Anda di halaman 1dari 45

INEZ TALITHA

1102013134
SKENARIO 1 PANCA INDERA

1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Mata
KONJUNGTIVA
Konjungtiva merupakan membran halus yang melapisi kelopak mata dan melapisi permukaan sklera
yang terpajan dengan lingkungan luar. Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang
membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior sklera
(konjungtiva bulbaris). Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi kelopak (persambungan
mukokutan) dan dengan epitel kornea di limbus. Konjungtiva terdiri dari tiga bagian:
a. Konjungtiva bulbaris (menutupi sebagian permukaan anterior bola mata)
b. Konjungtiva palpebralis (menutupi permukaan posterior dari palpebra)
c. Konjungtiva forniks (bagian transisi yang membentuk hubungan antara bagian posterior palpebra dan
bola mata).3

Gambar 1. Anatomi Konjungtiva
Konjungtiva palpebralis merupakan konjungtiva yang melapisi permukaan posterior kelopak mata dan
melekat ke tarsus. Konjungtiva ini pada tepi superior dan inferior tarsus akan melipat ke posterior (pada
fornices superior dan inferior) dan membungkus jaringan episklera dan menjadi konjungtiva bulbaris.

Konjungtiva bulbaris melekat longgar ke septum orbitale di forniks dan melipat berkali-kali.
Pelipatan ini memungkinkan bola mata bergerak dan memperbesar permukaan konjungtiva. Konjungtiva
bulbaris melekat longgar ke kapsul tenon dan sclera di bawahnya, kecuali di limbus (tempat kapsul Tenon
dan konjungtiva menyatu sejauh 3 mm). Lipatan konjungtiva bulbaris yang tebal, mudah bergerak dan lunak
(plika semilunaris) terlelak di kanthus internus dan membentuk kelopak mata ketiga pada beberapa binatang.
Struktur epidermoid kecil semacam daging (karunkula) menempel superfisial ke bagian dalam plika
semilunaris dan merupakan zona transisi yang mengandung baik elemen kulit dan membran mukosa.
Konjungtiva forniks struktumya sama dengan konjungtiva palpebra. Tetapi hubungan dengan jaringan
dibawahnya lebih lemah dan membentuk lekukan-lekukan. Juga mengandung banyak pembuluh darah. Oleh
karena itu, pembengkakan pada tempat ini mudah terjadi bila terdapat peradangan mata.
Perdarahan dan Persarafan Arteri-arteri konjungtiva berasal dari arteria siliaris anterior dan arteria
palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis dengan bebas dan bersama dengan banyak vena konjungtiva
membentuk jaringan vaskular konjungtiva yang sangat banyak (Vaughan, 2010). Konjungtiva juga menerima
persarafan dari percabangan pertama nervus V dengan serabut nyeri yang relatif sedikit (Tortora, 2009).
A. Makroskopis Mata
Mata terdiri dari :
 Suatu lapisan luar keras yang transparan di anterior (kornea) dan opak di posterior (sklera).
Sambungan antara keduanya disebut limbus. Otot-otot ekstraokular melekat pada
sklerasementara saraf optik meninggalkan sklera di posterior melalui lempeng kribiformis.
 Suatu lapisan kaya pembuluh darah (koroid) melapisi segmen posterior mata dan memberi
nutrisi pada permukaan dalam retina.
 Korpus siliaris terletak di anterior. Korpus siliaris mengandung otot siliaris polos yang
kontraksinya mengubah bentuk lensa dan memungkinkan fokus mata berubah-ubah.Epitel
siliaris mensekresi aqueous humor dan mempertahankan tekanan okular. Korpus siliaris
merupakan tempat perlekatan iris.
 Lensa terletak di belakang iris dan disokong oleh serabut-serabut halus (zonula) yang
terbentang di antara lensa dan korpus siliaris.
 Sudut yang dibentuk oleh iris dan kornea (sudut iridokornea) dilapisi oleh suatu jaringan sel
dan kolagen (jalinan trabekula). Pada sklera di luar jalinan ini, kanal schlemm mengalirkan
aqueous humor dari bilik anterior ke dalam sistem vena, sehingga terjadi drainase aqueous.
Daerah ini dianamakan sudut drainase.
Antara kornea di anterior dan lensa serta iris di posterior terdapat bilik mata anterior. Di antara iris,
lensa, dan korpus siliaris terdapat bilik mata posterior (yang berbeda dari korpus vitreous). Kedua bilik ini
terisi oleh aqueous humor. Di antara lensa retina terletak korpus vitreous.

Di anterior, konjungtiva akan berlanjut dari sklera ke bagian bawah kelopak mata atas dan bawah.
Satu lapis jaringan ikat (kapsul tenon) memisahkan konjungtiva dari sklera dan memanjang ke belakang
sebagai satu penutup di sekitar otot-otot rektus.
Orbita

Mata terletak dalam ruang orbita yang memiliki bentuk seperti piramida berisi empat. Pada apeks
posterior terletak kanal optik yang merupakan tempat lewatnya saraf optik ke otak. Fissura orbita superior

dan inferior merupakan tempat lewatnya pembuluh darah dan saraf kranialis yang memberikan persarafan
pada struktur orbita. Pada dinding anterior media terdapat fossa untuk sakus lakrimalis. Kelenjar lakrimal
terletak di anterior pada aspek superolateral orbit.
Kelopak Mata
Fungsi :- Memberikan proteksi mekanis pada bola mata anterior.
- Mensekresi bagian berminyak dari lapisan film air mata.
- Menyebarkan film air mata ke konjungtiva dan kornea.
- Mencegah mata menjadi kering.
- Memiliki pungta tempat air mata mengalir ke sistem drainase lakrimal.
Kelopak mata terdiri dari :

- Suatu lapisan permukaan kulit.
- Otot-otot orbikularis.
- Suatu lapisan kolagen kuat (lempeng tarsal).
- Suatu lapisan epitel, konjungtiva, sampai ke bola mata.

Otot levator berjalan ke arah kelopak mata atas dan berinsersi pada lempeng tarsal. Otot ini
dipersarafi oleh saraf ketiga. Kerusakan pada saraf ini atau perubahan-perubahan pada usia tua menyebabkan
jatuhnya kelopak mata (ptosis). Suatu otot polos datar yang muncul dari permukaan profunda levator
berinsersi pada lempeng tarsal. Otot ini dipersarafi oleh sistem saraf simpatis. Jika persarafan simpatis rusak
(seperti pada sindrom Horner) akan terjadi ptosis ringan.
Tepi kelopak mata adalah letak sambungan mukokutan. Sambungan ini mengandung muara kelenjar
minyak Meibomm yang terletak di lempeng tarsal. Kelenjar ini mensekresikan komponen lipid dari film air
mata. Di medial, pada kelopak mata atas dan bawah, dua pungta kecil membentuk bagian awal sistem
drainase lakrimal.

Sirkulasi konjungtiva beranastomosis di anterior dengan cabangcabang dari arteri karotis eksterna. Gangguan media refraksi menyebabkan visus turun (baik mendadak aupun . Media refraksi targetnya di retina sentral (macula). Drainase air mata melalui sistem ini. dan arteri muskularis. Saraf optik anterior mendapat pasokan darah dari cabang-cabang dari arteri siliaris.Sistem Drainase Lakrimal Air mata mengalir ke dalam pungta atas dan bawah dan kemudian ke dalam sakus lakrimalis melalui kanalikuli atas dan bawah. Fovea mendapat darah secara tidak langsung. dan vitreous. Persarafan    Nervus III Saraf ini memasuki sinus kavernosus pada dinding lateral dan memasuki orbita melalui fissura orbita superior. arteri siliaris. seperti juga lapisan luar retina. Kanalikuli-kanalikuli membentuk kanalikulus komunis sebelum memasuki sakus lakrimalis. Nukleusnya terletak di pons. Media Refraksi Yang termasuk media refraksi antara lain kornea. Fovea sangat tipis sehingga tidak membutuhkan pasokan dari sirkulasi retina. Retina mendapat pasokan darah dari cabang arteriol dari arteri retina sentral. Nukleusnya terletak di tengah. Nukleusnya terletak di otak tengah. oleh difusi oksigen dan metabolit dari koroid melewati epitel pigmen retina. Nervus VI Saraf ini memasuki orbita melalui fissura orbita superior. Kegagalan bagian distal duktus nasolakrimalis untuk membentuk saluran sempurna pada saat lahir biasanya merupakan penyebab mata berair dan lengket pada bayi. Perdarahan Mata mendapat pasokan darah dari arteri oftalmika (cabang dari arteri karotis interna) melalui arteri retina. Nervus IV Saraf keempat memasuki orbita melalui fissura orbita superior. Duktus nasolakrimalis berjalan dari sakus ke hidung. lensa. pupil.

Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh media penglihatan yang terdiri atas kornea. -banyak pigmen = coklat. Kornea . dan panjangnya bola mata. Pada orang normal susunan pembiasan oleh media penglihatan dan panjang bola mata sedemikian seimbang sehingga bayangan benda setelah melalui media penglihatan dibiaskan tepat di daerah makula lutea. -sedikit pigmen = biru. -tidak ada pigmen = merah / pada albino. warna yang tampak tergantung pada pigmen melanin di lapisan anterior iris.perlahan). Mata yang normal disebut sebagai mata emetropia dan akan menempatkan bayangan benda tepat di retinanya pada keadaan mata tidak melakukan akomodasi atau istirahat melihat jauh. badan vitreous (badan kaca). lensa. Bagian berpigmen pada mata: uvea bagian iris. aqueous humor (cairan mata).

pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sadangkan dibagian perifer serat kolagen ini bercabang. Endotel  Berasal dari mesotelium. Kornea merupakan lapisan jaringan yang menutupi bola mata sebelah depan dan terdiri atas 5 lapis. 3.  Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. terdiri atas 5 lapis selepitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih. Membran Descement  Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basalnya. satu lapis sel basal. Trauma atau panyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan sistem pompa endotel terganggu sehingga dekompresi endotel dan terjadi edema kornea. masuk ke dalam stroma kornea. mempunyai tebal 40 μm. 5. Epitel  Tebalnya 50 μm. dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng. Endotel tidak mempunya daya regenerasi. 4. yaitu: 1. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblas terletak di antara serat kolagen stroma. ikatan ini menghambat pengaliran air. saraf V. sel poligonal dan sel gepeng. Endotel melekat pada membran descement melalui hemi desmosom dan zonula okluden. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma. Stroma  Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan lainnya. saraf siliar longus berjalan supra koroid. Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata di sebelah depan. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan. dimana 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea. . dan glukosa yang merupakan barrier.  Epitel berasal dari ektoderm permukaan 2. Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus. saraf nasosiliar.  Pada sel basal sering terlihat mitosis sel. Membran Bowman  Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma.bentuk heksagonal. sel basal berikatan erat berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di depannya melalui desmosom dan makula okluden.Kornea (Latin cornum=seperti tanduk) adalah selaput bening mata. berlapis satu. menembus membran Boeman melepaskan selubung Schwannya. Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea. Seluruh lapis epitel dipersarafi samapai kepada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. bagian selaput mata yang tembus cahaya.  Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan di daerah limbus. eliktrolit. besar 20-40 μm.  Lapisan ini tidak mempunyai daya regenerasi. terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan.

yang kemudian terdorong menekan lapisan saraf dalam retina. Di bagian luar nukleus ini terdapat serat lensa yang lebih muda dan disebut sebagai korteks lensa. Aqueous humor dibentuk dengan kecepatan 5 ml/hari oleh jaringan kapiler di dalam korpus siliaris.Aqueous Humor (Cairan Mata) Aqueous humor mengandung zat-zat gizi untuk kornea dan lensa. turunan khusus lapisan koroid di sebelah anterior. Di dalam lensa dapat dibedakan nukleus embrional. yaitu: . Secara fisiologis lensa mempunyai sifat tertentu. Epitel lensa akan membentuk serat lensa terus-menerus sehingga mengakibatkan memadatnya serat lensa di bagian sentral lensa sehingga membentuk nukleus lensa. Nukleus lensa mempunyai konsistensi lebih keras dibanding korteks lensa yang lebih muda. sedangkan dibelakangnya korteks posterior. Cairan ini mengalir ke suatu saluran di tepi kornea dan akhirnya masuk ke darah. karena sumbatan pada saluran keluar). Jika aqueous humor tidak dikeluarkan sama cepatnya dengan pembentukannya (sebagai contoh. Adanya pembuluh darah di kedua struktur ini akan mengganggu lewatnya cahaya ke fotoreseptor. keduanya tidak memiliki pasokan darah. Kelebihan aqueous humor akan mendorong lensa ke belakang ke dalam vitreous humor. Keadaan ini dikenal sebagai glaukoma. Korteks yang terletak di sebelah depan nukleus lensa disebut sebagai korteks anterior. Di bagian perifer kapsul lensa terdapat zonula Zinn yang menggantungkan lensa di seluruh ekuatornya pada badan siliar. fetal dan dewasa. kelebihan cairan akan tertimbun di rongga anterior dan menyebabkan peningkatan tekanan intraokuler (di dalam mata). Lensa akan dibentuk oleh sel epitel lensa yang membentuk serat lensa di dalam kapsul lensa. Lensa berbentuk lempeng cakram bikonveks dan terletak di dalam bilik mata belakang. Lensa Jaringan ini berasal dari ektoderm permukaan yang berbentuk lensa di dalam bola mata dan bersifat bening. Penekanan ini menyebabkan kerusakan retina dan saraf optikus yang dapat menimbulkan kebutaan jika tidak diatasi. Bagian sentral lensa merupakan serat lensa yang paling dahulu dibentuk atau serat lensa yang tertua di dalam kapsul lensa. Lensa di dalam bola mata terletak di belakang iris dan terdiri dari zat tembus cahaya (transparan) berbentuk seperti cakram yang dapat menebal dan menipis pada saat terjadinya akomodasi.

