Anda di halaman 1dari 80

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
PT. Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDS) adalah perusahaan yang bergerak
dibidang pengerolan slab menjadi plate. PT. GDS terletak di kota Surabaya
Provinsi Jawa Timur tepatnya di jalan Margomulyo No. 29 A. PT. GDS
merupakan salah satu industri baja terkemuka di Indonesia dengan Produksi
dengan cara di roll. PT. GDS mampu menghasilkan hingga total 350.000 ton
pertahun, dan dipasok keluar Indonesia.
Di bagian produksi PT.GDS terdapat sepuluh stasiun kerja dengan
beberapa operator di setiap unitnya, yakni stasiun kerja cutting slab dengan 4
operator, 1 area reheating furnace dengan 2 operator, 1 area descaler dengan 2
operator, 1 area rolling mill dengan 2 operator, 1 area hot leveller dengan 2
operator, 1 area dividing shear dengan 2 operator, 1 area cooling bed dengan 2
operator, 14 area cutting plate dengan 26 operator, 1 area cropping & side shear
dengan 2 operator dan 1 area gudang penyimpanan plat yang telah jadi.
Risiko bahaya yang terdapat pada PT. GDS yakni kebisingan yang
terdapat pada seluruh area produksi, lingkungan kerja yang panas pada area
reheating furnace, hot leveller dan area cooling bed, risiko terkena Gram dibagian
workshop, risiko terkena semburan api pada Gas Cutting slab dan gas cutting
plate, bahaya ergonomi pada operator Gas cutting slab maupun operator Gas
cutting plate karena para operator bekerja yang berkaitan dengan mengangkat,
menurunkan, mendorong dan menarik alat kerjanya secara manual dengan

1

2

menggunakan satu atau dua tangan operator. Para operator bekerja dengan
pekerjaan manual handling.
Menurut Tarwaka (2014) pekerjaan dengan manual handling akan dapat
menyebabkan stress pada kondisi fisik pekerja seperti pengerahan tenaga, sikap
tubuh yang dipaksakan dan gerakan berulang yang dapat mengakibatkan cedera
sepert gangguan Musculoskletal ataupun gangguan tulang yang lain, energi yang
terbuang scara percuma dan waktu kerja menjadi tidak efisien.
Gangguan Musculoskletal adalah gangguan otot rangka yang disebabkan
karena otot menerima beban statis secara berulang dan terus menerus dalam
jangka waktu yang lama dan akan menyebabkan keluhan pada sendi, ligamen dan
tendon. Berdasarkan data dapertemen kesehatan RI (2006), gangguan kesehatan
yang dialam pekerja 40,5% dari pekerjaannya yaitu sebanyak 9482 pekerja di 12
kabupaten/kota di Indonesia, 16% dantaranya menderita gangguan
Musculoskletal, 8% penyakit kardiovaskuler, 6% ganguuan syaraf, dan gangguan
pernafasan sebanyak 3%.
Data ILO pada tahun 2013 menyebutkan bahwa gangguan Musculoskletal,
berada di urutan kedua penyakit akibat kerja setelah Pneumoconios. Gangguan
Musculoskletal, menyebabkan kerugian pada pekerja seperti jumlah hari yang
hilang akibat sakit dan besarnya kompensasi yang harus dikeluarkan. Menurut
ILO tahu 2007, 34% total hari kerja yang hilang karena cedera dan sakit
diakibatkan oleh Musculoskletal Disorder (MSDs)

2

3

World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa 2%-5% dari
karyawan di negara industri tiap tahun mengalami Gangguan Musculoskletal, dan
15% dari absenteisme di industri baja serta industri perdagangan disebabkan
karena Gangguan Musculoskletal. Data statistik Amerika Serikat memperlihatkan
angka kejadian sebesar 15%-20% per tahun. Sebanyak 90% kasus Gangguan
Musculoskletal bukan disebabkan oleh kelainan organik, melainkan oleh
kesalahan posisi tubuh dalam bekerja. Gangguan Musculoskletal menyebabkan
lebih banyak waktu hilang dari pada pemogokan kerja sebanyak 20 juta hari kerja
(Muheri,2010). National Academy of Science (1999) melaporkan lebih 1 juta
pekerja kehilangan jam kerjanya setiap tahun karena Gangguan Musculoskletal
menghabiskan $15 M per tahun, sedangkan jika dihitung dari biaya tidak langsung
seperti berkurangnya produktivitas, kehilangan pelanggan dan pergantian
karyawan, maka total biaya yang dikeluarkan per tahunnya mencapai $1 triliun
atau sekitar 10% dari Gross Domestic Product Amerika (Melhorn & Wilkinson,
2008).
MSDs dalam suatu industri seringkali kurang mendapat perhatian dan
dianggap sepele oleh pihak manajemen atau pengelola, bahkan di beberapa
perusahaan masih ada yang belom memahami apa saj yang menjadi faktor-faktor
penyebabnya, sehingga resiko MSDs dapat timbul di suatu perusahaan tanpa
disadari, padahal hal lain secara sadar ataupun tidak akan berpengaruh terhadap
produktivitass, efisiensi dan efektivitas pekerja dalam menyelesaikan
pekerjaannya, dan dapat menganggu kesehatan pekerja (Rohjani,2003)

3

4

Menurut NIOSH (1997) yang dimaksud dengan Muskuloskletal disorders
(MSDs) adalah sekelompok kondisi patologis yang mempengaruhi fungsi normal
dari jaringan halus sistem muskulosletal yang mencakup sistem syaraf, tendon,
otot, san struktur penunjang lain, MSDs dapat berupa peradangan dan penyakit
degeneratif yang menyebabkan melemahnya fungsi tubuh. Gangguan sistem
muskuloskletal ini hampir tidak pernah terjadi secara langsung, tetapi lebih
merupakan akumulasi dari benturan-benturan kecil maupun besar yang terjadi
terus menerusdan dalam waktu yang relatif lama. Hal ini bisa terjadi dalam
hitungan hari, bulan, atau tahun, tergantung dari berat ringannya trauma, sehingga
akan membentuk cidera yang cukup besar yang diekspresikan sebagai rasa sakit
atau kesemutan, nyari tekan, pembengkakan dan gerakan yang terhambat atau
kelemahan pada jaringan atau anggota tubuh yang terkena trauma. Trauma timbul
jaringan karena kronisitas atau berulang-ulang proses penyebabnya.
MSDs dapat menjadi suatu permasalahan penting karema dapat
menyebabkan antara lain aktu yang hilang, menurunkann produktivitas kerja,
penanganannya membutuhkan biaya yang tinggi, penurunan kewaspadaan,
meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan (Bird, 2005). Macam-mcam gejala
kesehatan dirasakan oleh pekerja disebabkan faktor risiko MSDs yang memanajan
tubuhnya. Tiap bagian tubuh memiliki risiko ergonomi dan gangguan kesehatan
yang dapat melemahkan fungsi tubuh dan menurunkan kinerja pekerja, bagianbagian tubuh seperti lengan, leher, bahu, puggung, dan kaki merupakan bagian
tubuh yang sering digunakan pekerja dalam melakukan pekerjaannya (NIOSH,
2007).

4

3. dan kebiasaan merokok) pada operator gas cutting plate di PT.3. Tujuan Khusus 1. maka penelti tertarik untuk melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran nyeri Muskuloskeletal Disorders(MSDs) pada operator gas cutting plate di PT. Gunawan Dianjaya Steel Tbk 2. Gunawan dianjaya Steel Tbk Surabaya.4 MANFAAT 5 . Gunawan dianjaya Steel Tbk Surabaya.2 RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas. Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan serta belum pernah dilakukannya identifikasi permasalahan MSDs di PT.5 Dari hasil wawancara penulis dengan 7 orang operator Gas Cutting Plate. 1. Mengidentifikasi karakteristik responden (umur. rumusan masalah adalah sebagai berikut : Bagaimanakah gambaran keluhan nyeri Muskuloskeletal Disorders(MSDs) pada operator gas cutting plate di PT. status Gizi. 5 orang diantaranya mengeluhkan adanya rasa nyeri. 1. Tbk Surabaya? 1.2.3 TUJUAN 1. Keluhan yang dirasakan adanya rasa nyeri di bagian pingang dan bagian leher bagian atas. Tujuan Umum Menggambarkan Keluhan Nyeri Muskuloskeletal Disorders (MSDs) pada operator gas cutting plate di PT. Gunawan Dianjaya Steel Tbk Surabaya. Mengidentifikasi keluhan Muskuloskeletal Disorders (MSDs) pada operator gas cutting plate di PT.1. Gunawan Dianjaya Steel Tbk Surabaya. Gunawan dianjaya Steel. lama bekerja. 1.

2 Bagi Program Studi S2 K3 Terbinanya suatu jejaring kerjasama antara institusi tempat residensi dalam upaya meningkatkan keterkaitan dan kesepadanan (link and match) antara substansi akademik dengan kompetensi yang dibutuhkan di tempat kerja. 6 . 3. Pengembangan kemitraan antara FKM UNAIR dengan PT. 1.4. Memperoleh masukan tentang pemecahan masalah yang ada dengan PT. Mahasiswa dapat berhadapan langsung dengan berbagai permasalahan dalam bidang kesehatan dan keselamatan kerja di lingkungan kerja. Mahasiswa mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang lebih aplikatif dalam bidang kesehatan masyarakat. Mahasiswa mendapatkan pengalaman bekerja dalam tim untuk memecahkan suatu permasalahan. 1. 3.3 Bagi Perusahaan/Institusi 1.6 Kegiatan residensi ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terkait di dalamnya. 2. 4. Gunawan Dianjaya Steel Tbk untuk kegiatan penelitian dan pengembangan di bidang K3. Gunawan Dianjaya Steel Tbk terkait masalah Kesehatan dan Keselamatan kerja.4.4. 1. Memperoleh gambaran tentang permasalahan Keluhan Nyeri Muskuloskeletal Disorders (MSDs) pada Operator gas cutting plate sehingga dapat merencanakan program pengendalian di perusahaan. 2. Mahasiswa menjalin hubungan langsung dengan personal di dunia kerja sebagai bekal jejaring sosial di kemudian hari.1 Bagi Mahasiswa 1.

7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7 .

MSDs merupakan sekumpulan gejala/gangguan yang berkaitan dengan jaringan otot. Menurut National Safety Council (2002). sistem syaraf. Menurut OSHA (2002). Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Pada beberapa 8 . dan pembuluh darah. tendon. panas/terbakar. bengkak. MSDs juga bisa diartikan sebagai gangguan fungsi normal dari otot. tendon. dingin dan rasa tidak nyaman. gemetar. MSDs adalah cidera atau penyakit pada sistem syaraf atau jaringan seperti otot. sehingga membentuk kerusakan cukup besar untuk menimbulkan rasa sakit. gangguan tidur. dan rasa terbakar. kartilago. pembuluh darah. ligament. nyeri. tulang rawan ataupun pembuluh darah. tulang dan ligament akibat berubahnya struktur dan berubahnya sistem muskuloskeletal. kekakuan. struktur tulang. tulang sendi. MSDs bukanlah diagnosis klinis. saraf. mati rasa. kesemutan. Rasa sakit akibat MSDs dapat digambarkan seperti kaku. 2003). ligament. Keluhan muskuloskeletal adalah keluhan pada bagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan ringan hingga keluhan yang terasa sangat sakit (Humantech.1 Musculoskeletal Disorders (MSDs) Menurut Humantech (1995) Musculoskeletal Disorders (MSDs) adalah kelainan yang disebabkan penumpukan cidera atau kerusakan kecil-kecil pada sistem muskuloskeletal akibat trauma berulang yang setiap kalinya tidak sempat sembuh secara sempurna. mati rasa. tidak fleksibel. kesemutan. MSDs pada awalnya menyebabkan rasa sakit. melainkan rasa nyeri karena kumpulan cedera pada sistem muskuloskeletal ekstremitas atas akibat gerakan kerja biomekanik berulang-ulang. tendon.8 2.

9 . rasa tidak nyaman. terasa dingin. dan rasa sakit yang membuat terjaga di tengah malam dan rasa untuk memijit tangan. dan lengan. Repetitive Strain Injuries (RSIs) c.9 negara. Wear and Tear Disorders g. Overuse Syndrome f. bengkak dan kaku. rasa kaku dan retak pada sendi. c. Neck and Limb Disorders e. rasa panas. 1993): a. Leher dan punggung terasa kaku Bahu terasa nyeri. rasa terbakar ataupun tidak kuat. gejala-gejala MSDs yang biasa dirasakan oleh seseorang adalah: a. f. panas. mati rasa. Tangan dan pergelangan tangan merasakan gejala sakit atau nyeri disertai bengkak. sehingga sulit untuk menentukan derajat keparahan penyakit tersebut. diantaranya (NIOSH. Occupational Overuse Syndrome d. digunakan istilah yang berbeda-beda untuk menggambarkan kejadian MSDs tersebut. rasa lemas atau kehilangan daya dan koordinasi tangan. Menurut Suma’mur (1996). pergelangan. Mati rasa. d. gejala MSDs biasanya sering disertai dengan keluhan yang sifatnya subjektif. MSDs ditandai dengan beberapa gejala yaitu sakit. kemerahan. nyeri. kaku ataupun kehilangan fleksibelitas Tangan dan kaki terasa nyeri seperti tertusuk. agak sukar bergerak. Cumulative Trauma Disorders (CTDs) b. Occupational Cervico Bracial Disorders (OCD) Menurut Humantech (1995). b. e. bengkak. Siku ataupun mata kaki mengalami sakit.

Kaki dan tumit merasakan kesemutan. namun rasa sakit pada otot masih terus berlanjut. kaku dan kehilangan kekuatan serta kehilangan kepekaan. h. Tidak mengganggu kapasitas kerja. namun demikian keluhan tersebut akan segera hilang apabila pembebanan dihentikan. b. Jari menjadi kehilangan mobitasnya. Keluhan muskuloskeletal adalah keluhan pada bagian-bagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan sangat ringan sampai sangat sakit. Selain itu. ligament.10 g. Apabila otot menerima beban statis secara berulang dan dalam waktu yang lama. 1993). 2) Tahap 2 10 . kaku ataupun sensasi rasa panas. yaitu keluhan otot yang terjadi pada saat otot menerima beban statis. Keluhan hingga kerusakan inilah yang biasanya diistilahkan dengan keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) atau cedera pada sistem muskuloskeletal (Grandjean. dingin. yaitu: a. Secara garis besar keluhan otot dapat dikelompokkan menjadi dua. Keluhan menetap (persistent). menurut Humantech (1995). keluhan yang menggambarkan keparahan penyakit MSDs terbagi menjadi: 1) Tahap 1 Nyeri dan kelelahan pada saat bekerja tetapi setelah beristirahat yang cukup tubuh akan pulih kembali. akan dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi. yaitu keluhan otot yang bersifat menetap. Walaupun pembebanan kerja telah dihentikan. Keluhan sementara (reversible). dan tendon.

