Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Pendidikan Kesehatan
1. Definisi
Pendidikan kesehatan adalah suatu upaya untuk mengadopsi perilaku
kesehatan melalui kegiatan pendidikan kesehatan dengan cara persuasi,
membujuk, mengimbau, memberikan informasi dan memberikan kesadaran.
Pendidikan

kesehatan

upaya

untuk

mempengaruhi

kelompok

individu

ataupun masyarakat dengan tiga unsur yaitu : input ( sasaran dan pelaku
pendidikan, baik secara kelompok individu ataupun masayarakat ), proses
( suatu upaya yang direncanakan ) dan otput ( melakukan sesuai dengan
yang diharapkan ) (

Notoatmojo, 2012 ; 21). Pendidikan kesehatan

berhubungan dengan komunikasi informasi, adopsi motivasi, keterampilan,


dan kepercayaan diri supaya terlaksananya tindakan yang memperbaiki
kesehatan. Informasi yang dikomunikasi yaitu mengenai sosial, ekonomi,
lingkungan, faktor resiko individual, perilaku beresiko, serta penggunaan
sistem pelayanan kesehatan. Pendidikan kesehatan merupakan bentuk
kegiatan dan pelayanan keperawatan yang dilakukan di rumah sakit ataupun
diluar rumah sakit ( non klinik )(????????
2. Tujuan pendidikan kesehatan
Tujuan pendidikan kesehatan adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan,
merubah sikap dan tingkah laku individu, keluarga, masyarakat yang sehat,
pengetahuan yang relevan dengan intervensi dan strategi pemeliharaan
derajat kesehatan, pencegahan penyakit, memberikan perawatan penyakit
kronis di rumah dan mengurangi ketergantungan. Dengan adanya pendidikan
kesehatan

maka

seseorang

untuk

informasi

dapat

mengambil

tersampaikan

keputusan

serta

terhadap

memandirikan

kesehatan

yang

dihadapinya ( Uryea E.J., 1993; dikutip


Metode yang sesuai dengan tujuan spesifik pendidikan kesehatan yaitu
perubahan pengetahuan ( kognitif ), sikap ( pengertian motivasi ) atau praktik

( mendapakan akses informasi kesehatan, mempergunakan informasi untuk


meningkatkan atau mempertahankan kesehatannya.
3. Ruang lingkup
Ruang lingkup pendidikan kesehatan, Menurut Notoatmojo, 2012 :
a. Ruang lingkup dilihat dari aspek kesehatan
Yang terdiri dari prmosi kesehatan pada aspek preventif - promotif yaitu
bersifat dinamis kepada kelompok sehat, dilakukan pendidikan kesehatan
pada

kelompok

ini

supaya

kesehatannya. Pendidikan

tetap

sehat

atau

lebih

meningkat

lagi

kesehatan pada aspek penyembuhan atau

pemulihan ( kuratif - rehabilitatif ) yaitu pencegahan tingkat pertama


( kelompok masyarakat yang beresiko tinggi ), pencegahan tingkat kedua
( para penderita penyakit kronis ) dan pencegahan ketiga ( kelompok pasien
yang

baru

sembuh

dari

penyakit,

mengurangi

kecacatan

seminimal

mungkin ).
b. Ruang

lingkup

pendidikan

kesehatan

dilihat

dari

tatanan

pelaksanaan
Yang terdiri dari pendidikan kesehatan di rumah sakit dengan sasaran
pasien atau keluarga, pendidikan kesehatan di keluarga dengan sasaran para
orangtua, pendidikan kesehatan di sekolah dengan sasaran pelajar atau guru,
pendidikan kesehatan di tempat kerja dengan sasaran pekerja ataupun
manajer.
c.

