Anda di halaman 1dari 157

PART 1

Sore hari itu aku berjalan pulang dengan sedikit lemas. Di


tengah jalan, tiba-tiba aku bertemu dengan Daiki. Lho? Kau, kan, si
anak payah itu! ledeknya. Aku hanya menatapnya dengan sebal.
Daripada bertengkar, aku pergi meninggalkannya terlebih dahulu. Tapi
ketika hendak melangkahkan kakiku, ia malah menghalangiku. Lho,
lho, lho. Mau ke mana kau? Kau dari arahmu berjalan janganjangan kau juga anggota Kuroi Shinobi?! katanya dengan ekspresinya
yang tak percaya. Huh, meledek sekali dia! Apa kau sungguh anggota
Kuroi Shinobi itu? Ohhohoho! Aku tak percaya, aku tak percaya!
katanya lagi. Mau apa kau? Dari distrik berapa kau? balasku dengan
jutek. Aku masuk distrik tujuh. Bagaimana denganmu? katanya.
Distrik tujuh. jawabku singkat seraya meninggalkannya.
Ketika baru selangkah berjalan, lagi-lagi Daiki
menghalangiku. Ih! Kenapa kau menghalangiku?! Aku, kan, mau
pulang! Lagipula apa yang kau lakukan di sini?! Ini sudah sore,
sebaiknya kau juga pulang! kataku dengan sebal. Lho, lho, lho.
Kenapa kau jadi memerintahku? Aku, kan, menginap di asrama ini.
balasnya. Kau tak punya apartemen di sini? Tak ada yang bersamamu?
tanyaku heran. Tidak. Itulah alasanku tinggal di asrama. Orang tuaku
mengirimku ke Jepang untuk belajar. Di samping itu, aku juga kemari
untuk bergabung dengan rekan di Jepang. Selama ini, kan, aku
menjalankan misi di Amerika Serikat sebagai Kuroi Shinobi. jawabnya.
Aku jadi heran. Ia memilih tinggal sendirian, ketimbang dengan orang
tuanya. Kenapa ia jadi mirip denganku, ya?
Karena keasyikan berbayang-bayang, tanpa sadar aku
melamun. Oi? Anak payah? sahut Daiki. Aku menoleh ke arahnya
dengan sedikit terkejut. Eehm. Aku berusaha agar tidak salah
tingkah di depannya. Jangan sebut aku anak payah! ucapku. Lalu
beritahu aku siapa namamu. Aku belum berkenalan denganmu.
balasnya lagi. A aku Takahashi Minakami. Cukup panggil Mina saja
tak masalah. jawabku. Masao Daiki. Yoroshiku na (selamat
bekerjasama), Minakami. lanjutnya sambil mengulurkan tangannya.
2

Heran. Kenapa di saat seperti ini ia bisa baik padaku, ya?


Karena sungkan, aku pun menjabat tangannya. Kochirakoso (mohon
bantuannya juga), Daiki. kataku. Daiki hanya melemparkan senyum
padaku, sementara aku tidak memerhatikannya. Tak lama kemudian,
Daiki melepas jabatan tangannya. Kalau begitu, aku kembali dulu.
ucapnya. Aaa (ya). Mata na (sampai jumpa). balasku. Daiki berpisah
arah denganku. Ia kembali ke asrama kuartir sementara aku berjalan
pulang.
Ketika sampai di rumah, dengan lelah aku melemparkan
tasku ke atas sofa. Aku bergegas masuk ke kamar dan membanting
tubuhku di atas kasur. Haah, sungguh tak beruntung! Tak lama
setelah hari ini, aku benar-benar memasuki mimpi buruk! Ah, doushio
(bagaimana ini)? Aku takkan mungkin bisa bekerjasama dengan mereka.
Tak mungkin, tak mungkin. batinku. Sejak saat itu hari-hariku pun
terasa suram. Di kelas, aku dicampakkan gara-gara si jenius Daiki itu. Di
Kuroi Komori, aku kesulitan mengajukan pertanyaan dan bahkan
berkomunikasi pada pemimpin baruku.
..........................................
Seminggu berjalan sudah kehidupan suramku ini. Yah...
sesuai seperti yang kukatakan, Daiki selalu menjadi biang kerok
buatku di sekolah. Uuh...! Membuatku semakin sebal saja! Hari itu
mendekati tes akhir bulan Desember, dan semua murid diberi materi
pengayaan. Mata pelajaran yang dipakai hanyalah Bahasa, Matematika
dan Sains. Seperti biasa, tugas Sains ku selalu merosot, terutama Fisika
dan Kimia. Yah... kalau ulanganku bagus itu, sih, sebenarnya tidak 100%
murni, alias aku menyontek beberapa anak pintar. Yang jelas aku tidak
menyontek Daiki. Kalau Daiki yang aku contek, pasti ketahuan. Dan dia
pasti tidak segan-segan melaporkan pada guru pengawas. Tidak tahu
harus berbuat apa, aku hanya menunggu waktu berjalan hingga
seminggu sebelum tes akhir.

Aku menyangklong tasku ketika pulang siang hari itu. Ah...,


berat sekali rasanya. Ketika pulang, para murid SMA juga keluar. Benar
juga. Hari ini kelasku pulang molor gara-gara terjadi keributan di jam
terakhir. Jam pulang pun mundur limabelas menit. Ketika berjalan
keluar dengan lagakku yang lemas itu, aku bertemu Yusuke-senpai di
tengah jalan. Wajahku memerah delima dengan mendadak. Seperti
biasanya ia melemparkan senyum duluan untuk menyapaku. Aku pun
juga membalasnya dengan senyuman biasa. Tak lama kemudian ia
langsung pergi. Aneh. Ia tak pergi ke lapangan parkir, tapi malah ke arah
yang berbeda.
Karena penasaran, aku pun membuntutinya. Yusuke-senpai
berhenti di kantin sekolahku dan tampaknya membeli sebotol air.
Setelah meneguk, ia pergi ke lapangan tengah. Setelah kuamati, ia
tampak menunggu seseorang. Kira-kira siapa, ya, yang sedang
ditunggunya? Kanojo (pacarnya)? batinku. Soko ni iru n daro (kau ada
di sana kan)? ucapnya. Te (lho)! Dia menyadari keberadaanku.
Memang hebat, ya, pengguna angin itu. Ia bisa melacak siapapun yang
berada di dekatnya melalui hembusan angin di sekelilingnya. batinku.
Karena sudah ketahuan, tak mungkin aku akan terus
menerus bersembunyi. Aku pun keluar menghampirinya. Minakami?
ucapnya sedikit tercengang ketika tahu aku yang mengintipnya dari
tadi. G gomennasai (maaf)! Aaaku tak bermaksud mengintip dari
tadi! Hontouni gomennasai (aku benar-benar minta maaf)! kataku
dengan merasa sangat bersalah. Iiya (tidak). Kau belum pulang?
balasnya. Um sebenarnya itu kelasku saja yang pulang molor
akibat terjadi keributan di jam pelajaran terakhir. jawabku dengan
perasaan malu karena berada di kelas pembuat gaduh. Sou ka (begitu
ya). Ah, iya! Sebentar lagi SMP... akan ada tes akhir semester, kan?
katanya lagi. Aku tersambar ketika mengingat-ingat kalau aku masih
belum siap menghadapi tes akhir, terutama Sains.
Aku menundukkan kepala dan dengan malu, kujawab,
Ssebenarnya iya, sih. Tapi rasanya malas aku belajar. Hhuh!
4

Pelajaran terlalu susah, Professor Jin juga kurang jelas menyampaikan


materi! Yusuke-senpai tertawa kecil. Taihen da ne (susah juga ya)?
Mata ano Jin-sensei ka (Professor Jin lagi ya)? Kau juga sama dengan
Okazawa, ya? Dia juga sering mengeluh tentang tes akhir, terutama ia
paling sebal dengan Professor Jin. Kata-katanya terkadang tidak tertata,
membuat orang lain bingung. responnya. Tak kusangka ia juga
berpedapat yang sama. S...sou ne (benar)! Kata-katanya selalu
membingungkan, kadang bergumam dan kadang kata-katanya tidak
tertata! Dasar! Sebelum jadi guru, milikilah pengalaman dulu, dong! H...
huh, jangan mentang-mentang kau seorang professor, ya! ucapku
seraya melampiaskan seluruh emosiku.
Yusuke-senpai tampak tercengang mendengarkanku. S...
sumimasen (maaf)! lanjutku. Ia malah tertawa. Tampaknya banyak,
ya, orang yang tidak menyukai Jin-sensei. Tapi bukan masalah pada
gurunya, sebenarnya masalahnya pada muridnya. balasnya.
Maksudnya? tanyaku sedikit bingung. Ehm..., bukan mau
menyinggung, sih, tapi sebenarnya jika murid itu suka dengan pelajaran
Kimia, seharusnya diterangkan dengan rumit pun ia akan aktif bertanya
pada Jin-sensei apa maksud penjelasannya. Singkatnya, jangan selalu
memandang sisi buruk sesuatu. Pikirkanlah sisi positif nya saja. Tak
perlu menganggap semua hal dengan serius, kan? Yah..., tapi memang
ada juga sesuatu yang perlu kau hadapi dengan serius. katanya
panjang lebar.
Aku terus memerhatikan senpai tanpa bergeming. Ya, benar.
Ia selalu berpikir positif. Jadi inilah wakil ketua OSIS, ya? M... maaf!
Sekarang malah aku yang sok banyak bicara, ya? ucapnya sambil
tertawa kecil. Sou desu yo ne (benar juga ya).... ucapku singkat.
Sebentar lagi aku juga akan kelas tiga. sahut senpai. Kalau dipikir-pikir
lagi, benar juga. Aku selisih dua tahun lebih muda dari senpai. Dan
tahun depan ia akan naik ke kelas tiga.
Tapi dilihat dari luar, tampaknya kau pekerja keras, ya?
Meskipun pelajaran sulit, kau tampaknya mengikutinya dengan baik.
5

sahut senpai. Aku langsung terkejut. Tidak begitu. Justru sebaliknya.


Aku sangat membenci pelajaran Jin-sensei. balasku. Tapi apa kau
pernah mengeluh di rumah? tanyanya. Tidak, sih.... Biasanya emosiku
kulampiaskan dengan karate,... bukan, boxing. Aku punya guling merah
di rumah. Mengerti maksudku, kan? kataku. Iya, iya, aku tahu. Tapi
wajah siapa yang kaugambar di guling merah itu? tanyanya lagi.
Gambar wajah apa? Aku balik bertanya. Wajah orang yang kaubenci.
Biasanya orang-orang, kan, begitu. jawab senpai.
Hal itu baru terpikir saat ini. Benar juga. Biasanya mereka
menggambar wajah orang yang mereka benci di guling merah dan
dijadikan sasaran tinju. batinku. T...tidak. Aku tidak memasangnya.
jawabku. Sou ka (begitu ya).... Okazawa kalau mendapat PR Kimia dan
Matematika dari guru-gurunya juga bereaksi seperti itu. Dia selalu
mengeluh dan mengeluh, lalu pada akhirnya ia meminta Nozomu
membantunya mengerjakan PR nya. lanjut senpai. Membantu
mengerjakan PR? tanyaku. Yusuke-senpai tertawa kecil dan berkata,
Tentu saja, Nozomu tidak mengerjakannya, tapi ia hanya mengajari
cara-cara mengerjakannya. Yah..., terkadang kalau ada waktu, aku juga
ikut turun tangan. Tapi lebih sering kulihat ia bersama dengan Nozomu.
Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan OSIS. lanjutnya.
Aku hanya mengangguk merasa mengerti. Ah! Sudah pukul
setengah empat. Maaf, ya. Aku harus pergi dahulu. Yang lainnya sudah
menungguku. Mata na (sampai jumpa), Mina. Ganbare (semangat)!
ucapnya ketika melihat arlojinya sudah menunjukkan pukul setengah
empat. Ia pun langsung berlari keluar. Tampaknya kau pekerja keras,
ya? Meskipun pelajaran sulit, kau tampaknya mengikutinya dengan
baik... Ia memujiku? Seperti itu? Wajahku langsung merona-rona dan
tak sadar aku tersenyum sendiri. Ganbare....
Ah..., kenapa ucapannya jadi terngiang-ngiang terus, sih?
Apa jangan-jangan... ya! Pasti masih ada harapan! Ada kesempatan!
Aku masih bisa belajar! Dengan bantuan orang lain mungkin, teman,
atau orang tua! Aku masih bisa masuk SMA! Aku kegirangan sendiri
6

sampai lupa waktu pulang. Ketika sadar, aku pun langsung berlari
keluar sekolah. Saat itu sudah pukul empat sore. Entah mengapa aku
berputar-putar sendiri di area sekolah saking girangnya.
Ketika sampai di rumah, aku segera berganti pakaian dan
langsung mengambil spidol papan tulis. Di guling merahku kugambar
wajah Daiki sejelek-jeleknya dan menuliskan namanya. Setelah itu aku
langsung memasang sarung tangan dan meninju guling merah itu. Ima
mitero (lihatlah saja)! Aku pasti akan mengalahkanmu! kataku sambil
terus meninju guling merah itu. Ookouichi-san dan Yukata melihatku
dari belakang dengan rasa heran sekaligus takut. Api neechan sudah
membakar habis hatinya. Sugoku kowai zo (sungguh menyeramkan).
kata Yukata. Apapun yang mereka katakan, aku tak memedulikannya.
Aku terus, terus, dan terus meninju guling merahku.
Sejam telah berlalu. Entah sudah seberapa mengeras
tanganku. Tanpa sadar aku roboh ke atas ranjang sambil terengahengah. Ah...! Puas rasanya! Akhirnya aku bisa melampiaskan seluruh
perasaanku! Awas, kau, Daiki! Lihat saja! Aku pasti mengalahkanmu!
kataku. Aku langsung beranjak dan mengambil buku Sains di rak
bukuku. Tanpa banyak celometan dan mengomel lagi, aku langsung
mengerjakan PR-PR Jin-sensei sebelumnya dan mereview kembali
pelajarannya. Sono kao (wajah itu)... heta zo (sangat jelek). Sore wa
ore ja nai (itu bukan aku). Tiba-tiba terdengar suara dari jendela yang
membuyarkan belajarku. Ketika kutoleh, seorang pemuda seumuranku,
memakai kacamata duduk di pagar balkon. D... Daiki?! seruku dengan
terkejut. Aku menghampiri Daiki yang tampaknya sudah dari tadi di
balkon.
Daiki masuk ke kamarku segera ketika aku menghampirinya.
Setelah itu aku langsung menutup jendela. Nah, apa maksudmu
memasuki rumah orang tanpa ijin? sahutku. Daiki tampak tak
menghiraukanku, malah memutar-mutar guling merah yang kugambari
dengan wajahnya. Inikah kerjaanmu setiap hari? tanyanya. Cih! Apa
urusannya denganmu? balasku. Lagi-lagi tanpa menghiraukanku ia
7

pindah ke sisi ruang yang lain, kali ini meja belajarku. Ia memerhatikan
setiap rumus kimia yang kubuat. Ini... kau... menghafal rumus?!
katanya dengan sedikit terkejut. Memangnya kenapa? balasku.
Pantas kau tak bisa! Takkan ada hasilnya kalau kau menghafal! Satu
tahun..., tidak, satu abad pun kau takkan bisa memahaminya! katanya
lagi, kali ini dengan suara sedikit keras.
Neechan, ada siapa di sana? seru Yukata dari bawah
begitu mengetahui ada orang di kamarku. Langkah kakinya terdengar
mendekati kamarku. C... cepat sembunyi! bisikku seraya
menjatuhkan Daiki ke kasur dan membungkusnya dengan selimutku.
Aku langsung naik mendudukinya. Ittai (aduh)! Oi, apa yang kau
pikirkan?! katanya. Suaranya tampak serak seperti tak bisa bernapas.
Sukoshi danmatte (diamlah sebentar)! balasku berbisik. Perkiraanku
benar. Yukata benar-benar datang ke kamarku. Oh, ya? Benarkah?
Oke, oke, akan kuhampiri besok! ucapku berpura-pura sedang
bertelepon seraya melambai-lambaikan tanganku menyuruhnya keluar.
Beberapa saat setelah Yukata keluar, aku langsung berdiri
dan membuka selimut yang membungkus Daiki. Oi, korosuki ka (kau
meu membunuhku)?! serunya dengan terengah-engah. Ia terbatukbatuk karena sesak napas. Gome (maaf), gome (maaf)... balasku, Te
(lho)! Harusnya kau yang meminta maaf! Kau yang datang ke sini tibatiba tanpa permisi, lalu berteriak seenaknya! Tentu aku bisa saja
seperti itu! Kita sama-sama Kuroi Komori, kan? lanjutnya.
Aku mengkerutkan bibirku, merasa sebal pada Daiki. Tapi
bukan berarti kau boleh memasuki rumah orang sembarangan!
lanjutku. Lagi-lagi tanpa menghiraukanku, ia membaca-baca pekerjaan
Kimia ku. Suwatte (duduklah). sahutnya. Eh? Kau pikir ini rrumah
siapa kau menyuruhku duduk? sergahku. Danmare (diamlah)! Kali ini
aku serius, duduklah. lanjutnya dengan nada yang biasa, tapi kasar.
Pada akhirnya aku pun menuruti perkataannya.

Ketika sudah duduk, Daiki mengambil bolpoin dan selembar


kertas kosong. Kau perbaiki jawabanmu yang ini. perintahnya. Eh?
Yang ini? Bukannya sudah benar? tanyaku. Hah? Kata siapa itu sudah
benar? balasnya. Kata Itou-kun. jawabku. Daiki menghela napas
sambil menatapku dengan tatapan meledekku. Aku tahu, dalam
hatinya pasti ia berkata, Tak heran. Tak heran, ucapnya. Uh...!
Dugaanku benar. Jangan bertanya pada orang seperti dia. Ia tak
pernah serius. Apa-apa selalu dianggap candaan. lanjutnya. Dari
mana kau tahu? Kau belum lama sekolah di sini, kan? tanyaku. Tentu
saja aku tahu. Dari gerak-geriknya saja sudah terlihat. jawab Daiki
seraya kembali melanjutkan pandangannya pada buku catatan Kimia.
K... koitsu (orang ini)! Hanya dengan melihat sisi samping
seseorang ia bisa langsung tahu sifat dasar orang itu! Padahal belum
lama ia datang di sekolahku. Oi, apa yang kau lamunkan? sahut Daiki
sambil melambai-lambaikan tangannya di depan mataku. Eh? G...
gomen (maaf). ucapku. Kita mulai dari nomor satu. Caramu terbalik.
Harusnya kau kurangkan dahulu, baru boleh dikalikan. Kalau terbalik,
zat yang kau uji cobakan takkan bereaksi, malah terpisah. katanya.
Tanpa banyak tanya dan ba-bi-bu lagi aku langsung mengerjakan apa
katanya. Sementara mengerjakan, Daiki memeriksa pekerjaanku yang
lainnya, dan ia memberi beberapa tanda di beberapa pekerjaanku.
Sejam..., dua jam..., dan akhirnya pada pukul sepuluh selesai juga
semua pekerjaanku. Yatto dekita (akhirnya selesai)! seruku seraya
merapikan buku-buku yang berserakan di meja belajarku.
Nani ga dekita (apanya yang sudah selesai)? Zenbu ore ga
yatta n daro (semuanya aku yang mengerjakannya kan)? balas Daiki.
Arigato na (terima kasih ya). ucapku. Jangan berterimakasih dulu.
Perbaiki yang kutandai itu. Jangan lupa. Besok aku akan mereview
kembali. Yah... untuk bahan tes. Sebentar lagi, kan, akan ada tes.
balasnya lagi. Un! jawabku, sedikit dengan rasa semangat. Aku
pulang dulu. Jaa na (sampai jumpa). ucapnya seraya melompat dari
balkon dan kembali ke kuartir. Ketika kuperhatikan setiap gerakannya,
9

ia mirip sekali dengan Takemaru-niichan. Jiwanya bebas, tidak terikat


peraturan, santai, dan tak terbebani. Aku serasa ingin belajar dari
orang-orang seperti mereka.
Tapi kalau soal Daiki..., rasanya aneh. Ia aneh seperti
biasanya, tapi selalu serius. Memang terkadang menyebalkan, tapi
kenapa ia begitu peduli dengan urusan belajarku? Apa ia sengaja
melakukannya untuk meledekku? Tidak, tidak begitu. Kalau itu niatnya,
tak mungkin ia datang jauh-jauh dari kuartir ke sini untuk mengajariku.
Entah kenapa rasanya jadi aneh. Dua orang lelaki yang barusan saja
kukenal, bersedia membantuku meskipun aku tak begitu
memperhatikan. Ketika kembali melihat ke arah buku Kimia ku,
pikiranku tergerak untuk belajar. Perlahan aku membuka buku dan
mencoba mengerjakan apa yang diajarkan Daiki.
Beberapa hari telah berlalu, dan hubunganku dengan Daiki
semakin dekat. Rasanya seperti rumus kimia di mana suatu ion
mengikat ion lainnya ketika terjadi reaksi kimia. Ah..., masa hanya
karena pelajaran? Tapi benar juga kalau dipikir-pikir. Sejak Daiki
menyelinap masuk ke rumahku dan membantuku mengerjakan PR,
entah dari mana semangat belajar mulai tumbuh sedikit dan perlahanlahan dari dalamku. Ditambah lagi juga dorongan dari Yusuke-senpai.
Ah..., sejak mengenal Yusuke-senpai, kenapa jadi ada niat untuk
mengejarnya, ya? Kenapa aku ingin sekali meningkatkan nilai-nilaiku,
bahkan mencari-cari informasi tentang lomba-lomba yang biasanya
diselenggarakan sekolah?
Menjelang tes pun aku mati-matian belajar, supaya tak
mengecewakan Daiki, maupun Yusuke-senpai yang telah mengajari
dan menyemangatiku. Sore hari itu ketika pulang, pukul setengah
empat, aku masih menetap di kelas untuk melakukan beberapa latihan
Kimia melalui soal-soal di internet. Yah..., sekedar mengetes seberapa
kemampuanku. Aku pun tak sadar ketika jam sudah menunjukkan
pukul lima. Ketika baru menyadarinya, aku langsung menyelesaikan
10

sisa satu sampai dua nomor soal terakhir. Setelah selesai, aku langsung
merapikan semua buku-bukuku.
Aku berjalan cepat menuju ke pintu keluar kelas, dan di saat
itu juga aku dapat melihat bayangan orang berkacamata berjalan
melewati kelasku. Ah..., sudahlah. Itu pasti Daiki. Siapa lagi yang akan
menetap di sekolah ini selain aku kalau bukan dia? batinku. Aku pun
juga tahu kalau ia menungguku di dekat kelasku. Dengan iseng, aku pun
berniat membuatnya kaget. Perlahan-lahan aku melangkahkan kakiku
keluar dari kelas. Peek a boo! Ada tarantula di kakimu!!! seruku
dengan histeris. Daiki pun tampak terkejut sampai melonjak,
sementara aku malah menertawainya. Tapi tak lama kemudian, dada
kirinya tampak sakit. Ia duduk di bangku di sebelah kelasku dengan
lagaknya yang tampak kesakitan sekali.
Daripada menghiraukannya, aku malah menertawainya.
Sudahlah, jangan bercanda! Aku tahu kau ingin membuatku khawatir
dan meminta maaf padamu, kan? sahutku. Tapi lama kelamaan,
dilihat dari reaksinya, tampaknya Daiki serius kesakitan. O... oi, Daiki?
kataku lagi. Baka (bodoh)! Jangan lakukan itu lagi! sahutnya. Ia
berusaha menenangkan rasa sakitnya. Doushita no (ada apa)?
tanyaku. Daiki masih belum merespon. Ia masih berusaha
mendapatkan oksigen untuk menenangkan rasa sakitnya. Aku
menderita penyakit jantung sejak lahir. jawabnya. Sebersit rasa
khawatir pun lewat di hatiku.
Ah, su...sudahlah, aku tahu kau bercanda! Kau tahu? Aku
takkan tertipu dengan trik-trik seperti itu! sahutku. Harus berapa kali
aku memberitahumu? Aku tak pernah bercanda! balas Daiki dengan
sedikit kesal. Melihat reaksi seriusnya itu aku pun mulai khawatir. G...
gomen (maaf), Daiki. ucapku singkat. Mou daijoubu da (lupakan saja).
Banyak orang yang melakukan itu di hari ulang tahunku. balasnya.
Apa mereka tahu kau menderita penyakit jantung? tanyaku. Tidak.
Tapi ada yang tahu. katanya, Yah... mereka hobi sekali mengerjai
seseorang di hari ulang tahunnya. Bagi mereka yang sudah tahu,
11

terkadang tetap saja mereka suka membuatku terkejut. Pada akhirnya,


sih, aku terbiasa dengan mereka dan takkan kaget. S...sou ka (begitu
ya). Gomen (maaf), aku sangat lancang. ucapku lagi masih dengan rasa
bersalah. Mou daijoubu dakara (sudah kubilang lupakan saja). Banyak
mereka yang suka begitu. Iku zo (ayo pergi). balasnya.
Daiki berjalan mengantarku sampai ke rumah. Aku tak tahu
apa yang membawanya sampai di sini. Jaa na (sampai jumpa), Daiki.
A...arigato na (terima kasih). ucapku. Kinisuruna (jangan dipikirkan).
Baiklah, hati-hati. Aku kembali dulu. balasnya. Hati-hati apanya?
Rumahku sudah di sini. Justru kau yang hati-hati. lanjutku. Huh!
balasnya singkat seraya melompat dan meninggalkanku. Setelah
beberapa saat hingga tak dapat melihatnya lagi, aku langsung masuk ke
dalam. Aku segera mandi dan berganti pakaian. Ah, shiawase
(bahagia)! Inikah rasanya pulang tanpa membawa-bawa hutang PR?
ucapku sambil memeluk guling di kasur. Aku membuka iPhone, siapa
tahu ada messenger masuk. Ternyata benar. Tapi kali ini ada notifikasi,
seorang friends baru. Ketika kubuka, nama yang muncul adalah
Yusuke Ichii. Melihat Yusuke-nya, sih, kaget. Tapi ketika melihat Ichii di
belakangnya, artinya ia bukan Yusuke-senpai, kan? Iseng-iseng aku pun
membuka foto profil orang itu. Ternyata ia benar-benar Yusuke-senpai.
Wajahku langsung memerah. Bagaimana ia bisa tahu id line ku?
Um... Dari tadi aku terus merasa ragu-ragu. Jari telunjukku
yang akan menekan tombol add terus berputar-putar dan tak segera
menekannya. Yusuke-senpai... um... add tidak, ya? ucapku. Pada
akhirnya aku menekan tombol add itu dan bertambahlah friends ku.
Fuuh..., akhirnya ku add juga. Kalau dipikir-pikir, sekarang aku punya id
kakak dan adiknya, Okazawa dan Yusuke-senpai. Hm...hm.... Chotto
(tunggu)! Ada lagi friends baru. Te (lho)! Daiki?! Kenapa ia meng-add
ku? Juga dari mana, sih, orang-orang tahu id ku? Kenapa aku jadi
populer, ya, sekarang? Ah...! Aku terlalu Ge-eR!
Tung! Notifikasi line ku berbunyi tak lama setelah aku mengadd Daiki. Belajarlah yang rajin. Jangan anak SMA saja yang
12

kaupikirkan. tulisnya. Uh...! Kenapa ia bisa tahu aku tukang pecinta


anak SMA? Pasti Yukari dan Megumi yang membeberkannya.
Sembarangan kau! Kenapa kau bisa berkata seperti itu? balasku.
Sebal! Tak lama kemudian muncul lagi pesan darinya. Sahabatsahabatmu yang memberitahuku. Ozaki-san to Tamaki-san (Megumi
dan Yukari). jawabnya. Huh! Sudah kuduga! Iya, iya. Aku belajar.
Sudah, ya. Jangan bicarakan anak SMA terus. balasku singkat. Aku
mematikan iPhone dan langsung mengambil buku. Benkyo (belajar),
benkyo (belajar)! ucapku.
Meskipun sebenarnya malas, yah... kujalani saja. Kalau tidak
maka usaha Daiki sia-sia. Juga semangat dari Yusuke-senpai.... Ah...,
tidak, tidak, tidak! Bukan saatnya memikirkannya saat ini. Benkyo
(belajar), benkyo (belajar)! Belajar terus... dan terus... hingga tibalah
saatnya tes akhir. Sehari sebelumnya, aku kembali mengambil soal-soal
dari internet dan mencoba mengerjakannya sendiri. Setelah semua
jawaban selesai dan benar, aku langsung membereskan buku-bukuku
dan mempersiapkan peralatan tulis serta kartu peserta yang akan
kubawa besok. Fuuh..., cukup banyak barang yang kubawa! Saa te
(nah), mari kita lihat apa status anak-anak yang lain sehari sebelum tes
akhir! ucapku.
Begitu membukanya banyak sekali kontak-kontak yang tak
kukenal muncul. Tidak, bukan begitu. Rupanya mereka mengganti
display picture dan status mereka! Bahkan juga ada yang mengganti
display name mereka. Ada yang memasang status Tsumaranai na
(membosankan).... Ichi nichi (tiap hari), mai nichi (setiap hari), itsumo
benkyo (selalu belajar), benkyo (belajar). Yukari menuliskan,
Ganbarinasai (berjuanglah), minna (semuanya)! Megumi menuliskan,
Siapa yang sempat bertemu pacar, ya? Ikut dong! dan masih banyak
lagi yang mengganti status mereka menjelang tes. Pada akhirnya aku
pun juga menuliskan, Ganbatte (semangat)! Anata ni wa kami no
shukufuku ga aru you ni (semoga Tuhan memberkati)!

13

Esok hari aku terbangun dan entah kenapa dengan


semangat aku melangkahkan kakiku menuju sekolah. Sesampainya di
sekolah aku langsung meleakkan tas dan me-review belajarku kemarin.
Waktu berjalan begitu cepat. Bel masuk berbunyi sebanyak
tiga kali dan semua murid langsung masuk ke kelas. Tiba-tiba lewat
seorang pemuda sambil mengelus bahuku. Kitto dekiru yo (kau pasti
bisa). ucapnya sambil melempar senyuman hangatnya padaku. Yah,
siapa lagi kalau bukan Daiki. Un. Arigato (terima kasih). jawabku. Jam
pertama, Sains. Tes segera dilaksanakan setengah jam setelah bel
berbunyi. Sementara menunggu setengah jam, guru pengawas
membagikan lembar jawaban komputer beserta naskah soal. Setelah
semua terbagi, para murid dipersilahkan mengisi identitas di lembar
jawaban komputer.
Pukul delapan. Tes akhir pun dimulai. Begitu ketika kubaca
naskah soalnya, mataku langsung terbelalak lebar. S...shimatta
(mampus)! Kenapa banyak sekali soal hitungan yang dibolak-balik?!
Fisika dan Kimia, semuanya begitu! ucapku. Soal itu tampaknya sangat
sulit. Untuk menghemat waktu, aku mengerjakan soal Biologi dahulu.
Setelah selesai, kembali lagi aku berpikir keras untuk mengerjakan soal
Fisika dan Kimia dengan sukses.
Beberapa soal Fisika dan Kimia berhasil kukerjakan, dan
sisanya masih kukosongi. Dan ternyata... dari total 50 soal Sains, aku
hanya dapat mengerjakan tiga puluh soal. Enam belas soal Biologi,
sepuluh soal Fisika, dan empat soal Kimia. Ah..., doushio (apa yang
harus kulakukan)? Padahal aku telah belajar keras, tapi kenapa masih
saja tak berhasil? Apa aku ini bodoh, ya? batinku. Aku merebahkan
kepalaku ke atas meja. Di saat itu juga tanpa sengaja Daiki menoleh ke
arahku, menyadari ada yang salah denganku. Aku memalingkan
wajahku ke arah lain.
Terus kuusahakan untuk berpikir, sambil menunggu akhir
tiba. Tapi tiba-tiba. Oi, jangan melamun! Sebuah bola api dikirim ke
telingaku untuk menyampaikan pesan dari Daiki. Ya, itu pasti dia. Sudah
14

terdengar suaranya dengan jelas. Aku juga membuat bola api kecil dan
menyampaikan pesanku padanya. Bagaimana kau dapat mengirim
bola api tanpa dapat dilihat orang-orang di sekelilingmu? tanyaku. Ini
salah satu teknik pengendali dimensi, kan? Api itu merupakan
pengecualian, para murid lain dan guru pengawas merupakan objeknya,
dan kau adalah sasarannya. jawabnya. C... cepat sekali kau
mempelajari teknik itu. Aku saja membutuhkan tiga bulan untuk
menguasainya. ucapku. Sore yori (lebih penting lagi), ada apa
denganmu? Kenapa kau tampak lemas? lanjutnya.
Aku langsung terdiam seribu bahasa. Tak mungkin aku akan
menjawab, Aku tak bisa mengerjakannya. Daiki pasti kecewa, setelah
semua yang ia ajarkan, pada akhirnya ternyata sia-sia. Daiki terus
melongo melihatku. Tak lama kemudian, ia membentuk simbol tangan.
Melalui pendengaranku, dapat kudengar suara-suaranya seperti
mentransfer sesuatu lewat tenaga dalamnya. Eh? Apa dia
mentransfer jawabannya? batinku. Aku melambai-lambaikan tangan
supaya ia menghentikan teknik. Tidak, ia tidak menghiraukanku.
Separuh pun sudah dapat kuterima. Ternyata ia tidak mengirimkan
jawaban tes, tapi... ingatan ketika kita belajar?! Hei, kau mau apa
menunjukkan ini padaku lagi!
Demo (tapi)... chotto (tunggu)! Apa ia ingin aku berusaha
sendiri mencari apa yang kupelajari darinya? Ya..., kurasa begitu. Sou
ka (begitu ya)! Ima wakatta (aku mengerti sekarang)! Aku membalik
kertas soal dan mulai membacanya kembali. Entah kenapa, ketika
mulai akan mengerjakannya tanganku bergerak sendiri, menghitami
lembar jawaban komputer. Ugoiteru (tanganku bergerak)! Dekiru (aku
bisa)! batinku. Dalam apa yang telah ditransfer Daiki, aku mencari-cari
apa yang kupelajari yang keluar di soal ulangan satu per satu, dan
semua soal pun akhirnya terjawab. Uuh... aku tak tahu apa ini benar
atau tidak, tapi kumohon... jangan sampai aku harus ikut perbaikan!
Kalau sampai begitu, akan sia-sia semua yang telah Daiki ajarkan
padaku.
15

Ketika waktu habis, aku melangkahkan kakiku dengan


gemetaran ke depan untuk mengumpulkan lembar soal dan lembar
jawaban komputer. Ketika akan kembali berjalan ke tempat duduk,
seseorang memegang pundakku dari belakang yang tak lain adalah
Daiki. Daijoubu da (tak apa). ucapnya sambil tersenyum tipis seraya
meninggalkanku. Aku hanya percaya saja dan kembali duduk. Bel
istirahat berbunyi. Aku langsung mengeluarkan kotak bento dari tasku
dan melahapnya hingga habis bersih. Oi, kau tak belajar mata
pelajaran selanjutnya? sahut Daiki. Aku menggeleng. Kurasa aku
sudah siap. jawabku. Aku mengeluarkan dua kotak bento lagi. Saa
(nah), tabemasho (ayo makan). sahutku. Daiki melotot melihat betapa
banyak bento yang kubawa.
Jam istirahat selesai. Selanjutnya adalah bahasa, lalu
disambung dengan Matematika. Uh..., namenai (jangan remehkan),
namenai (jangan remehkan)! Aku bisa gagal kalau hanya meremehkan
bahasa! Di sini ada dua bahasa. Yang pertama bahasa nasional dan yang
kedua bahasa Inggris. Uh...! Aku bisa gagal hanya karena grammar!
Ochitsuke (tenanglah). Kau sudah belajar. Dekiru zo (kau bisa)!
Tes dimulai. Kami punya waktu dua jam setengah untuk dua
mata pelajaran, masing-masing 60 butir soal. Setelah naskah soal dibagi,
semua murid langsung membukanya dan mengerjakan satu demi satu
nomor. Dekiru (aku bisa)! batinku ketika melihat bentuk-bentuk soal
yang ada di sana. Serasa api membara-bara, tanganku serasa bergerak
sendiri mengerjakan soal-soal tes.
Sepulang sekolah, aku berjalan dengan santai, merasa lega
karena tes akhirnya selesai. Dari belakangku seseorang berlari dan
langsung menepuk bahuku. Oi, kenapa bisa berjalan tidak lancar?
Kenapa kau bisa melupakan semua formula nya? sahutnya yang tak
lain adalah Daiki. Aku hanya tertawa malu. Iika (dengar ya), hanya kali
ini saja aku membantumu. Aku takkan membantumu lagi. lanjutnya.
Apanya yang membantu? Sama saja aku harus mencari jawabannya
sendiri, kan? balasku lagi. Apapun yang kulakukan tetap saja
16

membantumu, kan? Sama saja. lanjutnya sambil mengangkat bahu.


