Anda di halaman 1dari 6

Home > Vol 1, No 1 (2013) > Sudiatmika

EFEKTIVITAS COGNITIVE BEHAVIOUR THERAPY DAN


RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOUR THERAPY TERHADAP
GEJALA DAN KEMAMPUAN MENGONTROL EMOSI
PADA KLIEN PERILAKU KEKERASAN
I Ketut Sudiatmika, Budi Anna Keliat, Ice Yulia Wardani

Abstract
Perilaku kekerasan merupakan keadaan dimana seseorang tidak dapat mengontrol perilaku marahnya
sehingga dieksprresikan dalam bentuk perilaku agresif fisik dan atau verbal yang dapat mencederai diri
sendiri, orang lain dan merusak lingkungan sehingga membutuhkan tindakan keperawatan yang
efektif dan tepat. Tindakan keperawatan spesialis yang dapat diberikan pada klien perilaku kekerasan
adalah cognitive behaviour therapy dan rational emotive behaviour therapy. Penelitian ini bertujuan
mengetahui efektivitas cognitive behaviour therapy (CBT) dan rational emotive behaviour therapy
(REBT) terhadap perubahan gejala dan kemampuan klien perilaku kekerasan di Rumah Sakit Dr. H.
Marzoeki Mahdi Bogor. Desain penelitian quasi eksperimental dengan jumlah sampel 60 responden. Hasil
penelitian ditemukan penurunan gejala perilaku kekerasan lebih besar pada klien yang mendapatkan
daripada yang tidak mendapatkan CBT dan REBT (p value < 0.05).
Kemampuan kognitif, afektif dan perilaku klien yang mendapatkan CBT dan REBT meningkat secara
bermakna (p value < 0.05). CBT dan REBT direkomendasikan sebagai terapi keperawatan pada klien
perilaku kekerasan dan halusinasi.
Kata kunci: perilaku kekerasan, kemampuan kognitif, afektif dan perilaku, cognitive behaviour therapy,
rational emotive behaviour therapy.

Full Text:
PDF

Refbacks

There are currently no refbacks.

JKAJ | Jurnal Keperawatan Jiwa | ISSN : 2330-2090


Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan | Universitas Muhammadiyah Semarang
Gedung NRC Lantai Dasar Jl. Kedungmundu Raya No. 18 Semarang

Cognitive-Behavior Therapy (CBT)

Ditulis Oleh: Wahid Suharmawan


Aaron T. Beck (1964) mendefinisikan CBT sebagai pendekatan konseling yang dirancang untuk menyelesaikan
permasalahan konseli pada saat ini dengan cara melakukan restrukturisasi kognitif dan perilaku yang
menyimpang. Pedekatan CBT didasarkan pada formulasi kognitif, keyakinan dan strategi perilaku
yang mengganggu. Proses konseling didasarkan pada konseptualisasi atau pemahaman konseli atas keyakinan
khusus dan pola perilaku konseli. Harapan dari CBT yaitu munculnya restrukturisasi kognitif yang menyimpang
dan sistem kepercayaan untuk membawa perubahan emosi dan perilaku ke arah yang lebih baik.
Matson & Ollendick (1988: 44) mengungkapkan definisi cognitive-behavior therapy yaitu pendekatan dengan
sejumlah prosedur yang secara spesifik menggunakan kognisi sebagai bagian utama konseling. Fokus konseling
yaitu persepsi, kepercayaan dan pikiran. Para ahli yang tergabung dalam National Association of CognitiveBehavioral Therapists (NACBT), mengungkapkan bahwa definisi dari cognitive-behavior therapy yaitu suatu
pendekatan psikoterapi yang menekankan peran yang penting berpikir bagaimana kita merasakan dan apa yang
kita lakukan. (NACBT, 2007).

