Anda di halaman 1dari 13

Page | 1

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN........................................................................................................... 2
A.

PEMICU.............................................................................................................. 2

1.1 Klarifikasi Istilah..................................................................................................... 2


1.2 Definisi Masalah...................................................................................................... 2
1.3 Analisa Masalah...................................................................................................... 2
1.4 Kerangka Konsep..................................................................................................... 2
1.5 Learning Issue......................................................................................................... 3
PEMBAHASAN LEARNING ISSUE...................................................................................4
2.1.

Definisi Tanatologi.............................................................................................. 4

2.2.

Definisi Mati secara Keseluruhan............................................................................ 4

2.3

Definisi, Tujuan, dan Peran Identifikasi dalam Forensik.................................................5

2.4

Metode Identifikasi Mayat yang Tidak Dikenal dalam Forensik.......................................5

2.5

Perubahan pada Tubuh Mayat setelah Mengalami Kematian...........................................8

2.6

Cara Menentukan Lama Kematian...........................................................................9

2.7

Pemeriksaan Luar pada Mayat Tidak Dikenal............................................................10

PENUTUP................................................................................................................... 13
3.1

Kesimpulan..................................................................................................... 13

Page | 2

BAB I

PENDAHULUAN

A. PEMICU
Pada hari Senin, 26 Januari 2015, ditemukan sesosok mayat laki-laki dengan umur
berkisar 57 tahun di salah satu kamar hotel tempat dia menginap. Pemilik hotel
langsung melaporkan kejadian ke Polsek setempat dan segera setelah itu dilakukan olah
TKP oleh Penyidik dari Polsek tersebut. Mayat kemudian dibawa ke Instalansi
Kedokteran Forensik ke RSU Daerah untuk dilakukan pemeriksaan selanjutnya.
Kebetulan anda adalah dokter jaga di RS tersebut, maka apa saja yang dapat anda
lakukan terhadap mayat tersebut?

1.1 Klarifikasi Istilah


(-)
1.2 Definisi Masalah
1. Penyebab Kematian
2. Waktu Kematian
1.3 Analisa Masalah
1. a. Identifikasi Mayat
b. Melakukan pemeriksaan luar
c. Melakukan pemeriksaan dalam (autopsi)
2. Pemeriksaan dengan menilai perbedaan suhu mayat dengan suhu lingkungan

Page | 3
Identifikasi

Penyebab Kematian
Mayat Laki-laki
57 tahun

Pemeriksaan Luar
Pemeriksaan Dalam

Waktu Kematian

1.4 Kerangka Konsep

1.5 Learning Issue


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Definisi Tanatologi
Definisi mati secara keseluruhan
Definisi,tujuan, dan peran identifikasi dalam forensik
Metode identifikasi mayat tidak dikenal dalam forensik
Perubahan yang dapat terjadi pada tubuh mayat setelah mengalami kematian
Cara menentukan lama kematian
Pemeriksaan luar pada mayat yang tidak dikenal

Page | 4

BAB II

PEMBAHASAN LEARNING ISSUE

2.1. Definisi Tanatologi


Tanatologi berasal dari kata thanatology, thanatos berarti kematian dan logy,
logos berarti ilmu. Ini meliputi pembahasan mengenai pengertian mati, cara menetapkan
telah terjadi kematian dan perubahan post mortem. (Amri Amir, 1995)
2.2. Definisi Mati secara Keseluruhan
Kematian dapat dibagi menjadi 2, yaitu: kematian somatis (mati klinis) dan mati
seluler (mati molekuler). Mati somatis (mati klinis) adalah kematian yang terjadi akibat
terhentinya fungsi ketiga sistem penunjang kehidupan, yaitu susunan saraf pusat, sistem
kardiovaskuler, dan sistem pernapasan yang menetap (irreversible). Secara klinis tidak
ditemukan lagi refleks-refleks tubuh, nadi tidak teraba (palpasi), denyut jantung tidak
terdengar (auskultasi), tidak ada gerak pernapasan (inspeksi), dan suara nafas tidak
terdengar juga (auskultasi), sel-sel tubuh masih hidup, otot-otot masih dapat dirangsang
dan masih memberikan reaksi terhadap rangsangan listrik, peristaltik usus kadang-kadang
masih terdengar, dilatasi pupil masih terjadi pada pemberian midriatikum seperti atropin
dan miosis pupil pada pemberian midriatikum seperti fisostigmin.
Sedangkan mati seluler (mati molekuler) adalah kematian organ atau jaringan
tubuh yang timbul beberapa saat setelah kematian somatis. Perlu diketahui, ada beberapa
kematian jenis lainya, yaitu:
a. Mati Suri (suspended animation), adalah terhentinya ketiga sistem kehidupan
yang ditentukan dengan alat kedokteran sederhana, tetapi dengan peralatan
canggih masih dapat dibuktikan bahwa ketiga sistem tersebut masih berfungsi
pada batas basal metabolik.
b. Mati Serebral (mati batang otak), adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang
irreversible, kecuali batang otak dan serebelum, sedangkan kedua sistem