11 . nyeri dirasakan saat bekerja. Postur dapat diartikan sebagai konfigurasi dari tubuh manusia.Secara alamiah postur tubuh dapat terbagi menjadi: a) Statis Postur kerja statis didefinisikan sebagai postur kerja isometris dengan sangat sedikit gerakan sepanjang waktu kerja sehingga dapat menyebabkan beban statis pada otot. saat melakukan gerakan yang repetitif. khususnya otot pinggang. tidur terganggu. Faktor risiko yang biasanya muncul memberikan kontribusi terhadap timbulnya MSDs dapat dikategorikan dalam 3 kategori yaitu ( Bridger. dan sedikit mengurangi performa kerja. 1991). yang meliputi kepala. punggung.1995) a. istirahat. dan tulang belakang (Pheasant.11 Keluhan rasa nyeri tetap ada setelah waktu semalam. Faktor Pekerjaan 1) Postur kerja Postur tubuh dapat didefinisikan sebagai orientasi relatif dari bagian tubuh terhadap ruang. dan kesulitan dalam menjalankan pekerjaan yang pada akhirnya akan mengakibatkan terjadinya inkapasitas. 3) Tahap 3 Rasa nyeri tetap ada walaupun telah istirahat. seperti duduk terus-menerus atau posisi kerja berdiri terus-menerus (Bernard et al. Untuk melakukan orientasi tubuh tersebut selama beberapa rentang waktu dibutuhkan kerja otot untuk menyangga atau menggerakkan tubuh. timbul gangguan tidur. 1997).

Posisi tubuh yang senantiasa berada pada posisi yang sama dari waktu ke waktu secara alamiah akan membuat bagian tubuh tersebut stres (Bridger. 2003). Dengan keadaan statis suplai nutrisi kebagian tubuh akan terganggu begitupula dengan suplai oksigen dan proses metabolisme pembuangan tubuh.12 Pada postur statis persendian tidak bergerak. dan beban yang ada adalah beban statis. aliran darah.1 Perbandingan Kebutuhan Otot pada Postur Statis dan Dinamis Otot Dinamis Otot Statis Kontraksi otot secara terus menerus Pergantian fase konstruksi dan Aliran darah ke otot berkurang Relaksasi Aliran darah ke otot bertambah Produksi energi bersifat oksigen Produksi energi bersifat oksigen 12 . b) Dinamis Stres akan meningkat ketika posisi tubuh menjauhi posisi normal tersebut. Perbedaan antara postur statis dan dinamis juga dapat dilihat dari kerja otot. Pekerjaan yang dilakukan secara dinamis menjadi berbahaya ketika tubuh melakukan pergerakan yang terlalu ekstrim sehingga energi yang dikeluarkan otot menjadi lebih besar atau tubuh menahan beban yang cukup besar sehingga timbul hentakan tenaga yang tiba-tiba dan hal tersebut dapat menimbulkan cedera. oksigen dan energi yang dikeluarkan pada kedua jenis postur tersebut. Berikut perbandingan kebutuhan otot pada postur statis dan dinamis menurut Bridger (2003) : Tabel 2.

13 independen Glikogen otot diubah menjadi asam laktat. (2) Postur janggal Merupakan postur yang disebabkan oleh keterbatasan tubuh seseorang untuk membawa beban dalam jangka waktu yang lama dan dapat menyebabkan terjadinya berbagai akibat yang merugikan tubuh seperti kelelahan otot. serta tidak menimbulkan keluhan. semakin kecil objek semakin baik agar dapat diletakkan sedekat mungkin dari tubuh (Nursatya. 2008). 1991) : (1) Postur netral Merupakan postur ketika seseorang sedang melakukan proses pekerjaannya sesuai dengan struktur anatomi tubuh seseorang dan tidak terjadi penekanan atau pergeseran tubuh pada bagian penting tubuh. berat hanyalah salah satu aspek dari beban terhadap tubuh. Ukuran objek yang dapat membebani otot pundak/bahu dengan leher lebih dari 300-400 mm. rasa nyeri. serta menjadi tidak tenang. panjang lebih dari 350 mm dan ketinggian lebih dari 13 . beban maksimal yang diperbolehkan untuk diangkat oleh orang dewasa yaitu 23-25 kg untuk pengangkatan single (tidak berulang). Dependen Glikogen otot=CO2 + H2O otot mengambil glukosa dan asam lemak dari darah Sumber: Bridger (2003) Untuk jenis bentuk postur tubuh terdiri dari (Pheasant. beban menunjuk kepada tenaga. Bentuk dan ukuran objek ikut mempengaruhi hal tersebut. 2) Beban Istilah beban tidak sama dengan berat. Dalam penilaian risiko.

Beberapa penelitian menemukan dugaan adanya hubungan antara meningkatnya level atau durasi pajanan dan jumlah kasus MSDs pada bagian leher. didapatkan hasil bahwa pekerjaan dengan beban dan tingkat pengulangan yang rendah. semakin besar pula tingkat resikonya. 3) Durasi Menurut NIOSH (1997). 1997). dan pekerjaan dengan tingkat beban dan peanggulangan yang tinggi. Beban dapat diartikan sebagai muatan (berat) dan kekuatan pada struktur tubuh. Durasi dapat dilihat sebagai menit-menit dari jam kerja/hari pekerja terpajan resiko.14 450 mm (Idem). Secara umum. Durasi dibagi sebagai berikut: 14 . durasi merupakan jumlah waktu dimana pekerja terpajan oleh faktor resiko. atau dinyatakan sebagai sebuah proporsi dari kapasitas kekuatan individu (NIOSH. Pada sebuah penelitian cross sectional. semakin besar pajanan durasi pada faktor risiko. Pembebanan fisik pada pekerjaan dapat mepengaruhi terjadinya kesakitan pada muskuloskeletal tubuh. 1999). Satuan beban dinyatakan dalam newton atau pounds. memiliki kasus muskuloskeletal yang lebih sedikit. Semakin berat beban maka semakin singkat waktu pekerjaan (Suma’mur 1989). Durasi adalah jumlah waktu terpajan faktor resiko. Pembebanan fisik yang dibenarkan adalah pembebanan yang tidak melebihi 30-40% dari kemampuan kerja maksimum tenaga kerja dalam 8 jam sehari dengan memperhatikan peraturan jam kerja yang berlaku. memiliki angka kesakitan muskuloskeletal 30 kali lebih besar (Kumar.

terjadilah kelelahan otot (Bird. Sepanjang otot mengalami kontraksi. jika kekuatan digunakan kurang dari 20% kekuatan maksimum maka kontraksi akan berlangsung terus untuk beberapa waktu. Lamanya waktu kerja (durasi) berkaitan dengan keadaan fisik tubuh pekerja. menurut Humantech (1995). kemampuan tubuh akan menurun dan dapat menyebabkan kesakitan 15 . pekerjaan yang menggunakan otot yang sama untuk durasi yang lama dapat meningkatkan potensi timbulnya fatigue dan menyebabkan MSDs. Sedangkan untuk durasi aktivitas dinamis selama 4 menit atau kurang seseorang dapat bekerja dengan intensitas sama dengan kapasitas aerobik sebelum beristirahat (Grandjean. Durasi terjadinya postur janggal yang beresiko bila postur tersebut dipertahankan lebih dari 10 detik atau postur kaki bertahan selama lebih dari 2 jam sehari. Pekerjaan fisik yang berat akan mempengaruhi kerja otot. sistem pernafasan dan lainnya.15 a) Durasi singkat : < 1 jam/hari b) Durasi sedang : 1-2 jam/hari c) Durasi lama : > 2 jam/hari Risiko fisiologis utama yang dikaitkan dengan gerakan yang sering dan berulang-ulang adalah keletihan dan kelelahan otot. bila waktu istirahat/pemulihan tidak mencukupi. Jika gerakan berulang-ulang dari otot menjadi terlalu cepat untuk membiarkan oksigen yang memadai mencapai jaringan atau membiarkan uptake kalsium. Jika pekerjaan berlangsung dalam waktu yang lama tanpa istirahat. kardiovaskular. Selain itu. otot tersebut harus menerima pasokan tetap oksigen dan bahan gizi dari aliran darah. 1993). Pada posisi kerja statis yang membutuhkan 50% dari kekuatan maksimum tidak dapat bertahan lebih dari 1 menit. 2005).

Semakin lama durasi melakukan pekerjaan yang beresiko maka waktu yang diperlukan untuk recovery (pemulihan) juga akan semakin lama (NIOSH. 4) Frekuensi Banyaknya frekuensi aktifitas (mengangkat atau memindahkan) dalam satuan waktu (menit) yang dilakukan oleh pekerja dalam satu hari. 2007). 16 . Frekuensi terjadinya postur janggal terkait dengan terjadinya repetitive motion dalam melakukan pekerjaan. destruksi serabut saraf atau kerusakan yang menyebabkan berkurangnya respon saraf dapat menyebabkan kelemahan pada otot (Humantech. Akibat lain dari pekerjaan yang dilakukan berulangulang akan menyebabkan tekanan pada otot dengan akibat terjadinya penekanan di otot yang akan mengganggu fungsi syaraf.16 pada anggota tubuh (Suma’mur. Pekerjaan yang dilakukan berulang-ulang dapat menyebabkan rasa lelah bahkan nyeri/sakit pada otot karena adanya akumulasi produk sisa berupa asam laktat pada jaringan. Frekuensi gerakan postur janggal ≥ 2 kali/menit merupakan faktor resiko terhadap pinggang. 1997). Secara umum. semakin banyak pengulangan gerakan dalam suatu aktivitas kerja. 1995). maka akan mengakibatkan keluhan otot semakin besar. Keluhan otot terjadi karena otot menerima tekanan akibat kerja terus-menerus tanpa melakukan relaksasi. Pekerjaan yang dilakukan secara repetitif dalam jangka waktu lama akan meningkatkan risiko MSDs apalagi bila ditambah dengan gaya/beban dan postur janggal (OHSC. 1989). Terganggunya fungsi syaraf.

yang menjadi pemicu timbulnya gejala MSDs (Kurniasih. Apabila hal ini sering terjadi. inflamasi. dapat menyebabkan rasa nyeri otot yang menetap (Tarwaka. semakin tinggi risiko orang tersebut mengalami penurunan elastis pada tulang. 2004). maka jaringan otot tangan yang lunak akan menerima tekanan langsung dari pegangan alat. 2009). asam laktat yang terakumulasi. tekanan pada otot dan trauma mekanis. penggantian jaringan menjadi jaringan parut. Hal ini disebabkan karena pekerja 17 . Pada usia 30 tahun terjadi degenerasi yang berupa kerusakan jaringan. usia adalah lama hidup responden atau seseorang yang dihitung berdasarkan ulangtahun terakhir. pengurangan cairan. b. Hal tersebut menyebabkan stabilitas pada tulang dan otot menjadi berkurang.17 Menurut Bridger (1995) postur yang salah dengan frekuensi pekerjaan yang sering dapat mengakibatkan tubuh kurang suplai darah. semakin tua seseorang. Jadi. Pekerja dengan usia dibawah 18 tahun memiliki risiko lebih tinggi daripada pekerja dengan usia dewasa. 2003). 5) Alat perangkai/genggaman Terjadinya tekanan langsung pada jaringan otot yang lunak sebagai contoh pada saat tangan harus memegang alat. Sejalan dengan meningkatnya usia akan terjadi degenerasi pada tulang dan keadaan ini mulai terjadi disaat seseorang berusia 30 tahun (Bridger. Faktor Pekerja 1) Usia Menurut Supardi (2004) dalam Wibowo (2010).

pekerja dengan umur 35 tahun atau lebih mempunyai risiko 2. Chaffin (1979) dalam Grandjean (1993) menyatakan bahwa pada umumnya keluhan otot skeletal mulai dirasakan pada usia kerja yaitu 25-26 tahun.556 kali lebih besar untuk mengalami MSDs dibandingkan pekerja dengan umur dibawah 35 tahun. 2) Jenis Kelamin Jenis kelamin sangat mempengaruhi tingkat risiko keluhan otot rangka.18 dengan usia dibawah 18 tahun masih mengalami perkembangan fisik. kemampuan otot wanita lebih rendah 18 .1%. Hasil penelitian tersebut sesuai dengan teori yang terdapat dalam Oborne (1995) bahwa keluhan otot skeletal biasanya dialami seseorang pada usia kerja yaitu 24-65 tahun dan keluhan pertama biasa dialami pada usia 35 tahun serta tingkat keluhan akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Pekerja dengan usia dibawah 18 tahun tidak diperkenankan untuk melakukan aktifitas manual handling dengan berat lebih dari 16 kg tanpa bantuan mekanik dan pelatihan tertentu (OHSC. Hal ini terjadi karena secara fisiologis. menyebutkan bahwa umur 50-60 tahun kekuatan otot menurun sebanyak 60%. Selanjutnya kemampuan kerja fisik seseorang yang berumur > 60 tahun tinggal mencapai 50% dari umur orang yang berumur 25 tahun. 2007). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hendra & Rahardjo tahun 2009. Grandjean (1993).49 tahun memiliki tingkat keluhan paling tinggi yaitu sebesar 68. Hal ini diperkuat juga dengan hasil penelitian Amalia (2010) pada pekerja kuli panggul didapatkan hasil bahwa kelompok usia 31.

punggung dan kaki. khususnya untuk otot lengan. Astrand dan Rodahl (1977) menjelaskan bahwa kekuatan otot wanita hanya sekitar dua pertiga dari kekuatan otot pria. Selain itu. 1997). sehingga daya tahan otot pria pun lebih tinggi dibandingkan wanita. 2010). Berdasarkan beberapa penelitian menunjukkan prevalensi beberapa kasus MSDs lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria (NIOSH. Studi dynamometri menyatakan bahwa wanita mengalami peningkatan ketegangan otot yang tiba-tiba beberapa hari sebelum haid dimulai dan berlanjut dengan tingkat ketegangan otot yang rendah selama haid. 3) Waktu Kerja Penentuan waktu dapat diartikan sebagai teknik pengukuran kerja untuk mencatat jangka waktu dan perbandingan kerja mengenai suatu unsur pekerjaan tertentu yang dilaksanakan dalam keadaan tertentu pula serta untuk 19 . Artinya beban bagian kanan atau kiri lebih berat dari bagian satunya (Syafitri. dan Johanson (1994) yang menyatakan bahwa perbandingan keluhan otot antara pria dan wanita adalah 1:3 (Tarwaka. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Chiang et al (1993). 2004). kebiasaan-kebiasaan khas wanita dapat meningkatkan risiko terjadinya LBP serta mengenakan sepatu hak tinggi atau menjinjing barang-barang belanjaan secara tidak seimbang. Hales et al (1994).19 daripada pria. Hasil penelitian Betti’e et al (1989) menunjukkan bahwa rata-rata kekuatan otot wanita kurang lebih hanya 60% dari kekuatan pria. Bernard et al (1994).

