Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN ASMA BRONKIAL

DISUSUN OLEH:
KOMANG NOVIANTARI
1302105006

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
2016

A. Konsep Dasar Penyakit
1. Definisi/Pengertian
 Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversible dimana trakea
dan brokhi berespon dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu (Smeltzer
& Bare, 2002).
 Asma adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan
bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan
jalan napas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah, baik secara spontan
maupun sebagai hasil pengobatan (Muttaqin, 2008).
 Asma adalah suatu penyakit yang dicirikan oleh hipersensitivitas cabang-cabang
trakeobronkhial terhadap berbagai jenis rangsangan (Pierce, 2007).
 Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan banyak
sel

dan

elemennya.

Inflamasi

kronik

menyebabkan

peningkatan

hiperresponsivitas saluran napas yang menimbulkan gejala episodik berulang
berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat, batuk terutama malam hari dan
atau dini hari. Episodik tersebut berhubungan dengan obstruksi saluran napas
yang luas, bervariasi dan sering kali bersifat reversible dengan atau tanpa
pengobatan (Boushey, 2005).
 Asma merupakan sebuah penyakit kronik saluran napas yang terdapat di seluruh
dunia dengan kekerapan bervariasi yang berhubungan dengan dengan
peningkatan kepekaan saluran napas sehingga memicu episode mengi berulang
(wheezing), sesak napas (breathlessness), dada rasa tertekan (chest tightness),
dispnea, dan batuk (cough) terutama pada malam atau dini hari. (PDPI, 2006;
GINA, 2009).
 Menurut National Heart, Lung and Blood Institute (NHLBI, 2007), pada
individu yang rentan, gejala asma berhubungan dengan inflamasi yang akan
menyebabkan obstruksi dan hiperesponsivitas dari saluran pernapasan yang
bervariasi derajatnya.
Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Asma
merupakan penyempitan jalan napas yang disebabkan karena hipersensitivitas
cabang-cabang trakeobronkhial terhadap stimuli tertentu.
2. Epidemiologi
Asma merupakan penyakit kronik yang paling umum di dunia, dimana terdapat
300 juta penduduk dunia yang menderita penyakit ini. Asma dapat terjadi pada
anak-anak maupun dewasa, dengan prevalensi yang lebih besar terjadi pada anakanak (GINA, 2003). Menurut data studi Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
di berbagai propinsi di Indonesia, pada tahun 1986 asma menduduki urutan kelima

dari sepuluh penyebab kesakitan (morbiditas) bersama-sama dengan bronkitis
kronik dan emfisema. Pada SKRT 1992, asma, bronkitis kronik, dan emfisema
sebagai penyebab kematian (mortalitas) keempat di Indonesia atau sebesar 5,6%.
Lalu pada SKRT 1995, dilaporkan prevalensi asma di seluruh Indonesia sebesar 13
per 1.000 penduduk (PDPI, 2006). Dari hasil penelitian Riskesdas, prevalensi
penderita asma di Indonesia adalah sekitar 4%. Menurut Sastrawan, dkk (2008),
angka ini konsisten dan prevalensi asma bronkial sebesar 5–15%.
3. Penyebab/Faktor Presdiposisi
Secara umum faktor risiko asma dipengaruhi atas factor genetik dan faktor
lingkungan (National Institutes of Health, 2007)
1. Faktor Genetik
a) Atopi/alergi
Hal yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui
bagaimana cara penurunannya. Penderita dengan penyakit alergi biasanya
mempunyai keluarga dekat yang juga alergi. Dengan adanya bakat alergi
ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkial jika terpajan
dengan faktor pencetus.
b) Hipereaktivitas bronkus
Saluran napas sensitif terhadap berbagai rangsangan alergen maupun iritan.
c) Jenis kelamin
Pria merupakan risiko untuk asma pada anak. Sebelum usia 14 tahun,
prevalensi asma pada anak laki-laki adalah 1,5-2 kali dibanding anak
perempuan. Tetapi menjelang dewasa perbandingan tersebut lebih kurang
sama dan pada masa menopause perempuan lebih banyak.
d) Obesitas
Obesitas atau peningkatan Body Mass Index (BMI) merupakan faktor risiko
asma. Mediator tertentu seperti leptin dapat mempengaruhi fungsi saluran
napas dan meningkatkan kemungkinan terjadinya asma. Meskipun
mekanismenya belum jelas, penurunan berat badan penderita obesitas
dengan asma, dapat memperbaiki gejala fungsi paru, morbiditas dan status
kesehatan.
2. Faktor lingkungan
a) Alergen dalam rumah (tungau debu rumah, spora jamur, kecoa, serpihan
kulit binatang seperti anjing, kucing, dan lain-lain).
b) Alergen luar rumah (serbuk sari, dan spora jamur).
3. Faktor lain
a) Alergen makanan
Contoh: susu, telur, udang, kepiting, ikan laut, kacang tanah, coklat, kiwi,
jeruk, bahan penyedap pengawet, dan pewarna makanan.
b) Alergen obat-obatan tertentu

tetrasiklin. Bila seseorang menghirup alergen. terjadi fase sensitisasi. Hal itu akan menimbulkan efek edema lokal pada dinding bronkiolus kecil. eritrosin. Patofisiologi Pencetus serangan asma dapat disebabkan oleh sejumlah faktor. golongan ini disebut atopi. merupakan reaksi hipersensitivitas tipe I (tipe alergi). virus. Reaksi alergi timbul pada orang dengan kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibodi IgE abnormal dalam jumlah besar. seperti: musim hujan. musim bunga (serbuk sari beterbangan). yang berhubungan erat dengan bronkiolus dan bronkus kecil. e) Polusi udara dari luar dan dalam ruangan f) Exercise-induced asthma Pada penderita yang kambuh asmanya ketika melakukan aktivitas/olahraga tertentu. Jalur imunologis didominasi oleh antibodi IgE. antipiretik. golongan beta lactam lainnya. sebelum dan sesudah kelahiran berhubungan dengan efek berbahaya yang dapat diukur seperti meningkatkan risiko terjadinya gejala serupa asma pada usia dini.Contoh: penisilin. faktor kemotaktik eosinofil dan bradikinin. antibodi IgE terutama melekat pada permukaan sel mast pada interstisial paru. sefalosporin. analgesik. dan lain lain. Asma dapat terjadi melalui 2 jalur. d) Asap rokok bagi perokok aktif maupun pasif Asap rokok berhubungan dengan penurunan fungsi paru. Serangan asma karena aktivitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktivitas tersebut. Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktivitas jasmani atau olahraga yang berat. Atmosfer yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. sekresi . Pajanan asap rokok. leukotrien. dan lain-lain. terdiri dari fase cepat dan fase lambat. c) Bahan yang mengiritasi Contoh: parfum. antara lain alergen. Alergen kemudian berikatan dengan antibodi IgE yang melekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini berdegranulasi mengeluarkan berbagai macam mediator. 4. dan iritan yang dapat menginduksi respons inflamasi akut. Pada asma alergi. Serangan kadang-kadang berhubungan dengan musim. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. yaitu jalur imunologis dan saraf otonom. household spray. musim kemarau. Beberapa mediator yang dikeluarkan adalah histamin. antibodi IgE orang tersebut meningkat. g) Perubahan cuaca Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma.