Peranannya mengisi ruang untuk meneruskan sinar dari lensa ke retina. Pada pemeriksaan tidak terdapatnya kekeruhanbadan vitreous akan memudahkan melihat bagian retina pada pemeriksaan oftalmoskopi. di bagian belakang terdapat koroid. Kenyal atau lentur karena memegang peranan terpenting dalam akomodasi untuk menjadi cembung. Vitreous humor penting untuk mempertahankan bentuk bola mata yang sferis. hipermetropia. maka sinar normal tidak dapat terfokus pada mekula. Keadaan patologik lensa ini dapat berupa:  Tidak kenyal pada orang dewasa yang mengakibatkan presbiopia. Badan vitreous mengandung sangat sedikit sel yang menyintesis kolagen dan asam hialuronat (Luiz Carlos Junqueira. sedikit kolagen. Panjang bola mata seseorang dapat berbeda-beda. Panjang Bola Mata Panjang bola mata menentukan keseimbangan dalam pembiasan.  Jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan. Struktur ini merupakan gel transparan yang terdiri atas air (lebih kurang 99%). Kebeningan badan vitreous disebabkan tidak terdapatnya pembuluh darah dan sel. (2) tunika vascular berpigmen. terdiri dari sklera di bagian belakang dan kornea di bagian depan. Keadaan ini disebut sebagai ametropia yang dapat berupa miopia. dan di bagian .  Tidak berada di tempat atau subluksasi dan dislokasi Lensa orang dewasa dalam perjalanan hidupnya akan menjadi bertambah besar dan berat. 2003). dan molekul asam hialuronat yang sangat terhidrasi. Bila terdapat kelainan pembiasan sinar oleh karena kornea (mendatar atau cembung) atau adanya perubahan panjang (lebih panjang atau lebih pendek) bola mata. Lapisan Mata Lapisan mata dari luar ke dalam adalah: (1) tunika fibrosa. yaitu berada antara posterior chamber dan vitreous body dan berada di sumbu mata.  Keruh atau apa yang disebut katarak. Badan Vitreous (Badan Kaca) Badan vitreous menempati daerah mata di balakang lensa.  Terletak di tempatnya. atau astigmatisma.

dan menempel pada permukaan dalam fascia bulbi. sirkular. fovea sentralis.  Tunika vaskular (tunica vasculosa oculi) Tunika vaskular mata terdiri dari koroid di bagian belakang. apertura bundar. Disini jaringan saraf retina berakhir. sinus tampak seperti cekungan (cleft). Di bagian belakang ditembus oleh nervus optikus. Iris adalah lempeng (disk) kontraktil. dan membentuk seperenam permukaan anterior bola mata. dan memanjang sepanjang ora serrata. badan siliaris serta iris di bagian depan. di bagian belakang oleh permukaan anterior iris dan bagian tengah lensa. vaskular. ora serrata. dinding luarnya terdiri dari jaringan solid sklera dan dinding dalamnya dibentuk oleh massa triangular jaringan trabekular.  Tunika nervosa (Tunica interna) Retina adalah membran nervosa penting. dan warna gelap koroid dapat terlihat. Di bagian depan. Sklera lebih tebal di bagian belakang daripada di depan. Badan siliaris (corpus ciliare) merupakan terusan koroid ke anterior yang terdapat processus ciliaris serta musculus ciliaris. Derajat kelengkungannya berbeda pada setiap individu. Salah satu fungsi koroid adalah memberikan nutrisi untuk retina serta menyalurkan pembuluh darah dan saraf menuju badan siliaris dan iris. dan di depan ligamen suspensori lensa dan prosesus siliaris. sinus venosus sclera (canal of Schlemm). bagian anterior menghadap ke kornea. bagian anterior sklera dilapisi membran konjungtiva bulbi. Permukaan eksternal sklera berwarna putiih. pada makula terdapat depresi sentral. tipis. Sekitar 3 mm ke arah nasal dari . dan memanjang hingga badan siliaris. garis persatuannya dinamakan sclerocorneal junction atau limbus. Lapisan ini lebih tebal di bagian belakang daripada di bagian depan. Iris adalah diafragma sirkular di belakang kornea. sklera berhubungan langsung dengan kornea. permukaannya rata. Iris dinamakan berdasarkan warnanya yang beragam pada individu berbeda. tetapi pemanjangan tipis membran masih memanjang hingga di belakang prosesus siliaris dan iris. pada titik dimana gambaran visual paling bagus ditangkap. merupakan membran solid yang berfungsi mempertahankan bentuk bola mata. dan tampak di sekeliling pusat. Pada bagian dalam sklera dekat dengan junction terdapat kanal sirkular. Tepat di bagian tengah di bagian posterior retina. kornea membentuk seperenam bagian anterior dan transparan. makula lutea. Badan siliaris menghubungkan koroid dengan lingkaran iris. Fovea sentralis retina sangat tipis. Aqueous humor direasorbsi menuju sinus skleral oleh jalur pectinate villi yang analog dengan struktur dan fungsi arachnoid villi pada meninges serebral menuju pleksus vena sklera. iris menempel dengan badan siliaris. dan juga terkait dengan. warna coklat tua atau muda. Koroid berada di lima perenam bagian posterior bola mata. ketebalan di bagian belakang 1 mm. Ruang posterior adalah celah sempit di belakang bagian perifer iris. pupil.depan terdapat badan siliaris dan iris. sklera berada di lima perenam bagian posterior dan opak. retina. Koroid merupakan membran tipis. berada di aqueous humorantara kornea dan lensa. bagian posterior menghadap prosesus siliaris dan lensa. dimana gambaran objek eksternal ditangkap. Kornea merupakan bagian proyeksi transparan dari tunika eksternal. berupa area oval kekuningan. retina semakin tipis di bagian depan. Permukaan luarnya berkontak dengan koroid. Kornea berbentuk konveks di bagian anterior dan seperti kubah di depan sklera. Pada potongan meridional dari bagian ini. Iris membagi ruangan antara lensa dan kornea sebagai ruang anterior dan posterior. permukaan dalamnya dengan membran hialoid badan vitreous. dan (3) tunika nervosa. Di bagian perifernya. retina berlanjut sebagai nervus optikus. Di belakang. Ruang anterior mata dibentuk di bagian depan oleh permukaan posterior kornea. dimana ujungnya berupa cekungan.Sklera memiliki densitas yang tinggi dan sangat keras.  Tunika fibrosa (tunica fibrosa oculi) Sklera dan kornea membentuk tunika fibrosa bola mata. membentuk pars ciliaris retina danpars iridica retina. dan berlubang di tengah yang disebut pupil.

1997) B. . Lapisan epitel bertingkat Ketebalan lapisan epitel konjungtiva bervariasi mulai dari 2-4 lapisan pada daerah tarsal. ditemukan pula IgG. 6-8 lapisan pada daerah pertemuan korneoskleral. Lapisan ini dibagi atas lapisan adenoid yang terletak di permukaan dan lapisan fibrosa yang terletak lebih dalam. Ukuran diameter dan tinggi mikrovilli kira-kira 0. Di limbus. epitel konjungtiva berbentuk kolumnar dan berubah menjadi epitel kuboid di daerah bulbar dan tarsal. Bagian ini satu-satunya permukaan retina yang insensitive terhadap cahaya. yaitu kira-kira 20 kali lebih banyak dibanding sel B. Selain itu. sel plasma. limfosit. Mikrovili dibentuk oleh penonjolan sitoplasma yang menonjol ke permukaan sel epitel. dan IgM yang terletak ekstraseluler. IgA.makula lutea terdapat pintu masuk nervus optikus (optic disk). Permukaan epitel konjungtiva ditutupi oleh mikrovili. Mikroskopik Mata KONJUNGTIVA Konjungtiva seperti halnya membran mukosa lainnya. Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan pada beberapa area juga mengandung struktur mirip folikel. arteri sentralis retina menembus bagian tengah discus.5 um dan 1 um. Jenis limfosit yang paling banyak ditemukan adalah sel T. epitel berubah menjadi epitel skuamous bertingkat tak bertanduk yang akan melanjutkan diri menjadi epitel kornea 2. Lapisan ini tidak berkembang hingga mencapai usia 2–3 bulan setelah kelahiran. Lapisan fibrosa tersusun atas jaringan ikat yang mengandung pembuluh darah dan serabut saraf dan melekat pada lempeng tarsus. Di daerah forniks. Fungsi mikrovilli selain untuk memperluas daerah absorbsi juga untuk menjaga stabilitas dan integritas tear film. dan dinamakan blind spot. yaitu : 1. Substansia propria mengandung sel mast (6000/mm 3). (Snell. terdiri atas dua lapisan. dan netrofil yang memegang peranan dalam respon imun seluler. hingga 8-10 lapisan pada daerah tepi konjungtiva. Lapisan Stroma (Substansia Propria) Stroma konjungtiva dipisahkan dengan lapisan epitel konjungtiva oleh membrana basalis.

