Anda di halaman 1dari 24

Analisis Masalah

1. Jelaskan definisi dari batuk! (Irma)


2. Bagaimana patomekanisme batuk? (desti)
3. Sebutkan penyakit-penyakit yang memiliki gejala batuk! (hana)
4. Jelaskan etiologi dari penyakit yang menyebabkan batuk! (frylie)
5. Jelaskan gambaran klinis lain yang menyertai batuk pada penyakit system respirasi!
(rizti)
6. Jelaskan patomekanisme penyakit-penyakit yang menyebabkan batuk! (icha)
7. Sebutkan DD dari skenario! (aji)
8. Sebutkan dan jelaskan alur diagnosis batuk! (Yasmin)
9. Jelaskan penatalaksanaan dari penyakit yang ada pada scenario! (amel)
10. Jelaskan pencegahan dari penyakit yang ada pada scenario! (azki)
11. Jelaskan komplikasi dari penyakit yang ada pada scenario! (ka novaldi)
12. Jelaskan etiologi dari penyakit yang ada pada scenario! (Irma)
13. Jelaskan epidemiologi dari penyakit yang ada pada scenario! (desti)
14. Apa saja faktor risiko dari kasus yang ada pada scenario? (hana)
15. Apa pemeriksaan penunjang dari penyakit yang ada pada scenario? (frylie)
16. Sebutkan dan jelaskan macam-macam batuk! (rizti)
17. Sebutkan dan jelaskan macam-macam dahak (sputum) yang disebabkan oleh batuk!
(icha)
18. Bagaimana dahak bisa terbentuk? (aji)
19. Jelaskan patomekanisme terjadinya sianosis pada scenario! (Yasmin)
20. Apa hubungan riwayat imunisasi dengan gejala klinis pada scenario? (amel)
21. Mengapa pasien merasakan batuk yang disertai sulit bernapas saat batuk? (azki)
22. Bagaimana hubungan keluhan utama batuk dengan kenaikan suhu tubuh? (ka novaldi)

BATUK
1. DEFINISI BATUK :
Batuk dalam bahasa latin disebut tussis adalah refleks yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan
sering brulang-ulang bertujuan untuk membantu membersihkan sakuran pernapasan dari lendir
besar, iritasi, partikel asing dan mikroba. Merupakan suatu tindakan refleks pada saluran
pernafasan yang digunakan untuk membersihkan saluran udara atas.

2. MEKANISME BATUK

Pada dasarnya mekanisme batuk dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase inspirasi, fase
kompresi dan fase ekspirasi (literatur lain membagi fase batuk menjadi 4 fase yaitu fase iritasi,
inspirasi, kompresi, dan ekspulsi). Batuk biasanya bermula dari inhalasi sejumlah udara,
kemudian glotis akan menutup dan tekanan di dalam paru akan meningkat yang akhirnya diikuti
dengan pembukaan glotis secara tiba-tiba dan ekspirasi sejumlah udara dalam kecepatan tertentu.
Fase inspirasi dimulai dengan inspirasi singkat dan cepat dari sejumlah besar udara, pada saat ini
glotis secara refleks sudah terbuka. Volume udara yang diinspirasi sangat bervariasi jumlahnya,
berkisar antara 200 sampai 3500 ml di atas kapasitas residu fungsional. Penelitian lain
menyebutkan jumlah udara yang dihisap berkisar antara 50% dari tidal volume sampai 50% dari
kapasitas vital. Ada dua manfaat utama dihisapnya sejumlah besar volume ini. Pertama, volume
yang besar akan memperkuat fase ekspirasi nantinya dan dapat menghasilkan ekspirasi yang
lebih cepat dan lebih kuat. Manfaat kedua, volume yang besar akan memperkecil rongga udara
yang tertutup sehingga pengeluaran sekret akan lebih mudah.

