Anda di halaman 1dari 90

1

Aku berpaling menghadap ke arah laboratorium yang sudah


rusak dan berantakan. Aku pun kembali ke arah orang itu mencuri
benda milik lab. Baru kusadari ternyata ia mencuri setabung sel
anakmanusia. Untuk apa ia mencuri itu? batinku. Ketika melihat ke
bawah aku menginjak selembar kain berwarna hitam. Aku pun
mengambil kain itu. Inikah jubahnya yang telah sobek? batinku. Pada
akhirnya aku menyimpan kain itu di dalam tas, berharap dapat
menemukan informasi melalui sobekan jubahnya. Melihat jam
tanganku aku langsung berbalik arah dan berlari menuju sekolah.
Yabaii (bahaya)! Sebentar lagi aku terlambat! Aku bisa tidak lulus kalau
tak mengikuti ujian tengah semester! batinku.
Sesampainya di sekolah sudah kudengar bel berbunyi keras.
Dengan tergesa-gesa aku berlari masuk sebelum pintu gerbang ditutup.
Pada akhirnya aku pun berhasil masuk kelas tanpa terlambat. Ujian pun
segera dimulai. Ujian hari pertama, matematika. Aku cukup kesulitan
mengerjakannya. Mou (duh)! Gara-gara semalam kurang belajar aku
jadi kesulitan! batinku. Duduk kami diatur dalam sebuah kelas berisi
hanya dua puluh murid, jadi sedikit susah bagiku untuk menyontek.
Murid-murid dari kels 3-1 sampai 3-9 dicampur semua di sana. Aku
bahkan tak mengerti apakah mereka pandai atau tidak. Pada akhirnya
aku mengorbankan separuh tenagaku untuk melakukan teknik waktu
dan ruang.
Sambil memejamkan mata aku membentuk simbol tangan
Uma, atau Kuda dalam beberapa detik. Teknik perhentian waktu!
ucapku dengan sangat pelan. Tak lama kemudian waktu menjadi
lambat, melambat, semakin melambat dan akhirnya berhenti. Di saat
waktu berhenti aku dapat berjalan-jalan semauku dan mencari
jawaban ujian. Tak ada seorangpun yang dapat melihatku atau lepas
dari teknik ini, kecuali mereka yang memasang pelindung terhadap
ruang dan waktu. Setelah semua jawaban kutemukan aku langsung
menyalinnya di atas lembar jawaban komputer. Setelah selesai aku

melepaskan teknik perhentian waktu ini sehingga waktu pun kembali


berjalan seperti semula.
Ujian hari pertama pun selesai. Ketika bel berbunyi aku pun
langsung keluar dari sekolah. Haah, kenapa ujian selalu dibuat sulit?
Hanya gara-gara itu, aku harus mengorbankan separuh tenaga hanya
untuk teknik pengendali ruang dan waktu! ucapku. Teknik pengendali
ruang dan waktu itu biasa disebut Teknik Pengendali Dimensi. Kami
bisa mengatur waktu dan ruang selama kami punya tenaga besar.
Mengendalikannya tak gampang. Dalam sehari kami dibatasi hanya
2x60 menit pemakaian pengendali ruang ataupun waktu. Lebih dari itu,
kami bisa mati kehabisan tenaga.
Satu peraturan penting bagi pengguna pengendali dimensi
yaitu kami tak boleh menyentuh benda atau siapapun. Kalau
menyentuhnya, khusus orang atau benda itu akan tidak terkena teknik.
Karena ketika mengendalikan dimensi semua yang ada di sekitarmu
berubah sesuai dengan teknik yang kau gunakan. Maka secara otomatis
tubuh akan memberi kontraksi penolakan kepada pengguna supaya
pengguna itu sendiri tidak terkena teknik. Ketika menyentuh benda
tenaga kontraksi yang dihasilkan tubuh mengalir melalui tubuh menuju
ke orang atau benda lain. Di sanalah terjadi kontraksi penolakan
sehingga benda atau orang yang kau sentuh ikut tidak terkena teknik.
Tanpa banyak berbasa-basi lagi aku langsung melompat dari
pohon ke pohon melesat menuju ke kuartir. Sesampainya di kuartir aku
mampir dulu ke asrama untuk beristirahat dan makan siang di cafeteria.
Setelah itu aku langsung pergi menemui Orenji-senpai. Minakami?
ucapnya, Tumben kau datang awal! Ya. Hari ini ada ujian tengah
semester, jadi kami pulang awal. Oh, ya! Aku mengeluarkan selembar
kain yang tersobek dari baju anggota Kuroi Karasu tadi. Kore (ini).
ucapku seraya memberikannya pada Orenji-senpai. Nan na no kore
(apa ini)? tanya Orenji-senpai. Barusan tadi pagi, aku bertemu
dengan seseorang berjubah hitam dan di pakaiannya terdapat simbol
gagak hitam dengan huruf R di tengahnya. jawabku.
3

Orenji-senpai terlihat kaget ketika mendengarku. Kau


bertemu dengannya?! Apa yang dia lakukan?! sergahnya. Dia dia
membobol sebuah laboratorium dan tampaknya mencuri DNA
manusia. jawabku. Masaka (tak mungkin)! balas senpai.
Memangnya apa yang terjadi kalau begitu? tanyaku. Ia menghela
napas. Kau tahu, kan? Kelompok Kuroi Karasu membangkitkan orangorang yang telah mati. Mereka menggunakan pasir roh,
mencampurnya dengan sel manusia dan DNA orang itu. jawabnya.
Apa maksudnya?! Tolong jelaskan! sergahku. Kau tak perlu tahu
terlalu cepat, tapi kalau kau bertemu seseorang yang tak memiliki suhu
tubuh ialah orang mati yang pernah sekali dibangkitkan. Tubuh dan
darahnya dingin seperti darah beku. jawabnya lagi.
Aku terdiam dan merasa memang tak perlu tahu banyak.
Maa (nah), tapi kau sudah memberikan ini padaku. Aku akan
melakukan tes untuk melihat siapa pemakai jubah ini. sahut Orenjisenpai sambil menepuk bahuku. Aku pun tersenyum senang. Hai (ya)!
jawabku. Aku pun pulang kembali dari kuartir. Di dalam perjalanan
wajah orang itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. Ano hito (orang
itu), ano me (mata itu). Aku yakin aku pernah melihatnya. Sering.
Siapa orang itu? batinku.
Sesampainya di rumah aku langsung berganti pakaian dan
beristirahat. Ujian tengah semester tersisa dua hari lagi. Besok adalah
IPA, dan besoknya Bahasa Nasional dan Bahasa Inggris. Mou (duh)!
Kenapa kedua bahasa itu harus digabung dalam sehari?! Tak gampang
juga belajar dua mata pelajaran dalam sekaligus! Sebenarnya aku bisa
melakukan pencepatan waktu, tapi bagaimana kalau hasilnya tak
sesuai harapan? Pencepatan waktu adalah teknik dimensi yang paling
jarang kugunakan. Teknik itu tak menjamin keberhasilan pengguna.
Yah, dengan kata lain dengan pencepatan waktu belum tentu hasil
yang kau peroleh sesuai dengan harapanmu. Dengan terpaksa aku pun
belajar dalam waktu singkat dua hari itu.

Bahasa Nasional dan Bahasa Inggrispun pada akhirnya


berjalan lancar. Seminggu setelah ujian tengah semester selesai, nilai
dipaparkan di papan mading. Hanya nomor mereka yang lolos saja yang
tercantum di sana. Itta (ada)! Nomorku ada! Dan kategori pertama?!
Tuhaannn, aku tak pernah menyangka kalau aku akan mendapatkan
hasil sebagus ini! Ah, beginilah enaknya masuk Kuroi Komori! Aku
dapat menggunakan kekuatan bahkan saat ujian! seruku dalam hati.
Tanpa sadar ketika pelajaran di kelas pun aku tersenyum-senyum
sendiri.
Tanpa sadar pula aku telah mencatat semua catatan Kimia
saat pelajaran professor Jin. Mina-chan ureshii sou ne (Mina terlihat
senang ya)? kata Megumi. Aha~ Aku tak tahu apa yang membuatku
senang! balasku. Hm, aku yakin pasti karena kau ketemu Yusukesenpai, kan? sahut Yukari. Eh? S sonna (tak mungkin)! sangkalku.
Sudahlah, tak perlu menyangkal. Aku tahu kau pasti ngobrol dengan
Yusuke-senpai saat Takemaru-senpai menjemputmu seusai pulang
lomba voli! Okazawa juga ikut voli, kan? Kurasa Yusuke-senpai juga
datang menjemputnya. lanjut Yukari. Aku pun tertangkap basah.
Haah, baiklah, aku mengaku, kemarin aku bertemu dengannya. Tapi
alasan utama aku senang hari ini hehehe! Kategori pertama,
pertama!!! Aku takkan menyangka mendapat kategori pertama!
ucapku dengan kegirangan.
Aku pun pulang segera setelah pelajaran hari ini selesai.
Sesampainya di rumah mama telah memasak omelet. Ha! Oishii sou
(terlihat enak)! Tanpa banyak izin pun aku langsung nyomot sepotong
omelet dan memakannya dengan nasi. Mou (duh), neechan! Kau
bahkan tak izin pada mama! sahut Yukata. Tak apa, kan? Masa aku
tak boleh makan? kataku, Itadakimasu (selamat makan)! Sou iu ba
(oh ya), apa yang membuatmu kegirangan hari ini? tanya mama.
Kategori pertama! Aku mendapat kategori petama! seruku.
Hontouni (benarkah)?! Omedetou (selamat)! Saa (nah), ippai tabete
(makanlah yang banyak). Kita rayakan hari ini! balas mama.
5

Selesai makan aku langsung tiduran di kasur. Aku


menyalakan Contactor dan menghubungi Takemaru-niichan. Nanda
yo (ada apa)? Kau mau pamer hasil ujian tengah semester? sahutnya.
Eh? Kau tahu hari ini ada pengumuman ujian tengah semester?
tanyaku. Mochiro (tentu saja). Bagaimana tak bisa tahu? Papan
mading sekolahmu dekat dengan Lab Biologi SMA. Tentu saja ketika
aku ke sana pasti melewati mading sekolahmu. jawab niichan. Aku
tertawa kecil. Te (nah), berapa hasil skormu? tanya niichan. Di sana
tidak tertulis hasil nilainya, hanya saja aku masuk kategori pertama.
jawabku. He. Aku bahkan mendapat kategori kedua ketika ujian
tengah semester SMP. lanjut niichan, Bagaimana caramu belajar?
Aku pun tersenyum malu, kataku, Sebenarnya aku tak
belajar, tapi he he he Kau menggunakan telinga kelelawar, kan?
potong niichan. Lebih tepatnya... teknik pengendali dimensi!
Hehehe... jawabku. Cih! Ternyata kau dapat contekan bagus! Dulu
aku tak beruntung! Teman yang kucontek tidak pintar juga. lanjut
niichan. Tapi seharusnya kau bisa menghentikan waktu, kan? Atau
menghafalkan soal ujian lalu mengulang waktunya? balasku. Untuk
apa aku membuang-buang tenaga hanya demi ujian macam itu? kata
niichan. Mou (duh), niichan! Tak kusangka kau bisa juga jadi OSIS saat
ini! kataku. Heh?! Kau mau meledekku?! Cih, cih! Seseorang bisa
berubah kapan saja! Jangan sombong dulu. Lihat nanti kategori berapa
kau dapat saat ujian akhir! balas niichan. Aku tertawa kecil.
Sou iu ba (ngomong-ngomong), aku telah dengar dari
Orenji. Katanya kau menemukan anggota Raven. Apa ciri-cirinya?
tanya niichan. Aku tak tahu. Hidung sampai mulutnya ditutup seperti
kita. Hanya saja aku pernah melihat mata itu sebelumnya. jawabku.
Hm? Mata? tanya niichan. Ee (ya). Aku sering melihat mata itu,
entah di mana. Ia laki-laki. jawabku. Sou ka (begitukah)? Lab kita
sedang melakukan penelitian. Tak lama hasilnya akan keluar. Siapa
pemakai baju ini, siapa yang menjadi anggota Kuroi Karasu. kata
niichan. Sou yo ne (benar juga). balasku.
6

Aku kembali berpikir. Bagaimana kalau sampai anggota


kelompok itu adalah teman dekatku atau orang yang kucintai?
Apakah aku sanggup membunuhnya? batinku. Aku pun melemas.
Minakami? Doushita no (ada apa)? tanya Takemaru-niichan. Eh? Iiya
(tidak) nande mo nai (bukan apa-apa). jawabku. Takemaru-niichan
mulai memasang wajahnya yang serius. Kalau ia temanmu apakah kau
sanggup membunuhnya? tanyanya. Aku pun terkejut. Kenapa yang
kupikirkan saat ini sama dengan apa yang niichan tanyakan?
Wakaranai (aku tak tahu). jawabku singkat. Bersiaplah, Mina. Misi
ini tak semudah yang kau bayangkan. lanjut niichan. Aku tahu itu,
niichan. jawabku. Un. Sore wa iinda (itu baik). De wa (kalau begitu),
mata na (sampai jumpa). balas niichan. Ia mematikan Contactor nya.
Aku pun merebahkan tanganku setelah lama memegangi
Contactor. Moshi (kalau) ano hito wa watashi no tomo nara (orang
itu adalah temanku) korosu koto nante dekiru no ka (apakah aku akan
bisa membunuhnya)? batinku. Ucapan itu terus terngiang-ngiang di
kepalaku. Entah mengapa, seperti telah ada peringatan untukku. Aku
berusaha melupakan semuanya dan langsung melelapkan diri dalam
tidur siangku. Ketika bangun aku langsung mengambil iPhone dan
membuka LINE. Tentu saja, di sana sudah banyak anak yang menuliskan
keberhasilan atas lulusnya ujian tengah semester barusan, sekaligus
hasil kategori yang mereka dapat. Tapi ada juga yang menuliskan
tentang ujian kedua yang akan dilaksanakan beberapa minggu lagi.
Ugh! Sungguh tak mudah menjadi murid kelas tiga! Ah..., lupakan saja!
Keesokan harinya, wali kelasku, professor Jin
mengumumkan kalau minggu depan akan ada Prompt Night. Kalau
dipikir-pikir, minggu depan... ya, benar! Minggu depan adalah hari
ulang tahun sekolahku yang kelimapuluh. Hm..., tak heran kalau ada
acara seperti itu untuk merayakannya. Ditambah lagi... digabung
dengan SMA tetangga. Pasti... aku akan bertemu dengan Yusuke-san.
Ketika jam istirahat pun aku tak bisa memikirkan hal lain
selain acara Prompt Night itu. D...d...doshio (bagaimana ini)? Aku tak
7

tahu baju apa yang pantas kupakai. Aku juga minder, sih... batinku
sambil melahap nasi yang sudah dari tadi kucapit dengan sumpitku.
Tiba-tiba dua orang muncul dari belakang bangkuku. Yap, tak lain lagi
mereka adalah Yukari dan Megumi. Mina-chan sungguh tampak galau.
Kira-kira apa yang sedang ia pikirkan, ya? sindir Megumi. M...
Megumi! sahutku. Nah...! Apa lagi kalau bukan si keren Yusukesenpai? lanjut Yukari. Sou (benar), sou (benar)! Ano Okazawa-san no
aniki (kakak Okazawa itu)! ucap Megumi, Ah..., akan pakai baju apa,
ya, dia? Pasti akan tampak lebih keren!
Uuh!! Mereka sungguh menyebalkan! Kenapa semakin
lama aku semakin penasaran?! HAAA!!! MOU IINDA (SUDAHLAH)!!!
seruku sambil berdiri dan menggebrak mejaku. Napasku terengahengah sesaat. Yukari dan Megumi hanya terdiam dan kaget
mendengarku. Aku harus melihatnya, tak peduli apapun alasannya!!!
Zettai ni (pasti)! ucapku lagi, kali ini dengan penuh semangat. Kedua
anak itu pun entah kenapa tampak tersenyum senang. Un! Ganbare
(berjuanglah), Mina! ucap mereka serempak.
Dalam waktu senggang yang cukup santai itu Yukari dan
Megumi menemaniku memilih baju dari mall ke mall. Uang tabunganku
terkuras dan menipis untuk membeli beberapa baju yang cocok
kupakai saat Prompt Night. Aku padahal bahkan tak tahu baju mana
yang bagus! Kuning..., hijau..., merah..., putih...., ungu.... Dari sekian
baju tak satupun dapat kutemukan mana yang cocok untukku. Ah...!
Aku sungguh pengecut! Kenapa aku selau minder dan tak pernah bisa
tampil percaya diri?
Yang paling penting adalah kepercayaan dirimu! Baju yang
kau pakai takkan tampak senang dan berkilauan kalau yang memakai
tidak senang. Kau itu manis, Mina. Kau akan tampak lebih cantik kalau
kau bisa menggoreskan senyuman di wajahmu. Berilah sedikit make up
supaya terlihat lebih sempurna. Begitulah kata Megumi ketika
membeli baju-baju itu.
8

Aku menghela napas, menyerah akan berpenampilan


menarik malam ini. Kuning..., hijau..., merah..., putih...., ungu....
Haah..., kira-kira mana yang cocok, ya? batinku seraya memejamkan
mataku. Ketika hampir akan menyerah, aku teringat ketika aku
mengatakan untuk pasti menemui Yusuke-san. Seketika entah dari
mana mataku kembali terbuka lebar dan semangatku pun berkobar.
Yang mana yang harus kupakai?! Kuning? Iiya (tidak), terlalu menyolok.
Hijau? Tidak, terlalu banyak manik-manik. Putih? Tidak, ia mudah
kotor! Merah? Tidak, hiasan bunga di tengahnya terlalu menyolok!
Kalau begitu... ungu! Benar! Ia tampak natural! ucapku sambil
melempar-lempar baju-bajuku.
Aku segera memakai baju ungu itu dan merias wajahku
dengan sedikit make up. Aku menguncir rambutku agar tak terlihat
berantakan. Aku pun siap berangkat. Ketika keluar dari kamar, papa
terlihat terkejut melihatku berpenampilan semewah ini. Mau ke mana
kau berpakaian seperti itu? Kencan kah? ucapnya. S... sou ja nai wa
(bukan begitu)! Hari ini ada Prompt Night, sebagai peringatan HUT
sekolahku! Huh! balasku dengan sedikit tersipu malu. Hm..., jaa
(kalau begitu), aku akan antarkan kau ke sekolah. lanjut papa. Tidak
usah. Sekolahku juga dekat, kan? balasku. Bukan begitu maksudku.
Kalau kau berkeringat, nanti make up mu akan luntur, kan? Tunggu aku
lima menit lagi. Aku akan ganti baju. lanjut papa seraya menutup
laptopnya dan bersiap untuk mengantarku.
Di mobil pun papa tidak berhenti mengerjaiku. Kenapa
berdandan sampai sangat manis? Apa ada laki-laki yang akan kau
temui? ucapnya. Mou (duh)..., papa! Aku takkan menemui siapapun.
Apakah aneh kalau anakmu sedikit mengubah penampilan? balasku.
Iiya (tidak), iiya (tidak). Sudahlah, lupakan saja. lanjutnya. Uuh...!
Sebal! Tapi kalau dipikir-pikir, memang benar, sih, perkataannya. Hm...
sekarang aku jadi penasaran. Bagaimana penampilan Yusuke-san nanti,
ya? Um... dia pasti keren. Tapi apakah dia akan bersama pacarnya di

sana? Uuh! Aku jadi penasaran akan hal yang tidak-tidak! Berlebihan
sekali!
Di depan sekolah dipasang spanduk besar bertuliskan,
Prompt Night By Homikaze Japanese International School. Di sana
sudah ada beberapa anak yang datang. Ya, beberapa. Mungkin aku saja
yang datang terlalu awal. Yukari dan Megumi pun juga belum datang.
Aku berjalan menuju meja seraya mengambil gelas dan menuangkan
soda ke dalamnya. Aku meneguk soda perlahan sambil terus menunggu
kedua anak itu datang. Yusuke-san... bahkan Okazawa juga belum
nampak. Kelihatannya memang aku yang terlalu awal. Benar. Sekarang
masih setengah delapan, padahal acara dimulai pukul delapan. Ah...,
sudah parah!
Tak lama setelah itu, sebuah mobil mewah nampak di
depan pagar, menurunkan dua anak perempuan, dengan baju mereka
yang sangat cerah. Ya, siapa lagi kalau bukan Yukari dan Megumi. Yukari
mengenakan baju pesta selutut berwarna hijau dengan bunga merah
besar di dadanya. Sedangkan Megumi memakai yang berwarna kuning
dengan motif munga-bunga berwarna hitam. Ah! Mina! seru
Megumi dari kejauhan. Yukari pun juga menoleh ke arahku. Segera
mereka berlari ke arahku. Hayaii na anta (kau cepat sekali) Mina. kata
Yukari. Te (nah), kau pasti ingin segera bertemu dengan Yusuke-senpai,
kan? lanjut Megumi. Aku pun tersambar. S... sou ja nai wa (bukan
begitu)! J...j...jaa (ayo), ikou yo (kita pergi). balasku.
Kami berjalan mengitari area lapangan sekolah sambil
menunggu acara dimulai. Tak lama kemudian, sang ketua OSIS SMA
dan ketua OSIS SMP muncul di depan panggung bersama kepala
sekolah SMA dan SMP. Tak lupa juga pendiri Homikaze School,
Namamura Yoshiko-san. Mereka naik ke panggung sambil
membawakan selembar kertas yang tampaknya adalah script. Selama
beberapa saat Yoshiko-san memberikan pengantar pembuka acara
dalam bahasa Inggris. Setelah itu, dilanjutkan dengan salam pembuka
10

lagi oleh kepala sekolah SMA dan SMP, dan ditutup dengan salam
pembuka dan doa dari Yoshiko-san.
With this, we proudly open and present the Prompt Night
to celebrate our honored schools fiftieth anniversary. We hope with
this we can cooperate each other well and continue our progress
smoothly in Gods name. Welcome you all to Homikaze Schools Prompt
Night! begitulah penutup yang diberikan ketua OSIS SMA. Dari
belakang terdengar petasan memeriahkan acara serta suara terompet.
Acara dimulai dengan lagu pembukaan Taylor Swift berjudul
Love Story. Murid-murid pun santai menikmati acara malam itu.
Terutama anak kelas sembilan dan SMA, ini adalah golden chance bagi
mereka untuk berdansa bersama pasangan mereka. Sementara aku
yang kelas tiga, hanya menikmati snack dan soda di situ, seperti anak
kelas satu dan dua. Uh! Aku merasa immature sekali. Aku bersama
Yukari dan Megumi hanya mengobrol sambil menyantap roti cokelat.
Ketika kedua anak itu mengobrol, aku berpindah tempat menuju ke
sudut lapangan. Di sana terdapat chocolate fountain, dan termasuk
marsmallow nya dan kue yang sudah dipotong kecil-kecil.
Aku melangkahkan kaki perlahan melewati orang-orang
agar tidak sampai tersandung dan jatuh. Aku mengambil beberapa
tusuk marsmallow dan kue lalu menorehkannya dengan cokelat.
Sementara makan di situ, aku memerhatikan sekelilingku. Yusuke-san...
tampaknya belum datang. Aku juga masih belum melihat Okazawa.
Biasanya ia paling cantik dan berkilau di tengah pesta. Seusai makan,
aku pun kembali. Di tengah perjalanan, aku tak menyadari ada
genangan air di lantai. Aku pun terpeleset. S... shimatta (mampus)!
batinku. Ketika kupikir aku akan jatuh dan mengotori bajuku dengan
genangan air yang ada di lantai itu, seseorang tiba-tiba memegangiku
dari belakang. Sejenak aku membuka mataku perlahan. Di saat itu juga
aku melongo dan merasa sedang berada di sebuah mimpi.
Yusuke...san? ucapku begitu melihat kalau orang itu adalah Yusukesan.
11

Orang itu pun tampak kebingungan ketika kupanggil


namanya. Ia terus menatapku dengan tatapan heran sambil melambailambaikan tangannya di depan mataku. Tak lama kemudian ia
mencetikkan jarinya. O...oi, me o samase (bukalah matamu)!
ucapnya. Aku pun kembali mengedipkan mataku. T... Takemaruniichan?! seruku begitu mengetahui kalau itu niichan. Aku pun
langsung berdiri. Yappari sou da (ternyata dugaanku benar)! Kau
sedang mabuk! balasnya. N... nande koko ni (kenapa kau ada di sini)?
lanjutku. Ia menghela napas. Huh, seharusnya kubiarkan tadi kau jatuh.
Kau bahkan tak mengucapkan apapun setelah kutolong pada akhirnya.
sahut niichan sambil melipat tangannya di dada. G... gomen (maaf).
Arigato (terima kasih), niichan. ucapku sambil tertunduk malu.
Bagaimanapun juga saat itu aku lupa berterimakasih padanya.
Niichan tersenyum kecil sambil melirikku. Sudahlah,
sudahlah. Aku juga sedang mengerjaimu saja. katanya sambil tertawa.
Sore ni (di samping itu), niichan, nanda sore (apa itu)...? Kore ka
(inikah)? Haha! Aku yakin kau pasti bertanya tentang pakaianku.
potong niichan dengan Pe-De nya. Aku mengkerutkan bibirku. Tapi
memang benar, sih, aku ingin bertanya soal itu. Tumben sekali ia
memakai kemeja berlengan panjang, warna abu-abu. Ia juga memakai
dasi hitam. Niichan lagi-lagi tertawa. Semua anggota OSIS, termasuk
ketua dan wakilnya diwajibkan memakai kemeja berlengan panjang
dengan dasi. Uuh! Sungguh menyebalkan sampai harus memakai
pakaian seperti ini. Bukan style ku! Niichan mencetuskan. Aku hanya
tertawa kecil mendengar cerita konyolnya. Nani ga okashii (apanya
yang lucu)? Jaa (nah), ikou ka (ayo pergi). lanjutnya.
Niichan berjalan denganku hingga sampai di tempat Yukari
dan Megumi. Ah! Takemaru-senpai! sahut Megumi begitu melihat
niichan. Kon ban wa (selamat sore), Megumi, Yukari. balas niichan.
Huh! Sok formal sekali. Hanya dalam sekejap, niichan dan kedua anak
itu pun tenggelam dalam pembicaraan yang sangat panjang.

