Anda di halaman 1dari 34

Kumpulan

Cerita Pendek
Sylvania Valentino
82/19

A
Christmas
Hope

Salju putih turun begitu lebat.


Lonceng gereja malam mem e r i a h k a n n y a . Ny a n y i a n
anak-anak paduan suara memenuhi katedral di tengah
kota itu. Bar-bar penuh dengan orang-orang yang berkampanye merayakan natal. Kota
Amsterdam yang amat indah.
Sementara itu di ruang perawatan duduk seorang gadis kecil di kasurnya sambil menatap ke arah luar jendela. Namanya Reina. Ia menderita
penyakit leukemia.
Hari ini merupakan malam natal pertama kita, Reina, sahut Yurika, sahabat Reina.

Iya, kamu benar. Seandainya saja penyakitku sembuh dan aku bisa pergi ke luar
sana, pasti akan lebih menyenangkan.
Sabarlah, Reina. Ketika sudah waktunya,
aku berjanji akan membawamu berkeliling
kota saat malam natal tiba.

Yurika dan Reina bertemu di tempat yang


telah dijanjikan. Ketika bertemu, banyak
kata-kata rindu terungkap dari mulut
mereka.
Bagaimana sekolahmu di sini? Menyenangkan? tanya Yurika.

Tapi bagaimana bila penyakitku tak kunjung sembuh? Bagaimana bila aku mati?
Pertanyaan itu mengejutkan hati Yurika.

Iya. Tapi seperti yang kamu ketahui. Banyak yang memandangku dengan rendah
karena aku cacat.

Kamu nggak boleh bicara begitu. Tuhan


itu adil. Dia pasti menyembuhkan segala
sakit-penyakitmu. Dengan semangat
Yurika itu, Reina dapat terus berjuang
menghadapi penyakitnya.

Sabarlah, Reina. Sebentarb lagi kita akan


SMP dan aku akan masuk ke sekolah yang
sama denganmu. Aku janji akan selalu menemanimu. Reina pun mengangguk senang.

Persahabatan mereka membawa kedua gadis kecil ini pada perjalanan yang panjang.
Di usianya yang ke enam tahun, Yurika harus meninggalkan tanah airnya untuk menamatkan jenjang SD nya di Australia. Akan
tetapi, ia tak pernah lupa akan sahabatnya.
Yurika selalu mengirimkan surat-surat untuk Reina tentang pengalaman hidupnya di
Australia. Begitu pula dengan Reina.Enam
tahun telah berlalu dan kini saatnya Yurika
pulang kembali. Reina telah mendapat banyak kabar tentang keadaan Yurika di sana.
Begitu pula sebaliknya. Yurika sudah mendengar bahwa saat ini Reina duduk di kursi
roda. Ia juga sudah dengar bahwa papa Reina telah meninggal dua tahun yang lalu.

Kalau begitu, yuk, kita pergi ke taman


hiburan untuk bersenang-senang sedikit.

Yurika mengajak Reina untuk berjalanjalan di sebuah taman hiburan di tengah


kota. Reina cukup puas karena akhirnya
bisa menikmati pemandangan di luar sana.
Tiba-tiba di tengah perjalanan mereka,
sayup-sayup terdengar tangisan seorang gadis kecil. Ia terpencar dari papanya ketika
berjalan-jalan di taman. Tanpa ragu-ragu,
Yurika dan Reina menghampirinya.
Kamu kenapa? tanya Yurika.
Aku terpisah dari papaku jawab gadis
kecil itu lirih. Kemudian, Yurika dan Reina
saling bertatapan. Mereka memiliki ide
yang sama.

Tak usah khawatir. Kami akan membantumu menemukan papamu. Pasti tak jauh
dari sini, kok. Nih, kakak bawakan kamu
permen. Jangan nangis lagi, ya, kata Reina.
Sambil berjalan Yurika menceritakan berbagai hal menarik sehingga rasa takut gadis
kecil itu pun lenyap dan berubah drastis
menjadi semangat untuk terus mencari papanya. Ketika sampai di sebuah depot di
tengah taman, Nampak seorang bapak
yang kebingungan karena kehilangan
anaknya. Sempat beberapa kali ia menanyakan, Apa Anda melihat anak saya?
Maka tanpa banyak ragu-ragu, Yurika dan
Reina menghampiri beliau.
Anak Anda sudah di sini, Om, sahut
Yurika.
Papa! seru gadis kecil itu.
Kamu ke mana saja, Nak? Papa sudah
lama mencarimu!
Maaf, Pa, tadi aku ke toilet. Yurika dan
Reina pun tertawa.
Ya sudah. Terima kasih karena kalian sudah membawanya pada saya. Terima kasih,
Nak. Bapak itu sangat berterima kasih
pada Reina dan Yurika.
Iya, sama-sama, Om. Kami melakukan
apa yang kami bisa, jawab Yurika. Kemudian ia mengajak Reina untuk pulang.
3

Sesampainya di rumah, mereka langsung


tidur-tiduran di kasur dan merasa lega.
D u h , l e g a s e k a l i ! Ta p i n g o m o n g ngomong, kenapa kamu mau menolong
anak itu? Jujur saja aku nggak tertarik! sahut Yurika.
Aku hanya teringat ketika papaku menolong seorang anak kecil yang terpencar
dari orang tuanya di mall. Yurika pun terdiam.
Reina?
Iya?
Apa papamu masih belum ditemukan?
Maaf. Keduanya pun sama-sama terdiam.
Belum. Para petugas masih belum menemukan puing-puing pesawat itu, jawab Reina.
Sabar, ya, Reina. Kamu
Jangan katakan itu! Kita nggak boleh
menyerah begitu saja, kan? potong Reina.
Kamu benar. Oh, ya. Apa kamu suka membuat cerita-cerita? Ya seperti dulu kamu
suka meminjam komputer rumah sakit untuk membuat cerita, kan?
I y a . Ta p i s e k a r a n g a k u b e r u s a h a
menulisnya dengan pulpen. Aku juga ingin
berlatih menulis dengan rapi. Keduanya
pun tertawa.

Sebulan kemudian mer upakan saat di


mana Yurika dan Reina harus melangkahkan kaki mereka menuju jenjang SMP.
Ketika hari pertama, Yurika menjemput
Reina dan mengantarkannya ke sekolah.
Ketika sampai di sekolah, banyak murid
yang memandang Reina dengan sebelah
mata dan tatapan mereka tampak sangat
menghina Reina.
Sudahlah, jangan kamu pikirkan. Aku
yakin kamu pasti senang dan punya banyak
teman di sini, sahut Yurika.
Reina mengangguk dan jawabnya, Iya, terima kasih.
Bel tanda masuk berbunyi. Dua orang siswi
menghampiri Yurika dan Reina untuk mengajak mereka berkenalan. Salah seorang
dari mereka bernama Jeannie, dan satu lagi
bernama Marry. Keduanya adalah sepupu.
Saat istirahat, Yurika turun ke kantin untuk membeli makanan. Di sisi lain, segerombolan laki-laki di kelasnya menghampiri Reina. Mereka tidak senang melihat
anak cacat sepertinya.
Hei, anak lumpuh!
Selamat datang di sekolah barumu ini!
Oh, ya! Kamu sudah dengar belum kalau
sekolah ini sadis banget?

Iya, itu benar. Siapapun yang melanggar


peraturan harus push up sebanyak seratus
kali!
Iya! Uuh! Seram, bukan? Coba kamu praktekkan bagaimana push up.
Reina hanya terdiam dan menunduk tanpa
menghiraukan mereka.
Sudah, cepat, lakukan! sahut salah seorang dari mereka sambil mendorong Reina hingga jatuh ke lantai.
Jangan sok nggak berguna! Ayo, cepat bangun!
Yurika yang mendengar keributan itu segera masuk ke kelasnya.
Hei, hentikan perbuatan kalian! Reina,
kamu nggak apa-apa? katanya sambil memapah Reina kembali ke kursi rodanya.
Kalian gerombolan berandalan itu, kan?
Apa kalian masih tidak kapok saat kalian
pernah diskors? sahut Marry.
Uuh! Maaf, kakak! Kami takut! kata salah seorang dari mereka sambil melarikan
diri dengan teman-temannya.
Sudahlah, tak usah dipikirkan. Mereka memang berandalan, kata Jeannie. Reina pun
mengangguk.
Sepulang sekolah, Yurika mengantar Reina
ke rumahnya. Yurika membuatkan Reina
sup kesukaannya. Sambil menunggu sup

mendidih, Reina dan Yurika menonton televisi. Kebetulan acara saat itu mengisahkan
tentang harapan seorang gadis kecil untuk
bertemu dengan Santa Claus. Harapan gadis itu terwujud dan Santa Claus itu datang
memberikannya hadiah, sebuah boneka
rusa.
Yurika?
Iya?
Apa Santa Claus itu benar-benar ada?
Hm, aku kurang tahu. Terkadang ada orang yang memakai pakaian Santa Claus
tetapi ia bukan Santa Claus! Keduanya
pun sama-sama tertawa.
Memangnya kamu ingin apa? tanya
Yurika.
Aku ingin papaku kembali. Keduanya
sama-sama terdiam lagi.
Reina
Tidak, itu tidak benar. Kita tidak boleh
menyerah begitu saja! ucap Reina.
Iya. Semangat, ya, Reina. Reina pun
tersenyum tipis sambil mengangguk.
Waktu terus bergulir dan malam natal pun
tiba. Seperti janjinya, Yurika menjemput
Reina untuk berjalan-jalan mengelilingi
kota. Keduanya sama-sama bersiap-siap.
Yurika menghampiri rumah Reina tepat
pada pukul enam sore.
5

Kau siap? sahut Yurika.


