Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
Jumlah wanita penderita AIDS (Aqcuired Immune Deficiency Virus) di dunia terus
bertambah, khususnya pada usia reproduksi. Sekitar 80% penderita AIDS anak-anak
mengalami infeksi perinatal dari ibunya. Laporan CDC (Central for Disease Control)
memaparkan bahwa seroprevalensi HIV (Human Immunodeficiency Virus) pada ibu
prenatal adalah 0,0% - 1,7%, pada saat persalinan 0,4% - 2,3% dan 9,4 – 29,6% pada ibu
hamil yang biasa menggunakan narkotika intravena. Berbagai penelitian menunjukkan
bahwa kehamilan dapat memperberat kondisi klinik wanita dengan infeksi HIV.
Sebaliknya, risiko tentang hasil kehamilan pada penderita infeksi HIV masih merupakan
tanda tanya. Transmisi vertikal virus AIDS dari ibu kepada janinnya telah banyak
terbukti, akan tetapi belum jelas diketahui, kapan transmisi perinatal tersebut terjadi.
Penelitian di Amerika Serikat dan Eropa menunjukkan bahwa risiko transmisi perinatal
pada ibu hamil adalah 20 – 40%. Transmisi dapat terjadi melalui plasenta, perlukaan
dalam proses persalinan atau melalui ASI (Air Susu Ibu). Walaupun demikian WHO
(World Health Oganization) menganjurkan agar ibu dengan HIV (+) tetap menyusui
bayinya mengingat manfaat ASI yang lebih besar dibandingkan dengan risiko penularan
HIV.(1-3)
Infeksi oleh virus penyebab defisiensi imun merupakan masalah yang relatif baru,
terutama pada anak. Penemuan kasus awal adalah dari sampel darah yang dikumpulkan
tahun 1959 dari seorang laki–laki dari Kinshasa di Republik Demokrat Congo, namun
masalah ini baru pertama kali dilaporkan di Amerika pada tahun 1981 sebagai suatu
sindrom defisiensi imun makin meningkat secara relatif cepat disertai angka kematian
yang mencemaskan, maka dilakukanlah pengamatan dan penelitian yang intensif
sehingga akhirnya penyebab defisiensi imun ini ditemukan. Penyebab defisiensi imun ini
adalah suatu virus yang kemudian dikenal dengan nama human immunodeficiency virus
tipe-1 (HIV-1), pada tahun 1985. Pada pengamatan selanjutnya, ternyata bahwa infeksi
HIV-1 ini dapat menimbulkan rentangan gejala yang sangat luas, yaitu dari tanpa gejala
hingga gejala yang sangat berat dan progresif, dan umumnya berakhir dengan kematian.
Dengan meningkat dan menyebarnya kasus defisiensi imun oleh virus ini pada orang
1

dewasa secara cepat di seluruh dunia, apabila kasus tersebut tidak mendapat perhatian
dan penanganan yang memadai, dalam waktu dekat diperkirakan jumlah kasus defisiensi
imun pada anak juga akan meningkat.(1-2,4)
Secara keseluruhan, infeksi HIV pada wanita meningkat, dan proporsi wanita dan
gadis remaja yang terinfeksi meningkat tiga kali lipat dari 7 menjadi 23 persen dari tahun
1985 sampai 1998. Sejak saat itu, prevalensi penyakit yang mematikan ini meningkat di
seluruh dunia hampir secara geometris. Di Amerika Serikat sampai tahun 1998, Fauci
(1999) menyebut sekitar 650.000 sampai 900.000 orang terinfeksi dan hampir setengah
juta meninggal. Pada tahun 1994, kematian akibat infeksi HIV menjadi penyebab utama
kematian pada orang berusia 25 sampai 44 tahun. Seperti diperkirakan, infeksi perinatal
juga meningkat. Sampai tahun 1993, Centers for Disease Control and Prevention
memperkirakan bahwa di Amerika Serikat 15.000 anak terinfeksi HIV lahir dari wanita
positif HIV.(5-6)

2

Selain itu ia juga mempunyai untaian RNA yang pada setiap untaiannya memiliki sembilan gen.(1) 2. Gp120 tersebut memiliki afinitas tinggi terutama terhadap reseptor CD4+. Etiologi Penyebab dari virus ini adalah dari Retrovirus golongan retroviridae. Sel darah putih tersebut terutama limfosit yang memiliki CD4 sebagai sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel limfosit.2. anggota genus Lentivirus.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.(5) HIV memiliki tonjolan eksternal yang dibentuk oleh 2 protein utama envelope virus.(1-3) HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi. keluarga Retrovirus yang ditandai oleh suatu periode latensi panjang dan sebuah sampul lipid dari sel induk yang mengelilingi sebuah pusat protein RNA. penemuan kasus awal adalah dari sampel darah yang dikumpulkan tahun 1959 dari seorang laki–laki dari Kinshasa di Republik Demokrat Congo. Tidak diketahui bagaimana seseorang ini dapat terinfeksi. AIDS adalah suatu sindrom defisiensi imun yang ditandai oleh adanya infeksi oportunistik dan/atau keganasan yang tidak disebabkan oleh defisiensi imun primer oleh HIV. Definisi HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan dapat menimbulkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). sedangkan gp41 bertanggung jawab dalam proses internalisasi atau adsorpsi. RNA tersebut diliputi oleh 3 . Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD4 semakin lama akan semakin menurun. HIV-1 sendiri dianggap sebagai sumber dari kebanyakan infeksi di seluruh dunia.1. gp120 di sebelah luar dan gp41 yang terletak di transmembran. Karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam mengatasi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Asal dari HIV tidak jelas. nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Dikenal dua spesies HIV yang menginfeksi manusia yaitu HIV-1 dan HIV-2. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik.

