Anda di halaman 1dari 37

I.

PENDAHULUAN

Skleritis dan episkleritis merupakan peradangan pada lapisan sclera dan episklera.
Sklera adalah pembungkus fibrosa pelindung mata di bagian luar. Jaringan ini
padat dan berwarna putih serta bersambungan dengan kornea di sebelah anterior
dan duramater nervus optikus di belakang. Permukaan luar sklera anterior
dibungkus oleh sebuah lapisan tipis dari jaringan elastik halus, episklera yang
mengandung banyak pembuluh darah yang memasuki sklera.

Skleritis adalah peradangan pada lapisan sklera yang ditandai dengan adanya
infiltrasi seluler, kerusakan kolagen, dan perubahan vaskuler. Episkleritis
merupakan reaksi radang jaringan ikat vaskuler yang terletak antara konjungtiva
dan permukaan sclera. Proses peradangan ini terjadi karena adanya proses
imunologis, atau karena suatu infeksi. Trauma lokal juga dapat mencetuskan
proses peradangan tersebut. Skleritis sering berasosiasi dengan suatu infeksi
sistemik ada suatu penyakit autoimun.

Episkleritis ialah peradangan local sklera yang relatif sering dijumpai. Kelainan
ini bersifat unilateral pada dua-pertiga kasus, dan lebih banyak terjadi pada wanita
berumur 40-50 tahun. Skleritis merupakan penyakit yang jarang ditemui. Insidensi
di Amerika Serikat diperkirakan 6 kasus per 10.000 populasi penduduk. Dari
kasus skleritis yang ditemukan, sekitar 94 % merupakan skleritis anterior dan
sisanya ialah skleritis posterior. Dari data internasional, tidak ada distribusi

geografis yang pasti mengenai insiden skleritis. Skleritis lebih sering dijumpai
pada wanita, pada umumnya sekitar umur 20-60 tahun dan rata-rata orang yang
menderita skleritis adalah usia 52 tahun. Rasio antara perempuan dan laki-laki
adalah 1,6:1. Angka morbiditas ditentukan oleh penyakit primer skleritis itu
sendiri dan penyakit sistemik yang menyertai.

Hampir separuh dari kasus skleritis terjadi secara bilateral. Adapun gejala-gejala
umum yang biasa terjadi pada skleritis yaitu rasa nyeri berat yang dapat menyebar
ke dahi, alis, dan dagu. Rasa nyeri ini terkadang dapat membangunkan dari tidur
akibat sakitnya yang sering kambuh. Pergerakan bola mata dan penekanan pada
dapat memperparah rasa nyeri tersebut. Rasa nyeri yang berat pada skleritis dapat
dibedakan dari rasa nyeri ringan yang terjadi pada episkleritis yang lebih sering
dideskripsikan pasien sebagai sensasi benda asing di dalam mata. Selain itu
terdapat pula mata merah berair, fotofobia, dan penurunan tajam penglihatan.

Skleritis dapat menimbulkan berbagai komplikasi jika tidak ditangani dengan baik
berupa keratitis, uveitis, galukoma, granuloma subretina, ablasio retina eksudatif,
proptosis, katarak, dan hipermetropia.

Penatalaksanaan skleritis tergantung pada penyakit yang mendasarinya. Oleh
karena itu perlu diagnosis yang tepat sesuai dengan etiologinya guna
penatalaksanaan lebih lanjut. Terapi inisial untuk skleritis adalah dengan
pemberian NSAIDs. Apabila terapi ini tidak menunjukkan respon yang baik dapat

diberikan steroid. Apabila mikroorganisme penyebab telah teridentifikasi, maka
sebaiknya diberikan antibiotik spesifik.

Mengingat pentingnya pengetahuan tentang skleritis dan episkleritis ini maka
inilah yang menjadi alasan penulis dalam menyusun referat ini. Dalam referat ini
akan dibahas secara menyeluruh mengenai skleritis dan episkleritis. Adapun
referat ini dibuat agar dapat menambah pengetahuan penyusun dan sebagai tugas
dalam kepaniteraan klinik ilmu penyakit mata Rumah Sakit Umum daerah dr. H.
Abdul Moeloek Provinsi Lampung.

2008) . Sedangkan pada dewasa karena terdapatnya deposit lemak.II. jaringan fibrosa dan proteoglikan dengan berbagai ukuran. yang tampak sebagai warna biru. kecuali di bagian depan bersifat transparan yang disebut kornea. Pada anak-anak. sklera lebih tipis dan menunjukkan sejumlah pigmen. sklera tampak sebagai garis kuning. yang tersusun oleh serat kolagen. Sklera berwarna putih buram dan tidak tembus cahaya. Anatomi Sklera yang juga dikenal sebagai bagian putih bola mata. ANATOMI DAN FISIOLOGI 1. TINJAUAN PUSTAKA A. Sklera merupakan dinding bola mata yang paling keras dengan jaringan pengikat yang tebal. Anatomi Mata (Dikutip dari kepustakaan Subramanian. Gambar 1. merupakan kelanjutan dari kornea.

dan yang satunya lagi yang lebih di dalam. Jaringan sklera menerima rangsangan sensoris dari nervus siliaris posterior. sedangkan 1/3 lainnya berlanjut dengan beberapa jaringan koroidalis yang membentuk suatu penampang yakni lamina kribrosa yang melewati nervus optikus yang keluar melalui serat optikus atau fasikulus. penahan terhadap tekanan dari luar dan menyediakan kebutuhan bagi penempatan otot-otot ekstra okular. . Sklera ditembus oleh banyak saraf dan pembuluh darah yang melewati foramen skleralis posterior. yang pertama pada permukaan dimana pembuluh darah tersusun melingkar. untuk menentukan bentuk bola mata.Sklera dimulai dari limbus.3 mm pada penyisipan muskulus rektus atau akuator. terdapat pembuluh darah yang melekat pada sklera. Sklera membentuk 5/6 bagian dari pembungkus jaringan pengikat pada bola mata posterior. Enam otot ekstraokular disisipkan ke dalam sklera. Pada cakram optikus. Episklera mempunyai dua cabang. Sklera kemudian dilanjutkan oleh duramater dan kornea. menerima rangsangan tersebut dari jaringan pembuluh darah yang berdekatan. dimana berlanjut dengan kornea dan berakhir pada kanalis optikus yang berlanjut dengan dura. Sklera merupakan organ tanpa vaskularisasi. 2/3 bagian sklera berlanjut menjadi sarung dural. Kedalaman sklera bervariasi mulai dari 1 mm pada kutub posterior hingga 0. Pleksus koroidalis terdapat di bawah sklera dan pleksus episkleral di atasnya.

