Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM FENOMENA DASAR MESIN

Diajukan untuk menempuh salah satu syarat kelulusan
Mata kuliah Praktikum Fenomena Dasar Mesin

Rachman Hakim

(2111121009)

Dendi Satria

(2111111059)

M. Ardo.A

(2111111060)

Dirga.A.P

(2111111...)

Jurusan Teknik Mesin
Fakultas Teknik
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
2015

Setelah proses bending terjadi biasanya diikuti oleh direct stress. 1. yang mengakibatkan terjadinya tegangan geser dan momenyang bekerja pada seluruh bagian dari material. Pada percobaan kali ini.BAB 1 PENDAHULUAN 1. akan dilihat sifat material yang mengalami bending akibat pembebanan 3 sumbu (3 aksial stress). untuk mendukung performa dari bahan dasar tersebut. Namun material yang kaku untuk patah berkemungkinan sangat besar.Bahan dasar ini tentunya memiliki sifat-sifat khusus yang dimilikinya. Pada dasar diatas diadakan pengujian material terhadap ketahan pembebanan bending. atau jepit engsel.1 Latar Belakang Sering kita jumpai bahan dasar dari mesin ataupun peralatan yang berasal dari logam. dan torsional shear. jepit-jepit. . Struktur dan mesin memiliki komponenyang harus menahan beban yang menyebabkan bending.Salah satu keunikan dari bahan dasar material adalah kekuatan material tersebutterhadap pembebanan bending.2 Tujuan Percobaan tekuk ini bertujuan untuk menunjukan peristiwa dan kebenaran rumus tekuk Euleur. transverse shear . Dalam percobaan ini tumpuan ujung batang dapat dibuat engsel-engsel.

balok penyangga keran.contoh system balok dapat di kemukakan antara lain. Gambar 1(a) memperlihatkan balok pada posisi awal sebelum terjadi deformasi dan Gambar 1(b) adalah balok dalam konfigurasi terdeformasi yang diasumsikan akibat aksi pembebanan. Deformasi pada balok secara sangat mudah dapat dijelaskan berdasarkan defleksi balok dari posisinya sebelum mengalami pembebanan.beban keran(crane) dan lain-lain. Sistem struktur yang di letakkan horizontal dan yang terutama di peruntukkan memikul beban lateral.1 Pengertian Defleksi dan Hal-Hal yang Mempengaruhi Defleksi adalah perubahan bentuk pada balok dalam arah y akibat adanya pembebanan vertical yang diberikan pada balok atau batang.dan sebagainya.balok lantai gedung.yaitu beban yang bekerja tegak lurus sumbu aksial batang (Binsar Hariandja 1996).gelagar jembatan.Beban semacam ini khususnya muncul sebagai beban gravitasi. kadang kita harus menentukan defleksi pada setiap nilai x disepanjang balok. (a)Balok sebelum terjadi deformasi. P P x O y (a) (b) Gambar 1. Hubungan ini dapat ditulis dalam bentuk persamaan yang sering disebut persamaan defleksi kurva (atau kurva elastis) dari balok. Defleksi diukur dari permukaan netral awal ke posisi netral setelah terjadi deformasi. Konfigurasi yang diasumsikan dengan deformasi permukaan netral dikenal sebagai kurva elastis dari balok. Dalam penerapan.BAB 2 TEORI DASAR 2.seperti misalnya bobot sendiri.beban hidup vertical.Sumbu sebuah batang akan terdeteksi dari kedudukannya semula .(b)Balok dalam konfigurasi terdeformasi Jarak perpindahan y didefinisikan sebagai defleksi balok.