Uuh...! Sebal! Tapi jujur, sih, memang karena berkatnya, aku bisa
mengerjakan soal-soal tes tadi.
Hoahm..., sudahlah, tak usah bahas itu lagi! Yang penting
tes akihr sudah selesai, kan? Saatnya berhibernasi! sahut Daiki sambil
menguap. Soredemo sa (meskipun begitu), watashitachi mada shigoto
ga aru desho (kita masih punya tugas kan), Kuroi Komori kara (dari
Kuroi Komori). lanjutku. Ehm..., sudahlah, tak usah pikirkan soal tugas
di Kuroi Komori. Santai saja. Ayo, kuajak kau ke tempat seru. katanya
lagi seraya menyambar tanganku tanpa permisi. Ah! Ch...chotto
(tunggu)! ucapku. Kita tak ada waktu lagi. Sebentar lagi pesta akan
segera dimulai! katanya. P... pesta apa? tanyaku. Sudahlah, kau
akan tahu nanti. Kalau kubocorkan, namanya bukan kejutan! lanjutnya.
Daiki berlari seperti orang yang sungguh sedang terburu-buru sambil
terus menggenggam tanganku. Dag...dig...dug... Mou (duh)! Na...
nande konna ni doki doki suru no (kenapa aku bisa berdebar-debar
begini)? Shizumare (diamlah), shizumare (diamlah)...!
Kami berlari dan melompat dari pohon ke pohon hingga
sampai di sebuah tempat. Aku tak menyangka akan begitu jauh dengan
perjalanan tanpa kendaraan! Begitu sampai, aku menganga ketika
melihat sebuah rumah yang sungguh besar tepat di depan mataku.
Halaman yang luas, dengan sebuah pohon besar yang subur di ujung
lapang. Udara yang bertiup sungguh segar. Tanpa banyak berpikir
panjang, aku langsung membuka pagar rumah itu dan segera masuk.
Heran sekali. Kira-kira rumah siapa ini? Ketika akan bertanya, Daiki
sudah tak ada di sampingku. Kemudian langit tiba-tiba menjadi gelap,
seperti sedang mendung. Daiki? Doko na no (di mana kau)? Ini tidak
lucu! Seberapa kencang aku meneriakkan namanya, ia tak keluar juga.
Daiki? Mou kaeru wa (aku akan pulang)! lanjutku.
Ketika berjalan ke belakang, pagar rumah itu langsung
tertutup dan mengunci dengan sendirinya. Aku merinding di situ.
Sungguh menakutkan. Mou yamete (hentikan sudah), Daiki! seruku.
17

Ketika air mata hampir meleleh di wajahku, aku merasakan kehangatan


api dari belakangku. Mengetahui itu keberadaan Daiki, aku langsung
menoleh ke belakang dan mengepalkan tanganku, bersiap untuk
memukulnya. Ketika mengayunkan tanganku, aksiku terhenti ketika
melihat sebuah kue tart besar yang dibawanya. Tanjoubi omedetou
(selamat ulang tahun). ucapnya. Aku pun terdiam seribu bahasa.
Tanjoubi (ulang tahun)? Demo kyou wa (tapi hari ini kan) ucapku
seraya mengeluarkan iPhone dan mengecek tanggal.
Aku langsung terkejut bahwa hari ini adalah ulang tahunku.
S sudah delapanbelas November?! Saking serius belajar, aku bahkan
tak tahu kalau aku ulang tahun hari ini! seruku. Daiki tertawa kecil.
Makanya itu aku akan mengganti kelupaanmu itu. Sekarang, kau bisa
merayakannya. Buatlah permohonan, lalu tiuplah lilin-lilin ini. ucapnya.
Wajahku langsung merah merona. Aku benar-benar tersipu malu.
Di tengah-tengah saat itu, tiba-tiba Takemaru-niichan
muncul di belakangku. Wah, wah.... Cukup dulu, dong, romantisannya.
Kenapa tidak mengajak-ajak? Kalau bukan karena aku, kau takkan tahu,
kan, kalau kau berulang tahun hari ini? sahutnya. Jadi... ini semua
rencanamu? tanyaku heran. Sou (benar)! Karena kau adalah pelupa,
aku menggunakan kesempatan itu untuk memberimu kejutan! jawab
niichan. Mou (duh), niichan! Arigato (terima kasih). He...he...he...
ucapku sambil pringisan. Saa (nah), kau boleh meniup lilinnya, Mina.
lanjut niichan. Aku langsung meniup lilin-lilin kecil itu. Selamat ulang
tahun yang ke 14, Mina. Ii ko ni seichoshiro yo (bertumbuhlah menjadi
anak yang baik). ucap niichan.
Aku cukup terkesan. Baru pertama kali ini Takemaru-niichan
berkata bijak seperti itu. Mataku pun berkaca-kaca seraya
mendekatinya. Arigato (terima kasih)... oniichan. ucapku. Niichan
hanya tersenyum tipis. Aku langsung melompat ke pelukannya. Whoa
ho ho.... Manja sekali kau. sahut niichan. Entah mengapa aku begitu
manja kepadanya yang bersikap baik padaku. Sudahlah, Mina.
Hapuslah air matamu. Kau tak malu diperhatikan Daiki? sahut niichan.
18

Aku pun melepas pelukannya sambil mengusap-usap air mata yang


berlinang di mataku.
Niichan tertawa kecil. Kau itu bisa-bisanya cengeng di
depan kru Kuroi Komori yang lain. Cepatlah, tiup lilinnya. Buatlah
permohonan dulu. sahut niichan. Hm.... Atashi no negai wa
(permohonanku)... ...untuk menikahi Watanabe Yusuke yang lebih
tua dua tahun darimu, kan? potong niichan. Wajahku pun memerah
delima. M... mou (duh)! Niichan! seruku. Niichan malah tertawa
terbahak-bahak. Kau tak perlu menyebutkan keinginanmu apa dengan
suara, kan? Dalam hati saja sudah bisa. kata Daiki. Sou ka
(begitukah)? Kalau begitu aku akan membuat permohonan sekarang.
kataku. Aku memejamkan mataku sambil menghembuskan napas
perlahan dan membuat permohonan dalam hatiku. Aku ingin... Tuhan
memberikan umur panjang untuk Daiki, sehingga ia bisa menikmati
lebih lama lagi dunia ini. batinku.
Aku pun langsung meniup lilin-lilin kecil itu. Jadi kau tak
berniat memberitahu apa permohonanmu, ya. kata niichan. Sou
(benar). Privat sekali. jawabku. Sudahlah, mengakulah saja kalau kau
ingin menjadi istri Yusuke, kan? sahut niichan. N... niichan, chotto
(tunggu dulu)! Kenapa Yusuke-senpai terus? balasku. Yusuke-senpai
te (Yusuke-senpai itu)... ano Okazawa no onna no ko no aniki daro (koko
dari anak yang bernama Okazawa itu kan)? sambung Daiki. Eh?!
Nande sonna koto o (kenapa kau bisa tahu)? seruku dengan
terkejutnya. Daiki tak menjawab, tapi menoleh ke arahku sambil
tersenyum sinis.
Aku terkejut setengah curiga. Apa jangan-jangan... ah! Tak
mugkin, tak mungkin! Tak mungkin dia mengetahuinya! batinku. Tibatiba saja... sret...sret.... Niichan mengoles-oleskan krim kue tart pada
pipiku dan saus strawberry pada kedua belah bibirku. Kalau mau
menjadi pengantin, jadilah cantik dan mulai dengan berdandan!
ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak. Mou (duh)! Nani ga okashii
no yo (apanya yang lucu), niichan?! sahutku. Wajahmu. Tuh, lihat.
19

Bibirmu sangat merah seperti badut! ledek niichan. Aku pun


mengambil kaca kecil dari tas ku dan melihat keadaan wajahku.
Memang benar. Benar-benar aku tampak seperti badut. Aku pun
menjilat saus strawberry yang dioleskan di bibirku. Amai (manis juga).
ucapku. Niichan pun kembali mengoleskannya. Niichan! Bukan berarti
kau bisa mengoleskannya terus! sahutku.
Ketika aku hendak menghapusnya, Takemaru-niichan
menghentikan tanganku. Sono mae ni (tapi sebelum itu)... ucapnya
seraya mengeluarkan iPhone dan tongsis nya. ...mari kita ambil foto
kebersamaan kita. lanjutnya. Niichan mengulurkan tongsis nya sampai
menjadi panjang kemudian memasang iPhone nya di situ. Dalam
hitungan beberapa detik, terambil sudah foto-foto kami dalam
beberapa kali. Kore da (ini dia)! Mari kita share di Instagram ku!
Ho...Ho...Ho...! ucap niichan dengan lagaknya yang nge-sok. Ia
memang narsis. Yah, seperti yang kau ketahui.
Aku baru teringat. Kalau foto itu di post di Instagram...
berarti... Semua orang bisa melihatnya, kan? Apalagi Instagram niichan
tidak dikunci! Chotto matte (tunggu dulu), niichan! seruku. Hm?
Nanda (ada apa)? Fotonya sudah ku post. Aku yakin pasti banyak yang
like. potong niichan. I... IIYAAAA (TIDAAAAK)!!!! seruku dalam hati
seraya roboh ke tanah. Doushita no (ada apa)? tanya niichan. Huh....
Owatta n da (berakhirlah sudah)... zenbu (semuanya). ucapku lemas.
Ha? Sudahlah, kalau masalah Yusuke, kau tak perlu malu bila fotomu
dilihat olehnya. kata niichan lagi.
Aku menoleh ke arahnya dengan mata yang penuh dengan
bening. Niichan no (kau sangat).... BAKA (BODOH)!!!!! seruku, Bukan
masalah itu! Kalau dilihat orang banyak, aku akan malu! Apa kau tak
tahu betapa memalukannya bila orang-orang melihat fotoku seperti itu,
lalu berkomentar kalau aku jelek?! Apalagi kalau itu Yusuke-senpai.
Niichan melotot sambil mendengarkanku dengan sedikit heran. Tak
lama kemudian, ia tersenyum. Sudahlah, jangan terlalu memikirkan
seperti itu. Kita juga manusia. Apa salahnya kebebasan berekspresi? Di
20

samping itu... niichan memejamkan matanya dengan senyumnya yang


benar-benar hangat itu lalu berkata, Yusuke itu... bukan orang yang
kaupikirkan. Sekali bertemu dengannya, mungkin kau bisa langsung
jatuh hati padanya. Wajahku langsung memerah. Ch... chotto
(tunggu dulu)! Nanda yo sore (apaan sih itu)? balasku. Mungkin
pendapat orang-orang yang beranggapan bahwa ia misterius itu salah.
Aku pun juga salah. lanjut niichan.
Eh? Sou ka (begitu ya).... Kenapa aku tak tahu dari awal? Aku
hanya mendengar dari orang lain saja. Tapi kalau dipikir... Yusukesenpai memang tidak begitu misterius seperti yang orang lain katakan.
Jaa (nah)! Tunggu apa lagi?! sahut Daiki. Eh? ucapku kebingungan.
Oh, ya! Kau benar sekali! Iku ze (ayo pergi)! Jangan buang-buang
waktu lagi! lanjut niichan sambil menyambar tanganku dan berlari
masuk ke rumah besar itu.
Niichan terus menggiringku masuk ke rumah itu. Aku pun
menghentikan langkahku. Chotto (tunggu), ini rumah siapa, Niichan?
tanyaku. Ah, iya. Aku belum memberitahumu, ya? Ini rumah Daiki,
jawab niichan. Eeh??!! seruku. Daiki dengan santai berjalan dari
belakang. Masuklah, ucapnya, Mari kita tunjukkan apa arti pesta
sebenarnya padamu! Daiki tiba-tiba menyambar tanganku seraya
menyeretku masuk bersama niichan. Eh? Chotto (tunggu)! Kukira kau
tak punya rumah di sini? Chotto (tunggu)! Hanashite (lepaskan aku)!
seruku. Ini rumah peninggalan kakekku. Karena rumah ini dilengkapi
dengan penjagaan yang ketat, aku maupun kau hanya dapat masuk
setelah menggesekkan kartu ini. kata Daiki sambil menunjukkan
kartunya. Jaa (nah), ayo masuk! lanjutnya sambil kembali
membawaku masuk.
Niichan dan Daiki mendudukkanku di sebuah ruangan.
Ruangan kecil hanya dengan dua buah sofa, sebuah televisi, sebuah
vending machine dengan minuman, dan sebuah televisi dan speaker
besar beserta alat elektronik lainnya. Kulihat juga ada dua buah
microphone digantung di dekat sofa. Ini, kan... Benar! Kita uji
21

kekuatan suara kita! kata niichan. Daiki juga sudah menyiapkan dua
botol soda penuh. Jaa (nah), iku ze (ayo kita lakukan)! seru Daiki.
Pesta yang mereka maksudkan pun segera dimulai. Selama
kira-kira tiga jam kami karaoke sampai tenggorokanku kering. Untung
saja masih ada soda! Kalau tidak, mungkin aku akan dehidrasi.
Kemudian, kami berenang di kolam renang belakang rumah Daiki. Tak
kusangka ternyata niichan telah membawakanku baju renang. Uuh!
Gagal, deh, rencanaku untuk kabur! Barusan selesai ganti baju, niichan
dan Daiki mendorongku hingga tercebur ke kolam duluan. Yang ulang
tahun yang harus basah duluan! seru Daiki sambil tertawa bersama
niichan. Mou (duh)...! Antatachi (kalian ini)! kataku. Jaa (nah),
oretachi mo iku ze (kita juga ikut)! sahut niichan. Kedua anak itu turut
menjatuhkan diri ke dalam air. Untung saja tidak menimpa tubuhku!
Kami ber-selfie di kolam renang dan niichan-lah yang paling narsis di
antara kami.
Pada pukul enam sore, kami beranjak dari kolam renang
dan segera mandi lalu berganti pakaian. Ua... sugoku tsumetai yo
(benar-benar dingin sekali)! seruku sambil menghembus-hembuskan
napasku ke telapak tanganku. Aa (ya), aa (ya). Sudah. Kita masuk.
Jangan sampai kau masuk angin. Kita makan sup. sahut Daiki. Kau bisa
memasak sup? tanyaku. Tentu saja. Dan kakakmu juga membantu.
Kami, kan, sama-sama master chef! balas Daiki dengan percaya dirinya.
Niichan dan Daiki pergi ke dapur dan langsung menyiapkan
alat-alat masak dan langsung meracik bahan. Dalam sekejap, niichan
sudah menyelesaikan dua buah wortel menjadi potongan dadu kecilkecil. Daiki pun tak kalah. Ia juga sudah menyelesaikan irisan sayuran
dalam sekejap. Tidak sampai sejam, onabe (hot pot) kami sudah selesai.
Daiki membawanya masuk ke ruang tamu dan menyajikannya di atas
kotatsu. Uaa! Ii ne (bagus), kotatsu! seruku. Nani ga ii n da (apanya
yang bagus)? Kecuali kalau kau yang menyiapkannya sendiri! balas
Daiki. Maa (nah), maa (nah). Yang penting kita nikmati saja. Saa (nah),
issho ni tabemasho (ayo makan bersama). ucapku.
22

Malam itu pun menjadi malam yang berkesan bagi kami. Di


akhir acara, kami naik ke lantai dua menuju ke ruangan besar yang
biasa Daiki pakai untuk home theatre. Meskipun tak sebesar bioskop,
ruangan gelap itu tetap membuat kami merinding ketika menonton
Sadako, yang kemudian dilanjutkan dengan Ju-on. Meskipun aku
bertugas di Kuroi Komori, tapi melihat hantu tetap bukanlah hal yang
kusuka. Masih saja ada rasa merinding di dalam hatiku ketika melihat
penampakan makhluk astral. Apalagi, di ruangan gelap, luas, sekaligus
dingin itu sudah membuatku berkali-kali ingin ke toilet. Aku sempat
tertawa geli ketika tahu bahwa ternyata Daiki adalah horror maniac.
Ketika akan memasuki home theatre nya, dari ruangan Daiki dengan
pintunya yang terbuka itu dapat kulihat koleksi CD, DVD, komik, serta
novel bergenre horror.
Aku memeluk bantal di sofa saking kedinginannya. Dengan
piyamaku yang tidak terlalu tebal ini, di sinilah, di ruangan dengan
pencahayaan yang minim aku duduk sambil menonton film horror.
Selain membuat merinding, udara yang dingin tambah membuat
tubuhku gemetar. Tapi untungnya, di tengah-tengah kami menonton,
Daiki menyuguhkan kami roti mozarella cheese dan teh dalam keadaan
hangat. Sambil menikmati teh, aku menghirup aroma daun hijau teh
itu. Kau seperti nenek-nenek tua ketika sedang minum teh! ledek
Daiki. Ini, kan, seleraku ketika minum teh. Aku punya cara sendiri yang
belum tentu orang lain miliki ketika minum teh! balasku. Daiki tertawa
kecil.
Ketika kedua film itu selesai diputar, Daiki mematikan
proyektornya. Saa (nah), sorosoro nemuru no jikan da (saatnya kita
tidur). sahut Daiki. Ah..., aku lelah! Film itu akan membawakanku
mimpi buruk! ucap niichan. Daiki menggiring kami ke sebuah kamar
luas di sebelah home theatre nyakamar yang sempat ia ceritakan
khusus untuk tamu dan teman-temannya. Kamar itu cukup besar.
Untuk tiga orang saja, mungkin kami akan berkeliling mencari tempat
paling nyaman untuk tidur. Kira-kira ada enam kasur di sana. Di pojok
23

ruangan terdapat tatami (lemari) yang lebar untuk meletakkan pakaian


dan barang-barang kami.
Ketika sampai di kamar, Daiki langsung mengambil posisi
duduknya di atas kasur, sementara niichan langsung mendaratkan
tubuhnya ke atas kasur dalam posisi tengkurap. Aku melepas ikat
rambutku dan merebahkan kepalaku ke atas bantal lalu membenarkan
selimut. Karena sekarang menjelang musim dingin, udara dingin di luar
tentunya tetap kuat untuk menerobos masuk ke dalam rumah.
Ditambah lagi dengan dinginnya AC di home theatre Daiki membuatku
langsung membenarkan posisi selimut menutupi bagian dada hingga ke
bawah. Setengah jam kemudian, semua sudah tertidur. Hanya suara
hembusan napas niichan dan Daiki menggema di ruangan itu.
Aku masih belum bisa terlelap dalam tidurku. Bukan karena
ketakutan, tapi udara dingin yang menusuk masih terus menusuk
tulang belulangku. Beberapa kali kucoba untuk memejamkan mata,
tetapi tidak bisa. Jam menunjukkan pukul duabelas malam. Untuk yang
terakhir kalinya, aku mencoba memejamkan mataku. Ketika sudah
akan terlelap dalam tidur, kudengar derapan kaki Daiki perlahan
menuju pintu keluar kamar. Aku pura-pura memejamkan mataku agar
tak tertangkap basah. Suara derapan kaki itu semakin menjauh, dan
akhirnya sudah tak dapat kudengar lagi. Aku pun membuka pintu
perlahan dan memutuskan untuk mengikuti arah perginya Daiki.
Aku sampai di sebuah ladang luas di samping rumah Daiki.
Dengan udara yang dingin itu nampaknya sama sekali tidak
mengganggu Daiki. Ia duduk di rerumputan sambil memerhatikan
langit malam hari itu. Tanpa niat mengganggu, aku berjalan
mendekatinya dan duduk di sampingnya. Daiki sedikit terkejut
melihatku belum tertidur. Kenapa kau ada di sini? tanyanya. Aku
belum bisa tidur. Hari ini begitu membuatku terkejut, jadi, aku masih
belum bisa melelapkannya dalam tidur. Aku takut itu semua akan
hilang dalam mimpiku. jawabku. Daiki tertawa, tawa yang terdengar
seperti dengusan.
24

Jadi kau berniat menemaniku malam ini? ucapnya


memulai pembicaraan. Hm..., tidak tahu. Aku tak tahu kapan aku akan
bisa memejamkan mataku. Tapi melihat banyaknya bintang di malam
hari ini mungkin akan memudahkanku tidur. jawabku. Jangan tidur
dulu sampai aku belum tidur. Bisakah kau lakukan itu? sahutnya yang
tiba-tiba saja membuat jantungku berdegup kencang. K... kenapa?
Apa kau kedinginan? tanyaku. Daiki menundukkan kepalanya tanpa
bergeming. Kau tahu, kan, aku pernah bercerita kalau aku mengidap
penyakit jantung? Perkataan itu membuatku terkejut. Sebersit rasa
khawatir mampir lewat di hatiku. Aku jadi tak ingin tidur dan ingin
mendengarkan apa yang sebenarnya ia ingin sampaikan.
Ketika masih kecil, aku sering pingsan ketika bermain bola.
Tiap kali aku berlari, aku selalu merasakan rasa sakit yang ada di dadaku,
kemudian aku kehabisan napas dan pingsan. Aku berkali-kali bertanya
pada mama dan ingin ia menjelaskan semuanya padaku. Ia hanya
mengatakan kalau aku hanya menderita asma ringan dan akan sembuh
dalam beberapa waktu. Tapi kebohongan pasti takkan bertahan lama.
Suatu kali, salah seorang temanku bergurau dan sempat membuatku
kaget. Tiba-tiba kurasakan sakit itu lagi di dadaku, dan pingsan. Ketika
aku sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Aku sempat menguping
pembicaraan mama dan papa dengan dokter. Dokter mengatakan aku
takkan bisa mencapai umur duapuluh, akibat penyakit jantung.
Mendengar ceritanya itu membuatku merasa iba. Aku
semakin tidak ingin meninggalkan Daiki malam itu. Aku merasa malam
itu akan menjadi malam terakhirku denganya. Bisa saja. Daiki
menghembuskan napasnya dalam-dalam. Yah..., itu cerita ketika aku
sudah duduk di bangku kelas tiga SD. Aku memiliki tiga orang teman.
Karena aku orang yang lemah, ketiga orang yang menjadi temanku ikut
di-bully. Suatu kali kami bertengkar dan salah seorang temanku terluka.
Para sensei datang tepat waktu, tapi, aku masih merasa bersalah
karena begitu lemah dan membiarkan temanku terluka. Di saat itu, aku
tak dapat menahan semuanya dan berniat bunuh diri. Aku begitu takut
25

ketika melihat darah yang keluar melalui leherku. Kuperhatikan juga


darah yang mengalir pada pisau yang kugunakan untuk menggorok
leherku itu. Aku pingsan di saat itu, dan ketika terbangun, aku sudah
berada di kuartir. Tapi, seseorang datang menolongku. Aku menyadari,
kalau yang menolongku adalah Brayden Alexavier Naoto, kepala distrik
Kuroi Shinobi di Amerika. Kau pasti tahu cerita selanjutnya, kan?
Aku memerhatikan setiap lekuk wajah Daiki yang tampak
merasakan sebuah nostalgia kebahagiaannya. Ya, dia sama sepertiku.
Aku benar-benar berterima kasih padanya saat itu, lanjutnya dengan
ekspresi wajahnya itu.
Mata Daiki memandang jauh, jauh entah ke mana. Mereka
menolongku dengan tenaga medis, menyembuhkan sayatan di leherku
tanpa meninggalkan bekas. Dan sejak saat aku bergabung dengan Kuroi
Shinobi, aku tak pernah lagi takut akan melukai temanku, baik sengaja
ataupun tidak. Setelah lulus SD, aku melanjutkan SMP hingga tahun
kedua di sekolah yang baru, dan semua temanku pun baru. Tak ada
seorangpun yang tahu akan penyakit jantungku ini. Aku mendapat
banyak teman baru, memenangkan berbagai olimpiade dengan piala
dan berbagai piagam penghargaan memenuhi lemariku. Aku tak
pernah bangga akan itu. Ke mana semua kebanggaanku akan lenyap
ketika aku takkan bisa mencapai umur duapuluh? ucapnya lagi dengan
menertawai dirinya sendiri.
Aku terdiam. Angin terus berhembus menyampaikan
perasaan Daiki masuk ke dalam hatiku. Rasanya begitu menusuk dalam.
Perasaan ditinggalkan teman, meninggalkan hidup, kehilangan
seseorang. Ya, itulah semua yang dialaminya. Jadi begitu.... Itukah
mengapa kau berusaha melindungi semua orang, meskipun nyawamu
dalam bahaya? Tapi belum tentu semua itu benar, kan? Tidak bisa
mencapai umur duapuluh itu... terlalu tidak mungkin. Buktinya kau bisa
menonton horror yang mencekam seperti itu, dan mengikuti misi
sebagai spy? ucapku tidak memercayai Daiki. Daiki lagi-lagi tertawa,
terdengar seperti mendengus. Melihat hantu sama saja bagiku seperti
26

berhadapan dengan yokai. Apa bedanya kedua makhluk itu bila


keduanya sama-sama membahayakan manusia? Kalau bicara soal misi,
aku hanya menggunakan tenaga dalamku, api, dan tenaga dalam
lainnya. Aku tidak menyentuh tenaga fisikku ketika bertarung,
jawabnya.
Aku lagi-lagi memerhatikannya dengan tatapan iba. Di
malam yang dingin itu rasanya sudah tak dingin lagi. Semua perasaan
yang tersampaikan baik dariku sendiri, maupun dari Daiki semuanya
bersatu dan menjalar menuju ke seluruh tubuh, seperti menyalakan api
akibat dari emosi, menghangatkan sekujur tubuhku.
Tanpa sadar aku menyandarkan kepalaku pada pundak
Daiki, meletakkan kepalaku tepat berada di bawah dagunya. Daiki
tersenyum tipis. Senyuman yang bagiku nampaknya hanya seperti
pancaran kesedihannya yang tak dapat ia tahan. Aku juga pernah
kehilangan orang yang kusayangi, kekasihku. Semua rasa sakit itu terus
menerus melekat, hingga aku bisa melenyapkannya dengan
keinginanku sendiri. Kau pasti juga berpikir seperti itu, kan, Daiki?
sahutku. Ia tetap mempertahankan senyum kesedihannya itu. Ia
bangkit berdiri. Aku pun turut bangkit berdiri di sampingnya. Tanpa
keinginan pun, ingatan itu akan hilang, dan tanpa keinginan pun,
kenangan itu akan kembali lagi. Terkadang ada sesuatu mendadak yang
membuat kita mengingat semuanya itu, katanya sambil menoleh ke
arahku, Hidup itu seperti roda, ya? Terkadang menginjak tanah, dan
terkadang kita berada di atas.
Aku masih terus menatap matanya yang memancarkan
kesedihan itu. Oh, Tuhan..., kalau ada yang bisa kuperbuat untuknya,
aku ingin bisa melakukannya. Daiki yang berdiri di sini, mungkin hanya
akan menjadi debu tanah kembali tanpa kuketahui kapan. Makanya
itu, karena tak tahu kapan akan terjadi peristiwa yang tak kuduga,
peristiwa mengerikan yang akan datang berkunjung, paling tidak aku
harus bersiap diri, kan? Aku harus melindungi apa yang kupunya
sekarang, selagi aku masih bisa bernapas, dan aku masih memiliki
27

kekuatan ini. Ya, itulah ungkapan perasaannya. Dan perasaan itu


memenuhi kepalaku seperti air yang meluap kemudian tumpah melalui
mataku. Air yang begitu pahit, mencair begitu saja dari mataku. Tetapi
Daiki datang dan menghapusnya.
Daiki mendekatkan tubuhnya padaku, dan mencium kedua
belah bibirku seraya memeluk erat tubuhku, seakan tak ingin ada jarak.
Aku terdiam dan merasakan setiap emosi dan sensasi ciuman itu. Kami
berdua merasakannya. Takut kehilanggan, takut meninggalkan, dan
takut ditinggalkan. Bila waktu ini dapat berhenti selamanya, aku masih
ingin terus berada di sampingnya, tidak ingin meninggalkan maupun
ditinggalkan olehnya.
Air mataku terus meleleh. Aku menggenggam erat tangan
Daiki, merasa juga tak ingin menjauh darinya. Beberapa saat kemudian,
ia melepaskan bibirnya. Dentuman jantungku masih belum bisa
kutenangkan. Setelah beberapa saat dentuman keras jantungku
perlahan menghilang, dan akhirnya lenyap. Daiki menjauhkan dirinya
dariku kemudian kembali mengajakku duduk. Sora wa kirei da ne
(langitnya indah, bukan)? sahutku. Aa (ya), sou da na (kurasa kau
benar). balas Daiki. Kami menghabiskan waktu semalaman di sana
sambil terus menatap langit malam itu. Na (hei), Mina... sahut Daiki.
Aku sudah terlelap dalam tidurku dengan kepalaku yang tetap
bersandar pada bahunya. Dalam tidurku itu, aku dapat merasakan
helaian tangnnya yang dengan lembut mengelus kepalaku. Dia
mendekatkan mulutnya pada telingaku seraya berbisik, Bangunlah di
pagi yang cerah.
Esok harinya, aku terbangun dari tidurku dan berada di atas
sebuah kasur besar. Aku terbangun dan langsung beranjak dari tempat
tidur, keluar dari kamar dan mencari Daiki. Akhirnya kutemukan dia di
balkon lantai dua dan sedang sarapan. Ohayo (selamat pagi),
sahutnya dengan melempar senyumannya itu. O...ohayo (selamat
pagi), balasku. Jantungku masih berdegup dan masih belum bisa
28

melupakan kejadian kemarin malam. Tentu saja, siapapun akan begitu


kalau belum lama telah dicium seseorang!
Aku menghampiri Daiki yang sedang menyeruput teh nya di
kursi balkon. Kulihat beberapa bungkus kue nanas di atas meja.
Tabetemiro (coba makanlah). Oishii zo (ini enak). katanya. A... aa
(ya). jawabku. Aku mengulurkan tanganku dan mengambil sebungkus
kue nanas yang terletak di dalam keranjang kecil di atas meja. Aku
membuka bungkusnya dan menggigitnya. Baru secuil bagian kugigit,
tapi ekstrak dan selai nanas di dalamnya langsung meleleh membasahi
sekujur lidahku, memberikan sensasi nanas yang segar.
Suatu ketika, aku teringat ketika memberikan kejutan ulang
tahun padaku kemarin, Daiki sempat menyebutkan kakak Okazawa
padaku, yang membuatku terus penasaran. Nee (eh), Daiki. Kikitai
koto ga aru yo (ada yang ingin kutanyakan padamu. sahutku. Daiki
meletakkan cangkirnya di atas lepek di atas meja. Nani o (tentang
apa)? balasnya. Ano sa (itu)... kemarin, ketika kalian memberiku
kejutan ulang tahun, Takemaru-niichan sempat membicarakan tentang
kakak Okazawa, Yusuke-senpai. Kau tampaknya mengetahuinya. Apa
kau benar mengetahuinya? tanyaku berusaha memberanikan diri
menanyakan hal itu.
Daiki terdiam sambil menghirup napas dan membuangnya
pelan. Kami masih saling bertatapan satu sama lain. Yah..., tentu saja
aku mengetahuinya. Biar kujelaskan. Selama ini, di samping
menjalankan misiku sebagai Kuroi Shinobi, sebagai Kuroi Shinobi pula
aku diam-diam melakukan penyelidikan terhadap sebuah persekutuan,
Kuroi Karasu. Menyebutkan nama persekutuan itu membuat keningku
mulai berkeringat. Jadi kau tahu persekutuan itu? tanyaku. Ya, benar.
Di luar tugas, tanpa sepengetahuan pemimpin distrikku, Akihiro
Charles. Aku menyusun dua orang sebagai anak buahku, melacak
keberadaan mereka dengan segala yang kami miliki. Kami
mendapatkan beberapa data, semua nama-nama anggotanya. Dan
salah satu di daftar itu... tercantum nama Watanabe Yusuke. Setelah
29

itu, aku kembali melakukan penelusuran lebih dalam. Ia adalah


keluarga Watanabe, dengan adiknya, Nozomu dan Okazawa. Foto-foto
mereka juga sudah kutemukan.
Aku terdiam mendengar penjelasan Daiki. Ya, benar.
Pasukan dari Amerika masih belum menyadari keberadaan Kuroi
Karasu di Jepang, karena memang merekalah satu-satunya
persekutuan pasukan spy dan secret agent Jepang di Amerika Serikat.
Tapi di luar itu, Daiki sudah mendengar adanya bahaya di Jepang dan
pergi untuk melacak.
Aku masih terdiam dan sedikit terselip rasa bersalah di
tengah kediamanku itu. Rasa bersalah akan memiliki hubungan dengan
musuh berat persekutuan kami. Tapi, aku mengerti, kok. Kau suka
dengan Yusuke, kan? sahut Daiki yang tiba-tiba membuat debaran
jantungku semakin kencang. Sudahlah, itu bukan salahmu. Mencintai
musuh sendiri bukanlah sebuah kesalahan, asalkan kau harus bisa
konsekuensi dengan semuanya dan jangan sampai ia mengetahui
identitasmu. Dulu aku juga pernah memiliki sahabat kecil dengan
anggota Koroshi Tokage (Killing Lizard), yang tak lama ini sudah hancur.
Termasuk orang itu pun sudah tiada. Keberadaannya sangat
mengancam negara Jepang karena mereka mengambil sandera
manusia. Maka dari itu, Kuroi Komori diutus untuk menghabisi mereka.
Aku baru teringat. Ya, benar juga. Beberapa bulan yang lalu
persekutuan kami berhasil menghabisi sebuah persekutuan, yang
dijuluki dengan Kadal Pembunuh (Killing Lizard). Soitsu no namae wa
(nama orang itu)... Fumiko Midori. lanjut Daiki. Aku... turut menyesal.
ucapku menanggapi Daiki. Untuk apa kau merasa menyesal? Sudah
kubilang, kalau kau mencintai musuh, itu bukanlah sebuah kesalahan,
tapi kau harus menanggung semua konsekuensi dan akibatnya, dan
jangan sampai ia mengetahui identitasmu. katanya. Sou kamo na
(kurasa mungkin kau benar), lanjutku. Tonikaku (yang penting), ima
Takemaru-senpai ni hanasu no wa dame (untuk sekarang kau tak bisa
memberitahukannya pada Takemaru-senpai). Itu terserah padamu, sih,
30

tapi hanya untuk mengantisipasi kalau kakakmu takkan


membunuhnya. lanjut Daiki. Wa... wakatteru n da (aku mengerti).
jawabku.
Selesai kami bicara, di ruangan yang cukup luas ini kami
mendengar suara langkahan kaki seseorang, yang kemudian
bertambah dekat, dan bertambah dekat, dan akhirnya sampai di
tempat kami duduk. Ohayo (selamat pagi)... ucap Takemaru-niichan
sambil mengusap-usap matanya.
Aku terkejut setengah mati, dan berharap semoga niichan
tidak mendengar apa yang kami bicarakan tadi. N...niichan?! Nande
ikinari (kenapa tiba-tiba)... Eh? Kenapa aku yang baru bangun
kauterka dengan ucapan seperti itu? Kau ingin aku tidak bangun?
lanjutnya memotong perkataanku. So... sou ja nakute (bukannya
begitu). Maksudku, jangan tiba-tiba muncul di tengah pembicaraan
orang! balasku. Takemaru-senpai, ayo kuantar ke meja makan untuk
sarapan, sahut Daiki. Aa (ya)..., itu akan lebih baik. balas niichan.
Omae mo da yo (kau juga), Mina. Aku pun mengikuti langkah mereka
menuju ke ruang makan yang letaknya tak begitu jauh dari balkon
tempatku duduk.
Di dapur, lagi-lagi Daiki dan niichan berlomba memasak
sarapan. Mereka membuat sashimi dan sushi segar dari bahan-bahan
belanjaan Daiki di pasar pagi tadi. Beberapa saat kemudian, tumpukan
sushi dan kumpulan sashimi itu terhidang di meja makan yang tak
terlalu besar itu, dan dilengkapi dengan pangsit. Tak lupa juga
ditambahkan wasabi dan kecap asin. Mataku terbelalak ketika melihat
wasabi yang menumpuk membentuk seperti es krim matcha di atas
mangkuk. Niichan..., kore (ini)... wasabi desho (wasabi, kan)? Kenapa
kau meletakkan wasabi dengan begitu banyak? sahutku. Ah..., warui
(maaf), warui (maaf). Aku suka makanan pedas, jadi kutambahkan lebih
banyak wasabi. Jaa (nah), itadakimasu (selamat makan)! kata niichan.

31

Aku dan Daiki saling bertatapan dan masih melihat niichan


yang dengan santai mengoles sashimi dengan wasabi dan
memasukkannya ke dalam mulutnya dengan begitu santai. Jadi, tanpa
mengucapkan selamat makan aku dan Daiki perlahan mengambil
sushi, seraya melahapnya sambil terus memerhatikan niichan yang
tampaknya tak begitu kepedasan dengan wasabi. Nampaknya...
wasabi itu tak begitu, pedas, ya? sahut Daiki. Aku menoleh dengan
mataku yang melotot. Dalam hati, aku berkata, Joudan ja nai n da (aku
tak bercanda)! Seoles wasabi yang meleleh di lidahmu saja akan
membuatmu kepedasan!
Tak lama setelah itu, Daiki pun turut mengolesi sashimi nya
dengan wasabi yang kali ini lebih banyak dari sebelumnya. Aku hanya
menghela napas panjang. Kuharap aku tidak jadi penggila makanan
pedas seperti mereka, batinku. Yang benar saja! Daiki, si master Sains
itu lebih memilih untuk memakan makanan pedas yang sedikit
berlebihan dan tak peduli bila sakit perut?! Tanpa menghiraukan
mereka, aku pun melanjutkan sarapanku tanpa ikut-ikutan niichan
maupun Daiki.
Seusai makan, kami semua terdiam. Kekenyangan
membuat kami sulit bergerak, dan termasuk berbicara. Perutku sakit!
ucap Daiki. Makan pedas banyak-banyak benar-benar merusak
pencernaan, ya? sambung niichan. Kalau sudah tahu begitu, kenapa
malah mengoles wasabi banyak-banyak? kataku. Aku juga tak
mengerti. Wasabi itu begitu enak. Apalagi kalau pedasnya benar-benar
terasa, jawab niichan. Pengalaman makan seperti ini..., rasanya
jarang sekali! Ditambah lagi, besok Senin sudah harus kembali masuk
sampai seminggu untuk menunggu hasil tes keluar! sahut Daiki. Ah...,
sudahlah! Aku tak mau membicarakan soal tes itu lagi! tampikku. Kami
bertiga menghela napas.
Saa (nah), sudah satnya bersih-bersih! Rapikan semua
barang dan kita akan pulang, sahut Daiki. Tanpa banyak bertanya,
kami berjalan menuju kamar seraya mengemasi barang-barang
32

bawaan kami. Kemudian, siang itu kami langsung menuju rumah kami
masing-masing. Ketika menekan bel rumah, mama langsung keluar
membukakan pintu untukku. Dari mana saja kau? Kenapa kemarin
tidak pulang? sahutnya seraya membuka pintu lebar-lebar. Gomen
na (maaf), mama. Kemarin aku bermain ke rumah Takemaru-niichan,
jawabku singkat. Aku masuk ke dalam dan meletakkan barangbarangku di atas sofa. Neechan, tanjoubi omedetou (selamat ulang
tahun)! seru Yukata dari dalam rumah. Un, arigato (terima kasih),
Yukata. balasku. Tanjoubi omedetou (selamat ulang tahun). Kemarin
rencananya kita mau makan-makan, tapi kemarin kau tak ada, jadi kami
kira kau masih ada urusan dengan tugas sekolahmu. kata papa.
Tanpa memedulikan perkataan orang-orang yang lain, aku
langsung meletakkan tasku di kamar dan segera berganti pakaian,
karena sejak kemarin yang kupakai dari pagi hingga saat aku tidur
hanyalah seragam sekolahku. Tentunya sedikit membuatku gatal
karena sudah seharian tidak dicuci. Setelah merapikan barang-barang
dan berganti pakaian, aku langsung mandi dan setelah itu bergabung
dengan papa dan mama menikmati makan siang yang sudah terhidang
di atas meja.

