Anda di halaman 1dari 30

Public Health Education

BREAKING BAD NEWS

Oleh
Adin Prasetyo Adi, S. Ked
Anggun Permata Sari, S. Ked
Emelda, S. Ked
Endy Prima Syahputra, S. Ked
Fitri Zelia Lizanty, S. Ked
Mutia Muliawati, S. Ked
Widya Tria Kirana, S.Ked
Sri Fitri Yanti, S. Ked

04084821417002
04084811416035
04084811416043
04084811416048
04084811416036
04084811416038
04084811416042
04084811416036

Pembimbing:
dr. Hj. Mariatul Fadillah, MARS
dr. Rizma Adlia Syakurah, MARS
BAGIAN/DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DAN
KEDOKTERAN KOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2015

HALAMAN PENGESAHAN
Judul Telaah Ilmiah:
BREAKING BAD NEWS
Oleh
Adin Prasetyo Adi, S. Ked
Anggun Permata Sari, S. Ked
Emelda, S. Ked
Endy Prima Syahputra, S. Ked
Fitri Zelia Lizanty, S. Ked
Mutia Muliawati, S. Ked
Widya Tria Kirana, S.Ked
Sri Fitri Yanti, S. Ked

04084821417002
04084811416035
04084811416043
04084811416048
04084811416036
04084811416038
04084811416042
04084811416036

Pembimbing:

dr. Mariatul Fadhillah, MARS
dr. Rizma Adlia Syakurah, MARS

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti ujian
kepaniteraan klinik senior di Bagian/Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat dan
Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Periode 15
Juni 2015- 24 Agustus 2015
Palembang,

Agustus 2015

Pembimbing

dr. Hj. Mariatul Fadillah, MARS

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas
berkat dan rahmat-Nya penulisan makalah telaah ilmiah yang berjudul
“Breaking Bad News” ini dapat diselesaikan. Laporan kasus ini diajukan untuk
memenuhi syarat guna mengikuti Kepaniteraan Klinik Bagian/Departemen Ilmu
Kesehatan Masyarakat

dan

Kedokteran

Komunitas

Fakultas

Kedokteran

Universitas Sriwijaya Periode 15 Juni 2015- 24 Agustus 2015.
Melalui kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian telaah ilmiah
ini, terutama kepada yang terhormat dr. Hj. Mariatul Fadillah, MARS atas
bimbingan dan arahan yang telah diberikan dalam pembuatan telaah ilmiah.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu
penulis harapkan.
Akhir kata, semoga makalah referat ini membawa manfaat bagi banyak
pihak dan semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita.

Palembang,

Agustus 2015

Penulis

...............iii DAFTAR ISI......... Tujuan Penyampaian Berita Buruk ...........6 2.....................10 2.......1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA........2 Penyampaian Berita Buruk Secara Langsung....................i LEMBAR PENGESAHAN.....3.....16 BAB III KESIMPULAN.................23 ..............................................................................1 Penyampaian Berita Buruk Secara Tidak Langsung .....................................................................3 2...................... K e s u l i t a n P e n ya mp a i a n B e r i t a B u r u k .......................................................................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL....................ii KATA PENGANTAR.................iv BAB I PENDAHULUAN .....................6 2...............................................................................13 2.............................. Penyampaikan Berita Buruk ..........................................................1......................2......................................................................................................................3...4 2...............................4...................... Berita Buruk ................................................................................................................5 Teknik Penyampaian Berita Buruk...........................3....................................3 2................

............................................DAFTAR PUSTAKA..........2 ......................................

Dalam hubungan ini setiap dokter akan mengetahui bahwa penyampaian berita buruk selalu akan menimbulkan frustasi pada pihak pasien. Penyampaian berita buruk adalah suatu hal yang sering harus dilakukan dokter maupun dokter gigi. Persiapan untuk menyampaikan berita ini membutuhkan pendekatan yang mencakup rasa nyaman pada akhir masa hidup pasien. Berita buruk dapat didefinisikan sebagai segala informasi yang secara serius dapat memperburuk pandangan seseorang tentang masa depannya. menyampaikan diagnosis suatu penyakit dengan prognosis yang tidak baik. Kesembuhan biasanya didapatkan dari obat-obatan dan fungsi komunikasi atau wawancara hanya sebagai pendukung untuk menegakkan diagnosis dan menentukan terapi yang tepat. pemahaman berbagai macam pilihan yang dapat dipilih oleh pasien dan keluarga (dokter dapat menawarkan pasien dan keluarga mengenai perawatan mereka.BAB I PENDAHULUAN Komunikasi adalah suatu percakapan yang dilakukan dengan maksud dan tujuan tertentu. termasuk perawatan rumah sakit). Kemampuan untuk berkomunikasi dengan efektif dalam menyampaikan berita buruk kepada pasien dan keluarga sangat penting bagi penyediaan perawatan bermutu pada akhir hidup pasien. atau menyampaikan rencana terapi yang mengandung resiko yang tinggi. Tetapi tidak jarang komunikasi itu sendiri juga merupakan terapi. Komunikasi dokter pasien adalah komunikasi yang dilakukan oleh dokter terhadap pasien untuk membantu pasien agar dapat mengurangi penderitaan pasien serta membantunya untuk sembuh dari penyakitnya. pendekatan terhadap keterlibatan 1 . misalnya pada waktu dokter harus menyampaikan berita kematian. pemahaman lingkup pengalaman dari pasien dan perspektif keluarga.

