Anda di halaman 1dari 53

Stratigrafi dalam arti luas adalah ilmu yang membahas aturan, hubungan dan kejadian (genesa

)
macam-macam batuan di alam dengan ruang dan waktu, sedangkan dalam arti sempit ialah ilmu
pemerian batuan (Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996).
William Smith (1769-1839) seorang peneliti dari inggris. Smith adalah seorang insinyur yang
bekerja disebuah bendungan, ia mengemukakan teori biostratigrafi dan korelasi stratigrafi. Smith
mengungkapkan dengan menganalisa keterdapatan fosil dalam suatu batuan, maka suatu lapisan
yang satu dapat dikorelasikan dengan lapisan yang lain, yang merupakan satu perlapisan. Dengan
korelasi stratigrafi maka dapat mengetahui sejarah geologinya pula.
Dalam studi hubungan fosil antar perlapisan batuan, ia pun menyimpulkan suatu hukum
yaitu“Law of Faunal Succession“, pernyataan umum yang menerangkan bahwa fosil suatu
organisme terdapat dalam data rekaman stratigrafi dan dapat digunakan sebagai petunjuk untuk
mengetahui sejarah geologi yang pernah dilaluinya. Jasanya sebagai pencetus biostratigrafi
membuat ia dikenal dengan sebutan “Bapak Stratigrafi”.
Ahli stratigrafi lainn seperti D’Orbigny dan Albert Oppel juga berperan besar dalam
perkembangan ilmu stratigrafi. D’Orbigny mengemukakan suatu perlapisan secara sistematis
mengikuti yang lainnyayang memiliki karakteristik fosil yang sama. Sedangkan Oppel berjasa
dalam mencetuskan konsep “Biozone”.Biozone adalah satu unitskala kecil yang mengandung
semua lapisan yang diendapkan selama eksistensi/keberadaan fosil organisme tertentu.Kedua
orang nilah yang juga mencetuskan pembuatan standar kolom stratigrafi.
Pengolongan stratigrafi ialah pengelompokan bersistem batuan menurut berbagai cara, untuk
mempermudah pemerian aturan dan hubungan batuan yang satu terhadap lainnya. Kelompok
bersistem tersebut di atas dikenal sebagai Satuan Stratigrafi (Sandi Startigrafi Indonesia, 1996).
Batas satuan stratigrafi ditentukan sesuai dengan batas penyebaran ciri satuan tersebut
sebagaimana didefinisikan Batas satuan Stratigrafi jenis tertentu tidak harus berhimpit dengan
batas satuan satuan stratigrafi jenis lain, bahkan dapat memotong satu sama lain (Sandi
Startigrafi Indonesia, 1996).

Unit Stratigrafi terdiri dari 2 kategori (North American Stratigraphic Codes, 1983) yaitu:
A. Kategori yang berdasar atas kandungan Material (Content of starta) atau Batas-batas
fisika suatu
a. perlapisan.
b. Unit Litostratigrafi
c. Unit Litodemik
d. Unit Magnetopolariti
e. Unit Biostratigrafi
f. Unit Pedostratigrafi
g. Unit Allostratigrafi
B. Kategori yang berhubungan dengan umur geologi
 Kategori Matrial
a. Unit Kronastratigrafi
b. Unit Polariti-Kronostratigrafi

Kategori Non-Material
a. Unit Geokronologi
b. Unit Polariti-Geokronologi
c. Unit Diakronik
d. Unit Geokronometrik

Kriteria Stratigrafi
Kriteria stratigrafi digunakan jika suatu endapan mineral ditemukan dalam lapisanstratigrafi.
Tugas utama dalam tahap prospeksi yaitu menentukan secara stratigrafikedudukan endapan
mineral, seperti determinasi singkapan dan menentukan luas horison(singkapan horison diikuti
sepanjang strike dan dip), kemudian dipetakan secara detail.Kriteria stratigrafi penting artinya
untuk mencari endapan sedimen dan endapan hipogene.

PRINSIP- PRINSIP DASAR STRATIGRAFI
1.

The Principles of Superpositin (Prinsip Superposisi)

Dalam suatu uruan perlapisan, lapisan yang lebih muda adalah lapisan yang berada diatas lapisan
yang lebih tua. “pada waktu suatu lapisan terbentuk (saat terjadinya pengendapan), semua

massa yang berada diatasnya adalah fluida, maka pada saat suatu lapisan yang lebih dulu
terbentuk, tidak ada keterdapatan lapisan diatasnya.” Steno, 1669

2.

Principle of Initial Horizontality

Jika lapisan terendapkan secara horizintal dan kemudian terdeformasi menjadi beragam
posisi.”Lapisan baik yang berposisi tegak lurus maupun miring terhadap horizon, pada awalnya
paralel terhadap horizon“. Steno, 1669

3.

lateral Continuity

Dimana suatu lapisan dapat diasumsikan terendapkan secara lateral dan berkelanjutan jauh
sebelum akhirnya terbentuk sekarang. “Material yang membentuk suatu perlapisan terbentuk
secara menerus pada permukaan bumi walaupun beberapa material yang padat langsung
berhenti pada saat mengalami transportasi.” Steno, 1669

4.

Principle of Cross Cutting Relationship

Suatu struktur geologi seperti sesar atau tubuh intruksi yang memotong perlapisan selalu
berumur lebih muda dari batuan yang diterobosnya. “Jika suatu tubuh atau diskontinuitas
memotong perlapisan, tubuh tersebut pasti terbentuk setelah perlapisan tersebut terbentuk.”
Steno, 1669.

5.

Hukum Faunal Succession (Abble Giraud-Soulavie, 1778)

Pada setiap lapisan yang berbeda umur geologinya akan ditemukan fosil yang berbeda pula.
Secara sederhana bisa juga dikatakan Fosil yang berada pada lapisan bawah akan berbeda
dengan fosil di lapisan atasnya.
Fosil yang hidup pada masa sebelumnya akan digantikan (terlindih) dengan fosil yang ada
sesudahnya, dengan kenampakan fisik yang berbeda (karena evolusi). Perbedaan fosil ini bisa
dijadikan sebagai pembatas satuan formasi dalam lithostratigrafi atau dalam koreksi stratigrafi.

Gambar Hukum Faunal Succession

6.

Hukum Strata Identified by Fosils (Smith, 1816)
Perlapisan batuan dapat dibedakan satu dengan yang lain dengan melihat kandungan
fosilnya yang khas.

7.

Hukum Uniformitarianisme (Hutton,1785)

Artinya. Dia memperkenalkan hukum superposisi yang menyatakan bahwa pada tingkatan yang tidak rusak. Doktrin ini menyatakan bahwa hukum-hukum fisika. 8. lapisan paling dasar adalah yang paling tua. Ahli paleontologi telah mulai menghubungkan fosil-fosil khusus pada tingkat individu dan telah menemukan bentuk pasti yang dinamakan indek fosil. Dengan demikian jelaslah bahwa geologi sangat erat hubungannya dengan waktu. Pada tahun 1785.Uniformitarianisme merupakan konsep dasar geologi modern. Hutton mengemukakan perbedaan yang jelas antara hal yang alami dan asal usul batuan beku dan sedimen. Hukum/Principles of Lateral Accumulation Sebagian besar tubuh batuan sedimen terbentuk dari proses akresi lateral (lateral accretion) . James Hutton berhasil menyusun urutan intrusi yang menjelaskan asal usul gunungapi. kimia dan biologi yang berlangsung saat ini berlangsung juga pada masa lampau. gaya-gaya dan proses-proses yang membentuk permukaan bumi seperti yang kita amati saat ini telah berlangsung sejak terbentuknya bumi. Doktrin ini lebih terkenal sebagai “The present is the key to the past” dan sejak itulah orang menyadari bahwa bumi selalu berubah. Indek fosil telah digunakan secara khusus dalam mengidentifikasi horison dan hubungan suatu tempat dengan tempat lainnya.

Dua tubuh batuan yang diendapakan pada waktu yang sama dikatakan berbeda fsies apabila kedua batuan tersebut berbeda fisik.W. Hukum Inklusi Inklusi terjadi bila magma bergerak keatas menembus kerak. kimia atau biologi suatu endapan dalam kesamaan waktu. b.1975) Suatu kelompok litologi dengan ciri-ciri yang khas yang merupakan hasil dari suatu lingkungan pengendapan yang tertentu. 10. Hukum Facies Sedimenter (Selly.R Potter & H. maka perlapisan batuan itu terbentuk . Aspek fisik.a. dimana batuan yang dipotong/diterobos terbentuk lebih dahulu dibandingkan dengan batuan yang menerobos. Hukum Cross-cutting Relationship (A. 1894) Bila tidak ada selang waktu pengendapan dan tidak ada gangguan struktur maka dalam suatu daur/siklus pengendapan yang dapat dikenal secara lateral juga merupakan urutan vertikalnya. Jadi jika ada fragmen batuan yang terinklusi dalam suatu perlapisan batuan. Permukaan pengendapan biasanya miring. Akumulasi terjadi oleh proses akresi dan progradasi. Akumulasi bisa terjadi terus menerus hingga keadaan oversteepned yang membuat masa yang diakumulasi menjadi longsor sepanjang lereng 9. kimia atau biologi (Sandi Stratigrafi Indonesia) 11. menelan fragmen2 besar disekitarnya yang tetap sebagai inklusi asing yang tidak meleleh. 12. Robinson) Hubungan petong-memotong (cross-cutting relationship) adalah hubungan kejadian antara satu batuan yang dipotong/diterobos oleh batuan lainnya. Hukum Kolerasi Fasies (Wather. c. terjadi pada arah sedimen transport.

Pengukuran stratigrafi biasanya dilakukan terhadap singkapan singkapan yang menerus. Namun demikian metoda yang paling umum dan sering dilakukan di lapangan adalah dengan menggunakan pita ukur dan kompas. hubungan stratigrafi. kelompok. dan lingkungan pengendapan. Dengan kata lain batuan/lapisan batuan yang mengandung fragmen inklusi. Mendapatkan data litologi terperinci dari urut-urutan perlapisan suatu satuan stratigrafi (formasi). lebih muda dari batuan/lapisan batuan yang menghasilkan fragmen tersebut. Mengukur suatu penampang stratigrafi dari singkapan mempunyai arti penting dalam penelitian geologi. terutama yang meliputi satu atau lebih satuan satuan stratigrafi yang resmi. untuk menafsirkan lingkungan pengendapan. Secara umum tujuan pengukuran stratigrafi adalah: 1. Metoda pengukuran penampang stratigrafi banyak sekali ragamnya. Mendapatkan ketebalan yang teliti dari tiap-tiap satuan stratigrafi. 3.setelah fragmen batuan. Metoda Pengukuran Stratigrafi Pengukuran stratigrafi dimaksudkan untuk memperoleh gambaran terperinci urut-urutan perlapisan satuan stratigrafi. Metoda ini diterapkan terhadap singkapan yang menerus atau sejumlah singkapan-singkapan yang dapat disusun menjadi suatu penampang stratigrafi. sejarah sedimentasi dalam arah vertikal. . Untuk mendapatkan dan mempelajari hubungan stratigrafi antar satuan batuan dan urut-urutan sedimentasi dalam arah vertikal secara detil. anggota dan sebagainya. ketebalan setiap satuan stratigrafi. 2.

2 Unsur Perlapisan (Waktu). yaitu : 1 Elemen Batuan. jarak antar station pengukuran. kaca pembesar (loupe). pada stratigrafi batuan yang lebih diperdalam untuk dipelajari adalah batuan sedimen. sudut lereng (apabila pengukuran di lintasan yang berbukit).nya). tripot (optional). . terkadang batuan beku dan metamorf juga dipelajari dalam kapasitas yang sedikit. Menyiapkan peralatan untuk pengukuran stratigrafi. buku catatan lapangan. dan pengukuran unsur-unsur geologi lainnya. antara lain: pita ukur (± 25 meter).2 ke sta. 5. Unsurunsur yang diukur dalam pengukuran stratigrafi adalah: arah lintasan (mulai dari sta. UNSUR – UNSUR STRATIGRAFI Stratigrafi terdiri dari beberapa elemen penyusun. jalur lintasan 3. sta. kedudukan lapisan batuan.1 ke sta. 2. 4. karena batuan ini memiliki perlapisan. merupakan salah satu sifat batuan sedimen yang disebabkan oleh proses pengendapan sehingga menghasilkan bidang batas antara lapisan satu dengan yang lainnya yang merepresentasikan perbedaan waktu/periode pengendapan.3. dst. kompas.Singkapan batuan pada satuan stratigrafi (kiri) dan singkapan singkapan yang menerus dari satuan stratigrafi (kanan) Metoda pengukuran stratigrafi dilakukan dalam tahapan sebagai berikut: 1. Pengukuran stratigrafi di lapangan dapat dimulai dari bagian bawah atau atas.2. Menentukan jalur lintasan yang akan dilalui dalam pengukuran stratigrafi. Tentukan satuan-satuan litologi yang akan diukur. ditandai dengan huruf B (Bottom) adalah mewakili bagian Bawah sedangkan huruf T (Top) mewakili bagian atas. Berilah patok-patok atau tanda lainnya pada batas-batas satuan litologinya. tongkat kayu sebagai alat bantu.

deformasi.  Perubahan warna material batuan yang diendapkan. struktur sedimen ini merupakan suatu kenampakan yang terdapat pada batuan sedimen di mana kenampakannya itu disebabkan oleh proses sedimentasi pada batuan tersebut. dengan tujuan untuk menentukan lingkungan pengendapan batuan serta untuk menentukan posisi atas dan bawah dari suatu lapisan. seperti aliran air. Struktur sedimen ini harus dianalisa langsung di lapangan. kandungan fosil. 3 Elemen Struktur Sedimen. dll).  Perubahan tekstur batuan (misalnya perubahan ukuran dan bentuk butir). .  Perubahan struktur sedimen dari satu lapisan ke lapisan lainnya.  Perubahan kandungan material dalam tiap lapisan (komposisi mineral.Bidang perlapisan merupakan hasil dari suatu proses sedimentasi yang berupa:  Berhentinya suatu pengendapan sedimen dan kemudian dilanjutkan oleh pengendapan sedimen yang lain. serta aliran gravitasi sedimen. aktivitas biogenik (oleh hewan dan tumbuhan).

