Anda di halaman 1dari 14

Judul Jurnal

:

GANGGUAN

CEMAS

DAN

DEPRESI

PADA

PASIEN

DENGAN SINDROM MATA KERING (SMK)
Latar Belakang

:

Sindrom mata kering (SMK) merupakan salah satu
penyakit yang paling sering dbutirui, dilaporkan sebanyak 1,68
juta pria di Amerika usia 50 tahun keatas telah didiagnosis klinis
maupun mengalami gejala SMK.
SMK

ditandai

dengan

penurunan

produksi

atau

peningkatan penguapan air mata (non-Sjögren’s syndrome
keratoconjunctivitis sicca [non-SS KCS]) atau

oleh sebuah

kelainan sistem imun (sindrom Sjögren [SS]) yang mengakibatkan
peenurunan kelembapan pada saliva dan kelenjar air mata.
Gejala khas dari SMK meliputi mata berair, rasa terbakar
atau menyengat, ocular grittiness, sensasi ada benda asing,
pandangan kabur, dan fotofobia, dimana keseluruhan gejala
tersebut sangat mempengaruhi kualitas hidup pasien.
Laporan dalam literatur melaporkan tentang SMK dan
dampaknya yang sangat signifikan terhadap kualitas hidup pasien
dengan menggunakan berbagai macam pengukuran kualitas hidup,
termasuk kualitas hidup secara umum dan penglihatan terkait
kehidupan sehari-hari. Namun, status kejiwaan, yang merupakan
bagian penting dari kualitas hidup, jarang diteliti. Hanya analisis
kualitatif berfokus data yang dilakukan dalam sebuah pertemuan
pada tahun 2002, menunjukkan bahwa pengalaman hidup dengan
gejala SMK menimbulkan perasaan seperti kekecewaan dan
frustrasi

serta terpengaruhnya harga diri dan kesejahteraan

emosional.
Gangguan cemas dan depresi merupakan dua bentuk
gangguan jiwa yang sering disertai dengan gangguan fisik. Sebagai
pengetahuan, telah terdapat beberapa penelitian yang meneliti
gangguan cemas dan depresi pada pasien SMK. Kami melakukan
sebuah studi komparatif untuk meneliti status kejiwaan paien SMK

SDS. Persetujuan tertulis (Informed Consent) diperoleh dari semua responden setelah diberi keterangan lengkap tentang penelitian dan responden bersedia meluangkan waktu mereka. dan tingkat pendidikan. meliputi usia. RRC) diikutsertakan apabila pasien tersebut berusia setidaknya 18 tahun dan telah memiliki gejala SMK paling tidak selama 3 bulan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pasien dengan sindrom mata kering (SMK) memiliki gejala gangguan cemas dan depresi lebih banyak dari kelompok kontrol yang tidak memiliki SMK. sensasi . gargalesthesia. Kuesioner diisi dan diselesaikan sebelum pemeriksaan untuk memastikan bahwa pemeriksaan klinis tidak akan mempengaruhi respon subyek. tear break up time (BUT). jenis kelamin. pada pasien SMK. corneal fluorescein staining (FL). dan OSDI. Kami juga meneliti hubungan antara Ocular Surface Disease Index (OSDI).dan responden kontrol dengan kuesioner SAS dan SDS. Shanghai. Kriteria diagnosis SMK antara lain: (1) sering mengalami atau secara terus menerus merasakan salah satu dari tujuh gejala berikut: rasa terbakar. Schirmer Test 1 (S1T). sensasi adanya benda asing. Bahan dan Metodologi : Subyek yang memenuhi syarat menyelesaikan beberapa kuesioner pada bulan Juni 2009 sampai dengan Desember 2009 untuk menilai status kejiwaan mereka dan gejala okular dengan kuesioner SAS. Seluruh kuesioner diselesaikan secara mandiri. pendapatan keluarga. visus dengan status demografis. Data sosio-demografis diperoleh dengan grafik.  Populasi Penelitian Delapan puluh Sembilan orang pasien SMK dirujuk ke RS Mata dan THT (Universitas Fudan.

