Anda di halaman 1dari 9

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN


POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN
TANGERANG SELATAN

PAPER

ANALISIS PENYELESAIAN SENGKETA ASET RUMAH NEGARA


EKS PERUSAHAAN JAWATAN KERETA API (PJKA)

Diajukan oleh:
Puguh Wibawanto
NPM: 144060005813
Kelas 9/C, No.Absen, 29

Untuk Memenuhi Sebagian dari Tugas Akhir


Mata Kuliah Seminar Manajemen Kekayaan Negara
Program Diploma IV Akuntansi Khusus
Semester IX T.A. 2015/2016

ANALISIS PENYELESAIAN SENGKETA ASET RUMAH NEGARA


EKS PERUSAHAAN JAWATAN KERETA API (PJKA)

Oleh Puguh Wibawanto


Mahasiswa Program Diploma-IV Kurikulum Khusus
Politeknik Keuangan Negara STAN
Kelas 9-C No. 29

1. PENDAHULUAN
Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) merupakan nama dari PT. Kereta Api
Indonesia (PT. KAI) sebelum bertransformasi menjadi Perusahaan Umum Kereta Api
(Perumka), PT. Kereta Api (Persero) dan terakhir menjadi PT. KAI.
Pegawai dari PJKA pada awalnya merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS)
Departemen

Perhubungan

yang

bekerja/ditempatkan

di

PJKA

yang

pada

perkembangannya telah diberhentikan secara hormat dari jabatan PNS untuk


selanjutnya diangkat menjadi pegawai di Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka).
Perumka ini pada akhirnya telah bertransformasi menjadi bentuk perusahaan yang
terbuka sehingga berganti nama menjadi PT. KAI.
Pegawai eks PJKA yang telah menjadi pegawai Perumka dalam melaksanakan
pekerjaannya memperoleh fasilitas rumah negara sampai dengan pegawai tersebut
memasuki masa purna tugas atau masa pensiun. Sesuai dengan ketentuan penghunian
rumah negara, maka ketika pegawai bersangkutan telah pensiun, pegawai tersebut
diharuskan untuk mengosongkan rumah negara dalam jangka waktu paling lama 3
(tiga) sejak secara resmi memasuki masa pensiun.
Akan tetapi, realita di lapangan menunjukkan bahwa para pegawai eks PJKA
tersebut tetap bersikukuh untuk tetap tinggal di rumah negara tanpa mengindahkan
ketentuan mengenai penghunian rumah negara. Kondisi ini juga didukung oleh kurang
tegasnya tindak lanjut dari Perumka atau PT. KAI dalam melakukan proses
pengosongan sesuai ketentuan pengosongan rumah negara. Perumka atau PT. KAI
bahkan lebih cenderung mengambil tindakan berupa pengenaan tarif sewa atas rumah
negara yang ditempati oleh pegawai eks. PJKA. Akibatnya adalah banyak diantara
pegawai eks PJKA yang masih menempati rumah negara dalam jangka waktu sampai
puluhan tahun sejak memasuki masa pensiun.
1|Page

Dalam perkembangannya para pegawai eks. PJKA memiliki inisiatif untuk


melakukan perubahan dalam hal kepemilikan rumah negara. Pegawai eks. PJKA
meyakini bahwa mereka telah memiliki persyaratan yang memadai untuk proses
pengalihan. Diantaranya adalah jenis rumah negara yang mereka tempati diyakini
merupakan jenis rumah negara yang memiliki karakteristik untuk dapat dialihkan atau
dijual karena termasuk rumah negara Golongan III. Selain itu, mereka juga merasa
bahwa rumah negara tersebut bukanlah milik PT. KAI yang notabene sekarang telah
menjadi perusahaan perseroan. Para pegawai eks. PJKA menilai bahwa rumah negara
yang mereka tempati merupakan aset dari pemerintah yang didasari oleh anggapan
bahwa perubahan suatu Badan (menjadi perusahaan baru yang terbuka) tidak serta
merta diikuti oleh perubahan kepemilikan (atas rumah negara) dari badan sebelumnya.
Berdasarkan uraian tersebut diatas, penulis merasa tertarik untuk mengkaji lebih
mendalam mengenai permasalahan Aset Rumah Negara eks. PJKA yang sampai
dengan saat ini belum menemukan titik temu dalam hal solusi yang menguntungkan
masing-masing pihak.
2. DASAR HUKUM
1. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 138/PMK.06/2010 Tentang Pengelolaan
Barang Milik Negara Berupa Rumah Negara
2. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1994 tentang Rumah Negara sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2005
3. Keputusan Menteri permukiman dan prasarana wilayah no 373/KPTS/2001
tentang sewa rumah negara

