Anda di halaman 1dari 76

ETIOLOGI

Adapun penyebab pasti terjadinya perubahan sel-sel normal mulut rahim menjadi se-sel yang
ganas tidak diketahui secara pasti. Namun ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
perubahan tersebut, antara lain :
1) Hubungan seksual pertama kali pada usia dini (umur < 16 tahun).
2) Sering berganti-ganti pasangan (multipatner sex).
3) Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18. Penelitian menunjukkan bahwa 10-30
% wanita pada usia 30’an tahun yang sexually active pernah menderita infeksi HPV (termasuk
infeksi pada daerah vulva). Persentase ini semakin meningkat bila wanita tersebut memiliki
banyak pasangan seksual. Pada sebagian besar kasus, infeksi HPV berlangsung tanpa gejala dan
bersifat menetap.
Kedua faktor diatas juga berhubungan dengan infeksi HPV. Semakin dbanyak berganti-ganti
pasangan maka tertularnya infeksi HPV juga semakin tinggi. Begitu pula dengan terpaparnya selsel mulut rahim yang mempunyai pH tertentu dengan sperma-sperma yang mempunyai pH yang
berbeda-beda pada multipatner dapat merangsang terjadinya perubahan kearah displasia.
4) Infeksi Herpes Simpleks Virus (HSV) tipe 2
5) Wanita yang melahirkan anak lebih dari 3 kali
6) Wanita merokok, karena hal tersebut dapat menurunkan daya tahan tubuh.
3. FAKTOR RESIKO
Beberapa faktor yang mempengaruhi insiden kanker serviks yaitu:
a. Usia.
b. Jumlah perkawinan
c. Hygiene dan sirkumsisi
d. Status sosial ekonomi
e. Pola seksual
f. Terpajan virus terutama virus HIV
g. Merokok dan AKDR
4. MANIFESTASI KLINIS
a. Perdarahan
b. Keputihan yang berbau dan tidak gatal
c. Cepat lelah
d. Kehilangan berat badan
e. Anemia
5. PENATALAKSANAAN
a. Biopsi.
b. Histerektomi transvaginal
c. Radioterapi
d. Radiasi paliatif
e. Kemoterapi

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN.
a. Identitas klien.
b. Keluhan utama.
Perdarahan dan keputihan
c. Riwayat penyakit sekarang
Klien datang dengan perdarahan pasca coitus dan terdapat keputihan yang berbau tetapi tidak
gatal. Perlu ditanyakan pada pasien atau keluarga tentang tindakan yang dilakukan untuk
mengurangi gejala dan hal yang dapat memperberat, misalnya keterlambatan keluarga untuk
memberi perawatan atau membawa ke Rumah Sakit dengan segera, serta kurangnya pengetahuan
keluarga.
d. Riwayat penyakit terdahulu.
Perlu ditanyakan pada pasien dan keluarga, apakah pasien pernah mengalami hal yang demikian
dan perlu ditanyakan juga apakah pasien pernah menderita penyakit infeksi.
e. Riwayat penyakit keluarga
Perlu ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit seperti ini atau penyakit
menular lain.
f. Riwayat psikososial
Dalam pemeliharaan kesehatan dikaji tentang pemeliharaan gizi di rumah dan agaimana
pengetahuan keluarga tentang penyakit kanker serviks.
2. PEMERIKSAAN FISIK.
a. Inspeksi
• Perdarahan
• keputihan
b. palpasi
• nyeri abdomen
• nyeri punggung bawah
3. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Sitologi
b. Biopsi
c. Kolposkopi
d. Servikografi
e. Gineskopi
f. Pap net (pemeriksaan terkumpoteresasi dengan hasil lebih sensitif)
1. Doengoes, Marilyn.E 1989.Nursing care and Plans.Philadelphia: F.A Davis Company.
2. http:// www.medicastore .com/med/index.bhp?IUD=
3. http:creasoft.wordpress.com
4. Mochtar, Rustam. 1989.Synopsis obstetric. Jakarta:EGC.
5. Prawirohardjo, Sarwono.1994.Ilmu Kandungan. Jakarta: Gramedia.
6. Sanusi, Chandra. 1989:Ginekologi Greenhill edisi 10. Jakarta:EGC.

A. DEFINISI
B.

ETIOLOGI

Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan
predisposisi yang menonjol, antara lain :
1. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual

Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering partus
semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.
1. Jumlah kehamilan dan partus

Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin
besar mendapat kanker serviks. Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda.
1. Jumlah perkawinan

Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor
resiko yang besar terhadap kankers serviks ini.
1. Infeksi virus

Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata
diduga sebagai factor penyebab kanker serviks.
1. Sosial Ekonomi

Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial
ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan. Pada golongan
sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi
imunitas tubuh.
1. Hygiene dan sirkumsisi

sedangkan waktu yang diperlukan dari karsinoma insitu menjadi invasif adalah 3 – 20 tahun (TIM FKUI. hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks. jaringan pada serviks. Dalam jangka waktu 7 – 10 tahun perkembangan tersebut menjadi bentuk preinvasif berkembang menjadi invasif pada stroma serviks dengan adanya proses keganasan. tumor supresor gene. 1998). diawali adanya perubahan displasia yang perlahan-lahan menjadi progresif. dan repair genes. berubah menjadi neoplastik. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma. Secara histopatologi lesi pre invasif biasanya berkembang melalui beberapa stadium displasia (ringan. Lesi preinvasif akan mengalami regresi secara spontan sebanyak 3 -35%. Gen pengendali tersebut adalah onkogen. sedang dan berat) menjadi karsinoma insitu dan akhirnya invasif. 1992). Berdasarkan karsinogenesis umum. . Virus DNA ini menyerang epitel permukaan serviks pada sel basal zona transformasi. dan akhirnya menjadi kanker serviks setelah 10 tahun atau lebih. Perluasan lesi di serviks dapat menimbulkan luka. sedangkan tumor supresor gen akan menghambat perkembangan tumor yang diatur oleh gen yang terlibat dalam pertumbuhan sel. Onkogen dan tumor supresor gen mempunyai efek yang berlawanan dalam karsinogenesis. infeksi virus atau bakteri dan gangguan keseimbangan hormon. tidak semua perubahan ini progres menjadi invasif. 1. Debbie. dibantu oleh faktor risiko lain mengakibatkan perubahan gen pada molekul vital yang tidak dapat diperbaiki. C. mulai dengan intraepitel. proses perubahan menjadi kanker diakibatkan oleh adanya mutasi gen pengendali siklus sel. menetap. pertumbuhan yang eksofitik atau dapat berinfiltrasi ke kanalis serviks. 1998. Bentuk ringan (displasia ringan dan sedang) mempunyai angka regresi yang tinggi. Meskipun kanker invasive berkembang melalui perubahan intraepitel.Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. dan kehilangan sifat serta kontrol pertumbuhan sel normal sehingga terjadi keganasan (Suryohudoyo. PATOFISIOLOGI Karsinoma serviks adalah penyakit yang progresif. Waktu yang diperlukan dari displasia menjadi karsinoma insitu (KIS) berkisar antara 1 – 7 tahun. Lesi dapat meluas ke forniks. Displasia ini dapat muncul bila ada aktivitas regenerasi epitel yang meningkat misalnya akibat trauma mekanik atau kimiawi. parametria dan akhirnya dapat menginvasi ke rektum dan atau vesika urinaria. dimana onkogen memperantarai timbulnya transformasi maligna. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim) Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker. sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus. Proses perkembangan kanker serviks berlangsung lambat.

Pada tahap awal. Perdarahan Perdarahan yang dialami segera setelah bersenggama (disebut sebagai perdarahan kontak) merupakan gejala karsinoma serviks (75 -80%). MANIFESTASI KLINIS 1. Karakteristik darah yang keluar berwarna merah terang dapat bervariasi dari yang cair sampai menggumpal. Gejala lebih lanjut meliputi nyeri yang menjalar sampai kaki. Biasanya timbul gejala berupa ketidak teraturannya siklus haid. sekret dari vagina berwarna kuning. hipermenorhea. Nyeri Dirasakan dapat menjalar ke ekstermitas bagian bawah dari daerah lumbal. Perdarahan rektum dapat terjadi karena penyebaran sel kanker yang juga merupakan gejala penyakit lanjut. Keputihan Menurut Dalimartha (2004). Sitologi/pap smear Keuntungan: murah. pertumbuhan tumor menjadi ulseratif. post koitus serta latihan berat. gejala yang mungkin dan biasa timbul lebih bervariasi. 1. Dalam hal demikian. dan penyaluran sekret vagina yang sering atau perdarahan intermenstrual. Pada tahap lanjut. Perdarahan pervagina akan makin sering terjadi dan nyeri makin progresif. Kelemahan: tidak dapat menentukan lokasi. Perdarahan setelah koitus atau pemeriksaan dalam (vaginal toussea) merupakan gejala yang sering terjadi. dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat. 1. gejala kanker serviks pada kondisi pra-kanker ditandai dengan Fluor albus (keputihan) merupakan gejala yang sering ditemukan getah yang keluar dari vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan. F.E. 1. Perdarahan yang khas terjadi pada penyakit ini yaitu darah yang keluar berbentuk mukoid. berbau dan terjadinya iritasi vagina serta mukosa vulva. hematuria dan gagal ginjal dapat terjadi karena obstruksi ureter. amenorhea. terjadinya kanker serviks tidak ada gejala-gejala khusus. Menurut Baird (1991) tidak ada tanda-tanda khusus yang terjadi pada klien kanker serviks. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. .

PENATALAKSANAAN 1. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi meragukan dan pada serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas. sedang yang terkena kaersinoma tidak berwarna. 1. Komplikasi irradiasi: kerentanan kandungan kencing. Biopsi Dengan biopsi dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya. 1. G. Tidak menyebabkan kematian seperti operasi 4. Koloskopi Memeriksa dengan menggunakan alat untuk melihat serviks dengan lampu dan dibesarkan 1040x. Irradiasi 1. 1. Kelemahan: hanya dapat memeriksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio. Dapat dipakai untuk wanita gemuk tua dan pada medical risk 3. Keuntungan: dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan biopsi. Konisasi 2. Dapat dipakai untuk semua stadium 2. Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir serviks dan epitel gepeng dan kelenjarnya. Kalau porsio diberi yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat tua. fistula vesico atau recto vaginalis . Dosis: penyinaran ditujukan pada jaringan karsinoma yang terletak di serviks 5. perdarahan rectal. sedangkan kelainan pada skuamosa kolumnar junction dan intraservikal tidak terlihat.1. Schillentest Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glikogen karena tidak mengikat yodium. 1. Kolpomikroskopi Melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200x. diarrhea.

ovarium dapat dikonservasi. ± sampel kgb para-aorta2. Sehingga tindakan operasi berikutnya dapat mengalami kesukaran dan sering menyebabkan fistula. Histerektomi ekstrafasial dan limfadenektomi pelvis bila tidak ada invasi limfo vaskular3. Irradiasi dan pembedahan Tidak dilakukan sebagai hal yang rutin. parametrium (+). 5% dari ca. oedema. Bila fertilitas masih diperlukan dilakuan konisasi dilanjutkan pengamatan lanjut.serviks adalah resisten terhadap radio terapi. kalau fertilitas masih dibutuhkan. Cytostatika 1. Bleomycin. Kombinasi 1. Terapi kanker serviks uteri berdasar stadiumnya adalah sebagai berikut : - Stadium IA1 Histerektomi ekstrafasial. Terapi adjuvan kemoradiasi pasca bedah (dengan cisplatin ± 5-FU) bila ada faktor risiko kgb (+). Operasi limfadektomi untuk stadium 1 dan 2 2. tepi sayatan (+) . Pada usia muda. Operasi 1.6. - Stadium IA2 Histerektomi radikal atau modifikasi (tipe 2) dan limfadenektomi pelvis. Operasi histerektomi vagina yang radikal 3. Pembagian kanker seviks berdasarkan FIGO Penatalaksanaan pengobatan kanker serviks uteri dapat dilakukan dengan berbagai modalitas terapi.Radioterapi: radiasi luar dan brakiterapi (dosis di titik A 75-80 Gy) - Stadium IBI/IIA Hindari gabungan operasi dengan radiasi untuk mengurangi morbiditas. dianggap resisten bila 8-10 minggu post terapi kedaan masih tetap sama. Konisasi luas atau trakhelektomi radikal dengan limfadenektomi laparoskopi. disamping itu menambah penyebaran ke sistem limfe dan peredaran darah 1. sebab radiasi menyebabkan bertambahnya vaskularisasi. terapi terhadap karsinoma serviks yang radio resisten. Histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvis.

Tujuan Instruksional Khusus . Eksenterasi kalau proses tidak sampai dinding panggul H. Kemoradiasi : Radiasi luar dan brakiterapi serta pemberian cisplatin 40 mg/m2/minggu selama radiasi luar. Tujuan I. terutama bila ada fistel rektovaginal dan vesikovaginal - Stadium IVB atau residif Residif lokal sesudah operasi1 Radiasi + kemoterapi (cisplatin ± 5-FU). PROGNOSA Karsinoma serviks yang tidak dapat diobati atau tidak memberikan respons terhadap pengobatan 95% akan mengalami kematian dalam 2 tahun setelah timbul gejala.Radioterapi: radiasi luar dan brakiterapi (dosis di titik A 80-85 Gy) - Stadium IB2/IIA > 4 cm. III. TUJUAN PENULISAN 1. IVA Kemoradiasi : Radiasi luar dan brakiterapi serta pemberian cisplatin 40 mg/m2/minggu selama radiasi luar. Serviks di Poliklinik Kandungan RSUD Dr. B. Kalau kgb iliaka kommunis atau para-aorta (+) lapangan radiasi diperluas. Pasien yang menjalani histerektomi dan memiliki rasio tinggi terjadinya rekurensi harus terus diawasi karena lewat deteksi dini dapat diobati dengan radioterapi. Kalau kgb iliaka kommunis atau para aorta (+) lapangan radiasi diperluas Eksenterasi : Dapat dipertimbangkan pada IVA bila tidak meluas sampai dinding panggul. Setelah histerektomi radikal. terjadinya 80% rekurensi dalam 2 tahun. 2. Soetomo Surabaya. 50 Gy bila lesi mikroskopik dan 64-66 Gy pada tumor yang besar2. Tujuan Instruksional Umum Untuk memberikan Asuhan Keperawatan kepada ibu dengan Suspek Ca. Operasi : Histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvis Neoadjuvan kemoterapi : (cisplatin 3 seri) diikuti histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvis - Stadium IIB.

Jumlah kehamilan dan partus Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim) . Serviks. Infeksi virus Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks 5. Jumlah perkawinan Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini. B. Dapat menetapkan rencana keperawatan pada ibu dengan suspek Ca. Serviks. imunitas dan kebersihan perseorangan. 7. Hygiene dan sirkumsisi Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. Serviks. Sosial Ekonomi Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi. 4. Serviks. 3. Dapat menerapkan rencana perawatan pada ibu dengan Ca. Dapat melakukan evaluasi keperawatan pada ibu dengan Ca. ETIOLOGI Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol. III. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks. METODE PENULISAN Metode penulisan makalah ini menggunakan metode stadi kasus dengan pengumpulan data secara observasi langsung dan wawancara . 6. Serviks Dapat menentukan masalah keperawatan pada ibu dengan suspeks Ca. C. antara lain : 1. II. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks.Dapat melakukan pengkajian pada ibu dengan suspek Ca. \ V. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma. Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda 2.