maka akan terjadi serangan asthma ekstrinsik. makrofag alveolar. nervus vagus dan mungkin juga epitel saluran napas. Neuropeptida itulah yang menyebabkan terjadinya bronkokonstriksi. Hipereaktivitas bronkus merupakan ciri khas asma. Sel-sel inflamasi seperti eosinofil. inhalasi alergen akan mengaktifkan sel mast intralumen. obat-obatan (antibiotic dan aspirin) dan spora jamur. Spasme bronkus yang terjadi merupakan respons terhadap mediator sel mast terutama histamin yang bekerja langsung pada otot polos bronkus. yang merupakan parameter objektif beratnya hipereaktivitas bronkus. obstruksi saluran napas terjadi segera yaitu 10-15 menit setelah pajanan alergen.mukus yang kental dalam lumen bronkiolus. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang disebutkan di atas. hipersekresi lendir. 5. Pada fase lambat. Peregangan vagal menyebabkan refleks bronkus. Pada reaksi alergi fase cepat. sehingga menyebabkan inflamasi saluran napas. antara lain dengan uji provokasi beban kerja. sel T. neurokinin A dan Calcitonin Gene-Related Peptide (CGRP). dan aktivasi sel-sel inflamasi. eksudasi plasma. inhalasi udara dingin. kabut dan SO2. sedangkan mediator inflamasi yang dilepaskan oleh sel mast dan makrofag akan membuat epitel jalan napas lebih permeabel dan memudahkan alergen masuk ke dalam submukosa. Kerusakan epitel bronkus oleh mediator yang dilepaskan pada beberapa keadaan reaksi asma dapat terjadi tanpa melibatkan sel mast misalnya pada hiperventilasi. besarnya hipereaktivitas bronkus tersebut dapat diukur secara tidak langsung. sel mast dan Antigen Presenting Cell (APC) merupakan sel-sel kunci dalam patogenesis asma. asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe. inhalasi antigen. Pada jalur saraf otonom. Pada keadaan tersebut reaksi asma terjadi melalui refleks saraf. yaitu: 1) Ekstrinsik (alergik) Asma ekstrinsik ditandai dengan adanya reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus spesifik (alergen). bahkan kadang-kadang sampai beberapa minggu. Berbagai cara digunakan untuk mengukur hipereaktivitas bronkus tersebut. asap. Ujung saraf eferen vagal mukosa yang terangsa menyebabkan dilepasnya neuropeptid sensorik senyawa P. sehingga meningkatkan reaksi yang terjadi. inhalasi udara dingin. reaksi terjadi setelah 6-8 jam pajanan allergen dan bertahan selama 16-24 jam. maupun inhalasi zat nonspesifik. Klasifikasi Berdasarkan penyebabnya. edema bronkus. bulu binatang. Pasien dengan asma ekstrinsik . seperti serbuk bunga. dan spasme otot polos bronkiolus.

2) Intrinsik (non alergik) Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak diketahui. 2006): No Derajat Asma 1 Intermitten - Gejala Gejala <1x/minggu Tanpa gejala Gejala Malam Faal Paru ≤2 kali sebulan. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan. 3) Asthma gabungan Bentuk asma yang paling umum.Variabilitas Serangan singkat Gejala >1x/minggu tetapi <1x/hari - > 2 <20% kali. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik. APE 20-30% aktivitas dan tidur 4 APE Berat Ancaman Fungsi Faal Henti Paru. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema.Variabilitas >30% .VEP1 atau Sering APE >60% Berdasarkan derajat serangan (GINA.Laboratoriu Napas APE . 2002) Berdasarkan derajat penyakitnya. asma dapat diklasifikasikan menjadi (PDPI. seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi.VEP1 atau sebulan Serangan APE ³80% dapat . 2006): Parameter Klinis.VEP1 atau mengganggu Persisten - Gejala terus menerus berat - Sering kambuh - Aktivitas fisik terbatas Ringan Sedang APE 60-80% .biasanya sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap alergi dalam keluarganya.Variabilitas mengganggu aktivitas dan 3 Persisten - sedang - tidur Gejala setiap hari Serangan > 2 kali sebulan. (Smeltzer & Bare.VEP1 atau antar APE ³80% serangan 2 Persisten - ringan .

Nyaring sepanjang sering ekspirasi hanya inspirasi kesulitan makan/minum dan pada akhir ekspirasi Penggunaan otot Biasanya bantu napas mau Biasanya ya Nyata Sangat nyaring Tidak terdengar tanpa terdenga stetoskop r Ya tidak Gerakan paradok torakoabdomina Retraksi Frekuensi nadi Frekuensi napas Dangkal.m Sesak (breathless) Aktivitas: Aktivitas:Berbicar Aktivitas:Istiraha Berjalan a t Bayi : Bayi : Bayi : Menangis Tangis pendek dan Tidak keras lemah. napas berbunyi (mengi) yang terdengar jika pasien menghembuskan . Gejala Klinis a.ditambah l Dalam. Posisi Bisa menetek/makan Lebih suka duduk Duduk Bicara berbaring Kalimat Penggal kalimat bertopang lengan Kata-kata Sianosis Tidak ada Tidak Ada Ada Wheezing Sedang. Sedang. Gejala awal dapat berupa batuk terutama pada malam atau dini hari. ditambah Dangkal/ retraksi retraksi napas interkosta suprasternal hidung l Normal Takikardi Takikardi Bradikard Takipneu i Bradipne Takipneu Takipneu cuping hilang u 6. sesak napas.

Gejala retensi CO2 : diaforesis. sebagai kompensasi penderita akan bernapas pada volume paru yang lebih besar untuk mengatasi jalan napas yang mengecil (hiperinflasi). dispnea dan mengi. Sianosis karena hipoksia c. 2009). Hal ini akan menyebabkan timbulnya gejala klinis berupa batuk. Sewaktu mengalami serangan. Menurut Smeltzer & Bare (2002) manifestasi klinis dari asma. 2002). Oleh karena itu. Tiga gejala umum asma adalah batuk. Kelainan pemeriksaan fisik yang paling umum ditemukan pada auskultasi adalah mengi. suara nafas melemah bahkan tak terdengar (silent Chest) (Direktorat Bina Farmasi dan Klinik. b. 2007). takikardia. Pemeriksaan Diagnostik a. pelebaran tekanan nadi. Serangan asma biasanya bermula mendadak dengan batuk dan rasa sesak dalam dada. dahak sulit keluar (Direktorat Bina Farmasi dan Klinik. edema dan hipersekresi mukus. diantaranya: a. Yang termasuk gejala yang berat adalah serangan batuk yang hebat. b. Spirometri adalah mesin yang dapat mengukur kapasitas vital paksa (KVP) dan volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1). 7. yang dimulai dari sekitar mulut). kesadaran menurun. tampak tarikan otot sternokleidomastoideus. thorak seperti barel chest. auskultasi dapat terdengar normal walaupun pada pengukuran objektif (faal paru) telah terdapat penyempitan jalan napas. Pemeriksaan Fisik Gejala asma bervariasi sepanjang hari sehingga pemeriksaan fisik dapat normal (GINA. disertai dengan pernapasan lambat. sianosis (kulit kebiruan.napasnya. jalan napas akan semakin mengecil oleh karena kontraksi otot polos saluran napas. sesak napas yang berat dan tersengalsengal. pemeriksaan fisik akan sangat membantu diagnosis jika pada saat pemeriksaan terdapat gejala-gejala obstruksi saluran pernapasan (Chung. 2009) 8. sesak napas. Pemeriksaan ini sangat tergantung kepada kemampuan pasien sehingga diperlukan instruksi operator yang jelas . selain penting untuk menegakkan diagnosis juga untuk menilai beratnya obstruksi dan efek pengobatan (Bernstein. 2003). dan mengi (GINA. sianosis. Gejala yang berat adalah keadaan gawat darurat yang mengancam jiwa atau disebut juga stadium kronik (status asmatikus). mengi dan laborius. Pada sebagian penderita. rasa berat di dada. Keadaan ini dapat menyumbat saluran napas. 2007). sulit tidur dan posisi tidur yang nyaman adalah dalam keadaan duduk. Spirometer Alat pengukur faal paru.