Kebiasaan merokok akan menurunkan kapasitas paru-paru. Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Muliana (2003). sehingga kemampuannya untuk mengkonsumsi oksigen akan menurun. menurut Tarwaka 20 . Bila orang tersebut dituntut untuk melakukan tugas yang menuntut pengerahan tenaga. Berdasarkan hasil studi mengenai keluhan MSDs pada supir bis yang dilakukan oleh Karuniasih (2009). 2009). Perokok lebih memiliki kemungkinan menderita masalah pinggang daripada bukan perokok. Mereka yang telah berhenti merokok selama setahun memiliki risiko LBP sama dengan mereka yang tidak merokok. diketahui 34 bahwa supir yang telah bekerja/mengendarai lebih dari 2 jam merasakan pegal-pegal pada punggung dan leher. Selain itu.20 menganalisa keterangan itu hingga ditemukan waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan itu pada tingkat prestasi tertentu. Risiko meningkat sekitar 20% untuk setiap 10 batang rokok perhari (Pheasant. 1991). kebiasaan merokok dapat menyebabkan LBP karena merokok dapat menimbulkan batuk dan zat nikotin yang ada dalam rokok tersebut. 4) Kebiasaan Merokok Meningkatnya keluhan otot sangat erat hubungannya dengan lama dan tingkat kebiasaan merokok. Efeknya adalah hubungan dosis dan lebih kuat daripada yang diharapkan dari efek batuk. Satu hipotesa menyebutkan bahwa LBP diakibatkan karena batuk terus-menerus akibat merokok. maka akan mudah lelah karena kandungan oksigen dalam darah rendah (Kurniasih.

semakin lama dan tinggi frekuensi merokok. Saat masih berusia muda. efek nikotin pada tulang memang tidak akan terasa karena proses pembentuk tulang masih terus terjadi. 2004). semakin tinggi pula tingkat keluhan yang dirasakan. Pada sebuah survei di Britania oleh Palmer et al (1996) ditemukan 13. dan tersumbatnya aliran darah ke seluruh tubuh. penyakit jantung. Berdasarkan hasil survei oleh Annuals of Rheumatic Diseases diperoleh hubungan antara perokok dengan munculnya keluhan MSDs dan dilaporkan bahwa perokok memiliki risiko 50 % lebih besar untuk merasakan MSDs (Tarwaka. maka proses pembentukan tulang sulit terjadi. Hal ini disebabkan rokok dapat merusak jaringan otot dan mengurangi respon syaraf terhadap rasa sakit. 21 . 2009).21 (2004). Hal ini dapat terjadi karena nikotin pada rokok dapat menyebabkan berkurangnya aliran darah ke jaringan. merokok dapat pula menyebabkan nyeri akibat terjadinya keretakan atau kerusakan pada tulang (Bernard et al. Namun saat melewati umur 35 tahun efek rokok pada tulang akan mulai terasa karena proses pembentukan tulang pada umur tersebut sudah berhenti (Boisvert. Bila darah sudah tersumbat. Perokok juga beresiko mengalami hipertensi.000 orang yang merokok sering mengeluhkan rasa tidak nyaman pada muskuloskeletal dan rasa lumpuh terhadap cidera muskuloskeletal dibandingkan mereka yang tidak pernah merokok. Selain itu. 1997).

dan jaringan ligamen serta meningkatkan sirkulasi darah dan nutrisi pada semua jaringan tubuh (Bustan. 5) Kebiasaan Olahraga Olahraga dapat dikatakan sebagai terminologi umum dari semua kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan jasmani. semakin tinggi pula keluhan yang dirasakan. didapatkan hasil bahwa ada hubungan bermakna antara kebiasaan merokok dengan terjadinya keluhan LBP. Laporan NIOSH menyatakan bahwa untuk tingkat kesegaran tubuh rendah. dan sosial. 2007). Tingkat keluhan otot juga sangat dipengaruhi oleh tingkat kesegaran tubuh atau kebiasaan olahraga yang dilakukan. Didefinisikan bahwa olahraga adalah segala kegiatan yang sistematis untuk mendorong. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Tarwaka (2004) bahwa semakin lama dan semakin tinggi frekuensi merokok. tulang. Kurang atau tidak melakukan olahraga merupakan salah satu faktor resiko utama penyakit tidak menular diantaranya yang berhubungan dengan otot dan tulang.3 Tahun 2005 mempunyai arti yang lebih luas. Hal ini disebabkan karena salah satu manfaat dari olahraga adalah memperkuat otototot. membina serta mengembangkan potensi jasmani. 2007) Departemen Kesehatan melalui Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas) 2001 menemukan masih tingginya prevalensi masyarakat yang kurang atau tidak melakukan olahraga secara rutin dalam kehidupan sehari-harinya. Bahkan dalam UU No. rohani. (Bustan. maka risiko terjadinya keluhan 22 .22 Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Syafitri (2010).

dikategorikan cukup jika melakukan senam pagi/olahraga ≥ 5 x/minggu. dancing.3%).7%). Bagaimana bentuk olahraga yang sehat itu menjadi pilihan tersendiri. Dari hasil penelitan yang dilakukan oleh Zulfiqor (2010) didapatkan bahwa paling banyak pekerja yang mengalami keluhan MSDs adalah pekerja yang kurang melakukan olahraga dan memiliki keluhan MSDs ringan yaitu sejumlah 41 orang (54. 2004). berenang. tingkat kesegaran tubuh sedang adalah 3. Lamanya 23 .8% (Tarwaka.2%. dan lain-lain (Bustan. mengayuh sepeda. yang penting fun sehingga peserta tetap dapat berminat dan tertarik secara terus-menerus melakukan olahraga itu. Salah satu bentuk olahraga untuk kesehatan atau pencegahan penyakit dapat dilakukan dalam bentuk olahraga aerobik yang sedang (moderate physical activity) selama 30 menit dari waktu 1440 menit dalam sehari. 6) Masa Kerja Penyakit MSDs ini merupakan penyakit kronis yang membutuhkan waktu lama untuk berkembang dan bermanifestasi. 2008). Bentukbentuk itu bisa berupa jalan cepat.23 adalah 7. Sebaliknya. Sedangkan persentase pekerja yang paling sedikit adalah yang kurang melakukan olahraga dan tidak memiliki keluhan MSDs yaitu satu orang (1. 2007).1%. lari di taman. dan tingkat kesegaran tubuh tinggi adalah 0. Seseorang dikategorikan kurang melakukan olahraga jika melakukan senam pagi/olahraga < 5 x/minggu. Jadi semakin lama waktu bekerja atau semakin lama seseorang terpajan faktor risiko MSDs ini maka semakin besar pula risiko untuk mengalami MSDs (Nursatya.

Hal ini sesuai dengan penelitian yang 24 .24 seseorang bekerja sehari secara baik pada umumnya 6-8 jam dan sisanya untuk istirahat. bulan. 2008). Hal ini disebabkan karena pada masa kerja tersebut telah terjadi akumulasi cidera-cidera ringan yang selama ini dianggap sepele. Trauma jaringan timbul karena kronisitas atau berulang-ulangnya proses penyebabnya (Nursatya. Penelitian yang dilakukan oleh Amalia (2010) memperlihatkan bahwa keluhan MSDs terbanyak pada responden dengan masa kerja diatas lima tahun. 1999 dalam Syafitri. tetapi lebih merupakan suatu akumulasi dari benturanbenturan kecil maupun besar yang terjadi secara terus-menerus dan dalam waktu yang relatif lama. Secara fisiologis istirahat sangat perlu untuk mempertahankan kapasitas kerja. Hal ini bisa terjadi dalam hitungan hari. menurut Zulfiqor (2010). Selain itu. timbulnya kelelahan dan penyakit akibat kerja. tergantung dari berat ringannya trauma. pembengkakan dan gerakan yang terhambat atau kelemahan pada jaringan anggota tubuh yang terkena trauma. Gangguan pada sistem muskuloskeletal ini hampir tidak pernah terjadi secara langsung. Insiden tertinggi untuk terjadinya keluhan sakit pada pinggang pekerja ada kaitannya dengan penambahan waktu kerja dan lamanya masa kerja seseorang (Hasyim. sehingga akan terbentuk cidera yang cukup besar yang diekspresikan sebagai rasa sakit atau kesemutan. Memperpanjang waktu kerja dari itu biasanya disertai penurunan efisiensi. keluhan MSDs berbanding lurus dengan bertambahnya masa kerja. atau tahun. 2010). nyeri tekan.

7) Indeks Masa Tubuh (IMT) Berat badan. Meskipun pengaruhnya relatif kecil. Hal ini diperkuat dengan oleh Werner et al (1994) yang menyatakan 25 . tinggi badan. pekerja yang mempunyai masa kerja lebih dari 4 tahun mempunyai risiko 2. tinggi badan dan berat badan merupakan faktor yang dapat menyebabkan terjadinya keluhan otot skeletal. Berdasarkan penelitian Heliovara (1987) yang dikutip NIOSH (1997) menyebutkan bahwa tinggi seseorang berpengaruh terhadap timbulnya herniated lumbar disc pada jenis kelamin wanita dan pria. Vessy et al (1990) menyatakan bahwa wanita yang gemuk mempunyai resiko dua kali lipat dibandingkan wanita kurus untuk mengalami keluhan otot skeletal. populasi dengan LBP mempunyai tinggi badan lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak LBP.25 dilakukan oleh Hendra dan Rahardjo (2009). 2003). Schierhout (1995) menemukan bahwa seseorang yang mempunyai ukuran tubuh yang pendek berasosiasi dengan keluhan pada leher dan bahu (Karuniasih. Sedangkan asosiasi antara obesitas dan MSDs berkaitan dengan degenerasi radiologi pada sendi (Muliana. status gizi (IMT) dan obesitas diidentifikasikan sebagai faktor resiko untuk beberapa kasus MSDs. 2009). Rihiimaki et al (1989) dalam Tarwaka (2004)menjelaskan bahwa masa kerja mempunyai hubungan yang kuat dengan keluhan otot.775 kali dibandingkan pekerja dengan masa kerja ≤ 4 tahun. tapi berdasarkan IMT hanya berpengaruh pada jenis kelamin pria. Secara rata-rata.

26 .0. b) Sakit degenerative disc terjadi ketika gelatinous nucleus pulpous berubah menjadi fibrocartilage akibat penuaan. 8) Riwayat Penyakit MSDs Seseorang dengan riwayat penyakit Low Back Pain (LBP) mempunyai kecenderungan untuk mengalami kejadian lanjutan (Nursatya. seperti sakit pada paget atau osteoarthritis. c) Gemuk jika IMT > 25. 2008). Penyakit pada tulang belakang yang menyebabkan LBP adalah (Nolan dan Saladin. 2004) : a) Spinal stenosis adalah sakit pada saluran tulang belakang atau invertebral foramina yang disebabkan oleh hypertrophy tulang belakang. Menurut Depkes (1994). 2004).5 kali lebih tinggi dibandingkandengan pasien yang kurus. kadang-kadang menjadi tulang belakang tidak stabil dan membuat tidak sejajarannya tulang belakang dan putusnya disc. Kondisi ini dapat dihasilkan dari penyakit lain.26 bahwa bagi pasien gemuk mempunyai resiko 2. khususnya untuk otot kaki. Keluhan otot skeletal yang terkait dengan ukuran tubuh lebih disebabkan oleh kondisi keseimbangan struktur rangka di dalam menerima beban. baik beban berat tubuh maupun berat tambahan lainnya (Tarwaka. b) Normal jika IMT > 18. kategori ambang batas IMT untuk Indonesia adalah sebagai berikut: a) Kurus jika IMT ≤ 18. dan hal itu paling sering terjadi pada orang usia menengah dan usia tua.5.5-25.

menopause. Menurut Tarwaka (2004). Menurut Beth Loy dari US. e) Osteoporosis. Berkurangnya derajat berat Spondylolisthesis dapat dianggap hanya untuk meredakan (meringankan nyeri). gangguan kelenjar thiroid. 2010). artritis. dan beberapa kondisi lain dapat memberikan kontribusi bagi timbulnya keluhan Cummulative Trauma Disorders. Spondylolisthesis terjadi ketika tidak sempurnanya tulang belakang anteriorly. salah satunya adalah kekuatan fisik individu tersebut. Beberapa hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan. Departement of Labour dalam Luthfiyah et al (2009) beberapa kondisi seperti patah dan/dislokasi tulang. 9) Kekuatan Fisik Kejadian MSDs dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor individu. adalah suatu penyakit dengan tanda utama berupa berkurangnya kepadatan massa tulang.27 c) Spondylolysis adalah kondisi dimana lamina tulang belakang bagian d) pinggang tidak sempurna. kekuatan/kemampuan kerja fisik adalah suatu kemampuan fungsional seseorang untuk mampu melakukan pekerjaan tertentu yang memerlukan aktifitas otot pada periode waktu tertentu. 2007 dalam Syafitri. namun penelitian lainnya menunjukkan bahwa tidak ada hubungan 27 . khususnya pada tingkat L5-S1. diabetes. yang berakibat meningkatnya risiko patah tulang dan LBP (Junaidi. tetapi tingkat berat yang berlebih mungkin membutuhkan operasi untuk meringankan tekanan pada syaraf tulang belakang atau menstabilkan tulang belakang.

Apabila hal ini tidak diimbangi dengan pasokan energi yang cukup. 2004). suplai oksigen ke otot menurun. suhu udara dalam ruang dapat diterima adalah berkisar antara 20. maka akan terjadi kekurangan suplai energi ke otot. proses metabolisme karbohidrat terhambat dan terjadi penimbunan asam laktat yang dapat menimbulkan rasa nyeri otot (Tarwaka.28 antara kekuatan fisik dengan keluhan otot skeletal. resiko terjadinya keluhan tiga kali lipat dari yang mempunyai kekuatan tinggi (Bukhori. sulit bergerak dan kekuatan otot menurun. Sebagai akibatnya.24°C (untuk musim dingin) dan 23-26°C (untuk musim panas) pada kelembapan 3565%. Rata-rata gerakan udara dalam ruang yang ditempati tidak melebihi 28 . 2010). kepekaan dan kekuatan pekerja sehingga gerakan pekerja menjadi lamban. Beda suhu lingkungan dengan suhu tubuh yang terlampau besar menyebabkan sebagian besar energi yang ada dalam tubuh akan termanfaatkan oleh tubuh untuk berdapatasi dengan lingkungan tersebut. Bagi pekerja yang kekuatan ototnya rendah. Faktor Lingkungan 1) Suhu dan Kelembaban Paparan suhu dingin maupun panas yang berlebihan dapat menurunkan kelincahan. Berdasarkan NIOSH (1993) tentang kriteria suhu nyaman. Chaffin and Park (1973) yang dilaporkan oleh NIOSH menemukan adanya peningkatan keluhan punggung yang tajam pada pekerja yang melakukan tugas yang menuntut kekuatan melebihi batas kekuatan otot pekerja. peredaran darah kurang lancar. c.