Gambar 1. Skema diagram menggambarkan aliran dan perubahan tekanan subglotis selama, fase
inspirasi, fase kompresi dan fase ekspirasi batuk.
Setelah udara di inspirasi, maka mulailah fase kompresi dimana glotis akan tertutup selama 0,2
detik. Pada masa ini, tekanan di paru dan abdomen akan meningkat sampai 50 100 mmHg.
Tertutupnya glotis merupakan ciri khas batuk, yang membedakannya dengan manuver ekspirasi
paksa lain karena akan menghasilkan tenaga yang berbeda. Tekanan yang didapatkan bila glotis
tertutup adalah 10 sampai 100% lebih besar daripada cara ekspirasi paksa yang lain. Di pihak
lain, batuk juga dapat terjadi tanpa penutupan glotis.
Kemudian, secara aktif glotis akan terbuka dan berlangsunglah fase ekspirasi. Udara akan keluar
dan menggetarkan jaringan saluran napas serta udara yang ada sehingga menimbulkan suara
batuk yang kita kenal. Arus udara ekspirasi yang maksimal akan tercapai dalam waktu 3050
detik setelah glotis terbuka, yang kemudian diikuti dengan arus yang menetap. Kecepatan udara
yang dihasilkan dapat mencapai 16.000 sampai 24.000 cm per menit, dan pada fase ini dapat
dijumpai pengurangan diameter trakea sampai 80%.
Rangsang

Reseptor (serabut saraf non mielin halus di dalam laring, trakea, bronkus, bronkiolus)

serabut aferen pada cabang nervus vagus mengalirkan dari laring, trakea, bronkus, bronkiolus,
alveolus


Pusat batuk (di medula oblongata, dekat dengan pusat pernafasan dan pusat muntah) oleh serabut
eferen nervus vagus

Efektor

Gambar 2. Fase Batuk

Tahapan
1. Fase iritasi
Iritasi pada salah satu saraf sensori nervus vagus di laring, trakea, bronkus / serat afferen cabang
faring dari nervus glossopharingeus dapat menimbulkan batuk. Membawa impuls ke medula
oblongata.
2. Fase inspirasi
Terjadi kontraksi otot abduktor kartilago arytenoideus yang mengakibatkan glotis secara refleks
terbuka lebar. Volume udara yang diinspirasi berkisar antara 200-3500 ml di atas kapasitas residu
fungsional.
3. Fase kompres
Terjadi kontraksi otot adduktor kartilago arytenoideus yang mengakibatkan tertutupnya glotis
selama 0,2 detik. Pada fase ini tekanan di paru dan abdomen akan meningkat 50-100 mmHg
Batuk dapat terjadi tanpa penutupan glotis karena otot-otot ekspirasi mampu meningkatkan
tekanan intratoraks walaupun glotis tetap terbuka.
4. Fase ekspirasi
Glotis terbuka secara tiba-tiba akibat kontraksi aktif otot ekspirasi sehingga terjadilah
pengeluaran udara dalam jumlah besar dengan kecepatan tinggi disertai dengan pengeluaran
benda-benda asing
Komponen

a) Reseptor Batuk Berupa serabut saraf non mielin halus yang terletak di dalam dan di
luar rongga toraks. Sebagian besar ada di laring,trakea,karina dan daerah percabangan
bronkus.
b) Serabut saraf aferen.
c) N. Vagus (laring,trakea,bronkus,pleura,lambung,telinga).
d) N. Trigeminus mengalirkan rangsang dari sinus paranasalis.
e) N. Glossopharyngeus mengalirkan rangsang dari faring.
f) N. Frenikus mengalirkan rangsang dari perikardium dan diafragma.
g) Pusat Batuk Berada di medulla, dekat pusat pernafasan dan pusat muntah.
h) Serabut saraf eferen N.vagus, n.frenikus, n.intercostal,n.trigeminus,n.facialis dll,
dibawa menuju ke efektor.
i) Efektor Terdiri dari otot-otot laring, trakea, bronkus, diafragma, otot-otot intercostal
dll. Di daerah efektor inilah mekanisme batuk terjadi.