Ruang

lingkup

pendidikan

kesehatan

dilihat

dari

tingkat

pelayanan
Yaitu promosi kesehatan terdiri dari peningkatan gizi, kebiasaan hidup,
perbaikan kebersihan lingkungan, kesehatan perorangan dan sebagainya.
Perlindungan khusus seperti program imunisasi, untuk diagnosis dini dan
pengobatan

segera,

pembatasan

cacat

atau

meningkatkan

kesadaran

tentang kesehatan dan penyakitnya, supaya melanjutkan pengobatannya

secara tuntas, serta rehabilitasi ( setelah sembuh dari penyakit, menghindari


kecacatan ).

B. Peran Perawat dalam pendidikan kesehatan


Perawat memiliki peran penting salah satunya sebagai pendidik karena
pendidik merupakan cara yang digunakan perawat agar klien dan keluarga
dapat memberikan keputusan. Peran perawat sebagai pendidik dapat di
setting masyarakat atau rumah sakit. Pendidikan kesehatan dapat diterima
dengan baik sesuai dengan tingkat pendidikan orang tersebut ( Mubarak,
2007 ). Adapun peran perawat dalam pendidikan kesehatan yaitu sebagai
advokat, sebagai pemberi perawatan, sebagai manager kasus, sebagai
konsultan,

sebagai

pendidik,

perantara

informasi,

inovator,

mediator,

negosiator analisis kebijakan, dan sebagainya. ( swanson dan nies, 1997


;dikutip Aziz, 2008 ).
C. Media
Media adalah alat bantu pendidikan dalam komunikasi tatap muka
dengan individu dan kelompok, bila dikelompokkan menurut indera yang
digunakan atau difungsikan dalam proses belajar menggunakan media
sebagai alat bantu. Alat bantu pendidikan adalah alat yang digunakan oleh
pendidik dalam menyampaikan bahan pendidikan atau pengajar. Sedangkan
disebut media pendidikan karena alat tersebut merupakan alat saluran
( channel ) untuk menyampaikan pesan kesehatan sebagai alat yang
mempermudahkan penerimaan pesan kesehatan. Salah satunya media cetak
berupa lembar balik atau flipchart. Lembar balik atau Flip Chart terdiri dari
dua sisi, satu sisi berisi gambar-gambar dan disisi lain berisi tulisan. Lembar
balik umumnya dibuat diatas sehelai kertas terbal. Cara menggunakan chart
ini dengan jalan membalik ke belakang ( Notoatmojo, 2011;dikutip Suiraoka, I
putu, 2012 ).
Langkah-langkah dalam pembuatan Flip Chart :

1. Cari suatu topik untuk Flip Chart


2. Jabarkan topik tersebut menjadi bagian - bagian penting yang akan
diterangkan
3. Buat rancangan atau sketsa gambar dan penjelasan tulisan untuk masing
masing gambar
4. Setelah rancangan fix, tuangkan gambar dan tulisan pada kertas gambar
sesuai ukuran flipchart
5. Gabungkan bagian bagian tersebut menjadi satu kesatuan lembar balik
( flip chart ). Penggabungan bisa dilakukan dengan menggunakan :
- standart khusus untuk flip chart dari besi, flip chart digantung
- atur standart berdiri, bisa dari katu atau dari karton
- dijilid spiral, sehingga memudahkan untuk membolak balik

D. Konsep Kecemasan
1. Pengertian Kecemasan
Kecemasan ( ansietas ) adalah istilah dalam kehidupan sehari-hari, yang
menggambarkan keadaan khawatir, gelisah, takut, tidak tentram disertai
keluhan fisik. Kecemasan berbeda dengan takut, takut merupakan penilaian
intelektual

terhadap

stimulus

yang

mengancam

dan

objeknya

jelas.