12

Selama Takemaru-niichan ngobrol dengan Yukari dan


Megumi, aku terus meneguk soda di gelasku. Kebetulan, ketika sedang
meneguk minuman, aku dapat melihat seorang pemuda berjalan
melalui celah gelasku. Tampan... tinggi... berjalan dengan santai sambil
membawa segulung kertas. Ya..., benar. Yusuke-san berjalan menuju
ke pintu masuk sekolah. Tiba-tiba niichan berjalan dari belakangku. Y...
yabaii (bahaya)! Dia pasti tahu kalau aku melihat Yusuke-san terus!
batinku. Oi, Yusuke! Tetap sombong seperti biasanya, ya! sahut
niichan. Orang itu pun menoleh. Ternyata benar, ia Yusuke-san.
Tumben sekali kau datang terlambat. kata niichan. Ah, benarkah?
Tadi aku dipanggil Kepala Sekolah. Sebenarnya beliau berniat
memanggil Leo, tapi dia sambutan, kan? Karena itu aku yang
menggantikannya. jawab Yusuke-san. O! Sou ka (begitu ya)
Entah mengapa, Yukari dan Megumi cekikikan sendiri,
sementara aku hanya terdiam dengan wajahku yang terus memerah.
Lama percakapan terjadi antara niichan dan Yusuke-san. Ini
kesempatanku! Aku tak bisa terus-terusan berdiri di sini. Bisa gawat!
Aku pun mengendap-endap pergi meninggalkan gerombolanku. Akan
tetapi Mina, doko e iku no (kau mau ke mana)? Takemaru-niichan
menyadariku berusaha meninggalkannya. Ia mengedip-ngedipkan
mata kanan dan kirinya. N niichan no yaro (kakak sialan)! Dia sengaja
melakukan itu, ya?!! batinku. Eeeeto toire (toilet)! jawabku
singkat. O, sou ka (aku mengerti), sou ka (aku mengerti). Kenapa tidak
kau tahan saja? Sayang kalau pergi di tengah-tengah acara. lanjutnya.
Kembali lagi kepalaku seperti ditindih batu besar. Kono
yaro (dasar brengsek)! Dengan begini takkan ada akhirnya! batinku
lagi. Yusuke-san kini jadi menertawaiku. Ah, anshinshiro (tenanglah).
Dia bisa menahan untuk tidak buang air selama kurang lebih sejam.
balas niichan. Wajahku langsung memerah jambu. N...niichan! Jangan
mengatakan hal yang memalukan! ucapku. Niichan tak
menghiraukanku dan malah menertawaiku. Yusuke-san pun bahkan
menertawaiku! Uuh!
13

Pada akhirnya rencanaku pun gagal. Aku terpaksa harus


menjadi patung dan memerhatikan pembicaraan niichan dengan
Yusuke-san. Kalau diperhatikan lagi... Yusuke-san... hari ini... keren!
Ya..., dengan bajunya berlengan panjang berwarna hitam dan dasi
putihnya.... Ga...gakkoii (tampannya)!!! Mae yori motto gakkoii n da
(lebih keren dari yang kulihat sebelumnya)! Mina-chan, kau sungguh
beruntung memiliki kakak yang sama-sama OSIS dengan Yusukesenpai! sahut Megumi yang tiba-tiba menghampiriku dari belakang.
N... nani o sore (apaan sih)? Hanya kebetulan saja, kan, niichan samasama OSIS dengannya. balasku. Maa (nah), ternyata kau masih belum
mengerti, ya, Mina! lanjut Megumi. Nani o (tentang apa)? ucapku.
Kedua anak itu malah tertawa sendiri.
Sou iu ba (ngomong-ngomong), omae no imouto to otouto
wa (di mana adik-adikmu)? tanya niichan. Asoko da (di sana). Ia
sedang ngobrol dengan teman-temannya yang lain. Okazawa. jawab
Yusuke-san sambil menunjuk ke arah seorang gadis bertopi beret biru
tua dengan baju terusan merahnya. Benar juga.... Okazawa... benarbenar manis. Berbeda denganku yang tak pernah percaya diri. Lalu di
sana ada Nozomu. Hora (lihat)? Yang sedang berjalan dengan tiga
orang di sebelahnya. lanjut Yusuke-san sambil menunjuk ke arah
Nozomu-san yang sedang berjalan bersama gerombolannya. Eh... sou
da ne (benar juga). Semua orang di malam hari ini menghabiskan waktu
dengan gerombolan mereka, kalau tidak dengan pacar mereka.
Ah! Sudah jam setengah sembilan. Aku harus kembali ke
sekolah dan menyerahkan ini. Maaf, Takemaru. Aku harus pergi dulu.
sahut Yusuke-san. Ha? Menyerahkan apa? tanya niichan. Kau lupa?
Laporan kepengurusan OSIS tahun ini. jawab Yusuke-san. Niichan
tampak tercengang. Yabaii (bahaya)! Zenzen wasuretta n da zo (aku
lupa total)! ucapnya. Jaa (nah), mata na (sampai jumpa)! sahut
Yusuke-san lagi. Aa (ya) aa (ya)! Mata na (sampai jumpa)! Terima kasih
sudah mengingatkanku! balas niichan.

14

Yusuke-san meninggalkan niichan dan kembali ke dalam


sekolah. Debaran kencang jantungku pun perlahan memelan dan
akhirnya tak dapat kudengar lagi. Niichan berjalan mundur lalu kembali
meraih bahkuku dan merangkulku. Bagaimana? Kau senang, kan,
bertemu dengannya? Jujurlah saja. sahutnya. Wajahku memerah. Aku
pun mengkerutkan bibirku karena sebal. Baru kali ini aku mengaku
kalah dengan niichan. Iya, iya. Baiklah, aku kalah. Terima kasih, niichan.
Tapi... tapi jangan lakukan hal memalukan seperti tadi! kataku. Hm?
Hal memalukan seperti apa? tanya niichan. Itu... maksudku... kau
sengaja menahanku ke toilet supaya bisa berlama-lamaan bicara
dengan Yusuke-san, kan? jawabku dengan malu. Oh, itu ya?
Ha...ha...ha...! Niichan malah tertawa terbahak-bahak. I...itu tak lucu!
seruku lagi. Baiklah, baiklah, maafkan aku soal itu. Tapi jujurlah. Kau
senang, kan, bisa bertemu dengannya? lanjut niichan.
Aku kembali tersipu malu. I...iya, terima kasih, niichan.
ucapku singkat. Niichan tersenyum. Oh, ya. Ngomong-ngomong apa
yang ada di dompet hitammu itu? tanya niichan begitu melihat
dompet hitam yang kubawa. Kuisi dengan iPhone, Contactor, dan
kartu siswa. Kenapa? jawabku. Oh, kau membawa Contactor itu? Tak
takut hilang? lanjut niichan. Kau berbicara seolah aku tak pernah
membawa Contactor saja. balasku. Niichan tersenyum sambil
mengelus kepalaku. Bukan begitu, katanya, Berhati-hatilah saja.
Ehm... sudah pukul sembilan. Aku harus ke tempat OSIS. Sampai jumpa,
Mina. Hati-hati. Aku hanya mengangguk. Niichan berjalan
meninggalkanku sambil melambaikan tangannya.
Ternyata memang, Mina-chan benar-benar orang
beruntung! Kau beruntung mempunyai kakak anggota OSIS! sahut
Megumi. Aku pun bingung. Ha? Maksudmu? tanyaku. Tampaknya
kau masih belum mengerti, Mina! kata Yukari. Ha? Maksudmu?
tanyaku lagi. Megumi dan Yukari tak menjawab malah tertawa. Uuh!
Kedua anak itu... memang benar-benar menyebalkan!

15

Waktu terus berjalan hingga menunjukkan pukul setengah


sepuluh. Para murid sudah pulang satu per satu hingga sepi. Aku pun
mengenakan jaketku dan bergegas pulang. Jaa ne (sampai jumpa),
Mina. kata Megumi. Un. Kiotsukete (hati-hati). balasku. Megumi dan
Yukari berjalan pulang bersama meninggalkanku. Aku pun turut
berjalan pulang ke rumahku. Di tengah perjalanan, aku terus
memikirkan kenangan bersejarah ini. Tak kusangka aku bisa bertemu
Yusuke-san dalam waktu selama ini.
Sesampainya di rumah ketika akan tidur di kasurku, aku tak
bisa tidur dan terus bergeliat di kasur seperti orang gila. Kusso (sialan)!
Ano niichan no yaro (niichan brengsek itu)...! Dia sudah membuatku
seperti orang gila! Kusso (sial)... Yusuke-san...! kataku. Aku menyadari
mama dan Yukata mendengarkanku dari luar. Neechan... daijoubu ka
na (apakah kakak baik-baik saja)? kata Yukata.
Esok harinya aku berjalan ke sekolah seperti biasa. Karena
sudah sedikit terlambat, aku pun memutuskan untuk berlari. Di tengah
perjalanan, aku merasakan guncangan besar seperti gempa bumi. Aku
pun berpegangan pada sebuah tiang listrik untuk menghindari
guncangan selanjutnya. Ternyata guncangan itu sudah tak ada lagi.
Akan tetapi dapat kulihat dari kejauhan, terdapat gumpalan awan
hitam mengelilingi sebuah tempat. Ano tokoro wa tashika (bukannya
tempat itu)... uchi no gakkou (sekolahku)?! kataku dengan sedikit
terkejut ketika menyadari bahwa lokasi itu dekat dengan sekolahku.
Tanpa banyak basa basi lagi, aku langsung berlari menuju tempat itu
dan memojok di suatu tempat untuk bersembunyi. Ternyata tempat itu
adalah rumah sakit. Dapat kulihat ada juga Megumi dan Yukari, juga
Okazawa yang menyaksikan kejadian ini. Seorang manusia dalam
wujudnya yang sudah separuh terlahap oleh yokai telah memporakporandaikan rumah sakit itu. Are wa (itu)... yokai?! Dan dia sudah
berhasil menangkap manusia?! batinku.
Tak lama kemudian, sosok orang berjubah hitam datang ke
tempat itu. Kuroi Karasu?! batinku lagi, Untuk apa dia terjun ke
16

sana? Tanpa banyak berpikir panjang lagi, aku memerhatikan setiap


gerak-gerik yang dilakukan anggota Kuroi Karasu itu. Minna
(semuanya), sagatte kudasai (tolong mundurlah). Berbahaya untuk
menghadapi manusia yang sudah tertelan yokai sepertinya. ucapnya.
Ia nampak sangat tenang dalam menghadapi yokai itu. Ketika sudah
mulai menyerang, Kuroi Karasu itu langsung menghindar secepat kilat.
Setiap serangan yang diluncurkannya berhasil dihindari. Dan pada
akhirnya, Kuroi Karasu itu menyelinap ke belakang yokai itu dan
menikamnya dengan tombak es. Ia pun ambruk ke tanah.
Tsugoi (hebat). Hanya dalam sekejap kenapa ia bisa
mampu menakhlukkan yokai itu? batinku. Aku terus memerhatikan
dan tidak keluar. Ketika yokai itu telah ambruk ke tanah, Kuroi Karasu
itu langsung menyemprotkan air ke tempat terbakarnya gedung rumah
sakit itu. Ia bergerak meninggalkan tempat itu. Tepat di saat itu juga,
yokai itu kembali bangkit dan menyerangnya. Dengan tangkas, ia
mengeluarkan air dan membelit tubuhnya dari bawah hingga atas.
Dalam waktu singkat, yokai itu sudah tidak lagi bernapas. Kuroi Karasu
itu meletakkannya ke tanah. Para penduduk yang ada di sana langsung
terpukau dengan apa yang mereka saksikan.
Iiya (tidak), iiya (tidak)! Ini bukan saatnya untuk menonton
saja! batinku. Aku pun segera berganti seragam Kuroi Komori dan
menancapkan Contactor pada telingaku. Aku segera memunculkan diri
tepat di depan Kuroi Karasu itu. Turunkan senjatamu! seruku. Polisi
dan penduduk sekitar terdengar bisik saling membisik. Matte kudasai
(tolong tunggu), Kuroi Komori-san! Orang ini telah mencoba
menyelamatkan... Nampaknya bukan begitu, pak polisi. Sumimasen
(maaf), minna (semuanya). Tapi pertarungan ini melibatkan dua
organisasi yang tak ada hubungannya dengan kalian. Sagatte kudasai
(tolong mundurlah), kata Kuroi Karasu itu.
Para polisi tidak mau mundur dan malah menodong pistol
ke arah kami. Mattaku (ya ampun). Manusia itu memang sedikit susah
diatur, ya? Teknik pertahanan, Dua Perisai Gemini! ucap Kuroi Karasu
17

itu sambil membentuk segel tangan dan mendirikan benteng yang


memisahkan kami dari para penduduk. Huh, ide bagus! kataku.
Tanpa banyak berceloteh, kami langsung maju dengan gerakan langkah
yang sama, dan saling membenturkan pedang. Apa sebenarnya
keinginanmu? Apa tujuanmu datang kembali ke dunia dan
membangkitkan yang mati?! seruku. Ia tak menjawab dan terus
membenturkan pedangnya. Wahai engkau yang menyejukkan dan
memberikan kehidupan manusia..., bangkitlah, amukan ombak air!
serunya sambil mengendalikan elemen airnya. Rasanya seperti semua
air yang ada di dalam tanah sedikit apapun jumlahnya telah berhasil
diserap dan dibangkitkan olehnya. Aku pun membangun apiku dari
pancaran matahari. Engkau yang menjadi sumber kehidupan, energi,
penguat, penuntun jalan, bangkitlah, raungan api! seruku.
Kami berlari dan saling membenturkan kedua elemen kami
bersamaan dengan volume yang besar. Di saat itu juga, kami terpental
saking besarnya volume elemen kami. A...abunakatta (hampir saja)!
Sial! Anginnya memang memperbesar apiku, tapi kalau saja airnya lebih
sedikit, aku pasti akan berhasil membuat lautan api dan
melelehkannya! batinku. Kami sedikit terengah-engah dan shock
karena hampir saja kami saling menghapus elemen.
Di tengah pertarungan itu, tiba-tiba ada panggilan dari
kuartir melalui Contactor. Moshimoshi (halo)? ucapku. Mina?! Mina,
doko ni iru (kau di mana)? Ima (sekarang)... omae wa Kuroi Karasu to
tatakaeteiru n desho (kau sedang berperang dengan Kuroi Karasu,
bukan)? Terdengar suara Orenji-senpai yang tampaknya sedang
gopoh. Doukashimashita (ada apa)? tanyaku. Mina, kitte
(dengarlah). Kami sudah melakukan beberapa penelitian dengan jubah
yang kau serahkan pada kami. ucapnya.
Jantungku berdetak kencang ketika mendengar kabar itu.
Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah Kuroi Karasu yang
sedang kuhadapi. Ano me (mata itu)! Kira-kira siapa orang ini?
batinku. Setelah beberapa penelitian dilaksanakan, kami telah
18

mengetahui identitas orang ini melalui pencocokan Contactor kita dan


Contactor Kuroi Karasu! Nama orang itu adalah Yusuke... Watanabe
Yusuke! Dia sudah meninggal dua tahun yang lalu! Seketika badanku
terasa kaku. Yusuke...san? ucapku. Sou da (itu benar), Mina! Dia di
klasifikasikan sebagai spy khusus, karena ia mampu memanipulasi
angin menjadi energi listrik. Kiotsukero (berhati-hatilah), Mina! Mina?
Kikoeru (kau bisa mendengarku)? Tiba-tiba suara Orenji-senpai
terputus-putus dan akhirnya sambungan terputus.
Yusuke-san...? batinku. Kuroi Karasu itu langsung
mengambil kesempatan disaatku terdiam. Ia melaju sambil
melemparkan sabit anginnya. Aku pun membalasnya dengan api.
Kukira dengan anginnya apiku akan membesar dan mengalahkannya.
Tetapi dugaanku salah. Apiku turut padam bersamaan. Kuroi Karasu itu
nampak kehabisan tenaga. Tak lama kemudian, benteng yang ia dirikan
menghilang perlahan. Ia pun membentuk segel di tangannya dan
menghilang. Sementara itu aku masih terdiam di tengah lapangan.
Kuroi Komori-san! seru salah seorang polisi. Aku langsung
membentuk segel tangan dan menghilang.
Aku segera mencari tempat tersembunyi dan berganti
pakaian seraya berjalan menuju sekolah. Sampai sekolahpun, tanpa
sadar aku tidak menghiraukan teman-teman yang menyahutku. Aku
hanya membalas mereka dengan lambaian tangan, termasuk Megumi
dan Yukari. Sampai-sampai, aku tak bisa konsentrasi saat pelajaran
ekonomi. Padahal biasanya aku paling memerhatikan bila saatnya
pelajaran ekonomi. Aku tak mendengarkan setiap kata yang terucap
dari sensei. Pelajaran kita selesai hari ini. Ada pertanyaan? ucap
sensei, Bila tidak ada, saya meminta kalian semua membuka buku
pelajaran kalian dan menyelesaikan soal evaluasi semester akhir. Aku
tetap malah berpaling dan menatap ke arah luar jendela dengan
tatapan down.
Dari belakang, Yukari melempariku kertas yang sudah
diremas-remas. Nanda yo (ada apa)? Berhenti menggangguku!
19

kataku. Yukari menyodorkan jari telunjuknya ke depan. Takahashisan? Bisakah Anda menjawab pertanyaan ini?! tanya sensei dengan
nada yang sedikit tinggi. Astaga! Aku tak sadar bahwa dari tadi sensei
memanggilku. A...a... hai (ya)! Eeto (anu)... jawabannya... ucapku
terputus-putus sambil berusaha mencari soal evaluasi yang diberikan
sensei. Oh, jadi Anda tidak mengerjakan dari tadi, Takahashi-san? Apa
yang sebenarnya Anda pikirkan? Kenapa tidak memerhatikan
pelajaran? Tidak biasanya Anda bersikap begini! Tolong cobalah
berkonsentrasi ketika pelajaran saya! ucap sensei dengan marah.
Ha... hai (iya)... balasku. Semua murid pun menertawaiku.
Sepulang sekolah pun aku tak bisa menenangkan diriku. Aku
berpisah dari Megumi dan Yukari di lapangan belakang. Aku berjalan
menuju kantin dan membeli es krim. Ketika hendak berjalan pulang,
tiba-tiba aku menabrak seseorang, dan tentunya es krimku turut
tumpah mengotori bajunya. Nanda (apa)? Kau tak punya mata, ya?
ucap orang itu. Sumimasen (maaf)..., aku tidak sengaja... Ketika
menengadahkan kepalaku, dapat kulihat dengan jelas bahwa itu
Yusuke-san. Kenangan pahit itu pun kembali dan membuatku membisu.
He... nanda (apa), Takemaru no imouto ka (adik Takemaru
ya)? ucapnya lagi. Ano (anu)... hontou ni sumimasen (aku benarbenar minta maaf)! Tapi... tolong jangan beritahu niichan akan hal ini!
Ano (anu)... akhirnya pasti akan sangat memalukan! Aku
menundukkan kepalaku dengan rasa malu yang luar biasa. Sudah,
pergilah! Berhati-hatilah lain kali! Dan aku baru ingat... kau teman
Okazawa, kan? Okazawa sudah lama pulang, kenapa kau masih
berkelana di sini? katanya lagi. A... aku menyelesaikan pekerjaanku
yang masih belum selesai, jadi... aku memutuskan untuk lebih lama
berada di sekolah ini! jawabku. Mou ii darou (sudah cukup)! Cepatlah
pergi sebelum aku berubah pikiran! Ha... hai (iya)! balasku.
Aku berlari meninggalkannya hingga sampai di lapangan
parkir belakang. Mou (duh), nani o kangaeteiru no watashi (apa sih
yang kupikirkan)?! Kenapa aku begitu ceroboh? Aku... bahkan sampai
20

melakukan itu pada Yusuke-san. Haah..., menjadi Kuroi Komori itu tak
mudah juga. Ternyata memang benar.... Aku harus menghabisi
siapapun di depanku, tak peduli siapa orang itu, temanku, keluargaku,
atau siapapun. ucapku. Aku kembali berjalan pulang menuju rumahku,
rasanya masih sambil menyeret beban.
Ketika membuka pintu rumah, lagi-lagi tak ada orang.
Mama dan Yukata sepertinya pergi lagi. Dan ternyata benar, mama
menuliskan sebuah surat untukku pada selembaran kertas kecil yang
tertempel di pintu kulkas. Maka karena terpaksa, aku pun menyalakan
kompor dan memasak omelette untuk makan siang. Setelah makan
siang, aku langsung ganti baju dan tidur siang. Aku menyandarkan
kepalaku yang sangat berat itu di atas bantal sambil mengangkat
tanganku ke atas yang sedang menggenggam Contactor ku. Aku masih
merenung sambil terus memerhatikan informasi spy Kuroi Karasu,
status dan biodata lengkapnya itu. Tak terlepas juga dari informasi
Orenji-senpai.
Lama kelamaan, tanpa sadar mataku pun turut terasa berat
dan akhirnya terpejamkan. Ketika bangun, rupanya mama dan Yukata
masih belum pulang juga. Karena tidak terlalu sibuk, aku pun
memutuskan untuk berendam di kamar mandi. Sudah lama sejak
terakhir kalinya aku berendam di bath up. Aku merenung. Minggu
depan akan ada libur tengah semester. Rasanya lega karena akhirnya
bisa libur, tapi... rasanya juga ada sesuatu yang kurang. Ah..., aku ini
kenapa, sih? Dari dulu aku ingin libur panjang, tapi kenapa setelah
diberi libur, aku malah ingin masuk sekolah? Kenapa aku jadi merasa
bosan untuk libur? Aku jadi tak bisa menyingkirkan pikiranku, dan
berhenti berpikir kalau aku akan bosan liburan tengah semester ini. Ya,
benar juga. Sementara aku libur, mama dan papa tetap bekerja. Aku
tak punya siapapun yang bisa kuajak liburan sama-sama.
Terlepas dari hal itu, belum tentu juga teman-temanku mau
kuajak pergi. Mungkin saja mereka punya urusan lain. Ah..., dou suru
(apa yang harus kulakukan)? Aku masih saja terjebak dalam mangkuk
21

berisi air hangat ini dan tidak dapat mentas dengan membawa pikiran
segar. Akhirnya karena lelah, aku pun memutuskan untuk mentas dan
merebahkan kepalaku di atas kasur. Aku membiarkan pikiranku
berputar dan tak lama kemudian tanpa sadar aku terlelap dalam tidur.
Sementara waktu terus bergulir. Seminggu setelah itu, hari
pertama libur tengah semester pun dimulai. Papa dan mama sudah
membuat keputusan untuk mengunjungi nenek dan kakek di Osaka.
Yukata pergi bermalam dengan sekelompok teman sekolahnya.
Sementara aku yang suka berpikir panjang ini masih saja terbaring di
kasurku sambil memeluk guling dengan iPhone di sebelahku sendirian.
Aku melirik ke arah iPhone ku dan pada akhirnya membuka LINE. Aku
diam-diam tanpa alasan mengganti statusku. Samishii (sepinya)....
Minna ni aitakatta (aku rindu teman-teman). Tak lama kemudian,
iPhone ku berdering, sebuah pesan LINE masuk, dan pesan itu datang
dari Yukari dan Megumi, di group chat. Oh, sou ka (begitu ya)? Kawai
sou na (kasihan kau), Mina. Kau pasti juga rindu dengan Yusuke-senpai,
kan? kata Megumi. Sou (benar), sou (benar)! Kawai sou na (kasihan
kau), Mina. lanjut Yukari.
Aku mengkerutkan bibirku. Setiap ada sesuatu yang
kuucapkan, mereka selalu mengkaitkannya dengan Yusuke-san,
padahal sebenarnya tidak. Mou (duh), nanda yo (apaan sih),
anatatachi (kalian itu)? Aku hanya bilang aku rindu, itu tidak berarti
harus Yusuke-san, kan? balasku singkat. Hm... kau bilang temanteman, kan? Kalau Yusuke-san bukan termasuk dalam daftar temanmu,
berarti dia jodohmu, kan? balas Megumi. Aku pun mengernyitkan
kening dan makin kesal. Kalian...! Bisakah berhenti berbicara tentang
Yusuke-san? Aku sedang kesal kali ini! balasku. Ya, kau kesal, karena
tak dapat bertemu dengannya, kan? sahut Yukari. Aku pun makin kesal
dan kesal. Uuh..., mereka benar-benar kelewatan!
Yah, maaf, maaf. Kami hanya bercanda. Tonikaku (lebih
penting lagi), hanashi ga aru yo (kami ada sesuatu yang perlu
dibicarakan). Aku mengangkat sebelah alisku. Barusan mereka
22

bercanda tentang Yusuke-san, kenapa sekarang malah bilang ada


sesuatu yang ingin dibicarakan. Aku bosan. Kukira, setelah ujian
tengah semester yang melelahkan, kita sebaiknya berekreasi. kata
Megumi. Berekreasi? tanyaku. Sou yo (itu benar). Kami berencana
ke Tokyo Disneyland. Aku membelalakkan mataku membaca cetusan
ide Megumi. Tokyo Disneyland? balasku. Sou (benar). Apa ada yang
salah dengan itu? Maa (nah), kami berencana berangkat dua hari
mendatang. Kau mau ikut? Kurasa, sebagai teman, kami memang perlu
mengajakmu. Dan sebagai teman pula, kau mau ikut? lanjut Megumi
lagi.
Aku membaca pesan Megumi lagi. Sebagai teman, ya?
Mereka terkadang menyebalkan karena terus meledekku dengan
Yusuke-san, tapi di sisi lain, kenapa kebetulan sekali mereka sepikiran
denganku yang bosan liburan ini? Kalau masalah uang, kau tak usah
menghutang, tak usah bingung. Semua sudah diperhitungkan, kok.
lanjut Megumi. Aku menghembuskan napas, kupikir akan
menjernihkan pikiranku. Baiklah kalau begitu. Aku akan tanya pada
orang tuaku, apakah boleh atau tidak. jawabku. Oke. Kalau begitu
segera beritahu kami ketika sudah dapatkan jawaban, ya? Jaa (nah),
mata na (sampai ketemu)! lanjut Megumi.
Aku segera mengunci iPhone ku dan bangkit dari tidur.
Kusandarkan kepalaku pada tembok kamarku. Rekreasi, ya? Ternyata
memiliki teman memang menyenangkan.... Mereka yang selalu datang
di saat yang tepat, memiliki pendapat yang tepat.... Benar begitu,
Hayato? ucapku. Entah mengapa, saat ini pikiranku terasa terseret
mundur sampai empat tahun yang lalu. Ya, sosok Hayato, orang yang
mudah sekali bergaul. Tanpa memandang kaya, miskin, siapapun orang
itu selalu mudah sekali menjadi teman baginya. Dan juga orang yang
meninggalkanku setelah satu tahun memiliki status sebagai pacarku.
Aku kembali menjatuhkan kepalaku ke atas bantal dan
merentangkan kedua tanganku. Kupejamkan mataku dan menghela
napas dalam-dalam, berusaha menjatuhkan batu beban di hatiku. Aku
23