Yoga Aditama T. Patofisiologi Batuk. Jakarta : Bagian Pulmonologi FK UI, Unit Paru RS
Persahabatan, Jakarta. 1993.
https://www.scribd.com/doc/125482595/Mekanisme-Terjadinya-Batuk#download

3. MACAM-MACAM BATUK
1. Batuk produktif (sering disebut batuk berdahak)
ditandai dengan pengeluaran dahak (sputum) serupa lendir dari tenggorokan pada saat
terjadinya batuk. Dahak diproduksi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap benda asing
yang masuk ke dalam tubuh.
terapidiberikan obat yang bisa merangsang pengeluaran lendir (ekspektoran)
2.
Batuk
tidak
produktif (lebih
dikenal
sebagai batuk
kering)
Pada batuk kering tidak diproduksi dahak. Batuk kering biasanya bukan merupakan mekanisme
pengeluaran zat asing, dan mungkin merupakan bagian dari penyakit lain.
terapiobat yang diperlukan adalah yang disebut antitusif. Obat ini berfungsi untuk
menekan rangsangan batuk
Batuk kronik:
1

Batuk rejan(kinkhoest) atau sering disebut batuk 100 hari ini pada umumnya
menyerang pada anak-anak dan balita, tetapi kadang-kadang juga menyerang orang tua.
penanganan:

- dirawat di rumah sakit


- pengisapan lendir dari tenggorokan. Pada kasus yang berat, oksigen diberikan langsung
ke paru melalui selang yang dimasukkan ke trakea
- Gizi yang baik sangat penting, dan sebaiknya makanan diberikan dalam porsi kecil
tetapi sering.
- Untuk membasmi bakteri, biasanya diberikan antibiotik eritromycin.
2

Batuk Sesak( Asma dan TBC ) , batuk sesak disebut juga bronkitis, adalah gangguan
yang terjadi pada pipa udara yang lebih kecil, diikuti sesak napas, berakibat badan lemah,
demam dan berat badan berkurang.
Penanganan:
- dirawat di rumah
- biasanya akan sembuh dalam waktu 3 sampai 4 hari.
- Alat pelembab rumah (contoh, cool-mist vaporizers atau humidifiers) bisa mengurangi
kekeringan udara dan kelegaan bernafas.

Batuk Berdarah, batuk disertai darah yang berasal dari saluran pernapasan, bisa berasal
dari paruatau pembuluh darah gelembungparu. Bila berasal dari pembuluh darah balik,
batuk berdarah ini merupakan gejala terjadinya kegagalan jantung kiri.
penanganan:

Tahap 1 adalah mempertahankan jalan napas yang adekuat, pemberian suplementasi


oksigen, dan berusah melokalisir sumber perdarahan.

Tahap 2 setelah pasien dalam keaadan stabil perlu dilakukan pemeriksaan lebih
lanjut mencari sumber perdarahan dan penyebab perdarahan. Pemeriksaan yang :
foto toraks,CT scann toraks, angiografi, bronkoskopi ( BSOL atau bronkoskop kaku ).

Tahap 3 adalah menghentikan perdarahan dan mencegah perdarahan berulang.

PENYAKIT DENGAN GEJALA BATUK

Batuk adalah suatu reflex napas yang terjadi karena adanya rangsangan reseptor iritan yang
terdapat di seluruh saluran napas. Batuk dapat disebabkan oleh berbagai factor seperti
jamur,infeksi parenkim paru, TBC, tifus, radang paru-paru, dan asma. ( Widodo.2009 )
Penyakit yang menyebabkan batuk
1. Penyakit paru akibat jamur

Aktinomikosis dan Nokardiosis


Dahulu di golongkan sebagai jamur karena membentuk filament, akan tetapi
sekarang keduanya dimasukkan ke dalam golongan bakteri. Aktinomiosis
anaerob dam nokardia aerob. Gejala awal aktinomikosis adalah demam dan
batuk. Sedangkan Nokardiosis demam, keringat malam, batuk dengan sputum
purulent dan penurunan berat badan.