2) Getaran Vibrasi dapat menyebabkan perubahan fungsi aliran darah pada ekstremitas yang terpapar bahaya vibrasi (Oborne.07 m/det akan memberikan rasa tidak enak di badan dan rasa tidak nyaman.15 m/det untuk musim dingin dan 0. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa pada temperatur 27-30°C. penimbunan asam laktat meningkat.25 m/det untuk musim panas. Paparan dari getaran lokal terjadi ketika bagian tubuh tertentu kontak dengan objek yang bergetar.2010). 2004). dan akhirnya timbul rasa nyeri otot (Tarwaka. Bahaya yang spesifik akan terjadi pada saat suhu udara dingin dengan menggunakan alat vibrasi (Amalia. Suhu yang ekstrim akan memberikan efek fisiologis heat stress dan cold stress. seperti kekuatan alat-alat yang menggunakan 29 . Konstruksi statis ini menyebabkan peredaran darah tidak lancar. Sebagai bahan pertimbangan dimana Indonesia merupakan daerah tropis yang mempunyai suhu udara lebih panas dengan kelembapan yang jauh lebih tinngi. maka performa kerja dalam pekerjaan fisik akan menurun.5-26°C dengan kelembapan udara sebesar 40-75% (Tarwaka. 1995). 2004). maka rekomendasi dari NIOSH (1993) tersebut perlu doikoreksi apabila ditempatkan di daerah tropis. Kecepatan udara di bawah 0.29 0. Stres fisik terjadi ketika jaringan tubuh inadekuat terhadap suplai darah yang mengandung oksigen dan nutrisi sehingga akan meningkatkan potensi terjadinya gangguan muskuloskeletal. Getaran dengan frekuensi tinggi akan menyebabkan kontraksi otot bertambah. Temperatur yang normal untuk orang Indonesia adalah 22.

baik yang bersifat psikologik maupun sosial yang mempunyai pengaruh timbal balik (Muliana.30 tangan. Pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi maka memerlukan iluminasi yang cukup banyak yakni mencapai 1000 lux sedangkan pekerjaan yang tidak membutuhkan ketelitian hanya memerlukan tingkat iluminasi yang rendah. Tingkat iluminasi berkaitan dengan sifat pekerjaan yang membutuhkan ketelitian atau tidak. Menurut penelitian yang dikonduksi oleh National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH. seperti ketika mengoperasikan kendaraan mesin yang besar (Bridger. d. Pekerja yang mengalami vibrasi dapat menyebabkan mati rasa pada tangan sehingga membutuhkan tenaga lebih saat menggenggam (Nursatya. Jika tingkat iluminasi pada suatu tempat tidak memenuhi persyaratan maka akan menyebabkan postur leher untuk fleksi ke depan (menunduk) dan postur tubuh untuk fleksi (membungkuk) yang berisiko mengalami MSDs (Bridger. 1997) terdapat indikasi dan semakin banyaknya bukti yang menunjukkan bahwa faktor psikososial turut 30 . 1995). Paparan getaran seluruh tubuh terjadi ketika berdiri atau duduk dalam lingkungan atau objek yang bergetar. 2003). Faktor Psikososial Psikososial adalah setiap perubahan dalam kehidupan individu. 3) Iluminasi Depkes RI (1992) mendefinisikan pencahayaan sebagai jumlah penyinaran pada suatu bidang kerja yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efektif. 2008). 1995).

Menurut Smith dan Carayon (1996) dalam Bernard et al (1997). sehingga otot kekurangan oksigen. dan cara kerja yang berulang-ulang dapat mengakibatkan pula tekanan fisiologis. rasa bosan. seperti peningkatan tekanan darah. Kondisi ini menyebabkan aliran darah yang mengangkut oksigen menjadi terhambat. 1997). 31 . Beberapa cara faktor psikososial dapat mempengaruhi terjadinya MSDS adalah sebagai berikut: 1) Faktor Psikologis dapat mengakibatkan tekanan fisik Teori tersebut menyatakan bahwa stres dapat meningkatkan tekanan darah.31 berkontribusi terhadap terjadinya MSDs pada ekstremitas atas dan bagian belakang tubuh (Bernard et al. peripheral neurotransmitter. Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Johanson dan Aronson dalam Muliana (2003) menyebutkan bahwa tekanan psikologi. tekanan psikososial dapat memperburuk kondisi ergonomi di tempat kerja. detak jantung. Dalam keadaan lemah dan kaku. dan level kortikosteroid. reaksi fisiologis tersebut dapat meningkatkan kemmungkinan kerusakan atau cedera pada urat syaraf dan otot. Akibatnya penderita mengalami sakit yang semakin parah jika tidak segera ditangani dokter. otot punggung mengalami spasme (kejang). kortikosterid. dan meningkatkan tekanan pada otot. seperti keterbatasan kebebasan dalam membuat keputusan. 2) Efek langsung faktor psikososial terhadap tekanan fisik Menurut penelitian Lim dan Carayon dalam Bernard et al (1997).

standar produksi. pelayanan yang tidak memuaskan. 6) Meningkatkan resiko terjadinya kecelakaan.32 Faktor psikososial seperti tekanan pekerjaan. 1991) : a. Biaya yang timbul akibat absensi pekerja yang akan menyebabkan penurunan keuntungan. e. Sementara itu. pengawasan kerja. 5) Penurunan kewaspasdaan. dan sebagainya secara langsung dapat mempengaruhi aspek ergonomi dari pekerjaan. kerusakan material. 32 . menurut Bird (2005). 2) Menurunkan produktivitas kerja. c. dan lainlain. MSDs dapat menjadi suatu permasalahan penting karena dapat : 1) Waktu kerja yang hilang karena sakit umumnya disebabkan penyakit otot rangka. seperti gerakan repetitif dan postur kerja yang merupakan faktor risiko terjadinya MSDs. Biaya asuransi. produk yang akhirnya menyebabkan tidak terpenuhinya deadline/target produksi. 4) Penyakit MSDs bersifat multikausal sehingga sulit untuk menentukan proporsi yang semata-mata akibat hubungan kerja. Biaya pergantian pekerja (turnover) untuk recruitment dan pelatihan. Dampak yang diakibatkan oleh MSDs pada aspek ekonomi perusahaan yaitu (Pheasant. Biaya lainnya (opportunity cost). biaya untuk pelatihan karyawan baru yang menggantikan pekerja yang sakit. Pada aspek produksi yaitu berkurangnya output. 3) MSDs terutama yang berhubungan dengan punggung merupakan masalah penyakit akibat kerja yang penanganannya membutuhkan biaya yang tinggi. biaya untuk menyewa jasa konsultan atau agensi. d. b.

Agar tidak mengalami risiko MSDs pada saat melakukan pekerjaan.33 2. Hal tersebut adalah : 1) Jangan memutar atau membungkukkan badan ke samping. jangan memindahkan barang. Ada beberapa metode observasi postur tubuh yang berkaitan dengan risiko gangguan muskuloskletal seperti 33 . karena dapat meningkatkan risiko cidera. Alat ukur ergonomi yang dapat digunakan cukup banyak dan bervariasi. Menggunakan alat pelindung diri. harapan dan toleransi kelelahan ( Waters & Anderson 1996). motivasi. 5) Apabila barang yang hendak dipindahkan terlalu berat. Mengubah dalam praktek kerja dan kebijkan manajemen yang sering disebut pengendalian administratif. maka ada beberapa hal yang harus dihindari. Namun demikian.Lakukan senam/peregangan otot sebelum bekerja. jangan melanjutkan. 2. Mengurangi atau mengeliminasi kondisi yang berpotensi bahaya menggunakan pengendalian teknik. 3) Jangan ragu meminta tolong pada orang. b. c. Pengukuran terhadap tekanan fisik ini cukup sulit karena melibatkan berbagai faktor subjektif seperti : kinerja. 4) Apabila jangkauan tidak cukup. 1997): a. dari berbagai metode yang ada tentunya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.2 Tindakan Pengendalian MSDs Pengendalian pada umumnya terbagi menjadi tiga (Cohen et al.3 Metode Penilaian Ergonomi Ada beberapa cara yang telah diperkenalkan dalam melakukan evaluasi keluhan ergonomi untuk mengetahui hubungan antara tekanan fisik dengan risiko keluan sistem muskuloskeletal. mendorong atau menarik secara sembarangan. 2) Jangan menggerakkan.

Kuesioner Nordic Body Map adalah kuesioner yang paling sering digunakan untuk mengetahui ketidaknyamanan pada para pekerja. Penulisan ini bertujuan untuk melihat tingkat keparahan keluhan MSDs maka metode yang digunakan adalah metode Nordic Body Map.34 OWAS. dan kuesioner ini paling sering digunakan karena sudah terstandarisasi dan tersusun rapi (Kroemer. 2010). REBA dan untuk penilaian subjektif terhadap tingkat keparahan pada sistem muskluloskletal dengan metode Nordic Body Map serta checlist sederhana yang dapat digunakan untuk melakukan identifikasi potensi bahaya pekerjaan dengan risiko MSDs.1 Nordic Body Map Metode Nordic Body Map (NBM) merupakan metode yang digunakan untuk menilai tingkat keparahan atas terjadinya gangguan otot skeletal. RULA. Keluhan pada otot skeletal biasanya merupakan keluhan yang bersifat kronis. Bentuk lain dari checklist ergonomi adalah checklist International Labour Organization (ILO). artinya keberhasilan aplikasi tergantung dari kondisi dan situasi yang dialami pekerja saat dilakukannya penilaian dan juga tergantung dari keahlian dan pengalaman observer yang bersangkutan (Tarwaka. 2001). 2. Kuesioner Nordic Body Map merupakan salah satu bentuk kuesioner checklist ergonomi. berikut penjelasan tentang metode tersebut.3. artinya keluhan ini sering dirasakan beberapa lama setelah melakukan aktivitas dan sering meninggalkan residu yang dirasakan pada hari 34 . Nordic Body Map merupakan metode penilaian yang sangat subjektif.

2010). mudah dipahami. Nordic Body Map meliputi 28 bagian otot skeletal pada kedua sisi tubuh kanan dan kiri yang dimulai dari anggota tubuh atas yaitu otot leher sampai dengan bagian paling bawah yaitu otot pada kaki. murah. jika diperoleh hasil tingkat keparahan pada otot skeletal yang tinggi. Nordic Body Map dilakukan dengan menggunakan lembar kerja berupa peta tubuh yang sangat sederhana. Langkah terakhir dari metode ini adalah melakukan upaya perbaikan pada pekerjaan maupun sikap kerja. Dalam aplikasinya. Nordic Body Map dilakukan dengan menggunakan skala data nominal maupun ordinal (tingkatan). Pada skala data nominal dapat dilakukan dengan menggunakan dua jawaban sederhana yaitu YA (ada keluhan atau rasa sakit pada otot skeletal) dan TIDAK (tidak ada keluhan atau rasa sakit pada otot skeletal) (Tarwaka. Pengisian kuesioner Nordic Body Map ini bertujuan untuk mengetahui bagian tubuh dari operator gas Cutting Plate yang terasa sakit setelah selesai bekerja.35 berikutnya. dan memerlukan waktu yang sangat singkat. Pengukuran gangguan otot skeletal dengan menggunakan kuesioner sebaiknya digunakan untuk menilai tingkat keparahan gangguan otot skeletal individu dalam kelompok kerja yang cukup banyak. Peneliti dapat langsung wawancara atau menanyakan kepada responden/subjek penelitian (operator gas Cutting Plate) bagian otot mana 35 . Tindakan perbaikan yang harus dilakukan tentunya sangat bergantung dari risiko otot skeletal mana yang mengalami adanya gangguan. Pada desain 4 skala Likert akan diperoleh skor individu terendah adalah sebesar 28 dan skor tertinggi adalah 112.

Metode Nordic Body Map merupakan metode penilaian yang sangat subjektif. punggung bagian atas. pergelangan tangan atau tangan. lutut. Kuesioner ini menggunakan gambar tubuh manusia yang sudah dibagi menjadi 9 bagian utama. pinggang atau pantat. siku.36 yang mengalami gangguan nyeri atau sakit. artinya keberhasilan aplikasi metode ini sangat tergantung dari kondisi dan situasi yang dialami pekerja pada saat dilakukannya penelitian. punggung bagian bawah. bahu. tumit atau kaki. Kuesioner ini menggunakan gambar tubuh manusia yang sudah dibagi menjadi 9 bagian utama. 2004 Gambar 2. yaitu : a) Leher b) Bahu c) Punggung bagian atas d) Siku e) Punggung bagian bawah f) Pergelangan tangan g) Pinggang/bokong h) Lutut i) Tumit/kaki Sumber : Tarwaka. yaitu leher. Kuesioner Nordic Body Map ini telah secara luas 36 .1 Nordic Body Map Adapun metode yang digunakan untuk mengetahui keluhan Moskuloskletal Disorders (MSDs) yang dirasakan opreator dapat dengan penyebaran kuesioner Nordic Body Map.

berikut dijelaskan 4 skala likert yang digunakan untuk melihat keparahan Keluhan MSDs yang di rasakan pekerja : Skor 0 : tidak ada keluhan/ kenyerian pada otot-otot atau tidak ada rasa sakit sama sekali yang dirasakan oleh pekerja. tabel 2. jika diperoleh hasil yang menunjukkan tingkat keparahan pada sistem muskuloskletal yang tinggi. Skor 2 : responden merasakan adanya keluhan . Tabel 2. Penilaian Keluhan Nyeri MSDs dilakukan dengan skoring dengan menggunakan skala likert.37 digunakan oleh para ahli ergonomi untuk menilai tingkat keparahan gangguan pada sistem muskuloskeletal dan mempunyai validitas dan reabilitas yang cukup (Tarwaka. 2004).2 Klasifikasi Hasil perhitungan Kuesioner NBM Total Skor Tingkt Risiko Kategori Risiko Tindakan Perbaikan Keluhan Individu Belum diperlukan 0-20 0 Rendah adanya tindakan perbaikan 21-41 1 Sedang Mungkin memerlukan tindakan dikemudian 37 . Skor 1 : dirasakan sedikit adanya keluhan atau kenyerian pada bagian otot. Tindakan perbaikan yang harus dilakukan tentunya sangat bergantung dari risiko sistem muskuloskletal mana saja yang mengalami adanya gangguan atau ketidaknyamanan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara melihat persentasi pada setiap bagian sistem muskuloskletal dan menggunakan kategori tingkat risiko sistem muskuloskltal. tetapi belum begitu menggangu pekerjaan. Skor 3 : responden merasakan keluhan sangat sakit atau sangat nyeri ada bagian otot atau kenyerian tidak segera hilang meskipun istirahat.2 dibawah ini merupakan pedoman yang dapat digunakan untuk menentukan klasifikasikan subjektvitas tingkat risiko sistem muskuloskletal. Langkah terakhir dari metode Nordic Body Map ini tentunya adalah melakukan upaya perbaikan. kenyerian atau sakit ada bagian otot dan sudah mengganggu pekerjaan.

2004 BAB III METODE KEGIATAN RESIDENSI 3.38 42-62 2 Tinggi 63-84 3 Sangat Tinggi hari Diperlukan tindakan segera Diperlukan tindakan menyeluruh sesegera mungkin Sumber : Tarwaka.1 Lokasi Residensi 38 .

Adalah : Tabel 3.2 Waktu Residensi Pelaksanaan residensi berlangsung pada tanggal 03 Agustus 2015 – 31 Agustus 2015. Surabaya.39 Residensi ini dilaksanakan di PT. Gunawan Dianjaya Steel Tbk. Surabaya. Tandes 29 A.2 Rincian kegiatan Residensi di PT. Gunawan Dianjaya Steel Tbk Jalan Margomulyo. 3. 1 Pemaparan Profil Perusahaan Pengenalan area produksi Diskusi penentuan tema residensi dengan pembimbing lapangan 39 . Gunawan Dianjaya Steel Tbk No Minggu Ke- Tanggal 1 3 Agustus 2015 Log Book . Adapun kegiatan residensi yang dilakukan adalah : Tabel 3.1 Rincian Waktu Residensi Berdasarkan Waktu (Tahapan Minggu) Agustus KEGIATAN I II III September IV I II III VI Persiapan Pelaksanaan Residensi Supervisi Pembimbing Pembuatan Laporan Seminar/ujian Perbaikan laporan Adapun rincian pelaksanaan kegiatan residensi yang dilakukan di PT.