oleh karena itu penulis akan membahas cara penyampaian berita buruk (Breaking bad news) dalam makalah ini agar seyogyanya dokter menguasai teknik dan seni berkomunikasi yang baik khususnya dalam penyampaian berita buruk . dalam mempersiapkan diri untuk menyampaikan berita buruk kepada pasien dan keluarga harus memperhatikan pikiran. Kemampuan dokter untuk memproyeksikan kenyamanan dan kepercayaan diri mendukung pasien dan keluarga saat berkomunikasi untuk menawarkan harapan. meskipun teknologi di bidang kesehatan sudah sangat berkembang.2 dokter terhadap perawatan akhir hidup pasien. Keterampilan komunikasi dalam memberikan informasi kepada pasien tentang penyakit yang berat termasuk dalam penyampaian kabar buruk (breaking bad news). dan memberitahukan bahwa pasien telah meninggal. persepsi kehidupan dan kematian. komunikasi tetap menjadi penentu kepuasan pasien dan menjadi bagian dari rencana perawatan pasien di masa yang akan datang. mendukung dan menjamin kenyamanan pasien. perasaan. gangguan pertumbuhan seorang anak. Tetapi masalah menjadi lain ketika diagnosis yang harus disampaikan oleh dokter kepada pasien adalah penyakit yang berat. sehingga membantu mereka dalam membuat pilihan terbaik bagi mereka. Penyampaian diagnosis kepada pasien tidaklah sulit jika diagnosisnya hanya penyakit yang ringan. Oleh karena itu. seperti kanker stadium akhir. atau penyakit infeksi menular seperti HIV-AIDS. Dokter menjadi lebih terbuka terhadap pikiran dan perasaan pasien dan keluarga. Karena komunikasi penting sekali artinya dalam hubungan dokter-pasien.

2013). 1996 Berita buruk adalah berita yang menimbulkan perasaan tidak ada harapan bagi pasien. Berita buruk tersebut dapat menimbulkan perasaan tanpa harapan pada pasien. berikut definisinya: 1. Terdapat beberapa teori lain dari para ahli mengenai definisi berita buruk. atau resiko mengganggu atau mengacaukan gaya hidup atau keseharian pasien (Wright dkk. Ptacek & Eberhardt.3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. .1 Definisi Berita Buruk Berita buruk secara medis didefinisikan sebagai informasi yang menciptakan pandangan buruk bagi kesehatan seseorang. 3. 1992 Berita buruk adalah berita yang secara drastis mengubah pandangan pasien tentang masa depannya. 2. Penyampaian berita buruk akan menjadi sangat menegangkan ketika seorang dokter kurang berpengalaman. 2. 2006 Kabar buruk adalah pengalaman tidak nyaman untuk pemberi dan penerima berita. Buckman. ancaman terhadap kesehatan mental dan fisik pasien. Aitini & Aleotti.2 Tujuan Penyampaian Berita Buruk Tujuan mempelajari cara penyampaian berita buruk antara lain:  Merupakan pekerjaan yang akan sering dilakukan namun membuat stress Seorang dokter akan mengalami keadaan dimana ia harus menyampaikan informasi buruk kepada pasien atau keluarganya. Menurut Baile dkk (2000) berita buruk dapat didefinisikan sebagai segala informasi yang secara serius dapat memperburuk pandangan seseorang tentang masa depannya.

Kecemasan dan rasa takut yang berlebihan tidak saja ditimbulkan dari penyakit yang diderita. 2000). Masalah muncul bila dokter harus berhadapan dengan keadaan khusus atau kepribadian pasien yang berbeda-beda. Banyak pasien mengharapkan informasi yang akurat untuk membantu mereka menentukan pilihan (Baile dkk. pasien akan banyak menghadapi masalah. Jika semua stress menumpuk. 2000)  Hasil pemeriksaan klinis Bagaimana cara penyampaian kabar buruk dapat mengubah pemahaman pasien akan informasi. 2000). sebaiknya dokter memberitahukan kenyataan atau fakta yang ada. penyakit yang dipengaruhi oleh faktor psikososial. 2000). tingkat harapan. dan hukum telah menciptakan kewajiban etika dan hukum yang jelas untuk memberikan informasi sebanyak yang pasien inginkan tentang penyakit mereka dan pengobatannya. Hal ini dapat melampaui kemampuan dirinya dalam menangani stress. prinsip informed consent.4 sedang menghadapi pasien yang masih muda. 2007). Terutama cara adaptasi yang cepat dan tepat terhadap perubahan hidupnya.  Penyampaian pada pasien mengenai kecacatan/penyakit kronis Pada penyakit kronis atau penyakit yang disertai dengan kecacatan yang berat. menderita cacat. dan psikologi pasien.  Pasien menginginkan kebenaran Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 96% orang berharap diberi tahu ketika ia menderita kanker dan 85% berharap mendapat informasi mengenai perkiraan umur mereka (Baile dkk. dan pada pasien kanker.  Prinsip hukum dan etik Di Amerika Utara. 2007). tetapi juga dari tekanan masyarakat yang sering memberikan simbol tertentu pada penyakitnya (Sukardi dkk. otonomi pasien. Pasien penyakit kronis seharusnya menerima kenyataan agar mereka lebih cepat untuk menyesuaikan diri dengan keadaannya. Permasalahan yang sebenarnya muncul ketika kita harus menyampaikan prognosis penyakit dan berapa lama pasien itu dapat bertahan hidup (Sukardi dkk. Contohnya. Keadaan lainnya adalah pasien yang berpenyakit kronis. Dokter . Dokter tidak mungkin menahan informasi medis bahkan jika mereka tahu itu akan memiliki efek negatif pada pasien (Baile dkk. dan ketika prospek keberhasilan pengobatan minim (Baile dkk. kepuasan perawatan.