Iya! jawab Reina dengan semangat. Kalau begitu, ayo kita pergi! Yurika pun mulai mendorong kursi roda Reina dan mulai
berjalan. Sambil berjalan-jalan, Yurika membeli kue kering dan teh untuknya dan tentunya juga untuk sahabatnya. Lama hingga
kira-kira pukul sepuluh mereka berjalan pulang. Di tengah perjalanan, tiba- tiba
mereka melihat Santa Claus yang sedang
memberikan hadiah untuk seorang anak kecil.
Kau mau ke sana? tanya Yurika.
Reina pun menggeleng, jawabnya, Tidak
usah. Ayo kita pulang.
Baiklah.
Maka Yurika mengantarkan Reina pulang
ke rumahnya. Malam natal itu menjadi malam yang sangat berharga bagi kedua sahabat ini. Yurika sangat semangat untuk
membawa Reina berjalan-jalan. Ia berharap
dengan begitu ia bisa menghibur Reina sehingga Reina memiliki harapan untuk sembuh. Tapi perkiraannya salah. Penyakit Reina tak kunjung sembuh meski sudah menjalani kemoterapi dan makin memburuk di
tiap harinya.
Akan tetapi dalam menjalani semua itu, tiada hentinya Yurika menyemangati sahabatnya itu. Sehingga muncul cahaya harapan di hati kecil Reina untuk terus ber-

harap akan kesembuhannya. Meskipun sulit dalam menghadapi kehidupannya ketika


di sekolah, Reina tak pernah menyerah. Ia
terus melanjutkan karya-karya ceritanya
itu. Bahkan ia pergi ke gereja bersama
Yurika untuk berdoa pada Tuhan.
Menjelang malam tahun baru, Yurika membuatkan Reina bola-bola cokelat, karena ia
tahu Reina sangat suka bola-bola cokelat.
Ia bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.
Tiba-tiba ketika ia akan berangkat, telepon
rumahnya berdering. Ia pun mengangkatnya. Ketika mengangkat telepon terdengar
suara grasa-grusu yang tidak jelas.
Halo? ucap Yurika sekali lagi.
Di saat itu juga, samar-samar terdengar
suara tangisan seseorang. Ternyata itu adalah mama Reina.
Yurika? Yurika, tolong cepatlah ke rumah
sakit sekarang juga! Cepat! Telepon tertutup seketika. Sebersit ra sa khawatir
menghampiri hati kecil Yurika. Dengan cepat ia melangkahkan kakinya dan berlari
menuju ke rumah sakit untuk mengunjungi
Reina.
Ketika sampai di ruang perawatan Reina,
Yurika sudah tidak lagi menemukan Reina
yang biasa duduk di kasurnya. Ia hanya dapat melihat kasur Reina yang ditutup dengan kain putih. Di sana juga ada Marry dan
Jeannie, serta tentunya mama Reina. Se6

muanya tampak menangis sambil membekap mulut mereka.


Apa yang terjadi? tanya Yurika. Tak ada
yang sanggup menjawab pertanyaannya.
Maka, sekali lagi ia bertanya, Apa yang terjadi? Tolong jelaskan padaku!
Reina Reina sudah tiada, jawab Jeannie.
Apa maksudmu? Tolong jangan bicara begitu! seru Yurika.
Itu benar, Yurika. Reina sudah pergi. Dan
ia ingin memberikan ini padamu, ucap
mama Reina sambil menyerahkan sepucuk
kertas kuning yang dihias dengan indah
dan rapi. Yurika meraih kertas itu dan
membukanya. Ternyata benar. Itu adalah
surat tulisan tangan Reina. Dibacanya surat itu kata demi kata.
Dear my lovely Yurika,
Terima kasih karena kamu telah mau menjadi sahabatku hingga kini. Terima kasih
karena kamu sudah mau menjagaku yang
sangat merepotkan ini. Maaf, karena aku
hanya bisa menyampaikan rasa syukurku
padamu melalui surat ini dan tak bisa
berada di sampingmu. Semalam aku bermimpi aku bertemu dengan papa di surga
bersama Tuhan. Aku pun menyadari,
bahwa harapan yang selama ini kuimpikan
akhirnya terwujud. Kamu benar, Yurika. Tuhan itu adil. Akan tetapi, aku harus pergi
sekarang. Meskipun aku telah tiada, bu-

kan berarti harapanku mati besertaku,


karena kamulah yang menciptakan api
harapan itu di dalam hatiku. Terima kasih,
Yurika. Kamu adalah sahabatku, kini, dan
selalu!
From your best friend,
Reina.
Berderai air mata membasahi kedua belah
pipi Yurika. Ia tak menyangka bahwa Reina masih akan menulis surat itu padanya
yang tak sanggup berbuat apapun kecuali
menyemangatinya. Yurika tak bisa menahan tangisnya, meskipun mama Reina,
Marry, dan Jane telah berusaha menenangkannya. Begitu suatu beban yang berat baginya untuk melepas kepergian sahabatnya,
Reina.
Malam itu menjadi malam tahun baru dengan dukacita bagi keluarga Reina dan
teman-temannya. Akan tetapi, malam itu
merupakan malam di mana harapan Reina
telah terwujud. Meskipun persahabatan
mereka singkat, tetapi Yurika telah memberi harapan yang berarti bagi Reina.
-TAMAT-

TIMES

Teman adalah orang yang bisa mendengarkan keluh kesah


kita di setiap saat. Selain orang tua, teman pun dapat membantu kita ketika kita menghadapi kesulitan. Akan tetapi, di
tengah dunia yang ter us mengalami perkembangan
teknologi ini, apakah arti pertemanan sama dengan yang
kita ketahui dulu? Apakah teman selalu setia dan mau membantu kita kapanpun juga? Semoga kisah ini dapat memotivasi Anda apa arti teman dan sahabat yang sesungguhnya....
Di sebuah jalan raya yang luas, nampak seorang gadis kecil
sedang menjual kue-kue keringnya. Ia menyunggi sebuah
tampah berisikan kue-kue. Namanya Nina. Ia sebatang
kara. Orangtuanya meninggal sejak ia berusia 10 tahun. Di
usianya yang sangat muda ia harus mencukupi kebutuhannya sendiri dengan bekerja. Dan tentu saja, karena bekerja
di sekitar jalan raya, ia tak luput menyaksikan maupun mengalami berbagai macam kecelakaan. Ia sempat ditabrak oleh
sepeda motor sampai kakinya luka parah.
Tak apa, yang penting aku masih bisa mencukupi hidup
dengan jualanku ini. Aku takkan menyia-nyiakannya selama

masih ada harapan, begitu jawab Nina


ketika orang-orang bertanya kepadanya.

dengan cepat dan sudah tak nampak dalam


beberapa detik saja.

Suatu hari ketika sedang berjualan, sebuah


mobil BMW hitam mengkilap melaju dengan cepat dan menerjang genangan air yang
tepat berada di sebelah Nina. Baju Nina
pun basah.

Senja telah tiba. Warna merah darah mewarnai langit sore dengan begitu indah.
Nina duduk di sebuah halte bus sambil meneguk air mineral yang barusan saja dibelinya.

Oh, tidak. Padahal ini satu-satunya baju


yang kupunya hari ini, ucapnya.

Ah, segar sekali! Syukurlah aku bisa membeli segelas saja air putih, ucapnya.

Mobil itu pun berhenti. Seorang gadis yang


berusia dengan Nina keluar dari mobil tersebut sambil berlari menghampiri Nina.

Ketika sedang duduk, lagi-lagi sebuah mobil BMW hitam melaju di depannya. Ya, benar sekali. Itu adalah mobil yang Nina temui tadi pagi. Gadis kecil tadi pagi itu pun
turut keluar.

Kau tak apa-apa? Maaf, maaf sekali. Aku


sangat terburu-buru, ucap gadis itu.
Ah, tak apa-apa. Baju ini memang sudah
kotor dari awal.
Oh, kau berjualan kue, ya? Bolehkah aku
membeli kuemu? Kebetulan sekali aku belum sarapan.
Oh, tentu saja, silakan.
Gadis kecil itu membeli tiga bungkus kue
yang dijual Nina dan langsung menyerahkan uang.
Terima kasih. Maaf, kembalinya
Tak usah. Nanti saja kembaliannya. Maaf,
aku sedang terburu-buru! Sampai jumpa!
potong gadis kecil itu tanpa menerima
ke m b a l i a n n y a . Mo b i l B M W y a n g d itumpangi gadis kecil itu pun segera melaju
9

Hei, kau. Apa yang kau lakukan di sini?