40 2 4 Agustus 2015 Pembuatan activity plan residensi 3 5 Agustus 2015 Pembuatan activity plan residensi 4 Kunjungan ke workshop dan area 6 Agustus 2015 mekanik 5 7 Agustus 2015 6 10 Agustus 2015 Kunjungan ke area kerja gas cutting slab 7 Kunjungan ke gudang bahan baku slab Kunjungan ke area kerja gas cutting 11 Agustus 2015 plate 8 2 Kunjungan ke area kerja reheating 12 Agustus 2015 furnance 9 13 Agustus 2015 Kunjungan ke area kerja descaler 10 14 Agustus 2015 Izin ke kampus Kunjungan ke area kerja gudang 18 Agustus 2015 produksi Pembagian kuisioner Nordic Body Map Kunjungan ke area kerja diving 19 Agustus 2015 shear Pembagian kuisioner Nordic Body Map Kunjungan ke area kerja cooling 20 Agustus 2015 bed Pembagian kuisioner Nordic Body Map Kunjungan ke area Tempat 21 Agustus 2015 Pembuangan Sementara Limbah (TPS) Pembagian kuisioner Nordic Body Map 11 12 3 13 14 15 16 4 24 Agustus 2015 Pengecekan APAR 25 Agustus 2015 Pengecekan Hydrant 40 .

41 17 26 Agustus 2015 Safety patrol keseluruh area kerja 18 27 Agustus 2015 Safety patrol keseluruh area kerja 19 20 5 28 Agustus 2015 Penyusunan laporan residensi 31 Agustus 2015 Penyusunan laporan residensi 3. jajak pendapat dan lain-lain. 2. Penilaian dan Pengendalian Risiko). Ruang lingkupnya meliputi penilaian risiko kesehatan dan keselamatan kerja dengan menggunakan IPBR (Identifikasi Bahaya. mebiasanya melalui kuisionert. Pengisian kuesioner dilakukan secara langsung dengan 25 operator Gas cutting plate. Data sekunder 41 . 3.4 Teknik Pengumpulan Data Sumber data adalah subjek dari mana data dapat diperoleh (Arikunto. wawancara. dapat dikelola. Sumber data yang dipergunakan adalah data primer dan data sekunder. IPBR adalah bentuk metode penilaian dan pengendalian risiko yang dimiliki oleh PT. Data Primer Data Primer adalah data yang penulis kumpulkan melalui pihak pertama. dikendalikan secara tepat dan termitigasi. Gunawan Dianjaya Steel Tbk yang bertujuan untuk memastikan semua risiko yang mungkin terjadi dapat teridentifikasi. 2006). 1.3 Metode Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan residensi dilakukan dengan mengumpulkan seluruh data yang dibutuhkan untuk memberikan gambaran secara jelas untuk mengungkapkan suatu masalah yang ada di lapangan sehingga dapat diidentifikasi dan dicari penyelesaiannya. Data primer pada penelitian ini adalah dengan menggunakan kuesioner.

2. adalah : 1.42 Data sekunder adalah data yang dikumpulkan melalui pihak kedua biasanya diperoleh melalui badan atau instansi yang bersangkutan dalam proses pengumpulan data. Dokumentasi Dokumentasi dilakukan dengan cara mempelajari dokumen dan catatancacatan perusahaan yang berhubungan dengan masalah kesehatan dan keselamatan kerja pada bagian K3. Kuisioner Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan data memberi seperangkat pertanyaan atau pemyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Gunawan Dianjaya Steel Tbk. Gunawan Dianjaya Steel Tbk. Surabaya. Metode ini merupakan alat ukur yang subjektif 42 . Surabaya. 3. Observasi Lapangan Objek yang diobservasi adalah implementasi K3 di seluruh area produksi pembuatan Plate di PT. dan lain sebagainya. Surabaya. dan operasional kerja. Gunawan Dianjaya Steel Tbk Surabaya dan data-data pendukung lain seperti data struktur organisasi K3 dan data mengenai pelaksanaan pengelolaan K3. Keluhan MSDs diukur menggunakan metode penilaian nordic body map. prosedur kerja operasional yang berhubungan dengan bahaya di PT. Adapun Teknik Pengumpulan Data yang dilakukan di PT. Gunawan Dianjaya Steel Tbk. Wawancara Wawancara dilakukan dengan bagian K3 dari PT. 4. Surabaya dan pekerja mengenai masalah K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja). Data sekunder pada penelitian ini adalah profil PT. Gunawan Dianjaya Steel Tbk.

Analisis data dilakukan untuk mengetahui distribusi dan persentase dari jawaban setiap pertanyaan yang terdapat pada lembar kuisioner.43 yang artinya bahwa hasil dari metode ini akan ditentukan tergantung dari kondisi dan situasi yang dialami oleh operator Gas cutting plate. Penilaian dalam kuisioner menilai keluhan nyeri yang dirasakan para pekerja.5 Teknik Penyajian Data Cara penyajian data dalam bentuk persentase angka untuk selanjutnya di deskripsikan sesuai dengan hasil yang didapatkan. saat menjawab kuisioner setiap operator Gas cutting plate didampingi agar lebih mudah dalam menjawab. Peresentase yang diperoleh setelah melakukan pengamatan dan pengisian kuisioner oleh operator gas cutting plate. Kuisioner diisi dan dijawab operator Gas cutting plate setelah bekerja. 3. yang didampingi oleh Petugas K3 di lapangan. 43 .

Terletak di atas lahan seluas kurang lebih 20 hektar. Sesuai Anggaran Dasar Perusahaan. GDS senantiasa siap menghadapi 44 . ruang lingkup kegiatan perusahaan adalah bidang industri penggilingan pelat baja canai panas (Hot Roll Steel Plate).HT.01. Sejak didirikan. 6 tanggal 8 April 1989 dan disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan surat keputusan No. 15/V/PMA/2004 tanggal 26 Februari 2004. Pendirian perusahaan tercatat dalam akta notaris Jamilah Nahdi. Didukung teknologi four high rolling terkini dan sumber daya manusia berkualitas. Pada tahun 2004 status GDS mengalami perubahan menjadi Penanaman Modal Asing sesuai dengan Surat Persetujuan dari Badan Koordinasi Penanaman Modal dengan No. Akta tersebut masih belum mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.1989 tanggal 11 Desember 1989. Tbk. GDS terus berupaya untuk mewujudkan komitmen atas pertumbuhan melalui inovasi berkelanjutan. Perubahan terakhir tercatat pada Akta Notaris Dian Silviyana Khusnarini. Anggaran Dasar Perusahaan telah beberapa kali mengalami perubahan. C-2.44 BAB IV HASIL KEGIATAN RESIDENSI 4. Gunawan Dianjaya Steel PT Gunawan Dianjaya Steel. mengenai perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi.01.11174. No.1 Gambaran Umum PT. SH.Th. (GDS) didirikan pada tahun 1989 di Surabaya. 52 tanggal 26 Juni 2014. PT GDS memulai kegiatan produksi komersial sejak akhir tahun 1993 guna melayanipasar ekspor dan domestik. SH No.

GDS merupakan salah satu industri rolling mill plat baja yang terkemuka di kawasan ASEAN. b. PT. Gunawan Dianjaya Steel Tbk Surabaya “Melalui pengelolaan perseroan yang transparan dan akuntabel disertai dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia dan teknologi produksi yang dilaksanakan secara berkesinambungan dan efisien”. dan Kanada. namun juga diekspor keluar Negeri di antaranya Asia. Eropa. Secara selektif berupaya untuk meningkatkan ekspor terutama ke negaranegara yang tidak menerapkan hambatan perdagangan dengan Indonesia 45 . Australia. sehingga mampu meningkatkan nilai tambah bagi hubungan bisnis kedua belah pihak. Hal tersebut disebabkan karena GDS mengambil bahan baku dari China dan Rusia dengan kualitas baja yang sangat padat dan bagus. Oleh sebab itu disusun strategi bisnis yang dapat memenuhi objektivitas Perseroan. Hingga kini. Gunawan Dianjaya Steel Tbk Surabaya memiliki visi perusahaan “Menjadi industri rolling mill plat baja canai panas terkemuka di lingkungan negara-negara ASEAN yang senantiasa memegang komitmen atas mutu produk dan waktu serah (delivery time)”.45 tantangan industri baja di lingkup global. Plat baja produksi GDS tidak hanya dipasok ke pasar domestik. Berupaya tetap mempertahankan penjualan untuk pasar domestik sekaligus berupaya meningkatkan penjualan langsung kepada end user serta selalu membina komunikasi yang baik dengan distributor.000 ton per tahun. antara lain: a. Misi perusahaan PT. GDS mampu memproduksi plat baja hingga total 350. GDS terus berkembang karena produk baja mereka bisa dikatakan bagus. Timur Tengah. Strategi bisnis yang selaras dengan visi dan misi Perseroan dalam mengembangkan program di masa mendatang sangatlah penting untuk pendukung pertumbuhan Perseroan.

Training Ahli K3 dan SMK3 kepada karyawan dan manajemen. d. Gunawan Dianjaya steel Tbk Surabaya memiliki karyawan dari berbagai tingkatan pendidian berikut pada tabel 4. Tabel 4. Mengamati strategi pesaing produk sejenis. dan sosialisasi peraturanperaturan yang diadakan lembaga swasta maupun pemerintah. Sosialisasi Peraturan OJK dan BEI. yang biasanya menggunakan harga sebagai strategi bersaing yang bisa diantisipasi dengan strategi fleksibilitas dalam menerima kuantitas order. manajemen GDS selalu mengupayakan terciptanya SDM berkualitas melalui serangkaian pembinaan dan pelatihan yang diikuti secara berkala. Singapore. memastikan ketepatan waktu serah (delivery time). c. PT. merupakan salah satu pilar keberhasilan Perseroan. seminar. antara lain: a. Pada tahun 2014 Perusahaan telah mengikutsertakan sejumlah karyawannya untuk mengikuti pelatihan. Sumber Daya Manusia (SDM). Mexico. Gunawan Dianjaya Steel Tbk tahun 2014 46 . Seminar pengembangan di bidang IT. baik domestik maupun importir. menambah variasi standarisasi produk dan fleksibilitas syarat pembayaran tanpa menambah risiko bagi Perusahaan.46 seperti Taiwan. Training mengenai manajemen lingkungan hidup. dalam berbagai posisi yang diembannya. b. f.1 Komposisi Pendidikan Karyawan PT. Strategi ini sangat efektif untuk memperkuat cashflow dan sebagai upaya lindung nilai (hedging) atas risiko pergerakan kurs US Dollar terhadap Rupiah. Afrika Selatan dan Timur Tengah. Training mengenai manajemen dan audit energi. c. Dengan jumlah karyawan sebanyak 534 orang.1 akan dijelaskan komposisi karyawan PT GDS pada tahun 2014. Seminar Perpajakan terbaru. e.

00 hingga pukul 23. dengan kategori “Biru” dan pada tahun yang sama. GDS Selain komposisi karyawan yang diijelaskan ada tabel 4. II dan III) sift satu dimulai pukul 07.47 Pendidikan 2014 2013 Sarjana 54 56 Ahli Madya 8 8 Sekolah Menengah Umum 356 349 Sekolah Menengah Pertama 48 48 Sekolah Dasar 20 20 Jumlah 486 481 Sumber : PT. Perseroan juga memperoleh sertifikasi SMK3 yang diterbitkan oleh PT.2 Alur Produksi Ada beberapa tahapan proses yang terjadi dalam memproduksi plated PT GDS dimulai dari penyediaan bahan bakau (slab) hingga menjadi sebuah plate. Tetapi untuk hari minggu dihitung lembur. Pada PT. GDS perhitungan Jam kerja sudah sesuai dengan peraturan mentri tentang penerapan 8 jam kerja perhari dan lebih dari itu dihitung lembur.00 dan berakhir pada pukul 07. Rutinitas ini dimulai hari Senin – minggu.00 pagi. Tahun 2014 PT GDS memperoleh sertifikasi “Proper” dari Kementerian Lingkungan Hidup R. Jam kerja pada PT. kemudian dilanjutkan dengan sift II pad pukul 15.00 dan sift III dimulai pada pukul 23.00 – 15.I. 3.1 berikut akan dijelaskan alur produksi: 47 . Perusahaan juga menggunakan tenaga kerja kontrak (outsourcing) sebanyak 48 orang. Surveyor Indonesia. (sift I. pada gambar 4. Gunawan Dianjaya Steel Tbk Surabaya terbagi menjadi tiga sift.1 .00.

pemotongan sesuai ukuran yang ditentukan. Reheating Furnace Setelah terbagi menjadi beberapa potong. d. digunakan mesin perata permukaan plat. slab tersebut ditipiskan dengan mesin 4-High Roughing &Finishing Mill hingga slab menjadi plate f. Diving Shear Plat yang memanjang akibat tahap sebelumnya dipotong lebih pendek dengan mesin pembagi. c. g. sesuai dengan kualitas dan ukurannya. i. b. Slab Cutting Slab Cutting merupakan pemotongan bahan baku hingga menjadi beberapa bagian. yang memiliki reputasi internasonal. Hot leveller Untuk memastikan kerataan dan mutu plat yang prima. 4-High Roughing &Finishing Mill Setelah dipanaskan. Plate Cutting 48 . Descaler Slab yang membara dibersihkan dengan mesin pembersih kerak dengan cara disemprotkan air berkecepatan tinggi untuk menghilangkan kotoran dari prosees sebelumnya. e. Slab Slab atau bahan baku berupa baja tebal yang di datangkan dari luar negeri. h.48 Sumber : PT GDS Gambar 4. Gunawan Dianjaya Steel Tbk a.1 Alur Produksi PT. Cooling bed Meja pendingin membantu mendinginkan secara alami alat yang panas hingga mencapai suhu lingkungan. baja tersebut dipanaskan di dapur pemanas sampai suhu standar.

jika tebal plat lebih atau sama dengan 15mm maka digunakan flame cutting atau pemotongan dengan las campuran LPG dan oksigen.2 Risiko Bahaya yang terdapat di PT. j.49 Plat di potong sesuai ukuran pemesanan. Storage Plat yang telah dilabel sudah selesai dan disimpan di ruang penyimpanan dan siap dikirim ke pemesanan l. Terhimpit dan Debu Produksi . Berikut penjelasan mengenai area kerja yang terdapat di perusahaan sekaligus risiko bahaya yang ada didalamnya Tabel 4. terdapat beberapa risiko bahaya yang memungkinkan timbulnya kecelakaan kerja apabila tidak dilakukan pengendalian bahaya tersebut. Gunawan Dianjaya Steel Tbk tahun 2015 AREA KERJA Gudang Bahan Baku BAHAYA Terjepit. Suhu Panas. Risiko . digunakan machanized side shear atau pemotong samping dengan mesin pemotong. Debu. 3. Stenciled Pemberian Label pada bagian atas plat besi. Namun bula ketebalan kurang dari 15 mm. k.Slab Cutting - - - Reheating Furnunce Descaler 4-High Roughing &Finishing Mill Diving Shear Cooling bed Plate Cutting 49 Bahaya Ergonomi. Risiko Peledakan Suhu Panas dan Debu Suhu Panas dan Debu Suhu Panas Bising dan Debu Suhu Panas Bising dan Debu Suhu Panas Bising dan Debu Bahaya Ergonomi . Shipment Plat-plat baja yang berkualitas siap di kirim ke pemesan melalui jalur darat serta laut.3 Risiko Bahaya Didalam proses produksi. Bising dan Debu. sesuai dengan nomer seri pemesanan dan warna sesuai dengn ketebalan.