Teori Cognitive-Behavior (Oemarjoedi, 2003: 6) pada dasarnya meyakini pola pemikiran manusia terbentuk
melalui proses Stimulus-Kognisi-Respon (SKR), yang saling berkaitan dan membentuk semacam jaringan SKR
dalam otak manusia, di mana proses kognitif menjadi faktor penentu dalam menjelaskan bagaimana
manusia berpikir, merasa dan bertindak. Sementara dengan adanya keyakinan bahwa manusia memiliki potensi
untuk menyerap pemikiran yang rasional dan irasional, di mana pemikiran yang irasional dapat menimbulkan
gangguan emosi dan tingkah laku yang menyimpang, maka CBT diarahkan pada modifikasi fungsi berfikir,
merasa, dan bertindak dengan menekankan peran otak dalam menganalisa, memutuskan, bertanya, bertindak,
dan memutuskan kembali. Dengan mengubah status pikiran dan perasaannya, konseli diharapkan dapat
mengubah tingkah lakunya, dari negatif menjadi positif. Berdasarkan paparan definisi mengenai CBT, maka
CBT adalah pendekatan konseling yang menitik beratkan pada restrukturisasi atau pembenahan kognitif
yang menyimpang akibat kejadian yang merugikan dirinya baik secara fisik maupun psikis. CBT merupakan
konseling yang dilakukan untuk meningkatkan dan merawat kesehatan mental. Konseling ini akan diarahkan
kepada modifikasi fungsi berpikir, merasa dan bertindak, dengan menekankan otak sebagai penganalisa,
pengambil keputusan, bertanya, bertindak, dan memutuskan kembali. Sedangkan, pendekatan pada aspek
behavior diarahkan untuk membangun hubungan yang baik antara situasi permasalahan dengan kebiasaan
mereaksi permasalahan. Tujuan dari CBT yaitu mengajak individu untuk belajar mengubah perilaku,
menenangkan pikiran dan tubuh sehingga merasa lebih baik, berpikir lebih jelas dan membantu membuat
keputusan yang tepat. Hingga pada akhirnya dengan CBT diharapkan dapat membantu konseli dalam
menyelaraskan berpikir, merasa dan bertindak.
Tujuan Konseling CBT
Tujuan dari konseling Cognitive-Behavior (Oemarjoedi, 2003: 9) yaitu mengajak konseli untuk menentang
pikiran dan emosi yang salah dengan menampilkan bukti-bukti yang bertentangan dengan keyakinan mereka
tentang masalah yang dihadapi. Konselor diharapkan mampu menolong konseli untuk mencari keyakinan yang
sifatnya dogmatis dalam diri konseli dan secara kuat mencoba menguranginya.
Dalam proses konseling, beberapa ahli CBT (NACBT, 2007; Oemarjoedi,2003) berasumsi bahwa masa lalu
tidak perlu menjadi fokus penting dalamkonseling. Oleh sebab itu CBT dalam pelaksanaan konseling lebih
menekankan kepada masa kini dari pada masa lalu, akan tetapi bukan berarti mengabaikan masa lalu. CBT tetap
menghargai masa lalu sebagai bagian dari hidup konseli dan mencoba membuat konseli menerima masa lalunya,
untuk tetap melakukan perubahan pada pola pikir masa kini untuk mencapai perubahan di waktu yang
akan datang. Oleh sebab itu, CBT lebih banyak bekerja pada status kognitif saat ini untuk dirubah dari status
kognitif negatif menjadi status kognitif positif.
Fokus Konseling
CBT merupakan konseling yang menitik beratkan pada restrukturisasi atau pembenahan kognitif yang
menyimpang akibat kejadian yang merugikan dirinya baik secara fisik maupun psikis dan lebih melihat ke masa
depan dibanding masa lalu. Aspek kognitif dalam CBT antara lain mengubah cara berpikir, kepercayaan,
sikap, asumsi, imajinasi dan memfasilitasi konseli belajar mengenali dan mengubah kesalahan dalam aspek
kognitif. Sedangkan aspek behavioral dalam CBT yaitu mengubah hubungan yang salah antara situasi
permasalahan dengan kebiasaan mereaksi permasalahan, belajar mengubah perilaku, menenangkan pikiran dan
tubuh sehingga merasa lebih baik, serta berpikir lebih jelas.