2003). untuk diagnosis obstruksi saluran napas. 2003). atau setelah inhalasi bronkodilator (uji bronkodilator). gambaran radiologik paru biasanya tidak menunjukkan adanya kelainan. yaitu adanya perbaikan VEP1 >15 % secara spontan. Petanda inflamasi. atau setelah pemberian bronkodilator oral 10-14 hari. APE dapat digunakan dalam diagnosis untuk penderita yang tidak dapat melakukan pemeriksaan FEV1 (Bernstein. Pemeriksaan darah IgE Atopi dilakukan dengan cara radioallergosorbent test (RAST) bila hasil uji tusuk kulit tidak dapat dilakukan (pada dermographism) (Bernstein. d. Penilaian semi-kuantitatif inflamasi saluran napas dapat dilakukan melalui biopsi paru. Untuk mendapatkan nilai yang akurat. c. e. Pada serangan asma yang ringan. PFM mengukur terutama saluran napas besar. Uji tusuk kulit (skin prick test) untuk menunjukkan adanya antibodi IgE spesifik pada kulit. alat tersebut digunakan untuk mengukur jumlah udara yang berasal dari paru. dan kadar oksida nitrit udara yang dikeluarkan dengan napas. atau setelah pemberian kortikosteroid (inhalasi/oral) 2 minggu. Peak flow meter/PFM Peak flow meter merupakan alat pengukur faal paru sederhana. Uji tersebut untuk menyokong anamnesis dan mencari faktor pencetus. PFM tidak begitu sensitif dibanding FEV. dalam menegakkan diagnosis asma diperlukan pemeriksaan obyektif (spirometer/FEV1 atau PFM). Sumbatan jalan napas diketahui dari nilai VEP1 < 80% nilai prediksi atau rasio VEP1/KVP < 75%. X-ray dada/ Thoraks Dilakukan untuk menyingkirkan penyakit yang tidak disebabkan asma (Bernstein. Uji alergen yang positif tidak selalu merupakan penyebab asma. b. pemeriksaan sel eosinophil dalam sputum. Gejala klinis dan spirometri bukan merupakan petanda ideal inflamasi.dan kooperasi pasien. dengan spirometri dapat mengetahui reversibiliti asma. Oleh karena pemeriksaan jasmani dapat normal. Pemeriksaan IgE. 2003). Spirometer lebih diutamakan dibanding PFM oleh karena. diambil nilai tertinggi dari 2-3 nilai yang diperiksa. PFM dibuat untuk pemantauan dan bukan alat diagnostik. Selain itu. Derajat berat asma dan pengobatannya dalam klinik sebenarnya tidak berdasarkan atas penilaian obyektif inflamasi saluran napas. Analisis sputum yang diinduksi menunjukkan hubungan antara jumlah eosinophil dan Eosinophyl Cationic Protein (ECP) dengan inflamasi dan .

memelihara binatang di dalam rumah. dan eksema atopi. sakit akibat perubahan musim atau pergantian cuaca. flu berulang. mata gatal. inhalasi udara dingin atau kering.derajat berat asma. 2003). f. 2003). dan metakolin (Bernstein. terjadi pada subyek alergi tanpa asma. terdapat bagian yang lembab di dalam rumah. Untuk mengetahui adanya tungau debu rumah. banyak barang di kamar tidur. banyak kecoa. spray pembunuh serangga. orang lain yang merokok di rumah atau lingkungan kerja. Provokasi bronkial dengan menggunakan nebulasi droplet ekstrak alergen spesifik dapat menimbulkan obstruksi saluran napas pada penderita yang sensitif. h. histamin. kasur kapuk. sofa kain bludru. Apakah sesak dengan bau-bauan seperti parfum. Pada penderita yang menunjukkan FEV1 >90%. 9. dan berair (konjungtivitis alergi). rinitis atau alergi lainnya dalam keluarga). merah. tanyakan apakah menggunakan karpet berbulu. Pemeriksaan AGD Analisa gas darah Hanya dilakukan pada penderita dengan serangan asma berat atau status asmatikus. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan darah lengkap diperlukan untuk menunjang dalam menegakkan diagnostik. Tes provokasi sebenarnya kurang memberikan informasi klinis dibanding dengan tes kulit. ukuran alergen dalam alam yang terpajan pada subyek alergi biasanya berupa partikel dengan berbagai ukuran dari 2 um sampai 20 um. Diagnosis/Kriteria Diagnosis Untuk dapat mendiagnosis asma. batuk yang sering kambuh (kronik) disertai mengi. tetapi jarang atau sulit dilakukan di luar riset (Bernstein. apakah pasien merokok. 2003). Tes provokasi nonspesifik untuk mengetahui HRB dapat dilakukan dengan latihan jasmani. Respons sejenis dengan dosis yang lebih besar. HRB dapat dibuktikan dengan berbagai tes provokasi. diperlukan pengkajian kondisi klinis serta pemeriksaan penunjang (Bernstein. sering terbangun pada malam hari. a) Anamnesis Ada beberapa hal yang harus diketahui dari pasien asma antara lain: riwayat hidung ingusan atau mampat (rhinitis alergi). Biopsi endobronkial dan transbronkial dapat menunjukkan gambaran inflamasi. riwayat keluarga (riwayat asma. Di samping itu. adanya hambatan beraktivitas karena masalah pernapasan (saat berolahraga). obat . g. Uji Hipereaktivitas Bronkus/HRB. tidak dalam bentuk nebulasi.