Sedangkan kecemasan berupa penilaian individu yang subjektif, sebuah


respon emosional yang dipengaruhi alam bawah sadar dan tidak diketahui
penyebabnya (Dalami, Ermawati., dkk, 2009:65).
Kecemasan ( ansietas ) adalah keadaan emosi munculnya kekhawatiran yang
tidak jelas, berkaitan dengan perasaaan yang tidak pasti dan tidak berdaya
( Stuart, 1995; dikutip Ade Herman.S, 2011: 41 ).
Kecemasan ( ansietas ) adalah suatu perasaan yang tidak menyenangkan,
perasaan takut dan tidak dapat dibenarkan yang disertai gejala fisiologis,

sedangkan

gangguan

kecemasan

terkandung

unsur penderitaan

yang

bermakna, adanya gangguan fungsi yang disebabkan oleh kecemasan


tersebut ( David A. Tomb, 1993 ; dikutip Ade Herman.S, 2011: 41 ).
2. Kecemasan dari Aspek Kebutuhan Dasar Manusia
Setiap individu memiliki kebutuhan dasar yang harus dipenuhi
selama jenjang kehidupan mereka tidak hanya fisiologis tetapi juga
psikologis. Menurut Maslow (Feist & Feist, 2009), tidak terpenuhinya
salah satu dari kebutuhan-kebutuhan mendasar dapat mengarah
pada beberapa penyakit. Kebutuhan tersebut terdiri dari kebutuhan
fisiologis,

rasa

aman

dan

nyaman,

rasa

cinta

dan

dimiliki,

penghargaan dan aktualisasi diri. Tidak terpenuhinya rasa aman dan


nyaman salah satunya dapat menyebabkan kecemasan. Kecemasan
merupakan

suatu

emosi

yang

sering

dialami

oleh

manusia.

Kecemasan dapat mengganggu dan mengancam ketenangan setiap


orang. Kecemasan dapat menghilangkan rasa aman dan merupakan
suatu tanda bahaya seperti halnya timbul was-was, khawatir akan
terjadi sesuatu, tegang terus-menerus, dan tidak mampu berlaku
santai (Maramis,2004).

3. Tingkat Kecemasan
Tingkat kecemasan terdiri dari rentang respon, mulai dari respon adaptif
hingga ke respon maladaptif ( antisipasi, ringan, sedang, berat hingga panik).
a. Kecemasan ringan : individu sadar berhubungan dengan ketegangan
dalam kehidupan sehari - hari. Adanya peningkatan persepsi seperti
mendengar, meraba, melihat. Individu akan berhati-hati dan waspada.
Individu terdorong untuk belajar yang dapat menghasilkan pertumbuhan dan
kreativitas.
Menurut Dalami, Ermawati., dkk ( 2009 ) terjadi perubahn respon berupa :

Respon fisiologis yang berubah seperti sesekali nafas pendek, nadi,


tekanan darah naik, adanya gejala ringan pada lambung dan muka
berkerut dan bibir bergetar.

Respon kognitif yang berubah seperti lapangan persepsi yang melebar,


dapat menerima rangsangan yang komples, konsentrasi pada masalah
dan menjelaskan masalah secara efektif.

Respon perilaku dan emosi yang berubah seperti tidak dapat duduk
tenang, adanya tremor halus pada tangan, dan suara meninggi.

b. Kecemasan sedang : fokus pada perhatian segera, pusat perhatian ke hal


yang penting dan mengeyampingkan yang lain. Sehingga seseorang tersebut
tidak perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih
banyak jika diberi arahan.
Menurut Dalami, Ermawati., dkk ( 2009 ) terjadi perubahn respon berupa :

Respon fisiologis berupa sering nafas pendek, nadi, tekanan darah naik,
mulut kering, anoreksia, kostipasi, gelisah.

Respon kognitif berupa lapang persepsi menyempit, tidak mampu


menerima

rangsangan

luar,

berfokus

dengan

apa

yang

menjadi

perhatian.

Respon perilaku dan emosi berupa gerakan tersentak-sentak ( meremas


tangan ), susah tidur, perasaan tidak aman, bicara banyak dan cepat.

c. Kecemasan berat : lahan perhatian yang sangat sempit, seseorang lebih


memusatkan perhatian pada yang detil, tidak yang lain.
Menurut Dalami, Ermawati., dkk ( 2009 ) terjadi perubahn respon berupa :

Respon fisiologis berupa nafas pendek, nadi dan tekanan daarah naik,
berkeringat, sakit kepala, ketegangan.