atau timbulya gejala psikopatologik lain. disamping dari akibat proses kanker itu sendiri. informasi harus diberikan secara perlahan. Tercipta kesan bahwa penyakit ini lebih buruk dari penyakit infark jantung yang prognosis kematiannya lebih jelek. misalnya pada waktu dokter harus menyampaikan berita kematian. sebelum diagnosis kanker disampaikan. menimbulkan keinginan untuk bunuh diri. baik itu radioterapi maupun sitostatika (Sukardi dkk. yaitu dokter bersikap jujur dan hormat terhadap pasiennya. Adanya keinginan pasien untuk mengetahui penyakitnya merupakan kesempatan baik bagi dokter untuk menyampaikan keadaan yang mungkin terjadi dan risikonya di kemudian hari (Sukardi dkk. menghilangkan harapan.5 seharusnya sadar akan segala kemungkinan dan siap membantu serta menolong pasiennya. 2007). Namun. karena pengobatan infark jantung lebih jelas. Penyakit kanker merupakan penyakit yang sering ditanggapi dengan cara yang tidak realistis. tim dokter harus benar-benar sudah yakin (Sukardi dkk. Dalam menentukan suatu penyakit yang kronis dan kecacatan. Penyampaian berita buruk adalah suatu hal yang sering harus dilakukan dokter maupun dokter gigi. Kanker sebagai suatu penyakit yang fatal membuat dan mendorong keadaan kurangnya perhatian untuk mendapatkan pengobatan. 2007). Ketakutan masyarakat terhadap penyakit kanker memberikan beban tersendiri pada penderitaan pasien. Dokter harus dapat menumbuhkan rasa percaya kepada pasien/keluarganya dengan baik sehingga memudahkan dalam memberikan terapi. Pasien sering dijauhi oleh masyarakat dan seolah-olah kematiannya sudah dekat. Khususnya bila informasi yang disampaikan dapat meningkatkan kecemasan. Pemberian informasi dapat dimulai dari awal dugaan penyakit sampai diagnosis akhir ditegakkan. Pengobatan kanker biasanya memerlukan waktu yang lama dan hasilnya sering diragukan. 2007). Pada penyakit kanker pemberian informasi kepada pasien semestinya meliputi dua hal. Oleh karena itu. atau menyampaikan rencana terapi yang mengandung resiko yang . seolah-olah penyakit itu lebih baik.  Penyampaian pada pasien mengenai penyakit kanker/tumor ganas. menyampaikan diagnosis suatu penyakit dengan prognosis yang tidak baik.

Kegagalan operasi 2. namun ada beberapa pasien yang tidak menginginkannya. Sebuah studi tentang preferensi pasien mengenai penyampaian diagnosis terminal ditemukan bahwa 50 sampai 90 persen pasien menginginkan informasi yang terbuka. Berikut adalah beberapa faktor penyebab sulitnya penyampaian berita buruk: - Khawatir bahwa berita itu akan menyebabkan efek buruk Merasa bertanggung jawab dan takut jika disalahkan Tidak tahu bagaimana cara terbaik untuk melakukannya Tidak memiliki pengalaman pribadi Khawatir bahwa akan sulit untuk menangani reaksi pasien atau keluarga Keengganan untuk mengubah hubungan dokter-pasien yang ada Tidak tahu kemampuan dan keterbatasan pasien Tantangan tiap individu Ketidak pastian tentang apa yang mungkin terjadi selanjutnya dan - tidak memiliki jawaban atas beberapa pertanyaan Kurangnya kejelasan peran seorang pelayan kesehatan. Berikut contoh-contohnya: 1. Di dunia kedokteran. . Berdasarkan American Medical Association's first code of medical ethics pada tahun 1847 dikatakan bahwa kehidupan orang sakit dapat dipersingkat tidak hanya oleh tindakan.3 Kesulitan Penyampaian Berita Buruk Ada banyak faktor penyebab seorang dokter mengalami kesulitan dalam menyampaikan berita buruk. oleh karena itu dokter harus memahami bagaimana pasien tersebut ingin berita tersebut disampaikan. terdapat berbagai jenis berita buruk yang hendak disampaikan kepada pasien.6 tinggi. tetapi juga oleh kata-kata dan perilaku seorang dokter. Dalam hubungan ini setiap dokter akan mengetahui bahwa penyampaian berita buruk selalu akan menimbulkan frustasi pada pihak pasien 2. Vonis kanker.

Usaha mengurangi frustasi pasien dalam penyampaian barita buruk ini biasa dilakukan dengan beberapa cara yang kurang benar. Kematian. Penyakit kronik seperti gagal ginjal kronik 4. 6. Dalam hubungan ini setiap dokter akan mengetahui bahwa penyampaian berita buruk selalu akan menimbulkan frustasi pada pihak pasien (Sarwono. 1982). 2013). karena dokter justru memberi peluang bagi bertambah besarnya frustasi pasien (Sarwono.1 Penyampaian Berita Buruk Secara Tidak Langsung Penyampaian berita buruk adalah suatu hal yang sering harus dilakukan dokter maupun dokter gigi. misalnya pada waktu dokter harus menyampaikan berita kematian. Tidak bisa mempunyai anak. Pada pasien didapatkan bisul yang menyakitkan di mulut. menyampaikan diagnosis suatu penyakit dengan prognosis yang tidak baik. serta terdapat bercak putih pada mulut (Nawawi. 1982). dan mengalami kesulitan untuk mengunyah. dimana sudah tak sembuh-sembuh dalam waktu 14 hari.7 3. dan bahkan berbicara. menelan. dan lain-lain.4 Penyampaian Berita Buruk 2. berikut diberikan contoh seorang dokter gigi yang harus menyampaikan berita bahwa pasiennya menderita penyakit kanker mulut. suara jadi serak berkepanjangan. 2. Terminal Ilness 5. Penyampaian berita buruk yang kurang tepat itu antara lain sebagai berikut : . Untuk jelasnya.4. Hampir setiap dokter akan berusaha mengurangi reaksi frustasi pasien. atau menyampaikan rencana terapi yang mengandung resiko yang tinggi. Usaha ini wajar sepanjang dokter tidak memalsukan informasi (berbohong kepada pasien) tetapi sesungguhnya kurang baik.

apakah yang akan terjadi pada saya. Penyakit pada mulut bapak saat ini sedang mengalami proses kemunduran … (dokter melanjutkan dengan menyampaikan berita buruk tersebut). yaitu misalnya dalam bentuk :  Wajah pasien yang tegang berubah jadi tenang.8  Menunda penyampaian berita buruk sampai saat yang dianggap tepat Dokter bercerita tentang hal-hal lain terlebih dahulu sebelum ia menyampaikan berita tentang kanker mulut. pak.  Pasien mengubah posisi duduknya dari posisi tegak ke posisi menyandar dan sebagainya. Dokter dalam . pak Jusuf begitulah kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada orang-orang P: yang memiliki gejala seperti bapak. Dalam bentuk kata-kata kesiapan mental untuk mendengar berita buruk misalnya dapat dilihat dalam percakapan berikut : D: (Setelah menceritakan berbagai penyakit yang memiliki gejala seperti yang diderita pasien) … Jadi. barulah berita tentang kanker mulut itu disampaikan. akan tetapi pasien diharapkan menyimpulkan nasibnya sendiri. tentang keluhan-keluhan dan gejala-gejala yang diderita pasien dan seterusnya sampai kira-kira pasien dianggap “siap mental” untuk mendengarkan berita buruk itu. Dalam bentuk mimik atau gerak kesiapan mental lebih sulit diterka. Tanda-tanda bahwa pasien sudah “siap mental” diterka oleh dokter dari kata-kata (verbal) atau mimik (ekspresi wajah) atau gerak (gesture) pasien. 1982) Kerugian dari cara ini adalah bahwa seringkali pasien dapat menerka maksud dokter dan reaksi-reaksi emosionalnya muncul justru waktu dokter belum siap mental. (Sarwono. Akibatnya dokter bertambah sulit mengendalikan emosi pasien (Sarwono. 1982).  Membiarkan pasien menyimpulkan sendiri Dalam cara ini dokter tidak secara terbuka menyampaikan berita buruk itu. dok? (pasien D: siap mental) Begini.  Pasien menarik nafas panjang. Kalau begitu.