fotofobia. (2) nilai S1T kurang dari 10 mm/5 menit dan BUT kurang dari 10 detik. atau iritasi yang tidak terkait SMK). bersedia dan mampu menyelesaikan serangkaian kuesioner tanpa pendampingan yang signifikan dan bersedia melalui pemeriksaan klinik untuk SMK sebagai bagian dari penelitian. Dari 89 pasien SMK. Tujuh puluh orang terdiri atas sukarelawan yang mendaftar ke Departemen Oftalmologi dengan keluhan terkait refraksi anomali dan sesuai dengan kriteria inklusi. atau (3) FL (+) dan/atau didapatkan pewarnaan rose-bengal. Seluruh responden harus menguasai bahasa Cina. Tak satu pun responden yang ikut serta dalam penelitian menggunakan suplemen air mata pada hari penelitian dilaksanakan. sensasi mata kering. infeksi. Responden dengan penyakit mata lainnya (selain katarak senilis) diekslusi dari kelompok kontrol. (3) responden memiliki penyakit mata luar atau pernah menjalani operasi mata dalam jangka waktu 6 bulan terakhir. (2) responden memiliki penyakit sistemik yang tidak terkontrol atau kecacatan yang dapat mempengaruhi aktifitas kesehariannya (termasuk alergi mata. maka pasien tersebut didiagnosa SMK. dan BUTlebih besar dari 10 detik. Tidak ada satupun anggota kelompok kontrol menggunakan suplemen air mata. (4) responden diketahui memiliki alergi terhadap salah satu komponen yang digunakan dalam penelitian (misalnya fluorescein). 13 orang diantaranya didiagnosa dengan SS. Jika dua dari tiga kondisi tersebut terdapat pada seorang pasien. nilai S1T lebih besar dari 10 mm/5 menit. atau asthenopia. atau (5) responden pernah . Responden dengan kondisi berikut tidak diijinkan ikut serta dalam penelitian ini: (1) sedang dalam proses pengobatan gangguan jiwa apapun atau gangguan sikap yang bisa mempengaruhi penilaian status kejiwaan.seperti nyeri ditusuk-tusuk. Kriteria inklusi termasuk tidak memiliki gejala SMK.

Versi bahasa Cina untuk kedua skala tersebut telah valid dan digunakan secara luas untuk menilai gangguan cemas dan depresi terkait penyakit jangka panjang. responden diminta untuk menunjukkan sebuah skor dengan melihat frekuensi gangguan cemas dan depresi pada Sindrom Mata Kering tiap kali sebuah pertanyaan muncul. dengan semakin tinggi nilai maka semakin sering gejala dirasakan.menjalani/mengalami oklusi punctum lakrima sementara maupun permanen. Pada setiap butir. Responden yang memperoleh nilai akhir lebih dari 50 . 4 = setiap waktu/selalu/hamper selalu. Skor awal diubah ke skala 100 poin dengan cara mengkalikan skor dengan 1.25. 3 = sebagian besar waktu/sangat sering/sering. 2 = sekali waktu/beberapa kali/kadang-kadang. Skala yang digunakan adalah: 1 = sekali-sekali/sangat jarang/jarang.  Penilaian Status Kejiwaan Responden menyelesaikan dua penilaian standar yang menilai gejala gangguan cemas dan depresi. Kuesioner SAS adalah penilaian mandiri yang terdiri atas 20 butir dan empat poin skor Likert untuk menilai adanya gejala dan komponen somatik dari kecemasan beserta tingkat keparahannya. Sepuluh butir menunjukkan ekspresi negatif atau gejala (misalnya “Saya sangat mudah menangis”) dan sepuluh butir menunjukkan ekspresi positif dan berkebalikan (misalnya “Hidup saya cukup berarti”). Kuesioner SDS adalah penilaian mandiri yang terdiri atas 20 butir dan empat poin skor Likert untuk menilai depresi. Tiap butir penilaian dari SAS dan SDS diranking 1 sampai 4. Lima belas butir menunjukkan ekspresi negatif atau gejala (misalnya “Saya takut tanpa alas an yang jelas”) dan 5 butir menunjukkan pengalaman positif dan berkebalikan (misalnya “Saya merasa segala sesuatunya baik-baik saja dan tidak akan ada hal buruk terjadi”).