(5) 2. Sedangkan angka kejadian HIV lebih tinggi pada pria dibandingkan dengan wanita. disusul Amerika dan Eropa. transplasenta. Molekul CD4 ini mempunyai afinitas yang sangat besar terhadap HIV.(2) 2. transfusi darah.(2) Gambar 1. Prevalensi Penderita HIV/AIDS pada Dewasa Berusia 15-49 Tahun. Epidemiologi WHO mengemukakan bahwa angka kejadian HIV tertinggi terdapat di Afrika. Berdasarkan hasil rekapitulasi data oleh CDC sumber penularan HIV terbesar didapatkan melalui hubungan seksual sesama jenis. protein membran luar dan glikoprotein 41 (gp41). terutama terhadap molekul glikoprotein (gp120) dari selubung virus.3. penggunaan jarum suntik. HIV sendiri memiliki beberapa cara penularan seperti hubungan seksual.kapsul berbentuk kerucut yang terdiri atas sekitar 2000 kopi p24 protein virus dan dikelilingi oleh kapsid selubung virus (envelope). dan penggunaan jarum suntik. Patofisiologi Untuk dapat terinfeksi HIV diperlukan reseptor spesifik pada sel pejamu yaitu molekul CD4. disusul hubungan heteroseksual.4. Masing-masing subunit selubung vims terdiri atas 2 non kovalen rangkaian protein membran glikoprotein 120 (gp120). Di antara sel tubuh 4 .

sel limfosit-T memiliki molekul CD4 paling banyak. Ini adalah sebuah proses yang sedikit demi sedikit dimana akhirnya merusak sistem kekebalan tubuh dan meninggalkan tubuh menjadi mudah diserang oleh infeksi dan penyakit–penyakit yang lain. DNA yang terbentuk ini kemudian pindah dari sitoplasma ke dalam inti sel limfosit-T dan menyisip ke dalam DNA sel pejamu dengan bantuan enzim integrase. yang mana. Jumlah normal dari sel–sel CD4+T pada seseorang yang sehat adalah 800–1200 sel/ml kubik darah. Virus–virus baru tersebut keluar dari sel tubuh dan bergerak bebas dalam aliran darah.(4-6) Gambar 2. materi viral (jumlah virus dalam tubuh penderita) turunan yang disebut RNA (ribonucleic acid) berubah menjadi viral DNA (deoxyribonucleic acid) dengan suatu enzim yang disebut reverse transcriptase. Infeksi–infeksi oportunistik adalah infeksi–infeksi yang timbul ketika sistem kekebalan tertekan. benda tersebut mulai menghasilkan virus–virus baru. mengatur viral kimia untuk membentuk virus–virus yang baru. dan berhasil menulari lebih banyak sel.yang memiliki molekul CD4. Respons tersebut mendorong virus untuk menghasilkan kembali dirinya.Patofisiologi Replikasi Virus HIV 5 . Oleh karena itu. Pada seseorang dengan sistem kekebalan yang sehat infeksi–infeksi tersebut tidak biasanya mengancam hidup mereka tetapi bagi seorang pengidap HIV hal tersebut dapat menjadi fatal. Sekali berada di dalam. disebut sebagai provirus. HIV masuk kedalam darah dan mendekati sel T–helper dengan melekatkan dirinya pada protein CD4. Viral DNA tersebut menjadi bagian dari DNA manusia. DNA yang terbentuk mengalami polimerisasi menjadi dua untai DNA dengan bantuan enzim polimerase. protease.(3-4) Respons tubuh secara alamiah terhadap suatu infeksi adalah untuk melawan sel– sel yang terinfeksi dan mengantikan sel–sel yang telah hilang.(3) Enzim lainnya. Dibutuhkan waktu untuk menularkan virus tersebut dari orang ke orang. Ketika seorang pengidap HIV yang sel–sel CD4+ T–nya terhitung dibawah 200. infeksi HIV dimulai dengan penempelan virus pada limfosit-T. daripada menghasilkan lebih banyak sel jenisnya. dia menjadi semakin mudah diserang oleh infeksi–infeksi oportunistik.

berat badan menurun. 3. 4. 2. lemah. Fase infeksi HIV primer akut. Infeksi asimtomatik. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Lamanya 1-15 tahun dengan tidak ada gejala. Supresi imun simtomatik. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu-like syndrome. rash. dan lesi mulut. Periode penularan Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu : 1. diare. keringat malam hari. Diatas 3 tahun dengan gejala demam. limfadenopati.2. 6 . Tidak ada gejala. neuropati. Periode jendela (window period).5.

Melakukan penetrasi seks yang tidak aman dengan seseorang yang telah terinfeksi. Penularan virus HIV dapat berdasarkan beberapa cara. Wanita hamil dapat juga menularkan virus ke bayi mereka selama masa kehamilan atau persalinan dan juga melalui menyusui. Saat ini masih belum diketahui secara persis bagaimana HIV menular dari ibu ke bayi. yaitu: 1. Persentase Penularan HIV dari ibu Hamil ke Bayi 1. dan manifestasi neurologis. Periode Prenatal Timbulnya HIV pada wanita hamil diperkirakan meningkat. bayi yang disusui oleh ibu terinfeksi HIV juga dapat tertular HIV.5. diperkirakan kebanyakan penularan terjadi saat persalinan (waktu bayi lahir). yaitu: Gambar 3. Para wanita yang termasuk dalam kategori beresiko tinggi terhadap infeksi HIV mencakup: 7 . Namun. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai sistem tubuh. Selain itu. AIDS. Kondom adalah satu–satunya cara dimana penularan HIV dapat dicegah dalam hubungan seksual. Melalui darah yang terinfeksi yang diterima selama transfusi darah dimana darah tersebut belum dideteksi virusnya atau pengunaan jarum suntik yang tidak steril. 3. Dengan mengunakan bersama jarum untuk menyuntik obat bius dengan seseorang yang telah terinfeksi. Penularan HIV dari ibu ke bayi dibagi berdasar 3 periode. 4. 2. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali ditegakkan.