Respon kognitif berupa lapang persepsi sangat sempit, tidak mampu


menyelesaikan masalah.

Respon perilaku dan emosi berupa perasaan akan ancaman meningkat,


verbalisasi cepat.

d. Panik : seseorang yang tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan


pengarahan, hilangnya kontrol.
Menurut Dalami, Ermawati., dkk ( 2009 ) terjadi perubahn respon berupa :

Respon fisiologi berupa nafas pendek, rasa tercekik, sakit dada, pucat,
koordinasi motorik rendah.

Respon kognitif berupa lapang persepsi sempit, tidak dapat berpikir logis.

Respon

perilaku

dan

emosi

berupa

marah,

ketakutan,

berteriak,

kehilangan kendali, persepsi kacau.

4. Faktor yang mempengaruhi kecemasan :


a. Faktor predisposisi
1) Teori Psikoanalitik
Kecemasan merupakan merupakan konflik emosional yang terjadi antara dua
elemen kepribadian yaitu ide dan super ego. Ide mewakili dorongan insting
dan impuls primitif, sedangkan super ego mencerminkan hati nurani dan
dikendalikan oleh norma budaya. Sedangkan Ego berfungsi sebagai mediator
anatara ide dan super ego. Kecemasan berfunsi untuk mengingatkan ego
bahwa ada bahaya ( Dalami, Ermawati.,dkk., 2009:77).
2) Teori interpersonal
Teori interpersonal menyatakan bahwa kecemasan timbul dari perasaan takut
terhadap ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal. kecemasan juga
berhubungan

dengan

perkembangan

trauma,

seperti

perpisahan

dan

kehilangan, yang menimbulkan kerentanan tertentu. Individu dengan harga


diri rendah rentan mengalami kecemasan yang berat (stuart., Laraia, 1998:
177-181; dikutip Ade Herman.S, 2011: 42).

3) Teori

E. Keperawatan perioperatif
Keperawatan perioperatif yaitu suatu proses keperawatan dan perawat
perlu menetapkan strategi yang sesuai dengan kebutuhan individu sehingga
memperoleh kemudahan dari awal hingga klien sehat kembali (potter &
perry, 2006).
Keperawatan

perioperatif

berkaitan

dengan

pengalaman

pembedahan,

dimana mencangkup 3 fase pembedahan yaitu fase preoperatif, fase intra


operatif dan fase pascaoperatif.
1. Fase preopeartif yaitu dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah
dibuat dan berakhir ketika pasien dikirim ke meja operasi. Persiapan pre
operasi katarak menurut pedoman Penyelenggaraan Bakti Sosial Operasi
Katarak Seksi Penanggulangan Buta Katarak hal yang perlu dipersiapakan
yaitu :
Sebelum masuk kamar operasi pasien harus diberikan penjelasan dulu
mengenai:
1. Persetujuan tindakan operasi (informed consent) serta pasien dan keluarga
memberikan tandatangan pada formulir persetujuan tindakan operasi
2. Menganjurkan kepada pasien untuk :
a. Meneruskan

melanjutkan

pengobatan

sebelumnya,

antikoagulan harus dihentikan selama minimal 3 hari.


b. Mengosongkan kandung kemih
c. Mencuci rambut
d. Mengenakan baju bersih selama operasi
e. Persiapan mata pasien

kecuali

obat

Petugas yang memberi tetes mata harus :


1. Mencuci tangan sebelumnya
2. Memeriksa kembali mata mana yang akan dioperasi dan melakukan cukur
bulu mata, jika tidak memakai eye drape, jika memakai eye drape bulu mata
tidak perlu dicukur.
3. 1 (satu) jam sebelum operasi memberikan tetes pantocaine 0,5%,
tropicamide 0,5-1% dan tetes phenylephrine 10% pada mata yang akan
dioperasi.
4. Mengulangi pemberian obat tetes mata 10 menit kemudian bila diperlukan.