Page | 5

lainnya yaitu sistem pernapasan dan kardiovaskular masih berfungsi dengan


bantuan alat.
c. Mati otak (mati batang otak), bila telah terjadi kerusakan seluruh isi neuronal
intracranial yang irreversible, termasuk batang otak dan serebelum. Dengan
diketahuinya mati otak (mati batang otak) maka dapat dikatakan seseorang
secara keseluruhan tidak dapat dinyatakan hidup lagi.
2.3 Definisi, Tujuan, dan Peran Identifikasi dalam Forensik
Identifikasi personal adalah upaya yang dilakukan unuk membantu penyidik menentukan
identitas seseorang.
Tujuan identifikasi adalah untuk mengenali korban yang tidak dikenal oleh penyidik.
Pemeriksaan menjadi berat bila mayat yang dikirim mengalami pembusukan atau mengalami
kerusakan berat akibat kebakaran, ledakan, kecelakaan atau hanya tinggal sebagian jaringan
tubuh, tinggal tulang belulang dan lain-lain. Identifikasi juga berperan pada pemeriksaan
orang hidup yang berusaha merubah identitas aslinya atau tidak ketahuan identitasnya.
2.4 Metode Identifikasi Mayat yang Tidak Dikenal dalam Forensik
Metode Identifikasi Forensik:
1. Primer, merupakan metode yang paling sering digunakan karena bersifat spesifik untuk
tiap individu, dan bertahan tetap sepanjang hidup hingga setelah meninggal, serta dapat
diandalkan pembuktiannya secara ilmiah. Beberapa diantaranya mencakup:
a. Odontologi. Dilakukan oleh ahli odontologi forensik, yaitu dengan
membandingkan kondisi antemortem (data yang didapat dari dokter gigi yang
dikunjungi) dan pascamortem. Jika tidak terdapat data antemortem, dari gigi
dapat diketahui data lain seperti perkiraan usia jenazah.
Pemeriksaan Gigi-geligi
Ada 2 jenis gigi, yaitu gigi susu dan gigi permanen. Gigi susu (milk teeth)
disebut gigi sementara atau dens decidui, dan jumlahnya 20 buah, yakni: 4
buah incisivus, 2 caninus dan 4 molar tiap rahang. Bayi akan mengalami
pertumbuhan gigi susu pada umur 6 bulan dan selesai pada umur 24 bulan. Jika
ada gigi susu incisivi tumbuh, maka umurnya diperkirakan sekitar 6-8 bulan.

Page | 6

Gigi permanen (permanent teeth) disebut gigi tetap, jumlahnya 32 buah,


yakni: 4 buah incisivus, 2 caninus, 4 premolar, dan 6 molar di setiap rahang.
Penentuan umur berdasarkan jumlah dan jenis gigi hanya dapat ditentukan
secara umum sampai umur 17-25 tahun. Diatas umur ini yang diperhatikan
adalah keausan gigi (atrisi), warna, dan lain-lain.
Dibawah ini ditampilkan masa erupsi gigi susu dan permanen menurut formula
Gustafson:
GIGI
Incisura centralis
-rahang bawah
-rahang atas
Incisura lateralis
-rahang bawah
-rahang atas
Caninus
-bawah
Premolar I
-bawah dan atas
Premolar II
Molar I
Molar II
Molar III
(the wisdom teeth)