Histoplasmosis di mulai dengan inhalasi spora jamur Histoplasma


capsulatum banyak ditemukan di tanah yang menngandung banyak kootran
kelelawar ataupun burung. Gejala nya adalah batuk dan influenza.

Kriptokokosis Paru disebabkan Cryptococcus neoformans. Gejalanya tidak


spesifik yaitu demam subfebris, bentuk nonproduktif, nyeri dada dan
hemoptysis.

Aspergilosis berkaitan dengan jamur yaitu aspergilosis bronkopulmonar,


manifestasinya dapat berupa aspergilosis alergika, penyumbatan saluran napas
dan aspergiloma yang dapat menyebabkan hemoptysis massif yang sering
memerlukan tindakan bedah.

2. Penyakit Infeksi pada parenkim paru


Abses Paru lesi di parenkim paru dengan proses supurasi yang disebabkan
oleh mikroorganisme piogenik. Mikroorganisme penyebab pneumonia yang
sering memberat menjadi abses. Abses paru jjuga dapat terjadi akibat emboli
yang berasal dari endocarditis . Pada abses akut akan timbul panas yang tinggi
dengan menggigil, batuk produktif dengan sputum yang purulent dan berbau
busuk.
Pneumonia yakni peradangan parenkim paru yang disebabkan oleh
mikroorganisme bakteri, virus, jamur, parasite. Gejala umum pneumonia
adalah demam, batuk dan sesak napas.
Pneumonia dibagi menjadi 3 kelompok besar yaitu :
- Pneumonia Atipik yang termasuk dalam group ini adalah Mycoplasma
pneumoniae, Chlamydia psittaci, Legionella pneumophilia dan Coxiella
burnetti. Pneumonia atipik ditandai dengan demam 38,3-40 derajat, batuk
tidak produktif, sesak napas, malaise dan biasanya myalgia.
- Pneumonia Pneumositis merupakan penyakit akut dan opurtunistik yang
disebabkan oleh suatu protozoa bernama Pneumocytis carnii. Gejalanya
berupa batuk dan demam.
- Pneumonia bacterial mikroorganisme masuk kedalam paru melalui udara
dari atmosfer, juga dapat melalui aspirasi dari nasofaring atau orofaring.
Faktor resiko yang berkaitan dengan pneumonia yang disebabkan oleh
mikroorganisme adalah usia lanjut, penyakit jantung, alkoholisme,

diabetes mellitus, PPOK. Gejalanya adalah batuk diserati dahak yang


kental, kadang-kadang bersama pus atau darah.
3. Penyakit Pleura
Empiema Yakni suatu efusi pleura yang bersifat purulent dan dapat berupa kista
empyema sering terjadi disebabkan oleh peluasan infeksi pada parenkim paru akan
tetapi dapat juga disebabkan oleh hasil penetrasi luka di dinding dada.