Apakah kau tak pulang? tanyanya sambil
berjalan menghampiri Nina.
Ah, aku masih berjualan. Oh, ya, kembalian yang tadi pagi ucap Nina sambil
meraba-raba kantungnya.
Maaf, ya. Aku tak seharusnya pergi tanpa
menerima uang kembalian darimu balas
gadis kecil itu yang merasa bersalah.
Tak apa-apa. Sekarang, terimalah.
Gadis kecil itu mengulurkan tangannya
dan menerima uang kembaliannya.
Ngomong-ngomong kenapa kau berjualan sampai sore hari begini? Memangnya di

mana orangtuamu? Di mana kau tinggal?


tanyanya.
Nina membisu dan tak sanggup menceritakan bahwa orangtuanya telah meninggal.
M maaf, aku begitu lancang ucap gadis kecil itu.
Tak apa, tak usah dipikirkan. Aku mem a n g s u d a h ke h i l a n g a n o r a n g t u a k u .
Mereka meninggal saat kecelakaan pesawat, dua tahun yang lalu.
Maaf. Aku tak bermaksud untuk
Ta k a p a . Me m a n g ke n y a t a a n n y a d emikian, kan? Aku memang cukup kesulitan, kok, dalam menghadapi hidupku. Tapi
selama ada harapan, kita tak boleh menyerah, kan? ucap Nina sambil kembali melempar senyumnya.

Aku Mia. Salam kenal juga, jawab gadis


kecil yang bernama Mia itu sambil melemparkan senyumannya.
Eh, Nina?
Iya?
Maukah kau ikut denganmu ke sebuah
tempat?
Nina bingung akan pertanyaan Mia.
Ke mana?
Kau tak perlu khawatir. Pokonya ikut saja
denganku. Tenang saja. Kalau kau memang
ingin kembali ke sini, aku akan mengantarmu kembali.
Nina masih merasa ragu-ragu akan jawabannya. Ia masih bingung apakah akan ikut
atau tidak.

Kata-kata Nina menggetarkan hati gadis


itu. Kenapa Nina begitu tegar dalam
menghadapi situasi hidupnya yang tidak
memungkinkan itu? Itulah yang menjadi
saat pertama baginya di mana ia disentuh
oleh semangat hati Nina yang berjuang
keras mempertahankan hidupnya.

Baiklah!, ucap Nina, Aku akan ikut denganmu!

Kedua dari mereka terdiam dan merenung


selama beberapa saat.

Nina menjabat tangan Mia, dan itulah yang


menjadi saat pertama pertemuannya dengan Mia. Mia membantu Nina yang kesulitan berjalan karena luka di kakinya dan
membantunya masuk ke mobil. Mobil itu
berjalan dalam waktu beberapa menit dan

Namamu siapa? sahut gadis kecil itu.


Namaku Nina. Salam kenal. Bagaimana
denganmu?
10

Mia pun tersenyum senang.


Oke. Sekarang kau masuklah ke dalam mobilku. ucap Mia sambil mengulurkan tangannya.

akhirnya sampai di sebuah rumah. Nina


terkejut ketika melihat betapan besarnya
rumah itu. Baginya, rumah itu bak sebuah
istana.
Eh, Mia? Ini di mana? Apakah aku sedang
bermimpi, ya? Ini istana, kan? tanya Nina.
Mia pun tertawa terbahak-bahak.
Apa yang kau katakan? Kurasa kau salah
paham. Ini rumahku, jawab Mia.
Nina masih menganga lebar dan memerhatikan setiap sudut r umah mewah itu.
Ketika sampai, Mia kembali membantu
Nina turun dari mobil. Ia menggiring Nina
masuk ke rumahnya.
Ma, aku pulang! seru Mia.
Nah, Nina, sekarang kau pergilah ke kamar mandi dan gantilah pakaianmu dulu.
Pakailah ini. Sebagai ganti karena telah
merusak dan mengotori pakaianmu. Cepat, cepat, pinta Mia.
Nina pun segera masuk ke kamar mandi
yang letaknya tak jauh dari tempat ia berdiri.
Wah, putri mama yang satu ini sudah pulang, ya? Kok sore sekali? tanya Mama
Mia.
Ah, iya. Maaf, Ma. Tadi ada tugas di sekolah yang harus kuselesaikan.

11

Oh, begitu, ya? Baiklah, segeralah masuk.


Mama sudah buatkan sup kesukaanmu.
Benarkah, Ma? Terima kasih, Ma! Oh, ya!
Mia lupa. Mia mau memperkenalkan teman Mia kepada mama!
Temanmu? Siapa? Mama Mia tampak kebingungan mencari yang mana teman yang
dimaksud Mia. Tak lama kemudian, Mia
pun keluar dari kamar mandi. Ia terkejut
begitu melihat ada mama Mia di sana.
Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung menyapa Beliau.
Selamat sore, Tante. Saya Nina, teman
Mia.
Mama Mia terkejut ketika melihat Nina,
yang bersikap sangat sopan terhadapnya.
Iya, selamat sore. Mia, kenapa kau tidak
buatkan the untuk Nina? Bawalah dia
masuk saja, ucap Mama Mia.
Benar juga. Ayo, masuk, Nina. Kubuatkan
the untukmu, sahut Mia.
Mia menggiring Nina masuk ke kamarnya.
Kau tunggu di sini, ya? ucapnya.
Mia meninggalkan Nina di kamarnya selagi ia berbincang-bincang dengan mamanya di luar. Sementara Nina di dalam, ia
menolah-noleh ke kiri dan kanannya. Ia tercengang ketika melihat betapa banyaknya
cenderamata dari mancanegara yang dik-

oleksi Mia. Tak lama kemudian, Mia pun


kembali sambil membawa secangkir teh.

yang gigih terus dan terus dan tak pernah


berputus asa dalam belajar.

Silakan minum dulu, Nina.

Eh, Nina. Apa yang sebenarnya membuatmu giat sekali belajar? tanya Mia ketika
sedang istirahat.

Terima kasih, Mia. Nina pun mulai meneguk tehnya. DI saat itu, Mia pun memulai pembicaraan.
Nina, sebenarnya aku sudah cerita tentangmu kepada mama. Aku memutuskan
untuk mengadopsimu di keluarga ini.
Kamu mau, kan, jadi saudaraku?
Nina terdiam mendadak. Ia tak dapat
berkata apapun. Sebersit rasa bersalah pun
muncul dari dalam hatinya.
Maaf, Mia, tapi
Aku mengerti jawabanmu. Tapi apakah
kau benar-benar tak mau menjadi anggota
keluarga ini? Kumohon, Nina. Kalau kau
menolak permintaanku, berarti kau tak
mau menjadi temanku.
Ni n a p u n t e r d i a m d a n b e r p i k i r
sejenak.Beberapa saat kemudian, ia pun
menjawab, Baiklah, Mia, asalkan kau tak
keberatan.
Mia tersenyum lega. Terima kasih, Nina,
ucapnya dengan senang.
Pada akhirnya, Nina pun diadopsi menjadi
anggota keluarga Mia. Kini Nina sudah
bisa kembali bersekolah, belajar, dan
memiliki teman. Ia dengan semangatnya
12

Tak ada apa-apa. Aku hanya mensyukuri


apa yang telah kau berikan dan tak mau
menyia-nyiakannya. Ini bentuk ucapan syukurku padamu karena telah bersedia menjadi sahabat sekaligus saudaraku, jawab
Nina panjang lebar sambil melemparkan
senyumannya.
Kedua gadis kecil itu bertambah akrab.
Mereka sering saling tolong-menolong
mengerjaka PR bersama. Akan tetapil, di
suatu hari, Nina mendadak pingsan saat
berolahraga. Setelah didiagnosa, ia mengidap penyakit liver. Keluarga Mia pun segera mencarikan donor untuk Nina. Akan
tetapi, mereka tidak bisa.
Mia?
Apa?
Apakah aku akan segera mati?
Mia begitu terkejut. Hatinya begitu terluka.
Apa yang kau katakan?! Kau pasti sembuh!
Jangan sembarangan bicara begitu, Nina!
seru Mia.
Aku takut operasi

Tak apa. Kau pasti bisa menjalaninya. Aku


akan menemanimu, Nina.

Nak. ucap mama Mia sambil berusaha


menahan tangisnya.

Nina pun tersenyum senang. Dan dengan


dorongan dari Mia, Nina pun dapat menjalani operasi dengan sukses. Dua minggu
kemudian, Nina sudah sadarkan diri. Ia menengok kanan-kiri, tapi tak menemukan
Mia. Yang ada hanyalah mamanya.

Tak mungkin. Tak mungkin, Ma! seru


Nina membantah.

Nina? Nak, syukurlah, kau bisa siuman!