terbukti merupakan alat baru yang sangat penting untuk korelasi kronostratigrafi berdasarkan magnetic polarity events. Pembahasan yang menarik mengenai hal ini dilakukan oleh Dunbar & Rodgers (1957). 1982. Korelasi merupakan bagian fundamental dari stratigrafi dan banyak usaha telah dilakukan oleh para ahli untuk menciptakan satuan-satuan stratigrafi resmi yang pada gilirannya memungkinkan ditemukannya metoda-metoda praktis dan handal untuk mengkorelasikan satuan-satuan tersebut. perkembangan baru dalam teknologi komputer dan penerapan metoda-metoda statistika dalam korelasi statigrafi telah banyak mem-berikan nilai kuantitatif pada korelasi stratigrafi.KORELASI UNIT STRATIGRAFI Dalam pengertiannya yang paling sederhana. serta Krumbein & Sloss (1963). bersama-sama dengan konsep-konsep korelasi stratigrafi “klasik. Perkembangan magnetostratigrafi sejak dasawarsa 1950-an. penelaahan stratigrafi tidak lebih dari sekedar pemerian stratigrafi lokal. Prinsip-prinsip dasar korelasi telah ditampilkan dalam ber-bagai buku ajar lama mengenai geologi dan stratigrafi. Konsep-konsep dasar korelasi stratigrafi telah ditetapkan dengan mantap pada dasawarsa 1950an dan 1960-an. Tanpa korelasi.l. Prinsip-prinsip dasar tersebut yang masih tetap penting dewasa ini. 1981. Mann. Merriam. Konsep korelasi menembus jauh kepada akar stratigrafi.” . misalnya saja. Weller (1960). Agterberg. korelasi diartikan sebagai usaha untuk menunjukkan ekivalensi satuan-satuan stratigrafi. munculnya berbagai konsep dan metoda analisis baru hingga tingkat tertentu telah mengubah persepsi kita mengenai korelasi serta menelurkan metoda-metoda korelasi baru. Walau demikian. khususnya korelasi yang dilakukan dengan menggunakan metoda statistika (a. Dalam tulisan ini saya akan mencoba menyajikan sejumlah perkembangan baru tersebut. Terus meningkatnya ketertarikan para ahli pada masalah korelasi antara lain ditunjukkan oleh terbitnya sejumlah karya tulis baru mengenai korelasi. Cubitt & Reyment. 1981). Selain itu. 1990.

atau kronologi (Krumbein & Sloss. Rodgers. tidak mengherankan apabila kebanyakan ahli geologi dewasa ini lebih cenderung untuk menerima pengertian korelasi yang luas ini. Satuan stratigrafi yang diendapkan selama transgresi atau regresi besar memotong bidang-bidang waktu. Kronokorelasi dapat dibuat berdasar-kan setiap metoda yang memungkinkan penyetaraan umur strata. maksudnya. banyak satuan lito-stratigrafi memotong bidang-bidang waktu. Kronokorelasi (chronocorrelation) yang mengungkapkan korespondensi umur dan posisi kronostratigrafi.DEFINISI KORELASI Meskipun konsep korelasi telah ada sejak awal perkembangan stratigrafi. 1957. ada dua pendapat mengenai hal ini. Biokorelasi (biocorrelation) yang mengungkapkan kemiripan kandungan fosil dan posisi 3 biostratigrafi. secara rutin melakukan korelasi formasi-formasi bawah permukaan dengan menggunakanwell logs atau rekaman seismik. namun apabila ditelusuri secara regional. misalnya saja. namun para ahli belum sepakat mengenai arti eksak dari istilah “korelasi” itu sendiri. Berikut akan dikemukakan hubungan antara litokorelasi dengan kronokorelasi. Karena keluasan arti dan kesederhanaan pemakaiannya. Tepeats Sandstone di tepi barat Grand . 1959). dua tubuh batuan dapat dikorelasikan sebagai satuan litostratigrafi atau satuan biostratigrafi yang sama. 1963). Contoh formasi transgresi-regresi paling terkenal di Amerika Utara adalah Tepeats Sand-stone (Kambrium) di Grand Canyon. Sandi Stratigrafi Amerika Utara 1983 mengakui adanya tiga tipe utama korelasi sbb: 1 Litokorelasi (lithocorrelation) yang mengungkapkan kemiripan litologi dan posisi 2 stratigrafi. korelasi merupakan usaha untuk menunjukkan bahwa dua tubuh batuan diendapkan pada rentang waktu yang sama (Dunbar & Rodgers. Korelasi yang didasarkan pada litologi juga dapat menghasilkan korelasi kronostratigrafi pada skala lokal. usaha untuk memperlihat-kan ekivalensi dua satuan litostratigrafi berdasarkan kemiripan litologi tidak termasuk ke dalam kategori korelasi. Dilihat dari kacamata sejarah. Dengan kata lain. meskipun keduanya memiliki umur yang berbeda. Pendapat kedua mengartikan korelasi secara luas sehingga mencakup semua usaha untuk memperlihatkan kesebandingan litologi. Dilihat dari kacamata ini. Pendapat pertama bersikukuh agar konsep korelasi hanya diartikan sebagai usaha untuk memperlihatkan kesebandingan waktu(time equivalency). paleontologi. Para ahli geologi perminyakan.

atau untuk menyusun model struktur. kedua satuan itu mungkin tidak sebanding. baik dalam hal waktu maupun litostragrafinya. Hal lain yang penting ditekankan disini adalah perbedaan antara konsep matching dengan konsep korelasi. Penelusuran satuan-satuan yang terletak diantara berbagai lokasi itu mungkin akan memberikan informasi bahwa salah satu diantaranya terletak di atas satuan yang lain. Tepeats Sandstone. 1982). Dengan demikian. Garis-garis pada gambar 2A tidak menyatakan korelasi karena tidak menghubungkan satuan-satuan litostratigrafi yang ekivalen. fosil. Matching berdasarkan karakter litologi pada kasus seperti itu tidak menunjukkan kesebandingan. kronokorelas) dan dapat memberikan hasil yang berbeda-beda. atau lintap data geologi dengan tujuan untuk menafsirkan dan menyusun model fasies. namun memiliki litologi yang pada dasarnya identik (misalnya dua serpih hitam). Fakta inilah yang mendorong munculnya metoda-metoda korelasi yang beragam (litokorelasi. Definisi itu secara implisit menyatakan bahwa korelasi dilakukan diantara satuan-satuan stratigrafi (satuan litostratigrafi. meskipun diterapkan pada lintap stratigrafi yang sama. Korelasi dapat dianggap langsung (resmi) atau tidak langsung (tidak resmi) (Shaw. Sebagai contoh. 1975. satuan biostratigrafi. sedangkan Tepeats Sandstone di tepi timur ngarai tersebut semuanya berumur Kambrium Tengah (gambar 1). merekonstruksikan paleontologi. yang dapat ditelusuri secara lateral di semua bagian ngarai tersebut. Walau demikian. dapat di-match-kan berdasarkan litologinya.Canyon semuanya berumur Kambrium Awal. biokorelasi. Perbedaan antara korelasi dengan matching dilukiskan pada gambar 2. Gambar 2A memperlihatkan dua penampang stratigrafi yang match sempurna. 1982). dan satuan krono-stratigrafi). Korelasi langsung (direct correlation) dilakukan secara fisik dan hasilnya tidak diragukan. dikorelasikan sebagai satu satuan litostratigrafi. . Shaw. Tujuan korelasi adalah menetapkan ekivalensi satuan-satuan stratigrafi yang terletak di daerah yang berbeda-beda. namun bukan sebagai satuan kronostratigrafi. Litokorelasi yang seharusnya diperlihatkan pada gambar 2B. Satu hal penting yang perlu ditekankan disini adalah bahwa batas-batas yang ditentukan berdasarkan kriteria tertentu belum tentu sama dengan batas-batas yang ditentukan berdasarkan kriteria lain. dua satuan dalam penampang-penampang stratigrafi dari daerah yang berbeda. Shaw (1982) menyatakan bahwa proses korelasi adalah proses untuk menunjukkan hubungan geometri antara batuan. Matchingdidefinisikan secara sederhana sebagai korespondensi serangkaian data dengan tidak merujuk pada satuan stratigrafi (Schwarzacher.

Per-bedaan antara matching. Metoda korelasi ini hanya dapat diterapkan apabila strata yang diteliti tersingkap secara menerus atau hampir menerus. adalah dengan cara menelusuri penyebaran lateral suatu lapisan sebagaimana yang tampak pada potret udara. pembandingan seperti itu memiliki tingkat kehandalan yang berbeda-beda dan tidak pernah benar-benar meyakinkan. namun kehandalannya sedikit lebih rendah dibanding hasil yang diperoleh dengan cara di atas. Korelasi tidak langsung berdasarkan satu gejala fisik atau gejala biologi tertentu yang memang diperlukan sekaligus memadai untuk menunjukkan ekivalensi disebut korelasi monotetik (monothetic correlation). karena tidak ada satu karakter tunggal yang memadai untuk menunjukkan ekivalensi. Pada daerah yang kaya akan singkapan dan kenampakan singkapan itu praktis tidak terganggu oleh kehadiran tanah atau vegetasi. Seorang ahli geologi yang menelusuri satuan stratigrafi dari satu lokasi ke lokasi lain dengan menelusuri suatu bidang perlapisan dapat meyakinkan dirinya bahwa dia telah menetapkan korelasi pada saat itu juga. jengkal demi jengkal. Korelasi tidak langsung (indirect correlation) dilakukan dengan berbagai metoda seperti pembandingan visual terhadap well logs. Penunjukkan ekivalensi yang dilakukan secara statistik berdasarkan sejumlah karakter. korelasi formal. rekaman pembalikan kutub magnet. Jadi. LITOKORELASI Penelusuran Satuan Stratigrafi ke Arah Lateral Penelusuran langsung satuan litostratigrafi dari satu lokasi ke lokasi lain merupakan satu-satunya metoda yang dapat memberikan informasi yang sangat meyakinkan kepada kita mengenai ekivalensi satuan tersebut. usaha yang mungkin memerlukan ketahanan fisik itu akan memberikan hasil yang memuaskan. dan korelasi tidak langsung diperlihatkan pada gambar 3. Walau demikian. bukan sekedar pembandingan visual. penelusuran lateral satuan stratigrafi dapat dilakukan dengan cepat dan efektif melalui potret . atau kumpulan fosil. Korelasi politetik umumnya menuntut dilakukan-nya pengukuranpengukuran yang sistematis serta dilibatkannya statistika.Penelusuran fisik suatu satuan stratigrafi yang menerus merupakan satu-satunya metoda yang mampu memperlihatkan korespondensi satuan litostratigrafi dari satu tempat ke tempat lain secara meyakinkan. disebut korelasi politetik (polythetic correlation). Cara penelusuran langsung adalah dengan mengikuti satuan litostratigrafi itu ke arah lateral. Cara lain yang juga berguna.

maka korelasi yang didasarkan pada kemiripan litologi memiliki tingkat kehandalan yang beragam. Salah satu pembatas yang paling serius adalah fakta bahwa. Meskipun penelusuran satu atau sejumlah lapisan merupakan satu-satunya metoda korelasi yang sangat meyakinkan. warna. dan karakter lapukan. Pada kasus seperti itu.udara. para ahli geologi umumnya hanya dapat menelusuri satuan litostratigrafi yang relatif besar (misalnya sebuah anggota atau sebuah formasi) yang terdiri dari sejumlah lapisan dengan karakter yang mirip satu sama lain. Perubahan fasies dalam suatu satuan litostratigrafi jelas akan menyebabkan kompleksnya masalah korelasi. pada kebanyakan daerah penelitian. tererosi (misalnya terpotong oleh satu sungai besar). struktur sedimen primer (mis. dalam prakteknya. Makin banyak sifat batuan yang dijadikan sebagai dasar . namun metoda itu bukan tidak terbatas. Kemiripan litologi dapat ditetapkan berdasarkan berbagai sifat batuan. misalnya litologi umum (gross lithology. Hal seperti itu seringkali terjadi pada kasus strata non-marin. Kemiripan Litologi dan Posisi Stratigrafi Kemiripan Litologi Para ahli geologi yang bekerja pada daerah dimana penelusuran langsung tidak mungkin dilakukan. perlapisan dan laminasi silang-siur). suatu lapisan biasanya tidak dapat ditelusuri hingga jarak yang jauh karena pada tempat-tempat tertentu lapisan itu tertutup oleh tanah atau vegetasi. atau batugamping). khuluk lintap stratigrafi yang akan dikorelasikan. mis. serpih. Karena matching strata belum tentu mengindikasikan korelasi. harus meng-andalkan metoda-metoda yang melibatkan proses matching strata dari satu tempat ke tempat lain berdasarkan kemiripan litologi dan posisi stratigrafi. Keberhasilan dari korelasi dengan cara seperti itu tergantung pada kekhasan gejala litologi yang digunakan sebagai indikator korelasi. kumpulan mineral berat atau mineral khas lainnya. batupasir. Metoda ini hanya dapat diterapkan pada lapisan-lapisan yang khas dan cukup tebal untuk dapat terlihat pada potret udara. penelusuran suatu individu lapisan atau suatu bidang perlapisan tidak mungkin dilakukan. Masalah lain yang mungkin muncul adalah hilangnya lapisan batuan yang ditelusuri karena membaji atau berubah secara lateral menjadi lapisan batuan yang lain. Jadi. ketebalan. terdeformasi (misalnya sesar). serta ada tidaknya perubahan litologi dari satu tempat ke tempat lain.