tertidur tanpa sadar dan bangun ketika mama pulang. Suara bel pintu
depan membangunkanku. Aku mengintip dari balik jendela, dan itu
memang benar, mama dan Yukata. Aku pun langsung membukakan
pintu untuk mereka. Tadaima (aku pulang), Mina! Maaf
meninggalkanmu terlalu lama! Yah, yah, selagi cuaca bagus, mama
pergi petik buah dan belanja bahan makanan di pasar. ucap mama.
Aa (ya), okaeri (selamat datang kembali), mama. Aku sedang tak ingin
ikut makan siang, jadi, aku langsung tidur. Dua hari lagi aku akan ikut
teman-teman ke Tokyo Disneyland. Sebenarnya aku tak meminta ijin
mama atau apa. Aku hanya ingin beritahu. lanjutku seraya menutup
pintu. Sou ka (begitu ya)? Jaa (kalau begitu), itterashai ne (jaga diri),
ya. Sampaikan salam untuk teman-temanmu juga.
Aku kembali ke kamar dan tidur. Dua hari telah berlalu. Pagi
hari itu, aku beranjak dari tempat tidur dan langsung mandi. Setelah itu,
kukenakan T-shirt putihku dan celana jeans panjang serta scarf dan topi
karena dingin. Terakhir, aku membungkus tubuhku dengan jaket. Aku
memasukkan Contactor, iPhone, dan sejumlah uang ke dalam
dompetku. Sebelum berangkat, aku sarapan di rumah dengan
memasak mapo tofu. tak mudah lapar di tengah perjalanan. Setelah itu,
sesuai perjanjian, kami berkumpul di cafe di dekat rumahku.
Aku sampai di cafe didahului Yukari. Aku melirik ke arah jam
tanganku. Jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh. Aku berjalan
memasuki cafe, dan duduk di sebelah Yukari. Ohayo (selamat pagi)!
sahutku. Un. Ohayo (selamat pagi), Mina! ucapnya, Kau mau makan
dulu? Aku memesan sarapanku di sini. Eh? Aku menatap Yukari
dengan bingung. Kamu tak tahu, ya? Cafe ini terkenal, lho. Cobalah
memesan. lanjut Yukari. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, maka
kuambil buku menu di depanku dan kubaca menu yang tersedia.
Setelah beberapa saat, akhirnya kupesan sandwich ham
dan keju, dengan breakfast tea. Aku tak pernah menyangka, kalau
menu di sini begitu enak. Breakfast tea ini dirancang khusus tanpa
pemanis buatan, dan ketika sampai lidah, setiap kelezatannya meleleh
24

dan menyebar di setiap lapisan lidahku. Aku mengambil pisau dan


memotong sandwich ku, dan mengangkatnya masuk ke mulutku
dengan garpu. Keju yang dioleskan terasa begitu hangat dan rasanya
mendekati mozarella cheese pizza. Aku benar-benar menikmati
sarapanku di sana.
Saking enaknya, aku sampai tak sadar kalau mobil Megumi
sudah datang. Ah, kita yo (mereka datang)! sahut Yukari yang
membubarkan selera makanku. Aku pun sedikit mempercepat
gerakanku melahap sandwich itu. Setelah habis, aku mulai menyeruput
teh itu perlahan, dan merasakan kehangatan teh itu yang melenyapkan
suhu dingin ruangan cafe. Megumi masuk dan langsung menyapa,
Ohayo (selamat pagi), Mina, Yukari! Kalian tampak menikmati sarapan
di sini, ya? Kedatangannya itu diikuti oleh seorang laki-laki, bertubuh
tinggi dan memakai kacamata hitam. Yo (hei)! Semuanya sudah siap,
lho. Ayo, jangan lama-lama, nanti kalian takkan puas berhibernasi di
sana. Pemuda itu kemudian melepas kacamatanya, dan ia ternyata
Takemaru-niichan.
Ni... niichan made mo (bahkan sampai kakak ikut)?!
seruku. Kupikir akan menyenangkan juga kalau Takemaru-senpai ikut,
jadi aku juga mengajaknya. Tak ada salahnya, kan? jelas Megumi. Sou
(benar), sou (benar), Mina. Semakin banyak orang, semakin
menyenangkan, bukan? Selain itu, kakak kelas yang paling kita kenal di
antara yang lain adalah kakakmu, kan? lanjut Yukari. Aku sempat
mengajak Okazawa dan Yusuke-senpai. Tapi mereka bilang mereka ke
Hong Kong. sahut Megumi yang membuatku terkejut. Na... nani
(apa)?! Apa yang kau katakan padanya? tanyaku dengan kesal dan
tersipu malu. Hm? Aku hanya tanya apa mereka bisa ikut bersama
kami atau tidak. Aku tak mengatakan kau yang mengajaknya, kok.
jawab Megumi.
Aku terdiam setelah mendengar mereka. Sebenarnya, sih,
ada juga rasa kecewa yang mampir tanpa permisi. Kalau memang
Okazawa dan Yusuke-san bisa ikut, akan tambah seru, bukan? Akan
25

menyenangkan juga kalau ada Yusuke-san. Entah mengapa ada


perasaan seperti itu. Jaa (nah), issho ni ikimasho (ayo pergi samasama)! seru Megumi. Kami berangkat dengan mobil Megumi.
Sopirnya membawa mobil BMW nya itu melesat menuju ke Tokyo
Disneyland yang terletak sedikit jauh dari rumah tempat kami tinggal.
Sesampainya di sana, Tokyo Disneyland yang besar itu
sudah nampak penuh dengan pengunjung. Banyak pula remaja-remaja
yang berwisata ke sana. Dengan cuaca yang memungkinkan dan liburan
yang memadai ini tak heran Tokyo Disneyland menjadi tempat wisata.
Ketika akan masuk, kami harus mengantre untuk membeli tiket. Ada
beberapa lorong loket di sana. Dan semua loket telah dipenuhi
berjajar-jajar orang yang akan membuat kami kesulitan mengantre.
Nee (eh), Megumi. Kau yakin kita akan mengantre? tanyaku. Hm?
Oh, ya! Aku lupa memberitahumu. Yukari punya teman yang menjual
tiket masuk Tokyo Disneyland di internet. Harganya sama, sih. Tapi
kupikir akan lebih memudahkan kita karena tak perlu mengantre di
loket. Kita hanya perlu langsung saja masuk sambil menunjukkan hasil
print tiket yang kita beli. jelas Megumi. Lalu berapa biayanya? Aku
akan membayarnya... Tidak usah. Aku sudah sepakat untuk urunan
dengan Yukari. Karena kami, kan, yang mengadakan acara ini. Anggap
saja ini ongkos waktumu, Mina.
Aku hanya mengangguk seolah mengerti. Aku tak
menyangka mereka sudah melakukan persiapan sejauh itu. Maka, kami
menunggu giliran hingga boleh masuk ke dalam. Sementara itu,
Takemaru-niichan mengambil foto beberapa objek wisata Tokyo
Disneyland dengan kamera gantungnya. Beberapa saat kemudian,
giliran kami tiba. Ketika kami masuk, masing-masing dari kami
mendapatkan sebuah peta arena Tokyo Disneyland beserta
keterangannya masing-masing, termasuk toko souvenir dan tempat
makan.
Jaa (nah), ikou (ayo pergi)! sahut Megumi. Baru pertama
masuk, kami langsung bertualang gelap-terang di Splash Mountain,
26

Critter Country. Pertama-tama, kami memasuki sebuah area gelap


disambut dengan boneka aneh yang lucu. Kemudian keluar
menyambut cahaya sambil melihat-lihat duri-duri aneh di tengah
perairan. Takemaru-niichan tentunya langsung mengambil gambargambar itu. Kemudian perahu terus berjalan dan membawa kami ke
area gelap, menuju ke sebuah hutan fantasi dengan boneka-boneka
kartun. Ada beruang bermain gitar, buaya bernyanyi, dan banyak
boneka unik yang lucu di sana. Setelah itu, kami dibawa naik dengan
kencang menuju sebuah ruangan dengan banyak sarang lebah. Dan
bisa kulihat beberapa beruang dan hewan lainnya bermain-main
dengan sarang lebahnya! Hahaha! Sedikit menakutkan tapi seru juga
menakuti orang dengan itu!
Maka kembali lagi kami masuk menuju hutan fantasi. Lucu
sekali melihat katak-katak kecil bernanyi dan kura-kura yang duduk di
atas pancuran air. Setelah selesai meleewati lorong gelap itu, kami
dibawa naik ke atas dan meluncur dengan kencang menuju area
terang. Di dunia fantasi terakhir, aku sempat dikejutkan oleh
munculnya buaya ke permukaan air sambil menarik-narik ekor seekor
hewan. Terakhir, terdapat sebuah istana dengan tulisan besar Zip A
Dee Lady, dengan parade buaya yang bernyanyi, menari, sampai
memainkan musik. Keluar dari area Critter Country, foto-foto selca
kami sudah banyak di kamera niichan.
Selanjutnya, kami langsung menuju ke Big Thunder
Mountain, Westernland. Kami berjalan jauh menuju tempat
pemberhentian kereta. Memasuki lorong, antrean begitu panjang dan
hampir membuat kami pingsan. Untung saja Megumi membawakan
tiga botol Pocari Sweat sehingga kami tetap terjaga. Kami terus
berjalan, berputar-putar searah pagar batas antrean. Sambil
menikmati view pegunungan dan pemandangan alam di luar, tak terasa
kami pun akhirnya memasuki kereta bersama para pengunjung lain.
Kukira, perjalanan akan cukup tenang seperti di Splash
Mountain tadi sambil menikmati pemandangan. Tetapi yang kali ini
27

begitu berbeda. Railroad-nya lah yang berbeda. Dengan jalur yang


berlikuk-likuk tajam itu, kami diguncang-guncangkan hingga seisi perut
kami ikut terguncang. Aku tidak mual, tapi pusing. Tanjakan dan
turunan yang tiba-tiba itu membuatku darah tinggi! Megumi, Yukari,
dan niichan-lah yang mual. Ketika turun, mereka meminta ijin untuk ke
toilet. Sementara aku berusaha mengatur napas dan detak jantungku.
Nee (eh), Mina-chan! Resutoran ni ikou (ayo ke restoran)! sahut
Yukari. Aku menoleh ke arahnya dan melihatnya yang sedang
memegangi perutnya. Ore mo genkai da yo (aku juga sudah melebihi
batas). Onaka ga heteru n da (aku lapar)! lanjut niichan.
Aku dan Megumi menatap mereka dengan heran. Lama
kelamaan kami pun tertawa. Ii wa yo (baiklah), niichan. Tabe ni ikou
(ayo pergi makan). kataku yang dilanjutkan dengan ya dari Megumi.
Kami tak berjalan terlalu jauh dari area Big Thunder Mountain. Kami
tiba di sebuah tempat makan yang tak begitu besar, tapi kami bisa
memilih makanan yang kami inginkan (buffet). Seusai mengisi perut
kosong kami, kami melanjutkan perjalanan. Masih di Westernland,
kami melanjutkan perjalanan menuju ke Mark Twain Riverboat. Ya,
benar. Ketika kami sampai, sebuah kapal besar datang menjemput
kami untuk mengelilingi sebuah sungai panjang. Ua..., sugoi (hebat)!
Marude Taitanikku ja nai ka (mirip seperti Titanic ya)! seru salah
seorang pengunjung. Setelah ada aba-aba dari petugas, kami
memasuki kapal itu dan naik menuju lantai paling atas. Tak lama
kemudian kapal yang kami tumpangi ini membawa kami menjelajahi
sungai panjang itu. Pemandangan alam dengan cuaca yang cerah dan
angin yang lembut itu dapat kami rasakan dengan panca indra. Aku
memejamkan mata dan terus menghirup udara yang segar itu. Ketika
menoleh ke arah niichan, aku menyadari suatu keanehan. Ia tidak
sedang merekam perjalanan kami dengan kapal ini.
Takemaru-niichan? Doushita no (ada apa)? Tumben kau
tidak memotret perjalanan. sahutku. Niichan tersenyum tipis. Aku
masih tidak tahu ini akan menjadi saat terindah bagiku atau tidak. Yang
28

penting, saat ini aku benar-benar menikmatinya. Jadi, aku akan fokus
pada diriku. balasnya. Aku tertawa mendengus. Kemudian, niichan
tiba-tiba menyalakan kameranya dan memotretku. Apaan itu? Kau
bilang kau mau mementingkan dirimu saja dan menikmati perjalanan,
kan? sahutku dengan tersenyum melihat aksinya. Nona Mina,
bolehkah saya mengambil foto anda? ucap niichan dengan bercanda.
Aku hanya membalasnya dengan tersenyum dan membiarkannya
mengambil fotoku. Kemudian ia mengeluarkan tabletnya dan
mengambil foto kami berdua.
Sementara itu, kapal terus berjalan. Di tengah jalan kami
dapat melihat pepohonan yang tumbuh begitu lebat di sebuah daratan,
rumah penduduk, dan kami dapat melihat air terjun seperti yang kami
lihat ketika di Mountain Splash. Hanya saja, bedanya ada pada
kendaraan yang kami tumpangi. Aku kembali memejamkan mata dan
membiarkan panca indraku berkeliling menikmati keadaan cuaca pada
saat itu. Tak terasa, kapal berhenti suatu tempat dan mendaratkan
para penumpangnya di tempatnya.
Setelah sampai, kami meloncat ke Space Mountain,
Tomorrowland. Lorong dan antrean yang cukup panjang sudah
membuat kakiku kram. Setelah mengantre, kami memasuki loronglorong panjang seperti pada roket atau pesawat luar angkasa. Setelah
melewati berbagai lorong dan ruang, kami akhirnya dibawa oleh
sebuah kereta menelusuri area lebih dalam. Aku kesulitan melihat
sekelilingku karena lampu yang terus menerus nyala-redup. Tapi
tunggu! Kenapa di tengah-tengah aku tak bisa melihat apa-apa?
Semuanya begitu gelap. Yangd dapat kurasakan hanyalah jalannya
kereta yang terus membawaku menelusuri Space Mountain yang
begitu gelap. Beberapa saat kemudian, kami disambut dengan percikan
cahaya disko yang terang dan di saat itu pula kami dapat melihat jalan
keluarnya.
Kami keluar dari area Space Mountain. Niichan berjalan
dengan sedikit pelan. Wajahnya mencerminkan kekecewaan.
29

Doushita no (ada apa), niichan? tanyaku. Huh! Kukira aku bisa


mengambil foto untuk setiap wahana, ternyata aku tak bisa mengambil
foto ketika berseluncur di Space Mountain! jawabnya. Tapi
memotret perjalanan kita memasuki lorong-lorongnya sudah cukup,
kan? lanjutku. Tidak, tidak. Harusnya kita bisa membuat video ketika
kita berseluncur di dalam kegelapan itu tadi. Tapi aku tak bisa melihat
apapun. Maa (sudahla), ikou ka (ayo pergi). kata niichan. Aku
mengakhirinya dengan tertawa kecil.
Masih di Tomorrowland, kami melanjutkan perjalanan luar
angkasa di Star Tours. Dilihat dari interior ketika kami masuk sudah
benar-benar menunjukkan khas dari roket. Ketika di tengah jalan, kami
dapat melihat beberapa robot lucu yang bisa berbicara. Niichan segera
mengambil kamera dan memotret mereka, berulang kali. Kami terus
berjalan, dan berjalan hingga sampai di sebuah ruangan. Sebuah layar
menampilkan adegan di luar angkasa bersama para robot-robot kecil
yang bisa berbicara itu. Ada pemimpin, dan ada anggota-anggotanya.
Aku tak tahu dan tak sadar apa yang terjadi, tapi tempat dudukku bisa
bergerak mundur dan ke samping kiri dan kanan. Sementara adegan
terus diputar, seolah-olah kami memasuki dunia perang bersama para
robot itu.
Ketika adegan itu menjelang usai, tempat duduk kami mulai
bergerak sedikit turun perlahan, dan akhirnya berhenti. Waktu sudah
menunjukkan pukul setengah tiga. Kami memutuskan untuk
menyelesaikan waktu terakhir ini di Fantasyland. Yang pertama kali
kami kunjungi adalah Haunted Mansion. Di luar dugaan, ternyata
tempat ini merupakan salah satu tempat favorit para pengunjung di
Fantasyland. Dan tak lepas dari itu, kata orang-orang Haunted Mansion
memang tak kunjung sepi terutama ketika hari libur. Ketika berjalan
menuju antrean, interior luar Haunted Mansion sudah benar-benar
menunjukkan betapa tuanya bangunan itu. Dapat kami lihat temboktembok yang retak dan pagar yang sudah patah.

30

Ketika kami masuk, kami disambut oleh sebuah lukisan iblis


yang berbicara dan mengakhiri pembicaraannya dengan tawa yang
membahana. Aku tak memedulikan apa yang ia katakan, dan hanya
melihat-lihat ruangan sekelilingku. Kami memasuki bagian yang lebih
dalam. Ah..., membosankan. Rasanya hanya seperti memasuki ruangan
gelap dan aku tak bisa melihat apapun di sana. Tapi kegelapan itu
sedikit membuatku merinding, sih, terutama ketika lampu tiba-tiba
menyala dan kami dapat melihat sebuah alunan piano yang dimainkan
tanpa adanya pianis. Kereta terus berjalan dan kami mulai memasuki
sebuah jalan, sementara lampu masih padam. Di tengah-tengah kami
bisa mendengar suara terbukanya pintu ruang. Bunyinya begitu
menggema.
Aku sudah mengantisipasi serta mengatur napas dan detak
jantungku agar tidak tersentak kaget ketika melihat hal-hal aneh
lainnya. Sementara kereta terus berjalan. Kami sampai di sebuah
gerbang terbuka yang nampaknya akan membawa kami menuju
sebuah lorong panjang dengan kamar yang begitu banyak. Di samping
gerbang itu ada sebuah patung pakaian baja prajurit kerajaan. Lampu
kembali dipadamkan tak lama kemudian terdengar suara tawa setan
yang menggema disertai dengan nyalanya lampu yang menerangi
sebuah peti. Tak kalah lagi, kami kemudian ditunjukkan penampakan
setan di balik jendela. Megumi dan Yukari sempat tersentak kaget,
sementara aku dan niichan yang sudah sering melihat itu tidak lagi
kaget.
Di sebuah hal terdapat beberapa orang-orang berdansa,
yang tak lain adalah penampakan. Boneka-boneka aneh dan
menyeramkan terus bermunculan mendadak. Seorang wanita
terbungkus kain putih sekujur tubuhnya tiba-tiba menampakkan wajah
menyeramkannya. Di akhir perjalanan, kami melihat api-api roh yang
beterbangan dari sebuah ladang kuburan, beberapa orang yang
memainkan musik, hingga kepala patung-patung yang ikut bernyanyi.

31

Kami turun dari kereta dan keluar dari area Hauted Mansion
itu. Megumi dan Yukari nampak masih memegangi dadanya karena
suasana yang bagi mereka terasa mencekam. Daijoubu ka (apa kalian
baik-baik saja), Megumi, Yukari)? Kau yang mengajak kami masuk, tapi
kenapa malah ketakutan sendiri? sahutku. Daijoubu yo (kami tak apaapa), Mina. I...ikou (ayo pergi), ikou (ayo pergi). jawab Yukari.
Kami melanjutkan perjalanan hingga ke Its A Small World,
Fantasyland juga. Itulah area terakhir yang kami kunjungi karena waktu
sudah menunjukkan pukul lima sore. Nah, kami berjalan menuju
sebuah istana dengan interior luar berupa istana dengan jam dinding
besar dengan gambar wajah. Jam itu berputar-putar diiringi lullaby
yang lucu, seperti akan menidurkan anak kecil. Tiba-tiba saja pintu
gerbang istana terbuka dan sejumlah manusia robot keluar satu per
satu. Hihihi! Lucu sekali! Kemudian, setelah manusia robot itu keluar,
disusul dengan terbukanya jendela besar istana beserta dentangan
lonceng yang keras.
Kemudian, kami masuk ke dalam dengan tentunya
mengantre lebih dulu. Setelah kami sampai di dalam, Dinding-dinding
istana itu dipenuhi gambar-gambar yang memang berbau dunia fantasi,
selayaknya kota sihir. Dan setelah beberapa lama mengantre, akhirnya
tibalah giliran kami untuk naik ke atas perahu yang akan menuntun
kami menyusuri seisi istana. Niichan, tentunya yang membawa kamera
itu merekam seluruh kegiatan dalam istana. Ada para penari yang
berputar-putar sambil menari dan menyanyikan sebuah irama lagu
diiringi dengan musik yang dimainkan oleh para pemain march di
Inggris. Kemudian, memasuki ruang tengah, kami lagi-lagi menjumpai
pemain musik dan para penyanyi dari berbagai negara, seperti India,
China, dan Thailand. Setelah kucermati, mereka menyanyikan lagi mars
Its A Small World. Penguin-penguin dari kutub utara pun ikut
menyanyikannya sambil bernari. Tak lupa juga, kami juga melihat
berbagai miniatur balon udara yang melayang di udara dan miniatur

32

merry-go-round. Semua yang ada di sana menyanyikan mars Its A


Small World.
Ketika keluar dari area Its A Small World, sensasi fantasi
istana itu masih saja belum hilang. Rasanya ingin kembali masuk, tapi
sebentar lagi merupakan jam tutup Tokyo Disneyland. Jadi, tepat pukul
setengah enam itu kami ke lapangan parkir untuk langsung pulang.
Uaa..., aku masih ingin berjalan-jalan! Kira-kira apa yang akan kita
lakukan, ya, untuk menghabiskan sisa hari libur tengah semester ini?
kata Megumi. Saa (siapa tahu)? Mina-chan mungkin akan mengangkat
teleponnya untuk Yusuke-senpai! lanjut Yukari. C...chotto (hei)! Aku
mengkerutkan kening sambil mengangkat sebelah alis. Aah..., onaka
ga suita yo (aku sudah lapar)! Ramen o tabe ni ikou ka (ayo pergi makan
ramen)! seru Megumi tanpa mendengarkanku.
Kami langsung kembali masuk ke dalam mobil. Sopir
Megumi yang sejak tadi menunggu kami di lapangan parkir Disneyland
kini mengantarkan kami kembali pulang. Di tengah perjalanan, kami
berhenti di sebuah restoran ramen. Kami memasuki restoran yang
tidak terlalu mewah itu lalu langsung memesan ramen. Niichan
memesan udon kecap pedas, sedangkan aku, Megumi, dan Yukari
memesan udon seafood. Ketika makanan tiba, serentak kami langsung
mengucapkan, Itadakimasu (selamat makan)! seraya langsung
melahap udon yang ada di atas meja di depan kami. Ketika makan, aku
dapat melihat wajah Takemaru-niichan yang nampak kepedasan dan
mulutnya yang cemot dengan kecap pedas.
Tanpa memedulikan niichan, aku kembali melanjutkan
makan malamku itu. Tapi lagi-lagi pandanganku beralih pada niichan
yang kali ini ber-selca dengan Yukari dan Megumi dengan bibirnya yang
masih celemotan itu. Astaga, batinku. Aku hanya memerhatikan
mereka yang tidak fokus pada makan dan aku pun mulai kehilangan
selera makan. Mina-chan, ayo ikutlah foto juga! sahut Yukari sambil
menarik tanganku tanpa permisi. Jaa (nah)..., ichi (satu)... ni (dua)...
33

(san)! seru Megumi. Mau tidak mau, aku terpaksa harus tersenyum
agar hasil foto pun tidak jelek.
Setelah selesai makan malam, mobil kembali berjalan
membawa kami pulang. Takemaru-senpai, di mana rumahmu? Bisa
sebutkan alamat lengkapnya? sahut Megumi. Ah, tidak perlu. Aku
akan menginap di rumah Mina. jawab niichan. Sou ka (begitukah)?
Kalau memang kau perlu pulang ke rumah, aku tak masalah. lanjut
Megumi. Tidak. Aku akan berhenti di rumah adikku. jawab niichan
lagi. Baiklah kalau begitu. kata Megumi sambil menatap heran
niichan dan mengerjap-ngerjapkan matanya.
Satu jam kemudian aku sampai di rumah. Niichan turun dan
membukakan pintu untukku. Kyou wa arigato (terima kasih untuk hari
ini), Megumi, Yukari. Tanpa kalian, mungkin aku takkan tahu harus apa
untuk mengisi liburan. ucapku. Daijoubu (tak apa), daijoubu (tak apa).
Otomodachi dakara (kita kan teman)! Jaa (nah), mata ne (sampai
jumpa)! balas Megumi. Sayonara (selamat tinggal), Mina! lanjut
Yukari. Aku mengangguk sambil melambaikan tanganku. Sementara
mobil mereka sudah menjauh, aku membuka pagar dan membiarkan
niichan masuk. Di dalam tidak ada siapa-siapa selain pembantuku,
Ookouchi-san. Lho? Di mana ojisan dan obasan? tanya niichan yang
sedari tadi bingung akan rumahku yang kosong. Mereka pergi
mengunjungi kakek dan nenek di Osaka. Yukata bermalam bersama
teman-temannya di rumah lain. Tapi sekarang dia pasti sudah pulang.
jawabku.
Aku mengeluarkan kunci pintu rumah depan dan membuka
pintu yang terkunci itu. Di sana sudah dapat kulihat Yukata yang sedang
makan malam. Ah! Oneechan, kon ban wa (selamat sore)! sapanya
dengan suaranya yang halus itu. Melihat ke arah niichan, ia langsung
berlari dan memeluknya. Takemaru oniichan mo (kau juga), kon ban
wa (selamat sore)! Zutto aitakata yo (aku selalu ingin bertemu
denganmu)! serunya. Aa (iya). Ore mo da yo (begitu juga denganku).
balas niichan. Oniichan, sudah dua tahun kita tidak bertemu. Sekarang
34

kau umur berapa? tanya Yukata dengan wajahnya yang entah kenapa
jadi cemerlang ketika bertemu niichan.
Takemaru-niichan terdiam sejenak dan mereka pun saling
beradu pandang. Tak lama kemudian, niichan tertawa. Itu hal yang tak
boleh diberitahu! ucapnya sambil menunjuk dahi Yukata dengan
telunjuknya. Yukata cemberut. Kalau begitu aku akan menghitungnya.
Itu... Dua tahun yang lalu, aku berusia sembilan tahun dan berarti
neechan sekitar berusia tigabelas atau empatbelas tahun. Kalau
berbeda dua tahun, jadi oniichan saat itu sekitar umur enam belas
tahun. Sedangkan sekarang masih bulan November, dan ulang tahun
oniichan bulan Februari. Berarti sekarang kau masih berusia tujuhbelas
tahun! seru Yukata ketika sudah menemukan jawabannya.
Takemaru-niichan tertawa terbahak-bahak. Aku juga turut
tertawa kecil. Ia kemudian mengelus kepala Yukata. Dasar! Kenapa
kau bisa jadi pintar? Siapa yang mengajarimu? tanya niichan.
Minami-neechan da yo (tentunya kak Minami)! jawab Yukata.
Minami? tanya niichan kebingungan akan nama Minami. Ya, Minami
sendiri itu aku. Karena namaku Minakami, mereka pikir namaku terlalu
panjang, jadi ada yang memanggilku Mina, atau bahkan adikku
memanggilku Minami. Mendengar itu, niichan tertawa sejadi-jadinya.
Minami? Sungguh tidak cocok! Hahaha! Maaf, maaf, aku kelewatan!
kata niichan seraya kembali tertawa.
Aku mengkerutkan keningku. Mou (duh), nani ga okashii
no yo (apanya yang lucu)?! ucapku kesal. Maaf, maaf. Sudah kubilang,
kan, maaf. Kalau tertawa aku bisa jadi seperti ini! lanjut niichan. Aku
kembali cemberut sambil menatap niichan sebelah mata. Tak lama
kemudian, mendengar keributan di ruang tengah, Ookouchi-san
datang menghampiri kami. Ara (oh), Takahashi-san, okaerinasai
(selamat datang kembali). Yuzuru-san mo genki deshita yo ne (Yuzuru
juga sehat-sehat saja rupanya)! Hisashiburi (sudah lama tak berjumpa)!
sapanya. Ah, Ookouchi-san, kon ban wa (selamat sore)! sahut niichan.
Ia tiba-tiba berjalan ke arah Ookouchi-san.
35