Prinsip Prinsip Cognitive-Behavior Therapy (CBT)


Walaupun konseling harus disesuaikan dengan karakteristik atau permasalahan konseli, tentunya konselor harus
memahami prinsip-prinsip yang mendasari CBT. Pemahaman terhadap prinsip-prinsip ini diharapkan dapat
mempermudah konselor dalam memahami konsep, strategi dalam merencanakan proses konseling dari
setiap sesi, serta penerapan teknik-teknik CBT. Berikut adalah prinsip-prinsip dasar dari CBT berdasarkan
kajian yang diungkapkan oleh Beck (2011):
Prinsip nomor 1: Cognitive-Behavior Therapy didasarkan pada formulasi yang terus berkembang dari
permasalahan konseli dan konseptualisasi kognitif konseli. Formulasi konseling terus diperbaiki seiring
dengan perkembangan evaluasi dari setiap sesi konseling. Pada momen yang strategis, konselor
mengkoordinasikan penemuan-penemuan
konseptualisasi
kognitif
konseli
yang
menyimpang
dan meluruskannya sehingga dapat membantu konseli dalam penyesuaian antara berfikir, merasa dan bertindak.
Prinsip nomor 2: Cognitive-Behavior Therapy didasarkan pada pemahaman yang sama antara konselor
dan konseli terhadap permasalahan yang dihadapi konseli. Melalui situasi konseling yang penuh dengan
kehangatan, empati, peduli, dan orisinilitas respon terhadap permasalahan konseli akan membuat pemahaman
yang sama terhadap permasalahan yang dihadapi konseli. Kondisi tersebut akan menunjukan sebuah
keberhasilan dari konseling.
Prinsip nomor 3: Cognitive-Behavior Therapy memerlukan kolaborasi dan partisipasi
aktif. Menempatkan konseli sebagai tim dalam konseling maka keputusan konseling merupakan keputusan yang
disepakati dengan konseli. Konseli akan lebih aktif dalam mengikuti setiap sesi konseling, karena konseli
mengetahui apa yang harus dilakukan dari setiap sesi konseling.
Prinsip nomor 4: Cognitive-Behavior Therapy berorientasi pada tujuan dan berfokus pada
permasalahan. Setiap sesi konseling selalu dilakukan evaluasi untuk mengetahui tingkat pencapaian tujuan.
Melalui evaluasi ini diharapkan adanya respon konseli terhadap pikiran-pikiran yang mengganggu tujuannya,
dengan kata lain tetap berfokus pada permasalahan konseli.
Prinsip nomor 5: Cognitive-Behavior Therapy berfokus pada kejadiansaat ini. Konseling dimulai dari
menganalisis permasalahan konseli pada saat ini dan di sini (here and now). Perhatian konseling beralih pada
dua keadaan. Pertama, ketika konseli mengungkapkan sumber kekuatan dalam melakukan kesalahannya. Kedua,
ketika konseli terjebak pada proses berfikir yang menyimpang dan keyakinan konseli dimasa lalunya yang
berpotensi merubah kepercayaan dan tingkahlaku ke arah yang lebih baik.
Prinsip nomor 6: Cognitive-Behavior Therapy merupakan edukasi, bertujuan mengajarkan konseli
untuk menjadi terapis bagi dirinya sendiri, dan menekankan pada pencegahan. Sesi pertama CBT
mengarahkan konseli untuk mempelajari sifat dan permasalahan yang dihadapinya termasuk proses
konseling cognitive-behavior serta model kognitifnya karena CBT meyakini bahwa pikiran mempengaruhi
emosi dan perilaku. Konselor membantu menetapkan tujuan konseli, mengidentifikasi dan mengevaluasi proses
berfikir serta keyakinan konseli. Kemudian merencanakan rancangan pelatihan untuk perubahan tingkah
lakunya.
Prinsip nomor 7: Cognitive-Behavior Therapy berlangsung pada waktu yang terbatas. Pada kasus-kasus
tertentu, konseling membutuhkan pertemuan antara 6 sampai 14 sesi. Agar proses konseling tidak membutuhkan
waktu yang panjang, diharapkan secara kontinyu konselor dapat membantu dan melatih konseli
untuk melakukan self-help.
Prinsip nomor 8: Sesi Cognitive-Behavior Therapy yang terstruktur.Struktur ini terdiri dari tiga bagian
konseling. Bagian awal, menganalisis perasaan dan emosi konseli, menganalisis kejadian yang terjadi dalam
satu minggu kebelakang, kemudian menetapkan agenda untuk setiap sesi konseling. Bagian tengah, meninjau
pelaksanaan tugas rumah (homework asigment), membahas permasalahan yang muncul dari setiap sesi yang
telah berlangsung, serta merancang pekerjaan rumah baru yang akan dilakukan. Bagian akhir, melakukan umpan
balik terhadap perkembangan dari setiap sesi konseling. Sesi konseling yang terstruktur ini membuat proses
konseling lebih dipahami oleh konseli dan meningkatkan kemungkinan mereka mampu melakukanself-help di
akhir sesi konseling.
Prinsip nomor 9: Cognitive-Behavior Therapy mengajarkan konseli untuk mengidentifikasi,
mengevaluasi, dan menanggapi pemikiran disfungsional dan keyakinan mereka. Setiap hari konseli
memiliki kesempatan dalam pikiran-pikiran otomatisnya yang akan mempengaruhi suasana hati, emosi