Dengan kata lain suatu batang akan mengalami pembebanan transversal baik itu beban terpusat maupun terbagi merata akan mengalami defleksi. Kekakuan batang Semakin kaku suatu batang maka lendutan batang yang akan terjadi pada batang akan semakin kecil 2.dalam menjalankan fungsinya. Besarnya kecil gaya yang diberikan Besar-kecilnya gaya yang diberikan pada batang berbanding lurus dengan besarnya defleksi yang terjadi. Unsure-unsur dari mesin haruslah cukup tegar untuk mencegah ketidakbarisan dan mempertahankna ketelitian terhadap pengaruh beban dalam gedung-gedung. .balok meneruskan pengaruh beban gravitasi keperletakan terutama dengan mengandalakan aksi lentur.bila benda dibawah pengaruh gaya terpakai.balok lantai tidak dapat melentur secara berlebihan untuk meniadakan pengaruh psikologis yang tidak diinginkan para penghuni dan untuk memperkecil atau mencegah dengan bahan-bahan jadi yang rapuh.kalaupun timbul aksi normal. Begitu pun kekuatan mengenai karateristik deformasi dari bangunan struktur adalah paling penting untuk mempelajari getaran mesin seperti juga bangunan-bangunan stasioner dan penerbangan.yang berkaitan dengan gaya berupa momen lentur dan geser.misalnya akibat gaya gesek rem kendaraan pada gelagar jembatan. Semakin banyak reaksi dari tumpuan yang melawan gaya dari beban maka defleksi yang terjadi pada tumpuan rol lebih besar dari tumpuan pin (pasak) dan defleksi yang terjadi pada tumpuan pin lebih besar dari tumpuan jepit. Jenis tumpuan yang diberikan Jumlah reaksi dan arah pada tiap jenis tumpuan berbeda-beda. Hal-hal yang mempengaruhi terjadinya defleksi yaitu : 1.atau misalnya akibat perletakan yang di buat miring. Dengan kata lain semakin besar beban yang dialami batang maka defleksi yang terjadi pun semakin kecil 3.itu terutama di timbulkan oleh beban luar yang relative kecil. Jika karena itu besarnya defleksi pada penggunaan tumpuan yang berbeda-beda tidaklah sama.

Engsel Engsel merupakan tumpuan yang dapat menerima gaya reaksi vertikal dan gaya reaksi horizontal. Tumpuan yang berpasak mampu melawan gaya yang bekerja dalam setiap arah dari bidang. Jadi pada umumnya reaksi pada suatu tumpuan seperti ini mempunyai dua komponen yang satu dalam arah horizontal dan yang lainnya dalam arah vertical.4.maka perbandingan antara komponen-komponen reaksi pada tumpuan yang terpasak tidaklah tetap. 2. Jenis beban yang terjadi pada batang Beban terdistribusi merata dengan beban titik. Penghubung yang terlihat pada gambar dibawah ini dapat melawan gaya hanya dalam arah AB rol.2Jenis-Jenis Tumpuan 1. Tidak seperti pada perbandingan tumpuan rol atau penghubung. Ini karena sepanjang batang mengalami beban sedangkan pada beban titik hanya terjadi pada beban titik tertentu saja (Binsar Hariandja 1996) . Sedang rol-rol hanya dapat melawan suatu tegak lurus pada bidang cp . dua buah komponen statika harus digunakan Gambar 2. Alat ini mampu melawan gaya-gaya dalam suatu garis aksi yang spesifik. Pada gambar dibawah hanya dapat melawan beban vertical. Pada beban terdistribusi merata slope yang terjadi pada bagian batang yang paling dekat lebih besar dari slope titik. Tumpuan engsel 2. Rol Rol merupakan tumpuan yang hanyadapat menerima gaya reaksi vertical.keduanya memiliki kurva defleksi yang berbeda-beda. Untuk menentukan kedua komponen ini.

Beban terpusat Titik kerja pada batang dapat dianggap berupa titik karena luas kontaknya kecil. Mengecornya ke dalam beton atau mengelas ke dalam bangunan utama.3Jenis-Jenis Pembebanan Salah satu factor yang mempengaruhi besarnya defleksi pada batang adalah jenis beban yang diberikan kepadanya. Tumpuan Jepit 2. Tumpuan jepit ini mampu melawan gaya dalam setiap arah dan juga mampu melawan suaut kopel atau momen. Secara fisik. Tumpuan Rol 3. gaya reaksi horizontal dan momen akibat jepitan dua penampang. . Jepit Jepit merupakan tumpuan yang dapat menerima gaya reaksi vertical.tumpuan ini diperoleh dengan membangun sebuah balok ke dalam suatu dinding batu bata.Gambar 3. Gambar 4. Adapun jenis pembeban : 1. Suatu komponen gaya dan sebuah momen.