2. Fase intra operatif yaitu ketika pasien masuk atau pindah keruang bedah
dan berakhir ke bagian ruang pemulihan.
3. Fase pascaoperatif yaitu ketika masuknya pasien keruangan pemulihan
dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tantanan klinik atau di
rumah.

Perawatan pascaoperasi katarak


1) Frekuensi pemeriksaan pasca bedah ditentukan berdasarkan tingkat
pencapaian visus optimal yang diharapkan. 2) Pada pasien dengan risiko
tinggi, seperti pada pasien dengan satu mata, mengalami komplikasi
intraoperasi atau ada riwayat penyakit mata lain sebelumnya seperti uveitis,
glaukoma dan lain-lain, maka pemeriksaan harus dilakukan satu hari setelah
operasi. 3) Pada pasien yang dianggap tidak bermasalah, baik pada keadaan
preoperasi

maupun

intraoperasi,

serta

diduga

tidak

akan

mengalami

komplikasi lainnya, dapat mengikuti petunjuk pemeriksaan lanjutan (followup) sebagai berikut:
a. Kunjungan pertama: dijadwalkan dalam kurun 48 jam setelah operasi
(untuk mendeteksi dan mengatasi komplikasi dini seperti kebocoran luka

yang menyebabkan bilik mata depan dangkal, hipotonus, peningkatan


tekanan intaraokular, edema kornea ataupun tanda-tanda peradangan.)
b. Kunjungan kedua: dijadwalkan pada hari ke 4-7 setelah operasi jika tidak
dijumpai masalah pada kunjungan pertama, yaitu untuk mendeteksi dan
mengatasi kemungkinan endoftalmitis yang paling sering terjadi pada
minggu pertama pascaoperasi
c. Kunjungan ketiga: dijadwalkan sesuai dengan kebutuhan pasien di mana
bertujuan untuk memberikan kacamata sesuai dengan refraksi terbaik yang
diharapakan.
4) Obat-obatan yang digunakan pasien pascaoperasi bergantung dari
keadaan mata serta disesuaikan dengan kebutuhan, akan tetapi penggunaan
tetes mata kombinasi antibiotika dan steroid harus diberikan kepada pasien
untuk digunakan setiap hari selama minimal dua minggu pascaoperasi.

5. Deskripsi kecemasan pre operasi


Pasien pre operasi dapat mengalami kecemasan dikarenakan mereka
tidak mengetahui konsekuensi pembedahan dan takut pada pembedahan itu
sendiri. Yang dapat menimbulkan adanya perubahan secara fisik maupun
psikologi. Dan timbul perasaan yang tidak tenang seperti ketakutan terhadap
hal yang tidak diketahui, misalnya pada pembedahan anestesi, nyeri, konsep
diri, dan bahkan kematian ( Muttaqin & Sari, 2009: 74, dikutip Aprianto,
Dino.,dkk.,2013). Kecemasan pre operasi merupakan suatu respon antisipasi
terhadap suatu pengalaman yang dianggap pasien sebagai suatu ancaman
dalam peran hidup, integritas tubuh, bahkan kehidupan itu sendiri ( Smeltzer
& Bare, 2001:429, dikutip Aprianto, Dino., dkk.,2013). Saat pembedahan
dapat menyebabkan rasa takut, dan ansietas yang menghubungkan rasam
nyeri, cacat, bergantung pada orang lain, dan mungkin kematian.
6. Manifestasi kecemasan
7. Penatalaksaan kecemasan