Sklera mempunyai 2 lubang utama yaitu:  Foramen sklerasis anterior. Foramen sklerasis posterior atau kanalis sklerasis. Pada foramen ini terdapat lamina kribosa yang terdiri dari sejumlah membran seperti saringan yang tersusun transversal melintas foramen sklerasis posterior. Gambar 3. merupakan pintu keluar nervus optikus. lamina fuska dan endotelium. Serabut saraf optikus lewat lubang ini untuk menuju ke otak. Struktur Sklera (Dikutip dari kepustakaan Bolumleri. Struktur histologis sklera sangat mirip dengan struktur kornea. . yang masing-masing mempunyai tebal 1016 μm dan lebar 100-140 μm. yakni episklera. stroma. yang berdekatan dengan kornea dan  merupakan tempat meletaknya kornea pada sklera. 2008) Secara histologis. sklera terdiri dari banyak pita padat yang sejajar dan berkasberkas jaringan fibrosa yang teranyam.

Pembungkus okular yang bersifat viskoelastis ini memungkinkan pergerakan bola mata tanpa menimbulkan deformitas otot-otot penggeraknya. Perbandingan ini sering terganggu sehingga menyebabkan beberapa penyakit yang mengenai struktur artikular sampai pembungkus sklera dan episklera. Fisiologi Sklera berfungsi untuk menyediakan perlindungan terhadap komponen intra okular. Jaringan kolagen sklera dan jaringan pendukungnya berperan seperti cairan sinovial yang memungkinkan perbandingan yang normal sehingga terjadi hubungan antara bola mata dan socket.Gambar 4. Histologi Sklera (Dikutip dari kepustakaan Bolumleri. 2008) 2. EPISKLERITIS 1. Epidemiologi . Hidrasi yang terlalu tinggi pada sclera menyebabkan kekeruhan pada jaringan sklera. Pendukung dasar dari sklera adalah adanya aktifitas sklera yang rendah dan vaskularisasi yang baik pada sklera dan koroid. Definisi Episkleritis merupakan reaksi radang jaringan ikat vaskuler yang terletak antara konjungtiva dan permukaan sclera. 2. B.

4. Beberapa penulis melaporkan perbedaan insidensi tergantung seks. tulang rawan. alergik. seperti: rheumatoid arthritis. 3. lupus (systemic lupus erythematosus). bagian dari infeksi. yang pasling jarang berhubungan adalah gigitan serangga. dan beberapa penyakit lain yang kurang umum. gangguan defisiensi imun dan. sedangkan penulis lain melaporkan bahwa sampai 74% kasus terjadi pada wanita. Etiologi Episkleritis dapat merupakan suatu reaksi toksik.Frekuensi episkleritis sebenarnya sulit untuk ditentukan karena banyak pasien yang tidak mencari perhatian medis. ankylosing spondylitis. syphilis atau herpes zoster. penyakit kulit. bacterial atau viral infection seperti Lyme disease. Namun. Episkleritis paling sering terjadi pada dekade keempat sampai kelima.kondisi tersebut adalah penyakit yang mempengaruhi tulang. Patofisiologi . penyebab episkleritis termasuk jenis kanker tertentu. serta dapat juga terjadi secara spontan dan idiopatik. ada beberapa kondisi kesehatan tertentu yang selalu berhubungan dengan terjadinya episkleritis. Hingga sekarang para dokter masih belum dapat mengetahui penyebab pasti dari episkleritis. gout. tendon atau jaringan ikat lain dari tubuh. inflammatory bowel diseases seperti Crohn’s disease and ulcerative colitis. Kondisi.

. granulomatosis Wegener. poliarteritis nodosa. Terdapat pelebaran pembuluh darah baik difus maupun segmental. Sekitar 30% penyebab skleritis nodular dihubungkan dengan dengan penyakit sistemik. asam urat. sering bilateral. lupus eritematosus sistemik. Klasifikasi Episkleritis diklasifikasikan menjadi: a. dan histopatologi menunjukkan peradangan nongranulomatous dengan dilatasi pembuluh darah dan infiltrasi perivascular. 7% dihubungkan dengan herpes zoster oftalmikus dan 3% dihubungkan dengan gout. 5. Wanita lebih banyak terkena daripada pria dan sering mengenai usia dekade 40-an.Patofisiologi penyakit kurang dipahami. namun dalam kasus tertentu mungkin ada hubungan dengan beberapa penyakit sistemik yang mendasari seperti rheumatoid arthritis. Gejala klinis yang muncul berupa rasa tidak nyaman pada mata. 5% dihubungkan dengan penyakit kolagen vaskular seperti artritis rematoid. herpes zoster atau sifilis. Kelainan ini idiopatik pada sebagian besar kasus. reaksi inflamasi terjadi pada usia muda yang berpotensi mengalami rekurensi. Nodular Baik bentuk maupun insidensinya hampir sama dengan bentuk simple scleritis. Simple Biasanya jinak. penyakit radang usus. b. Respon inflamasi terlokalisir ke jaringan vaskuler superfisial episcleral. disertai berbagai derajat inflamasi dan fotofobia. sarkoidosis.