Periode Intrapartum Perawatan wanita yang sakit saat melahirkan tidak diubah secara substansial untuk infeksi tanpa gejala dengan HIV (Minkoff. seronegativitas pada uji prenatal pertama bukan jaminan untuk titer negatif yang berlangsung. seorang wanita berusia 24 tahun yang mendapatkan perawatan prenatal selama 8 minggu mempunyai hasil tes western blot yang negative. Wanita yang yakin bahwa dirinya mungkin terjangkit HIV. Kerusakan tersebut dapat memungkinkan darah ibu mengalir pada janin. Cara kelahiran didasarkan hanya pada pertimbangan obstetrik karena virus melalui plasenta pada awal kehamilan. Wanita dan atau pasangannya yang menggunakan obat-obatan yang disuntikkan melalui pembuluh darah.(4-6. 1987). Tes prenatal rutin dapat membantu mengidentifikasi wanita yang terinfeksi HIV (Foster. 8 . Wanita yang menerima tranfusi darah dari pengidap HIV. Tes HIV sebaiknya ditawarkan kepada wanita beresiko tinggi pada awal mereka memasuki perawatan prenatal. 1987. yang seharusnya melindungi janin dari infeksi HIV. Kerusakan pada plasenta dapat disebabkan oleh penyakit pada ibu. e. Minkoff. Penularan HIV dari ibu terjadi terutama pada saat proses melahirkan. serum antibody membutuhkan waktu sampai 12 minggu untuk berkembang. 1987. b.9) 2. setelah terinfeksi HIV. Penularan dapat terjadi di dalam kandungan. Terdapat kemungkinan inokulasi virus ke dalam neonatus jika dilakukan pengambilan sempel darah pada bayi. Hal ini dapat disebabkan oleh kerusakan pada plasenta. Ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan HIV pada bayi yang dikandungnya. Fokus utama pencegahan penyebaran HIV adalah pencegahan infeksi nosokomial dan perlindungan terhadap ibu hamil. Tes western blot harus diulangi dalam 1 atau 2 bulan dan pada trimester ketiga. karena pada saat itu terjadi kontak secara lansung antara darah ibu dengan bayi sehingga bayi tersentuh oleh darah dan cairan vagina ibu waktu melalui saluran kelahiran dan menyebabkan virus dari ibu dapat menular pada bayi.1987). Namun. Kaplan et al. Namun.a. 1987. d. Rhoads et al. Wanita yang menderita STD tetap dan kambuhan. Wanita dan atau pasangannya yang berasal dari wilayah geografis dimana HIV merupakan sesuatu yang umum. c. Misalnya.

gangguan keseimbangan. Risiko penularan HIV melalui pemberian ASI akan bertambah jika terdapat kadar CD4 yang kurang dari 200 serta adanya masalah pada ibu seperti mastitis. halusinasi. dimana penderita mengalami paling sedikit 2 gejala kelinis yang menetap yaitu: a. Radang kelenjar getah bening yang meliputi 2 atau lebih kelenjar getah bening di luar daerah inguinal d. Periode Postpartum. Demam terus menerus >37. Bayi dapat tertular virus HIV dari ibu melalui air susu ibu (ASI) karena ASI dari ibu terinfeksi HIV mengandung HIV. misalnya vakum. luka di puting payudara.(4. psikosis. Intervensi untuk membantu persalinan yang dapat melukai bayijuga dapat menjadi faktor penularan. Gejala infeksi oportunistik 9 . Periode Penularan HIV dari Ibu Hamil ke Bayi 2.8-9) Gambar 4. Manifestasi Klinis 1.9) 3. Gejala Konstitusi Sering disebut sebagai AIDS-related complex.Jangka waktu antara saat pecah ketuban dan bayi lahir juga merupakan salah satu faktor risiko untuk penularan. Gejala Neurologis Gejala neurologis yang beranekaragam seperti kelemahan otot. sehingga terdapat risiko penularan HIV melalui menyusui.6.6. abses. Berkeringat banyak pada malam hari yang terus menerus 2. mudah lupa.5°C b. disorientasi. Ibu dengan HIV dianjurkan untuk memberikan PASI. dapat meningkatkan risiko. dan sampai koma (gejala radang otak) 3. (46. kesulitan berbicara. Kehilangan berat badan 10% atau lebih c. Diare yang tidak dapat dijelaskan sebabnya e.

cheilitis angularis)  Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir  Infeksi saluran nafas atas rekuren 3) Stadium 3  Berat badan turun > 10 %  Diare yang tidak diketahui penyebab. prurigo. Toksoplasmosis. ulkus oral rectum. Gejala tumor. > 1 bulan  Demam berkepanjangan (intermitten atau konstan).yaitu: a. limfadenopati generalisata 2) Stadium 2  Berat badan turun < 10 %  Manifestasi mukokutan minor (dermatitis seboroik. b. infeksi yang paling banyak yang disebabkan protozoa yang masuk kedalam paru dan berkembang sangat pesat menjadi pneumonia. > 1 bulan  Kandidiasis oral  Oral hairy leucoplakia  Tuberculosis paru  Infeksi bakteri baru (pneumonia.(4-6) Adapun klasifikasi HIV/AIDS berdasarkan stadium WHO (2003) ialah :(4-6) 1) Stadium 1 : asimtomatik. d. dimana ditemukan bercak merah coklat. sampai kejang dan koma. kuku. 4. ungu atau biru yang awalnya beberapa millimeter menjadi beberapa sentimeter (pada Sarkoma kaposi) dan ditemukan massa yang membesar dan menyebar secara progresif dan melibatkan ekstranodal disertai demam dan penurunan berat badan. demam. disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis c. Infeksi yang paling sering ditemukan . gejala yang ditimbulkan batuk kering. yang paling sering ditemukan adalah Sarcoma kaposi dan Limfoma maligna non-Hodgkin. infeksi jamur. Infeksi mukokutan.Gejala infeksi oportunistik merupakan kondisi dimana daya tahan tubuh penderita sudah sangat lemah sehingga tidak mampu melawan infeksi bahkan terhadap patogen yang normal pada tubuh manusia. herpes zoster dan kandidiasi adalah yang paling sering ditemukan. Tuberkulosis. piomiositis) 4) Stadium 4  HIV wasting syndrome  Pneumonia Pneumocystis carinii  Toksoplama serebral  Kriptosporodiosis dengan diare > 1 bulan 10 . gejalanya berupa sakit kepala. seperti herpes simpleks. demam dan sesak. Pneumocystic carinii pneumonia (PCP).