Manajemen telah menetapkan dan menerapkan prinsip-prinsip keselamatan dan kesehatan kerja dan lingkungan (K3L) sebagai standar kerja yag berlaku bagi seluruh unit kerja dan kantor. Risiko Terjepit Mesin 4.50 Peledakan Gudang Hasil Produksi Terjepit. dimana organisasi ini bertugas untuk menjaga dan memelihara agar risiko bahaya kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat dicegah dan dihindari sehingga keselamatan dan kesehatan kerja dapat terwujud. Industri rolling mill plat baja yang memiliki risiko kerja yang tinggi dmana sewaktu-waktu menimbulkan resiko kecelakan. Bahaya Ergonomi . PT. khususnya bagi karyawan.04 tahun 1987 tentang panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja serta tata cara penunjukan ahli keselamatan kerja.4 Gambaran Keselamatan Dan Kesehatan Kerja di PT. Terhimpit dan Debu WorkShop Terpeleset¸ Terkena Gam. Gunawan Dianjaya Steel Tbk telah dibentuk organisasi Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) sebagai bentuk pengaplikasian Peraturan mentri tenaga kerja No. Gunawan Dianjaya Steel (GDS) Tbk Surabaya. Berikut struktur organisasi P2K3 : 50 .

kebijakan dibuat dan disetujui pada level teratas oleh direktur utama. keragaman dan pengecualian.51 Sumber :PT GDS Gambar 4. tujuan dan prinsip-prinsip yang mengatur organisasi perusahaan. Gunawan Dianjaya Steel. pejabat eksekutif dan memberikan garis-garis besar kegiatan. Kebijakan K3 dari suatu organisasi adalah merupakan pernyataan yang menyebarluaskan kepada umum dan ditandatangani oleh manajemen senior sebagai bukti pernyataan komitmennya dan kehendaknya untuk bertanggung 51 . penjelasan untuk situasi yang kompleks atau kritis dan bentuk-bentuk penerapan atau pelaporan.4. Gunawan Dianjaya Steel Tbk 4. Tbk Surabaya Kebijakan keselamatan kerja adalah pernyataan tentang cita-cita. pada umumnya berisi pernyataan kebijakan.2 Struktur Organisasi Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) PT.1 Kebijakan K3 PT. instruksi.

52

jawab terhadap K3. Kebijakan ini dimaksudkan untuk menjelaskan kepada
karyawan, pemasok, pekerja, tamu, pelanggan bahwa K3 adalah bagian yang tak
terpisahkan dari seluruh operasi. Komitmen ini selanjutnya diperkuat dengan
manajemen yang secara aktif ikut serta dalam peninjauan ulang dan peningkatan
kinerja K3 secara berkesinambungan.
Kebijakan K3 PT. Gunawan Dianjaya Steel Surabaya adalah sebagai
berikut:
1. Mencegah kecelakaan dan penyakit akibat tkerja dengan melakukan
penilaian dan pengendalian risiko untuk mengkaji opersasional
organisasi secara sistematis
2. Mematuhi peraturan perundangan dan persyaratan lain baik penilaian
internasional yang relevan dengan opersional organisasi.
4.4.2 Prosedur Tanggung Jawab Manajemen
Dalam peraturan perusahaan telah di atur tentang tanggung jawab
manajemen terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan K3. Berikut
penjelasan ;
1. Penunjukan Wakil Manajemen
a. Direktur Utama menunjuk Manager Quality Control sebagai Wakil
Manajemen atau Management Representative.
b. Tugas dan wewenang Wakil Manajemen adalah: Memastikan bahwa
sistem

manajemen

K3

disusun,

diterapkan,

dan

dipelihara

kesinambungannya.
2. Penetapan Kebijakan K3 dan Sasaran dan Program K3
a. Direktur Utama menetapkan dan mengesahkan kebijakan K3. Kesesuaian
isi kebijakan mutu dengan tujuan perusahaan ditinjau pada saat rapat
tinjauan manajemen dan dapat direvisi jika diperlukan.

52

53

b. Perusahaan menetapkan paling sedikit sebuah sasaran dan Program K3
yang terukur dan konsisten dengan Kebijakan K3 tersebut.
c. Salah satu dasar penetapan sasaran dan Program K3 adalah hasil analisis
terhadap data dari:
1) Tingkat insiden K3 dari aktivitas yang ada di area Kantor/Perusahaan.
2) Kinerja pemasok yang dilakukan oleh Departemen Pembelian.
d. Wakil manajemen mengkomunikasikan Kebijakan K3 dan sasaran dan
Program K3 melalui poster maupun metode lain. Safety Prosedur
Pelatihan Tenaga Kerja.
e. Realisasi dari perbaikan K3 direkam dan disimpan oleh Sekretaris P2K3
dan dilaporkan kepada Wakil Manajemen dalam rapat tinjauan
manajemen atau sebelum rapat dilaksanakan, sesuai kebutuhan.
f. Setiap perubahan baik struktur organisasi, kebijakan K3, sasaran dan
Program K3 maupun dokumen K3 harus dikomunikasikan kepada Wakil
Manajemen sehingga integritas dari sistem dapat dijaga.
3. Komunikasi Internal dan Rapat Tinjauan Manajemen
a. Tinjauan

manajemen,

sebagai

bagian

dari

komunikasi

internal,

dilaksanakan minimal 2 kali setahun dengan dipimpin oleh salah satu
Direktur yang hadir.
b. Jika rapat memutuskan untuk melakukan tindakan perbaikan atau
peningkatan, maka rencana perbaikan tersebut harus dicatat di dalam
notulen dan selanjutnya dituangkan ke dalam formulir CAR (Corrective
Action Request) sesuai jenisnya.
c. Agenda rapat dapat meliputi, tetapi tidak terbatas, pada:
1) Tuntutan dari pihak yang terkait dan pasar.
2) Perubahan produk dan kegiatan produksi yang berpengaruh pada K3.
3) Perubahan struktur organisasi perusahaan.

53

54

4) Perkembangan

ilmu

pengetahuan

dan

teknologi,

termasuk

epidemiologi.
5) Hasil kajian kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
6) Adanya pelaporan.
7) Adanya saran dan pekerja/buruh.
8) Evaluasi kebijakan K3.
9) Tujuan sasaran dan kinerja K3.
10) Hasil temuan audit K3.
11) Evaluasi efektivitas penerapan SMK3 dan kebutuhan pengembangan
SMK3.
4.4.3 Prosedur Identifikasi dan Penilaian Bahaya & Risiko K3
Proses Identifikasi dan Penilaian Bahaya & Risiko K3 terdiri dari beberapa
proses, seperti yang dijelakan dibawah ini;
1. Identifikasi Bahaya K3
a. Sekretaris P2K3 membentuk tim di unit kerja masing-masing yang
terdiri dari personil berpengalaman dan memiliki pengetahuan tentang
K3 dan dipimpin kepala bagian & Manajer masing-masing.
b. Pembentukan tim dilakukan di awal implementasi SMK3, saat ada
perubahan proses/peralatan maupun proses/peralatan baru. Identifikasi
dilakukan

juga

diawal

informasi

proyek

untuk

diidentifikasi

kemungkinan pengendalian K3 yang harus disiapkan.
c. Masing-masing tim melakukan identifikasi bahaya K3 dengan
memperhatikan:
1) Kondisi rutin dan non rutin untuk bahaya K3.
(a) Kondisi rutin: bahaya yang aktual terjadi terjadi akibat aktivitas
produk dan jasa yang rutin dilakukan.
(b) Kondisi non rutin: bahaya yang berpotensi terjadi akibat adanya
2) Aktivitas

aktivitas tidak rutin atau sesekali dilakukan/terjadi.
seluruh personel baik karyawan maupun

(subkontraktor, supplier, & pengunjung).
3) Perilaku yang berbahaya dan berdampak pada lingkungan.
4) Lokasi/ruangan/kondisi tempat kerja.
5) Sumber daya yang akan dipergunakan.

54

pihak

luar

55

6) Alat, mesin dan sumber tenaga yang ada (aliran listrik, genset, dsb) serta
jenis material.
7) Penanganan secara manual dan mekanis.
8) Modifikasi proses atau proses baru.
9) Kerja lainnya yang mungkin menimbulkan bahaya K3.
d. Tim melakukan tinjauan awal untuk mengidentifikasi semua bahaya K3 serta
memperkirakan risiko K3 yang akan terjadi.
e. Tim melakukan identifikasi dengan melihat kondisi lapangan/ruangan/tempat
kerja dan lingkungan sekitarnya.
f. Tim melakukan observasi dan wawancara kepada personil terkait dalam suatu
kegiatan untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam mengenai
kemungkinan risiko K3 yang akan terjadi.
g. Setelah diperoleh data bahaya K3 yang terkait, kemudian diperkirakan
dampaknya.
h. Membuat daftar semua bahaya K3 yang telah teridentifikasi.
2. Penilaian Risiko K3
a. Mengidentifikasi peraturan dan perundangan yang berlaku yang berkaitan
dengan bahaya K3, jika terdapat peraturan dan perundangan yang terkait
dengan aktivitas perusahaan, maka dampak yang terjadi dikategorikan
sehingga sebagai dampak yang signifikan.
b. Untuk bahaya K3 yang tidak terkait dengan peraturan dan perundangan yang
berlaku, diadakan penilaian dampak & risiko dengan mempertimbangkan
faktor Kemungkinan (probability) dan faktor Keparahan (severity).
3. Pengendalian Risiko

55

b) Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan. d) Penyelenggaraan inspeksi K3L. Pemantauan Tindakan Pengendalian Risiko 56 . rambu. f) Memberi proteksi lokasi berbahaya: memasang pagar pengaman. Jenis tindakan dan skala waktu kontrol tergantung dari hasil penilaian dampak dan risiko. memasang denah evakuasi. b. penggunaan kran otomatis. tanda B3. 3) Administratif dan pengendalian prosedur a) Pengendalian secara administratif: ijin kerja.56 a. 5) Rencana tindak darurat Menyediakan fasilitas pencegahan. Contoh: listrik 1. bimbingan fungsional. safety harness. dilakukan kontrol untuk mengurangi risiko K3. Jenis pengendalian adalah sebagai berikut: 1) Desain & proses Melakukan perubahan desain atau proses kegiatan ke arah yang lebih aman untuk menghilangkan semua potensi bahaya dan sumber bahaya (jika mungkin) dengan mengganti unsur/proses yang lebih aman. e) Peralatan yang aman (safety equipment) dan hemat energi. c) Pembuatan prosedur dan IK dan dilaksanakan secara konsisten. 2) Engineering control Untuk mengurangi risiko dengan menggunakan unsur/materiil yang lebih aman. sarung tangan. lampu hemat energi. induksi. Contoh: tenaga manusia diganti peralatan untuk mengangkat beban berat. persetujuan penggunaan material yang aman. mesin tenaga solat diganti dengan listrik/uap. Risiko K3 yang signifikan. sosialisasi. menentukan muster area. 4) Alat Pelindung Diri (APD) Wajib menggunakan APD sesuai potensi bahaya yang ada seperti: helm. 4.

sasaran dan program K3. 3. produk. 4. Hasil pengendalian dampak. Ka. karyawan lama yang pindah tugas atau dipromosikan. subkontraktor dan pihak lain yang berkepentingan. mesin. personel dan aktivitas baik berupa penambahan. Hasil identifikasi dapat dijadikan dasar pertimbangan penyusunan tujuan. maka identifikasi bahaya & Risiko K3 akan ditinjau oleh masing-masing bagian dan Manajer untuk update/diperbaiki. Rapat K3 Rapat K3 dilakukan dengan melibatkan Manajer. Rapat Tinjauan Manajemen Rapat tinjauan manajemen dilakukan sesuai prosedur tinjauan manajemen.4. pertemuan sasaran K3. Akses ke dinas setempat Dilakukan oleh sekretaris P2K3 dengan cara melakukan kunjungan ke dinas K3 mengupdate dan memperbaharui jika terdapat peraturan 57 .Shift. pengurangan maupun penggantian. wakil manajemen dan wakil dari subkontraktor (jika dibutuhkan) dan hasilnya dicatat sebagai risalah rapat. Jika ada perubahan proses.4 Prosedur Komunikasi. 5.57 a. Anggota. Identifikasi bahaya & risiko K3 secara periodik akan ditinjau kesesuaiannya oleh sekretaris P2K3 minimal 1 tahun sekali untuk memastikan kesesuaiannya dengan kondisi terkini. 2. Contoh: HSE meeting. dll. 4. d. AK3. safety talk. c.Sie.Sie. harus disetujui oleh pimpinan/manajer yang terkait di masing-masing tingkat dalam organisasi perusahaan. untuk menjadi dasar dalam implementasi K3. Partisipasi & Konsultasi A. Ka. tamu. b. Papan Pengumuman K3 Papan pengumuman akan dipasang ditempat yang strategis agar mudah dibaca oleh seluruh pihak yang berkepentingan. Waka. Induksi K3 Induksi K3 akan diberikan kepada karyawan baru. Rincian Prosedur 1.

Prosedur Investigasi dan Pelaporan Insiden Kegiatan investigasi dan pelaporan insiden kecelakaan yang terjadi didalam dan di luar perusahaan PT GDS telah disusun dalam bentuk standar operasional prosedur yang telah disusun pada saat adanya komitmen perusahaan dalam keikut sertaan dalam program pemerintah yakni pada program Sistem Manajemen K3 (SMK3). Insiden & Ketidaksesuaian 58 . Faximile. email. Pertemuan dengan masyarakat sekitar dan pihak eksternal lainnya yang terkait dilakukan oleh sekretaris P2K3 bila diperlukan dan sesuai kebutuhan serta kondisi yang ada untuk memfasilitasi agar proses operasional dapat berjalan lancar dan efektif. 7. Pelaporan Kecelakaan. 6. Sakit.5 sebagai agenda dalam rapat tinjauan manajemen. Telepon.58 perundangan yang terbaru atau dengan cara mengakses website dinas kementerian. Surat Setiap telepon. Semua kegiatan komunikasi dan konsultasi akan didokumentasikan oleh perusahaan dengan menggunakan formulir konsultasi dan dokumentasi. faximile. Email. atau surat yang terkait dengan K3 diserahkan ke document controller untuk didata dan didistribusikan sesuai keperluan serta ditindaklanjuti. berikut rincian prosedut tersebut : 1. Jika dalam pelaksanaan komunikasi atau konsultasi ditemukan suatu hal yang dapat memperbaiki kinerja K3 maka akan diajukan ke pihak manajemen untuk dijadikan 4. Setiap perubahan Sistem Manajemen K3 yang akan berpengaruh di tempat kerja dikomunikasikan dan dikonsultasikan ke seluruh pegawai dan pihak eksternal yang terkait. jika tidak tercover dengan formulir lainnya.4.