Bila benjolan ini ditekan dengan kapas atau ditekan pada kelopak di atas benjolan. meskipun beberapa mungkin melihat area suntikan tanpa rasa sakit. dan rasa mengganjal. .6. Diagnosis ANAMNESIS Semua pasien harus menjalani anamnesis yang menyeluruh. Pembuluh darah episklera ini dapat mengecil bila diberi fenilefrin 2. Disertai Fotofobia dan debit encer Keluhan pasien episkleritis berupa mata kering. Sebuah uveitis anterior terkait dapat terjadi pada sebanyak 10% pasien. Terlihat mata merah satu sektor yang disebabkan melebarnya pembuluh darah di bawah konjungtiva. maka akan timbul rasa sakit yang dapat menjalar ke sekitar mata. Bentuk radang pada episkleritis mempunyai gambaran benjolan setempat dengan batas tegas dan warna merah ungu di bawah konjungtiva. rasa nyeri ringan.5% topikal. PEMERIKSAAN FISIK Injeksi difus atau lokal dari konjungtiva bulbar sering hadir. Selain itu episkleritis tidak menimbulkan turunnya tajam penglihatan. Temuan kornea jarang dan termasuk pembentukan dellen serta infiltrat kornea perifer. Terdapat konjungtiva yang kemotik. Sebuah debit berair diamati pada beberapa pasien. Banyak pasien mengeluh onset akut ringan sampai sedang tidak nyaman. termasuk kajian sistem.

pemeriksaan laboratorium tidak berguna.jpg) PEMERIKSAAN PENUNJANG Semua pasien harus menjalani anamnes yang menyeluruh. faktor rheumatoid. tingkat sedimentasi eritrosit. Ini termasuk pasien dengan episkleritis nodular atau yang memiliki episkleritis sederhana berat dan berulang / persisten. Beberapa pasien dengan hasil kajian sistem yang normal dapat mengambil manfaat dari hasil pemeriksaan terbatas.com/images/Episcler. hitung darah lengkap dengan diferensial. Penelitian laboratorium Berguna dalam kelompok pasien ini meliputi asam urat serum. Episkleritis (Sumber: http://www. termasuk kajian sistem. neon penyerapan antibodi treponema (FTA-ABS) pengujian. Hasil dari tinjauan ini dan temuan dari pemeriksaan fisik yang digunakan untuk menentukan kebutuhan penelitian laboratorium tertentu. antibodi antinuklear. Penelitian Penyakit kelamin Laboratory (VDRL) tes. . Pada kebanyakan pasien dengan ringan diri terbatas penyakit.Gambar 8. dan xray dada.acuitypro.

sehingga pasien perlu dipantau ketat oleh dokter. ada beberapa risiko terkait dengan penggunaan tetes mata steroid.Air mata buatan (misalnya hypromellose) dapat berguna dalam menghilangkan gejala mata kering. Sekitar satu dari 10 orang dengan episkleritis akan berkembang ke arah iritis ringan. Namun. Jika gejala semakin parah atau bertahan lama. mungkin akan meresepkan beberapa obat berikut: Non-steroidal anti-inflammatory drug (NSAID). 8. Penatalaksanaan Episkleritis biasanya akan hilang sendiri dalam waktu sekitar 10 hari dan biasanya tidak memerlukan pengobatan apapun. . Obat ini akan membantu untuk mengurangi peradangan dan mempercepat pemulihan pasien.7. Steroid eye drops. Obat ini akan membantu meredakan nyeri dan bengkak dan mengurangi peradangan. Pasien mungkin akan dirujuk ke spesialis lain seperti rheumatologist (seorang dokter yang mengkhususkan diri dalam mengidentifikasi dan mengobati kondisi yang mempengaruhi sistem muskuloskeletal. Komplikasi Sebuah komplikasi episkleritis yang mungkin terjadi adalah iritis. Setiap penemuan kondisi kesehatan yang mendasari terjadinya episkleritis juga memerlukan pengobatan. seperti dexamethasone. seperti flurbiprofen. terutama sendi dan jaringan sekitarnya) untuk pengobatan.

sedangkan 6%nya adalah skleritis posterior. dengan onset perlahan atau mendadak.000 populasi. Peningkatan insiden skleritis tidak bergantung pada geografi maupun ras. C. dan tidak akan mempengaruhi visus. Dari pasien-pasien yang ditemukan. Penyakit ini dapat terjadi unilateral atau bilateral. Prognosis Prognosis akhirnya baik karena biasanya akan sembuh dengan sendirinya dalam 1-2 minggu. 3. Epidemiologi Skleritis adalah penyakit yang jarang dijumpai. Etiologi . dengan usia rata-rata 52 tahun. didapatkan 94% adalah skleritis anterior. SKLERITIS 1. Wanita lebih banyak terkena daripada pria dengan perbandingan 1. Definisi Skleritis didefinisikan sebagai gangguan granulomatosa kronik pada lapisan sclera yang ditandai oleh destruksi kolagen.9. Insiden skleritis terutama terjadi antara 11-87 tahun. dan dapat berlangsung sekali atau kambuh-kambuhan. Di Amerika Serikat insidensi kejadian diperkirakan 6 kasus per 10. 2. Di Indonesia belum ada penelitian mengenai penyakit ini.6 : 1. sebukan sel dan kelainan vaskular yang mengisyaratkan adanya vaskulitis.

Pada banyak kasus. Inflamasi yang . mungkin terjadi invasi mikroba langsung. Pada beberapa kasus. kelainan-kelainan skelritis murni diperantarai oleh proses imunologi yakni terjadi reaksi tipe IV (hipersensitifitas tipe lambat) dan tipe III (kompleks imun) dan disertai penyakit sistemik. Berikut ini adalah beberapa penyebab skleritis. Patofisiologi Degradasi enzim dari serat kolagen dan invasi dari sel-sel radang meliputi sel T dan makrofag pada sklera memegang peranan penting terjadinya skleritis. yaitu: 4. dan pada sejumlah kasus proses imunologisnya tampaknya dicetuskan oleh proses-proses lokal. misalnya bedah katarak. Inflamasi dari sklera bisa berkembang menjadi iskemia dan nekrosis yang akan menyebabkan penipisan pada sklera dan perforasi dari bola mata.

Klasifikasi Skleritis diklasifikasikan menjadi: A. walaupun penyebab klinis dan prognosis diperkirakan berasal dari suatu inflamasi. Bentuk spesifik dari skleritis biasanya tidak dihubungkan dengan penyebab penyakit khusus. peradangan pada skleritis dapat menyebar pada bagian anterior atau bagian posterior mata. Skleritis Anterior 95% penyebab skleritis adalah skleritis anterior. Interaksi tersebut adalah bagian dari sistem imun aktif dimana dapat menyebabkan kerusakan sklera akibat deposisi kompleks imun pada pembuluh di episklera dan sklera yang menyebabkan perforasi kapiler dan venula post kapiler dan respon imun sel perantara. Insidensi skleritis anterior sebesar 40% dan skleritis anterior nodular terjadi sekitar 45% setiap tahunnya. Berbagai varian skleritis anterior kebanyakan jinak dimana tipe nodular lebih nyeri. 5. . Proses inflamasi bisa disebabkan oleh kompleks imun yang berhubungan dengan kerusakan vaskular (reaksi hipersensitivitas tipe III dan respon kronik granulomatous (reaksi hipersensitivitas tipe IV). Tipe nekrotik lebih bahaya dan sulit diobati. Disregulasi pada penyakit auto imun secara umum merupakan faktor predisposisi dari skleritis. Skleritis nekrotik terjadi sekitar 14% yang biasanya berbahaya.mempengaruhi sklera berhubungan erat dengan penyakit imun sistemik dan penyakit kolagen pada vaskular. Tidak seperti episkleritis.