Navajo.matching. dan Estrada). masih mungkin bagi kita untuk meningkatkan kehandalan korelasi dengan cara menerapkan teknik-teknik statistika. Chinle. Saya ingatkan lagi bahwa matching strata berdasarkan litologi tidak menjamin bahwa korelasi dapat ditetapkan. Sebagai contoh. Posisi Stratigrafi Penjelasan di atas menunjukkan kebenaan posisi stratigrafi dalam korelasi yang didasarkan pada identitas litologi. melainkan satu lintap batuan yang khas. makin tinggi kemungkinan kita untuk dapat me-match-kan litologi yang bersesuaian. Summerville. misalnya warna atau ketebalan. Satu sifat tunggal. Korelasi litologi yang paling dapat diandalkan hanya dapat dibuat apabila kita dapat me-matchkan tidak hanya satu atau dua lapisan atau tipe batuan yang khas. Kayenta. dan Morrison) yang berselingan dengan batupasir eolus putih hingga merah dan berlapisan silang-siur (Formasi Wingate. Beberapa formasi di Colorado Plateau secara litologi mirip. Pada beberap kasus. namun sejumlah sifat litologi memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk berubah secara lateral. namun mungkin terpisahkan oleh ruang dan waktu yang lebar. baik yang dilakukan secara manual maupun dengan bantuan komputer. formasi-formasi Trias dan Jura di Colorado Plateau. namun karena muncul dalam suatu lintap strata yang cukup khas untuk dapat dikorelasikan dari satu tempat ke tempat lain. maka individu-individu formasi juga dapat dikorelasikan berdasarkan posisinya dalam lintap tersebut. Lapisan atau satuan seperti itu berperan sebagai control unituntuk meng-korelasikan strata yang terletak di atas dan . dapat berubah secara lateral. 1990). bagian barat Amerika Serikat. suatu lapisan atau paket lapisan dengan karakter litologi tertentu dapat muncul berulang-ulang pada satu daerah yang relatif kecil. Lintap dari formasi-formasi itu demikian khasnya sehingga dapat dikenal dan dikorelasikan secara meyakinkan hingga jarak yang jauh (gambar 4). Korelasi berdasarkan sifat litologi terutama sukar dilakukan dalam lintap mendaur. Metoda-metoda kuantitatif itu dapat memberikan ukuran probabilitas kesahihan dari korelasi yang kita buat (Agterberg. Cara lain dimana posisi stratigrafi juga memegang peranan penting adalah penentuan korelasi berdasarkan kaitannya dengan suatu lapisan atau satuan yang sangat khas dan dapat dengan mudah dikorelasikan dari satu tempat ke tempat lain. disusun oleh suatu lintap khas yang sebagian besar merupakan satuan batulanau merah/hijau dan satuan batulumpur non-marin (Formasi Moenkopi. Pada lintap seperti itu. Strata dengan karakter litologi yang sangat mirip dapat terbentuk pada lingkungan pengendapan yang juga mirip.

dibawahnya. Setiap kurva menggambarkan variasi sifat batuan disekitar lubang bor. Setelah suatu exploratory well dibor oleh perusahaan migas. maka hal itu akan lebih meningkatkan kehandalan korelasi strata yang terletak diantara dua lapisan kunci. mineralogi. lubang itu kemudian di-log sebelum diputuskan apakah lubang itu akan dijadikan lubang penghasil migas atau ditinggalkan sebagai lubang kering (dry hole). Sonde yang diturunkan itu mungkin merupakan sonde yang dirancang untuk mengukur resistivitas listrik formasi bawah permukaan. sebagian besar sifat batuan yang diukur oleh well logs memiliki kaitan yang erat dengan litologi. mengukur kecepatan suara di dalam batuan-batuan tersebut. Walau demikian. lapisan satuan debu jatuhan yang tipis atau lapisan bentonit mungkin hadir dalam suatu lintap stratigrafi dan dapat dengan mudah dikenal pada daerah tertentu. mengukur radiasi sinar-gamma alami atau induced gamma-ray radiation yang dikeluarkan oleh batuan-batuan tersebut. Ketika sonde itu ditarik ke atas secara perlahan-lahan. well logs diperoleh dengan prosedur sebagai berikut. Korelasi Berdasarkan Well logs Well logs adalah kurva-kurva hasil berbagai pengukuran lubang bor. atau daya serap dan kemampuannya dalam mengeluarkan radiasi nuklir. misalnya resistivitas listrik. korelasi dengan menggunakan well logs tidak didasarkan pada litologi total. sehingga tidak mungkin tertukar dengan lapisan debu atau bentonit lain. Strata yang terletak tidak jauh di atas atau di bawah control unit dapat dikorelasikan dengan tingkat keyakinan yang tinggi. atau sifat-sifat batuan yang lain. dan aspek-aspek lain dari formasi bawah permukaan. Jadi. Jelas sudah bahwa korelasi akan lebih meyakinkan lagi apabila jarak antar lapisan kunci itu makin rapat. Sebagaimana telah diketahui. maka lapisan itu dapat berperan sebagai lapisan kunci (key bed. kepada lapisan mana strata lain dapat dikaitkan. Prosedur logging dimulai dengan menurunkan sebuah alat yang disebut sonde ke dasar sumur. Sebagai contoh. marker bed). Jika debu atau bentonit itu merupakan satu-satunya lapisan debu atau bentonit dalam lintap stratigrafi di daerah itu. fluida ruang pori. Jika dua atau lebih lapisan kunci hadir dalam suatu lintap stratigrafi. porositas. secara berturut-turut dan menerus dia mengukur sifatsifat tersebut mulai dari batuan yang terletak paling bawah hingga batuan yang terletak paling . kemampuannya dalam melewatkan gelombang suara. Kurva-kurva itu merupakan cerminan perubahan litologi umum.

atau log resistivitas (resistivity log). Sebagai contoh. dan aspek-aspek batuan yang lain. namun semuanya memiliki karakter umum bahwa mereka merupakan kurva-kurva yang mencerminkan sifat-sifat tertentu dari batuan bawah permukaan yang memiliki kaitan dengan litologi. formation microscanner.atas. magnetic susceptibility logs) juga sering di-gunakan. Litologi tidak dapat dibaca langsung dari log. Bentuk dari kurva-kurva yang dihasilkan dari satu satuan litologi tertentu tidak bersifat unik. . Dengan bertambahnya pengalaman kerja di suatu tempat. Tipe-tipe well log lain (mis. namun seorang well-log analyst yang terlatih dan berpengalaman dapat mengenal sinyal-sinyal dari suatu formasi tertentu atau urut-urutan beberapa formasi tertentu serta dapat me-match-kan sinyal-sinyal dalam suatu log dengan log lain yang diambil dari sumur-sumur lain disekitarnya. fluida ruang pori. sonde itu mengirimkan data hasil pengukuran ke dalam suatu digital tape dan display unit yang terletak di dalam logging truck di permukaan. yang mengukur radiasi sinar-gamma alami dalam batuan. yang merekam resistivitas batuan. Selain bermanfaat dalam korelasi. serpih marin yang ruang-ruang porinya diisi oleh air formasi asin akan memiliki resistivitas listrik yang lebih rendah (atau konduktivitas listrik yang lebih tinggi) dibanding batupasir atau batu-gamping sarang yang ruang-ruang porinya diisi oleh minyak atau gasbumi. Pada waktu yang bersamaan. Gambar 5 melukiskan suatu bagian dari well log yang memperlihatkansonic curve dan kurva sinar gamma. Salah satu tipe tampilan log terdiri dari dua tipe kurva yang berbeda dan mengapit satu kolom yang merepresentasikan lubang bor. Tipe-tipe alat logging lain yang sering digunakan adalah log sinar gamma (gamma ray log). namun karakter log merupakan cerminan dari litologi (dan fluida yang ada didalamnya). Penjelasan yang lebih mendalam mengenai well logsdan penafsirannya dapat dilihat dalam karya tulis Asquith (1982) dan Rider (1986). seorang ahli geologi perminyakan dapat dengan relatif mudah mengenal sinyal tertentu pada log dan kemudian mengaitkannya dengan tipe-tipe satuan litologi atau formasi tertentu yang ada di daerah tersebut. sonic log juga dapat digunakan untuk menentukan porositas formasi bawah permukaan karena gelombang suara akan menjadi lambat ketika melewati bagian batuan yang terisi oleh fluida. ketebalan lapisan. Resistivitas batuan dipengaruhi oleh litologi batuan serta jumlah dan khuluk fluida dalam ruang pori batuan tersebut. geochemical logs. dan sonic log yang mengukur kecepatan gelombang suara dalam batuan. Salah satu tipe well log yang sering digunakan adalah log listrik (electric log).

metoda seismik didasarkan pada fakta bahwa gelombang elastis yang ditransmisikan ke bawah permukaan akan dipantulkan kembali ke permukaan bumi. Jadi. Griffiths (1982). Gambar 6 merupakan sebuah contoh korelasi berdasarkan log listrik pada suatu cekungan. Sistem tersebut kemudian memberikan informasi mengenai statistical match. Tersedianya komputer dan teknik-teknik statistika canggih dewasa ini memungkinkan dilakukannya korelasi stratigrafi dari well logs secara otomatis. Bidang pantul gelombang tersebut merupakan bidang diskontinuitas yang berupa bidang perlapisan atau . Detildetil automated well-log correlation dijelaskan oleh Shaw & Cubitt (1978). Korelasi Berdasarkan Seismic Events Sebagaimana telah diketahui. Pekerjaan itu juga dipengaruhi oleh subjektivitas berkaitan dengan kesan seseorang terhadap kemiripan kurva-kurva yang ada pada berbagai bagian lubang bor yang diukur. Korelasi well logs sebenarnya lebih didasarkan pada posisi setiap satuan dalam suatu lintap satuan seperti yang diindikasikan oleh log. Perbedaan antar satuan stratigrafi mungkin hanya dimanifestasikan oleh perbedaan bentuk kurva yang samar dan mungkin sukar dikenal secara visual. Para ahli geologi sering menambahkan informasi mengenai litologi yang diperoleh dari inti bor (drill core) atau serbuk pengeboran (drill cutting) kepada well logs. saya tekankan kembali bahwa korelasi well logs tidak harus didasarkan pada varietas sifat litologi.Well logs dari sumur yang berdekatan biasanya sangat mirip. Korelasi berdasarkan well logs dapat menjadi pekerjaan yang melelahkan dan melibatkan sejumlah besar log. Ancangan-ancangan tersebut melibatkan rekaman digital atau segmen-segmen log dalam sistem komputasi. Walau demikian. Dengan meneliti sumur-sumur yang relatif berdekatan. Sebenarnya. hal ini pada gilirannya dapat mengurangi subjektivitas dalam korelasi. korelasi berdasarkan well logs merupakan ekivalen bawah permukaan dari korelasi penampang-penampang permukaan yang didasarkan pada posisi batuan dalam suatu lintap batuan. bukan berdasarkan karakter individu satuan yang dicerminkan dalam kurva. seorang ahli geologi dapat mengkorelasikan seluruh bagian cekungan. namun tingkat kemiripan itu akan berkurang dengan makin jauhnya jarak antar sumur. serta Olea (1988). salah satu alasan mengapa para ahli geologi perminyakan memandang well logs sangat bermanfaat adalah karena korelasi well logs memungkinkan mereka dapat mengenal gejalagejala pembajian dan perubahan fasies yang mungkin merupakan jebakan migas yang potensial. termasuk porositas dan kandungan fluida.

Magneto-stratigrafi memiliki kebenaan khusus dalam korelasi internasional karena geomagnetic reversals merupakan fenomena yang mencerminkan kesamaan waktu dan berskala global. Hal itu terjadi karena pembalikan medan magnet bumi mempengaruhi medan magnet di seluruh dunia dan berlangsung pada waktu yang sama. Hal itu berbeda dengan batas satuan litostratigrafi yang mungkin bukan merupakan bidang kesamaan waktu. maka pola rekaman seismik dapat digunakan untuk tujuan korelasi kronostratigrafi berskala besar. atau kelompok strata pada hakekatnya merupakan bidang kesamaan waktu (synchronous surface). maka polarity events berperan sebagai alat korelasi krono-stratigrafi yang sangat baik. bukan dari batas satuan lito-stratigrafi. melalui sistem paparan. bidang pantul gelombang seismik dapat ditelusuri mulai dari wilayah daratan. laminae. tepi paparan. Teknik-teknik magnetostratigrafi pertama kali diterapkan untuk korelasi dan penentuan umur batuan yang terlibat dalam analisis anomali-anomali magnet dasar samudra yang bersifat linier dengan . dimanapun adanya. hingga dasar lautdalam. Seperti telah diketahui. Bidang fisik yang memisahkan individu-individu lapisan. termasuk di daerah-daerah dimana tidak ada satuan litostratigrafi yang seumur. Mitchum dkk (1977) menegaskan bahwa baik bidang perlapisan maupun ketidakselarasan memiliki kebenaan kronostratigrafi tersendiri. PENERAPAN MAGNETOSTRATIGRAFI DAN PALEOMAGNETISME UNTUK KORELASI Magnetostratigrafi terutama digunakan sebagai alat korelasi strata marin pada skala global. berumur lebih muda daripada batuan-batuan yang terletak dibawahnya. Karena gelombang elastis dipantulkan oleh bidang perlapisan atau ketidakselarasan. Korelasi magnetostrati-grafi terutama sangat penting artinya pada saat korelasi paleontologi atau korelasi litologi sukar dilakukan. namun bagaimanapun juga ketidakselarasan memiliki kebenaan kronostratigrafi karena batuan-batuan yang terletak di atas suatu ketidakselarasan. Karena reflektor seismik umumnya tidak berimpit dengan batas satuan litologi. Para ahli itu mengasumsikan bahwa meskipun hiatus yang dicerminkan oleh suatu ketidakselarasan mungkin tidak sama dari satu tempat ke tempat lain. Karena polarity time scale dapat dikalibrasikan secara radiometrik atau secara paleontologi. Gambar 7 meluksikan sebuah contoh korelasi kronostratigrafi regional dengan cara menelusuri horizon-horizon pantulan seismik secara lateral.ketidakselarasan. sistem lereng. maka pola rekaman seismik tidak dapat digunakan untuk tujuan litokorelasi.

pada saat mana .penampang-penampang strata vulkanik darat yang telah diketahui umurnya berdasarkan metodametoda radiometrik. Pola-pola paleomagnetic reversals secara khusus sangat bermanfaat untuk korelasi jarak jauh. setelah magnetic polarity time scale dapat diperluas hingga mencakup bagianbagian skala waktu geologi yang tua. magnetostratigrafi menjadi sebuah alat penting untuk meng-korelasikan strata tua yang ada di darat secara internasional. Dimulai dengan Brunhes Normal Epoch (polarity chron) pada puncak inti bor. Inti-inti bor yang lebih panjang diperoleh selama berlangsungnya Deep Sea Drilling Program dan Ocean Drilling Program. melewati batas-batas biogeografi. Teknik-teknik korelasi itu kemudian diperluas hingga mencakup data-data inti bor sedimen laut-dalam. Selain itu. korelasi makin sukar dilakukan karena rekaman magnetostratigrafi akan terdiri dari banyak himpunan polarirty reversals (gambar 9 dan 10) yang mungkin tampak mirip satu sama lain. Detil-detilgeomagnetic time scale kemudian dikembangkan hingga mencakup batuan yang berumur 150 atau 160 juta tahun. Metoda-metoda paleomagnetisme dewasa ini telah mulai digunakan untuk mengkorelasi-kan penampang-penampang daratan. Korelasi pola-pola reversalitu mungkin memerlukan bukti umur radiometrik atau paleontologi independen untuk menetapkan posisi stratigrafi. Hingga dewasa ini. Korelasi magnetostratigrafi dahulu hanya dapat dilakukan secara terbatas pada batuan yang sangat muda karena magnetic time scale untuk batuan yang lebih tua dari 7 Ma masih belum dikembangkan oleh para ahli dan karena kebanyakan gravity core dan piston core sedimen dasar samudra tidak dapat menembus cukup dalam untuk dapat mengambil sampel sedimen tua. Walau demikian. korelasi inti bor sedimen dengan menggunakan magnetic polarity events terutama diterapkan pada pemelajaran sedimen marin yang berumur kurang dari 6 atau 7 juta tahun. Rotary coring methods mampu mengangkat batuan setua Jura tengah. Dengan demikian. Dengan makin panjangnya inti bor dan makin tuanya sedimen. korelasi dapat dilakukan hingga bagian-bagian bawah inti bor berdasarkan pola-pola reverse dan normal polarity. rotary cores itu umumnya merupakan disturbed core sehingga kemungkinan besar akan memberikan data paleomagnetisme yang kurang dapat diandalkan. pengambilan inti bor yang lebih dalam dengan hydraulic piston core dewasa ini memungkinkan diperolehnyaundisturbed cores sedimen setua Miosen tengah. Gambar 8 memperlihatkan sebuah contoh korelasi paleomagnetisme dalam inti bor sedimen lautdalam yang relatif muda.