Seminggu berlalu sudah. Para murid sudah tidak sabar


melihat hasil tes yang barusan ini diadakan. Begitu pula denganku, aku
juga sudah tidak sabar menunggu hasil itu keluar. Aku berusaha
menghilangkan rasa tengangku mulai dengan menulis-nulis buku
harian, memikirkan hal-hal positif lainnya, sampai relaksasi. Tapi semua
itu tidak berhasil. Aku pun mengeluarkan tab ku dari tas, dan membuka
aplikasi game kesukaanku, Cytus. Ya, benar. Rhythm Game (atau Game
Ritmis) yang pertama kali diluncurkan dua tahun yang lalu oleh Rayark
Games di Taiwan. Aku memasang earphone supaya suara lagu tidak
menggema ke mana-mana, lalu menggeser layar hingga Chapter 2,
dengan judul Disaster. Aku pun menekannya lalu memilih lagu berjudul
Entrance. Lagu dengan cover album bergambar sayap kelelawar di
33

kedua sisi tab itu terdengar menegangkan. Aku menekan tombol Hard
Mode, kemudian menggeser sayap kiri kelelawar hingga tepat berada
di tengah dan dimulailah lagu itu.
Dalam memainkan Cytus, ada dua mode yang bisa kaupakai.
Ketika masih beginner, kau pasti akan memilih Easy Mode, dan ketika
kau sudah mencapai tahap intermediate, kau akan mulai bermain
dengan Hard Mode. Dan di setiap lagu, ada beberapa tingkatan. Bila
score mu antara 00000000 sampai 699999, maka kau akan Fail. Score
antara 700000 sampai 799999 adalah C, 800000-899999 adalah B,
900000 sampai 949999 adalah A, 950000 sampai 999999 adalah S, dan
rank atau gelar tertinggi adalah Million Master, dengan score 1000000
di mana kau bisa menyelesaikannya dengan tepat.
Ketika bermain Cytus, ada tiga komponen dalam
memainkannya. Ketika melihat serangkaian lingkaran, kau harus
menggeser jarimu mengikuti arah rangkaian itu. Ketika melihat
lingkaran dengan sebuah garis panjang, kau harus menahan lingkaran
itu sepanjang garis. Dan ketika kau melihat sebuah lingkaran, kau harus
menekannya sekali ketika garis hitam ritmis mengenai lingkaran itu.
Ketepatan menekan pun dinilai. Bila kau menekannya tepat
waktu, maka score mu akan Perfect. Bila kau meleset sedikit akan jadi
Good. Bila hampir tidak kena, score mu akan Bad. Dan bila kau tidak
menekannya atau kau melewatinya akan Miss. Ketika mendapatkan
Perfect, tapping point pun masih diperhitungkan presentasenya. Oh,
ya! Satu hal lagi. Hampir di setiap chapter, ada lagu tersembunyi.
Contohnya lagu Entrance, hidden song nya berada pada sayap kanan
dan sayap kiri. Contoh lainnya adalah lagu L. Jika kau menekan dan
menahan huruf L yang ada di tengah itu, warna hurufnya akan berubah
menjadi merah dan biru. L yang berwarna merah berjudul Loneliness,
dan yang berwarna biru berjudul Liberation.
Lagu diakhiri dengan munculnya medali dengan tulisan
Million Master, karena aku berhasil mencetak score 1000000 dan tidak
34

meleset sedikitpun dengan tapping point 93,25%. Aku tersenyum


bangga melihat hasil New Best yang muncul itu. Yoshi (bagus)! Yatta
(aku berhasil)! ucapku pelan. Di saat itu tiba-tiba seseorang menepuk
bahuku dari belakang. Begitu saja sudah banggakah kau? sahutnya
berjalan ke arahku. Ya. Siapa lagi dia kalau bukan Daiki? Eh? Bukankah
ini hebat? Butuh waktu seminggu lebih untuk mendapatkan gelar
Million Master, tahu! Apa kau main Cytus juga? balasku. Iya. Aku
pakai iPad bermainnya. Jadi, sedikit lebih besar dari ini, kata Daiki
sambil meletakkan tasnya, Boleh kupinjam? Aku pun mengangguk.
Aku bangkit berdiri dan membiarkan Daiki duduk di bangkuku,
sementara ia menggeser layar hingga Chapter 10; The New World,
dengan lagunya Freedom Dive.
Mataku terbelalak melihat lagu yang dipilih Daiki itu. Kau
serius? Freedom Dive? sahutku. Memangnya kenapa? Lihat! Kau baru
rank B, kan? balasnya. Memangnya kenapa? Butuh lebih dari dua
minggu untuk mendapatkan rank B itu. Terlebih lagi dengan score
876502, lanjutku. Baiklah, baiklah. Daiki menggelinting lengan
seragamnya dan bersiap memainkan lagu gila itu. Menurutku, lagu itu
adalah lagu paling susah di Cytus selain L. Temponya yang cepat dan
not nya yang banyak itu membuatku lebih dari kesulitan untuk meraih
gelar Million Master.
Lagu dimulai. Daiki menggerakkan tangannya dengan cepat
mengiringi irama lagu itu. Rangkaian bulatan-bulatan yang pendekpendek dan cepat diikuti dengan bulatan yang lain nampaknya bukan
menjadi masalah baginya. Bagian tengah lagu adalah bagian tersulit
bagiku. Bulatannya yang banyak dengan tempo yang cepat itu
membuatku tak bisa menyesuaikan. Tapi sekali lagi, bagi Daiki bukan
menjadi masalah. Ketika sudah mencapai akhir bagian tengah, score
nya sempurna. Ia berhasil mencetak 474161, sedangkan score ku
biasanya 445798. Sugoi (hebat)! Bagaimana kau bisa mencetak score
segitu?! ucapku kagum. Sudah kubilang. Aku, kan, juga bermain di
rumah. Kau ini juga anggota Kuroi Komori, tapi kenapa tidak bisa
35

mengikuti irama lagu ini sampai akhir? balasnya. Sore wa (soal itu)...
eeto (anu)... aku, kan, juga pakai otak memainkannya, mengamati
setiap bulatan yang keluar! Tentu akan membuatku bingung, jawabku.
Tanpa respon, Daiki melanjutkan hingga lagu itu selesai.
Hasil akhir, ia mencapai rank S dengan New Best 955464. Su... sugoi
(hebat)! komentarku. Ini bukan apa-apa, justru menyebalkan!
Kenapa begitu pas-pasan? Harusnya 970-an! balas Daiki. Tapi
bukannya itu sudah bagus? Aku bahkan masih rank B! lanjutku. Tidak.
Tentu tidak. Kalau tidak salah sebelumnya aku berhasil mencapai 970an, katanya lagi. Eh..., yaru n ja nai ka (kau hebat)! kataku lagi.
Tak lama kemudian kelas dimulai. Hari Senin, jam pertama
merupakan pengarahan dari wali kelas akan kegiatan hari ini dan
kegiatan yang akan datang. Jin-sensei masuk dan memberitahukan
perihal pengumuman tes akhir. Hasil dan total nilai dapat dilihat
sepulang sekolah nanti, katanya. Aku pun semakin tegang dan tak
dapat menunggu hasilnya. Uuh! Harusnya sekarang, dong! Kenapa
harus pulang sekolah lagi? batinku. Kembali untuk mengatasi rasa
tegangku, aku mengeluarkan tab dan kembali bermain Cytus. Aku
mengenakan earphone dan mengeraskan suara. Aku tidak merasa, tapi,
tampaknya Daiki dapat mendengar samar-samar suara lagu yang keluar
dari Cytus saking kerasnya volume. Ia menghampiriku di tengah
makannya lalu dengan lancang melepas salah satu sisinya dari telingaku.
Oi, oi, kecilkan volumenya! Dari luar pun terdengar, tahu!
sahutnya. Tak apa. Aku sudah terbiasa dengan ini. Aku, kan, suka
mendengarkan musik keras-keras, jawabku. Haa? tanyanya dengan
sangat heran. Aku menyelesaikan satu lagu hingga bagian terakhir.
Kau mau tuli? katanya lagi. Ehehehe.... Mungkin kata orang aku ini
tuli atau apa, tapi mendengarkan musik keras-keras itu seru juga.
Dentumannya benar-benar sampai ke telinga! lanjutku. Kau itu
anggota Kuroi Komori, kelelawar. Kau memakai kekuatan kelelawar.
Pengelihatanmu buta, dan kau memanfaatkan kekuatan pendengaran.
36

Kalau pendengaranmu rusak, kau mau bagaimana? ucapnya


memberikan penjelasan.
Aku nyengir, merasa perkataannya memang benar.
Hehehe..., sore wa (kalau itu)... Aku menggaruk-garuk kepalaku. Daiki
pun menghela napas. Bagaimana bisa ada anak seperti kau, ya?
Mengatasi rasa gugup dengan bermain game! ucapnya lagi. Datte
(habis)... sho ga nai ja nai (aku kan tidak punya pilihan lain)? Jin-sensei
dan guru lainnya sangat pemalas! Kenapa pengumuman harus
ditempel nanti, sih? balasku. Daiki kembali menghela napasnya.
Bel pulang sekolah berdentang. Di antara duapuluh lima
siswa di dalam kelasku, akulah yang keluar pertama sambil berlari
dengan serampangan. O...oi, Mina! Matte (tunggu)! Awaseruna
(jangan terburu-buru)! seru Daiki yang menyusulku dari belakang. Aku
sudah terpaku, membeku di depan papan kaca pengumuman hasil tes
akhir. Tubuhku gemetar, dan begitu pula lenganku. Pada akhirnya,
tanpa sengaja aku menjatuhkan tas sekolahku. Daiki... kore (ini)...
ucapku lirih. Aku melihat hasil yang benar-benar di luar dugaanku.
Setetes air mata mengalir membasahi pipiku. Doushita (ada apa)?
tanya Daiki yang kemudian mengikuti arah gerak mataku dan turut
melihat hasil tes akhirku. Kulihat matanya yang awalnya datar kini
terbelalak lebar.
Tak lama kemudian, aku merasakan tangannya mengelus
kepalaku. Yaru n ja nai ka (bukankah itu hebat)? ucapnya diikuti
dengan senyuman. Air mataku makin menderas. Daiki!!! seruku
masih merasa tidak percaya. Yang benar saja! Aku mendapat nilai A,
dengan poin 93,7. Belum pernah selama ini mendapat poin setinggi itu.
Paling-paling, poin tertinggiku saat kategori pertama adalah 88,5.
Yokatta (syukurlah), yokatta (syukurlah)! seruku merasa lega dan
bahagia. Iiya (tidak). Jangan merasa senang dulu. Mitero (lihat)! sahut
Daiki seraya menunjuk ke arah nilainya sendiri. Aku pun melihatnya.
Mataku bertambah lebar dan terasa akan copot ketika melihat hasil
yang ia peroleh. Nilai sempurna? Seratus poin?! Su... sugoi (hebat)!
37

seruku. Kau masih kalah denganku, jadi, jangan cepat berbangga diri
dulu! lanjutnya.
Aku mengkerutkan bibirku. Huh! Kau juga jangan sombong
dulu! Lihat saja nanti, akan kukalahkan kau! ucapku seraya berlari
keluar dari sekolah meninggalkannya. Oi, matte (tunggu)! Mau ke
mana kau? seru Daiki dari belakang sambil mengikutiku. Doko e iku n
da (mau ke mana kau)? tanyanya lagi yang menyadari bahwa jalan
yang kulewati bukan jalan menuju ke rumahku. Shiranai (tidak tahu)!
jawabku berusaha membuatnya tambah penasaran.
Habis, dia menyebalkan, sih! Pakai mengikutiku segala! Di
samping itu, entah sejak kapan, ini pertama kalinya aku bangga akan
hasil tes akhirku sendiri. Biasanya ketika aku mendapat nilai bagus pun
tidak sampai sebahagia ini. Oi, Mina! Tomare (berhentilah)! seru
Daiki lagi. Kondo wa nanda yo (ada apa kali ini)? balasku. Kau mau
mencoba bunuh diri? Lihat! Kau sudah hampir berada di ambang
trotoar! ucapnya lagi. Eh? Aku pun terkejut ketika melihat kakiku
hampir menginjak aspal, tempat di mana banyak sekali mobil dan
kendaraan lainnya melaju dengan cepat. Aku langsung menyingkir dari
sana dan berjalan sedikit ke belakang.
Daiki kembali menghampiriku. Huh! Dasar serampangan!
ledeknya. Aah..., kau itu cerewet! Sungguh menyebalkan sekali,
seperti mamaku! Selalu saja mengoceh, memintaku ini dan itu! Susah
sekali punya hubungan dengan orang cerewet itu! balasku. Na... nani
(apa)?! balasnya dengan sedikit kesal. Demo ne (tapi)..., aku
menoleh ke arahnya sambil tersenyum lebar dan berkata, Karena
ocehanmu aku bisa memperoleh hasil seperti ini. Arigato (terima kasih),
Tuan Cerewet! Daiki sempat heran melihat reaksiku. Aku yang tadinya
meledek dan tidak menghiraukannya kini malah mengucapkan terima
kasih padanya. Daiki memalingkan wajahnya dengan ekspresinya yang
nampak tersipu malu. Ma... maa (sudahlah). Ii n da yo (tidak masalah),
ucapnya.
38

Aku kembali tersenyum lebar. Jaa (nah), ramen ni tabe ni


ikou yo (ayo kita pergi makan ramen)! seruku seraya langsung
menyambar tangan Daiki dan menggiringnya ke sebuah kedai ramen.
Nande ramen nanda (kenapa harus ramen)? O...oi, chotto (tunggu)!
Kono onna (wanita ini)! ucapnya. Aku tanpa sadar, secara refleks tidak
tahu mengapa aku sampai menggenggam tanganya dan menggiringnya
ke kedai ramen. Kini ketika aku sudah mengetahuinya pun aku tidak
segera melepaskannya. Mou ii n da yo (sudah tidak apa-apa). Begini
akan lebih baik, batinku berpikir. Tanpa banyak pikir-pikir, tak lama
kemudian kami pun sampai di sebuah kedai ramen.
Kau ini... benar-benar melampiaskan segala sesuatunya
dengan makan, ya? Merepotkan! Shika mo (ditambah lagi), nande
ramen nanda (kenapa harus ramen)? sahut Daiki tanpa kuhiraukan.
Aku kembali melanjutkan makanku.
Aku menghela napas panjang begitu selesai makan. Ah...,
kenyang! seruku. Sekarang, kau mau pulang? sahut Daiki. Un!
Setelah selesai ujian ini dan itu, akhirnya kuputuskan untuk bersantai
di rumah! Aah..., akhirnya liburan telah tiba! seruku lagi. Tiba-tiba, dari
belakang kurasakan seseorang menepuk kedua bahuku. Jangan santai
dulu, bodoh! sahutnya. Aku terlonjak kaget, dan begitu aku menoleh,
ternyata itu niichan. Niichan! Odokasanai de yo (jangan mengagetiku
begitu)! seruku. Kita berkumpul di markas siang ini juga. Akan ada
rapat para pemimpin distrik. Kalian akan ikut, katanya lagi. Eeh?! Maji
de (benaran nih)?! Tapi bukannya anggota tidak boleh?! Bukannya itu
hanya untuk pemimpin distrik?! tanyaku dengan penasaran.
Sudahlah, pokoknya ikut saja, lanjut niichan.
Takemaru-niichan berjalan di belakang kami menuntun
kami menuju ke kuartir. Niichan? Sepeda motormu di mana? tanyaku
heran, mengapa ia tidak membawa sepeda motornya. Oh, ya! Sudah
kuparkirkan di lapangan parkir kuartir! Sudahlah, ayo kita pergi!
jawabnya. Kami berjalan hingga sampai ke kuartir. Perjalanan tanpa
kendaraan memakan waktu kira-kira setengah jam. Sesampainya di
39

sana, aku memasukkan sejumlah uang untuk membeli jus jeruk di


vending machine. Setelah itu, niichan menuntun kami menuju ruang
rapat para pemimpin distrik.
Benar. Ruang yang tak lama lagi akan dipakai untuk rapat
dengan LCD yang sudah menyala. Di sana sudah ada semua pemimpin
distrik dari distrik satu, Okuyama-senpai, Hazamaki-san, Oosawa-san,
Hasayaka-senpai, Hizashi-san, Takigawa-san, pengganti Orenji-senpai,
Hiroyuki-senpai, Makoto-san, dan tentunya niichan. Ketika kulihat
sekeliling, Takeshi-sama masih belum ada.
Ah, Takemaru! Kon nichiwa (selamat siang)! sahut
Takigawa Mikami, pemimpin distrik enam sekaligus guru Student
Counseling and Guidance di sekolahku. Kon nichiwa (selamat siang),
Takigawa-san! balas niichan. Kau membawa adikmu? Senang
melihatmu sehat-sehat saja, Mina, lanjutnya. Kon nichiwa (selamat
siang), sensei. Senang juga Anda sehat-sehat, balasku dengan
lemparan senyuman. Dan kalau tidak salah kau murid pindahan itu,
kan? Senang berkenalan denganmu, Masao Daiki-kun. Takigawasensei kembali melemparkan senyuman manisnya itu pada Daiki. Hai
(ya). Kochirakoso yoroshiku (senang berkenalan dengan Anda),
Takigawa-san. Daiki membungkukkan dirinya. Takigawa-sensei tetap
mempertahankan senyumnya itu.
Beberapa di antara kami seperti Takigawa-sensei
mempunyai jabatan dan hubungan dekat dengan anggota lainnya,
seperti aku sebagai siswi yang dekat dengan Takigawa-sensei.
Takigawa-sensei, atau yang akrab dipanggil Mikami-sen di sekolah
adalah guru Bimbingan dan Konseling Murid. Kepribadiannya yang
sabar dan tegas itu banyak disukai oleh siswa-siswi sekolahku. Kalau
berhubungan dengan Kuroi Komori, sikap sabarnya itu terkadang
sudah ditanggalkan, dan terkadang ia sedikit galak, terutama pada para
pemalas. Ketika bertemu di sekolah, aku biasa memanggilnya Mikamisen, tetapi bila di dalam lingkup Kuroi Komori, aku harus memanggilnya
Takigawa-san, begitu juga para anggota lainnya.
40

Mina, sudah, duduklah sekarang. Kau duduk di samping


Hiroyuki, pemimpin distrik tujuh. sahut niichan seusai mengobrol
dengan Takigawa-san. Aku awalnya enggan duduk di samping Hiroyukisenpai. Selain karena ia masih baru dan kami masih belum sempat
berkenalan, jujur saja aku masih takut dengan tatapan misteriusnya itu.
Apalagi ditambah dengan gosip kedua temanku, Yui dan Jun kalau ia
pernah menghilang. Dan itu masih membuatku bertanya-tanya dalam
pikiranku, sebenarnya apa yang membuatnya menghilang tiba-tiba
setelah menjalankan misinya?
Iiya (tidak). Kurasa... aku akan duduk dengan niichan,
kataku. Sudahlah. Paling tidak duduklah bersamanya saja. Dia, kan,
pemimpin distrik barumu. Jangan begitu, dong. niichan kembali
menyuruhku. Demo (tapi), niichan... Sudahlah. Aku juga akan duduk
di sana. Ada aku. Tenang saja, sahut Daiki dari belakang tiba-tiba. Ia
melempar senyum tipis untuk membuatku sedikit tenang. Akhirnya,
Daiki duduk di sebelah Hiroyuki-senpai, tepatnya di sebelah kiriku dan
aku duduk di sebelahnya.
Tak lama kemudian, Takeshi-sama datang memasuki
ruangan rapat. Begitu melihatku ia langsung menyapa. Ah, Minakami
ka (Minakami, ya)? Senang melihatmu hari ini, ucapnya. Hai (ya). Kon
nichiwa (selamat siang)! balasku. Dan senang juga bertemu
denganmu, Masao-san! ucapnya lagi. Kon nichiwa (selamat siang).
Panggil saja dengan Daiki, tidak usah terlalu formal, balas Daiki
melempar senyumnya. Takeshi-sama kembali melempar senyumnya
sambil mengangguk kecil. Beliau maju ke depan dan menyalakan LCD
dan segera memulai rapatnya.
Kon nichiwa (selamat siang), minasama (semuanya),
sapanya memulai rapat. Kon nichiwa (selamat siang)! balas semua
kru serempak. Suatu kehormatan bisa bertemu anda sekalian dalam
rapat hari ini. Dan tentunya saya tidak akan buang-buang waktu, lanjut
Takeshi-sama diikuti tawa kecil para pemimpin anggota. Nah, mari kita
mulai pembicaraan dan permasalahannya. Pertama-tama, ucapnya
41

seraya mengganti slide, Di akhir-akhir tahun ini, kita tahu akan


munculnya suatu organisasi terlarang Kuroi Karasu. Sebenarnya dari
awal ia bukanlah organisasi terlarang. Tetapi para anggotanya
sendirilah yang membuatnya menjadi organisasi terlarang. Kita akan
memulai pembahasannya. Tujuh puluh tahun yang lalu, ayahku yang
merupakan kepala Kuroi Komori terjun ke dalam sebuah medan perang.
Medan perang itu muncul disebabkan oleh sikap kikir dari sebuah
organisasi yang sekarang kita sebut Kuroi Karasu. Karena mereka
berpikir bahwa merekalah yang seharusnya memegang kekuasaan
perang dan kejahatan.
Flashback
Dulu ayah Takeshi-sama dan ayah Rokudo Orenji adalah
rekan dekat. Mereka sering membicarakan hal itu. Nah, karena
kekikiran organisasi itu, Kuroi Komori akhirnya menyelesaikan hal itu
dengan membuat sebuah perjanjian dengan Kuroi Karasu dan dengan
organisasi villain lainnya, seperti Koroshi Tokage dan Aoi Tori. Kuroi
Komori mengadakan perang besar di antara keempat organisasi ini dan
siapa yang memenangkannya berhak mendapat jabatan sebagai
pemimpin organisasi dan yang kalah harus tunduk kepada organisasi
tersebut.
Ketika pertempuran berlangsung, Koroshi Tokage dan Aoi
Tori mengaku kalah karena jumlah mereka sudah berguguran. Mereka
tak ingin mengambil resiko kematian dalam jumlah yang lebih banyak
lagi. Akan tetapi Kuroi Karasu dan Kuroi Komori masih terus bertempur.
Dan di akhir, Kuroi Komori pun berhasil. Di saat itu terikatlah seutas tali
perjanjian, yaitu bahwa selanjutnya tidak akan ada perang antar
organisasi, sebab semuanya telah berakhir di hari ini juga. Kami telah
menang! Dengan ini, kalian harus mundur dan mengakhiri bentrok
kalian terhadap kami! Begitu seruan Takeshi Gon, kepala distrik tujuh
puluh tahun yang lalu.

42

Dengan begitu Kuroi Karasu mundur. Mereka menyatakan


kekalahan mereka. Akan tetapi, dua puluh tahun kemudian, salah
seorang anggota Kuroi Karasu kembali muncul. Tak hanya dia seorang
diri, tapi ada beberapa anggota lain yang seharusnya sudah gugur,
mati di medan perang. Satu demi satu terus bermunculan. Akhirnya
Kuroi Komori mengambil tindakan, menduga kalau yang mereka
lakukan adalah pembangkitan. Ya. Ada dua cara yang bisa dilakukan
yang pertama adalah eksperimen, dan yang kedua menggunakan
mantra hitam. Ketika diselidiki lebih dalam, telah terungkap mereka
menggunakan cara eksperimen, memasukkan suplemen dan sel serta
DNA manusia hidup ke dalamnya. Tak terlupakan satu bahan lagi, yang
tak lain adalah pasir roh sebagai penyangga sementara hidup mereka.
Berbicara soal pasir roh, menurut cerita yang kudengar, itu
adalah pasir pantai berwarna putih yang hanya bisa ditemukan orangorang tertentu di pantai. Bila pasir itu dibakar, dalam sekejap ia akan
kembali berubah warna menjadi putih. Karena kami tidak memakai hal
spiritualisme seperti itu, jadi aku tidak tahu selebihnya tentang pasir
roh. Yang jelas penggunaannya membutuhkan sihir.
Nah. Dari cerita lima puluh tahun yang lalu, akhirnya kami
mengutus beberapa anggota kelas atas dan para senior untuk mencari
informasi selengkapnya. Tentunya, banyak di antara mereka yang gagal
dan yang lainnya pulang dengan membawa kepala anggota kita. Suatu
kali Kuroi Karasu lengah, dan kami berhasil mencuri gulungan kecil yang
sepertinya adalah resep. Dari sana dapat kami lihat adanya beberapa
permasalahan dalam membangkitkan manusia, kata Takeshi-sama
seraya mengganti slide, Dalam melakukan eksperimen, ada
kemungkinan tigapuluh lima persen kegagalan. Ketika gagal, ia tidak
akan bangkit kembali seperti manusia, tetapi ia akan disebut Kurobake,
atau monster hitam. Aku mengkerutkan kening dan mulai merasa
kesal. Kegagalan? batinku. Mereka akan menjadi anjing anggota
Kuroi Karasu, dan yang diluar kendali akan dibiarkan di dunia luar
sampai mati terbakar, lanjut Takeshi-sama.
43

Aku kembali teringat akan perkataan Yusuke-senpai,


kembali ketika kami bertempur. Kami membangkitkan manusia,
menjanjikan kedamaian abadi, dalam sebuah lingkup mimpi. Manusia
semuanya pada akhirnya akan mati. Di saat itulah akan bangkit semua
umat manusia, tanpa penderitaan, dan tanpa kesengsaraan! Kamilah
yang akan mewujudkan semua mimpi itu! Aku tak mengerti. Di sisi lain
ketika mereka mengalami kegagalan, apakah mereka tetap berpikir
seperti itu? Aku tak mengerti! Kalaupun itu Yusuke-senpai, apa ia tak
memiliki cara lain untuk menentangnya?! Harusnya dia bisa! Tak
mungkin ia akan bergantung pada organisasi seperti itu! Tak mungkin!
Aku menggigit ujung bibirku, mencoba berpikir dan
merenungkan tentang itu. Yurusanai (tak termaafkan)! Daiki yang
melihatku nampak heran, kemudian menepuk bahuku sambil
tersenyum tipis. Aku mengerti maksudnya, kemudian mencoba
menenangkan diri. Lalu, dalam menjelang akhir tahun ini, akan ada
misi besar di mana kalian akan diutus untuk melakukan exorcist,
pengusiran terhadap Kurobake itu. Dari situ, kita akan bisa menyelidiki
lebih dalam identitas mereka, kata Takeshi-sama. E... exorcist?!
seruku. Benar. Kita mungkin tak bisa melakukan pengusiran setan
seperti Kuroi Karasu. Tetapi yang akan kita hadapi adalah yokai, bukan
akuma (iblis), ataupun akuryo (roh jahat). Yokai takkan memerlukan
pengusiran setan seperti orang kerasukan. Yokai adalah makhluk gelap
yang bukan ciptaan dunia dan memiliki tubuh, yang bisa kita hancurkan.
Maka dari itu, yang perlu kita lakukan hanyalah membunuhnya.
Semua pemimpin distrik di dalam nampak kebingungan.
Termasuk Takemaru-niichan, dapat kulihat ia meletakkan jari
telunjuknya dalam keadaan menekuk di bawah dagunya. Anjing
tetaplah anjing. Mereka akan menurut pada pemiliknya dan akan
melaporkan keberadaan kita. Tanpa kita sadari, jumlah kita akan terus
berkurang, bahkan hingga habis. Meskipun misi ini ringan, bila kita
lengah, sama saja hasilnya dengan bunuh diri. Karena sekali hewanhewan itu lolos, Kuroi Karasu takkan segan-segan mengebom atom
44

kuartir kita. Tapi bila kita berhasil membunuhnya, meskipun tidak


semuanya, itu akan sedikit membantu, lanjut Takeshi-sama.
Para pemimpin distrik masih bingung. Kemudian, pemimpin
distrik tiga, Oosawa-san mengangkat tangannya. Kalau begitu,
bagaimana cara yang akan kita lakukan untuk menghabisi mereka
semua dalam sekejap? tanyanya. Kita menggunakan taktik. Dalam
misi kali ini, mungkin akan ada misi yang individualis, dan ada yang
berkelompok.
Para pemimpin distrik saling menoleh. Mereka berusaha
mencari tahu maksud Takeshi-sama. Dalam misi berkelompok, kita
akan membaginya menjadi tujuh orang dalam sekali misi. Empat orang
akan melawan, dan tiga yang lainnya akan menjadi sensor. Selagi
keempat orang menghabisi para Kurobake itu, ketiga orang lainnya
akan menggunakan indera kelelawar untuk melacak keberadaan
Kurobake yang lainnya, lalu memberi petunjuk, kata Takeshi-sama. Di
saat itu juga, wajah-wajah para pemimpin distrik langsung berubah
total. Mereka nampak mengagumi pengutaraan pendapat Takeshisama akan hal itu, dan banyak di antara mereka pula yang setuju.
Yarimasu (kita akan melakukannya)! seru Takigawa-san. Para
pemimpin distrik yang lainnya pun langsung menoleh ke arahnya.
Kalau memang tak ada cara lain untuk melakukannya, dan melihat
keadaan kita saat ini, memang tak ada cara lain selain melawan. Kita
akan melawan lebih dulu, atau kalau tidak kita akan dilawan lebih dulu,
lanjutnya.
Para pemimpin distrik yang lainnya memasang wajah serius,
dan ada yang mengangguk setuju. Baiklah. Kalau begitu, telah
diputuskan. Rapat dibubarkan! ucap Takeshi-sama mengakhiri rapat
siang hari itu. Maka, semua pemimpin distrik bubar dari tempatnya
masing-masing. Aku berjalan keluar dari gedung kuartir bersama Daiki
sambil memegangi bahuku yang terasa pegal. Tsukareta (aku
capek)...! Akan ada misi lagi di bulan kedepan, padahal itulah saat-saat
santainya! ucapku pelan. Sudahlah, itu lebih baik daripada kita
45

diserang dulu, kan? sahut Daiki. Tapi kau tahu? Padahal kupikir aku
akan bisa beristirahat setelah ujian dan sebelum ujian mendatang,
ternyata... aah, mou (duh)! Shiranai (aku tak tahu)! ucapku.
Aku terus mengomel tanpa memerhatikan sekelilingku, dan
pada akhirnya, tanpa sengaja aku menabrak seseorang di depanku
yang sedang berjalan berlawanan arah denganku. Ketika kudongakkan
kepalaku, tak kusangka yang kutabrak adalah Hiroyuki-senpai!
Aku terlonjak tak karuan. Wajahku langsung memucat. Yang
benar saja! Siapa yang tidak takut ketika bertemu, apalagi
menabraknya? Orang dengan tatapan kejam seperti itu... raut
wajahnya pun seperti tidak akan memberi ampun! Su... sumimasen
(maaf)! Aku benar-benar melamun! Hontouni (itu benar)! seruku
seketika. Hiroyuki-senpai terus memandangku dengan tatapan
matanya yang mengerikan itu, lalu berlalu tanpa sepatah kata pun. Aku
langsung menoleh ke belakang. Eh? ucapku pelan, Ichatta (dia
pergi)! Daiki menghela napas. Kau baru saja membuat masalah
dengan pemimpin distrik barumu! ucapnya. Na... nanda yo (apaan
sih)? Iiya (tidak), iiya (tidak)! Aku tak boleh takut pada pemimpin distrik
sepertinya! Tidak! ucapku lagi menyakinkan diri.
Tiba-tiba dari belakang seseorang menepuk bahuku dengan
pelan. Ya, siapa lagi kalau bukan niichan? Kau tak perlu setakut itu.
Pemimpin distrik takkan pernah menyakiti anggota lain, terlebih
anggotanya sendiri, apalagi membunuhnya. Ingat, you cant judge a
book by its cover! Jangan hanya menilainya dari luar. Dia, kan, tetap
pemimpin distrikmu! Hormatilah dia seperti kau menghormati Orenji.
katanya. Demo (tapi)...! Kau tahu, wajahnya itu menakutkan! Aku tak
tahu kenapa, pokoknya aku takut! Aah...! Doushiyo (apa yang harus
kulakukan)? ucapku mengomel terus.
Daiki melihatku dengan tatapan seolah-olah meledek.
Mou ii daro (sudah cukup). Yang penting kau bisa bekerjasama dengan
baik dengannya, maka itu sudah cukup. Sudahlah, tak usah khawatir.
46

Akan kubantu kau untuk akur dengannya. Aku, kan, juga pemimpin
distrik, lanjut niichan. Apa aku bisa, ya, bekerjasama dengannya?
Ah..., aku benar-benar tidak yakin! ucapku lagi. Jangan bilang begitu,
bego! Memangnya apa yang membuatmu tak yakin? Kau ingin bisa
bekerjasama baik dengannya, kan? Selama kau ada niat, pasti ada
usaha. kata Daiki menasihati. J... jaa (kalau begitu), ganbarimasu
(akan kulakukan sebisaku). ucapku menyakinkan diri.
Niichan dan Daiki tersenyum melihatku tanpa kuketahui
alasannya. Esok hari, aku kembali masuk sekolah dengan keadaan
wajah yang lesu. Aku tak mengerti apa yang terjadi kemarin sampai aku
masih bisa hidup sampai hari ini. Aku berjalan dengan lesu memasuki
sekolah, memencet tombol elevator, kemudian duduk di bangkuku.
Ketika akan duduk, kulihat temanku sudah menempati tempat
dudukku. Hei, ini, kan tempat dudukku? sahutku pada temanku,
Shion. Ah, maaf. Tapi tadi pagi kulihat denah kelas sudah diubah. Mina
kalau tidak salah kamu ada di bangku paling depan, jawab Shion.
Mataku terbelalak kaget. Huh, jadi ini hadiah pertama dari
Jin-sensei karena hasil tes akhirku bagus? batinku sebal. Siapa juga yang
senang duduk di depan? Tepat di bawah pengamatan guru? Sungguh
tidak nyaman! Karena merasa tidak yakin dan tidak percaya, aku
melangkahkan kakiku menuju meja guru dan melihat denah kelasku
sendiri. Ternyata benar. Aku duduk di bangku paling depan, dan serong
sedikit ke kiri adalah Daiki. Karena tempat duduknya denganku tak
begitu jauh, aku bisa banyak belajar dengannya. Itulah pemikiran positif
pertama yang kuambil.
Tanpa banyak bicara lagi aku pun meletakkan tasku di
bangku dan membaca novel sambil menunggu bel masuk berbunyi.
Sepuluh menit kemudian bel berbunyi dan semua anak langsung
menghentikan kesibukan mereka seraya langsung duduk di tempatnya
masing-masing. Sementara itu Daiki masuk dan wajahnya sempat
heran melihat tempat duduk teman-temannya yang sudah berubah.
Ano (anu)... Masao-san desu yo ne (kau Daiki kan)? Aku ketua kelas 347

3, Hidemi Sawako. Denah tempat duduknya sudah diubah, dan kau


duduk di sebelah kiri itu, kata Hidemi-san seraya menunjukkan tempat
duduk Daiki yang baru. Aa (ya), arigato (terima kasih), balas Daiki
seraya meletakkan tasnya di atas bangku. Ia bahkan tidak bergeming
ataupun mengomel karena tempat duduknya yang sedikit terlalu
depan.
Tak lama kemudian Jin-sensei masuk kelasku. Dilihat dari
raut wajahnya, ia nampak kesal, entah mengapa. Kutebak mungkin saja
karena hasil tes akhir Sains siswa-siswinya jelek. Kemudian ia
meletakkan buku Kimia di atas mimbar tempat biasa ia menjelaskan.
O... ohayo gozaimasu (selamat pagi), sensei, sahut salah seorang
anak dengan terbata-bata karena gugup. Ia juga menyadari akan raut
wajah tidak enak yang dipasang di wajah sensei. Kalian benar-benar
mempermalukan saya! ucapnya. Semua murid terdiam. Suasana kelas
terasa sangat sunyi. Eh? Ada ap... Apa kalian masih berpura-pura
tidak tahu?! Saya... sebagai wali kelas kalian sekaligus guru Kimia kalian,
benar-benar malu akan kalian! serunya lagi memotong pembicaraan
seorang siswa.
Suasana kian makin hening. Beberapa siswa-siswi masih
bingung akan apa yang membuat Jin-sensei kesal. Ano (anu)... sensei,
apa yang terjadi? Kalau kelas ini membuat masalah, saya, selaku ketua
kelas akan mengundurkan diri karena tidak berhasil mengkondisikan
kelas, sahut Hidemi-san yang membuat pandangan para murid yang
lain menoleh ke arahnya. Kemudian Jin-sensei mengacungkan
telunjuknya ke arah Hidemi-san. Osuwarinasai (tolong duduklah)...,
ucap sensei. Demo (tapi)..., Osuwarinasai (tolong duduklah)!
serunya dengan nada tinggi. Aku menelan ludah. Baru pertama kalinya
aku merasa takut akan Jin-sensei. Kalian apa masih tidak sadar bahwa
banyak di antara kalian yang mendapat nilai merah? Apa kalian berniat
mempermalukan saya selaku wali kelas kalian?! seru sensei lagi.
Suasana kelas kembali tenang, dan kali ini tegang. Tak lama
kemudian seseorang berdiri dari sebelah kiriku. Daiki. Sensei, saya kira
48

kami tidak berusaha mempermalukan sensei. Semua murid sudah


berusaha. Tapi kalau hasil tes masih merah, itu bukan kesalahan
mereka. tegasnya. Saya tidak peduli apapun alasannya.... Sebagai
contoh, Mina yang sudah berusaha keras mengejar ketinggalannya,
akhirnya berhasil, bukan? lanjut Daiki.
Suasana kelas kembali hening. Kali ini beberapa anak
tercengang menanggapi ucapan Daiki. Lalu maksudmu... kalau satu
anak saja sudah berhasil yang lainnya boleh gagal?! Jangan bercanda!
Kalau peraturan di sekolah lamamu seperti itu, jangan samakan dengan
di sini! seru sensei lagi. Emosi Daiki kembali terpacu. Dilihat dari
wajahnya, tampaknya ini pertama kalinya ia melawan seorang guru.
Dari dalam sepertinya ada rasa takut yang terselip. Sekolah lamaku?
Dengar, ya. Aku tak tahu apa kau tahu sekolah lamaku atau tidak, jadi,
jangan terlalu sok tahu. Tapi, kalau memang kami sudah berusaha dan
gagal, jangan menghina kami! Setidaknya kami sudah berusaha, kan?
Kalau memang kami gagal, bukannya itu adalah suatu kesempatan
untuk mengubah kesalahan bagi kami? lanjut Daiki.
Jin-sensei terdiam. Kali ini nampaknya ia kalah berargumen.
Sasuga Daiki da na (Daiki memang hebat)! Bahkan dengan guru, ia bisa
berargumen seperti itu. Sugoi (hebat), batinku. Duduklah, Daiki.
Jangan memabuatku berargumen lebih panjang, ucap sensei
kemudian, Kita mulai pelajaran pagi hari ini. Daiki pun duduk. Ia
masih merasa tidak senang dengan guru sekaligus wali kelasnya yang
sekarang ini. Jin-sensei tanpa banyak bergeming lagi menggoreskan
tulisan di papan tulis. Ya, ia memulai pelajaran hari ini.
Semua murid yang masih gugup dan tegang terdengar
saling berdesas-desus, berbisik-bisik satu dengan yang lain. Sementara
aku langsung mengambil buku Kimia serta alat tulis lalu meletakkannya
di atas meja. Murid-murid yang awalnya hanya berdesas-desus, kini
membuat kelas menjadi gaduh. Jin-sensei menoleh dengan kesal.
Siapa yang menyuruh kalian berdiskusi?! seru sensei deraya
membanting buku catatannya ke lantai. Semua murid kembali tegang.
49

Kelas kembali hening. Baik sensei maupun murid-murid lainnya


termasuk Daiki, tidak ada yang berbicara sepatah kata pun.
Setelah beberapa saat, entah mengapa kakiku tergerak
untuk mengambilkan buku Jin-sensei di lantai. Aku langsung berdiri dan
mengambil buku itu. Tetapi, di saat yang bersamaan, nampaknya Daiki
juga tergerak untuk mengambilkannya. Di saat itu, tangan kami hampir
bersentuhan, dan ketika kami menoleh saling berhadapan, kepala kami
terbentur satu sama lain. Aku pun memundurkan kepalaku dan
memeganginya karena sakit. Suasana kelas kembali gaduh. Ada
beberapa anak yang diam-diam menertawai kami. Jin-sensei kini
nampak bingung dengan kami.
................................................
Bel istirahat berbunyi. Anak-anak berhamburan dari kelas
mereka.
Ttaku (ya ampun)! Sensei benar-benar seperti godzilla!
Dia benar-benar sudah menggila!
Kalau seperti ini caranya, matilah aku!
Sebenarnya apa yang membuatnya seperti itu? Diacuhkan istrinya?
Hahaha! Imajinasimu bagus sekali!
Murid-murid kelasku banyak yang menggosip begitu keluar
dari kelas. Yah..., cara mereka melampiaskan emosi, selagi Jin-sensei
tidak ada. Sementara aku di kelas masih memegangi kepalaku yang
masih sedikit sakit. Apa masih sakit? Gome (maaf), aku begitu
ceroboh, kata Daiki yang kini duduk di bangku di sebelahku. I...iie
(tidak), iie (tidak). Aku juga ceroboh, kok. Kinishinaide (jangan
khawatir), balasku. Aku mengambil bento ku dari tas dan langsung
melahapnya pelan-pelan. Teringat akan Daiki yang tidak pernah makan
saat istirahat dan hanya mengerjakan PR, aku mengeluarkan satu kotak
bento lagi dan menyerahkannya padanya.
50

Anta mo tabete (kau juga makanlah), ucapku sambil


mengunyah tamago, Jangan tidak makan sepanjang hari. Di samping
itu, kita, kan, pulang sore. Nanti kau sakit perut kalau tidak makan apaapa. Daiki heran melihatku. Tidak usah. Nanti pulang aku juga akan
beli makanan, jawabnya. Ii (tidak apa), ii wa yo (tidak apa-apa kok)!
Sore ni (di samping itu), kore wa okaasan ga sukutta bento da (ini
adalah bentu buatan mamaku). Dia menyuruhku untuk
memberikannya padamu. Untuk ucapan terimakasih karena telah
mengijinkanku menginap di rumahmu bersama Takemaru-niichan,
aku menjelaskan. Aku terpaksa bohong. Kalau tidak, dia takkan mau
menerimanya.
Daiki mengulurkan tangannya menerima bento yang
kuberikan. A... arigato (terima kasih), ucapnya. Ia mengeluarkan
sumpit dari dalam kotak bento. Ittadakimasu (selamat makan),
ucapnya seraya mulai melahap. Aku... sering tidak sopan denganmu.
Selalu mengejekmu, dan tidak pernah mengakui kalau kau itu memang
pandai. Sebenarnya aku mengakui kalau kau itu memang hebat. Akulah
di sini yang payah. Gome (maaf). Entah dari mana dan bagaimana di
saat itu aku berhasil meluapkan perasaanku untuk meminta maaf
padanya. Daiki masih tercengang menanggapi kata demi kata yang
kuucapkan. Kemudian aku menyadari wajahnya yang memerah. Tanpa
menoleh menghadapku, ia menjawab, I... ii n da yo (tak apa-apa)! Aku
juga sering merendahkanmu, tidak pernah menghargaimu. Aku juga...
maaf karena itu.
Jantungku berdebar begitu cepat ketika mendengarnya
menjawab seperti itu. Aku masih merasa malu. Aku juga sempat heran,
kenapa ia perlu meminta maaf kalau yang bersalah pertama adalah aku.
Aku kemudian memerhatikannya yang kini sedang melahap bento yang
kuberikan padanya pelan-pelan. Meskipun laki-laki, ia makan dengan
sopan, berbeda dengan murid-murid laki-laki lainnya di kelasku. Segera
setelah selesai, ia membuang kotak bento nya.