Niichan terus berjalan ke arah Ookouchi-san hingga tak ada


jarak lagi terlihat di antara mereka. Niichan menggapai tangan
Ookouchi-san dan menggenggamnya. Maukah kau makan malam
denganku? tanya niichan. Mulutku menganga tidak percaya. Aku
langsung mengulurkan tanganku untuk menutup mata Yukata. Mi...
miruna (jangan lihat)! kataku. Aku begitu hina, hanya seorang servant,
tapi anda yang tehormat ini? Dengan segala ketulusan hati, aku
menerimanya. jawab Ookouchi-san. Amarahku meningkat. Gila!!!
Dasar brengsek! Niichan atau Ookouchi-san sama saja! Niichan hentai
begitu, dan Ookouchi-san tak bisa mengelaknya? Merebutnya dariku?
Yurusanai (tak termaafkan)! batinku.
Niichan
sudah
mengangkat
tangannya
hendak
mendekatkan tubuhnya lagi dengan Ookouchi-san. Di saat itulah aku
langsung memisahkan mereka. Iikage ni shiro (hentikan)! Kono hentai
no kuse ni (dasar nafsu)! Ookouchi-san, lebih baik kau pergi dan
buatkan kami teh! kataku dengan nada tinggi. Ha... hai (iya)! balas
Ookouchi-san merasa bersalah lalu pergi ke dapur untuk membuatkan
teh. Bagus kalau dia merasa bersalah. Kenapa dia, hanya pembantu
bisa bersikap seperti itu pada niichan?! Sudahlah, aku mau naik. Aku
mau ganti baju! ucapku masih kesal.
Aku masuk ke dalam kamar dan langsung melepas bajuku,
menggantinya dengan baju tidur. Aku segera membersihkan bedak
tipis di wajahku. Mou (duh)! Nanda yo (apaan sih)? Kenapa aku jadi
begini? Niichan menyebalkan! Bahkan Orenji-senpai masih lebih baik
darinya! Kenapa dia bisa melakukan itu di depan adiknya sendiri? Lebih
dari itu, ada dua adik, kan? batinku. Aku duduk sambil memeluk
lututku sendiri, menyendiri di dalam kamar. Kemudian tak lama setelah
itu kudengar ketukan pintu yang membuyarkan keheninganku. Mina?
Iru ka (kau di dalam)? Suara niichan yang terdengar dari pintu itu
terdengar jelas di telingaku.
Aku masih terdiam tanpa bergeming. Kulihat jarum detik
jam yang terus berjalan. Kemudian, niichan membuka pintu kamarku
36

tanpa permisi dan masuk. Ni... niichan! kalau aku masih ganti, kan?
seruku. I... iiya (tidak)..., gomen (maaf). Habis kau tidak menjawab, jadi
kukira kau tidak benar-benar masuk kamarmu. jawab niichan. Aku
kesal mendengar setiap alasannya itu. Aku memalingkan kepalaku dari
pandangannya.
Niichan mengunci pintu kamarku. Ah, sudahlah, kau tahu
itu cuma bercanda, kan? Jangan terlalu dipikirkan. sahut niichan.
Bercanda apanya? Bukannya kau sudah berkali-kali melakukannya?
Bahkan Orenji-senpai yang bukan keluargaku selalu menghormatiku,
tak pernah berlaku senonoh sepertimu! Dan lebih lagi... dia, kan,
pembantu. Dari seluruh fans yang kaupunya di sekolah, apa itu belum
cukup? Kau tahu, kan, selama ini aku ingin punya kakak kandung yang
bisa kuandalkan? ucapku memelankan suara. Aku masih duduk
dengan wajah cemberut. Niichan menghela napas. Iya, maafkan aku.
Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Aku takkan melakukannya lagi. Huh,
setidaknya sekali aku telah gagal menjadi kakak yang baik. katanya lagi.
Keheningan masih membuntu jalan kami untuk berbicara.
Tanpa sengaja aku menoleh ke arah fotoku dengan niichan ketika
masih kecil. Banyak sekali foto-foto yang kuletakkan di meja belajar
maupun dinding kamar. Mulai dari yang memalukan, menyenangkan,
hingga yang menyebalkan. Niichan turut menoleh ke arahku menoleh.
Sudah lama, ya. Aku tidak sadar kalau kita akan berhubungan lebih
dari sekedar kakak beradik. Sudah empat tahun pula kau masuk ke
persekutuan Kuroi Komori, dan aku kembali bertemu denganmu lagi.
Ah, sudahlah dengan basa basinya. Aku tak bermaksud melakukan itu
lagi. Di samping itu... kau tahu, kan, kalau kau adik yang paling
kusayangi dari adik lain yang kupunya? lanjutnya.
Aku masih terdiam. Beberapa saat kemudian aku
mengangguk, jawabku, Un. Tapi janji jangan melakukannya lagi, ya.
Yakusoku (janji)? Niichan tersenyum tipis. Yakusoku (janji),
jawabnya. Tak lama kemudian, hujan turun perlahan, dan makin lama
makin lebat. Ame ga furueteru (hujannya turun). ucapku. Sementara
37

dari luar, Ookouchi-san mengetuk pintu sambil membawakan dua


cangkir teh di luar. Aku menyuruhnya untuk meletakkannya di depan
pintu saja, dan aku yang akan mengambilnya. Aku menyeruput
secangkir dan secangkir lagi kuberikan niichan. Mina, kau... sudah tahu
tentang Kuroi Karasu? tanya niichan yang tiba-tiba sehingga membuat
kenangan pahit kembali datang berkunjung. Nande (kenapa)... sonna
koto o (bertanya hal itu)? kataku balik bertanya.
Niichan tidak menjawab pertanyaanku lalu berjalan menuju
balkon. Ia duduk di atas pagar sambil menarik sebatang rokok dan
menyulutnya dengan api lalu mengisapnya. Dihembuskannya napasnya
yang penuh asap itu. Belakangan ini aku dan Orenji mendapat laporan
tentang hal itu. Kami masih belum mengetahui keberadaan dan
identitas pastinya, begitu katanya. Tidak hanya kami berdua, tapi
semua senior rank class juga sedang menyelidiki dari sebutir informasi
yang kami dapat. Takeshi-sama memutuskan untuk membuat strategi
baru. Kali ini ia mengutamakan keselamatan para senpai. Meskipun
progres akan berjalan lambat, tapi nyawa para anggota tetap selamat.
Beliau tak mau kehilangan orang-orang lagi. Meskipun jumlah kita
begitu banyak, tapi bukan berarti kita bisa mengorbankan orang lain
seenaknya. cerita niichan.
Benar juga. Jumlah anggota kami ada duaribu seratus
tigapuluh dua, belum termasuk para anggota baru. Sedangkan sudah
ada empatratus tigapuluh anggota kami meninggal dan keluar. Dan di
samping itu, kalau kita salah perhitungan, kita bisa membunuh manusia
tak berdosa. Makanya itu, beberapa orang yang melakukan penelitian
di lab belum bisa memberitahu siapa, bahkan aku pun tak tahu. lanjut
niichan. Aku mendengarkannya dengan perasaan yang masih tidak
tenang.
Kalau hasil sudah disahkan... apa niichan suatu saat akan
mengetahuinya? Kalau begitu, apa yang akan kami lakukan? Kalau kami
harus membunuhnya... apa aku mampu melakukannya? Niichan
menoleh ke arahku. Kau nampaknya tegang kalau pembicaraan kita
38

berganti topik menjadi Kuroi Karasu. Aku tahu, kau pasti bimbang, takut,
tegang. Kau takut kalau mungkin harus membunuh orang yang
kausayangi. Tapi satu hal saja perlu kau ketahui... apapun yang
kaulakukan, aku tetaplah kakakmu yang akan melindungimu. Katakata itu begitu sampai di hatiku dan menghiburku. Tanpa kusadari
segurat senyuman terukir di wajahku. Arigato (terima kasih), niichan.
ucapku berbisik.
Niichan masih menoleh ke arahku dengan senyumannya itu.
Mou nero (tidurlah). Meskipun besok masih libur, jangan
memanfaatkannya untuk membangkong. kata niichan. Aku tertawa.
Baiklah kalau begitu. Kau bisa tidur di atas, aku akan tidur di bawah.
Kalau perlu apa-apa, panggil saja. Kita tidur bersebelahan, kan? kataku.
Tidur di manapun tak masalah. Sudah, kau tidur dulu. lanjut niichan.
Aku menggelar kasur di sebelah kasur tidurku. Aku merebahkan
tubuhku seraya membenarkan posisi selimutku. Oyasumi (selamat
malam), niichan. batinku.
Esok harinya aku bangun dengan mata dan wajahku yang
masih kusut. Aku terkejut ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul
setengah sembilan. Meskipun begitu aku masih saja bermalas-malasan
untuk bangun. Aku kembali merasakan hembusan udara sejuk dan
suara hujan yang masih gemercik memenuhi seisi telingaku. Kemudian
aku perlahan mengangkat tubuhku yang meskipun kecil tapi terasa
berat. Aku mengusap-usap mataku agar tidak mengantuk. Tapi hal itu
gagal, karena sebelum itu rasa kantukku sudah hilang dikejutkan oleh
apa yang kulihat saat ini. Ni... niichan?! seruku ketika melihat
Takemaru-niichan duduk tertidur di pagar balkon.
Aku berlari menghampirinya dan langsung memegangi
tubuhnya. Niichan, okite (bangunlah)! Kenapa tidur di sini? Kau bisa
jatuh! seruku. Niichan perlahan membuka matanya. Ara (oh)? Mou
asa ka (sudah pagi ya)? Sial, aku ketiduran! katanya. Sudah kubilang
untuk tidur di kasurku, kenapa malah di pagar seperti ini? Kau tak takut
jatuh? lanjutku. Tanpa menghiraukanku, niichan menguap dengan
39

lebar sambil merentangkan lengannya ke depan. Aku akan mandi.


Boleh, kan, pinjam kamar mandimu? sahutnya. Eh? Te...tentu saja!
Handuk ada di lemariku. Dan kalau butuh baju ganti, dulu kau pernah
meninggalkan bajumu di sini. Lalu obasan bilang padaku untuk
menyimpan bajumu. Sekarang ambillah kembali. jelasku. Niichan
berjalan menuju ke lemariku dan mengambil baju, celana, dan
handuknya. Lalu ia kembali berjalan menuju kamar mandi yang terletak
di sebelah kamarku.
Niichan berjalan lemas seperti zombie, tak berbicara
sepatah kata pun. Niichan? Niichan! Takemaru-niichan! seruku
berkali-kali karena niichan tidak mendengarkanku. Kenapa? Maaf, aku
terlalu mengantuk. katanya sambil mengusap-usap matanya yang
merah itu. Mou (duh), niichan)! Kau pasti tidur terlalu malam, kan? Oh,
ya. Aku yakin kalau ketika tidur, posisi tubuhku akan berubah, begitu
pula dengan keadaan selimut yang seharusnya jadi berantakan. Selalu
begitu. Apa kau yang membenarkan selimutku kemarin malam?
kataku. Niichan tersenyum kecil ketika mengingat suatu hal. Iya. Udara
sangat dingin di luar, ditambah lagi aku tidak menutup jendela. Jadi aku
membenarkan posisi selimutmu. jawabnya.
Aku tersenyum kecil. Entah mengapa, terkadang niichan
bisa menjadi baik, terkadang menyebalkan, terkadang terlalu percaya
diri, terkadang membuatku kesal, terkadang menyeramkan, terkadang
membosankan, tapi tak pernah sekalipun aku memiliki rasa kebencian
padanya, tidak suka padanya. Entah mungkin karena dia kakakku
sendiri, atau karena selama ini aku memang ingin kakak?
Ya sudah. Aku berangkat mandi dulu. ucap niichan seraya
berjalan masuk ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian, ia keluar
dengan pakaiannya yang sudah diganti dan rambutnya yang basah. Ia
mengusap-usap rambutnya yang basah itu dengan handuk agar kering.
Setelah ia selesai mandi, giliranku masuk ke kamar mandi untuk
membersihkan diri. Setelah aku selesai, dapat kudengar Ookouchi-san
40

berteriak memintaku dan niichan untuk turun dan sarapan bersama


Yukata.
Kau lapar? sahutku. Hm..., mungkin. Sudah, ayo turun ke
bawah. balas niichan singkat. Kami turun dan terkejut ketika di meja
makan sudah dihidangkan berbagai sarapan pagi. Oniichan, neechan,
ohayo (selamat pagi)! sahut Yukata di tengah mengunyah sashimi di
mulutnya. Ohayo (pagi), balasku. Ohayo (pagi), Yukata. lanjut
niichan. Kami langsung duduk di meja makan dan mengambil porsi
kami sendiri. Itadakimasu (selamat makan), ucapku bersamaan
dengan niichan. Kami segera menyapit sashimi lalu mengoleskannya
pada wasabi. Kore wa umai na (ini enak)! Ternyata memang tak ada
yang lebih baik dari wasabi! komentar niichan. Takemaru-niichan
terlalu banyak komentar! Selain itu, bukannya di rumah kau sudah
terbiasa makan seperti ini? Kau seperti belum pernah makan ini
sebelumnya saja. kataku. Tashika ni (benar juga sih).... Tapi yang
memasak selama ini, kan, Ayame, bukan aku. Yah... meskipun
terkadang aku yang memasak untuk sarapanku sendiri. lanjutnya
sambil mengunyah sashimi.
Setelah kudengar-dengar, memang benar. Yuzuru Ayame.
Dia adalah adik kandung Takemaru-niichan sekaligus adik sepupuku.
Tak heran juga kalau di rumah ia juga membantu niichan memasak.
Karena di keluarganya memang kedua orang tua niichan tidak selalu
siap sedia kapanpun mereka perlu. Orang tua mereka sibuk. Selain
lebih sibuk, mereka lebih berkecukupan ketimbang keluargaku. Jadi,
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari anaknya mereka hanya
menyediakan sejumlah uang.
Seusai makan, niichan dan aku kembali naik menuju
kamarku. Jaa (nah), aku pergi dulu. Sampaikan salamku pada ojisan
dan obasan kalau sudah datang. ucapnya. Un. Tsutaeteoku yo (akan
kusampaikan). jawabku. Mata na (sampai jumpa), Mina! Niichan
mengakhiri percakapannya dengan melambaikan tangan sambil
melompat keluar dari jendela kamarku. Ia menjauh, dan menjauh dari
41

rumahku dan tak lama kemudian aku sudah tak dapat melihatnya lagi
dari kejauhan. Aku mendaratkan tubuhku ke atas tempat tidur. Lagilagi aku kesepian.... Yappari (ternyata memang)... bersama teman itu
menyenangkan. kataku seraya menghembuskan napas panjang.
Tanpa terasa waktu pun terus bergulir. Meskipun rasanya
sedikit membosankan, aku akhirnya masih bisa mengatasinya.
Tentunya, berkat Megumi dan Yukari yang sering menghubungiku
lewat LINE itu. Maka, hari Senin itu kami semua sudah masuk kembali,
termasuk siswa-siswi SMA. Ketika aku sudah berada di bangkuku,
Megumi tiba-tiba menghampiriku. Ohayo (selamat pagi), Mina! Ini,
aku bawakan hasil foto kemarin. Yukari sudah mendapatkannya, dan
aku juga titip untuk Takemaru-senpai padamu, ya? sahutnya. Mataku
terbelalak ketika melihat tumpukan foto yang terletak di atas mejaku.
Megumi... anta (kau)... arigato (terima kasih), Megumi! kataku.
Megumi hanya membalasku dengan senyumnya. Ya, senyumnya yang
sangat menghiburku itu.
Sepulang sekolah, Professor Jin yang merupakan guru Kimia
sekaligus wali kelasku memintaku untuk tidak pulang lebih dahulu.
Tidak hanya aku, tapi semua pengurus kelas, terkhusus untuk
bendahara, sekretaris, dan koordinator kelas. Kami ada berempat.
Seorang sekretaris, aku, dan dua orang koordinator kelas. Ternyata di
luar dugaanku, semua pengurus kelas dari kelas satu hingga kelas tiga
dan para OSIS diwajibkan untuk datang ke ruang OSIS untuk
membicarakan beberapa laporan yang harus diserahkan sebelum
bulan Desember, karena bulan Desember selain ada ujian akhir, kami
juga akan ada libur musim dingin yang panjang.
Uugh! Aku benar-benar merasa sebal! Ini hari pertama kami
masuk setelah libur tengah semester. Tapi kenapa aku harus
menunggu dua jam hanya untuk rapat seperti ini? Kenapa
pemberitahuannya mendadak begini? Lebih lagi, hari Senin ini kami
harusnya pulang pukul setengah enam. Hanya karena rapat ini, aku jadi
harus pulang pukul delapan. Di ruang rapat, kami membicarakan
42

laporan selama satu semester ini. Aku menyerahkan laporan hasil


pengeluaran kas kelas. Sekretaris menyerahkan laporan absensi siswa,
dan koordinator kelas menyerahkan laporan kegiatan kelas yang sudah
maupun belum terlaksana di satu semester ini.
Aku berlari menuju halaman depan sekolah agar bisa cepat
sampai ke rumahku. Tapi kesialanku kembali dimulai. Baru selangkah
ke depan, aku merasakan rintik-rintik air membasahi tanganku. Dan
setelah beberapa saat barulah aku sadar kalau itu hujan. Mou (duh)!
Hidupku tak pernah beruntung sekalipun!! seruku. Aku tak bisa
melakukan apapun selain menunggu di sekolah. Aku menelepon papa
untuk menjemputku. Tapi ia bilang nampaknya ia terjebak macet di
tengah perjalanan pulang dari kantornya. Maka aku harus menunggu
lebih lama lagi untuk itu, tanpa mengetahui seberapa lama aku harus
menunggu.
Limabelas menit... duapuluh menit... setengah jam telah
kutunggu di bangku halaman depan sekolah sambil kedinginan. Tak
lama kemudian aku mendengar suara bel yang terdengar tak begitu
dekat dari telingaku. Ya, sebab suara bel itu adalah suara bel yang
dibunyikan dari SMA Homikaze. Tak lama setelah bel dibunyikan,
sekelompok murid-murid SMA keluar dari pintu keluar di sebelahku
duduk. Tapi aku tak melihat mereka dalam jumlah yang banyak. Tak
sebanyak seperti biasanya. Maklum, mungkin karena ini sudah malam,
ya? Tapi apa yang mereka lakukan sampai pulang malam begini?
Aku tak memedulikan para siswa siswi SMA yang kini sedang
berlarian keluar sambil menutup kepala mereka dengan jaket OSIS
untuk menyalakan sepeda motor mereka. Di tengah hujan yang lebat
itu aku menutup hidungku untuk menghalangi asap sepeda motor yang
akan masuk ke hidungku itu. Tak lama kemudian, setelah siswa siswi
SMA yang lainnya keluar secara berantakan, aku dapat melihat seorang
siswa yang sangat kukenal, berjalan dengan santai tanpa takut
membasahi seragam ataupun dirinya. Tiada rasa takut akan air hujan
43

ataupun angin kencang yang akan membuatnya masuk angin. Itulah


ciri-ciri pengendali air dan angin.
Yusuke-san berjalan keluar menuju tempat sepeda
motornya diparkir. Tapi ia menyadari akan sebuah kejanggalan. Ya,
kejanggalan akan seorang siswi SMP yang masih berdiri di depan
gedung sekolah. Tentu saja. Siapa yang tidak kaget akan hal itu? Kami
pun beradu pandang satu sama lain ketika Yusuke-san menoleh ke
arahku. Anta (kamu)... ucapnya. Entah kenapa, masih tertinggal
sedikit perasaan tidak enak terhadapnya. Yusuke...san? ucapku
sambil menatapnya dengan heran. Siswa siswi SMP belum pulang?
Kukira Okazawa sudah pulang dari tadi. katanya. I... iya, memang
benar, kami sudah pulang. Tapi hanya ada beberapa orang yang harus
mengikuti rapat pengurus sekolah hari ini. jawabku.
Aku masih tak dapat menenangkan pikiranku. Debaran
jantungku masih terdengar dan berdentum di kepalaku. Akhirnya aku
menghembuskan napas panjang dan berusaha untuk tenang.
Memangnya siswa-siswi SMA kenapa pulang terlambat? tanyaku.
Hm? Di SMA ada rapat kepengurusan OSIS. Hanya anggota OSIS saja
yang ikut rapat. jawab Yusuke-san. Kalau begitu... Takemaru-niichan
juga ikut? Apa kau melihatnya? tanyaku. Iya, tadi dia datang. Tapi
tampaknya dia sudah pulang. Dia memarkirkan sepeda motornya di
halaman belakang, seperti biasa. lanjutnya.
Aku menundukkan kepala merasa kecewa. Padahal kukira
niichan bisa mengantarku pulang, tapi ternyata malah sebaliknya. Ah...,
aku ini selalu sial. Sementara aku menundukkan kepalaku, Yusuke-san
terus menatapku dengan heran dan bingung-bingung. Kalau begitu,
aku pergi dulu. Arigato (terima kasih), Yusuke-san. ucapku singkat
sambil kembali berjalan menuju bangku panjang di sebelah pintu
masuk sekolah. Chotto (tunggu)! Maukah kau berhenti di rumahku
sebentar? sahut Yusuke-san yang kembali membuat jantungku
berpacu lebih cepat. Maaf? ucapku merasa mungkin salah dengar.
Kalau menunggu lama di situ, lama kelamaan kau akan masuk angin.
44

Sementara berhentilah di rumahku dulu. Orang tua dan adik-adikku tak


ada di rumah hari ini, tenang saja. lanjutnya.
Aku tak tahu antara mengiyakan atau menolak tawarannya.
Kalau aku menerima tawaran itu, makin sulit bagiku untuk menjauhinya.
Kalau aku menolak... selamanya aku akan tidak enak, baik bicara
maupun bertemu dengan Yusuke-san. Aku merapatkan bibirku eraterat. Antara tidak atau iya.... Ba... baiklah kalau itu takkan
merepotkanmu! jawabku lantang. Duh..., pada akhirnya aku
memutuskan untuk menerima tawaran itu. Lega juga akhirnya bebas
dari jeratan pilihan. Tapi aku begitu lengah sampai tak memikirkan akan
bagaimana ke depannya.
Aku naik ke bangku sepeda motor setelah Yusuke-san dan
duduk di belakangnya. Perjalanan hanya memakan waktu dalam
hitungan menit dan kami sampai di sebuah rumah. Ya, rumah
idamanku itu. Rumah besar dengan mobil Jaguar yang masih diparkir di
tempat parkir mobil depan. Sementara aku melamun, Yusuke-san
membuka gembok yang mengunci pagarnya itu. Aku masuk, selangkah
demi selangkah, sambil terus memerhatikan interior luar rumah itu
yang masih menggetarkan hatiku. Makin lama aku pun makin
penasaran akan profesi orang tua Yusuke-san dan Okazawa.
Yusuke-san membukakan pintu rumahnya dan meletakkan
helmnya di sofa depan. Ia menyalakan lampu rumahnya dan
mengajakku masuk ke sebuah kamar. Kamar itu tak begitu besar tetapi
terasa begitu nyaman untuk dipakai tidur. Tidak begitu padat pula.
Tunggu sebentar, ya. Aku akan mandi. Kau bisa pakai handuk ini untuk
mengeringkan rambutmu. Di sana ada hair dryer yang bisa kau gunakan
untuk mengeringkan rambut dan tubuhmu, terang Yusuke-san seraya
masuk ke kamar mandinya.
Sementara itu, aku memerhatikan ruangan sekelilingku
yang penuh dengan pigura-pigura dengan foto-foto Yusuke-san. Tidak
begitu banyak, tapi cukup menarik perhatianku. Tidak hanya dengan
45