Beban terbagi merata Disebut beban terbaf\gi merata karena merata sepanjang batang dinyatakan dalm qm (kg/m atau KN/m) Gambar 6.Gambar 5. Beban bervariasi unform Disebut beban bervariasi uniform karena beban sepanjang batang besarnya tidak merata Gambar 7. Pembebanan Terpusat 2. Pembebanan Terbagi Merata 3. Pembebanan Bervariasi uniform .

4 Jenis-Jenis Batang 1. Batang kartilever Bila salah satu ujung balok dijepit dan yang lain bebas. Batang kantilever 3. Batang tumpuan sederhana 2. Batang menerus . Batang Overhang Bila balok dibangun melewati tumpuan sederhana Gambar 10. Gambar 11. Gambar 9.2. Batang tumpuan sederhana Bila tumpuan tersebut berada pada ujung-ujung dan pada pasak/rol. Batang Overhang 4. Batang menerus Bila tumpuan-tumpuan terdapat pada balok continue secara fisik. Gambar 8.

Lendutan batang untuk setiap titik dapat dihitung dengan menggunakan metode diagram atau cara integral ganda dan untuk mengukur gaya yang digunakan load cell. Sebuah jembatan yang fungsinya menyeberangkan benda atau kendaraan diatasnya mengalami beban yang sangat besar dan dinamis yang bergerak diatasnya.dimana pada bagian-bagian tertentu seperti poros.6 Aplikasi Lendutan Batang Aplikasi dari analisa lendutan batang dalam bidang keteknikan sangat luas. Demikian pula.menujukkan bahwa pentingnya analisa lendutan batang ini dalam perancangan.lendutan sangat tidak diinginkan karena adannya lendutan maka kerja poros atau operasi mesin akan tidak normal sehingga dapat menimbulkan kerusakan pada bagian mesin atau pada bagian lainya pada semua tekni.5 Fenomena Lendutan Batang Untuk setiap batang yang ditumpu akan melendut apabila diberikan beban yang cukup besar.bagianbagian suatu struktur komposit harus cukup tegar sehingga tidak akan melentung melebihi batas yang diizinkan bila bekerja dibawah beban yang diizinkan (Soemono 1989). Sebuah konstruksi teknik.Jadi poros sebuah mesin haruslah diperlukan dan menahan gaya-gaya luar dan dalam. 2.2. bagian-bagian pelengkap suatu bangunan haruslah diberi ukuran-ukuran fisik yang tertentu.Lendutan batang sangat penting dalam konstruksi terutama konstruksi mesin. Hal ini tentunya akan mengakibatkan terjadinya lendutan .berikut adalah beberapa aplikasi dari lendutan batang : 1.mulai dari perancangan poros transmisi sebuah kendaraan bermotor ini. Bagian-bagian tersebut haruslah diukur dengan tepat untuk menahan gaya –gaya yang sesungguhnya atau yang mungkin akan dibebankan kepadanya. Jembatan Disinilah dimana aplikasi lendutan batang mempunyai perananan yang sangat penting.

Oleh karena itu. Defleksi yang terjadi secara berlebihan tentunya akan mengakibatkan perpatahan pada jembatang tersebut dan hal yang tidak diinginkan dalam membuat jembatan 2. Mesin Pengangkut Material Pada alat ini ujung pengankutan merupakan ujung bebas tak bertumpuan sedangkan ujung yang satu lagi berhubungan langsung atau dapat dianggap dijepit pada menara kontrolnya. Poros Transmisi Pada poros transmisi roda gigi yang saling bersinggungan untuk mentransmisikan gaya torsi memberikan beban pada batang poros secara radial.memiliki kemungkinan terjadi defleksi atau lendutan batang-batang penyusun konstruksinya. Konstruksi Badan Pesawat Terbang Pada perancangan sebuah pesawat material-material pembangunan pesawat tersebut merupakan material-material ringan dengan tingkat elestitas yang tinggi namun memiliki kekuatan yang baik. Oleh karena itu. 3.saat mengangkat material . 4.diperlukan analisa lendutan batang untuk mengetahui defleksi yang terjadi pada material atau batang-batang penyusun pesawat tersebut. Defleksi yang terjadi pada poros membuat sumbu poros tidak lurus. Ini yang menyebabkan terjadinya defleksi pada batang poros transmisi. Selain itu.benda dinamis yang berputar pada sumbunya . Ketidaklurusan sumbu poros akan menimbulkan efek getaran pada pentransmisian gaya torsi antara roda gigi.untuk mencegah terjadinya defleksi secara berlebihan yang menyebabkan perpatahan atau fatik karena beban terus-menerus 5. Rangka (chasis) kendaraan Kendaraan-kendaraan pengangkut yang berdaya muatan besar.batang atau defleksi pada batang-batang konstruksi jembatan tersebut.