Pasien bisa sampai kepada kesimpulan bahwa dokter mau melepaskan diri dari tangung jawabnya memberi tahu pasien tentang berita buruk itu (Sarwono. Justru saat ini pada waktu mengunyah dan menelah sedikit sulit dok. Berikut diberikan contoh : D: sejak kapan awal sariawan ini muncul pak? P: sejak dua minggu lalu. . 1982). D: bagaimana efek dari obat tersebut pak? P: tidak ada. dok. dok.9 cara ini hanya memberikan pertanyaan sambil “mengiringi” pasien ke arah kesimpulan yang akan dibuatnya (Sarwono. D: pak. 1982). Sampai saat ini sariawan itu tidak hilang dok. setelah kami lakukan pemeriksaan kembali. ternyata terjadi perbesaran ulkus dan bercak putih di dalam rongga mulut bapak. dok. Akan tetapi biasanya pasien tidak sabar dan malahan bertambah jengkel karena ditanyatanya terus padahal ia sudah dalam keadaan sangat khawatir terhadap kesehatannya. P: jadi apakah saya ini kena kanker mulut dok ? Teknik ini hanya dapat dilakukan pada pasien-pasien yang mempunyai pendidikan atau kecerdasan yang cukup untuk membuat kesimpulan sendiri. D: apakah sudah bapak beri pengobatan? P: sudah. Dan warna mukosa rongga mulut bapak juga pucat.

Berikut diberikan contoh : D: Saya khawatir bahwa bapak akan kehilangan sebagian dari lidah bapak saat operasi nanti. tapi dengan bantuan speech terapy. sedemikian rupa sehingga kedengarannya berita buruk itu lebih baik dari keadaan yang sebenarnya (Sarwono. Akan tetapi. P: Lalu apakah saya tetap dapat berbicara dok? D: Kemungkinan akan ada kesulitan dalam berbicara. Kelemahan dari cara ini adalah bahwa tidak semua pasien bisa menerima kenyataan-kenyataan yang dibungkus seperti itu. bapak jangan khawatir. Tapi ada pasien yang dapat berbicara kembali dengan jelas dalam waktu 8 minggu saja. Pasien bisa beranggapan bahwa dokter membohonginya (Sarwono.  Banyak memberi alasan Dengan cara ini. Sebagai contoh.10  Membungkus berita buruk Dalam cara ini dokter “membungkus” berita buruk itu dengan kata-kata. dokter memberikan berbagai alasan ke pasien untuk membenarkan ‘berita buruk’ tersebut. 1982). Beberapa pasien malah akan bertambah frustasi karena ia tahu bahwa keadaan yang sebenarnya tidaklah sebaik yang disampaikan dokter. kita akan bekerjasama dengan pihak bedah plastik rumah sakit untuk membuat lidah buatan untuk bapak. P: Kira-kira berapa lama sampai saya bisa bicara lagi dok? D: Waktunya bervariasi untuk setiap orang. dokter mengemukakan alasannya setelah penyampaian berita buruk ke pasien: akan . bapak masih ada harapan untuk dapat berbicara lagi. 1982).

2 Penyampaian Berita Buruk Secara Langsung Penyampaian berita buruk secara langsung merupakan cara yang lebih efektif dalam penyampaian berita buruk kepada pasien. tergantung dari kondisi kejiwaan pasien itu sendiri (Sarwono.” Pada penggunaan teknik ini justru membuat pasien putus asa. bapak tidak perlu menyesal. Cara-cara tersebut tidak mungkin meniadakan seluruh frustrasi. ilmu kedokteran sampai sekarang pun masih memiliki keterbatasan-keterbatasan. Memang. Dengan penyampaian langsung ini. Dalam penyampaian berita buruk secara langsung. hasilnya tidak akan jauh berbeda. Segala yang bapak lakukan telah dilakukan. Dalam keadaan sudah sangat khawatir..4. 1982). 1982). Ilmu kedokteran belum bisa berbuat banyak untuk menyembuhkan penyakit bapak. Dengan adanya alasan-alasan pembenaran yang dilakukan dokter terhadap pasien justru akan menyebabkan putusnya harapan pasien dan membuat pasien sangat frustrasi (Sarwono. maka jelas dokter berada dalam keadaan ‘siap mental’ untuk menghadapi frustasi pasien dan selanjutnya dapat menampung dan meredakan frustasi itu (Sarwono.. biasanya pasien masih mengharapkan petunjuk tentang cara lain yang masih dapat diupayakan untuk mengatasi penyakitnya. dapat dilakukan secara terpisah atau dikombinasikan menurut selera dokternya sendiri.11 “. yaitu: Tahap 1: penyampaian berita buruk itu sendiri . demikian pula dengan kami sudah mengerjakan yang bisa kami lakukan... Sekalipun bapak berobat ke luar negeri pun. Keempat cara yang telah dikemukakan diatas untuk mengurangi frustrasi pasien.. Frustrasi yang masih ada dapat dirasakan berat atau ringan. ada 3 tahap yang harus dilalui dokter. Walaupun demikian. 2. 1982).