atau kelenjar getah bening           (misalnya retinitis CMV) Infeksi herpes simpleks. Pemeriksaan untuk isolasi HIV pada periode ini 11 . limpa. dalam darah penderita masih ditemukan virus HIV (viremia pertama).  Sitomegalovirus pada organ selain hati.(6) Gambar 5. dan dapat dipakai sebagai patokan dalam menginterpretasi hasil pemeriksaan serologi HIV. Grafik Parameter Serologi Infeksi HIV Pada bulan pertama setelah terjadi infeksi.7. mukokutan (> 1 bulan) atau viseral Progressive multifocal leucoencephalopathy Mikosis endemic diseminata Kandidiasis esofagus. antara lain: 1.2. dan bronkus Mikobakteriosis atipik. trakea. Gambaran parameter serologi infeksi HIV–1 tampak pada Grafik 1. Pemeriksaan serologi HIV Berdasarkan pengamatan atas penderita AIDS secara terus menerus selama sakitnya maka dapat dibuat suatu hipotesa mengenai lama dan relatif konsentrasi antigen (HIV) dan antibodi dalam darah penderita. diseminata atau paru Septikemia salmonela non-tifosa Tuberkulosis ekstrapulmoner Limfoma Sarkoma Kaposi Ensefalopati HIV(5-6) Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang untuk diagnosis dibagi menjadi dua golongan.

Pada saat itu pemeriksaan antibodi HIV mulai menjadi positif untuk jangka waktu lama. sekitar 2 bulan. karena sulit mengetahui kapan infeksi terjadi. kecuali pada antibodi terhadap core yang dapat menurun setelah beberapa tahun kemudian.sangat jarang berhasil. kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan konfirmasi yang biasanya dengan memakai metoda Western Blot. Pemeriksaan ELISA harus menunjukkan hasil positif 2 kali (reaktif) dari 3 test yang dilakukan. Penggabungan tes ELISA yang sangat sensitif dan Western Blot yang sangat spesifik mutlak dilakukan untuk menentukan apakah seseorang positif AIDS. Tes konfirmasi lain yang jarang dipakai lagi adalah RIPA (Radio immunoprecipitation Assay) dan IFA (Immunofluorescence Antibody Technique). ELISA pada mulanya digunakan untuk skrening darah donor dan pemeriksan darah kelompok risiko tinggi/tersangka AIDS. lama dan masih dapat memberi hasil tidak benar. negatif palsu. mahal. western blot kurang sensitif dibandingkan dengan immunoassay. tergantung dari frekuensi infeksi ulang. Berbagai macam tes konfirmasi tersebut tidak lebih sensitif dari ELISA.(57) Pemeriksaan antibodi HIV paling banyak menggunakan metoda ELISA/EIA (enzyme linked immunoadsorbent assay). lagi pula viremia hanya berlangsung sebentar. Uji penapis yang positif memiliki sensitivitas lebih dari 99. Walaupun sangat positif. di samping itu juga ditemukan antibodi terhadap envelope. Pada akhir bulan ke 2 tubuh mulai membentuk antibodi terhadap envelope dan disusul dengan pembentukan antibodi terhadap core (inti). periode ini disebut window period. positif palsu. Menurut Center for Diseases and Prevention (1998) antibodi dapat dideteksi pada 95% pasien dalam waktu 6 bulan setelah infeksi. Dengan demikian immunofluorescence assay dapat digunakan untuk memastikan sampel yang positif-EIA tetapi hasil western blot-nya meragukan. karena untuk memberi hasil positif diperlukan lebih banyak antibodi. Setelah 5– 10 tahun HIV mulai ditemukan dalam darah untuk kedua kalinya (viremia kedua). Ini berarti bahwa selama paling sedikit 2 bulan penderita tampak sehat dan dalam darahnya antibodi HIV tidak terdeteksi oleh pemeriksaan serologi. dan karenanya 12 . Uji positif dikonfirmasi dengan western blot atau immunofluorescence assay (IFA).5 persen. Tampak bahwa antibodi terhadap envelope selalu dapat ditemukan dalam darah dibanding dengan antibodi terhadap core. sulit dikerjakan.(5-6) Enzyme immunoassay (EIA) digunakan sebagai uji penapis antibodi HIV. atau indeterminate.

Selama fase permulaan penyakit (fase akut) dalam darah penderita dapat ditemukan virus HIV/partikel HIV dan penurunan jumlah sel T4 (Gratik). diambil virus HIV yang ditumbuhkan pada biakan sel. Serum atau plasma yang akan diperiksa. kemudian akan berwarna bila ditambah dengan suatu substrat. kemudian dirusak dan dilekatkan pada biji-biji polistiren atau sumur microplate.000 donor darah. tidak terdeteksi adanya hasil positif-palsu western blot (Center for Diseases and Prevention (1995)). Sekarang ada test EIA yang menggunakan ikatan dari heavy dan light chain dari Human Immunoglobulin sehingga reaksi dengan antibodi dapat lebih spesifik. Tes ELISA mulai menunjukkan hasil positif pada bulan ke 2–3 masa sakit. A. Pada setiap tes selalu diikutkan kontrol positif dan negatif untuk dipakai sebagai pedoman. Hasil konfirmasi yang positif palsu jarang terjadi dan pada satu penelitian terhadap hampir 300. yaitu mampu mendeteksi IgM maupun IgG. 3. Hasil western blot yang meragukan dapat terjadi karena faktor-faktor yang mencakup:(4-6) 1. Bila terdapat IgG (immunoglobulin G) yang menempel pada biji-biji atau sumur microplate tadi maka akan terjadi reaksi pengikatan antigen dan antibodi. Setelah beberapa hari terkena infeksi AIDS.pemeriksaan antibodi tidak dapat menyingkirkan infeksi yang terjadi lebih dini. Pada fase berikutnya yaitu pada waktu gejala major 13 . sehingga sedang mengalamni serokonversi Penyakit HIV stadium akhir Bayi yang terpajan secara perinatal dan sedang mengalami serokonversi Reaksi nonspesifik pada wanita tidak terinfeksi yang sedang atau pernah hamil. Individu baru terinfeksi. Pemeriksaan ELISA hanya menunjukkan suatu infeksi HIV di masa lampau. kemudian setelah 3 bulan IgG mulai ditemukan. diinkubasikan dengan antigen tersebut selama 30 menit sampai 2 jam kemudian dicuci. 4. dengan menggunakan biakan virus. diperlukan identifikasi antigen inti P24 atau RNA virus. Antibodi anti-IgG tersebut terlebih dulu sudah diberi label dengan enzim (alkali fosfatase. IgM dapat dideteksi. Pada dasarnya. Untuk infeksi HIV primer akut. horseradish peroxidase) sehingga setelah kelebihan enzim dicuci habis maka enzim yang tinggal akan bereaksi sesuai dengan kadar IgG yang ada. Biasanya lama pemeriksaan adalah 4 jam. 2. Pemeriksaan ELISA/EIA ELISA dari berbagai macam kit yang ada di pasaran mempunyai cara kerja hampir sama. sehingga kadar di atas cut-off value atau diatas absorbance level spesimen akan dinyatakan positif.