tetapi dicatat dalam form Konsultasi & Komunikasi Log Book 2) Kecelakaan ringan harus segera dilaporkan 2. 3) Tindakan perbaikan segera yang harus diambil 59 . Semua kecelakaan. Pelaporan dilakukan secepatnya.59 a. c. Metode Investigasi mencakup: 1) Teknik pengumpulan data 2) Teknik analisa data untuk mengetahui penyebab langsung. berikut rincian prosedut tersebut : a. Sakit. sakit. b. tidak harus dilaporkan tertulis. b. penyebab dasar (faktor personal & pekerjaan) dan kontrol manajemen. sakit akibat kerja. Sakit. atau ketidaksesuaian. Insiden & Ketidaksesuaian pada PT GDS telah disusun dalam bentuk standar operasional prosedur yang telah disusun pada saat adanya komitmen perusahaan dalam keikut sertaan dalam program pemerintah yakni pada program Sistem Manajemen K3 (SMK3). insiden. Insiden & Ketidaksesuaian Penanganan Kecelakaan. Semua karyawan yang terlibat dalam kegiatan perusahaan wajib lapor kepada atasannya/wakilnya jika melihat kecelakaan. dan ketidaksesuaian lain. e. Sekretaris P2K3 wajib mengambil tindakan begitu mendapat laporan atau melihat kecelakaan. Pencatatan stok obat-obatan P3K untuk memantau insiden dari penggunaan obat-obatan P3K. Sakit. Investigasi Kecelakaan. insiden dan ketidaksesuaian harus diinvestigasi untuk mengetahui penyebabnya. Pelaporan secara tertulis menggunakan form Laporan Investigasi Kecelakaan dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Insiden. Penanganan Kecelakaan. Insiden & Ketidaksesuaian d. bisa secara lisan dulu agar dapat ditangani segera. c.

mensirkulasi dan mendistribusikan sesuai dengan instruksi yang tertera dalam lembar bentuk laporan. investigasi dan analisis akan dirangkum dalam laporan bulanan keselamatan dan kerugian yang dibuat oleh Ketua K3.60 4) Rekomendasi perbaikan yang bersifat pencegahan 5) Monitoring keefektifan tindakan perbaikan yang diambil 6) Investigasi dilakukan oleh Wakil manajemen dan pihak yang terkait. Pelaporan kepada DISNAKER hanya dibuat untuk kecelakaan yang terjadi pada karyawan perusahaan. sesegera mungkin dan tidak boleh lebih dari 24 jam setelah kejadian. Laporan kejadian kecelakaan harus dibuat dalam bentuk/format K. Laporan ini akan didistribusikan kepada seluruh Kepala Bagian/Ketua Regu dan didiskusikan dalam rapat Safety Committee/P2K3. d. Laporan-laporan kecelakaan. Kepala Bagian terkait akan meninjau ulang laporan.Surabaya. Laporan investigasi kecelakaan diminta: 1) Kecelakaan menyebabkan hari hilang 2) Kecelakaan tidak ada hari hilang 3) Kerusakan harta benda dan kerugian 4) Kebakaran 5) Kejadian dengan potensi kecelakaan berat (nyaris celaka) c. berikut rincian prosedur tersebut: a. 60 .2 Laporan ini akan dibuat oleh Sekretaris P2K3. b. Kepala Bagian terkait dan aslinya diserahkan kepada JAMSOSTEK Cab. Laporan Tertulis Dalam pelaporan kejadian kecelakan padaPT GDS pihak managemen telah membuat SOP tentang tata cara pelaporan tertulis. hal ini berfungsi untuk mempermudah mengidentifikasi penyebab kecelakaan nantinya. 3.

61 4. Kecelakaan dan Insiden Berat 1) Kepala Bagian/Ketua Regu akan mempertimbangkan dengan segera setiap kecelakaan atau kejadian yang berat. untuk investigasi. Hasil dari tahap investigasi ini harus dicatat dengan baik. Wawancara ini secara pribadi dan harus dilakukan secara kekeluargaan dan pengertian. Setelah dilakukan tindakan emergensi yang tepat dan pelaporan diselesaikan. 5) Kepala Bagian/Ketua Regu terkait harus juga mengevaluasi penyebab kejadian dan menyiapkan tindakan perbaikan untuk 61 . dimana apabila dianggap penting. berikut rincian prosedur tersebut: a. sepanjang diminta. 4) Inspeksi tempat kecelakaan atau insiden harus dilakukan saat itu juga. diambil foto untuk dokumentasi investigasi. Ini akan mencakup wawancara terhadap orang yang langsung terlibat dan suatu tinjauan ulang secara cermat serta mendiskusikan laporanlaporan tertulis mereka. 2) Kepala Bagian/Ketua Regu terkait harus menjaga bukti fisik. tempat kejadian harus diamankan sampai ada pemberitahuan dari yang berwenang atau manajemen perusahaan. prosedur dibawah ini harus dimulai untuk investigasi dan tindakan perbaikan. Bilamana seseorang yang cidera yang dapat menjadi cidera berat atau potensi cidera berat. 3) Kepala Bagian/Ketua Regu terkait akan melakukan tahap awal investigasi segera setelah kecelakaan atau kejadian. Investigasi dan Tindakan Perbaikan Investigasi dan tindakan perbaikan perbaikan merupakan tindakan lanjutan setelah proses pelaporan selesai dilakukan.

Bilamana perlu dia akan diantar oleh anggota manajemen. c) Menganalisa informasi yang ada untuk menentukan faktorfaktor yang memberikan kontribusi terjadinya kecelakaan. 9) Setelah melakukan investigasi. b. Pertemuan ini harus dihadiri Ketua K3. suatu pertemuan peninjauan ulang akan dilakukan oleh Direktur untuk menentukan kualitas investigasi dan mengevaluasi tindakan perbaikan yang diusulkan dan menetapkan rencana tindakan yang paling tepat. 6) Kepala Bagian terkait yang menerima laporan investigasi kecelakaan. bersama dengan Ketua K3 menentukan siapa yang harus dilibatkan dalam tim investigasi dan dalam menentukan tindakan perbaikan. ad-hoc team investigasi kecelakaan juga akan dibentuk. 8) Bila dianggap perlu. Salinan dokumentasi investigasi. b) Melakukan wawancara dan atau inspeksi. kerusakan harta benda yang berat. Kepala Bagian terkait harus melakukan investigasi di tempat kejadian. dan para Kepala Bagian terkait. kebakaran). bersamaan dengan laporan investigasi kecelakaan harus diserahkan oleh Ketua Regu terkait kepada atasannya dengan tembusan kepada Ketua K3 sesegera mungkin. d) Membuat dan merekomendasikan rencana tindakan praktis untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali. Kecelakaan Sedang 62 .62 mencegah terulang kembali kejadian yang sama. Team bertanggung jawab untuk: a) Mengevaluasi laporan dan dokumen terkait. 7) Untuk seluruh kecelakaan yang sangat berat (meninggal.

Bag. 63 .-nya dan Ketua K3. yang akan melakukan tindakan perbaikan dan atau pengendalian untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali. K.2. 2) Laporan investigasi kecelakaan akan ditinjau kembali oleh Ka. Investigasi selanjutnya. Kecelakaan Ringan Kecelakaan ringan harus dilaporkan dengan bentuk No. c.63 1) Kecelakaan sedang yang dilaporkan dalam bentuk Laporan Investigasi Kecelakaan. insiden atau sakit di Form Tindakan Koreksi & Pencegahan. Tindakan Pencegahan Dalam rangka pencegahan terjadinya kecelakan pada PT GDS pihak managemen telah membuat suatu SOP yang disusun secara sistematis. kejadian-kejadian tersebut harus mendapat perhatian Kepala Bagian/Ketua Regu terkait dan harus didiskusikan dalam safety meeting bulanan. Ketua K3 akan mengevaluasi laporan. berikut rincian tersebut: 1) Mencatat semua ketidaksesuaian yang berpotensi menimbulkan kecelakaan. d. tindakan perbaikan atau distribusi informasi yang terkait bisa diperoleh dari tinjauan ini. investigasi harus dilakukan secepatnya oleh Ketua Regu terkait. Semua kecelakaan/insiden dan tindakan perbaikan akan ditinjau kembali oleh Safety Committee/P2K3. untuk mengidentifikasi trennya dan melaporkan ke P2K3 untuk tindakan selanjutnya.

4. Gunawan Dianjaya Steel Tbk Surabaya diperoleh karakteristik operator sebagai berikut : 4.64 2) Mengkomunikasikan insiden yang terjadi dan hasil investigasi untuk mencegah tidak terulang dan meningkatkan kewaspadaan pekerja. 3) Menganalisa data untuk pencegahan dengan memperhitungkan dampak yang mungkin terjadi.3 : Tabel 4. Distribusi frekuensi usia responden dalam penelitian ini dapaat dilihat pada tabel 4.6. 4) Mengkaji apakah tindakan pencegahan sudah efektif/belum.3 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Usia Usia Frekuensi Persentase (%) < 40 Tahun 6 24 64 . Gunawan Dianjaya Steel Tbk dengan 25 Operator Gas Cutting Plate sebagai responen .5 Identifikasi Keluhan MSDs Pada Operator Gas Cutting Plate di PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk dengan menggunakan Nordic Body Map Pengambilan data dengan kuisioner Nordic Body Map telah dilakukan tanggal 18-28 Agustus di Bagian Produksi PT. Tujuan peyebaran kuisioner untuk mengetahui gambaran Keluhan Nyeri Muskuloskeletal pada operator gas cutting plate di PT. 4.6 Karakteristik Operator Gas Cutting Plate Berdasarkan Identifikasi yang telah dilakukan pada Operator Gas Cutting Plate di PT. Gunawan Dianjaya Steel Tbk Surabaya tahun 2015.1 Usia Usia adalah umur responden dalam tahun dihitung dari waktu kelahiran sampai tahun penelitian dilakukan.

3 Status Gizi Status gizi merupakan sebuah keadaan yang dimiliki responden terkait gizi dan kesehtan. 4.6.2 Masa Kerja Masa kerja adalah lama waktu responden bekerja dihitung dalam tahun sejak awal kerja sampai pada saat penelitian dilakukan. 4.3 menunjukkan bahwa dari 25 responden. Berdasarkan hasil kuesioner dan wawancara yang dilakukan pada operator diperoleh data distribusi frekuensi berdasarkan masa kerja yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 4.4 dapat diketahui bahwa para responden sebagian besar 24 orang (96%) mempunyai masa kerja yang lama. diperoleh data responden berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) sebagai berikut: 65 . sebanyak 6 responden (24%) berusia <40 tahun. sebanyak 18 responden (72%) berusia 41-51 tahun dan hanya 1 responden (4%) yang berusia 51 tahun.4 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Masa Kerja Masa Kerja Jumlah Persentase (%) Sedang ( 5-10 tahun) 1 4% Lama ( >11 tahun) Jumlah 24 25 96% 100% Berdasarkan tabel 4. Diketahui berdasarkan Indeks Massa Tubuh dengan cara pembagian antara berat badan dan tinggi badan melalui kuesioner. sedangkan hanya 1 responden (4%) yang memiliki masa kerja sedang.6.65 41-50 Tahun 18 72 >51 Jumlah 1 25 4 100% Tabel 4.

5 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Status Gizi Status Gizi Jumlah Persentase (%) Kurus ( < 18) 2 8% Normal ( > 18.5 – 25.6 diketahui bahwa sebagian besar 23 responden atau sebesar 92% memiliki kebiasaan merokok dan selebihnya 8% tidak memiliki kebiasaan merokok dalam kesehariannya. diperoleh data responden berdasarkan kebiasaan merokok sebagai berikut: Tabel 4. 4.5 – 27. dan hanya 1 responden (4%) memiliki stastus gizi gemuk. 4.0 ) Jumlah 1 25 4% 100% Tabel 4. sebanyak 22 responden atau sebesar 88% memiliki status gizi normal.4 Kebiasaan Merokok Data kebiasaan merokok responden diperoleh melalui pertanyaan melalui kuesioner.66 Tabel 4. Hal tersebut menggambarkan bahwa responden sebagian besar memiliki status gizi normal.7 Keluhan Nyeri Muskuloskletal Disoders (MSDs) 66 .6 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan kebiasaan Merokok Kebiasaan Merokok Jumlah Persentase (%) Merokok 23 8% Tidak Merokok Jumlah 2 25 92% 100% Dari tabel 4.0 ) 22 88% Gemuk ( > 25.5 menunjukkan bahwa responden dalam penelitian yakni sebanyak 25 responden. sebanyak 2 atau sebesar 8% memiliki status gizi kurus.6.

terdapat 4 skala yang terdapat dalam kuesioner ditandai dengan angka 0 yang menandakan tidak adanya rasa nyeri yang dirasakan. Berikut ini frekuensi keluhan MSDs responden pada 28 bagian otot pada sistem muskuloskletal yang dirasakan ada keluhan oleh respoden.3 sebagai berikut : 67 .67 Keluhan Nyeri Muskuloskletal (MSDs) pada para operator gas Cutting Plate dihitung dengan menggunakan kuesioner Nordic Body Map dimana terdapat 28 bagian otot pada sistem muskuloskletal pada kedua sisi tubuh kanan dan kiri. disajikam pada gambar 4. diketahui bahwa semua responden 25 operator (100%) memiliki keluhan nyeri Muskuloskletal (MSDs). Berdasarkan hasil kuesioner yang telah dilakukan pada operator gas cutting plate di peroleh data keluhan nyeri sebagai berikut: Berdasarkan pengumpulan data dengan kuesioner terhadap 25 operator gas cutting plate. angka 1 untuk adanya sedikit rasa nyeri. Yang dimulai dari anggota tubuh bagian atas yaitu otot leher sampai dengan bagian bawah yaitu otot kaki. angka 2 untuk merasakan nyeri dan angka 3 untuk merasakan sangat nyeri.

Tingkat keparahan rasa nyeri yang dirasakan operator Gas Cutting plate akan disajikan pada gambar 4.4 berikut : 68 . kemudian pada bagian punggung (19 Keluhan) dan keluhan pada bahu kanan sebanyak 13 keluhan.3 Distribusi Frekuensi Keluhan MSDs berdasarkan Bagian Tubuh Pada Operator Gas Cutting Plate tahun 2015 Berdasarkan gambar 4.3 diatas dapat diketahui bahwa keluhan yang dirasakan terbanyak terdapat pada bagian pinggang serta leher bagian atas yakni sebanyak 20 keluhan.68 Bagian Keluhan 25 20 20 13 15 10 5 20 19 10 9 7 8 4 8 8 6 5 7 6 6 5 6 5 7 5 5 4 3 4 3 4 4 0 Gambar 4.

2 responden merasakan nyeri dan 1 responden merasakan sangat nyeri. berikut total skor keluhan individu disajikan pada tabel 4.7: 69 .4 diatas dapat diketahui bahwa pada leher bagian atas sebagian besar keluhan atau sebesar 18 responden merasakan agak nyeri dan 2 responden lain mengelukan nyeri. pada bagian punggung terdapat 14 keluhan agak nyeri. tentunya hasil akhir dari penjumlahan tersebut berfungsi untuk menentukan tindakan pengendalian yang harus dilakukan.4 Distribusi Frekuensi Tingkat Nyeri MSDs berdasarkan Bagian Tubuh Pada Operator Gas Cutting Plate tahun 2015 Gambar 4. 3 keluhan responden merasakan nyeri dan satu responden merasakan sangat nyeri. Langkah terakhir dari metode Nordic body map adalah melakukan penjumlahan total besarnya keluhan pada setiap responden. pada bagian bahu kanan dari 13 keluhan terapat 10 keluhan responden merasakan agak nyer.69 20 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 18 16 14 10 Agak nyeri 4 2 2 1 Nyeri 3 1 1 Sangat Nyeri 0 Gambar 4. 4 responden merasakan nyeri dan 1 respon merasakan sangat nyeri dan pada bagian pinggang dari 20 keluhan sebanyak 16 keluhan dengan agak nyeri.