dan tingkah laku mereka. Konselor membantu konseli dalam mengidentifikasi pikirannya serta menyesuaikan
dengan kondisi realita serta perspektif adaptif yang mengarahkan konseli untuk merasa lebih baik secara
emosional, tingkahlaku dan mengurangi kondisi psikologis negatif. Konselor juga menciptakan pengalaman
baru yang disebut dengan eksperimen perilaku. Konseli dilatih untuk menciptakan pengalaman barunya dengan
cara menguji pemikiran mereka (misalnya: jika saya melihat gambar labalaba, maka akan saya merasa sangat
cemas, namun saya pasti bisa menghilangkan perasaan cemas tersebut dan dapat melaluinya dengan baik).
Dengan cara ini, konselor terlibat dalam eksperimen kolaboratif. Konselor dan konseli bersama-sama menguji
pemikiran konseli untuk mengembangkan respon yang lebih bermanfaat dan akurat.
Prinsip nomor 10: Cognitive-Behavior Therapy menggunakan berbagai teknik untuk merubah
pemikiran, perasaan, dan tingkah laku. Pertanyaanpertanyaan yang berbentuk sokratik memudahkan
konselor dalam melakukan konseling cognitive-behavior. Pertanyaan dalam bentuk sokratik merupakan inti atau
kunci dari proses evaluasi konseling. Dalam proses konseling, CBT tidak mempermasalahkan konselor
menggunakan teknik-teknik dalam konseling lain seperti kenik Gestalt, Psikodinamik, Psikoanalisis, selama
teknik tersebut membantu proses konseling yang lebih saingkat dan memudahkan konelor dalam
membantu konseli. Jenis teknik yang dipilih akan dipengaruhi oleh konseptualisasi konselor tehadap konseli,
masalah yang sedang ditangani, dan tujuan konselor dalam sesi konseling tersebut.
sumber :
Makalah
Cognitive-Behavior
di Indonesia oleh Idat Muqodas

Therapy:

Solusi

Pendekatan

Praktek

Konseling

Prinsip dasar dari CBT adalah bahwa cara kita berpikir dalam situasi tertentu mempengaruhi bagaimana kita
merasa emosional dan fisik, dan mengubah perilaku kita.
Ini adalah campuran dari terapi kognitif dan perilaku. Mereka sering digabungkan karena bagaimana kita
berperilaku sering mencerminkan bagaimana kita berpikir tentang hal-hal tertentu atau situasi. Penekanan pada
aspek kognitif atau perilaku terapi dapat bervariasi, tergantung pada kondisi klien/pasien.
Hal ini banyak berevolusi dari psikologi perilaku dengan tradisi penelitian yang kuat dan penekanan pada teori
belajar. Teori pengkondisian klasik Pavlov (1927) dan pengkondisian operan dari Skinner (1938) diikuti oleh
karya Dollar dan Miller (1950) yang mencoba menulis ulang teori psikoanalisis menggunakan terminologi yang
diasosiasikan dengan berbasis teori pembelajaran laboratorium. Wolpe (1958) membuat kontribusi besar dengan
aplikasinya tentang pengetahuan laboratorium untuk interpretasi perilaku neurotik, sehingga dalam
pengembangan intervensi terapeutik (O`Kelly, 2010).
Prinsip dasar dari CBT adalah bahwa cara kita berpikir dalam situasi tertentu mempengaruhi bagaimana kita
merasa emosional dan fisik, dan mengubah perilaku kita. Setiap orang akan memiliki cara berpikir sendiri,
respon individu terhadap peristiwa tertentu. Kunci dari CBT adalah untuk mengidentifikasi pikiran yang paling
penting, perasaan dan perilaku yang membentuk reaksi dan memutuskan apakah tanggapan tersebut rasional
dan bermanfaat. CBT bekerja pada asumsi bahwa keyakinan Anda mempengaruhi emosi dan perilaku Anda dan
bahwa dengan mengidentifikasi dan mengatasi pikiran bermasalah Anda dapat membantu untuk mengubah
perilaku Anda menjadi pengalaman yang lebih baik. CBT dapat membantu Anda untuk memahami masalah
besar dengan memecahkan mereka ke bagian yang lebih kecil. Hal ini membuat lebih mudah untuk melihat
bagaimana mereka terhubung dan bagaimana mereka mempengaruhi Anda. Bagian-bagian ini adalah: Sebuah
Situasi masalah, peristiwa atau situasi yang sulit. Dari hal ini maka dapat mempengaruhi, seperti: pikiran,
emosi, fisik/perasaan, dan tindakan.
Masing-masing bagian dapat mempengaruhi orang lain. Bagaimana Anda berpikir tentang suatu masalah dapat
mempengaruhi bagaimana Anda merasa secara fisik dan emosional. Semua bidang kehidupan dapat terhubung
seperti ini: lima bagian tadi. Apa yang terjadi di salah satu bagian dapat mempengaruhi semua bagian lainnya.
Membantu dan tidak membantu sebuah reaksi terhadap kebanyakan situasi, tergantung pada bagaimana Anda
berpikir tentang hal tersebut. Cara Anda berpikir dapat membantu atau tidak membantu. Misalnya, apa yang