Terima kasih, Tuhan! ucap Beliau sambil
memeluk Nina.
Ma? Di mana Mia?
Mama Mia langsung terkejut dan membisu. Ia tampak menyembunyikan sesuatu
dan tak sanggup mengatakannya.
Ma? Ada apa? tanya Nina sekali lagi.
Nina, dengar, Nak. Sebenarnya yang
menjadi donor untuk penyakitmu adalah
Mia. Setetes air mata menetes di pipi
mama Mia.
Apa maksud mama? tanya Mia. Ia sangat
terkejut. Jantungnya hampir berhenti. Kemudian mamanya memberikan selembar
kertas pernyataan donor. Nina pun membacanya.
Kami tak dapat menemukan donor yang
cocok untukmu. Tapi begitu kami tahu kalau hanya Mia yang bisa manjadi donor,
Mia langsung memaksa mama untuk melakukan operasi. Ia sangat menyayangimu,
13

Mama Mia lagi-lagi mengeluarkan selembar kertas putih, katanya, Ini surat dari
Mia. Kaulah yang layak membacanya,
Nak.
Nina pun segera membuka kertas itu
seraya membacanya.
Hai, selamat pagi, Nina! Kalau kau membaca surat ini, artinya kau sudah siuman!
Syukurlah, aku senang sekali. Maaf aku tak
memberitahumu sebelumnya kalau akulah
yang menjadi donormu. Tapi jangan khawatir. Aku yakin kau masih bisa menjalani
hari-harimu dengan penuh semangat. Jadilah Nina yang dulu. Jadilah Nina yang gigih
dan pantang menyerah. Aku ingin kau
terus hidup. Maka dari itu, aku memberikan donor ini kepadamu. Terima kasih
karena telah mengingatkanku akan betapa
pentingnya waktu dalam menjalani kehidupan ini. Aku menyayangimu, Nina. Kau
adalah sahabat sekaligus saudara yang paling kusayangi.
A big, big, love, Mia.
Tangis Nina menderas begitu membaca surat itu. Ia tak mampu membendung tangisannya yang meluap begitu besar.

Terima kasih, Mia. Kau telah memberiku


hidup yang baru dan bersedia menopangku
yang lemah ini. Aku bersyukur telah
memiliki sahabat dan saudara sepertimu.
Terima kasih, Mia
Mama Mia berusaha menenangkan Nina.
Ia mengelus-elus Nina dengan lembut
seraya memeluknya.
Sahabat adalah seseorang yang rela memberikan nyawanya demi sahabatnya
-TAMAT-

14

3
Kebahagiaan
Yang Selama
Ini Kucari

Eh si gendut dateng.
Hai gendut.
Ih jerawatnya tambah banyak deh.
Beginilah sarapanku setiap pagi. Kalimat ejekan seperti itu
sudah sering ku dengar setiap pagi, hingga rasanya hatiku sudah terlalu kebal untuk merasa sakit hati karena ejekanejekan tersebut.
Aku berjalan melewati mereka, menatap lurus ke depan, seolah tidak ada siapa-siapa di lorong sekolah. Mereka sesekali
menarik lengan kemejaku, namun aku tidak mengacuhkannya.
Songong banget sih. Ntar jerawatnya nambah lima loh,
kata salah satu siswi, yang diikuti tawa membahana temantemannya. Aku menghentikan langkah. Kuhembuskan napas panjang-panjang, mengatakan pada diri sendiri untuk
tetap sabar. Beberapa detik kemudian aku kembali melangkahkan kedua kaki menuju kelas, kurasa berada di dalam kelas akan jauh lebih menyenangkan.

15

Langkahku terhenti tepat di depan pintu.


Dahiku mengernyit ketika menangkap segerombolan cowok-cowok yang sedang
menari-nari seolah-olah mereka berada di
club. Aku menggeleng-gelengkan kepala,
tak habis pikir apa yang sebenarnya
mereka perbuat.

Kamu pake kawat? Wah, giginya Princess


Kodok kinclong dong! Gigi kinclong gigi
kinclong! seru Alex semangat.

Dasar sinting, batinku.

Berbagai macam ejekan lain terlontar dari


mulut seisi teman sekelasku, namun aku tidak teralu jelas mendengarnya. Aku menutup telinga rapat-rapat, tidak ingin mendengar lebih banyak ejekan lagi. Aku tidak tau
siapa yang memulainya, namun ketika aku
membuka mata, botol air mineral sukses
mendarat di kepalaku. Berbagai macam
sampah lain ikut mendarat di sekitar mejaku, membuatku sempat berpikir apa sebenarnya alasan mereka membuang sampahnya kepadaku.

Aku duduk di tempat dudukku, lalu menonton kelakuan cowok-cowok kelasku


yang sedang mengangkat tangan tinggit i n g g i , ke d u a k a k i m e r e k a s e s e k a l i
meloncat-loncat. Tiba-tiba, Alexmurid
paling usil di kelaskumembuka celana salah satu temanku, membuat pandanganku
secara tidak langsung menangkap warna
pakaian dalam yang ia kenakan.
Seisi kelas tertawa, begitu juga dengan aku.
Tawaku meledak, sampai-sampai aku tidak
sadar bahwa suara tertawaku terlalu besar.
Alex berjalan mendekatiku, membuatku refleks menutup mulutku dengan tangan.
Aku menatapnya kentar kentir, menyiapkan mental untuk mendengar caci maki
dari dirinya, seperti yang biasa semua orang lakukan padaku.
Alex melepaskan tanganku dari mulutku
secara paksa, lalu membuka mulutku dengan kasar. Aku mengaduh dan berusaha menepis tangannya yang keras, gigiku terasa
seperti ada yang menekan-nekan.
16

Princess pake kawat? Emangnya gigi


kamu kenapa? Tongos ya? Hahaha!
Gigi kinclong! Gigi kelinci!

Kamu itu emang cocok buat jadi sampah!


seru Finabintang kelasku.
Aku menutup telinga dan memejamkan
mata lebih rapat. Beberapa detik kemudian Pak Hendraguru Sosiologimemukul papan tulis dengan penghapus berulang
kali, meminta seisi kelas untuk diam. Aku
menghembuskan napas lega, setidaknya
Pak Hendra berhasil membuat perhatian
seisi kelas yang tertuju padaku buyar.
Perlahan-lahan, aku menurunkan kedua
tanganku, tidak lagi menutup telinga. Kepa-

laku lantas menunduk, lalu mendapati sepucuk surat dengan tulisan:

yang paling utama, semua ini berawal dari


keinginanku untuk menjadi sempurna.

Makanya, kalau punya gigi jelek, jangan


senyum. Apa lagi ketawa. Gigi kinclong!

Sem-pur-na.

Aku kembali menghembuskan napa s


panjang-panjang. Beginikah rasanya jadi orang yang tidak cantik, yang tidak langsing,
dan yang tidak mempunyai muka yang mulus? Pertanyaan itu kubiarkan mengambang di udara, aku tidak memerlukan jawabannya karena kurasa aku sudah tau jawabannya.
Perlu kau ketahui, sejak saat itu, hal yang
paling kutakutkan di dunia ini adalah, takut untuk tertawa.
***

Sempurna.
Pernahkah kau berharap menjadi seorang
yang sempurna? Pernahkah di suatu malam
kau merenung, lalu memikirkan bagaimana
cara menjadi seseorang yang sempurna?
Atau pernahkah kau berusaha memaksa
mengubah dirimu untuk menjadi sempurna?
Semua ini berawal dari rasa tidak puas
akan diriku sendiri. Semua berawal dari
rasa minder yang merasuki jiwaku. Dan
17

Satu kata. Beribu-ribu maknanya.


Kedua mataku menatap kosong ke depan.
Jari-jari tanganku tanpa sadar memainkan
sendok dan garpu diatas piring, membuat
sebagian dari makan malamku berceceran
kemana-mana. Sepuluh menit telah berlalu,
namun nasi dan ayam gorengku sama
sekali belum kusentuh. Perasaanku begitu
campur aduk, hingga untuk makan saja rasanya aku tidak sanggup.
Princess, kok makanannya ng gak dimakan? Giginya ma sih sakit? Tanya
Ayahku tiba-tiba, membuatku sedikit
terkejut. Aku menatap kedua matanya beberapa detik, yang ditatap balik menatapku lembut.
Ayah menaruh sendok garpunya diatas piring, menghentikan memasukkan makanan
ke dalam mulutnya. Ia melipat tangan di depan dada, lalu kembali menatapku, seolah
dengan menatapku dengan begitu ia dapat
membaca seluruh isi pikiranku.
Giginya masih sakit? tanyanya sekali lagi,
mimik wajahnya mengharapkan sebuah
jawaban yang terlontar dari mulutku.
Tiba-tiba saja, kejadian pagi itu kembali terputar di benakkutanpa permisi. Ke-

jadian yang berhasil membuat moodku jatuh ke titik nol. Aku membanting sendok
garpuku, membuat ayah refleks memundurkan kepalanya.
Aku memberanikan diri untuk menatap kedua mata ayah, tidak mempedulikan air
mata yang sudah berada di ujung mata.
Aku capek jadi orang jelek, Pa. Aku capek
diremehin sama semua orang. Aku capek.
Aku pengen jadi cantik, jadi orang jelek itu
nggak enak.
Ayah mengerutkan kening, berbagai macam ekspresi tersirat di wajahnya. Aku melanjutkan, Pa. aku butuh sosok seorang
ibu. Aku butuh seorang ibu yang bisa ngasih tau aku, gimana cara jadi cantik. Gimana jadi cewek.
Princess
Aku cepat-cepat memotong, kenapa sih
dulu papa lebih memilih menyelamatkan
aku dari pada mama? Kenapa papa nggak
biarin aku mati aja? Percuma pa aku hidup.
Percuma aku hidup kalau cuman buat jadi
orang jelek yang akan selalu diremehin
sama semua orang.
Kedua air mataku mengalir dengan sendirinya, tanpa bisa kucegah. Tanpa babibu, aku
langsung menyekanya dengan punggung
t a n g a n . Ay a h m e m b a t u d i t e m p a t
duduknya, seolah tidak percaya kalimat-

18

kalimat barusan bisa terlontar dari mulutku.


