Anda di halaman 1dari 4

LGBT: Bagian dari Serangan Budaya Barat

19 Feb 2016 in Al Islam Leave a comment


[Al-Islam edisi 794, 10 Jumadul Awal 1437 H 19 Februari 2016 M]
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengaku khawatir atas adanya upaya rekayasa sosial
melalui perilaku lesbian, gay, biseksual, transgender dan interseks (LGBTI). Saya khawatir ini
kemudian jadi bagian rekayasa sosial di dalamnya. Ada yang sepertinya ingin menyasar keluarga
kurang mampu yang sebetulnya mereka tidak ada indikasi seperti itu (LGBT) sama sekali, kata
Khofifah di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (16/2). Ia menjelaskan temuannya sekitar satu bulan
lalu di Lombok, Nusa Tenggara Barat, yakni adanya pemberian hadiah ke satu keluarga kurang
mampu di wilayah itu. Tak beberapa lama kemudian, anak laki-laki di rumah tersebut diketahui
perilakunya telah berbeda (Republika.co.id, 26/2)
Sebab Orang Menjadi LGBT
LGBT bukan bawaan, bukan karena faktor genetik dan bukan pula sesuatu yang kodrati. Klaim
homoseksual tidak bisa diubah secara psikologis juga keliru besar. Faktanya, penyakit ini bisa
diobati secara psikologis.
Dari hasil penelitian Paul Cameron Ph.D dari Family Research Institute disimpulkan, di antara
penyebab munculnya dorongan untuk berperilaku homoseksual adalah pernah disodomi waktu
kecil. Penyebab lainnya adalah pengaruh lingkungan, di antaranya: pendidikan yang prohomoseksual, toleransi sosial dan hukum terhadap perilaku homoseksual, adanya figur yang
secara terbuka berperilaku homoseksual serta penggambaran bahwa homoseksualitas adalah
perilaku yang normal dan bisa diterima.
Perilaku LGBT itu bisa menular kepada orang lain. Aksi, propaganda dan gerakan LGBT jelas
akan memunculkan semua penyebab orang menjadi LGBT itu. Jika aksi, propaganda dan
gerakan LGBT dibiarkan maka perilaku menyimpang itu bisa menjalar ke masyarakat.
Gerakan LGBT
Propaganda dan penyebaran LGBT telah menjadi gerakan yang melibatkan berbagai kelompok
dan organisasi lokal dan internasional. Organisasi-organisasi LGBT saling terhubung satu sama
lain. Langkah-langkah, aktivitas, aksi dan gerakan mereka dilakukan secara terkoordinasi
berdasarkan strategi yang sudah mereka susun dan sepakati.
Dalam skala nasional, hingga tahun 2013 terdapat 119 organisasi atau komunitas LGBT di 28
dari 34 provinsi di Indonesia. Itu belum termasuk organisasi-organisasi HAM yang
memperjuangkan hak-hak LGBT.

Secara nasional ada dua jaringan organisasi nasional LGBT yaitu Jaringan Gay, Waria dan Lakilaki yang Berhubungan Seksual dengan Laki-laki/LSL Indonesia (GWL-INA) dan Forum
Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Interseks, dan Queer (LGBTIQ).
Di tingkat regional atau internasional, jaringan organisasi LGBT di antaranya The Global
Alliance for LGBT Education (GALE), International Lesbian, Gay, Bisexual, Trans and Intersex
Association (ILGA), dan Island of South East Asia Network of Male and Transgender Sexual
Health (ISEAN).
Melalui jaringan nasional dan regional tersebut, kelompok dan organisasi LGBT berusaha
mengorganisasikan usaha agar orientasi seksual dan ekspresi jender mereka diterima. Caranya
adalah melalui kampanye-kampanye HAM dengan beragam media, baik secara langsung
maupun secara tidak langsung. Pertemuan-pertemuan di level nasional dan regional digagas
untuk mendesak Pemerintah menerima LGBT sebagai kelompok sosial dan memberikan hak-hak
kaum LGBT sebagai warga negara.
Organisasi LGBT di antaranya melakukan strategi: memperkuat jejaring dan kerjasama dengan
lembaga-lembaga non-pemerintah bidang Hukum dan HAM, media massa, lembaga
pengetahuan dan swasta; memperkuat jejaring Advokasi HAM untuk LGBT; aktif mendorong
dialog-dialog terkait penegakan HAM LGBT di Indonesia, dsb.
Strategi gerakan LGBT di negeri ini di antaranya terlihat dalam rekomendasi yang dihasilkan
dalam Dialog Komunitas LGBT Nasional Indonesia pada 13-14 Juni 2013 di Bali yang berisi 11
rekomendasi untuk Pemerintah dan lembaga Pemerintah, 4 rekomendasi untuk lembaga
internasional serta 7 rekomendasi untuk komunitas dan organisasi LGBT di Indonesia.
Globalisasi LGBT dan Serangan Budaya
Keberadaan dan perkembangan kelompok LGBT tidak terlepas dari perkembangan globalisasi.
Globalisasi telah berkontribusi secara nyata dalam mengembangbiakkan budaya dan identitas
kelompok homoseksual. Globalisasi melahirkan bentuk baru budaya lokal yang sejalan dengan
budaya global (Barat).
Penyebaran LGBT di negeri ini juga banyak dipengaruhi oleh serangan budaya Barat.
Pergerakan organisasi dan komunitas LGBT di negeri ini banyak disokong oleh dana dari
lembaga asing. Diungkap di halaman 64 Laporan Hidup Sebagai LGBT di Asia: Laporan
Nasional Indonesia, hasil dokumentasi Dialog Komunitas LGBT Nasional Indonesia pada 13-14
Juni 2013 di Bali sebagai bagian dari prakarsa Being LGBT in Asia oleh UNDP dan USAID.
Diungkap bahwa sebagian besar organisasi mendapat pendanaan dari lembaga donor
internasional seperti USAID. Pendanaan juga diperoleh dari AusAID, UNAIDS dan UNFPA.
Ada sejumlah negara Uni Eropa yang pernah mendanai program jangka pendek, terutama dalam
kaitan dengan HAM LGBT. Pendanaan paling luas dan sistematis disediakan oleh Hivos, sebuah
organsiasi Belanda, kadang-kadang bersumber dari pemerintah negeri Belanda. Kemudian Ford
Foundation bergabung dengan Hivos dalam menyediakan sumber pendanaan bagi organisasiorganisasi LGBT.