Pasien mempunyai hak untuk segera bebas dari ketidakpastian ini. Dokter  jangan melakukan berbagai aksi menghindar. tingkat frustasi harus direndahkan dulu agar pasien tidak terlalu emosional. (Sarwono. 1982) Setiap berita buruk tentu akan menimbulkan frustasi. 1982).12 Tahap 2: memperendah tingkat frustasi Tahap 3: mencari pemecahan persoalan (Sarwono. Penyampaian berita buruk Seringkali pasien sudah mempunyai dugaan tentang keadaan yang buruk itu. 1982) Contoh : D: hasil pemeriksaan kami menunjukkan bahwa terdapat tumor pada mulut bapak. Untuk bisa mencari jalan keluar. hanya saja ia belum merasa pasti. Dokter harus meyampaikan berita dalam kalimat yang sesingkat mungkin. Nada suara dokter harus menunjukkan bahwa dokter ikut menghayati apa yang diarasakan pasien. tetapi dalam kalimatnya itu dokter juga harus menunjukkan  bahwa ia memperhatikan perasaan pasien. Dalam menyampaikan berita buruk dokter harus memperhatikan hal-hal berikut:  Berita buruk langsung disampaikan pada awal percakapan. Tahap 1. Tumor ini sudah menggerogoti hampir seluruh rahang bawah bapak. tetapi yang terpenting adalah mencari jalan keluar dari keadaan yang buruk itu. Tugas mencari pemecahan persoalan dan merendahkan tingkat frustasi termasuk dalam kewajiban dokter juga (Sarwono. sehingga .

 Memberikan informasi kepada pasien bahwa ada hal-hal yang membuatnya tidak usah terlalu kecewa. Contoh : P: Jadi bagaimana pekerjaan saya kalau saya sampai harus rawat inap ya Dokter? D: Saya bisa membuatkan surat untuk atasan Bapak agar Bapak beroleh izin sekaligus tunjangan sesuai dengan kesehatan Bapak. Bedanya dari cara penyampaian berita buruk yang menghindari frustasi adalah bahwa informasi ini disampaikan sesudah berita buruk. Tahap 2. . (Sarwono. dokter harus berusaha menurunkan frustasi pasien. 1982). Kalau frustasi tidak dapat diturunkan sekaligus.13 terpaksa kami harus mengambil rahang bawah bapak. misalnya bahwa dokter dapat menghilangkan tumornya dengan segera dengan cara yang baik dan tidak sakit. Tahap 3. Pemecahan Persoalan Di sini dokter memberikan nasihat-nasihat berupa pilihan-pilihan yang dapat ditempuh oleh pasien untuk mengatasi persoalan yang akan dihadapinya sebagai akibat dari keadaannya yang tidak diharapkan tersebut (Sarwono. Saya mengerti bahwa bapak tentunya sangat sedih. Untuk itu ada 2 macam cara :  Mengucapkan kata-kata simpati. 1982) Mengurangi frustasi sampai tingkat yang paling rendah adalah sangat penting karena bila tingkat frustasi masih tinggi dokter tidak akan sampai pada pemecahan persoalan. Penurunan Tingkat Frustasi Setelah berita buruk disampaikan. 1982). tidak sebelumnya. dan sebagainya. bahwa tumornya belum sampai tingkatan yang parah. usaha ini sebaiknya ditunda dan dilanjutkan lain kali (Sarwono.

Ada strategi penyampaian berita buruk yang diperkenalkan oleh Robert Buckman dan dikenal sebagai S-P-I-K-E-S. Saya bisa menutupi tampilan yang bengkak dengan perban. sangat penting untuk membuat lingkungan menjadi nyaman agar hal yang akan disampaikan oleh dokter dapat diterima baik oleh pasien. Penyampaian berita buruk memerlukan keterampilan khusus dan dapat dilatih. Misalnya di dalam ruang praktik dokter dengan pintu yang tertutup atau menutup tirai bila penyampaian berita buruk di sekitar tempat tidur pasien. saya bisa mengusahakan dengan pemberian obat anti rasa sakit yang tidak mahal. P: Bagaimana dengan rasa sakitnya nanti? D: Tidak apa-apa. 2. Pengungkapan pikiran dan perasaan ini akan membantu dokter mengetahui seberapa jauh pasien mengetahui tentang penyakit dan keadaanya serta seberapa jauh pasien siap . Privacy Penyampaian berita buruk sebaiknya dilakukan ditempat tertutup sehingga dokter serta pasien dapat duduk dengan nyaman. Berikut adalah protokol penggunaan S-P-I-K-ES: 1. Seiring waktu nanti akan tampak normal lagi.14 P: Bagaimana dengan penampilan saya nanti apabila tumornya diangkat? D: Tidak apa-apa. Hal ini penting dilakukan untuk menjaga privasi pasien sehingga akan memudahkan pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya.5 Teknik Penyampaian Berita Buruk Penyampaian berita buruk berbeda dengan keterampilan komunikasi lain. a. Setting up-Interview (S) Sebelum wawancara penyampaian berita buruk dimulai.

Dokter sebaiknya duduk selama diskusi yang melibatkan kabar buruk dan sebaiknya hindari duduk di belakang penghambat seperti meja. Ketika dokter duduk. Bila pasien menangis. Look attentive and calm. bahkan mengarukngaruk kepala. tariklah sebuah kursi. Bila . radio. Betapapun pentingnya kehadiran keluarga atau sahabat ini kita tidak boleh memaksakan kepada pasien jika ia memilih untuk menerimanya sendiri dengan alasan tertentu. atau pun hal yang dapat mengganggu lainnya. Jika pasien berbaring di ranjang rumah sakit. atau jika tidak ada kursi. tidak ada salahnya untuk menghilangkan kontak mata sejenak. Hal ini akan mengganggu konsentrasi pasien dan seolah olah dokter tidak fokus dan kurang mempunyai cukup waktu untuk pasien. Adanya pendamping akan membantu pasien lebih kuat dalam menghadapi kabar buruk dan juga dapat memberi dukungan dan semangat kepada pasien. Sebelum memulai diskusi. Involve significant others. Sebaiknya minta izin kepada pasien mematikan televisi. Beberapa pasien memilih untuk didampingi keluarga atau sahabatnya ketika menerima kabar buruk. Kebanyakan dari kita cemas selama penyampaian berita buruk dan sebaiknya lakukan beberapa upaya untuk mengurangi atau menghilangkan sinyal tubuh yang dikirimkan pada saat gugup. seperti suara dering telepon. Jangan biarkan ada hal-hal kecil mengganggu proses penyampaian kabar buruk. mengirim sms.15 untuk menerima kabar buruk. Mempertahankan kontak mata menjamin perhatian pasien. dengan menaruhkan kaki di lantai dan menempatan tangan serita telapak tangan ke pangkuan. c. Sit down. Posisi berdiri seorang dokter bisa saja menyebabkan pasien merasa takut. b. maka pasien akan merasa lebih nyaman dan juga mencapai tingkat kontak mata d. izinkan pasien untuk memakai pakaian terlebih dahulu. minta izin pada pasien untuk duduk di tepi tempat tidur. Misalnya.