Table 1: Nilai modulus elastisitas bahan No Material E (N/m²) 1 Baja Karbon Struktural 0.8 Kesetimbangan .5%) 200 3 Duralinium 69 4 Tembaga (Copper).25 200-207 2 Baja Nikel (3-3. 2.5 %-0.34 7 Beban dalam tekanan 27.Gere 1978).…………………………………………………(f.1) Di mana: E adalah modulus elastisitas bahan (N/m²) σ adalah tegangan normal (N/m²) ε adalah regangan normal Sifat elastic suatu bahan material ditentukan oleh modulus elastitas berikut adalah nilai modulus elastitas untuk beberap material.Cold Rolled 110-120 5 Gelas 69 6 Dine (Cemara) dengan grafin 10. Pada konstruksinya sangat besar karena salah satu ujungnya bebas tak bertumpuan.6 8 Brass 90 9 Aluminium 70 2. Disini analisa lendutan batang akan mengalami batas tahan maksimum yang boleh diangkut oleh alat pengangkut tersebut (James M. Adapun persamaan dinyatakan sebagai berikut ………….7 Modulus Elastitas Modulus elastitas merupakan perbandingan unsure tegangan normal dan regangan normal..kemungkinan untuk terjadi defleksi.

w = konstan (dinamis) ∑ τ = 0 pilih pada suatu titik dimana gaya-gaya yang bekerja terbanyak Macam Kesetimbangan Statis : 1.v = konstan (dinamis) ∑ F = 0=∑ Fx = 0 . Ditinjau dari keadaannya. Kesetimbangan Labil : setelah gangguan.v = 0 (statis). benda tidak kembali ke posisi semula 3. metode integrasi ganda (”doubel integrations”) 2. Kesetimbangan Translasi (a = 0). yaitu ∑F =0 dan ∑τ =0 2.Benda dikatakan mencapai kesetimbangan jika benda tersebut dalam keadaan diam/statis atau dalam keadaan bergerak beraturan/dinamis.terdiri dari: 1. ∑ Fy = 0 2. yaitu: 1. Kesetimbangan titik/partikel Penyelesaian soal ini dikerjakan dengan syarat kesetimbangan translasi yaitu ∑F = 0. 2. Kesetimbangan Stabil : setelah gangguan. Metode integrasi ganda sangat cocok dipergunakan untuk mengetahui defleksi sepanjang bentang sekaligus. metode energy 4. benda berada pada posisi semula 2.Metode-Metode Perhitungan Lendutan Ada beberapa metode yang dapat dipergunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan defleksi pada balok. Sedangkan metode luas bidang momen sangat cocok dipergunakan untuk mengetahui lendutan dalam satu . yaitu: 1. metode luas bidang momen (”Momen Area Method”) 3. titik berat tetap benda tetap pada satu garis lurus seperti semula Pada umumnya soal-soal Kesetimbangan terbagi dua jenis. serta metode superposisi. Kesetimbangan benda Penyelesaian soal ini dikerjakan dengan syarat kesetimbangantranslasi dan rotasi.w = 0 (statis). Kesetimbangan Rotasi (alpha = 0). Kesetimbangan Indiferen (netral) : setelah gangguan. kesetimbangan terbagi dua.