dan S1T.pada kuesioner SAS dan SDS diduga memiliki gejala gangguan cemas dan depresi. pemasukan keluarga. Jawaban pada seluruh pertanyaan dijumlahkan untuk memperoleh nilai OSDI yang berkisar antara 0 sampai 100 dengan nilai tertinggi menunjukkan lebih parahnya gejala.  Analisa Statistik . FL. Inc. Tiap jawaban diberi skor berdasarkan frekuensi dari gejala menggunakan skala 5 poin mulai dari 0 (menandakan tidak ada masalah) sampai 5 (menandakan masalah yang signifikan).  Penilaian Tambahan Ocular Surface Disease Index Questionnaire (OSDI) OSDI. fungsi dan keterbatasan terkait penglihatan (misalnya “apakah Anda memiliki masalah dengan mata Anda yang menghalangi anda untuk membaca?”). Responden diberi pertanyaan dengan tiga subskala yang berbeda: gejala okuler (misalnya “Apakah mata anda terasa tidak nyaman?”). tingkat pendidikan. status pernikahan. pekerjaan. Seluruh pemeriksaan oftalmologis dilakukan oleh dokter spesialis mata yang sama. adalah 12-butir kuesioner patient-reported outcome questionnaire yag dirancang untuk menilai kuantitas kecacatan mata terkait SMK.  Pemeriksaan Klinis dan Sosio-demografi Pemeriksaan klinis meliputi visus. dikembangkan oleh Allergan. BUT.. Data sosialdemografis yang dikumpulkan meliputi usia. dan pemicu dari lingkungan (misalnya “Apakah mata Anda merasa tidak nyaman pada keadaan berangin?”) selama 1 minggu sebelumnya. jenis kelamin. dan lamanya penyakit. penggunaan suplemen air mata.

baik skor SAS maupun SDS pada kelompok SMK lebih tinggi dari pada kelompok kontrol (masing-masing t = 4. Populasi sampel adalah 162 orang responden yang terdiri dari 89 pasien SMK (76 pasien non-SS KCS.35. pemasukan keluarga.05.0 (Statacorp. Perbandingan dari variabel kontinyu menggunakan uji Kruskal–Wallis dan uji Mann-Whitney.001). USA) dan dilaporkan sebagai mean ± standard deviation (SD) atau median. Texas. Hasil : Data demografi dan oftalmologi disajikan pada Tabel 1 dan 2.001 dan t = 4. dan status pernikahan tidak menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna kecuali dengan usia dan tingkat pendidikan (masing-masing P < 0. Sebagai tambahan. Perbandingan pada kedua kelompok yang berdasarkan jenis kelamin.Data hasil penelitian dianalisa menggunakan aplikasi Stata9. dengan memegang kovariat yang konstan dan kemudian mengamati hubungan antara variabel tergantung dan variabel bebas. Analisa statistic untuk variable kategorik menggunakan uji chi-square. P < 0. uji Bonferroni-corrected post hoc dilakukan untuk menyamakan angka signifikan variable yang diteliti untuk variabel multipel.57. prevalensi pada kelompok DES secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (z = . Regresi linier berganda dan regresi logistik digunakan untuk mengatur kovariat yang terpilih (usia dan tingkat pendidikan) untuk mengontrol faktor yang berpotensi menjadi faktor perancu. Sehubungan dengan adanya perbandingan prevalensi gejala gangguan cemas dan depresi pada kedua kelompok. P < 0. Hubungan antara variabel klinis diuji dengan uji korelasi Spearman rank dan dinyatakan sebagai koefisien korelasi Spearman. 13 pasien SS) dan 73 orang sebagai kontrol. Tingkat signifikansi statistik yang ditetapkan adalah sebesar 0.05) setelah koreksi statistik pada kovariat sebelumnya (usia dan tingkat pendidikan.