Ayah bangkit berdiri, mendorong kursinya
ke belakang, lalu berjalan meninggalkanku
menuju kamar. Aku menatap punggungnya
hingga hilang di balik pilar, lalu menangis
sejadi-jadinya.
Apa aku salah, ingin menjadi seorang yang
sempurna?
Apa aku salah, ingin menjadi orang yang
cantik?
Atau jangan-jangan, aku memang diciptakan untuk tidak boleh merasakan kebahagiaan?
Namaku Princess. Jangan membayangkan
aku dengan perawakan tubuh yang langsing
dan paras yang cantik, karena aku jauh dari
itu. Aku hanyalah wanita biasa, wajahku
berjewat, aku bertubuh tambun, dan seolah ketidaksempurnaan itu belum cukup,
aku juga pendek. Namun, aku adalah
wanita biasa. Aku wanita biasa yang ingin
merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang yang sempurna. Seorang yang cantik.
Kata orang, ada seribu jalan menuju Roma.
Untuk menjadi sempurna pun sama, ada seribu jalan untuk mencapainya. Ya, benar.
Aku pasti bisa menjadi sempurna. Dengan
menjadi sempurna, aku pasti bahagia.
Pasti.

***
Aku mematut diri di depan cermin, mendapati sosok gadis gendut-berjerawat-acakacakan disana. Tanganku terangkat, lalu
memindahkan jari-jariku dari sisi dahi
hingga dagu. Pandanganku lantas teralih ke
bentuk tubuhku, yang melebihi batas berat
badan yang seharusnya ku miliki.
Kuhembuskan napas panjang-panjang, berharap dengan menghembuskan napas
sebanyak-banyaknya bisa mengubah apa
yang ada di dalam diriku. Tanpa sadar, kedua kakiku melangkah keluar dari kamar,
berjalan secara perlahan menuju jalan raya
yang tepat berada di depan rumahku.
Aku tidak tau ini jam berapa, namun aku
yakin jam-jam seginilah orang-orang memulai aktivitas paginya. Jalan raya di depanku
mulai dipenuhi berbagai macam kendaraan, aku memandangi pemandangan kemacetan itu dengan pandangan kosong. Kedua kakiku berjalan dengan mantap
menuju jalan raya, membuat para pengemudi mobil membunyikan klakson keraskeras.
Kedua air mataku mulai jatuh, aku mengabaikan bunyi klakson yang semakin
bertubi-tubi. Aku tidak peduli. Lebih baik
aku mati saja. Aku ingin bertemu mama.
Aku ingin berkata padanya bahwa hidup di
dunia tidak enak. Aku ingin memeluknya.

Ngapain disitu? Mau mati, dek? Tanya


sang pengemudi motor, lalu pergi meninggalkanku. Aku menatapnya sekilas, lalu
menatap ke pengemudi-pengemudi mobil
yang sedang menatapku dengan pandangan
aneh.
Aku berkata, tabrak aja. Biarin aku mati.
Beberapa detik kemudian, aku mendengar
suara ayah yang berteriak dari perkarangan
rumah. Aku mengabaikan suaranya, lalu
mendekatkan diri dengan mobil yang
berada tepat di depanku. Samar-samar, aku
mendengar langkah kaki ayah yang sedang
berlari. Sejurus kemudian aku merasakan
tangan ayah merangkul bahuku, lalu membawaku menepi di jalan raya.
Aku menangis di dalam pelukannya, sesekali memukul dadanya dengan kekuatan
keras. Dia membiarkanku tenggelam di dalam dekapannya, tangannya mengelusngelus kepalaku dengan kasih sayang.
Pa, Princess mau mati aja. Princess mau
ketemu mama, kataku di tengah isakannya.
Ayah berkata, Semua ada waktunya, Princess. Mama pasti juga nggak akan suka melihat kamu begini.
***
Siang, kak.
Selamat siang kak!

19

Hallo kak!
Aku memandangi anak-anak berusia enam
tahun hingga sepuluh tahun itu bergantian,
lalu tersenyum. Ayah yang membawaku ke
panti asuhan ini, entah apa alasan dan tujuannya. Pandanganku menyapu ke sekeliling, mendapati pemandangan yang tak
sedap untuk dilihat. Tembok panti ini retak dan berdebu, aku juga dapat merasakan
lantai aspalnya yang kotor. Sungguh berbanding terbalik dengan rumahku.
Dulu, ayah sempet mau taruh kamu disini, kata Ayahku tiba-tiba, membuatku
menelan ludah dengan susah payah. Papa
sempat menyerah mengurus kamu tanpa
mama. Papa merasa tidak sanggup. Aku
m e n a t a p ke d u a m a t a a y a h y a n g k i n i
berkaca-kaca. Mendadak saja, ada sesuatu
di dalam dadaku yang terasa begitu sakit
melihat ayah begini.
Tapi, papa membatalkan niat untuk menaruh kamu di panti ini. Bagaimanapun juga,
kamu harus punya masa depan. Itu yang
papa pikirkan saat itu. Ayah memutar badannya membelakangiku, lalu bertanya,
Mau tau nggak, kenapa papa kasih nama
kamu Princess?
Aku menjawab, Papa pasti berharap aku
bertumbuh menjadi seorang princess yang
cantik, yang kulitnya mulus, terus kurus
dan langsing. Ya kan?
20

Ayah menunduk, lalu menggelengkan kepalanya. Ia berbalik untuk menatapku lagi,


tatapannya begitu lembut hingga aku tak
sanggup untuk menatapnya lebih lama.
Dia menenggelamkan kedua tangannya di
dalam saku jas, lalu berkata, ayah juga
nggak pernah merasakan gimana rasanya
mempunyai seorang ibu. Papa cuman
hidup sama papanya papa dari kecil. Maka
dari itu, mama kamu adalah wanita pertama yang membuat papa jatuh cinta.
Dan kamu, adalah wanita kedua yang buat
papa jatuh cinta. Ini alasan papa kenapa
memberi nama Princess untukmu. Mungkin ketika kamu besar nanti, kamu akan
bertemu dengan pangeran sejatimu. Tapi
buat papa, youll always be my princess,
and Ill always be your king.
Aku tertegun, tidak menyangka bahwa itu
adalah alasan ayah memberiku nama Princess. Ketika aku baru saja mau berbicara,
seorang gadis berusia sekitar 9 tahun
menarik tanganku, seolah mengajakku bermain.
Aku mengikuti gadis tersebut menuju kamarnya, awalnya sempat bingung apa sebenarnya yang mau ia tunjukkan. Ia menunjukkan ku sebuah boneka domba, bulubulunya menghitam mungkin karena debu.
Kakak mau boneka ini, nggak? tanyanya
dengan mimik wajah yang sangat polos.

Aku baru saja mau tersenyum ketika tibatiba aku teringat bahwa kalau aku
tersenyum, kawatku akan memantulkan sinar yang begitu terang hingga anak ini
pasti akan tertawa. Aku menggelengkan kepala.

yaanku, iya juga sih. Tapi, kalau aku cantik, pasti yang berteman sama aku cuman
mau untungnya aja. Mending jadi orang biasa kak, seenggaknya dengan jadi orang biasa, aku bisa punya teman yang tulus,
jawabnya.

Nama kamu, siapa? tanyaku.

Aku menelan ludah, mengiyakan jawabannya. Sebenarnya aku merasa malu, karena
anak kecil satu ini bahkan bisa lebih dewasa dariku. Perlahan-lahan, keinginanku
untuk menjadi cantik mulai memudar, entah mengapa.

Gadis lucu itu menjawab, Ayu, kak.


Aku mengangguk-anggukkan kepala. Kalau Ayu boleh minta satu permintaan, Ayu
mau minta apa?
Dia menjawab, aku pengen sekolah, kak.
Dahiku mengernyit ketika mendengar jawabannya. Pengen sekolah? Nggak pengen
punya papa mama aja?
Ayu menaruh telunjuknya di dagu, seolah
sedang berpikir. Nggak. Kan udah ada Bu
Panti. Dia sayang kok sama aku.
Aku kembali bertanya, Ayu pengen nggak
jadi cantik?
Dia tertawa terbahak-bahak, membuatku
bingung. Buat apa jadi cantik? Jadi cantik
nggak bisa buat aku seneng, kak. Mending
sekolah, dapet temen banyak.
Tapi kan, kalau kamu cantik, kamu pasti
punya banyak teman? tanyaku.
Raut wajah Ayu terlihat sedang berpikir
keras. Butuh beberapa detik untuknya berpikir, sebelum akhirnya menjawab pertan21