(j.……………..……………. Gambar 13. Asumsi yang dipergunakan untuk menyelesaiakan persoalan tersebut adalah hanyalah defleksi yang diakibatkan oleh gaya-gaya yang bekerja tegak lurus terhadap sumbu balok.…………………..(j. Suatu struktur sedehana yang mengalami lentur dapat digambarkan sebagaimana gambar 12. dθ sudut mon.. Metode integrasi ganda Berdasarkan gambar 13 didapat besarnya dx=r..dθ…………………………………………………...tempat saja... dan irisan yang berbentuk bidang datar akan tetap berupa bidang datar walaupun berdeformasi.tg. dimana y adalah defleksi pada jarak x. dengan x adalah jarak lendutan yang ditinjau.defleksi yang terjadi relative kecil dibandingkan dengan panjang baloknya.1) karena besarnya dθ relatif sangat kecil maka tg dθ=dθ saja sehingga persamaannya dapat ditulis menjadi …………………. dan r adalah jarijari lengkung.2) Jika dx bergerak kekanan maka besarnya dθ akan semakin mengecil atau semakin berkurang sehingga didapat persama . dx adalah jarak mn.

four point bending Pada four point bending .sehingga di dapat persamaan sehingga di dapat persamaan Jika persamaan (j. agar mendapatkan momen maksimum karena saat mecari dibutuhkan momen maksimum tersebut.Lendutan relatif sangat kecil sehingga sehingga didapat persamaan Persamaan tegangan .6) di integralkan sebanyak dua kali maka akan di peroleh persamaan: Pengujian lentur (bending) pada umumnya dilakukan dengan dua metode berikut : a. b. benda kerja dikenai beban pada dua titik. . yaitu pada ⅓L dan ⅔L. Pada metode ini material harus tepat berada di ½ L. three point bending Pada three point bending spesimen atau benda dikenai beban pada satu titik yaitu tepat pada bagian tengah batang (½ L).

Pembebanan menggunakan four point bending lebih baik dari pada menggunakan Three poin bening ini dikarenakan adanya rentang pada spesimen yang menyebabkan tegangan geser = 0. Ilustrasi pengujian dapat dilihat di gambar berikut : .

Lakukan percobaan beberapa kali dengan jarak dan pembebnan yang bervariasi g.3. Catat semua data kedalam table . Jika jarum berputar satu putaran berarti sama dengan 1 mm f. Beri pembebanan yang bervariasi mulai dari 5N . Hitung / ukur penampang batang untuk mencari momen inersia h. Tentukan bagian pada benda uji yang akan di ukur defleksinya. dilakukan beberapa tingkat pembebanan yaitu dengan melakukan seting pembebanan pada jarak tertentu. 10N dan 20N. Prosedur untuk melakukan percobaan ini adalah sebagai berikut: a. Benda uji diletakan pada peralatan dengan ditumpu kedua ujungnya c. tempatkan dial indkator pada bagian tersebut serta ukur jarak antara kedua defleksi ke kanan d. catat defleksi yang terjadi pada jarum dial indicator. METODOLOGI 3. Kalibrasi penbacaan jarum dial indicator e. Siapkan alat uji dan bahan yang akan di uji b.1 Pengujinan lendutan batang Alat  Satu set alat penguji defleksi  Massa pemberat  Dial indicator  Jangka sorong Bahan  Batang baja Prosedur pengujian Pada percobaan kali ini.

2.2 Pengujian tekuk Bahan Karakteristik spesimen dalam uji tekuk ini ialah sebagai berikut : .Material : Low Carbon Steel ST-37 .3. Panjang (L) : 400 mm Lebar (l) : 30 mm Panjang (L) : 500 mm Lebar (l) : 30 mm Prosedur pengujian Untuk Uji Engsel-Engsel : .Dimensi Spesimen : 1.