Anda lakukan, di mana Anda melakukannya, bagaimana Anda melakukannya, dan ketika Anda memilih untuk
melakukannya maka itu mempengaruhi kemampuan Anda untuk memmbentuk, mempertahankan hubungan,
memperoleh keterampilan baru, membangun dan mempertahankan kerja, dan pada kahirnya mencapai tujuan
pribadi. Masalah perilaku seperti agresi, gangguan kepribadian, ketidakpatuhan, penarikan diri, dan lain-lain.
CBT membantu individu untuk memahami masalah mereka serta menawarkan teknik yang memungkinkan orang
untuk belajar untuk membuat perubahan di masing-masing bagian, yang mengarah ke peningkatan gejala
emosional dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai dan kebutuhan mereka sendiri.
Tidak ada reaksi individu benar atau salah. Namun, cara orang bereaksi terhadap peristiwa sering dapat
memperburuk kehidupan mereka sebagai lingkaran setan.
Sebagai contoh, jika seseorang merasa tertekan, mereka bereaksi dengan menarik diri dari orang lain, yang
hanya memperburuk suasana hati mereka lebih lanjut. Dengan mengidentifikasi apakah reaksi membantu atau
tidak membantu dalam mencapai tujuan hidup tertentu, orang dapat membuat pilihan tentang bagaimana
menanggapi situasi yang berbeda.
Contoh lain: Keyakinan tentang pengalaman yang sama dan emosi mereka sehingga mungkin kasus individu
ditolak untuk pekerjaan. Dia mungkin percaya bahwa ia melewati untuk pekerjaan itu karena dia dasarnya tidak
kompeten. Dalam hal ini, dia juga mungkin menjadi tertekan, dan dia mungkin lebih kecil kemungkinannya untuk
melamar pekerjaan yang serupa di masa mendatang. Jika, di sisi lain, ia percaya bahwa ia melewati karena
bidang calon adalah sangat kuat, dia mungkin merasa kecewa tapi tidak tertekan, dan pengalaman mungkin
tidak akan menghalangi dia dari melamar pekerjaan yang serupa lainnya.
CBT dapat menjadi terapi yang efektif untuk masalah-masalah berikut:
anger management
kecemasan dan serangan panik
permasalahan anak dan remaja
kelelahan kronis sindrom
gangguan kepribadian
skizofrenia
nyeri kronis
depresi
masalah narkoba atau alkohol
kesulitan makan
masalah kesehatan umum
kebiasaan
mood yang berubah-ubah
obsesif-kompulsif
fobia
pasca-traumatic stress disorder (PTSD)
masalah hubungan dan seksual
masalah tidur
Menurunkan Berat Badan
dan masih banyak lagi
Aaron T. Beck adalah seorang pakar di bidang kognitif yang sangat berpengaruh dalam perkembangan CBT.
Mari kita kita lihat sekilas tentang Aaron T. Beck di bawah ini.
Pada tahun 1960, Aaron T. Beck, seorang psikiater, mengamati bahwa selama sesi analitis, pasien cenderung
memiliki dialog internal yang terjadi di dalam pikiran mereka, hampir seolah-olah mereka sedang berbicara

