Anda di halaman 1dari 3

OSTEOMYELITIS KRONIS

Osteomyelitis akut dan kronis sebenarnya tidak jauh berbeda, hanya saja
osteomyelitis kronis lebih menekankan pada proses infeksi yang lebih bertahan
lama dan berulang karena tulang yang sudah nekrotik akan lebih mudah menjadi
sumber infeksi mikroorganisme sehingga bisa kambuh lagi . Osteomeylitis tidak
akan bisa sembuh tanpa menyingkirkan tulang yang sudah nekrotik.
Manifestasi klinis
a. Tanda dan gejala
Jika osteomyelitis kronis kambuh akan tampak seperti selulitis
pada kulit tulang yang terinfeksi sebelumnya atau bisa juga berbentuk
abses. Abses ini akan menjadi awal terbentuknya rongga yang menetap
dan lama kelamaan akan terbentuk saluran. Jika tidak diobati luka drainase
itu akan terbentuk cairan serous atau purulen.
b. Laboratorium
Hasil kultur mikorganisme kurang bisa membedakan mana bakteri
patogen penyebab dan bakteri lainnya. Perlu dilakukan biopsi jaringan
dengan aspirasi untuk diagnosis bakteriologi yang tepat sehingga bisa
ditentukan terapi antibiotik yang tepat untuk mikroorganisme penyebab.
Infeksi tulang kronis dapat disebabkan oleh mikobakteria atau jamur ,
sehingga kultur bakteri sangat diperlukan. pada saat kultur sebuah
spesimen yang berdekatan juga harus dikirim untuk studi histopatologi
c. Radiologi
Radiografi menunjukkan perubahan tulang yang destruktif (hancur)
dengan daerah yang dibatasi radio lusen, sklerosis , dan pembentukan
tulang baru sering perioteal atau appositional . Mungkin memerlukan CT
scan atau MRI untuk menunjukan gambaran Involucra sequestra yang
jelas . Pemeriksaan sinogram dengan media kontras larut iodinasi akan
menggambarkan tempat infeksi yang terjadi berulang-ulang. Kadangkadang, sinus yang tampaknya timbul dari pelvis berhubungan dengan
infeksi yang berasal dari saluran pencernaan atau saluran urogenital.
Differential diagnosis
Osteomyelitis kronis harus dibedakan dari tumor jinak dan ganas pada
tulang , displasia tulang , dan lecions traumatis , termasuk fraktur stres.

Komplikasi
Jika infeksi primer tidak diobati, infeksi dapat menyebar secara lokal
maupun sistemik. Setelah dilakukan debridemen biasanya akan terjadi fraktur
patologis, deformitas tulang, nonunion , malunion , kekakuan atau ankilosis sendi
yang berdekatan sehingga menyebabkan hilangnya fungsi . Amputasi mungkin
diperlukan untuk mengendalikan infeksi dan operasi yang berulang . Setelah
adanya drainase yang bertahun-tahun , saluran sinus biasanya akan mengalami
keganasan,hal ini harus dicurigai jika ada peningkatan rasa sakit pada osteomelitis
lama.
Penatalaksanaan
a. Terapi konservatif
Osteomelitis kronik yang stabil tidak memerlukan perawatan khusus ,
pasien dapat menjalani kehidupan secara normal. Pembalutan secara
ringan sudah cukup ditambah dengan drainase.
b. Perawatan medis
Jika timbul gejala yang lebih parah maka lakukan istirahat dengan
meninggikan anggota tubuh yang terlibat, obat analgesik jika
dibutuhkan, dan antibiotik sistemik yang dianjurkan. Pemilihan
antibiotik dapat disesuaikan dengan hasil kultur dan uji sensitivitas
bakteri. Pada fase awal kekambuhan, tanpa abses atau saluran sinus,
langkah-langkah ini saja dapat menjadi resolusi yang cepat, meskipun
hanya bersifat sementara. Durasi optimal pengobatan antibiotik untuk
osteomielitis kronis masih belum jelas.
Beberapa penelitian merekomendasikan hanya diperlukan waktu yang
singkat yaitu selama eksaserbasi akut dan prosedur bedah. Sedangkan
opini kalangan ahli penyakit menular merekomendasikan hanya 4-6
minggu, meskipun hasil regimen ini tidak terdokumentasi dengan baik.
Hal ini jelas bahwa antibiotik saja tidak memadai tanpa tambahan
debridemen. Untuk terapi ajuvan antibiotik osteomyelitis
staphylococcal kronis yaitu antibiotik oral setidaknya selama 6 bulan
c. Terapi pembedahan
Pembedahan diperlukan jika istirahat dan antibiotik tidak berhasil atau
jika drainase tidak membaik, ada kerusakan tulang. Abses pada
jaringan lunak harus di insisi dan drainase . Luka bekas insisi
dibiarkan terbuka atau tertutup dengan tabung irigasi dan dirawat
dengan baik.

Dosis antibiotik yang terus-menerus mungkin terlalu besar dan bisa


menyebabkan toksisitas. Tindakan pencegahan infeksi harus
dperhatikan dengan baik, tabung umumnya harus dibersihkan dalam
beberapa hari untuk meminimalkan risiko infeksi yang lebih berat.
Pada irigasi volume larutan antibiotik dosisnya kecil, diikuti oleh
hisap yang lama untuk mencegah akumulasi cairan dan meminimalkan
jaringan lunak yang mati . Sebagai panduan , tidak lebih dari 10-20 mL
larutan ( misalnya , 0,1 % gentamisin dalam normal saline) disuntikkan
setiap 12 jam , didiamkan di luka selama beberapa jam , dan kemudian
ditarik oleh penghisap. Tabung tunggal digunakan untuk luka kecil ,
dan tapi tabung ganda untuk luka yang lebih besar . Sistem tabung
irigasi hisap bukanlah pengganti untuk drainase bedah tetapi cukup
memadai untuk mengeluarkan
nanah dan debridemen jika
vaskularisasi buruk.
Biopsi tulang mungkin diperlukan untuk memecah sequestrum abses
pada tulang. Rongga akan terbentuk dead speace dan terisi lebih
banyak hematoma daripada jaringan yang sehat. Rongga yang dangkal
dan kemudian menebal. Alternatif yang lebih baik adalah untuk
mengisi cacat dengan cangkok otot. Baik dengan pembuluh darah lokal
atau sebagai transfer microvaskuler. Perfusi tampaknya menjadi
perawatan bedah yang paling efektif untuk osteomyelitis kronis yang
gejala masih signifikan. Debridement yang luas pada tulang sangat
diperlukan,sebagai kebutuhan untuk cangkok tulang jika fungsi dan
integritas struktural tulang dipertahankan.
Prognosis
Apapun penyebab awalnya , setelah infeksi yang melibatkan tulang telah
membaik dan stabil, dengan tulang nekrotik minimal dan jaringan parut serta
abses yang sedikit prospek jangka panjang harus tetap dijaga . Meskipun infeksi
dapat dikontrol dengan debridement yang adekuat dan pengobatan jangka panjang
dengan antibiotik , selalu ada risiko kambuh setelah beberapa tahun diam.