UMUR GIGI SUSU

UMUR GIGI PERMANEN

6-9 bulan
7-9 bulan

6-9 tahun
6-9 tahun

10-12 bulan
7-9 bulan

7-9 tahun
7-9 tahun

17-19 bulan

11-12 tahun

Tidak ada
Tidak ada
12-14 bulan
20-30 bulan
Tidak ada

9-11 tahun
10-12 tahun
6-7 tahun
12-14 tahun
17- 25 tahun

Pada pemeriksaan gigi dapat menentukan:


- Umur
- Ras
- Jenis Kelamin
- Golongan darah
- Kebiasaan /pekerjaan
- Ciri khas
b. Sidik jari atau dactylography. Membandingkan gambaran sidik jari jenazah
dengan data sidik jari antemortem.
Dactylography pertama kali ditemukan oleh Herschel, namun orang
pertama yang mengambil tanda-tanda ibu jari dan jari-jari lain untuk identitas
seseorang dan membuat golongan-golongannya. Cap jari adalah saluransaluran kulit dan pori-pori ini bersifat tetap dan tidak berubah seumur hidup.
Setiap jari tangan mempunyai gambaran yang lain. Kemungkinan gambaran

Page | 7

sidik jari yang sama dari 2 orang yang berlainan adalah 1:64.000.000. Jadi,
tanda tersebut dianggap tanda pasti untuk identitas seseorang.
Ada 4 golongan bentuk dan sidik jari, yaitu:
1. Loop. Sekitar 65%
2. Whorl. Sekitar 25%
3. Arch. Sekitar 7%
4. Composite (twin loop). Sekitar 2-3%
c. Identifikasi DNA. Membandingkan DNA jenazah dengan data antemortem
(bila tersedia) atau dibandingkan dengan DNA keluarga inti jenazah.
2. Sekunder, merupakan metode identifikasi pendukung yang dapat berubah sepanjang
hidup dan setelah kematian serta tidak bersifat individual. Metode ini mencakup:
a. Data antropologi: tinggi badan, berat badan, usia, jenis kelamin, ras, warna
kulit, warna mata.
b. Serologi: menentukan golongan darah dengan pemeriksaan rambut, kuku, atau
tulang.
c. Tanda khusus pada tubuh: tanda lahir, tindikan, tato, dan bekas luka
d. Properti: pakaian, perhiasan, mata uang, alat komunikasi
3. Ekslusi, misalnya pada kecelakaan missal yang melibatkan sejumlah orang yang dapat
diketahui identitasnya (seperti penumpang pesawat).
2.5 Perubahan pada Tubuh Mayat setelah Mengalami Kematian
Tanda kematian dapat dikenali sebagai perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh
mayat setelah mengalami kematian. Tanda-tanda itu berupa:
1. Penurunan suhu tubuh (Algor Mortis). Penurunan suhu tubuh pada jam-jam pertama
berlangsung lambat. Hal itu disebabkan oleh proses metabolisme sel (glikogenolisis)
yang masih berlangsung beberapa saat setelah kematian somatik dimana juga masih
terbentuk energi. Kurva penurunan suhu berbentuk sigmoid.
2. Lebam mayat (Livor Mortis). Bercak berwarna merah ungu (livide) pada bagian
terbawah tubuh, kecuali pada bagian yang tertekan alas keras. Warna lebam juga
dapat menentukan penyebab kematian, misalnya merah terang pada keracunan
karbonmonoksida (CO) atau sianida (SN); serta kecokelatan pada keracunan aniline,
nitrit, atau sulfonat. Jika dilakukan sayatan dan disiram air, lebam mayat akan pudar ,
tetapi pada kasus resapan darah (ekstravasasi akibat trauma) bercak tidak menghilang.
3. Kaku mayat (Ligor Mortis). Hilangnya kelenturan otot akibat habisnya ATP dan
cadangan glikogen sehingga aktin-miosin menggumpal. Faktor yang mempercepat

Page | 8

terjadinya kaku mayat antara lain: aktivitas fisis sebelum mati, suhu tubuh yang
tinggi, suhu lingkungan tinggi, dan tubuh kurus dengan otot kecil.
Kondisi kekakuan mayat yang menyerupai kaku mayat, antara lain:
- Cadaveric spasm/ instantaneous rigor; kekakuan timbul dengan intensitas
kuat sesaat kematian. Terjadi akibat kelelahan atau emosi hebat sesaat
-

sebelum meninggal.
Heat stiffening (otot kaku, namun rapuh). Terjadi pada korban mati

terbakar. Korban akan membentuk sikap petinju/pugilistic attitude.