dengan diri mereka sendiri. Tapi mereka hanya akan melaporkan sebagian kecil dari pemikiran seperti ini
kepadanya.
Sebagai contoh, dalam sebuah sesi terapi klien mungkin berpikir untuk dirinya sendiri: Dia (terapis) belum
mengatakan banyak saat ini. Aku ingin tahu apakah dia kesal dengan saya Pikiran-pikiran bisa membuat klien
merasa sedikit cemas atau mungkin terganggu?. Dia kemudian bisa menanggapi pemikiran ini dengan lebih jauh
berpikir: Dia mungkin lelah, atau mungkin saya belum berbicara tentang hal yang paling penting. Pikiran kedua
mungkin mengubah cara klien merasa.
Beck menyadari bahwa hubungan antara pikiran dan perasaan itu sangat penting. Dia menemukan pikiranpikiran otomatis istilah untuk menggambarkan pikiran emosi-diisi yang mungkin muncul dalam pikiran. Beck
menemukan bahwa orang-orang tidak selalu sepenuhnya menyadari pikiran seperti itu, tapi bisa belajar untuk
mengidentifikasi dan melaporkan mereka. Jika seseorang merasa marah dalam beberapa cara, pikiran biasanya
negatif dan tidak realistis atau membantu. Beck menemukan bahwa mengidentifikasi pikiran-pikiran adalah kunci
untuk pemahaman klien dan mengatasi nya atau kesulitan nya.
Beck menyebutnya terapi kognitif karena pentingnya itu menempatkan pada pemikiran. Ini sekarang dikenal
sebagai terapi kognitif-perilaku (CBT) karena terapi menggunakan teknik perilaku juga. Keseimbangan antara
kognitif dan perilaku elemen bervariasi antara terapi yang berbeda dari jenis ini, tetapi semua datang di bawah
terapi perilaku kognitif istilah payung. CBT sejak menjalani percobaan ilmiah yang sukses di banyak tempat oleh
tim yang berbeda, dan telah diterapkan pada berbagai macam masalah.
Bagaimana orang berperilaku mempengaruhi hidup mereka dan bagaimana mereka menerima dukungan
dengan berpedoman pada pilihan mereka. CBT
bagaimana Anda berpikir tentang diri Anda, dunia dan orang lain. Bagaimana yang Anda lakukan akan
mempengaruhi pikiran dan perasaan Anda. CBT dapat membantu Anda untuk mengubah cara Anda berpikir
(`Kognitif`) dan apa yang Anda lakukan (`Perilaku`). Perubahan ini dapat membantu Anda untuk merasa lebih
baik. Tidak seperti beberapa perawatan berbicara lain, berfokus pada `di sini dan sekarang` masalah dan
kesulitan. CBT berfokus pada penyebab permasalahan atau gejala di masa lalu, ia mencari cara untuk
meningkatkan keadaan pikiran Anda sekarang.
CBT dapat memaksimalkan pada akal sehat Anda dan membantu Anda untuk melakukan hal-hal sehat yang
Anda kadang-kadang dapat melakukannya secara alami dan tanpa berpikir dan meningkatkan secara teratur.
Efektivitas CBT untuk berbagai masalah psikologis telah diteliti secara luas daripada pendekatan psikoterapi
lainnya. Reputasi CBT sebagai pengobatan yang sangat efektif berkembang. Beberapa studi mengungkapkan
bahwa CBT lebih efektif daripada obat untuk pengobatan kecemasan dan depresi. Sebagai hasil dari penelitian
ini, metode pengobatan yang singkat dan lebih intens telah dikembangkan untuk gangguan kecemasan tertentu
seperti panik, kecemasan dalam kesulitan dalam kehidupan sosial, atau merasa khawatir sepanjang waktu.
CBT adalah pengobatan yang kuat karena menggabungkan aspek ilmiah, filosofis, dan perilaku menjadi satu
pendekatan yang komprehensif untuk memahami dan mengatasi masalah psikologis yang umum.
CBT mendorong Anda untuk memahami bahwa pikiran Anda atau keyakinan terletak antara peristiwa dan
perasaan utama Anda dan tindakan. Pikiran Anda, keyakinan, dan makna yang Anda berikan ke suatu acara,
menghasilkan respon Anda emosi dan perilaku.

Anda mungkin juga menyukai