perut dan dada. dengan spirometri dapat mengetahui reversibiliti asma. Selain itu. HRB dapat dibuktikan dengan berbagai tes provokasi. Provokasi bronkial dengan menggunakan nebulasi droplet ekstrak alergen spesifik dapat menimbulkan obstruksi saluran napas pada penderita yang sensitif. Uji tersebut untuk mendukung anamnesis dan mencari faktor pencetus. Pemeriksaan darah IgE Atopi dilakukan dengan cara radioallergosorbent test (RAST) bila hasil uji tusuk kulit tidak dapat dilakukan (pada der-mographism) (Bernstein. Analisis sputum yang diinduksi menunjukkan hubungan antara jumlah eosinophil dan Eosinophyl Cationic Protein (ECP) dengan inflamasi dan derajat berat asma. menentukan adanya episode gejala dan obstruksi saluran napas. apakah ada beta blocker. Pada inspeksi dapat ditemukan. ekspirasi memanjang (Bernstein. 2003). 4) Uji Hipereaktivitas Bronkus/HRB. terjadi pada subyek alergi tanpa asma. 5) Pemeriksaan laboratorium . harus dilakukan anamnesis secara rinci. c) Pemeriksaan Penunjang 1) Spirometer Sumbatan jalan napas diketahui dari nilai VEP1 < 80% nilai prediksi atau rasio VEP1/KVP < 75%. tetapi jarang atau sulit dilakukan di luar riset (Bernstein. (Bernstein. atau setelah pemberian kortikosteroid (inhalasi/oral) 2 minggu.yang digunakan pasien. Biopsi endobronkial dan transbronkial dapat menunjukkan gambaran inflamasi. Respons sejenis dengan dosis yang lebih besar. mengi. 2003). 2003). Uji alergen yang positif tidak selalu merupakan penyebab asma. napas cepat. Uji tusuk kulit (skin prick test) untuk menunjukkan adanya antibodi IgE spesifik pada kulit. Pada auskultasi dapat ditemukan. yaitu adanya perbaikan VEP1 >15 % secara spontan. sering ditemukan perubahan cara bernapas. Pada penderita yang menunjukkan FEV1 >90%. 2) Pemeriksaan IgE. aspirin atau steroid. dan terjadi perubahan bentuk anatomi toraks. menggunakan otot napas tambahan di leher. 2003). atau setelah pemberian bronkodilator oral 10-14 hari. 3) Petanda inflamasi. Pada pemeriksaan fisis pasien asma. b) Pemeriksaan Klinis Untuk menegakkan diagnosis asma. kesulitan bernapas. atau setelah inhalasi bronkodilator (uji bronkodilator).

yaitu: a) Medikasi Menurut PDPI (2006). breath–actuated IDT. dan nebulizer. terutama untuk asma persisten. Pengontrol adalah medikasi asma jangka panjang. Menurut PDPI (2006). Macam–macam pemberian obat inhalasi dapat melalui inhalasi dosis terukur (IDT). meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidup agar penderita asma dapat hidup normal tanpa hambatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Kromolin (Sodium Kromoglikat dan Nedokromil Sodium . Agonis β-2 kerja lama (inhalasi dan oral). IDT dengan alat bantu (spacer). Pada keadaan ini dapat terjadi hipoksemia. yang digunakan setiap hari untuk menjaga agar asma tetap terkontrol (PDPI. oral dan parenteral. Dewasa ini yang lazim digunakan adalah melalui inhalasi agar langsung sampai ke jalan napas dengan efek sistemik yang minimal ataupun tidak ada. 1. Tujuan utama dari penatalaksanaan asma adalah dapat mengontrol manifestasi klinis dari penyakit untuk waktu yang lama. hiperkapnia dan asidosis respiratorik. PaCO2 menurun dan terjadi alkalosis respiratorik.Pada pemeriksaan darah lengkap dapat ditemukan lekositosis dengan neutrofil yang meningkat menunjukkan adanya infeksi. medikasi asma dapat diberikan melalui berbagai cara seperti inhalasi. Medikasi asma terdiri atas pengontrol (controllers) dan pelega (reliever). Untuk mencapai dan mempertahankan keadaan asma yang terkontrol terdapat dua faktor yang perlu dipertimbangkan. Pada asma ringan sampai sedang PaO2 normal sampai sedikit menurun. Terapi/Tindakan Penanganan. eosinofil darah dapat meningkat > 250/mm3. PaCO2 normal atau meningkat dan terjadi asidosis respiratorik. 2006). Leukotriene modifiers . penebalan dinding bronkus. 10. Metilsantin (teofilin). vaskulasrisasi paru 7) Pemeriksaan AGD Analisa gas darah hanya dilakukan pada penderita dengan serangan asma berat atau status asmatikus. pengontrol. Dry powder inhaler (DPI). 6) Pemeriksaan X-Ray Beberapa tanda yang menunjukkan yang khas untuk asma adanya hiperinflasi. GINA (2009) dan PDPI (2006) menganjurkan untuk melakukan penatalaksanaan berdasarakan kontrol. Pada asma yang berat PaO2 jelas menurun. yang sering disebut sebagai pencegah terdiri dari Glukokortikosteroid inhalasi dan sistemik.

pemberian oksigen. dan bagaimana dapat menghindari timbulnya serangan. Komplikasi Berbagai komplikasi menurut Mansjoer (2008) yang mungkin timbul adalah: 1) Pneumothoraks Pneumothoraks adalah keadaan adanya udara di dalam rongga pleura. apa efek samping macam-macam obat. Metilsantin. baik atas dasar - gejala klinik maupun hasil analisa gas darah. apa penyebabnya. drainase postural atau chest physioterapi. untuk membantu pengeluaran dahak agar supaya tidak timbul penyumbatan. 2) Status asmatikus . - Setelah diketahui jenis alergen. Antikolinergik (Ipratropium bromide). 2. Menghindari paparan alergen. Imunoterapi/desensitisasi. rasa berat di dada. Penentuan jenis alergen dilakukan dengan uji kulit atau provokasi bronkial. Relaksasi/kontrol emosi. Kortikosteroid sistemik. Pelega adalah medikasi yang hanya digunakan bila diperlukan untuk cepat mengatasi bronkokonstriksi dan mengurangi gejala – gejala asma. memperbaiki dan atau menghambat bronkokonstriksi yang berkaitan dengan gejala akut seperti mengi. . Prinsip kerja obat ini adalah dengan mendilatasi jalan napas melalui relaksasi otot polos. Saat serangan . 11. kemudian dilakukan desensitisasi. Diluar serangan .menghindari paparan alergen. pemberian cairan.2. Dengan menangani dehidrasi. - Imti dari prevensi adalah menghindari paparan terhadap alergen. Keadaan ini dapat menyebabkan kolaps paru yang lebih lanjut lagi dapat menyebabkan kegagalan napas. untuk mencapai ini perlu disiplin yang keras. b) Penatalaksanaan non Medikamentosa: 1. viskositas mukus juga berkurang dan dengan - demikian memudahkan ekspektorasi. Akan tetapi golongan obat ini tidak memperbaiki inflamasi jalan napas atau menurunkan hipersensitivitas jalan napas. apa pengobatannya. bila ada tanda-tanda hipoksemia. Pelega terdiri dari Agonis β-2 kerja singkat. terutama pada serangan asma yang berat dan yang berlangsung lama ada kecenderungan terjadi dehidrasi.Pendidikan/penyuluhan Penderita perlu mengetahui apa itu asma. Relaksasi fisik dapat dibantu dengan latihan napas. dan batuk.