9 Rekomendasi Dari hasil identifikasi masalah MSDs yang dilakukan dengan kuisioner Nordic Body Map pada para operator didapatkan hasil sebagian besar operator 70 .70 Tabel 4.8 Pemecahan Masalah Berdasarkan uraian masalah yang telah dijabarkan sebelumnya. 4. 3 responden (12%) dengan kategori risiko sedang dan terdapat 1 responden atau 4% memiliki total skor keluhan dengan risiko tinggi sehingga membutuhkan pengendalian dengan segera. sebagian besar responden atau 21 responden (84%) memiliki kategori risiko rendah. mempelajari potensi bahaya hasil inspeksi dan memberikan rekomendasi sebagai upaya tindak lanjut.7 menunjukkan bahwa dari 25 responden. 4.7 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Total Keluhan Individu Total Skor Tingka Kategori Jumlah Persentase (%) Keluhan Individu t Risiko Risiko 0-20 0 Rendah 21 84 21-41 1 Sedang 3 12 42-62 2 Tinggi 1 4 63-84 Jumlah 3 Sangat Tinggi 25 100% Dari penyajian tabel 4. yang dilakukan ialah melakukan mapping dan mengidentifikasi keluhan terkait MSDs yang telah dirasakan operator gas cutting plate sebagai upaya pencegahan kecelakaan di tempat kerja.

. Devisi K3 sebagai penanggung jawab K3 dilapangan membuat program sosialisasi tentang MSDs bagi Operator. Memberikan pelatihan cara mengangkat beban yang benar bagi para operator gas Cutting Plate 3. Sedang 3 Operator Mungkin memerlukan tindakan dikemudian hari 1. Devisi K3 sebagai penanggung jawab K3 dilapangan membuat program sosialisasi tentang MSDs bagi seluruh pekerja yang memiliki risiko MSDs. 2. GDS untuk mengurangi dampak cedera yang mungkin Tinggi 1 Operator Diperlukan tindakan segera 71 . 1. Memberikan informasi bagi operator gas Cutting plate untuk melakukan stretching yang dilakukan setiap 15 menit setiap 2 jam kerja. Hal ini bertujuan untuk memberi relaksasi bagi operator yang melakukan pekerjaan dengan posisi statis selama 4 jam.71 Gas Cutting Plate memiliki risiko kategori rendah dan berikut rekomendasi yang diberikan pada operator seseuai dengan kategori risiko MSDs yang terjadi : Kategori Jumlah Tindakan Perbaikan Rekomendasi Risiko Rendah 21 Operator Belum diperlukan adanya tindakan perbaikan 1. Melakukan pemeriksaan lanjutan ke fasilitas kesehatan yang telah bekerja sama dengan PT. sehingga dapat menurunkan risiko terjadinya MSDs.

dan 4% >51 tahun.49 72 . 2. Melakukan rotasi pekerja ke bagian lain dengan tingkat mobilitas yang lebih rendah memiliki risiko MSDs BAB V PEMBAHASAN Hasil penyebaran kuisioner Nordic Body Map yang telah dilakukan.72 ditimbulkan akibat keluhan MSDs. didapat informasi bahwa responden sebesar 72% berusia 41-50 tahun. Hal ini dapat mempengaruhi keluhan MSDs yang dialami. Hal ini diperkuat juga dengan hasil penelitian Amalia (2010) pada pekerja kuli panggul didapatkan hasil bahwa kelompok usia 31. 24% berusia 31-40 tahun.

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Amalia (2010). Masa kerja juga mempengaruhi keluhan MSDs yang dapat dirasakan pekerja. Meskipun pengaruhnya relatif kecil. Berdasarkan data yang telah didapatkan. tinggi badan dan berat badan merupakan faktor yang dapat menyebabkan 73 . bahwa keluhan MSDs terbanyak pada responden dengan masa kerja diatas lima tahun. Status gizi dapat mempengaruhi kejadian MSDs. pekerja yang mempunyai masa kerja lebih dari 4 tahun mempunyai risiko 2.73 tahun memiliki tingkat keluhan paling tinggi yaitu sebesar 68. menurut Zulfiqor (2010). sebagian besar pekerja PT GDS yang menjadi responden yaitu sebesar 88% memiliki status gizi normal jika dilihat dari IMT. Hal ini disebabkan karena pada masa kerja tersebut telah terjadi akumulasi cidera-cidera ringan yang selama ini dianggap sepele. Pekerja GDS yang menjadi responden mayoritas memiliki masa kerja 10 tahun (96%) dan sisanya (4%) memiliki masa kerja 5-10 tahun. Status gizi dapat dilihat dari index masa tubuh seseorang. keluhan MSDs berbanding lurus dengan bertambahnya masa kerja. Selain itu. Rihiimaki et al (1989) dalam Tarwaka (2004) menjelaskan bahwa masa kerja mempunyai hubungan yang kuat dengan keluhan otot.775 kali dibandingkan pekerja dengan masa kerja ≤ 4 tahun.1%. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hendra dan Rahardjo (2009). Hasil penelitian tersebut sesuai dengan teori yang terdapat dalam Oborne (1995) bahwa keluhan otot skeletal biasanya dialami seseorang pada usia kerja yaitu 2465 tahun dan keluhan pertama biasa dialami pada usia 35 tahun serta tingkat keluhan akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia.

merokok dapat pula menyebabkan nyeri akibat terjadinya keretakan atau kerusakan pada tulang (Bernard et al. dan tersumbatnya aliran darah ke seluruh tubuh. 1997). Berdasarkan hasil survei oleh Annuals of Rheumatic Diseases diperoleh hubungan antara perokok dengan munculnya keluhan MSDs dan dilaporkan bahwa perokok memiliki risiko 50% lebih besar untuk merasakan MSDs (Tarwaka. Selain itu. Berdasarkan penelitian Heliovara (1987) yang dikutip NIOSH (1997) menyebutkan bahwa tinggi seseorang berpengaruh terhadap timbulnya herniated lumbar disc pada jenis kelamin wanita dan pria. Dari data yang telah didapat. 74 . Hal ini dapat terjadi karena nikotin pada rokok dapat menyebabkan berkurangnya aliran darah ke jaringan. Schierhout (1995) menemukan bahwa seseorang yang mempunyai ukuran tubuh yang pendek berasosiasi dengan keluhan pada leher dan bahu (Karuniasih. Bila darah sudah tersumbat. tapi berdasarkan IMT hanya berpengaruh pada jenis kelamin pria. 2009). maka proses pembentukan tulang sulit terjadi. Perokok juga beresiko mengalami hipertensi. Saat masih berusia muda. Namun saat melewati umur 35 tahun efek rokok pada tulang akan mulai terasa karena proses pembentukan tulang pada umur tersebut sudah berhenti (Boisvert. efek nikotin pada tulang memang tidak akan terasa karena proses pembentuk tulang masih terus terjadi. 2004). penyakit jantung. dan sisanya yaitu 8% bukan perokok.74 terjadinya keluhan otot skeletal. 2009). diketahui bahwa 92% responden merupakan perokok.

sehingga terjadi perbedaan keluhan antara bahu kanan dan bahu kiri. Pada dasarnya nyeri pada punggung bawah timbul akibat terjadinya tekanan pada saraf tepi daerah pinggang. Bagian-bagian tubuh yang paling banyak dikeluhkan responden adalah bagian leher bagian atas.75 Berdasarkan hasil Identifikasi yang telah dilakukan. bekerja membungkuk 75 . pekerja bekerja dengan cara membungkuk dan menjongkok. bekerja dangan lengan pda atau di atas tinggi bahu. terdapat 20 keluhan pada area ini hal ini dikarenakan pekerja selalu menundukkan kepala dan membutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi untuk mengatur mata gas potong sesuai dengan orderan. pekerjaan mengangkat obyek yang berat secara berulang . dan duduk lebih dari 95% jam kerja. beberapa hal yang dapat mempengaruhi timbulnya nyeri punggung bawah adalah kebiasaan duduk. Menurut Idyan (2006) pekerja yang mengeluhkan nyeri dibagian punggung bawah (low back pain) termasuk salah satu gangguan muskuloskletal yang sering terjadi di perusahaan yang di akibatkan dari mobilisasi yang salah. Keluhan berikutnya pada bahu kanan sebanyak 13 keluhan. dari analisa peneliti banyak operator yang mengangkat hanya dengan menggunakan satu tangan saja. Hal ini diakibatkan posisi kerja yang tidak alamiah. Terdapat 19 keluhan pada area punggung dan 20 keluhan pada daerah pinggang. Menurut Sim et al (2006) risiko terjadinya nyeri leher dan ekstermitas atas akan meningkat sebesar 44% pada pekerjaan posisi leher menunduk dalam waktu lama. didapatkan hasil bahwa semua responden (100%) mengalami keluhan MSDs. Menurut Tarwaka (2005). hal ini dikarena para operator bekerja mengangkat alat potong fortable.

76 . punggung. Di sebabkan oleh pekerjaan operator gas cutting plate bekerja dengan cara mendorong. dan pinggang. Bagian-bagian tubuh seperti tangan. dan kaki merupakan bagian tubuh yang sering digunakan pekerja dalam melakukan pekerjaannya (NIOSH.megangkat dang mengangkut beban dengan sikap yang tidak ergonomis. Menurut analisis penulis banyaknya keluhan nyeri pada operator Gas Cutting Plate pada bagian leher bagian atas. punggung. .76 dalam waktu yang relatif lama. posisi kaki tertekuk maksimal. punggung. Hasil ini sejalan dengan pendapat Sastrowinoto (1985) yang menyatakan bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan posisi duduk biasanya bagian tubuh yang dikeluhkan adalah pada bagian pinggang. prevalensi gangguan MSDs paling tinggi terjadi pada bagian leher dan punggung. 2007). leher menunduk. Keluhan tersebut terjadi karena sikap kerja yang membungkuk dengan gerakan-gerakan memutar pada daerah pinggang. dan leher. bahu kanan. dan gerakan repetitif tanpa diselingi istirahat yang cukup. tulang belakang yang tidak normal. leher. Hal ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ikrimah (2009) yang menyatakan bahwa pada pekerja penjahit. menarik mengangkat dan menurunkan alat potong plate secara manual handling. Macam-macam keluhan yang dirasakan oleh pekerja disebabkan faktor resiko MSDs yang memajan tubuhnya. atau akibat penyakit tertentu sseperti penyakit degeneratif. bahu. Tiap bagian tubuh memiliki risiko ergonomi dan gangguan kesehatan yang dapat melemahkan fungsi tubuh dan penurunan kinerja pekerja.

BAB VI PENUTUP 6. kebiasaan merokok. sebanyak 21 responden (84%) termasuk pada kategori risiko rendah sehinga menurut Tarwaka (2004) tindakan perbaikan bagi pekerja yang memilik total skor keluhan individu 0-20 atau yang memiliki risko rendah belum memerlukan adanya tindakan perbaikan. tahun 2015 didapatkan kesimpulan sebagai berikut : 77 . Gunawan Dianjaya Steel Tbk. kebiasaan olahraga.1. Hal ini memberiakan gambaran bagi perusahan untuk memberiakan pelayanan kesehatan bagi tenaga kerja tersebut. dan riwayat penyakit MSDs). Kesimpulan Berdasarkan hasil Identifikasi Keluhan MSDs yang telah dilakukan terhadap 25 operator gas cutting plate di bagian Gas Cutting Plate PT. Surabaya. Namun terdapat 1 responden 4% memiliki risiko tinggi. indeks masa tubuh. Berdasarkan identifikasi yang dilakukan dengan kuisisoner Nordic Body map maka didapati total skor keluhan individu. masa kerja.77 Beberapa teori dan hasil penelitian telah menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang berhubungan dengan keluhan MSDs pada pekerja diantaranya resiko/faktor pekerjaan dan faktor individu (umur.

Melihat dari hasil penelitian sebagian besar pekerja memiliki kebiasaan merokok disarankan pada pekerja untuk mengurangi kebiasaan merokok 78 . Berdasarkan kebiasaan merokok. Area yang paling banyak dikeluhakan adalah area Leher bagian Atas. responden terbanyak berusia 41-50 tahun b. kelompok responden dengan IMT normal (18. c. Punggung dan Pinggang 3. responden termasuk pada masa kerja yang lama (>10 tahun). Meskipun pada hasil identifikasi keluhan MSDs pada seagian besar operator memiliki kategori risiko termasuk pada kategori rendah. Bahu Kanan.78 1.5-25). Berdasarkan usia.1. c. Pekerja sebaiknya melakukan istirahat atau peregangan disaat sudah mulai merasakan stres pada otot tubuh. 6. seagian besar responden memiliki kebiasaan merokok. 4. Bagi Pekerja a. d. didapat bahwa: a. Berdasarkan data karakteristik resPponden.2. 2. disarankan kerpada pekerja secara rutin melakukan peregangan otot sebelum bekerja. b. Dari Penjumlahan metode Nordic Body Map didapati sebagian besar responden memiliki kategori risiko rendah. Berdasarkan masa kerja. Total 25 responden semua responden (100%) mengalami keluhan MSDs.2. Saran 6. Berdasarkan Indeks Masa Tubuh (IMT).

2.2. Perusahaan dapat melakukan rotasi pekerjaan untuk menghindari stres pada otot tubuh. Melihat besarnya dampak dari faktor pekerjaan. motivasi untuk melakukan sikap kerja yang ergonomis ketika bekerja. Untuk menghindari terjadinya keluhan MSDs akibat dari risiko pekerjaan dapat dilakukan dengan menghimbau pekerja untuk melakukan istirahat disaat pekerja sudah mulai merasakan stres pada otot tubuh. sebaiknya perusahaan melakukan intervesi ergonomi dengan cara mendesain kursi kerja yang mempunyai sandaran kursi atau menggunakan back support guna meminimalisir keluhan MSDs. perusahaan harus mewajibkan pekerjanya untuk melakukan 79 . Perusahaan dapat menyelenggarakan pelatihan yang bertujuan untuk mengurangi kebiasaan merokok pada pekerja. dan pentingnya waktu istirahat atau peregangan (relaksasi) ketika bekerja ataupun setelah bekerja f. Jika pekerja mengalami keluhan MSDs dianjurkan untuk langsung memeriksakan diri ke dokter agar mendapat pengobatan medis. e. c. nyaman. 6. d. potensi bahaya postur janggal ketika bekerja. Untuk mencegah keluhan MSDs yang diakibatkan kurangnya kebiasaan olahraga. dan tetap sehat bagi pekerja saat bekerja. d. Secara administratif dapat dilakukan dengan memberikan pelatihan atau training pada pekerja mengenai resiko pekerjaan dan tata cara bekerja yang sesuai dengan prinsip ergonomi serta pihak perusahaan dapat membuat SOP yang dapat digunakan oleh pekerja untuk menciptakan sistem kerja yang aman. Bagi Perusahaan a. b.79 karena kebiasaan merokok menjadi salah satu faktor terjadinya gangguan Muskuloskletal.

80 . Melakukan pemeriksaan medis terkait keadaan otot dan tulang pekerja (keluhan MSDs).80 senam sebelum bekerja dan memberikan sanksi bagi pekerja yang tidak mengikuti senam pagi yang diselenggarakan oleh perusahaan. g.