Okazawa dan Nozomu-senpai, juga dengan teman-temannya, bahkan


dengan seorang gadis! Foto anggota OSIS pun ada di situ, dan tentunya
juga ada Takemaru-niichan dalam foto itu. Kemudian aku menoleh dan
melihat fotonya berdua dengan Takemaru-niichan. Mereka begitu
narsis ketika semuanya berhubungan dengan foto. Kakak yang di sini
dan kakak yang di sana sama saja narsisnya, batinku.
Karena tak tahan dingin, aku berjalan kembali menuju
sebelah kasur Yusuke-san. Aku melepaskan kaus kaki dan kuncir
rambutku yang terasa tak nyaman karena basah, lalu meletakkannya
ke dalam sebuah kantong plastik yang sudah tak terpakai. Di sebuah
meja kecil di samping tempat tidur ada hair dryer yang tak begitu besar
dengan kabelnya yang tidak ditancapkan pada stopkontak. Aku
menancapkan kabel itu lalu menyalakan hair dryer nya. Tangan
kananku memegang hair dryer, sedangkan tangan kiriku memegang
ponsel dan meninggalkan pesan suara untuk papa, mengabarinya kalau
aku sedang di rumah temanku dan tak perlu menjemputku. Aku
menyisir helai-helai rambutku dengan sela-sela jemariku. Merasakan
setiap helainya yang basah itu mulai kering dan terasa lembut. Setelah
rambut dan tubuhku sudah cukup kering, aku mematikan hair dryer
dan mencabut kabelnya lalu mengembalikannya seperti sedia kala.
Tak lama kemudian Yusuke-san keluar dari kamar mandi
dengan pakaian lengan panjang dan celana panjangnya yang berwarna
hitam itu. Ia tidak langsung duduk. Ia keluar dari kamar, entah apa yang
ingin dilakukannya. Beberapa saat kemudian ia masuk kembali sambil
membawa dua kaleng jus jeruk. Hora (ini). Di tengah hujan seperti ini
memang dingin, tapi kalau tidak minum sama saja bisa dehidrasi.
ucapnya seraya menyerahkan satu kaleng jus jeruk itu padaku. Arigato
(terima kasih). balasku. Aku membuka penutup kaleng itu seraya
meneguknya. Yusuke-san duduk di atas kasurnya sambil
menyandarkan kepalanya pada tembok.
Di dalam kamar yang berukuran lebih besar daripada
kamarku itu aku dapat mencium aroma pengharum ruangan yang
46

digantung di dekat pintu. Aroma yang membuatku tenang. Setelah aku


memasukkan beberapa teguk jus jeruk ke dalam mulutku, aku memulai
topik pembicaraan. Ano (anu)... Yusuke...san? sahutku. Hm? Ah...,
Yusuke te ii yo (panggil saja Yusuke tak apa). balas Yusuke-san. Tidak
mungkin! Aku, kan, lebih muda dua tahun darimu. Jaa (kalau begitu)...
Yusuke-senpai te yonde ii desuka (bolehkah aku memanggilmu Yusukesenpai? lanjutku. Sore de ii (itu saja sudah cukup). Nah, jadi apa yang
ingin kau bicarakan sekarang? tanyanya seraya tertawa kecil, Caramu
berbicara dengan sopan itu mengingatkanmu pada Takemaru. Eh?
Apa niichan bersikap sopan di sekolah?! tanyaku dengan aksen sedikit
terkejut.
Kami masih saling beradu pandang semenjak aku bertanya
hal itu. Lalu Yusuke-senpai tersenyum kecil. Takemaru memang
berbeda denganku. Ia berjiwa bebas, dan memang terkadang dia nakal.
Tapi aku suka aura bebasnya itu. Meskipun sedikit suka membangkang,
dia murid favorit para guru, termasuk Chibari-san, pembina OSIS. Dia
benar-benar dekat di hati para guru. Meskipun bukan ketua atau wakil
ketua OSIS dia orang yang ramah dan pandai membuat takjub orang
lain. jawabnya dengan wajah yang nampak membayang-bayangkan
sesuatu.
Aku masih memandang senpai dengan heran. Apa betul
begitu fakta tentang niichan? Tapi ada betulnya juga, sih. Niichan
berjiwa bebas, dan tidak takut untuk melanggar peraturan apapun.
Tapi kalau masalah wanita? Apa dia ada masalah dengan teman
wanitanya di sekolah? tanyaku dengan begitu penasaran. Kalau itu
aku, sih, tak begitu tahu. Tapi kau tahu? Takemaru pernah ditembak
seorang siswi yang lebih muda setahun darinya! jawab senpai. Ee...?
Sou desuka (begitu ya)? kataku dengan nada yang sedikit excited
mendengar rahasia Takemaru-niichan. Iya. Tapi jangan beritahu dia,
ya? Tampaknya sebenarnya dia tak suka hal itu disebarkan. Karena itu
pengalaman paling memalukan baginya, meskipun sebenarnya ia juga

47

memiliki sedikit perasaan pada wanita itu. Namanya Ooyama Reiko,


siswi kelas satu SMA. lanjutnya.
Aku tertawa bangga dalam hati. Hihihi! Sekarang aku punya
senjata untuk membalas niichan bila ia berani menggangguku lagi!
Hihihi! Tunggu aku, niichan! batinku. Aku yang kegirangan itu tanpa
sadar tertawa-tawa sendiri. Ano (anu)... Takahashi-san? sahut
Yusuke-senpai untuk menyadarkanku. Aku menoleh malu ke arahnya.
Eh? Ah! Gomen nasai (maaf)! Aku sudah tak dapat menahan diriku!
Aku baru tahu kalau niichan memiliki rahasia seperti itu! kataku.
Benarkah? Kukira kau dekat dengannya. lanjutnya. Tidak juga. Aku,
kan, sepupunya. Aku tak begitu dekat dengan niichan. Hanya di saatsaat tertentu, seperti ketika liburan atau ulang tahun saja kami
bertemu. jawabku.
Aku masih memerhatikan Yusuke-senpai yang tengah
duduk di kasur di depanku. Ah..., betapa tampannya lelaki ini ketika ia
tersenyum. Oh, ya. Kau juga tak perlu memanggilku dengan begitu
formal. Watashi o Mina te yonde ii desu yo (kau bisa memanggilku
Mina). sahutku. Mina?
Sou desu (itu benar). Dari Takahashi Minakami, kau bisa memanggilku
Mina. jawabku. Sou ka (begitukah)?
Di tengah-tengah pembicaraan itu aku teringat akan
kejadian memalukan yang dulu pernah terjadi. Ya, benar. Peristiwa
ketika aku menabraknya di lapangan belakang sekolah dan mengotori
baju seragamnya dengan es krim cokelatku. Nee (eh), senpai. Sono
(itu)... apa bajumu yang kotor itu masih ada? tanyaku dengan
perasaan bersalah sekaligus malu. Hm? Baju apa? tanya Yusukesenpai yang nampaknya tidak ingat akan kejadian itu. Itu... maksudku...
di hari ketika aku menabrak dan mengotori bajumu itu. Hehehe...
jelasku. Oh, itu? Baju itu sudah dicuci oleh pembantuku. Itu seragam
yang tadi kupakai ke sekolah, kok. jawabnya. Eh..., benar-benar
sudah bersih! Anu... maaf aku telah ceroboh berjalan sampai
48

menabrakmu. Hehehe... ucapku malu. Tak usah dipikirkan. Lagipula


itu tugas pembantuku untuk mencuci baju, kan? Aku juga minta maaf.
Aku tak bermaksud mengatakan hal kasar seperti itu. Hanya saja saat
itu aku pulang dengan stress. Jadi wakil ketua OSIS itu merepotkan juga,
ya? Banyak tugas yang harus kulakukan mewakili ketua OSIS.
sambungnya.
Aku yang seharusnya meminta maaf itu jadi merasa tidak
enak. Kenapa malah dia yang kali ini kembali meminta maaf padaku?
Padahal wajar saja bila orang marah ketika bajunya dirusak oleh orang
lain, kan? Jadi inikah para anggota OSIS yang dilatih menjaga sikap
mereka? Aku yang merasa diriku sebagai anak yang tak tahu aturan ini
merasa rendahan sekali! Bisa berbicara dengan anggota OSIS saja
sudah merupakan kehormatan, dengan perkecualian niichan. Kalau
niichan, sih tidak terlalu memerhatikan sikapnya seperti Yusuke-senpai.
Apa menjadi wakil ketua OSIS itu sulit? Maksudku tugastugasnya. tanyaku. Sebenarnya tidak juga. Tugas-tugas OSIS awalnya
kuanggap memang merepotkan. Tapi ternyata setelah menjadi
anggotanya, tugas-tugas itu tidak sulit juga. Sampai sekarang aku pun
menjadi wakil ketua OSIS nya sendiri. jawab senpai.
Mana mungkin begitu? Bukannya tugas di SMA banyak,
apalagi bila ditambah dengan tugas OSIS? tanyaku yang masih bingung
itu. Hm..., orang-orang mungkin berpikir tugas OSIS itu banyak dan
merepotkan. Aku juga jujur saja pernah berpikiran seperti itu. Tapi
tidak juga. Semua kegiatan yang merancang adalah pembina OSIS dan
pembina kesiswaan. Kami hanya perlu mengembangkan ide rancangan
itu. Seperti apa acaranya berlangsung, apa saja kegiatan acara tersebut,
dan siapa saja yang berpartisipasi dalam acara tersebut. jawab
Yusuke-senpai lagi dengan tatapannya yang masih sabar sedari tadi.
Eh? Sou desuka (begitu ya)? ucapku yang sedari tadi masih
mengagumi Yusuke-senpai ini. Ya. Penuh misteri tetapi juga ramah.

49

Aku yang mengobrol dengan Yusuke-senpai itu sudah lupa


waktu. Ketika aku menoleh ke arah luar jendela, hujan sudah berhenti.
Aku pun melihat jam tanganku yang kini sudah menunjukkan pukul
sembilan. Sudah jam sembilan malam. Watashi kaeteikanakya (aku
harus pulang sekarang). Terima kasih telah membiarkanku berhenti di
sini untuk sementara waktu, Yusuke-senpai. kataku. Tak masalah.
Tapi apa kau yakin pulang sendiri? tanya senpai. Aku menggeleng
pelan. Tak apa. Rumahku tak begitu jauh dari sini. Di samping itu,
ketika latihan lomba voli dulu, mobil jemputan menjemput Okazawa
setelahku, jadi aku ingat rute pulang menuju rumahku. jawabku. Sou
ka (begitukah)? Baiklah. Kiotsukero (berhati-hatilah). katanya. Un!
ucapku seraya beranjak keluar dari kamar senpai.
Yusuke-senpai mengikutiku dari belakang dan membukakan
pintu pagar. Ia kembali masuk setelah aku berpisah darinya. Ketika
sudah cukup jauh dari rumahnya dan kupikir ia takkan bisa melihatku
lagi, aku langsung bergerak melompat menuju atap rumah satu menuju
yang lain agar dapat cepat sampai di rumah.
Aku mengetuk pintu segera ketika aku sudah tepat berada
di depannya. Mama membukakan pintu dengan sedikit terkejut yang
mendapatiku pulang begitu terlambat. Dari mana saja kamu, Mina?
Kenapa pulang terlambat? tanyanya. Iya. Aku dapat tugas tambahan
tadi jadi aku pulang terlambat. Papa terjebak macet, jadi temanku yang
mengantarku. jawabku singkat. Ketika sudah masuk, aku melihat papa
yang sudah duduk manis melahap hidangan malamnya. Kau sudah
pulang, Mina? Maaf, ya, papa tak bisa menjemputmu. Sampaikan
salam terima kasih dari papa untuk temanmu itu. katanya.
Tanpa menghiraukannya aku berjalan menuju kamar dan
meletakkan tasku di atas kursi belajarku. Bosan mendengar perkataan
maaf singkatnya itu. Aku segera membersihkan diri dan berganti
pakaian tidur. Sambil berusaha memejamkan mata dan
mempersiapkan diri untuk sekolah besok, pengalaman bersama
Yusuke-san terus terngiang-ngiang seakan tak mau pergi sekalipun
50

sudah kucoba untuk lupakan. Kusso (sialan)! Dengan begini aku takkan
bisa membunuhnya! Iiya (tidak), gakkosugiru n da yo (dia terlalu
keren)! ucapku sambil memeluk erat bantalku.
Satu malam terlewat. Aku bangun kesiangan gara-gara
kemarin tidur terlambat. Dan tentunya aku masih dengan mengantuk
berangkat ke sekolah. Tapi diselipkan dengan perasaan riang, rasa
ngantukku pun tidak begitu terasa berat seperti biasanya. Aku duduk di
bangkuku, sambil membayang-bayangkan kejadian kemarin seperti
masih tidur dan bermimpi. Mina-chan daijoubu ka na (apa Mina baikbaik saja, ya? ucap Megumi. Kurasa dia sakit. Kemarin dia harus
pulang malam karena rapat, kan? lanjut Yukari melontarkan
pemikirannya, Tapi sakit hanya bisa disembuhkan dengan cinta, kan?
Mungkin kau bisa meminta obat cinta dari Master Yusuke! Aku tak
tahu harus berekspresi seperti apa, entah jengkel atau gembira. Aku
hanya diam sambil terus bermimpi seperti sleepwalker di film-film.
Dari semua mata pelajaran, tak satupun aku mendengarkan
penjelasan dari guru, baik itu pelajaran yang kusuka maupun yang
kubenci. Aku terus bermimpi seperti orang gila dan tersenyum-senyum
sendiri. Beberapa minggu kulewati dengan keadaanku yang masih
begitu. Sekarang aku baru menyadari kalau aku telah ketinggalan
banyak sekali materi dan tugas yang seharusnya sudah kukerjakan. Saat
ini pikiranku sedang termakan habis karena kejadian yang membuatku
gila yang tak lama terjadi.
Hingga suatu kali ketika aku berjalan pulang bersama Yukari
dan Megumi menuju lapangan belakang sekolah aku bertemu Yusukesenpai yang kebetulan juga pulang di jam yang sama. Kami saling
melempar senyum dan aku melambaikan tanganku padanya. Setelah ia
pergi, tentu kedua temanku ini menggangguku. Mina-chan romantis
sekali sekarang! sahut Megumi. Moshikashite anta ima Yusukesenpai to tsukiatteru no (apa jangan-jangan sekarang kau berpacaran
dengan Yusuke-senpai? sambung Yukari yang membuat jantungku
berdentum lebih cepat dan lebih keras. Sonna wa ke nai daro (itu tidak
51

mungkin kan)? balasku masih dengan senyum bahagia, meskipun


jawabanku itu tidak sepenuhnya benar.
Aku sampai di rumah lalu langsung melemparkan tasku ke
sofa. Aku masuk ke kamar, mengunci pintu lalu membuka Contactor.
Aku langsung menghubungi niichan. Ada apa menelepon jam segini?
kata niichan begitu sudah terhubung. Niichan..., jam pulang SMA itu
sebenarnya kapan, sih? Kenapa aku jadi bertemu Yusuke-senpai hari
ini! Sial! Kenapa bisa begitu? Tidak biasanya, kan, murid-murid SMA
pulang jam segini? lanjutku memulai topik pembicaraan. Hah...?
ucap niichan dengan nada yang bingung sekaligus terkejut karena
menanyakan hal itu. Ia menghela napas, menyadari apa yang akan
kutanyakan padanya. Kau.... Apa sampai segitunya kau menyukai
Yusuke? kata niichan.
Aku tersenyum girang. Habisnya... aku tiba-tiba berpasan
dengannya ketika pulang. Jadi, sebenarnya kapan, sih, jam pulang
murid-murid SMA? tanyaku lagi dengan penuh harap dan penasaran.
Ah..., dasar kau ini. Maa (yah), hari Senin dan Kamis kami pulang jam
lima, Rabu dan Jumat kami pulang jam setengah tiga. Hari Selasa jam
empat, karena ada ekstrakurikuler. Yah, itu saja. Tapi kalau ada
kegiatan tambahan OSIS biasanya memang dibebankan di hari Rabu
atau Jumat karena kami pulang awal. Kau tadi pasti keluar terlambat,
kan, sampai jam tiga bisa bertemu anak-anak SMA? jelas niichan.
Hehehe..., iya, sih. Aku ketinggalan banyak PR. jawabku singkat.
Takemaru-niichan menghela napas panjang. Daripada
memikirkan anak SMA terus, kenapa kau tidak belajar dulu? katanya.
Ah..., niichan menyebalkan! Kenapa pada saat ini malah memikirkan
pelajaran? Aku bosan mendengarnya! balasku. Bagaimana kabar Jinsensei? tanya niichan yang tiba-tiba membuatku penasaran. Eh? Dia
baik-baik saja. Tapi kenapa kau bertanya hal itu? tanyaku. Iiya
(tidak).... Dia wali kelasku ketika aku di kelas satu, kau tahu? Huh, aku
hanya penasaran apa dia masih menyebalkan seperti dulu. jawabnya.
52

Aku mengkerutkan bibirku. Dia masih begitu, malah tambah


menyebalkan, niichan! ucapku.
Niichan tertawa-tawa. Aku tak menyangka dia akan
menjadi wali kelas adikku sendiri. Bagaimana, ya, rasanya dua kali
mengatasi anak-anak berandalan? katanya. Aku bukan berandalan,
mungkin kau saja yang berandalan! balasku. Oh, ya? Kalau begitu
buktikan padaku! Buktikan belajarmu dan berjanjilah kau akan
menyelesaikan PR Kimia mu itu! Kalau sampai kau tidak bisa, artinya
kau lebih parah dariku. lanjutnya. Eh? Dou iu koto (apa maksudmu)?
tanyaku. Aku dulu memang juga nakal, suka membangkang, melawan
guru. Aku dulu berandalan yang disukai guru-guru. Aneh, bukan? Tapi
di sisi lain aku menurut dan mengerjakan semua tugas yang mereka
berikan. Dan aku sempat menjadi anggota OSIS satu tahun. lanjutnya.
Aku mengkerutkan bibirku dan mengernyitkan kening.
Siapa takut? Awas, kau, niichan! Sampai aku berhasil, kita lihat berapa
banyak koper uang yang akan kau persembahkan kepadaku! ucapku.
Huh, jangan sombong dulu! Kau pikir semudah itu kau bisa
mengerjakan Kimia? Asal kau tahu saja, memerlukan waktu satu
semester bagiku untuk menghafal tiga rumus Kimia yang sampai saat
ini masih dipakai. Aku mati-matian belajar gara-gara itu, tapi berkat itu
pula aku bisa masuk kelas IPA. Dan tentunya itu bantuan pacarmu,
Orenji! ledek niichan. Dia bukan pacarku... Ah, sudahlah, sudahlah.
Kita lihat seminggu setelahnya. PR Sains takkan sesedikit yang
kaubayangkan. Selamat berjuang! Ganbare (semangat)! sahutnya lagi
seraya memutuskan jaringan.
Aku masih menatap Contactor yang berada di depan
mataku itu dengan mulutku yang menjulur ke depan. Ah..., aku merasa
aku sudah bunuh diri, melakukan taruhan seperti itu! batinku. Satu
hari...dua hari... tiga hari... seminggu... dua minggu. Hari bergulir dan
berganti menjadi minggu. Tapi masih saja tidak kusentuh sedikitpun
buku Kimia yang menemaniku di atas meja belajar. Aku tak bisa
53

mengerjakan PR, maupun memenangkan taruhan yang telah kubuat


sendiri. PR itu pun makin hari makin menumpuk dan menggunug.
Siang hari itu teriknya matahari membakar kepalaku dan
membuatku pening. Aku pulang dengan beban yang rasanya seperti
menumpuk di kepalaku. Yukari dan Megumi membelikanku es krim
cokelat, satu-satunya es krim favoritku untuk mendinginkan pikiran.
Hontou ni daijoubu ka (apa kau benar-benar akan baik-baik saja,
Mina? sahut Yukari. Aku masih melipat tanganku di atas meja dan
meletakkannya di atas meja. Tampaknya kau memerlukan bantuan....
Kalau memang kau membutuhkan bantuan kami, kau bisa bilang saja.
kata Megumi. Aku menghela napas panjang. Aku tak memerlukan
bantuan apa-apa.... jawabku masih dengan nada lemas.
Ketika pulang, aku langsung menjatuhkan tubuhku seperti
biasanya ke atas kasur. Aku menghela napas panjang seraya
melepaskan semuanya yang menyesakkan dada dan pikiranku.
Doushio (apa yang harus kulakukan)? Kalau tidak mencatat apa-apa,
aku akan kena semprot Jin-sensei, dan ulanganku akan merosot!
ucapku dengan suara hidung karena saat ini aku sedang tidur
tengkurap dan meletakkan wajahku di atas bantal. Kemudian napasku
mulai sesak, dan makin sesak. Di saat itulah tiba-tiba aku mendapat
sebuah pemikiran.
Kalau memang kau membutuhkan bantuan kami, kau bisa
bilang saja. Aku langsung terbangun begitu mendengar ucapan itu.
Sou da (benar juga)! Kenapa ini tak terpikirkan olehku? Aku begitu
bodoh! Aku, kan, bisa meminta tolong fotokopi jawaban soal-soal dari
Megumi atau Yukari?! Ah, aku begitu bodoh!! seruku sambil menggigit
ujung bantalku. Begitu riangnya ketika aku ingat akan hal itu, sekaligus
merasa bodoh karena tidak terpikir sebelum-sebelumnya.
Esok harinya, hari Selasa. Pelajaran Kimia ada pada hari itu.
Onegai (kumohon), Yukari, Megumi! Noto o kashite (pinjamkan aku
catatanmu), ne (ya)? kataku memohon-mohon. Kami bisa melakukan
54

itu, tapi... itu... Ayolah, kumohon. Kalian mau membantuku, kan?


pintaku lagi. Baiklah. putus Yukari dengan cepat, Kalau memang itu
bisa membantumu meredakan stress, bagiku tak masalah! Mataku
langsung bergemilang. Arigato (terima kasih), Yukari! seruku dengan
girang. Tapi jangan beritahu siapa-siapa, ya, lanjutku. Un. jawab
Yukari dan Megumi bersamaan.Ketika pulang sekolah pukul setengah
tiga aku membeli beberapa bungkus jajan dan minuman, lalu duduk di
sebuah bangku sambil menyelesaikan PR Kimia ku yang belum selesai.
Aku tidak memutuskan untuk memfotokopi, karena dengan begitu aku
akan susah dua kalisusah memfotokopi dan susah mengerjakan
ulang. Sambil mengenakan headset dan musik yang berdentum keras
di telingaku, dengan tanpa beban aku mengerjakan soal-soal itu.
Ketika sudah pukul tiga, Yukari dan Megumi harus berpisah
dariku. Mereka harus sudah berada di mobil jemputan mereka, karena
itulah jam jemputan mereka yang terakhir. Jaa (nah), watashitachi iku
ne (kami pergi dulu ya). sahut Megumi. Un. Ganbatte (semangat),
Mina-chan! lanjut Yukari. Un! Aku janji akan mengembalikan catatan
kalian besok. Mata ne (sampai jumpa), Yukari, Megumi! balasku
seraya melambaikan tanganku. Yukari dan Megumi berjalan menjauhi
area kantin menuju lapangan parkir untuk menemui penjemput
mereka. Aku masih mengemut es krim dan memegangi batangnya
dengan satu tangan. Pekerjaan tidak terasa berat ketika aku sedang
makan es krim, ditambah lagi mendengarkan musik.
Setengah jam telah berlalu. Dari kantin aku dapat
mendengar suara bel keras dari SMA. Ya, jam pulang normal para murid
SMA. Sementara aku tidak menghiraukannya dan tanganku terus
bergerak menggoreskan setiap rumus-rumus Kimia yang rumit itu. Ato
sukoshi (tinggal sedikit lagi)... mou sukoshi dake yo (tinggal sedikit
saja)! batinku sambil mempercepat gerakan tanganku yang makin
lama makin membuat jariku memerah. Setelah menyelesaikan satu
nomor terakhir, aku langsung bernapas lega seraya menghabiskan
semua jajanan yang kubeli tadi. Setelah itu aku keluar dari kantin,
55

hendak berjalan keluar melalui lapangan parkir belakang karena lebih


dekat.
Ketika sedang berjalan, tiba-tiba aku merasakan seseorang
menepuk bahuku dari belakang. Aku begitu terkejut dan mengira ia
adalah musuh, karena tepukan aneh dan tak biasa itu tiba-tiba
mendarat di bahuku. Ketika menoleh ke belakang, aku dapat
melihatnya dengan jelas. Ternyata ia Takemaru-niichan, yang tak lama
ini keluar dari kelasnya. Takemaru-niichan! seruku, Odokasuna yo
(jangan mengagetkanku begitu)! Niichan tertawa kecil. Begitu saja
sudah kaget! Oh, ya! Ini sudah lebih dari seminggu. Mana? Berikan hasil
pekerjaan Kimia mu! sahutnya.
Aku terdiam dan kemudian tersenyum malu. Hehehe...
jitsu wa (sebenarnya... Kau tidak mengerjakannya, kan? potong
niichan. Datte (habisnya)... kagaku wa mutsukashi da yo (kimia itu
ribet)! Aku tak tahu harus mengerjakan apa dulu, dan pada akhirnya
aku meminta contekan dari Megumi dan Yukari. Hora (lihat)! Aku baru
saja menyelesaikannya sampai jari-jemariku memerah begini! ucapku.
Niichan tertawa terbahak-bahak. Okashikunai yo (ini tidak lucu),
niichan. Aku mengaku kalah padamu. Sudahlah. kataku kemudian.
Oh...! Kau mengaku kalah? Kalau begitu serahkan aku uang sekoper
yang pernah kauceritakan itu! katanya. Imasen yo (aku tak punya).
Uang jajanku saja sekarang makin berkurang karena aku terus pulang
terlambat. jawabku masih dengan melas. Menabung pun belum
cukup menggantikan yang sudah kupakai itu, lanjutku.
Takemaru-niichan tertawa kecil. Tawa yang terdengar
seperti mendengus itu. Ia kemudian mengelus pelan kepalaku.
Sudahlah, aku hanya bercanda! Aku tak benar-benar mengiyakan
taruhanmu itu. Lagipula, aku takkan menyusahkanmu! Takkan pernah.
Karena aku, kan, kakakmu sendiri. katanya. Mendengar itu, kepalaku
langsung mendongak ke atas melihat tubuhnya yang tinggi itu. Lama
kelamaan air mata berlinang membasahi mataku. Ni...niichan...
ucapku dengan alay. Ku... kusso (sial)! Nande watashi ni wa konna ni
56

