Anda di halaman 1dari 34

Induksi

Persalinan

Arif oktavian (201210401011057)
Asadullah (201210401011061)

• Mengantisipasi hasil yang berlainan sehubungan dengan
kelanjutan kehamilan
• Untuk menimbulkan aktifitas uterus yang cukup untuk
perubahan serviks dan penurunan janin tanpa meyebabkan
hiperstimulasi uterus atau komplikasi janin
• Agar terjadi pengalaman melahirkan yang alami dan seaman
mungkin dan memaksimalkan kepuasan ibu

Tujuan Induksi

Inisiasi aktivitas uterus dan perubahan serviks dengan
penurunan janin secara farmakologis atau cara lain pada
wanita yang sedang tidak dalam keadaan bersalin.

Definisi Induksi

• Pematangan serviks secara farmakologis atau cara lain • Bukan semata menginduksi persalinan tapi untuk meningkatkan keberhasilan dari induksi Pematangan Serviks .

• • • • • • • • Semua kontra indikasi utk persalinan Plasenta previa/vasa previa/tali pusat menumbung Presentasi/letak bayi abnormal Insisi T terbalik pada uterus sebelumnya Infeksi herpes genital yang aktif Kelainan bentuk pelvis Karsinoma serviks Kontraindikasi Induksi .

didiskusikan dan di catat Indikasi untuk Induksi .• Bila risiko melanjutkan persalinan terhadap ibu dan janin lebih besar daripada risiko induksi dan melahirkan • Harus meyakinkan. beralan .

• Hipertensi gestasional yang berat • Diduga komplikasi janin yang akut • Pertumbuhan Janin Terhambat (IUGR) yang berat • Penyakit maternal yang bermakna dan tidak respon dengan pengobatan • Antepartum Haemorrhage yang bermakna • Korioamnionitis Indikasi .Darurat .

• • • • KPD saat aterm atau dekat aterm PJT tanpa bukti adanya komplikasi akut DM yang tidak terkontrol Penyakit iso-imun saat aterm atau dekat aterm Indikasi – Segera (urgent) .

• • • • • Kehamilan ‘post-term’ DM terkontrol baik Kematian intrauterin pada kehamilan sebelumnya Kematian janin Problem logistik (persalinan cepat. jarak ke rumah sakit) Indications – Tidak segera ( NonUrgent ) .

dengan tidak adanya indikasi ibu dan janin. tidak dapat dilakukan Indications .Induksi elektif • Induksi.BUKAN .

• • • • Kegagalan untuk mencapai Persalinan Hiperstimulasi uterus dengan komplikasi janin Hiperstimulasi uterus dengan ruptur uterus Meningkatkan risiko SC Risiko Induksi .

Metode Induksi Persalinan Kemungkinan keberhasilan persalinan pervaginam MOST MOST favourable cervix unfavourable cervix LEAST multipara previous vaginal delivery nullipara previous C/S LEAST .

• Jika percobaan induksi tidak mencapai kemajuan reevaluasi indikasi dan cara induksi .

• Metode induksi termasuk dengan cara mekanik dan farmakologis • Pilihan terbaik tergantung pada skor serviks (serviks unfavourable bila skor bishop < 6). .

30 40 .Sistim Skor Bishop • ≥ 6 : INDUKSI OXYTOCIN • < 6 : MEMATANGKAN SERVIKS DENGAN MISOPROSTOL Skor Faktor 0 1 2 3 Dilatasi (cm) 0 1-2 3-4 >5 Pendataran (%) 0 .70 > 80 Konsistensi Firm Medium Soft Posisi Posterior Mid Anterior Station Sp -3 or above Sp -2 Sp -1 or 0 Sp +1 or lower .50 60 .

• Stripping of membranes • Pematangan serviks • • • • laminaria / artificial tents Foley catheter Prostaglandin (intraserviks atau vaginal) Amniotomi atau oksitosin Induksi Persalinan .Unfavourable Cervix .

Prosedur pemeriksaan dalam jari dimasukkan sampai ke internal ostium serviks lakukan gerakan memutar meimisahkan selaput amnion dari segmen bawah uterus pelepasan prostglandin lokal F2alfa inisiasi aktifitas uterus Stripping of membranes .

• Menyebabkan pelunakan dan pendataran serviks • Ini dapat menyebabkan amniotomi yang dini • Metode ini efektif dengan cara memproduksi prostaglandin lokal bersamaan dengan dilatasi langsung • Lebih sedikit hipertonus dan abnormalitas nilai DJJ dibanding secara farmakologis Secara mekanik dengan kateter dan batangan .

Sediaan vaginal : • • • • Lebih mudah diberikan Lebih mudah di pindahkan Lebih sedikit kemungkinan diletakkan di ekstra amnion Lebih sedikit meyebabkan ketidaknyamanan pasien Sediaan Prostaglandin .