Walaupun begitu. Hasil ini sering ditemukan pada keadaan positif lemah. Oleh karena itu test ELISA harus dikorfirmasi dengan test lain. Bila test ini digunakan pada penderita HIV-2. nilai positifnya hanya 24%. Penderita AIDS pada taraf permulaan hanya mengandung IgM. Hal ini disebabkan karena morfologi HIV hasil biakan jaringan yang digunakan dalam test kemurniannya berbeda dengan HIV di alam.9% pada kelompok risiko tinggi. Tetapi HIV–2 paling banyak ditemukan hanya di Afrika. jarang ditemukan pada positif kuat. bahkan ada yang 5 bulan atau lebih (pada keadaan immunocompromised). bukan antigen (akhir-akhir ini sudah ditemukan test ELISA untuk antigen). d) Masalah false positive pada test ELISA. Pada kelompok penderita AIDS. sehingga tidak akan terdeteksi. Di samping keunggulan. Beberapa hal tentang kebaikan test ELISA adalah nilai sensitivitas yang tinggi: 98.1% – 100%. beberapa kendala path test ELISA yang perlu diperhatikan adalah: a) Pemeriksaan ELISA hanya mendeteksi antibodi. Hasil pemeriksan ELISA harus diinterpretasi dengan hati-hati. karena tergantung dari fase penyakit.6% – 100%. Predictive value dari hasil negatif ELISA pada masyarakat sekitar 99. b) Pemeriksaan ELISA hanya terhadap antigen jenis IgG. predictive value hasil test positif tergantung dari prevalensi HIV di masyarakat. hasil akan positif pada fase timbul gejala pertama AIDS (AIDS phase) dan sebagian kecil akan negatif pada fase dini AIDS (Pre AIDS phase). Tes ELISA mempunyai sensitifitas dan spesifisitas cukup tinggi walaupun hasil negatif tes ini tidak dapat menjamin bahwa seseorang bebas 100% dari HIV1 terutama pada kelompok resiko tinggi. Western Blot memberi nilai spesifik 99. predictive positive value adalah 100% sedangkan pada donor darah dapat antara 5% – 100%. Kasus dengan infeksi HIV laten dapat temp negatif selama 34 bulan. Perubahan dari IgM ke IgG membutuhkan waktu sampai 41 minggu.99% sampai 76.AIDS menghilang (karena sebagian besar HIV telah masuk ke dalam sel tubuh) HIV sudah tidak dapat ditemukan lagi dari peredaran darah dan jumlah Sel T4 akan kembali ke normal. c) Pada umumnya pemeriksaan ELISA ditujukan untuk HIV– 1. 14 . Oleh karena itu test uji baru akan positif bila penderita telah mengalami serokonversi yang lamanya 2–3 bulan sejak terinfeksi HIV. Pada umumnya.

kemudian dipindahkan ke nitrocellulose. b) Negatif : Bila tidak ditemukan band protein. p9.Akhir-akhir ini test ELISA telah menggunakan recombinant antigen yang sangat spesifik terhadap envelope dan core. pada umumnya adalah: a) Positif: 1. gp160. Pemeriksaan Western Blot Pemeriksaan Western Blot cukup sulit. Antibodi terhadap envelope ditemukan pada setiap penderita HIV stadium apa saja. kontrol positif dan negatif. Tes ini dilakukan bersama dengan suatu bahan dengan profil berat molekul standar. mahal. p66. gp4l. p15. gpl2O. p66. p51. Sedangkan antibodi terhadap p24 (proten dari core) bila positif berarti penderita sedang mengalami kemunduran/deteriorasi. Salah satu dari band : p 15.(4) Secara singkat dapat dikatakan bahwa bila serum mengandung antibodi HIV yang lengkap maka Western blot akan memberi gambaran profil berbagai macam band protein dari HIV antigen cetakannya. p 17. interpretasinya membutuhkan pengalaman dan lama pemeriksaan sekitar 24 jam.(1. p24. Antibodi terhadap envelope (env) penghasil gen (gp160) dan prekursornya (gp120) dan protein transmembran (gp4l) selalu ditemukan pada penderita AIDS pada stadium apa saja. Antibodi terhadap protein core HIV (gag) misalnya p24 dan protein precursor (p25) timbul pada stadium awal kemudian menurun pada saat penderita mengalami deteriorasi. p51. p7.4-7) B. lebih jarang ditemukan p23. Beberapa protein lainnya yang sering ditemukan adalah: p3 I. p55. p31. 2. Definisi hasil pemeriksaan Western Blot menurut profit dari band protein dapat bermacam-macam. Antibodi HIV dideteksi dengan memberikan antibodi anti-human yang sudah dikonjugasi dengan enzim yang menghasilkan warna bila diberi suatu substrat. Nitrocellulose ini diinkubasikan dengan serum penderita. Cara kerja test Western Blot yaitu dengan meletakkan HIV murni pada polyacrylamide gel yang diberi arus elektroforesis sehingga terurai menurut berat protein yang berbeda-beda. Envelope : gp4l. p14. Gambaran band dari bermacam-macam protein envelope dan core dapat mengidentifikasi macam antigen HIV. c) Indeterminate 15 . p27.