memiliki batas-batas yang pada umumnya berimpit dengan garis waktu. Zona kumpulan memiliki kebenaan khusus sebagai indikator lingkungan.korelasi berdasarkan fosil (fosil planktonik sekalipun) mungkin sukar dilakukan akibat adanya perbedaan-perbedaan dalam mandala biogeografi yang dicirikan oleh kehadiran kumpulan fosil yang berbeda. yang terutama ditentukan keberadaannya berdasarkan pemunculan pertama suatu taxa. zona kumpulan (assemblage zone) dan zona puncak (abundance zone) dapat memotong garis-garis waktu. Karena itu. Pada tulisan ini pertama-tama kita akan mempelajari korelasi yang didasarkan pada zona kumpulan dan zona puncak. zona selang (interval zone). Korelasi Berdasarkan Zona Kumpulan Berbeda dengan Oppel assemblage zone. Sebagai contoh. dengan menggunakan prinsip-prinsip yang sangat mirip dengan prinsip-prinsip korelasi litostratigrafi. Gambar 8 memper-lihatkan bahwa paleomagnetic correlation dapat dilaksanakan diantara cekungan-cekungan Samudra Arktik. Di lain pihak. Zona tersebut. Dengan cara yang lebih kurang sama. zona kumpulan cenderung hanya dapat . zona kumpulan didasarkan pada pengelompokkan tiga atau lebih taxa tanpa memperhitungkan limit-limit kisarannya. Satuan biostratigrafi dapat dikorelasikan. Pasifik. Setelah itu kita akan mempelajari metoda-metoda biokorelasi yang didasarkan pada zona selang dan zona-zona lain yang menghasilkan korelasi kronostratigrafi. dan Atlantik. Satuan biostratigrafi bisa maupun tidak bisa memiliki kebenaan waktu. satuan biostratigrafi dapat ditelusuri dan di-match-kan dari satu tempat ke tempat lain dengan cara yang lebih kurang sama dengan cara penelusuran satuan litostratigrafi. Karena itu. apabila dilihat secara regional. India. gambar 11 melukiskan bagaimana penampang-penampang stratigrafi daratan dapat di-korelasikan berdasarkan magnetic polarity reversal stratigraphy. tanpa tergantung pada kebenaan waktu-nya. Keberadaan zona tersebut ditentukan oleh urut-urutan flora dan fauna yang berbeda dan zona tersebut berurutan satu di atas yang lain dalam suatu penampang stratigrafi tanpa diselingi oleh rumpang. mungkin sangat bervariasi. misalnya ber-dasarkan ke-match-an menurut kandungan fosil dan posisi stratigrafinya. jika ditelusuri ke arah lateral. yang masing-masing dicirikan oleh sedimen dengan litologi dan kumpulan fosil yang berbeda-beda. BIOKORELASI Satuan biostratigrafi merupakan satuan stratigrafi objektif yang dapat diamati dan ditentukan keberadaannya berdasarkan fosil yang terkandung didalamnya.

Cara pemecahan masalah lain yang baru-baru ini diajukan oleh para ahli adalah dengan menerapkan teknik-teknik analisis statistika multivariat untuk mengenal dan menentukan zona kumpulan. Korelasi Berdasarkan Zona Puncak Seperti telah diketahui. Sebagian masalah korelasi yang didasarkan pada zona kumpulan muncul dari fakta bahwa jumlah taxa fosil yang harus diteliti oleh seorang ahli biostratigrafi demikian banyaknya sehingga sukar bagi dia untuk mengasimilasikan data yang sangat banyak itu dan untuk menentukan batas-batas zona yang berarti (gambar 13). para peneliti di masa lalu cenderung mengurangi jumlah taxa yang akan dipelajari atau mereka mencoba membuat sampel gabungan. atau taxon lain. ada limit praktis yang membatasi tingkat keakuratan zona kumpulan.digunakan untuk tujuan korelasi lokal. acme zone) ditentukan keberadaannya berdasarkan jumlah maksimum relatif dari satu atau lebih spesies. Teknik-teknik itu memberikan dasar rasional kepada seorang ahli biostratigrafi untuk menentukan zona kumpulan berdasarkan sejumlah besar taxa. Zona itu merepresentasikan saat atau saat-saat ketika suatu taxon tertentu berada pada puncak perkembangannya. para ahli biostratigrafi dewasa ini berkeyakinan bahwa sebagian besar zona puncak tidak dapat diyakini kehandalannya dan tidak dapat digunakan sebagai penciri . bukan berdasarkan kisaran taxon. zona puncak (abundance zone. Prinsip korelasi berdasarkan zona kumpulan dilukiskan secara sederhana pada gambar 12. Brower (1981). genus. Sejumlah ahli biostratigrafi pada mulanya menggunakan zona puncak untuk tujuan korelasi kronostratigrafi di bawah asumsi bahwa dalam sejarah suatu taxon terdapat saat-saat dimana taxon itu mencapai kelimpahan maksimum dan bahwa kelimpahan maksimum itu berlangsung pada waktu yang bersamaan di semua belahan bumi. sebagian zona kumpulan yang didasarkan pada kumpulan organisma planktonik bahari dapat digunakan untuk korelasi pada wilayah yang lebih luas. Shaw (1964) menyatakan bahwa batas-batas zona kumpulan pada dasarnya sangat rumit karena di bawah atau di atas limit tersebut akan terdapat zona transisi yang merupakan sebuah tempat dimana sebagian dari karakter zona kumpulan yang terletak dibawahnya telah hilang dan/atau sebagian dari karakter zona kumpulan yang terletak diatasnya masih belum muncul. serta Gradstein dkk (1985). Walau demikian. Detil-detil dari berbagai teknik statistika multivariat itu dijelaskan oleh Hazel (1977). Walau demikian. Untuk mengatasi masalah tersebut. Karena itu.

Pendapat ini didasarkan pada fakta bahwa tidak semua spesies mencapai kelimpahan maksimum atau. dan (2) metoda fisika/kimia. kelimpahan maksimum mungkin bersifat lokal dan sporadis. Metoda korelasi kronostratigrafi dapat dibedakan menjadi dua kategori: (1) metoda biologi. Berbagai metoda fisika dan kimia untuk korelasi kronostratigrafi akan dibahas nanti. Sebagaimana telah diketahui. pembahasan tentang korelasi kronostratigrafi yang didasarkan pada fosil dapat dianggap sebagai bagian dari pembahasan kronokorelasi. Pembahasan tentang biokorelasi di bawah ini masih sangat umum. saya memasukkannya disini dengan tujuan agar materi bahasan yang berkaitan dengan fosil dimasukkan dalam bagian yang sama. Kronokorelasi Berdasarkan Fosil Korelasi kronostratigrafi adalah matching up satuan-satuan stratigrafi berdasarkan kesebandingan waktu. Secara logika. Meskipun kadang-kadang digunakan untuk tujuan korelasi pada suatu mandala tertentu. zona puncak dapat digunakan untuk korelasi biostratigrafi. para ahli biostratigrafi biasanya lebih menyukai korelasi yang didasarkan pada zona kumpulan atau zona selang. jika mencapai kelimpahan maksimum. korelasi kronostratigrafi berdasar-kan metoda biologi terutama didasarkan pada penggunaan concurrent range zones dan zona selang lainnya. kelimpahan maksimum yang terekam dalam rekaman stratigrafi mungkin berkaitan dengan kondisi ekologi yang kondusif dan kondisi seperti itu dapat muncul pada waktu yang berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lain dan keberadaan kondisi seperti itu dapat lebih panjang di suatu tempat daripada di tempat lain. Pendeknya. namun zona itu tidak dapat berperan sebagai sarana korelasi kronostratigrafi yang dapat diandalkan. Jadi. Korelasi Berdasarkan Zona Selang . Pembahasan yang lebih mendetil dapat ditemukan dalam karya tulis Gradstein dkk (1985) serta Guex (1991). hal itu belum tentu terekam dalam batuan. Metoda korelasi biologi juga mencakup penelaahan statistik terhadap data zona selang dan pengkorelasikan berdasarkan zona puncak yang merupakan biological events yang berkaitan dengan fluktuasi iklim. Namun.kronostratigrafi yang memuaskan. Beberapa masalah yang berkaitan dengan korelasi berdasarkan zona puncak diperlihatkan pada gambar 14. Selain itu. Penentuan ke-sebandingan waktu antar berbagai strata merupakan tulang punggung dari stratigrafi global dan dianggap oleh kebanyak-an ahli stratigrafi sebagai tipe korelasi yang terpenting.

Sayang sekali. ¨ Zona selang antara pemunculan pertama suatu taxon dan pemunculan terakhir taxon yang lain. Tipe-tipe zona selang yang dikenal dewasa ini adalah: ¨ Zona selang antara pemunculan pertama dan pemunculan terakhir suatu taxon tunggal. Karena itu. Namun. . Gambar 15 melukiskan beberapa cara dimana pemunculan pertama dan pemunculan terakhir suatu taxon dapat digunakan untuk menentukan zona selang. istilah fosil penunjuk juga digunakan dengan mendasarkan pada konsep lain dan mengandung konotasi lain. Korelasi berdasarkan zona kisaran taxon seringkali dirujuk sebagai “korelasi berdasarkan fosil penunjuk”. akan lebih jelas apabila kita menyatakan bahwa suatu korelasi didasarkan pada keseluruhan kisaran suatu taxon daripada menyatakannya sebagai korelasi yang didasarkan pada zona kisaran. Korelasi yang didasarkan pada zona kisaran taxon diperlihatkan pada gambar 16. Zona selang seperti ini dikenal dengan sebutan zona kisaran taxon (taxon range zone). termasuk zona yang dibentuk oleh kisaran taxa yang saling bertumpang-tindih. memiliki penyebaran geografis yang luas. Hingga dewasa ini dikenal adanya beberapa tipe zona selang. Zona selang seperti ini dikenal dengan sebutan concurrent range zone. dan mudah dikenal. ¨ Zona selang yang ditentukan oleh zona-zona kisaran yang saling bertumpang tindih. cukup melimpah untuk dapat ditemukan dengan relatif mudah dalam rekaman stratigrafi. Tipe-tipe zona selang itu memiliki tingkat kegunaan yang berbeda-beda dalam korelasi kronostratigrafi seperti yang akan dijelaskan di bawah ini. Fosil penunjuk (index fossil) adalah taxon yang memiliki kisaran stratigrafi yang pendek. Zona Kisaran Taxon Zona kisaran taxon mungkin berguna untuk kronokorelasi jika taxa yang dipakai sebagai dasar penentuannya memiliki kisaran stratigrafi yang pendek. ¨ Zona selang antara pemunculan pertama dua taxa yang berbeda atau pemunculan terakhir dari kedua taxa tersebut. zona ini tidak terlalu bermanfaat jika taxa yang dipilih sebagai dasar penentuan-nya memiliki kisaran yang panjang (misalnya beberapa jaman).Zona selang adalah biozona yang membagi-bagi strata yang jatuh diantara saat-saat dimana suatu taxon muncul untuk pertama kalinya dan saat-saat dimana suatu taxon hilang untuk pertama kalinya.

LAD) dari suatu taxon tertentu. korelasi berdasarkan zona kisaran taxon itu tidak sesuai digunakan. atau yang biasa disebut sebagai datum pemunculan pertama (first appearance datum. Dengan kata lain. korelasi dapat dilakukan antara datum-datum pemunculan terakhir (last appearance datum. interval antara pemunculan pertama dua taxa kemungkinan merepresentasikan suatu selang waktu yang pendek dan umur dari strata itu kemungkinan hampir sama di setiap tempat. Korelasi juga dapat dilakukan berdasarkan pemunculan awal atau pemunculan akhir suatu taxon tertentu atau beberapa taxa. sangat bermanfaat dalam korelasi kronostratigrafi mencerminkan perubahan-perubahan evolusioner dan phyletic lineage yang cenderung berlangsung sangat cepat. Zona selang yang di-dasarkan pada pemunculan akhir suatu taxon umumnya dianggap memiliki kebenaan waktu yang lebih rendah dibanding zona selang yang didasarkan pemunculan pertama suatu taxon karena kepunahan taxa umumnya tidak berlangsung secara tiba-tiba pada waktu yang bersamaan dan bahwa spesies baru muncul melalui phyletic evolution. Jadi. Metoda Grafis untuk Mengkorelasikan Zona Kisaran Taxon Meskipun zona selang dapat digunakan sebagai batasan untuk menyatakan satuan strata yang diendapkan pada suatu rentang waktu yang relatif pendek. korelasi pada skala yang lebih tinggi dapat dilakukan berdasarkan tipe-tipe zona kisaran lain. dengan FAD yang sama pada penampang stratigrafi lain. Perhatikan bahwa zonazona selang pada gambar itu mengungkapkan rentang waktu yang jauh lebih pendek dibanding dengan apa yang diungkapkan oleh zona kisaran individu taxon.Zona-Zona Kisaran Lain Ketika suatu zona kisaran taxon sangat panjang dan. tanpa harus mengkorelasikan seluruh zona yang ada. oleh karenanya. Organisme dapat bermigrasi secara lateral untuk kemudian muncul di tempat lain pada waktu yang berbeda dengan pemunculan yang sebenarnya dari organisme tersebut (gambar 17) atau punah di tempat baru itu. FAD). misalnya saja. sebuah garis korelasi dapat digambarkan dari posisi stratigrafi yang menyatakan pemunculan pertama suatu taxon tertentu pada suatu penampang. namun tidak dapat digunakan untuk korelasi kronostratigrafi mendetil. Demikian pula. Gambar 16 melukiskan sebagian diantara metoda-metoda yang dapat dipakai untuk mengkorelasikan dua penampang stratigrafi berdasarkan zona selang. Variabel-variabel tingkah laku . Zona kisaran yang didasarkan pada pemunculan pertama dua taxa yang berbeda.