8. Pengukuran kecemasan

E.
F. Katarak
1. Anatomi lensa
Lensa adalah suatu struktur berbentung lempeng cakram bikonveks,
aveskuler terletak dibelakang iris yang dapat menebal dan menipis pada saat
akomodasi. Tebalnya sekitar 4 mm dan diameternya 9 mm. Tidak terdapat
pembuluh darah atau saraf pada lensa. Secara fisiologi lensa mempunyai
sifat tertentu, yaitu kenyal atau lentur berperan dalam akomodasi untuk
menjadi cembung, jernih atau transparan sebagai media penglihatan, dan
pada tempatnya. Sedangkan dilihat dari keadaan patologik lensa berupa
tidak kenyal pada orang dewasa yang mengakibatkan prebiopia, keruh yang
sering disebut katarak, dan tidak berada ditempatnya atau subluksasi,
dislokasi ( Ilyas, S.,2014).
2. Pengertian Katarak
Katarak berasal dari yunani katarrhakies, inggeris Cataract, dan latin
Cataracta yang berarti air terjun. Dalam bahasa indonesia disebut bular
dimana pengliatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh.
Kekeruhan yang berjalan progresif ataupun mengalami perubahan dalam
waktu yang lama. Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang
dapat terjadi akibat hidrasi ( penambahan cairan ) lensa, denaturasi protein
lensa atau terjadi akibat kedua-duanya. Katarak umumnya merupakan
penyakit pada usia lanjut usia lanjut, akan tetapi dapat juga akibat kongenital
atau penyulit penyakit mata lokal menahun.
Bermacam macam penyakit mata dapat megakibatkan katarak seperti
glukoma, ablasi uveitis, retiniitis pigmentosa bahan toksik khusus ( kimia atau
fisik ). Diabetes, radang mata, trauma mata, riwayat keluarga dengan
katarak,

pemakaiansterid

lama,

merokok,

pembedahan

mata

lainnya,

terpajan banyak sinarvuotra violwt (matahari) meruapakan beberapa faktor

yang dapat merupakan terbentuknya katarak lebih cepat. Katarak dapat


ditemukan dalam keadaan tanpa adanya kelainan mata atau sistematik
( katarak senik, juvenil, herediter ) atau kelainan kongenital mata ( Ilyas,
S.,2014).
3. Klasifikasi Katarak
3.1

Menurut

Mutiarasari,

Diah

&

Handayani,

Fitriah

2011)

berdasarkan morfologi dan etiologi :


3.1.1 Klasifikasi berdasarkan morfologi :
a.

Katarak Kapsular yaitu katarak yang melibatkan kapsul lensa baik


anterior maupun posterior.

b. Katarak Subkapsular yaitu katarak yang melibatkan bagian permukaan


dari korteks lensa ( dibawah kapsul) baik anterior maupun posterior.
c.

Katarak Nuclear yaitu katarak yang melibatkan nukleus dari lensa

d. Katarak Kortikal yaitu katarak yang melibatkan bagian utama dari korteks
lensa.
3.1.2 Klasifikasi berdasarkan etiologinya :
a. Katarak yang berhubungan dengan usia
b. Trauma
c. Metabolik
- Diabetes mellitus sering dihubungkan dengan katarak senilis.
- Galactosemia
- Toxic pada obat-obatan steroid yang dapat menyebabkan katarak
subcapsular.
3.2 Menurut Ilyas, S (2014:212-218) katarak dapat diklasifikasikan
brdasarkan usia :

a. Katarak Kongenital, katarak yang sudah terlihat pada usia


dibawah 1 tahun
Katarak kongenital adalah katarak ang mulai terjadi sebelum atau segera
setelah lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun. Katarak kongenital
merupakan penyebab kebutaan pada bayi yang cukup berarti terutama
akibat penanganannya yang kurang tepat. Untuk mengetahui penyebab
katarak kongenital diperlukan pemeriksaan riwayat prenatal infeksi ibu
seperti rubela pada kehamilan trimester pertama dan pemakaian obat.
Umumnya