• Kontraksi miometrium • serviks • Menyebabkan pemecahan kolagen dan deposit proteoglikan • vasodilator • bronkodilator • Efek motilitas GI dan sekresi Prostaglandin E2 .

• intraserviks (Prepidil ) • prostaglandin E2 0. rata rata hanya diperlukan 2 kali intravaginal.5 mg dalam saluran serviks • vaginal (Prostin E2 vaginal gel ) • prostaglandin E2 1 atau 2 mg dalam fornix posterior • vaginal (Cervidil vaginal insert ) • prostaglandin E2 10 mg into dalam fornix posterior • Tersedia MISOPROSTOL(PGE1). dosis 25ug/6jam. Prostaglandin E1 dan E2 – Cara dan Dosis .

ulangi bila perlu atau pilih cara induksi alternatif yang lain Pedoman Penggunaan Untuk PGE . nilai ulang.• • • • Pemasukan di rumah sakit oleh pemberi berpengalaman Di monitor secara benar untuk DJJ dan aktifitas uterus Jika persalinan terjadi di tatalaksana secara sesuai Jika tidak ada persalinan.

• • • • • Menigkatkan penerimaan pasien Menurunkan angka persalinan operatif Kebutuhan berkurang untuk induksi dengan oksitosin Dapat digunakan pada KPD Pertimbangan harga Prostaglandin E Keuntungan .

deselarasi lambat serta bradikardia) • nausea. diare • Sediaan jel susah untuk dipindahkan Prostaglandin E Kerugian .• Efek samping • Hiperstimulasi (takisitole yang menyebabkan pola DJJ yang non reaktif: deselerasi variabel berulang berat. vomiting.

• Hindari menempatkan PG dekat ke myometrium • Gunakan dengan hati2 pada pasien dengan SC sebelumnya • Jangan diulangi lebih sering dari setiap 6 jam • Tunggu 6 jam sebelum infus oksitosin diikuti dengan jel • Dapat dimulai 30 menit setelah misoprostol di keluarkan • Tidak digunakan untuk augmentasi Waspada dengan Prostaglandin .

• Stripping of membranes • Amniotomi • Oksitosin • Vaginal prostaglandin Induksi persalinan Favourable Cervix .

• • • • Menyebabkan persalinan Efektif bila serviks sudah matang Sering dilakukan bersamaan dengan oksitosin Hati2 pada kasus2 presentasi yang masih tinggi ( resiko prolapsus tali pusat) Amniotomi .

tidak ada efek langsung • vasoaktif • Kemungkinan hipotensi dengan pemberian iv bolus • antidiuretik • Kemungkinan intoksikasi air dengan oksitosin dosis tinggi Efek oksitosin .• Kontraksi miometrium • serviks .

• Serviks musti sudah matang (favourable) • Pemberi yang berpengalaman dan adanya sarana untuk operasi SC • Auskultasi atau monitoring fetal tergantung pada indikasi • Pemberian • intravenous • Konsentrasi bermacam tapi hindari pemberian cairan yang banyak Pedoman Oksitosin .

maka tetesan tersebut dipertahankan sampai terjadi persalinan. ulangi persalinan anjuran dengan selang waktu 24 sampai 48 jam atau lakukan opersai seksio sesarea. dan mulai dengan 8 tetes. Kenaikan tetesan setiap 15 menit sebanyak 4 sampai 8 tetes sampai kontraksi optimal tercapai. .• Persalinan anjuran dengan infus oksitosin dalam 500 cc glukosa 5% • Teknik induksi dengan infus glukosa lebih sederhana. Apabila terjadi kegagalan. Bila dengan 30 tetes kontraksi maksimal telah tercapai. dengan maksimal 40 tetes/menit.

5 mg Uterus hipertonik .• Hentikan oksitosin jika sedang diberikan • intravenous bolus • Persiapkan persalinan darurat • Pertimbangkan pemberian preparat tokolitik • Isosorbid dinitrat (ISDN) 5 mg sublingual • Terbutaline tab 2.

beri oksitosin bolus post partum ( oksitosin 10 units I.M.• Jika oksitosin digunakan pada persalinan. 20 units 1L 100 cc/hr untuk 2 jam atau lebih ) Perhatian postpartum . HPP dapat timbul • Pada setiap pasien yang di induksi .

• Alasan untuk induksi harus jelas. meyakinkan dan tercatat • risiko dan keuntungan harus didiskusikan dengan pasien • Keinginan pasien harus dipertimbangkan • Matangkan serviks sebisa mungkin • Cocokkan cara dengan kebutuhan dan status serviks • Jangan gunakan oksitosin bila serviks tidak matang ( unfavourable) • Jangan yakin berlebihan dengan kemampuan sendiri Kesimpulan .

.happy baby + happy mom + vaginal delivery TERIMA KASIH….