5. Displasia Displasia ringan terjadi pada sepertiga bagaian basal epidermis. Pada karksinoma mikroinvasif. berbentuk bunga kool. hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks. biasanya lesi berbentuk ulkus dan tumbuh progesif meluas ke forniks. Stadium karsinoma invasif Pada karsinoma invasif perubahan derajat pertumbuhan sel menonjol besar dan bentuk sel bervariasi. bentuk pertumbuhan ini mudah nekrosis dan perdarahan. 4. Klasifikasi pertumbuhan sel akan kankers serviks Mikroskopis 1. C. Stadium preklinis Tidak dapat dibedakan dengan servisitis kronik biasa . peralihan sel skuamosa kolumnar dan sel cadangan endoserviks. Stadium karsinoma mikroinvasif. biasanya tumor ini asimtomatik dan hanya ditemukan pada skrining kanker. Markroskopis 1. Bentuk kelainan dalam pertumbuhan karsinoma serviks Pertumbuhan eksofilik. posterior dan anterior ke korpus uteri dan parametrium. Stadium karsinoma insitu Pada karsinoma insitu perubahan sel epitel terjadi pada seluruh lapisan epidermis menjadi karsinoma sel skuamosa. 3. tumbuh kearah vagina dan dapat mengisi setengah dari vagina tanpa infiltrasi kedalam vagina.Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker. Displasia berat terjadi pada dua pertiga epidermihampir tidak dapat dibedakan dengan karsinoma insitu. Karsinoma insitu yang tumbuh didaerah ektoserviks. jurusan parametrium dan korpus uteri. Petumbuhan invasif muncul diarea bibir posterior atau anterior serviks dan meluas ketiga jurusan yaitu jurusan forniks posterior atau anterior. Pertumbuhan nodul. disamping perubahan derajat pertumbuhan sel meningkat juga sel tumor menembus membrana basalis dan invasi pada stoma sejauh tidak lebih 5 mm dari membrana basalis. biasanya dijumpai pada endoserviks yang lambatlaun lesi berubah bentuk menjadi ulkus. sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus. Pertumbuhan endofilik. 2.

Stadium lanjut Terjadi pengrusakan dari jaringan serviks. kadang-kadang timbulnya sebeluma ada perdarahan. Biasanya menyerupai air. 3. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi meragukan dan pada serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas. sedang yang terkena karsinoma tidak berwarna. murah dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat. Koloskopi Memeriksa dengan menggunakan alat untuk melihat serviks dengan lampu dan dibesarkan 10-40 kali. Kolpomikroskopi Melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200 kali 5. hanya dapat memeiksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio. Kalau porsio diberi yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat tua. Kelemahan. sedang kelianan pada skuamosa columnar junction dan intra servikal tidak terlihat. Keuntungan . VI. Stadium permulaan Sering tampak sebagian lesi sekitar osteum externum 3. 2. Biopsi Dengan biopsi dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya. Pada stadium lebih lanjut perdarahan dan keputihan lebih banyak disertai infeksi sehingga cairan yang keluar berbau. sehingga tampaknya seperti ulkus dengan jaringan yang rapuh dan mudah berdarah. 6.2. Schillentest Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glycogen karena tidak mengikat yodium. D. tidak dapat menentukan dengan tepat lokalisasi. E. 4. 2. dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan biopsy. GEJALA KLINIS 1. kadang-kadang perdarahan baru terjadi pada stadium selanjutnya. Konisasi Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir serviks dan epitel gepeng dan kelenjarnya. Pemeriksaan diagnostik 1. Pada jenis intraservikal perdarahan terjadi lambat. Stadium setengah lanjut Telah mengenai sebagian besar atau seluruh bibir porsio 4. Kelemahan . Perdarahan Sifatnya bisa intermenstruit atau perdarahan kontak. . Sitologi/Pap Smear Keuntungan.

Cytostatika : Bleomycin. Terapi 1. Tapi tidak melebihi dua pertiga bagian proksimal • Stage III : Sudah sampai dinding panggul dan sepertiga bagian bawah vagina • Stage IIIB : Sudah mengenai organ-organ lain. KLASIFIKASI KLINIS • Stage 0:Ca. 2. 6. F. 5 % dari karsinoma serviks adalah resisten terhadap radioterapi.Pre invasif • Stage I: Ca. ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS\ KANKER SERVIKS . Terbatas pada serviks • Stage Ia . Operasi • Operasi Wentheim dan limfatektomi untuk stadium I dan II • Operasi Schauta. Komplikasi irradiasi • Kerentanan kandungan kencing • Diarrhea • Perdarahan rectal • Fistula vesico atau rectovaginalis 4.VII. diangap resisten bila 8-10 minggu post terapi keadaan masih tetap sama. G. sebab radiasi menyebabkan bertambahnya vaskularisasi. disamping itu juga menambah penyebaran kesistem limfe dan peredaran darah. Kombinasi • Irradiasi dan pembedahan Tidak dilakukan sebagai hal yang rutin. Sehingga tindakan operasi berikutnya dapat mengalami kesukaran dan sering menyebabkan fistula. histerektomi vagina yang radikal 5. Dosis Penyinaran ditujukan pada jaringan karsinoma yang terletak diserviks 3. odema. terapi terhadap karsinoma serviks yang radio resisten. Disertai invasi dari stroma yang hanya diketahui secara histopatologis • Stage Ib : Semua kasus lainnya dari stage I • Stage II : Sudah menjalar keluar serviks tapi belum sampai kepanggul telah mengenai dinding vagina. Irradiasi • Dapat dipakai untuk semua stadium • Dapat dipakai untuk wanita gemuk tua dan pada medical risk • Tidak menyebabkan kematian seperti operasi.

Kondisi ini dipersulit oleh karena derajat kanker klien masih tahap dini sehingga secara makroskopis penegakan diagnosenya masih belum akurat. B. dapat menjadi predisposisi timbulnya vaginitis maupun infeksi jamur lainnya. Tujuan 1. juga tidak mampu dijadikan pedoman faktor yang terlibat dalam terjadinya kanker pada klien. kanker serviks masih merupakan momok bagi semua wanita dan merupakan masalah besar dalam upaya pengembangan kesehatan di Indonesia sehingga penatalaksanaannya memerlukan partisipasi dan kerjasama dari semua pihak termasuk profesi keperawatan. Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa bisa saja kontak dengan pembersih vagina ini menjadi faktor pencetus gangguan keseimbangan asam¬ basa dalam vagina yang dapat mempermudah timbulnya infeksi 1ntravgina baik oleh bakteri maupun virus yang pada akhirnya dapat menyebabkan iritasi dan tanda-tanda keganasan. pada kasus ini tidak ditemukan kecurigaan keterlibatan salah satu faktor secara dominan. Penelusuran terhadap keturunan sebagai upaya penemuan faktor genetika. Ilmu Penyakit Kandungan RSUD Dr. Tujuan Instruksional Umum Untuk memberikan Asuhan Keperawatan kepada ibu dengan Suspek Ca. faktor karsinogenik dari lingkungan maupun penyakit yang bisa menjadi predisposisi timbulnya kanker serviks. Soetomo. Serviks di ruang B3 gynekologi . Kebiasaan penggunaan pembersih vagina (Lab. 1994). Pada kasus keganasan secara obyektif masih belum bisa diketahui secara pasti akibat belum akuratnya data-data penunjang untuk dapat ditegakkanya suatu diagnose kanker serviks. Latar Belakang Secara umum kanker serviks diartikan sebagai suatu kondisi patologis. Adanya tanda-tanda keganasan yang diketahui dari hasil Pap smear bukan merupakan tanda pasti dari kanker serviks sehingga penegakan diagnose harus ditunjang dengan hasil biopsi. Jika dilihat dari etiologi terjadinya kanker leher rahim. dimana terjadi pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol pada leher rahim yang dapat menyebabkan gangguan terhadap bentuk maupun fungsi dari jaringan leher rahim yang normal. seperti perilaku seksual klien maupun pasangan.A.

B. Golongan ekonomi lemah (karena tidak mapu melaksanakan pupsmear secara rutin) erat kaitanya dengan gizi. 8. varian yang sangat berbahaya adalah HPV tipe 16.18. 7. C. 4. Serviks c. HPV (Human Papiloma virus) adalah virus penyebab kutil genetalis (Kondiloma akuminota) yang ditularkan melalui hubungan seksual. Pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari erosi serviks yang kemudian menjadi ineksi yang berupa radang yang terus menerus. Patofisiologi . AKDR (Alat kontrasepsi dalam rahim). Serviks. Metode Penulisan Metode penulisan makalah ini menggunakan metode studi kasus dengan pengumpulan data secara observasi langsung dan wawancara. Tujuan Intruksional Khusus a.45 dan 56. Dapat menerapkan rencana keperawatan pada ibu dengan suspek Ca. Dapat melakukan evaluasi keperawatan pada ibu dengan suspek Ca. Jumlah kehamilan dan partus. Dapat melakukan pengkajian pada ibu dengan suspek Ca. 2. C. 1999) Penyebab terjadinya kelainan pada sel-el serviks tidak diketahui secara pasti. Cervik b. Hubungan seksual pertama dilakukan pada usia dini.2. Berganti-ganti pasangan seksual. imunitas dan kebersihan perorangan. d. 3. tembakau merusak sistem kekebalan dan mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi HPV pada serviks. Infeksi herpes genetalis atau infeksi klamida menahun. kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus semakin besar kemungkinan mendapat karsinoma serviks 6. Merokok. Etiologi Menurut (Winkjosastro. Dapat menetapkan rencana keperawatan pada ibu dengan suspek Ca. tetapi terdapat beberapa faktor resiko yang berpengaruh terhadap terjadinya kanker servik yaitu: 1. Serviks. 5.

mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan serviks dengan melibatkan awal fornless vagina untuk menjadi ulkus yang luas. Endofilik. pada pemeriksaan dengan spekulan. Sedangkan pembagian tingkat keganasan menurut sistem TNM T : tak ditemukan tumor primer T1S : karsinoma pra-invasif. Ulseratif. mulai dari SCJ tumbuh ke dalam stroma servik dan cenderung untuk mengadakan infiltrasi menjadi ulkus 3. Penyebaran pada umumnya secara limfogen melalui pembuluh getah bening menuju 3 arah : ke arah fornless dan dinding vagina.Pada awal perkembangannya kanker serviks tidak memberi tanda-tanda dan keluhan. Umumnya fase prainvasif berkisar antara 3-20 tahun (rata-rata 5-10 tahun). II. tampak sebagai porsio yang erosif (Metaplasia Squamora) yang fisiologik atau patologik. Pada tingkat lanjut dapat menginfiltrasi septum rektovaginal dan kendung kemih. Tumor dapat tumbuh: 1. III dan KIS yang akhirnya menjadi karsinoma invasive dan proses keganasan akan berjalan terus. tetapi belum sampai dinding panggul. ialah KIS (karsinoma insitu) T1 : karsinoma terbatas pada serviks (walaupun adanya perluasan ke korpus uteri) T1a : pra-klinik adalah karsinoma yang invasive dibuktikan dengan pemeriksaan histologik T1b : secara klinis jelas karsinoma yang invasive T2 : karsinoma telah meluas sampai di luar serviks. Eksofilik. dengan masuknya mutagen yang erosif (metaplasia skuamosa) yang semula fisiologik berubah menjadi patologik (diplastik – diskoriotik) melalui tingkatan NIS – I. Servik yang normal secara alami mengalami proses metaplasia (erosio) akibat saling desak mendesaknya kedua jenis epitel yang melapisi. atau karsinoma telah menjalar ke vagina. Histopatologik sebagian besar (95-97%) berupa epidermoid atau squamor cell carsinoma. sisanya adenokarsinoma. mulai dari squamo – columnar (SCJ) ke arah lumen vagina sebagai masa proliferatif yang mengalami infeksi sekunder dan nekrosis 2. tetapi belum sampai 1/3 bagian distal T2a : karsinoma belum menginfiltrasi parametrium . clearcell carsinoma / mesonephroid carsinoma dan yang paling jarang adalah sarkoma. ke arah corpus uterus dan ke arah parametrium.

2. Tanda -/+ ditambahkan untuk ada / tidaknya informasi mengenai pemeriksaan histologik. Pedarahan spontan saat defekasi. N1 : kelenjar limfe regional berubah bentuk sebagaimana ditunjukkan oleh caracara diagnostik yang tersedia (misal : limfografi. 6. 5.T2b : karsinoma telah menginfiltrasi parametrium T3 : karsinoma telah melibatkan 1/3 bagian distal vagina atau telah mencapai dinding panggul T4 : karsinoma telah menginfiltrasi mukosa rectum atau kandung kemih atau meluas sampai di luar panggul T4a : karsinoma melibatkan kandung kemih atau rektum saja dan dibuktikan secara histologik T4b : karsinoma telah meluas sampai di luar panggul Nx : bila tidak memungkinkan untuk menilai kelenjar limfe regional. 3. . Manifestasi Klinik Manifestasi klinik dari karsinoma servik meliputi: 1. M1 : terdapat metastase berjarak jauh. Keputihan yang makin lama makin berbau akibat infeksi dan nekrosis jaringan. perdarahan spontan pervaginam. M0 : tidak ada metastase berjarak jauh. E. 4. CT-Scan panggul) N2 : teron massa padat dan melekat pada dinding panggul dengan celah bebas infiltra dan diantara masa ini dengan tumor. perdarahan yang terjadi diluar senggama (tingkat II dan III). jadi : NZ + atau NXN0 : tidak ada deformite kelenjar limfe pada limfografi. Rasa nyeri akibat infiltrasi sel tumor keserabut saraf. Perdarahan yang dialami segera setelah senggama (75-80%). termasuk kelenjar limfe di atas biforkosia arteri ilioka komunis. Anemi akibat perdarahan berulang 7.

sedang yang terkena karsinoma tidak berwarna.F. 4. 3. Kolpomikroskopi Melihat hapusan (pop smear) dengan pembesaran sampai 200 kali. Penatalaksanaan Terapi karsinoma serviks dilakukan bilamana diagnosa telah dipastikan secara histologik dan sesudah dikerjakan perencanaan yang matang oleh tim kanker / tim onkologi. 1. Biopsi Dengan biopsy dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya. Fotoskopi Keuntungan : dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan biopsi. Dilakukan bila hasil sitologi dan pada servik tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas. bedah krio atau dengan sinar laser. Sitologi / pap smear Keuntungan : murah dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat. 6. kecuali bila yang menangani . G. elektrofigerasi. Schillentest Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glycogen karena tidak mengikbat yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat tua. 2. Konisasi Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir serviks dan epitel gepeng serta kelenjarnya. sedang kelainan pada squamea columner juction dan intraservikal tidak terlihat. Kelemahan : hanya dapat memeriksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio. Kelemahan : tidak dapat menentukan dengan tepat lokalisasi. Pemeriksaan Diagnostik 1. Pada Tingkat Klinis (KIS) tidak dibenarkan dilakukan elektrokoagulasi. 5.