Hal ini disebabkan oleh penyempitan saluran napas akibat bronkospasme yang sedang berlangsung. Pemeriksaan fisik d. 3) Pneumomediastinum Pneumomediastinum dari bahasa Yunani pneuma “udara”. 6) Bronkhitis Bronkhitis atau radang paru-paru adalah kondisi di mana lapisan bagian dalam dari saluran pernapasan di paru-paru yang kecil (bronkhiolis) mengalami bengkak. 5) Gagal napas Gagal napas dapat tejadi bila pertukaran oksigen terhadap karbodioksida dalam paru-paru tidak dapat memelihara laju konsumsi oksigen dan pembentukan karbondioksida dalam sel-sel tubuh. atau merasa sulit bernapas karena sebagian saluran udara menjadi sempit oleh adanya lendir. cairan dan metabolic . Akibatnya penderita merasa perlu batuk berulang-ulang dalam upaya mengeluarkan lendir yang berlebihan. saluran udara atau usus ke dalam rongga dada. pengetahuan preventif. berkepanjangan. 4) Atelektasis Atelektasis adalah pengkerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan saluran udara (bronkus maupun bronkiolus) atau akibat pernafasan yang sangat dangkal. Pola persepsi dan Manajemen kesehata Perawat perlu menanyakan pengetahuan tentang kesehatan. Pola nutrisi. juga dikenal sebagai emfisema mediastinum adalah suatu kondisi dimana udara hadir di mediastinum. Pemeriksaan tanda-tanda vital • Tekanan Darah • Nadi • Frekuensi pernapasan • Suhu tubuh e. dan tidak merespon terapi biasa secara memadai. Pemeriksaan laboratorium f. kondisi ini dapat disebabkan oleh trauma fisik atau situasi lain yang mengarah ke udara keluar dari paru-paru. Pertama dijelaskan pada 1819 oleh Rene Laennec. 2. Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon 1. Identitas pasien b. edema. B. Selain bengkak juga terjadi peningkatan produksi lendir (dahak). dan penyumbatan lendir. Keluhan utama klien c.Serangan asma akut yang sangat parah. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian a.

b. alat bantu. penggunaan otot aksesorius untuk bernapas. c. Pola kognitif. penurunan badan. pernapasan dengan cuping hidung. Pola istirahat dan tidur Perawat perlu menanyakan kualitas dan kuantitas tidur serta istirahat 6. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan penyakit (asma) ditandai dengan dispnea. pola emosional 8. tipe makanan dan cairan. berat badan. Diagnosa Keperawatan dan Masalah Kolaborasi a. penggunaan otot bantu pernapasan. bahasa. 4. e. 11. rekreasi. Pola keyakinan dan nilai Perawat perlu menanyakan nilai. persepsi pasien terhadap nyeri 7. mengi. Pola reproduksi. pernapasan bibir. terdapat suara napas tambahan. Pola konsep diri dan persepsi diri Perawat perlu menanyakan fungsi panca indera. Pola Eliminasi Perawat perlu menanyakan pola BAB/Defekasi. serbuk sari bunga) d. konflik 2. pola BAK.seksual Perawat perlu menanyakan kualitas seksual dan Reproduksi 10.perceptual Perawat perlu menanyakan persepsi diri.Perawat perlu menanyakan pola makan. obat. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan penyakit (asma) ditandai dengan batuk. debu. pemenuhan ADL. keyakinan. aktivitas sehari-hari.aktivitas Perawat perlu menanyakan latihan. terdapat sputum dalam jumlah banyak. 5. masukan cairan. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penyakit (asma) ditandai dengan kurang minat pada makanan. kukungan/ coping saat menghadapi masalah. membrane mukosa pucat. Risiko Respon Alergi dengan faktor resiko substansi lingkungan (seperti spora jamur. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen ditandai dengan menyatakan merasa letih dan lemah. . Pola peran dan hubungan Perawat perlu menanyakan peran dan tanggung jawab 9. tujuan. Pola koping dan toleransi stress Perawat perlu menanyakan kemampuan mengendalikan stress. spiritual. nafsu makan. pilihan makanan 3. perubahan kedalaman pernapasan. Pola latihan. berat badan 20% atau lebih dibawah berat badan ideal.

bingung. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan ditandai dengan gelisah. gemetar. kesulitan berkonsentrasi. melamun. peningkatan ketegangan. peningkatan rasa ketidakberdayaan. Gangguan pola tidur berhubungan dengan fisiologis penyakit ditandai dengan pasien mengeluh kesulitan untuk tidur.f. g. perubahan pola tidur normal. mengekspresikan kekhawatiran. . menyesal.

4 Tidak batuk dan mengi S: Airway Management 1 (asma) terdapat Rasional Setelah dilakukan tindakan NIC Label : napas berhubungan jam.. 1 Tidak ada suara napas sputum dalam jumlah Evaluasi tambahan 2 Tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan banyak. 3 Tidak terdapat akumulasi penggunaan otot sputum bantu pernapasan. Respiratory Status: terdapat suara Airway Patency napas tambahan. diharapkan jalan napas dengan Intervensi 2 Posisikan pasien untuk 1 dapat ventilasi pengembangan (semifowler dada secret 3 atau suction isntruksikan bagaimana cara 4 5 batuk 2 efektif membantu bagaimana menggunakan ihaler sesuai resep dengan pernapasan cara napas tambahan Tidak ada otot memudahkan - akumulasi sputum Tidak batuk dan pasien untuk di saluran sehingga kembali dapat mematenkan 3 - penggunaan suara - ventilasi mengeluarkan secret yang pasien ada bantu pernapasan Tidak terdapat dapat pengeluaran sekret. Rencana Asuhan Keperawatan No 1 Diagnosa Keperawatan Ketidakefektifan bersihan Tujuan dan Kriteria Hasil jalan keperawatan selama .3. dengan ditandai kriteria hasil : NOC Label : dengan batuk.x 24 penyakit pasien paten.. Batuk atau suction dapat terakumulasi pasien Ajarkan Tidak dinding sehingga serta kepada pasien Auskultasi suara nafas dokter meningkatkan memperlancar dengan dorongan batuk - Posisi yang lebih tinggi memaksimalkan potensi 300) Keluarkan O: Airway Management mengi A: Berdasarkan yang di tujuan harapkan semua tujuan tercapai P: Pertahankan kondisi jalan nafas pasien klien dengan intervensi Batuk efektif diajarkan baru khususnya dengan agar pasien dapat . mengi.

hidung sekret Pertahankan jalan nafas 3 pasien agar tetap paten Pasang oksigen sesuai dengan 4 4 nafas sebanyak 2 sampai 3 kali Penurunan aliran udara terjadi pada area yang konsolidasi . menahan nafas 2 dan trachea pasien dari 2 dengan pada yang area sedangkan terpasang konsolidasi bunyi ronkhi dapat terdengar pada saat inspirasi dan ekspirasi sebagai respon terhadap pengumpulan cairan. Inhaler merupakan obat . secret kental 5 dan adanya obstruksi.6 Atur penanganan mengeluarkan dengan memberikan dengan maksimal secara nebulizer pada pasien. Cara nya yaitu Oxygen Therapy 1 pasien Bersihan mulut. sekret Health Education mandiri tanpa bantuan alat terlebih dahulu. bunyi nafas kebutuhan oksigen menarik detik kemudian batukan bronkial dapat terdengar oksigen pasien Pantau humidifier pada alat beritahu dalam.

pereda sesak nafas yang digunakan dengan disemprotkan pasien 6 sehingga cara kemulut pasien merasa lebih lega. Pemberian nebulizer berfungsi dalam mengencerkan sekret yang terkumpul di saluran nafas pasien sehingga dapat dikeluarkan dengan mudah. Oxygen Therapy 1 Membersihkan mulut. hidung dan trachea dari sekret dilakukan agar pada saat pemberian oksigen. 2 oksigen terapi yang masuk tetap optimal Jalan nafas dipertahankan agar tetap paten berfungsi .

