Anda di halaman 1dari 24

KELOMPOK D4

Samsul Rizal Almadani


102011445
Eliza
102012026
Felicia
102012112
Felix Winata
102012156
Ervina Fransiska
102012365
Ajeng Aryuningtyas Dewanti
102012259
Senna Handoyo Tanujaya

Skenario 6
Seorang ibu membawa bayinya yang berusia 2
bulan ke puskesmas karena jarang menangis,
lebih sering tidur, dan malas menetek. Bayi
lahir cukup bulan dan dilahirkan secara normal
tanpa ada komplikasi. Keluhan lain disertai
sering konstipasi dan suara serak.

Identifikasi istilah:
tidak ada

Rumusan masalah:
Bayi berusia 2 bulan jarang menangis, lebih
sering tidur, malas menetek, disertai konstipasi
dan suara serak.

Analisis masalah
pencegahan

anamnesis

Pemeriksaan
fisik

penatalaksanaan

komplikasi

Pemeriksaan
penunjang

RM

prognosis
etiologi
WD/DD

patogenesis

epidemiologi

Hipotesis
Bayi berusia 2 bulan jarang menangis, lebih
sering tidur, malas menetek, disertai konstipasi
dan suara serak diduga menderita
hipotiroidisme.

Anamnesis

Identitas, keluhan utama


RPS, RPD
RPK penyakit tiroid (+)
Riwayat sosial, obat, pribadi
Riwayat Kehamilan, kelahiran, perkembangan

Anamnesis terarah:

ada/tidaknya ubun-ubun yang terbuka besar dan lebar,


ada/tidak lidah besar, hipotonia
ada-tidaknya malas makan dan berat badan sulit naik
ada/tidak berat badan lahir kurang atau berlebih,
ada/tidak warna kuning pada kulit,
ada/tidaknya konstipasi, suara serak
ada/tidak letargi/tidak aktif,
ada/tidaknya gangguan pertumbuhan fisik,
ada/tidaknya perkembangan mental yang terlambat.

Pemeriksaan Fisik
Inspeksi

Ikterus
ubun-ubun terbuka besar dan lebar,
dull face,
lidah besar,
hernia umbilicalis,
hipotoni, malas gerak, mengantuk,
leher membesar,
edema pada beberapa bagian tubuh seperti genital

Palpasi
kulit kering
bradikardia
suhu tubuh dibawah normal, sering dibawah 35C

Auskultasi

Pemeriksaan Penunjang
Thyroid Stimulating Hormone (TSH), nilai normal <20U/ml
Thyroxine (T4), normal <6g/ml
Kadar T4 serum tali pusat sebesar 6,0 g/dL, dengan TSH yang
lebih dari 30 u/mL, diusulkan hipotiroidisme.
Setelah 2-3 hari, kadar T4 serum < 6,0 g/dL dengan TSH
serum >20 U/mL mengindikasikan kemungkinan
hipotiroidisme.
Rontgen/ USG
- Disgenesis epifisis
- Fontanella besar dan sutura lebar

Working Diagnosis
Hipotiroidisme Kongenital

Manifestasi Klinis

Ukuran kepala sedikit meningkat


Ikterus fisiologis
Makroglosia
Distress Pernapasan
Menangis, sering tidur, kurang nafsu makan
Hernia Umbilikalis
Suhu <350C
Fontanella anterior dan posterior melebar

Tabel : Skor Apgar pada hipotiroid kongenital


Gejala klinis

Score

Hernia umbilicalis

Kromosom Y tidak ada (wanita)

Pucat, dingin, hipotermi

Tipe wajah khas edematus

Makroglosi

Hipotoni

Ikterus lebih dari 3 hari

Kulit kasar, kering

Fontanella posterior terbuka (>3cm)

Konstipasi

Berat badan lahir > 3,5 kg

Kehamilan > 40 minggu

Total

14

>5, Hipotiroid Kongenital

macroglossia

Hipotoni
Dull face
Kretinisme
Hernia umbilicalis

Differential Diagnosis
Hipotiroidisme didapat/Acquired
hypothyroidism
Manifestasi klinis
Perlambatan pertumbuhan
Miksedematosa kulit
Konstipasi
Intoleransi dingin
Energi menurun
Bertambahnnya kebutuhan untuk tidur berkembang
secara diam-diam
Maturasi tulang terlambat

Differential Diagnosis
Down Syndrome
Sering disertai hipotiroid
kongenital,
makroglosi (+),
miksedema (-),
retardasi motorik dan mental,
kariotyping (trisomi 21).
Gambaran wajah yang khas.

Etiologi
Disgenesis kelenjar tiroid
Antibodi penyekat reseptor tirotropin (Thyrotropin
Reseptor-Blocking Antibody (TRB-Ab).
Sintesis tiroksin kurang sempurna
Defek pengangkutan yodium
Defek organifikasi dan pasangan tiroid peroksidase
Defek sintesis tiroglobulin
Defek pada deyodinasi
Radioyodium
Defisiensi tirotropin
Ketidaktanggapan hormon tirotropin
Ketidaktanggapan hormon tiroid

Epidemiologi
Hipotiroidisme lebih sering terjadi terutama
pada bayi perempuan, dengan perbandingan 1:2.
Disgenesis tiroid mencapai angka 1:4.000
kelahiran. Kemudian pada hipotiroidisme yang
disebabkan kelainan hipothalamus/hipofisis
menunjukan angka 1:60.000 hingga 1:100.000
kelahiran.

Patofisiologi

Penatalaksanaan

Natrium L-Thyroxin
Pada neonatus, dosisnya adalah 10-15 g/kg
Anak-anak memerlukan 4 g/kg/24 jam
Dewasa memerlukan 2 g/kg/24 jam

Penatalaksanaan Non-Medikamentosa
Pemeriksaan fungsi tiroid, dilakukan:
2-4 minggu setelah terapi dimulai dan 2 minggu
setelah setiap perubahan dosis.
Secara berkala dianjurkan tiap 1-2 bulan dalam 1
tahun pertama kehidupan, selanjutnya tiap 3
bulan pada tahun kedua sampai ketiga.

Komplikasi
1. Koma Miksedema
2. Kretinisme

Prognosis
Selama bayi terdeteksi oleh skrining secara cepat
dan mendapat terapi yang baik, maka gangguan
pertumbuhan dan perkembangan dapat
diminimalisir.

Kesimpulan
Hipotesis diterima.