seperti yang akan kita lihat nanti. pertama-tama dilakukan dengan cara memilih suatu penampang stratigrafi sebagai penampang rujukan (reference section). Setiap saat selalu mungkin terjadi pelebar-an batas kisaran suatu taxon atau taxa sejalan dengan munculnya hasil-hasil penelitian baru. Setelah itu. kemudian posisi FAD dan LAD dari setiap spesies pada penampang itu dicatat. kita pilih penampang stratigrafi kedua untuk dibandingkan dengan penampang rujukan. Penampang itu merupakan penampang paling tebal. Kisaran stratigrafi dari suatu spesies seperti yang terlihat dari FAD dan LAD pada penampang itu mungkin bukan merupakan kisaran stratigrafi total dari spesies tersebut. Pada penampang itu. Salah satu cara untuk meminimalkan masalah fuzzy zonal boundaries ialah dengan menerapkan metoda-metoda statistika dalam menangani data biostratigrafi yang berupa data pemunculan awal dan pemunculan akhir semua spesies dalam suatu penampang stratigrafi. sedangkan penampang kedua (misalnya saja penampang B) ditempatkan pada .organisme seperti itu menyebabkan batas-batas zona selang secara inherent bersifat “fuzzy. kita juga meneliti semua spesies dan kemudian menentukan FAD dan LAD mereka pada penampang tersebut (gambar 18). Shaw (1964) adalah orang yang pertama kali mengusul-kan metoda grafis untuk menetapkan kesebandingan waktu antar berbagai strata yang ada dalam dua penampang strati-grafi dengan cara merajahkan data-data pemunculan awal dan pemunculan akhir semua spesies yang ada pada suatu penampang terhadap data-data pemunculan awal dan pemunculan akhir berbagai spesies itu pada penampang stratigrafi lain. kita menggambarkan sebuah grafik yang dibuat sedemikian rupa sehingga penampang rujukan (misalnya saja penampang A) ditempatkan pada sumbu horizontal dari grafik tersebut. khususnya penampang-penampang lokal. dan mengandung banyak fosil (baik jumlah maupun variasinya). misalnya pada meter ke berapa suatu spesies muncul untuk pertama kali dan pada meter ke berapa pula spesies itu hilang. yang kemudian disempurnakan oleh Miller (1977). metoda tersebut digunakan secara luas oleh para ahli stratigrafi untuk melakukan korelasi kronostratigrafi mendetil antar berbagai penampang stratigrafi. Setelah itu. bebas dari pengaruh sesar atau struktur lain. Dewasa ini. Penampang rujukan diukur dan diambil sampelnya selengkap mungkin. Metoda yang digunakan oleh Shaw (1964). Walau demikian. bukan hanya kisaran dari satu atau dua spesies saja. fakta itu tidak menghalangi pemakaiannya dalam korelasi.” Batas eksak dari biozona tidak akan pernah dapat diketahui karena batas itu ditentukan secara empiris.

Koordinat x dan y dari setiap titik pada garis itu akan memberi-kan suatu korelasi kronostratigrafi yang mendetil antara kedua penampang tadi. sebagai contoh. sedangkan lapisan yang terletak 100 m di atas dasar penampang A berkorelasi dengan lapisan lain yang terletak 49 m di atas dasar penampang B. Jika garis itu benar. maka posisi stratigrafi endapan tersebut pada kedua penampang itu akan tepat terhubungkan oleh garis tersebut. metoda grafis juga merupakan sebuah alat handal untuk mengevaluasi perbedaan laju sedimentasi pada berbagai penampang atau untuk mendeteksi kehadiran hiatus. FAD dan LAD dari setiap spesies pada penampang A kemudian diplot terhadap FAD dan LAD dari setiap spesies yang sama pada penampang B. sedangkan dalam penampang B muncul pada 47 m di atas dasar penampang tersebut. Hal yang sama dilakukan untuk FAD dan LAD dari spesies lain. Selanjutnya. Hal itu mungkin terjadi karena faktor-faktor lingkungan (dengan kata lain berbagai spesies itu facies dependent) atau karena migrasi antara penampang A dan B tidak dapat berlangsung karena adanya halanganhalangan biogeografi (biogeographic barriers). Pada gambar 18. Kehadiran endapan yang mengindikasikan physical events atau isotopic events yang memiliki kebenaan krono-stratigrafi bisa dimanfaatkan dalam metoda grafis itu. misalnya saja. Pembuatan garis itu dapat dilakukan dengan menggunakan metoda regresi statistika. suatu titik dapat digambarkan pada grafik tadi untuk menyatakan nilai tersebut. Prosedur ini akhirnya akan menghasilkan sejumlah titik yang cenderung untuk mengumpul pada suatu zona tertentu (gambar 19). dimana kehadiran endapan itu dapat digunakan untuk membuktikan kesahihan best-fit line.sumbu vertikal (gambar 19). Selain bermanfaat untuk mengkorelasikan penampang stratigrafi. sebuah lapisan yang terletak 60 m di atas dasar penampang A berkorelasi dengan lapisan lain yang terletak 30 m di atas dasar penampang B. Kemiringan dari best-fit line mengindikasikan laju sedimentasi relatif antara dua daerah yang diwakili oleh kedua penampang yang dihubungkan. Selanjutnya kita menggambarkan sebuah garis yang merupakan “best-fit” line untuk titiktitik data tersebut. . Pada gambar 19. spesies 1 dalam penampang A muncul pada 93 m di atas dasar penampang. FAD dan LAD dari berbagai spesies yang dinyatakan dengan titik-titik dalam gambar 18 mengindikasikan bahwa pemunculan dan kepunahan berbagai spesies pada penampang A berbeda dengan pemunculan dan kepunahannya pada penampang B.

misalnya saja. Perubahan kemiringan pada posisi sekitar 80 m di atas dasar penampang B pada gambar 20. Tujuan pembuatan composite standard reference section adalah untuk menetap-kan kisaran total dari setiap spesies atau taxon dengan menggabungkan informasi dari sejumlah penampang yang sebanding. kisaran dari beberapa spesies fosil mungkin merupakan kisaran stratigrafi maksimum. Metoda korelasi grafis tidak saja digunakan untuk mengkorelasikan dua penampang lokal. Titik-titik itu menandai saat-saat spesiasi (evolutionary first appearance) dan kepunahan global dari setiap taxon. Setelah kisaran total dari setiap taxon dapat ditentukan dan composite standard reference section telah dapat ditetapkan. Ada suatu ancangan lain yang dapat digunakan pada zona puncak untuk menghasilkan sebuah diagram korelasi yang memiliki kebenaan kronostratigrafi tersendiri.Jika terjadi perubahan kemiringan best-fit line (gambar 20). Dalam suatu penampang rujukan yang terpilih. Puncak dan dasar dari kisaran stratigrafi setiap taxon disempurnakan dalamcomposite standard reference section dengan cara mengkorelasikannya dengan penampang-penampang lain hingga akhirnya diperoleh suatu titik pemunculan awal yang paling rendah dan titik pemunculan akhir yang paling tinggi. mengindikasikan peningkatan laju sedimentasi pada penampang A dibandingkan dengan laju sedimentasi pada penampang B. Kehadiran hiatus pengendapan dalam suatu penampang akan diperlihatkan sebagai suatu segmen garis mendatar pada best-fit curve (gambar 21). Fosil-fosil lain akan memiliki kisaran yang tidak lengkap karena faktor-faktor lingkungan atau biogeografi seperti telah dikemukakan di atas atau akibat masalah pengawetan. Penampang yang disebut terakhir ini dapat digunakan untuk kronokorelasi regional. bahkan mungkin global. perubahan itu mengindikasi-kan terjadi peningkatan atau penurunan laju sedimentasi relatif. Ancangan itu didasarkan pada kelimpahan maksimum suatu taxon yang sensitif . Korelasi Biogeographical Acme Zone Di atas telah dikemukakan bahwa korelasi yang didasarkan pada zona puncak tidak dapat diandalkan untuk korelasi kronostratigrafi karena keberadaan zona puncak dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan umur suatu zona berbedabeda dari satu tempat ke tempat lain. maka kita akan dapat melakukan korelasi kronostratigrafi pada skala regional dan global. namun dapat diperluas dengan cara mengkorelasikan suatu penampang dengan penampang lain sedemikian rupa sehingga akan diperoleh sebuah penampang gabungan yang oleh Shaw (1964) dinamakan composite standard reference section.

pada umumnya memperlihatkan penguliran ke kanan ketika hidup pada wilayah perairan yang hangat dan penguliran ke kiri ketika hidup pada wilayah perairan yang dingin. misalnya saja. Gambar 23 memperlihatkan bahwa selama berlangsungnya jaman es Plistosen. yang direkonstruksikan berdasarkan informasi seperti itu. perpindahan taxa planktonik yang berkaitan dengan iklim pada waktu-waktu tertentu menghasilkanbiogeographical acme events yang dapat dikorelasikan dari satu tempat ke tempat lain. taxa lintang-tinggi (highlatitude taxa) berekspansi menuju wilayah lintang rendah dan selama jenjang antar jaman es. Kurva-kurva itu kemudian dapat dipakai untuk mengidentifikasikan episodeepisode pasan (warming) dan dingin (cooling) yang dapat dikorelasikan dari satu penampang ke penampang lain. Gambar 22. Demikian sebaliknya. Karena temperatur samudra berbedabeda sehubungan dengan posisi lintangnya. misalnya saja. pada gilirannya. Dilihat dari kacamata geokronologi. 1982). populasi Globorotalia . Di lain pihak. Cangkang foraminifera tertentu yang terdiri dari beberapa kamar diketahui akan mengulir pada suatu arah tertentu ketika spesies itu hidup di wilayah perairan yang hangat dan akan mengulir pada arah sebaliknya ketika hidup di wilayah perairan yang dingin. Selama berlangsungnya glasiasi besar. Pada setiap inti bor atau singkap-an yang dipelajari. Dengan demikian. melukiskan bagaimana perpindahan kumpulan calcareous nannoplankton di Atlantik Utara selama Miosen dapat dipakai untuk kronokorelasi antar berbagai inti bor yang diperoleh dari DSDP. perubahan-perubahan iklim dapat menyebabkan terjadinya pergeseran zona-zona temperatur di samudra dan. Ancangan lain yang berkaitan erat dengan ancangan di atas adalah kronokorelasi yang didasarkan pada coiling ratioforaminifera planktonik (Eicher. akan menyebabkan bermigrasinya sejumlah spesies dari mandala asalnya ke mandala lain yang lebih sesuai untuk kehidupannya. kurva iklim direkonstruksikan berdasarkan persentase taxa iklim dingin dan taxa iklim panas atau kelimpahan relatif dari suatu taxon tertentu. penyebaran sejumlah spesies tertentu sebagai tanggapan terhadap fluktuasi iklim berskala besar pada hakekatnya menyatakan sebuah proses yang berlangsung dalam waktu yang sama. taxa lintang-rendah (low-latitude taxa) berekspansi hingga mencapai wilayah lintang tinggi. 1976).terhadap perubahan lingkungan (Haq & Worsley. sebagian spesies atau taxa akan menempati suatu mandala biogeografi yang batas-batasnya ditentukan oleh posisi lintang dari mandala tersebut. Globorotalia truncatulinoides.

Metodametoda untuk menetapkan kesebanding-an umur strata berdasarkan teknik-teknik magnetostratigrafi. karena didasarkan pada tanggapan biologis terhadap fluktuasi iklim. Bagi banyak ahli geologi. dan umur absolut. paling tidak pada suatu bagian samudra. peningkatan muka air laut eustatik dapat mempengaruhi pola sedimentasi di seluruh belahan bumi. Kelemahan utama dari metoda korelasi ini adalah. maka pemakaiannya menjadi terbatas yakni hanya dapat diterapkan pada sedimen-sedimen yang diendapkan selama Kuarter dan Tersier Akhir. Sejumlah metoda kronostratigrafi lain juga sering digunakan.truncatulinoides mengulir ke kanan yang hidup di daerah lintang rendah dan lintang tengah diganti-kan oleh populasi Globorotalia truncatulinoides mengulir ke kiri. Perubahan-perubahan dalam coiling ratio dari spesies foraminfera tertentu merupakan sarana untuk mengkorelasikan fluktuasi perubahan iklim jangka pendek selama Plistosen. transgressive-regressive events. fasies yang terbentuk pada . selama mana beberapa episode dingin dan panas berlangsung di samudra. Apabila dilihat dari karakter fisiknya. dan biologi telah dibahas di atas. Event stratigraphy memfokus-kan diri pada specific events dalam suatu satuan stratigrafi atau suatu lintap batuan. Sebagai contoh. Di atas telah dibahas bahwa kronokorelasi adalah korelasi yang menyatakan korespondensi umur dan posisi kronostratigrafi dari satuan-satuan stratigrafi. bukan pada karakter fisik atau karakter biologinya. seismik stratigrafi. termasuk korelasi yang didasarkan padadepositional events. KRONOKORELASI Satuan kronostratigrafi sangat penting artinya dalam stratigrafi karena menjadi dasar untuk korelasi regional hingga global berdasarkan kesebandingan waktu. dan stable isotope events. terbentuk fasies sedimen dalam berbagai tipe lingkungan yang semuanya meng-indikasikan kejadian itu. korelasi yang didasarkan pada kesebandingan umur merupakan tipe korelasi terpenting dan kronokorelasi merupakan satusatunya tipe korelasi yang dapat digunakan berdasarkan hal-hal yang sifatnya global. Event Correlation and Event Stratigraphy Event correlation merupakan bagian dari apa yang disebut sebagai event stratigraphy. Akibat peristiwa tersebut. Walau demikian. metoda tersebut menjadi alat bantu yang bermanfaat untuk metoda-metoda korelasi yang didasarkan pada isotop oksigen (lihat di bawah) yang juga melibatkan fluktuasi iklim pada Tersier Akhir dan Kuarter. peristiwa mana pada hakekatnya berlangsung pada waktu yang bersamaan.