Gambar 5. retikulum endoplasma.2 µL mukus dalam sehari. Masing-masing memiliki dua bagian. sedangkan stem cels pada konjungtiva palpebra dimulai dari mucocutaneus junction dan berjalan ke arah forniks. Sel ini dibentuk oleh membran yang berisi musin. karena ia dapat melicinkan dan melindungi sel epitel. yaitu progenitor dimana sel-sel berproliferasi dan bagian di mana sel-sel tidak berproliferasi. tergantung pada ada atau tidaknya proses inflamasi pada daerah tersebut. Daerah basal sel goblet mengandung nukleus. Sel Goblet Konjungtiva Sel goblet adalah sel yang relatif besar dengan ukuran kurang lebih 25 µm. Mukus ini penting dalam menjaga integritas permukaan okular. Sel goblet diketahui berperan dalam sekresi musin sejak 140 tahun yang lalu. Stem cells pada konjungtva bulbi dimulai dari limbus. Siklus sel yang lambat membentuk sel antara yang kemudian akan berkembang menjadi sel epitel konjungtiva yang matur. Gambar 6. dan mitokondria juga ditemukan dalam sitoplasma. tengah dan sedikit di daerah palpebral. Media refraksi terdiri dari: . Lisosom. Organel dan nukleus pada sel goblet yang telah berkembang akan terdorong ke tepi oleh kandungan mukus di dalamnya. Histologi Konjungtiva 12 Stem Cells Konjungtiva Epitel konjungtiva memiliki kemampuan untuk memperbarui diri secara konstan. Sel ini dapat ditemukan di forniks inferior bagian nasal. mikrosom. MEDIA REFRAKSI Merupakan media kesemua bangunan transparan yang harus dilalui berkas cahaya untuk mencapai retina. dan apparatus golgi. Jarang ditemukan di konjungtiva bulbi dan tidak ada di kornea. Hal ini dimungkinkan oleh adanya stem cells yang merupakan sumber dari aktivitas miosis. Total populasi sel goblet berkisar antara 1000 hingga 56. Sel Goblet Konjungtiva 12 Sel goblet ditemukan pada lapisan tengah dan superfisial epitel dan merupakan 15 % dari sel epitel permukaan manusia. Daerah apeks mengandung sejumlah besar granula sekretoris yang memberi bentuk yang unik pada sel tersebut.000 per mm2 permukaan konjungtiva. Sekarang kita tahu bahwa sel goblet memproduksi hingga 2.

mendapatkan nutrisi dari difusi pembuluh perifer dalam limbus dan dari humor aqueus di bagian tengah. Membran ini berakhir dengan tegas/ mendadak pada limbus. . Epitel ini sangat sensitif dengan banyak akhir saraf bebas. 5. yang merupakan hasil indeks refraksi radius lengkung kornea lebih besar daripada daya refraksi lensa. mitosis hanya terjadi dalam lapisan basal. dan permukaan posterior lebih melengkung daripada anterior. Kornea bersifat avaskular. dan mempunyai daya regenerasi istimewa/sangat baik. terletak antar lamel. Lapisan basal silindris rendah. Secara kimiawi materinya adalah kolagen. permukaan antar sel yang tak teratur. 3. Lamel merupakan serat lebar. Kornea Kornea jernih dan tembus cahaya dengan permukaan yang licin tetapi tidak melengkung secara uniform/seragam. bersifat tembus cahaya. terdiri dari lima lapisan 1. Secara anatomis kornea mempunyai dua bagian:  Kornea asli Secara histologi. Fibroblas berbentuk bintang. Diameter serabut seragam menunjukkan periodisitas yang khas. tak berbentuk dan tak mengandung sel. dan terdiri dari lamel kolagen dengan sel. Epitel Pada permukaan luar terdapat epitel. dan terbenam dalam substansia antarsel yang kaya akan polisakarida bersulfat. dengan lamel pada sudut-sudut yang berbeda. Substansia propria Membentuk massa kornea (90% ketebalannya). Lamel saling melekat karena adanya pertukaran serabut antara lamel yang berdampingan. dan sejumlah besar vesikula pinositotik. Sel menunjukkan kompleks tautan. Vesikula ini mentransportasikan cairan dan larutan. seperti pita. terletak sebelah dalam substansia propria. Daya refraksi kornea. 4. Membran descement Tampak homogen. 2. karenanya kornea lebih tipis di bagian tengah daripada tepinya. gepeng dengan cabang yang ramping. Endotel Merupakan satu lapis sel kuboid yang melapisi permukaan dalam kornea. yaitu suatu epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk. kemudian 3 atau 4 lapisan sel polihedral dan 1 atau 2 lapisan sel permukaan yang gepeng. Bagian tengah (zona optikal) mempunyai radius kelengkungan yang lebih kecil dibandingkan bagian tepi. serabut dalam setiap lamel sejajar. Membran Bowman Dibawah epitel. dibentuk oleh perpadatan antar sel dengan serabut kolagen halus yang tersebar tak beraturan. Merupakan membrana basalis dari endotel. dengan 5 hingga 6 lapisan sel.

 Limbus kornea Merupakan zona peralihan atau zona pertemuan antara kornea dengan sklera. suatu cairan encer yang disekresi sebagian oleh epitel siliar dan oleh difusi dari kapiler dalam prosesus siliaris. Humor akueus mengandung materi yang dapat berdifusi dari plasma darah. dan permukaan anterior badan siliaris – Lateral oleh sudut iris atau limbus yang ditempati oleh jaringan-jaringan trabekular yang merupakan tempat penyaliran humor akueus schlemm. Camera occuli posterior (COP) Merupakan suatu ruangan yang dibatasi oleh: – Anterior oleh iris – Posterior oleh permukaan anterior lensa dan zonula – Perifer oleh prosesus silia. iris. membran descement menipis dan memecah dan melanjutkan diri menjadi trabekula ligamneti pektinata. Disini epitel kornea menebal smapai 10 lapisan dan melanjutkan diri dengan konjungtiva. Kedua ruangan mengandung humor akueus. Limbus memiliki vaskularisasi yang baik. membrana bowman berhenti dengan tiba-tiba. mengalir keruang anterior melalui pupil.  Lensa . tetapi mengandung kadar protein yang rendah dibandingkan serum. dan disalurkan melalui jaringan trabekular ke dalam kanal schlemm.  Camera occuli anterior dan camera occuli posterior Camera occuli anterior (COA) Merupakan suatu ruangan yang dibatasi oleh: – Anterior oleh permukaan posterior kornea – Posterior oleh lensa. dan stroma kornea menjadi kurang teratur dan secara bertahap susunannya berubah dari susunan lamelar yang khas menjadi kurang teratur seperti yang ditemukan pada sklera. Cairan ini disekresi secara kontinyu ke dalam COP.

Di bagian tengah. dan membran plasma serat lensanya sangat tidak permeabel. 3. . merupakan satu lapisan sel kuboid. di bawah kapsula. Di bagian tengah pada kedua permukaannya terdapat kutup anterior dan kutup posterior. Lensa dipertahankan pada tempatnya oleh ligamen suspensorium. Oleh karenanya bentuknya sferoid/bundar dengan lekukan pada bagian anterior untuk menyesuaikan dengan lensa. Sebagian besar serat tersusun secara konsentris dan sejajar permukaan lensa. Lensa sama sekali tanpa pembuluh darah. permukaan posterior lebih melengkung daripada anterior. dan mengandung glikoprotein dan kolagen tipe IV. Garis yang menghubungkan keduanya adalah aksis dan batas kelilingnya adalah ekuator. Kapsul ini homogen. yang berjalan ke badan siliar sebagai ligamentum suspensorium/penyokong. Di permukaan.  Badan vitreus Merupakan suatu agar-agar yang jernih dan tembus cahaya yang memenuhi ruang antara retina dan lensa. Substansia lensa Terdiri dari serat lensa. yang masing-masing berbentuk prisma heksagonal. disebut zonula yang terdiri dari lembaran terdiri dari materi fibrilar yang berjalan dari badan siliar ke ekuator lensa. pada korteks serat yang lebih muda mengandung inti dan beberapa organel. serat yang lebih tua telah kehilangan inti dan tampak homogen. Lensa bersifat tembus cahaya. Bagian dasar sel ini terletak di luar dalam hubungan dengan kapsula. Ke arah ekuator sel ini bertambah tinggi dan beralih menjadi serat lensa. Secara struktural. Badan vitreus juga memlihara bentuk dan kekenyalan bola mata. dalma ini lensa. Kapsul lensa Kapsul lensa meliputi lensa. karenanya mendapat nutrisi dari humor akueus dan badan vitreus.Lensa kristalina bentuknya bikonveks. Padanya melekat serat zonula. agaknya merupakan membran yang tak berbentuk. sehingga meliputi lensa. terdapat epitel subkapsular. bersifat elastik. Apeksnya terletak di dalam dan membentuk kompleks jungsional dengan serat lensa. 2. Endotel subkapsularis Hanya pada permukaan anterior. terdapat 3 komponen: 1.

Retina optikal atau neural melapisis koroid mulai dari papila saraf optik di bagian posterior hingga ora serrata di anterior. Lapisan luar membentuk epitel pigmen. sehingga daerah ini disebut juga bintik buta. Membran limitans interna . Fovea merupakan daerah untuk penglihatan terjelas. Membran limitans eksterna 4. dan lapisan dalam menjadi retina saraf atau retina yang sebenarnya. Sekeliling fovea terdapat suatu daerah yang dikenal sebagai bintik kuning. Lapisan retina terdiri dari: 1. atau makula lutea. Lapisan serat saraf 10. Lapisan sel ganglion 9. Lapisan batang dan kerucut 3. Lapisan pleksiform luar 6. Epitel pigmen 2. lapisan pigmen melekat erat pada koroid. Retina berkembang sebagai penonjolan ke luar otak depan yang disebut vesikel optik.RETINA Merupakan lapisan paling dalam bola mata dan terdiri dari bagian anterior yang tak peka dan bagian posterior yaitu bagian yang fungsional. Suatu ruang potensial menetap antara kedua lapisan tersebut dan hanya dilalui oleh penonjolan sel pigmen. Lapisan luar. Vesikel optik mempertahankan hubungannya dengan otak mellaui tangkai optik. Lapisan inti luar 5. yang merupakan organ fotoreseptor atau alat penerima cahaya. Vesikel optik akan berubah menjadi cangkir optik yang berlapis dua. Lapisan inti dalam 7. dan menunjukkan suatu cekungan yang dangkal yang disebut fovea sentralis. tetapi lapisan dalam mudah terlepas pada proses pembuatan sajian histologi juga dalam kehidupan sesudah terjadi trauma. Lapisan pleksiform dalam 8. Tak terdapat fotoreseptor di atas papila optik.

Terbagi dalam suatu kelompok utama: – Bipolar difusa berhubungan dengan beberapa fotoreseptor . sehingga berbentuk seperti botol. Neuron konduksi langsung (sel bipolar dan sel ganglion) Sel bipolar badan sel bipolar sebagian besar terletak pada bagian sentral aerah inti dalam. Batang merupakan sel khusus yang ramping dengan segmen luar berbentuk silindris mengandung fotopigmen rhodopsin (ungu visual) dan suatu segmen dalma yang sedikit lebih panjang. Kerucut menunjukkan segmen luar yang mengecil dan membesar ke arah segmen dalam. Fotoreseptor (batang dan kerucut) Baik batang maupun kerucut merupakan bentuk modifikasi neuron. 2. Sel ini menunjukkan segmen dalam dan luar yang terletak di luar membran limitans eksterna.Terdapat empat kelompom sel: 1.

konjungtiva 3. dan sel bipolar sentrifugal) 4. Di dalam tarsus terdapat untaian kelenjar sebasea yang disebut kelenjar Meibom yang bermuara bersama ke dalam satu saluran keluar dan tidak berhubungan dengan folikel rambut.– Bipolar monosinaptik/kerdil yang berhubungan dengan satu sel. makrin. Bagian atau berkas serat otot ini yang berada di belakang saluran keluar kelenjar Meibom disebut muskulus siliaris Riolani. Kelopak mata 2. Dermis lebih padat pada tepi kelopak mata dan disini mengandung tiga atau empat baris rambut panjang yang kaku disebut bulu mata. Di bawah kulit terdapat lapisan otot lingkar mata (muskulus orbikularis okuli) yang merupakan otot rangka. Kulit di bagian depan merupakan kulit tipis dengan rambut kecil. kelenjar sebasea dan suatu dermis yang terdiri dari jaringan ikat halus yang banyak serat elastin. Di bagian tengah palpebra terdapat jaringan ikat fibrosa yang menjadi kerangka kelopak mata yang disebut tarsus. Celah ini ditutup oleh kelopak mata atas dan bawah yang bila saling mendekat akan bertemu di fissura palpebra. (Roland. Lipatan ini disebut forniks superior dan inferior. Di antara dan sebelah belakang bulu mata terdapat kelenjar apokrin yang saluran keluarnya bermuara pada folikel bulu mata disebut kelenjar Moll. Aksonnta tak pernah bercabang. yang menembus dalam ke dermis. Tarsus ini tebal pada pangkal kelopak mata dan makin ke ujung makin semakin sempit. 3. . Kelenjar lakrimal KELOPAK MATA Kelopak mata terdiri atas lempeng penyokong di bagian tengah yang terdiri dari jaringan ikat dan otot rangka yang diliputi kulit di bagian luar dan suatu membran mukosa di dalam. Unsur penyokong (serat Muller dan neuroglia). buku ajar histologi) ORGAN TAMBAHAN MATA Bola mata terletak di dalam rongga tulang yang membuka ke anterior. Neuron asosiasi dan lainnya (sel horisontal. kelenjar keringat. Konjungtiva akan melipat dari bagian tepi kornea untuk melapisi permukaan dalam kelopak mata. Organ-organ tambahan mata terdiri atas 1. Sel ganglion terletak dalam retina dalam dengan dendritnya dalam lapisan pleksiform dalma dan aksonnya membentuk serat saraf optik. Epitel konjungtiva makin ke pangkal makin tinggi dan di dalam forniks terdapat lipatan mukosa.