51

Bel istirahat berbunyi dan semua murid langsung berlarian


masuk ke kelas mereka masing-masing. Pelajaran selanjutnya, Bahasa
Inggris. Guru yang sering kami panggil Miss Yurie, memasuki kelas kami
dengan penampilannya yang biasanya. Ia hanya menguncir rambut,
memakai kacamata, serta make up yang tipis. Tubuhnya langsing, tapi
tidak terlalu tinggi. Ia mengenakan kemeja lengan pendek berwarna
putih dengan pita putih besar di dadanya, dan pin simbol sekolahku di
dada kirinya. Rok hitamnya yang tidak terlalu pendek itu sangat kontras
dengan atasannya. Wajahnya yang selalu cerah dan usianya yang masih
muda, ditambah dengan statusnya yang masih single membuatnya
menjadi sasaran bagi para murid laki-laki di sekolahku.
Good morning, everyone, sapanya dalam bahasa Inggris.
Good morning, miss, balas murid-murid serempak. Ia memang selalu
lembut dan hangat. Aku suka caranya mengajar yang menyenangkan
itu. Ketika berbicara di depan dan menjelaskan materi hari ini, ia
nampak sedikit heran mendapati denah kelas yang telah berubah. Aku
yakin, dari dalam ia berpikir pasti pemindahan tempat duduk
disebabkan oleh kegaduhan kelasku. Saking gaduhnya, dulu denah
kelas sempat disusun kembali oleh kesiswaan. Dari antara kelas 3-1
sampai 3-9, kelaskulah yang terkenal paling gaduhnya. Tapi, khusus
ketika pelajaran Bahasa Inggris, murid-murid kelasku bisa sedikit
tenang, terkhusus untuk para murid laki-laki.
Pelajaran dimulai. Sementara para murid memerhatikan
Miss Yurie, aku melamun sambil menatap ke arah luar jendela dengan
tatapan kosong. Aku memerhatikan setiap lekuk awan yang saling
merangkai membentuk seperti sebuah pulau. Terlepas dari bayangan
itu, pikiranku melayang-layang dan akhirnya sampai pada Yusukesenpai. Entah dari mana, kini aku malah memikirkan apa yang sedang
para siswa SMA lakukan. Aku memasang indera kelelawar untuk
melihatnya. Di kelas, Takemaru-niichan nampaknya sedang makan
permen sambil mendengarkan penjelasan gurunya.

52

Pendengaranku terus melayang-layang, kemudian


memasuki kelas Yusuke-senpai di 2-5. Nampaknya ia sedang
mengerjakan ulangan,... atau tugas? Ah..., tampangnya yang serius dan
berbeda dari niichan yang keterlaluan itu membuatnya semakin
nampak keren... keren! Gerak-gerik tangannya pula yang
menggoreskan tiap karakter Jepang di atas buku tulisnya terdengar
cepat, dan nampaknya tulisannya benar-benar rapi. Ah..., bagaimana
ini? Aku tak boleh berlama-lamaan, atau kalau tidak dia akan
menyadarinya. Ingatlah, Mina.... Dia pengendali angin yang bisa
merasakan keberadaanmu. Tapi aku adalah pengendali api yang suka
mengintainya. Ah..., aneh.... Dua karakteristik yang berbeda, namun
aku sangat menyukainya... Yusuke-senpai.... Aku aneh... aneh....
Tunggu dulu! Aneh? Kenapa jadi aneh begini? Ya, benar,
aneh! Aku tiba-tiba saja merasakan kehadiran sesuatu ketika
menggunakan indera kelelawar. Apa itu? Gelap. Aku tak bisa
merasakan apa-apa. Itu... kulit?! Dan bergerak! Apa itu?! Dengan
refleks, aku membuka mataku seraya berseru, Daiki, di depan pintu!
Semua murid di kelasku nampak terkejut dan bingung, sekaligus
menganggapku konyol. Beberapa di antara mereka ada yang mulai
menertawaiku. Ada apa, Takahashi-san? Anda bisa duduk sekarang,
sahut Miss Yurie. Aku tidak menghiraukannya. Aku kembali mencoba
mendengarkan derapan langkah makhluk itu. Hitam..., gelap! Mina,
kiotsukero (hati-hati), bisik Daiki. Kalian berdua, bisa tolong hentikan
pembicaraan...
Tiba-tiba ucapan Miss Yurie terhenti ketika sesuatu
menghantam pintu kelas hingga lubang. Seutas ekor! Ya, inilah warna
hitam yang kulihat! Apa itu? Kadal?! Aku terus bertanya-tanya dalam
hati. Setelah beberapa saat, makhluk hitam itu memasuki kelasku.
Tampangnya mengerikan. Jantungnya terletak di tengah dadanya dan
terlihat berdenyut. Matanya tidak memiliki kornea, hanya putihnya saja.
Ia merangkak seperti kadal, memiliki ekor. Dan kepalanya... kepala
manusia?! Tidak salah lagi! Ini... Kurobake?!!
53

Semua murid di kelasku serempak berteriak ketakutan.


Bahkan Miss Yurie, ia terjatuh dan tidak dapat bergerak. Are wa
Kurobake na no ka (apa itu benar Kurobake), Daiki? tanyaku. Aa
(benar). Sou mitai da na (tampaknya begitu), jawab Daiki. Tapi...
kenapa ia memburu sekolah kita? Apa yang dilakukannya saat ini?
tanyaku lagi. Mungkin, mereka sedang mencari makan. Kiotsukero
(hati-hati). Mereka mengeluarkan racun untuk menangkap mangsanya,
lanjut Daiki lagi.
Aku dan Daiki bersiap menyerangnya. Kutarik pedang dari
sarungku. Makhluk itu menoleh ke arah kami, seakan merasakan
kekuatan khusus yang tertanam dari dalam diri kami. Ia pun melompat
untuk memangsa kami. Nani (apa)?! Anjing bahkan bisa melompat?!
seruku. Aku dan Daiki langsung melompat untuk menghindarinya.
Kakiku sempat terkilir. It...tai (sakit)! ucapku. Makhluk itu kembali
mengejarku. Kini, aku menebaskan pedangku ke arahnya dan berhasil
memotong lengan kirinya. Makhluk itu menjerit kesakitan. Sementara,
dari sebelah kiriku Daiki menembakkan tiga batang panah dan berhasil
menancap di kepala Kurobake itu. Kondisinya melemah. Di saat itulah,
aku berusaha menghabisinya. Tapi, Daiki menghadangku untuk itu.
Dia sudah kehilangan banyak darah. Dalam hitungan tujuh detik, ia
akan tewas. Tak perlu menebasnya hingga habis. kata Daiki.
Aku memerhatikan gerakan-gerakan Kurobake yang akan
mati itu. Lama kelamaan gerakan itu berhenti, dan makhluk itu tewas
dan mengering seketika dalam hitungan detik. Shi... shinda (dia sudah
mati)! ucapku. Mou shinda n da yo (dia sudah mati). Shinzo no oto ga
kikoenai (detak jantungnya tak terdengar), kata Daiki. Aku menghela
napas lega karena makhluk mengerikan itu tidak jadi memutilasiku.
Te (lho)! Aku berseru kaget karena ada satu hal yang
terlupa. Bagaimana cara kita membersihkan kelas ini?! seruku lagi.
Aku memerhatikan sekeliling kelasku yang meja kursinya banyak yang
terbalik, dan darah berceceran di mana-mana. Su... sugoi (hebat)!
Tiba-tiba di tengah kesunyian itu seseorang berucap. Daiki-kun, Mina...
54

kalian bagaimana... jangan-jangan kalian anggota Kuroi Komori itu?!


sahut salah seorang anak lagi. Tentunya itu sempat membuat
jantungku berdebar kencang. Ha?! Apa yang kaubicarakan? tanyaku.
Kau memakai pedang, membasmi makhluk gelap! Aku yakin, kau...
Kuroi Komori! serunya lagi. Keadaan kelas menjadi sedikit gaduh.
Memakai pedang bukan berarti aku anggota Kuroi Komori, kan? Aku
mengikuti latihan bela diri, bego! bantahku.
Ah..., mou (duh)! Kenapa murid-murid itu begitu
menyebalkan, sih?! Sudah, sudah, cukup. Sebaiknya kini kalian
memeriksa tubuh kalian. Bila ada luka, segera pergi ke UKS! perintah
Miss Yurie. Ha... hai (baik), Yurie-san! jawab salah seorang anak.
Mattaku (ya ampun)! Hanya perintah Yurie-san yang selalu dipatuhi!
Selalu Yurie-san! batinku kesal. Ano (anu)... sensei... Tiba-tiba
seorang siswi melangkah maju dengan sangat pelan sambil
menunjukkan lengannya yang sobek. Tampaknya gara-gara tergores
ujung papan tulis ketika berlari. Aoi-chan, tanganmu terluka berat!
Harus segera diobati dan diberi desinfektan! sahut temannya. Mou
osoi n da yo (sudah terlambat). Lihat, ada kotoran masuk! ucap siswi
yang bernama Aoi itu.
Suasana kelas kembali gaduh. Para murid panik akan
adanya luka di lengan Aoi itu. Darahnya mengucur keluar, seperti tak
bisa dihentikan. Aku pun berpikir. Kalau aku bisa menyelamatkannya,
tidak ada salahnya, kan? Lagipula, makhluk ini sudah mati. Aku bisa
berbuat sesuatu untuk menyelamatkannya daripada berdiam diri di sini,
kan? Kega o misete (tunjukkan lukamu). Aku akhirnya memutuskan
untuk berusaha menyembuhkan lukanya.
Kukeluarkan selembar daun herbal milik Kuroi Komori,
kemudian kuletakkan di atas lengannya yang terluka. Aku
memeganginya dengan tanganku. Tahanlah. Akan sedikit sakit,
kataku. Sore wa tashika (itu, kan)... Sou da (benar). Tanaman herbal
yang menyerupai daun pisang yang tumbuh di pekarangan belakang,
Daiki, ucapku menjelaskan. Tidak hanya dengan daun herbal, aku
55

tentunya menggunakan kekuatanku untuk menutup luka itu. Aoi


menutup matanya, merasakan perih akibat lukanya yang kututup
dengan kekuatan api.
Setelah beberapa saat, kulepaskan daun penutup itu dan
terlihat bekas luka di tangannya yang perlahan memudar.
Tasuketekurete arigato (terima kasih telah menolongku), Mina.
ucapnya kemudian. Aku tidak berniat menolongmu. Maaf, ya, aku
memang membunuh seperti mereka, tapi aku tak bertugas
menolongmu! balasku sambil menunjuk ke arahnya. Untuk sementara,
kami diminta untuk pulang meninggalkan kelas kami yang kini dalam
keadaan berantakan. Haah..., kouyu no wa atta no ne (hal seperti ini
pernah terjad ya), mae ni ichido (sekali sebelumnya), kata salah
seorang murid. Aku masih aras-arasan untuk pulang. Daiki dengan
heran mengikutiku dari belakang yang tidak langsung pulang dan malah
berkeliaran di sekolah. Omae (kau ini)... ittai doko e ikutsumori nan da
yo (sebenarnya ingin pergi ke mana)? tanyanya. Sa... saa (siapa
tahu)? Doko daro (ke mana ya)? ucapku bertanya-tanya. Aku tidak
sengaja melakukannya, bukan berniat bercanda. Tapi memang aku tak
tahu.
Kupikir akan lebih menyenangkan bila aku ngobrol sedikit
dengan Mikami-sen. Aku pun memutuskan untuk nongkrong bersama
Mikami-sen sebentar di ruang Student Counseling and Guidance. Apa
kau memang tak tahu arah pulang menuju rumahmu, atau kau cinta
sekolah sampai tak mau pulang? sahut Daiki. Kau temani aku, ya? Aku
akan nongkrong sebentar sama Mikami-sen. kataku mengedipkan
sebelah mataku. Mikami-sen? Daiki terlihat heran. Sou da yo (itu
benar)! Takigawa Mikami. Jangan bilang kau sudah lupa, jawabku
kemudian. Iiya (tidak), sou ja nakute (bukan itu maksudku). Apa kau
sedang memiliki masalah sampai-sampai harus ke Student Counseling
and Guidance? lanjut Daiki. Bukannya begitu. Kau tahu, kan, Mikamisen adalah guru favorit banyak murid di sini, karena terkenal dengan

56

sikapnya yang tegas dan baik. Aku akan lebih enjoy ketika ngobrol
bersamanya, jawabku.
Tanpa banyak bicara lagi, aku berjalan masuk ke ruang
Student Counseling and Guidance diikuti Daiki dari belakangku. Mikamisen nampak sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya sambil
menggigit sepotong kue yang ada di tangannya. Kon nichiwa (selamat
siang), sapaku. Ah, Takahashi-san, Masao-san, kon nichiwa (selamat
siang)! Douzo osuwarinasai (silakan duduk), balasnya. Aku mengajak
Daiki duduk bersama di sebuah sofa hijau panjang tak jauh dari pintu
masuk sambil menunggu Mikami-sen. Tidak lama kemudian,
pekerjaannya selesai dan Mikami-sen menutup laptopnya.
Mikami-sen menuangkan daun teh dan menyeduhnya
dengan air panas dispenser. Ia datang menghampiri kami sambil
membawakan tiga cangkir teh di atas nampan. Diletakkannya nampan
itu di atas meja. Ia mengambil secangkir lalu menyeruputnya perlahan.
Aku dengar ada kejadian mengerikan di kelas kalian. Benarkah
Kurobake datang menyerang? ucapnya seraya meletakkan cangkir
tehnya di atas nampan di meja. Sou desu (itu benar). Mikami-sen...
iiya (bukan), Takigawa-san, kenapa Kurobake harus datang kemari?
Kenapa tidak ke bangunan atau sekolah lain? tanyaku memulai
pembicaraan.
Takigawa-san mengangkat wajahnya sedikit. Ia memulai
pembicaraannya.
Setiap manusia memiliki kekuatan tersendiri. Tapi, kalau
kekuatan itu tidak diasah, maka tidak akan tumbuh. Seperti kita. Ada
sebuah sejarah dari Tiongkok, yang disebut Feng Shui. Feng Shui adalah
ilmu topografi kuno Tiongkok yang memercayai bagaimana manusia,
astronomi dan bumi hidup dalam harmoni untuk memperbaiki hidup
dengan menerima Qi positif. Qi atau dalam bahasa kita Chi,
diibaratkan dengan energi, terdapat di alam sebagai energi yang tidak
terlihat. Ia memiliki lima elemen dasar, yaitu kayu, tanah, logam, api,
57

dan air. Di dalam Jepang, kita memiliki elemen kehampaan, udara, air,
api, dan bumi. Kita memanfaatkan elemen api dari metabolisme tubuh
manusia saat memproses makanan dalam perut. Di saat itulah akan
keluar panas atau suhu yang berbeda dari magma dan lahar gunung.
Elemen api merupakan transformasi dan ekspansi. Ia merupakan
elemen paling stabil dari antara lima unsur elemen. Ia tidak
membahayakan nyawa selama proses pengendaliannya. Maka dari itu,
Kuroi Komori memilihnya.
Berbeda dengan Kuroi Karasu, mereka pengendali air dan
angin. Pengendali angin lebih banyak daripada pengendali air.
Mengendalikan air dalam tubuh saja tidak mudah. Bila tidak berhatihati, air dapat mengalir masuk menuju paru-paru dan membahayakan
orang itu sendiri. Pengendali angin yang sudah ahli kebanyakan
melanjutkannya dengan air. Mereka menarik keluar cairan tubuh
mereka sendiri. Pertama-tama dari air yang mereka lihat di luar,
misalnya kolam, air mancur, laut, danau, sumur, dan masih banyak.
Tiap kali ada air, selalu ada angin. Lalu tahap selanjutnya, dari air hujan.
Dan yang terakhir dari cairan tubuh mereka sendiri. Inilah tahap yang
paling berbahaya di mana mereka harus berhati-hati, atau kalau tidak
mereka akan kehilangan oksigen ataupun cairan tubuh. Setelah semua
tahap itu berhasil, mulailah mereka melanjutkannya dengan
pembekuan. Angin yang ada di sekeliling mereka digunakan untuk
membekukan air, seperti halnya freezer.
Mungkin bagi orang, api lebih mengerikan ketimbang
angin dan air. Ia melukai banyak orang. Bahkan ada pula orang yang
berkata Aku lebih baik mati membeku daripada dibakar hidup-hidup,
atau Aku lebih baik mati tenggelam daripada harus menjadi korban
kebakaran. Tapi bagi kita, api merupakan sumber kekuatan. Oleh
karena itu kita tidak bisa mati terbakar, karena kita dilindungi api itu
sendiri. Di sisi lainnya, Kuroi Karasu mampu bertahan lama dalam air.
Kita memang kebal api, tapi kita bisa mati karena ledakan, dan

58

terkadang ledakan itu sendiri berasal dari api. Takigawa-san


menjelaskan seraya menyeruput teh di cangkirnya.
Kalau begitu, apa hubungannya dengan Kurobake yang
menyerang sekolah kita? tanyaku. Kurobake adalah makhluk...,
bukan, maksudku manusia gagal yang hilang. Mereka berbentuk
seperti laba-laba dengan enam kaki, memiliki ekor seperti kadal.
Mereka memangsa manusia utuh yang lain sebagai makanannya.
Seperti kau bisa bilang, musuh memerlukan kawan untuk berperang.
Tidak ada yang dilawan oleh iblis bila tidak ada Tuhan. jawab
Takigawa-san. Kalau begitu mereka... kanibalis? sahut Daiki. Jauh
dari kanibalis. Mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Bagi
mereka, itulah makanan mereka, jawab Takigawa-san, Lebih lagi...
mereka menyerap elemen dasar kita.
Suasana menjadi hening. Rasa ngeri mulai terselip. Dou
yuu koto desuka (apa maksudnya)? tanya Daiki. Ekspresinya masih
tenang. Tampaknya kalian belum lihat orang yang dimakan habis oleh
Kurobake, ya? balas Takigawa-san. Ia berjalan meninggalkan kami di
sofa dan kembali sambil membawa Contactor nya yang kini menjadi
sebuah tab. Ia membuka aplikasi video, dan mem-play sebuah video
pendek. Inilah Kurobake. Ini terjadi beberapa bulan yang lalu, di
pangkalan Sapporo. Seorang nelayan yang sedang menangkap ikan,
menangkap sebuah makhluk hitam di jaringnya. Tak lama kemudian,
ekor makhluk itu menjulur dan mencekiknya. Dalam hitungan detik,
seperti yang kau lihat, manusia itu mengering dan hanya tersisa tulang
belulangnya saja.
Aku bergidik ngeri melihat video itu. Normalnya, Kurobake
menyerap semua elemen dalam tubuh manusia karena sistem dalam
tubuh mereka sudah mati, sedangkan tubuh manusia dan hewan untuk
makanan mereka, untuk bertahan hidup. Mereka masih melakukan
sistem reproduksi, tapi secara aseksual. Seperti cacing pipih, mereka
berkembang biak dengan fragmentasi. Mendengar penjelasan
Takigawa-san, gambaran itu tergambar jelas di dalam kepalaku. Ki...
59

kimochi warui (menjijikkan)... ucapku. Tonikaku ne (yang lebih


penting lagi), otagai kiotsukimasho (mari kita sama-sama berhati-hati).
Bila kalian melihat salah satu dari mereka, jangan ragu-ragu untuk
membunuhnya, lanjut Takigawa-san.
Suasana masih tegang. Tak ada salah seorangpun dari kami
yang kembali berbicara. Daiki yang tadi masih nampak tenang kini
terdiam membatu di sofa. Takigawa-san tersenyum tipis. Jangan
terlalu dianggap serius sampai seperti itu. Kalian tak perlu takut akan
membunuh mereka. Mereka adalah jiwa mati. Tubuh mereka hidup,
tapi jiwa mereka mati. Kalian tak perlu khawatir akan membunuh
makhluk itu. Kita mengembalikan apa yang sudah mati kembali ke alam
mati. Takigawa-san menjelaskan. Mengembalikan apa yang telah
mati... kembali ke alam mati... Daiki merenung. Takigawa-san, apa...
tidak ada cara lain yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan mereka
dari kegelapan itu? Apa mereka tidak bisa sadar? Mungkin... melalui...
Tidak ada, Takigawa-san memotong pertanyaanku. Itulah yang
menyedihkan. Kita tak bisa melakukan apapun. Mereka tidak tahu apa
yang mereka perbuat, tapi kita hanya memusnahkan mereka.
Takigawa-san tampak menyesal seraya menundukkan kepalanya.
Aku dan Daiki masih memerhatikannya. Tak lama kemudian,
lagi-lagi Takigawa-san tersenyum tipis. Saa (nah), ocha o nominasai
(silakan minum teh), ucapnya kemudian. Aku dan Daiki berpandangan,
kemudian mengambil secangkir teh lalu menyeruputnya. Kore wa (ini,
kan)... Camomile Tea... ucapku.

Aku berjalan pulang dengan lemas. Ah..., aku tak tahu


sekolah akan melelahkan sampai begini! ucapku. Tenanglah.
Sebentar lagi, kan, libur musim dingin. Daiki tiba-tiba melontarkan
pendapat konyolnya. Kau hanya berusaha mengerjaiku, kan?
Sementara yang lain liburan, kita harus menjalankan misi, tahu!

60

ucapku. Eh...? Misi, ya? Pasti berat untukmu. Ucapannya semakin


membuatku kesal. Aku benar-benar ingin cepat liburan! lanjutku lagi.
Aku berjalan pulang menuju kuartir. Kupikir akan lebih
menyenangkan menghabiskan waktu bersama teman-teman
ketimbang hanya tidur-tiduran di rumah. Aku mengirim pesan pada
mamaku kalau aku akan menginap bersama temanku selama liburan.
Yah..., meskipun liburan masih minggu depan, tapi aku sudah ingin
memanjakan diriku di asrama kuartir mulai hari ini.
Aku dan Daiki berpisah arah di lorong tengah. Ketika
berjalan ke kamarku, aku berpas-pasan dengan niichan. Ara (oh)...?
Ore no imouto ga kaeta no (adik kecilku sudah pulang ya)? Kenapa tidak
pulang ke rumahmu? sahutnya dengan suara yang menggelikan. Aku
tertawa kecil. Aku bosan di rumah. Aku bilang pada mama aku akan
menginap bersama teman selama liburan, jawabku. Tapi ini, kan,
bukan liburan. Ah..., lagi-lagi kau berbohong. Anak kecil tidak boleh
berbohong, tahu? Itu, kan, sudah diajarkan sejak Sekolah Dasar,
ucapnya lagi masih dengan suaranya yang menggelikan. Aku dan
niichan sama-sama tertawa. Sudahlah. Tidak apa juga kau menginap
di sini. Aku yang akan menjagamu, kata niichan. Aku tersenyum tipis.
Terkadang bersamanya terasa hangat, seperti aku memiliki
kakak sendiri. Niichan mengacak-acak rambutku kemudian mencubit
hidungku sambil berkata, Cepat ganti bajumu. Kita jalan-jalan di
pekarangan belakang.
Aku tersenyum kecil dan langsung berlari ke kamar untuk
berganti pakaian. Bagiku, saat itu merupakan saat yang langka bagi
niichan untuk mengajakku keluar. Dengan kata lain, jarang sekali. Selain
tugasnya sebagai anggota OSIS, ia juga merupakan pemimpin distrik
sembilan. Aku keluar dari kamarku setelah selesai berganti pakaian dan
menemuinya di lorong tengah tadi. Seperti biasa, kau selalu cepat
berganti baju ketika akan diajak pergi, sahutnya. Apa niichan tidak
ganti baju? tanyaku. Tidak, jawabnya lagi, Aku sudah tidak sabar
61

ingin keluar. Aku tertawa kecil. Niichan meletakkan lengannya


melingkar di leherku seraya menggiringku keluar. Sebelum sampai di
pekarangan belakang, ia mentraktirku sebuah kue cokelat di cafeteria.
Hisashiburi da ne (sudah lama sekali ya)? ucapku seraya
menarik napas dan menghempaskannya. Udara di pekarangan
belakang selalu sejuk dan segar, dengan pasokan oksigen dari berbagai
macam pohon yang tumbuh.
Nani ga hisashiburi da (apanya yang sudah lama)? Bukannya kita
cukup sering bertemu? balas niichan sambil mengkerutkan keningnya.
Hm..., tapi kalau dilihat dari status kita sebagai saudara sepupu, kita
sangat jarang bertemu. Aku kembali melontarkan pendapat.
Niichan tertawa. Wakatta (aku mengerti), wakatta (aku mengerti). Aku
akan menggantikan kekosongan waktu kita sebelumnya.
Oh, ya, niichan. Aku ingin bertanya padamu, tapi sebelumnya
berjanjilah dulu.
Berjanji apa? tanya niichan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Berjanji untuk tidak marah.
Niichan semakin terlihat heran.
Untuk apa aku marah? katanya.
Niichan, apa benar kau pernah ditembak adik kelasmu? Kalau tidak
salah, namanya... Ooyama Reiko. ucapku memulai pembicaraan.
Mata niichan terbelalak lebar. Dari caranya menarik napas, sepertinya
ia akan berteriak dengan terkejut dan akan menyebabkan pencemaran
suara. Sebelum itu terjadi, aku sudah menghentikannya dulu.
Kuletakkan jari telunjukku di depan mulutnya supaya ia tidak berteriak.
Eit..., eit.... Aku sudah bilang untuk tidak marah, kan? sahutku.
Bukan itu maksudku! Itu, kan, rahasia yang selalu terkunci di bawah
tanah, terkubur berabad-abad, tak seorangpun mengetahuinya dan tak
62

seorangpun boleh mengetahuinya! Tapi sekarang kenapa ada lagi yang


mengetahuinya? Ditambah lagi kau tahu namanya! ucap niichan
dengan cepat tanpa jeda dan intonasinya yang seperti membacakan
puisi. Sejak memasuki SMA, ia memang sedikit puitis. Entah apa itu
bertujuan untuk menarik hati para wanita agar mau jadi pacarnya?
Aku tertawa.
Rahasia tidaklah selalu akan menjadi rahasia. Kebohongan tidak akan
terus bertahan lama, kan, niichan? ucapku,
Tiba-tiba sebersit rasa tidak enak lewat. Kebohongan tak akan terus
bertahan lama? Kalau begitu..., apa aku takkan bisa menyimpan fakta
tentang Yusuke-senpai? batinku terus bertanya-tanya.
Niichan melambai-lambaikan
membuyarkan lamunanku.

tangannya

di

depan

mataku,

Kau... belakangan ini banyak melamun. Apa yang sedang kau


rencanakan di kepalamu? ucapnya.
Aku mengedip-ngedipkan mataku dan tersadar.
Eh? I... iiya (tidak), iiya (tidak). Aku tidak merencanakan apa-apa, kok!
Oh..., begitu, ya. Aku tidak percaya kau tidak sedang merencanakan
sesuatu. Kau pasti sedang merencanakan untuk bagaimana menjahiliku
dengan nama Ooyama Reiko itu, kan? Tapi aku percaya dan yakin kalau
yang membocorkan rahasia itu adalah Watanabe Yusuke, kan?
Aku tertawa kecil.
Sebenarnya iya, sih.... Ehehehe.... Tapi sebenarnya kenapa kau begitu
risih ketika ditembak oleh adik kelasmu? Maksudku, bukannya di
sekolah kau memang punya banyak fans? tanyaku lagi.
Memang, sih.... Tapi kau tidak tahu bagaimana rasanya ditembak oleh
adik kelas. Dia sering membuntutiku, menggenggam tanganku, lalu
memberiku bekal makanan. Arrgh, itu mengerikan!
63

Lagi-lagi aku tertawa kecil.


Keberatan jika menceritakan awal mulanya padaku?
Niichan tampak berdeham. Ia pun mulai bercerita.
Semuanya itu bermula ketika pertama kali aku masuk sekolah sebagai
siswa kelas 2-3. Aku sangat senang mengetahui hasil ujianku sesuai
dengan harapanku. Aku juga sekelas dengan gang ku, Atsushi, Ikeda,
Terumi, dan Yukie. Kupikir di kelas dua ini akan menjadi saat-saat yang
menyenangkan. Kau tahu, kan, kalau aku punya banyak fans?
Aku mengkerutkan bibirku. Dasar sok Pe-De! balasku.
Niichan tertawa kecil.
Baik, baik. Kita takkan membicarakan soal fans ku. Lalu, seiring
berjalannya waktu, aku dipanggil pembina OSIS dan aku dipilih sebagai
anggota OSIS tahun ini bersama beberapa teman-temanku yang lain.
Beberapa di antara kami adalah mantan OSIS yang kembali dipilih.
Bahkan ada yang naik pangkat. Salah satunya Yusuke yang dulunya
anggota OSIS, sekarang menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS. Niichan
mengedipkan sebelah matanya.
Aku mengkerutkan bibirku, mengetahui tujuan niichan untuk
menjahiliku. Niichan tertawa menanggapi reaksiku yang seperti itu.
Di dalam pemilihan itu, salah seorang siswi kelas satu yang baru
pindah ke SMA Homikaze terpilih menjadi sekretaris OSIS. Suatu kali
ada pertandingan basket antarsekolah. Aku dipilih menjadi salah satu
panitia lomba, bersama dengannya dan yang lain. Sejak saat itu aku
menjadi dekat dengannya. Aku bahkan membantu beberapa tugasnya.
Itu pun sebenarnya bukan kemauanku. Sesuatu memaksaku untuk
melakukannya.
Sesuatu apa? Kata hatimu? ledekku.
Bu... bukan semacam kata hati! Aku tak tahu bagaimana
menggambarkannya, tapi... dia itu anak yang payah. Ketika diminta
64

memasukkan bola basket yang berserakan ke dalam keranjang, entah


sengaja atau tidak, selalu saja ada beberapa bola yang terjatuh dan
pasti ada orang-orang yang menertawainya.
Flashback
-Takemarus StoryHuh, lihat itu! Mengangkat bola saja tidak bisa? Begitu dia dipilih
menjadi OSIS? Seperti anak payah! begitu ucap salah seorang di
lapangan basket diiringi tawa temannya.
Kuperhatikan tiap tetes keringat yang mengucur di sekitar pipinya. Ia
nampak sudah berusaha keras. Entah apa dia yang payah, atau apakah
memang ia tak bisa? Astaga..., dengan kemampuan seperti itu dia bisa
masuk SMA? Kurasa aku tak punya pilihan lain selain membantunya,
sebelum pelatih masuk dan mengoceh. Aku menghampirinya, yang
nampaknya kesulitan membawa bola di dalam keranjang itu.
Berikan aku keranjangnya, perintahku. Reiko, yang kami semua juluki
sebagai gadis payah itu pun menyerahkan keranjangnya padaku.
Kalau tak bisa, jangan memaksakan diri. Minta tolong kakak OSIS
lainnya saja.
Apa kau juga OSIS? tanyanya dengan nada seperti tidak tahu.
Aku menghela napas, kemudian kujawab, Kalau aku bukan OSIS, aku
takkan ikut dalam tugas menyebalkan ini! Terlebih lagi kau, pekerjaan
semudah ini seharusnya bisa kaukerjakan sendiri, kan?
Raut wajahnya tiba-tiba nampak seperti orang bersalah.
G... gomen nasai (maafkan aku). Aku... memang payah, tak pantas
jadi anggota OSIS!
Kalau begitu jangan mau menerima jabatanmu sebagai OSIS dari
awal! Semua orang sudah menaruh harapan padamu, tapi kini kau
mau berhenti?

65

Entah mengapa, setiap kata-kata kasar itu meluncur keluar dan tanpa
kusadari, aku mungkin telah melukai perasaannya.
Go... gomen nasai (maafkan aku), ucapnya lagi.
Aku terdiam.
Kemarilah. Biar kulihat lenganmu, sahutku.
Gadis payah itu menghampiriku, dan menunjukkan tangannya yang
sudah memerah dan lecet. Aku mengeluarkan obat spray dari backpack
ku, kemudian menyemprotkannya ke tangannya yang lecet itu.
Arigato (terima kasih). Watashi wa Ooyama Reiko (aku Ooyama Reiko).
Eeto... namae wa (namamu siapa)? kata gadis itu.
Ore Yuzuru Takemaru (aku Yuzuru Takemaru), balasku seraya
mengulurkan tanganku. Ia menjabat tanganku tanpa berkata apapun
lagi.
Lama sudah sejak kejadian itu terjadi. Entah apa dia
menjadi Ge-eR padaku, mengira aku menyukainya, Reiko menjadi
terlalu perhatian denganku. Ia mengetahui aku membenci rapat OSIS,
dan seusai rapat ia selalu memberiku makan siang, menungguku di
lapangan parkir saat pulang, hingga mengajakku makan siang di kantin
dan menungguku di sana.
Aku tak pernah menganggap semua perbuatannya itu sebagai simpati,
atau bentuk terima kasihnya karena aku telah menolong banyak
baginya. Karena itu, aku mulai diledek murid-murid lainnya. Setiap kali
ada dia, selalu ejekan baru muncul.
Takemaru-senpai, aku membawa rice ball kesukaanmu! sahutnya
tiba-tiba saatku duduk di kelas.
Iiya da (tidak). Kau lebih baik makan saja itu. Kau lebih
membutuhkannya daripadaku, balasku.
Tapi ini dari okaasan. Ia bilang untuk terima kasih...
66

Sudah kubilang, tidak usah, Reiko.


Aku berusaha menjauhinya yang berusaha mendekatiku. Tapi ke
manapun aku pergi, bayangannya selalu seperti mengikutiku.
Oi, Takemaru! Lagi-lagi paparazzi baru, ya? sahut Yusuke.
Nanda yo (apaan sih), Yusuke! Jangan mentang-mentang kau Wakil
Ketua OSIS baru!
Bukan, kok. Aku hanya berturut bahagia karena akhirnya kau
menemukan pasanganmu setelah bertahun-tahun dikejar-kejar
wanita! Yusuke tertawa sembari berjalan meninggalkanku.
Dakara sonna n ja nai tte (sudah kubilang bukan begitu)!
Sekalipun aku tak pernah menganggapnya yang mengejar-ngejarku.
Akhirnya suatu saat, mendekati musim gugur, ia pindah sekolah.

Aku tak tahu apa yang kurasakan saat itu. Bukannya merasa senang
karena kepergian penggangguku, tapi ada perasaan lain di tengahtengah itu, niichan melanjutkan ceritanya.
Aku ikut terhanyut dalam ceritanya.
Itu rasa bersalah, sahutku.
Yah..., kurasa semacam itu. Niichan menoleh ke arahku. Jaa (nah),
modoru ze (ayo kita kembali). Kau yakin memutuskan untuk tinggal di
sini? lanjutnya seraya berdiri.
Atarimae desho (tentu saja). Aku tidak punya pilihan lain, kan?
Belakangan ini kata orang-orang akan ada banyak misi.
Oh..., jadi kau sudah mengetahuinya? Kalau begitu, selamat berjuang,
ya! Tidak hanya saat misi nanti, tapi mulai sekarang! Niichan menepuk
bahuku dua kali.

67

Aku menghela napas. Akan jadi apa hari-hari sebelum maupun ketika
misi nanti? Begitu kupikir aku bisa beristirahat, ternyata ada misi
pemburuan Kurobake itu!
Niichan, matte (tunggu)! seruku mengejarnya ketika ia sudah
berjalan meninggalkanku, sementara ia menggigit kue cokelatnya itu.
Berlalu sudah hari itu. Aku menghabiskan sisa waktu
sekolahku sebelum libur musim dingin dengan malas-malasan. Aku
tetap mencatat apa yang diterangkan guru. Tapi itu hanya mencatat,
dan tidak memerhatikannya di kelas. Sesekali aku suka membuntuti
SMA dengan indera kelelawar. Dan sesekali ketika mengerjakan PR,
Daiki ikut membantuku, terkhusus Kimia.
Hari demi hari rasanya seperti beban ketika kembali
kupikirkan tentang libur musim dingin yang padahal tinggal seminggu
lagi, kini terasa seperti masih tahun depan. Aku berulang kali diajak
pergi dengan Megumi dan Yukari, bersama Daiki tetapi itu tidak
berhasil menghilangkan rasa gelisahku menunggu liburan tiba.
Senin, 15 Desember 2014
Waktu yang kutunggu-tunggu pun telah tiba. Akhirnya libur
selama kurang lebih dua minggu itu telah tiba. Kami akan masuk
kembali pada hari Senin, 5 Januari 2015. Tentu saja, dalam waktu
kurang lebih dua minggu itu tidak bisa kami gunakan hanya untuk
bersantai-santai saja, terlebih lagi bagi kami, para anggota Kuroi
Komori. Para siswa siswi kelas satu sampai tiga mendapat jatah tugas
selama libur musim dingin ini. Bagi para siswa-siswi kelas tiga, kami
diwajibkan untuk menyelesaikan duaratus nomor soal dalam buku
paket Ujian masuk SMA. Tidak hanya itu, juga beberapa PR dari guruguru di bidang studi seperti Bahasa Jepang, Bahasa Inggris, Sains, dan
Matematika, Sosial.
Selama liburan aku memutuskan untuk tinggal di asrama,
supaya aku bisa segera mengetahui bila sewaktu-waktu ada panggilan
68

misi. Tentu saja, aku juga ikut mengambil bagian membantu kepala
distrik dengan surat-surat dan data-data distrik, maupun data milik
musuh. Aku tetap menjaga dan sangat berhati-hati agar informasi
tentang Yusuke-senpai tidak bocor sampai ke niichan.
Aku meminta ijin pada mama untuk tinggal di rumah teman,
meskipun sebenarnya aku tinggal di asrama untuk beberapa saat. Tidak
mungkin, kan, aku menyebutkan asrama pada mama? Ia pasti tidak
akan percaya kalau aku bilang asrama di sekolah, karena sekolah
Homikaze dari SD sampai SMA tidak memiliki asrama. Dan tentu saja,
menghabiskan waktu di asrama bersama kru-kru dan teman-temanku
yang lain lebih menyenangkan ketimbang berdiam diri di rumah. Di
samping itu, aku dengan mudah bisa meminta bantuan niichan dalam
belajar untuk mempersiapkan ujian-ujianku. Mulai bulan Januari
hingga Maret mendatang, kami hanya memiliki sisa Ujian Praktik, Ujian
Sekolah, dan Ujian Kelulusan.
Ketika berjalan di sekitar lokasi ruangan Takeshi-sama,
sesekali kulihat beberapa orang yang secara tidak sengaja bertemu
dengan tempat ini, tersesat. Memang, hutan tempat dibangunnya
kuartir kami sering disebut sebagai hutan angker oleh banyak orang.
Penyebab utamanya adalah banyaknya orang yang putus asa lalu
memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di hutan ini, selagi tidak ada
siapapun yang melihatnya. Lalu penyebab kedua, hutan ini dijaga oleh
kawanan kelelawar yang siap sedia memangsa siapapun atau apapun
yang berusaha menyusup masuk, tak terkecuali para kru Kuroi Karasu.
Ketika seseorang berusaha menyusup kuartir kami, mereka ditemukan
tewas mengering esok paginya. Memang, di kuartir kami memiliki
penjagaan yang ketat. Ada beberapa senpai yang bukan pemimpin
distrik namun sudah rank class ditugaskan untuk menyelesaikan misimisi berat sekaligus menjaga keamanan kuartir.
Saat itu, seorang pria diminta untuk dengan jujur apa yang
membawanya datang ke kuartir ini dalam keadaan panik tak karuan.
Ternyata, ia sedang di-bully oleh teman-temannya dan sering
69

dimanfaatkan untuk mengerjakan PR mereka. Yah..., aku tak terkejut,


sebab hal seperti itu sudah sering terjadi, terutama di SMP dan SMA.
Takeshi-sama menawarkannya untuk bekerjasama dengan kami dalam
organisasi Kuroi Komori, tapi nampaknya ia ketakutan dan menolak
karena ia tak berani dan tak bisa membunuh orang lain.
Maka karena itu, Takeshi-sama meminta salah seorang
senpai untuk menghilangkan ingatannya tentang semua yang ia lihat
dan temui dari perjalanannya ke hutan ini, hingga sampai di kuartir ini.
Senpai itu juga diminta untuk meletakkannya di luar area hutan. Haah...,
hal-hal semacam itu tidak jarang kutemui. Ternyata disakiti seperti
apapun, seseorang terkadang tidak memiliki keberanian untuk
membunuh orang lain. Mereka tidak memiliki kebencian yang cukup
menggelapkan dan menutup hati mereka.
Ketika sedang asyik mengintip pembicaraan Takeshi-sama,
dari belakang dapat kurasakan seseorang berjalan lalu menepuk
bahuku. Nani o shiteimasuka (apa yang sedang kau lakukan)? Aku
terkejut. Pasalnya, suara itu tidak terdengar seperti suara niichan,
melainkan suara orang lain. Dari suaranya yang basah dan datar itu
dapat kurasakan pula aura darah dinginnya yang keluar itu. Rasanya
seakan dalam sekejap ia bisa saja membasahi tubuhnya dengan
darahku. Benar. Siapa lagi kalau bukan Hiroyuki-senpai?
Aku menoleh ke arahnya, berusaha menyembunyikan rasa
takutku. Ah..., tidak, tidak. Aku hanya ingin mengembalikan beberapa
buku yang sudah ditandatangani kembali ke perpustakaan.
Shitsureishimasu (permisi)! ucapku. Mou (duh)..., aku sungguh
penakut! Iiya (tidak), iiya (tidak)! Mulai sekarang, aku harus menjalin
hubungan baik dengan pemimpin distrik baruku ini! Bagaimana
caranya dan apapun hasilnya! Aku akan menepati janjiku pada Orenjisenpai! Zettai da (itu pasti)! ucapku berusaha menyakinkan diri.
Aku melangkahkan kaki menjauh dari tempat itu dan
kembali melanjutkan pekerjaanku. Oi, omae (kau)! Kuhentikan
70

langkah kakiku begitu menyadari Hiroyuki-senpai memanggilku. Kau


anggota distrik tujuh, kan? lanjutnya. Ha... hai (iya)! jawabku.
Bisakah kau ikut aku sebentar? Aku akan melakukan koordinasi
dengan beberapa anggota distrik tujuh lainnya mengenai misi yang
akan kita lakukan, katanya. Dengan semangat, aku pun menjawab,
Hai (baik)! Wakarimasu (aku mengerti)!
Hiroyuki-senpai beserta beberapa anggota distrik tujuh
lainnya berkumpul di ruang pemimpin distrik. Kebetulan saja ruangan
itu sedang kosong, jadi kami bisa melakukan pemetaan di sana.
Hiroyuki-senpai memilih anggota distrik tujuh antara lain aku, Saiko,
Naoto, Yuuki, dan Daiki. Semuanya akan berjalan sesuai pemetaan.
Daiki dan Yuuki akan pergi berpasangan, begitu pula dengan Saiko dan
Naoto. Sedangkan aku bersama dengan Hiroyuki-senpai.
Segera seusai pemetaan, kami langsung berangkat menuju
lokasi. Sangat tidak beruntung kami harus memasuki daerah pedesaan!
Uuh..., menyebalkan! Jalanannya begitu sempit sehingga kami harus
terus berjalan dengan tanpa menggunakan kendaraan.
Kami sampai di sana pukul setengah sembilan pagi. Di sana
kami sudah sempat berbicara dengan Kepala Desa, Hiro-san. Kami tidak
memakai seragam Kuroi Komori, tapi kami sudah menjelaskan detail
nya padanya dan mendapat ijin masuk. Sesuai pemetaan, kami
berpencar masing-masing menuju tempat yang sudah ditentukan.
Dalam perjalanan, aku masih kaku dan tak tahu harus berbicara apa
dengan pemimpin distrik baruku ini.
Aku tak tahan dengan semuanya. Aku pun memutuskan
untuk memecah keheningan dan mulai berbicara padanya. Baru akan
memulai pembicaraan, Hiroyuki-senpai sudah berbicara dahulu.
Kiotsukero (hati-hati), ada yang mengikutimu!
Aku menoleh ke belakang, kanan, dan kiri. Tapi tak dapat kulihat
apapun yang mencurigakan.
71

Doko desuka (di mana)? tanyaku.