yasashii no (kenapa kau baik begini padaku)? ucapku lagi. Aah...,


sudahlah! Aku benci melihat wanita menangis. Ayo kembali ke kantin.
Aku belikan kau makanan. sahutnya. Arigato (terima kasih), niichan!
balasku sambil mengusap-usap mataku.
Aku dan niichan yang belum mencapai lapangan parkir
belakang itu kembali memutar badan dan berjalan menuju kantin.
Tanpa berbohong, niichan memang berniat mentraktirku. Entah
kenapa, terkadang ia bisa baik seperti pacar, dan terkadang ia juga bisa
baik seperti kakak. Sikap baik seorang kakak yang menyebalkan itu
terkadang juga menghiburku. Ah..., seandainya aku punya kakak lebih
dari satu....
Dan kali ini, niichan telah bersikap baik selayaknya
seseorang yang benar-benar peduli akan keadaanku yang sekarang ini.
Jadi kau pulang terlambat demi menyelesaikan semua PR ini? tanya
niichan yang nampaknya kaget. Iya.... Aku terpaksa, karena mau
bagaimana lagi? Sebentar lagi aku akan ujian dan aku masih belum bisa
mengerjakan soal-soalnya. Jadi terpaksa aku meminjam kedua
temanku itu sekedar untuk menyelesaikan PR, dan kalau masalah ujian
aku akan menghafal rumus-rumusnya. jawabku. Hmph! Dasar kau
ini! Ternyata masih berjuang saja mengerjakan gunung PR Jin-sensei.
katanya lagi. Gunung PR? Berarti... kau dulu juga sepetiku? Ya. Aku
sangat malas pelajaran Kimia dan berharap guru itu tidak masuk.
Nilaiku juga sempat merosot. Tapi pada akhirnya ia memberiku
dorongan untuk terus maju, sampai kini aku pun masuk jurusan IPA,
kok!
Aku terkesan mendengar niichan yang begitu antusias
belajar setelah adanya dorongan dari Jin-sensei. Aku pun tak tahu kalau
Jin-sensei itu seperti itu. Oh, ya, niichan! Ngomong-ngomong..., apa
kau belakangan ini bertemu Orenji-senpai? Aku berusaha
menghubungi Contactor nya, tapi terus tidak ada jawaban. Kau tahu ke
mana dia pergi? tanyaku yang sedari beberapa hari yang lalu sudah
putus kontak dengan Orenji-senpai. Orenji? Kalau kudengar, sih, dia
57

sedang misi jauh dari tempat kita. Aku tak tahu berita selanjutnya.
Mungkin Takeshi-sama tahu. jawab niichan. Tak mungkin aku akan
bertanya pada Takeshi-sama. lanjutku.
Aku ingat terakhir kali aku bertemu dengannya
membicarakan penelitian terhadap Kuroi Karasu, yang diduga Yusukesenpai adalah anggotanya. Kemudian setelah itu ada gosip kalau dia
menjalankan misi lagi, dan ternyata sampai sekarang pun belum
kembali. Mina! sahut niichan. Hai (ya)? Yang penting, kau harus
berhati-hati mulai sekarang. Aku tak tahu apa yang akan atau sedang
dilakukan Orenji, tapi apapun yang kau lakukan, tetaplah berhati-hati,
karena kali ini kita bukan menghadapi musuh biasa, lanjutnya.
Aku dan niichan terdiam beberapa saat tanpa saling
memandang. Kami sedang berpikir jauh, jauh dan dalam. Sudah, ya.
Kalau begitu aku akan pulang dulu. Kau mau kuantar sampai ke
rumahmu? sahut niichan. Eh? Tidak, tidak usah. Rumahku tak begitu
jauh dari sini, jadi kurasa aku bisa berjalan sendiri. jawabku. Baiklah.
kiotsukero (hati-hatilah). Mata na (sampai jumpa), Mina. kata niichan
mengakhiri percakapan seraya berjalan pulang. Setelah lama ia pergi,
aku pun berjalan keluar dari kantin. Ketika dalam perjalanan, aku masih
berpikir. Kira-kira ke mana perginya Orenji-senpai? Kenapa ia masih
belum kembali padahal sudah lama pergi? Apa misinya ketika ia pergi?
Apa itu semua ada hubungannya dengan Kuroi Karasu? Banyak sekali
pertanyaan yang ingin kutanyakan langsung padanya.
Esok harinya, aku menghampiri Megumi dan Yukari seraya
mengembalikan catatan mereka yang kupinjam kemarin. Kau sudah
tampak membaik, Mina. Bagaimana? Apa kau sudah tidak stress lagi?
sahut Megumi. Un! Tasukatta yo (kalian benar-benar membantuku).
Arigato (terima kasih), Megumi, Yukari! jawabku. Daijoubu (tak apa),
daijoubu (tak apa). Sekali lagi, otomodachi nan dakara (karena kita kan
temanmu)! kata Yukari. Aku bisa tersenyum senang. Ya, untuk saat itu
dan untuk sementara saja. Kemudian, ketika melanjutkan jam
pelajaran aku kembali melamun, menatap ke arah luar jendela. Baik
58

pelajaran yang kusuka maupun tidak, aku terus melamun dan jarang
memerhatikan penjelasan guru-guru. Padahal jarang sekali aku
melamun kalau tidak sedang memikirkan para siswa SMA itu.
Sepulang sekolah, aku berjalan terpisah dari Yukari dan
Megumi, dengan pikiranku yang masih berputar-putar. Aku memang
tak menganggapnya sebagai hal besar, karena tahu Orenji-senpai
bukanlah orang yang mudah dikalahkan. Tapi baru kali ini seorang
senpai menjalankan misi dengan waktu yang cukup panjang.
Normalnya, senpai menyelesaikan misi hanya dalam empat hari atau
sekitar tiga malam.
Apa karena misi kali ini beresiko tinggi dan menyebabkan
hilangnya nyawa? Begitulah yang kupertanyakan sejak kemarin. Sambil
berjalan, tiap langkah rasanya seperti tiap kata yang terpikir di benakku
mengenai hal itu. Tak lama kemudian aku tiba-tiba menangkap
pandangan sebuah kucing hitam melompat. Tidak, ia tidak melompat.
Ia terbang, menuju tempat sampah di sebuah gang sempit lalu
langsung memangsa seekor tikus. Kurasa itu hanya yokai, batinku. Aku
mendekati kucing itu dan ternyata memang benar, ia adalah yokai
kucing, terinfeksi parasit sehingga pupil matanya membesar dan
berwarna merah darah. Telinganya meruncing dan membesar sehingga
dapat ia gunakan sebagai sayap. Tatapannya nampak tidak menyukai
kelelawar.
Tanpa banyak bergeming, ia melompat ke arahku berniat
menghabisiku langsung. Aku kemudian dengan santai melemparkan
benang yang sudah kukaitkan dengan kunai tepat menuju jantungnya.
Pisau itu menghancurkan jantungnya dalam sekejap. Apa aku bilang
tadi, pertanda buruk itu kini mulai datang? batinku. Aku keluar dari
gang sempit itu. Di saat itu pula, datanglah lagi pertanda buruk. Kali ini
bukan kucing yang kutangkap, tapi dua manusia melompat seperti
berkejar-kejaran memakai kostum hitam. Mereka berlari dan akhirnya
masuk ke dalam sebuah hutan.
59

Tanpa banyak pikir panjang aku langsung berlari mengejar


mereka. Dalam beberapa menit aku pun sampai di sebuah hutan lebat.
Aku tersesat dan tak bisa kembali. Kini, dua orang yang saling berkejarkejaran itu tidak dapat kulihat lagi. Aku membuka Contactor dan
berusaha mencari jalan keluar, tapi nampaknya tak ada sinyal untu GPS.
Ketakutan pun mulai menyelubungiku. Siapa yang tidak takut berada di
tengah hutan tempat musuh berada? Itu tak mungkin! Aku pun mulai
berjalan mencari jalan keluar, melenggak-lenggok ke mana-mana dan
akhirnya aku menemukan sebuah jalur yang kuingat dengan benar
adalah jalan aku masuk tadi.
Ketika baru akan mencapai jalan keluar, langit bertambah
gelap, karena memang sudah menjelang sore. Hayaku ikanakya (aku
harus pergi secepatnya), batinku. Tiba-tiba aku mendengar suara
goyangan daun pohon. Aku menoleh ke atas, tapi rupanya hanya
burung. Kemudian kembali kudengar lagi suara itu berasal dari semaksemak, dan ternyata kali ini adalah tupai. Aku mulai merinding dan
mempercepat langkah kakiku menuju jalan keluar.
Di saat itulah jantungku hampir berhenti berdetak. Pasalnya,
aku merasakan sesuatu jatuh dari pohon menimpa bahuku. Ya, rasanya
seperti ular. Belum membalikkan badan, aku mengambil senter kecil
dari tasku dan menyalakannya. Kemudian dengan keberanian yang
sangat sedikit itu aku menolehkan kepalaku ke belakang, memutar
tubuhku hingga sepenuhnya dapat kulihat kalau itu... MANUSIA!
Seseorang dengan jubah hitam tengah tergeletak di atas tanah, dengan
kepalanya yang sudah berdarah dan luka-luka di sekitar tangan dan
kakinya itu. Nampaknya luka-luka itu adalah lukaluka sayatan. Aku
membekap mulutku saking takutnya. Kemudian aku memberanikan diri
untuk mendekatinya. Kuperhatikan seragamnya, dan betapa
terkejutnya ketika mendapati seragam itu adalah seragam Kuroi
Komori. Sebab, di dada bagian kiri terdapat simbol kelelawar dengan
bulatan-bulatan mata kecil yang berwarna merah mencolok.

60

Aku menelan ludah. Suasana dingin malam itu kian


membuatku merinding. Aku mengusap tengkukku yang sudah terasa
basah. Kemudian dengan sedikit keberanian yang kupunya itu perlahan
kubuka masker penutupnya. Aku masih menutup mataku karena
ketakutan masih ada, dan aku ragu-ragu apakah aku harus mengetahui
siapa orang ini atau tidak. Kubuka mataku perlahan setelah kurasakan
masker itu telah terbuka seluruhnya. Mataku terbelalak lebar. Keringat
dingin membasahi keningku. S...sonna (tidak mungkin)! ucapku lirih.
Aku membeku di tempat itu, dibekukan oleh ketakutan yang luar biasa.
Aku tak menyangka, orang yang kini terbaring begitu lemah
karena luka-luka berat itu adalah Orenji-senpai. Kini aku baru sadar.
Luka-luka itu tiada penyebabnya selain angin. Ya, sayatan angin. Maka
di saat itu juga aku pun paham, bahwa itu semua kelakuan Kuroi Karasu.
Orenji...senpai? ucapku masih dengan lirih. Lidahku terasa kaku
untuk digerakkan, dan bibirku masih terkatup rapat dan membuatku
kesulitan untuk menggerakkan alat berbicaraku. Shikarishite
(bertahanlah), Orenji-senpai! Aku mulai berteriak di tengah hutan
yang gelap itu. Dan tanpa sadar sebutir air mata membasahi pipiku. Kini
ketakutan itu berubah menjadi kekhawatiran akan senpai.
Di saat itu juga aku dapat merasakan sebuah kehadiran di
belakangku. Ya. Kehadiran itu tidak memiliki suhu, begitu dingin,
membeku seperti hantu. Aku tidak memusatkan perhatianku padanya
dan terus berusaha membangunkan Orenji-senpai. Kuroi Komori! Api
panasmu itu telah menyala, ketika seseorang telah berkorban bagimu.
Untuk apa? Aku tak mengerti, karena aku sudah mati. Tapi... kematian
adalah pengorbanan, dan pengorbanan sendiri berarti salah satu dari
kalian harus mati. Kenapa kau begitu marah ketika seseorang
berkorban untukmu? Berkorban berarti mencintai, itulah yang kami
ketahui. Selama orang itu mengorbankan dirinya untuk sesamanya, di
sanalah ia menemukan cinta.
Kini aku sudah tidak lagi fokus pada Orenji-senpai yang
sekarat itu. Telingaku serasa gatal diperdengarkan oleh kata-kata
61

semacam itu. Untuk apa kau menangisi orang yang mencintaimu?


katanya lagi. Tiap detik kata-kata itu makin membuatku mual. Tanpa
banyak berpikir lagi, aku berganti pakaian spy ku dan langsung menarik
pedang. Kenapa kau malah bertarung? Apa kau mau menyia-nyiakan
pengorbanan orang itu? Ataukah kau ingin menyusulnya?
Pengorbanan takkan ada imbalannya! Itulah keadilan bagi kami!
lanjutnya lagi.
Aku mengepalkan tanganku dan kian merasakan rasa kesal
yang bertambah. Kotaero (jawablah), Kuroi Komori! Apa keadilan itu
bagimu? Kau mengorbankan manusia, bahkan ketika ia menjadi
sandera! Itukah keadilan bagi kalian? Kuroi Komori! serunya. Aku
langsung membalik badan. Dengan mataku yang merah menyala,
kutatap tiap lekukan matanya yang begitu tajam dan dingin. Inikah
Yusuke-senpai yang sebenarnya? Makin muak kudengar kata-kata
Kuroi Komori yang terucap dari mulut di balik maskernya itu.
Naa (hei), kuperingatkan kau. Apa kau tak salah sebut?
Kami memang tidak menolong manusia, tapi kami tak pernah
membangkitkan manusia dari alam maut! Itukah keadilan bagi kalian?!
Membangkitkan orang yang sudah tidur dalam kedamaian,
mengembalikannya ke dunia tempat mereka menderita?! Begitukah
keadilanmu?! seruku. Kami membangkitkan manusia, menjanjikan
kedamaian abadi, dalam sebuah lingkup mimpi. katanya lagi. Apa
yang kau maksud dengan mimpi?! tegasku. Manusia semuanya pada
akhirnya akan mati. Di saat itulah akan bangkit semua umat manusia,
tanpa penderitaan, dan tanpa kesengsaraan! Kamilah yang akan
mewujudkan semua mimpi itu! Dengan memanfaatkan hati lemah
manusia untuk datang ke sisi kami, lalu di saat itulah, akan terbit hari
kebangkitan seluruh umat manusia! jawabnya.
Kata-katanya berputar-putar terus menerus membuatku
bising. Tapi aku mengerti apa yang berniat ia lakukan. Ya, benar.
Hipnotism. Para keluarga yang kehilangan sanak saudara mereka akan
dipanggil menuju sisi mereka, dihipnotis dengan kebangkitan tubuh
62

imitasi keluarganya sendiri. Maka mereka akan menyetujui itu, dan


terbentuklah kontrak. Mereka akan bertemu dengan keluarganya itu,
dengan nyawa mereka yang hilang. Ya. Itulah rencana anggota Kuroi
Karasu. Bagaimana? Apa kau mau bergabung dengan kami? Kuroi
Komori! serunya.
Aku menggertakkan gigiku tanpa bergeming. Fuzakeruna
(jangan bercanda)! seruku sambil menghantamkan pedangku. Kuroi
Karasu itu berhasil menahannya dengan pedang angin yang
diciptakannya. Tapi, api takkan mengalahkan anginnya. Kaukira
dengan begitu, orang-orang akan hidup dalam damai?! Kau hanya akan
membuat mereka makin menderita, menjebak mereka dalam mimpi
bertemu keluarga mereka yang seharusnya tidak pernah ada! seruku.
Kini api hijau mulai membara mengelilingi tubuhku. Ya, perisai api
terkuat di antara kekuatan api yang lain.
Kami menjauh dan membuat jarak, kemudian kembali
menghantamkan pedang. Ketika aku meleset, Kuroi Karasu itu hampir
berhasil menghancurkan jantungku. Pisau anginnya sudah begitu dekat.
Kemudian aku menunduk dan berniat menikam jantungnya dengan
Raiten Sword. Kemudian aku terhenti ketika teringat bahwa yang akan
kubunuh adalah Yusuke-senpai. Kembali lagi aku teringat pada
peristiwa ketika ia menolongku. Kemudian karena kelengahanku itu ia
berhasil menyayat-nyayatku dengan sabit angin. Kembali ia lemparkan
sabit angin terakhirnya, tapi berhasil kutempis dengan api.
Chigau (bukan)! Kono hito wa Yusuke-senpai nanka ja nai
(orang ini bukanlah Yusuke-senpai)! Tapi mata itu... memang tidak
salah ia adalah Yusuke-senpai. Kenapa?! Aku terus menghantamkan
pedangku padanya. Kemudian aku melangkah mundur dan membuat
jarak. Aku kembali mengumpulkan partikel api yang begitu sedikit
karena malam sudah menjelma dan tak ada matahari, lalu kembali
melakukan serangan. Aku memperbesar volume api hijau itu sebagai
perisai. Dan itu berhasil. Ketika ia berniat menikamku, perisai api itu
melindungiku. Aku pun melakukan pukulan fisik dan membuatnya
63

terpental. Aku berlari tanpa buang-buang waktu dengan cepat menuju


ke arahnya dan berniat untuk menyerangnya. Tapi pengendali angin itu
tidak lemah. Mereka lebih kuat dariku. Ia mengendalikan anginnya
untuk mendorongku hingga jatuh.
Dengan gesit Kuroi Karasu itu melompat hendak
menikamku. Kemudian aku berguling menghindari serangannya itu
kemudian langsung berdiri dan menghantamkan pedangku dengan
pedangnya. Begitulah yang terjadi, terus berulang-ulang. Gerakan
Kuroi Karasu itu pun sama. Tiba-tiba saja aku mendapat sebuah ide. Ya,
ide untuk menghindari sekaligus melakukan serangan padanya. Aku
bahkan tak tahu apakah aku bisa melakukannya atau tidak, tapi tak ada
salahnya mencoba.
Ketika ia melangkah maju untuk menyerangku, aku
melompat mundur menjauhinya dalam beberapa langkah dan ketika ia
menyerangku, aku menundukkan kepalaku. Di saat itu ada sebuah
celah kesempatan terbuka. Tanpa segan-segan aku menghantamkan
pedangku, hendak memenggal kepalanya. Tapi begitulah yang terjadi.
Anginnya kembali menghadang seranganku dan ia langsung berbalik
badan untuk menyerangku. Aku menahan serangannya dengan
pedangku, kemudian kembali mundur dan berlari untuk menghasilkan
serangan yang lebih kencang.
Aku mengeluarkan benang-benang api dan berhasil
menjeratnya rapat-rapat. Ia pun tak kalah. Kekuatan apinya tentu saja
berhasil memutuskan benang-benang itu. Waktu terus termakan
diikuti dengan termakannya tenaga kami. Di saat penyerangan terakhir,
pedang kami sama-sama terlempar jauh dari tangan kami, dan sulit
untuk menjangkaunya. Terpaksa mau tidak mau aku harus
menggunakan serangan dengan elemen api. Aku membentuk hand
sign lalu menyemburkan api keluar dari mulutku. Dengan lincah pun
Kuroi Karasu itu menghindarinya, bahkan menghapuskannya dengan
angin. Di dalam kesempatan sempit itu, kami mengambil pedang dan
kembali menghantamkannya bersamaan. Tunjukkan kemampuanmu,
64

Kuroi Komori! serunya sekali lagi menyebutkan Kuroi Komori. Aku


makin kesal dan tanpa sengaja api hijauku membesar, menekan
hantaman pedang Kuroi Karasu.
Lama kelamaan api itu pun berhasil mendorongnya hingga
jatuh. Tanpa ampun dan berlama-lamaan lagi aku melaju dengan cepat
dan menikam jantungnya dengan pedangku yang berapi-api. Aku
memperbesar api itu, sehingga dari luar nampak sedang terjadi
kebakaran di hutan ini. Setelah beberapa saat aku menarik pedangku
agar api tidak terus membara menghabisi hutan. Setelah beberapa saat
pula asap hitam terangkat dan aku kembali dapat melihat Kuroi Karasu
yang kali ini tengah menunduk. Dapat kulihat dengan jelas tubuh
imitasinya yang mengelupas dan separuh wajahnya yang terbakar.
Luka-lukanya itu berjatuhan berupa abu.
Aku melenyapkan api pada pedangku dan menatap tajam
Kuroi Karasu itu. Yusuke-senpai? Apakah itu Yusuke-senpai? batinku.
Aku terus memandangnya dengan tatapan tajam yang membunuh itu.
Ia tidak mendongakkan kepalanya. Aku tidak heran karena mungkin ia
memegang peraturan yang sama, yaitu untuk tidak membeberkan
identitas diri pada orang lain. Inikah kekuatan yang kaupunya, Kuroi
Komori? Kekuatan yang begitu membunuh, membakar jiwa ribuan
manusia. ucapnya. Aku tak peduli, kau bukanlah manusia lagi! Kau
hanya imitasi! Diciptakan oleh yang berdosa! balasku. Ia terdiam.
Lain kali, akan kutunjukkan betapa dahsyatnya kekuatan angin dan
kekuasaan Kuroi Karasu, Kuroi Komori! ucapnya sekali lagi. Kali ini ia
sedikit mendongak ke atas dengan separuh wajahnya yang terbakar itu.
Aku masih bernapas dengan tersengal-sengal. Aku menelan
air ludahku, merasa takut karena telah melukai orang sampai seperti
itu. Tidak, bukan rasa takut. Aku tak bisa menyebutkan perasaan apa
ini tapi baru pertama kali ini aku merasa tegang seperti ini ketika
membunuh, bahkan membunuh yang bukan manusia. Aku jatuh duduk
di atas tanah, masih berlatih untuk memperbaiki napasku yang terus
65

tersengal-sengal. Sejenak aku kembali terpikir akan Orenji-senpai yang


masih terbaring di belakangku.
Aku membawa senpai keluar dari hutan dan segera pergi ke
rumah sakit. Ya, tentunya dokter berkata kalau dia akan berada dalam
keadaan koma selama beberapa hari. Aku pulang dari Rumah Sakit
menuju rumahku. Ketika mama datang menyambut, aku bahkan tak
bergeming. Aku langsung mandi dan berbaring di atas tempat tidurku,
merentangkan kedua tanganku yang tak begitu panjang itu. Aku
membiarkan jendela kamarku terbuka agar udara dapat masuk.
Tanganku yang masih merasakan ketakutan itu masih saja gemetar.
Gemetar karena telah berusaha membunuh teman.
Di sisi lain aku juga masih memikirkan keadaan Orenjisenpai yang saat ini masih koma. Hari demi hari pun berlalu. Di sekolah
pun beberapa nilai mata pelajaranku kian menurun. Wajahku lesu dan
pucat pasi. Aku tak bisa berkonsentrasi saat mengikuti pelajaran.
Pikiranku berlarian ke mana-mana. Megumi dan Yukari memaksaku
untuk cerita, tapi pada akhirnya aku hanya bercerita kalau temanku
koma di rumah sakit. Aku tak menyebutkan detail lainnya. Ketika
pulang pun, aku tak mengucapkan salam perpisahan seperti biasanya,
dan hanya melambaikan tanganku yang masih terasa lemas itu.
Di suatu hari itu ketika pulang aku bertemu dengan
Takemaru-niichan. Ia menyapaku dengan senyum sambil melambaikan
tangannya. Kau tampak lesu. Tampaknya kau terlalu memikirkan hal
itu. ucapnya. Aku terdiam seribu bahasa. Tak satu kata pun dapat
kulontarkan, padahal sebenarnya banyak sekali yang ingin kuberitahu
dan kutanyakan pada niichan. Nee (eh), niichan, sahutku akhirnya
berbicara, Anu... apa Yusuke-senpai sudah masuk? Niichan tertawa
terbahak-bahak. Kau ini! Di saat seperti ini pun kau masih saja... Tibatiba ucapannya terhenti ketika ia kembali melihatku lesu. Dia tidak
masuk. Katanya ia sakit, jawabnya. Aku kembali terdiam. Ternyata
memang benar. Benar juga, sih. Tak salah bila ia sampai tidak masuk
66

sekolah. Habisnya dia terluka berat. Aku merasa telah melakukan


kesalahan yang besar. Bagaimana dengan orang tuanya, ya? batinku.
Sore jaa (kalau begitu), niichan, watashi kaeru ne (aku
pulang duluan). Aku terlalu pusing sampai banyak PR belum
kuselesaikan. sahutku seraya berdiri dan meninggalkan niichan tanpa
mendengarnya bergeming sedikitpun. Aku pulang. Niatku memang
untuk menyelesaikan PR yang sampai kini belum bisa kuselesaikan. Tapi
sudah seperti yang kuduga. Aku tak bisa. Pada akhirnya aku hanya
mencetak-cetikkan bolpoin sambil menyandarkan kepalaku di atas
meja belajar. Lama kelamaan pun aku tertidur.
Keesokan harinya, aku bangun dengan mataku yang merah.
Aku tak tahu apa yang menyebabkan hal itu terjadi. Kemudian aku
segera pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahku dengan air
dingin yang mengalir dari kran kamar mandi, dan kemudian aku mandi.
Seusai mandi aku mengenakan seragam dan berjalan menuju kulkas
untuk mengambil obat tetes mata. Butiran-butiran airnya jatuh
kuteteskan dua kali di atas bola mataku. Aku pun siap berangkat
sekolah.
Jam pelajaran Bisnis dan Ekonomi. Ya, benar, pelajaran
favoritku. Tapi kali ini rasanya sudah tercampur aduk dengan perasaan
tak enak yang kian mendesak dada dan kepalaku. Ketika istirahat aku
mencoba menghibur diriku dengan makan rice ball dan tentunya sushi.
Orenji-senpai suka sekali rice ball, jadi kupikir memakan rice ball akan
membuatku sedikit lebih tenang. Beberapa saat kemudian, Yukari dan
Megumi datang, duduk di bangku di depanku. Mereka tak berbicara
apapun dan terus mengamatiku yang tengah lahap menyantap rice ball
di tanganku. Hontouni daijoubu no ka (apa kau benar-benar baik-baik
saja), Mina? Saikin samishii kao o shiteru nante (belakangan ini
wajahmu nampak sedih). sahut Yukari. Masih dengan senyum pahit,
aku menjawab, Daijoubu yo (aku tak apa-apa). Kemudian aku
melanjutkan makan siangku itu dan melahap rice ball yang terasa
begitu lama habisnya karena aku yang terlalu sedikit menggigitnya.
67

Sementara Yukari dan Megumi terdiam. Lama kelamaan,


Megumi menelan ludahnya dan mengulurkan kedua lengannya seraya
menepuk bahuku yang sempat membuatku sedikit terkejut dan sadar
dari lamunanku. Mina! sahutnya, Jibun o shinjite (percaya dirilah)!
Aku tak tahu apa sebenarnya masalah yang telah menimpamu, tapi
satu hal yang dapat kuingatkan, tetaplah kuat, jadilah Mina yang dulu!
Mina adalah Mina! Tak ada siapapun atau apapun yang bisa
menggantikanmu itu, termasuk ekspresi aneh dan lesu yang ada di
dalam dirimu yang belakangan ini sering muncul. Wakatta (kau
mengerti)? Kalau memang temanmu itu sedang koma, mau seminggu,
sebulan, setahun lagi, ia pasti sadar! Kau hanya perlu memiliki
kepercayaan akan hal itu!
Ucapan panjang Megumi sempat membuatku terdiam
menatap dirinya tanpa bergeming. Ya, mulutku benar-benar terkatup
rapat, takjub sekaligus tak percaya apa yang telah ia katakan. Kemudian,
mulutku yang kaku ini akhirnya bisa mengguratkan senyuman kecil
sambil berkata, Arigato (terima kasih), Megumi. Gomen na (maaf),
watashi yowasugite dakara (karena terlalu lemah). Megumi
menggeleng. Sonna kotoba o nidoto iu na (jangan pernah berkata
seperti itu lagi)! Anta wa tsuyoi (kau itu kuat). Dakara (maka dari itu),
ganbatte (semangat), Mina! ucapnya. Aku kembali tersenyum dan
mengangguk. Kedua temanku itu pun juga ikut tersenyum.
Bel pulang SMP berdentang memenuhi seisi sekolah. Para
murid berhamburan keluar sekolah dan pulang menuju rumah mereka
masing-masing, termasuk diriku. Aku berpamitan pulang pada Yukari
dan Megumi. Ya, kedua sahabatku yang telah mampu menambal luka
dan menutup lubang kebisuanku. Aku berjalan menuju ke rumah, dan
melempar tasku menuju sofa. Aku membaringkan diri di atas kasur, dan
lama kelamaan pun aku tertidur. Tidur yang begitu tenang sampai aku
tak dapat merasakan sudah berapa lama aku tertidur. Beberapa saat
kemudian ringtone handphone yang berbunyi keras itu
membangunkanku. Bukan alarm, tapi ada telepon masuk.
68

Niichan? ucapku dalam hati ketika melihat di layar tertulis


nama Takemaru-niichan. Aku pun meraih ponselku yang tak berada
jauh dariku lalu menjawab telepon itu. Mina? Mina ka (ini Mina)?
tanyanya dengan aksen yang terburu-buru. Hai (ya), jawabku singkat.
Oi, kikoeru (kau bisa mendengarku)? lanjutnya lagi. Hai (ya).
Doushita no (ada apa), niichan? tanyaku. Hayaku byouin ni iku (cepat
pergilah ke rumah sakit)! Orenji ga kigatsuita n da (Orenji sudah sadar)!
Mendengar hal itu, jantungku berpacu dengan cepat. Rasa lega mulai
muncul dan perlahan menenangkan debaran jantungku itu. Wakatta
(aku mengerti). Ima sugu iku yo (aku akan segera pergi sekarang).
ucapku seraya menutup telepon.
Aku berlari keluar dari sekolah hingga sampai menuju ke
rumah sakit yang tak begitu jauh dari situ. Ya, sebuah rumah sakit yang
tidak jauh dari rumahku maupun sekolah. Aku berlari masuk seperti tak
tahu aturan dan memasuki lift untuk membawaku naik ke lantai dua.
Sesampainya di lantai dua, aku berlari lagi memasuki sebuah lorong
panjang dan ketika sampai di ujung aku kembali berlari memasuki
lorong untuk mencari kamar Orenji-senpai.
Aku berdiri tepat di samping pintu kamar 320. Aku masih
belum siap melihatnya yang baru saja sadar dari koma. Tapi aku yakin
satu hal. Orenji-senpai itu kuat. Tidak mungkin hanya karena koma ia
bisa jadi sangat lemah. Itu tak mungkin. Kemudian aku pun
melangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar. Sebelum benar-benar
berada di dalam aku sudah dapat melihat niichan dan Orenji-senpai
mengobrol. Ya, mereka dalam keadaan duduk nampak mengobrol. Aku
masuk dan nampaknya menghentikan pembicaraan mereka. Mina?
ucap senpai ketika mengetahui aku datang menjenguknya. Aku masih
terdiam. Lama kelamaan terkumpul butir-butir kristal memenuhi
mataku. Se...se... senpai!!! seruku seraya mendaratkan diri ke dalam
pelukannya. Buji datta no ne (kau baik-baik saja)! Kau benar-benar
membuatku cemas! ucapku.