Keluhan utama : keluhan pasien yang paling menonjol 3. Pengobatan standar operasi dan radiasi. pekerjaan.Mitomycin C – Bleomicin (BM) . 2. jumlah anak. tumor 5. Riwayat obstetri : GPA. pasca bedah biasanya dilanjutkan dengan penyinaran. Ib OCC dan IIa dilakukan histerektomi medical dengan limfatenektomi panggul. 4. Riwayat penyakit sekarang dan dahulu. Pegmen yang sering digunakan adalah : . Kemoterapi (smostatika) pada karsinoma serviks Peranan kemoterapi pada karsinoma serviks masih dalam tahap penelitian. III dan IV tidak dibenarkan melakukan tindakan bedah. Pada tingkat klinik Ia penanganannya seperti pada KIS 3. Riwayat keluarga 6. 4.Mitomycin C (CMMC) sebagai terapi tunggal . pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Data pasien : identitas pasien. operasi kandungan. infeksi masa nifas. Jika penderitanya telah cukup anak dan cukup tua dilakukan histerektomi sederhana.Mitomycin C – 6 Flaarounracil (MMC – 5 FV) . tergantung ada / tidaknya sel tumor dalam kelenjar limfe regional yang diangkat. H. Pemeriksaan penunjang a. Jika operasi merupakan suatu kontraindikasi aplikasi radium dengan dosis 6500 – 7000 rads/c by dititik A tanpa penambahan penyinaran luar. Pengkajian Fokus Pengumpulan data pada pasien dan keluarga dilakukan dengan cara anamnesa. tindakan primer adalah radioterapi. 2. pemberian kematherapi dapat dipertimbangkan. usia. Pemeriksaan fisik 7. 5. Pada tingkat klinik IVa dan IVb penyinaran hanya bersifat paliatif. 1. Pada tingkat klinik Ib. Pada tingkat IIb. status perkawinan. agama jenis kelamin dan pendidikan terakhir.seorang ahli dalam kolposkopi dan penderinta masih muda dan belum mempunyai anak. kebanyakan terapi sitostika hanya bersifat adjuvant (tambahan).

2) Gangguan sumsum tulang : anemi.Atau kombinasi berdasarkan air platinum misalnya : . kenaikan suhu. Pemberian sitastika pada karsinoma serviks dilakukan sebelum terapi pembedahan atau radiasi. Pemberian sitostatika cara ini disebut sebagai terapi neoadjuvant dengan hasil cukup menggembirakan.Mitomycin C – Oncovin – Cisplatinum – Bleamycin (MOPB) . diare.000 /ml Efek Toksik Gejala-gejala toksik yang sering tampak adalah : 1) Efek pada fraktur digestivus : gingivitis.Cisplatinum – Vinblastin – Bleomycin (PVB) Respon pengobatan dengan sistastika berkisar antara 19–50%.5 mg%) dan faal hati baik 4) Diagnosis histopatologis diketahui 5) Jenis kanker diketahui sensitif terhadap kemoterapi 6) Hemoglobin > 10 gr % 7) Leukosit > 5000 /ml 8) Trombosit > 100. hiperpigmentasi kulit dan gatal-gatal 4) Gangguan faal ginjal. stomatitis. Syarat pemberian : Sebelum pengobatan dimulai syarat atau kondisi harus dipenuhi yaitu: 1) Keadaan umum harus baik / cukup baik 2) Penderita mengerti tujuan pengobatan dan mengetahui efek samping yang akan terjadi 3) Faal ginjal (kadar ureum < 40 mg% dan kreatinin < 1. kenaikan kadar ureum dan kreatinin .Mitomycin C – Cisplatinum (MMC-P) . leukopeni dan trombositopeni 3) Gangguan faal hati. mual. muntah dan perdarahan usus.Pirubian – Cisplatinom (EP) .

karena organ tersebut mempunyai daya toleransi yang lebih rendah.000 /ml tanpa gejala lain yang berat. kemudian ¾ sampai dosis penuh apabila tidak tampak pengaruh hoksik lagi. Apabila jumlah leukosit < 3000 /ml. Dosis antara 20. Leukopeni dan trombositopeni dapat diobati dengan transfusi darah segar atau tranfusi eritrosit.000 rad dalam 2 minggu masih dalam batas daya tahannya. ukuran diameter (2 diameter saling tegak lurus) mengecil 50%. . Untuk mengatasi gejala-gejala ringan seperti mual-muntah diobati secara sintomatik. setelah keadaan pulih pengobatan dapat diteruskan mula-mula ½ dosis. pengobatan harus segera ditunda atau dihentikan. bertambah atau berkurang 25%.Progres Disease (PD). ureter dan kantung kemih. b. Dosis radiasi lokal melebihi 500 rd dapat menimbulkan reaksi-reaksi yang cukup berat seperti timbulnya ulserasi pada mukosa yang dapat menimbulkan fisiola. lesi yang ada hilang semua dan tidak ada lesi baru. tidak ada perubahan ukuran tumor. 2) Obyektif . anemi. kadar Hb < 8 gr% dan trombosit < 100. Teknik radiasi : 1) Radiasi lokal (Intrakaviter) . Jaringan penyusunan serviks merupakan jaringan yang paling tahan terhadap radiasi dibandingkan jaringan tubuh lainnya.Partial Respons (PR).No Change (NC).000 – 30. tidak ada lesi baru.5) Alopesia juga sering dijumpai Untuk mengetahui pengaruh toksik sebaiknya tiap minggu dilakukan pemeriksaan laboratorium. . .Complete Respons (CR). Evaluasi pengobatan : 1) Lama hidup Merupakan indeks yang sangat baik untuk menilai respon pengobatan karena tujuan pengobatan adalah memperpanjang hidup tanpa penurunan kualitas hidup. Radioterapi pada karsinoma serviks Dalam menentukan dosis dan teknik radiasi pada pengobatan karsinoma serviks perlu dipertimbangkan faktor daya toleransi dari jaringan-jaringan di dalam rongga pelvis. Pembatasan dosis ditentukan oleh daya tahan dari usus. ukuran tumor bertambah lebih dari 25% atau ada lesi baru. trombosit atau leukosit.

dilkomunis biasanya luasnya 15 x 12 cm – 15 x 18 cm. cara memasukkan obat . Aplikasi intervaginal terdiri 2 buah silinder yang … bermuatan 13. 5 x seminggu dan out dosis total sekitar 500 rad dalam 5 minggu..abstruttora sampai pertemuan a.3 mg dan di muka ostium bermuatan 6. Penutupan dilakukan pula pada daerah kaputfermorsis dan sebagian pelvis lateral bagian atas untuk mengurangi bahaya usus-usus terkena radiasi. tetapi dosis cepat menurun pada jaringan di sekitarnya.selesai tombol lain ditekan sehingga zat radiokatif . .After loading manual : aplikator intrauterine dan dipasang menggunakan radiodiagnostik / lokalisator.Pada teknik sockholm digunakan radiasi dengan muatan radium yang agak tinggi. fundos dan rongga vagina proksimal. 2) Teknik After – Loading .6 mg. Umumnya diberikan Ditetapkan dalam rad. . Radium diberikan intra uterin dan intravaginal. Dosis yang masih termasuk dosis toleransi ialah 200 rad sehari. 3) Radiasi Eksternal . kandung kemih dan ureter dapat dibatasi sampai batas-batas daya tolerensi. tetapi relatif rendah ke arah lateral. Untuk menghindarkan tingginya dosis di rectum dan buli dipergunakan kain basa yang diletakkan antara box dan dinding posterior dan anterior vagina. 3x seminggu dengan dosis total 4500 rad. sehingga dosis ke rectum. dengan tiap kali pemasangan berlangsung 24-30 jam.Radium atau zat radioaktif lainnya diletakkan intravaginal dan intrauterine dengan menggunakan aplikator. Kombanasi antara radiasi lokal (intrakaviter) dan radiasi eksternal merupakan pilihan yang umumnya diberikan dengan cara : 1) Radiasi lokal (intrakaviler) dapat memberikan dosis yang tinggi dan korpus uteris.Teknik paris digunakan radium bermuatan lebih rendah dan diberikan hanya … antara 96-200 jam. sigmoid. . Dapat pula diberikan 300 rad tiap kali.Luas lapangan penyinaran meliputi daerah kelenjar limfe sekitar a. setelah tempat penyimpanan radioaktif. Daerah yang telah mendapat radium intrakaviter selebar antara titik 4 kanan dan kiri ditutup dengan blok timah hitam. Teknik ini memberikan dosis radiasi yang tinggi pada serviks. diberikan 2 kali dengan waktu diantaranya 3 minggu. .Remote controlled after – loading system. .Teknik Manchester menggunakan muatan radium lebih Rendah dari Stockholm.

Varian yang sangat berbahaya adalah HPV tipe 16. 90 % dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada sluran servikal yang menuju ke dalam rahim. kemudian aplikasi radium 4500-5000 rad.cerviks. 1.serviks cukup tinggi oleh karena itu kelenjar-kelenjar di dalam panggul kecil harus mendapat penyinaran juga. Radiasi eksternal : 5000 rad/5 minggu dengan blok timah pada daerah aplikasi radium. . 18. HPV ( Human Papiloma Virus ) HPV adalah virus penyebab kutil genitalis ( kondiloma akuminata ) yang ditularkan melalui hubungan seksual.2) Kemungkinan timbulnya metastase limfogen pada ca.Stadium I + I : aplikasi raium 6500 rad dengan 2x aplikasi. sehingga dosis yang sampai kelenjar limfe sangat rendah.Stadium IV : hanya radiasi eksternal untuk pengobatan Kanker serviks biasania menyerang wanita berusia 35 – 55 tahun. 1. 45 dan 56. Untuk dapat mencapai dosis yang mengamankan metastase kelenjar limfe ini diperlukan penyinaran luar yang dapat memberikan distribusi dosis yang merata pada daerah yang lebih luas. Dosis radiasi intrakaviter cepat menurun di luar uterus. Merokok . . Kombinasi radiasi eksternal dan intrakaviter bergantung pada stadium ca. Jika sel – sel serviks terus membelah.Stadium III : pertama-tama radiasi eksternal seluruh pelvis (tanpa blok timah) 2000-3000 rad. Penyebab terjadinya kelainan pada sel – sel serviks tidak diketahui secara pasti . maka keadaannya disebut kanker serviks. Etiologi Kanker serviks terjadi jika sel – sel serviks menjadi abnormal dan membelah secara tak terkendali. tetapi terdapat beberapa factor resiko yang berpengaruh terhadap terjadinya kanker serviks yaitu : 1. II. Jika tumor tersebut ganas. maka akan terbentuk suatu masa jaringan yang disebut tumor yang bisa bersifat jinak / ganas. .

berganti – ganti pasangan dan pernah menikah dengan wanita yang menderita kanker serviks.Tembakau merusak sistem kekebalan dan mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi HPV pada serviks. Infeksi herpes genitalis / infeksi klamiidia menahun. Hubungan seksual pertama dilakukan pada usia dini 2. 4. Berganti – ganti pasangan seksual 3. 7. III. Golongan ekonomi lemah ( kerna tidak mampu melakukan pap smear secara rutin ) XII. Stadium Karsinoma Serviks Klasifikasi internasional tentang karsinoma serviks uteri : . Pemakaian pil KB 6. Suami / pasangan seksualnya melakukan hubungan seksual pertama pada usia di bawah 18 tahun. 5. 1. 1. Pemakaian DES ( dietilstilbestrol ) pada wanita hamil untuk mencegah keguguran. Manifestasi Klinik  Keputihan yang makin lama makin berbau akibat infeksi dan nekrosis jaringan  Pendarahan yang dialami segera setelah senggama (75-80%)  Pendarahan yang terjadi di luar senggama (Tingkat II dan III)  Pendarahan spontan saat defekasi  Pendarahan spontan pervaginaan  Anemia akibat pendarahan berulang  Rasa nyeri akibat infiltrasi sel tumor ke serabut syaraf.

tidak terdapat bukti invasi. Hanya perluasan vagina Tahap IIA Tahap IIB Tahap III Perluasan paraservikal dengan atau tanpa mengenai vagina.Lokasi Deskripsi Karsinoma in situ Kanker terbatas pada lapisan epitel. Urogram IV menunjukkan salah satu atau kedua ureter Kanker mengenai 1/3 bagian tersumbat oleh tumor. bawah vagina atau telah meluas ke salah satu atau Meluas sampai 1/3 bagian bawah vagina kedua dinding pelvis saja Metastase karsinoma terisolasi yang diraba pada dinding pelvis. Penyakit nodus limfe yang teraba tidak merata pada dinding pelvis. Tahap IIIA Bukti bahwa karsinoma mengenai kandung kemih tampak pada pemeriksaan sitoskopi atau oleh adanya fistulasi vesiko . Tahapan Lesi Tahap 0 Ukuran bukan merupakan kriteria Tahap 1 Karsinoma yang hanya benar-benar berada dalam serviks Makroinvasi Tahap 1A Secara klinis jelas merupakan tahap I Tahap 1B Tahap II Kanker vagina Lesi telah menyebar di luar serviks hingga mengenai vagina (bukan 1/3 bagian bawah) atau area paraservikal pada salah satu sisi atau kedua sisi.

III dan KIS untuk akhirnya menjadi karsinoma invasif. Histologi antara epitel gepeng berlapis (squamous complex) dari portio dengan epitel kuboid/silindris pendek selapis bersilia dari endoserviks kanalis serviks. Ulseratif mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan serviks dengan melibatkan awal fornises vagina untuk menjadi ulkus yang luas. Serviks normal secara alami mengalami proses metaplasi/erosio akibat saling desak-mendesak kedua jenis epitel yang melapisi. Perubahan epitel displastik serviks secara kontinyu yang masih memungkinkan terjadinya regresi spontan dengan pengobatan / tanpa diobati itu dikenal dengan Unitarian Concept dari Richard. IV. Eksofilik mulai dari SCJ ke arah lUmen vagina sebagai masa yang mengalami infeksi sekunder dan nekrosis. Periode laten dari NIS – I s/d KIS 0 tergantung dari daya tahan tubuh penderita. Hispatologik sebagian besar 95-97% berupa epidermoid atau squamos cell carsinoma sisanya adenokarsinoma. II. Patofisiologi / Pathways Karsinoma serviks timbul di batas antara epitel yang melapisi ektoserviks (porsio) dan endoserviks kanalis serviks yang disebut sebagai squamo-columnar junction (SCJ). porsio yang erosif (metaplasia skuamosa) yang semula fisiologik dapat berubah menjadi patologik melalui tingkatan NIS I. Karsinoma menyebar keluar pelvis sejati ke organ lainnya. Dengan masuknya mutagen. Umumnya fase pra invasif berkisar antara 3 – 20 tahun (rata-rata 5 – 10 tahun). clearcell carcinoma/mesonephroid carcinoma dan yang paling jarang adalah sarcoma. SCJ berada di dalam kanalis serviks. Pada wanita SCJ ini berada di luar ostius uteri eksternum. 3. Sekali menjadi mikroinvasif atau invasif. sedangkan pada waniya umur > 35 tahun. . Tahap IV Perluasan rectal penyebaran jauh 1. Tumor dapat tumbuh : 1. prose keganasan akan berjalan terus.. Endofilik mulai dari SCJ tumbuh ke dalam stomaserviks dan cenderung untuk mengadakan infiltrasi menjadi ulkus.Perluasan kandung kemih Tahap IIIB vagina. 2.

pap smear bias dilakukan 1 kali / 2 – 3 tahun. Hasil pemeriksaan pap smear menunjukkan stadium dari kanker serviks : - displasia ringan ( perubahan dini yang belum bersifat ganas ) - displasia berat ( perubahan lanjut yang belum bersifat ganas ) .Pathways 1. Akibatnya angka kematian akibat kanker servikpun menurun sampai lebih dari 50 %. V. Setiap wanita yang telah aktif secara seksual / atau usianya telah mencapai 18 tahun. Pemeriksaan Diagnostik 1. sebaiknya menjalani pap smear secara teratur yaitu 1 kali / tahun. Pap Smear Pap smear dapat mendeteksi sampai 90 % kasus kanker serviks secara akurat dan dengan biaya yang tidak terlalu mahal. Jika selam 3 kali berturut – turut menunjukkan hasil yang normal.