16 pasien nyaman dengan gerakan tubuh seperi ini. pastikan tidak ada gangguan lain baik pertemuan ataupun panggilan telepon. 2. Jika ada janji yang harus dihadiri. Sebelum melakukan diskusi penyampaian berita buruk. "Apa aspek itu membuat Anda paling muak?" Teknik dasar lain yang menunjukkan Anda sedang mendengarkan termasuk mengangguk. Perception (P) Mulailah diskusi dengan menanyakan apakah pasien tahu bahwa dirinya sakit parah atau apakah pasien mempunyai pengetahuan tentang penyakitnya tersebut." yang sesuai. beri pengertian kepada pasien bahwa waktu Anda terbatas. Diam. Contoh pertanyaan yang dapat diajukan: ‒ “Apa yang Anda ketahui tentang sakit Anda?” ‒ “Bagaimana Anda menggambarkan kondisi kesehatan Anda saat ini?” ‒ “Apakah Anda khawatir mengenai sakit atau kondisi Anda?” . Listening mode. menunjukan bahwa dokter berada dalam posisi ‘mendengarkan’. Misalnya. seperti tidak menginterupsi atau menumpang tindih pasien ketika sedang berbicara. Diam dan pengulangan adalah dua keterampilan komunikasi yang menunjukan bahwa dokter mendengarkan kata-kata pasien. Hal ini bertujuan untuk menjamin apakah pasien atau keluarganya dapat memahami berita buruk yang akan disampaikan. e. f. dokter dapat menenangkan pasien dengan memegang pundaknya atau tangannya. tersenyum. pasien mungkin mengatakan "Saya muak dengan pengobatan. Pengulangan dapat dilakukan dengan melibatkan kata penting dari kalimat terakhir pasien yang diulangi ke kalimat awal dojter." Anda dapat menjawab. Availibility. atau mengatakan "hmmm.

ada yang ingin mengetahui semua tentang penyakitnya tetapi tidak sedikit yang tidak sanggup untuk menerima semua. Invitation (I) Dalam mengetahui dan menerima kabar buruk setiap orang mempunyai kesiapan psikologis yang berbeda.17 ‒ “Apakah dokter Anda sebelumnya mengatakan apa penyakit Anda? atau apakah dokter sebelumnya menyarankan Anda untuk melakukan suatu pemeriksaan?” ‒ “Dengan gejala-gejala yang ada pada tubuh Anda saat ini. Dokter dapat meminta izin kepada pasien untuk mengetahui atau tidak tahu. Penyampaian ini mungkin tidak cukup dengan sekali pertemuan terutama bagi pasien dengan psikologi yang rentan. Meskipun kebanyakan pasien ingin mengetahui semua rincian tentang situasi kesehatan mereka. Anda tidak dapat selalu menganggap bahwa hal ini terjadi. penjadwalan untuk pertemuan selanjutnya dapat dibuat. menurut Anda penyakit apa yang mungkin terjadi?” ‒ “Mengapa dokter X mengirim Anda kemari?” ‒ “Apakah menurut Anda sesuatu yang serius sedang terjadi ketika berat badan Anda menurun secara drastis?” 3. Beberapa contoh cara untuk mengatasi ini: ‒ “Apakah Anda tipe orang yang lebih suka mengetahui semua rincian tentang apa yang sedang terjadi" ‒ "Berapa banyak informasi yang akan anda ingin saya untuk memberikan Anda tentang diagnosis dan pengobatan" ‒ "Apakah Anda ingin saya untuk memberikan rincian tentang apa yang terjadi pada Anda atau Anda lebih suka bahwa saya hanya memberitahu Anda tentang perawatan saya usulkan?" ‒ . dan pastikan pasien dapat menghubungi dokter kapan saja walau sebelum jadwal tiba. sehingga penting bagi seorang dokter untuk menilai sejauh mana kesiapan pasien dalam menerima informasi tentang kabar buruk.

Sering-sering memberikan jeda setelah penyampaian suatu kalimat. Lebih baik gunakan kalimat “ Maafkan saya harus menyampaikan pada Anda mengenai hal ini”. Gunakan sikap dan bahasa tubuh yang sesuai saat diskusi. Cek apakah pasien dapat memahami apa yang disampaikan. atau bahwa semua ini karena kesalahan dokter. sensitif dan penuh empati. Sampaikan informasi. Adressing the patient’s EMOTIONS with emphatic responses (E) . Beberapa kalimat lain yang dapat dipilih untuk menyampaikan berita buruk: - “Saya khawatir berita ini tidak baik. kemudian berikan jeda. jujur. hasil biopsi menunjukkan Anda terkena kanker leher rahim” - “Saya merasa tidak enak menyampaikannya. Hindari kalimat “Saya minta maaf” atau “Maafkan saya” karena kalimat tersebut dapat diniterpretasikan bahwa dokter bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Lebih baik gunakan kata yang jelas seperti “meninggal” atau “kanker”. saya merasa tidak enak menyampaikannya. Jangan meminimalkan keparahan penyakit. Giving KNOWLEDGE and information to the patient (K) Sampaikan berita buruk dengan kalimat yang jelas. Hindari kata-kata manis (eufemisme) ataupun istilah-istilah kedokteran. dan ini tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Gunakan katakata sederhana yang mudah dipahami. Hasil ini menunjukkan Anda pada stadium awal penyakit Parkinson” - “Bapak X. benjolan yang ada di leher Bapak adalah kanker kelenjar getah bening” - “Saya khawatir saya mempunyai berita buruk.18 4. Hindari penyampaikan seluruh informasi dalam satu kesempatan. bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan dan USG bayi yang Anda kandung sudah meninggal” - “Hasil pemeriksaan laboratorium sudah saya dapatkan. hasil biopsi sumsum tulang belakang menunjukkan putri Anda menderita leukemia” 5.