Kunci bagian selongsong pengatur 6. Lihat angka yang ditunjukan oleh timbangan dan catat apa yang terjadi Untuk Uji Engsel-Jepit : 1. Salah satu Penjepit disetel untuk pada pengujian Engsel-Engsel dimana sisi penjepit yang digunakan adalah bagian yg berbentuk “V”. Atur posisi Jam ukur (Dial Gauge) hingga menyentuh spesimen 7. Putar Jam ukur ke posisi 0 8. Kunci bagian selongsong pengatur 6. Putar selongsong pengatur berlawanan arah jarum jam hingga jam ukur menunjukan angka 60 10. Atur posisi Jam ukur (Dial Gauge) hingga menyentuh spesimen 7. Atur ketinggian dari batang pembeban agar spesimen pada posisi tegak 4.1. Letakan spesimen pada penjepit dan kaitkan beban pada pesimen 3. Putar Jam ukur ke posisi 0 8. Putar kaki timbangan hingga jarum berada pada posisi 0 kg . Atur ketinggian dari batang pembeban agar spesimen pada posisi tegak 4. Letakan spesimen pada penjepit dan kaitkan beban pada pesimen 3. Putar kaki timbangan hingga jarum berada pada posisi 0 kg 9. 2. Dua buah Penjepit disetel untuk pada pengujian Engsel-Engsel dimana sisi penjepit yang digunakan adalah bagian yg berbentuk “V” 2. Pastikan water pass berada pada posisi seimbang 5. Pastikan water pass berada pada posisi seimbang 5. dan yang lainnya menggunakan sisi penjepit.

Putar Jam ukur ke posisi 0 8. Dua buah Penjepit disetel untuk pada pengujian Jepit-Jepit dimana sisi penjepit yang digunakan adalah bagian yg berbentuk jepitan 2. Pastikan water pass berada pada posisi seimbang 5. Atur ketinggian dari batang pembeban agar spesimen pada posisi tegak 4. Lihat angka yang ditunjukan oleh timbangan dan catat apa yang terjadi. . Putar selongsong pengatur berlawanan arah jarum jam hingga jam ukur menunjukan angka 60 10. Atur posisi Jam ukur (Dial Gauge) hingga menyentuh spesimen 7. Letakan spesimen pada penjepit dan kaitkan beban pada pesimen 3. Kunci bagian selongsong pengatur 6. Putar kaki timbangan hingga jarum berada pada posisi 0 kg 9.Untuk Uji jepit-Jepit : 1.

24 Skala Sehingga: MB = ( 0.0 2.76 0.5 2+0.5 2 [ ] = 9.5 2.0 1 2 3 4 5 6 7 34 71 108 130 195 229 279 34 70 100 150 176 221 265 Dengan demikian kalibrasi Load Cell adalah: M x 2 = 3 x 2 = 6 kg  58.1 Data Percobaan Dan Penyelesaian Soal 4.2 = 2.0 1. Massa Pemberat Hasil Pembacaan Mikrometer (Skala) A C Total (kg) 0. m =3 kg Berikut adalah data hasil percobaan lendutan pada batang yang telah dilaksanakan: Tabel 4.5) 8 RA = 1 ( 3 )( 9.5 2.5 1.1 Modul Satu – Percobaan Lendutan Pada Batang Dalam percobaan diambil harga-harga sebagai berikut: l1 = 500 mm.5) · −2.7 3. l2 = 500 mm. Jadi : 58.1 Hasil Percobaan Lendutan Pada Batang No.81 ) 3 · 2( 0.Bab 4 ANALISA DATA 4.86 N Lendutan total kedua Load Cell adalah : 544 Skala.52 ) ( 3 )( 9.81 ) (0.5+0.76 68 141 208 280 371 450 544 .1.86 N : 544 Skala. atau 1 N : 9.

Dengan suatu cara.24 = 30.7 (%) 228 212 9. jika pemberat/beban yang digunakan pada uji lendut lebih besar. bidang silinder atau bulat dengan kesejajaran.2 N RC = 265 9. Apa gunanya jam ukur dalam percobaan ini? Dipergukanakn untuk memeriksa penyimpangan yang sangat kecil dari bidang datar.2 Perbandingan Nilai Teoritis dan Nilai Percobaan Hasil Teoritis (N) RA RC Hasil Kesalahan Hasil Percobaan Percobaan (N) 30. RA = 279 9. Jelaskan cara ini! Berat batang dan penggantung beban dapat diabaikan. 2. 3.7 N Hasil percobaan ini dapat dibandingkan dengan perhitungan sebagai berikut: Tabel 4. berat batang dan penggantung beban dapat diabaikan.24 = 28. Apa perlunya kalibrasi Load Cell? Untuk.2 Soal-soal praktikum: 1.2 28.2 9.RC = R A Sehingga . menyamakan tegangan Load Cell dibandingkan dengan batu standar yang dibaca di indikator timbangan .