4. Tuberculosis Paru
TB adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis. Kuman batang aerobic ini dapat merupakan organisme pathogen
maupun saprofit. Tempat masuk kuman ini adalah saluran pernafasan, saluran
pencernaan dan luka terbuka pada kulit kebanyakan infeksi TB terjadi melalui udara
yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang
berasal dari orang-orang terinfeksi. Gejala klinisnya sering asimtomatik tanpa tandatanda gejala klinis dan dapat menyebabkan penyakit demam ringan.
5. Tuberculosis Miliar
Terjadi hanya pada terjadi pada pasien yang imunitas nya tidak adekuat. Bisa terjadi
pada anan-anak dan orang dewasa yang menderita keganasan, status nutrisi buruk,
alkoholisme, atau pada pasien yang mendapat pengobatan imunosupresif.
6. Pertussis yakni penyakit saluran napas disebabkanakibat bakteri yang sangat menular
( Bordetella pertussis ) dan menyebabkan batuk tidak terkendali, batuk rejan.
7. Penyakit non infeksi saluran pernafasan
Asma adalah penyakit obstruuksi saluran pernafasan akibat penyempitan
saluran nafas yang sifatnya reversible ( dapat hilang dengan sendirinya ). Ciriciri nya adalah batuk, dyspnea, suara mengi, dan obstruksi jalan nafas.
Bronkitis Kronik adalah adanya sekresi mucus yang berlebihan pada saluran
pernafasan secara terus-menerus dengan disertai batuk.
Emfisema adalah keadaan paru yang abnormal yakni pelebaran udara pada
asinus yang sifatnya permanen. Pelebaran ini disebabkan karena adanya
kerusakan dinding asinus. Asinus adalah bagian paru yang terletak di
bronkiolus terminalis distal. Penderita
menunjukkan hyperinflatedlung
dengan berkurangnya ekspansi dada saat inspirasi, perkusi hipersonor dan
napas pendek.
Bronkiektasis adalah pelebaran bronkus yang disebabkan oleh kelemahan
dinding bronkus yang sifatnya permanen. Gejala bronkiektasis adalah

pengeluaran dahak yang banyak yang berasal dari lobus paru yang letaknya
bergantung, batuk bercampur dahak yang berbau busuk.
Bronkiolitis yakni paling sering pada bayi yang di rawat inap dengan infeksi
VSR. Lebihsering pada anak laki laki daripada anak perempuan ( 5 : 1 )

8. Penyakit infeksi jalan nafas dan saluran pernafasan


- Infeksi saluran pernafasan bagian atas
Selesma/ common cold yakni penyakit infeksi yang paling banyak
menyebabkan orang tidak masuk kerja. Diagnosis penyakit di tegakakan
dengan dengan pemeriksaan laboratorium. Dapat mrmbrikan gejala klinik
beragam antara lain :
- Gejala koriza : pengeluaran cairan nasal berlebihan, bersin, obstruksi
nasal, mata berair, sakit kepala
- Gejala faringeal : sakit tenggorokan yang ringan sampai berat.
- Gejala Faringokonjungtival : varian dari gejala dfaringeal
- Gejala influenza : kondisi sakit berat, demam menggigil, lesu, sakit kepala
nyeri otot.
- Gejala heparangina sering menyerang anak anak yaitu sakit beberapa hari
yang disebabkan Coxsackie A.
- Gejala Obstruksi laringotrakeobronkitisi akut : kondisi serius
yangmengenai anak-anak ditandai batuk, dyspnea, stridor inspirasi disertai
sianosis.
-

Infeksi saluran pernafasan bagian bawah


Bronchitis akut yakni peradangan akut membrane mukosa bronkus yang
disebabkan oleh infeksi mikroorganisme. Gejalanya hidung buntu, pilek
dan sakit tenggorokan.

ETIOLOGI BATUK

Penyakit Paru Anak akibat Bakteri


Nama Penyakit

Nama Bakteri

1. Pneumonia Pneumokokus Opoturnistik disebabkan protozoa


carinii.
2. Pneumonia Streptokokus Bakteri Steptokokus grup A

Pneumocytis

3. Pneumonia Stafilokokus

Stafilococcus aureus.

4. Pneumonia atipik

Mycoplasma pneumoniae, Chlamydia psittaci,


Legionella pneumophila dan Coxiella burnetti
Mycobacterium tubercolosis
Bordetella pertussis

5. Tuberkolosis Paru
6. Pertusis

7. Bronkopeneumonia

8. Abses Paru

Diploccocus
pneumonia,
Pneumococcus
sp,
Streptococcus sp, hemoliticus aureus, Haemophilus
influenza, Basilus friendlander (Klebsial pneumonia),
Mycobacterium tuberculosis.
Pseudomonas aeruginosa, Strepococcus pneumoniae,
Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumonia,
spesies Nocardia