pada

ibu

mengalami

riwayat

kejang,

tetani,

ikterus,

hepatosplenomegali. Sering pada bayi prematur dan gangguan sistem saraf


seperti retardasi mental.
b. Katarak Juvenil, katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun
Katarak Juvenil merupakan lanjutan dari katarak kongenita. Katarak Juvenil
yang terdapat pada orang muda, yang terbentuk kurang dari 9 tahun dan
lebih dari 3 bulan. Katarak Juvenil merupakan penyulit penyakit sistemik
ataupun metabolik dan penyakit lainnya, seperti katarak metabolik ( diabetik,
tetanik, defisiensi gizi, dan lain-lain), katarak traumatik, katarak komplikata,
katarak anoresik, katarak radiasi.
c. Katarak Sensil, katarak setelah usia 50 tahun
Katarak Senil adalah kekeruhan lensa yang terdapat pada lansia di atas 50
tahun. Penyababnya belum diketahui secara pasti. Namun secara klinik
dikenal dalam 4 stadium yaitu :

Inspisien dengan kekeruhan ringan, cairan lensa, bilik mata depan, iris
sudut bilik mata dalam keadaan normal, shadow test ( negatif ).

Imatur
lensa

dengan kekeruhan sebagian lensa, akan bertambahnya volume


akibat

meningkatnya

tekanan

osmotik

bahan

lensa

yang

degeneratif, cairan lensa bertambah, iris terdorong, bilik mata depan


dangkal, sudut bilik mata semplit, shadow test ( positif ). Lensa
mencembung yang dapat menimbulkan hambatan pupil sehingga terjadi
glaukoma sekunder.

Matur dengan keadaan kekeruhan telah mengenai seluruh masa lensa.


Cairan lensa, iris, bilik mata depan, sudut bilik mata dalam keadaan
normal kembali, shadow test ( negatif ). Katarak matur terjadi akibat
deposisi ion Ca yang menyeluruh

Hipermatur dengan keadaan proses degenerasi lanjut, dapat menjadi


keras atau lembek dan mencair. Masa lensa yang berdegenerasi keluar
dari kapsul lensa sehingga lensa menjadi mengecil, berwarna kuning dan
kering. Terlihat bilik mata dalam, disertai penyulit seperti glukoma dan
uvelitis.

3.3 Katarak komplikata


Katarak komplikata merupakan katarak akibat penyakit mata lain seperti
radang, dan proses degenerasi seperti ablasi retina, retinitis pigmentosa,
glukoma, tumor intra okular, iskemia okular, nekrosis anterior segmen, akibat
suatu trauna dan pasca bedah mata. Katarak komplikata juga dapat
disebabkan oleh penyakit sistemik endokrin ( Ilyas, S, 2014).
3.4 Katarak diabetes
Katarak diabetik merupakan akibat adanya penyakit diabetes melitus, dapat
terjadi dalam 3 bentuk yaitu pasien dengan dehidrasi berat, asidosis dan
hiperglikemia nyata, pada lensa akan terlihat kekeruhan berupa garis akibat
kapsul lensa berkerut. Pada pasien diabetes juvenil dan tua tidak terkontrol,
dimana terjadi katarak serentak pada kedua mata dalam 48 jam. Dan pada
pasien diabetes dewasa gambaran secara histologik dan biokimia sama
dengan pasien nondiabetik. Hiperglikemia terdapat penimbunan sorbitol dan
fruktosa didalam lensa, terlihat insidens maturasi katarak yang lebih pada
pasien diabetes, jarang ditemukan true diabetik. Pada lensa akan terlihat
kekeruhan

tebaran

salju

subkapsular

yang

sebagian

jernih

dengan

pengobatan ( Ilyas, S, 2014).