jika diendapkan sebagai produkgeologic event yang pada hakekatnya berlangsung “seketika”. berlangsung sangat cepat. Contoh dari peristiwa seperti itu adalah penaikan dan penurunan muka air laut yang menghasilkan lintap transgresi-regresi. dan untuk korelasi litostratigrafi. termasuk punahnya organisme. dan memiliki pengaruh regional. lapisan bentonit (bentonite bed) jika debu itu telah terubah menjadi lempung bentonit. Lapisan kunci sangat bermanfaat untuk korelasi kronostratigrafi. Sebagai contoh. Namun. Korelasi Berdasarkan Short-Term Depositional Events Korelasi yang dilakukan berdasarkan short-term geologic event markers disebut event correlation. Dengan demikian. tumbukan benda angkasa dengan permukaan bumi. Karena besarannya. 1992). 1988) dan. kesamaan umur dari event deposits di suatu daerah dengan event deposits di daerah lain mungkin tidak mudah untuk diketahui. Events seperti itu dapat menimbulkan efek-efek yang luas. rekaman stratigrafi sebenarnya cenderung untuk mengindikasikan jejak-jejak gangguan berskala besar (Seilacher. semua fasies itu ekivalen dalam arti kata semuanya terbentuk oleh peristiwa yang sama. Beberapa peristiwa menghasilkan lapisan kunci yang dapat ditelusuri dari satu tempat ke tempat lain hingga jarak yang jauh. tergantung pada durasi. endapan dari peristiwa-peristiwa itu dapat membentuk suatu bagian penting dari rekaman geologi. Debu jatuhan dari suatu letusan tunggal dapat menghasilkan lapisan yang tebalnya beberapa centimeter serta dapat menutupi ribuan hingga ratusan ribu kilometer persegi. banjir katastrofis. oleh karenanya. dan efek-efek geologi yang ditimbulkan-nya. Lapisan yang disusun oleh debu jatuhan disebut lapisan debu (ash layer).suatu lingkungan kemungkinan tidak ekivalen dengan fasies yang terbentuk pada lingkungan lain. badai besar. Beberapa convulsive event (mis. Short-term depositional event yang paling menakjubkan adalah jatuhan debu vulkanik yang dapat terjadi dalam rentang waktu 1-10 hari (gambar 24). dan tsunami besar) sangat energik. secara kronologi. gempabumi besar. semua fasies itu. intensitas. debu letusan Mt Mazama di bagian tenggara Oregon . Bahkan. letusan gunungapi. produk suatu peristiwa tertentu mungkin tidak terawetkan dengan cukup baik dalam rekaman geologi untuk dapat dikenal sebagai suatu event marker (Clifton. Event memiliki skala yang berbeda-beda. atau lapisan tuf (tuff layer). lapisan tefra (tephra layer). adalah sebanding. Peristiwa-peristiwa lain ber-langsung dengan lebih lambat dan menghasilkan lintap stratigrafi yang penting dan mungkin dapat dengan relatif mudah dikenal dari satu tempat ke tempat lain. Di lain pihak.

dapat dikenal dan ditelusuri keberadaannya dari satu tempat ke tempat lain. yang ditemukan hampir di seluruh permukaan bumi. Sayang sekali. dalam prakteknya. atau komponen lain) atau berdasarkan komposisi unsur jejaknya. California. Endapan debu yang lebih hebat lagi. Umur lapisan tersebut dapat ditentukan dengan metoda radioaktif sehingga memungkinkan lapisan itu dapat dikenal dan dikorelasikan lebih mudah lagi. Tanpa adanya lapisan penunjuk itu. Contoh lain adalah debu letusan Gunung Quizapu (Chile) pada 1932 yang terangkut ke arah timur sejauh 1500 km. menuju Samudra Atlantik. dihasilkan oleh letusan Gunung Krakatau pada 1883. Satuan-satuan turbidit dan endapan laut-dalam lain yang ada dalam sumur-sumur itu dapat dikorelasikan berdasarkan posisi relatifnya terhadap horizon tuf. Lapisan itu menjadi sarana untuk menyusun kronokorelasi yang dapat diandalkan jika memiliki pelamparan yang luas dan jika mudah dikenali sebagai produk satu letusan gunungapi tertentu. namun dapat juga digunakan untuk mengkorelasikan lapisan debu yang ada dalam cekungan bahari dengan aliran lava atau lapisan debu yang ditemukan di darat. Lapisan tefra terutama sangat bermanfaat dalam korelasi cekungan bahari. glass shards. sebagian besar turbidit merupakan satuan mendaur sehingga tampak mirip satu dan seringkali sukar dibedakan satu sama lain. Turbidit dapat memiliki kebenaan kronostratigrafi tersendiri jika suatu lapisan turbidit. Debu hasil letusan Mt St Helens pada 1980 juga menyebar hingga melingkupi suatu wilayah yang luasnya ribuan kilometer persegi dan terletak di sebelah timur dan utara gunung tersebut. Arus turbid merupakan tipe geologic event lain yang praktis berlangsung “seketika” dan dapat menghasilkan lapisan tipis yang tersebar luas. Lapisan tefra merupakan rujukan penting dalam penampang stratigrafi. kegunaan turbidit dalam korelasi kronostratigrafi jadi agak terbatas. Pengenalan individu lapisan debu atau lapisan bentonit seringkali dilakukan berdasarkan karakter petrografinya (tipe mineral. . Karena itu. fragmen batuan.pada 6500-7000 tahun yang lalu diangkut oleh angin ke arah timurlaut dan diendapkan hingga daerah Saskatchewan dan Manitoba (Canada). atau suatu lintap turbidit. Gambar 25 memperlihatkan sebuah contoh dimana suatu lapisan tuf atau tefra dapat berperan sebagai horizon penciri kronostratigrafi yang dapat dikenal dan dikorelasikan dari satu sumur ke sumur lain di Ventura Basin. satuan-satuan turbidit itu agaknya tidak akan dapat dikorelasikan.

Walau demikian. banjir periodik di daratan. sewaktu detritus klastika terjebak secara temporer dalam lingkungan estuarium atau delta sedemikian rupa sehingga menyebabkan terhalangnya pengangkutan material tersebut ke wilayah paparan. Suatu lapisan batugamping yang terletak dalam lintap endapan klastika non-marin. lempung. tipis. suatu lapisan batugamping tipis yang tersebar luas dan terletak dalam lintap yang didominasi oleh serpih atau lanau mengimplikasikan bahwa pengendapan batugamping itu berlangsung di bawah kondisi-kondisi yang pada hakekatnya bersifat simultan. dan tersebar luas. 1979). menerus. Kondisi pengendapan non-katastrofis dan berlangsung relatif lambat juga dapat menghasilkan lapisan penciri yang khas. lapisan itu dapat digunakan untuk korelasi kronostratigrafi jika terbentuk sebagai produk proses pengendapan yang berlangsung di sebagian besar cekungan selama rentang waktu yang relatif pendek di bawah kondisi-kondisi pengendapan yang pada hakekatnya seragam.Tipe “catastrophic” short-term geologic event lain adalah badai debu yang menghasilkan endapan loess berbutir halus di daratan atau lapisan-lapisan lanau-pasir dalam cekungan samudra. dan tersebar luas juga dapat memiliki kebenaan kronostratigrafi tersendiri karena lapisan itu merepresentasikan proses pengendapan yang hampir simultan. merepresentasikan kondisi bahari singkat di daerah yang hampir selalu merupakan lingkungan non-marin itu atau merepresentasikan berlangsungnya penggenangan daerah tersebut oleh air tawar sedemikian rupa sehingga untuk suatu selang waktu yang singkat wilayah itu merupakan sebuah danau dangkal. kehadiran perselang-selingan pasir. Peristiwa yang disebut terakhir ini mungkin disebabkan oleh peningkatan pasokan material detritus secara tiba-tiba sehubungan dengan tectonic event. Pembentukan horizon mikrotektit (microtektite horizon) atau horizon mikrometeorit (micrometeorite horizon) di laut-dalam juga dapat memiliki kebenaan kronostratigrafi tersendiri (Glass & Zwart. Pengendapan lapisan seperti itu tidak harus berlangsung “seketika”. atau peng-endapan oleh badai atau arus turbid. atau lanau dalam suatu lintap batuan karbonat atau evaporit yang tebal kemungkinan mengindikasikan masuknya material detritus secara temporer ke dalam cekungan karbonat atau evaporit. Badai yang terjadi di laut dapat mengolak dan mengangkut sedimen paparan untuk kemudian menghasilkan lapisan-lapisan lanau atau pasir tipis yang merupakan“storm layers”. Sebagai contoh. Lapisan evaporit yang tipis. Batugamping tipis dalam lintap endapan klastika marin yang tebal kemungkinan mengindikasikan terjadinya pengendapan karbonat di wilayah paparan pada suatu rentang waktu yang pendek. Sebaliknya. .

Korelasi Berdasarkan Stable Isotope Events Variasi kelimpahan relatif isotop-isotop nonradioaktif-stabil tertentu dalam sedimen bahari dan fosil dapat digunakan sebagai alat kronokorelasi. subsidensi. posisi bidang waktu itu dapat diketahui dari data fosil yang digunakan untuk menentukan zonasi kedalaman dan kedalam-an maksimum pada berbagai tempat. merupa-kan garis korelasi kronostratigrafi diantara penampang-penampang tersebut. oleh karenanya. Menurut Ager (1981). Gambar 27 melukiskan lebih jauh mengenai metoda korelasi tersebut. sedangkan batuan-batuan yang terletak diatasnya diendapkan selama berlangsungnya regresi. Prinsip-prinsip korelasi yang didasarkan pada transgressive-regressive events dilukiskan pada gambar 26. atau fluktuasi pasokan sedimen. Perhatikan cara titik-titik ekivalen-waktu pada daur itu dihubungkan sedemikian lupa sehingga lempung glaukonitik pada ujung timur disamakan dengan lapisan berlaminasi di ujung barat daur tersebut. Aspek yang digunakan dalam korelasi ini merupakan produk transgresi-regresi yang kemungkinan merepresentasikan terjadinya perubahan muka air laut eustatik di seluruh muka bumi atau perubahan muka air laut lokal sebagai akibat pengangkatan. Posisi bidang waktu itu dapat juga ditentukan dari bukti-bukti litologi dengan cara menentukan posisi dimana batuan-batuan yang ada dalam sejumlah penampang memiliki penyebaran simetris. relatif terhadap fasies yang diendapkan paling jauh dari daratan. 1981). Batuan-batuan yang secara stratigrafi terletak di bawah bidang waktu itu diendapkan selama berlangsungnya transgresi. Endapan suatu daur transgresi-regresi mengandung satu bidang waktu khusus yang merepresentasikan waktu penggenangan maksimum oleh laut. Bukti-bukti geokimia menunjukkan bahwa komposisi isotop-isotop oksigen. Korelasi dengan cara seperti ini dapat dianggap sebagai bagian dari sekuen stratigrafi. yakni waktu pada saat mana kedalaman di setiap tempat mencapai nilai maksimum. dan stronsium di samudra mengalami .Event Correlation berdasarkan Transgressive-Regressive Event Acangan lain untuk event correlation didasarkan pada posisi suatu batuan dalam lintap atau daur transgresi-regresi (Ager. karbon. Bidang yang menghubungkan batuan-batuan yang diendapkan paling jauh dari daratan merupakan bidang pendekatan untuk bidang waktu tersebut di atas dan. belerang. Seperti terlukis pada gambar 26. event correlation dalam kasus tersebut didasarkan pada korelasi puncak-puncak daur sedimen yang diasumsikan mengindikasikan umur yang sama.

fluktuasi komposisi isotop itu harus dapat dikenal pada skala global dan harus berlangsung dalam rentang waktu yang singkat sedemikian rupa sehingga akan tampak sebagai suatu “kick” dalam kurva komposisi isotop. baji. paleomagnet. Sekilas contoh geoteknik dalam dunia tambang. Fluktuasi itu terekam dalam sedimen bahari. dll). overall slope degree. Isotop-isotop karbon. Karena pencampuran di samudra berlangsung dalam rentang waktu 1000 tahun atau kurang. atau radiometrik. Agar dapat bermanfaat dalam korelasi.potensi bahaya longsor yang ada ex: longsoran bidang. belerang. GEOLOGI TEKNIK Peran Geotek di Bidang Pertambangan Sebenarnya tidak hanya melakukan perhitungan saja tetapi lebih mengarah kepada memberikan panduan kepada pihak terkait mengenai potensi bahaya geoteknik yang akan terjadi kepada pihak terkait (manajemen perusahaan. tinggi bench. institusi. mineplanner. topling . Variasi komposisi isotop dalam sedimen atau fosil memungkinkan para ahli geokimia untuk merekonstruksikanisotopic composition curve yang dapat digunakan sebagai stratigraphic marker untuk tujuan korelasi. para ahli stratigrafi harus dapat menetapkan posisi stratigrafi relatif dari fluktuasi tersebut dalam kaitannya dengan skala biostratigrafi.fluktuasi yang hebat atau “ber-ekskursi” di masa lalu. 1. Selain itu. isotop-isotop oksigen tampaknya mendekati tuntutan tersebut di atas dan terbukti sangat bermanfaat untuk kronokorelasi sedimen Tersier dan Kuarter. maka marine isotopic excursion dianggap berlangsung dalam rentang waktu yang praktis sama di seluruh dunia. Eksplorasi dan mine development. Geoteknik diperlukan untuk memandu kepada arah pembuatan desain pit yang optimal dan aman (single slope degree. Diantara berbagai isotop yang potensial. dan stronsium juga berguna untuk mengkorelasikan batuan-batuan dengan umur tertentu.

• Geologi Teknik = aplikasi geologi untuk kepentingan keteknikan. Maksud dan Tujuan . Disini peran ahli geotek memandu tim safety dalam pengawasn operasional tambang dan ahli geotek bisa melakukan penyetopan operasional pit jika membahayakan keselamatan manusia dan alat. peran ahli geotek adalah memberikan analisis mengenai daya dukung tanah yang aman. melakukan push back untuk menurunkan derajat kemiringan lereng. desain. dll. Diinfrastruktur juga berlaku hal yang sama. karena setelah tambang selesai lahan tersebut akan dikembalikan kepada pemerintah dan masyarakat dan menyangkut masalah citra perusahaan. pengaruh yang menjamin faktor-faktor geologi terhadap lokasi.dll) sesuai dengan kriteria SFnya. Operasional Tambang pada kondisi ini ahli geotek berperan dalam pengawasan kondisi pit dan infrastructur yang ada. serta langkah-langkah yang diperlukan untuk memenuhi safety factor sehingga ketika dilakukan kontruksi dan digunakan tidak terjadi kegagalan (failure) 2. apakah berbahaya untuk operasional di pit atau tidak. geotek bekerja sama dengan safety juga berperan untuk memastikan bahwa kondisi waste dump dan pit dalam kondisi aman dan tidak terjadi longsor dalam jangka waktu lama. port.busur. zona-zona potensi longsor di areal tambang (pit dan waste dump) akibat proses penambangan. jalan hauling diareal lemah. sebagai contoh pengawasan pergerakan lereng tambang. konstruksi. bagi perusahaan yang berstatus green company hal ini merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar. cut fill volume. melakukan penguatan. dll) dilokasi yang akan dibuka tambang.dll. pelaksanaan pembangunan (operation) dan pemeliharaan hasil kerja keteknikan (engineering works) diketahui dan tersedia (American Geological Institute dalam Attewell & Farmer. 1976). Disini. Post mining Setelah kegiatan penambangan selesai. Disini ahli geotek tidak hanya melakukan analisis namun juga ikut turun memetakan kondisi geologi (patahan/lipatan/rekahan. 3. Selain itu juga geoteknik diperlukan dalam pembangunan infrastruktur tambang seperti stockpile. melakukan pengeboran horizontal untuk mengeluarkan air tanah. prediksi kapan longsor akan terjadi. langkah apa saja yang harus dilakukan untuk mengantisipasi longsor seperti mengevakuasi alat.

termasuk didalamnya bahaya-bahaya yang akan timbul dalam pembangunannya. dengan tujuan memberi informasi tingkat keamanan hasil suatu konstruksi pembangunan serta efisien biaya rencana pembangunan Ahli Geologi Teknik • ahli geologi teknik menangani masalah yang bersifat teknik sipil dengan dilatarbelakangi dengan ilmu geologi. galian-galian percobaan.memberikan gambaran keadaan geologi di daerah rencana suatu konstruksi yang akan dibangun. sifat mekanik dan perkiraan pada struktur bawah tanah. elastisitas. • ahli geologi teknik lebih condong pada segi rekayasa tentang material yang digunakan. sebutan ahli geologi teknik diperuntukkan bagi mereka yang bekerja dalam bidang yang berada diantara geologi dan teknik sipil PERAN AHLI GEOLOGI TEKNIK • Geologi : Pengungkapan jenis-jenis batuan. pengungkapan batuan. pengukuran geofisis. daya tekan dan lain-lain . • Data yang dikumpulkan dalam batuan antara lain berat jenis. porositas. pengambilan contoh untuk penelitian di laboratorium. pemboran inti dan pengungkapan inti pemboran. percobaan di lapangan. eksogen yang dapat berpengaruh terhadap bangunan • Geologi Teknik : Interpretasi • Teknik Sipil : Penyusunan konsep. perencanaan dan kontruksi PENELITIAN LAPANGAN • Dalam penelitian lapangan biasanya digunakan berbagai teknik dan cara seperti : pemetaan geologi dan geologi teknik. bentuk lapangan dan hidrologi juga proses endogen. permeabilitas.