2008) a.jpg) . Bentuk ini dihubungkan dengan artritis rematoid. Skleritis Anterior (Dikutip dari kepustakaan Bolumleri. Difus Ditandai dengan peradangan yang meluas pada seluruh permukaan sklera. Merupakan skleritis yang paling umum terjadi. Gambar 5. Diffuse Anterior Scleritis (Sumber: http://eyepathologist. herpes zoster oftalmikus dan gout.Gambar 4.com/images/KL21711.

Bentuk ini dihubungkan dengan herpes zoster oftalmikus.jpg) .com/eye/journal/v21/n2/images/6702524f1. dan nyeri pada sklera anterior. Gambar 6.b. a) Nodular Anterior Scleritis. tidak dapat digerakkan. b) Penipisan dari sklera setelah resolusi dari nodul (Sumber: http://www.nature. Sekitar 20% kasus berkembang menjadi skleritis nekrosis. Nodular Ditandai dengan adanya satu atau lebih nodul radang yang eritem.

Necrotizing Bentuk ini lebih berat dan dihubungkan sebagai komplikasi sistemik atau komplikasi okular pada sebagian pasien. Apabila disertai dengan inflamasi kornea. proptosis. perlengketan cincin koroid. dikenal sebagai sklerokeratitis. Dari pemeriksaan objektif didapatkan adanya perubahan fundus. Biasa terjadi pada pasien yang sudah lama menderita rheumatoid arthritis.c. 3. 40% menunjukkan penurunan visus. Tanpa inflamasi (scleromalacia perforans). 29% pasien dengan skleritis nekrotik meninggal dalam 5 tahun. Diakibatkan oleh pembentukan nodul rematoid dan absennya gejala. pergerakan ekstra ocular yang terbatas dan retraksi kelopak mata bawah. Biasanya skleritis posterior ditandai dengan rasa nyeri. . adanya perlengketan massa eksudat di sebagian retina. Dengan inflamasi. proptosis dan penurunan kemampuan melihat. udem nervus optikus dan udem makular. Skleritis Posterior Sebanyak 43% kasus skleritis posterior didiagnosis bersama dengan skleritis anterior. massa di retina. Bentuk skleritis nekrotik terbagi 2 yaitu: i. ii. Nyeri sangat berat dan kerusakan pada sklera terlihat jelas. Biasa mengikuti penyakit sistemik seperti rheumatoid arthtitis. Inflamasi skleritis posterior yang lanjut dapat menyebabkan ruang okuli anterior dangkal.

mata berair. bahkan dapat terjadi kebutaan. fotofobia. Tanda primernya adalah mata merah. spasme.Gambar 7. 2008) 6. dan penurunan ketajaman penglihatan. tergantung dari tipe skleritis yang dialami pasien. Gejala-gejala dapat meliputi rasa nyeri. Diagnosis Skleritis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis. trauma ataupun riwayat pembedahan juga perlu pemeriksaan dari semua sistem pada tubuh. pemeriksaan fisik dan didukung oleh berbagai pemeriksaan penunjang. Nyeri adalah gejala yang paling sering dan merupakan indikator terjadinya inflamasi . riwayat penyakit dahulu termasuk riwayat infeksi. Skleritis Posterior (Dikutip dari kepustakaan Bolumleri. kecuali bila terjadi komplikasi seperti uveitis. Pasien dengan necrotizing anterior scleritis with inflammation akan mengeluhkan rasa nyeri yang hebat disertai tajam penglihatan yang menurun. Keluhan pasien akan bervariasi. perjalanan penyakit. ANAMNESIS Pada saat anamnesis perlu ditanyakan keluhan utama pasien. Tajam penglihatan pasien dengan non-necrotizing scleritis biasanya tidak akan terganggu.

penyaki hati. Mata berair atau fotofobia pada skleritis tanpa disertai sekret mukopurulen. pasien terbangun sepanjang malam. Nyeri timbul dari stimulasi langsung dan peregangan ujung saraf akibat adanya inflamasi. · Pengobatan yang sudah didapat dan pengobatan yang sedang berlangsung dan responnya terhadap pengobatan. trauma. . uveitis. Nyeri dapat hilang sementara dengan penggunaan obat analgetik. trauma kimia. nyeri tajam menyebar ke dahi. kambuh akibat sentuhan. · Post pembedahan pada mata · Riwayat penyakit dahulu seperti ulserasi gaster. katarak dan fundus yang abnormal. Riwayat penyakit dahulu dan riwayat pada mata menjelaskan adanya penyakit sistemik. penyakit ginjal. zoledronic acid dan ibandronate.yang aktif. hipertensi dimana mempengaruhi pengobatan selanjutnya. obat-obatan atau prosedur pembedahan dapat menyebabkan skleritis seperti · Penyakit vaskular atau penyakit jaringan ikat · Penyakit infeksi · Penyakit miscellanous ( atopi. alis. risedronate. rahang dan sinus.gout. Karakteristik nyeri pada skleritis yaitu nyeri terasa berat. glaucoma. Penurunan ketajaman penglihatan biasa disebabkan oleh perluasan dari skleritis ke struktur yang berdekatan yaitu dapat berkembang menjadi keratitis. alendronate.. rosasea) · Trauma tumpul atau trauma tajam pada mata · Obat-obatan seperti pamidronate. diabetes.