1. jarum. VII. Pada kanker servikal invasif dilakukan radiasi atau histerektomi radikal. Penanda tumor Zat yang dihasilkan dan disekresikan oleh sel tumor dan ditemukan dalam serum (CEA. 3. melubangi) Dilakukan untuk diagnosa banding dan menggambarkan pengobatan dan dapat dilakukan melalui sumsum tulang. Tes kimia skrining 2.- karsinoma insitu ( kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling luar ) kanker invasive ( kanker telah menyebar lapisan serviks yang lebih dalam / ke organ tubuh lainnya ) 1. antigen spesifik prostat. trombosit berkurang atau meningkat. Gallium) dan ultrasound Dilakukan untuk tujuan diagnostik identifikasi metastatik dan evaluasi respon pada pengobatan. dsb. 3. 1. konisasi (pengangkutan yang berbentuk kerucut dari serviks). Pada paisen dengan kekambuhan kanker servikal dipertimbangkan untuk menjalani ekstenterasi pelvis dimana bagian besar isi pelvis diangkat.) 1. Pada lesi precursor (lesi intra-epitel squamosa) tingkat rendah atau tingkat tinggi ditemukan maka pengangkatan non bedah konservatif. kriterapi (pembekuan dengan oksida nitrat) atau terapi laser. 1. VI. Penyebaran Pada umumnya secara limfogen melalui pembuluh getah bening menuju 3 arah yaitu : 1. dll. Biopsy (aspirasi. perubahan pada SDM dan SDP. organ. Penatalaksanaan 1. HCG. kulit. Scan (MRI. CT. 2. eksisi. Sinar X dada Menyelidiki penyakit paru metastatik atau primer. Ke arah fornises dan dinding vagina . 2. HDL dengan diferensial dan trombosit dapat menunjukkan anemia.

Ke arah paramerium dan dalam tingkatan yang lanjut menginfiltrasi septum rektovaginal dan kandungkemih. CIN II displasia sedang 3. Stadium IV : Sel Malignan – karsinoma insitu 5. kanker serviks invasif tidak menampakkan gejala tunggal yang spesifik.2. Karsinoma mikroinvasif Adalah satu atau lebih lesi yang membesar tidak lebih dari 3 mm di bawah membran basal tanpa adanya infasif limfatik atau vaskuler. inflamasi harus diukur. Stadium V : Sel malignan – kanker invasif 6. Stadium I : Tidak ada sel abnormal 2. Stadium III : Kecurigaan Sel Abnormal 4. 1. CIN III displasia berat dan karsinoma insitu Metode yang digunakan untuk mendeteksi CIN adalah papanikolaou (PAP) Test. VIII. 4. . 3. Kanker Serviks invasif Terdapat 2 tipe yaitu mikro-invasif dan invasif 1. Stadium II : Sel epitel diidentifikasi. 3. Kanker Serviks Pre-Invasif Klasifikasi yang digunakan saat ini meliputi : 1. CIN I displasia ringan 2. Ke arah korpus uterus. yang terjadi adalah pendarahan yang terjadi saat coitus atau latihan fisik. Klasifikasi 1. Karsinoma invasif Adalah penyebaran karsinoma ke arah lain. PAP test terdiri dari 5 kategori. 1.

- Beri tahu efek radiasi peresisten selama 10-14 hari sesudah pengobatan. Selama Terapi Pilihlah kulit yang baik dengan menganjurkan menghindari sabun. Pertimbangan Perawatan Umum - Teknik isolasi - Membatasi aktivitas 1. kosmetik dan deodoran. 1. Perencanaan Terapi Radiasi 1. dan gagal ginjal akibat penyebaran kanker ke kandung kemih dan obstruksi serta pendarahan rektal serta obstruksi bowel. 1.nyeri hematuria. Perawatan Pre Insersi . Terapi Radiasi Internal 1. Perawatan sebelum pengobatan Kuatkan penjelasan tentang perawatan yang digunakan untuk prosedur. Terapi pembedahan dan radioterapi. IX. - Pertahankan keadekuatan nutrisi. Perawatan Post Pengobatan - Hindari infeksi - Laporkan tanda-tanda infeksi - Monitor intake cairan dan juga keadekuatan nutrisi. - Lakukan perawatan kulit dan mulut. 1. 1. Terapi Radiasi Eksternal 1. 1. mempunyai penyakit berulang atau persisten setelah terapi. Kanker Serviks Lanjut dan Berulang Sekitar 1 dari 3 wanita dengan kanker serviks invasif.

Teknik Kombinasi Radiasi Eksternal dan Intrakaviter Stadium I dan II : rad / 5 minggu. Selama Terapi Radiasi - Monitor TTV tiap 4 jam - Latih ROM aktif dan nafas dalam setiap 2 jam - Beri posisi semi fowler - Beri makanan berserat dan cairan parenteral s/d 300 ml - Kateter tetap terpasang - Monitor intake dan output - Monitor tanda-tanda pendarahan - Beri support mental. Aplikasi radium 6500 rad dengan 2x aplikasi radiasi eksternal : 5000 . reaksi kulit. 1. selama beberapa hari. 1.- Turunkan kebutuhan untuk enema atau BAB. diare. Perawatan Post pengobatan - Hindari komplikasi post pengobatan (tromboplebitis emboli pulmonal dan pneumonia) Hindari komplikasi akibat pengobatan itu sendiri (pendarahan. - Pasang kateter sesuai indikasi - Puasakan malam hari sebelum prosedur dilakukan - Latih nafas panjang. disuria dan distansia vagina) - Monitor intake dan output cairan. latih ROM - Jelaskan tentang pembatasan pengunjung. 1.

Obat Anti Metabolit Obat ini mempunyai identitas kimiawi yang sama. Golongan obat yang mematikan pada fase tertentu dari mana proliferasi ® obat fase spesifik. Golongan yang terdiri atas obat-obat yang mematikan semua sel pada siklus ® obat-obat non spesifik 2. menyebabkan gangguan pembentukan RNA. Cara Pemberian Obat . sehingga akan mengganggu siklus dalam sel. 1. Obat ini mempengaruhi proliferasi dan interface. Obat Hormon Dasar terapi ini bahwa organ yang dalam keadaan normal. 1. Obat Antibiotik Obat ini berkhasiat spesifik terhadap siklus sel. Macam – macam obat : 1. rentan terhadap hormon tertentu. 1. 1. Obat alkaloid Golongan ini menghentikan proses mitosis pada fase metastasis. akan tetapi menghalangi berfungsinya metabolit tersebut. Stadium IV : Hanya radiasi eksternal untuk pengobatan paliative. Efek toksik adalah : depresi sumsum tulang dengan gejala neutropeni dan trombositopeni dan pengaruh terhadap traktus digestivus dan folikel rambut (alopesia).Stadium III : Radiasi eksternal seluruh pelvis 2000-3000 rad kemudian 4500-5000 rad. Obat dengan Komponen Alkil (Alkilating Agent) Obat ini melepas alkil dalam selnya. dapat dipengaruhi oleh hormon dari luar. Golongan obat yang merusak semua sel akan tetapi pengaruh proliferasi sel lebih besar ® obat-obat siklus spesifik. 3. XIII. Sitostatika dalam Ginekologi Penggolongan obat sitostatika : 1.

Penderita mengerti tujuan pengobatan dan mengetahui efek samping yang terjadi. Pemberian intraperitoneal Pemberian ini bertujuan untuk mengurangi cairan asites. ada syarat yang harus dipenuhi dalam pemberian pengobatan. 1. . Pemberian intravena Pemberian intravena dapat dilakukan dengan penyuntikan langsung secara “bolus” atau per infus. obat ini diberikan intraperineum. Mempunyai pengetahuan sitostatika dan manajemen kanker. dapat disertai pendarahan. 6. 7. Pemberian intrapleura Pemberian obat ini bertujuan untuk mengurangi produksi cairan pleura dan membunuh sel kanker. Faal ginjal dan hati baik. Jenis kanker diketahui sensitif terhadap kemoterapi. Hb > 10 gr%. 1. 1. Perlu diperhatikan bahwa pemberian obat oral dapat menyebabkan kerusakan sel epitelium sehingga mengakibatkan ulkus yang disertai depresi sumsum tulang. Leukosit > 5000/ml. 3. Keadaan umum harus baik 2.1. Syarat Pemberian Sitostatika 1. Pemberian Oral Obat yang diberikan sebaiknya obat yang larut dalam lemak. pendarahan lokal yang sukar dihentikan. Trombosit > 100. 1. 1. Pemberian Intramuskuler Kurang dianjurkan karena dapat menimbulkan nekrosis.000/ml. Diagnosis histopatologik diketahui. 4. 5. 8. Selain persyaratan di atas.

Dilengkapi secara sarana laboratorium yang lengkap. Trombositopenia 9. Mencegah terjadinya infeksi HPV 2. Sel – sel serviks lalu dioleskan pada kaca objek lalu diberi pengawet dan dikirimkan ke laboratorium untuk diperiksa. . 24 jam sebelum menjalani pap smear.2. Gingivitis 2. Pada pemeriksaan pap smear. tidak berendam dan tidak menggunakan tampon. Muntah 5. sebaiknya tidak melakukan pencucian / pembilasan vagina. Leukopenia 8. Rasa mual 4. Diare 3. Melakukan pemeriksaan pap smear secara teratur Pap smear ( tes papanicolau ) adalah suatu pemeriksaan mikroskopik terhadap sel – sel yang diperoleh dari apusan serviks. Anemia 7. Pendarahan usus 6. Efek toksik yang paling cepat tampak adalah efek pada traktus digestivus yaitu : 1. tidak melakukan hubungan seksual.Kenaikan kadar ureum dan kreatinin. contoh sel serviks diperoleh dengan bantuan sebuah spatula yang dibuat dari kayu / plastik ( yang dibedakan bagian luar serviks ) dan sebuah sikat kecil ( yang dimasukkan ke dalam saluran servikal ).Gatal – gatal 12.Hiperpigmentasi 11. Kenaikan suhu 10. Pencegahan Ada 2 cara untuk mencegah kanker serviks yaitu : 1. XII.

Pap smear sangat efektif dalam mendeetksi perubahan prekanker pada serviks. setiap tahun untuk wanita yang memaaakai pil KB 4. pemeriksaan panggul ( pap smear ) harus dimulai ketika seorang wanita mulai aktif melakukan hubungan seksual / pada usia 20 tahun. biasanya dilakukan kalposkopi dan biopsi. Identitas Klien 7. jangan melakukan hubungan seksual pada penderita kutil kelamin/ gunakan kondom untuk mencegah penularan kutil kelamin 3. setiap 2-3 tahun untuk wanita yang berusia di atas 35 tahun jika 3 kali pap smear berturut – turut menunjukkan hasil negatif / untuk wanita yang telah menjalani histerektomi bukan karena kanker 5. berhenti merokok 5. Anjuran untuk melakukan pap smear secara teratur : 1. sesering mungkin jika hasil pap smear menunjukkan abnormal 6. Setiap hasil yang abnormal harus diikuti dengan pemeriksaan kolposkopi dan biopsi 6. anak perempuan yang berusia di bawah 18 tahun tidak melakukan hubungan seksual 2. setiap tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun 2. sesering mungkin setelah penilaian dan pengobatan pre kanker maupun kanker servik Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kanker serviks sebaiknya : 1. Keluhan utama . setiap tahun untuk wanita yang berganti – ganti pasangan seksual / pernah menderita infeksi HPV / kutil kelamin 3. Jika hasil pap smear menunjukkan displasia/ serviks tampak abnormal. jangan berganti – ganti pasangan seksual 4.

Status kesehatan Etiologi Hubungan seksual pertama kali pada usia dini (umur < 16 tahun). Begitu pula dengan terpaparnya selsel mulut rahim yang mempunyai pH tertentu dengan sperma-sperma yang mempunyai pH yang berbeda-beda pada multipatner dapat merangsang terjadinya perubahan kearah displasia. Faktor Resiko Beberapa faktor yang mempengaruhi insiden kanker serviks yaitu: . Penelitian menunjukkan bahwa 10-30 % wanita pada usia 30’an tahun yang sexually active pernah menderita infeksi HPV (termasuk infeksi pada daerah vulva). Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18. 3. Infeksi Herpes Simpleks Virus (HSV) tipe 2 5. Pada sebagian besar kasus. 2. Wanita yang melahirkan anak lebih dari 3 kali 6. infeksi HPV berlangsung tanpa gejala dan bersifat menetap. 4. Kedua faktor diatas juga berhubungan dengan infeksi HPV. Sering berganti-ganti pasangan (multipatner sex). Wanita merokok.8. Semakin dbanyak berganti-ganti pasangan maka tertularnya infeksi HPV juga semakin tinggi. Persentase ini semakin meningkat bila wanita tersebut memiliki banyak pasangan seksual. karena hal tersebut dapat menurunkan daya tahan tubuh.

tetapi pada pemeriksaan histologi ternyata sel tumor telah mengadakan invasi stroma melebihi Ia II Proses keganasan telah keluar dari serviks dan menjalar 2/3 bagian atas vagina dan parametrium. Merokok Klasifikasi Klasifikasi Kanker Serviks menurut FIGO 1978 Tingka Kriteria t 0 Karsinoma In Situ ( KIS). Pola seksual 6. Status sosial ekonomi 5. membran basalis utuh I Proses terbatas pada servks walaupun ada perluasan ke korpus uteri Ia Karsinoma mikro invasif. parametrium masih bebas dari infitrat tumor . Terpajan virus terutama virus HIV 7. 2. Usia.1. Hygiene dan sirkumsisi 4. Ib Secara klinis tumor belum tampak sebagai karsinoma. Jumlah perkawinan 3. bila membran basalis sudah rusak dan sel tumor sudah stroma tidak > 3 mm. dan sel tumor tidak tedapat didalam pembuluh limfe atau pembuluh darah. tetapi tidak sampai dinding panggul II a Penyebaran hanya ke vagina.

II b

Penyebaran ke parametrum, uni atau bilateral, tetapi belum sampai dinding
panggul

III a

Penyebaran sampai ½ bagian distal vagina, sedang parametrium tidak
dipersoalkan asal tidak sampai dinding panggul.

III b

Penyebaran sudah sampai dinding panggul, tidak ditemukan daerah infiltrat
antara tumor dengan dinding panggul.

IV

Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mokusa rektum
dan atau vesika urinaria atau telah bermetastasi keluar panggul ketempat yang
jauh

IV a

Proses sudah sampai mukosa rektum dan atau vesika urinaria atau sudah keluar
dari pangul kecil, metastasi jauh belum terjadi

IV b

Telah terjadi metastasi jauh.