- Cold stiffening. Pembekuan cairan tubuh akibat lingkungan dingin.
4. Pembusukan (decomposition putrefaction). Proses degradasi jaringan akibat autolisis,
yaitu pelepasan enzim digestif oleh sel pascakematian dan kerja bakteri (kuman
komensal dalam usus).
5. Mumifikasi. Proses penguapan cairan jaringan yang cukup cepat sehingga
menghentikan pembusukan. Jaringan menjadi keras, kering, gelap, berkeriput, dan
kuman tidak dapat tumbuh. Proses ini terjadi pada kondisi suhu lingkungan hangat,
kelembaban rendah, aliran udara baik, tubuh dehidrasi, tubuh kurus, dan memakan
waktu lama (12-14 minggu).
6. Adiposere (lilin mayat). Hasil hidrolisis lemak menjadi asam lemak jenuh pascamati
yang tercampur sisa otot, jaringan ikat, dan jaringan saraf termumifikasi. Faktor yang
mempercepat pembentukan antara lain kelembaban dan lemak tubuh, suhu hangat,
serta invasi bakteri endogen. Adiposera akan menghambat pembusukan.
2.6 Cara Menentukan Lama Kematian
Bila saat kematian korban tidak diketahui, maka beberapa petunjuk dibawah ini dapat
dipakai:
a. Jam pertama kematian. Tubuh masih hangat (dengan thermometer panjang didapati suhu
370 C), otot-otot masih lemas seluruhnya (periode relaksasi primer), kornea mata bening,
belum tampak atau belum jelas adanya lebam mayat.
b. 4-6 jam. Telah mulai dingin (suhu rectal 34-35 0 C), kaku mayat di rahang telah ada,
begitu juga di beberapa persendian, lebam mayat masih hilang pada penekanan.
c. 10-12 jam. Mayat mulai dingin (suhu 29-300 C), kaku mayat lengkap di seluruh tubuh
seperti papan, bila diangkat kaki, panggul, dan punggung juga terangkat, lebam mayat
sangat jelas dan tidak hilang pada penekanan.

Page | 9

d. 16-18 jam. Mayat dingin (sama dengan 28-290 C), kaku mayat di beberapa persendian
telah hilang, mulai tampak tanda-tanda pembusukan terutama di perut bagian kanan
bawah tampak biru kehijauan. Lebam mayat luas di bagian terendah tubuh.
e. 20-24 jam. Dingin, kaku mayat sudah menghilang (relaksasi sekunder), tanda
pembusukan makin jelas, perut mulai tegang, bau pembusukan, darah pembusukan keluar
dari hidung dan mulut.
f. 30-36 jam. Mayat menggembung, muka bengkak, mata tertutup, bibir menebal, keluar
gas air, dan air pembusukan keluar dari hidung dan mulut, tampak garis pembuluh darah
di permukaan tubuh (marble appearance).
g. 40-48 jam. Gelembung pembusukan di seluruh, skrotum bengkak, lidah bengkak dan
menonjol keluar. Sebagian gelembung pecah, kulit mudah terkelupas.
h. 3 hari. Pembusukan lanjut, uterus bisa prolaps. Demikian juga anus, mata menonjol
keluar, muka sangat bengkak kehitaman. Rambut dan kuku mudah dicabut.
i. 4-5 hari. Perut mengempes kembali karena gas keluar dari celah jaringan yang
rusak/hancur, sutura kepala merenggang, otak mengalami perlunakan menjadi seperti
bubur.
j. 6-10 hari. Jaringan lunak tubuh melembek dan lama-lama menjadi hancur, rongga dada
dan perut bisa terlihat karena sebagian otot sudah hancur dan seterusnya hingga akhirnya
tinggal tulang belulang
Perkiraan lama kematian lainnya:
Temperatur tubuh
Hangat
Hangat
Dingin
Dingin
.