area pada sklera bisa menjadi avaskular yang menghasilkan sekuester putih di tengah yang dikelilingi lingkaran coklat kehitaman. 2. Area hitam. Daylight Sklera bisa terlihat merah kebiruan atau keunguan yang difus. Jika jaringan nekrosis berlanjut. Pada skleritis dengan pemakaian fenilefrin hanya terlihat jaringan superfisial episklera yang pucat tanpa efek yang signifikan pada jaringan dalam episklera.Visus dapat berada dalam keadaan normal atau menurun namun gangguan visus lebih jelas pada skleritis posterior. Pada skleritis. Injeksi yang meluas adalah ciri khas dari diffuse anterior scleritis. daerah penipisan sklera dan transluse juga dapat muncul dan juga terlihat uvea yang gelap. abu-abu dan coklat yang dikelilingi oleh inflamasi yang aktif yang mengindikasikan adanya proses nekrotik. Pada tepi anterior dan posterior cahaya slit lamp bergeser ke depan karena episklera dan sclera edema. Penggunaan lampu hijau dapat membantu mengidentifikasi area avaskular pada . Pemeriksaan umum pada kulit.PEMERIKSAAN FISIK Seperti semua keluhan pada mata. pemeriksaan diawali dengan pemeriksaan tajam penglihatan. 1. terjadi bendungan yang masif di jaringan dalam episklera dengan beberapa bendungan pada jaringan superfisial episklera. Pemeriksaan Slit Lamp Untuk menentukan adanya keterlibatan secara menyeluruh atau segmental. Proses pengelupasan bisa diganti secara bertahap dengan jaringan granulasi meninggalkan uvea yang kosong atau lapisan tipis dari konjungtiva. sendi. jantung dan paru – paru dapat dilakukan apabila dicurigai adanya penyakit sistemik. Setelah serangan yang berat dari inflamasi sklera.

tekanan intraokular dan fundus. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Berdasarkan riwayat penyakit dahulu. Adapun pemeriksaan laboratorium tersebut meliputi : · Hitung darah lengkap dan laju endap darah · Kadar komplemen serum (C3) · Kompleks imun serum · Faktor rematoid serum · Antibodi antinukleus serum · Antibodi antineutrofil sitoplasmik . sensitivitas pada palpasi dan proptosis.sklera. Pemeriksaan kelopak mata untuk kemungkinan blefaritis atau konjungtivitis juga dapat dilakukan. Pemeriksaan Red-free Light Pemeriksaan ini dapat membantu menegakkan area yang mempunyai kongesti vaskular yang maksimum. Pemeriksaan skleritis posterior Dapat ditemukan tahanan gerakan mata. Skleritis posterior dapat menimbulkan amelanotik koroidal. uvea. Selain itu perlu pemeriksaan secara umum pada mata meliputi otot ekstra okular. dan perdarahan atau ablasio retina 3. kornea. pemeriksaan sistemik dan pemeriksaan fisik dapat ditentukan tes yang cocok untuk memastikan atau menyingkirkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan skleritis. area dengan tampilan vaskular yang baru dan juga area yang avaskular total. lensa. Perubahan kornea juga terjadi pada 50% kasus. Pemeriksaan funduskopi dapat menunjukan papiledema. Dilatasi fundus dapat berguna dalam mengenali skleritis posterior. 3. lipatan koroid.

medscape. Gambar 8.· Imunoglobulin E · Kadar asam urat serum · Urinalisis · Rata-rata Sedimen Eritrosit · Tes serologis · HBs Ag PEMERIKSAAN RADIOLOGI Berbagai macam pemeriksaan radiologis yang diperlukan dalam menentukan penyebab dari skleritis adalah sebagai berikut : · Foto thorax · Rontgen sinus paranasal · Foto lumbosacral · Foto sendi tulang panjang · Ultrasonography ( Scan A dan B) B-Scan Ultrasonography dapat membantu mendeteksi adanya skleritis posterior.com/article/1228865-overview#a30) . B-Scan Ultrasonography pada skleritis posterior menunjukkan adanya akumulasi cairan pada kapsul tenon (Sumber: http://emedicine.

serta konsultasi kepada bagian terkait apabila dicurigai ada penyakit sistemik yang menyertai.. pengobatan pada skleritis yang infeksius. Pasien yang terdiagnosa dengan penyakit penyerta akan memerlukan pengobatan yang spesifik juga Penatalaksanaan skleritis dibagi menjadi pengobatan pada skleritis yang tidak infeksius.CT-Scan · MRI Pemeriksaan lain yang diperlukan antara lain : · Skin Test · Tes usapan dan kultur · PCR · Histopatologi 7. . Diagnosis Banding Berikut ini adalah beberapa diagnosis banding dari skleritis: · Konjunctivitis alergika · Gout · Herpes zoster · Rosasea okular · Karsinoma sel skuamosa pada konjunctiva · Karsinoma sel skuamosa pada palpebra · Uveitis anterior nongranulomatosa 8. Penatalaksanaan Pengobatan pada skleritis membutuhkan pengobatan secara sistemik.

dan penyakit penyerta lainnya. .Tindakan bedah jarang dilakukan kecuali untuk memperbaiki perforasi sklera atau kornea. dipertahankan menggunakan NSAIDs.Diffuse scleritis atau nodular scleritis Pengobatan awal menggunakan NSAIDs. NSAIDs. tetapi tandur semacam itu tidak jarang mencair kecuali apabila juga disertai pemberian kemoterapi. kortikosteroid. Karena pada stadium ini jarang timbul gejala. Pengobatan secara topikal saja tidak mencukupi. Untuk pasien resiko tinggi. gunakan kortikosteroid oral. Jika terjadi remisi. . atau obat imunomodulator dapat digunakan. Jika gagal dapat menggunakan 2 jenis NSAIDs yang berbeda. Tandur sklera pernah digunakan sebagai tindakan profilaktik dalam terapi skleritis. berikan juga misoprostol atau omeprazole untuk perlindungan gastrointestinal. atau pada granulomatosis Wegener atau poliarteritis nodosa yang disertai penyulit perforasi kornea. Tindakan ini kemungkinan besar diperlukan apabila terjadi kerusakan hebat akibat invasi langsung mikroba. Penipisan sklera pada skleritis yang semata-mata akibat peradangan jarang menimbulkan perforasi kecuali apabila juga terdapat galukoma atau terjadi trauma langsung terutama pada usaha mengambil sediaan biopsi. 1. Pengobatan tergantung pada keparahan skleritis. efek samping. sebagian besar kasus tidak diobati sampai timbul penyulit. Skleromalasia perforans tidak terpengaruh oleh terapi kecuali apabila terapi diberikan pada stadium paling dini penyakit. Jika NSAIDs tidak efektif. Pengobatan pada skleritis yang tidak infeksius. respon pengobatan.