Tanda dan Gejala
1. Perdarahan
2. Keputihan yang berbau dan tidak gatal
3. Cepat lelah
4. Kehilangan berat badan
5. Anemia
Manifestasi Klinis
Dari anamnesis didapatkan keluhan metroragi, keputihan warna putih atau puralen yang berbau
dan tidak gatal, perdarahan pascakoitus, perdarahan spontan, dan bau busuk yang khas. Dapat
juga ditemukan keluhan cepat lelah, kehilangan berat badan, dan anemia. Pada pemeriksaan fisik
serviks dapat teraba membesar, ireguler, terraba lunak. Bila tumor tumbuh eksofitik maka terlihat

lesi pada porsio atau sudah sampai vagina. Diagnosis harus dipastikan dengan pemeriksaan
histologi dan jaringan yang diperoleh dari biopsi.
Prognosis
Karsinoma serviks yang tidak dapat diobati atau tidak memberikan respons terhadap pengobatan
95% akan mengalami kematian dalam 2 tahun setelah timbul gejala. Pasien yang menjalani
histerektomi dan memiliki rasio tinggi terjadinya rekurensi harus terus diawasi karena lewat
deteksi dini dapat diobati dengan radioterapi. Setelah histerektomi radikal, terjadinya 80%
rekurensi dalam 2 tahun.
Pemeriksaan Penunjang
Sitologi, dengan cara tes pap
Tes Pap : Tes ini merupakan penapisan untuk mendeteksi infeksi HPV dan prakanker serviks.
Ketepatan diagnostik sitologinya 90% pada displasia keras (karsinoma in situ) dan 76% pada
dysplasia ringan / sedang. Didapatkan hasil negatif palsu 5-50% sebagian besar disebabkan
pengambilan sediaan yang tidak adekuat. Sedangkan hasil positif palsu sebesar 3-15%.
Kolposkopi
Servikografi
Pemeriksaan visual langsung
Gineskopi
Pap net (Pemeriksaan terkomputerisasi dengan hasil lebih sensitive)

Penatalaksaan Medis
Tingkat

Penatalaksaan

0

Biopsi kerucut

Ia

Histerektomi trasnsvaginal

I b dan II a

Biopsi kerucut

II b , III dan IV

Histerektomi trasnsvaginal

IV a dan IV b

Histerektomi radikal dengan limfadenektomi panggul dan evaluasi kelenjar
limfe paraorta (bila terdapat metastasis dilakukan radiologi pasca pembedahan)
Histerektomi transvaginal
Radioterapi
Radiasi paliatif
Kemoterapi

KONSEP ASUHAN KEPERAWTAN
Pengkaijan
1. Identitas klien.
2. Keluhan utama.
Perdarahan dan keputihan
3. Riwayat penyakit sekarang
Klien datang dengan perdarahan pasca coitus dan terdapat keputihan yang berbau tetapi tidak
gatal. Perlu ditanyakan pada pasien atau keluarga tentang tindakan yang dilakukan untuk
mengurangi gejala dan hal yang dapat memperberat, misalnya keterlambatan keluarga untuk
memberi perawatan atau membawa ke Rumah Sakit dengan segera, serta kurangnya pengetahuan
keluarga.

Pemeriksaan Fisik 1. Biopsi 3. Gineskopi . Inspeksi • Perdarahan • keputihan 2.4. Servikografi 5. Riwayat penyakit keluarga Perlu ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit seperti ini atau penyakit menular lain. Perlu ditanyakan pada pasien dan keluarga. Riwayat penyakit terdahulu. Riwayat psikososial Dalam pemeliharaan kesehatan dikaji tentang pemeliharaan gizi di rumah dan agaimana pengetahuan keluarga tentang penyakit kanker serviks. apakah pasien pernah mengalami hal yang demikian dan perlu ditanyakan juga apakah pasien pernah menderita penyakit infeksi. Kolposkopi 4. 6. palpasi • nyeri abdomen • nyeri punggung bawah Pemeriksaan Dignostik 1. Sitologi 2. 5.

yang bisa mengancam jiwa manusia itu sendiri. Kanker mulut rahim adalah kematian nomor satu yang sering terjadi pada wanita Indonesia. 1990. Di Indonesia terdapat 90-100 kasus kanker mulut rahim per 100. Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal disekitarnya (FKUI.000 penduduk. Sebagai kalangan mahasiswa kesehatan selayaknya mengetahui bahaya ca cervix bagi kehidupan manusia. Sebagai mahasiswa kesehatan sepatutnya mampu mengidentifikasi tanda dan gejala dari ca servix serta dapat bertindak dalam memberikan pelayanan terbaik pada pasien yang menderita ca cervix khususnya dalam pemberian asuhan keperawatan di rumah sakit. Pap net (pemeriksaan terkumpoteresasi dengan hasil lebih sensitif) BAB 1 PENDAHULUAN 1. Pada tahun 2008 disampaikan dalam world cancer report bahwa terjadi 12 juta jiwa pasien yang baru didiagnosis kanker mulut rahim (ca servix). 2008). Peningkatan angka kejadian kanker diperkirakan sebesar 1% per tahun. Sekitar 80% kasus kanker mulut rahim terjadi pada wanita yang hidup berkembang.1 Pengertian Kanker leher rahim atau carcinoma cervix adalah keganasan dari serviks yang ditandai dengan adanya perdarahan lewat jalan lahir atau vagina. tetapi gejala tersebut tersebut tidak muncul sampai tingkat lanjut. .1 Latar Belakang Ca cervix atau kanker leher /mulut rahim merupakan jenis penyakit kanker yang paling banyak diderita wanita diatas usia 18 tahun.000 wanita di seluruh dunia di diagnosa menderita kanker mulut rahim dan rata-rata 270. FKKP. Setiap wanita tanpa memandang usia dan latar belakang beresiko terkena kanker mulut rahim.000 meninggal tiap tahun (Depkes RI. 2009). dimana tanda dan diagnosa pasti bisa ditegakkan dengan menggunakan pap smear(Zhukmana. Kanker leher /mulut rahim ini menduduki urutan nomor dua penyakit kanker didunia bahkan sekitar 500.6. BAB 2 KONSEP CA CERVIX 2. Diperkirakan pada tahun 2010 kanker leher /mulut rahim menjadi penyebab utama mortalitas diseluruh dunia dan pada tahun 2030 diperkirakan terjadi kasus kanker baru sebanyak 20 hingga 26 juta jiwa dan 13 hingga 17 juta jiwa meninggal akibat kanker leher rahim. 1997).

Kekurangan vitamin C.2. Sering berganti-ganti pasangan. Status perkawinan Insiden terjadi lebih tinggi pada wanita yang menikah. 10. Menggunakan pil KB lebih dari 4 tahun menaikkan resiko 1. . diakibatkan infeksi dan nekrosis jaringan • Perdarahan setitik pasca senggama dan pengeluaran cairan encer dari vagina. 2. Hygiene dan sirkumsisi Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kanker serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. 5.5 – 2. Insiden meningkat pada pasangan dengan laki-laki yang tidak bersunat 9. Merokok dan AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker. terutama gadis yang coitus pertama (coitarche) pada usia < 16 tahun. Penyakit menular seksual. imunitas dan kebersihan perseorangan. Jumlah kehamilan dan partus Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus.5 kali. hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks. 12. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh. apalagi jarak persalinan terlampau dekat.4 Tanda Dan Gejala Gejala kanker leher /mulut rahim pada stadium dini : • Kadang-kadang terjadi pendarahan • Pendarahan setelah berhubungan intim • Munculnya keputihan : makin lama. 4. Memiliki kebiasaan sex yang menyimpang. 3. Kebiasaan merokok ataupun terpapar karsinogen. 2. 11. Infeksi virus Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dam virus papiloma atau virus kondiloma akuminta diduga sebagai faktor penyebab kanker serviks 6. 2. Golongan sosial ekonomi rendah Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi. makin berbau busuk. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks. sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus.2 Etiologi Sebab langsung dari kanker serviks belum diketahui (idiopatik). Insiden meningkat dengan tingginya paritas. 13. retinol dan vitamin E. 8.3 Faktor Predisposisi 1. Akan meningkatnya resiko terpapar HPV 7. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma. asam folat.

7. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi meragukan dan para serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas. 8. 4.7 Pemeriksaan Penunjang 1. Kalau porsio diberi yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat tua. Kelemahan : hanya dapat memeriksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio. Biopsi Dengan biopsi dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya 6. Pemeriksaan secara radiologis (CT Scan dan MRI) untuk mengetahui apakah sudah ada penyebaran lokal dari ca tersebut. Kolposkopi Memeriksa dengan menggunakan alat untuk melihat serviks dengan lampu dan dibesarkan 10-40 kali. 3. Kelemahan : Tidak dapat menentukan dengan tepat lokalisasi 2. Kolpomikroskopi Melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200 kali. Konisasi Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput sendir serviks dan epitel gepeng dan kelenjarnya. • Perdarahan spontan : perdarahan yang timbul akibat terbukanya pembuluh darah dan makin lama makin sering terjadi. terutama pada tumor yang bersifat eksofitik. Gineskopi 10. sedang kelainan pada skuamosa columnar junction dan intra servikal tidak terlihat. Sitologi/Pap Smear (Prostatic Acid Phosphate) Keuntungan : Murah dan dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat. 2. • Pendarahan dari saluran kencing dan anus • Keluarnya feaces menyertai urin melalui vagina • Anemia : terjadi akibat perdarahan pervaginam yang berulang. 5. Servikografi 9. Keuntungan : dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan biopsy. Pap net/pemeriksaan terkomputerisasi dengan hasil lebih sensitive . sedang yang terkena karsinoma tidak berwarna. panggul dan punggung : ditimbulkan oleh infiltrasi sel tumor ke serabut saraf. Schillentest Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glycogen karena tidak mengikat yodium.atau perdarahan kontak yaitu perdarahan yang dialami setelah senggama. • Pebengkakan pada kaki • Gagal ginjal : infiltrasi sel tumor ke ureter yang menyebabkan obstruksi total. merupakan gejala Ca Serviks (75-80%) Gejala kanker leher /mulut rahim pada stadium lanjut : • Hilangnya nafsu makan dan berat badan • Nyeri perut bawah.

ETIOLOGI Penyebab pasti belum diketahui. Tindakan ini memungkinkan pemeriksaan yang lebih teliti untuk memastikan adanya sel-sel yang mengalami perubahan. Radioterapi yaitu dengan menggunakan sinar X berkekuatan tinggi yang dapat dilakukan secara internal maupun eksternal. Infeksi HIV. biasanya uterus beserta leher rahimnya. diathermy atau dengan sinar laser. dan memiliki banyak pasangan seksual. maka dapat dilakukan beberapa hal seperti : 1. merokok. Faktor ekstrinsik yang diduga berhubungan dengan insiden karsinoma uteri adalah smegma. antara lain : 1. 2. termasuk pemajanan terhadap Human Papilo Virus (PHV). C.8 Penatalaksanaan Bagi pasien yang terdiagnosa mengalami perubahan abnormal sel sejak dini. Karsinoma Invasif I Proses terbatas pada serviks (perluasan ke korpus uteri tidak . dan spermatozoa. KLASIFIKASI Klasifikasi menurut FIGO (Federation Internationale de Gynecologic et Obstetrigue). Cone biopsi. yaitu dengan cara mengambil sedikit dari sel-sel servix termasuk sel yang mengalami perubahan. 1988: Tingk Kriteria at Karsinoma Pra invasif 0 Karsinoma in situ atau karsinoma intra epitel. melahirkan pada usia muda. Pemeriksaan ini dapat dilakukan oleh ahli kandungan. Jika perjalanan penyakit telah sampai pada tahap pre-kanker dan kanker servix telah dapat diidentifikasi. 2. Faktor resiko timbulnya ca cervix selain usia dini saat melakukan hubungan seksual. dan pemajanan terhadap dietil still besteral in utero. Operasi atau hysterectomy yaitu dengan mengambil daerah yang terserang kanker. infeksi virus human papilloma virus (HPV). Pemanasan. B.2. Maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk penyembuhannya.

II a Penyebaran hanya ke vagina. uni atau bilateral tetapi belum sampai dinding pangguL III Penyebaran sampai 1/3 distal vagina atau ke parametrium sampai dinding panggul. parametrium masih bebas dari infiltrat tumor. II b Penyebaran ke parametrium. Ia Karsinoma serviks preklinis hanya dapat didiagnostik secara mikroskopis. IV b Telah bermetastasis jauh. III a Penyebaran sampai 1/3 distal vagina namun tidak sampai ke dinding panggul.dinilai). lesi tidak lebih dari 3 mm atau secara mikroskopik kedalamannya > 3-5 mm dari epitel basal dan memanjang tidak lebih dari 7 mm. IV a Telah bermetastasis ke organ sekitar. IV Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mukosa rektum dan atau vesika urinaria (dibuktikan secara histologi) atau telah bermetastasis keluar panggul atau ketempat yang jauh. dibagi atas lesi < 4 Cm dan > 4 Cm. GAMBARAN KLINIS . tidak ditemukan daerah bebas infiltrasi antara tumor dengan dinding panggul atau proses pada tingkat I atau II tetapi sudah ada gangguan faal ginjal/hidronefrosis. III b Penyebaran sampai dinding panggul. Ib Lesi invasif > 5. D. II Proses keganasan telah keluar dari serviuks dan menjalar ke 2/3 bagian atas vagina dan atau ke parametrium tetapi tidak sampai dinding panggul.

PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Anemia. 4. Perdarahan pasca koitus. 2. Servikografi. Keputihan . teraba lunak. 8. Kolposkopi untuk mengarahkan tindakan biopsi pada daerah abnormal untuk mengambil contoh jaringan. 6. 2. dengan cara Pap smear untuk pemeriksaan penyaring guna mendeteksi perubahan neoplastik. Pemeriksaan visual langsung. perdarahan merupakan satu-satunya gejala yang nyata tetapi sering tidak terjadi pada awal penyakit sehingga kanker sudah lanjut ketika ditemukan. Pap net (pemeriksaan terkomputerisasi dengan hasil lebih sensitif). Lesi pada porsio dan vagina. Obstruksi total vesika urinaria. 7.Tidak ada gejala yang spesifik untuk kanker serviks. 3. 4. 9. 1. Kehilangan berat badan. Keluhan metroragia. Cepat lelah. Sitologi. 11. 5. Serviks teraba membesar. Gineskopi. E. ireguler. Perdarahan spontan. 5. 10. 6. . Bau busuk yang khas. 3.