Lihat air itu!
Aku melihat ladang sawah yang terhampar luas di sampingku.
Perairannya tidak begitu jernih sehingga membuatku kesulitan mencari
apa yang dimaksud senpai. Tak lama kemudian sesuatu berwujud
seperti ikan besar berwarna gelap muncul mendadak dan menjulurkan
lidahnya seperti hendak menyerap darahku. Seekor Kurobake. Ia
berhasil menjerat leherku dengan lidahnya itu. Kucoba untuk
melepaskannya dari leherku, tapi hasilnya nihil. Aku dapat merasakan
darahku dihisap dengan cepat olehnya. Keadaan di desa pun ricuh.
Ketika kupikir aku akan mati kehabisan darah, tiba-tiba
seekor ular muncul dan menggigit leher Kurobake itu dan seketika ia
mengering. Aku terbatuk-batuk, merasakan sakit pada leherku akibat
jeratan yang sangat ketat dari lidah Kurobake itu. Aku pun
menyembuhkannya dengan kekuatanku. Setelah aku pulih, aku
langsung menoleh ke arah Hiroyuki-senpai. Aku masih terkejut karena
ia baru saja mengeluarkan ular dari tubuhnya.
Hiroyuki-senpai...
Aku bisa menggunakan ular di samping kelelawar. Tapi sekali lagi, di
dalam mulut ular itu terdapat api transparan yang langsung membakar
tubuhnya hingga kering.
Api transparan?! Tapi bukannya itu hanya bisa dikendalikan oleh
orang-orang tertentu?! seruku dengan sangat terkejut.
Dan aku adalah salah satunya, jawab senpai.
Aku masih melongo. Aku pun kembali berpikir. Kini, ada empat orang
terkuat di distrikku yang bisa mengendalikan api transparan. Setahuku
sampai saat ini hanya Takeshi-sama, Takemaru-niichan, dan Takigawasan yang bisa mengendalikan api itu. Aku tak menyangka kini Hiroyukisenpai juga akan menjadi salah satu pengendalinya.
72

Api transparan adalah api yang paling cepat merambat dan


membakar apapun yang disulutnya di antara api kuning, api merah, api
biru, api hijau, api putih, dan api hitam. Dalam pelatihan Kuroi Komori,
tahap dasar yang harus dikuasai adalah api kuning dan merah, api
amarah kita sendiri. Kemudian, berlanjut ke api biru. Ia tidak digunakan
untuk membakar, dan bisa digunakan sebagai pelindung tahap awal.
Tahap selanjutnya adalah api hijau. Ia memiliki fungsi ganda, selain
untuk menyerang, ia bisa digunakan sebagai pelindung yang sangat
kuat, melebihi api biru. Api putih adalah api pencucian. Ia bukan untuk
exorcist, tetapi untuk menghapus kekuatan jahat. Lalu ada api hitam,
api yang takkan pernah bisa mati tanpa para pengendali api yang
memadamkannya sendiri.
Di antara semua itu, api transparanlah yang paling efektif
untuk digunakan, terutama pada musuh-musuh kuat. Kita bisa
membakar mereka kapan saja tanpa mereka sadari, kecuali bila mereka
menggunakan salah satu sistem indera yang bisa merasakan
keberadaan api itu. Tapi sekali lagi, ia hanya dikuasai oleh orang-orang
tertentu yang sudah melewati tahap-tahap pelatihan yang berbeda
dari kami dan berhasil membangkitkannya.
Aku masih melongo menatap senpai yang barusan melakukan teknik
menakjubkan itu.
Apa kau masih ingin berdiam dan menunggu Kurobake selanjutnya
menyerap habis darahmu? sahut Hiroyuki-senpai membuyarkan
lamunanku.
Eh? A... ah, sumimasen (maaf). Aku hanya sedikit terkejut.
Inikah pertama kalinya kau melihat pengendali api transparan?
Tidak juga. Sebelumnya ada Takeshi-sama, Takemaru-niichan, dan
Takigawa-san. Tapi, bukankah itu hebat juga? Setelah beberapa kali
tahap pelatihan sulit itu, kau berhasil mengendalikan api transparan!

73

Hiroyuki-senpai mengangkat sebelah alisnya, merasa aku salah paham


akan sesuatu.
Sugoi (hebat)? Ore ga (aku)? ucapnya.
Sou desho (benar kan)? Maksudku, tidak hanya kau. Tapi karena kau
yang kali ini sedang bersamaku, aku mengatakan kau hebat!
Omae (kau itu)... ore no koto kowakunai no ka (apa kau tidak takut
denganku)?
Sore wa (sebenarnya)... chotto (sedikit)... eeto (anu)...
Kalau memang begitu, bicara saja tidak apa!"
Aku tertawa kecil. Sebenarnya perkataannya ada benarnya juga. Rasa
takut masih saja belum meninggalkanku. Hanya saja, aku berusaha
memulai topik pembicaraan lain untuk memudarkan rasa takut itu.
Tapi, senpai, kenapa kau begitu ditakuti oleh banyak kru? Menurutku,
dari luar kau tidak begitu seram, apalagi ketika sudah berkenalan
denganmu, lanjutku.
Aku orang yang tak kenal ampun.
Eh? Apa maksudmu?
Hiroyuki-senpai tidak menjawab. Ia memalingkan pandangannya
dariku.
Kau akan segera mengetahuinya nanti. Tak perlu kuceritakan,
jawabnya kemudian. Ia pun berjalan melaluiku.
Aku masih memerhatikannya berjalan melewatiku tanpa menjawab
pertanyaanku. Penasaran pun kembali memaksaku untuk bertanya,
tapi aku lagi-lagi tidak memiliki keberanian.
Oi, Mina! Suara teriakan itu tiba-tiba memecahkan pemikiranku.
Daiki, Yuuki, Sako, dan Naoto telah kembali. Nampaknya mereka
mendengar kegaduhan itu.
74

Anatatachi (kalian)!
Daijoubu ka (kau baik-baik saja)? kata Naoto.
Lebih penting lagi, bagaimana keadaan di sana? tanyaku.
Ya, kelihatannya di sana juga memerlukan bantuan, jawab Daiki.
Aku berpandangan dengan Hiroyuki-senpai beberapa saat.
Isoide (ayo cepat)! kata Hiroyuki-senpai.
Kami segera berangkat menuju tempat Naoto dan Saiko. Sesampainya
di sana, sepertinya apa yang Daiki bilang benar. Keduanya saling
berjuang menghabisi Kurobake itu.
Jangan hanya berdiri di sana, cepat bantulah kami! seru Naoto dari
kejauhan.
Mou genkai da (aku sudah mencapai batas)! lanjut Saiko sambil
menembakkan apinya lagi ke arah Kurobake itu.
Aku tercengang.
Kalau begitu caranya, kau bisa membakar desa ini! ucapku.
Aku pun datang mendekatinya bersama dengan Daiki. Daiki langsung
mengeluarkan rantainya dan seketika menjerat beberapa Kurobake itu
menjadi satu. Aku pun langsung menembakkan apiku ke arah mereka
dan menyebabkan mereka mati mengering seketika.
Aku menghela napas lega.
Yoshi (baiklah)! Selesailah sudah! ucapku bangga.
Sementara itu, teman-temanku yang lain nampaknya kehabisan napas
sampai terengah-engah.
Aku tidak tahu Kurobake akan menjadi merepotkan begini! kata
Naoto.
Kukira aku akan mati kehabisan darah! lanjut Yuuki sambil
memegangi lehernya yang baru saja dihisap oleh Kurobake itu.
75

Kita itu sama-sama penghisap darah! Jangan rendahkan diri pada


Kurobake sialan itu! ucapku.
Menurutmu begitu mudah, ya, Mina! Aku begitu tak berdaya ketika ia
menjeratku sampai tak bisa bernapas! Haah..., kukira aku akan benarbenar mati! kata Saiko.
Sementara memulihkan tenaga kami yang hilang, tiba-tiba seorang
kakek tua datang menghampiri kami.
Ano (anu)... anatatachi wa doko no hito desuka (siapa kalian)?
tanyanya.
Hiroyuki-senpai menoleh ke arahnya.
Kami... kami.... Aku masih terputus-putus karena bingung apa harus
mengakui bahwa kami benar-benar anggota Kuroi Komori atau tidak.
Tapi bila dipikir-pikir, Kepala Desa inilah yang memang mengirim surat
panggilan kepada Takeshi-sama. Pasti di antara mereka sudah terikat
perjanjian.
Kami adalah anggota Kuroi Komori yang sudah dipanggil oleh Hiro-san,
Kepala Desa. Aku Hiroyuki Kazuo, kata Hiroyuki-senpai.
Aku Takahashi Minakami, ucapku sambil menundukkan kepala diikuti
teman-temanku yang lain memperkenalkan diri satu per satu.
Aku Takafuji Saiko.
Aku Yokohama Yuuki.
Aku Masao Daiki.
Aku Ooiwa Naoto.
Sou desuka (begitu ya), ucap kakek itu, Senang kalian sudah hadir.
Aku Yamamoto Sano. Belakangan ini... desa kami sering terserang
wabah hewan itu.
Wabah hewan itu... bisa tolong jelaskan detailnya, Pak? tanyaku.
76

Sejak dulu, sewaktu kami masih muda, ada sebuah tradisi yang secara
turun temurun dilakukan di desa ini. Kau bisa lihat perbukitan di
sebelah sana? Yamamoto-san itu menunjuk ke sebuah perbukitan
yang terletak di arah jam sepuluh. Bukit itu nampak sudah runtuh.
Apa itu bukit, ya? ucap Saiko.
Tidak nampak seperti bukit, ya? Disebut gunung pun kurasa tidak,
lanjut Yuuki.
Kami menyebutnya Bukit Chi. Dari penampilan fisiknya, ia sangat
buruk rupa. Disebut gunung atau bukitpun tidak bisa. Namun, suatu
ketika terjadi ledakan bom penjajah yang dijatuhkan di desa ini. Para
penduduk desa berlarian dan bersembunyi di rumah mereka masingmasing.
Tetapi, ada seorang saksi mata yang mengatakan ia melihat
secara langsung bom dijatuhkan di dekat bukit itu, tetapi bukit itu tidak
runtuh sedikitpun. Para warga masih belum yakin akan pernyataannya
itu. Akan tetapi, sedikit demi sedikit para warga memercayai bukit itu
membawa keberuntungan bagi desa ini.
Saat musim panen, padi yang kami tanam selalu berhasil
tumbuh dengan subur. Sejak saat itulah, para penduduk mulai
memercayai bukit itu membawa banyak kelimpahan bagi kami. Maka,
kami mulai mengadakan ritual dan memberinya persembahan. Para
penduduk yang tidak percaya akan hal itu tetap mencari bukti bahwa
bukit itu sebenarnya tidak membawa keberuntungan apapun bagi desa
ini. Dan semenjak itu, salah seorang dari kami mencoba berhenti
memberi persembahan, dan ternyata memang benar bahwa panen
kami tetap berhasil.
Semenjak itu, ritual persembahan sudah dilupakan dan
karena itu, entah mengapa hewan-hewan seperti itu bermunculan dan
menyerang desa. Banyak penduduk terserang wabah penyakit, bahkan

77

meninggal. Hewan-hewan ternak pun banyak yang mati. Semua itu...


sepertinya ada hubungannya dengan bukit itu.
Melemahnya sihir..., ya? kata Saiko.
Mahou nanka ja nai n da (ini bukan sihir). Kau tahu? Tujuh tahun yang
lalu, di Amerika Serikat, sebuah gunung di belakang kuartir Kuroi
Shinobi runtuh secara tiba-tiba, setelah ritual persembahan berhenti
dilakukan. Aku tak yakin apakah kepercayaan kitalah yang
membiarkannya hidup, atau kepercayaan kita menunjangnya untuk
terus memberikan kita menerima kelimpahan, Daiki melontarkan
pemikirannya.
Sejak saat itu, kami menyesal telah memberhentikan ritual itu.
Apapun usaha kami, sudah terlambat karena bukit itu sudah runtuh.
Kalau tidak ada tindakan selanjutnya, lama kelamaan desa ini akan
menjadi makanan sekaligus tempat tinggal bagi para makhluk itu,
lanjut Yamamoto-san lagi.
Aku masih memerhatikannya dengan perasaan ngeri dan lama
kelamaan, kepalaku pun menjadi pusing.

Aku melempar batu kecil ke dalam sungai yang berada di


depanku. Masih dengan rasa lelah, kulemparkan batu kedua.
Yamete (hentikan itu), Mina. Kau akan mengotori sungai! sahut Saiko
yang sedang memasukkan air sungai itu ke dalam botol air mineralnya.
Benar-benar..., semua ini menyebalkan! Padahal aku kira aku akan
merayakan natal bersama dengan keluargaku, kenapa pada akhirnya
anjing-anjing itu tiba-tiba bermunculan? kata Yuuki.
Berhentilah mengeluh, Yuuki! Kau itu selalu mengeluh, seperti wanita
saja! kata Saiko.
Ah..., aku tak peduli apa yang ingin kaukatakan. Tapi... kira-kira
bagaimana bukit itu bisa berdiri, ya? lanjut Yuuki kembali berpikir.
78

Aku terdiam, masih menatap air segar yang mengalir di depanku.


Kalau tidak ada tindakan selanjutnya, lama kelamaan desa ini akan
menjadi makanan sekaligus tempat tinggal bagi para makhluk itu.
Kembali kuingat perkataan Yamamoto-san yang tak lama diucapkannya.
Apa Yusuke-senpai terlibat dalam kasus ini, ya? Kurobake to Kuroi
Karasu ka (Kurobake dan Kuroi Karasu ya)? batinku.
Tapi, apa kau yakin ini semua ada hubungannya dengan kepercayaan
penduduk sini? sahut Naoto.
Dou yuu koto (apa maksudmu)? tanya Saiko.
Maksudku..., apakah itu mungkin kalau pemberian persembahan
dihentikan lalu dampaknya sangat mengerikan begini? Paling tidak,
mungkin panen saja yang akan gagal, tetapi Kurobake tidak sampai
menyerang bahkan membunuh warga sekitar, kan? jawab Naoto
mengutarakan pemikirannya.
Itulah yang kupikirkan dari awal, Hiroyuki-senpai menyela.
Kenapa para Kurobake itu bermunculan dan menyerang penduduk di
sini, senpai? tanya Saiko.
Bukit yang dideskripsikan oleh Yamamoto-san, nampaknya bukan
bukit sungguhan. Ia bukan berasal dari alam.
Dou yuu koto desuka (apa maksudmu)? tanya Saiko lagi.
Kalau memang bukit itu berasal dari alam, bentuknya tidak akan
seperti itu. Gunung pun tidak akan berbentuk seperti itu.
Kalau begitu... Kuroi Karasu yang mendirikannya..., ya? sahutku.
Semuanya pun terkejut dan menoleh ke arahku.
Aa (ya), lanjut senpai, Kuroi Karasu adalah pengendali air dan udara.
Mereka tidak bisa mengendalikan tanah, batu, maupun energi lain
selain air dan udara. Akan tetapi ada seorang anggota di sana yang
79

mempunyai kemampuan khusus mengendalikan halilintar. Aku tak


ingat dengan benar siapa namanya. Ia adalah anggota baru.
Lalu bagaimana seorang pengendali air dan udara mendirikan bukit
seperti itu? tanya Yuuki.
Karena Kuroi Karasu adalah pengendali air dan udara, mereka tidak
bisa mendirikan benteng itu dengan baik. Hasilnya jelek. Bentuknya
yang unik membuat warga sekitar percaya bahwa bukit itu dapat
membawa keberuntungan bagi desa maupun warganya.
Kami semua terdiam. Kalau kupikir, memang ada benarnya juga
pendapat Hiroyuki-senpai.
Jadi maksudnya itu bukan bukit, tapi hanya benteng perlindungan
para Kurobake yang didirikan Kuroi Karasu? tanya Saiko.
Sou da (itu benar). Selama bertahun-tahun benteng itu mereka jaga
untuk tempat tinggal para Kurobake. Akan tetapi, suatu saat mereka
menyadari keberadaan kita yang mengincar mereka. Untuk itu mereka
berniat memindah lokasi persembunyian dan menghancurkan segala
bekas peninggalan mereka, termasuk bukit itu. Selama mencari tempat
tinggal baru, Kurobake memakan manusia dan ternak untuk bertahan
hidup.
Sebelumnya aku juga mendengar dari Takigawa-san. Kurobake
menyerap energi hidup di dalam tubuh kita untuk melakukan sistem
organ di dalam tubuh mereka. Dengan begitu, reproduksi aseksual pun
bisa mereka lakukan, kata Daiki.
Masih dalam keadaan tegang, aku menelan air ludah. Udara
dingin yang berhembus semakin membuatku bergidik ngeri. Apa yang
terjadi di sekolahku bukanlah sebuah kebetulan. Mereka benar-benar
mengincar orang-orang yang memiliki energi hidup. Mencari mereka
dengan kekuatan alam yang sudah terlatih.
Tapi, jangan dipikirkan terlalu serius, sahut Naoto. Benar atau tidak,
kita melakukan ini untuk diri kita sendiri. Dan secara tidak langsung,
80

meskipun bukan tugas kita untuk menyelamatkan manusia, kita akan


menolong desa ini, lanjutnya.
Sou da na (kurasa kau benar). Lagipula, sebentar lagi... kita akan
merayakan hari Natal, kan? Setidaknya kita mengabulkan permohonan
natal para warga desa dalam menyelesaikan masalah ini. Benar, kan?
kata Yuuki.
Sou (benar), sou (benar)! Ayo kita jalankan misi ini sebagai aksi natal!
seru Saiko.
Kemudian, atas ajakan Saiko pula, kami mengunjungi
sebuah kedai dan berkampanye di sana.
Dengan begini, kita rayakan aksi natal kita yang pertama! Kanpai
(bersulang)! seru Saiko.
Kanpai (bersulang)! seru yang lainnya sambil mengangkat bir ringan
dan melakukan toast. Kami pun meneguk bir yang ada dalam gelas kaca
besar itu.
Ah..., musim dingin dengan bir dan sake! Benar-benar waktu yang
tepat! seru Yuuki dengan badannya yang sedikit gemetar. Aku pun
turut bersukacita merayakan aksi natal kami yang pertama. Bisa
dibilang, sebelumnya tidak ada anggota distrik tujuh yang memiliki
keinginan untuk bersulang ketika misi pada saat natal.
Sementara yang lain sedang berkampanye ria, Daiki dan
Hiroyuki-senpai sedang berada di luar. Entah apa yang mereka lakukan
di sana. Aku pun keluar untuk mengintip sekaligus mengajak mereka
bergabung.
Kalian tidak ikut? Di dalam nampaknya sedang ramai! kataku.
Ore wa koko de ii (aku di sini saja), jawab Daiki singkat. Ia
mengeluarkan jus jeruk dari kantung plastiknya lalu meminumnya
sebagian.

81

Seperti biasa, sedikit pun bir tidak ia teguk! Beginikah gaya hidup anak
Sains sekaligus calon dokter? Uuh...! Aku bergidik melihat Daiki yang
seperti itu.
Hiroyuki-senpai wa (kalau Hiroyuki-senpai bagaimana)? lanjutku.
Ore mo koko ni iru (aku juga di sini). Aku tak suka tempat ramai,
jawabnya. Kemudian ia mengeluarkan sebungkus rokok, mengambil
sebatang, menyulut pangkalnya lalu menghisapnya. Dihembuskannya
napasnya yang penuh dengan asap rokok.
Sementara itu, Daiki menoleh ke arahnya dengan tatapan jengkel.
Hiroyuki-senpai pun membalasnya dengan tatapan jengkel.
Aku menghela napas. Sepertinya aku telah terjebak dalam dua
perdebatan yang sangat berbeda. Di sisi lainnya..., bahkan Takemaruniichan merokok di hadapanku!
Ka... kalau begitu ayo kita jalan-jalan! San nin de ii desu ne (bertiga
saja tidak masalah kan)? sahutku.
Dengan suasana yang agak canggung antara Daiki dan Hiroyuki-senpai,
bertiga kami berjalan-jalan menjauhi area kedai, tapi masih di dalam
lingkup desa.
Daiki, kenapa kau tidak ikut bergabung bersulang bersama dengan
yang lain? tanyaku.
Bahkan bir ringan tak sehat buatku, jawab Daiki singkat.
Su... sudah kuduga! batinku geli. Kalau Hiroyuki-senpai? Kau tak
suka bir juga? tanyaku.
Aku tak suka bir, jawab senpai singkat.
Na (hei), Mina, sahut Daiki, Apakah ini misi pertamamu bersama
pemimpin distrik?
Tentu saja tidak. Sebelumnya aku didampingi Orenji-senpai. Sugoku
yasashii hito datta yo (dia benar-benar orang yang baik)! jawabku.
82

Ah..., begitu ya? Kalau dengan Hiroyuki-senpai? Apa kau merasa


nyaman juga? lanjut Daiki. Hiroyuki-senpai melirik tajam Daiki.
Daiki! Hari ini bersikaplah baik! ucapku.
Cih! Aku bukan tipe orang yang sok kenal sok dekat dan akan bersikap
ramah ketika berkenalan dengan seseorang untuk yang pertama
kalinya! balas Daiki.
Daiki!
Kalau memang mau berkenalan, kenapa dia begitu keberatan untuk
bercerita mengapa banyak kru yang takut padanya?
Aku bertambah kesal. Uuh..., tidak yang di sini maupun yang di sana,
kenapa tidak bisa rukun?!
Pertama kali kita berkenalan, aku juga tidak baik padamu, kan? Aku
ingin mempertahankan image itu! lanjutnya.
Aku menghela napas panjang. Tapi, perkataan Daiki ada benarnya juga.
Aku juga selama ini ingin tahu kenapa para kru berpikir Hiroyuki-senpai
itu kejam. Padahal selama misi kali ini aku tidak merasakan aura kejam
apapun darinya.
Sou da ne (itu benar). Hiroyuki-senpai, apa yang membuatmu ditakuti
banyak kru? Kalau tidak keberatan saja kau boleh menceritakannya,
ucapku.
Hiroyuki-senpai tetap tidak menjawab. Tatapannya masih ke bawah.
Seperti yang sudah kukatakan, aku orang yang tak kenal ampun. Aku
mulai bekerja sebagai anggota Kuroi Komori di usia sekitar sebelas
tahun. Sepuluh tahun yang lalu dari sekarang, sebelum aku tiba-tiba
menghilang tanpa jejak dari jangkauan Kuroi Komori, aku membunuh
kedua orang tuaku, jawabnya.
Aku cukup terkejut. Sementara itu, Daiki menatap tajam Hiroyukisenpai.
83

Selama bertahun-tahun, aku menjalani hubungan baik dengan


mereka. Merekalah yang merawatku dari kelahiranku hingga aku
menginjak usia tujuhbelas tahun.
Tujuhbelas tahun? tanyaku.
Sou da (itu benar). Setelah itu, aku dilepas dan aku bisa hidup serta
mencukupi kebutuhanku sendiri. Aku sudah tidak membutuhkan
mereka lagi seperti anak kecil. Oleh karena itu, aku pergi meninggalkan
rumah.
Flashback
-Hiroyukis StoryAku merasa lebih puas dan bebas, bekerja sebagai anggota
Kuroi Komori tanpa harus khawatir akan bocornya identitasku. Aku
berlatih keras, berusaha mengejar dan bahkan aku dulu memiliki
impian untuk menjadi kepala distrik. Aku senang dengan semua
pekerjaan ini. Suatu kali, sungguh-sungguh aku ingin mengajak orang
tuaku melihat bagaimana keadaan di Kuroi Komori, meskipun itu
sangat tidak mungkin.
Untuk itu aku berlatih lebih keras dan berusaha mencapai
lebih tinggi. Dalam sekejap, aku pun bisa menguasai semua teknik api,
dan itu termasuk api transparan.
Aku tak menyadari betapa kerasnya aku berlatih, sehingga
suatu kali aku terpilih untuk menjadi pemimpin distrik delapan. Kalau
kau bertanya pada Yozoru, dia pasti kenal denganku.
Waktu sudah bergulir dan lama sebelum aku
mengetahuinya, aku sudah bekerja di sebuah perusahaan. Aku bahkan
memiliki kekasih yang dikenalkan oleh kedua orang tuaku. Aku
memikirkan masa depan yang bahagia, memiliki keluarga sekaligus
mampu melindungi mereka. Akan tetapi semua itu salah.
Lama setelah terpisah dari orang tuaku, aku memutuskan
untuk pulang kembali dan bertemu dengan mereka. Tetapi begitu aku
84

mengunjungi rumah kami, mereka sudah tak ada di sana. Aku juga
sempat menanyakan tetangga. Mereka tidak tahu di mana keberadaan
orang tuaku.
Aku tidak hanya melakukan itu sekali saja. Aku berkali-kali
mengunjungi rumah lama kami dan menanyakan kabar mereka, tapi
tidak ada yang tahu. Keberadaan mereka seperti tiba-tiba menghilang.
Suatu kali ketika aku kembali, terpapar sebuah papan yang
tak begitu besar di pagar rumah kami menyatakan bahwa rumah ini
sudah dijual oleh pemiliknya.
Setengah penasaran dan khawatir, aku segera menanyakan
alamat baru mereka pada para tetangga. Segera setelah itu aku
langsung mencari alamat yang mereka berikan, tanpa memedulikan
pukul berapa saat itu.
Rumah itu cukup jauh. Aku bahkan naik bus untuk mencapai
daerah itu. Ternyata begitu sampai di sana rumah itu milik orang tua
okaasan. Aku mengetuk pintu rumah tapi tidak ada yang menjawab.
Kutoleh ke kanan dan ke kiri, tapi tidak ada seorangpun di dalam rumah.
Haha ue (ibu), chichi ue (ayah)! Tadaima (aku pulang)! seruku.
Berulang kali kupanggil mereka, tapi tak ada seorangpun di dalam
rumah.
Aku teringat akan adik sepupuku, Reita yang sudah tinggal
bersama keluarga kami di daerah itu dalam jangka waktu yang lama.
Reita! seruku lagi.
Tiba-tiba aura dingin kurasakan seperti hampir membasahi
punggungku. Otousan tiba-tiba berdiri di belakangku dengan badannya
yang setengah bungkuk dan wajahnya yang muram. Tadaima (aku
pulang), chichi ue (ayah), sekali lagi kuucapkan. Ia tidak merespon. Ia
hanya berjalan memasuki ruang tengah sambil meletakkan benda
tajam berbentuk seperti golok yang sudah dipenuhi darah.

85

Aku berusaha untuk tidak berprasangka buruk, dan


membiarkannya masuk begitu saja. Okaasan di mana, tanyaku.
Otousan menoleh seakan memberikan tatapan yang sangat kejam dan
dingin. Ekspresinya benar-benar seperti barusan membunuh manusia.
Okaasan? Ah..., dia sebentar lagi akan pulang, jawabnya.
Tak lama setelah berkata demikian, okaasan pulang dengan
menggandeng tangan Reita, adik sepupuku yang saat itu masih berusia
sepuluh tahun. Tadaima (aku pulang), Kazuo, ucapnya. Tadaima
(aku pulang), oniichan, sambung Reita. Mereka semua berbicara
seolah tidak ada yang pulang, tidak ada yang terjadi. Ekspresi dingin
menyelimuti mereka.
Lagi-lagi aku menangkap sebuah benda menyerupai golok
dengan darah yang mengalir hingga ke ujungnya. Aku pun
memutuskan untuk menanyakannya.
Haha ue (ibu), apa yang ada di dalam kantung plastik itu? Apakah itu
golok? tanyaku memberanikan diri.
Ah..., ini? Ini... ini...
Haha ue (ibu)? Kupanggil dia sekali lagi karena tampak tak merespon.
Kemudian aku berjalan mendekatinya dan berniat memeriksa suhu
tubuhnya, apakah ia sedang sakit atau tidak. Di saat itu pula,
kutemukan pembuluh darah di lehernya melengkung membentuk
seekor kadal yang memiliki lidah berbentuk pedang.
Aku berjalan mundur dan merasa tak percaya akan apa yang sedang
kulihat. Ya, benar. Itu adalah simbol Koroshi Tokage. Mereka menyebut
dirinya sebagai para kadal pembunuh. Setiap kali menjadi anggota
baru, racun akan diinjeksikan melalui leher mereka dan pembuluh
darah di leher akan membentuk simbol persekutuannya.
Sonna (tidak mungkin)! Haha ue to chichi ue wa (ayah dan ibu
adalah)... Koroshi Tokage da to (para Koroshi Tokage)?! batinku.

86

Kazuo..., ibu sakit. Bisakah kau merawatku? kata okaasan dengan


nadanya yang serak-serak basah itu.
Ku... kuruna (jangan mendekat)! Omaera wa (kalian)... mou ore no oya
ja nai (sudah bukanlah orang tuaku)! Omaera wa (kalian)... hito o
koroshita n daro (telah membunuh orang kan)?! Koroshi Tokage!
seruku.
Tiba-tiba saja kurasakan benda tajam telah menancap di punggugku
dan darah segar telah membasahi sekujur bajuku. Seluruh tubuhku
membeku. Aku memuntahkan darah. Ketika kutoleh ke belakang,
otousan sedang memegang golok dan menikamkannya ke tubuhku.
Golok itu tiba-tiba dijatuhkannya ke lantai. Rasa sedih, pahit, marah,
kesal, dendam satu per satu mulai tumbuh di dalamku. Aku segera
menarik pedang dan memenggal kepala otousan. Seketika itu darah
memancar keluar membasahi wajahku. Masih dengan tatapan
dendam, kutoleh ke arah okaasan.
Nani o atteru no (apa yang sedang kau lakukan), Kazuo?! Anata no
otousan (itu kan ayahmu)...
Sore ga temae no saigo no kotoba ka (apakah itu kalimat
terakhirmu)?! potongku seraya menebasnya dengan pedang. Darah
segar kembali memancar keluar membasahiku.
Untuk menghindari resiko kehabisan darah, aku segera menutup luka
tikaman di punggungku dengan energi penyembuhan. Sementara itu,
Reita berdiri menghadap ke arahku.
Doushite (kenapa)...? Doushite otousan to okaasan o koroshita n
desuka (kenapa kau membunuh ayah dan ibu)? tanyanya.
Aku kembali teringat. Aku masih belum memeriksa lehernya, apakah ia
memiliki tanda itu atau tidak. Ketika kuperiksa, rupanya tanda itu
masih belum terbentuk dengan sempurna. Artinya, ia masih baru
terinfeksi. Aku terus memerhatikannya dan berusaha memiliki belas
87

kasihan terhadapnya. Tapi setelah lama kupikir, tak ada obat yang
dapat menyembuhkan itu.
Setelah berdiri lama di hadapannya, tiba-tiba kurasakan ia
menggerakkan ujung pedangku menikam perutnya. Seketika darah
segar mengalir membasahi bajunya serta pedangku.
Reita! seruku. Di saat itu juga, rubuhlah tubuhnya ke lantai.
Tubuhnya yang sudah dingin dan tak bernyawa.
Air mataku meleleh keluar dengan deras. Bukan air mata kesedihan,
tapi keputusasaan karena aku, seorang anggota Kuroi Komori, tidak
mampu menyelamatkan keluarganya sendiri.
Sejak saat itu, aku meninggalkan Kuroi Komori. Aku sempat
berbicara baik-baik dengan Takeshi-sama mengenai kepergianku,
tetapi aku memintanya untuk tidak memberitahu siapapun mengenai
alasan kepergianku. Aku meminta beliau untuk menandaiku sebagai
anggota pelarian, dan menganggap ini sebagai bentuk pengkhianatan.
Sepuluh tahun sudah berlalu sejak kejadian itu. Banyak hal
yang telah berubah. Meskipun bukan sebagai anggota persekutuan
perlawanan manapun, terkadang aku menggunakan kekuatan untuk
membunuh orang-orang yang menjadi distraktor bagiku. Suatu hari
tanpa sengaja aku bertemu dengan Takeshi-sama.
Begitu bertemu, matanya masih memancarkan belas
kasihan terhadapku yang sudah lama mengundurkan diri dari Kuroi
Komori. Ia memintaku masuk kembali, dan tidak hanya itu, beliau tidak
mencabut jabatanku sebagai pemimpin distrik dan malah memintaku
menggantikan Rokudo Orenji sebagai pemimpin distrik tujuh.

Lama setelah itu entah dari mana gosip itu menyebar ke mana-mana,
dan aku pun mulai dijuluki sebagai Ular Berdarah Racun di Kuroi
Komori, seorang kru pelarian dan aku ditandai sebagai pengecut karena
telah melarikan diri dan berlanjut menjadi pembunuh bayaran. Kurasa
88

kakakmu sudah tahu mengenai itu. Hiroyuki-senpai bercerita panjang


lebar.
Sou desuka ne (begitu ya)..., ucapku turut prihatin. Kuroi Komori no
menba tte taihen desu ne (menjadi anggota Kuroi Komori itu sulit ya),
lanjutku.
Taihen nanka ja nai (ini bukan sulit). Hanya saja kau harus memiliki hati
yang kuat untuk menghadapi beberapa kenyataan yang kejam, balas
Hiroyuki-senpai.
Aku hanya terdiam mencoba mencerna ceritanya. Sementara itu, Daiki
menatap tajam jauh ke bawah.
Suasana hening sesaat. Masih tidak ada di antara kami yang kembali
membuka pembicaraan.
Mou kaero (ayo pulang). Sebentar lagi sudah sore. Tolong panggil yang
lain juga, Mina, sahut senpai.
Ha... hai (ya).
Setelah perjalanan singkat itu, aku langsung memanggil
yang lain untuk segera berkumpul di penginapan. Karena Kurobake
adalah makhluk gelap yang sering menampakkan diri pada saat gelap,
kami memutuskan untuk tidak berkeliaran supaya para anggota Kuroi
Karasu dan Kurobake itu tidak melarikan diri.
Kami beristirahat selama kurang lebih hingga pukul
setengah sembilan malam, ketika udara musim dingin berhembus
menusuk tulang belulangku dan cukup membuat tubuhku gemetar
kedinginan. Meskipun sudah mengenakan jaket dan jubah dingin, aku
masih tidak dapat menahan udara dingin yang terhantar melaui lantain
dan dinding-dinding. Aku pun menyulut api di tanganku sendiri dan
menjaganya agar terus menyala sambil terus berusaha tidur, tapi
hasilnya nihil. Aku memang tak tahan tidur saat udara dingin.
Nemurenai no ka (kau tak bisa tidur)? sahut Daiki mengejutkanku.
89

Kau juga... belum tidur? balasku.


Di saat seperti ini, aku terus terjaga untuk menghindari bahaya
Kurobake. Aku akan mengistirahatkan saraf-sarafku, dan tetap berjagajaga di malam hitam ini.
Malam hitam?
Malam ketika saatnya orang-orang maupun hewan-hewan yang mati
bangkit dan menjelajahi dunia.
Ja... jaa (kalau begitu), kore wa marude (ini seperti)... yuurei (hantu)?!
Jauh dari hantu. Ini bukan hantu. Kita menyebutnya ayakashi
(bayangan kegelapan).
Ayakashi to yuurei wa nani ga chigau no (apa bedanya bayangan gelap
dan hantu)?
Makhluk luar dunia dibagi menjadi tiga tahap yang
berkesinambungan, jawab Hiroyuki-senpai, Ayakashi (bayangan
gelap), akuryo (roh jahat), dan akuma (iblis). Ketika seseorang lahir,
mereka dianugerahi kekuatan Chi positif dengan masing-masing
elemen kehampaan, udara, air, api, dan bumi. Dengan menggunakan
kekuatan itu, manusia diminta untuk menentukan baik buruknya
sesuatu yang ditawarkannya dalam dunia. Tetapi, ketika kau ingin
berbuat suatu kejahatan, ayakashi akan muncul di belakangmu. Kalau
tak mempertahankan elemen-elemen itu, ayakashi itu akan merasuk
ke dalam tubuhmu. Peristiwa itu akan berkesinambungan. Setelah
lama ayakashi meracuni dirimu, akuryo akan terbentuk. Elemenelemenmu akan memudar, dan ketika kau tidak bisa
mempertahankannya lagi, muncullah sosok kejam berdarah dingin
yang kau sebut akuma.
Akuma...
Akuma sudah tak mengenal dirinya. Hati nuraninya dan elemenelemennya sudah mati. Tak ada perlawanan lagi yang dapat ia lakukan
90

untuk mengusir akuryo yang ada di dalamnya, kecuali pengusiran setan.