Pandanganku lantas teralih ke sosok


ayahku yang tengah berdiri di ambang
p i n t u . A k u b e r d i r i , l a l u b e r j a l a n ke
arahnya. Aku memeluknya begitu erat, takut jika aku melonggarkan pelukanku sedikit saja, ayah akan hilang begitu saja.
Maaf, Pa, kataku dengan suara terisak.
Bukannya Princess nggak sayang sama
papa. Princess cuman capek, Pa. Princess
capek diremehin semua orang gara-gara
Princess jelek. Princess pengen jadi cewek
cantik yang sempurna, yang dipandang
sama semua orang. Princess capek nangis
terus tiap malem. Princess pengen sekali
aja, bahagia.
Ayah menepuk-nepuk punggungku. cantik
bukan dilihat dari fisik aja, nak. Cantik di
dalam, jauh lebih mahal harganya disband-

ing cantik secara fisik. Kamu harus tau


itu.
Aku melepaskan pelukanku, lalu
menghapus kedua air mataku. Emang,
papa nggak pernah malu gitu punya anak
jelek kayak aku?
Ayah memencet hidungku. Malu sih. Tapi
mau gimana lagi, orang anak ayah memang
jelek. Mau gimana? katanya lalu tertawa.
Aku cemberut. Papaa!
Ayah mengacak-acak rambutku, udah ah
jangan nangis. Muka kamu kayak monyet
tuh, coba tanya Ayu. Ya nggak, Ayu? Kak
Princess jelek banget kan kalo lagi nangis?
Ayu menganggukkan kepalanya, membuatku tak mau tak bisa menahan senyum.
Ayah tiba-tiba menggelitiki perutku, membuatku berteriak hingga semua penghuni
panti menghampiri kamar Ayu.
Sebagian anak panti ikut menggelitikiku,
membuatku tertawa dan berteriak di saat
yang sama.
Hari ini aku sadar, bahwa untuk menjadi
sempurna, tidaklah harus secara fisik. Untuk menjadi sempurna, tidaklah harus
mempunyai keluarga yang lengkap. Kau cukup bersyukur dengan apa yang kau punya,
itu sudah sempurna.
Aku juga belajar bahwa untuk bahagia, kau
tidak harus mencarinya. Kebahagiaan itu
22

datang sendirinya. Kebahagiaan itu ada di


sekelilingmu. Mungkin kebahagiaanmu adalah mempunyai pacar yang begitu perhatian, atau teman yang tak akan pernah lelah meninggalkanmu. Kalau kau tanya keb a h a g i a a n k u , ke b a h a g i a a n k u a d a l a h
memiliki seorang ayah yang tak akan pernah meninggalkanku.
Persetan dengan wajahku. Persetan dengan
berat badanku. Satu-satunya yang kupedulikan saat ini adalah, menjaga ayah. Membuatnya bangga terhadapku. Membuatnya
senang hidup bersamaku.
Namaku Princess. Hari ini, aku telah menemukan kebahagiaanku. Bagaimana dengan
kamu?
-TAMAT-

4
Rotasi
Perubahan

Matahari pagi sebentar lagi akan terbit. Semburat oranye


mewarnai langit bagian ufuk timur, membaur dengan biru
gelap yang belum sempurna. Aku memandangi pemandangan indah itu dari balik kaca jendela kamarku, lalu mendesah pelan. Sejak tadi malam, aku tidak bisa tidur. Mataku
memang terasa berat, berbanding terbalik dengan pikiranku
yang melayang kemana-mana.
Tok tok tok.
Aku mendengar pintu kamarku diketuk. Tidak susah untuk
menebak siapa yang berada di balik pintu. Sejurus kemudian pintu kamarku terbuka. Bik Narsihpembantu rumah
tangga rumahkumasuk ke kamarku dengan membawa segelas air putih.
Pagi, Felline. Bik Narsih menaruh segelas air putih di atas
meja. Tumben udah bangun?
Aku memutar tubuhku seratus delapan puluh derajat, berdiri menghadap Bik Narsih. Belum tidur, Bik.

23

B i k Na r s i h m e m b e l a l a k k a n ke d u a
matanya. Walah, piye toh. Mau sekolah
lho, Fel, katanya dengan logat jawanya
yang kental.
Nggak bisa tidur, jawabku. Aku meraih
segelas air putih yang berada di meja, lalu
meneguknya hingga tandas, berharap dengan meneguk air putih itu dapat membuat
pikiranku jauh lebih jernih. Aku menarik
dan menghembuskan napas perlahan,
perasaanku benar-benar tidak enak. Hatiku terasa sesak, ada sesuatu yang mengganjal.
Bik, panggilku. Hal apa yang paling
Bibik takutin di dunia ini? pertanyaan itu
terlontar begitu saja dari mulutku, seperti
air mengalir yang tidak bisa dicegah.
Ekspresi wajahnya terlihat sedang berpikir.
Aku menunggu jawabannya dengan sabar,
tiba-tiba saja ingin sekali tau apa jawaban
beliau. Takut sama ketinggian, Non.
Aku mengangguk-anggukkan kepala, lalu
memberinya seulas senyum singkat.
Kalau Non Felline, paling takut sama
apa?
Aku tercenung mendengar pertanyaan Bik
Narsih. Kedua kakiku melangkah ke arah
tempat tidur, kujatuhkan pantatku di atas
ranjang. Pandanganku lantas beralih ke jendela, menyaksikan matahari yang perlahan
mulai bergeser dan memancarkan sinarnya.
24

Hal yang paling aku takutin di dunia ini


itu sebuah perubahan.
Perubahan? tanya Bik Narsih dengan
nada bingung.
Ya, perubahan. Perubahan-perubahan yang
terjadi begitu saja, tanpa adanya alasan
yang jelas. Perubahan sifat orang-orang terdekat, membuat mereka menjadi pribadi
yang sama sekali berbeda, dan tidak bisa
dikenali lagi. Perubahan-perubahan yang
awalnya kecil, namun berdampak besar di
dalam sebuah hubungan.
Kenapa ya, Bik, manusia nggak bisa kayak
matahari aja? Matahari yang nggak akan
pernah berubah. Matahari yang akan selalu
menyinari dunia setiap pagi. Matahari yang
akan selalu berada di atas sana walaupun
orang-orang dunia sering membenci matahari. Matahari nggak akan pernah berubah. Dia bakal tetap disana. Apapun yang
terjadi. Berbeda dengan manusia.
Bik Narsih tidak menjawab pertanyaanku,
aku dapat mendengar langkah kakinya
yang berjalan menjauh dan meninggalkanku sendiri di dalam kamar. Seolah-olah,
sikapnya yang begitu disengaja agar aku dapat mencari jawabannya sendiri.
Mengapa manusia harus berubah?
Pertanyaan itu melayang-layang di udara,
membuat kepalaku terasa pusing. Tidak
ingin membuat kepalakku meledak, aku

memutuskan untuk mandi. Mungkin dengan diguyur air dingin dapat membuat pikiranku berangsur membaik. Semoga.
Perkenalkan, namaku Felline. Aku benci
dengan segala sesuatu yang berbau perubahan. Perubahan sekecil apapun itu. Namun, malangnya aku, permasalahan terbesar yang sedang kualami sekarang adalah,
dipaksa terbiasa dengan segala perubahan
yang terjadi di hidupku.
***
Hey Felline Fellon! seru Fiosahabatku.
Aku memandangnya dari ujung kepala
hingga ujung kaki, merasa ada yang berbeda dari penampilannya hari ini.
Aku menatap matanya, seketika sadar apa
yang berbeda dari penampilannya. Ia menggunakan softlens berwarna coklat, dengan
motif seperti bunga yang menghiasi softlensnya. Lo pake softlens? tanyaku.
Dia mengangguk. Yoi. Ribet bawa kacamata.
Aku mengangguk-anggukkan kepala.
Fio adalah sahabatku sejak kecil. Orang tua
kami merupakan sahabat dekat, membuat
kami juga secara otomatis menjadi sepasang sahabat. Aku tidak tau itu merupakan
kebetulan atau apa, namun yang aku yakin,
kami memang ditakdirkan untuk bersama.
25

Takdirlah yang mempertemukan dan mempersatukan kami hingga sekarang.


Gimana lombanya kemarin? tanyanya.
Hows the game?
Cuman masuk semifinal, jawabku seadanya.
O H M Y G O D, T H AT WA S AW ESOME! serunya dengan sangat
berekspresi.
Dahiku mengernyit, kedua mataku menatapnya bingung. Fio bukan type orang yang
senang berbicara dengan Bahasa Inggris.
Lo nggak apa-apa? tanyaku hati-hati. Lebay banget sumpah.
Fio memberiku seulas senyum lebar. Ada
hening sejenak diantara kami, sebelum
akhirnya dia mengacungkan jari telunjuknya, seperti teringat akan sesuatu. Gue
juga mau ikut lomba loh.
Aku memutar bola dengan malas. Dia memang suka sekali meniru segala sesuatu
yang kulakukan. Good luck aja deh.
Tepat pada saat itu, kedua mataku terpaku
pada tas ransel yang dikenakannya. Tas ransel yang sama denganku, hanya berbeda
warna. Aku memutar tubuhnya secara
paksa, ingin melihat tas barunya dengan
lebih detail. Baru beli? tanyaku basa-basi.

Dia menjawab, tul! Kemarin nyokap gue


yang beliin.

Eh yaampun Fio! Ini seriusan lo, nih?


Gila, tambah cantik aja lo.

Aku menghembuskan napas keras-keras.


Kutatap matanya dengan sengit, rasa kesal
bercampur jengkel mengakar di dalam jiwaku. Fio, please, bisa berhenti ikut-ikut
gue, nggak?

Fio? Elo Fio? Gila, cantik banget.