Juga ditemukan banyak kelenjar lakrimal tambahan/ assesoris dalam lamina propria kelopak mata atas dan bawah. Air mata mengandung banyak air dan lisosim suatu zat anti bakteri. Konjungtiva di susun oleh epitel berlapis silindris yang mengandung sel goblet yang terletak di atas suatu lamina basal dan lamina propia yang terdiri atas jaringan ikat longgar.Air mata kemudian masuk ke duktus nasolakrimal yang juga dilapisi epitel bertingkat silindris bersilia. Hal ini mungkin disebabkan oleh bakteri. tempat berawalnya kornea. Pada corneoscleral junction. Penguapan air mata yang berlebihan dicegah oleh suatu lapisan/film mukus (dari sel goblet konjungtiva tarsal) di atas film air dan minyak (dari kelenjar meibom).KONJUNGTIVA Konjungtiva adalah membran mukosa jernih yang melapisi permukaan dalam kelopak mata (konjungtiva palpebra) dan menutupi permukaan sklera pada bagian depan bola mata (konjungtiva bulbi). Air mata berfungsi untuk memelihara agar epitel konjungtiva tetap lembab. dengan sel mioepitel yang menyolok. dan akhirnya masuk sakus lakrimal.Dinding kanalikuli lakrimal tersusun oleh epitel bertingkat silindris bersilia. Sekret sel-sel goblet ikut menyusun tirai air mata yang berfungsi sebagai pelumas dan pelindung epitel mata bagian depan. alergen atau parasit-parasit lainnya. konjungtiva melanjutkan diri sebagai epitel kornea berlapis gepeng kornea dan tidak mengandung sel goblet. .Sakus lakrimalis merupakan bagian superior duktus nasolakrimalis yang melebar. Lobus kelenjar yang terpisah mencurahkan isinya melalui 10-15 saluran keluar ke dalam bagian lateral forniks superior konjungtiva. virus. tubuloasinar dan serosa. Konjungtivitis adalah peradangan konjungtiva yang biasanya ditandai oleh konjungtiva yang hiperemis (merah) dan sekret yang banyak. Ukurannya sebesar kenari. Air mata disapukan ke arah medial dan kelebihannya memasuki pungta lakrimal (lacrimal puncta) yang terletak disetiap sudut medial palpebra superior dan inferior. kedipan kelopak mata akan menyebabkan air mata tersebar di atas kornea seperti wiper pada kaca mobil dan berguna untuk mengeluarkan benda asing seperti partikel debu. KELENJAR LAKRIMAL Kelenjar lakrimal utama terletak pada sudut superolateral rongga mata.Dari sini air mata kemudian masuk ke kanalikuli lakrimal (lacrimal canaliculi).Dari sini air mata kemudian dikeluarkan ke meatus inferior yang terletak di dasar rongga hidung.

Fungsi lensa selain menghasilkan kemampuan refraktif yang bervariasi selama berakomodasi. Yang mengatur perubahan pupil tersebut adalah iris. maka pupil akan mengecil. Bayangan atau cahaya yang tertangkap oleh retina adalah terbalik. Bila cahaya sampai ke retina. Lensa ini berada diantara aqueous humor dan vitreous humor. maka otot–otot siliaris akan berkontraksi. karena otak sudah dilatih menangkap bayangan yang terbalik itu sebagai keadaan normal. . tetapi persepsi pada otak terhadap benda tetap tegak. maka sel–sel batang dan sel–sel kerucut yang merupakan sel–sel yang sensitif terhadap cahaya akan meneruskan sinyal–sinyal cahaya tersebut ke otak melalui saraf optik. Pupil membesar bila intensitas cahaya kecil (bila berada di tempat gelap). Setelah melalui pupil dan iris. Apabila mata memfokuskan pada objek yang dekat. Memahami dan Menjelaskan Fisiologis Penglihatan Cahaya masuk melalui kornea diteruskan ke pupil. melekat ke otot–otot siliaris melalui ligamentum suspensorium. maka otot–otot siliaris akan mengendur dan lensa menjadi lebih tipis dan lebih lemah. Pupil merupakan lubang bundar anterior di bagian tengah iris yang mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata. Dan apabila mata memfokuskan objek yang jauh. karena iris merupakan cincin otot yang berpigmen. nyata.2. maka cahaya sampai ke lensa. sehingga lensa menjadi lebih tebal dan lebih kuat. maka iris juga berperan dalam menentukan warna mata. dan apabila berada di tempat terang atau intensitas cahayanya besar. lebih kecil. Iris merupakan cincin otot yang berpigmen dan tampak di dalam aqueous humor. juga berfungsi untuk memfokuskan cahaya ke retina.

Proses pada mengekspresikan gelap atau terang yaitu: Gelap ↓ konsentrasi GMP-siklik meningkat ↓ Konsentrasi Na meningkat ↓ Depolarisasi membrane ↓ Pengeluaran zat inhibitor ↓ Neuron bipolar dihambat ↓ Tidak adanya melihat pada korteks penglihatan di otak ↓ Tidak ada ekspresi melihat Cahaya/terang ↓ Fotopigmen terjadi disosiasi dari retinen dan opsin ↓ Konsentrasi Na tinggi ↓ Penurunan GMP-siklik ↓ Penutupan kanal Ca ↓ Menutupnya canal Ca ↓ Pengeluaran zat inbihitor dihambat ↓ Terjadi eksitasi neuron bipolar saat otak .

Memahami dan Menjelaskan Konjungtivitis LO. 2 LO.3. Infeksius Bakterial Klamidia Viral Riketsia Parasitik Non-infeksius Alergi Autoimun Toksik (kimia atau iritan) Penyakit sistemik seperti sindrom Steven-Johnson Iritasi persisten akibat produksi air mata yang kurang. penyebab konjungtivitis adalah endogen (non-infeksius) atau eksogen (infeksius).4. kedipan mata. Lama sakit adalah kurang dari empat minggu. terdapat mekanisme defensi alamiah seperti komponen aqueous yang melarutkan agen infeksius. konjungtivitis dibedakan menjadi: 1.3 Inflamasi dapat terjadi dengan kontak langsung dengan patogen melalui tangan yang terkontaminasi. Air mata sendiri mengandung antibodi dan antibakterial yaitu immunoglobulin (IgA dan IgG). 1996) LI. kemudian diikuti dengan inflamasi mata kedua seminggu kemudian. konjungtiva terpajan dengan lingkungan luar seperti mikroorganisme dan faktor stress. 3.1 Permukaan konjungtiva tidak steril karena dihuni oleh flora normal. infiltrasi seluler.2.1. lisozim. KONJUNGTIVITIS BAKTERIAL . LO. Epidemiologi LO. 2. dan eksudasi. Berdasarkan waktu. 3. Definisi Konjungtivitis adalah proses inflamasi akibat infeksi atau non-infeksi pada konjungtiva yang ditandai dengan dilatasi vaskular. mukus yang menangkap debris. 3. Secara garis besar. 3.Untuk itu. dan aliran air mata yang membilas konjungtiva. atau kolam renang. 3. Etiologi Sama halnya dengan kornea. Konjungtivitis akut: awitan terpisah yang diawali dengan inflamasi unilateral. dan interferon. Klasifikasi 1. perfusi yang baik. Konjungtivitis kronik: lama sakit lebih dari tiga sampai empat minggu.1.↓ Perambatan potensial aksi ke korteks penglihatan di otak ↓ Adanya ekspresi melihat (Sherwood. handuk.

sinusitis dan keadaan imunodefisiensi (Marlin. dan lebih jarang menyebabkan ulkus kornea. Konjungtivitis bilateral dengan eksudat purulen dan biasanya pembengkakan kelopak mata. d) Pemeriksaan Laboratorium Sebagian besar diagnosis dapat ditegakkan dengan tanda dan gejala. Konjungtivitis bakterial biasanya mulai pada satu mata kemudian mengenai mata yang sebelah melalui tangan dan dapat menyebar ke orang lain. subakut dan kronik. Konjungtivitis kronik terjadi pada pasien dengan obstruksi duktus nasolakriminal dan dakriosistitis kronik. Konjungtivitis purulen yang banyak dapat disebabkan oleh N gonorrhoeae. Kerokan konjungtiva dan kultur dianjurkan apabila terdapat sekret purulen. akut. N meningitidis. 2009).Pewarnaan Giemsa bertujuan untuk mengidentifikasi tipe sel dan morfologi. H aegyptius. Konjungtivitis bacterial akut (subakut) yang disebabkan oleh Haemophilus influenza bersifat self-limited dengan lama sakit melebihi dua minggu (tanpa pengobatan) dan eksudat tipis. membranosa. Ulkus kornea marginal mempermudah infeksi N gonorrhoeae. dan sepsis. Penyakit ini biasanya terjadi pada orang yang terlalu sering kontak dengan penderita. f) Pengobatan . serta flokulen. penyebab tersering adalah Streptococcus pneumoniae.a) Definisi Definisi Konjungtivitis Bakteri adalah inflamasi konjungtiva yang disebabkan oleh bakteri. Umumnya. Neisseria kochii dan N meningitidis.Disamping itu. blefaritis bacterial kronik atau disfungsi kelenjar meibom juga dapat menyebabkan konjungtivitis kronik. kebutaan. pemeriksaan laboratorium dilakukan apabila konjungtivitis tidak responsif terhadap antibitotik. N kochii. Etiologi dan Faktor Resiko Konjungtivitis bakteri dapat dibagi menjadi empat bentuk. infeksi bersifat unilateral pada mulanya kemudian mengenai mata yang lain melalui tangan. akan terjadi iritis toksik. c) Tanda dan Gejala Dua bentuk konjungtivitis bakterial adalah akut dan kronik. Penyebab yang paling sering pada bentuk konjungtivitis bakteri subakut adalah H influenza dan Escherichia coli. dan N meningitides yang membutuhkan pemeriksaan laboratorium dan pengobatan segera.Penundaan dapat menyebabkan kerusakan kornea.Konjungtivitis purulen yang disebabkan olehNeisseria gonorrhoeae atau Neisseria meningitidis menyebabkan komplikasi yang serius jika tidak diobati dengan benar. Apabila produk toksik N gonorrhoeae menyebar pada bilik mata depan. atau pseudomembranosa. Konjungtivitis bakteri hiperakut biasanya disebabkan oleh N gonnorhoeae. Sedangkan konjungtivitis mukopurulen akut. yaitu hiperakut.Adapun pemeriksaan yang dilakukan adalah pewarnaan Gram untuk mengidentifikasi mikroorganisme penyebab. Bentuk yang akut biasanya disebabkan oleh Streptococcus pneumonia dan Haemophilus aegyptyus. konjungtivitis pseudomembranosa dan membranosa akan menimbulkan sikatriks dalam proses penyembuhan. berair. sedangkan bentuk kronik paling sering terjadi pada konjungtivitis sekunder atau pada pasien dengan obstruksi duktus nasolakrimalis (Jatla. Selain itu. sekret pada mata dan iritasi mata b). S aureus. Neisseria kochii. dan M catarrhalis. Pada konjungtivitis ini biasanya pasien datang dengan keluhan mata merah. 2009).Oleh karena itu. e) Komplikasi Pada infeksi staphylococcal dapat terbentuk blefaritis marginal kronik.