3. PERMASALAHAN
3.1 Sengketa Status Kepemilikan Rumah Negara Eks. PJKA
Status kepemilikan rumah negara eks. PJKA diyakini belum ada kejelasannya.
Dari sudut pandang eks. Pegawai PJKA yang merupakan penghuni rumah negara,
meyakini bahwa PT. KAI tidak berhak untuk mengklaim kepemilikan rumah
negara eks. Pegawai PJKA. Hal ini didasari oleh adanya anggapan bahwa Perumka
yang telah bertransformasi menjadi PT. KAI merupakan perusahaan yang bersifat
terbuka (go public) yang sebagian kepemilikannya dimiliki oleh pihak swasta
melalui pembelian saham PT. KAI. Maka dari itu, status kepemilikan aset rumah

2|Page

negara eks. PJKA seharusnya tetap menjadi milik negara ketika PJKA atau
Perumka bertransformasi menjadi PT. Kereta Api (Persero) atau PT. KAI.
3.2. Pertentangan dalam hal Dasar Penetapan Tarif Sewa
Tarif sewa yang dikeluarkan oleh PT. KAI berbeda penghitungannya dengan
sebagaimana yang diyakini oleh para penghuni rumah negara eks. PJKA. Para
penghuni meyakini bahwa tarif yang seharusnya dikenakan harus berdasarkan
pada ketentuan tarif yang diatur dalam Keputusan Menteri Permukiman Dan
Prasarana Wilayah No 373/KPTS/2001 tentang Sewa Rumah Negara. Hal ini
berbeda dengan dasar penentuan tarif yang digunakan oleh PT. KAI yang
berdasarkan pada Surat dari Direktur KAI.
4. ANALISIS
4.1 Analisis Permasalahan
4.1.1

Sengketa Status Kepemilikan Rumah Negara Eks. PJKA


Aset rumah negara eks. PJKA, pada dasarnya dapat digolongkan sebagai

rumah negara golongan III atau rumah negara yang dapat dijual kepada
penghuninya. Hal tersebut dapat dilakukan jika mengacu pada ketentuan dalam
Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 138/PMK.06/2010 Tentang
Pengelolaan Barang Milik Negara Berupa Rumah Negara. Dalam PMK ini, rumah
negara eks. PJKA tidak memenuhi persyaratan untuk digolongkan sebagai rumah
negara golongan I atau pun rumah negara golongan II. Selengkapnya adalah
sebagai berikut:
a. Rumah Negara Golongan I adalah Rumah Negara yang dipergunakan bagi
pemegang jabatan tertentu dan karena sifat jabatannya harus bertempat tinggal
di rumah tersebut serta hak penghuniannya terbatas selama pejabat yang
bersangkutan masih memegang jabatan tertentu tersebut.
b. Rumah Negara Golongan II adalah Rumah Negara yang mempunyai hubungan
yang tidak dapat dipisahkan dari suatu instansi dan hanya disediakan untuk
didiami oleh Pegawai Negeri dan apabila telah berhenti atau pensiun rumah
dikembalikan kepada negara.
c. Rumah Negara Golongan III adalah Rumah Negara yang tidak termasuk
golongan I dan golongan II yang dapat dijual kepada penghuninya.
Dalam ketentuan a, b dan c yang dicetak miring diatas, dapat disimpulkan
bahwa rumah negara eks. PJKA dapat digolongkan sebagai rumah negara
golongan III karena secara prinsip ditempati oleh pegawai eks. PJKA yang telah
3|Page