69

Orenji-senpai masih belum bereaksi terhadap aksiku yang


mendadak itu. Kemudian ia menghembuskan napas pendek sambil
tersenyum kecil. Senyum yang nampak seperti menyesali sesuatu.
Gomen na (maaf), Mina, shinpaisasete (aku telah membuatmu
khawatir). ucapnya. Kemudian dengan mata yang masih penuh kristal
dan masih berkaca-kaca itu aku kembali berkata dengan nada kekanakkanakanku itu, Senpai no sei ja nai yo (itu bukan salah senpai)! Datte
shoganai desho (mau bagaimana lagi)? Hontouni hidoi kegashitakara
(kau benar-benar terluka parah)! Tetap saja, maaf telah membuatmu
sampai begitu. Sudah. Hapus, tuh, air matamu. Air mata itu bukan
akseseoris, lho! ledek senpai.
Wajahku memerah seketika. Mou (duh), senpai! Jangan
membuat candaan di tengah situasi seperti ini! ucapku. Senpai dan
niichan menertawaiku bersamaan. Sou da (oh ya), Orenji. Kau sempat
bertemu dengan Kuroi Karasu itu, kan? Kau sudah menyelidikinya lebih
dalam? tanya niichan. Aku tak hanya bertemu, tahu! Di samping itu,
beberapa informasi yang masih belum sah itu kudapatkan kalau orang
itu adalah Wata... Belum menuntaskan perkataannya, aku langsung
membekap mulut senpai. Ah, benar! Watanuki Yazuo! Dia itu dingin
sekali! Tatapannya benar-benar membunuh! Sampai-sampai senpai
terluka begitu! Benar, kan, niichan? ucapku. Ha? E... ee (ya). Sou o
omou na (kurasa begitu). balas niichan. Jaa (nah), niichan, issho ni
tabenai ka (apa kau tak mau makan bersamaku)? Aa... maksudku...
perutku sudah keroncongan. Jaa (kalau begitu), mata ne (sampai
jumpa), senpai! ucapku tersendat-sendat.
Aku menyeret niichan sampai di cafeteria rumah sakit.
Sore jaa (kalau begitu), ayo kita pesan makanan! Aku benar-benar
lapar)! kataku. Oi, omae daijoubu ka (apa kau baik-baik saja)? Saki
kara hen na kotoba o ittakara (dari tadi kau mengucapkan hal-hal aneh).
Kaeritai no (apa kau ingin pulang)? sahutnya. I...iie (tidak), sou ja
nakute (bukan begitu). Aku hanya merasa lapar. Ehehehe.... Sudahlah,

70

ayo kita makan! ucapku sambil kembali menuntun niichan memasuki


cafeteria.
Selama berada di cafeteria aku meminta niichan untuk
membelikanku makan siang. Bagaimana kalau bento saja? sahut
niichan. Aku kembali berpikir. Lebih baik memesan makanan yang akan
datang sangat lama, batinku. Bagaimana kalau udon dengan udang?
Aku sangat ingin makan udang kali ini! pintaku. Udon...? Eeh?!
Tidakkah ini terlalu mahal?! seru niichan ketika melihat harga yang
tertera pada buku menu itu. Kumohon.... Paling tidak sekali ini saja.
Kalau masih tidak, aku akan mengganti biayanya! pintaku lagi. Niichan
nampak bengong mendengar ucapanku. Baiklah, baiklah. Aku akan
belikan. Pokoknya makanlah yang kenyang. lanjutnya. Aku tersenyum
lebar. Arigato (terima kasih), oniichan! ucapku.
Aku mengantre dan langsung memesan semangkuk udon
seafood. Kemudian aku kembali duduk sambil menunggu pesananku
datang. Niichan, aku ke toilet dulu, ya? Aku kebelet, nih! sahutku.
Baiklah. Cepat kembali, lho! balas niichan. Aku mengangguk pelan
seraya meninggalkan tempat dudukku dan keluar dari cafeteria. Begitu
sudah keluar, tujuanku sudah bukan toilet lagi. Aku langsung berlari
kencang menuju lantai dua dan kembali masuk ke dalam kamar tempat
Orenji-senpai berada, yang kini sedang membaca sebuah novel.
Senpai, senpai! seruku begitu masuk. Mina? Kau masih di sini?
balasnya. A...aa...aa..., su... sumimasen (maaf)! Aku begitu lancang
memasuki kamar! ucapku terbata-bata.
Orenji-senpai menutup novelnya dan meletakkannya
kembali di atas meja kecil di samping kasurnya. Aku masuk dengan
langkah perlahan dan duduk di kursi di sebelah kasur senpai. Te (nah),
nan no hanashi ka (apa yang mau kaubicarakan)? tanyanya. Senpai,
kau sudah tahu, kan, soal identitas asli Kuroi Karasu yang kerap kali kita
temui itu, kan? kataku memulai pembicaraan. Benar. Tapi bukankah
kau juga sudah kuberitahu tentang itu? balasnya. Ya, kau sudah
71

memberitahuku. Tapi... ada satu hal yang aku minta, senpai. kataku
lagi.
Senpai tampak bingung mendengar apa yang barusan
kukatakan. Jarang sekali aku meminta sesuatu darinya. Senpai...,
bisakah kau tidak memberitahu niichan tentang hal itu? Tentang
identitas Kuroi Karasu itu? pintaku. Hah? Senpai mengkerutkan
keningnya dan menjadi tambah bingung. Maaf karena telah meminta
hal yang tidak-tidak. Tapi, kali ini kumohon, senpai! Tolong jangan
sebarkan tentang identitas Kuroi Karasu... Watanabe Yusuke kepada
niichan! lanjutku. Aku tak mengerti. Kenapa kau bisa meminta hal
semacam itu? Apa kau berusaha melindungi Kuroi Karasu itu? sahut
senpai dengan nada yang agak tinggi. Kumohon, senpai! Bukannya aku
ingin melindunginya, tapi biarkan aku yang mengatasinya! Aku janji,
senpai! Kumohon! pintaku sekali lagi.
Orenji-senpai masih menatapku dengan tatapan tak
percaya akan permintaan anehku. Ia menghela napas panjang.
Apakah itu temanmu? sahutnya. Aku terkejut dan menunduk sedih.
Kami terdiam. Kalau begitu, aku serahkan padamu. Tapi berjanjilah
satu hal, bahwa ia takkan menyakitimu. Dan kalau situasi bertambah
buruk, aku takkan segan-segan lagi melaporkannya pada semua kru.
Kau mengerti? ucapnya kemudian. Aku mengangkat kepalaku dengan
rasa lega yang begitu dalam. Un! Yakusoku desu (aku berjanji)! Arigato
gozaimasu (terima kasih), senpai! Hontouni (aku benar-benar)...
arigato (berterima kasih)! seruku. Mou ii daro (sudahlah). Kalau kau
benar-benar memegang janji itu, aku akan memberimu kesempatan
terakhir. Sudahlah. Kau bisa pulang. ucapnya. Un! Jaa ne (sampai
jumpa), senpai! ucapku seraya meninggalkan kamar senpai.
Aku berlari menuju lantai satu, kembali ke cafeteria.
Yokatta (syukurlah)! Arigato (terima kasih), senpai! Arigato (terima
kasih)! seruku dalam hati. Aku kemudian membuka pintu cafeteria
dan dapat kulihat niichan yang masih duduk di tempat yang sama
72

dengan semangkuk sup di depannya. Aku menghampirinya dan duduk


berhadapan dengannya.
Lama sekali kau! sahut niichan. Maaf, maaf, niichan.
Toiletnya penuh dan aku harus berdesakan. Apa makanannya sudah
datang dari tadi? lanjutku. Tidak. Baru saja datang. jawab niichan
singkat. Sudah kuduga, udon seafood akan lama datangnya, batinku.
Baiklah kalau begitu. Itadakimasu (selamat makan)! ucapku. Aku
mengambil sepasang sumpit dan mencapit udon yang saat ini tengah
dihidangkan di depanku. Aku melahapnya dengan begitu cepat, karena
rasa puas yang membara-bara itu. Pelan-pelan saja. Kau bisa tersedak!
sahut niichan. Tanpa menghiraukannya, aku terus makan hingga
kenyang.

Aku mendaratkan tubuhku ke atas kasur di dalam kamarku


yang berukuran lima kali lima meter itu. Rasa puas terus bergejolak dan
aku tak tahu bagaimana untuk mengekspresikannya. Aku
merentangkan kedua tanganku sambil menatap ke arah langit-langit.
Di tengah semua kepuasan dan kelegaan itu, tiba-tiba aku teringat akan
Yusuke-senpai yang terluka bakar itu. Apa yang sedang dia lakukan
sekarang? Apa dia sudah keluar dari rumah sakit? Apa yang akan
dikatakannya pada wali kelasnya? Apa niichan tahu tentang luka
bakarnya? Hal-hal semacam itu terus terbayang-bayang di dalam
pikiranku dan membuatku tak bisa tidur.
Aku menghela napas panjang seraya memikirkan kegiatan
apa yang mungkin dapat menghilangkan pikiran-pikiran buruk ini. Aku
pun akhirnya memutuskan untuk mempersiapkan buku untuk esok hari.
Keesokan harinya aku bangun dan kembali berangkat ke sekolah
seperti biasanya. Kini sudah tak ada rasa cemas dalam hatiku,
terkecuali masalah Yusuke-senpai. Tapi rasa legaku akan kejadian
kemarin telah membuatku bisa mengalahkan kekuatan rasa cemas
yang kini perlahan menyelinap masuk. Aku meletakkan tas di atas
73

bangku dan siap mengikuti pelajaran hari itu. Tiba-tiba aku merasakan
seseorang menepuk bahuku dari belakang. Mou genki na no ka (apa
kau sudah baik-baik saja)? sahut seseorang dari belakang.
Aku menoleh ke belakang dan orang yang tak lain kulihat
adalah Megumi. Ia tersenyum melihatku sudah kembali normal seperti
biasanya. Un. Arigato (terima kasih), Megumi, telah membuatku yakin
akan diriku sendiri. ucapku. Ia tersenyum seraya melepaskan
tangannya dari bahuku. Ya. Hanya karena dia aku telah berhasil
membuat diriku yakin kalau senpai akan sembuh, dan keyakinan itu
membuahkan kenyataan yang sesungguhnya. Hari demi hari kulewati
bersama para sahabatku itu. Setiap sore aku mengunjungi senpai
sambil berbicara bersama, tak hanya mengenai Kuroi Karasu saja,
tetapi juga sempat membahas tentang kegiatan sekolah yang
membuatku lelah.
Suatu kali, ketika sedang berjalan keluar dari gerbang
sekolah, aku berpas-pasan dengan niichan yang nampaknya juga akan
berjalan keluar dari sekolah menuju lapangan parkir depan. Kenapa
kau barusan pulang? tanyanya. Aku tersenyum sambil mengangkat
bahuku. Seperti biasa. PR belum selesai, jawabku. Sou ka
(begitukah)? Oh, ya. Siang ini kau mau menemaniku ke rumah sakit?
Kupikir kita akan bisa lebih lama berbicara dengan Orenji kalau
datangnya siang. kata niichan. Tak masalah, jawabku singkat.
Baiklah kalau begitu. Tapi kita akan berhenti di rumahku dulu. Aku
harus makan siang. lanjutnya. Baiklah, ucapku lagi seraya naik ke
bangku sepeda motor niichan.
Niichan menyalakan mesin sepeda motornya lalu segera
meluncur menuju ke rumahnya. Setelah beberapa menit, kami sampai
di rumah niichan. Ya, benar. Rumah sepupuku yang sudah lama tidak
kukunjungi. Kuartir rasanya seperti rumah bagiku untuk bertemu
Takemaru-niichan. Niichan memasukkan sepeda motornya ke garasi
kecil di samping pintu masuk. Ia kemudian membuka pintu dengan
74

kuncinya dan membawaku ke lantai dua, tempat kamarnya itu yang


kira-kira seluas ukuran kamarku, belum termasuk balkon.
Niichan meletakkan helm dan melepas sepatunya tepat di
depan meja belajarnya. Tunggu sebentar, ya. Aku carikan makanan.
sahutnya seraya meninggalkanku dan beranjak turun menuju lantai
satu. Aku duduk di kamarnya sambil menunggunya kembali.
Kuperhatikan setiap sisi dan sudut ruangan. Banyak sekali fotonya
dengan teman-teman dan keluarganya. Dia tak ada bedanya dengan
Yusuke-senpai, batinku. Setelah beberapa lama menunggu, niichan
kembali ke kamarnya. Yabaii (bahaya). Tak ada satu pun makanan sisa
di kulkas. Bahan makanan hanya tinggal sebutir telur. ucapnya dengan
nada menyerahnya yang rendah itu. Lalu bagaimana? Kau mau aku
masak? sahutku. Niichan mengangkat bahunya. Mungkin tunggu saja
sampai Ayame datang. jawabnya singkat.
Yuzuru Ayame adalah adik sepupuku, yang juga merupakan
adik kandung Takemaru-niichan. Ia lebih muda setahun dariku. Kata
niichan, di rumah ini dialah juru masaknya.
Niichan menghampiriku dan duduk tepat di sebelahku.
Maaf. Aku tak tahu aku sudah kehabisan bahan makanan. ucapnya.
Aku menggeleng. Tak usah dipikirkan. Lagipula, ojisan dan obasan juga
repot, kan? balasku. Niichan tersenyum tipis. Tak lama kemudian aku
mendengar suara mobil dekat sekali dengan rumah niichan, yang
dibuntuti dengan dibukanya pintu pagar rumah. Ah, itu pasti dia!
sahut niichan. Ayame masuk dan langsung mengunci pagar dan pintu
rumah. Derapan langkahnya semakin lama semakin terdengar dan
mendekat. Tak lama setelah itu sampailah ia di lantai dua. Ayame
mengetuk pintu kamar niichan dan langsung masuk. Tadaima (aku
pulang), niichan. Ara (oh)! Ada Minakami-oneechan! serunya. Aku
berdiri menghampirinya dan kami pun berpelukan. Hisashiburi ne
(lama tak berjumpa, ya)! Genki desuka (bagaimana kabarmu),
oneechan? sahut Ayame dengan suara lembutnya itu. Genki (aku
75

sehat-sehat), genki (aku sehat-sehat). Senang bertemu denganmu lagi!


kataku.
Oi, Ayame! Bahan makanan sudah habis semua! Kini
tolong masakkan untukku. Aku tak ada makanan. sahut niichan yang
membuyarkan keharmonisan kami. Baiklah, niichan. Aku sudah
membeli beberapa bahan mentah dari pasar. Chotto matte te
(tunggulah sebentar). Akan segera kumasakkan. kata Ayame. Ia segera
turun dan pergi menuju ke dapur. Ah, niichan! Bukannya kau itu juga
pandai memasak? Kenapa malah menyuruh adikmu sendiri? sahutku.
Urusai na (kau berisik). Lalu apa gunanya juru masak kalau tidak
dipakai? balasnya.
Aku mengangkat sebelah alisku. Kalau begitu apa dia juga
membuat sarapan untukmu? Biasanya, kan, kau juga memasak.
sahutku lagi. Meskipun masih pandai memasak, aku sudah tak suka
lagi memasak. Melelahkan, kau tahu? Kecuali kalau sarapan, mungkin
aku hanya menyusun rice ball atau membuat sushi kecil-kecilan atau
bahkan sashimi. jawabnya. Sou ka (begitukah)? balasku, Lalu kalau
kesehariannya? Aku memasak untuk makan siangku. Tapi kalau
Ayame sudah datang begini, aku yang menyuruhnya. jawab niichan
singkat. Aku mengangguk mengerti.
Beberapa saat kemudian, derapan langkah Ayame kembali
terdengar. Ia mendorong pintu kamar niichan yang dari tadi dibiarkan
setengah terbuka. Makanannya sudah jadi. Niichan bisa makan
sekarang. Minakami-oneechan juga bergabunglah. Aku akan berganti
pakaian dulu. sahutnya. Baiklah. Kalau begitu, ayo kita turun, ajak
niichan padaku. Kami menuruni anak tangga dan akhirnya sampai di
sebuah ruangan dengan meja bundar yang besar. Aku duduk berlutut
di salah satu sisinya di sebelah niichan dan mengambil sebuah piring.
Niichan dengan cepat langsung mengambil beberapa buah sushi dan
sashimi dan meletakkannya di atas piring cepernya itu. Ia juga
mengambil sayuran di tengah meja yang dari luar nampaknya telah
76

dilumuri banyak sambal. Maklum, niichan memang suka makanan


pedas, beda sepertiku yang hanya suka makanan yang manis atau asin.
Itadakimasu (selamat makan)! seruku bersamaan dengan
niichan. Ketika baru akan menyapit sayur dan sushi, Ayame datang
menghampiri kami. Kau juga ikutlah makan, Ayame. sahut niichan.
Un. jawabnya seraya duduk di sebelahku dan mengambil piring serta
mengisinya dengan sushi dan sashimi. Itadakimasu (selamat makan).
ucapnya. Ketika niichan sudah memasukkan sesuap sayur ke dalam
mulutnya, tiba-tiba wajahnya memerah dan hampir menyemburkan isi
mulutnya itu. Ia terbatuk-batuk dan segera berlari menuju ke dapur
untuk mengambil air minum. Oi, Ayame! Korosuki ka omae (apa kau
mau membunuhku)?! Ini terlalu pedas, kau tahu! serunya dari dapur
yang tak jauh dari ruang makan. Niichan..., bukannya kau suka
makanan pedas? Kutambahkan cabai lebih dari biasanya. kata Ayame.
Ini terlalu banyak, tahu! seru niichan lagi seraya meminum lebih
banyak air.
Aku dan Ayame menertawai reaksi konyol niichan terhadap
pedasnya sayur itu. Ia kembali ke ruang makan dan melanjutkan makan
siangnya. Kali ini ia mengambil sushi dan sashimi mentah. Ia tidak
mencelupkannya pula ke wasabi. Setelah semua makanan habis,
tubuhku rebah dan aku merentangkan kedua tanganku. Ke...kenyang!
seruku menahan rasa sakit perutku karena kekenyangan. Niichan turut
merebahkan dirinya ke atas lantai. Mulutnya masih nampak merah
karena kepedasan tadi. Karena dia, kami bertiga terpaksa harus
menghabiskan sayur itu mau tidak mau.
Niichan tiba-tiba berdiri dan langsung mengambil kunci
sepeda motornya dari saku celananya. Sore jaa (kalau begitu), aku
berangkat dulu. Kau jaga rumah, ya, Ayame? katanya. Apakah itu
temanmu lagi? tanya Ayame. Iya. Aku akan berangkat dengan
Minakami. Kau jaga rumah, ya? lanjut niichan. Un. jawab Ayame
singkat seraya mengantar kami hingga sampai di ambang pintu masuk
rumahnya lalu menutup dan menguncinya.
77

Kami kembali berangkat menuju rumah sakit seperti biasa


untuk menjenguk Orenji-senpai sambil membawa beberapa buahbuahan. Dalam hitungan menit kami sampai di rumah sakit. Niichan
memarkirkan sepeda motornya di lot parkir belakang dan menuntunku
masuk ke kamar Orenji-senpai. Ketika masuk kami begitu terkejut
ketika melihat kamar senpai yang kosong. Tak ada siapapun termasuk
senpai di dalam. Aku dan niichan saling bertatapan. Nai (tidak ada)!
Koko mo nai (di sini pun tidak)! ucapku ketika menggeledah seisi
kamar Orenji-senpai. Kalau begitu, ayo kita keluar! Berpencar! lanjut
niichan.
Aku dan Takemaru-niichan keluar dari kamar Orenji-senpai
dan segera berlarian mencarinya, mulai dari ujung hingga ke ujung.
Kemudian kami naik lift untuk ke lantai tiga dan empat. Tapi dia tidak
ada. Ke mana perginya dia? Apa dia kabur dari rumah sakit? kata
niichan. Mungkin ada benarnya juga. Orenji-senpai bukanlah orang
yang suka menunggu dan hari ini masih hari kelimanya sejak ia sadar.
Sungguh orang yang tidak sabaran!
Aku dan niichan kembali menuruni anak tangga untuk
kembali ke tempat awal. Tiba-tiba ketika kami hendak turun dari lantai
tiga, kami menangkap sesuatu yang aneh dengan kedua mata kami.
Kami tertawa terbahak-bahak tak kunjung berhenti. Habisnya, kami
barusan saja melihat seorang nenek-nenek yang keluar dari kamar
mandi dengan keadaan celana dalamnya yang melorot hingga ke
tumitnya. Niichan terus tertawa dan tak kunjung berhenti, sampaisampai ketika berada di lantai satu air matanya mulai mengalir saking
seriusnya tertawa. Hei, kau lihat, kan, tadi? Ada nenek-nenek,
celananya melorot! sahutnya sambil mengencangkan suara tawanya.
Aku pun tak kunjung berhenti tertawa. Sudahlah, sudahlah! Kau
secara tidak sengaja menghina manula, tahu! balasku. Aku dan niichan
kembali tertawa. Manula itu terkadang konyol! sambung niichan
yang terus membuatku tertawa tiada henti. Sudahlah! Kau tunggu di
sini! Aku akan mencarinya di toilet laki-laki. kata niichan.
78

Aku menunggu niichan yang sudah menjauh menuju toilet


laki-laki yang tak jauh dariku. Aku menunggu di depan ruang radiologi
masih dalam keadaan berdiri. Tak lama kemudian niichan kembali
berlari menghampiriku. Kau sudah mencarinya? tanyaku. Iya. Di
toilet pun tak ada. Kalau kau? balas niichan. Aku bertemu neneknenek! seruku sambil kembali tertawa. Niichan pun turut tertawa
terbahak-bahak. Sudahlah! Ayo, kita cari lagi! lanjutnya. Kemudian,
tempat pencarian kami yang terakhir adalah cafeteria.
Kami melangkah menuju cafeteria dan membuka pintu
masuk. Dari kejauhan kami sudah dapat melihat seorang pemuda
berambut merah jabrik ke atas sambil membaca novel. Ya, yang tak lain
adalah Orenji-senpai. Kami pun tanpa berpikir panjang lagi langsung
menghampirinya. Orenji! sahut niichan. Orenji-senpai melepas
kacamatanya dan kembali menutup novelnya. Kami sampai di
tempatnya duduk dengan terengah-engah. Kalau kau pergi-pergi,
setidaknya bilang dulu pada kami! kata niichan. Ah..., warui (maaf),
warui (maaf). Makanan di sini sangat tidak enak. Aku akhirnya
memutuskan untuk memesan makanan di cafeteria. Yah..., paling tidak
lebih baik daripada menu biasanya. balas Orenji-senpai.
Barusan sampai, mataku kembali terbelalak melihat apa
yang dibeli senpai. Sup tom yum dengan sambal merah menyala itu
terhidang dan tersisa separuh terletak di atas mejanya. Ini... kau yang
makan? tanya niichan heran. Iya. Memangnya kenapa? balas senpai
singkat. Ini tom yum sup? tanya niichan lagi. Tidak. Ini hanyalah sup
rumah sakit biasa. Kurasa tidak enak. Jadi, aku tambahkan sambal dan
saus sendiri. jawab senpai. Aku dan niichan kembali saling
berpandangan. Oi, kau baru saja sembuh! Kau tak boleh makan yang
seperti ini, tahu! lanjut niichan. Orenji-senpai menurunkan alisnya.
Dattara (kalau begitu)... nanda (memangnya kenapa)? ucapnya
dengan tatapan marahnya yang dingin. Takemaru-niichan yang
melihatnya mulai sedikit takut. I...iiya (tidak). Lupakan saja. ucapnya
sambil duduk di sebelah senpai.
79

Kalau sudah begini, keluar, deh, aura senpai yang


sesungguhnya! Hahaha! batinku. Aku mengambil tempat duduk di
samping niichan, tepatnya di depan Orenji-senpai. Te (nah), jadi kapan
kau akan meninggalkan rumah sakit? Jangan terlalu terburu-buru kalau
kau masih merasa tak enak badan. sahut niichan. Ah..., mungkin tidak
lama lagi. Aku tak betah dikurung di dalam kamar serba putih itu.
Seperti akan dikremasi saja! jawab senpai yang membuatku tertawa
kecil. Oh, ya, lanjutnya, Ada satu hal yang perlu kusampaikan pada
kalian. Tidak hanya mengenai kepulanganku, tapi empat hari lagi aku
akan dipindahtugaskan ke Kuroi Shinobi, Amerika Serikat. Persekutuan
itu adalah persekutuan Kuroi Komori yang berdiri di Amerika Serikat.
Aku berdiri dan menggebrak meja. A... Amerika?! seruku.
Duduklah dulu. Dengarkan penjelasanku. kata senpai. Aku pun
mengkerutkan bibirku seraya menuruti perintah senpai untuk duduk.
Apa maksudmu dipindahtugaskan? Bukannya kau baru sembuh? Siapa
yang menyuruhmu melakukan itu? tanya niichan. Takeshi-sama.
Awalnya dia sudah membicarakan hal itu denganku, sebelum aku
dirawat di rumah sakit. Kemudian aku menyetujuinya. Ketika
mengetahui aku dirawat di rumah sakit, ia membatalkan
permintaannya itu. Tapi karena tugas adalah tugas, dan aku sudah
menyetujuinya, jadi kali ini akulah yang meminta untuk tetap
melaksanakan itu. jawab senpai.
Sebersit rasa kecewa mampir. Kalau tak ada senpai, siapa
yang akan menggantikan pemimpin distrikku? tanyaku dengan bibir
yang cemberut. Takeshi-sama sudah mendapatkan penggantinya. Kau
tak perlu khawatir. Kau pasti akan cocok dengannya. jawab senpai.
Eh?! Benarkah?! Siapa orang itu?! sergahku penasaran. Rahasia!
Kau akan segera mengetahuinya, kok, nanti. Sudahlah, percaya saja
padaku. Kau dan dia pasti bisa bekerjasama, kok. ucap senpai
mengakhirinya dengan senyum tipisnya. Aku hanya mengangguk tak
yakin.