Ia Biopsi kerucut. 30 % untuk stadium III. Histerektomi transvaginal. perokok. Tingkat kesembuhan dapat mencapai 85 % untuk stadium I. IV a. Normalnya. Karsinoma Skuamosa insidennya mencapai 80-95% dan sering . dan terpajan virus terutama virus HPV. pola seksual. IV b Radioterapi. Wanita Amerika asal Afrika dan asal Hispanik mempunyai angka kejadian yang lebih tinggi dibanding dengan kelompok masyarakat kulit putih (Causasian).II a Histerektomi radikal dengan limfadenektomi panggul dan evaluasi kelenjar limfe paraaorta (bila terdapat metastasis dilakukan radioterapi pasca pembedahan). yaitu : Ca tipe Skuamosa dan Tipe Adenokarsinoma. radiasi paliatif. sel mati seimbang dengan jumlah sel yang tumbuh. status sosial ekonomi. Kanker serviks adalah keadaan dimana sel kehilangan kemampuannya dalam mengendalikan kecepatan pembelahan dan pertumbuhannya. Apabila sel tersebut sudah mengalami malignasi/keganasan atau bersifat kanker maka sel tersebut terus menerus membelah tanpa memperhatikan kebutuhan. PROGNOSIS Setelah pengobatan maka akan baik jika lesi ditemukan dan diobati lebih dini. ras. Pada wanita yang aktif menjalankan aktivitas seksual di waktu muda serta berganti-ganti pasangan mempunyai resiko yang lebih besar. Histerektomi transvaginal. IV Histerektomi transvaginal. Pada usia 45-55 merupakan puncak insiden terjadinya Ca cervix. 1996). PENATALAKSANAAN Tingkat Penatalaksanaan 0 Biopsi kerucut. II b. G. Beberapa faktor yang mempengaruhi insiden Ca Cervix adalah : usia. dan 5-10 % untuk stadium IV. 50-60 % untuk stadium II. sehingga membentuk tumor atau berkembang “tumbuh baru” tetapi tidak semua yang tumbuh baru itu bersifat karsinogen (Daniele Gale. kemoterapi. I b. etnik.F. Ada dua tipe dalam pembagian Ca cervix. III.

terjadi pada usia lanjut. 3. . Pada kasus ini tidak selalu tampak tumor. Jumlah perkawinan Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kanker serviks ini. Sosial ekonomi Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks. 2. Dan sisanya merupakan insiden dari Adenokarsinoma yang sering terjadi pada wanita muda dan biasanya Ca ini berkembang menjadi sangat agresif. 5. adanya nyeri abdomen dan punggung bawah mungkin dapat menjadikan petunjuk bahwa penyakit ini telah berkembang dengan sangat cepat. Menurut Gale tidak ada tanda yang spesifik pada kasus Ca ini. imunitas dan kebersihan perseorangan. Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda. Jumlah kehamilan dan partus Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Adanya perdarahan inilah yang mengharuskan wanita ini datang ke pusat pelayanan kesehatan. tetapi kadang terjadi perdarahan karena ulserasi pada permukaan cervix. FAKTOR PENCETUS Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks. antara lain : 1. Infeksi virus Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dam virus papiloma atau virus kondiloma akuminta diduga sebagai faktor penyebab kanker serviks. II. 4.

Displasia berat terjadi pada dua pertiga epidermi hampir tidak dapat dibedakan dengan karsinoma insitu. Stadium karsinoma invasif .6. 3. III. Displasia Displasia ringan terjadi pada sepertiga bagian basal epidermis. KLASIFIKASI PERTUMBUHAN SEL AKAN KANKER SERVIKS Mikroskopis 1. hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks. 4. Stadium karsinoma insitu Pada karsinoma insitu perubahan sel epitel terjadi pada seluruh lapisan epidermis menjadi karsinoma sel skuamosa. Stadium karsinoma mikroinvasif Pada karsinoma mikroinvasif. biasanya tumor ini asimtomatik dan hanya ditemukan pada skrining kanker. ETIOLOGI Idiopatik IV. 7. Karsinoma insitu yang tumbuh di daerah ektroserviks. Merokok dan AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker. sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus. disamping perubahan derajat pertumbuhan sel meningkat juga sel tumor menembus membrana basalis dan invasi pada stoma sejauh tidak lebih 5 mm dari membrana basalis. peralihan sel skuamosa kolumnar dan sel cadangan endoserviks. 2. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma. Hygiene dan sirkumsisi Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kanker serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi.

Stadium permulaan Sering tampak sebagian lesi sekitar ostium externum 3. jurusan parametrium dan korpus uteri. biasanya dijumpai pada endoserviks yang lambat laun lesi berubah bentuk menjadi ulkus. Makroskopis 1. MANIFESTASI KLINIK 1. Pertumbuihan invasif muncul di area bibir posterior atau anterior serviks dan meluas ketiga jurusan yaitu jurusan forniks posterior atau anterior. Bentuk kelainan dalam pertumbuhan karsinoma serviks Pertumbuhan eksofilik. Pertumbuhan nodul. 5.Pada karsinoma invasif perubahan derajat pertumbuhan sel menonjol besar dan bentuk sel bervariasi. biasanya lesi berbentuk ulkus dan tumbuh progresif meluas ke forniks. bentuk pertumbuhan ini mudah nekrosis dan perdarahan. sehingga tampaknya seperti ulkus dengan jaringan yang rapuh dan mudah berdarah. Pertumbuhan endofilik. tumbuh kearah vagina dan dapat mengisi setengah dari vagina tanpa infiltrasi ke dalam vagina. Dari Anamnesis didapatkan keluhan : Metrorargia (perdarahan uterus yang terjadi di luar siklus menstruasi) Keputihan warna putih/purulen yang berbau dan tidak gatal Perdarahan pasca coitus Perdarahan spontan . Stadium lanjut Terjadi pengrusakan dari jaringan serviks. posterior dan anterior ke korpus uteri dan parametrium. Stadium preklinis Tidak dapat dibedakan dengan serviksitis kronik biasa 2. Stadium setengah lanjut Telah mengenai sebagian besar atau seluruh bibir porsio 4. berbentuk bunga kool. V.

Pada wanita muda SCJ ini berada di luar ostium uteri eksterneum. VII. membesar. Dengan masuknya mutagen. II. Pada yang lanjut ditemukan keluhan cepat lelah. sisanya adenokarsinoma. Pada pemeriksaan dengan spekulum tampak sebagai porsio yang erosif (Metaplasia Skuamosa) yang fisiologi/patologik. endofitik mulai dari SCJ tumbuh ke dalam serviks dan cenderung utuh mengadakan infiltrasi menjadi ulkus. Sekali menjadi mikro invasif atau invasif. Perubahan epitel displatik serviks secara kontinu yang masih memungkinkan terjadinya regresi spontan dengan pengobatan/tanpa diobati itu dikenal dengan unitarian concept dari Richart. Serviks yang normal. Bila tumor tumbuh eksofitik maka akan terlihat lesi pada porsio/sudah sampai vagina. Tumor dapat tumbuh eksofitik mulai dari SCJ ke arah lumen vagina sebagai masa proliferasi mengalami infeksi sekunder dan nekrosis. ulseratif cenderung merusak jarinan serviks dengan melibatkan awal farniase vagina menjadi ulkus yang luas. Umumnya fase prainvasif berkisar antara 3-10 tahun (rata-rata 5-10 tahun). Pada pemeriksaan fisik serviks dapat teraba. secara alami mengalami proses metaplasi (erasio) akibat saling desak mendesaknya kedua jenis epital yang melapisi. VI. III dan KIS untuk akhirnya menjadi karsinoma invasif. PATOFISIOLOGI Karsinoma serviks timbul dibatas antara epitel yang melapisi ektoserviks (parsial) dan endoserviks kanalik serviks yang disebut Squamo Columnar Junction (SCJ). 3. sedang wanita berumur > 35 tahun SCJ berada didalam kanalis serviks. Pada awal perkembangannya kanker serviks tak memberi tanda-tanda atau keluhan.Bau busuk yang khas 2. kehilangan berat badan dan anemia. 4. iregular dan teraba lunak. porsio yang erosif (metaplasia skuamosa) yang semula faali/fisiologik dapat berubah menjadi patologik (displatik-diskariotik) melalui tingkatan NIS-I. clearcell carcinoma/mesonephroid carcinoma. proses keganasan akan berjalan terus. dan yang paling jarang adalah sarkoma. Histopatologik sebagian terbesar (95-97%) berupa epidermoid atau squamous cell carcinoma. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK . Periode laten (dari NIS-I s/d KIS) tergantung dari daya tahan tubuh penderita.

8. Pemeriksaan secara radiologis (CT Scan dan MRI) untuk mengetahui apakah sudah ada penyebaran lokal dari ca tersebut.1. Keuntungan : dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan biopsy. Pap net/pemeriksaan terkomputerisasi dengan hasil lebih sensitive IX. Gineskopi 10. tidak dapat menentukan dengan tepat lokalisasi. 5. Kolposkopi Memeriksa dengan menggunakan alat untuk melihat serviks dengan lampu dan dibesarkan 10-40 kali. TERAPI . 7. Kalau porsio diberi yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat tua. Kelemahan : hanya dapat memeriksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio. 2. Schillentest Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glycogen karena tidak mengikat yodium. murah dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi meragukan dan para serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas. sedang kelainan pada skuamosa columnar junction dan intra servikal tidak terlihat. Kelemahan. 3. 4. Sitologi/Pap Smear (Prostatic Acid Phosphate) Keuntungan. Konisasi Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput sendir serviks dan epitel gepeng dan kelenjarnya. Biopsi Dengan biopsi dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya 6. sedang yang terkena karsinoma tidak berwarna. Kolpomikroskopi Melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200 kali. Servikografi 9.

disamping itu juga menambah penyebaran ke sistem limfe dan peradaran darah.1. Irradiasi • Dapat dipakai untuk semua stadium • Dapat dipakai untuk wanita gemuk tua dan pada medical risk • Tidak menyebabkan kematian seperti operasi 2. histerektomi vagina yang radikal 5. Operasi • Operasi Wentheim dan limfatektomi untuk stadium I dan II • Operasi schauta. sebab radiasi menyebabkan bertambahnya vaskularisasi. Sehingga tindakan operasi berikutnya dapat mengalami kesukaran dan sering menyebabkan fistula. 6. odema. Kombinasi • Irradiasi dan pembedahan Tidak dilakukan sebagai hal yang rutin. terapi terhadap karsinoma serviks yang radio resisten. 5% dari karsinoma serviks adalah resisten terhadap radioterapi. Komplikasi irradiasi • Kerentanan kandung kencing • Diarrhea • Perdarahan rectal • Fistula vesico atau rectovaginalis 4. dianggap resisten bila 8-10 minggu post terapi keadaan masih tetaASUHAN KEPERAWATAN PADA CA SERVIKS KANKER SERVIKS . Cytostatika : Bleomycin. Dosis Penyinaran ditujukan pada jaringan karsinoma yang terletak diserviks 3.

Epidemiologis : Kanker serviks uterus merupakan kanker ginekologi terbanyak (70%-75%) Kanker serviks kurang lebih 26% kanker pada wanita Satu dari 63 bayi wanita yang lahir akan menjadi kanker serviks Sembilan persen penderita kanker serviks berusia kurang dari 35 tahun Hanya 53% kanker in situ terjadi pada usia kurang dari 35 tahun Survival rate akan lebih baik pada penderita kurang dari 45 tahun Prognosis Karsinoma serviks yang tidak dapat diobati atau tidak memberikan respons terhadap pengobatan 95% akan mengalami kematian dalam 2 tahun setelah timbul gejala. Umumnya paling banyak ditemukan pada usia 31-60 tahun. Pasien yang menjalani histerektomi dan memiliki rasio tinggi terjadinya rekurensi harus terus diawasi karena lewat deteksi dini dapat diobati dengan radioterapi. dan berkembang dengan mengorbankan manusia sebagai hospesnya Kanker serviks merupakan keganasan tersering kedua dari traktus reproduksi wanita. Penyebaran kanker ini dapat secara perkontinuatum. Setelah histerektomi radikal. bersifat parasit. Faktor-faktor yang menentukan prognosis adalah : Umur penderita . melalui pembuluh limfe atau melalui pembuluh darah.CA SERVIK PENDAHULUAN Kanker adalah istilah umum yang mencakup setiap pertumbuhan maligna dalam setiap bagian tubuh. pertumbuhan ini tidak bertujuan. terjadinya 80% rekurensi dalam 2 tahun.

PENGERTIAN Kanker serviks adalah Kanker yang terjadi pada serviks uteri.Keadaan umum penderita Stadium penyakit Ciri-ciri histologik sel tumor Kemampuan ahli atau tim ahli yang menanganinya Sarana pengobatan yang tersedia Konsep Dasar A. Kanker ini biasanya terjadi pada wanita yang telah berumur. Dan itu membuatnya relatif mudah terserang berbagai infeksi. suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina). ETIOLOGI Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol. Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun. B. Pada proses . dan merupakan karsinoma ginekologi yang terbanyak diderita oleh Wanita. dan mendukung perkembangan sebagian mikroorganisme lainnya. Hubungan sexual pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda Umur Peningkatan usia seseorang kinerja organ-organ dan kekebalan tubuhnya. antara lain : Pemakaian Celana Ketat Pemakaian celana ketat dapat meningkatkan suhu vagina sehingga akan merusak daya hidup sebagian mikroorganisme. Kanker rahim berpotensi paling besar pada usia antara 35-55 tahun. Paritas Paritas adalah kemampuan wanita untuk melahirkan secara normal. tetapi bukti statistik menunjukan bahwa kanker leher rahim dapat juga menyerang wanita yang berumur antara 20 sampai 30 tahun. 90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke dalam rahim. Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada servik uterus. pertumbuhan mikroorganisme menjadi tidak seimbang. Akhirnya. Kondisi tersebut memungkinkan perkembangan mikroorganisme yang justru menyebabkan terjadinya infeksi Umur pertama kali melakukan hubungan seksual Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks.Kanker Leher Rahim ( Kanker Serviks ) adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim / serviks ( bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina ).

Pemakaian obat DES DES (Diethylstilbestrol) adalah obat penguat kehamilan yang dikonsumsi untuk mencegah keguguran. Pemakaian Pil KB Pemakaian pil KB secara terus-menerus berpotensi menimbulkan kanker serviks. Semakin sering . Polusi Udara Polusi udara baik yang berasal dari asap rokok. Obat ini sekarang sudah tidak popular. Iritasi ini biasa berkembang menjadi sel abnormal yang berpontensi displasia. emisi kendaraan. pabrik dan sebagainya memiliki banyak kandungan senyawa karsinogen yang berpotensi memunculkan sel kanker. Kerusakan jaringan epitel ini berkembang kea rah pertumbuhan sel abnormal yang berpotensi ganas. Antiseptik tersebut dapat membunuh bakteri di sekitar vagina. Ras Pola kehidupan sosioekonomi tiap-tiap ras dapat dapat berpengaruh terhadap peningkatan risiko mengidap kanker rahim. system kekebalan ini dapat melemah sehingga pengendalian gangguannya pun melemah. Hasil penelitian menunjukkan ras AfrikaAmerika paling berisiko tinggi mengidap kanker rahim. Dan apabila digunakan dalam dosis yang terlalu sering. Kondisi semacam ini terdapat pada wanita yang menjalani operasi gagal ginjal.persalinan normal. atau pengiap virus HIV. termasuk bakteri yang menguntungkan. Penurunan Sistem Kekebalan Tubuh Tubuh kita memiliki serangkaian system kekebalan yang secara otomatis berusaha mengatasi gangguan-gangguan infeksi dan pertumbuhan sel abnormal. Namun dalam kondisi tertentu. Dengan melemahnya sistem kekebalan. Pada pemakaian lebih dari lima tahun. maka perkembangan infeksi tidak terhambat. Para ahli menyimpulkan DES berpotensi menimbulkan sel kanker di wilawah serviks. dan pertumbuhan sel abnormal terus meningkat hingga mencapai tahap invasif (menyebar kemana-mana). Jumlah kehamilan dan partus Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Pemakaian Antiseptik di Vagina Wanita modern ingin selalu tampil sempurna termasuk di wilayah pribadinya. Sementara Amerika-Hispanik cenderung di bawahnya. Kini banyak sekali produk antiseptik khusus vagina yang biasa membuat vagina lebih bersih dan selalu wangi. Pada kasus wanita yang melahirkan lebih dari dua kali dan dengan jarak yang terlalu dekat. Namun pemakaian antiseptik yang terlalu sering tidak baik. risiko ini menetap menjadi 2 kali lebih besar disbanding wanita yang tidak memakai pil KB. bayi bergerak melalui mulut rahim dan ada kemungkinan sedikit merusak jaringan epitel di tempat tersebut. maka zat antiseptik tersebut dapat mengakibatkan iritasi pada kulit bibir vagina yang sangat lembut. Adapun ras Asia-Amerika relatif sama dengan AmerikaHispanik.

sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh. Kebanyakan pria dan wanita yang telah berhubungan intim berisiko terinveksi HPV. Melalui jalur nonseksual Penularan jalur nonseksual adalah dengan cara penularan langsung. Cara Penularan HPV Cara HPV menularkan virusnya dapat dilakukan dengan berbagai jalur yaitu: Melalui jalur seksual Jalur seksual dapat dilakukan dengan beberapa hal yaitu hubungan intim. Tentu saja ini pada ibu yang telah tertular virus HPV. Hygiene dan sirkumsisi Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks. imunitas dan kebersihan perseorangan.partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks. tangan-kelamin. . apalagi yang sering berganti pasangan dan kehidupan seksualnya tidak bersih. maka lebih dari 75% pernah terifeksi HPV. Misalnya dari ibu ke bayinya pada saat persalinan. alat-alat kedokteran yang tidak steril (tapi ini sangat kecil kemungkinan). Cara Penularan Kanker Serviks a. 3) Tidak melalui kelamin Penularan tidak melalui kelamin misalnya pakaian dalam. Infeksi virus Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks Sosial Ekonomi Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi. kelaminkelamin. Jumlah perkawinan Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim) Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker.

