Pengelolaan :
- Halaman belakang Hotel Grand Prima
- Ruang genset
- Di sekitar ruang genset
Periode Pengelolaan :
- Sebelum Hotel Grand Prima beroperasi
- 1 kali setahun pada saat genset dioperasikan
- 1 kali selama genset dioperasikan

C.3.

UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP


a. Tahap Konstruksi
a.1

Kegiatan Penerimaan Tenaga Kerja

Sumber Dampak

Kegiatan penerimaan tenaga kerja


Upaya Pemantauan
Cara/teknik pemantauan yang dilakukan

Sosialisasi : pengamatan langsung


Penerimaan tenaga kerja : pengamatan langsung

Lokasi Pemantauan
- RW setempat / Kantor Kelurahan Kebon Baru
- Kantor Hotel Grand Prima
Waktu Pemantauan
- Sebelum dilakukan seleksi penerimaan tenaga kerja
- Pada saat seleksi penerimaan tenaga kerja

13

a.2

Kegiatan Material /Peralatan


Sumber Dampak
Kegiatan material /peralatan
Upaya Pemantauan
Cara/teknik pemantauan yang dilakukan
-

Pembatasan waktu mobilisasi kendaraan pengangkut

material / peralatan : pengamatan langsung


Penggunaan terpal penutup bagi kendaraan pengangkut

pasir dan sejenisnya : pengamatan langsung


Lokasi Pemantauan
- Jl. Siliwangi (depan akses masuk-keluar)
- Area kegiatan

Waktu Pemantauan
-Setiap malam, selama terjadi mobilisasi kendaraan
-Selama ada mobilisasi kendaraan

a.3 Pembangunan Hotel

Sumber Dampak
Pembangunan fisik hotel :
- Kegiatan pemasangan/penanaman tiang pancang
- Kegiatan operasional crane
- Kegiatan konstruksi bangunan hotel (penambahan luas lantai

bangunan)
Upaya Pemantauan
Cara/teknik pemantauan yang dilakukan
- Penanaman tiang pancang : pengamatan langsung
- Pemasang pada posisi yang proporsional hingga lengan crane
tidak melebihi area kegiatan : pengamatan langsung
-

Pembersihan saluran drainase sekitar : pengamatan

langsung
-Penyediaan lahan RTH min. 10% dan pembuatan sumur resapan

dan lubang resapan biopori : pengamatan langsung


Lokasi Pemantauan
Area kegiatan

Area kegiatan operasional crane


Sekeliling area kegiatan;
Halaman Hotel Grand Prima
Waktu Pemantauan
- Pada saat pemasangan / penanaman tiang pancang
- Pada saat pembangunan fisik Hotel Grand Prima
- 1 kali seminggu selama kegiatan konstruksi berjalan
14

- Selama kegiatan konstruksi berjalan


b. Tahap Operasional
b.1 Kegiatan Operasional ( Kamar Mandi, Cuci, Restoran, Cleaning Service, dan
Penyiraman )
Sumber Dampak :
Kegiatan Operasional ( Kamar Mandi, Cuci, Restoran, Cleaning Service,
dan Penyiraman )

Upaya Pemantauan:
Melakukan uji laboratorium terhadap kualitas air yang tercemar

Lokasi Pemantauan:
Outlet pembuangan limbah cair setelah diolah di IPAL;
Badan air penerima kota
Periode Pemantauan:
Setiap 6 (enam) bulan

b.2 Kegiatan Domestik (Restoran, Kantor, Kamar Tamu, Lobi, Halaman / Taman)

Sumber Dampak :
Kegiatan domestik (restoran, kantor, kamar tamu, lobi, halaman / taman)

Upaya Pemantauan:
Pengamatan langsung

Lokasi Pemantauan:
Tempat sampah terpilah & TPS terpilah Hotel Grand Prima

Periode Pemantauan:
Setiap hari

b.3 Kegiatan Operasional Genset


Sumber Dampak :