atau hanya timbul band protein p24 dan p34 saja (yaitu pada kasus dengan infeksi HIV–2). Hal ini mungkin karena infeksi masih terlalu dini sehingga yang ditemukan hanya sebagian dari core antigen (p17. Pemeriksaan untuk deteksi gangguan sistem imun: A.(1. Hal ini sebaiknya dilakukan pada awal kehamilan.(8-10) 16 . Cara mengatasi kendala tadi adalah dengan menggunakan recombinant HIV yang lebih murni. dan 83% mempunyai p31. Rasio CD4/CD limfosit D. False negative biasanya rendah pada kelompok masyarakat tetapi dapat tinggi pada kelompok risiko tinggi. False negative dapat terjadi karena kadar antibodi HIV rendah. Akhir-akhir ini hasil positif diberikan bila ditemukan paling tidak p24. tapi tentu tidak not. Hasil indeterminate diberikan setelah ditest secara duplo dan penderita diberitahu untuk diulang setelah 2–3 bulan. Perkembangan penatalaksanaan selama kehamilan mengikuti kemajuan-kemajuan dalam pengobatan individu non hamil dengan HIV. perlu diberikan konseling berkelanjutan. LED B. p31 dan salah satu dari gp41 atau gpl60. dan apabila wanita hamil dengan HIV (+) memilih untuk melanjutkan kehamilannya. Besar false negative Western Blot belum diketahui secara pasti.4-5.8. dan sensitifitas turun dari 100% dapat menjadi hanya 56% karena hanya 60% penderita AIDS mempunyai p24. Saat ini sudah terjadi pergeseran dari fokus yang semata-mata untuk melindugi janin menjadi pendekatan yang lebih berimbang berupa pengobatan ibu dan janinnya. yang biasanya ditemukan sebesar 1 di antara 200.000 test padahal test tersebut sudah didahului dengan test ELISA.Bila ditemukan band protein yang tidak sesuai dengan profil positif. Serum mikroglobulin B2 E. Hematokrit G. p24. Hemoglobulin F. MRI 2. CD4 limfosit C. Terapi Konseling merupakan keharusan bagi wanita dengan HIV (+). Sebaliknya cara ini dapat menurunkan angka false positive pada kelompok risiko tinggi.7) 2. Dengan makin ketatnya !criteria Western Blot maka spesifisitas menjadi tinggi. p55). Foto thorax H.

Pendekatan ini bertujuan untuk mencegah penularan sedini mungkin bahkan sebelum terjadinya hubungan seksual. Intervensi – intervensi pada prong ketiga ini adalah inti dari PPIA. Prong ketiga: Pencegahan penularan HIV dari ibu hamil HIV positif ke bayi yang dikandungnya. Dalam ketidakhadiran dari intervensi pencegahan. PPIA mempunyai 4 prong (pendekatan) pencegahan sebagai berikut:(8-10) 1. Dalam buku Pedoman Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke anak yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan RI. 17 . Prong kedua: Pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada Ibu HIV positif. proses kelahiran maupun masa menyusui. Intervensi ini akan memastikan bahwa setiap Ibu hamil melakukan VCT untuk mengetahui status HIVnya. Penggunaan alat kontrasepsi yang tepat dan konseling yang baik adalah aktivitas yang menjadi prioritas dalam prong ini. layanan test dan konseling HIV (Voluntary Counseling and Testing/VCT) yang mudah diakses dan terintegrasi dengan pelayanan kesehatan Ibu dan anak dan layanan konseling dan akses ARV bagi ibu hamil dengan HIV postitif 2. ibu hamil dan pasangannya tidak tertular HIV.PMTCT (Prevention of Mother to Child Transmission) atau PPIA (Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak) adalah suatu strategi untuk memberikan harapan bagi anakanak untuk lahir bebas dari HIV dari ibu yang terinfeksi. artinya mencegah perempuan muda usia reproduksi. 2011. 3. memobilisasi masyarakat untuk berperan serta menyebarkan informasi maupun memberikan dukungan bagi Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA). Tujuan dari pendekatan ini adalah agar perempuan HIV positif dapat merencanakan kehamilannya dan dapat diupayakan agar anak yang dikandungnya tidak terinfeksi HIV.(8-10) PPIA diimplementasikan di Indonesia dengan mengadaptasi pengalaman dan keberhasilan pencegahan penularan HIV dari Ibu ke anak di berbagai negara di dunia yang telah direkomendasikan WHO. Beberapa kegiatannya adalah menyebarkan informasi yang baik dan benar tentang HIV dan AIDS tanpa stigma dan diskriminasi. Prong pertama: Pencegahan penularan HIV pada perempuan di usia reproduktif. setiap ibu hamil dengan HIV positif mempunyai akses untuk mendapatkan ARV yang adekuat untuk mencegah penularan selama hamil. Dengan pencegahan yang berkualitas angka tersebut dapat diturunkan hingga sekitar 2-5%. kemungkinan bahwa bayi dari seorang wanita yang mengidap HIV (+) akan terinfeksi kira–kira 20-45%.

ART sudah berdampak besar pada kesehatan perempuan terinfeksi HIV dan anaknya. Nucleoside Analogue Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI's).(1. Pemberian ARV telah menyebabkan kondisi kesehatan para penderita menjadi jauh lebih baik. Infeksi penyakit oportunistik lain yang berat dapat disembuhkan. Prong keempat: Pemberian dukungan psikologis. diimplementasikan semua prong. Keempat prong secara nasional dikoordinir dan dijalankan oleh pemerintah. sosial dan perawatan kepada ibu HIV positif beserta anak dan keluarganya. serta dapat dilaksanakan institusi kesehatan swasta dan lembaga swadaya masyarakat. diimplementasikan Prong 1 dan Prong 2. Upaya pencegahan tidak berhenti setelah ibu melahirkan. Penekanan terhadap replikasi virus menyebabkan penurunan produksi sitokin dan protein virus yang dapat menstimulasi pertumbuhan.10) Pedoman baru dari WHO mengenai PMTCT berpotensi meningkatkan ketahanan hidup anak dan kesehatan ibu. Ibu dengan HIV positif membutuhkan dukungan untuk tetap hidup dan mengasuh anaknya.12) Cara terbaik untuk memastikan bahwa bayi dari ibu hamil dengan HIV (+) tidak terinfeksi dan tetap sehat adalah dengan memakai terapi antiretroviral (ART).(10) Pada daerah dengan prevalensi HIV yang rendah. Permulaan dari pengobatan ARV biasanya secara medis direkomendasikan ketika jumlah sel CD4 dari orang yang mengidap HIV/AIDS adalah 200 atau lebih rendah. Dukungan dari keluarga. mentargetkan pencegahan Protein Reverse Transcriptase HIV dalam mencegah perpindahan dari 18 . Obat-obat ini hanya berperan dalam menghambat replikasi virus tetapi tidak bisa menghilangkan virus yang telah berkembang. Untuk lebih efektif.4. secara umum ini adalah mengenai Highly Active Anti Retroviral Therapy (HAART). mengurangi risiko penularan hingga 5% atau lebih rendah serta secara jelas memberantas infeksi HIV pediatrik. maka suatu kombinasi dari tiga atau lebih ARV dikonsumsi. Pada daerah dengan prevalensi HIV yang terkonsentrasi. masyarakat dan negara akan membantu Ibu dengan HIV positif menjalani kehidupannya dengan lebih berkualitas yang pada akhirnya akan memberikan dampak kepada kehidupan anak yang lebih baik.(8. Kombinasi dari ARV berikut ini dapat mengunakan: 1. Obat– obatan Antiretroviral (ARV) bukanlah suatu pengobatan untuk HIV/AIDS tetapi cukup memperpanjang hidup dari mereka yang mengidap HIV.10.8.