Berat (NIS III) : seluruh lapisan epitel terkena Perubahan displasia dapat terjadi karena trauma mekanik atau kimiawi. 56-57) C. Menyebar ke kandung kemih. yang kemudian berisiko menjadi kanker. (Bertiani. Sedang (NIS II) : lesi epitel lebih dari setengah bagian 3. dan gangguan keseimbangan hormon. yaitu : Perkontinuatum ke alat-alat tubuh sekitarnya Dari serviks ke ostium uteri internum kemudian ke segmen bawah uterus dan mengenai dinding fundus. 2009. D. PATOFISIOLOGI Kanker serviks timbul di batas antara epitel yang melapisi ektoservik (portio) dan endoserviks yang disebut sebagai Squamo-Columnas Junction (SCJ). b) 10-20% kemungkinan akan menjadi infeksi yang menetap. paru-paru.Bagi orang yang terkena HPV maka hanya dua kemungkinan yaitu : a) 80% akan sembuh dengan sendirinya oleh sistem kekebalan tubuhnya yang tinggi. Limfogen Ke kelenjar paraservikalis. Kanker serviks dapat menyebar melalui tiga cara. hipogastrika dan iliaka eksterna Hematogen Tumor metastasis ke alat-alat tubuh yang jauh. dan rektum. proses tersebut dapat berkembang ke arah displasia. Serviks yang normal secara alamiah mengalami proses metaplasia. Pada wanita muda. SCJ berada di luar osteum uteri eksterna sedang pada wanita berumur 35 tahun SCJ ini berada di kanalis serviks. Ulseratif Mulai dari SCJ daan cenderung merusak jaringan serviks dengan melibatkan awal pornises vagina untuk menjadi ulkus yang luas. Dengan masuknya mutagen. Tumor dapat tumbuh : Eksofilik Mulai dari SCJ ke arah lumen vagina sebagai masa poliferatif yang mengalami infeksii sekunder dan nekrosis. Tingkatan displasia : Ringan (NIS I) : kelainan epitel terbatas pada lapisan basal 2. infeksi virus/bakteri. vagina. Endofilik Mulai dari SCJ tumbuh ke dalam stroma serviks dan cenderung untuk mengadakan infiltrasi menjadi ulkus. hati sumsum tulang dan lain-lain. Klasifikasi pertumbuhan sel kankers serviks Mikroskopis .

Stadium karsinoma insitu Pada karsinoma insitu perubahan sel epitel terjadi pada seluruh lapisan epidermis menjadi karsinoma sel skuamosa. posterior dan anterior ke korpus uteri dan parametrium. Pertumbuhan endofilik. Stadium permulaan Sering tampak sebagian lesi sekitar osteum externum 3.Stadium preklinis Tidak dapat dibedakan dengan servisitis kronik biasa 2. biasanya dijumpai pada endoserviks yang lambatlaun lesi berubah bentuk menjadi ulkus. peralihan sel skuamosa kolumnar dan sel cadangan endoserviks. Pertumbuhan nodul. tumbuh kearah vagina dan dapat mengisi setengah dari vagina tanpa infiltrasi kedalam vagina. Bentuk kelainan dalam pertumbuhan karsinoma serviks Pertumbuhan eksofilik. jurusan parametrium dan korpus uteri. sehingga tampaknya seperti ulkus dengan jaringan yang rapuh dan mudah berdarah. Petumbuhan invasif muncul diarea bibir posterior atau anterior serviks dan meluas ketiga jurusan yaitu jurusan forniks posterior atau anterior. Displasia Displasia ringan terjadi pada sepertiga bagaian basal epidermis. Karsinoma insitu yang tumbuh didaerah ektoserviks. Displasia berat terjadi pada dua pertiga epidermihampir tidak dapat dibedakan dengan karsinoma insitu. Stadium setengah lanjut Telah mengenai sebagian besar atau seluruh bibir porsio 4. Stadium karsinoma mikroinvasif. 2. Markroskopis 1. biasanya lesi berbentuk ulkus dan tumbuh progesif meluas ke forniks. Stadium lanjut Terjadi pengrusakan dari jaringan serviks. . disamping perubahan derajat pertumbuhan sel meningkat juga sel tumor menembus membrana basalis dan invasi pada stoma sejauh tidak lebih 5 mm dari membrana basalis. biasanya tumor ini asimtomatik dan hanya ditemukan pada skrining kanker. 3. bentuk pertumbuhan ini mudah nekrosis dan perdarahan. 4.1. 5. berbentuk bunga kool. Pada karksinoma mikroinvasif. Stadium karsinoma invasif Pada karsinoma invasif perubahan derajat pertumbuhan sel menonjol besar dan bentuk sel bervariasi.

Tanda dan Gejala GEJALA Perubahan prekanker pada serviks biasanya tidak menimbulkan gejala dan perubahan ini tidak terdeteksi kecuali jika wanita tersebut menjalani pemeriksaan panggul dan Pap smear. Terjadi perdarahan di antara dua masa haid. perdarahan lebih dari satu tahun sesudah menopause dan keluar lendir bercampur darah serta polymenorhea. mengandung darah atau hitam serta berbau busuk. penurunan berat badan. Menstruasi abnormal (lebih lama dan lebih banyak) Keputihan yang menetap. Pada saat ini akan timbul gejala berikut: Perdarahan vagina yang abnormal. kelelahan Nyeri panggul. coklat. punggung atau tungkai Dari vagina keluar air kemih atau tinja Patah tulang (fraktur). 1988: E. Gejala biasanya baru muncul ketika sel serviks yang abnormal berubah menjadi keganasan dan menyusup ke jaringan di sekitarnya. Gejala dari kanker serviks stadium lanjut: Nafsu makan berkurang. Perdarahan awal bertambah jumlah dan durasinya sejalan dengan progresivitas kanker dan merupakan indikasi bahwa proses penyakit sudah menyerang limfe. baik sesudah koitus maupun tidak. Gambaran Klinis Keluhan Metroragia . dengan cairan yang encer. berwarna pink.KLASIFIKASI menurut FIGO (Federation Internationale de Gynecologic et Obstetrigue).

Mendeteksi kanker serviks dengan Pap smear .ireguler.Keputihan Perdarahan pascakoitus Perdarahan spontan Bau busuk yang khas Obstruksi total vesika urinaria Cepat lelah Kehilangan berat badan Anemia Serviks teraba membesar.teraba lunak Lesi pada porsio dan vagina F. diantaranya: a. Pemeriksaan Penunjang Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya pembengkakan kelenjar limfe supraklavikuler dan pembesaran hepar Pada pemeriksaan spekulum didapatkan lapisan-lapisan besar selaput lendir mudah lepas dan mudah berdarah waktu disuap spatel Adanya warna kemerahan di sekitar ostium eksternum servikalis uteri Inspeksi • Perdarahan • keputihan palpasi • nyeri abdomen • nyeri punggung bawah Pemeriksaan Diagnostik Ada beberapa cara memeriksakan kanker serviks.

Terapi local . Jika terkena karsinoma tidak berwarna f. kadar pHnya tinggi. e. Ini dapat membantu mengidentifikasi area permukaan leher rahim yang menunjukkan ketidaknormalan. Kolpomikroskopi Kolpomikroskopi adalah pemeriksaan yang bergabung dengan pap smear. Alat ini begitu sederhana sebab saat memeriksakannya tidak perlu ke laboratorium dan dapat dilakukan oleh bidan.Wanita yang dianjurkan untuk melakukan tes pap smear biasanya mereka yang tinggi aktivitas seksualnya. mioma. c. test ini cukup akurat. Pemeriksaan ini menggunakan mikroskop berkekuatan rendah yang memperbesar permukaan leher rahim. Penatalaksanaan 1. IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)\ Merupakan cara sederhana untuk mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin dengan menggunakan asam asetat 3-5%. Mendiagnosis serviks dengan kolposkopi Koloskopi merupakan suatu pemeriksaan untuk melihat permukaan leher rahim. Kolpomikroskopi dapat melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200 kali. Berikut ini adalah wanitawanita sasaran tes pap smear: b. G. Vagina inflammation self test card Vagina inflammation self test card adalah alat pendeteksian yang dapat menjadi “warning sign”. Yang ditest dengan alat ini adalah tingkat keasaman (pH). Schillentest Cara kerja pemeriksaan ini adalah: Serviks diolesi dengan larutan yodium Sel yang sehat warnanya akan berubah menjadi coklat Sedangkan sel yang abnormal warnanya menjadi putih atau kuning. Namun tidak menjadi kemungkinan juga wanita yang tidak mengalami aktivitas seksualnya memeriksakan diri. kista bahkan kanker serviks. d. sebab pada umumnya apabila seorang wanita terkena infeksi. Perbesarannya dari 10-40 kali dari ukuran normal. Dengan begitu maka melalui tets ini paling tidak wanita dapat mengetahui kondisi vagina mereka secara kasar.

Dilakukan pada kanker serviks invasive c. Kemoterapi Dengan menggunakan obat-obatan sitostastik. Dapat dilakukan pada bagian anterior. karena pada terapi ini biasanya terpasang tampon (aplikator) 5. Histerektomi radikal adalah pengangkatan uterus. posterior. Radioterapi batang eksternal a. 6.Terapi local dilakukan pada penyakit prainvasif. Untuk terapi radiasi ini biasanya para wanita dipasang kateter urine sehingga tetap berada di tempat tidur. Dilakukan jika nodus limfe positif terkena dan bila batas-batas pembedahan itu tegas. atau total tergantung organ yang diangkat ditambah dengan uterus dan nodus limfa disekitarnya. dan bedah buku. makan makanan dengan diet ketat dan memakan obat untuk mencegah defekasi. H. Pada terapi batang eksternalbertujuan mengatahui luas dan lokasi tumor serta mengecilkan tumor 4. yang meliputi biopsy. Vistula Uretra . terapi laser. cauterasi. Histerektomi Histerektomi mungkin juga dilakukan tergantung pada usia wanita. Pembedahan dilakukan untuk pengangkatan sel kanker. dan atau keinginan untuk sterilisasi. b. Dilakukan jika terjadi kanker setempat yang berulang b. konisasi. 2. b. Pembedahan dan terapi radiasi a. Eksenterasi pelvic a. Komplikasi 1. Berkaitan dengan intervensi pembedahan a. Terapi biologi Yaitu dengan memperkuat system kekebalan tubuh (system imun) 7. status anak. pelvis dan nodus limfa para aurtik. 3.

Mielosupresi I. yaitu: 1. Obstruksi usus 2. Disfungsi bladder c. Jangan berganti-ganti pasangan seksual 6. Berkaitan dengan kemoterapi a. Supresi sumsum tulang b. Tidak boleh melakukan hubungan seksual pada anak perempuan di bawah 18 tahun 4. . Emboli pulmonal d. Kerusakan membrane mukosa GI d. Enteritis 3.b. Jangan melakukan hubungan seksual dengan penderita kelamin atau gunakan kondom untuk mencegah penularan penyakit 5. Mual muntah akibat pengunaan obat kemoterapi yang mengandung sisplatin c. Berkaitan dengan kemoterapi a. Melakukan pemeriksaan Pap Smear secara teratur 3. Infeksi pelvis e. yaitu usaha untuk mengurangi atau menghilangkan kontak dengan karsinogen untuk mencegah inisiasi dan promosi pada proses karsinogen. Pencegahan Ada beberapa cara untuk mencegah kanker serviks. Mencegah terjadi infeksi HPV 2. Berhenti merokok Untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas kanker serviks diperlukan upaya pencegahan-pencegahan sebagai berikut : Pencegahan primer. Sistitis radiasi b.

Perdarahan dan keputihan .Pencegahan sekunder. Keluhan utama. 2. mudah berdarah Kurus. Identitas klien. merupakan pengobatan untuk mencegah komplikasi klinik dan kematian awal. berbau Perdarahan pervagina Inspiculo portio rapuh.5 1. pucat Anemis HB kurang dari 9 gram % Ekspresi wajah cemas Hypo Albumin Alb kurang dari 2. berbau Nyeri Cemas Tidak ada nafsu makan Berat badan menurun Data obyektif : Keluar keputihan. Pencegahan tertier. KONSEP ASUHAN KEPERAWTAN Pengkaijan Data subyektif : Keluar keputihan. termasuk skrining dan deteksi dini untuk menemukan kasuskasus dini sehingga kemungkinan penyembuhan dapat ditingkatkan.

prosedur invasive 2. .3. misalnya keterlambatan keluarga untuk memberi perawatan atau membawa ke Rumah Sakit dengan segera. Nyeri Akut berhubungan dengan agen injuri fisik 4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan dan perubahan perkembangan penyakit 5. Perfusi jaringan tidak efektif b/d penurunan konsentrasi Hb dan darah. 3. serta kurangnya pengetahuan keluarga. Kurang pengetahuan tentang program penggobatan dan tindakan preventif. 6. Riwayat penyakit sekarang Klien datang dengan perdarahan pasca coitus dan terdapat keputihan yang berbau tetapi tidak gatal. Perlu ditanyakan pada pasien atau keluarga tentang tindakan yang dilakukan untuk mengurangi gejala dan hal yang dapat memperberat. Resiko Injury b/d kecenderungan perdarahan sekunder.d imunosupresif. suplai oksigen berkurang (anemia) 7. 5. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL 1. Perlu ditanyakan pada pasien dan keluarga. apakah pasien pernah mengalami hal yang demikian dan perlu ditanyakan juga apakah pasien pernah menderita penyakit infeksi. 4. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan pengobatan berhubungan dengan terbatasnya informasi. Risiko Infeksi b. Riwayat penyakit terdahulu. Riwayat psikososial Dalam pemeliharaan kesehatan dikaji tentang pemeliharaan gizi di rumah dan bagaimana pengetahuan keluarga tentang penyakit kanker serviks. 6. Riwayat penyakit keluarga Perlu ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit seperti ini atau penyakit menular lain.

Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d penurunann nafsu makan p sama.8. .