ofloksasin. polimiksin B kombinasi dengan basitrasin dan neomisis. subkonjungtiva hiperemis.Transmisi terjadi melalui kontak dengan sekret respiratori. atau kolam renang. KONJUNGTIVITIS VIRAL Konjungtivitis viral dapat disebabkan berbagai jenis virus. 4. Konjungtivitis folikuler viral akut a) Pharyngoconjunctival fever. atau keratitis epitelial superfisial. Tanda lain berupa nodul preaurikular. konjungtivitis akan sembuh lebih cepat dalam 1-3 hari apabila diobati dengan tepat.Pada konjungtivitis kataral kronik.Untuk mencegah penyebaran penyakit. Tanda lain dapat berupa injeksi. dan konjungtivitis folikuler pada satu atau kedua mata. Poxvirus. Namun. kloramfenikol. infeksi kronik membutuhkan terapi yang adekuat untuk dapat pulih. Sebaliknya. Namun pada umumnya konjungtivitis viral. Ditandai dengan injeksi. g) Prognosis Konjungtivitis bacterial akut dapat sembuh sendiri dalam 10-14 hari tanpa pengobatan. apabila hasil mikroskopik menunjukkan bakteri gram-negatif diplokokus seperti neisseria.Pemberian obat tersebut diikuti dengan doksisiklin 100 mg dua kali sehari atau eritromisin 500 mg empat kali sehari selama 1 minggu. Sering hanya muncul pada satu mata. dan kadang pseudomembran dan symblepharon. a) Tanda dan gejala Presentasi klinis yang muncul berbeda-beda tergantung agen penyebabnya. diberikan apabila tidak mengenai kornea. keratitis epitelial. kemosis. kemudian dalam 5 – 14 hari diikuit dengan fotofobia. Vaughan membagi konjungtivitis ke dalam 3 kelompok sbb: 1. tobramisin. konjungtivitis gonococcal dapat menyebabkan ulkus kornea dan endoftalmitis jika tidak diobati. Kombinasi pengobatan antibiotik spektrum luas dengan deksametason atau hidrokortison dapat mengurangi keluhan yang dialami oleh pasien lebih cepat. diberikan antibiotik topikal seperti kloramfenikol atau gentamisin diberikan 3-4 kali/ hari selama dua minggu untuk mengeliminasi infeksi kronik. dan 7. maka diberikan seftriakson 1-2 g/hari secara parenteral selama 5 hari. 19. mata akan sangat berair dengan eksudat minimal. Pada . sementara Herpes Simplex Virus merupakan etiologi yang paling membahayakan.Kemudian. maka septikemia dan meningitis menjadi komplikasi dari konjungtivitis meningococcal. maka terapi sistemik dan topikal harus diberikan secepatnya. dan Human Immunodeficiency Virus. mata berair. Picornavirus. eksudat dibilas dengan larutan saline pada konjungtivitis purulen dan mukopurulen akut. limfadenopati preaurikular. RS. Disebabkan oleh adenovirus tipe 8. atau bilateral dengan lesi salah satu mata akan lebih berat. dan opasitas subepitelial. nyeri.Jika ada keterlibatan kornea.Adenovirus adalah penyebab tersering. 2. dan 29. Namun. Sediaan topikal yang diberikan dalam bentuk salep atau tetes mata adalah seperti gentamisin.Terapi empiris didahulukan sebelum hasil tes sensitivitas antibiotik tersedia.Infeksi staphylococcal dapat menimbulkan blefarokonjungtivitis. nyeri tenggorokan. Ditandai dengan demam 38 – 40 o C.Selain itu penyakit ini juga dapat disebabkan oleh virus Varicella zoster.Adapun terapi empiris yang dapat diberikan adalah Polytrim dalam bentuk topical. b) Epidemic keratoconjunctivitis. Disebabkan oleh adenovirus tipe 3.Seftriakson 1 g.Infeksi dapat muncul sporadik atau epidemik pada tempat ramai seperti sekolah. kanamisis. dosis tunggal intramuscular. disertai adenopati preaurikular atau radang tenggorokan dan demam. pasien dan keluarga diedukasi untuk memerhatikan kebersihan diri. dan asidamfenikol. sekret okular. mata berair. asam fusidat.Oleh karena konjungtiva dapat menjadi port d’entry. edema kelopak mata. Selain itu. serta benda-benda yang menyebarkan virus (fomites) seperti handuk. aureomisin.

Kadang disertai pula dengan keratitis herpes simplex. Penyakit ini memiliki masa inkubasi yang pendek 8 – 48 jam. sensasi benda asing. sedangkan pada anak-anak gejala nyeri tenggorokan dan demam akan terlihat nyata. (B) lesi molluscum pada konjungtiva bulbar. dengan pusatnya bertangkai. Konjungtivitis folikuler viral kronik Infeksi Molluscum contagiosum ditandai dengan konjungtivitis folikular unilateral kronik. keluar sekret mukoid. mata berair. dan keratitis epitelial. keratitis superior. fotofobia. dan perjalanan penyakit yang ringkas 5 – 7 hari. perdarahan subkonjungtiva. dan fotofobia ringan. nyeri. (C) lesi molluscum ekstensif pafa pasien HIV . mata merah. Lesi berbentuk nodul bulat.dewasa. dan pannus superior. Gambar . (A) Konjungtivitis folikular dengan lesi molluscum. kelopak mata bengkak. Disertai dengan limfadenopati preaurikular. Tanda klinis berupa nyeri. Biasanya ditemukan pada anak-anak. berwarna putih mutiara. infeksi ini hanya terbatas pada mata. ditandai dengan infeksi unilateral. d) Acute hemorrhagic conjunctivitis. 2. kemosis. folikel konjungtiva. Muncul pada infeksi primer HSV atau pada episode rekuren herpes okuler. iritasi. c) Herpes simplex virus conjungtivitis. Disebabkan oleh enterovirus tipe 70 atau coxsackievirus tipe A24 (jarang). waxy. Bentuk konjungtivitis berupa folikuler atau pseudomembran (jarang). Dapat pula muncul vesikel herpetik pada kelopak mata dan nyeri pada nodul preaurikuler.

presentasi klinis yang mungkin muncul pada konjungtivitis viral adalah sebagai berikut : 1. dan pseudomembran 4. namun jarang terjadi b) Pemeriksaan Pada prinsipnya. Inflamasi berat dapat diasosiasikan dengan adanya perdarahan konjungtiva (umumnya ptekiae). Dengan demikian. diagnosis konjungtivitis viral ini dapat ditegakkan melalui anamnesa dan pemeriksaan oftalmologi. lesi erupsi vesikular sepanjang cabang optalmika dari nervus trigeminalis. chemosis. Konjungtiva hiperemis dan muncul folikel. Blefarokonjungtivitis viral Infeksi oleh varicella dan herpes zoster. penting ditanyakan riwayat kontak dengan penderita konjungtivitis akut. pseudomembran. Namun. dapat dilakukan pemeriksaan penunjang dengan scrap konjungtiva dilanjutkan dengan pewarnaan giemsa. Uveitis anterior ringan. tanpa harus menggunakan pemeriksaan penunjang. Sementara pada infeksi herpes akan ditemukan sel raksasa multinuklear. ditandai dengan konjungtivitis hiperemis. Pada infeksi adenovirus akan banyak ditemukan sel mononuklear. Adanya jaringan parut yang dapat timbul akibat resolusi pseudomembran atau membrane 5.Lesi varicella dapat muncul pada kulit disekitar mata.Lesi berbentuk papil.3. kadang folikel. bila meragukan etiologinya. Adapaun pemeriksaan yang lebih spesifik lagi antara lain amplifikasi DNA menggunakan PCR. 3. Badan inklusi intranuklear dari HSV dapat ditemukan pada sel konjungtiva dan kornea menggunakan metode fiksasi Bouin dan pewarnaan Papanicolau. Oedema kelopak mata dan limfadenopati preaurikular.Pada anamnesa.1. membran.5 . dan vesikel. serta imunokromatografi. 2. kultur virus.

povidone-iodine Steroid topikal o Prednisolone 0. serta muncul vesikel pada kulit. (B) pseudomembran.Keratokonjungtivitis adenoviral. mencegah menggaruk mata o Tidak menggunakan handuk bersamaan o Disinfeksi alat-alat kedokteran setelah digunakan pada pasien yang terinfeksi menggunakan sodium hipoklorit. hati-hati dalam penggunaan. keterlibatan kornea. jaringan parut. (D-F) keratitis c) Komplikasi Konjungtivitis viral bisa berkembang menjadi kronis hingga menimbulkan blefarokonjungtivitis. d) Tatalaksana   Mengurangi risiko transmisi o Menjaga kebersihan tangan. (C) residu jaringan parut.5% 4xsehari  pada konjungtivitis psuedomembranosa atau membranosa o Keratitis simtomatik  steroid topikal lemah.Komplikasi lainnya dapat berupa timbulnya pseudomembran. (A) Konjungtivitis folikular. gejala dapat muncul kembali karena steroid hanya menekan proses inflamasi. .Gambar .

dan sangat merah. animal danders.Riwayat alergi sebelumnya kadang diketahui. maka akan tampak gambaran konjungtivitis papiler. Jika alergern persisten. atau bulu hewan sebelumnya.Terdapat riwayat alergi pada pollen. o Pada keratitis herpetik dapat diberikan acyclovir 3% salep 5x/hari. o Harus monitoring tekanan intraokular jika penggunaan steroid diperpanjang Lainnya o Untuk infeksi varicella zoster. KONJUNGTIVITIS ALLERGIKA Merupakan bentuk alergi pada mata yang disebabkan oleh reaksi sistem imun pada konjungtiva. Atopic keratoconjunctivitis . Acyclovir oral dosis tinggi (800 mg 5x sehari selama 10 hari) diberikan jika progresi memburuk. yang penyebabkan kadang sulit untuk diketahui. 3. 400 mg 5x/hari selama 7 hari. lakukan debridemant e) Prognosis Konjungtivitis virus merupakan penyakit limited disease. c. o Stop menggunakan lensa kontak o Artificial tears 4xsehari o Kompres hangat atau dingin o Insisi/pengankatan jaringan pseudomembran atau membran o Antibiotik topikal jika diduga ada infeksi bateri sekunder o Povidone-iodine o Jika sudah ada ulkus kornea. Hay fever conjunctivitis (pollens. o Steroid dapat membantu replikasi virus dan memperlama periode infeksius pasien.Dan infeksi enterovirus tipe 70 atau coxsackievirus tipe A24  sembuh dalam 5 – 7 hari. atau dengan acyclovir oral. Pada infeksi adenovirus. Reaksi hipersensitivitas tipe cepat (humoral) a. berair. selama 10 hari. Vernal keratoconjunctivitis Dikatakan sebagai konjungtivitis musiman. 1.Gejala berupa gatal dan keluar kotoran jernih yang kental. tanpa butu tatalaksana khusus. yang dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan khusus. Merupakan inflamasi nonspesifik yang diasosiasikan dengan hay fever (rinitis alergika). etc). infeksi dapat hilang sempurna dalam 3 – 4 minggu. dan 2 – 3 minggu untuk HSV. rumput.Tampakan dapat berupa konjungtivitis folikuler atau papiler yang besar-besar. b. Mata akan gatal. grasses. a) Tanda dan gejala Bervariasi untuk tiap kelompok.