Operasional genset
Upaya Pemantauan:
Melakukan uji laboratorium terhadap kadar emisi cerobong
Pemasangan alat uji kebisingan
- Pengangkutan oli bekas bekerja sama dengan pihak penyedia jasa

angkutan yang memiliki izin


Lokasi Pemantauan:
Cerobong genset
Di rumah warga sekitarnya
- Di TPS oli bekas
Periode pemantauan:
1 tahun sekali pada saat genset dioperasikan
1 kali setahun pada saat genset dioperasikan
15

6 bulan sekali / Pada saat volume di TPS dinyatakan harus diangkut

C.4. INSTITUSI PENGELOLA DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP


a.

Tahap Konstruksi
a.1 Kegiatan Penerimaan Tenaga Kerja
Sumber Dampak
Kegiatan Penerimaan Tenaga Kerja
Institusi :
- Instansi Pelaksana
Pengelola hotel
- Instansi Pengawas
Disnakertrans Kota Cirebon
- Instansi Penerima Laporan
Kantor Lingkungan Hidup Kota Cirebon
a.2 Kegiatan Material /Peralatan
Sumber Dampak
Kegiatan material /peralatan
Institusi :
- Instansi Pelaksana
Pengelola hotel
- Instansi Pengawas
Dishubinkom Kota Cirebon
- Instansi Penerima Laporan
Kantor Lingkungan Hidup Kota Cirebon
a.3 Pembangunan Hotel
Sumber Dampak
Pembangunan fisik hotel :
- Kegiatan pemasangan/penanaman tiang pancang
- Kegiatan operasional crane
- Kegiatan konstruksi bangunan hotel (penambahan luas lantai bangunan)
Institusi :
- Instansi pelaksana
Pengelola hotel
- Instansi pengawas
Dinas PUPESDM Kota Cirebon
- Instansi penerima laporan
Kantor Lingkungan Hidup Kota Cirebon

b. Tahap Operasional
b.1 Kegiatan Operasional ( Kamar Mandi, Cuci, Restoran, Cleaning Service, dan
Penyiraman )
Sumber dampak :

16

Kegiatan Operasional ( Kamar Mandi, Cuci, Restoran, Cleaning Service, dan


Penyiraman )

Institusi :
- Instansi Pelaksana
Pengelola hotel
- Instansi Pengawas
Kantor Lingkungan Hidup Kota Cirebon
- Instansi Penerima Laporan
Kantor Lingkungan Hidup Kota Cirebon

b.2 Kegiatan Domestik (Restoran, Kantor, Kamar Tamu, Lobi, Halaman / Taman)

Sumber dampak :
Kegiatan Domestik (Restoran, Kantor, Kamar Tamu, Lobi, Halaman /
Taman)

Institusi :
- Instansi Pelaksana
Pengelola hotel
- Instansi Pengawas
Kantor Lingkungan Hidup Kota Cirebon
- Instansi Penerima Laporan
Kantor Lingkungan Hidup Kota Cirebon

b.3 Kegiatan Operasional Genset

Sumber dampak :
Kegiatan Operasional Genset

Institusi :
- Instansi Pelaksana
Pengelola hotel
- Instansi Pengawas
Kantor Lingkungan Hidup Kota Cirebon
- Instansi Penerima Laporan
Kantor Lingkungan Hidup Kota Cirebon

