Anda di halaman 1dari 4

Nama

Kampus
NPM

: Eka Kurniawati Aisyah
: II Wiyung
: 121225

Pengertian Dumping
• Barang Dumping adalah barang yang diimpor dengan tingkat Harga Ekspor
yang lebih rendah dari Nilai Normalnya di negara pengekspor
• Subsidi adalah :
a. Setiap bantuan keuangan yang diberikan oleh pemerintah atau badan
pemerintah baik langsung atau tidak langsung kepada perusahaan, industri,
kelompok industri, atau eksportir
b. Setiap bentuk dukungan terhadap pendapatan atau harga yang diberikan
secara langsung atau tidak langsung untuk meningkatkan ekspor atau
menurunkan impor dari atau ke negara yang bersangkutan
Ketentuan Umum
A. Bea Masuk Anti Dumping
Bea Masuk Anti dumping dikenakan terhadap barang dumping yang
menyebabkan kerugian bagi industri dalam negeri. Besarnya Bea Masuk
Antidumping adalah setinggi-tingginya sama dengan margin dumping yaitu
selisih antara nilai normal dengan harga ekspor dari barang dumping. Nilai
normal adalah harga yang sebenarnya dibayar atau akan dibayar untuk
barang sejenis di pasar domestik negera pengekspor untuk tujuan konsumsi.
B. Bea masuk Imbalan
Bea Masuk Imbalan dikenakan terhadap barang yang mengandung
subsidi yang menyebabkan kerugian bagi industri dalam negeri Besarnya
Bea Masuk Imbalan adalah setinggi-tingginya sama dengan subsidi neto
Subsidi neto adalah selisih antara subsidi dengan :
a. biaya permohonan, tanggungan atau pungutan lain yang dikeluarkan
untuk memperoleh subsidi, dan/atau
b. pungutan yang dikenakan pada saat ekspor untuk pengganti subsidi yang
diberikan kepada barang ekspor tersebut
Dalam hal importasi barang yang bersangkutan dapat dikenakan Bea Masuk
Antidumping dan Bea Masuk Imbalan secara bersamaan, maka harus
dikenakan salah satu yang tertinggi.

Dalam hal terbukti adanya dumping. komite harus memberikan keputusan menolak atau menerima dan memulai penyelidikan atas permohonan tersebut paling lama 30 hari sejak diterimanya permohonan tersebut. namun dalam hal tertentu dapat diperpanjang menjadi selama-lamanya 18 bulan. Keputusan diambil berdasarkan penelitian atas bukti yang diajukan dan dianggap memenuhi persyaratan. Untuk kepentingan penelitian kebenaran informasi. mengumpulkan. melaksanakan tugas lain yang ditetapkan oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan 5. Tahap pertama dari proses Anti Dumping adalah penyelidikan oleh Komite Anti Dumping yang dilaksanakan oleh TIM OPERASIONAL ANTI DUMPING (TOAD) atas barang impor yang diduga sebagai barang Dumping dan/atau barang mengandung subsidi yang menyebabkan kerugian. Menteri Keuangan menetapkan besarnya Bea Masuk Antidumping atau Bea Masuk Imbalan. Bukti dan Tindakan Dalam melaksanakan penyelidikan. pemerintah dalam hal ini Menteri Perindustrian dan Perdagangan membentuk KOMITE ANTI DUMPING INDONESIA (KADI) yang beranggotakan unsur Deperindag. Menperindag memutuskan besarnya nilai tertentu untuk pengenaan Bea Masuk Antidumping atau Bea Masuk Imbalanyang besarnya sama dengan atau lebih kecil dari Marjin Dumping dan/atau Subsidi Netto. membuat laporan pelaksanaan tugas. Depkeu dan departemen atau lembaga non departemen terkait lainnya. komite dapat melakukan .Komite anti Dumping Untuk menangani masalah dumping dan imbalan. komite menyampaikan besarnya marjin dumping dan/atau subsidi netto dan mengusulkan pengenaan Bea Masuk Antidumping atau Bea Masuk Imbalan kepada Menteri Perindustrian dan Perdagangan. melakukan penyelidikan terhadap Barang Dumping dan Barang Mengandung Subsidi 2. Atas dasar keputusan Menperindag tersebut. Penyelidikan harus diakhiri dalam waktu 12 bulan sejak keputusan dimulainya penyelidikan. TOAD memberitahukan kepada pihak yang berkepentingan mengenai informasi yang diperlukan dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyampaikan bukti-bukti secara tertulis. Dalam hal tidak terbukti. Komite tersebut bertugas : 1. diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan komite dalam waktu maksimal 30 hari. Bagi industri dalam negeri inisiatif untuk melakukan penyelidikan tersebut dapat dilakukan atas inisiatif dari komite sendiri atau karena permohonan industri dalam negeri. Khusus untuk eksportir atau produsen luar negeri. Dalam hal adanya permohonan dari industri dalam negeri. komite menghentikan penyelidikan dan melaporkan kepada Menteri Perindustrian dan Perdagangan. meneliti dan mengolah bukti dan informasi 3. mengusulkan pengenaan Bea Masuk Anti Dumping dan Bea Masuk Imbalan 4.