80

Ketika sampai di rumah, aku mendaratkan tubuhku ke atas


bantal sambil terus berbayang-bayang. Ah, lagi-lagi pengganti baru!
Kenapa jadi begini, sih! seruku melampiaskan seluruh emosi yang
melepuh-lepuh. Ketika akan memukul tembok, aku kembali teringat
akan perkataan senpai. Sudahlah percaya saja padaku. Aku kembali
menghela napas. Kalau memang harus memercayaimu, baiklah, deh!
Awas kalau orang itu sampai menyebalkan! batinku.
Beberapa hari kemudian Orenji-senpai akhirnya keluar dari
rumah sakit. Ia sudah bisa kembali ke kuartir dan melakukan
kegiatannya sebagai pemimpin distrikku yang tak lama lagi akan
berhenti. Aku masih menjalani hari-hariku seperti biasanya. Masih
sedikit tersisa rasa sedih karena harus melepaskan kepergian
pemimpin distrikku yang lama. Aku duduk di bangkuku, siap mengikuti
pelajaran di kelas. Ketika bel sudah dibunyikan, tiba-tiba seorang siswi
OSIS dari kelasku datang sambil mengetuk pintu. Maaf mengganggu,
sensei. Waktu berkumpul sudah akan dimulai. Permisi. ucapnya. Jinsensei yangs sedang mengajar itu menutup buku catatannya seraya
mengetuknya dua kali di atas meja. Baiklah. Interupsi sebentar. Hari
ini kita kedatangan tamu dari Amerika Serikat yang akan mulai belajar
di sini. Semuanya diharap berkumpul di aula tengah. Jangan
berdesakan! jelas Jin-sensei.
Kami semua langsung berdiri dan mengikuti langkah Jinsensein menuju aula tengah. Ternyata, semua kelas dari 3-1 sampai 39 sudah berkumpul di sana. Di depan aula terdapat mimbar di atas
panggung tempat biasa kepala sekolah berpidato. Beberapa menit
kemudian, kepala sekolah berjalan memasuki mimbar dan meminta
para siswa untuk menenangkan diri sejenak sambil mendengarkan
penjelasannya. Ya, ternyata benar. Akan ada siswa dari Amerika Serikat
yang belajar ke sekolah ini mulai sekarang hingga lulus nanti. Katanya,
karena prestasinya yang menakjubkan ia diperbolehkan masuk sekolah
meskipun sudah pertengahan semester.

81

Katanya anak itu begitu jenius. Prestasinya sudah


berkembang terus sejak ia masih Sekolah Dasar. Mengikuti observasi di
bidang Sains, dan menjuarai berbagai perlombaan, sahut salah
seorang siswi pada temannya. Eh?! Sugoi (hebat)! ucap yang satunya.
Tak lama kemudian, seorang siswa bertubuh tinggi dan berambut
hitam dengan kacamatanya yang tak terlalu tebal berjalan memasuki
mimbar. Hajimemashite (salam kenal). Boku wa Masao Daiki (saya
Masao Daiki). Amerika kara kita n desu (saya datang dari Amerika). Saya
mendapatkan beasiswa sekolah di Asia, tepatnya di Jepang dan saya
berhasil lulus tes seleksi di sekolah ini. Maka dengan ini, saya mohon
bantuannya. Yoroshiku onegaishimasu (mohon bantuannya). ucapnya
sambil membungkukkan badannya.
Semua murid serentak bertepuk tangan mendengar pidato
singkat siswa yang bernama Daiki itu. Tampaknya dia keren! ucap
salah seorang siswi. Kepala sekolah kembali memasuki mimbar dan
menutup assemble pagi hari itu. Dengan begitu, semua murid pun
kembali masuk ke kelasnya masing-masing. Semoga dia tidak
diletakkan di kelas yang sama denganku, harapku dalam hati.
Dugaanku benar-benar salah. Salah total. Setelah semua murid masuk
ke kelas, Masao Daiki itu berjalan memasuki kelasku. Ia kembali
memperkenalkan dirinya secara singkat di depan kelas. Mampus! Kalau
ada anak jenius seperti ini, harga diriku bisa jatuh hanya karena nilai
Sainsku! Uh, pasti gara-gara Jin-sensei adalah guru Kimia sekaligus wali
kelasku! batinku kesal.
Jam pelajaran Kimia dimulai. Jin-sensei memberikan soalsoal latihan yang kira-kira akan keluar pada saat ujian nantinya. Selesai
menulis soal, tanganku tak mau bergerak sedikitpun. Pasalnya, soalsoal yang dibuat dalam variasi yang berbeda sangat membuatku
bingung. Aku tak tahu harus bagaimana mengerjakannya. Aku putus
asa dan pada akhirnya bertanya pada Megumi dan Yukari. Tapi hasilnya
tidak maksimal. Dari duapuluh lima soal, aku hanya bisa mengerjakan
paling tidak enam soal.
82

Waktu telah habis. Para murid ditunjuk secara acak oleh Jinsensei untuk mengerjakan soal yang tertera di papan tulis, satu per satu.
Aku terus berdoa agar tidak mendapat giliran mengerjakannya. Tapi
kemudian, setelah sembilan nomor selesai, kini giliranku dipanggil
untuk mengerjakan soal kesepuluh. Shimatta (mampus)! Bagaimana
caraku mengerjakannya sementara sembilan nomor saja tidak
sampai?! seruku dengan lantang dalam hati.
Aku melangkahkan kakiku dengan keraguan menguasai
diriku. Kupaksakan tanganku menggoreskan rumus di papan tulis
beserta hasil hitunganku. Tapi, tidak satu huruf pun berhasil kutulis.
Kemudian Jin-sensei yang mulai heran itu pun melangkah
menghampiriku. Doukashimashita (ada apa), Takahashi-san? Apa kau
tidak mengerjakan PR lagi? Kalau kau terus tertinggal, kau takkan bisa
lulus ujian! Tolong perhatikan sikapmu dan tingkatkan prestasimu!
ucapnya. Semua anak sekelas pun menertawaiku. Dan sempat kulihat,
Masao Daiki itu turut menertawaiku, hanya saja ia berusaha menutup
mulutnya untuk tidak tertawa.
Istirahat siang itu, aku langsung berlari menuju kantin dan
membeli beberapa kotak bento besar. Kulahap sampai habis semua
kotak yang jumlahnya delapan kotak di atas meja kantin. Mi... Minachan... Yukari nampak kaget dengan yang kulakukan. Kalau memang
tak bisa melampiaskan emosi, aku akan makan! Toh, pada akhirnya aku
akan olahraga! Makan adalah penambahan energi yang
menguntungkan! kataku sambil terus memasukkan bento ke dalam
mulutku. Seusai istirahat pun, perutku terasa begitu kenyang. Aku
cukup puas karena bisa menghabiskan uang sakuku untuk makan.
Setidaknya dengan begitu amarahku bisa kupendam untuk beberapa
saat. Jam pelajaran selanjutnya, Matematika. Pandanganku masih
tertuju pada Daiki yang tampak asyik mengerjakan tugas pemberian
guru kami. Lalu ketika gilirannya mengerjakan, semua hasilnya pun
betul.

83

Hari itu aku benar-benar sebal. Gara-gara kejadian tadi pagi,


aku dihukum untuk menyelesaikan PR Kimia yang belum kuselesaikan,
atau kalau tidak aku takkan boleh pulang. Maka aku meminta Yukari
dan Megumi untuk menemani sekaligus membantuku menyelesaikan
semua nomor. Dekita (selesai)! Arigato (terima kasih), Megumi,
Yukari! seruku girang. Baiklah. Ayo, aku lapar. Kita jajan, yuk! sahut
Megumi. Aku merapikan buku dan alat tulisku lalu menemani Yukari
dan Megumi membeli jajan.
Penjual kue itu sangat lama memasaknya. Karena kelelahan
menunggu, akhirnya aku duduk di sebuah bangku panjang di halaman
sekolah. Beberapa saat kemudian bel SMA berbunyi. Semua murid
SMA berhamburan keluar, dan tentunya ada yang mengendarai sepeda
motor. Suatu kali seseorang yang familiar denganku berjalan
melewatiku. Ia berhenti begitu mengetahui keberadaanku.
Minakami? ucapnya begitu melihatku. Ya, dia Yusuke-senpai. Wajah
kirinya masih nampak sedikit sekali bekas luka bakar beberapa hari
yang lalu. Aku menatapnya dengan rasa bersalah. Tapi kemudian aku
memaksakan diriku untuk tersenyum. Kon nichiwa (selamat siang),
Yusuke-senpai. sapaku. Kon nichiwa (selamat siang). Kau menunggu
Takemaru? tanyanya. Iiya (tidak). Aku lagi-lagi pulang terlambat garagara PR Kimia. Hehehe... jawabku dengan malu.
Yang benar saja! Siapa yang tidak malu bila menjawab
seperti itu pada salah satu anggota OSIS? Kagaku wa tai hen da na
(Kimia itu merepotkan ya)? Aku juga paling tidak suka Kimia, meskipun
aku masuk kelas Sains. Okazawa juga terkadang mengomel tentang PR
Kimia di sekolahnya. kata senpai. Sou nan da (jadi begitu ya)....
ucapku singkat. Aku pulang dulu, Mina. Sampai bertemu!
sambungnya diakhiri dengan senyum. Kali ini aku benar-benar regret
karena tak mampu bertanya padanya kenapa luka di wajahnya itu.
Meskipun sudah tahu kenapa, tapi aku ingin tahu apa jawabannya
terhadap itu.

84

Aku terus memandangi punggung Yusuke-senpai yang terus


berjalan menjauh dariku, dan ujung-ujungnya aku pun jatuh ke dalam
jurang yang kusebut dengan melamun. Tiba-tiba saja Megumi dan
Yukari datang membuyarkan alam bawah sadarku itu. Ehm..., ternyata
ada yang sedang berpacaran di sini! Apa yang mereka bicarakan, ya?
ucap Megumi. Me... Megumi! sahutku. Mina-chan benar-benar bisa
menarik perhatian laki-laki! lanjut Yukari. Mou (duh), futari tomo
(kalian berdua)! Bisakah berhenti bicara begitu? Sudahlah, ikuzo (ayo
pergi)! kataku tanpa menghiraukan kedua temanku itu.
Baru berjalan selangkah, aku merasa menabrak seseorang
di depanku. Kondo wa nanda (kali ini apa)?! Masih saja ada yang ingin
mengganggu... Tiba-tiba ucapanku terhenti begitu melihat Daiki yang
kutabrak. Masao Daiki? ucapku. Jangan sebut nama orang
sembarangan! Kau benar-benar membuatku risih! katanya. Karena tak
ingin melampiaskan emosi di tempat umum seperti ini, aku berusaha
menghindarinya dan tanpa menghiraukannya aku menyingkir darinya.
Barusan kupikir aku takkan memiliki hubungan apapun
dengannya, ia mencengkeram lenganku. Kau... kalau tidak salah kau
anak payah di kelas tadi itu, kan? Yang tidak bisa mengerjakan soal
nomor sepuluh? ucapnya yang membuat amarahku kembali meledakledak. Apa kau mengikuti les? Ah..., anak payah jarang sekali kutemui
tidak mengikuti les. lanjutnya. Aku melepaskan cengkeraman
tangannya. Aku bukan anak payah! Berhenti memanggilku seperti itu!
Lagipula, apa yang kau inginkan sekarang dariku?! Kau mau meledekku
karena lemah? Kau kira kau sangat pandai dan tak pernah gagal
sekalipun?! balasku dengan nada yang sedikit tinggi. Daiki menghela
napas. Kukira kau salah pengertian. ucapnya. Ia membuka tasnya dan
merogoh-rogoh sesuatu di dalamnya. Kemudian, ia mengeluarkan
sebuah map besar yang berisi kertas-kertas tebal dan dilaminating.
Kau belum lihat, sih, makanya tidak mengerti dan terus salah paham.
ucapnya lagi seraya menyodorkan map besar itu.

85

Aku meraih map itu dengan sedikit kasar, seraya membaca


isi surat-surat di dalamnya lembar per lembar. Mataku terbelalak lebar
begitu membaca semua seritifikat itu. 1st Place, 2005 Observation of
Earth and Science Olympiad, Gold Medal, French Health and Food
Organization Competition, Silver Medal, Australian Biologic
Observation, 1st Place, United States-United Kingdom Bussiness and
Accounting Debate, dan masih banyak lagi keterangan-keterangan
tercantum pada lembaran-lembaran sertifikat yang kubaca. Hanya itu
yang kubawa, jadi mau percaya atau tidak, itu hak-hakmu. Di samping
itu, aku masih menyimpan sertifikat juara lainnya, seperti sosiologi dan
ekonomi. ucapnya seraya mengambil kembali map dan isinya itu.
Sudah kubilang, kan, kalau mungkin kau salah paham.
ucapnya dengan lagaknya yang sombong itu. Tapi bukan berarti kau
bisa segalanya, kan? Kau pasti memiliki kelemahan yaasag mungkin
akan kukalahkan nanti! Contohnya... bahasa! balasku. Kalau soal
bahasa, aku pernah menjuarai bahasa internasional Inggris, Perancis,
Mandarin, dan Korea. Apakah kau masih mempertanyakan lagi
prestasiku? Kalau ingin sepertiku, kau bisa memintaku mengajarimu
dan dengan senang hati aku akan membantumu. Sampai jumpa, anak
payah! katanya seraya beranjak meninggalkanku.
Aku masih mengepalkan tanganku dengan erat dan
perasaan kesal. Ano yaro (sialan itu)!!! Mitero (lihat saja), zettai
makenai kara na (aku takkan kalah darimu! seruku. Mi...Mina-chan,
ochitsuite tte (tenanglah).... sahut Megumi. Kaeru (aku pulang)!
Hitori de kaeru kara (aku akan pulang sendiri)! sambungku. Aku
berjalan meninggalkan kedua sahabatku itu dengan masih membawa
perasaan kesal. Sementara itu aku terus berjalan cepat agar cepat
sampai di rumah dan menenangkan diriku. Di tengah jalan, sebuah
sepeda motor melaju cepat dan menimbulkan angin yang membuat
rok ku terangkat. Kondo wa nanda (kali ini apa)?! Kenapa hari ini aku
begitu siaaall...!!! seruku.

86

Seseorang turun dari sepeda motornya seraya melepas


helmnya dan berpaling menghadap ke arahku yang masih nampak
kesal. Ah..., warui (maaf), warui (maaf)! Aku tak sengaja! ucap orang
itu yang ternyata adalah Takemaru-niichan. Niichan, bisakah sedikit
saja berhati-hati?! seruku. Dakara (makanya itu), warukatta yo
(maaf)! balas niichan, Oh, ya! Kau mau ikut denganku ke kuartir? Hari
ini adalah pelepasan Orenji sekaligus sambutan untuk anggota baru.
Aku menganga tidak tahu akan hal itu. Benarkah? Baiklah. jawabku
singkat.
Setelah duduk di bangku sepeda motor, niichan langsung
menghidupkan mesin sepeda motornya dan melaju keluar dari area
sekolah. Pegangan yang erat kalau kau tak mau jatuh. kata niichan. Ia
mempercepat laju sepeda motornya. Seperti biasanya niichan memang
suka ngebut di jalan, terutama ketika akan masuk kuartir ada jejeran
rumput panjang yang lumayan tinggi sehingga ia harus mengendalikan
sepeda motornya untuk melompati rumput itu. Setelah melompati
rumput, kami kembali melaju hingga sampai di kuartir dalam hitungan
menit.
Takemaru-niichan memarkirkan sepeda motornya di
lapangan parkir belakang dan segera membawaku masuk ke dalam
kuartir. Di aula tepat ketika kami masuk, sudah banyak anggota yang
berkumpul di sana. Semua dari distrik satu sampai sembilan. Di saat itu
pula aku mendapati niichan dipanggil oleh seseorang dari lantai dua. Ia
meminta niichan untuk ke sana. Em..., Mina, kau berbaris dulu di baris
distrikmu. Nanti aku akan kembali. Nampaknya ada urusan di ruang
kepala distrik. kata niichan. Un, jawabku singkat. Aku pun menuruti
perintahnya dan berbaris sesuai distrikku, sementara aku melihat-lihat
ke kanan dan ke kiri ternyata tidak ada satupun pemimpin distrik yang
ada di aula itu. Nampaknya mereka semua berada di ruang rapat. Dan
sekali lagi baru kuingat kalau hari ini Orenji-senpai akan berangkat ke
Amerika Serikat. Aku penasaran akan siapa yang menggantikannya
selama beberapa tahun ke depan.
87

Setelah menunggu selama kira-kira limabelas menit,


akhirnya salah seorang pemandu naik ke atas panggung dan meminta
ketenangan kami sambil menunggu Takeshi-sama. Tak lama kemudian
di tengah-tengah suasana tenang itu aku mulai mendengar suara
bisikan-bisikan beberapa anggota distrik lain.
Kudengar hari ini Orenji-senpai akan berangkat!
Sou ka (oh ya)? Ke mana dia pergi?
Kata para anggota distrik tujuh, ia akan menjalani tugasnya di U.S.!
Eh..., benarkah?! Bukannya dia barusan pulang dari rumah sakit?!
Iya, sih. Oh, ya! Setelah ia pergi, akan ada yang menggantikannya
selama beberapa tahun ke depan! Kudengar-dengar ia adalah mantan
anggota Kuroi Komori yang beberapa tahun setelah bekerja di sini
sebagai pemimpin distrik tiba-tiba menghilang!
Eh..., sou ka (begitu ya), sou ka (begitu ya)!
Kalau tidak salah, namanya Hiroyuki Kazuo. Ya, benar!
Aku berdiri di barisanku sambil terus mendengarkan
celoteh gosip mengenai pengganti Orenji-senpai. Kemudian, Takeshisama naik ke atas panggung dan memulai pembicaraannya. Hari ini,
Rokudo Orenji-san akan meninggalkan Kuroi Komori dan akan
dipindahtugaskan ke Kuroi Shinobi di Amerika Serikat. Kita patut
berbangga akan segala jerih payah yang ia haturkan sehingga kita bisa
sampai di hari ini dengan segala perjuangannya. Bersamaan dengan
keberangkatannya, akan ada pendatang baru dari Amerika Serikat. Ia
datang dari Kuroi Shinobi dan akan mulai menjalankan tugasnya di sini
sebagai Kuroi Komori. Dalam hatiku langsung bertanya-tanya, kira-kira
siapa yang datang dari Amerika itu? Apa jangan-jangan pengganti
Orenji-senpai itu yang dari Amerika? Tidak mungkin! Pasti ada orang
lain lagi!

88

Dan dengan kehadiran tamu kita, saya harap semuanya


bisa menjadi lebih baik dan bisa bekerjasama. Kita sambut, Masao
Daiki, lanjut Takeshi-sama dilanjutkan dengan mataku yang terbelalak
lebar. Masaka (tak mungkin)! Ano Daiki wa Kuroi Shinobi no menba
(Daiki itu adalah anggota Kuroi Shinobi)?! Dan sekarang ia akan masuk
ke Kuroi Komori? batinku. Aku merasa hopeless dan tak bisa
membayangkan kehidupanku selanjutnya di dalam mimpi buruk. Kita
sambut Masao Daiki-kun di distrik tujuh, lanjut Takeshi-sama yang
membuatku serasa dilempar batu besar. Sudah satu perkumpulan,
ditambah lagi satu distrik. Sudah, tamatlah diriku!
Aku sudah tidak berkonsentrasi mendengarkan Takeshisama. Ketika kembali mengarahkan pandanganku ke depan, Daiki
menangkap mataku yang sedang menatap ke arahnya. Ia pun
tersenyum sinis. Aku hanya menatapnya dengan cemberut sambil
kembali mendengarkan Takeshi-sama melanjutkan pembicaraannya.
Dan selamat datang pula, bagi pengganti baru distrik tujuh, Hiroyuki
Kazuo. Perkataan itu dilanjutkan dengan berjalannya seseorang
menuju ke atas panggung dan berdiri di sebelah Daiki. Ia bertubuh
tinggi. Bola matanya berwarna merah tajam, seperti siap memangsa
manusia. Tatapan wajahnya sinis. Benar-benar berbeda dari makna
namanya! pikirku. Kazuo, artinya orang yang mencintai damai. Kedua
anak tadi pun kembali menggosip.
Sudah kuduga, inilah orangnya!
Kau hebat, Yui! Bagaimana kau bisa tahu?
Aku sempat diberitahu rahasia ini dari pemimpin distrik kita. Hanya
aku yang tahu dan aku tak diijinkan untuk memberitahu siapapun.
Eh...? Hasayaka-senpai memberitahumu?! Urayamashii (aku iri)...
Apaan, sih! Setiap distrik, kan, pasti memiliki satu perwakilannya!
Joudan da yo (bercanda), joudan (bercanda). Aku tahu kau selalu jadi
andalan Hasayaka-senpai!
89

Seusai assemble, aku langsung berlari keluar dari kuartir


untuk mencari Orenji-senpai. Aku mulai masuk melalui pintu masuk ke
asrama, kemudian mengetuk-ngetuk pintu kamar senpai. Alhasil, tidak
ada suara apapun dan tidak seorangpun membukakannya. Aku pun
berpikir sejenak. Apa jangan-jangan Orenji-senpai sudah berangkat?!
Maka dengan cepat kulangkahkan kakiku untuk kembali mencarinya.
Akhirnya hingga ke seluruh penjuru gedung asrama tidak dapat
kutemukan jejak Orenji-senpai.
Aku menyerah. Akhirnya aku keluar dari gedung asrama dan
memutuskan untuk kembali ke kuartir. Di saat itulah tiba-tiba aku
mendapati Orenji-senpai yang sudah akan keluar dari gerbang sambil
membawa kopernya. Orenji-senpai, matte (tunggu)! seruku dari
kejauhan. Ia yang merasa namanya dipanggil langsung berpaling
menghadap ke arahku. Mina? ucapnya heran melihatku yang
terengah-engah mencarinya. Aku pun berlari menghampirinya. Senpai,
apa kau benar-benar harus pergi? Maksudku..., anu... itu... Aku tak
bisa melanjutkan perkataanku karena tak tahu harus bicara apa. Aku
tahu, sahut Orenji-senpai tiba-tiba. Kau tak mau bekerjasama dengan
Kazuo itu, kan? Itulah yang dikatakan oleh beberapa anggota dulu
ketika ia menjabat sebagai pemimpin distrik.
Aku menganga mendengar perkataannya itu. Kemudian, ia
mengulurkan kedua lengannya dan meletakkannya di atas bahuku.
Ore wa omae ni shinjiru kara (aku akan percaya padamu). Kalau ia
berbuat macam-macam padamu, kau bisa langsung menghubungiku,
Mina, lanjutnya dibubuhi senyuman, Aku tak tahu apa yang akan
terjadi selanjutnya. Tapi aku yakin, kau pasti bisa bekerjasama dengan
Kazuo. Karena aku percaya kau bisa. Sayonara (selamat tinggal), Mina!
Zutto zutto ganbare yo (senantiasalah bersemangat)! Itulah kalimat
terakhir yang diucapkan senpai sebelum mengelus kepalaku dan
meninggalkanku.
~To Be Continued
90