menurut penguji disebabkan oleh kesalahan pembacaan pada skala Load Cell saat memutarkannya. Secara rumus. hal ini tidak wajar. Hal ini. nilai teoritis sudah bisa dipastikan benar. Jelaskan sumber kesalahan pada percobaan dan sumber kesalahan pada teori! Pada kelasahan hasil percobaan. Terdapat perbedaan antara hasil perhitungan menurut teori. angka melebihi 100%.4. .

7 (500) = 350 mm .3 kg Jepit-Engsel 11 kg Tabel 4.3 kg 3.5 x L awal = 0.2 Modul Dua – Percobaan Tekuk Tabel 4.1.3 kg Jepit-Jepit Jepit-Engsel 1.7 (400) = 280 mm  Jepit – jepit: Le = 0.7 x L awal = 0.3 Data Pengujian Untuk L = 400 mm Dan Pemberat 300 kg Jenis Tumpuan Pkr [Beban] Engsel-Engsel 6.3 kg Panjang batang efektif untuk batang petama (Le)  Engsel – engsel: Le = L awal = 400 mm  Jepit – engsel: Le = 0.3 kg Jepit-Jepit 1.5 (400) = 200 mm Panjang batang efektif untuk batang kedua (Le)  Engsel – engsel: Le = L awal = 500 mm  Jepit – engsel: Le = 0.7 x L awal = 0.3 Data Pengujian Untuk L = 500 mm Dan Pemberat 180 kg Jenis Engsel- Tumpuan Pkr [Beban] Engsel 1.4.

5 (500) = 250 mm Perhitungan Beban Kritis Secara Teoritis  Untuk L = 400 mm b h3 12 Inersia penampang I = = 3 ¿ ¿ ¿3 ( 22 ) ¿ ¿ = 49.5 kg Untuk L = 500 mm 3 Inersia penampang I = 1.5) 4002 = 1. Jepit – Engsel Pkr =(2.3 kN = 1300 N = 139.63 kN = 630 N = 64.84 kg 3.05)(π)2  ( 206 ) (49. Engsel – Engsel π ¿ Pkr = ¿ ¿ = 0.2 ) ¿ ¿ = 52.5 mm4 1. Jepit – jepit: Le = 0.5 kN = 2500 N = 254.2 mm4 . Engsel – Engsel bh 12 = 3 ¿ ¿ ¿3 ( 23. Jepit – Jepit Pkr = (4)(π)2 ( 206 ) (49.5 x L awal = 0.1 kg 2.5) 2 400 = 2.

Adakah perbedaan antara Pkritis teori dengan Pkritis uji? Terjadi perbedaan yangt sangat signifikan.π ¿ Pkr = ¿ ¿ = 0.12 kg 3.825 kN = 825 N = 84. Jepit – Engsel Pkr = (2. ketidak presisian alat ukur.61 kN = 1610 N = 164.425 kN = 425 N = 43. Tentukan panjang akhir benda uji setelah mengalami beban kritis untuk masing-masing harga panjang awal! 2.5) 5002 = 0.5) 2 500 = 1. Turunkan cara menghitung Momen Inersia Luas Penampang untuk berbagai penampang! . 3. Jepit – Jepit Pkr = (4)(π)2 ( 206 ) (49. Kesalahan prosedur atau batang uji terbuat dari bahan yang berbeda dari yang tertera pada modul praktikum.1 kg Soal-soal praktikum: 1.05)(π)2 ( 206 ) (49. dikarenakan beberapa hal yaitu.3 kg 2.

Bentuk Penampang Rumus 1. 3.No. 2. i= i= 1 12 b .h 3 12 b h3 - 1 i= 4 1 2 π . r4 b’ h’3 .