Pemasangan oksigen dilakukan sesuai dengan kebutuhan oksigen yang diperlukan sehingga oleh pasien pasien tidak mengalami oksigen kelebihan yang memperburuk 4 pasien juga.agar oksigen yang masuk 3 dapat optimal. 1 Pasien mengatakan sudah tidak sesak Sebagai data dasar untuk O: . 2 Ketidakefektifan pola napas keperawatan selama . kedalaman... Pemantauan sangat dapat kondisi humidifier penting berfungsi karena dalam melembabkan gas oksigen yang bersfiat kering sehingga tidak mengiritasi saluran nafas pasien. diharapkan pola napas penyakit pasien dapat Respiratory Monitoring teratasi 1 S: Respiratory Monitoring Pantau laju.x 24 berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan NIC Label: jam.

perubahan Status: dan upaya 2 nilai PFT. Frekuensi normal bernapas. Respiratory bibir. Ventilation otot untuk 1 kedalaman pernapasan. volume tidal pernapasan 2 3 4 kali/menit) 4 Pola napas teratur Tidak ada sesak napas Tidak ada pursed lips 5 breathing Tidak ada penggunan 3 inspirasi/ekspirasi pasien Pantau sesak nafas dan keadaan yang dapat meningkatkan dan memperburuk sesak 4 Frekuensi kelainan pernapasan normal pada proses pernapasan pasien Pola pernapasan yang tidak normal merupakan (12-20 kali/menit) Pola napas teratur Tidak ada pursed tanda adanya kelainan pada lips breathing Tidak ada fungsi pernapasan pasien Nilai PFT digunakan untuk penggunan otot menguji bantu napas TD dalam rentang kemampuan dikeluarkan mmHg) Nadi dalam rentang memiliki 2 Posisikan tidak. kekentalan Ventilation Assistance dengan - normal dan bercampur darah atau 1 - bernafas pasien Sekret atau sputum yang berbagai pasien otot bantu napas Vital Sign 1 TD dalam rentang normal (60-100x per menit) volume cadangan (12-20 (120/80 mmHg) 2 Nadi dalam rentang normal dan mengetahui apakah terjadi - 5 (120/80 (60-100x per menit) A: Berdasarkan yang di tujuan harapkan semua tujuan tercapai kelainan tersebut. kapasitas vital.(asma) ditandai dengan kriteria hasil: ritme dengan dispnea. 2 pernapasan pasien Pantau pola pernapasan 3 pasien Pantau pernapasan dengan cuping pernapasan penggunaan aksesorius NOC Label: hidung. P: Dengan memantau kondisi Pertahankan kondisi apa yang dapat klien dengan intervensi memperburuk sesak nafas baru khususnya dengan . benar nafas dengan perlahan tersebut untuk mengetahui penyebab dari dan dalam Sputum dianalisis pasien nyaman Dorong pasien untuk tarik - karakteristik normal seperti warna.

3 Bantu pasien dengan pasien memberitahu pasien agar 4 pemeriksaan spirometer Ajarkan teknik bernafas 5 dengan bibir dirapatkan Ajarkan teknik latihan 6 bernafas Ajukan program kekuatan otot pernapasan dan dapat Health Education tidak melakukan hal-hal yang mampu memperburuk kondisinya jadi sebagai dapat tindakan pencegahan. atau endurance training Vital Sign Monitoring 1 sehingga Ventilation Assistance 1 Posisi yang benar dapat mengurangi sesak pasien Pantau tekanan darah dan dan nadi pasien. kenyamanan dapat membantu dalam 2 memberikan pernapasan pasien. Tarik nafas dalam secara perlahan dapat memenuhi asupan oksigen yang harus masuk ke tubuh dan dapat 3 merilekskan pasien. Pemeriksaan spirometer .

mencegah kolaps unit paru. dan membantu untuk pasien mengendalikan frekuensi serta kedalaman pernapasan yang memungkinkan untuk dyspnea 5 pasien control terhadap dan perasaan panik. Latihan bernafas dilakukan dengan pernapasan diafragmatik yang dapat mengurangi frekuensi .digunakan untuk mengetahui fungsi fisiologis paru-paru pasien sehingga dapat mengetahui 4 kelainan yang pasien. Bernafas dengan dirapatkan dialami bibir dapat melambatkan ekspirasi.

dapat pernapasan Latihan mengharuskan bernafas terhadap ini pasien suatu tahanan selama 10 sampai 15 menit setiap hari. Vital Sign Monitoring . Latihan ini membantu menguatkan otot-otot pasien. Latihan otot pernapasan dilakukan apabila pasien telah menjalani latihan pernapasan diafragmatik. meningkatkan ventilasi alveolar. terkadang dan membantu mengeluarkan udara sebanyak mungkin selama 6 ekspirasi.pernapasan.

Identifikasi penyebab yang pencetus dapat menimbulkan risiko alergi 3. serbuk sari bunga). 2.x24 faktor resiko jam substansi tidak lingkungan (seperti alergi berulang atau asma spora jamur. Allergy Management S: 1.1 Untuk mengetahui keadaan umum pasien dan menilai keberhasilan terapi/tindakan 3 Risiko Respon Setelah dilakukan tindakan Alergi dengan keperawatan selama .. Mampu mengontrol lingkungan NIC Label: Allergy Management 1. tidak serbuk sari bunga) dengan kriteria hasil: NOC Label: Health diharapkan pasien mengalami risiko muncul/kambuh menjadi alergi. Dapat mencegah secara mengerti dan dini terjadinya resiko melakukan HE yang respon alergi 3. alergi (seperti spora jamur. Diskusikan pasien dalam diberikan. debu. Pengetahuan yang diberikan misalnya diberikan kepada pasien melakukan pencegahan kepada dan keluarga mengontrol lingkungan yang dapat mencetuskan alergi yang risiko (seperti terpapar/menghirup dan keluarga secara dini situasi yang dapat membantu dalam menyebabkan alergi. Dengan identifikasi Pasien mengatakan dapat mengetahui mengerti dengan HE pencetus yang dapat yang diberikan. Beritahu pasien keluarga dan dalam mencegah situasi yang Promoting Behavior 1. mengontrol terjadinya A: resiko respon alergi Berdasarkan yang di tujuan harapkan semua tujuan tercapai . menyebabkan respon O: alergi Pasien tampak 2. debu..