Sehubungan dengan perbandingan prevalensi gangguan cemas dan depresi di antara tiga kelompok. durasi penyakit.96. Namun. untuk setiap).0035 dan r = -0.0178) sedangkan skor SDS ditemukan berkorelasi dengan OSDI (r = 0.05. Mengingat status kejiwaan pasien SS mungkin berbeda dari non-SS KCS karena prognosis yang berbeda atau adanya penyakit auto-imun. P = 0. tidak ada perbedaan statistik yang signifikan antara skor SAS / SDS untuk kelompok non-SS KCS dan kelompok SS (P = 0. P <0. Baik skor SAS maupun SDS ditemukan tidak berkorelasi dengan usia. Baik kelompok non-SS KCS maupun kelompok SS memiliki skor SAS / SDS yang lebih tinggi daripada kelompok kontrol (masing-masing P <0. Pembahasan : Hasil kami menyediakan wawasan tentang status kejiwaan . p = 0. Setelah koreksi statistik kovariat awal (usia dan tingkat pendidikan) perbedaan statistik yang signifikan ditemukan antara ketiga kelompok (P <0.001. Nilai SAS ditemukan berkorelasi dengan OSDI dan tingkat pendidikan (r = 0. S1T. dan kelompok kontrol (n = 73). kami membuat analisis subkelompok untuk menyelidiki perbedaan status kejiwaan antara kelompok non-SS KCS (n = 76). FL. jenis kelamin. atau visus (semua P> 0.2.2670.05) seperti terlihat pada Tabel 4.186).549) (Tabel 5).460.05). pendapatan rumah tangga. kelompok SS (n = 13). sementara itu tidak ada perbedaan statistik yang signifikan yang ditemukan antara prevalensi gangguan cemas dan depresi pada kelompok non-SS KCS dan kelompok SS (masing-masing P = 0.68.0114).3060. P = 0. P = 0. masing-masing) (Tabel 3). p = 0.384.05).003 dan z = 3.2507. BUT. P = 0. baik kelompok non-SS KCS maupun kelompok SS memiliki prevalensi lebih tinggi dari kelompok kontrol (P <0.

Dalam penelitian kami. Ada dua kemungkinan alasan untuk perbedaan ini. Namun. dan FL) dalam penelitian kami (data tidak ditunjukkan). Salah satu kemungkinan adalah bahwa gejala SMK. terlepas dari tingkat keparahan atau diagnosisnya. S1T. Hasil ini dapat dijelaskan oleh beberapa kemungkinan. Hal ini juga diketahui bahwa rasa sakit atau cacat pada penyakit kronis dapat menimbulkan gangguan cemas dan depresi. Beberapa studi telah menemukan bahwa gejala SMK biasanya menyimpang dari tanda-tanda. S1T. yang juga menemukan bahwa responden dengan keratoconjunctivitis primer (KCSp) lebih tertekan dibandingkan responden kontrol tanpa KCSp dengan Beck Depression Inventory.responden dengan SMK yang menunjukkan bahwa responden dengan SMK lebih mengalami gangguan cemas dan depresi daripada responden yang tidak disertai dengan SMK.. dapat menyebabkan terjadinya gejala gangguan cemas dan depresi. tetapi tidak berkorelasi dengan parameter klinis BUT. the Short Formulir-36 yang digunakan dalam penelitian Mertzanis dkk. populasi penelitian dan data normatif termasuk orang dengan penyakit penyerta mungkin telah mempengaruhi hasilnya. Kemungkinan lain adalah bahwa responden yang memberikan nilai lebih tinggi . Hasil ini sesuai dengan penelitian Erb dkk. seperti nyeri. Pertama. Penjelasan ini dapat membantu kita untuk memahami kurangnya korelasi antara skor SAS/SDS dengan parameter klinis. Kedua. seperti skor OSDI yang tidak berkorelasi dengan parameter klinis (BUT. Kuesioner ini tidak digunakan khusus untuk mengidentifikasi dan mengukur status kejiwaan responden. SAS dan SDS skor ditemukan berkorelasi dengan skor OSDI. adalah angket kesehatan yang bertujuan untuk mengukur kualitas umum kehidupan. penelitian terpisah melaporkan bahwa kesehatan jiwa pasien SMK secara konsisten tidak terpengaruh oleh penyakit ini. dan FL.

Kami juga menemukan ada hubungan antara gangguan kejiwaan (gangguan cemas dan depresi) dengan durasi penyakit. dengan berjalannya waktu mereka secara bertahap menerima kondisi hidup yang terkait dengan SMK..32 tahun). banyak penelitian telah melaporkan bahwa pasien SS mengalami peningkatan gangguan cemas atau depresi secara klinis. Berkenaan dengan SS. perawatan paliatif tidak memuaskan dan mengurangi kualitas hidup. Sesuai dengan penelitian Meijer dkk. kami menemukan korelasi negatif yang signifikan antara gejala gangguan cemas dan tingkat pendidikan. yang menyebabkan status psikologis yang lebih baik. Prevalensi ini lebih tinggi dibandingkan dalam penelitian kami. di mana kami menemukan prevalensi menjadi masingmasing 30. Penjelasan untuk fenomena ini mungkin bahwa pada tahap pertama penyakit pasien merasa cemas dan tertekan karena gejala yang tidak menyenangkan. 3.1%. Namun. korelasi antara depresi dan tingkat pendidikan tidak ditemukan. peneliatian yang dilakukan oleh Valtysdottir dkk.05 ± 3. Perbedaan ini mungkin hasil dari penggunaan instrument penelitian yang berbeda untuk mengukur . dengan menggunakan skala gangguan cemas dan depresi Rumah Sakit.pada skala SAS dan SDS (lebih cemas atau depresi) cenderung melaporkan gejala SMK yang lebih parah. Penjelasan lain untuk kurangnya korelasi mungkin durasi penyakit yang relatif pendek dalam kelompok SMK kami (mean + SD. Satu penjelasan yang mungkin adalah bahwa subyek berpendidikan tinggi mendapat informasi melalui berbagai saluran dan memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap penyakit. melaporkan bahwa prevalensi gangguan cemas dan depresi pada pasien SS masingmasing adalah 48% dan 32%. Sesuai dengan penelitian kami. Namun.8% dan 23. jauh lebih tinggi daripada kelompok kontrol.