pensiun yang dulunya juga berstatus PNS sebelum bekerja di Perumka atau PT.
Kereta Api (Persero) atau PT. KAI.
Selanjutnya, jika mengacu kepada PMK tersebut, rumah negara golongan III
merupakan rumah negara yang termasuk dalam kewenangan Kementerian
Pekerjaan Umum dan bukan kewenangan PT. KAI. Hal ini merujuk pada
ketentuan PMK sebagai berikut:
a. Pengguna Barang adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan BMN.
b. Pengguna Barang Rumah Negara Golongan III adalah Menteri yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Pekerjaan Umum.
c. Kuasa Pengguna Barang adalah kepala satuan kerja atau pejabat yang ditunjuk
oleh Pengguna Barang untuk menggunakan barang yang berada dalam
penguasaannya dengan sebaik-baiknya.
d. Kuasa Pengguna Barang Rumah Negara Golongan III adalah kepala satuan
kerja atau pejabat pada Kementerian Pekerjaan Umum yang ditunjuk oleh
Pengguna Barang Rumah Negara Golongan III untuk rnengelola dan
mengadministrasikan Rurnah Negara Golongan III yang berada dalam
penguasaannya dengan sebaik-baiknya.
Akan tetapi,dari sudut pandang PT. KAI, aset rumah negara eks. PJKA ini
tetap diperlakukan sebagai aset perusahaan, dimana hal ini dibuktikan dengan
penetuan tarif sewa yang lebih mengacu pada ketentuan di PT. KAI dibandingkan
dengan

ketentuan

sewa

rumah

negara

berdasarkan

Keputusan

Menteri

Permukiman dan Prasarana Wilayah.


4.1.2

Pertentangan dalam hal Dasar Penetapan Tarif Sewa


Terlepas dari status kepemilikan aset rumah negara eks PJKA, PT. KAI

memberlakukan sistem sewa pada aset rumah negara yang ditempati oleh eks.
Pegawai PJKA tersebut. Dasar penentuan tarif sewa dari PT. KAI adalah
menggunakan Surat Direktur KAI dimana pertimbangan penentuan tarif sewanya
adalah dengan menggunakan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), jenis peruntukannya,
dan juga faktor lainnya yang mempengaruhi nilai sewa.
Akan tetapi, jika aset rumah negara eks PJKA ini dapat digolongkan sebagai
rumah negara golongan III, maka tarif sewa yang digunakan adalah berdasarkan
Keputusan Menteri Permukiman Dan Prasarana Wilayah No 373/KPTS/2001
tentang Sewa Rumah Negara sebagai berikut:
Sb =2,75% x [(Lb x Hs x Ns) x Fkb] x Fk
4|Page

Keterangan:
Sb : Sewa bangunan per bulan
2.75% : Perseratus sewa terhadap nilai bangunan
Lb : Luas Bangunan (M2)
Hs : Harga satuan bangunan per meter persegi
Fkb : Faktor Klasifikasi tanah / kelas bumi (%)
Fk : Faktor keringanan sewa untuk PNS (5%)
Ns : Nilai sisa bangunan/layak huni (60%)

4.2 Analisis Pemecahan Masalah


Analisis pemecahan masalah untuk menyelesaikan permasalahan sengketa
rumah negara eks. PJKA adalah sebagai berikut:
1. Meng-agenda-kan Pertemuan antara Pihak KAI dengan Pihak Penghuni Rumah
Negara Eks. PJKA
PT. KAI dapat membahas permasalahan yang timbul atas rumah negara
eks. PJKA ini secara langsung dengan pihak penghuni rumah negara sehingga
dapat ditemukan solusi yang terbaik yang tidak merugikan masing-masing
pihak.
2. PT. KAI wajib menunjukkan dokumen kepemilikan yang resmi atas aset rumah
negara eks. PJKA
Dokumen resmi atas kepemilikan tersebut nantinya dapat ditunjukkan
kepada pihak penghuni rumah negara Eks. PJKA sehingga akan jelas mengenai
kewenangan penguasaannya. Selain itu, juga akan dapat digunakan oleh PT.
KAI untuk membantu memudahkan proses pengosongan rumah negara tersebut
sehingga pada akhinya pihak penghuni rumah negara Eks. PJKA akan legowo
untuk segera pindah, karena telah jelas kepemilikannya.
Akan tetapi, jika PT. KAI tidak dapat menunjukkan bukti resmi atas
kepemilikan rumah negara tersebut dan juga secara nyata telah terdapat bukti
bahwa rumah negara eks PJKA merupakan rumah negara yang termasuk rumah
negara golongan III, maka PT. KAI dapat dinyatakan tidak berhak atas rumah
negara tersebut dan Pihak Penghuni Rumah negara dapat mengusulkan untuk
melakukan peralihan menjadi hak milik.
Perubahan menjadi hak milik oleh penghuni rumah negara, dapat
dilakukan jikan penghuni rumah negara memenuhi ketentuan-ketentuan dalam
5|Page

Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1994 tentang Rumah Negara


sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2005
sebagai berikut:
Jika penghuni rumah negara adalah pensiunan pegawai negeri maka penghuni
rumah negara tersebut harus:
a. menerima pensiun dari Negara;
b. memiliki Surat Izin Penghunian yang sah;
c. belum pernah membeli atau memperoleh fasilitas rumah dan/atau tanah dari
Negara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Status kepemilikan rumah negara eks. PJKA harus ditentukan terlebih dahulu
sebelum penentuan tarif sewanya.
Jika status kepemilikan rumah negara eks. PJKA telah jelas, maka akan
dapat digunakan dasar penentuan tarif sewa yang akan disetujui oleh masingmasing pihak sehingga tidak akan menimbulkan pertentangan di masa depan.
Penentuan tarif sewa dapat mengacu pada ketentuan dari KAI atau dari Menteri
Permukiman Dan Prasarana Wilayah tergantung dari status kepemilikan atas
rumah negara tersebut.

5. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Kesimpulan atas permasalahan sengketa rumah negara eks. PJKA adalah
sebagai berikut:
1. Aset rumah negara eks. PJKA dihuni oleh pensiunan pegawai dari
PJKA/Perumka/PT. Kereta Api (Persero)/PT. KAI dimana sebelumnya mereka
berstatus sebagai PNS Departemen Perhubungan yang diberhentikan secara
hormat

agar

dapat

dipekerjakan/ditempatkan

sebagai

pegawai

PJKA/Perumka/PT. Kereta Api (Persero)/PT. KAI.


2. Penghuni rumah negara eks. PJKA mempertanyakan status kepemilikan dari
rumah negara eks. PJKA yang mereka tempati apakah merupakan aset negara
atau aset dari PT. KAI.
3. Penghuni rumah negara eks. PJKA meyakini bahwa tarif sewa rumah negara
eks. PJKA yang mereka tempati harus mengacu pada ketentuan Menteri
Permukiman Dan Prasarana Wilayah dan bukan pada ketentuan tarif dari PT.
KAI.
6|Page

5.2 Saran
Beberapa saran untuk menyelesaikan permasalahan sengketa rumah negara eks.
PJKA adalah sebagai berikut:
1. Meng-agenda-kan Pertemuan antara Pihak KAI dengan Pihak Penghuni Rumah
Negara Eks. PJKA.
2. PT. KAI wajib menunjukkan dokumen kepemilikan yang resmi atas aset rumah
negara eks. PJKA.
3. Status kepemilikan rumah negara eks. PJKA harus ditentukan terlebih dahulu
sebelum penentuan tarif sewanya.

6. REFERENSI
Peraturan
1. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 138/PMK.06/2010 Tentang Pengelolaan
Barang Milik Negara Berupa Rumah Negara
2. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1994 tentang Rumah Negara
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2005
3. Keputusan Menteri permukiman dan prasarana wilayah no 373/KPTS/2001
tentang sewa rumah negara
Website
1.https://id.wikipedia.org/wiki/Kereta_Api_Indonesia (diakses pada tanggal 8
Agustus 2015)
2.http://www.anneahira.com/pjka.htm (diakses pada tanggal 8 Agustus 2015)
3.http://www.waktunews.com/component/k2/item/890-mengaku-sebagai-pemilikrumah-negara-bedjo-adukan-pt-kai-ke-ganjar (diakses pada tanggal Agustus
2015)
4.http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/14/09/23/nccot1warga-pjka-manggarai-tolak-pengosongan-rumah-pt-kai (diakses pada tanggal
8 Agustus 2015)
5.http://gerbongrumahnegara.blogspot.com/ (diakses pada tanggal 8 mei 2015)
6.https://www.lapor.go.id/id/1277521/penggusuran-paksa-yang-dilakukan-pt-kai.html (diakses pada tanggal 8 Agustus 2015)

7|Page

7.http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2008/08/16/26674/PTKAI-Perlu-Tunjukkan-Bukti-Kepemilikan (diakses pada tanggal 8 Agustus


2015)
8.http://memotimuronline.com/berita-pt-kai-naikkan-harga-sewa-400--.html
(diakses pada tanggal 8 Agustus 2015)
9.http://genienkalestari.blogspot.com/2011/10/bentuk-bentuk-badan-usahamilik.html (diakses pada tanggal 10 Agustus 2015)

8|Page