UNDP dan USAID meluncurkan prakarsa Being LGBT in Asia pada 10 Desember 2012. Di
antara negara yang menjadi fokus adalah China, Indonesia Philipina dan Thailand
(https://www.usaid.gov/asia-regional/being-lgbt-asia).
Berdasarkan dokumen UNDP, program Being LGBT in Asia fase 2 dijalankan dari Desember
2014 hingga September 2017 dengan anggaran US$ 8 juta (http://www.asiapacific.undp.org/content/rbap/en/home/operations/projects/overview/being-lgbt-in-asia.html)
Pada Oktober 2015, Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-Moon mengaku akan
menggencarkan perjuangan persamaan hak-hak LGBT. LGBT juga menjadi sala satu agenda
penting Amerika Serikat (Lihat: Dokumen USAID: Being LBGT in Asia Report Build
Understanding).
Alhasil, jelas sekali, penyebaran LGBT menjadi salah satu agenda Barat khususnya AS dan
Eropa.
Harus Dilawan!
Gerakan dan propanda LGBT jelas akan membawa bahaya besar bagi negeri ini dan
peduduknya. Jika perilaku menyimpang LGBT berkembang apalagi marak di negeri ini, bukan
tidak mungkin bencana dan malapetaka bisa menimpa negeri ini.
Di Dunia Islam, gerakan dan propaganda LGBT dan serangan budaya itu merupakan bagian dari
upaya sistematis untuk memadamkan Islam. Namun, upaya mereka itu niscaya gagal.


Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka,
sementara Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orangorang yang kafir tidak menyukai (TQS at-Taubah [9]: 32)
Gerakan dan propaganda LGBT akan menjauhkan manusia dari jalan Allah. Namun, dana besar
yang mereka kucurkan hanya akan menjadi sesalan bagi mereka.

Sesungguhnya orang-orang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari
jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan
mereka akan dikalahkan. Ke dalam Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan (TQS
al-Anfal [8]: 36).

Wahai Kaum Muslim:

Gerakan, propaganda dan invasi budaya LGBT harus dilawan! Untuk itu umat harus
menggalakkan dakwah dan tegas menolak LGBT. Harus dinyatakan bahwa LGBT adalah
penyimpangan perilaku. Dakwah harus dilakukan dengan menyadarkan pelaku LGBT sehingga
mereka menyadari kesalahan mereka dan mereka mau bertobat. Amar makruf nahi mungkar juga
harus digalakkan. Sikap awas dan kewaspadaan pada diri umat terhadap segala bentuk
propaganda dan seruan LGBT harus dibangun. Umat Islam juga harus dikuatkan dengan
membina ketakwaan dan ketaatan pada syariah Islam.
Perlawanan terhadap agenda LGBT itu tidak bisa total jika kita masih terus mempertahankan
demokrasi, mengagungkan HAM ala Barat, paham kebebasan, ideologi kapitalisme dan
sekulerisme. Pasalnya, semua itu adalah sebab mendasar berkembangnya LGBT.
Perlawanan terhadap LGBT harus disempurnakan dengan perjuangan untuk mewujudkan
penerapan syariah Islam secara total dan menyeluruh di bawah sistem Khilafah Rasyidah ala
minhaj an-nubuwwah. Hanya dengan itu masalah LGBT akan benar-banar bisa diatasi secara
tuntas. WalLlh alam bi ash-shawb. []

Komentar al-Islam:
Tindak pidana korupsi yang terjadi di sektor pengelolaan sumber daya alam (SDA) terbukti
merusak tata kelola alam dan menciptakan kondisi serta kualitas manusia Indonesia yang buruk.
Pengaruh rusaknya SDA di Indonesia berdampak besar terhadap kondisi lingkungan global.
Beberapa tokoh lintas agama dan pegiat kemanusiaan mendesak Pemerintah menghentikan
upaya revisi UU KPK yang bermuara pada pelemahan sistematis kewenangan, fungsi dan tugas
KPK dalam memberantas korupsi di sektor pengelolaan SDA (Kompas.com, 16/2).

1. Yang lebih berbahaya lagi adalah penyerahan SDA kepada swasta dan asing. Dengan itu
penghisapan SDA dilakukan secara legal. Sayangnya pengerukan SDA oleh swasta dan
asing itu akan makin leluasa dengan rencana revisi UU Migas dan Minerba.
2. Pemberantasan korupsi tidak akan bisa tuntas selama sistem politik demokrasi dan
kapitalisme tetap dipertahankan.
3. Pemberantasan korupsi secara tuntas dan pengelolaan SDA yang memberikan sebesarbesarnya kemakmuran untuk rakyat hanya bisa diwujudkan dengan menerapkan syariah
islamiyah secara total dan menyeluruh di bawah Khilafah Rasyidah.