Pengusiran setan akan memberinya efek membangunkan roh aslinya.
Itulah yang akan menyebabkan terjadinya perlawanan. Peristiwa itu
kita sebut kerasukan, lanjut senpai.
Kalau begitu bagaimana dengan yokai dan yuurei? tanyaku.
Yuurei adalah roh yang bercampur dengan emosi manusia. Terkadang
ia sudah diracuni oleh akuryo. Yokai bukanlah makhluk duniawi. Maka
dari itu kita tak bisa melakukan pengusiran terhadapnya dan hanya bisa
membunuhnya.:
Kiita koto mo aru wa (aku juga pernah mendengar tentang hal itu),
sahut Saiko. Ayakashi sering muncul ketika kita dalam keadaan putus
asa, merasa tak berdaya, dan mengalami kegagalan. Mereka datang
untuk meracuni kita sehingga kita akan melakukan hal-hal sesuai
keinginan mereka, seperti bunuh diri, katanya.
Sou da (itu benar). Apapun akan mereka lakukan untuk
menjerumuskan kita ke dalam jurang dosa, kata Hiroyuki-senpai.
Angin kembali berhembus menusuk tulangku.
Kita (mereka datang), sahut Daiki.
Serentak kami semua langsung berdiri dan bersiap.
Kalian siap? ucap Naoto.
Semuanya mengangguk tanpa ragu. Kami pun langsung keluar dari
rumah tempat kami menginap. Rupanya di luar para penduduk sudah
mengetahui adanya keberadaan Kurobake yang lagi-lagi mengganggu
desa. Ada beberapa warga yang sudah membunyikan bel peringatan
untuk keluar dari rumah dan berkumpul di pengungsian.
Ominnasan (semua penduduk), detekudasai (tolong keluarlah dari
rumah)! seru yang satu dengan yang lain.
Apa yang terjadi? tanya Hiroyuki-senpai pada salah seorang.
91

Dari bau ini, sepertinya para makhluk itu sudah kembali.


Sou desuka (begitu ya)? Kalau begitu tolong semuanya dievakuasi.
Kami yang akan menangani keadaan ini.
Baiklah. Kami sangat berterimakasih.
Mina, kau dan Daiki akan ikut bersamaku. Naoto, pertahankan desa.
Yuuki dan Saiko, lacak keberadaan Kurobake dan Kuroi Karasu yang
lainnya, perintah Hiroyuki-senpai.
Seperti pada saat pemetaan, kami langsung beranjak ke pembagian
tempat kami masing-masing. Di tengah jalan, kami bertiga dihadang
oleh para Kurobake itu.
Tidak ada waktu untuk takut melawannya! Iku ze (ayo)! seruku.
Dengan gerakan gesit, kami menebas para Kurobake itu dengan
pedang satu per satu. Akan tetapi, begitu kami tebas, tubuh mereka
yang terbelah dua malah membentuk Kurobake yang baru.
Tidak mungkin! Fragmentasi?! seruku.
Kurobake sebelumnya belum pernah melakukan ini! kata Daiki.
Jangan ketakutan dan berdiri di sana! Merekalah yang akan
menghabisi kalian kalau kalian tidak menghabisi mereka! seru
Hiroyuki-senpai.
Kami kembali menebas para Kurobake itu hingga habis, tapi hasilnya
sama saja. Jumlah mereka bertambah banyak, dan lama kelamaan
menjadi seperti semut-semut raksasa yang berkerumun dalam jumlah
yang banyak.
Ittai nani ga itta no (apa yang sebenarnya terjadi)?! seruku.
Di tengah-tengah itu, tiba-tiba dapat kami dengar suara tawa seorang
wanita yang perlahan mendekati kami.
Kita zo (dia datang)! kata Hiroyuki-senpai.
92

Aku akui kalian pandai, tapi kenapa penerapan kalian begitu buruk?
Apa kalian tidak tahu bahwa berkas elemen air masih tersisa di dalam
tubuh mereka, sekalipun mereka gagal? ucap wanita itu lagi dengan
suaranya yang serak-serak basah.
Ia semakin mendekat dan mendekat. Lama kelamaan aku pun dapat
melihat tubuhnya sepenuhnya. Tatapan matanya kosong dan dingin,
dan tentu saja bagian hidung hingga mulutnya ditutup oleh masker
pelindung.
Dare da temae (siapa kau)?! seru Hiroyuki-senpai.
Itukah caramu memanggil orang tuamu sendiri, Kazuo? balas wanita
itu lagi.
Tatapan Hiroyuki-senpai berubah. Kini ia nampak terkejut setengah
mati.
Anta (kau)... masaka (jangan-jangan)... ofukuro (ibu)?! ucapnya.
Wanita itu tertawa kecil, kemudian perlahan membuka masker
pelindungnya. Di sebelah kanan dan kiri mulutnya, terdapat bekas
sayatan-sayatan pedang.
Kau merindukan ibu? ucapnya.
Kenapa kau bisa bangkit? Kau harusnya mati! seru Hiroyuki-senpai
lagi.
Hiroyuki-senpai...
Itukah yang kau katakan padaku setelah sepuluh tahun lebih tidak
bertemu? Tatapannya bertambah tajam dan mengerikan. Aura
kematian benar-benar keluar darinya. Aku pun berusaha menyadarkan
Hiroyuki-senpai agar ia tidak terburu-buru membunuhnya.
Hiroyuki-senpai, matte (tunggu). Orang ini... bisa saja dia sedang
dikendalikan. Ia tetap ibumu! Mungkin saja...

93

Aa (ya), sou da (itu benar)! Ia dikendalikan oleh pasir roh yang tercipta
dari orang berdosa! seru Hiroyuki-senpai sambil maju dan memegang
pedang, Maka dari itu aku harus membunuhnya!
Sementara itu, ibunya menangkis dari arah yang berlawanan.
Mou ichido watashi o korosotoshiteiru no (apakah kau berusaha
membunuhku lagi), Kazuo? ucapnya.
Seketika itu, entah apa yang terjadi sepertinya ucapan itu memberikan
senpai sedikit shock teraphy.
Kukatakan sekali lagi, kau bukanlah ibuku! Ibuku sudah mati! Ia mati
tak berguna sebagai anggota Koroshi Tokage! seru senpai.
Sekali lagi, diayunkannya Raiten Sword ke arah ibunya. Setelah
beberapa kali saling menghantamkan pedang, Hiroyuki-senpai mundur
beberapa langkah sambil memulai jurus. Ia membuka mantra dan
seketika, seekor ular besar menggeliat dan menjerat tubuh ibunya.
Habislah kau! ucap senpai.
Segera ia kembali melanjutkannya dengan menyemburkan api yang
langsung membakar habis tubuh ibunya.
Omaera (kalian), sagattero (mundurlah)! Ini bukan pertempuran
kalian. Selain itu... kalian memiliki tugas menghabisi mereka! kata
Hiroyuki-senpai.
Aku menoleh dan terkejut ketika Daiki sudah berjerih payah
menghabisi para Kurobake itu.
Jangan lengah, bodoh! kata Daiki.
Sumanai (maaf), Daiki, ucapku.
Aku menggoreskan luka pada lenganku dan meneteskan darahku pada
Raiten Sword.
Engkau yang menjadi sumber kehidupan, energi, penguat, penuntun
jalan, bangkitlah, raungan api! seruku seraya mengayunkan pedangku
94

ke arah para Kurobake itu. Seketika, para Kurobake itu hangus,


perlahan meleleh.
Ketika api padam dan asap terangkat, ibu Hiroyuki-senpai langsung
mengacungkan pedang berniat membunuhku. Kurasa ia cukup marah
padaku karena telah menghabisi para Kurobake itu.
Aku tertolong oleh senpai yang kemudian menahan serangan pedang
ibunya padaku.
Omae wa shi ni modore (kau kembalilah ke alam kematian)! seru
senpai. Segera ia memanggil sekawanan kelelawar yang menggigit
leher ibunya dan menyerap semua darahnya.
Tubuhnya perlahan-lahan mengering dan sedetik sebelum itu, tiba-tiba
diluncurkannya badai topan. Hiroyuki-senpai mundur dan berusaha
menahan topan itu.
Ittai (apa-apaan)?! seru Daiki.
Beberapa saat kemudian, badai itu berhenti dan awan-awan itu
perlahan-lahan terangkat. Shimizu-san yang seharusnya sudah sekarat,
ternyata masih bisa berdiri. Senpai yang tidak tahan akan itu, langsung
meluncurkan serangan keduanya. Dengan cepat ia melesat ke arah
sana.
Senpai, matte (tunggu)! Bukankah dia ibumu?! seruku.
Jangan sebut nama ibu! Ia bukanlah ibuku lagi! Menyebutnya hanya
akan membuatku muak! balas senpai.
Tiba-tiba di saat senpai akan menebaskan pedangnya, seorang anak
kecil datang menghadang dan membuat senpai menghentikan
gerakannya mendadak.
Nani atteru n da (apa yang kau lakukan)?! seru Daiki.
Nidoto okaasan o korosasenai yo (kau takkan kuijinkan membunuh ibu
lagi), oniichan, ucap anak kecil itu dengan suaranya yang pelan.
95

Hiroyuki... Reita! ucapku.


Di tengah-tengah itu, muncul lagi seorang laki-laki berseragam Kuroi
Karasu menghadang kami.
Sepertinya kau tak memiliki rasa takut untuk membunuh ibumu
sendiri, Hiroyuki Kazuo, ucapnya, Tapi apa kau bisa membunuh anak
kecil tak berdosa ini? Kalau kau berhasil membunuh mereka berdua,
akan kutinggalkan desa ini untuk selamanya.
Temae (kau)...! Aku sudah muak padamu! Hentikan sudah! kata
senpai seraya mengayunkan pedang ke arahnya. Tapi, pedang itu
ditahan oleh Reita yang tiba-tiba menghadang.
Diayunkannya lagi Raiten Sword dan kemudian kembali lagi ditangkis
oleh pedang Reita.
Reita... apakah ini jalan yang kau pilih? Mengikuti orang yang telah
membagkitkanmu dari alam kematian? ucap senpai.
Watashi ni wa kama wa nai (bagiku itu tidak masalah). Aku tidak peduli
akan ikut dengan siapapun, asalkan tidak dengan orang yang telah
membunuh orang tuaku, jawab Reita.
Hiroyuki-senpai...
Bahkan kau sudah bergabung dengan mereka, Reita?! kata senpai
lagi seraya mengeluarkan volume api yang besar dan menghempaskan
Reita sekaligus ibunya.
Dengan cepat, ia melesat ke arah lelaki bertopeng hitam itu dan
mereka pun saling berhantaman pedang. Sementara itu, aku melihat
dari kejauhan. Ano me (mata itu)! Apakah itu Yusuke-senpai? Iiya
(tidak), bukan! Tapi apa memang benar? Jarak ini terlalu jauh bagiku
untuk melihat!
Untuk memastikan, aku pun melangkah perlahan dan berusaha melihat
wajahnya dari jarak dekat.
Oi, Mina, asoko e kuruna (jangan datang ke sana)! seru Daiki.
96

Di saat itu juga, lelaki bertopeng itu menghantamkan pedangnya pada


pedang senpai. Ketika keduanya beranjak saling menjauh, aku
mengambil kesempatan itu dan segera menghantamkan Raiten Sword
pada pedangnya, sekalian untuk melihat matanya yang tidak tertutupi
itu.
Ho..., gadis pemberani, ucapnya seraya menghempaskan angin yang
membuatku terlempar jauh. Di saat yang sama, ia mengeluarkan sabitsabit anginnya. Dengan cepat dan tangkas, aku pun menghabisi sabitsabit angin itu.
Kau lincah. Kalau tidak salah kau pernah melawan anggota kami,
Wata...
Danmare (diamlah)! seruku memotong pembicaraannya seraya
menghantamkan Raiten Sword yang berapi-api pada pedangnya.
Dengan satu tangan, aku berusaha mengeluarkan jurus duri mawarku
padanya dan menjeratnya. Akan tetapi sebelum itu ia sudah
memutuskan batang-batang mawarku dan menikam tanganku dengan
pedangku sendiri yang dibalikkannya. Dengan tangan satunya yang
bebas, ia menciptakan pusaran angin berbentuk bor yang siap
menikamku.
Shine (mati kau)! serunya.
Aku yang tak bisa apa-apa di sana hanya menunggu detik-detik
sebelum mati. Di saat itu, Hiroyuki-senpai datang dan menendangku
hingga terpental. Ditempisnya bor angin itu dengan apinya.
Jangan ceroboh! serunya.
Iiya (tidak), chigau (bukan)! Ano hito wa Yusuke-senpai ja nai (orang itu
bukan Yusuke-senpai)!
Hiroyuki-senpai mengeluarkan raungan apinya, begitu juga orang
bertopeng Kuroi Karasu itu mengeluarkan ombak airnya. Benturan itu

97

memberi dorongan yang besar. Keduanya pun saling mengambil


langkah mundur.
Kau boleh juga, Hiroyuki Kazuo. Ayo kita bermain-main lagi lain kali.
Kalau memang kau berhasil membunuh kedua orang ini... aku akan
meninggalkan desa ini untuk seterusnya, ucap lelaki bertopeng itu,
Iku zo (ayo pergi), Shimizu, Reita.
Hiroyuki-senpai nampak terkejut.
Matte (tunggu)! Kenapa kau bisa tahu nama ibuku?! seru senpai.
Lelaki bertopeng itu menoleh dan tersenyum sinis. Karena aku adalah
Tuhan yang membangkitkan mereka. Namaku adalah Takahiro Matsuo.
Oboeteoke (ingatlah baik-baik), ucapnya seraya meninggalkan kami.
Hiroyuki mengepalkan tangannya dengan kesal.
Takahiro... Matsuo! ucapnya kesal.
Shiriai desuka (apa kau mengenalnya)? tanyaku.
Dia adalah pemeran utama dalam pembangkitan orang-orang mati,
sekaligus pemegang kunci ilusi. Hati-hati dipermainkannya, Mina.
Ha... hai (iya), jawabku masih dengan tatapan takut.
Kelihatannya yang di sana juga masih kerepotan. Iku zo (ayo pergi).
Mengingat akan Naoto, Yuuki, dan Saiko yang masih mempertahankan
desa, kami bertiga langsung kembali. Sesampainya di sana, banyak
warga yang sudah keluar dari tempat pengungsian dalam beberapa
barisan.
Senpai! seru Saiko.
Dou natteru no (apa yang terjadi)? tanya senpai.
Awalnya desa benar-benar dalam keadaan kacau. Aku dan Yuuki bisa
merasakan keberadaan Kurobake mengepung desa ini dari segala arah.

98

Sementara di daerah Naoto, sudah banyak Kurobake yang berusaha


melenyapkannya. Saiko bercerita panjang.
Sudah cukup untuk malam ini. Pertahanan Kurobake memang sulit.
Kita akan lanjutkan besok. Istirahatlah yang cukup, kata senpai.
Hai (baik)! Saiko segera memanggil Naoto untuk bergabung bersama
kami dan beristirahat.

Keesokan harinya, kami membantu para warga


memperbaiki beberapa kerusakan rumah. Karena serangan Kurobake
kemarin menyebabkan kerusakan, padi-padi di sawah dan makanan
pun ikut rusak. Paling tidak meskipun bukan tugas kami untuk
menolong manusia, kami sedikit membantu mereka. Di samping itu,
merekalah yang membayar dan membayar kami.

Kore de yoshi (selesailah sudah)! ucapku senang melihat padi-padi


yang masih layak untuk dimakan selesai kukumpulkan. Sudah
kulakukan ini sejak jam lima pagi tadi.
Huh, yang benar saja! Kita membantu mereka mengumpulkan padi
dari pagi tadi! Bahkan kita hanya beristirahat lima jam! Inikah pekerjaan
Kuroi Komori?! kata Yuuki.
Ah..., mou (duh), urusai wa ne (kau itu berisik), Yuuki! balas Saiko,
Bisakah kau membantu kami dan berhenti mengoceh? Kau seperti
ibu-ibu saja!
Nanda to (apa katamu), kono baba (dasar nenek-nenek)!
Yaru ka yo (kau mau bertarung)?!
Aku hanya menghela napas melihat mereka yang tak bisa akur dari
kemarin. Kembali kutoleh Daiki yang sedang berlarian mengumpulkan
padi. Aku tertawa kecil.
99

Kau sudah selesai? Apakah kau baik-baik saja berlarian begini?


tanyaku.
Ta... tak masalah, kok. Latihan ringan bisa sedikit melatih otot-otot
jantungku supaya tidak mudah sakit, jawabnya.
Aku kembali tertawa kecil.
Otetsudaisasete (biarkan aku membantumu).
Suki ni shiro (lakukan sesukamu).
Sedikit demi sedikit, kami mengumpulkan padi-padi itu hingga berada
dalam satu barrel.
Kono mura ii yo ne (desa ini luar biasa ya).... Aku berharap pekarangan
Kuroi Komori juga begini, sahutku membuka pembicaraan.
Huh, kau kira Kuroi Komori itu apa? Peternakan? Perkebunan? balas
Daiki.
Sou ja nai yo (bukan itu maksudku). Maksudku kenapa tidak
ditambahkan benda-benda yang lebih hidup di pekarangan belakang?
Bukannya pekarangan belakang kita itu kosong?
Mau kau tambahi benda hidup seperti apa? Sapi? Kerbau? Itik?
Angsa?
Bukan seperti itu! ucapku sambil tertawa, Seperti bunga dandelion,
atau mungkin bunga-bunga yang lainnya?
Makanya, kalau bilang itu yang jelas! Kau hanya mengatakan benda
hidup. Bahkan manusia, kan, benda hidup!
Maaf, maaf.... Hehehe...
Nah, ayo kita selesaikan satu ikat terakhir ini.
Tepat pada pukul duabelas siang, padi-padi semuanya sudah
terkumpul. Jagung dan kentang pun sudah bisa dipisahkan.
Kore ga zenbu ne (ini sudah semua kan)? kata Saiko.
100

Aa (ya). Yatto dekita ka na (akhirnya selesai juga ya)? lanjut Yuuki.


Hontouni iroiro arigato (kami benar-benar berterimakasih atas
segalanya). Bahkan kemarin kami boleh selamat dari bencana makhlukmakhluk itu, sahut Yamamoto-san.
Kami tidak melakukan apa-apa, kok. Tapi yang penting, ingatlah untuk
tidak memberitahu ke siapapun soal kedatangan kami kemari, kata
Saiko.
Yamamoto-san tertawa kecil.
Itu tak masalah, itu tak masalah. Tapi di sini masih banyak perdebatan
soal ritual persembahan itu.
Sore ga mondai desu ne (di situlah masalahnya ya), kata Saiko.
Kami menoleh ke sekawanan penduduk desa yang nampaknya saling
berdebat dan kalau tidak dihentikan, sepertinya akan ada pertengkaran.
Seandainya saja kau menuruti perkataan kami dan melakukan ritual
itu, anak cucu kita tidak akan terkena wabah itu, kan?!
Mau apa kau?! Bukit itu tidak membawa keberuntungan apa-apa,
malah ia menjadi benteng bagi makhluk-makhluk itu!
Brengsek, tutup mulutmu! Ini semua salahmu telah meracuni para
warga untuk tidak melakukan sembayang! ucap salah seorang seraya
menampar temannya hingga jatuh.
Tolong hentikan, Pak. Tindakan seperti ini takkan mengambil langkah
awal untuk apapun. Ini bukan gara-gara ritual atau apapun. Lagipula itu
sudah terjadi di masa lalu, kata Saiko.
Cih! Kaeru ze (ayo pulang)! ucap salah seorang.
Daijoubu desuka (anda baik-baik saja)? kata Saiko seraya
mengulurkan tangan untuk menolong bapak yang terjatuh itu.

101

Konna no wa mada atta no ne (yang seperti ini masih saja terjadi ya)?
Apakah tidak ada bukti yang dapat kita gunakan untuk memperkuat
fakta tentang keberadaan makhluk itu? kataku.
Shouko nante kitto aru n da (kalau soal bukti pasti ada), sahut
Hiroyuki-senpai.
Eh? Atta n desu ka (apakah ada)? tanya Naoto.
Pak, bisakah anda pulang sekarang? Kami khawatir akan terus terjadi
perkelahian bila anda terus berada di luar sini, kata senpai.
Shouko ga aru te dou yuu koto desuka (apa maksudnya masih ada
bukti)? tanyaku.
Kita akan pergi ke reruntuhan bukit itu, jawab senpai.
Eh? Bukankah itu berbahaya? kata Saiko.
Kurobake tidak lama ini memunculkan diri. Aku yakin pasti masih ada
jejak-jejaknya.
Dengan membawa perlengkapan seperlunya, kami pergi mengunjungi
bukit yang sudah runtuh itu. Tempat itu sangat berbatu dan kami harus
berhati-hati agar tidak terjatuh.
Koko da (di sini), kata senpai.
Di antara bebatuan itu terbentuklah sebuah goa yang sangat kecil dan
bisa rubuh kapanpun. Kami pun menggulingkan bebatuan itu agar
dapat melihat apa isi goa itu.
Nani mo nai yo ne (tidak ada apa-apa ya)? kata Naoto.
Kami terus menggulingkan batu-batu itu. Menurut senpai, Kurobake
yang tidak lama meninggalkan suatu area pasti akan meninggalkan
bercak-bercak air berwarna hitam.
Doko ni mo nai (tidak ada di mana-mana), kata Saiko.
Tak lama setelah itu, mata senpai terbelalak melihat sesuatu.
102

Are o mitemiro (coba lihatlah itu)! Are da (itu dia). Kau lihat benda cair
lengket berwarna hitam itu, kan?
Kore desu ne (ini kan)? kata Yuuki sambil menunjuk ke arah lendir
hitam itu dan berusaha menggapainya.
Sawaruna (jangan disentuh), Yuuki. Karena kita Kuroi Komori, benda
seperti itu akan mudah sekali terbakar dan lenyap.
Hiroyuki-senpai membungkukkan badannya dan mengambilnya
dengan semacam tabung reaksi. Ditutupnya rapat-rapat tabung itu.
Mereka tidak tahan panas, oleh karena itu membangun bukit seperti
ini, kan, senpai? kata Saiko.
Sou da (itu benar). Di malam hari mereka pasti akan bergeliat dan
membentuk sel baru untuk bertumbuh. Kita lihat saja reaksinya sampai
nanti malam, jawab senpai. Modoru ze (ayo kembali), katanya lagi.
Sangat sayang sekali, ya. Desa sesubur ini, kenapa harus menjadi
makanan para makhluk itu? kata Saiko dalam perjalanan.
Subur tidaknya suatu daerah tidak memengaruhi kemungkinan
datangnya Kurobake. Selagi ada kesempatan, para Kuroi Karasu tidak
akan menyia-nyiakannya. Semua tempat yang memungkinkan, mereka
biasa gunakan untuk tempat persembunyiannya.
Ah..., Kurobake di sini, di sana! Paling tidak aku ingin menikmati libur
musim dingin untuk yang pertama kali! kata Yuuki.
Pertama kali apanya? Apa sebelumnya kau juga kena misi? balas
Naoto.
Tentu saja! Tapi sebelumnya tidak ada kampanye dan perayaan
seperti kemarin.
Kalau begitu kita rayakan lagi! seru Saiko bersemangat.

103

Untuk distrik tujuh, kita berkampanye! seru Saiko diikuti toast oleh
yang lainnya.
Aku menghela napas panjang-panjang.
Kenapa aku masih terjebak di saat yang sama dan tempat yang sama?
ucapku. Aku kembali melirik ke arah Daiki dan Hiroyuki-senpai yang
duduk di luar dan nampak masih belum akur.
Hiroyuki-senpai juga bergabunglah bersama kami! seru yang lain
seraya menyeret senpai masuk ke dalam.
Aku kembali menghela napas panjang.
Daiki, apa kau tetap memutuskan untuk berada di luar?
Tentu saja. Aku tak suka pesta, apalagi kalau pakai bersulang segala.
Aku tersenyum tipis.
Kalau begitu, jalan-jalan saja tidak masalah kan?
Eh? Jalan-jalan...?
Un!
Pada akhirnya aku pun menyeret Daiki untuk berjalan-jalan denganku.
Tidak mungkin, kan, aku membiarkannya duduk di luar berdiam diri
sementara yang lain berpesta pora tidak karuan di dalam kedai? Paling
tidak, karena bantuannya, aku bisa menyelesaikan padi-padiku dengan
lebih cepat tanpa menguras energi lebih banyak.
Kenapa kau repot-repot membawaku segala? Kau bisa berjalan-jalan
sendiri, kan? Aku lebih senang duduk diam di tempat itu, kata Daiki.
Eh? Kenapa ya? Padahal orang-orang tidak suka duduk dan berdiam
diri, lho. Paling tidak yang seperti ini, kan, tidak ada di kuartir Kuroi
Komori. Kita nikmati saja! jawabku.
Keadaan sore hari itu seperti festival. Banyak orang-orang datang
berkunjung ke toko-toko bersama keluarga mereka. Banyak anak-anak
104

berlarian menerbangkan layang-layang. Beginikah keadaan di desa, ya?


Kalau di kota atau di daerah tempatku tinggal, sehabis ada bencana
seperti Kurobake itu, masyarakat pasti masih enggan keluar dari rumah
mereka hingga paling tidak seminggu. Sepertinya di sini berbeda.
Mereka... seperti berjiwa bebas. Ada sesuatu yang mereka lakukan
untuk menghibur dan menghapus rasa shock yang lain mengenai
Kurobake itu.
Ii ne (indah ya)? Daripada berdiam diri dan ketakutan di rumah, kurasa
tindakan mereka benar.
Saa (siapa tahu)? Kurobake bisa saja keluar kapanpun. Kalau itu terjadi
lagi, bahaya, tuh, anak-anak kecil yang bermain di luar! balas Daiki
sambil melipat tangannya.
Aku berjalan menemani Daiki sambil sesekali menjelaskan beberapa
hal menarik di sana. Sesekali juga kulirik anak-anak kecil berlarian dan
mengundang yang lainnya untuk ikut berlarian. Natsukashii (sungguh
nostalgis sekali)..., batinku.
Suatu kali kulihat seorang anak berbaju compang-camping dan nampak
berbeda dari yang lainnya. Wajahnya kusut seperti tak terawat.
Sekelompok anak laki-laki mendatanginya seperti akan menghajarnya
habis-habisan.
Ha, Usa si payah!
Apa pekerjaanmu hanya bisa meminta uang?
Benar, benar! Mana orang tuamu? Tidakkah mereka merawatmu?
Tapi uang sebanyak ini... banyak sekali, ya? Karena orang tuamu sudah
meninggal dan kau tak bisa berbagi porsi uang ini untuk mereka,
serahkan uang itu pada kami!
Aku berjalan selangkah
menghentikanku.

mendekatinya

dan

kemudian

Daiki

Sudah cukup kita ikut campur dengan urusan desa ini, ucapnya.
105

Aku menyingkirkan lengannya yang menghalangiku. Sebelum aku


sampai di tempat anak itu berdiri, sebuah kantung plastik berisi uang
telah dirampas dari tangan anak yang bernama Usa itu oleh temantemannya. Sementara itu Usa tergeletak di lantai dan sepertinya tak
berdaya untuk melawan.
Kuulurkan tanganku untuk membantunya berdiri.
Daijoubu (kau tak apa)? tanyaku.
Kenapa... kenapa aku harus berbeda dengan yang lainnya?
Mengetahui itu, seharusnya aku mati bersama orang tuaku! kata anak
itu mengeluh.
Sonna koto nai yo (itu tidak benar). Kalau boleh tahu, kenapa orang
tuamu meninggal?
Makhluk-makhluk bengis itu mengejar kami, karena kami merupakan
salah satu pemilik peternakan di desa ini. Tapi setelah itu, orang tuaku
dibunuh, dan hewan-hewan terbunuh. Apa lagi yang kumiliki? Anak
itu mengusap-usap matanya yang dipenuhi air mata. Sebelum matanya
membengkak, kuhentikan gerakan usapannya. Aku menyodorkan sapu
tangan dan menghapus air matanya yang berjatuhan.
Tunggu sebentar, ya? ucapku seraya merogoh-rogoh kantung bajuku
untuk mencari uang. Atta (ada)! seruku begitu menemukan
dompetku. Kuserahkan uang sejumlah duaribu yen untuknya.
Kore o ageru (ini untukmu)! ucapku dengan kububuhi senyuman.
Kore (ini)... oneesan no (milik kakak)? tanyanya.
Un! Dakara mou nakanaide (makanya itu jangan menangis lagi). Ageru
yo (ini untukmu).
Anak itu menerima uang dariku perlahan. Ditatapnya dua lembar uang
yang masing-masing bernilai seribu yen itu.
Tenang saja, aku tak menipumu, kok! Itu uang asli! ucapku.
106

Anak itu menoleh ke arahku yang terus tersenyum melihatnya. Setelah


itu ia kembali memalingkan kepalanya.
Sou yuu ba (ngomong-ngomong), namae wa (namamu siapa)?
Watashi Takahashi Minakami (aku Takahashi Minakami), kataku.
Hideki Usao, jawabnya.
Eh..., Usa-kun, ya? Kawaii na namae da na (nama yang begitu imut)!
ucapku. Seketika, anak itu tersipu malu.
Kalau tak keberatan bercerita, maukah kau menjelaskan kenapa anakanak itu mengusikmu setiap hari?
Karena aku tak punya apa-apa, tak punya orang tua, dan hanya bisa
mengemis. Pekerjaan orang tuaku sudah bangkrut karena makhlukmakhluk itu. Karena tinggal di desa, siallah nasibku!
Bagaimana kalau aku membantumu bekerja? ucapku menghentikan
penjelasan lanjutnya.
Oneesan ni wa muri da yo (itu tidak mungkin bagimu)! Di desa seperti
ini, di mana orang-orang seperti itu...
Apanya yang tidak mungkin? Kalau kau coba, pasti akan
menyenangkan! Kau takkan diganggu oleh anak-anak nakal itu lagi.
Percayalah padaku! kataku. Usao masih memandangku ragu. Tanpa
banyak basa-basi lagi, kubawa dia ke tempat Daiki.
Daiki! seruku dari kejauhan sambil melambai-lambaikan tangan.
Osoi n da omae (kau lama sekali)!
Gome (maaf), gome (maaf). Ah! Ini teman baruku, Hideki Usao.
Perkenalkan dirimu, Usa-kun.
Usao yang bersembunyi di belakangku mendongakkan kepalanya ke
atas dan menatap Daiki. Tiba-tiba saja, ia memundurkan badannya
kembali.

107

Tenang saja. Oniisan ini memang mengerikan, kok! Tapi dia tidak
berbahaya, lho! kataku.
Nanda to (apa katamu), Mina?! Ulangi sekali lagi!
Itu salahmu, kan, membuat seorang anak kecil takut!
Daiki terdiam sesaat. Sepertinya ia merasa bersalah.
Ore (aku)... Masao Daiki, katanya dengan kepalanya yang masih tidak
mau melihat ke arah Usao.
Mou daijoubu yo (sudah tidak apa kok), Usa-kun. Perlahan-lahan
Usao maju mendekati Daiki seraya mengulurkan tangannya.
Hi... Hi... Hideki Usao, katanya. Daiki yang masih heran harus berbuat
apa menoleh ke arahku. Aku memberikannya isyarat padanya supaya
ia menjabat tangan Usao. Maka dijabatlah tangan anak mungil itu oleh
Daiki.
Aku ingin mengajaknya berjualan, tapi aku tak tahu harus berjualan
apa.
Hah? Apa kau sudah gila? Mau berjualan apa kau di tengah desa ini?
Daiki! Sudah kubilang bersikaplah sedikit ramah dengan orang baru!
Lalu jawablah pertanyaanku! Mau jualan apa kau di sini? Huh, banyak
ayam yang bisa dipotong, tuh, untuk dijual!
Usao kembali terlihat takut. Aku menghela napas.
Coba carilah benda lain yang bisa kita gunakan tanpa harus
membunuh hewan ternak, Daiki.
Jangan hanya menyuruh! Coba kau pikir sendiri!
Aku masih kesal dengan sikapnya yang sangat tidak mendukung.
Dengan berat hati aku pun ikut berpikir.
Kau mau menjual takoyaki seperti yang diajarkan di sekolah saat joyful
learning? sahut Daiki tiba-tiba. Aku membunyikan jariku.
108

Sou da (itu benar)! Tapi ada bahan, tidak, ya? ucapku.


Ore ni makasero (serahkan saja padaku)!
Daiki yang awalnya tidak mendukungku, kini berkatnya kami bisa
mendapatkan bahan mentah dari beberapa warga.
Sekarang yang kita perlukan hanyalah tendastan-stan untuk
berjualan, ucapku.
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri seperti orang yang sedang celingukan.
Aku berusaha mencari tenda kosong yang tidak terpakai. Tiba-tiba
seorang ibu berusia separuh baya mendatangiku karena melihatku
yang sedikit tidak beres.
Apa ada yang kau perlukan? tanya ibu itu.
Ah, kon ban wa (selamat sore). Apakah ada tenda sisa yang bisa
digunakan untuk berjualan? Kelihatannya semuanya sudah terpakai,
jawabku menjelaskan.
Tenda untuk berjualan? Hm..., sepertinya di balik sana ada. Kalau tidak
salah pemiliknya sudah tidak berjualan lagi.
Di balik sana? Arigato gozaimasu (terima kasih)! Tasukarimashita (itu
sangat membantu)!
Aa (ya). Kiotsukenasai ne (berhati-hatilah ya).
Kami bertiga kembali berjalan mengitari tenda jualan orang-orang,
berusaha mencari tenda kosong itu. Tak jauh dari deretan tenda yang
lain, dapat kutemukan sebuah tenda kosong yang sepertinya sudah tak
terawat dalam jangka waktu yang sangat lama. Kalau tidak diperbaiki,
sepertinya akan roboh.
Kore da ne (ini ya)? ucapku sambil membuka selambu yang menutupi
bagian depannya.
Daiki terbatuk-batuk begitu debunya pergi ke arahnya.
Benar-benar berdebu! serunya.
109

Butuh waktu, ya, untuk membersihkan ini. Kalau saja aku pengendali
udara, pasti mudah.
Sudah, tak ada waktu untuk mengeluh, kata Daiki dibubuhi
senyumannya, Kalau dikerjakan bersama, akan terasa lebih mudah.
Kau mempelajari itu di Sekolah Dasar, kan?
Aku nyengir sambil tertawa. Ayo kita lakukan ini bersama-sama!
seruku.
Sore itu dimulailah kegiatan berjualan kami. Sementara aku
membersihkan tenda, Daiki dan Usao mulai membuat adonan. Mereka
tampaknya kesulitan karena kekuarangan bahan bakar. Jadi, mereka
sering meminta bantuanku dalam masalah api. Setelah semuanya
beres, aku mulai mengerjakan pekerjaan tambahan, seperti membuat
topi dan spanduk toko.
Dekita (selesai)! seruku bangga.
Apa kau gila, meminta kami memakai benda itu?! Daripada membuat
topi konyol itu, lebih baik kau membantuku dengan takoyaki nya! seru
Daiki seraya memukul kepalaku dengan alat penyaring.
Hehehe..., setidaknya ini akan jadi kenangan kita berjualan di sini, lho,
Daiki. Ayolah. Kau takkan terlihat konyol memakai ini.
Iiya da (tidak). Sekali kubilang tidak maka tetap tidak, kata Daiki lagi
dengan tanpa menoleh ke arahku. Aku tahu, dia pasti malu
mengenakannya bila bertemu dengan yang lain, meskipun sebenarnya
ia tidak keberatan memakainya.
Ayolah, Daiki. Sekali ini saja. Onegai (kumohon)! Aku mencoba
memasang wajah yang benar-benar memohon supaya dia mau
memakai topi kertas dengan gambar gurita itu. Setelah beberapa saat
akhirnya ia menatapku dan langsung menyambar topi itu.
Wakatta yo (aku mengerti)!

110

Aku tersenyum lebar dan berkata, Arigato (terima kasih), Daiki. Masih
dengan wajahnya yang merah itu, ia memalingkan wajahnya dariku.
Kemudian, kami mulai berjualan. Sementara aku berteriak-teriak untuk
mengajak para pengunjung menghampiri toko kami dan membeli
takoyaki, Daiki dan Usao mengerjakan pembuatan takoyaki nya. Suatu
kali, segerombolan teman yang kukenal berhenti di depan toko kami.
Wah..., Daiki-kun memasak takoyaki! seru Saiko begitu melihat Daiki
memegang alat-alat memasak, Kawaii (lucunya)!
Kalian benar-benar bekerjasama dengan baik dan unik, ya, lanjut
Naoto.
Da... danmare (diamlah)! Wanita sialan ini yang memaksaku, kok!
kata Daiki.
Kalian mau mencoba? Ayolah, belilah satu! ucapku memohon.
Baiklah. Aku beli satu! kata Saiko diikuti yang lain. Semuanya
mencicipi satu kotak kecil takoyaki yang mereka beli.
Do... dou (bagaimana)? tanya Daiki.
Oishii (enak)! kata Naoto.
Sugoku umai zo (benar-benar enak)! lanjut Yuuki.
Kau belajar ini di sekolah? kata Saiko seraya menghapus saus tomat
yang mengotori sekitar mulutnya.
Aku tersenyum senang. Tak kusangka upaya yang kami lakukan
ternyata sukses juga. Tiba-tiba saja Hiroyuki-senpai muncul dari
belakang Naoto dan mengulurkan tangannya mencuri satu tusuk
takoyaki.
Jadi kalian di sini, ya? ucapnya sambil mengunyah takoyaki yang
barusan diambilnya.
Aku terkejut setengah mati, dan ujung-ujungnya mulai ketakutan
sendiri.
111

A...a...ah..., gomennasai (maaf)! Kami tak bermaksud melarikan diri.


Kami hanya ingin membantu...
Matte (tunggu), Mina. Sepertinya ada yang tidak beres padanya,
sahut Daiki tiba-tiba menghentikanku.
Aku kembali melihat senpai yang memang tampak tidak sehat.
Byouki desuka (apa kau sakit)? tanyaku.
Kurasa dia mabuk, sahut Yuuki.
Mabuk?
Tadi senpai ikut kami berpesta pora! Benar-benar menyenangkan,
lho! Ujung-ujungnya dia bahkan meminta kami bertanding minum bir!
Aku menghela napas panjang. Sungguh tidak sopan sekali mereka
memaksa senpai sampai seperti itu.
Kami melanjutkan kegiatan berjualan itu hingga malam menjelma. Di
saat itu, aku meninggalkan toko sebentar untuk mengistirahatkan
senpai di tempat kami bermalam.
Ah..., kore dakara sake o (inilah mengapa aku membenci sake)! kata
senpai dengan lagaknya yang merana di tempat tidur itu.
Sake ja nai n desu (itu bukan sake). Biiru desu (itu bir), kata Saiko.
Huh, mereka semua sekawan dan sama-sama membuatku mual!
Tolong jangan bergerak sebentar, senpai, kataku. Aku masih
berusaha membantu senpai dalam membakar sisa-sisa sake senpai.
Sepertinya ia memang tak tahan dengan minuman beralkohol seperti
sake dan sejenisnya.
Beberapa saat kemudian Daiki masuk sambil membawa sukiyaki seperti
yang kuminta. Hanya saja ditambah dengan nasi.