2. b. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual. tidak mustahil wanita yang mudapun dapat menderita penyakit ini. Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Hubungan seksual pertama kali pada usia dini (umur < 16 tahun). d. antara lain : a. terutama paling banyak pada wanita yang berusia 35-55 tahun. Kanker ini hanya menyerang wanita yang pernah atau sekarang dalam status sexually active. Sosial Ekonomi. imunitas dan kebersihan perseorangan. Jumlah kehamilan dan partus. Pada golongan . Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda.Kanker Serviks adalah pertumbuhan sel-sel mulut rahim/serviks yang abnormal dimana sel-sel ini mengalami perubahan kearah displasia atau mengarah keganasan. Biasanya kanker ini menyerang wanita yang telah berumur. Jumlah perkawinan. Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks. c. Tidak pernah ditemukan wanita yang belum pernah melakukan hubungan seksual pernah menderita kanker ini. Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini. Akan tetapi. asalkan memiliki faktor risikonya. Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi. Etiologi/ Faktor Predisposisi Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks. Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks e. Infeksi virus.

1995). Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim). sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus. 3. Pada sebagian besar kasus. infeksi HPV berlangsung tanpa gejala dan bersifat menetap. Kanker servikal ini sebagian besar (90%) adalah karsinoma sel skuamosa dan sisanya (10%) adalah adenokarsinoma. Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker. Persentase ini semakin meningkat bila wanita tersebut memiliki banyak pasangan seksual. Penelitian menunjukkan bahwa 10-30 % wanita pada usia 30’an tahun yang sexually active pernah menderita infeksi HPV (termasuk infeksi pada daerah vulva). Kedua faktor diatas juga berhubungan dengan infeksi HPV. Semakin dbanyak berganti-ganti pasangan maka tertularnya infeksi HPV juga semakin tinggi. Factor risiko lain untuk perkembangan kanker servikal adalah aktivitas seksual pada usia . f. Epidemiologi Karsinoma serviks adalah kanker genital kedua yang paling sering pada perempuan dan bertanggung jawab untuk 6% dari semua kanker pada perempuan di Amerika Serikat (CancerNet. Penelitian epidemiologi diseluruh dunia menegaskan bahwa infeksi HPV adalah faktor penting dalam perkembangan kanker servikal (Bosch et al. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18. Sering berganti-ganti pasangan (multipatner sex). g. Hygiene dan sirkumsisi. 2001). h. i. Begitu pula dengan terpaparnya selsel mulut rahim yang mempunyai pH tertentu dengan sperma-sperma yang mempunyai pH yang berbeda-beda pada multipatner dapat merangsang terjadinya perubahan kearah dysplasia. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma.sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh. hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks. Faktor risiko mayor untuk kanker servikal adalah infeksi dengan virus papilloma manusia (HPV) yang ditularkan secara seksual. Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi.

jumlah pasangan seksual yang meningkat.kauter.perdarahan tidak selalu muncul pada saat awal.dan rongga endometrium . Karsinoma serviks invasif terjadi bila tumor menginvasi epithelium masuk dalam stroma serviks. bila membran basalis sudah rusak dan sel tumor sudah stroma tidak > 3 mm. Secara klinis tumor belum tampak sebagai karsinoma.atau bedah krio. Walaupun perdarahan adalah gejala yang signifikan. hematuria. ligamentum kardinale.muda. 4. 2005).frekuensi berkemih yang sering dan mendesak. Bersamaan dengan tumbuhnya tumor.namun karsinoma invasive dini dapat menyebabkan secret vagina tau perdarahan vagina.gejala yang muncul kemudian adalah nyeri punggung bagian bawah atau nyeri tungkai akibat penekanan saraf lumbosakralis. status ekonomi yang rendah. Klasifikasi Klasifikasi Kanker Serviks menurut FIGO 1978 Tingkat 0 I Ia Kriteria Karsinoma In Situ ( KIS).Karsinoma servikal invasif dapat menginvasi atau meluas ke dinding vagina. paritas tinggi. sehingga kanker dapat sudah dalam keadaan lanjut pada saat didiagnosis. Jenis perdarahan vagina yang paling sering adalah pascakoitus atau bercak antara menstruasi. atau perdarahan rectum.Karsinoma servikal prainvasif tidak memiliki gejala.invasi kelenjar getah bening dan pembuluh darah mengakibatkan metastasis ke bagian tubuh yang jauh. tetapi pada pemeriksaan histologi ternyata sel tumor telah mengadakan invasi stroma . Tindak lanjut yang sering dan teratur untuk lesi yang berulang penting dilakukan setelah pengobatan ini. membran basalis utuh Proses terbatas pada servks walaupun ada perluasan ke korpus uteri Karsinoma mikro invasif. dan sel tumor tidak tedapat didalam pembuluh Ib limfe atau pembuluh darah. Pertumbuhan yang berlangsung mengakibatkan lesi yang dapat dilihat dan terlibat lebih progresif pada jaringan servikal. Price. dan merokok. Tidak ada tanda atau gejala yang spesifik untuk kanker servik. Patofisiologi Bentuk dysplasia servikal prainvasif termasuk karsinoma in situ dapat diangkat seluruhnya dengan biopsi kerucut atau eradikasi menggunakan laser. Kanker servikal menyebar luas secara langsung ke dalam jaringan paraservikal. 5. (Sylvia A.

d. tidak ditemukan daerah infiltrat IV antara tumor dengan dinding panggul. Penyebaran sudah sampai dinding panggul. Displasia Displasia ringan terjadi pada sepertiga bagaian basal epidermis. Stadium karsinoma invasif. metastasi jauh belum terjadi Telah terjadi metastasi jauh. Pada karsinoma insitu perubahan sel epitel terjadi pada seluruh lapisan epidermis menjadi karsinoma sel skuamosa. c. Pada karksinoma mikroinvasif. uni atau bilateral. b. Displasia berat terjadi pada dua pertiga epidermihampir tidak dapat dibedakan dengan karsinoma insitu. biasanya tumor ini asimtomatik dan hanya ditemukan pada skrining kanker. Klasifikasi pertumbuhan sel akan kankers serviks Mikroskopis a. disamping perubahan derajat pertumbuhan sel meningkat juga sel tumor menembus membrana basalis dan invasi pada stoma sejauh tidak lebih 5 mm dari membrana basalis. Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mokusa rektum dan atau vesika urinaria atau telah bermetastasi keluar panggul IV a ketempat yang jauh Proses sudah sampai mukosa rektum dan atau vesika urinaria atau sudah IV b keluar dari pangul kecil. Petumbuhan invasif muncul diarea bibir posterior atau anterior serviks dan meluas . peralihan sel skuamosa kolumnar dan sel cadangan endoserviks.II melebihi Ia Proses keganasan telah keluar dari serviks dan menjalar 2/3 bagian atas II a II b vagina dan parametrium. Karsinoma insitu yang tumbuh didaerah ektoserviks. sedang parametrium tidak III b dipersoalkan asal tidak sampai dinding panggul. Pada karsinoma invasif perubahan derajat pertumbuhan sel menonjol besar dan bentuk sel bervariasi. parametrium masih bebas dari infitrat tumor Penyebaran ke parametrum. Stadium karsinoma mikroinvasif. tetapi belum sampai dinding III a panggul Penyebaran sampai ½ bagian distal vagina. tetapi tidak sampai dinding panggul Penyebaran hanya ke vagina. Stadium karsinoma insitu.

3) Menstruasi abnormal (lebih lama dan ebih banyak) . Gejala muncul ketika sel serviks yang abnormal berubah menjadi keganasan dan menyusup ke jaringan sekitarnya. Stadium setengah lanjut. Stadium preklinis. Terjadi pengrusakan dari jaringan serviks. Sering tampak sebagian lesi sekitar osteum externum c. biasanya dijumpai pada endoserviks yang lambatlaun lesi berubah bentuk menjadi ulkus. Tidak dapat dibedakan dengan servisitis kronik biasa b. Makroskopis a. berbentuk bunga kool. tetapi tidak selalu ada. bentuk pertumbuhan ini mudah nekrosis dan perdarahan.ketiga jurusan yaitu jurusan forniks posterior atau anterior. Telah mengenai sebagian besar atau seluruh bibir porsio d. Dapat berkembang menjadi ulserasi pada permukaan epitel serviks. Gejala Klinis a. Stadium lanjut. sehingga tampaknya seperti ulkus dengan jaringan yang rapuh dan mudah berdarah. Bentuk kelainan dalam pertumbuhan karsinoma serviks:  Pertumbuhan eksofilik. jurusan parametrium dan korpus uteri. Tidak ada tanda dan gejala yang spesifik untuk kanker serviks ini. Menandakan bahwa perkembangan penyakit sangat cepat. biasanya lesi berbentuk ulkus dan tumbuh progesif meluas ke forniks.  Pertumbuhan endofilik. Stadium permulaan. 6. 1) Perdarahan vagina abnormal. posterior dan anterior ke korpus uteri dan parametrium. 2) Nyeri abdomen dan punggung bagian bawah.  Pertumbuhan nodul. tumbuh kearah vagina dan dapat mengisi setengah dari vagina tanpa infiltrasi kedalam vagina.

Kolposkopi dilakukan ketika ditemukan displasia atau kersinoma insitu.  Kolposkopi (pemeriksaan serviks dengan lensa pembesar).  Pap smear Pap smear dilakukan pada wanita usia 18 tahun atau ketika telah melakukan aktivitas seksual sebelum itu. penurunan berat badan.  Servikografi  Pemeriksaan visual langsung  Gineskopi  Pap net (Pemeriksaan terkomputerisasi dengan hasil lebih sensitive)  Kuretase endoserviks Kuretase endoserviks dilakukan jika daerah abnormal tidak terlihat. dan kelelahan 2) Nyeri panggul. Ketepatan diagnostik sitologinya 90% pada displasia keras (karsinoma in situ) dan 76% pada dysplasia ringan / sedang. Didapatkan hasil negatif palsu 5-50% sebagian besar disebabkan pengambilan sediaan yang tidak adekuat. berwarna merah muda. Gejala kanker serviks stadium lanjut. Sedangkan hasil positif palsu sebesar 3-15%. 1) Nafsu makan berkurang (anoreksia).4) Keputihan yang menetap. misalnya menikah. coklat. punggung dan tungkai 3) Dari vagina keluar air kemih atau feses 7. . Pemeriksaan Diagnostik  Sitologi. mengandung darah atau hitam serta bau busuk.  Biopsy kerucut. b. Setelah 3 kali hasil pemeriksaan tahunan menunjukkan negative maka selanjutnya harus melakukan pemeriksaan setiap tiga tahun sekali sampai umur 65 tahun. dengan cairan yang encer. dengan cara tes pap Tes Pap : Tes ini merupakan penapisan untuk mendeteksi infeksi HPV dan prakanker serviks. Alat ini memberikan gambaran tentang pembesaran serviks dan daerah abnormal yang mungkin dapat dibiopsi.

Pasien yang menjalani histerektomi dan memiliki rasio tinggi terjadinya rekurensi harus terus diawasi karena lewat deteksi dini dapat diobati dengan radioterapi.  Tes Schiller.Biopsy kerucut adalah mengambil tonjolan jaringan serviks yang lebih besar untuk penelitian apakah ada atau tidak kanker invasive. Tes Schiller dilakukan dengan cara serviks diolesi dengan larutan yodium. 9.  MRI/CT scan abdomen atau pelvis. Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir serviks dan epitel gepeng dan kelenjarnya. Setelah histerektomi radikal.  Konisasi. sel yang sehat warnanya akan berubah menjadi coklat sedangkan sel yang abnormal warnanya menjadi putih atau kuning. terjadinya 80% rekurensi dalam 2 tahun. III dan Histerektomi trasnsvaginal IV IV a dan IV Histerektomi radikal dengan limfadenektomi panggul dan evaluasi kelenjar b limfe paraorta (bila terdapat metastasis dilakukan radiologi pasca pembedahan) Histerektomi transvaginal . MRI/CT scan abdomen atau pelvis digunakan untuk menilai penyebaran local dari tumor dan atau terkenanya nodus limfa regional. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi meragukan dan pada serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas. Penatalaksanaan Tingkat 0 Penatalaksaan Biopsi kerucut Ia Histerektomi trasnsvaginal I b dan II a Biopsi kerucut II b . 8. Prognosis Karsinoma serviks yang tidak dapat diobati atau tidak memberikan respons terhadap pengobatan 95% akan mengalami kematian dalam 2 tahun setelah timbul gejala.

Pencegahan Ada beberapa cara untuk mencegah kanker serviks. yaitu: a) Mencegah terjadi infeksi HPV b) Melakukan pemeriksaan Pap Smear secara teratur c) Tidak boleh melakukan hubungan seksual pada anak perempuan di bawah 18 tahun. d) Jangan melakukan hubungan seksual dengan penderita kelamin atau gunakan kondom untuk mencegah penularan penyakit e) Jangan berganti-ganti pasangan seksual f) Berhenti merokok . Komplikasi a) Berkaitan dengan intervensi pembedahan 1) Vistula Uretra 2) Disfungsi bladder 3) Emboli pulmonal 4) Infeksi pelvis 5) Obstruksi usus b) Berkaitan dengan kemoterapi 1) Sistitis radiasi Enteritis 2) Supresi sumsum tulang 3) Mual muntah akibat pengunaan obat kemoterapi yang mengandung sisplatin 4) Kerusakan membrane mukosa GI 5) Mielosupresi 11.Radioterapi Radiasi paliatif Kemoterapi 10.

adanya nyeri abdomen dan punggung bawah mungkin dapat menjadikan petunjuk bahwa penyakit ini telah berkembang dengan sangat cepat. Faktor resiko Beberapa faktor yang mempengaruhi insiden Ca Cervix adalah: Usia.Pemeriksaan dengan tehnik biopsi di temukan adanya keganasan. Wanita amerika asal afrika dan asal hispanik mempunyai angka kejadian yang lebih tinggi dibanding dengan kelompok masyarakat kulit putih (Caucasian). 2. E.B. Adanya perdarahan inilah yang mengharuskan wanita ini datang ke pusat pelayanan kesehatan. C. yaitu: Ca tipe Skuamosa dan Tipe Adenokarsinoma. 3. Pada kasus ini tidak selalu tampak tumor. Pada usia 45-55 merupakan puncak insiden terjadinya Ca cervix.Pemeriksaan secara radiologis (CT Scan dan MRI) untuk mengetahui apakah sudah ada penyebaran lokal dari Ca tersebut. D. Dan sisanya merupakan insiden dari Adenokarsinoma yang sering terjadi pada wanita muda dan biasanya Ca ini berkembang menjadi sangat agresif. . dan terpajan virus terutama virus HIV. pola seksual. Pada wanita yang aktif menjalankan aktivitas seksual di waktu muda serta berganti-ganti pasangan mempunyai resiko yang lebih besar.Pemeriksaan skrining dengan menggunakan pap smear (Prostatic Acid Phospatase). mungkin juga terjadi anemia. perokok. penurunan atau terjadi peningkatan trombo. 4. tetapi kadang terjadi perdarahan karena ulserasi pada permukaan cervix. TANDA DAN GEJALA Menurut Gale tidak ada tanda yang spesifik pada kasus Ca ini. Karsinoma Skuamosa insidennya mencapai 80-95 % dan sering terjadi pada usia lanjut. etnik. ras.Pemeriksaan laboratorik. Pemeriksaan diagnostik 1. status sosial ekonomi. Jenis kanker Ada dua tipe utama dalam pembagian Ca Cervix. misalnya CEA (Carcinogenic Embrionic Antigen).