Kaku Mayat
Tidak kaku
kaku
kaku
Tidak kaku

Fase
Lalat bertelur pada mayat
Menetas menjadi larva
Larva menjadi pupa (kepompong)
Pupa menjadi lalat dewasa
Jumlah waktu telur menjadi lalat dewasa

Lama Kematian
<3 jam
3-8 jam
8-24 jam
>24 jam

Waktu
18-36 jam setelah mati
24 jam kemudian
4-5 hari kemudian
4-5 hari kemudian
11 hari

P a g e | 10

2.7 Pemeriksaan Luar pada Mayat Tidak Dikenal


Dilakukan dengan cermat (yang terlihat, tercium, teraba) baik pada asesoris maupun tubuh
jenazah. Sistematika pemeriksaan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Label mayat
Tutup mayat
Bungkus mayat
Pakaian
Perhiasan
Benda-benda di samping mayat

Identifikasi Umum. Tanda-tanda umum yang menunjukan identitas mayat (seks,


kebangsaan, umur, warna kulit, gizi, TB/BB, penis [laki-laki], striae albicans [perempuan]).
Identifikasi Khusus:
1.
2.
3.
4.
5.

Rajah/tattoo
Jaringan parut
Kapalan (callus)
Kelainan-kelainan pada kulit
Anomali dan cacat tubuh

Pemeriksaan rambut-rambut. Hal-hal yang perlu dicatat:


1. Distribusi, warna, keadaan tumbuh serta sifat rambut (halus/ kasar,lurus/ikal)
2. Bila pada tubuh mayat ditemukan rambut yang bukan dari rambut mayat, maka ambil alu
simpan dan beri label. Lakukan pemeriksaan laboratorium lanjutan.
Pemeriksaan mata. Periksa:
1. Kelopak mata terbuka/ tertutup, perhatikan tanda-tanda kekerasan lainnya.
2. Selaput lendir kelopak mata, warna, pembuluh darah melebar, bintik perdarahan,/ bercak
perdarahan
3. Bola mata, periksa tanda-tanda kekerasan, kelainan-kelainan pthysis bulbi, mata palsu
4. Selaput lendir bola mata, pelebaran pembuluh darah, bintik perdarahan kelainan lain.
5. Kornea (selaput bening), jernih, kelainan fisiologis/patologis
6. Iris (tirai mata)
7. Ukuran pupil kanan dan kiri
Pemeriksaan daun telinga dan hidung. Periksa:
1.
2.
3.
4.

Bentuk daun telinga dan hidung


Kelainan-kelainan serta tanda kekerasan yang ditemukan
Keadaan rongga mulut, kemungkinan ada benda asing (kasus penyumbatan)
Gigi geligi

P a g e | 11

Pemeriksaan terhadap tanda kekerasan/luka. Catat:


1. Letak luka: region anatomis
2. Jenis luka: lecet/memar/robek
3. Bentuk luka: bulat/persegi/oval
4. Arah luka: melintang/membujur/miring
5. Tepi luka: rata/teratur/tidak beraturan
6. Sudut luka: runcing/membulat/ bentuk lain
7. Dasar luka: jaringan bawah kulit/ otot/ rongga tubuh
8. Sekitar luka: kotor/ bersih, luka/tanda kekerasan
9. Ukuran luka: ukur dengan teliti
10. Saluran luka: pada luka tembakan/ tusukan
Pemeriksaan terhadap patah tulang
Tentukan letak patah tulang yang ditemukan, catat sifat/ jenis masing-masing patah tulang.
Lain-lain.
1. Tanda-tanda ikterik, warna kebiruan pada ujung jari dan oedem/ sembab
2. Tanda-tanda bekas pengobatan (trakeotomi, suntikan, pungsi lumbal, dll

P a g e | 12

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Setelah kami membahas learning issue yang telah diberikan, maka kesimpulan kami
adalah perlu dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan terhadap sesosok maya tersebut, yang
melingkupi:
1. Idenifikasi mayat, mulai dari benda-benda disekitar, harta benda milik pribadi, hingga
keadaan fisik yang dapat mengungkapkan jati diri mayat tersebut.
2. Pemeriksaan luar, untuk menunjukan sebab dan cara kematian
3. Menentukan lama kematian
Semua hal tersebut dilakukan guna membantu penyidik untuk mengungkap bila ada
kecurigaan kasus pembunuhan.

P a g e | 13

DAFTAR PUSTAKA

Amir, Amri. 2005. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik Ed II. Medan: Fakultas Kedokteran
USU
Tanto, Chris dkk. 2014. Kapita Selekta Kedokteran Ed IV Jilid II. Jakarta: Media Aesculapius
Singh, Surjit. Ilmu Kedokteran Forensik. Medan: (Untuk Kalangan Sendiri)