112

Aku membuka kemasan sukiyaki dan sedikit-sedikit memasukkannya ke


dalam mulut senpai. Sebelum membuka mulutnya, Hiroyuki-senpai
masih memerhatikan sukiyaki di tanganku.
Kenapa kau menyuapiku? katanya lagi, Ini sukiyaki? Kenapa harus
dengan nasi?
Aku barusan saja membakar makanan dari dalam tubuhmu. Kalau
tidak diisi lagi, kau bisa pingsan, senpai!
Dengan menggerutu dan setengah malas, ia menegakkan tubuhnya
lalu mengambil sukiyaki yang kupegang. Dimakannya sendiri sukiyaki
itu hingga habis.
Kalau begitu, kita kembali dulu, Daiki. Usao-kun pasti sedang
menunggu.
Aa (ya). Aku juga mengkhawatirkan kalau para berandalan itu kembali
lagi.
Kalau begitu, kami pergi dulu. Saiko, Yuuki, Naoto, kuserahkan yang di
sini pada kalian, ya. Kami berangkat! Iku zo (ayo pergi), Daiki.
Untuk menghindari hal yang tidak kami inginkan terjadi lagi, kami
segera berlari kembali ke tempat Usao. Sesampainya di sana, firasat
buruk itu terjadi. Sepertinya anak-anak nakal itu kembali untuk
mengusik Usao.
Eh, sepertinya kau sudah memiliki bisnis baru, ya?
Kalau begitu, mana makanan yang kaujual itu?!
Salah seorang mengambil takoyaki yang kami jual, kemudian
membuangnya ke tanah.
Maji de (apa kau serius)?! Siapa yang mau memakan benda seperti ini!
Lebih baik kau serahkan uangnya kalau tidak mau kami hajar!
Anak-anak nakal itu kembali berusaha merebut uang penghasilan
jualan kami.
113

Aku berusaha berlari menghampiri Usao untuk menghentikan


perkelahian itu. Tapi sepertinya Daiki sudah sampai dahulu di tempat
itu dan menghentikan salah seorang anak yang berusaha menghajar
Usao.
Ada urusan apa kemari? ucapnya. Tatapannya yang tajam dan dingin
seperti pertama kali bertemu dengan Usao sepertinya telah membuat
beberapa anak ketakutan.
Siapa kau?! Jangan mencampuri urusan kami! ucap anak itu. Daiki
mempererat pegangan tangannya pada anak itu dan melepaskannya
begitu ia kesakitan.
Kalau tidak memiliki urusan untuk membeli apapun di sini, kau boleh
pergi sekarang, kata Daiki lagi dan membuat anak-anak nakal itu
berlari ketakutan. Daijoubu (kau baik-baik saja)? ucapnya lagi. Usao
tersenyum kecil, lalu berkata, Hai (ya). Arigato gozaimasu (terima
kasih).
Yokatta ne (syukurlah), Usao-kun. Kalau ada masalah apa-apa, jangan
sungkan untuk meminta tolong kami, ucapku dibubuhi anggukan dari
Usao.
Dengan begini, tak heran juga para Kurobake menyukai makanan
seperti anak-anak nakal itu.
Apa maksudmu, Daiki? Bukannya Kurobake hanya memakan energi
dan tubuh manusia?
Itu yang awalnya kupikirkan. Akan tetapi, Kurobake lahir dengan dosa
turunan oleh penciptanya, sama seperti kita manusia. Dalam dirinya, ia
memiliki gumpalan-gumpalan akuryo.
Lalu apa hubungannya dengan anak-anak nakal itu?
Daiki terdiam. Aku tidak tahu. Kemudian, ia tersenyum sinis dan
jawabnya, Tapi, bagi mereka yang memiliki roh jahat, memakan
manusia dengan roh jahat akan terasa lebih lezat, kan?
114

Entah mengapa, saat itu wajahnya benar-benar tampak mengerikan.


Aku berusaha menyakinkan diri agar tidak ikut-ikutan takut.
Da... Daiki, jangan coba-coba untuk menakutiku kau!
Itu benar. Menurutmu, apakah tubuh kita memiliki daging? Lalu
pernahkah kau berpikir kalau memakan daging itu lebih lezat daripada
memakan sayuran?
Aku kembali terkejut. Sou da ne (benar juga). Kelihatannya sepele, tapi
aku tak pernah memikirkan soal itu. Saking lamanya berpikir, aku
tenggelam dalam alam bawah sadarku sendiri.
Oi, Mina. Shikarishiro (sadarlah). Daiki membangunkanku begitu ia
menepuk bahuku dengan tangannya. Kono koto wa Hiroyuki-senpai ni
makasero (serahkan masalah ini pada Hiroyuki-senpai). Kau tak perlu
terlalu memikirkannya, katanya lagi.
Daiki...?
Ayo pulang. Malam ini sepertinya akan menjadi malam yang
menyebalkan.
U...un. Aku membereskan tenda dan Daiki mengembalikan alat-alat
masak yang ia pinjam dari warga setempat. Setelah selesai, kami
langsung kembali ke tempat penginapan. Belum sampai, angin di sana
sudah berhembus lebih kencang dari biasanya. Kami pun mempercepat
langkah kami dan sampailah kami tepat waktu.
Shitsureishimasu (permisi)! seruku sambil berlari masuk.
Kau pulang terlambat sekali, kata Naoto seraya membuka pintu
lebar-lebar, Cepat masuklah.
Arigato (terima kasih), Naoto.
Siapa anak kecil yang kau bawa ini? tanyanya lagi seraya menutup
pintu.

115

Kalau tidak salah, tadi aku melihatnya saat kalian berjualan! lanjut
Yuuki.
Perkenalkan dirimu, Usao.
Usao yang masih gugup itu berjalan pelan-pelan dari belakangku.
Hi...Hi... Hideki Usao desu (aku Hideki Usao). Yo... yoroshiku (salam
kenal)! ucapnya terbata-bata. Ia kemudian melihat orang-orang yang
ada di sekelilingnya satu per satu. Mendandakan bahwa ia takut, Usao
mundur beberapa langkah ke arahku.
Cih! Dari tadi dia takut tanpa alasan! Aku juga tidak tahu mengapa,
kata Daiki.
Daijoubu yo (tak apa-apa), Usao-kun. Kau aman bersama kami.
Watashi wa Takafuji Saiko (aku Takafuji Saiko), katanya sambil
menunjuk ke sebelah kirinya, Kochira wa Yokohama Yuuki (yang ini
adalah Yokohama Yuuki). Yuuki no hidari ni wa Ooiwa Naoto (di sebelah
kiri Yuuki adalah Ooiwa Naoto). Soshite kono chuyuuou no kowai na
oniisan wa Hiroyuki Kazuo (dan kakak yang menakutkan di tengah ini
adalah Hiroyuki Kazuo). Tapi aku yakin kau sudah mengenal Minakami
dan Daiki, kan?
Usao mengangguk pelan.
Yah..., biarkan dia menginap di sini. Dia tak punya tempat lain selain di
sini, kan? Di samping itu kalau memang banyak anak-anak nakal di sini,
dia dalam bahaya, lanjut Saiko.
Aku tersenyum senang. Arigato (terima kasih), Saiko! seruku.
Malam menjelma, dan udara semakin dingin. Lebih parahnya, salju
putih sudah mulai berjatuhan.
Ini tidak akan jadi mudah bagi kita untuk melakukan penyerangan,
kata Naoto.
Di desa ini banyak sekali yang tak percaya dengan keberadaan akuryo.
Mereka menganggap remeh tindak kekerasan mereka dan
116

menjadikannya sebagai tindakan yang seolah-olah sangat manusiawi


untuk dilakukan. Itu akan sangat memiliki dampak bagi para Kurobake
dan membuat mereka bertambah betah untuk tinggal di sini, kata
Daiki panjang lebar.
Tak heran mereka masih ingin tinggal di sini dan tak mau keluar, ya?
lanjut Saiko.
Ah..., aku tak mengerti semua ini! Masalah semuanya berawal dari
sembayang, lalu Kurobake, lalu akuryo sebagai makanan Kurobake, ah..,
sekarang semuanya kembali lagi?! kata Yuuki.
Di saat itu tiba-tiba terdengar suara dentuman yang keras seperti
pohon yang barusan rubuh. Kami semua langsung membuka pintu
perlahan. Ketika baru membuka sedikit, angin kencang sudah dapat
kami rasakan. Naoto terus berusaha membuka pintu.
Yamero (hentikan), Naoto. Kau tak usah membuka pintunya lagi.
Dilihat dari kecepatan angin ini, kurasa para Kuroi Karasu itu kembali
lagi. Mereka pasti ingin membalas dendam karena kita telah
menghancurkan Kurobake mereka.
Beberapa saat kemudian ketika angin kencang itu sudah mulai mereda,
Naoto membuka pintu perlahan. Betapa terkejutnya kami ketika
melihat rumah-rumah dan pepohonan banyak yang rubuh.
Kore wa (ini)... ittai (apa-apaan)? ucapku.
Banyak warga yang keluar dan berkerumun melihat apa yang barusan
terjadi.
Semuanya, tolong bawa anak-anak dan segera pergilah ke tempat
pengungsian! seru Hiroyuki-senpai. Di saat itu tiba-tiba angin kencang
bertiup dan merusak tempat penginapan para Kuroi Komori.
Minna daijoubu ka (apakah kalian baik-baik saja)? kata Hiroyukisenpai lagi.

117

Hai (ya)! Tidak ada yang terluka, jawab Naoto. Untungnya kami
semua berhasil keluar dari rumah secepat mungkin sehingga tidak ada
yang terkena badai itu.
Kita harus cepat mengevakuasi yang lain ke tempat pengungsian dan
mendirikan benteng. Isoide (cepat)! kata senpai lagi.
Kami pun bergegas menuju tempat pengungsian yang untungnya tidak
ikut rubuh akibat badai barusan, meskipun atapnya sudah sedikit rusak.
Untuk sementara, kami mengumpulkan semua warga di sana dan yang
lain memperbaiki atap yang rusak. Karena terbuat dari tanah liat, kami
lebih mudah memperbaikinya dengan melelehkannya dan
menggabungkannya dengan tanah liat baru.
Banyak warga yang ketakutan. Tangisan anak kecil pun berulang kali
kudengar.
Mou daijoubu yo (sudah tidak apa-apa). Nakanaide (jangan
menangis), begitu kata salah seorang ibu yang sedang menggendong
bayinya. Aku menoleh ke arah lain. Di sana sudah banyak anak-anak
yang kira-kira berusia sepuluh tahun berkumpul bersama. Sepertinya
Yuuki membacakan cerita untuk meredakan rasa takut mereka.
Kalian tahu? Desa ini sedang diserbu alien yang sangat kejam dan
kelaparan! katanya.
Alien yang kejam dan kelaparan?
Sou da (itu benar)! Matanya besar dan tubuhnya menyerupai kadal!
Yuuki memperagakannya supaya anak-anak itu terlihat lebih takut.
Konon, alien-alien itu pernah ditangkap dan dipenjara. Akan tetapi
karena jumlah mereka yang terlalu banyak, Pak Polisi tak mampu
menahan mereka dan dalam jumlah besar mereka berhasil lolos!
lanjutnya yang membuatku tertawa kecil.
Alien-alien itu berpencar dan bersembunyi di banyak tempat, dan
salah satunya adalah desa ini.
118

Anak-anak itu nampak mulai khawatir. Kalau begitu, bagaimana cara


kita mengusir mereka? tanya salah seorang.
Nah, kalian tahu? Para alien itu sangat takut dengan api! Api yang
kumaksudkan di sini bukan api kompor, atau api yang berwarna kuning
yang sering kita lihat! Mereka takut dengan api semangat anak-anak
yang membara di dalam tubuh mereka!
Takut dengan anak-anak? Jadi bagaimana?
Ceritakan, ceritakan!
Anak-anak itu begitu antusias mendengar pembacaan cerita Yuuki.
Jadi, yang perlu kalian lakukan hanyalah membawa satu saja senjata.
Misalnya... Yuuki meraba-raba isi tasnya dan mengambil sebuah
tongkat besi. Ini! katanya, Kalau kalian pukulkan ini pada para alien
dengan penuh semangat dan keyakinan bahwa kalian bisa
melakukannya, mereka pasti akan terbakar! Habis seperti bila kalian
membakar kertas!
Anak-anak itu tercengang dan melongo mendengar cerita Yuuki yang
begitu ekspresif.
Kalau begitu, ayo kita berjuang bersama-sama! Jangan takut, kawankawan! seru salah seorang anak diikuti sorakan setuju dari yang lain.
Aku kembali tersenyum tipis.
Apakah hanya ini saja orang-orangnya, Mina? Sudahkah kau
memeriksa yang di luar? sahut Daiki tiba-tiba.
Terakhir kali aku memeriksa sudah tak ada yang berkeliaran dan
berlarian di luar. Dengan indera kelelawar pun aku tak menemukan
seorangpun.
Yuuki kemudian datang menghampiriku.

119

Ah..., malam yang gelap, dunia merana. Oh, bumi, kapan kau akan
memperbaiki dirimu? ucapnya dengan penuh ekspresi seperti sedang
membacakan puisi.
Aku tertawa kecil. Bagaimana anak-anak itu? Apa kau sudah memiliki
rencana? tanyaku.
Yuuki tersenyum tipis. Ore ni makasero (serahkan saja padaku)!
Nanda yo (kenapa), kowagaru no ka omae (kau ketakutan ya)? sahut
Daiki.
Betsuni kowagaru nanka ja nai (sebenarnya bukan ketakutan sih). Aku
gugup.
Tak ada waktu untuk gugup, kan? Anak-anak itu menaruh harapan
mereka pada kita untuk bisa melawan alien itu. Jadi, jangan sia-siakan!
lanjut Yuuki.
Aku kembali tersenyum, merasakan kehangatan distrik tujuh yang
tersenyum bersama dan berhasil melenyapkan rasa takut anak-anak
kecil itu.
Hiroyuki-senpai membuka pintu perlahan. Di luar sudah banyak sekali
Kurobake menanti jiwa-jiwa kami.
Kelihatannya akan sangat merepotkan. Minna kakugo ga dekita no ka
(apa kalian sudah siap? sahut Hiroyuki-senpai.
Bukan saatnya untuk takut-takutan! Kita habisi mereka dengan apa
yang kita miliki! jawab Yuuki.
Semua anggota distrik tujuh mengangguk satu per satu, menandakan
kami benar-benar siap.
Yuuki no niisan (kak Yuuki)! seru salah seorang anak yang sangat
mengejutkan Yuuki.
Nanda yo (apa sih)? Kupikir kalian sudah siap!
Kalau kau memakai tongkat besi, apa yang bisa kami pakai?
120

Bisakah kami memakai tang ini?


Atau bisakah kami menggunakan tongkat besi ini?
Gunakan apa saja yang bisa menghantarkan api! jawab Yuuki.
Ha... hai (ya)!
Yoshi (baik)! Iku ze (ayo lakukan)! seru Yuuki.
Di saat itu juga, anak-anak kecil itu mengikuti Yuuki dari belakang dan
tanpa ragu-ragu mengayunkan senjata mereka masing-masing ke arah
para kawanan Kurobake itu. Ketika dipukulkannya tongkat itu pada
para Kurobake, api merah memancar keluar membakar kawanan
Kurobake itu.
Sasuga Yuuki da ne (Yuuki memang tak diragukan)! batinku. Aku
sudah menduga itulah rencananya dari awal. Ia menyalurkan api
semangat, api emosinya pada anak-anak itu dan dengan bantuan api
emosi anak-anak itu ia bisa membesarkannya sampai berhasil
membakar Kurobake itu.
Apa yang kau lakukan? Jangan hanya berdiri dan melamun di situ,
Mina! Sassato yachimae (segera bunuhlah mereka)! seru Daiki.
Hai (ya)!
Aku langsung menarik Raiten Sword lalu menebaskannya pada
Kurobake satu per satu.
Dengan begini akan menjadi lebih mudah! Sankyuu na (terima kasih),
Yuuki! seruku.
Daripada berterimakasih padaku begitu, lebih baik kau jangan lengah
dan perhatikan depanmu!
Sore o wakatteru yo (aku mengerti soal itu)!
Dengan cepat, jumlah Kurobake itu berkurang. Ternyata dugaanku
memang benar. Api benar-benar membantu menghancurkan mereka!
Dengan begini pekerjaanku akan lebih cepat selesai! Ketika bagianku
121

sudah hampir selesai, aku melirik bagian anak-anak itu sesaat. Melihat
cara mereka bertempur dengan gagah berani.
Suatu kali, aku mendapati anak-anak nakal pengganggu itu ikut terjun
dalam medan perang. Beberapa Kurobake menghampiri mereka dan
sepertinya mereka ketakutan.
Kuruna (jangan mendekat), kuruna (jangan mendekat)! ucap salah
seorang anak sambil menodongkan tongkat besinya.
Tasukete (tolong kami)! Kami masih belum mau mati! seru yang lain.
Dengan tanpa ampun, tiga ekor Kurobake itu melompat ke arah
mereka. Di saat itu pun Daiki datang dan menebas ketiga-tiganya.
Kami sudah bilang untuk tidak takut-takutan, kan? serunya. Anakanak itu membuka mata mereka perlahan, menyadari ada yang sudah
menyelamatkan mereka. Kalian berani menyakiti sesama manusia,
tapi kalian takut dengan makhluk gelap macam mereka? Fuzakeruna
(jangan bercanda)! Kalian begitu menyedihkan! Di mana semangat
kalian untuk menghabisi alien itu?! lanjut Daiki lagi.
Anak-anak itu saling berpandangan.
Sou yo ne (itu benar juga). Tidak ada waktu bagi kita untuk takuttakutan. Kita harus berjuang, dan tidak boleh santai-santai! ucap salah
seorang anak diikuti persetujuan dari teman-temannya yang lain.
Apa yang kau lamunkan, Mina?! Hayaku me o samase (cepat bukalah
matamu)! seru Daiki membangunkanku yang dari tadi melamun.
Ha... hai (ya)!
Aku kembali melanjutkan penyerangan, sementara Hiroyuki-senpai
berusaha menghampiriku.
Mina, sochi wa dekita no ka (apa kau sudah menyelesaikan yang di
sana)? serunya dari kejauhan.

122

Aku tak tahu apa aku bisa menyelesaikan mereka semua, tapi...
selama masih bisa, mati hidup aku akan berusaha! jawabku seraya
menebaskan pedangku dan membunuh Kurobake lagi.
Mina, Daiki, kotchi e (ke sini)! seru senpai lagi.
Whoa...., nani o (ada apa), senpai? ucapku kebingungan seraya
mengganti arah gerakanku.
Kami bergegas menuju tempat arahan senpai. Di tengah jalan tentunya
banyak Kurobake yang datang menghadang. Kuerahkan roh api itu
untuk menghabisi mereka satu per satu.
Dengan begitu kau tidak akan cepat selesai, Mina! seru Daiki.
Duh, berhentilah memerintahku! Aku sendiri sudah kehabisan tenaga,
tahu! Kembali kutebas para makhluk gelap itu menggunakan
pedangku yang berapi-api. Sampai di sebuah belokan, para Kurobake
sudah tidak memunculkan diri lagi.
Doko e iku n desuka (ke mana kita pergi), senpai? tanyaku.
Ada satu area yang dari kemarin sepertinya belum kita kunjungi.
Belokan itu sangat panjang dan ujung-ujungnya yang dapat kami
temukan hanyalah hamparan tembok yang sangat luas dan membuntu
jalan kami.
Bagaimana selanjutnya, senpai? tanyaku. Tanpa menghiraukanku,
Hiroyuki-senpai menempelkan telinganya pada tembok itu seraya
meraba-rabanya.
Kita akan merubuhkannya.
Eh?! Seketika ia membuatku terkejut.
Kakugo suru (bersiaplah)! seru senpai memberi aba-aba pada Daiki,
Ima da (sekarang), Daiki!
Dengan cepat Daiki melemparkan besi berduri dengan rantai yang
panjang. Dilakukannya itu pada ketiga besi yang dipunyanya. Setelah
123

ketiga-tiganya menancap, ditariknya bersama-sama dengan keras dan


rubuhlah tembok itu.
Sudah kuduga. Tembok buatan Kuroi Karasu tidak akan sekuat tembok
buatan pengendali batu, kata senpai.
Bebatuan tembok itu jatuh satu per satu dan setelah asap terangkat,
ribuan Kurobake telah menunggu untuk merenggut jiwa kami dalam
sekejap.
Kore wa ittai (apa-apaan ini)?! seruku.
Yahari na (sudah kuduga).
Yahari te dou yuu koto desuka (apa maksudmu sudah kuduga)?
Kita belum memeriksa tempat ini dari kemarin, kan?
Apa yang akan kita lakukan dengan jumlah sebesar ini?
Apa lagi? Kita habisi semuanya! kata Daiki langsung maju dan
menyerang.
Chotto (tunggu), Daiki! Mou (duh)...!
Dengan terpaksa, aku pun ikut maju dan melakukan penyerangan.
Ketika menebas salah seekor Kurobake, pedangku lengket dan sulit
sekali kuambil.
Semakin berusaha kutarik, semakin kuat pedangku tersangkut.
Kore wa (ini)... ittai (apa-apaan)?! ucapku.
Kiotsukero (hati-hati)! Ada yang aneh dengan para Kurobake ini!
Tubuh mereka kini dilapisi lumpur hisap! seru Daiki.
Aku terkejut bukan main. Karena lengah, aku ikut diombangambingkan Kurobake itu.
Lebih baik beritahu aku lebih awal! seruku. Saking kerasnya ayunan,
aku terpental dan jatuh terguling.

124

Ittai (sakit)! ucapku sambil memegang lenganku yang hampir patah.


Untungnya karena itu aku bisa mengambil kembali Raiten Sword.
Kurae (terima ini), kono Kurobake (Kurobake sialan)! seruku seraya
menghempaskan api yang ada pada pedangku. Rupanya mereka masih
bertahan dan tidak meleleh.
Senpai, kore wa ittai (apa-apaan ini)? Kenapa mereka tidak meleleh?
kataku.
Sepertinya mereka mengambil keuntungan menggunakan lumpur
hisap itu! Mereka bisa mencair, mengental, dan kembali menjadi
monster lagi sekalipun telah dibakar! Perhatikan itu baik-baik!
Kalau begitu bagaimana cara menghabisi mereka? Aku kehabisan
akal! seruku lagi.
Berusahalah mencari tahu! Aku juga kesulitan di sini!
Mou (duh)...! Kenapa liburan harus diisi dengan Kurobake begini?!
Aku terus berusaha menyerang dengan pedang apiku dan membakar
mereka. Kucoba mengeluarkan kelelawar untuk menghisap mereka,
tapi semuanya gagal.
Sesekali kuperhatikan Daiki. Daiki yang kusebut Raja Senjata karena
peralatannya yang sadis seperti sabit kini mengalami masalah.
Dipotong menggunakan alat apapun, para Kurobake itu terus kembali
menyatu.Aku berusaha fokus dengan pertarunganku sendiri, tapi aku
sudah kehabisan ide untuk menghabisi mereka.
Lagi-lagi aku lengah. Ketika kutancapkan pedangku pada salah seekor,
cairan-cairan pekat itu malah menyembur ke arahku dan membuatku
kesulitan bergerak. Sebelum mengeras, aku langsung mencairkannya
dengan api. Aku langsung berdiri tanpa waspada dan di saat itu Daiki
juga akan terjatuh. Dengan cepat aku langsung berguling
menghindarinya.
Kiotsukero (hati-hati), baka (bodoh)! seruku.
125

Ore no sei ja nai yo (itu bukan salahku)!


Ketika hendak melakukan penyerangan lagi, aku tiba-tiba mendapat
panggilan dari Contactor.
Moshimoshi (halo), Mina? ucap orang itu. Rupanya Yuuki
menghubungiku.
Yuuki? Doushita no (ada apa)?
Apa kau mengalami masalah di sana?
Iya. Masalah besar! Aku berusaha melelehkan mereka, tetapi
sepertinya mereka sudah kebal api! Mereka justru menggunakan api
kami untuk mengeras!
Di sini juga sama!
Mendengar itu, aku terkejut.
Bukannya kau tidak mengalami masalah tadi? Bukannya anak-anak itu
bisa melawan mereka dengan mulus? tanyaku heran.
Makanya itu aku menghubungimu! Dari tadi, kami berhasil
mengalahkan para Kurobake itu dengan mulus! Mereka hancur begitu
kugunakan api dengan bantuan pedang!
Kudengarkan penjelasan Yuuki sementara kembali melakukan
penyerangan. Kali ini kulemparkan bola-bola racun, berharap dengan
itu bisa kupisahkan bagian-bagian tubuh Kurobake yang cair itu.
Ternyata rencana itu pun gagal.
Tapi, dari arah jam sebelas, tepat dari arah kalian pergi, Kurobake itu
terus bermunculan dan kali ini mereka tak bisa dihanguskan dengan
api!
Aku melangkah mundur dan membuat jarak dengan Kurobake itu.
Apapun sudah kami coba, seperti penyerangan kelelawar, sabit, kunai,
bola-bola racun, pedang api, tapi semuanya gagal!
126

Keringatku mulai berleleran. Bukan hanya keringat karena lelah, tapi


kurasakan keringat dingin karena rasa takut tidak bisa mengalahkan
para Kurobake itu, sekaligus rasa takut akan menjadi santapan bagi
mereka.
Ketika bulir-bulir keringatku berjatuhan, kurasakan benda meleleh di
tanganku. Ya, benar. Cairan seperti lumpur hisap yang sempat
disemburkan padaku partikel demi partikel saling melepas dan
berjauhan. Kulakukan lagi dengan menggunakan air ludahku.
Kusemburkan air ludah pada cairan lumpur hisap itu, dan ia kembali
terpisah.
Di saat itu tiba-tiba aku mendapatkan ide yang kurasa ampuh.
Sou da (benar juga)! Aku bisa memecah-mecahkan mereka dengan
air! Tapi aku bukan pengendali air. Bagaimana bisa mengendalikan air?
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri.
Senpai, seruku, Apa kau memiliki cadangan air?!
Air? Apakah ini cukup?
Hiroyuki-senpai menunjukkan botol minumnya yang berisi air penuh.
Bahkan air segitu tidak akan cukup! batinku.
Aku kembali menoleh ke kanan dan kiri, berusaha mencari air.
Sou da (benar juga)! Kutemukan sebuah tangki air yang sepertinya
mengalir untuk mengairi sawah.
Aku mengerti! seruku bangga.
Minakami? Yuuki kembali memanggilku.
Aku berjalan maju tepat di depan Hiroyuki-senpai dan Daiki.
Hora (hei), hora (hei), Kurobake! Kalau kau menginginkan jiwa
manusia terkejam dan berdarah dingin di dunia ini, cepat kemarilah
dan serang aku! seruku.
127

Hiroyuki-senpai dan Daiki langsung tercengang.


Hora (hei), hora (hei)! Kalau kalian tidak cepat, Daiki akan
membunuhku lho! seruku lagi.
Nani atteru n da (apa yang kau lakukan), Minakami?! seru senpai.
Dalam sekejap, kerumunan Kurobake itu berlari ke arahku, hendak
menghabisiku tulang belulangku.
Elemen api, Lumpur Lava! Kubangkitkan lava dari gunung di desa itu
dan kuarahkan pada para Kurobake itu. Ketika lava mengeras, mereka
tak bisa bergerak. Pada kesempatan itu, kulelehkan mereka dengan
bola api.
Berhasil! Mereka meleleh! Kurobake dengan jumlah besar kini
bukanlah Kurobake lagi, melainkan lautan Kurobake yang sudah
meleleh. Di saat itu juga, aku melelehkan tangki pengairan sawah dan
membiarkan air segar memancur keluar membasahi para Kurobake.
Perlahan-lahan kawanan Kurobake itu hangus. Yang tersisa hanyalah
sisa-sisa lumpur mereka.
Wakatta na (kau mengerti), Yuuki? Hancurkan Kurobake dengan apa
yang menciptakan mereka! Hancurkan mereka dengan air!
Mizu de (dengan air)?! Wakatta (aku mengerti)! Sankyuu na (terima
kasih), Mina! kata Yuuki.
Sementara itu, Daiki mendekati area lumpur itu, lalu memegang
lumpur yang berserakan itu.
Hontou da (kau benar)! Mereka benar-benar hangus! katanya.
Darou (benar kan)? Hehehe! Aku tertawa bangga.
Sepertinya kau memang berdahi lebar, gadis api. Suara itu
mengejutkanku. Aku pun mengambil beberapa langkah mundur.
Hiroyuki-senpai mengepalkan tangannya dengan kesal.
128

Reita!
Reita yang awalnya seorang gadis kecil dengan tatapannya yang dingin,
kini mengeluarkan senjata andalannya. Dua pedang besar di tangan
kanan dan kirinya yang bisa mengeluarkan angin kapanpun ia
kehendaki. Ia mengangkat kedua pedangnya lalu menebaskannya dan
membuat angin kencang, sekaligus mendirikan kristal-kristal es tajam
yang siap menikam kami habis bila tak berhati-hati.
Kristal-kristal es itu mengikuti kami ke manapun kami lari. Ketika jalan
sudah buntu dan aku tak dapat lari lagi, kukeluarkan pedangku untuk
memotong sekaligus melelehkan kristal-kristal es itu. Ketika sudah
habis, tiba-tiba sebuah bola salju mendarat di wajahku dan sepertinya
itu memberiku efek vertigo. Reita tiba-tiba bertambah banyak dan
dengan cepat melaju untuk menyerangku.
Diayunkannya pedang besar itu sehingga menghasilkan sabit es besar
yang siap membelahku menjadi dua. Karena masih bingung, aku tak
bisa bergerak dan melakukan penyerangan. Di saat itu disemburkanlah
api Daiki yang menahan sekaligus melelehkan sabit besar itu. Di saat itu
pula ditembakkannya api yang melaju secepat meteor dan
menghempaskan tubuh Reita.
Ketika asap terangkat, dapat kulihat dengan jelas tubuhnya terbakar
dan mengelupas perlahan-lahan. Serpihan-serpihan pasir roh yang
keluar itu berusaha untuk saling menyatu. Ia kembali berlari untuk
menyerangku. Dihantamkannya pedang besarnya itu pada Raiten
Sword dengan keras. Sakit sekali rasanya menahan pedang besar itu.
Rasa sakit itu makin kurasakan ketika kristal-kristal es mulai menyebar
menuju pedangku.
Sementara itu dari samping tiba-tiba Daiki datang seraya mengayunkan
sabit apinya hendak memotong Reita. Dihindarinya sabit itu dan di saat
itu juga aku kembali menghantamkan pedangku pada pedang besarnya
hingga ia pun terjatuh.
129

Daiki, dou suru no (apa yang harus kita lakukan)? tanyaku.


Ya. Tampaknya mereka tak mudah mati begitu saja. Pasir roh memang
hebat. Huh, lebih baik kau mundur saja, deh! Biarkan aku yang
menanganinya. Lelaki itu lebih kuat dari wanita!
Di saat itu juga, Reita kembali muncul dan mengayunkan pedang
besarnya sehingga menimbulkan sabit es yang besar. Kuhindari sabit
itu dengan cepat, lalu kembali kuhantamkan pedangku padanya.
Aku takkan mau mundur! seruku.
Ia menghantarkan esnya untuk membekukan pedangku. Di saat itu juga
aku mundur lalu menghancurkan es itu. Dengan kesal kuhantamkan
pedangku pada pedang besarnya itu. Dengan api hijau aku berhasil
membuat retakan yang panjang pada pedangnya. Kami membuat jarak
yang cukup jauh.
Reita melihat ke sekelilingnya. Air yang kami gunakan untuk
menghabisi Kurobake masih tercecer di mana-mana. Diangkatnya
tangannya perlahan-lahan lalu menyapu seraya mengubah air itu
menjadi es yang panjang dan tajam dan melaju cepat menuju ke arahku
seperti raungan es.
Dengan cepat dan berhati-hati aku berlari berusaha menghindari
raungan es itu. Kalau tidak hati-hati aku akan mati tertusuk tombaktombak es yang tajam itu. Tapi tak kusangka Reita tidak sebodoh itu. Ia
mengubah sepercik air di tanah menjadi es dan membuatku tergelincir,
sementara itu ia menciptakan tombak-tombak es tepat di depanku.
Ketika kukira aku akan menghancurkan wajahku sendiri dengan
tombak-tombak itu, Daiki tiba-tiba melompat dan menangkapku
seraya menjauhkanku dari tombak-tombak itu. Ia membunyikan jarinya
dan dalam sekejap api putih meluncur dan langsung membakar lengan
Reita. Lengannya patah dan tak bisa kembali menyatu lagi.
Sesuai dugaanku, api putih memang ampuh dalam hal ini. Kau ingat?
Api putih melenyapkan kekuatan jahat, kan? kata Daiki.
130

Aku melongo. Benar juga perkataannya. Kenapa sebelumnya tidak


pernah terpikirkan?
Reita mundur dan berdiri di samping ibunya dan Takahiro Matsuo.
Aku tak menyangka kalian tidak memiliki rasa ampun sama sekali. Ini
sungguh mengejutkan, kata Takahiro Matsuo sambil tertawa puas.
Aku takkan puas sampai aku berhasil memenggal kepalamu itu,
brengsek! seru senpai.
Ho...? Kalau begitu, bagaimana kalau kau menghabisi ibumu sendiri
dahulu? Selama ia masih memiliki keinginan untuk hidup, ia akan tetap
hidup sebagai manusia hampa.
Hiroyuki-senpai makin kesal.
Fuzakeruna (jangan bercanda)!!! serunya seraya mengayunkan
pedang dengan kesal.
Ditahannya pedang itu oleh ibunya.
Haha ue, apa kau memang berniat untuk hidup terlepas dari jiwamu?
Tidakkah kau sadar kau hanyalah wadah sekaligus boneka bagi orangorang seperti mereka? Apa dasar alasanmu hidup hanya sebagai
boneka bagi mereka?! serunya.
Aku tak peduli siapa yang membangkitkanku, siapa aku, di mana aku
berada, dan untuk apa aku hidup. Tujuan utamaku hidup adalah untuk
membunuh orang yang telah membunuhku.
Sou ka (jadi begitu)! Ia bukan dikuasai oleh keinginan untuk hidup, tapi
dendam. Selama dendamnya belum terlampiaskan, ia takkan pergi.
Dou yuu koto (apa maksudnya), Daiki? Kukira hanya keinginannya
untuk hidup itulah yang membuat dirinya yang sekarang ini seperti kata
senpai.
Ia ingin hidup untuk membalaskan dendamnya. Itulah yang membuat
dirinya saat ini. Tapi kalau memang masih ada cahaya dalam dirinya...
131

mungkin masih ada cara untuk membangunkannya. Kalau dirinya


sudah dikuasai kegelapan seluruhnya, maka tak ada cara lain selain
menghabisinya.
Aku masih memandang sedih akan nasib kedua belah pihak. Kira-kira
apakah senpai bisa membunuh ibu dan adiknya sendiri?
Aku masih memerhatikan pertempuran mereka dari jarak jauh. Mereka
saling melampiaskan amarah mereka dengan pedang. Seperti mereka
sedang menyampaikan pesan mereka melalui pedang. Api dan angin
saling berbenturan. Sepertinya takkan ada salah satu dari mereka yang
akan berhenti, sampai salah seorang dari mereka kehilangan nyawanya.
Hiroyuki-senpai kehilangan kendali. Ibunya berhasil menghempasnya
dengan angin.
Ia melaju dengan cepat dan langsung menjerat leher senpai.
Shine (matilah kau)!
Haha ue, apa kau yakin dengan jalan ini? Tidakkah ada jalan lain yang
dapat kaupilih?
Serangan yang hendak diluncurkan ibunya terhenti.
Di hari aku membunuhmu, aku merasa semuanya sudah berubah.
Keluarga yang hangat, kini yang tersisa hanyalah hawa dingin yang
terus menghantuiku. Aku sendiri tahu, aku tak bisa membunuhmu. Tapi
di lain sisi, aku harus membunuhmu, sebelum kau menjadi kadal
pembunuh. Aku berusaha menghindarkan darimu semua yang pada
akhirnya membuatmu tak bisa pergi dengan tenang. Tapi saat ini,
apakah kau ingin menghancurkan semua itu dengan bergabung dengan
mereka?
Aku sudah mengatakan, aku tak peduli siapa yang membangkitkanku,
siapa aku, di mana aku berada, dan untuk apa aku hidup, asalkan aku
bisa datang ke dunia ini kembali untuk membunuhmu.

132

Ibunya takkan berhenti. Cengkeraman tangannya bertambah kuat dan


bila tidak segera dihentikan, ia bisa mematahkan leher senpai. Dengan
nekad dan setengah ceroboh, aku berlari untuk menghentikannya.
Yamete (hentikan)!!! seruku dengan bola api putih di tanganku.
Yose (hentikan), Mina! seru Daiki dari belakang.
Kecerobohanku pun pada akhirnya memang membawa kerugian.
Hiroyuki Shimizu-san mengeluarkan tombak es nya seraya menikamku.
Belum puas dengan itu, ia melemparku membentur pada sebuah
tembok besar.
Mina! seru Daiki seraya berlari menghampiriku. Tembok itu perlahan
runtuh dan bila aku tidak berhati-hati aku bisa tertimpa reruntuhannya.
Untung saja aku masih bisa bergerak untuk menghindarinya.
Yokumo (beraninya kau)! Kalau tujuanmu untuk membunuhku, kau
tak perlu menyakiti yang lain, kan?! seru senpai.
Di luar tujuanku itu, aku hidup untuk memenuhi permintaan masterku,
yang telah membangkitkanku, yaitu untuk membunuh setiap mereka
yang menghalangi rencana kami.
Hiroyuki-senpai menjadi semakin kesal. Ia mengaktifkan pengendali
dimensinya dan menjatuhkan dirinya menembus ibunya. Ibunya tidak
berhenti. Ia kembali berusaha membunuh senpai dan dengan tombak
es yang diangkatnya tinggi-tinggi, ia siap menghancurkan kepala senpai.
Dijegalnya kaki Shimizu-san hingga ia jatuh. Ia menarik pedang hendak
memenggal ibunya di saat itu juga. Pedang itu ditahan oleh Shimizusan dengan tombaknya.
Keduanya terus menghantamkan pedang hingga suatu kali ditahannya
tombak es itu oleh senpai lalu dipatahkannya dengan api. Dicekiknya
Shimizu-san seperti tanpa ampun lalu dihantamkannya ibunya itu pada
tembok.

133

Kalau kau beranggapan aku tak bisa membunuhmu sekali lagi, jangan
salah! Meskipun dulu kau pernah menjadi ibuku, takkan kubiarkan kau
menjadi ibuku lagi lalu melukai orang-orang yang kusayangi!
Senpai menodongkan pedangnya tepat di wajah ibunya. Ketika akan
menikam Shimizu-san, Reita berlari ke arah mereka dengan niat
menghentikan senpai. Bisa tidak bisa, kupaksakan kakiku untuk berdiri
dan menghadang Reita. Kuhantamkan pedangku pada pedang
besarnya supaya ia berhenti.
Takkan kubiarkan kau menghalangi kami lagi! ucapku.
Mina, muri suruna (jangan paksakan diri)! seru Daiki.
Sonna koto wakatteru yo (aku mengerti itu)!
Kembali kunyalakan api hijau untuk melanjutkan retak yang sudah
tergores pada pedang Reita.
Kau benar-benar mengganggu! Jangan halangi kami! kata Reita.
Kaulah yang membuat kami mengganggumu! Jangan halangi kami
untuk menghalangimu!
Aku kembali menghantamkan pedangku dengan keras dan retakanretakan baru menyusul retakan yang sebelumnya dan sebelum
kupadamkan api hijauku, pedang itu patah menjadi dua dan melempar
Reita sangat jauh.
Beraninya kau! seru Shimizu-san seraya mengeluarkan tombak esnya
hendak menikamku. Tiba-tiba saja Hiroyuki-senpai mengulurkan
tangannya sehingga tombak es itu menancap pada tangannya.
Dipatahkannya tombak itu lalu ditancapkannya pada kaki ibunya.
Sudah cukup kau melukai mereka! kata senpai.
Mungkin masih belum.
Senpai, menjauhlah dari sana! seruku begitu melihat ada genangan
air di tempat Hiroyuki-senpai berdiri. Dugaanku benar. Shimizu-san
134

membuat raungan es yang bilamana senpai tidak berhati-hati ia bisa


terbunuh.
Hiroyuki-senpai melompat tinggi menghindari raungan es itu, dan pada
kesempatan sempit itu Shimizu-san telah menyiapkan tombak es nya.
Ketika hendak mendarat, Hiroyuki-senpai menendang sekaligus
mematahkan tombak es itu lalu menghantam wajah Shimizu-san
hingga ia terjatuh. Tombak es itu dipatahkannya menjadi dua lalu
digunakannya untuk menikam kedua tangan ibunya.
Shimizu-san menjerit kesakitan.
Apakah itu sakit? Kau orang mati, tapi masih bisa merasakan sakit,
bukan? Tapi sakit itu tidak melebihi rasa sakit yang kualami kehilangan
mereka yang kusayangi!
Semakin lama, semakin kuat ia mencekik ibunya. Dan di saat-saat
terakhir, Shimizu-san makin melemah.
Kau benar, Kazuo. Aku tak seharusnya memilih jalan ini. Kita
seharusnya hidup sekeluarga dengan damai. Aku tak seharusnya
sekalipun memiliki keinginan ini. Maka dari itu, aku ingin memulainya
dari awal. Ayo, kita ulangi semuanya dan hiduplah bersama denganku.
Shimizu-san tersenyum. Senyumannya benar-benar memancarkan
kasih sejati seorang ibu. Sesaat cengkeraman Hiroyuki-senpai pun
melemah. Saat ini ia seperti sedang dihipnotis. Aku pun teringat akan
kata-kata Yusuke-senpai mengenai hipnotis itu saat bertarung dulu.
Are wa (itu kan)...! ucapku.
Kelihatannya ia seperti dihipnotis, kata Daiki.
Hiroyuki-senpai mengepalkan tangannya, menandakan ia sudah
membuat tekad yang bulat.
Iiya (tidak), kata senpai dengan nada yang rendah dan terdengar
dingin, Ore no haha wa hitori dake (aku hanya memiliki seorang ibu).