17

TABEL C1
MATRIKS UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (UKL-UPL)
PERUMAHAN KAYUWALANG

SUMBER
DAMPAK

JENIS DAMPAK

A. TAHAP PRA-KONSTRUKSI

Alih
kepemilikan
lahan dari
petani kepada
pemilik proyek

Pembukaan
Lahan

Alih fungsi
lahan dari
lahan pertanian
menjadi lahan
permukiman

BESARAN
DAMPAK

UPAYA PENGELOLAAN

LOKASI
PENGELO
LAAN

PERIODE
PENGELOLAAN

UPAYA
PEMANTAUAN

LOKASI
PEMANTAUAN

PERIODE
PEMAN
-TAUAN

PELAKS
ANA
UKLUPL

PENGAWAS
ATAS
PELAKSAN
AAN
UKL-UPL

PENERIM
A
LAPORAN

Perubahan mata
pencaharian
penduduk dan
pendapatan
penduduk

KLH Kota
Cirebon

Berkurangnya
luasan RTH
kawasan
kabupaten dan
kota

KLH Kota
Cirebon

Berkurangnya
sumber pangan

KLH Kota
Cirebon

2
Dishubinko
m Kota
Cirebon
KLH Kota
Cirebon

18

KLH Kota
Cirebon

KLH Kota
Cirebon
KLH Kota
Cirebon

5
B. TAHAP KONSTRUKSI
1

KLH Kota
Cirebon
KLH Kota
Cirebon
KLH Kota
Cirebon

2
3

K LH Kota
Cirebon

K LH Kota
Cirebon

19

20

D.

IZIN PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN


HIDUP (PPLH) YANG HARUS DIMILIKI

LINGKUNGAN

Aktivitas Hotel Gran Prima Cirebon menghasilkan 2 (dua) kategori limbah, yaitu ; limbah yang
dihasilkan oleh kegiatan domestik (kantor, kamar mandi, restoran, dapur, dll.) dan limbah bahan
berbahaya dan beracun (B3) dari oli genset.
Berkaitan dengan kedua kategori limbah tersebut, maka pihak manajemen hotel selama
melakukan kegiatan operasional harus memiliki Izin Pembuangan Air Limbah ke Air dan/atau
Sumber Air sebagaimana diatur dalam Peraturan Walikota Cirebon Nomor 32 Tahun 2012
tentang Pembuangan Air Limbah ke Air dan/atau Sumber Air dan Izin Penyimpanan Sementara
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Kota
Cirebon Nomor 08 Tahun 2013 tentang Izin Penyimpanan Sementara Limbah Bahan Berbahaya
dan Beracun (B3);

21

E. SURAT PERNYATAAN

Kami yang bertanda-tangan di bawah ini :


Nama
Alamat Sesuai KTP

: Bambang Ismanto
: Jalan Saleh No. 104 RT. 03 / RW. 04
Kelurahan Kesenden Kecamatan Kejaksan
Kota Cirebon

Jabatan

: General Manajer

Nama Usaha dan/atau Kegiatan

: Hotel Grand Prima Cirebon

Alamat Usaha dan/atau Kegiatan : Jalan Siliwangi No. 107 RT. 02 / RW. 05
Kelurahan Kebon Baru Kecamatan Kejaksan
Kota Cirebon
Dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama badan hukum PT. Cirebon Grahatama selaku
Pengelola Hotel Grand Prima Cirebon, dengan ini menyatakan bahwa :
1

Kami akan melaksanakan pengeloaan dan pemantauan lingkungan hidup sebagaimana


tertuang dalam matrik pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dalam Dokumen
UKL-UPL ini dan akan melaporkan hasil pelaksanaan

pengeloaan dan pemantauan

lingkungan hidup tersebut secara periodik setiap 6 (enam) bulan sekali kepada Kantor
Lingkungan Hidup Kota Cirebon;
2

Kami bersedia dipantau / diawasi oleh Kantor Lingkungan Hidup Kota Cirebon dan dinas /
instansi terkait lainnya berkaitan dengan dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat
kegiatan kami sesuai ktentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kami akan bertanggungjawab dan bersedia menanggung segala risiko lingkungan hidup
yang terjadi akibat dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh kegiatan kami.

Demikian surat pernyataan ini kami buat dengan sebenar-benarnya untuk kami laksanakan
dengan sebaik-baiknya dan penuh rasa tanggungjawab.
Cirebon, 30 Juni 2015
Hotel Grand Prima Cirebon
General Manajer,

BAMBANG ISMANTO

22

PT Karyatara Cemara Indah


Distributor Propylene