2. overall slope degree.dll) sesuai dengan kriteria SFnya.ISTILAH GEOLOGI TEKNIK DAN TEKNIK SIPIL PERAN GEOTEK PERTAMBANGAN Contoh geoteknik dalam dunia tambang : 1. Operasional Tambang 3. topling busur. Eksplorasi dan mine development. Post mining Eksplorasi dan mine development • Geoteknik diperlukan untuk memandu kepada arah pembuatan desain pit yang optimal dan aman (single slope degree. . tinggi bench. baji.potensi bahaya longsor yang ada ex: longsoran bidang.

cut fill volume. Klasifikasi Sumberfaya/Cadangan Batubara Menurut SNI Klasifikasi sumber daya dan cadangan batu bara adalah upaya pengelompokan sumber daya dan cadangan batu bara berdasarkan keyakinan geologi dan kelayakan ekonomi.• Disini ahli geotek tidak hanya melakukan analisis namun juga ikut turun memetakan kondisi geologi (patahan/lipatan/rekahan. bentuk. jalan hauling diareal lemah. . Selain itu juga geoteknik diperlukan dalam pembangunan infrastruktur tambang seperti stockpile. ukuran. port. serta langkah-langkah yang diperlukan untuk memenuhi safety factor sehingga ketika dilakukan kontruksi dan digunakan tidak terjadi kegagalan (failure) Operasional TambangOperasional Tambang pada kondisi ini ahli geotek berperan dalam pengawasan kondisi pit dan infrastructur yang ada. peran ahli geotek adalah memberikan analisis mengenai daya dukung tanah yang aman. Disini. dll) dilokasi yang akan dibuka tambang. Secara umum klasifikasi cadangan batubara dapat dikelompokkan sebagai berikut : 1. • melakukan push back untuk menurunkan derajat kemiringan lereng • Disini peran ahli geotek memandu tim safety dalam pengawasn operasional tambang dan ahli geotek bisa melakukan penyetopan operasional pit jika membahayakan keselamatan manusia dan alat. keberadaan. dan eksplorasi rinci. CADANGAN BATUBARA A. Tahap Eksplorasi Tahap eksplorasi batu bara umumnya dilaksanakan melalui empat tahap. eksplorasi pendahuluan. dll. sebagai contoh : • pengawasan pergerakan lereng tambang • zona-zona potensi longsor di areal tambang (pit dan waste dump) akibat proses penambangan • prediksi kapan longsor akan terjadi • apakah berbahaya untuk operasional di pit atau tidak • langkah apa saja yang harus dilakukan untuk mengantisipasi longsor seperti mengevakuasi alat. prospeksi. Tujuan penyelidikan geologi ini adalah untuk mengindentifikasi keterdapatan. yakni survei tinjau.

dan pencontohan yang andal. penampangan. antara lain. kuantitas dan kualitas.sebaran. Eksplorasi Pendahuluan ( Preliminary Exploration) Tahap eksplorasi ini dimaksudkan untuk mengetahui gambaran awal bentuk tigadimensi endapan batu bara yang meliputi ketebalan lapisan. Kegiatannya. di antaranya. penampangan (logging) geofisika. metode tidak langsung lainnya. dan analisis. geostatisik. kuantitas. Metode eksplorasi tidak langsung. tata guna lahan. inverse distance.000.000. Kegiatan yang dilakukan antara lain. pembuatan sumuran/paritan uji. struktur. seperti penyelidikan geofisika. dan lainlain. dapat dilaksanakan apabila dianggap  perlu. isopach.  Survei Tinjau (Reconnaissance) Survei tinjau merupakan tahap eksplorasi batu bara yang paling awal dengan tujuan mengindentifikasi daerah–daerah yang secara geologis mengandung endapan batu bara yang berpotensi untuk diselidiki lebih lanjut serta mengumpulkan informasi tentang kondisi geografi. pencontohan. pemetaan geologi dengan skala minimal 1:50.Penghitungan sumber daya batu bara dilakukan dengan berbagai metoda diantaranya poligon. studi geologi regional. pembuatan paritan. penafsiran penginderaan jauh. pemboran dengan jarak yang sesuai dengan kondisi geologinya. korelasi. pengukuran penampang stratigrafi. pemboran uji (scout drilling). serta kualitas suatu endapan batu bara sebagai dasar analisis/kajian kemungkinan dilakukannya investasi. bentuk. serta inspeksi lapangan pendahuluan yang menggunakan peta dasar dengan skala sekurang-kurangnya  1:100. dan kesampaian daerah. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini. sebaran. Eksplorasi Rincian (Detailed exploration) .  Pengkajian awal geoteknik dan geohidrologi dimulai dapat dilakukan.000 Prospeksi (Prospecting) Tahap eksplorasi ini dimaksudkan untuk membatasi daerah sebaran endapan batu bara yang akan menjadi sasaran eksplorasi selanjutnya. pemetaan geologi dengan skala minimal 1:10. pembuatan sumuran. Tahap penyelidikan tersebut menentukan tingkat keyakinan geologi dan kelas sumber daya batu bara yang dihasilkan. pemetaan topografi.

dan Cerenti (Riau). Kondisi Geologi/ Kompleksitas Berdasarkan proses sedimentasi dan pengaruh tektonik. serta pengkajian geohidrologi dan geoteknik. Pada tahap ini perlu dilakukan penyelidikan pendahuluan pada batu bara. Tipe endapan batu bara tersebut masing-masing memiliki karakteristik tersendiri yang mencerminkan sejarah sedimentasinya. vulkanik dan proses sedimentasi lainnya turut mempengaruhi kondisi geologi atau tingkat kompleksitas pada saat pembentukan  batu bara.Tahap eksplorasi ini dimaksudkan untuk mengetahui kuantitas dan kualitas serta model tiga-dimensi endapan batu bara secara lebih rinci. Sumatera Selatan. pemboran dan pencontohan yang dilakukan dengan jarak yang sesuai dengan kondisi geologinya. dan kelompok geologi kompleks. 2. Contoh jenis kelompok inantara lain. penampangan (logging) geofisika. Senakin Barat (Kalimantan Selatan).000. karakteristik geologi tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok utama : Kelompok geologi sederhana. Kegiatan yang harus dilakukan adalah pemetaan geologi dan topografi dengan skala minimal 1:2. Tipe Endapan Batu Bara Dan Kondisi Geologi  Tipe Endapan Batu Bara Secara umum endapan batu bara utama di indonesia terdapat dalam tipe endapan batu bara ombilin. b. Kelompok Geologi Sederhana Endapan batu bara dalam kelompok ini umumnya tidak dipengaruhi oleh aktivitas tektonik. dan intrusi. batuan. Selain itu. Ketebalan lapisan batu bara secara lateral dan kualitasnya tidak memperlihatkan variasi yang berarti. kelompok geologi moderat. Kelompok Geologi Moderat . Uraian tentang batasan umum untuk masing-masing kelompok tersebut beserta tipe lokalitasnya adalah sebagai berikut: a. Lapisan batu bara pada umumnya landai. lipatan. metamorfosis. dan hampir tidak mempunyai percabangan. menerus secara lateral sampai ribuan meter. proses pasca pengendapan seperti tektonik. di lapangan Bangko Selatan dan Muara Tiga Besar (Sumatera Selatan). Kalimantan Timur danBengkulu. seperti sesar. air dan lainnya yang dipandang perlu sebagai bahan pengkajian lingkungan yang berkaitan dengan rencana kegiatan penambangan yang diajukan.

Ninian. Secara lateral. Kualitas batu bara secara langsung berkaitan dengan tingkat perubahan yang terjadi baik pada saat proses sedimentasi berlangsung maupun pada pasca pengendapan. 3. Petanggis (Kalimantan Timur). Kelompok Geologi Kompleks Batu bara pada kelompok ini umumnya diendapkan dalam sistim sedimentasi yang komplek atau telah mengalami deformasi tektonik yang ekstensif yang mengakibatkan terbentuknya lapisan batu bara dengan ketebalan yang beragam. umum dijumpai dan sifatnya rapat sehingga menjadikan lapisan batu bara sukar dikorelasikan. begitu pula pergeseran dan perlipatan yang diakibatkannya relatif sedang. . yaitu aspek geologi dan aspek ekonomi. Loa Janan-Loa Kulu. Sesar dan lipatan tidak banyak. Endapan batu bara kelompok ini terdapat antara lain di daerah Senakin.Batu bara dalam kelompok ini diendapkan dalam kondisi sedimentasi yang lebih bervariasi dan sampai tingkat tertentu telah mengalami perubahan pasca pengendapan dan tektonik. antara lain. Pengelompokan tersebut mengandung dua aspek. diketemukan di Ambakiang. sebaran lapisan batu baranya terbatas dan hanya dapat diikuti sampai puluhan meter. Suban dan Air Laya (Sumatera Selatan). Dasar Klasifikasi Klasifikasi sumber daya dan cadangan batu bara didasarkan pada tingkat keyakinan geologi dan kajian kelayakan. Formasi Tanjung (Kalimantan Selatan). namun sebarannya masih dapat diikuti sampai ratusan meter. c. Formasi warukin. Endapan batu bara dari kelompok ini. perlipatan dan pembalikan (overturned) yang ditimbulkan oleh aktivitas tektonik. Perlipatan yang kuat juga mengakibatkan kemiringan lapisan yang terjal. Pada beberapa tempat intrusi batuan beku mempengaruhi struktur lapisan dan kualitas batu baranya. Kualitas batu baranya banyak dipengaruhi oleh perubahanperubahan yang terjadi pada saat proses sedimentasi berlangsung atau pada pasca pengendapan seperti pembelahan atau kerusakan lapisan (wash out). Pergeseran. Kelompok ini dicirikan pula oleh kemiringan lapisan dan variasi ketebalan lateral yang sedang serta berkembangnya percabangan lapisan batu bara. seta Gunung Batu Besar (Kalimantan Selatan).

Persyaratan  Persyaratan yang Berhubungan dengan Aspek Geologi Adapun persyaratan yang berhubungan dengan aspek geologi berdasarkan Persyaratan jarak titik informasi untuk setiap kondisi geologi dan kelas sumberdayanya adalah Jarak pengaruh / jarak dimana kemenerusan dimensi dan kualitas batubara masih dapat terjadi dengan tingkat keyakinan tertentu yang disesuaikan dengan kondisi geologi daerah penyelidikan. Aspek Geologi Berdasarkan tingkat keyakinan geologi. sumur uji. Titik informasi dapat berupa singkapan. Sumber daya terukur dan tertunjuk dapat ditingkatkan menjadi cadangan terkira dan terbukti apabila telah memenuhi kriteria layak . lubang bor). Penentuan titik-titik informasi disesuaikan dengan penyebaran batubara (garis singkapan) dan jarak pengaruh. Aspek Ekonomi Ketebalan minimal lapisan batu bara yang dapat ditambang dan ketebalan maksimal lapisan pengotor atau “dirt parting” yang tidak dapat dipisahkan pada saat ditambang. parit uji. merupakan beberapa unsur yang terkait dengan aspek ekonomi dan perlu diperhatikan dalam menggolongkan sumber daya batu bara. Tingkat keyakinan geologi tersebut secara kuantitatif  dicerminkan oleh jarak titik informasi (singkapan. begitu pula sumber daya tertunjuk harus mempunyai tingkat keyakinan yang lebih tinggi dibandingkan dengan sumber daya tereka. 4. sumber daya terukur harus mempunyai tingkat keyakinan yang lebih besar dibandingkan dengan sumber daya tertunjuk. dan titik pengeboran dangkal atau pun pengeboran dalam. Kondisi Geologi Sederhan Sumberdaya Kriteria Jarak Titik Tereka Terunjuk Terukur 1000 < x 500 < x ≤1000 x ≤ 500 . yang menyebabkan kualitas batu baranya menurun karena kandungan abunya meningkat.