Beri waktu pasien atau keluarga untuk bereaksi. . Dapatkan Anda ceritakan apa yang Anda rasakan?” - “Apakah berita ini membuat Anda takut?” - “Katakan lebih banyak tentang bagaimana perasaan Anda tentang apa yang baru saya sampaikan” - “Saya berharap hasil ini berbeda” - “Apakah ada seseorang yang Anda ingin saya hubungi?’ - “Saya akan coba membantu Anda” - “Saya akan bantu Anda untuk menyampaikannya pada anak-anak Anda” - “Ayah dan Ibumu sedih sekarang. takut. malu.19 Setelah berita buruk disampaikan sebaiknya dokter diam untuk memberi jeda. tidak percaya. Respon pasien dan keluarga dalam menghadapi berita buruk beragam. menyalahkan. marah. Ada pasien yang menangis. Contoh kalimat yang dapat digunakan untuk merespon perasaan pasien: - “Saya dapat merasakan bahwa ini merupakan situasi yang sulit” - “Anda terlihat sangat marah. bersikap sensitif terhadap perbedaan budaya dan pilihan personal. Pahami emosi pasien dan ajak pasien untuk menceritakan perasaan mereka. mencari alasan mengapa hal ini terjadi. menawarkan minuman. Siapkan diri dalam menghadapi berbagai reaksi. sedih. Beberapa pasien atau anggota keluarga pasien mungkin tidak suka disentuh. bahkan bisa jadi pasien pergi meninggalkan ruangan. mereka akan merasa lebih baik jika kamu cepat sembuh” Komunikasi non verbal akan sangat membantu: dokter menyodorkan tisu. Dengarkan dengan tenang dan perhatian penuh. merasa tidak berharga. Gunakan sentuhan jika memang pantas. menolak. Hindari humor atau komentar yang tidak pada tempatnya. cemas. merasa bersalah.

pekerja sosial.20 Beri waktu pasien dan keluarga mengekspresikan perasaan mereka. bangun harapan pasien dan sampaikan tentang pilihan terapi apa saja yang tersedia. konselor spiritual. Dokter juga harus memastikan bahwa pasien akan aman dan selamat saat pulang. STRATEGY and SUMMARY (S) Buat rencana untuk langkah selanjutnya. misal keluarga. Jika emosi sudah dikeluarkan. merasa putus asa atau ingin . peer group. tokoh yang disegani. dan dokter akan terlibat aktif dalam rencana yang akan dijalankan. ini bisa berupa: - Pemeriksaan lanjut untuk mengumpulkan tambahan informasi - Pengobatan gejala-gejala yang ada - Membantu orang tua mengatakan pada anak tentang sakit yang dideritanya dan pengobatan yang akan dilakukan - Tawarkan harapan yang realistis. Jangan mendesak mereka dengan terburu-buru menyampaikan informasi lebih lanjut. - Mengatur rujukan yang sesuai - Menjelaskan rencana untuk terapi lebih lanjut - Diskusikan tentang sumber-sumber yang dapat memberikan dukungan secara emosi dan praktis. teman. Tentukan waktu untuk pertemuan berikutnya. Cari tahu: apakah pasien dapat mengemudikan sendiri kendaraan saat pulang? Apakah pasien sangat cemas atau khawatir. biasanya pasien atau keluarga dapat lebih mudah untuk diajak pada langkah berikutnya. 6. atau pun terapis profesional Rencana tindak lanjut ini akan meyakinkan pasien dan keluarga bahwa dokter tidak meninggalkan atau mengabaikan mereka. Walaupun tidak ada kemungkinan untuk sembuh. Katakan bahwa pasien dan keluarga dapat menghubungi dokter jika membutuhkan jawaban untuk pertanyaan lebih lanjut.

“Apakah anda tahu mengapa kita melakukan pemeriksaan ini?” c.21 bunuh diri? Apakah ada seseorang di rumah yang dapat memberikan dukungan pada pasien? Kaye Model Terdiri dari 10 tahapan yaitu: 1. Menilai pengertian pasien. Cari tempat yang cukup pribadi d. Tanyakan tentang pandangan pasien terhadap keadaannya b. Menanyakan sejauh mana pasien ingin ketahui a. 9. “Saya punya berita kurang baik mengenai hasil pemeriksaan anda” . Sejauh mana anda ingin mengetahui kondisi anda? d. 4. Memberikan penjelasan lebih lanjut. tingkat mata. Persiapan wawancara. Perkenalkan diri f. Mendengarkan kekhawatiran pasien. Menanyakan sejauh mana pasien ingin ketahui. Menilai pengertian pasien a. 2. Merencanakan waktu untuk diskusi selanjutnya. Mengungkapkan berita. Membuat ringkasan hasil diskusi. Rencanakan waktu yang tepat e. Mengungkapkan berita a. postur. 6. Ajak staff RS untuk ikut hadir c. 5. 4. “ Apa yang telah dokter lain katakan kepada anda?”. “Apakah anda ingin mengetahui kondisi anda sepenuhnya atau kepada orang lain?”. “Sejauhmana anda ketahui mengenai penyakit anda?” c. 8. 3. Membiarkan proses “denial”. Isyarat nonverbal: jarak. Contoh metode menyampaikan berita buruk menurut Kaye model dapat diuraikan sebagai berikut: 1. 2. Tanyakan pada pasien siapa yang akan hadir g. Persiapan wawancara a. 10. 3. 7. “Apakah anda pernah memikirkan penyebab penyakit anda?” b. Merespon emosi pasien. Resume semua informasi b.