obat – obatan imunosupresif dapat digunakan. 2. Jika masih gagal. cyclophosphamide adalah pilihan utama.Jika oral kortikosteroid gagal. Dapat dilakukan kepada ahli penyakit dalam untuk penyakit penyerta. pengobatan imunomodulator dapat digunakan. Sementara kortikosteroid dan imunosupresif tidak boleh digunakan. Injeksi steroid periokular tidak boleh dilakukan karena dapat memperparah proses nekrosis yang terjadi. Pengobatan sistemik dengan atau tanpa antimikrobial topikal dapat digunakan. cyclophosphamide. Jika gagal. - Necrotizing scleritis Obat – obatan imunosupresif ditambahkan dengan kortikosteroid pada bulan pertama. . kemudian jika mungkin dikurangi perlahan – lahan. dapat diberikan obat – obatan imunomodulator seperti infliximab atau adalimumab yang diharapkan dapat efektif. tapi dapat juga digunakan azathioprine. Konsultasi. dan konsultasi dengan spesialis hematologi atau onkologi untuk pengawasan terapi imunosupresif. 3. Untuk pasien dengan Wegener’s granulomatosis atau polyarteritis nodosa. mycophenolate. mofetil. Pengobatan untuk skleritis yang infeksius. atau cyclosporine. Methotrexate adalah obat pilihan pertama.

tidak melampaui 150 mg/hari Pemberian pada lansia harus diawasi fungsi ginjal. Indometasin (Indocin) Sering dianggap sebagai obat pilihan pertama. Penurunan fungsi ginjal lebih mungkin terjadi usia lanjut. Dosis: 250-1000 mg PO setiap hari dibagi setiap 12 jam. NSAIDs (Non-steroid Anti Inflammatory Drugs) Obat ini digunakan untuk menurunkan rasa nyeri dan peradangan. tetapi. NSAIDs bekerja dengan cara menghambat sintesis prostaglandin. Diflunisal (Dolobid) Turunan asam salisilat nonsteroid yang bekerja secara perifer sebagai analgesik. dan menghambat fosfodiesterase. Pemberian: Minum pada waktu yang bersamaan dengan makanan atau dengan air untuk menghindari gangguan pada saluran pencernaan. . Dosis maksimum: 1500 mg/hari . 1. dan konjugasi glukuronid. Metabolisme terjadi di hati dengan demetilasi. Indometasin dapat dengan cepat diserap.Adapun jenis obat-obatan yang dapat dipakai sebagai medikamentosa dalam penyakit skleritis ialah: A. Dosis: 75-150 mg PO/hari or dibagi 2 kali sehari. menghalangi perjalanan dari lekosit. Obat ini adalah sebuah penghambat prostaglandin – sintase. 2. Memiliki efek antipiretik dan anti – radang. Dosis/frekuensi terendah disarankan. deasetilasi. berbeda secara kimia dengan aspirin dan tidak dimetabolisme menjadi asam salisilat.

Anaprox. Menghasilkan penurunan pembentukan mediator peradangan. Sulindac (Clinoril) Menurunkan aktifitas siklooksigenase dan.8-2. 6. menghambat sintesis prostaglandin. Dosis: 300-800 mg PO 4 kali sehari 400-800 mg IV selama 30 menit setiap 6 jam kalau diperlukan. Memiliki paruh waktu yang singkat (1. jika tidak ada kontraindikasi. menghasilkan penurunan dari sintesis prostaglandin. Tidak lebih dari 1500 mg/hari. Advil) Biasanya merupakan obat pilihan untuk pengobatan nyeri ringan sampai sedang. Menghambat reaksi peradangan dan nyeri. Tidak melebihi 3200 mg/hari 5.6 jam). Naproxen diserap dengan cepat dan memiliki paruh waktu sekitar 12 – 15 jam. Dosis: 250-500 mg PO 2 kali sehari. Ibuprofen (Motrin. Gunakan dosis terendah yang paling efektif untuk jangka waktu terpendek. Tidak melebihi 400 mg/hari. dengan begitu. Aleve. Naproxen (Naprelan. Piroxicam (Feldene) . yang menghasilkan sintesis prostaglandin. Obat yang berikatan kuat dengan protein dan siap diserap secara oral.3. Ibuprin. kemungkinan dengan menurunkan aktifitas enzim siklooksigenase. 4. Naprosyn) Digunakan untuk meredakan nyeri ringan sampai sedang. Dosis: 150-200 mg PO 2 kali sehari. Menghambat reaksi peradangan dan nyeri dengan menurunkan aktifitas enzim siklooksigenase.

Dapat mempengaruhi fungsi imun dan biasanya menghilangkan gejala peradangan (nyeri.5 mg setiap minggu. Sebagai alkylating agent. . sebagai pengganti sekali seminggu Peningkatan sampai respon optimum. keracunan hematopoietik. Agen Imunosupresan Digunakan untuk skleritis berat (Necrotizing scleritis) dan yang resisten terhadap NSAIDs. Dosis: 20 mg PO setiap harinya atau dibagi 2 kali sehari. tidak melebihi 30-40 mg/hari B. Kurangi sampai dosis efektif terendah dengan waktu istirahat terpanjang Awasi : fungsi ginjal. Methotrexate (Folex. bengkak. fungsi paru. kaku). yang dapat mengganggu pertumbuhan sel normal dan neoplastik. 1. Cyclophosphamide (Cytoxan. menghambat sintesis prostaglandin. Neosar) Secara struktur kimia berhubungan dengan mustards nitrogen. tidak melebihi dosis tunggal dari 20 mg (meningkatkan resiko supresi sum –sum tulang). Rheumatex) Mekanisme kerjanya dalam pengobatan reaksi peradangan kurang diketahui. fungsi hati 2. Efek ini menurunkan pembentukan mediator radang.Secara struktur kimia berbeda dengan NSAID. Dosis tunggal PO sebanyak 7. Kurangi sampai serendah mungkin.5 mg setiap 12 jam untuk 3 dosis. mekanisme kerjanya sebagai metabolit aktif mungkin melibatkan penyambungan silang DNA. Berikatan dengan protein plasma. Menurunkan aktifitas siklooksigenase dan dengan begitu. Dosis dibagi PO sebanyak 2.