Penggunaan metode scrapping dan melihat sel imun dibawah mikroskop dapat dilakukan. b. tinggi. c) Komplikasi Komplikasi bergantung pada perjalanan dan lokasi penyakit. Muncul gejala berupa konjungtiva bulbar hiperemis. dan steroid topikal untuk mengurangi infeksi. termasuk basil tuberkulosis. Keratoconjunctivitis sicca yang diasosiasikan dengan sindroma Sjögren Sinrom ini ditandai dengan triad: keratoconjunctivitis sicca. bukan menyingkirkan penyebab utama. spesies staphylococcus species. namun kurang efektif. antibiotik. mata merah. Candida albicans. neomycin. Penyakit autoimun a.Pada limbus terdapat bentuk triangular dengan apex mengarah pada kornea yang dapat membuat ulkus. atau broad-spectrum antibioticsdiikuti dengan hiperemia.Dimiliki pada pasien dengan dermatitis atopik.Hanya pada konjungtivitis sicca. Pemberian steroid harus dengan hati-hati. yang dikelilingi dengan zona hiperemi. dan arthritis. Sedangkan pada kasus-kasus akibat alergi dengan air mata artifisial atau lensa kontak. b. kotoran mukoid. b) Pemeriksaan Pemeriksaan diarahkan pada anamnesis riwayat alergi dan tampilan klinis. antihistamin oral.Pada pasien dengan kecurigaan infeksi sekunder bakteri. xerostomia. karena hanya mensupresi gejala. iritasi. denngan kotoran mukoid. kompres dingin untuk mengurangi gatal. d. Progresi hingga membentuk scar pada fornix dan entropion dengan trichiasis. Reaksi hipersensitivitas tipe lambat (seluler) a. Coccidioides immitis. Konjungtivitis ringan sekunder akibat kontak dengan blepharitis Blefaritis kontak akubat atropine. dan defisiensi diet. maka dapat meinggalkan jaringan parut yang akan mengganggu pandangan. Giant papillary conjunctivitis Gejala mirip konjungtivitis vernal yang berkembang pada pasien dengan penggunaan air mata artifisial dan lensa kontak. d) Tatalaksana Pada dasarnya terapi yang diberikan berupa terapi suportif pemberian vasokonstriktor-antihistamin topikal.Biasanya dipicu dengan blefaritis. Kelenjar lakrimal terinfiltrasi oleh limfosit dan sel plasma sehingga rusak. Haemophilus aegyptius. Cicatricial pemphigoid Diawali dengan konjungtivitis kronik nonspesifik yang resisten terhadap terapi. penanganan terbaik . merah. terasa gatal dan mata berair. dan iritasi. 2. dann Chlamydia trachomatis. Phylctenulosis Disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe lambat pada protein mikroba. dan fotofobia. konjungtivitis bakterial akut. dapat diberikan antibiotik topikal. papiler. diagnosis dilakukan menggunakan biopsi dan menemukan infiltrasi sel limfositik dan plasma pada kelenjar saliva. 3. Jika konjungtivitis berlangsung kronik atau mengenai media refraksi.Gejala berupa sensasi panas terbakar dengan kotoran mukoid pada mata.Papila koeratokonjungtivitis lebih kecil.Gejala diawali dengan lesi kecil.

dan Coccidioides immitis walaupun jarang. dan obat.iritatif adalah konjungtivitis yang terjadi oleh pemajanan substansi iritan yang masuk ke sakus konjungtivalis. MATA MERAH VISUS NORMAL I Definisi PTERIGIUM . Sedangkan pada konjungtivitis sicca. menggantikan fungsi kelenjar air mata yang hilang.Pada hiperemia konjungtiva ini biasanya didapatkan pembengkakan dan hipertrofi papila yang sering disertai sensasi benda asing dan sensasi tergores.substansi iritan yang masuk ke sakus konjungtivalis dan dapat menyebabkan konjungtivitis. Konjungtivitis ini dapat diatasi dengan penghentian substansi penyebab dan pemakaian tetesan ringan.gejala berupa nyeri. menyebabkan hiperemi yang tampak paling nyata pada forniks dan mengurang ke arah limbus. Mungkin pula terdapat edema pada stroma konjungtiva ( kemosis ) dan hipertrofi lapis limfoid stroma ( pembentukan folikel ). Trichinella spiralis. pelebaran pembuluh darah. menggunakan air mata artifisial. Ascaris lumbricoides. Taenia solium dan Pthirus pubis walaupun jarang.Adanya agens perusak. Sel –sel radang bermigrasi dari stroma konjungtiva melalui epitel ke permukaan. Patofisiologi Konjungtiva karena lokasinya terpapar pada banyak mikroorganisme dan faktor lingkungan lain yang menganggu. Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah mengupayakan untuk menghindari kontak dengan alergen. unsur berairnya mengencerkan materi infeksi.Pada film air mata. menyebabkan cedera pada epitel konjungtiva yang diikuti edema epitel. 3. mukus menangkap debris dan kerja memompa dari palpebra secara tetap menghanyutkan air mata ke duktus air mata dan air mata mengandung substansi antimikroba termasuk lisozim. Rhinosporidium serberi. 4. 6. hipertrofi epitel atau granuloma. dapat menimbulkan gejala.Transudasi ringan juga timbul dari pembuluh darah yang hiperemia dan menambah jumlah air mata.Sel – sel ini kemudian bergabung dengan fibrin dan mukus dari sel goblet. fotofobia. Jika klien mengeluh sakit pada iris atau badan silier berarti kornea terkena. Substansi. KONJUNGTIVITIS KIMIA DAN IRITATIF Konjungtivitis kimia. KONJUNGTIVITIS PARASIT Konjungtivitis parasit dapat disebabkan oleh infeksi Thelazia californiensis. Adanya peradangan pada konjungtiva ini menyebabkan dilatasi pembuluh – pembuluh konjungtiva posterior. Selain Candida sp. asap dan angin. panas.Sensasi ini merangsang sekresi air mata. Penyakit ini ditandai dengan adanya bercak putih dan dapat timbul pada pasien diabetes dan pasien dengan keadaan sistem imun yang terganggu.obat lain dengan bahan pengawet yang toksik atau menimbulkan iritasi. Selain itu penyakit ini dapat juga disebabkan oleh pemberian obat topikal jangka panjang seperti dipivefrin. membentuk eksudat konjungtiva yang menyebabkan perlengketan tepian palpebra saat bangun tidur. kematian sel dan eksfoliasi. Beberapa mekanisme melindungi permukaan mata dari substansi luar. KONJUNGTIVITIS JAMUR Konjungtivitis jamur paling sering disebabkan oleh Candida albicans dan merupakan infeksi yang jarang terjadi. dan blefarospasme. Loa loa.5. tatalaksana hanya berupa suportif. miotik. neomycin. penyakit ini juga dapat disebabkan oleh Sporothrix schenckii.adalah menghentikan penggunaannya atau mengalihkan dengan jenis lain. atau gatal. LO. 5. alkali. Schistosoma haematobium. seperti asam.

dapat kambuh (recurrent) sehingga perlu tindakan pembedahan. meskipun sebentar-sebentar dapat meradang (intermittently inflamed). dapat berhubungan dengan fibrosis subkonjungtiva dan meluas hingga ke fornix yang terkadang dapat menyebabkan keterbatasan pergerakan mata . Gambar 1. Biasanya terletak di celah kelopak dan sering meluas ke daerah pupil. Punvaknya terletak dikornea dan dasarnya dibagian perifer. Jika memakai soft contact lense. Timbunan besi (ditunjukkan dengan Stocker line) dapat terlihat di epitel kornea bagian anterior/depan pterygium. kekeringan dan asap. . Penyebab Penyebab pasti dari pterygium tidak diketahui. kotoran.  Paparan berlebihan pada alergen seperti bahan kimia dan solvent Epidemiologi Umum terjadi pada usia 20-30 tahun dan di daerah yang beriklim tropis Klasifikasi Pterygium  Tipe 1 Meluas kurang dari 2 mm di atas kornea.  Tipe 2 Melebar hingga 4 mm dari kornea. angin.  Tipe 3 Meluas hingga lebih dari 4 mm dan melibatkan daerah penglihatan (visual axis). faktor penyebab yang paling umum adalah :  Terkena paparan sinar matahari yang berlebihan  Bekerja di luar rumah  Paparan berlebihan pada lingkungan yang keras seperti debu. jika kambuh.Pterigium merupakan penebalan lipatan konjungtiva bulbi yang berbentuk segitiga dengan banyak pembuluh darah. gejala dapat timbul lebih awal karena diameter lensa yang luas bersandar pada ujung kepala pterygium yang sedikit naik/terangkat dan ini dapat menyebabkan iritasi. Lesi/jejas yang luas (extensive). Tetapi. Dapat mengganggu precorneal tear film dan menyebabkan astigmatisme. Lesi/jejas ini asimtomatis. Tampak jaringan fibrovaskuler konjungtiva. panas.

Pterygium ini diperhatikan karena alasan kosmetik. lubrikasi okular seperti airmata buatan. kortikosteroid untuk mengurangi inflamasi. Pada orang yang lain. pterigyum akan tetap kecil dan tidak mempengaruhi penglihatan. dapat ditambahkan : 1 Medikamentosa Dapat diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi.Gambar 2. Pada beberapa orang. Gejalanya termasuk :       Mata merah Mata kering Iritasi Keluar air mata (berair) Sensasi seperti ada sesuatu dimata Penglihatan yang kabur Diagnosis Diagnosis pterigium dapat ditegakkan berdasarkan pemeriksaan berikut:  Pemeriksaan Visus  Slit lamp Penatalaksanaan Tujuan utama penatalaksanaan pterygium adalah untuk : 1) 2) 3) 4) Mengevaluasi ukuran Mencegah inflamasi Mencegah infeksi Aid dalam proses penyembuhan.  Apabila gejala bertambah berat. biasanya ketika pterygium tidak menimbulkan atau menimbulkan gejala yang minimal. pterygium akan tumbuh cepat dan dapat meyebabkan kaburnya penglihatan. apabila operasi dilakukan Observasi:  Pemeriksaan mata secara berkala. Pterigium Gejala Gejala pterygium bervariasi dari orang ke orang. 2 Therapy radiasi . Pterygium tidak menimbulkan rasa sakit.

maka diberikan steroid lemah. Sering pseudopterigium ini terjadai pada proses penyembuhan tukak kornea. Letak pseudopterygium ini pada daerah konjungtiva yang terdekat dengan proses kornea sebelumnya . Pinguecula biasanya tampak pada konjungtiva bulbar berdekatan dengan limbus nasal (di tepi/pinggir hidung) atau limbus temporal.Apabila penglihatan menjadi kabur. kecuali sangat mengganggu visus. seusai pengangkatan pterygium dengan operasi. Akan tetapi pterigium dapat muncul kembali. debu. tak berbentuk (amorphous). misalnya dengan memakai kacamata hitam. III PINGUEKULA Definisi Pinguekula merupaka benjolan pada konjungtiva bulbi yang merupakan degenerasi hialin jaringan submukosa konjungtiva. debu.jika terjadi inflamasi/ radang akut yang disebut pinguekulitis. sehingga konjungtiva menutupi kornea. Patogenesis Patogenesis belum jelas. lindungi mata dari paparan langsung sinar matahari. tidak berbahaya. . Terdapat lapisan berwarna kuning-putih (yellow-white deposits). selain itu menunda operasi sampai usia dekade 4 dapat mencegah rekurensi. II PSEUDOPTERIGIUM Pseudopterigium merupakan perlekatan konjungtiva dengan kornea yang cacat.Tes sondase Negatif Positif 1. Pengobatan Biasanya tidak diperlukan. Pencegahan Secara umum. serta pembedahan.Progresifitas Ulkus kornea (+) Pseudopterygium tidak memerlukan pengobatan. PTERIGIUM Selalu di fisura palpebra Bisa progresif atau stasioner Ulkus kornea (-) 4. biasanya bilateral (mengenai kedua mata). tetapi umumnya diterima. Lokasi 2. bahwa rangsangan luar mempunyai peranan pada timbulnya pinguekula. sinar matahari. Sebagai rangsangan luar antara lain adalah panas. Pencegahan Mencegah rangsangan luar sangat dianjurkan.Riwayat peny. udara kering 6. maka pterygium harus dioperasi. PSEUDOPTERIGIUM Sembarang lokasi Selalu stasioner 3. atau alasan kosmetik. Pemberian mytomycin C to aid in healing dan mencegah rekurensi. Pinguekula sangat umum terjadi. dan angin.

Episkleritis umumnya mengenai satu mata dan terutama perempuan usia pertengahan dengan bawaan penyakit rematik. Gambar 4. V EPISKLERITIS – SKLERITIS Episkleritis Merupakan reaksi radang jaringan ikat vaskular yang terletak anatara konjungtiva dan permukaan sklera. hipertensi. Keluhannya dapat berupa : 1 mata terasa kering 2 rasa sakit yang ringan 3 mengganjal 4 konjungtiva yang kemotik. konjungtivitis hemorraghik.Gambar 3. Episkleritis Skleritis Adalah reaksi radang yang mempengaruhi bagian luar berwarna putih yang melapisi mata. arteiosklerosis. Pengobatan yang diberikan adalah vasokonstriktor. Pada episkleritis penglihatan normal. batuk rejan).Penyakit ini biasanya disebabkan kelainan atau penyakit sistemik. dapat sembuh sempurna atau bersifat residif. pemakaian antikoagulan. Biasanya tidak perlu pengobatan karena akan diserap dengan spontan dalam waktu 1-3 minggu. Skleritis dibedakan menjadi : . yang kadang menutupi perforasi jaringan bola mata yang terjadi. pada keadaan yang berat diberi kortikosteroid tetes mata atau sistemik atau salisilat. Perdarahan subkonjungtiva dapat juga terjadi akibat trauma langsung atau tidak langsung. Pinguekula IV HEMATOMA SUBKONJUNGTIVA Hematoma subkonjungtiva dapat terjadi pada keadaan dimana pembuluh darah rapuh (umur.