(12) Gambar 6. (12-13) Hal ini dapat dijelaskan karena sperma ayah yang menderita HIV tidak mengandung virus. yang mengandung virus adalah air mani. HIV tidak 19 . Jadi bila ibu memiliki HIV (-). Contoh obat ini adalah Stavudin (d4T). Lamivudin (3TC). Obat–obatan NNRTI antara lain Efavirenz (EFV). Kerja Obat Antiretroviral Untuk mencegah penularan pada bayi. Oleh sebab itu. suatu enzim viral yang penting. Enzim tersebut sangat esensial untuk HIV dalam memasukan materi turunan kedalam sel–sel. Non–Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NNRTI's) memperlambat reproduksi dari HIV dengan bercampur dengan Reverse Transcriptase. yang paling penting adalah mencegah penularan pada ibunya dahulu.viral RNA menjadi viral DNA. dan Zidovudin (ZDV. Contoh obat ini antara lain adalah Nelfinavir (NFV). dan Delavirdine. AZT) 2. Status HIV ayah tidak mempengaruhi status HIV bayi. Protease Inhibitors (PI) mengtargetkan protein protease HIV dan menahannya sehingga suatu virus baru tidak dapat berkumpul pada sel tuan rumah dan dilepaskan. Nevirapine. 3. maka bayi juga tidak terinfeksi HIV. Harus ditekankan bahwa bayi hanya dapat tertular oleh ibu.

dan mungkin nevirapine dapat menimbulkan efek samping. kehamilan yang tidak diinginkan harus dicegah. kemungkinan si bayi terinfeksi dapat dikurangi jauh di bawah 8%. cara terbaik adalah dengan memakai terapi antiretroviral penuh sebelum menjadi hamil. akan tetapi nevirapine tetap dapat diberikan jika ibu tidak memiliki terapi pilihan lain. sedikitnya pada beberapa minggu pertama. Sedangkan pada bayi hanya diberikan NVP dosis tunggal + AZT saat melahirkan dengan AZT diteruskan selama 7 hari. AZT dan 3TC diteruskan setelah 20 . dan hindari menyusui untuk mencegah penularan melalui ASI. Ini akan mencegah penularan pada janin. Terapi yang sebaiknya diberikan pada ibu yaitu AZT dari hamil 28 minggu ditambah NVP dosis tunggal + AZT + 3TC saat melahirkan. setelah melahirkan bisa berhenti lagi bila masih tidak dibutuhkan. Terapi antiretroviral dapat diberikan walaupun tidak memenuhi kriteria untuk mulai terapi antiretroviral. sebaiknya si perempuan memakai ART. ada masalah dengan pemberian nevirapine pada wanita dengan CD4 yang masih tinggi: efek samping hepatotoksisitas lebih mungkin dialami oleh wanita dengan CD4 diatas 250.(12-13) Seringkali si ibu baru tahu dirinya terinfeksi setelah hamil dan seringkali juga ARV tidak terjangkau. Ibu hamil tidak boleh diberikan efavirenz pada trimester pertama. mengurangi risiko kontak cairan ibunya dengan bayi waktu lahir agar penularan tidak terjadi waktu itu. Jelas bila CD4 di bawah 200. (12) Tetapi untuk ibu yang sudah terinfeksi. Hal ini menekankan pentingnya kita menghindari infeksi HIV pada perempuan. Seperti yang telah dibahas. Bila kehamilan terjadi. WHO mengusulkan ibu hamil dengan penyakit stadium klinis 3 dan CD4 di bawah 350 ditawarkan ART. Dengan semua upaya ini. AZT + 3TC diteruskan selama 7 hari. Selain itu. atau mengalami penyakit stadium klinis 4.000 agar bayi tidak tertular dalam kandungan. ibu hamil tidak boleh memakai efavirenz pada trimester pertama. bila nevirapine diberikan pada perempuan dengan CD4 di atas 250. Jadi dibutuhkan pemantauan yang lebih ketat. (12-13) Namun ada sedikit keraguan dengan rejimen yang diberikan. harus ada usaha mengurangi viral load ibu di bawah 1.dapat ditularkan sperma. (1213) Pedoman baru dari WHO melonggarkan kriteria terapi antiretroviral untuk ibu hamil.(12-13) Untuk mengurangi viral load ibu.