kekuaran pasar dan struktur pasar import. Akibat terburuk dari dumping jenis ini adalah matinya perusahan-perusahaan yang memproduksi barang sejenis. dalam rangka memperoleh kekuatan monopoli di pasar negara pengimpor. Cyclical Dumping Motivasi dumping jenis ini muncul dari adanya biaya marginal yang luar biasa rendah atau tidak jelas. antara lain: 1. SE-19/BC/1997 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemungutan Bea Masuk Anti Dumping/Sementara Menurut Robert Willig ada 5 tipe dumping yang dilihat dari tujuan eksportir. Adapun Kriteria dumping yang dilarang oleh WTO adalah dumping oleh suatu negara yang: . Strategic Dumping Istilah ini diadopsi untuk menggambarkan ekspor yang merugikan perusahaan saingan di negara pengimpor melalui strategis keseluruhan negara pengekspor. Market Expansion Dumping Perusahaan pengeksport bisa meraih untung dengan menetapkan “mark-up” yang lebih rendah di pasar import karena menghadapi elastisitas permintaan yang lebih besar selama harga yang ditawarkan rendah. 2. sepanjang mendapat Dasar Hukum • UU No. Jika bagian dari porsi pasar domestik tiap eksportir independen cukup besar dalam tolok ukur skala ekonomi. State Trading Dumping Latar belakang dan motivasinya mungkin sama dengan kategori dumping lainnya. Predatory Dumping Istilah predatory dumping dipakai pada ekspor dengan harga rendah dengan tujuan mendepak pesaing dari pasar. kemungkinan biaya produksi yang menyertai kondisi dari kelebihan kapasitas produksi yang terpisah dari pembuatan produk terkait.penyelidikan di luar negeri. tapi yang menonjol adalah akuisisi. 5. 3. 4. 10 Tahun 1995 tentang KepabeananPeraturan Pemerintah No. 34 Tahun 1996 tentang Bea Masuk Anti Dumping dan Bea Masuk Imbalan • Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No: 430/MPP/Kep/9/1999 tentang Komite Antidumping Indonesia dan Tim Operasional Antidumping • Surat Edaran Dirjen Bea dan No. baik dengan cara pemotongan harga ekspor maupun dengan pembatasan masuknya produk yang sama ke pasar negara pengekspor. maka memperoleh keuntungan dari besarnya biaya yang harus dikeluarkan oleh pesaing-pesaing asing.

Praktek dumping merupakan praktek dagang yang tidak fair. Adanya hubungan sebab-akibat antara harga dumping dengan kerugian yang terjadi. Tentunya apabila tujuannya untuk menyingkirkan pesaing maka jelas merupakan persaingan yang tidak sehat dan menjadi pengawasan dari KPPU. karena bagi negara pengimpor. praktek dumping akan menimbulkan kerugian bagi dunia usaha atau industri barang sejenis dalam negeri. Kapan praktik dumping masuk pada pengawasan KPPU jika. memang dampak dari praktik dumping tersebut dapat mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat. dengan terjadinya banjir barangbarang dari pengekspor yang harganya jauh lebih murah daripada barang dalam negeri akan mengakibatkan barang sejenis kalah bersaing. Dengan demikian maka KPPU harus dapat menilai apakah maksud dari praktik dumping maupun (predatory pricing) bahwa memang ada pesaing-pesaing usaha anggota perjanjian kartel bertujuan untuk menyingkirkan pesaing usaha lain dari pasar (harga pasar yang sangat rendah). yang diikuti munculnya dampak ikutannya seperti pemutusan hubungan kerja massal. Praktik dumping dari kacamata persaingan usaha apabila tujuan dari praktik dumping memang ingin menghilangkan pesaing. pengganguran dan bangkrutnya industri barang sejenis dalam negeri. Seandainya terjadi dumping yang less than fair value tetapi tidak menimbulkan kerugian. dan adanya hambatan terhadap persaingan. Harus ada kerugian material di negara importir 3. . Harus ada tindakan dumping yang LTFV (less than fair value) 2. Praktik dumping dalam jangka pendek menguntungkan konsumen namun pada jangka panjang akan merugikan konsumen dan termasuk industri pesaing yang memiliki industri barang yang sejenis. Sanksi yang diberikan apabila terbukti melakukan praktik dumping dikenakan sanksi berupa BMAD. maka dumping tersebut tidak dilarang. Sebagai kesimpulan dari hasil pembahasan dan analisa tersebut di atas maka praktik dumping merupakan rezim dari Hukum Perdagangan Internasional di bawah kendali WTO. sehingga pada akhirnya akan mematikan pasar barang sejenis dalam negeri. Sementara menjual harga di bawah harga pasar maupun melakukan predatory price dalam kacamata hukum persaingan akan menghambat adanya persaingan sehat.1. apabila pihak yang dikenai sanksi keberatan terhadap BMAD maka dapat mengajukan keberatan ke panel WTO melalui Komisi Antidumping di DSB (Dispute Settlement Body). melainkan menggunakan instrumen-instrumen nonpersaingan untuk bertahan di pasar. Ini adalah strategi hambatan klasik. di mana para pesaing usaha tidak lagi bersaing berdasarkan instrumen penawaran. ataupun ingin menjadi posisi dominan (abuse of dominant position) maka KPPU bisa menangani kasus tersebut.