135

Shinda haha dake da (ia sudah meninggal). Omae wa tada karappo na


utsuwa da (kau hanyalah wadah kosong).
Semua yang ada di sana pun terkejut.
Hiroyuki-senpai mengeluarkan pedangnya lagi dan bersiap untuk
membunuh Shimizu-san.
Yamero (hentikan), yamero (hentikan)! jerit Shimizu-san. Berulang
kali ia menjerit, tapi sepertinya Hiroyuki-senpai sudah tidak
terpengaruh dengan itu. Aku pun turut prihatin, dan merasa benarbenar tak mampu melakukan apapun selain berdiri dan melihatnya.
Omae wa shi ni modore (kembalilah ke alam kematian), kata senpai
lagi. Diayunkannya pedangnya yang berapi-api dan dalam sekejap ia
membantai Shimizu-san.
Darah segar memancar keluar membasahi hampir seluruh tubuh
Hiroyuki-senpai. Perlahan ia menolehkan kepalanya dan sebagian
wajahnya yang bermandikan darah itu pun dapat terlihat dengan jelas.
Kengerian dan ketegangan menyertai tragedi malam itu. Sementara itu
Takahiro Matsuo nampak masih berdiri tak jauh dari kami dengan
tatapannya yang gembira. Gembira menyaksikan tragedi mengerikan
itu, sementara darah telah mengering dan hati pun membeku.
Hiroyuki-senpai menjatuhkan pedangnya ke tanah. Suasana masih
hening. Hiroyuki-senpai berjalan seraya membungkuk dan masih
menatap mayat ibunya yang tergeletak di tanah dengan penuh darah.
Dinyalakannya api putih yang kemudian melenyapkan pasir roh
sekaligus tubuh ibunya.
Kore de owatta n da yo (dengan ini berakhirlah sudah), ucapnya.
Kami semua yang ada di sana masih dirundung duka. Akhir yang tragis
itu seakan-akan menjadikan malam ini seperti malam kriminal.
Hi...Hiroyuki-senpai... ucapku turut merasa bersalah.

136

Hiroyuki-senpai kembali menoleh menghadap Takahiro Matsuo,


katanya, Kau sudah kalah. Kami akan kembali. Kalau kau berani
menginjakkan kakimu untuk membunuh salah seorang dari kami, saat
itu juga takkan kuampuni kau!
Hiroyuki memalingkan pandangannya dari Takahiro Matsuo seraya
berjalan begitu saja. Kaeru zo (ayo kita pulang), Mina, ucapnya. Aku
masih memerhatikan langkah senpai yang benar-benar berjalan pulang.
Langkahnya itu tiba-tiba terhenti ketika sebuah pedang menancap di
dadanya. Ya, benar. Ternyata kami salah duga. Reita yang sudah
tergeletak itu kupikir telah kehilangan nyawanya. Ternyata ia masih
belum mati dan kini ia berniat menghabisi kami.
Darah mengalir keluar dari mulut senpai. Darah tikaman pedang itu pun
membasahi bajunya.
Sekali lagi ia memuntahkan darah dan tubuhnya mulai terhuyunghuyung.
Hiroyuki-senpai! seruku.
Nande (kenapa)...? Nande okaasan o korosu no (kenapa kau
membunuh ibu), niichan?! Nande da yo (kenapa)?! Padahal ia tak
melakukan kesalahan apapun! Nande sonna ni okaasan o koroshitai no
(kenapa kau ingin ibu mati sampai sebegitunya)?! seru Reita.
Huh, jadi kau akan membunuhku dengan pedangku sendiri, yang telah
membunuh ibu, ya? Shikatanai na (maka tidak ada pilihan lain).
Aku terkejut sekaligus merasa khawatir akan ada pertarungan
selanjutnya yang akan lebih banyak menumpahkan darah.
Ore o koroshitai no nara (kalau memang ingin membunuhku), hayaku
shiro yo (cepat lakukanlah).
Ucapan senpai itu membuatku terkejut setengah mati.

137

Oi, nani o yuu (apa yang kau katakan), Hiroyuki?! Hayaku asoko kara
nigero yo (cepatlah menyingkir dari sana), baka (bodoh)! seru Daiki.
Sepertinya ia juga ikut depresi.
Reita menjatuhkan pedangnya. Entah mengapa kali ini seluruh
tubuhnya gemetar bukan main.
Niichan... sonna ni okaasan o koroshitai no (apakah kau ingin
membunuh ibu sampai sebegitunya)? katanya diiringi tangisnya
Dengan mulutnya yang penuh darah dan tubuhnya terluka itu,
Hiroyuki-senpai berusaha menggerakkan mulutnya untuk berbicara.
Ore datte (aku sendiri)... kaasan o koroshitakunai yo (tak mau
membunuh ibu). Tapi... daripada membiarkannya menjadi kriminal
seperti Kuroi Karasu dan Koroshi Tokage, membunuhnya merupakan
cara yang membuatku lebih baik. Maka dari itu, kalau kau tidak setuju
dengan itu, dan itu membuatmu merasa lebih kehilangan, kau bisa
membunuhku sekarang.
Reita kembali menangis dan mengepalkan tangannya. Diciptakannya
gumpalan es yang menghantam Hiroyuki-senpai membentur tembok.
Dengan secepat kilat, ia menghampiri kakaknya itu dan menghantam
wajahnya. Ia pun kembali menghantam senpai hingga terlempar.
Hiroyuki-senpai!!! Aku yang tak tega menyaksikan semua itu pun
maju untuk menolongnya. Akan tetapi Daiki menghalangiku.
Jangan ikut campur. Ini bukan urusan kita. Bahkan kau dapat
terbunuh, katanya.
Doushite yo (kenapa)?! Kono mama ja Hiroyuki-senpai shinjau yo
(kalau dibiarkan Hiroyuki-senpai akan mati)!
Sore o wakatteru yo (aku mengerti itu). Inilah bagian yang
menyedihkan. Kita ingin menolong, tapi tidak ada yang bisa kita
lakukan.

138

Konna no wa (ini)... hidosugiru (terlalu kejam)! Aku terlalu


mengeluarkan emosiku hingga lupa akan perutku yang terluka. Aku pun
memuntahkan darah. Onegai (kumohon), Daiki! Hiroyuki-senpai o
tasuke ni ikou (ayo kita tolong senpai)! ucapku memohon lagi.
Daiki masih terdiam.
Wakatta (aku mengerti). Tapi, untuk saat ini kita harus menjauh
dahulu. Aku janji akan menolongnya. Kau sembuhkan dulu lukamu!
Aku menangis senang. Aku merasa bersyukur karena masih bisa
menolong senpai.
Reita yang sepertinya masih belum puas menyiksa kakaknya itu
kembali menghampiri senpai. Ia duduk di atas tubuh kakaknya yang
sudah sekarat itu sambil membawa kunai yang siap ia tancapkan pada
tubuh kakaknya itu.
Doushite (kenapa)... doushite kawatta no (kenapa kau berubah),
niichan?! Kau menjadi pembunuh berdarah dingin, bahkan kau tak
segan-segan membunuh ibu! Doushite (kenapa)?! Harusnya kau
memiliki cara lain untuk menyelamatkannya, tapi kenapa kau memilih
untuk membunuhnya?! tangis Reita. Air matanya terus berjatuhan.
Tiba-tiba saja, Hiroyuki-senpai mengangkat tangannya dan menghapus
air mata yang mengalir di wajah adiknya itu.
Kenapa kau harus menangis? Kalau kau berniat membunuh seseorang
dengan tangisan, kau takkan bisa melakukannya. Apa yang kau tunggu
lagi? Bukannya kau ingin melampiaskan amarahmu pada kakakmu yang
bodoh ini?
Mendengar kata-kata itu, Reita tiba-tiba terdiam dan kunai yang ia
genggaman tangannya pada kunai itu melemah.
Aku... telah gagal menjadi seorang kakak. Sebagai anggota Kuroi
Komori pun, aku adalah kakak yang gagal melindungi keluarganya. Aku
bahkan tak dapat melakukan apapun untukmu saat itu, dan
139

membiarkanmu mati di usia yang sangat muda. Aku gagal


melindungimu. Bukan, aku tidak lagi pantas kaupanggil kakak. Maka
dari itu, kau bisa menghabisiku sekarang.
Reita masih terdiam menatap kakaknya itu. Kunai yang ia genggam dari
tadi masih berada dalam genggamannya dan tidak bergerak sedikitpun
untuk membunuh kakaknya.
Tapi aku ingin kau tahu satu hal, bahwa aku menyayangimu. Aku
menyayangi ibu dan ayah, tapi di saat yang sama, aku membenci
mereka karena telah melibatkanmu dalam hal ini. Aku tak memiliki
pilihan lain selain membunuh mereka, karena kalau tidak, racun kadal
itu akan menyebar, dan orangtuamu akan kehilangan kendali. Aku tak
mau itu terjadi. Aku tak mau keluarga kita terkenal karena kriminal.
Biarkan aku yang tercatat sebagai pembunuh keluargaku sendiri,
daripada harus membuat kalian tercatat sebagai pembunuh berdarah
dingin.
Aku juga tak dapat membiarkan amarahmu memakan akal budimu.
Maka dari itu, untuk melepas amarahmu, kau boleh membunuhku. Aku
tak bisa membiarkanmu tidak beristirahat dengan tenang.
Air mata Reita kembali mengalir. Genggaman kunainya semakin
melemah, dan dijatuhkannya pisau lempar itu ke tanah.
Niichan.... Gomen na (maaf).... Gomen (maaf)! Aku... terus memaksa
dan tak mau mengerti! Gomen (maaf)! Terima kasih karena telah
menyelamatkanku,... menyadarkanku akan semua ini! Arigato (terima
kasih), niichan! Gomen na (maaf)! Gomen nasai (maaf)! ucapnya.
Hiroyuki-senpai masih tercengang melihat reaksi adiknya itu. Ia
kemudian tersenyum tipis lalu mencoba bangkit dan duduk.
Ditahannya tangan Reita yang terus mengusap-usap air matanya itu.
Dihapuskannya air mata adiknya itu.

140

Ore mo (aku juga). Wakattekurete arigato (terima kasih karena telah


mengerti), jawab senpai. Ia mengelus-elus kepala Reita dengan
lembut.
Aku yang menyaksikan dari kejauhan pun turut menangis senang.
Yokatta (syukurlah)...! Yokatta ne (syukurlah), senpai! ucapku seraya
membekap mulutku. Daiki yang berdiri di sampingku pun turut
tersenyum.
Dorama ka yo (memangnya ini drama)? Huh..., sampai seperti itu!
kata Daiki.
Hiroyuki-senpai masih tersenyum senang sambil mengelus-elus
adiknya itu sampai tangisannya terhenti.
Kaeru zo (ayo kita pulang), Reita, kata senpai.
Doko e (ke mana)? Watashi wa (aku)... shinu to yuu koto na no
(maksudmu akan mati)? Reita mulai tersendu.
Sebelum itu aku akan membuatkan kenangan terakhir untukmu.
Aku turut tersenyum bahagia melihat kedamaian itu.
Yokatta ne (syukurlah), Daiki. Akhirnya mereka bisa menger...
Ucapanku terhenti ketika kusadari Daiki sudah tak ada di sampingku.
Ketika aku kembali menoleh ke depan, aku sangat terkejut ketika
Takahiro Matsuo sudah berdiri tepat di dekat Hiroyuki-senpai dan
bersiap membunuhnya dengan sebuah cabik di genggaman tangannya.
Hiroyuki-senpai yang baru menyadari akan hal itu langsung menoleh.
Tetapi semuanya sudah terlambat. Cabik itu akan segera
menghancurkan keduanya.
Tiba-tiba di saat itu juga Daiki menghadang Takahiro Matsuo, sehingga
cabik itu melilit di lengan Daiki. Darahnya pun menetes keluar.
Nani o matteru no (apa lagi yang kau tunggu), hayaku nigero (cepatlah
lari)! seru Daiki.
141

Belum sempat senpai berdiri, Takahiro Matsuo mengeluarkan raungan


esnya dan berusaha menyingkirkan Daiki. Daiki yang lincah itu pun
langsung mengeluarkan pedangnya dan memotong tombak-tombak es
itu. Sementara itu Takahiro Matsuo menarik paksa cabiknya itu
sehingga menyobek lengan Daiki lebih parah.
Ia mundur. Diciptakannya raungan-raungan es dengan ukuran tombak
yang lebih besar, dan tentunya tombak-tombak es itu juga berjalan
dengan cepat ke arah Hiroyuki-senpai. Sementara itu, Daiki yang
menghindari raungan-raungan itu pun berusaha untuk menyelamatkan
senpai.
Ku...kusso (sial)! Maniawanai (aku tak bisa tepat waktu)! ucapnya
seraya kembali menebas tombak-tombak es itu.
Ketika tombak-tombak es itu sudah sangat dekat dengan Hiroyukisenpai, Reita mengulurkan tangannya dan mendirikan sebuah tembok
es yang melindungi mereka.
Pada kesempatan itu Daiki langsung melaju ke arah Takahiro Matsuo
untuk menghentikan jurusnya.
Niichan, watashi (aku)... Takahiro Matsuo o tomeru ni ikanakya (harus
pergi untuk menghentikan Takahiro Matsuo), sahut Reita.
Hiroyuki-senpai menggenggam pergelangan tangan Reita untuk
menghentikannya.
Iiya (tidak). Omae wa zettai ikanai (kau tak boleh pergi). Abunai da
(terlalu berbahaya). Sono kawari (sebaliknya), ore ga iku (aku yang akan
pergi).
Matte (tunggu), niichan!
Reita nampak sedang meraba-raba sakunya dan kemudian
didapatkannya sebotol kecil air bersih. Ia mengendalikan air itu keluar
dari botolnya kemudian dengan air dan anginnya yang berhembus
pelan, ia menyembuhkan luka tikamannya pada tubuh Hiroyuki-senpai.
142

Keduanya sama-sama tersenyum.


Oi, Hiroyuki! Abunai (bahaya)!!! seru Daiki membuyarkan kedamaian
itu.
Dengan anginnya, Takahiro Matsuo membelah dinding es itu menjadi
dua dan melalui celah itu, diluncurkannya tombak es besar. Kedua
bersaudara itu tak bisa bergerak dan berbuat apapun. Kalau tidak
segera dihentikan, tombak itu akan menikam dan membunuh mereka.
Aku pun langsung berlari dan dengan duri-duri mawarku, aku berhasil
menghentikan gerakan tombak es itu.
Minakami!
Soko wa daijoubu desuka (apa di sana baik-baik saja)? ucapku.
Sumanai (terima kasih), Mina! seru senpai. Reita, ore wa iku zo (aku
akan pergi), lanjutnya. Ia pun keluar dari dinding es itu untuk
melakukan penyerangan.
Reita berdiri dan masih menyaksikan kakaknya yang sudah berjalan
menjauh darinya.
Niichan... ucapnya lemas. Sepertinya ia khawatir.
Aku menepuk pelan bahunya.
Daijoubu yo (tidak apa-apa). Hiroyuki-senpai wa tsuyoi shi (karena
Hiroyuki-senpai itu kuat), kitto anata no tame ni ikiteyuku kara (dia
pasti akan terus hidup untukmu). Aniki ni shinjite (percayalah pada
kakakmu), ne (oke)?
Reita mengangguk pelan.
Tapi... mengalahkan Takahiro Matsuo bukanlah hal yang mudah.
Seberapa kuatpun kau, kau takkan bisa melenyapkannya tanpa api
putih. Dan untuk menyulutnya dengan api putih, mungkin kau harus
mengorbankan salah seorang temanmu. katanya lagi.
Mendengar itu, ada rasa takut yang mulai menghampiriku.
143

Daiki yang dari tadi berjuang keras menghabisi Takahiro Matsuo kini
kehabisan tenaga dan suatu kali ia jatuh terpental. Hiroyuki-senpai pun
sudah kehabisan tenaga. Takahiro Matsuo membuat sebuah pusaran
air yang besar lalu dilemparkannya ke arah senpai. Dengan refleks,
Hiroyuki-senpai menghindari pusaran air itu tanpa berpikir bahwa di
belakangnya masih ada aku dan Reita.
Aku pun terkejut, merasa tak berdaya dan takkan sempat menghindari
pusaran air besar itu. Tapi kemudian Reita berdiri di depanku, dan
dengan kekuatan anginnya ia mampu menahan dan menghapus
pusaran air itu.
Minakami oneechan (kak Minakami), tashikamete koto ga aru (ada
yang ingin kucoba).
Nani o (apa itu)? tanyaku.
Ia menghadap ke depan, dan mulai berpikir.
Sementara itu Daiki dan Hiroyuki-senpai mulai berdiri.
Doushita (ada apa), taichou (kapten)? Sudah kehabisan tenaga?
sahut Daiki.
Omae koso doushita (kau sendiri kenapa), katana (pedang)? Kenapa
kau tidak ikuti saja master mu dan tidak banyak membantah? balas
senpai.
Ketika raungan tombak es datang lagi, keduanya berpisah arah dan
menghindarinya.
Tombaknya terlalu cepat. Daripada menghindarinya, sebaiknya
lakukan penyerangan! sahut Daiki.
Penyerangan? Penyerangan apa? Kau mau nekad bunuh diri? Saat ini
kita tak bisa melakukan penyerangan. Ketika kita menyerang satu, yang
lain tetap akan muncul dan di situlah kita akan terbunuh. Bersabarlah
sebentar!
Kau juga mulai berpikirlah, kapten! lanjut Daiki.
144

Di saat itu juga dilemparkan sebuah piring terbang besar yang siap
membelah mereka. Keduanya pun kembali berpisah. Hembusan angin
yang turut menyertai piring terbang itu menghempas tubuh mereka
dan membuat mereka berguling-guling sejauh beberapa meter. Ketika
terbangun, kepala Daiki terluka. Ternyata kepalanya terantuk sebuah
batu ketika ia terlempar.
Tu... tulangku retak! kata senpai.
Shikarishiro yo (bertahanlah)!
Belum sempat bangkit berdiri, Takahiro Matsuo sudah mendekat dan
dengan tombaknya yang panjang, ia siap menghabisi Daiki dan
Hiroyuki-senpai.
Sampaikan ucapan selamat tinggalmu pada jalang yang kaucintai itu,
katanya.
Di saat itu juga, Reita menyemprotkan airnya pada Takahiro Matsuo
dan langsung membekukannya. Kami yang dari tadi sibuk sendiri
merencanakan rencana kami sendiri kini sudah siap dengan itu. Di
tangan kiriku sudah kusiapkan bola api yang besar dan di tangan kanan
Reita sudah ia siapkan pusaran-pusaran angin yang kira-kira besarnya
hampir sama dengan apiku.
Ada apa, Daiki? Kukira lelaki itu lebih kuat dari wanita, kan? seruku,
Lebih baik kau siap dengan yang ini, Takahiro Matsuo!
Kau kira kau bisa menghanguskanku dengan api sekecil itu? Jangan
meremehkanku!
Kita lihat saja nanti! balasku.
Aku dan Reita berlari menuju ke arahnya. Kami berhasil menghindari
serangan-serangan raungan tombak esnya. Ketika sudah dekat dan
kami hendak melempar bola api itu, tiba-tiba langkah kami terhenti.
Benar. Tanpa kami sadari sudah ada air yang perlahan-lahan
membekukan kaki kami. Bola api di tangan kami pun perlahan-lahan
145

dihisapnya dan lama kelamaan bola api itu pun menghindar. Ia


menghempaskan kami dengan kekuatan anginnya.
Tidak sampai di situ, tiba-tiba Hiroyuki-senpai dari belakang berlari
seraya membentuk jurus dan mengeluarkan ular-ularnya. Tentu saja
bagi Takahiro Matsuo menghancurkan ular-ular itu merupakan hal
yang sangat mudah. Ketika ular-ular itu hendak menyerangnya, ia
langsung mencabik-cabik mereka hingga habis.
Mereka meleleh. Tidak sampai di situ, mereka perlahan-lahan berubah
menjadi lava yang kemudian mengeras dan membekukan Takahiro
Matsuo. Hiroyuki-senpai mempertahankan jurus itu selama beberapa
saat.
Ima da (sekarang), Daiki! seru senpai.
Daiki dengan cepat berlari sambil membawa sabit besarnya.
Diayunkannya sabit itu dan keluarlah api yang siap menghanguskan
Takahiro Matsuo.
Seperti sebelumnya, api itu berhasil diserap Takahiro Matsuo. Pada
kesempatan yang sempit itu Hiroyuki-senpai segera menembakkan api
penyuciannya. Sementara itu Reita yang masih belum menyerah pun
berdiri untuk memperbesar api putih itu. Ia melaju dengan cepat dari
arah yang sama dengan kakaknya sambil mengendalikan angin yang
mengelilinginya. Di saat yang sama, Hiroyuki-senpai dan Reita
melemparkan elemen mereka pada Takahiro Matsuo.
Asobi wa owari da (permainan telah selesai)! seru Reita.
Di luar dugaan, Takahiro Matsuo memanfaatkan angin yang
dilemparkan Reita untuk membelokkan api itu menuju Hiroyuki-senpai.
Kalau tidak dihentikan, api itu bisa melenyapkan elemen api yang ada
pada senpai. Reita pun melangkah maju dan menghadang api itu
sehingga ia tersembur api putih dan langsung jatuh terpelanting.
Ki...kisama (beraninya kau)!!! seru senpai seraya berlari maju dengan
ularnya. Di saat itu juga Takahiro Matsuo menciptakan tombak-tombak
146

es yang menikam kaki senpai bertubi-tubi sehingga langkahnya


terhenti dan ia pun tak bisa melanjutkannya.
Seperti yang kauminta, permainan telah berakhir. Menyerahlah, dan
matilah bersama adik dan ibumu! katanya. Ia kemudian mengeluarkan
sabit esnya yang besar itu lalu hendak memotong-motong senpai.
Begitu ia mengayunkan sabit itu, Daiki mengayunkan sabit di saat yang
sama dan menghancurkan sabit es itu.
Aku takkan berakhir di tanganmu! seru Daiki.
Sabit yang dibawanya begitu besar, seperti milik Malaikat Maut dengan
mantra yang terdapat pada bagian sabitnya dan tengkorak di antara
sabit dan tongkatnya.
Semua yang ada di sana tercengang.
Sabit itu! Dari mana kau mendapatkannya?! seru Takahiro Matsuo.
Raut wajahnya nampak sangat terkejut sekaligus ketakutan.
Darimana pun aku mendapatkan sabit ini bukanlah masalah. Kau akan
mati sekarang!
Sou ka (begitu ya)? Aku mengerti. Orang tuamu terlibat dalam perang
besar ketiga shinobi, bukan?
Kami semua yang ada di tempat itu begitu terkejut.
Perang besar ketiga shinobi? Apa maksudnya, Daiki?! seru senpai.
Daiki terdiam. Sepertinya apa yang dikatakan Takahiro Matsuo bukan
kebohongan. Raut wajahnya nampak kesal akan itu.
Danmare (diamlah)! Ia kemudian mengayunkan sabit besarnya itu.
Takahiro Matsuo mengentikan sabit itu hanya dengan satu telapak
tangannya. Ia kemudian mengulurkan tangannya dan mengelus-elus
bagian sabit yang bermantra itu.
Sudah lama kunantikan kedatanganmu. Rupanya kau masih semulus
dahulu, ucapnya. Ia melangkah mundur.
147

Masao Daiki. Kau menarik juga. Aku akan selalu menunggumu. Selalu,
sampai kau menyerahkan sabit itu kepadaku, kata Takahiro Matsuo
seraya menengadahkan kepalanya, Aku biarkan kalian memenangkan
pertarungan ini. Tapi, bila saatnya telah tiba, sabit itu akan kembali
kepadaku, bagaimanapun caranya.
Hiroyuki-senpai mematahkan tombak-tombak es yang menancap di
kakinya dengan kesal.
Jangan kaupikir kami akan membiarkanmu lari begitu saja! serunya
sambil mengayunkan pedang.
Takahiro Matsuo menghempaskannya dengan elemen anginnya.
Kalian sudah menang. Apa itu masih belum cukup? Kalau memang
masih belum cukup, akan terjadi pertumpahan darah yang lebih
mengerikan lagi, Hiroyuki Kazuo. Kau seorang pemimpin dan harusnya
kau tahu mengenai itu, kan? ucapnya.
Hiroyuki-senpai menggenggam pedangnya dengan kesal.
Saraba da (selamat tinggal), Hiroyuki Kazuo, Masao Daiki. Takahiro
Matsuo kemudian menghilang bersama anginnya tanpa meninggalkan
jejak.
Daiki masih menunduk kesal. Tangannya gemetar. Aku pun
menghampirinya.
Daijoubu (kau baik-baik saja), Daiki? tanyaku.
Mina..., sebaiknya mulai sekarang kau berhati-hati denganku...
ucapnya.
Eh? Daiki, hontouni daijoubu (kau benar-benar baik-baik saja)?
tanyaku sekali lagi untuk menyakinkannya.
Ano yaro (si brengsek itu)...! Mada ikiteru no ka (ternyata dia masih
hidup)?! Daiki terus bergumam.

148

Dari ekspresinya yang serius itu, dia memang ingin menjauhkanku dari
malapetaka yang tak lama lagi akan terjadi padanya. Ucapan Takahiro
Matsuo pun sepertinya tidak bisa diabaikan.
Sementara itu Hiroyuki-senpai menghampiri adiknya yang sudah
separuh hangus terbakar api putih itu.
Reita, shikarishiro (bertahanlah)!
Oniichan...
Gome (maaf), ore no sei da (ini salahku).
Sudah..., jangan salahkan dirimu sendiri. Niichan sendiri... sudah
terluka parah, kan?
Ore wa omae o tasukenakatta (aku tak bisa menyelamatkanmu). Aku
sudah berjanji untuk melindungimu, tapi...
Niichan no sei ja nai yo (itu bukan salahmu). Niichan wa (kau)...
watashi no tame ni kizutsuita (telah terluka untukku). Sore wa mou
juubun da (itu sudah cukup). Di samping itu..., Reita tersenyum sambil
berkata, Kalau harus mati untuk melindungimu, aku senang, kok.
Reita... Hiroyuki-senpai mempererat pegangannya pada adiknya itu.
Watashi (aku)... mou ikanakya (harus segera pergi). Kalau bertemu
ayah dan ibu, akan kusampaikan pesan niichan.
Aa (ya). Sampaikan pesanku pada mereka.
Jaa (nah), sayonara (selamat tinggal), niichan. Zutto zutto aishiteru yo
(aku selalu menyayangimu). Watashi no koto wasurenai de ne (jangan
lupakan aku).
Perlahan-lahan tubuh imitasi Reita itu berubah menjadi pasir dan ia
pun lenyap.
Aa (ya). Zettai ni (aku takkan melupakanmu).

149

Pertempuran hebat itu telah berakhir. Pengorbanan Reita bukan


merupakan akhir bagi kedua bersaudara itu. Meskipun kehilangan
adiknya, Hiroyuki-senpai tetap terus hidup. Ia tak mau menyia-nyiakan
pengorbanan adiknya itu.
Daiki mengembalikan sabitnya kemudian menyembuhkan luka-luka
ringannya. Aku pun menyembuhkan perutku yang terkena tikaman tadi.
Tak lama kemudian, Saiko dan teman-teman yang lain datang
menghampiri kami. Mereka nampak terkejut ketika melihat tempat
yang terporak porandakan itu.
Ittai nani ga atta (apa yang sebenarnya terjadi)?! kata Naoto ketika
melihat rumah-rumah yang hancur dan es-es yang masih berdiri tegak
di tanah.
Sementara itu Saiko datang menghampiriku dan membantuku berdiri.
Daijoubu (kau baik-baik saja), Mina? ucapnya.
U...un..., jawabku lemas. Meskipun masih bisa sembuh, aku tak bisa
memulihkan tenagaku yang hilang sehingga menyembuhkan luka
tikaman itu pun sulit.
Kemudian Saiko menghentikan gerakan tanganku, katanya, Biarkan
aku saja. Kau istirahat dulu. Ia pun menggantikanku menyembuhkan
lukaku.
Aku tersenyum tipis.
Un. Arigato (terima kasih), Saiko.

Matahari menjulang tepat pada pukul enam pagi. Seiring


bangkitnya matahari itu, rasa bangga serta semangat kami pun turut
bangkit. Kami lega akhirnya bisa menuntaskan misi kami dan
melenyapkan Kurobake itu dari desa, meskipun banyak di antara kami
yang terluka.

150

Terima kasih atas bantuannya. Kami tak menyangka akan ada banyak
yang kami butuhkan dari kalian semua, ucap salah seorang petani.
Aku masih berdiri sambil tersenyum dengan memapah Hiroyuki-senpai
di bahuku.
Kami sebenarnya tidak melakukan banyak. Kurobake itu bisa muncul
kapanpun mereka bisa. Tindakan dan setiap perbuatan warga di desa
ini merupakan salah satu hal yang akan memengaruhi kedatangan
mereka. Semakin kuat roh jahat, semakin mereka akan terpancing
untuk kemari. Maka simpanlah saran kami. Jangan terlalu remehkan
keberadaan roh jahat. Mereka memang ada. Hiroyuki-senpai
bercerita panjang.
Dan soal kepercayaan... percayalah pada apa yang kaupercayai, dewa,
atau tuhan, jangan memercayai hal di luar itu. Kepercayaan kalian bisa
memberikan kekuatan pada suatu benda itu, lanjut Naoto.
Kami tak tahu bagaimana untuk berterimakasih. Tapi sungguh, karena
bantuan kalian, desa kami bisa kembali pulih.
Aku tersenyum lega sekaligus senang.
Lebih baik para penduduk tidak usah terlalu mencemaskan soal
Kurobake lagi. Itu akan sangat mengganggu, ucapku singkat.
Semua penduduk yang berdiri di sana pun turut tersenyum senang.
Sebelum kami pulang meninggalkan desa itu, kami kembali
ke tempat kami menginap dan membereskan barang-barang kami,
memastikan tak ada yang ketinggalan.
Aku tak apa, Mina, sahut Hiroyuki-senpai. Aku pun menurunkannya
perlahan.
Ah..., yatto kaeta ne (akhirnya pulang ya)? sahut Saiko gembira.
Ya. Meskipun ada banyak masalah di tengah jalan, kita dapat
mengatasinya dan di sinilah kita, berkumpul kembali! lanjut Yuuki.
151

Semuanya pun tertawa, sementara air mataku bercucuran bagai air


terjun.
Tapi siapa sangka..., kau memang kakak yang baik! Kau bahkan
menyelamatkan adikmu sampai terluka begitu...! Hiroyuki-senpai...!
ucapku di sela-sela tangisku dengan tersendat-sendat.
Semua kembali menertawaiku, bahkan Hiroyuki-senpai mendengus.
Jangan berlebihan, kata senpai.
Aku tak berlebihan! Selama ini... aku selalu menginginkan seorang
kakak laki-laki..., tapi... Aku tak bisa melanjutkan kata-kataku karena
terlalu banyak menangis.
Lalu kau ingin Yuzuru Takemaru mengorbankan dirinya untukmu
begitu? lanjut senpai.
Aku langsung shock dan berteriak kencang.
IIYA (TIDAK)...!!! Dia satu-satunya kakak yang kupunya, jadi takkan
kubiarkan dia mengorbankan dirinya untuk siapapun, apalagi
untukku...! Aku pun kembali menangis sementara yang lain kembali
menertawaiku.
Sementara yang lain mengemasi barang mereka masing-masing, aku
pergi keluar untuk mengintip Daiki. Ia masih duduk termenung di
halaman depan.
Daiki? sahutku, Kau tidak berkemas-kemas?
Daiki menghembuskan napasnya.
Barang bawaanku tidak banyak, jadi aku tidak perlu mengemasi dan
mengecek barang bawaanku kembali.
Sou ka (begitu ya)? ucapku, Nee (hei), Daiki. Lain kali aku tak ingin
mendengar kau mengucapkan kata-kata itu lagi.
Mengucapkan apa? Daiki menoleh ke arahku.
152

Aku tak ingin kau bilang padaku untuk menjauh darimu. Kalau
memang ada sesuatu, kita bisa perjuangkan bersama, kan? Daiki wa
hitoripochi ja nai yo (kau tidak sendirian.
Rasa canggung pun menyelimuti percakapan kami. Kemudian aku
berhenti berpikir ketika kurasakan pegangan tangan Daiki pada telapak
tanganku.
Aku tak bisa kehilangan kau... ucapnya yang membuatku terkejut.
Kau tidak akan kehilanganku. Nani ga atte mo (apapun yang terjadi),
watashi (aku)... zutto Daiki to issho ni iru yo (aku selalu bersamamu).
Watashi ni tayotte (andalkan aku)..., ne (ya)? ucapku seraya mengelus
genggaman tangan Daiki.
Daiki pun turut tersenyum tipis.
Oi, sampai di situ dulu pacarannya! Kemarilah, Mina, Daiki! Suara
Yuuki tiba-tiba mengagetkan kami. Kami pun tertawa lalu berjalan
menghampiri Yuuki.
Sebelum kita pergi, ayo kita toast! katanya lagi.
Kau itu terlalu banyak tingkah! sahut Naoto.
Sudahlah, ini, kan, kenangan terakhir kita! Nah, ayo letakkan
punggung telapak tangan kalian di sini!
Kami pun berkumpul lalu menyatukan tangan kami. Menyadari Daiki
tidak ikut, Yuuki langsung bereaksi.
Ayolah, Daiki. Aku tahu kau sibuk menghafal rumus kimia, tapi satu
detik saja kita toast, sahutnya.
A... aa (ya). Warui (maaf), kata Daiki. Ia berjalan lalu meletakkan
tangannya di atas tangan kami.
Distrik tujuh, selamanya, kata Hiroyuki-senpai.
Selamanya! sambung kami semua serempak.
153

Siang itu kami langsung berangkat sebelum hujan turun. Langit yang
sudah mendung tetap tidak menghalangi kami untuk pulang. Para
penduduk desa kembali berkumpul untuk berpamitan. Usao dan
kawan-kawannya pun ada di sana.
Kalau begitu, kami akan berangkat. Suatu kehormatan bisa
bekerjasama dengan kalian semua, kata Hiroyuki-senpai seraya
membungkukkan badannya.
Kochirakoso (kami juga berterimakasih). Hati-hatilah di jalan, ya, kata
Hiro-san, sang kepala desa.
Minakami neesan wa mou (kak Minakami sudah)... kaeru no (akan
pulang)? sahut Usao.
Un. Usao-kun harus jaga diri, ya?
Matanya tiba-tiba dipenuhi air mata. Usao berusaha menghapus air
mata itu, tapi nampaknya air matanya terus mengalir.
Dasar, kau cengeng sekali, sih! Kita pasti bisa bertemu lagi, kan?
Jangan menangis, Usao-kun.
Salah seorang warga tertawa.
Usao dari kecil memang suka menangis, dan terutama sejak ia
ditinggal orang tuanya. Tapi tak apa. Kami akan mengasuhnya mulai
sekarang dengan lebih baik. Terima kasih juga telah membantunya
membuka toko, katanya.
Aku pun tersenyum senang.
Di samping kanan dan kiri Usao ada anak-anak nakal yang sering
mengganggu Usao.
Minakami oneesan, Daiki oniisan, iroiro gomen nasai (kami banyak
mengucapkan maaf)! kata mereka serempak dengan kepala tertunduk.
Tetap dengan tatapan menyeramkan, Daiki menghampiri anak-anak itu.
Tangannya berada di udara, seperti akan memukul anak-anak itu.
154

Daiki? ucapku.
Anak-anak itu memejamkan mata mereka karena takut.
Daiki terus mendekati mereka kemudian ia mengelus kepala anak-anak
itu.
Usao ni ii tomodachi ni nare yo (jadilah teman yang baik untuk Usao),
katanya.
Un! jawab salah seorang anak.
Salah seorang warga pun tertawa.
Anak-anak memang sulit dipercaya, ya? Terima kasih telah menolong
Usao sampai saat ini, katanya, Oh, ya! Ada sesuatu yang ingin kami
berikan untuk kalian.
Ia mengeluarkan sesuatu dari kantung bajunya. Dikeluarkannya rantai
panjang yang sepertinya adalah kalung. Ia meletakkannya di atas
telapak tangannya.
Tidak seberapa bagus, tapi, kuharap kalian menyukainya, ucapnya.
Aku dan Daiki pun maju untuk menerima hadiah itu. Daiki memegang
salah satu ujung rantai itu sementara aku memegang ujung satunya.
Kami mengangkat kalung itu bersama-sama, dan dapat kulihat bentuk
kalung itu. Bentuknya seperti hati yang patah. Milik Daiki pun sama.
Maka kami mendekatkan kedua kalung kami dan terbentuklah hati.
Aku dan Daiki saling berpandangan, lalu kembali mengulurkan tangan
kami untuk mengembalikan pemberian itu.
Ka... kami mengembalikan ini! Terima kasih atas hadiahnya. Sungguh
sangat cantik, kataku.
Sou ka (begitu ya)? Ternyata apa yang kami berikan memang tidak
setimpal dengan kerja keras kalian di sini, kata salah seorang warga
lagi.

155

Aku masih terdiam dan suasana pun kini menjadi canggung. Tiba-tiba
dari belakang Hiroyuki-senpai berjalan menghampiri kami.
Terimalah saja. Tidak ada salahnya, kan? Jangan menolak pemberian
orang, sahutnya.
Aku dan Daiki pun kembali berpandangan.
Baiklah. Akan kami terima. Terima kasih sebelumnya, ucapku. Aku
pun mengambil satu, dan Daiki satu.
Ah, terima kasih sudah mau menerimanya, kata orang itu lagi.
Jaa (nah), ikou ka (ayo pergi)! kata Yuuki.
Sayonara (selamat tinggal), Usao. Ii ko ni natte ne (jadilah anak yang
baik ya)? ucapku.
Usao masih mengusap-usap pipinya yang berlinangan air mata.
Mou (duh)..., nakaide ne (jangan menangis ya)? Kau tampak cengeng,
lho.... Suatu saat nanti, kita pasti bisa bertemu, kan? Bukan berarti
karena aku pergi dari sini, aku takkan bisa bertemu denganmu lagi.
Aku mengeluarkan selembar sapu tangan lalu menghapus air mata
Usao. Aku kembali mengeluarkan sebuah spidol dan menggambarkan
wajahku dan Usao pada sapu tangan itu.
Nah, ini aku dan Usao! Setiap kali pakai sapu tangan ini, ingatlah akan
aku ya? ucapku. Usao menerima sapu tangan itu sambil menyedot
ingusnya yang akan menetes. Aku pun mengelus kepalanya.
Minakami berlagak sok seperti kakak saja! ledek Yuuki.
Aku memang seorang kakak, kok! balasku. Semua warga pun tertawa.
Kalau memang mau membuat kenangan, kenapa tidak ambil foto
saja? sahut Yuuki.
Boleh!
Ayo!
156

Para anggota distrik tujuh satu per satu menyetujui usulan Yuuki.
Karena banyak yang setuju, aku pun ikut setuju.
Kami mengambil banyak sekali foto. Ada foto bersama semua warga
desa, foto dengan Daiki dan Usao, foto anggota distrik tujuh, dan masih
banyak foto-foto lain yang kami ambil. Aku yakin pasti foto itu akan
mereka post di website Kuroi Komori sebagai Latest Mission.
Seusai foto, kami kembali berpamitan sambil melambai-lambaikan
tangan.
Sayonara (selamat tinggal), Minakami oneesan (kak Minakami), Daiki
oniisan (kak Daiki)!
Sayonara (selamat tinggal), Usao! balasku.
Semuanya berjalan dengan baik. Kami sampai di kuartir dengan rasa
lega dan bangga akan selesainya misi kami itu. Tentu saja, karena bagi
kami misi yang baru saja kami jalani ini tidak semudah misi biasanya.
Tidak hanya sampai di situ, mulai sekarang, perjuangan kami sebagai
anggota distrik tujuh akan kembali dimulai.

157