Skleritis Gejala - Kemerahan pada sklera dan konjungtiva Terdapat perasaan sakit yang berat yang dapat menyebar ke dahi. virus. Konjunctivitis dapat disebabkan bakteri. tanpa nodul. VIRUS BAKTERI ALERGI GATAL Minimal Minimal Berat HIPEREMI Menyeluruh Menyeluruh Menyeluruh LAKRIMASI ++ + + . peradangan sklera lebih luas. biasanya terdiri dari hyperemia konjungtiva disertai dengan pengeluaran secret. VI KONJUNGTIVITIS Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva. Gambar 5. alis dan dagu yang kadang membangunkan sewaktu tidur akibat sakitnya yang sering kambuh. umumnya mengenai sebagian sklera anterior. 2 Skleritis nodular Nodul pada skleritis noduler tidak dapat digerakkan dari dasarnya. 3 Skleritis nekrotik Jenis skleritis yang menyebabkan kerusakan sklera yang berat. maka penyakit tersebut perlu diobati. berbeda dengan nodul pada episkleritis yang dapat digerakkan.1 Skleritis anterior diffus Radang sklera disertai kongesti pembuluh darah episklera dan sklera. Apabila ada penyakit yang mendasari. Fotofobia Mata berair Penglihatan menurun Pengobatan Pada skleritis dapat diberikan suatu steroid atau salisilat. berwarna merah. dan molluscum contagiosum. klamidia. alergi toksik.

granulasi. Herpes Zoster Oftalmik dapat pula disertai konjungtivitis. antara lain stafilokok aureus. Apabila penyebabnya karena inf. lakrimasi. terdapat sekret baik serous. Pada infeksi virus dianjurkan pemakaia sulfasetamid atau obat anti-virus seperti IDU untuk infeksi Herpes Simplek. dan adenopati preaurikular. Pengobatan Pengobatan Konjungtivitis Kataral tergantung kepada penyebabnya. atau bahan kimia seperti bahan kimia basa (keratokonjungtivitis) atau bahan kimia yang lain dapat pula menyebabkan tanda-tanda konjungtivitis kataral. Banyak (mukopurulen/purule n) Minimal (benang) + Jarang - Monosit PMN Eosinofil Gambaran klinis yang terlihat pada konjungtivitis dapat berupa hiperemi konjungtiva bulbi (injeksi konjungtiva). bakteri maka dapat diberikan antibiotik. mukopurulen (tergantung penyebabnya). mata merasa seperti ada benda asing. membrane. tanpa cobble-stone. flikten. folikel. Bisa juga disebabkan oleh virus. eksudat dengan sekret yang lebih nyata di pagi hari. tanpa folikel. hipertrofi papil. Gambaran Klinis Injeksi konjungtiva. Jenis Konjungtivitis dapat ditinjau dari penyebabnya dan dapat pula ditinjau dari gambaran klinisnya yaitu : 1 Konjungtivitis Kataral 2 Konjungtivitis Purulen. Biasanya sebagai reaksi konjungtivitis akibat virus berupa terbentuknya folikel pada konjungtiva. dan lain-lain. Mukopurulen 3 Konjuntivitis Membran 4 Konjungtivitis Folikular 5 Konjungtivitis Vernal 6 Konjungtivitis Flikten Konjungtivitis Kataral Etiologi Biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri. Diplobasil Morax Axenfeld dan basil Koch Weeks. kemosis. seperti : tetrasiklin. Konjungtivitis Purulen. tanpa flikten. misalnya Morbili.EKSUDAT (SEKRET) Minimal mukous) ADENOPATI SEL-SEL (serous. mukus. Mukopurulen . pseodoptosis akibat kelopak membengkak. kloromisetin. Pneumokok. pseudomembran. hiperemi konjungtiva tarsal. Dapat disertai blefaritis atau obstruksi duktus lakrimal.

Konjungtivitis Purulen ditandai sekret purulen seperti nanah. diberikan antibiotik yang sensitif.Etiologi Pada orang dewasa disebabkan oleh infeksi gonokok. Pada infeksi difteria. pada anak-anak diberikan penisillin dengan dosis 50. konjungtivitis follikular toksik dan konjungtivitis follikular yang tidak diketahui penyebabnya. Penderita harus dirawat diruang isolasi. yaitu konjungtivitis viral. Untuk mencegah gangguan jantung oleh toksin difteria. Apabila penyebabnya infeksi Streptokok B hemolitik. Mata harus selalu dibersihkan dari sekret sebelum pengobatan. Konjungtivitis Folikular Dikenal beberapa jenis konjungtivitis follikular. yaitu membran dan pseudomembran. Konjungtivitis Pseudomembran disebabkan oleh infeksi yang hiperakut.000 unit/KgBB. serta infeksi pneumokok. yaitu infeksi golongan Neisseria (gonokok atau meningokok) dan golongan klamidia (klamidia okulogenital) Gambaran Klinis Gambaran konjungtiva tarsal hiperemi seperti pada konjungtivitis kataral. kadang disertai adanya pseudomembran sebagai massa putih di konjungtiva tarsal.2 juta unit. Antibiotik lokal dan sistemik  AB sistemik pd dewasa : Cefriaxone IM 1 g/hr selama 5 hr + irigasi saline atau Penisilin G 10 juta IU/IV/hr selama 5 hr + irigasi  AB sistemik pd neonatus : Cefotaxime 25 mg/kgBB tiap 8-12 jam selama 7 hr atau Penisilin G 100. pada bayi (terutama yang berumur di bawah 2 minggu) bila dijumpai konjungtivitis purulen. konjungtivitis klamidia. perlu dipikirkan dua kemungkinan penyebab.000 IU/kgBB/hr dibagi dl 4 dosis selama 7 hr + irigasi saline Konjungtivitis Membran Etiologi Konjungtivitis Membran dapat disebabkan oleh infeksi Streptokok hemolitik dan infeksi difteria. Pengobatan Pengobatan konjungtivitis purulen harus intensif. Massa ini ada dua jenis. Pengobatan Tergantung pada penyebabnya. Gambaran Klinis Penyakit ini ditandai dengan adanya membran/selaput berupa masa putih pada konjungtiva tarsal dan kadang juga menutupi konjungtiva bulbi.000 unit 2 hari berturut-turut. pada orang dewasa diberi injeksi penisillin 2 hari masing-masing 1. diberi salep mata penisillin tiap jam dan injeksi penisillin sesuai umur. perlu diberikan antitoksin difteria 20. Jenis Konjungtivitis Follikular .

superfisial. konjungtiva bulbi kemosis. konjungtiva tarsal hiperemi. biasanya dimulai pada satu mata dan untuk beberapa jam atau satu dua hari kemudian diikuti peradangan akut mata yang lain. Gejala radang akut mereda dalam tiga minggu. Gejala-gejala subyektif berupa mata berair. Terdapat pendarahan subkonjungtiva. berair dan diikuti rasa gatal. Penyakit ini berlangsung 5-10 hari. disamping tanda-tanda konjungtivitis follikular akut dan faringitis akut. baru timbul gejala di kornea. Faringitis timbul beberapa hari setelah timbulnya konjungtivitis follikular akut. Dua minggu sesudah perjalanan penyakit dapat timbul kelainan kornea. Gejala radang mata timbul akut dan selalu pada satu mata terlebih dahulu. Pengobatan Tidak ada pengobatan yang spesifik 3 Konjungtivitis Hemoragik Akut Etiologi Penyebabnya adalah Entero-virus 70. 2 Demam Faringo-Konjungtiva Etiologi Penyebab paling sering adalah adenovirus tipe 3 Gambaran Klinis Lebih sering pada anak daripada orang dewasa. masa inkubasinya 1-2 hari Gambaran Klinis Timbulnya akut. Kelenjar pre-aurikuler dapat membesar dan nyeri tekan. Pengobatan Tidak terdapat pengobatan yang spesifik. subepitel.1 Kerato-Konjungtivitis Epidemi Etiologi Infeksi Adenovirus type 8. masa inkubasi 5-10 hari Gambaran Klinis Dapat mengenai anak-anak dan dewasa. Kelenjar preaurikuler dapat membesar. terkadang sampai dua minggu. tetapi kelainan kornea dapat menetap berminggu-minggu. berbulan-berbulan bahkan bertahun-tahun setelah sembuhnya penyakit. yaitu terdapat infiltrat bulat kecil superfisial. Pada kornea terdapat infiltrat bulat kecil. Terdapat demam. silau dan seperti ada pasir. disertai gejala subjektif seperti ada pasir. kelopak mata membengkak. kelopak mata membengkak. Lebih sering mengenai dua mata. Pengobatan . Pada akhir minggu pertama perjalanan penyakit. dianjurkan pemberian obat lokal sulfasetamid atau antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder.

dimana akan terlihat titik-titik hijau pada defek kornea. masa inkubasi 1-2 hari Konjungtivitis ini biasanya mengenai orang-orang yang berhubungan dengan unggas. konjungtiva tarsal hiperemi dan hiperplasi. Pada konjungtiva tarsal dapat ditemukan perdarahan dan pada konjungtiviis ini biasanya disertai pembesaran kelenjar pre-aurikular. tetapi dapat diberi antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder. 2 Stadium akut (trakoma nyata) Terdapat folikel-folikel di konjungtiva tarsal superior. Sering unilateral Gejala subjektif : seperti perasaan ada benda asing. 4 Konjungtivitis New Castle Etiologi Virus New Castle. Pengobatan Tidak ada pengobatan yang efektif. 5 Inclusion Konjungtivitis Etiologi Klamidia okulo-genital.Tidak dikenal obat yang spesifik. berair. silau dan rasa sakit. . pada kornea di daerah limbus superior terdapat keratitis pungtata epitel dan subepitel. beberapa folikel matur berwarna abu-abu. dapat pula diberikan sulfonamid atau eritromisin 6 Trachoma Etiologi Klamidia trakoma Gambaran Klinis Gambaran klinik terdapat empat stadium : 1 Stadium Insipiens atau permulaan Folikel imatur kecil-kecil pada konjungtiva tarsal superior. Kelainan kornea akan lebih jelas apabila diperiksa dengan menggunakan tes flurosein. Pengobatan Diberikan tetrasiklin sistemik. Gambaran Klinis Gambaran Klinik : kelopak mata bengkak. tampak folikel-folikel kecil yang terdapat lebih banyak pada konjungtiva tarsal inferior. sedang pada bayi gambaran kliniknya adalah suatu konjungtivitis purulen yang juga disebut Inclusion blenorrhoe. tetapi dianjurkan pemberian tetes mata sulfasetamid atau antibiotik. penyakit ini jarang dijumpai. nyeri tekan. masa inkubasi 4-12 hari Gambaran Klinis Gambaran kliniknya adalah konjungtivitis follikular akut dan gambaran ini terdapat pada orang dewasa dan didapatkan sekret mukopurulen.