dapat ditingkatkan seperti berikut: Sebesar 0. Minum banyak cairan bersamaan dengan dosis per oral.5 mg/kg/hari setelah 6-8 minggu.5 mg/kg/hari dibagi 2 kali sehari PO kurang lebih 8 minggu. Pengawasan: Kurangi dosis sebanyak 0. Pasien harus buang air untuk mencegah sistitis hemoragik.5 mg/kg/hari.5 mg/kg/hari Pemberian oral: Dosis : 400-1000 mg/sq. Dapat ditambah menjadi tidak lebih dari 4 mg/kg/hari Awasi: fungsi ginjal . Dosis: 2.5 mg/kg/hari setiap 4 minggu. Terapi berulang: 50-100 mg/sq. dan protein.meter dibagi selama 4-5 hari sebagai terapi intermiten. seperti hipersensitifitas tipe lambat dan penolakan cangkok. Dosis awal: 1 mg/kg IV/PO setap hari atau dipisah 2 kali sehari.Pemberian IV: Dosis tunggal: 40-50 mg/kg dibagi selama 2-5 hari.meter/hari Pemberian: Berikan dosis pertama sepagi mungki. tidak melebihi 2. Azathioprine (Imuran) Menghambat mitosis dan metabolisme seluler dengan mengganggu metabolisme purin dan sintesis DNA.5 mg/kg setiap 4 minggu sampai dosis efektif terendah tercapai 4. kemudian sebesar 0. Cyclosporine (Neoral) Siklik polipeptida yang menekan beberapa imun humoral dan reaksi imun yang dilakukan sel. Awasi: Hitung sel darah (Sel darah putih dapat menurun sampai 20003000/cu. RNA. dapat diulangi dalam interval 2-4 minggu Dosis setiap hari: 1-2.mm tanpa resiko serius terkena infeksi) 3.

Methylprednisolone (Depo-Medrol. Komplikasi Skleritis dapat mengakibatkan terjadinya beberapa komplikasi. 1. Untuk efek jangka panjang. Biasanya digunakan sebagai tambahan agen imunosupresif lainnya. serta dapat menurunkan peradangan. Bekerja dengan cara meningkatkan permeabilitas kapiler dan menekan kerja PMN. berikan dosis IM setiap harinya sama dengan dosis oral.C. Medrol) Pemberian IM atau IV. berikan dosis oral 7 kali setiap harinya IM setiap minggu. Orasone. Solu-Medrol. Dosis: 2-60 mg/hari dibagi sekali sehari atau 2 kali sehari PO Metilprednisolon asetat: 10-80 mg IM setiap 1-2 minggu Jika diberikan sebagai pengganti sementara untuk pemberian oral. Prednisone (Deltasone. 9. Kortikosteroid mempengaruhi respon imun tubuh dan berguna dalam pengobatan skleritis yang berulang. Dosis: 5-60 mg/hari PO setiap hari atau dibagi 2 kali sehari sampai 4 kali sehari. Sterapred) Digunakan untuk mengobati reaksi peradangan dan alergi. Hanya metilprednisolon sodium sukinat dapat diberikan secara IV \ Dosis: 1 g IV selama 1 jam selama 3 hari 2. Makular edema dapat terjadi karena perluasan peradangan di sklera bagian posterior sampai . Glukokortikoid Memiliki sifat anti peradangan dan mengakibatkan bermacam efek metabolik.

Skleritis dapat berulang dan berpindah ke posisi sklera yang berbeda. namun tak jarang juga dijumpai pada kasus skleritis anterior. Komplikasi lainnya yaitu perforasi dari sklera yang mengakibatkan hilangnya kemampuan mata untuk melihat. atau atrofi optik. dimana terjadi kekeruhan kornea akibat peradangan sklera terdekat. Sering bagian sentral kornea tidak terlihat pada keratitis sklerotikan. dan saraf optic. Sedangkan uveitis posterior terjadi pada hampir seluruh kasus skleritis posterior. retina. Keratitis bermanifestasi sebagai pembentukan alur perifer. uveitis. Pada keadaan ini tidak pernah terjadi neovaskularisasi ke dalam stroma kornea. ablasio retina.koroid. . vaskularisasi perifer. Tanpa pengobatan segera dapat terjadi kondisi seperti katarak. Makular edema dapat mengakibatkan penurunan penglihatan. Uveitis anterior terjadi pada sekitar 30% kasus skleritis. keratitis. Obat kortikosteroid juga dapat memicu terjadinya perforasi serta meningkatkan tekanan intraokular sehingga beresiko merusak saraf optik akibat glaukoma. Proses penyembuhan kornea yaitu berupa menjadi jernihnya kornea yang dimulai dari bagian sentral. Skleromalasia juga dapat terjadi. Penyulit pada kornea dapat dalam bentuk keratitis sklerotikan. terutama pada skleritis dengan rheumatoid arthritis. Uveitis adalah tanda buruk karena sering tidak berespon terhadap terapi. atau vaskularisasi dalam dengan atau tanpa pengaruh kornea. Hal ini terjadi akibat gangguan susunan serat kolagen stroma. Bentuk keratitis sklerotikan adalah segitiga yang terletak dekat skleritis yang sedang meradang.

Skleritis pada spondiloartropati atau pada SLE biasanya relatif jinak dan sembuh sendiri dimana termasuk tipe skleritis difus atau skleritis nodular tanpa komplikasi pada mata Skleritis pada penyakit Wagener adalah penyakit berat yang dapat menyebabkan buta permanen dimana termasuk tipe skleritis nekrotik dengan komplikasi pada mata. Necrotizing scleritis umumnya mengakibatkan hilangnya penglihatan dan memiliki 21% kemungkinan meninggal dalam 8 tahun. Hasil akhir cenderung tergantung pada penyakit penyerta yang mengakibatkan skleritis.10. nodular atau nekrotik dengan atau tanpa komplikasi pada mata. PROGNOSIS Individu dengan skleritis ringan biasanya tidak akan mengalami kerusakan penglihatan yang permanen. Pada kasus skleritis idiopatik dapat ringan. dan lebih respon terhadap tetes mata steroid. Quo ad vitam : dubia ad bonam Quo ad functionam : dubia ad malam Quo ad sanationam : dubia ad malam . Prognosis skleritis tergantung pada penyakit penyebabnya. Skleritis tipe nekrotik merupakan tipe yang paling destruktif dan skleritis dengan penipisan sklera yang luas atau yang telah mengalami perforasi mempunyai prognosis yang lebih buruk. durasi yang pendek. Skleritis pada penyakit sistemik selalu lebih jinak daripada skleritis dengan penyakit infeksi atau autoimun. Skleritis pada rematoid artritis atau polikondritis adalah tipe skleritis difus.