Seulas senyum ceria yang sedari tadi


menghiasi wajahnya, perlahan memudar setelah mendengar pertanyaanku. Maksudnya?

Kalimat-kalimat pujian dilontarkan untuk


Fio dari beberapak murid perempuan di kelasku. Fio melepaskan rangkulannya, lalu
mulai berjalan berjauh dariku untuk bergabung dengan sekelompok cewek-cewek
yang tadi memujinya. Aku tidak berniat untuk bergabung dengan mereka, perasaanku
benar-benar campur aduk hingga rasanya
untuk berbicara saja aku tidak sanggup.

Aku menjawab, orang kayak lo itu nggak


punya pendirian. Gini ya, Fi, nggak semua
barang yang gue punya, lo juga har us
punya. Beli barang-barang yang lo suka, jangan yang gue suka. Lakuin aktivitas yang lo
suka, jangan aktivitas-aktivitas yang gue
suka.
Iya deh. Sori sori, ia memasang ekspresi
cemberut, membuatku semakin merasa gemas padanya. Fio membuka pintu lockernya, lalu memasukkan tas ransel miliknya ke dalam locker.
Bel masuk sekolah belum berbunyi. Aku
melirik ke jam dinding di salah satu dinding lorong, lima menit lagi kami harus
masuk kelas. Ah, malas sekali rasanya. Fio
menepuk bahuku, sebelum kemudian
melingkarkan lengannya di bahuku.
Tanpa berkata apa-apa, dia mengajakku
berjalan menuju kelas.
26

Lo tambah putih, ya ngga sih?


Tambah langsung aja lo, bagi tips dong
elah.

Aku duduk di atas kursi, membuka buku


tulis, lalu membiarkan tanganku menarinari diata snya dengan pena. Fio dan
teman-teman sekelasku yang lain masih
asik bergosip tentang seorang fashion designer terkenalyang jujur saja aku tidak
tau dan aku tidak akan pernah peduli.
Aku.. tidak tahu kapan tepatnya Fio berubah, namun ada sesuatu di dalam dirinya
y a n g m e m b u a t k u s e p e r t i t i d a k m e ngenalnya. Dimulai dari beberapa bulan
yang lalu, ia memutuskan untuk memotong rambutnya. Kalau biasanya rambutnya dibelah dua tanpa poni, bulan lalu, rambutnya dibuat berponi.

Seolah perubahan drastis itu belum cukup


mengejutkan, hari ini ia memakai softlens
di matanya, membuat penampilannya sungguh berbeda. Dia terlihat lebih cantik. Kuakui itu. Tetapi, entah mengapa, aku tidak
suka melihatnya. Sejak dia merubah penampilannya, semua perhatian orang-orang
di sekelilingku terarah padanya. Kalau biasanya aku cukup mengenakan baju kaos dengan celana panjang untuk pergi jalan-jalan
dengannya, kini aku tidak bisa melakukan
itu. Aku harus memakai baju yang lebih
berkelas, mengingat baju-baju yang ia pakai
juga merupakan gaya terbaru.
Sejak dia berubah, bersama dengannya
membuatku tidak menjadi diriku sendiri.
Aku harus berpura-pura mengerti apa yang
sedang ia bicarakan. Aku tidak lagi bisa
menceritakan cerita-cerita yang biasanya
kami bahas. Dan semua ini membuatku resah.
Suara Bu Dinaguru kelasku yang memang gil namaku dengan sebegitu lantangnya membuatku tersadar dari lamunan. Aku menelan ludah, mengutuki diri
sendiri bisa-bisanya melamun di saat jam
pelajaran guru kelasku sendiri.
Fio yang duduk di sebelahku bertanya, lo
kenapa? Are you okay?
Aku menggelengkan kepala pelan. Tidak
berniat untuk menjawab pertanyaannya,
27

walaupun sebenarnya dadaku terasa sesak


hingga rasanya aku ingin menumpahkan semua perasaanku padanya agar ia mengerti.
Namun, ini bukan waktu yang tepat. Kurasa aku harus mencari waktu yang tepat
untuk menyampaikan rasa yang mengganjal di hatiku ini.
***
Felline. Mamaku masuk ke dalam kamar,
lalu duduk di sebelahku. Fio baru aja menang lomba. Dia juara dua.
Aku menatap mamaku sejekak, mengerti
arah pembicarannya. Mama pasti mau
membanding-bandingkanku dengan Fio.
Tidak susah untuk menebak arah pembicaraan ini. Apa lagi, mengingat mama
jarang bahkan tidak pernah masuk kamarku.
Aku cepat-cepat memotong, kalau mama
mau marah-marah, duh, ma, besok-besok
aja ya. Kutarik selimutku hingga atas kepala, tidak ingin berbicara dengan siapapun. Dadaku terasa sangat sesak, aku
merasa ada ribuan jarum yang menusuknusuk hatiku.
Fio di depan, Fel, kata mamaku, lalu ia
berjalan keluar dari kamarku, menutup pintunya dengan sangat pelan.
Beberapa saat kemudian Fio muncul di kamarku, aku merasakan getaran di ran-

jangku ketika ia duduk di atasnya. Felline,


temenin gue jalan, yuk.
Aku mengubah posisiku yang semula berbaring menjadi duduk, menyandarkan
punggung pada bantal. Kedua mataku lalu
berpindah ke Fio, aku mengamatinya dari
ujung kepala hingga ujung kaki, mencoba
mencari kekurangan apa yang dia punya.
Namun, hasilnya nihil. Aku bahkan tidak
menemukan satu hal yang mengganjal dalam dirinya.
Felline?
Genangan air mata mempuk di mataku.
Aku menatapnya kosong, yang ditatap memasang ekspresi bingung. Ia menaruh
Iphonennya diatas ranjang, lalu duduk
menghadapku.
Aku menarik napas, lalu memberanikan
diri untuk berbicara. Kenapa lo berubah?
Fio mengernyit. Berubah?
Fio, gue nggak tau sejak kapan lo berubah. Gue nggak tau apa yang membuat lo
berubah. Gue nggak tau. Lo berubah jadi
bener-bener cantik, gue akui itu. Pengetahuan lo semakin luas, sedangkan gue disini
masih jadi Felline yang sama, Felline yang
dulu.
Fio semakin menatapku bingung. Maksudnya?

28

Aku menjawab pertanyaannya dengan


suara terisak, bulir-bulir air mata mulai
membanjiri kedua pipiku. Lo tau kan gue
benci sama segala sesuatu yang berubah?
Lo tau kenapa gue benci sama perubahan?
Karena gue benci beradaptasi ulang. Gue
benci harus beradaptasi sama sesuatu yang
baru. Karena itu sama aja ngulang dari nol,
Fi.
Aku melanjutkan, Fio, lo satu-satunya orang yang gue punya. Sedih senang gue lalui
bareng lo. Apa-apa, gue nyari lo. Sekarang,
gue harus cerita ke siapa, kalo masalah terbesar yang lagi gue hadepin itu ada hubungannya sama lo? aku memejamkan mata
sejenak, lalu membuka kedua mataku kemb a l i . Gu e c a p e k , Fi . Gu e c a p e k d i
banding-bandingin sama lo terus. Semua
orang merhatiin lo, sedangkan gue jadi
kayak hantu yang nggak terlihat. Apa-apa
Fio, apa-apa FIo. Gue capek, Fi.
Awalnya, gue ngira gue bakal terbiasa sama
perubahan-perubahan lo. Tapi, udah beberapa bulan berlalu, gue masih belum terbiasa sama semua perubahan lo. Dan gue
rasa, gue nggak akan pernah terbiasa sama
semua ini.
Fio sudah mau menjawab pernyataan panjangku ketika aku memotongnya. Kalo lo
nggak bisa kembali ke diri lo yang dulu,
nggak apa-apa. Gue nggak minta lo balik
ke Fio yang dulu. Tapi, seengaknya, bawa

gue bersama lo. Bring me with you. Jangan


buat gue merasa gue orang paling jelek di
dunia ini.

dar, bahwa semua orang berubah. Aku tidak bisa mengganti kenyataan itu.

Fio beranjak dari tempat tidurku, berjalan


mendekati jendela. Lo tau kenapa gue
merubah penampilan gue?

Persetan dengan hari esok, karena aku


yakin, cepat atau lambat, aku terbiasa dengan segala perubahan ini. Hanya membutuhkan waktu. Ya, benar.

Aku tidak menjawab pertanyannya.