berat badan nutrisi yang adekuat 20% atau lebih 2 Jumlah 2 3 4 2 menentukan metode yang memenuhi yang tepat sesuai umur. serbuk sari Pertahankan bunga). dan memiliki keinginan yang dibutuhkan pasien. S: Ketidakseimbanga n nutrisi Setelah dilakukan tindakan NIC Label : Nutrition Management kurang keperawatan selama ... terhadap makanan Nutritional Status membrane mukosa 1 Asupan pucat. kalori dan aktivitas dan gaya hidup optimal. Sediakan Asupan kalori yang tepat nutrisi - diet Anjurkan asupan kalori makanan 3 mengatakan asupan nutrisi adekuat Jumlah cairan dan makanan yang diterima sesuai dengan kebutuhan yang - tubuh pasien Rasio berat badan dan tinggi badan . diharapkan kebutuhan 1 tubuh berhubungan nutrisi pasien terpenuhi.Asupan gizi untuk menentukan pasien dalam pemenuhan keinginan untuk makan jumlah kalori dan nutrisi nutrisinya.debu. menimbulkan memiliki alergi terhadap Pasien keinginan Alergi terhadap makanan memiliki menjadi indikator makanan untuk makan Kolaborasi dengan ahli apa saja yang boleh dan O: tidak boleh dikonsumsi oleh . P: spora jamur. Tanyakan apakah pasien 1 dengan makanan tertentu. bulu binatang.x 24 dari Nutrition Management kebutuhan jam. penurunan badan. (asma) dengan minat penyakit dengan kriteria hasil : NOC Label : ditandai Appetite kurang 1 Memiliki pada makanan. pasien. menganjurkan kepada kondisi pasien dan keluarga untuk selalu mencegah situasi yang dapat 4 risiko alergi.

dibawah badan ideal. 5 dapat Monitor jumlah nutrisi Rasio berat badan dan tinggi badan pilihan yang disesuaikan dan kandungan kalori. 6 dalam rentang normal dengan memenuhi umur. 22. berat cairan yang dan makanan diterima sesuai dengan kebutuhan tubuh pasien 3 sesuai dengan aktivitas dan gaya hidup keinginan dan kondisi pasien. - faktor yang mempengaruhi kebutuhan nutrisi. Pilih suplemen nutrisi 6 Pasien dapat mengetahui semua tujuan tercapai jika diperlukan. kebutuhan pasien.9) Turgor kulit normal (cubitan kembali < Jenis makanan merupakan Berikan informasi tentang rentang normal (IMT 18. 4 dalam sesuai kecukupan nutrisi harus A: dengan Berdasarkan yang yang Pertahankan 3 Monitor harapkan kondisi harus di penuhi sehingga klien dengan intervensi penting untuk memberikan baru khususnya dengan informasi intake yang akurat dan catat output cairan di tujuan Nutrition Therapy 1Mengetahui status nutrisi klien Health Education . keinginan/nafsu (IMT 18.5- intake nutrisi yang optimal.9) Hidration Nutrition Therapy - lembab Intake dan output Jumlah asupan nutrisi dan pengkajian normal (cubitan kembali lengkap mengenai < 2 detik) 2 Membran nutrisi klien.5-22. mengenai kebutuhan atau P: mukosa lembab 3 Intake dan output cairan seimbang 2 Fluid Management 1 Pantau berat badan pasien setiap hari 2 Pertahankan kandungan tepat kalori cairan seimbang Lakukan 1 Turgor kulit 1 5 - 2 detik) Membran mukosa makan seseorang.

status hidrasi (membran sangat mukosa dapat melakukan intervensi lembab. Fluid Management 1 60% berat tubuh adalah cairan infus (melalui IV) volume cairan bila diperlukan apabila pasien mengalami kekurangan sehingga cairan dapat tercermin dari berat tubuh pasien 2 Untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh dan perkembangan mengetahui cairan pasien 3 Status mencerminkan hidrasi . nadi normal (60-80 kali per menit)) 4 2Suplemen Berikan 6 Berikan diberikan untuk meningkatkan asupan nutrisi pasien selain dari intake Tingkatkan intake cairan peroral sehingga yang tepat. cairan apabila diperlukan 5 penting makanan.

....x24 jam klien dapat ketidakseimbangan melaporkan antara suplai dan aktivitas kebutuhan oksigen hasil : selama Activity Therapy peningkatan 1 dengan kriteria S: Kolaborasikan Activity Therapy O: - Tanda – tanda vital - dalam batas normal Klien dapat dengan 1Perencanaan program terapi Tenaga Rehabilitasi yang tepat bertujuan untuk Medik dalam melatih dan meningkatkan melakukan aktivitas dan ..keseimbangan cairan di dalam tubuh 4 Pemberian cairan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan cairan pasien dan menjaga keseimbangan cairan pasien 5 Pemberian cairan peroral dapat meningkatkan intake cairan untuk memenuhi kebutuhan cairan pasien 6 Pemberian dapat cairan dilakukan infus untuk memenuhi kebutuhan cairan yang tidak mampu dipenuhi dengan intake peroral 5 Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan asuhan NIC Label: berhubungan keperawatan dengan .

intervensi tidak menyebabkan pada ringan kemampuan Klien menunjukkan tanda dilakukan aktivitas lain yang lebih sesuai yang frekuensi pernapasan Kaji pasien dan keluarga tidak tenang Klien melakukan dengan tidak melakukan aktivitas psikologi dan sosial. Sesak istirahat bertahap sehingga nantinya optimal dengan 2Untuk menghindari sesuai dalam batas normal 2. pengganti ketika pasien dilakukan memiliki gangguan - – tanda keletihan Sesak napas tidak pasien menunjukkan tanda – 4 tanda keletihan untuk Endurance mengidentifikasi defisit aktivitas memburuk tidak Energy management saat 1 Monitor respons repirasi 2 ketika beraktivtas Pilih intervensi yang tepat beraktivitas normal untuk penyebab berikan mengatasi kelemahan. merencanakan Activity Tolerance 2 pasien secara kemampuan aktivitas dan istirahat 3 aktivitas sesuai dengan dapat beraktivitas secara fisik. Tanda – tanda vital dengan tenang 3. yang telah ditentukan Fasilitasi aktivitas 3Ketika aktivitas lain keterbatasan pasien misalnya sesak napas. Klien melakukan program yang tidak - memburuk saat beraktivitas normal A: Berdasarkan tujuan menimbulkan gangguan 4Untuk dapat menentukan yang di harapkan penyebab kelemahan yang semua tujuan tercapai menyebabkan tidak dapat P: melakukan aktivitas secara Pertahankan optimal kondisi dan dapat klien dengan intervensi membenahi kausa baru khususnya dengan Energy management Health Education .ditandai dengan NOC Label: menyatakan merasa letih dan lemah.bisa napas - dengan aktivitas energi dan peningkatan 1. Klien terapi yang tepat Bantu untuk memilih energy aktivitas konsisten yang 1. Klien dapat melakukan kemampuan 4.

dapat dilakukan intervensi nonfarmakologi dan berkolaborasi dokter dengan menggunakan intervensi apabila farmakologi kelemahan segera teratasi menggunakan 3 tidak teknik nonfarmakologi Kondisi lingkungan yang tenang dapat menunjang peningkatan istirahat dan tidur pasien sehingga pasien dapat beristirahat dengan tenang dan nyaman dengan .farmakologi 3 farmakologi Batasi dan non.1 Untuk mengetahui perkembangan stimulasi kondisi lingkungan yang dapat 2 pasien saat beraktivitas Kelemahan dapat teratasi mengganggu apabila etiologi kelemahan waktu istirahat pasien itu teratasi. Untuk mengatasi kelemahan.