B. Laporan hasil kegiatan penyelidikan sumber daya dan cadangan batu bara ini disimpan diinstansi/lembaga yang ditunjuk 6. Karena pada hakikatnya kandungan panas merupakan parameter utama kualitas batu bara. Pengujian  Pengujian kelas sumber daya dan cadangan batu bara dilakukan terhadap  terpenuhinya persyaratan yang telah ditentukan. 5. Laporan ini menggambarkan status terakhir mengenai sumber daya dan cadangan batu bara secara rinci dan akurat dan disarikan. Panitia/lembaga penguji merupakan tim yang dibentuk oleh instansi yang berwenang untuk tujuan itu. Anggota panitia/lembaga yang ditunjuk terdiri atas para ahli yang berkompeten dan berpengalaman di bidangnya.a Informasi (m) Moderat Komplek  Jarak Titik Informasi (m) Jarak Titik Informasi (m) ≤1500 500 < x ≤1000 250 < x ≤ 500 x ≤ 250 200 < x ≤400 100 < x ≤ 200 x ≤ 100 Persyaratan yang Berhubungan dengan Aspek Ekonomi Batu bara jenis batu bara energi rendah (brown coal) menunjukkan kandungan panas yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan batu bara jenis batu bara energi tinggi (hard coal). Pelaporan Supaya data sumber daya dan cadangan dapat dimengerti dengan baik dan mudah oleh pihak-pihak yang berkepentingan. persyaratan batas minimal ketebalan batu bara yang dapat ditambang dan batas maksimal lapisan pengotor yang tidak dapat dipisahkan pada saat di tambang untuk batu bara jenis batu bara energi rendah (brown coal) dan batu bara jenis batu bara energi tinggi (hard coal) akan menunjukkan angka yang berbeda. Klasifikasi Sumberdaya/Cadangan Batubara Menurut Australia . perlu adanya sistem pelaporan yang baku.

parit. dan pengukuran jauh terpisah atau sebaliknya kurang memadai spasi. Diindikasikan Sumber Daya yang tonase dan kelas dihitung dari informasi yang serupa dengan yang digunakan untuk sumber daya diukur. dan lubang bor. dan untuk yang kelas dihitung dari hasil sampling rinci.. tetapi situs untuk inspeksi. dan kandungan mineral yang mapan. a. Situs untuk inspeksi. meskipun lebih rendah dari sumber daya dalam kategori diukur. Terukur Sumber Daya yang tonase dihitung dari dimensi terungkap dalam singkapan. Tingkat jaminan. dan pengukuran jarak begitu dekat. dan karakter geologi sangat didefinisikan dengan baik. bentuk. Bukti ini mungkin termasuk perbandingan dengan deposito sejenis. cukup tinggi untuk mengasumsikan kontinuitas antara titik pengamatan.Klasifikasi Cadangan menurut standar Australia ( JORC ) 1. kerja. Perkiraan sumber daya tereka harus dinyatakan secara terpisah dan tidak digabungkan dalam total tunggal dengan sumber daya diukur atau ditandai (lihat pedoman ii). Tersirat Sumber Daya yang perkiraan kuantitatif sebagian besar didasarkan pada pengetahuan yang luas dari karakter geologi deposit dan yang ada sedikit. contoh atau pengukuran. Perkiraan didasarkan pada kontinuitas diasumsikan atau pengulangan yang ada bukti geologi. kuantitas. Sumber daya diidentifikasi meliputi komponen ekonomi dan subeconomic.. b. pengambilan sampel. jika ada. Kategori sumber daya berdasarkan pertimbangan ekonomi. Ekonomi . Kategori Cadangan berdasarkan Geologi Diidentifikasi (Mineral) Sumber: badan khusus mineral-bantalan bahan yang lokasi. bahwa ukuran. 2. Tubuh yang benar-benar tersembunyi dapat dimasukkan jika ada bukti geologi tertentu kehadiran mereka. pengambilan sampel. c. dan kualitas diketahui dari pengukuran tertentu atau perkiraan dari bukti geologis.: Untuk mencerminkan derajat jaminan geologi. Menunjukkan: Sebuah istilah kolektif untuk jumlah sumber daya terukur dan terindikasi. sumber daya diidentifikasi dapat dibagi menjadi kategori berikut: a.

Subeconomic Istilah ini mengacu ke sumber-sumber yang tidak memenuhi kriteria ekonomi. Klasifikasi Sumberdaya/Cadangan Batubara Menurut USGS Sumber daya batubara (Coal Resources) adalah bagian dari endapan batubara yang diharapkan dapat dimanfaatkan. Cadangan batubara (Coal Reserves) adalah bagian dari sumber daya batubara yang telah diketahui dimensi. Paramarginal Itu bagian dari sumber daya subeconomic yang. Sumber daya batu bara ini dibagi dalam kelas-kelas sumber daya berdasarkan tingkat keyakinan geologi yang ditentukan secara kualitatif oleh kondisi geologi/tingkat kompleksitas dan secara kuantitatif oleh jarak titik informasi. C. atau diasumsikan dengan kepastian yang memadai. ekstraksi menguntungkan atau produksi di bawah asumsi investasi didefinisikan telah ditetapkan. Kelas Sumber Daya  Sumber Daya Batubara Hipotetik (Hypothetical Coal Resource) Sumber daya batu bara hipotetik adalah batu bara di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan. pada waktu penentuan. yaitu aspek geologi dan aspek ekonomi. sumber daya subeconomic termasuk kategori paramarginal dan submarginal. hampir memenuhi kriteria untuk ekonomi. yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap penyelidikan survei tinjau. yang pada saat pengkajian kelayakan dinyatakan layak untuk ditambang. Karakteristik utama dari kategori ini adalah ketidakpastian ekonomi dan / atau kegagalan (meskipun hanya) untuk memenuhi kriteria yang menentukan ekonomiTermasuk sumber daya yang dapat menghasilkan perubahan didalilkan diberikan dalam faktor ekonomi atau Teknologi. analitis menunjukkan. dan kualitasnya. 1.Istilah ini menyiratkan bahwa. sebaran kuantitas. pada saat penentuan. Sejumlah kelas sumber daya yang belum ditemukan yang sama dengan cadangan batubara yg diharapkan mungkin ada di daerah atau wilayah batubara yang sama . Sumberdaya ini dapat meningkat menjadi cadangan apabila setelah dilakukan kajian kelayakan dinyatakan layak. Pengelompokan tersebut mengandung dua aspek. Klasifikasi sumber daya dan cadangan batubara didasarkan pada tingkat keyakinan geologi dan kajian kelayakan. c. b.

2 km – 4. Daerah sumber daya ini ditentukan dari proyeksi ketebalan dan tanah penutup. serta sumur-sumur. rank. lubang-lubang galian.4 km – 1. yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap penyelidikan prospeksi. termasuk antrasit dan bituminus dengan ketebalan 35 cm atau lebih. dan kualitas data dari titik pengukuran dan sampling berdasarkan bukti gteologi dalam daerah antara 0. sub bituminus dengan ketebalan 75 cm atau lebih.  sib bituminus dengan ketebalan 75 cm atau lebih. sumberdaya berada pada daerah dimana titik-titik sampling dan pengukuran serat bukti untuk ketebalan dan keberadaan batubara diambil dari distant outcrops. pertambangan. Titik pengamatan mempunyai jarak yang cukup jauh sehingga penilaian dari sumber daya tidak dapat diandalkan. termasuk antrasit dan bituminus dengan ketebalan 35 cm atau lebih. kedalaman. dan jumlah insitu batubara dan dengan alasan sumber daya yang ditafsir tidak akan mempunyai variasi yang cukup besar jika eksplorasi yang lebih detail dilakukan. maka mereka akan di klasifikasikan kembali sebagai sumber daya teridentifikasi  (identified resources).8 km. Jika eksplorasi menyatakan bahwa kebenaran dari hipotesis sumberdaya dan mengungkapkan informasi yg cukup tentang kualitasnya. Sumber Daya Batubara Terukur (Measured Coal Resourced) . Daerah sumber daya ini ditentukan dari proyeksi ketebalan dan tanah penutup. Sumber Daya Batubara Tereka (inferred Coal Resource) Sumber daya batu bara tereka adalah jumlah batu bara di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan.2 km. lignit dengan ketebalan 150 cm  atau lebih. kualitas. Densitas dan kualitas titik pengamatan cukup untuk melakukan penafsiran secara relistik dari ketebalan. dan kualitas data dari titik pengukuran dan sampling berdasarkan bukti geologi dalam daerah antara 1.dibawah kondisi geologi atau perluasan dari sumberdaya batubara tereka. yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap eksplorasi pendahuluan. Pada umumnya. Sumber Daya Batubara Tertunjuk (Indicated Coal Resource) Sumber daya batu bara tertunjuk adalah jumlah batu bara di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan. lignit dengan ketebalan 150 cm. rank. jumlah serta rank.

Sumber daya batu bara terukur adalah jumlah batu bara di daerah peyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan. kualitas. Termasuk antrasit dan bituminus dengan ketebalan 35 cm atau lebih. 2. dan kondisi lapangan serta metode penambangan (misalnya sudut penambangan). kedalaman. Daerah sumber daya ini ditentukan dari proyeksi ketebalan dan tanah penutup. . dan jumlah batubara insitu. jenis data yang diperoleh. maka metode yang digunakan untuk penghitungan sumber daya daerah penelitian adalah metode Circular (USGS) (Gambar). Karena data yang digunakan dalam penghitungan hanya berupa data singkapan. dan kualitas data dari titik pengukuran dan sampling berdasarkan bukti geologi dalam radius 0. rank. Densitas dan kualitas titik pengamatan cukup untuk diandalkan untuk melakukan penafsiran ketebalan batubara. yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat–syarat yang ditetapkan untuk tahap eksplorasi rinci. Penghitungan Sumber Daya Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung sumberdaya batubara di daerah penelitian. sub bituminus dengan ketebalan 75 cm atau lebih. Pemakaian metode disesuaikan dengan kualitas data. lignit dengan ketebalan 150 cm.4 km.

cm atau meter B = berat batubara per stuan volume yang sesuai atau metric ton. c. Kemiringan 100 – 300 Untuk kemiringan 100 – 300. maka perhitungan dilakukan secara terpisah. Kemiringan > 300 Untuk kemiringan > 300. dimana A = bobot ketebalan rata-rata batubara dalam inci. . Bila lapisan batubara memiliki kemiringan yang berbeda-beda. C = area batubara dalam acre atau hektar Kemiringan lapisan batubara juga memberikan pengaruh dalam perhitungan sumber daya batubara. 1983) Penghitungan sumber daya batubara menurut USGS dapat dihitung dengan rumus Tonnase batubara = A x B x C. a.. feet.Aturan Penghitungan Sumberdaya Batubara dengan Metode Circular (USGS) (Wood et al. tonase batubara harus dibagi dengan nilai cosines kemiringan lapisan batubara. tonase batubara dikali dengan nilai cosinus kemiringan lapisan batubara. Kemiringan 00 – 100 Perhitungan Tonase dilakukan langsung dengan menggunakan rumus Tonnase = ketebalan batubara x berat jenis batubara x area batubara b.

dan memiliki wawasan luas tentang klasifikasi cadangan. Tingkat kesalahan adalah penyimpangan kesalahan baik kuantitas maupun kualitas cadangan yang masih . dan kelanjutan endapan mineral serta batas penyebarannya belum dapat dihitung secara tepat dan baru disimpulkan/dinyatakan berdasar indikasi. singkapan dan paritan. kadar. Kriteria kelayakan ekonomi didasarkan pada faktorfaktor ekonomi layak atau tidaknya berdasarkan kondisi ekonomi pada saat itu. Suatu cadangan mineral biasanya digolongkan berdasarkan ketelitian dari eksplorasinya. 1973 sebagai berikut : 1. Kelvey. dan kelanjutan endapan mineral serta batas penyebarannya dapat ditentukan dengan tepat. Kenaikan tingkat keyakinan geologi. sehingga model geologi endpan mineral dapat diketahui dengan jelas. Kriteria keyakinan geologi didasarkan tingkat keyakinan mengenai endapan mineral yang meliputi ukuran. komposisi. Klasifikasi cadangan yang diusulkan Mc. kuantitasnya sesuai dengan tahap eksplorasinya. kelanjutan endapan mineral. Di Indonesia mengikuti klasifikasi cadangan menurut Mc. karena dianggap paling detil. misalnya dari pemboran. sebaran. ketebalan. Klasifikasi cadangan di Amerika menurut US Berau Of Mine and US Geological Survey (USBM and USGS) dan usulan Mc. kedudukan. sebagian besar perhitungannya didasarkan kepada kadar dan kelanjutan endapan mineral yang mempunyai ciri endapan sama. Jarak titik-titik pengambilan conto dan pengukuran sangat dekat dan terperinci. Kelvey yang dimaksud dengan cadangan (reserves) adalah bagian dari sumber daya terindikasi dari suatu komoditas mineral yang dapat diperoleh secara ekonomis dan tidak bertentangan dengan hukum dan kebijaksanaan pemerintah pada saat itu. Toleransi penyimpangan kesalahan terhadap perhitungan cadangan adalah 60%. Cadangan Terduga/Tereka (infered) Cadangan terduga adalah cadangan yang diperhitungkan kuantitasnya berdasarakan pengetahuan geologi. Cadangan Terukur Cadangan terukur adalah cadangan yang kuantitasnya dihitung dari pengukuran nyata. Cadangan Terkira/Teridikasi (indicated) Cadangan terkira adalah cadangan yang jumlah tonase dan kadarnya sebagian diperoleh dari hasil perhitungan pemercontoan dan sebagian lagi dihitung sebagai proyeksi untuk jarak tertentu berdasarkan keadaan geologi setempat titik-titik pemerconto dan pengukuran jaraknya tidak perlu rapat sehingga struktur. mempertimbangkan keadaan geologi. ekonomi. serta batas dari penyebaran. Kelvey ini berdasarkan pada : a. 2. ketebalan.Metode Perhitungan Cadangan Menurut Mc. Batas kesalahan baik kuantitas maupun kualitas 20% . Ini diperhitungkan dari beberapa titik contoh. Struktur. b. 3. kadar. jenis . kedudukan . sedangkankadarnya diperoleh dari hasil analisa contoh. Kelvey. Kenaikan tingkat kelayakan ekonomi.40%. bentuk. Batas kesalahan perhitungan baik kuantitas maupun kualitas tidak boleh lebih dari 20%.

4 Bentuk Metode Segitiga (Sumber : Dokumen Penelitian. maka dapat dibagi menjadi blok-blok yang teratur pula seperti bujur sangkar atau persegi panjang dengan satu lubang bor terletak pada masing-masing blok. luasan dibagi-bagi dalam bentuk segitiga dengan menggambarkan garis-garis diantara lubang bor-lubang bor. Metode Segitiga Dalam metode segitiga ini. Ketebalan/ketinggian pada setiap segitiga ditentukan sebagai rata-rata lubang bor pada setiap sudut-sudut segitiga. Dalam metode ini dapat dibagi lagi menjadi beberapa metode hitungan yaitu: a.bisa diterima sesuai dengan tahap ekplorasinya. Jika grid-grid lubang bor membentuk grid yang teratur. Gambar 3.3 Bentuk Poligon Yang Grid nya Tidak Seragam (Sumber : Dokumen Penelitian. 2013) .2 Bentuk Poligon Teratur (Sumber : Dokumen Penelitian. 2013) b. Poligon (Polygon) Metode poligon digunakan untuk daerah yang grid lubang bor yang tidak seragam. Block Teratur (Reguler Block) Metode ini digunakan untuk grid-grid lubang bor yang teratur. dimana poligon setiap lubang bor diletakkan di tengah-tengah poligon yang tidak teratur. Gambar 3.2013) c. Volume setiap poligon merupakan hasil perkalian poligon antara luas daerah pengaruh dengan ketebalan/ketinggian. Gambar 3.