Penyakit Paru Anak akibat jamur


Nama Penyakit

Nama Jamur

1. Aktinomikosis
Nokardiosis

dan Digolongkan sebagai jamur karena membentuk


filament. Tetapi keduanya sekaang dimasukkan ke
dalam golongan bakteri. Aktinomiosis bersifat
anaerob sedangkan Nakordia bersifat aerob
2. Histoplasmosis
Terinhalasi spora jamur Histoplasma capsulatum.
3. Kriptokokosis Paru
Suatu jamur berupa sel ragi berkapsul baik di
lingkungan ataupun host. Jamurnya Cryptococcus
neoformans.
4. Aspergilosis
Jamur Aspergilosis bronkopulmonar terdapat 2
jenis : Aspergilosis alergika dan Aspergiloma.
5. Blastomikosis
Blastomyces dermatitidis adalah jamur dimorfik
yg berbentuk miselia dialam dan sebagai ragi di
jaringan.
6. Mukormikosis
Jamur dimorfik kelas Zigomisetes dan ordo
Mukorales,
Genus
Rhizopus,
Absidia,
Cunninghamella dan Mucor terdapat pada tanah,
tumbuhan lapuk,bahan-bahan binatang.
Penyakit Paru Anak akibat Virus
Nama Penyakit

Nama Virus

1. Influenza

Virus
Influenza
diklasifikasi
Ortomiksoviridae
Agen Rhinovirus, Koronavirus

2. Common cold
3. Pneumonia
4. Pneumonia
Influenzae

sebagai

Virus
sinsitial
pernapasan
(VSR),
Parainfluenza, influenza dan adenovirus
Haemophilus Haemophilus influenzae

5. Bronkiolitis
6. Bronkopneumonia
7. Bronkitis akut

adenovirus, rhinovirus, virus parainfluenza,


dan Mycoplasma pneumonia,.
Respiratory syntical virus, Virus Influenza, dan
Virus sitomegalik
Parainfluenza, influenza, adenovirus, dan
rhinovirus

6 PATOMEKANISME PENYAKIT YANG MENYEBABKAN BATUK


A. Penyebab batuk karena jamur antara lain :
-

Histoplasmosis
Aspergilosis
Kriptokokosis

Jamur merupakan mahluk atau benda yang dapat menginfeksi dan membentuk koloni di paru.
Jamur dapat menginfeksi atau berkoloni di paru antara lain Candida spp , Cryptococcus
nerformans ,Aspergillus fumigatus dan Histoplasma capsulatum.
Jamur dapat menginfeksi atau berkoloni melalui inhalasi menuju paru dan dapat memburuk
dengan 3 faktor patogenesis, yaitu : Daya tahan tubuh, virulensi varian, luas infeksi .
B. Penyebab batuk karena bakteri antara lain:
- Bronkhitis
- Pneumonia
- Bronkiektasis
- Abses Paru
Bakteri dapat menginfeksi paru apabila mekanisme pertahanan tubuh tidak dapat
mengkompensasinya lagi, baikitu dengan mekanik atau pun secara imun seluler, apabila bakteri
telah sampia pada jumlah infeksi nya dia akan merusak jaringan yang di tempatinya dan dapat
bermanifestasi batuk.
C. Penyebab batuk karena coronavirus:
Coronavirus menginfeksi sel epiteldi saluran nafas dan merubah kode RNAdi
sitoplasma sehingga dapat merusak sel dan menyebbakan gejalacommon cold .
D. Penyakit yang disebabkan parasit, dengan manifestasi batuk :
Satu-satu nya penyakit parasit yang sampai ke paru dan menimbulkansindrom loefler
adalah Ascariasis, Nematoda ini apabila telurnya tertelan oleh manusia dia akan menetas
dan larvanya akan melewati pembuluh darah dan jantung hingga ke paru-paru, setelah
dari paru-paru dia akan keluar dari paru-paru menuju trakea dan faring sehingga
menimbulkan refleks batuk.
7 KLASIFIKASI SPUTUM
Sebutkan dan jelaskan klasifikasi sputum.