3.5 Katarak sekunder
Katarak sekunder terjadi akibat terbentuknya fibrosis pada sisa lensa yang
tertinggal, terlihat paling cepat sesudah 2 hari operasi katarak ekstra

kapsular atau sesudah suatu trauma yang memecah lensa.. Adanya


proliferasi epitel lensa pada katarak sekunder berupa mutiara Elsching
( epitel subkapsular yang berproliferasi dan membesar tampak seperti busa
sabun atau telur kodok ) dan cincin soemmering ( akibat kapsul anterior yang
pecah

dan

traksi

ke

arah

pinggir,

melekat

pada

kapsula

posterior

meninggalkan daerah yang jernih di tengah, dan membentuk gambaran


cincin) ( Ilyas, S, 2014).
4. Teknik Operasi Katarak
Intracapsular Cataract Extraction ( ICCE) Pembedahan dengan mengeluarkan
seluruh lensa besama kapsul. Dapat dilakukan pada zonula Zinn telah rapuh
atau bergenerasi dan mudah diputus. Pada katarak ekstraksi intrascapular
tidak akan terjadi katarak sekunder dan merupakan tindakan pembedahan
yang sangat lama populer. Akan tetapi pada tehnik ini tidak boleh dilakukan
atau kontraindikasi pada pasien berusia kurang dari 40 tahun yang masih
mempunyai segmen hialoidea kapsular. Penyulit yang dapat terjadi pada
pembedaha

ini

yaitu

astigmat,

glaucoma,

uveitis,

endoftalmitis

dan

perdarahan, sekarang jarang dilakukan.(Gambar 2)


Extracapsular Cataract Extraction (ECCE)
a. Extracapsular Cataract Extraction (ECCE) Tindakan pembedahan pada
lensa katarak dimana dilakukan pengeluaran isi lensa dengan memecah atau
merobek kapsul lensa anterior sehingga massa lensa dan korteks lensa dapat
keluar melalui robekan tesebut. Termasuk dalam golongan ini ekstraksi linear,
aspirasi dan ligasi. Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak muda,
pasien dengan kelainan endotel, bersama-sama keratoplasti, implantasi lensa
intra ocular, kemungkinan akan dilakukan bedah glaucoma, mata dengan
predisposisi

untuk

tejadinya

prolaps

badan

kaca,

sebelumnya

mata

mengalami ablasi retina, mata dengan sitoid macula edema, pasca bedah
ablasi, untuk mencegah penyulit pada saat melakukan pembedahan katarak
seperti prolaps badan kaca. Penyulit yang dapat timbul pada pembedahan ini
yaitu dapat terjadinya katarak sekunder.
b. Small Incision Cataract Surgery (SICS )

SICS adalah salah satu teknik operasi katarak yang pada umumnya
digunakan di Negara berkembang. Teknik ini biasanya menghasilkan hasil
visus yang bagus dan sangat berguna untuk operasi katarak dengan volume
yang tinggi. Teknik ini dilakukan dengan cara insisi 6 mm pada sclera (jarak 2
mm dari limbus), kemudian dibuat sclera tunnel sampai di bilik mata depan.
Dilakukan CCC, hidrodiseksi, hidrideliniasi dan disini nucleus dikeluarkan
dengan manual, korteks dikeluarkan dengan aspirasi dan irigasi kemudian
dipasang IOL in the bag.
c. Phacoemulsification
Phacoemulsifikasi adalah teknik yang paling

mutakhir. Hanya diperlukan

irisan yang sangat kecil saja. Dengan menggunakan getaran ultrasonic yang
dapat menghancurkan nukleus lensa. Sebelum itu dengan pisau yang tajam,
kapsul anterior lensa dikoyak. Lalu jarum ultrasonik ditusukkan ke dalam
lensa, sekaligus menghancurkan dan menghisap massa lensa keluar. Cara ini
dapat dilakukan sedemikian halus dan teliti sehingga kapsul posterior lensa
dapat dibiarkan tanpa cacat. Dengan teknik ini maka luka sayatan dapat
dibuat sekecil mungkin sehingga penyulit maupun iritasi pasca bedah sangat
kecil. Irisan tersebut dapat pulih dengan sendirinya tanpa memerlukan
jahitan sehingga memungkinkan pasien dapat melakukan aktivitas normal
dengan segera. Teknik ini kurang efektif pada katarak yang padat.