intrapartum. jadi jika tidak ditambah dengan AZT dan 3TC terapi serupa dengan monoterapi dengan NVP.melahirkan untuk mencegah timbulnya resistansi pada NVP. bukan tujuh hari. Persalinan terencana dapat dilakukan sebelum 38 minggu untuk mengurangi kemungkinan pecahnya selaput ketuban. AZT pada bayi sebaiknya diteruskan selama empat minggu. Hal ini dilakukan tanpa memandang apakah ibu sedang atau belum mendapat terapi ARV. American College of Obstetricians and Gynecologists (2000) menyimpulkan bahwa seksio sesarea terencana harus dianjurkan bagi ibu yang terinfeksi HIV dengan jumlah RNA HIV-1 lebih dari 1000/ml. dan neonatal juga diberikan terapi ARV dan dilakukan seksio sesarea.(14) Berdasarkan temuan ini. Apabila pada masa prenatal. tingkat NVP dapat tetap tinggi dalam darah untuk beberapa hari. kemungkinan penularan vertikal akan berkurang sebesar 87 %. karena walaupun hanya satu pil diberikan waktu persalinan. Bila ibu diberikan AZT untuk kurang dari empat minggu sebelum melahirkan.(13) Internasional Perinatal HIV Group (1999) melaporkan penularan HIV vertikal secara bermakna menurun menjadi kurang dari separuh apabila dilakukan seksio sesarea dibandingkan dengan partus pervaginam.(14) 21 .

kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan konfirmasi yang biasanya dengan memakai metoda Western Blot.Terdiri dari HIV-1 dan HIV-2. Meskipun beberapa tes dapat mendeteksi HIV di tubuh bayi pada usia dini. Namun risiko penularan lebih tinggi pada saat persalinan. tes tersebut (seperti tes PCR) belum secara luas tersedia di Indonesia. genus lenti virus. Yang paling mempengaruhi adalah viral load (jumlah virus yang ada di dalam darah) ibunya. Ada beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan bayi terinfeksi HIV. ELISA yang sangat sensitif dan 22 . Namun.BAB III KESIMPULAN HIV/AIDS adalah suatu sindrom defisiensi imun yang ditandai oleh adanya infeksi oportunistik dan atau keganasan yang tidak disebabkan oleh defisiensi imun primer atau sekunder atau infeksi kongenital melainkan oleh human immunodeficiency virus. Adapun pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah pemeriksaan serologi HIV. Pemeriksaan antibodi HIV paling banyak menggunakan metoda ELISA/EIA (enzyme linked immunoadsorbent assay). Saat ini masih belum diketahui secara persis bagaimana HIV menular dari ibu ke bayi.Penyebab dari virus ini adalah dari retrovirus golongan retroviridae. karena bayi tersentuh oleh darah dan cairan vagina ibu waktu melalui saluran kelahiran. kebanyakan penularan terjadi saat persalinan. Pemeriksaan ELISA harus menunjukkan hasil positif 2 kali (reaktif) dari 3 test yang dilakukan. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis adalah yang dapat menemukan virus atau partikelnya dalam tubuh seorang bayi.

Hadinegoro SR. Sudoyo AW. 6 th ed. Dalam: Pratomo H. Ikatan Dokter Anak Indonesia.cdc. Jakarta: Pusat Penelitian Penyakit Menular. Garna H. Available at: http://www. Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis.int/gho/hiv/en/. Syam AF. Garna H. Leveno KJ. Leveno KJ.I. editors.pdf. 2016. HIV/AIDS di Indonesia. Obstetri Williams. Cara terbaik untuk memastikan bahwa bayi dari ibu hamil dengan HIV (+) tidak terinfeksi dan tetap sehat adalah dengan memakai terapi antiretroviral (ART). In: Setiawi S. CDC. Available at: th http://www. Hauth JC. Djoerban Z. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Gilstrap LC. 13-6. 6.gov/hiv/pdf/statistics_surveillance_epi-hiv-infection. In: Soedarmo SS. 3. Penyakit Menular Seksual. Gant NF.75. Wenstrom KD. et al. accessed on: January 5 . Saat ini sudah terjadi pergeseran dari fokus yang semata-mata untuk melindugi janin menjadi pendekatan yang lebih berimbang berupa pengobatan ibu dan janinnya.Western Blot yang sangat spesifik mutlak dilakukan untuk menentukan apakah seseorang positif AIDS. Pemeriksaan Laboratorium untuk HIV. Konseling merupakan keharusan bagi wanita dengan HIV (+). Faktor risiko penularan HIV dari ibu ke bayi. Gilstrap LC. Statistics surveillance HIV infection. 2nd ed. DAFTAR PUSTAKA 1. 2. UNAIDS report global AIDS epidemic 2013. Satari HI. Setiyohadi B. Global Health Observatory (GHO) data:HIV-AIDS. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Available at: http://www. 2006. Soedarmo SS. Jakarta: Interna Publishing. 8. 2006. Jakarta: EGC. 1677–78.243–47. Hadinegoro SR. Simadibrata M. Lubis I. Alwi I. Dalam: Cunningham FG. 2016. editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 5.org/sites/default/files/media_asset/UNAIDS_Global_Report_2013 _en_1. (eds). Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan R. 2008. Gant NF.p. Hal ini sebaiknya dilakukan pada awal kehamilan. perlu diberikan konseling berkelanjutan. Hauth JC. 23 . dalam AIDS pada Cermin Dunia Kedokteran No. 887-95. Satari HI. 2014.unaids. Human Imunodeficiency Virus. 1992. Wenstrom KD. Accessed on: January 6th. 4.who. 2016. dan apabila wanita hamil dengan HIV (+) memilih untuk melanjutkan kehamilannya.pdf. Pedoman pencegahan penularan HIV dari ibu dan bayi. 7. Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Djauzi S. Cunningham FG.p. accessed on: January 5th.

com/article/211316-overview#a5. et al. Weiss R. Tobin J. 12. 2016.net. BMC Public Health J 2015. Activation of persons living with HIV for treatment. New England Journal 2014.medscape. 2008:1. Available at: http://emedicine. Jakarta. Dalam: Green WC (eds). 24 . editor. Limpongsanurak S. kehamilan. accessed on: January 7th. Efficacy and safety of caesarean delivery for prevention of mother-to-child transmission of HIV-1. the great study.15: 1-9. 10.9. Latar belakang dan masalah umum.2009:4-6. 14. Immunotherapy for HIV Infection. Fiscella K. Green WC. 2016. Kebijakan PMTCT Indonesia: PMTCT. Yayasan spiritia. 11. In: Bronze MS. dan kesehatan perempuan. 13. Available at: http://apps.370: 379-80.int/rhl/hiv_aids/slcom/en/. Jaringan pencegahan HIV dari ibu ke anak. accessed on: January 5th. Bennet NJ. HIV.who. HIV Disease.