9. Biarkan pasien untuk mengendalikan informasi yang mereka terima. “Saya mengerti bahwa informasi ini tidak seperti yang Anda inginkan. Tiap pasien memiliki tanggapan yang berbeda. c. Merencanakan waktu untuk diskusi selanjutnya a. Meskipun teknologi di bidang kesehatan sudah . BAB III KESIMPULAN Komunikasi merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan dalam hubungan dokter-pasien. Membuat ringkasan hasil diskusi a. “Apa yang anda khawatirkan?” b. Menghargai emosi pasien dan memberi empati c. Dampak terhadap kualitas hidup 7. “Saya punya berita serius yang memerlukan keputusan penting” c. Menolerir suasana diam sejenak d. Jangan menggunakan bahasa medis d. “Dari hasil pemeriksaan sumsum tulang. Merespon Emosi Pasien a. 5. Prognosis b. Rekam Medik. Membiarkan proses “denial” a. Mendorong pasien untuk mencurahkan emosinya b. “Apakah ada yang ingin anda tanyakan?” d. menunjukkan adanya kanker darah yang disebut leukemia”. Pilihan pengobatan c. Saya harap Anda tabah” e. 10. “Apakah anda mengerti yang telah kita bicarakan?” c.22 b. 8. “ Saya mencoba membuat ringkasan hal-hal yang telah kita diskusikan bersama dan langkah-langkah berikutnya. Mendengarkan kekhawatiran pasien a. “ Apakah Anda siap untuk membicarakan tentang pilihan pengobatan sekarang atau ingin menunggu beberapa hari lagi?” b. Luangkan waktu untuk jawaban. 6.” b. Memberikan penjelasan lebih lanjut a. “Saya mengerti bahwa hal ini bukanlah yang anda harapkan”.

Penyampaian berita buruk kepada pasien merupakan hal yang sulit dihadapi dan seringkali menjadi pengalaman yang menegangkan dan menyedihkan baik bagi pasien . komunikasi tetap menjadi penentu kepuasan pasien dan menjadi bagian dari rencana perawatan pasien di masa yang akan dating. Komunikasi Antara Dokter Pasien. sehingga penyampaian berita buruk/breaking bad news merupakan hal yang penting untuk dipelajari. DAFTAR PUSTAKA Arianto. Apabila penyampaian berita buruk tidak dilakukan secara tidak hati-hati. Palu: Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Tadulako . explore emotions and empathize.23 sangat berkembang. listening skills. dan summarize and strategi atau disingkat SPIKES. invitation to share information. Berita buruk dapat menimbulkan perasaan tidak ada harapan bagi pasien. Respon emosional pasien akan sulit untuk ditahan kecuali dokter tesrsebut memiliki strategi yang dapat digunakan untuk mengatasinya. Terdapat 2 jenis teknik penyampaian berita buruk yaitu menurut Buckman dan Kaye Model. Penjelasan yang diberikan dokter akan memberikan pengaruh besar bagi pasien dalam memutuskan suatu perencanaan perawatan mengenai penyakitnya. patient’s perception. maka ini akan berdampak besar terhadap hasil akhir dari perawatan pasien.maupun dokter. Berita buruk adalah semua berita (informasi) yang secara drastis dan negatif mengubah pandangan hidup pasien tentang masa depannya. knowledge transmission. Enam langkah penyampaian berita buruk menurut Buckman antara lain Setting.

Kemitraan dalam Hubungan Dokter-Pasien. 989-1003 Gregg k. R. dkk. WF. pp. In B.64(12):1975-1979. Robert A. & Drapper.nlm. dkk. GC. 1996 Konsil Kedokteran Indonesia. 1996. nih. Nawawi.. vol. Teaching and Learning Communication Skills in Medicine. Progress in communication sciences. pp. tanggal 8 Agustus 2015) Buckman. Psychosocial Oncology. Talking to patients about cancer. 699-700... pp. DW. (1998). SPIKES . Patient Educ Couns. 27. Bearing bad news in clinical settings. (1996). Lloyd. Kenali Lebih Dalam Gejala Kanker http://health. 1991. Breaking Bad News: A 10 Step Approach. Blanchard.gov/pubmed/11775763 diakses pada 7 April 2015 Hopper SV. J. East Lansing. J. 2005. Mulut. Communication Skills for Medicine. in Palliative Care. pp. Social Science Medicine. Kaye P.Voight (Eds). 2013. Breaking Bad News: The S-P-I-K-E-S Strategy. pada 10 November 2013 pukul 21. dan Fischbach RL. 2001. Information and decision making preferences of hospitalized adult cancer patients.30 WIB. 69-79. Edinburgh: Churchill Livingstone Maynard. Buckman. Buckman. Breaking Bad News. 10. R.24 Baile. 11391145.communityoncology. M. Vol. and Bor. 2001.ncbi. Dervin & M. pp. Dalam http://www. 2000.19. 1988. 1989. The Oncologist. S. Jakarta: KKI Kurtz. Am Fam Physician.okezone. Q. 5:302-311.net. Patient-physician communication when blindness threatens. Vandekieft. J.. Michigan. British Medical Journal. 143-172. R. “Communication in Palliative Care: a practical guide”. (diakses dari www. Oxon: Radcliffe Medical Press.A Six-Step Protocol for Delivering Bad News: Application to the Patient with Cancer. 2005.com/read/2013/07/18/486/838870/redirect. no 4. 31. 2001 Dec 15. Silverman. Michigan State University College of Human Medicine. 14(1). Diunduh .2: 138-142.

1991. Modul Komunikasi Pasien Dokter. Prasetyawati AE. Communication and awareness about death: A study of random sample of dysig people. . 1982. 2013. Kathleen Egan. Breaking the 'Bad' News to Patients and Families: Preparing to Have the Conversation About Endof-Life and Hospice Care Sarwono. Jakarta: Rineka Cipta Robert L. 32. D. C. 2007. EdD. : Georgetown University Press. Dental Ethics at Chairside. Social Science Medicine. Sukardi. 2007. Wright. Seale. Halaman 21-29. Arnold.. 2010. dan Sokol. DT. Jakarta : EGC. E. MA. SW.. Health Communication in the 21st Century. DJ.V. MA. KB. pp. Bulan Bintang.25 Ozar. dkk.. Bimbingan Konseling dalam Praktek Dokter. Jakarta: Penerbit N. Kedokteran Keluarga: “ Komunikasi Dokter Keluaga kepada Pasien”.C. USA: Wiley Blackwell. RN. Washington. dkk. 943-952.