pola 2 3 4 NOC Label Sleep dapat tidur 5 Berikan tempat tidur yang nyaman Kontrol atau hindari adanya kebisingan Batasi pengunjung Hindari kegiatan yang tidak diperlukan dan sesuaikan dengan pola tidur klien Ajarkan teknik relaksasi 1 Pasien 2 minimal 5 – 8 jam/hari Pasien mengatakan tidak Sleep Enhancement mengantuk. 1 Memberikan informasi untuk menghindari jam dasar kepada klien makan pada saat akan 2 Mengurangi gangguan tidur karena akan tidur mengganggu pola tidur 3 Memberi informasi dasar Identifikasi jika adanya dalam rencana segar.. tidak letih dan lebih rileks serta tidak 2 sering menguap 3 pemulihan energi dapat dicapai. Environmental Management Comfort 1 2 3 4 5 Mengatur pola tidur Mengurangi gangguan tidur Mengurangi gangguan tidur Meningkatkan kualitas tidur S: Pasien mengatakan tidak mengantuk. badan lebih 1 segar. badan lebih tidak letih dan lebih rileks serta tidak sering menguap O: - Pasien dapat tidur 8 Membantu pasien untuk jam sehari meningkatkan kualitas dan A: kuantitas tidurnya Berdasarkan Jelaskan pentingnya Sleep Enhancement tidur yang cukup selama masa sakit pada klien Instruksikan pada pasien. dengan mengeluh kesulitan kriteria hasil: untuk perubahan tidur normal.x24 Management Comfort dengan penyakit fisiologis jam diharapkan pola 1 ditandai istirahat dan tidur pasien dengan pasien tidak terganggu..begitu 6 Gangguan pola Setelah diberikan asuhan Environmental tidur berhubungan keperawatan selama . tidur. yang di tujuan harapkan semua tujuan tercapai P: Pertahankan kondisi klien dengan intervensi baru khususnya dengan Health Education .

Anjurkan pasien untuk ditandai dengan dengan kriteria hasil. Menentukan respon yang prognosis dari penyakit O: tepat untuk mengatasi klien 3. Tindakan yang tepat agar S: berhubungan keperawatan selama …x24 dengan perubahan jam. kekhawatiran berkurang 2. Tingkatkan pemahaman A: positif. Dapat menghilangkan 2. Untuk meningkatkan selalu bersama dengan pengetahuan klien mengenai pasien penyakitnya agar memiliki Coping Enhancement mekanisme koping yang 1. strategi gemetar. kekhawatiran. diagnosis. Dapat ketegangan. diharapkan ansietas status Anxiety Reduction kesehatan pada pasien dapat ditangani 1.7 Ansietas obat tidur yang keperawatan dikonsumsi oleh klien Setelah dilakukan asuhan NIC Label: 1. tertekan merencanakan koping jika melamun. pencetus dari ansietas 2. Coping 1. menyesal. sehingga mampu mendekati ketenangan Berikan informasi factual tentang pengobatan. Untuk mendapat dukungan hal yang akan dilakukan gejala dari pihak lain sehingga dapat menurunkan ansietas dapat - dan Coping Enhancement 1. Untuk meningkatkan sebuah situasi kepercayaan diri dan koping 2. kesulitan berhadapan dalam situasi berkonsentrasi. kepada klien mengenai ketika muncul kembali Pasien mengatakan lebih nyaman Klien mampu mengidentifikasi pola koping yang efektif Klien mampu mengidentifikasi pola koping yang tidak efektif . Klien mampu bersikap tenang. Kaji dan diskusikan efektif respon alternative dalam 3. Dapat mencari informasi untuk menurunkan peningkatan ansietas 3. Anjurkan keluarga untuk ansietas 2. peningkatan rasa ketidakberdayaan. Untuk dapat - Pasien mengatakan sudah membantu menentukan menurunkan ansietas terkain apa kurangnya informasi 3. Anxiety Self-Control mengekspresikan 1. yaitu: NOC Label: gelisah. bingung.

Untuk membantu klien Berdasarkan tujuan 3. P: koping yang tidak perasaan tidak berdaya Pertahankan kondisi 4. Anjurkan klien untuk efektif klien dengan intervensi 3. Klien mampu bersikap realistis sebagai dapat dilakukan untuk semua tujuan tercapai mengidentifikasi pola cara untuk mengatasi mengatasi stressnya. Anjurkankan untuk koping yang efektif menentukan tindakan yang yang di harapkan 2.mengidentifikasi pola proses penyakitmya 4. Klien melaporkan mengevaluasi perilakunya baru khususnya dengan peningkatan Health Education kenyamanan psychological .

Clinician’s Guide to Asthma. Sue. St. Jakarta: Media Aesculapius. Januari 2008. Global Burden of Asthma-Global Initiative for Asthma. Dochterman. Marion. 2003.. Moorhead. and Swanson. United States of America: Oxford University Press. 2002. Meridean L. Murray. 2008. Nadel. Nomor 1. Jakarta: Salemba Medika National Education and Prevention Program (NAEPP). 2014. S. Available from: http://www. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. 2013.G.USA : Mosby Elsevier Chung.asp?intId=29 [Accessed at 24 Januari 2016] Herdman. Gloria M. 2006.F.. Textbook of Respiratory Medicine. Kapita Selekta Kedokteran Jilid II. I. John V. Jakarta: ECG .B. Arif. USA. Homer A. Cheryl M. V. Sixth Edition. Brenda G. National Institutes of Health. Butcher. 2007. United States: National Heart. K. Pennsylvania: Elsevier... Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Volume 1. NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classifications. ASMA: Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia. Global strategy for asthma management and prevention. Fifth Edition. Nursing Outcomes Classification (NOC). dan Bare. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). Corry. Jonson. Smeltzer.. Kamitsuru. Jr. and Wagner. Jay A. Robert J. Esteban G.. Global Initiative for Asthma (GINA). W. Howard K.DAFTAR PUSTAKA Bernstein JA. 2008. 2005. K.com/download. Setiowulan. T. Jurnal Penyakit Dalam Volume 9.. 2015-2017.ginasthma. W. Fahy. Asthma dalam Mason. editor. Nursing Interventtions Classification (NIC). dan Ngurah Rai I. 2002. Curtney Broaddus. Joanne M. Woondruff. 2007. 2008.. Elizabeth. Asthma in handbook of allergic disorders. Suprohaita. Sastrawan. Suzzane C. 2006. Guidelines for the diagnosis and management of asthma. Oxford: Wiley Blackwell. Volume Two.. Prescott G. Suryana. Mass. Boushey. Burchard. Bulechek.. Philadelphia: Lipincott Williams & Wilkins.. Jakarta. Louis Missouri : Mosby Elsevier Muttaqin. Lung and Blood Institute (NHLBI) of National institutes of Health (NIH) Publication. Prevalensi Asma Bronkial Atopi pada Pelajar di Desa Tenganan. 2008. David B. Mansjoer S. John F. Wardhani.P. H. Fourth Edition.