-TAMAT-

Karena gue pengen jadi cantik. Secantik


lo. Gue pengen semua yang ada di diri lo.
Aku tercenung mendengar jawabannya. Dahiku mengernyit, benar-benar tidak menyangka bahwa aku lah alasan dia berubah.
Besok temenin gue jalan. Gue bakal ajarin
lo cara menata fashion dengan baik.
Fio meraih tas di atas ranjangku, lalu beranjak keluar dari kamarku.
Ada orang pernah berkata, hidup itu mengenai bagaimana kita memandang sesuatu.
Kau bisa memilih untuk marah karena
mempunyai orang tua yang disiplin, atau
kau bisa memilih untuk bersyukur masih
mempunyai orang tua. Kau bisa mengeluh
karena atasan yang menjengkelkan, atau
memilih untuk bersyukur masih mempunyai pekerjaan.
Dan untuk segala per ubahan ini, aku
memilih untuk melawannya. Aku memilih
untuk belajar terbiasa dengan segala perubahan yang terjadi. Karena perlahan aku sa29

5
Aku
Takkan
Menangis

30

Aku takkan menangis. Kau sendiri yang menyuruhku agar


jangan menangis. Awalnya aku memang cengeng. Teramat
malah. Air mataku begitu saja menetes jika perasaanku terguncang. Tapi sejak saat itu, aku bertekad, aku berjanji tak
a k a n m e n a n g i s l a g i !
Jangan menangis. Menangis hanya akan membuatmu tak
manis lagi, tersenyum kau berucap, sementara tanganmu
menyeka air mataku. Aku hanya bisa menunduk sebab ada
ke t a k r e l a a n y a n g m e n d e k a m d i h a t i k u .
Berjanjilah padaku, setelah ini kau takkan menangis lagi.
Kau menatapku dalam, aku masih terisak lalu mengangguk
pelan. Perlahan aku memelukmu erat, tak ingin kau pergi.
Mencoba meresapi segalanya dengan harapan semoga peluk a n i t u b u k a n l a h y a n g t e r a k h i r u n t u k k i t a .
Aku berjanji akan menunggumu, Arul. Lekaslah pulang.
Ya, aku berjanji akan pulang untukmu. Aku hanya 4 tahun
di kota. Setelah itu, aku akan pulang. Kita akan menikah,
kau berucap penuh kepastian lantas mengelus rambutku pelan, semakin memberiku ketentraman dalam dekapanmu.
Aku pasti mengabarimu kau berucap lirih lantas beran-

jak menuju bis yang kemudian membuatmu melambaikan tangan. Menjauh


d a r i k u .
Semuanya lenyap seketika; segenap perhatian, canda tawa, juga sosokmu yang perlahan menjauh, terus menghilang dari pandanganku bersama lambaian terakhirmu.
Berat sekali melepasmu, sosok yang selama
ini terikat erat di hatiku. Tapi tetap harus
kurelakan kepergianmu, demi masa depan
kita, juga demi cita-cita terbesarmu; menjadi orang pertama yang meraih sarjana di
desa ini.
Selepas kepergianmu, hari-hari kian berat
kuhadapi. Aku tak bisa. Sung guh tak
mampu melepas bayangmu yang terus saja
muncul dalam sadar maupun lelapku.
Perlahan aku mencoba menyibukkan diri,
berharap bisa sedkit terlepas dari bayangmu yang kian akut dalam benakku. Pagi
hari, aku mengajari lansia desa ini agar bisa
menulis dan membaca. Sore hari, aku mengajak anak-anak kecil untuk bermain di tengah pematang lantas menuju tempat di
mana kita terbiasa menghabiskan waktu
bersama, sebuah gubuk kecil di tengah pematang. Aku mengajari mereka tentang kehidupan yang akan mereka jalani, bahwa beban kehidupan akan bertambah seiring dengan jarum jam yang terus berdentang,
menuntut sebuah kedewasaan.

31

Di gubuk kecil itulah, dulu kita terbiasa


bersama. Sering kau katakan padaku
bahwa kau ingin jadi penulis, penyusun
prosa liris. Sebab itu, aku seringkali memintamu menuliskan sesuatu tentangku, meski
tak benar-benar tentangku; senyumku,
manjaku, atau segala hal yang selama ini
kau dapat dariku. Bukankah kau memahamiku dengan amat baik? Tapi kau selalu
saja berucap, belum saatnya menjadikanku
t o ko h u t a m a d a l a m k a r y a m u .
Kau juga mengajariku banyak hal di sana,
terutama mengenai imajinasi tanpa batas
yang pada awalnya membuatku bingung
dengan olah pikirmu. Katamu, semesta mulanya merupakan gumpalan awan yang kemudian Tuhan bentuk menjadi bermacammacam atas nama cinta. Kau juga pernah
bilang bahwa pelangi yang indah dan langit
senja yang kemerah-merahan itu adalah selendang bidadari yang sengaja Tuhan hamparkan ke dunia sebagai bukti cinta-Nya
pada semesta. Pun, dengan rembulan dan
taburan bintang yang katamu juga sengaja
diciptakan Tuhan agar malam tak selalu kelam. Barangkali karena itulah kau sering
mengajakku menyaksikan indahnya pelangi, langit yang kemerah-merahan, serta
langit malam yang tengah berhias cahaya
r e m b u l a n d a n b i n t a n g - b i n t a n g .
Sudahlah, aku tak bisa melanjutkan ingatanku tentangmu. Aku belum mampu

menerima kenyataan bahwa kau tak lagi di


sampingku. Menutup segalanya.
Seperti kau tahu, setelah keberangkatanmu
itu, aku ter us saja menantikan kabar
darimu. Maka setiapkali kulihat tukang
pos melewati jalanan panjang itu, aku akan
berlari dari tengah pematang dengan membawa harapan besar. Dan di saat harapan
itu berujung kekecewaan, mereka, anakanak itu akan menghiburku dengan tingkah mereka lantas menarik lenganku, kembali ke gubuk itu untuk menyaksikan sunset seperti biasa. Suasana langit jingga yang
m e m b u a t k u m a k i n r i n d u p a d a m u .
Ingin sekali aku menangis di saat aku teramat merindukanmu. Tapi aku masih dalam
tekadku. Aku tak kan menangis. Inilah janjiku padamu.
Hanya satu momen yang kukhawatirkan:
ketika kau pulang dengan membawa serta
impian terbesarmu. Akankah aku masih
mampu tak mengalirkan air mata bahagia
atas semua itu? Namun seperti janjiku, aku
tetap
takkan
m e n a n g i s .
A k u t a k m e n a n g i s s a a t ke ke c e w a a n
menghantui diriku sebab dirimu yang tak
lagi memberi kabar. Aku tak menangis saat
gubuk kecil kita dibongkar paksa atas
nama proyek pembangunan jalanan umum
yang membelah pematang. Bahkan aku tak
menangis kala ayahku meninggal sebab serangan jantung yang beliau derita setelah
32

mendengar sawah satu-satunya, warisan nenek moyangnya, diambil paksa atas nama
proyek yang sama.
Aku juga berusaha tak menangis di saat harusnya aku meneteskan air mata; saat kepulanganmu yang berbeda, juga saat kuterima
beberapa lembar karyamu yang kunantinanti munculnya selama ini, kisah tentangku. Seluruh orang di desa ini menyambutmu dengan tetesan air mata, tapi tidak
denganku. Aku tidak lagi seperti wanita kebanyakan yang dengan mudah meneteskan
air mata dalam kesedihan, ataupun kebahagiaan yang luar biasa. Aku tak boleh menangis. Inilah yang kudapat darimu dan
tetap kupertahankan hal itu.
Selepas kepulanganmu, aku suka sekali bermain hujan. Dalam karyamu, kau gambarkan aku seba gai seorang wanita yang
menyukai hujan. Di akhir cerita, kau tibatiba mengisahkan aku sebagai seorang bidadari yang mendampingimu dengan sayap
bianglala beragam warna, termasuk warna
yang menghiasi langit saat senja tiba. Dan
kau beri judul karyamu itu dengan, Bidadari Yang Kutunggu. Barangkali itulah
yang membuatku menyukai hujan setelah
membaca karyamu untukku itu.
Aku paling suka ketika hujan mulai reda.
Suasana itu selalu mengingatkanku pada
awal kita bertemu. Dan di saat itulah, aku
menjalankan aktifitas baruku; membuka

lebar-lebar plastik yang kubawa, lantas


menumpuk gerimis yang masih berlarik
dari angkasa. Itulah yang kulakukan di
setiap kali hujan turun membasuh semesta.
Dan seperti orang-orang itu, kau mungkin
juga tak percaya bahwa kulakukan semua
ini demi perasaanku dan hanya untukmu.
Aku tak peduli ketika orang-orang menat a p i b a ke p a d a k u k a l a d i n g i n m u l a i
berkua sa. Aku tak peduli bisik-bisik
mereka yang terkesan mencemoohku. Aku
juga tak mempedulikan orang-orang yang
menjulukiku perawan tua. Aku sudah tak
peduli pada apa pun. Hanya satu, bagaimana sebanyak mungkin aku menumpuk
gerimis untukmu.
Dan kini, di saat musim hujan telah berlalu, aku berniat menyampaikan semua ini
padamu. Gerimis yang kutumpuk di setiap
kali hujan tiba agaknya sesuai dengan yang
kuharapkan. Lumayan banyak. Cukup untuk kujadikan hujan agar sampai padamu.
Sesaat lagi, malaikat-malaikat akan turun
dan mengambil gerimis yang sekian lama
kutumpuk untuk dibawa ke angkasa. Menjadikannya gumpalan awan, lantas menjadi
hujan dengan suara tangisan panjang yang
teramat memilukan. Itulah tujuanku selama ini menumpuk gerimis, agar orangorang tahu aku sedang merindu dan sebagai ganti dari tangisanku selama ini. Membiarkannya meresap, merembes, lalu sam33

pai padamu yang telah menutup segalanya.


Meninggalkanku yang kini terdiam sendiri
di antara kuburanmu yang masih harum semerbak bunga
-TAMAT-