dan dagu. alis. namun bisa juga terjadi secara idiopatik.III. Skleritis merupakan penyakit yang jarang terjadi. Skleritis biasanya terjadi bersama dengan penyakit sistemik. kerusakan kolagen. Namun kedua penyakit ini dapat dibedakan melalui lokasi terjadinya peradangan. Untuk mendiagnosa skleritis diperlukan adanya anamnesis. Skleritis dapat digolongkan menjadi skleritis anterior dan skleritis posterior. PENUTUP A. proses peradangan hanya terlokalisir di daerah episklera. Adapun gejala-gejala umum yang biasa terjadi pada skleritis yaitu rasa nyeri berat yang dapat menyebar ke dahi. Kesimpulan Skleritis adalah peradangan pada lapisan sklera yang ditandai dengan adanya infiltrasi seluler. pemeriksaan fisik dan oftalmologi. Pada episkleritis umumnya mengenai satu mata. necrotizing scleritis with inflammation. Sekitar 94% kasus skleritis merupakan skleritis anterior dan sisanya adalah skleritis posterior. Sedangkan pada skleritis proses . yaitu perbatasan antara sklera dan konjungtiva. serta pemeriksaan penunjang . Skleritis dapat didiagnosa banding dengan episkleritis. nodular anterior scleritis. dan penurunan tajam penglihatan. yaitu penyakit autoimun dan infeksi. dan perubahan vaskuler. fotofobia. Selain itu terdapat pula mata merah berair. Skleritis anterior sendiri dapat dibagi lagi menjadi 4 macam yaitu diffuse anterior scleritis. dan necrotizing scleritis without inflammation (scleromalacia perforans).

Tatalaksana skleritis membutuhkan pengobatan sistemik. melebarnya pembuluh darah sklera tidak dapat mengecil bila diberi fenilefrin 2. agen imunosupresan. Pembuluh darah episklera dapat mengecil bila diberi fenilefrin 2. uveitis. perforasi sklera. Komplikasi episkleritis jarang terjadi. harus dikonsultasikan ke bagian terkait. Necrotizing scleritis dapat menyebabkan hilangnya penglihatan secara permanen. Selain itu. katarak.5% topikal. Episkleritis dapat dibedakan juga dengan skleritis denga pemberian epinefrin.5% topikal. dan imunomodulator. . Sedangkan episkleritis umumnya berprognosis baik. Apabila terdapat penyakit penyerta. kortikosteroid.peradangan dapat meluas ke seluruh bagian sklera. Sedangkan pada skleritis. Obat-obatan yang biasa dipakai yaitu NSAIDs. rasa nyeri yang berat pada skleritis dapat dibedakan dari rasa nyeri ringan yang terjadi pada episkleritis yang lebih sering dideskripsikan pasien sebagai sensasi benda asing di dalam mata. Episkleritis mempunyai onset yang lebih akut tidak menimbulkan turunnya tajam penglihatan. dan keratitis. namun pada penyakit skleritis dapat terjadi edema makular. Sedangkan tatalaksana episkleritis dapat diberikan air mata buatan saja dan apabila lebih berat dapat diberikan NSAID dan obat tetes mata steroid. Prognosis skleritis seringkali tergantung pada penyakit sistemik yang menyertainya. glaukoma.

http://www.medscape.com [diakses 15 Juni 2012] Ilyas. Giant pigment epithelial tear and retinal detachment in a patient with scleritis. B-Scan Ocular Ultrasound [Online]. Theodore J.eyestar. Richard G. Tersedia pada http://emedicine. Gilbert et al. Scleritis [online]. Smolin. Jul-Aug 2005.htm [diakses 15 Juni 2012] De la Maza. Ocular Manifestations of Autoimmune Disease.com.66(6):991-998.html. S. PHD. http://www.com [diakses 15 Juni 2012] Patel. Edisi ke – 4.com/article/1228324-overview.medscape. MS. 2005.org/anatomy/2006/03/what-is-thicknessof-sclera. 2008.com/article/1228865-overview. Diane C Lundy. Philadelphia: LIPPINCOTT WILLIAMS & WILKIN. http://www. Paul.medscape.emedicine. {Dikutip tanggal 15 Juni 2012} Bolumleri. http://www. Scleritis in Emergency Medicine [online]. Thorne J. Waldron. {Dikutip tanggal 15 Juni 2012} . 2008. Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga. http://www. Vaughan & Asbury’s General Ophthalmology. 2010.medlineplus. Scleritis. {Dikutip tanggal 15 Juni 2012} Gaeta. MD.DAFTAR PUSTAKA Axenfeld. 2006. Scleritis and Peripheral Ulcerative Keratitis.pubmed. Subramanian M. 2009. Tersedia pada http://emedicine.com [diakses 15 Juni 2012] Thill M.tr/htm/sklera. Retina. Journal of American Family Physician. Smolin and Thoft’s The Cornea : Scientific Foundations and Clinical Practice. [Medline].25(5):667-8. 2002 Sep 15. What is the thickness of the sclera [online].Whitcher. Maza. USA: Mc. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. T Heidelberg. Tersedia pada http://emedicine.missionforvisionusa. {Dikutip tanggal 15 Juni 2012} Galor A. Sayjal J. Maite Sainz. 2010. Sklera. Eye.com/article/809166-overview.images. Rondra G. Riordan-Eva.GrawHill. John P.

Tersedia pada http://www-immuno.html. Scleritis [online].htm.ac. {Dikutip tanggal 15 Juni 2012} pada Anonim.com/handbook/sect2g.cam. Tersedia http://www. Sclera [online]. {Dikutip tanggal 15 Juni 2012} Anonim. Scleritis [online]. Tersedia pada http://cms.com/anatomy/sclera.stlukeseye. Hypersensitivity and Chronic Inflammation [online]. Tersedia pada http://www.Anonim. 2010. 2002. 2004.revoptom.path. {Dikutip tanggal 15 Juni 2012} Anonim.com/scleritis.uk {Dikutip tanggal 15 Juni 2012 .mdguidelines.