Konjungtivitis Flikten Etiologi • Disebabkan oleh karena alergi terhadap bakteri atau antigen tertentu (hipersensitivitas tipe IV). konjungtiva taarsal dan kornea. Penyakit ini dapat mengenai dua mata dan dapat pula mengenai satu mata. Konjungtivitis Vernal Etiologi Kemungkinan suatu konjungtivitis atopik Gambaran Klinis Gejala subyektif yang menonjol adalah rasa sangat gatal pada mata. Pannus pada kornea lebih nyata. Pengobatan Kortikosteroid tetes atau salep mata. sikatriks meluas tanpa peradangan Pengobatan Pemberian salep derivat tetrasiklin 3-4 kali sehari selama dua bulan. folikel. tetapi bisa juga pada satu mata. flikten dapat juga dijumpai di konjungtiva bulbi. Selain di limbus. Apabila peradangannya berat. 4 Stadium penyembuhan Trakoma inaktif.3 Stadium sikatriks Sikatriks konjungtiva pada folikel konjungtiva tarsal superior yang terlihat seperti garis putih halus. Dan sifatnya sering kambuh Apabila flikten timbul di kornea dan sering kambuh. Pengobatan  Usahakan mencari penyebab primernya  Diberikan Kortikosteroid tetes mata/salep . Sekret mata pada dasarnya mukoid dan menjadi mukopurulen apabila terdapat infeksi sekunder. Apabila perlu dapat diberikan juga sulfonamid oral. terutama bila berada dilapangan terbuka yang panas terik. yang biasanya terdapat pada kedua mata. • Gizi buruk dan sanitasi yg jelek merupakan faktor predisposisi • Lebih sering ditemukan pd anak-anak Gejala Adanya flikten yang umumnya dijumpai di limbus. dapat berakibat gangguan penglihatan. maka dapat terjadi lakrimasi yang terus menerus sampai berakibat eksema kulit. Keluhan lain adalah rasa seperti berpasir dan silau. Pada pemeriksaan dapat ditemukan konjungtivitis dengan tanda khas adanya cobble-stone di konjungtiva tarsalis superior.

dan noevaskularisasi kornea. berkas sinar yang disebut fler. kornea dapat jernih kembali. Bila terjadi bersama atritis rheumatoid dan penyakit autoimun lain. Sel-sel radang yang terdiri atas limfosit. akibat penguapan berlebihan atau karena parut kornea atau hilangnya mikrovili kornea. Sebaiknya diberikan air mata buatan tanpa zat pengawet kerena bersifat toksik bagi kornea dan dapat menyebabkan reaksi idiosinkrasi. Gejala Subjektif sama seperti gejala keratitis. fibrin. hiperemis. berminyak disebut mutton fat keratic precipitate. Radang iris dan badan siliar menyebabkan rusaknya Blood Aqueous Barrier sehingga terjadi peningkatan protein. Gejala Objektif berupa injeksi siliar. Konjungtivitis Sika Konjungtivitis sika atau konjungtivitis dry eyes adalah suatu keadaan keringnya permukaan konjungtiva akibat berkurangnya sekresi kelenjar lakrimal. mata seperti berpasir. dapat disebabkan oleh efek langsung suatu infeksi atau merupakan fenomena alergi terhadap antigen dari luar atau antigen dari dalam. musin. Apabila presipitat keratik ini besar. dan sel-sel radang dalam humor akuos yang tampak pada penyinaran miring menggunakan sentolop atau akan lebi jelas bila menggunakan slit lamp. Komplikasi Ulkus kornea. Manifestasi Klinis Gatal. Penatalaksanaan Diberikan air mata buatan seumur hidup dan diobati penyakit yang mendasarinya. akan menimbulkan sikatriks kornea. sel plasma dapat membentuk presipitat keratik yaitu selsel radang yang menempel pada permukaan endotel kornea. dan kadang-kadang penglihatan kabur. Ulkus yang kecil dan superfisial akan lebih cepat sembuh. silau. sukar menggerakkan kelopak mata. dan adanya infiltrat. Terdapat gejala sekresi mucus yang berlebihan. dan terdapat erosi kornea. makrofag. Akumulasi sel-sel radang dapat pula terjadi pada tepi pupil disebut .Pada kasus yang lebih berat dapat terjadi iritis disertai hipopion. kelenjar air mata. II RADANG UVEA Peradangan uvea biasanya unilateral. disebut sebagai sindrom sjogren. Pada ulkus yang menghancurkan membran Bowman dan stroma.Kombinasi antibiotik + kortikosteroid dianjurkan mengingat kemunginan terdapat infeksi bakteri sekunder. parut kornea. mata tampak kering. infeksi sekunder oleh bakteri. Kadang tedapat benang mucus kekuning-kuningan pada forniks konjungtiva bawah. Fibrin dimaksudkan untuk menghambat gerakan kuman akan tetapi justru mengakibatkan perlekatanperlekatan misalnya perlekatan iris pada permukaan lensa (sinekia posterior). Keluhan berkurang bila mata dipejamkan. Etiologi Terjadi pada penyakit-penyakit yang menyebabkan defisiensi komponen lemak air mata. Dapat dilakukan terapi bedah untuk mengurangi drainase air mata melalui oklusi pungtum dengan plug silicon atau plug kolagen. Pada pemeriksaan tedapat edema konjungtiva bulbi. menebal dan kusam. MATA MERAH VISUS MENURUN I ULKUS KORNEA Ulserasi kornea dapat meluas ke dua arah yaitu melebar dan mendalam. hilangnya sebagaian jaringan kornea.

Pada pemeriksaan.Koeppe nodules.Tajam penglihatan menurun sampai hitung jari.Sebenarnya dengan tanda-tanda luar ini ditambah anamnesis yang teliti sudah cukup. Naik turunnya tekanan bola mata disebutkan pula sebagai akibat perna asetilkolin dan prostaglandin. Refleks pupil lambat atau tidak ada. yang bisa ditemukan juga pada permukaan lensa dan sudut bilik mata depan. Otot sfingter pupil mendapat rangsangan karena radang dan pupil akan miosis dan dengan adanya timbunan fibrin serta sel0sel radang dapat terjadi seklusio maupun oklusio pupil. kadang-kadang pakai selimut. injeksi siliar dan kornea yang suram. Mereka yang tidak biasa untuk mentransfer harus dipakai cara digital. keluarganya akan menceritakan bahwa sudah sekian hari penderita tidak bisa bangun. lonjong miring agak vertikal atau midriasis yang hampir total. konjungtiva bulbi yang sangat hiperemik (kongestif). sakit kepala dan terus muntah-muntah. cairan di dalam bilik mata belakang tidak dapat mengalir sama sekali mengakibatkan tekanan dalam bilik mata belakang lebih besar dari tekanan dalam bilik mata depan sehingga iris tampak menggelembung ke depan yang disebut iris bombans. Diagnosis baru dapat ditegakkan kalau tekanan bola mata diukur. dan sel-sel radang dapat berkumpul di sudut bilik mata depan terjadi penutupan kanal Schlemm sehingga terjadi gaukoma sekunder. sedang pada fase lenjut glaukoma sekunder terjadi karena adanya seklusio pupil. Pada iridosiklitis yang berat sel radang dapat sedemikian banyak hingga menimbulkan hipopion.Hal inilah yang mengelabui dokter umum. Dalam anamnesis. Pupil tampak melebar. Gangguan produksi humor akuos terjadi akibat hipofungsi badan siliar menyebabkan tekanan bola mata turun. Eksudat protein. III GLAUKOMA KONGESTIF AKUT Seseorang yang datang dalam fase serangan akut glaukoma memberi kesan seperti orang yang sakit berat dan kelihatan payah. Penglihantannya kabur sekali dan dilihatnya warna pelangi di sekitar lampu. fibrin. Pada fase akut terjadi glaukoma sekunder karena gumpalan-gumpalan pada sudut bilik depan. nyeri dirasakan di dalam dan di sekitar mata. Bila terjadi seklusio dan oklusio total. bila di permukaan iris disebut Busacca nodules. ditemukan kelopak mata bengkak.  Diagnosis banding : - Iritis akut o Nyeri mata pada iritis tidak sehebat glaukoma akut o Fotofobia lebih hebat daripada glaukoma akut o Kornea masih mengkilat o Pupil kecil o Bilik mata depan tidak terlalu dangkal atau normal . Penderita sendiri memegang kepalanya karena sakit. mereka diantar oleh orang lain atau dipapah. lalu didapatkan tinggi sekali. Bilik mata depan dangkal dapat dibuktikan dengan memperhatikan bilik mata depan dari samping. sering dikiranya seorang penderita dengan suatu penyakit sistemik.

Bila salah diberikan.Pemberian obat hanya untuk tindakan darurat agar segera dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas pembedahan mata. Kerja obat hiperosmotik adalah mempertinggi daya osmosis plasma. kemudian disusul tiap 4 jam 1 tablet sampai 24 jam.o - Tekanan bola mata biasa atau rendah Konjungtivitis akut o Tak ada nyeri atau mungkin hanya sedikit o Tak ada perubahan tajam penglihatan o Ada sekret mata o Hiperemi konjungitva berat. Pengobatan dengan obat : - Miotik : pilokarpin 2-4 % tetes mata yang diteteskan setiap menit 1 tetes selama 5 menit.Glaukoma diobatai dengan miotikum.  Pengobatan Harus diingat bahwa kasus glaukoma akut adalah masalah pembedahan. akan berabahaya. o Mannitol 20% yang diberikan per infus ± 60 tetes/menit. Hasilnya adalah liosis dan karenanya melepaskan iris dari jaringan trabekulum. Diagnosis banding penting sekali karena berhubungan dengan pengobatan. Obat hiperosmotik : o larutan gliserin. Kerja obat ini adalah dengan mengurangi pembentukan akuos humor. Obat ini harus diminum sekaligus. Dosis 1-1. .5 gram/kg BB (0. kemudian disusul 1 tetes tiap jam sampai 6 jam. Untuk praktisnya dapat dipakai 1 cc/kgBB. 2tablet sekaligus. 50% yang diberikan oral. pada iritis harus diberi midriatik. Sudut mata depan akan terbuka. Carbonic Anhidrase Inhibitor : asetazolamid @ 250 mg.5 cc/kgBB). - Morfin : injeksi 10-15 mg mengurangi sakit dan mengecilkan pupil. tidak ada hiperemi perikorneal.7-1.

.

Marilah kita ingat sabda-sabdanya yang menyuruh kita bersungguh-sungguh menahan pandangan dengan lawan jenis. “ sesungguhnya terdapat dalam diri Rasulullah saw suri teladan yang baik bagi kamu (yaitu) bagi siapa yang mengharap (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) hari akhir dan banyak menyebut nama Allah. apabila tidak digunakan dengan baik sesuai tuntunan islam. Subhanallah. jual beli. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka dan sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat. kedokteran. Rasulullah adalah orang yang sangat menjaga pandangannya.An-Nuur [24]: 30-31).Al-Ahzab [33]: 21) .” (QS. penjagaan kita terhadapnya adalah salah satu kunci pokok jalan keselamatan. maka Allah akan mengaruniai kecintaan kepada hamba-Nya itu. Oleh karena itu. Allah telah mengizinkan kita untuk menikmati warna-warni alam semesta dan beraneka rupa bentuk benda2. kecuali pada hal-hal tertentu yaitu pengajaran. Mata sesungguhnya adalah gerbang maksiat.” (QS. Dengan kasih sayang-Nya. namun perlahan-lahan tapi pasti. dsb yang diperbolehkan Islam.LI. beliau sangat berhati-hati dalam memandang yang dilarang Islam.Pandangan yg sesat adalah panah2 setan. hendaklah mereka menahan pandangannya dan pelihara kemaluannya. Memahami dan Menjelaskan Memelihara Kesehatan dan Fungsi Mata dalam Ajaran Islam Maha suci Allah.’ Dan katakanlah kepada wanita yang beriman. Jalan menuju kebahagiaan yang sesunguhnya. ingatlah sewaktu rasulullah memalingkan/menggerakkan wajah sahabat (Al-Fadl) yang memandang seorang wanita asing dengan sengaja ketika ihram. pendengaran dan hati agar kita bersyukur. kesaksian. 5. hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. yang telah memberi kita pandangan. Marilah kita mencontoh rasulullah untuk tidak memandang yang diharamkan Allah. sedangkan setan itu tidak menginginkan apapun dari manusia selain keburukan dan kebinasaan. Barang siapa yang tidak dapat menahan pandangan mata sangat mungkin akan menjerumuskan nya pada zina dan maksiat. Ayo kita bersama-sama taburi hati kita dengan firman-firman Allah yang menjanjikan bahwa barang siapa yang menjaga dirinya dari perbuatan yang Allah haramkan. Itu merupakan jurus setan yang paling efektif agar iman manusia menjadi rontok dan hilang. Pandangan liar yang kita lakukan diluar dari ajaran islam sesungguhnya dapat mengikis dan mengurangi iman kita. Iman tidak runtuh secara langsung. Ayo jagalah pandangan kita agar terjaga dengan baik dan akan membuat kita merasakan manisnya iman dan lezatnya beribadah. Diantarannya dari melihat wanita yang bukan mahramnya. Shalawat serta salam mari kita lantunkan pada Rasulullah terkasih yang telah menunjukan kepada kita cara yang semestinnya ketika menggunakan anugrah Allah yang berupa mata ini. “katakanlah kepada orang laki-laki beriman.