dibandingkan dengan kelompok kontrol. dan kelompok kontrol. kelompok SS. Kedua. skor yang diukur dari SAS. kita tidak mengecualikan subyek dengan katarak senilis dalam penelitian kami. Ketiga. Oleh karena itu. Sampai saat ini. Ketika merekrut responden untuk kelompok kontrol. SDS. ketika membandingkan status psikologis di antara kelompok non-SS KCS. tidak mengeksklusi pasien dengan katarak adalah batasan penting untuk penelitian kami dan pasien dengan katarak harus dieksklusi dari penelitian yang akan datang. Pertama. dan OSDI berpotensi berubah secara signifikan. hasil penelitian ini masih menimbulkan diskusi dan memerlukan studi lebih lanjut. kami menggunakan regresi linier berganda atau regresi logistik untuk mengendalikan dua faktor perancu dari usia dan tingkat pendidikan. Stevenson dkk.gangguan kejiwaan dan jumlah sampel pada penelitian kami kecil. Kami mengamati bahwa ketajaman penglihatan adalah sebanding antara kelompok SMK dan kelompok kontrol. Mengingat pengaruh katarak pada ketajaman penglihatan. kita mencatat bahwa mereka yang memiliki demografi yang lebih muda dan berpendidikan tinggi cenderung lebih bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian kami. hanya terdiri dari 13 . perbedaan yang signifikan dari usia dan tingkat pendidikan yang ditemukan antara kelompok SMK dan kelompok kontrol. Ada beberapa keterbatasan yang penting dalam penelitian ini. terdapat sebuah bias seleksi dalam penelitian kami. untuk depresi tetapi perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok yang sama untuk gangguan cemas tidak ditemukan. melaporkan bahwa pasien SS memiliki skor lebih tinggi secara signifikan. Kelompok kontrol secara bermakna lebih muda dan lebih berpendidikan dibandingkan dengan kelompok SMK. Untuk menjelaskan ini. ukuran sampel dari kelompok SS itu kecil. Namun baru-baru ini. Namun.

Untuk alasan ini. Mengevaluasi status psikologis pasien DES. Sebagai kesimpulan. . Walaupun pasien dengan kondisi ringan umumnya mengalami perbaikan yang berarti dari pengobatan tersebut. seperti farmakologis terapi. diperlukan adanya penelitian lebih lanjut dengan ukuran sampel yang lebih besar dan menggunakan metode yang berbeda untuk mengidentifikasi gangguan kejiwaan yang diinginkan untuk lebih memahami hubungan antara mata kering dan gangguan kejiwaan. yang dapat menyebabkan mereka menjadi curiga terhadap dokter dan pengobatan sehingga sangat menghambat efektivitas pengobatan. dengan cara mengamati status kejiwaan pasien akan membantu dokter untuk memberikan terapi yang terbaik untuk setiap pasien SMK. ketika merencanakan pengobatan mereka.responden. dan akupunktur. sangat penting untuk memberikan pengobatan yang optimal. sebagian besar pasien dengan SMK kronis dan sedang sampai berat tetap mengalami gejala meskipun menggunakan perawatan paliatif secara maksimal. membatasi kekuatan uji statistik. oklusi punctum lakrima. SMK adalah masalah yang pilihan pengobatannya biasanya hanya terbatas pada teknik paliatif. Pada sebagian dokter spesialis mata. Pasien dengan penyakit kronis cenderung cemas dan depresi.