5 klasifikasi sputum :
1. Purulen
: Sputum keadaan kentaldan lengket
2. Mukopurulen : Sputum keadaan lengket dan kehijauan
3. Mukoid
: Sputum dalam keadaan lendir dan kental
4. Hemoptisis : Sputum dalam keadaan bercampur darah
5. Saliva
: Air liur

Klasifikasi sputum dan kemungkinan penyebabnya menurut Price Wilson:


- Sputum yang dihasilkan saat membersihkan tenggorokankemungkinana berasal dari
sinus atau saluran hidung bukan dari saluran nafas bagian bawah.
- Sputum banyak sekalli danpurulen kemungkinan proses supuratif
- Sputum yang terbentuk perlahan dan terus meningkat kemungkinan bronkhitis atau
bronkiektasis
- Sputum hijua kemungkinan proses penimbunan nanah, warna hijua ini dikarenakna
adanya verdoperoksidase, sering ditemukan pada penderita bronkiektasis karena
penimbunan sputum dalam bronkus yang melebar dan terinfeksi
- Sputum merah berbusa kemungkinan tanda edema paru akut
Sputum berlendir, lekat warna abu-abu atau putih kemungkinan tanda bronkhitis
kronik
- Berdarah atau hemoptisis sering ditemukan pada penderita tuberculosis
- Berwarna biasanya ditemukan pada pneumococcus bakteri (penumonia)
- Warna mukopurulen kekuningan menunjukan pengobatan denagn antibiotik dapat
mengurangi gejala
- Warna hijau disebabkan oleh Neutrofil myeloperoksidase
PATOMEKANISME SPUTUM
Proses ini diawali dengan adanya pajanan terus menerus dari zat asing yang masuk ke
dalam tubuh. Zat asing tersebut harus dikeluarkan secara fisologis dengan silia dibantu
otot polos yang terdapat di saluran napas.
Pada keadaan abnormal dengan pajanan yang berlebihan, maka dapat menyebabkan
terjadinya reaksi inflamasi di saluran pernafasan.
Akibagt terjadinya inflamasi tersebut, terjadliah hyperplasia sel goblet dikarnakan beban
kerjanya menigkat.
Karena sel goblet menbgalami hyperplasia, maka jaringa submukosa yang tepat berada di
bawah lapisan sel goblet akan mengalami hipertrofi, sehingga dengan hyperplasia sel
goblet dan hipertropi submukosa maka kerja sel silindris berlapis bersilia meningkat.
Sel goblet mengeluarkan secret ke atas dan sel2 silia membawanya berjalan keluar,
melewati glotis dan dapat merangsang reflex batuk. Sehingga keluarlah sektret melalui
mekanisme batuk

PATOMEKANISME SIANOSIS

Sianosis dapat terjadi jika konsentrasi/ kadar hemoglobin yang tereduksi yang lebih dari 5 g
%. Normalnya, hemoglobin yang mengalir bersama darah akan mengikat O2 sehingga
hemoglobin akan teroksidasi.
Reaksinya : HB + O2 HbO2, dimana bilangan oksidasi Hb menjadi +4 setelah bereaksi
dengan O2.
Jika dalam aliran darah terdapat kandungan CO2 maka hemoglobin disamping berikatan
dengan O2 juga akan berikatan dengan CO2. Hal ini mengakibatkan terjadi peningkatan
kadar HB yang tereduksi oleh ikatan dengan CO2. Hal inilah yang dapat mengakibatkan
sianosis.Sianosis yang terjadi umumnya pada kuku, lidah, bibir maupun membrane mukosa.

2
O
C
r
d
t
S
s
o
n
a
i
H
p
D
h
k
e
b
m
lP
g
V
v
u

10 HUBUNGAN RIWAYAT IMUNISASI DENGAN SKENARIO


Imunisasi merupakan salah satu cara menurunkan angka kesakitan dan angka kematian
pada bayi dan balita. Dari seluruh kematian balita, sekitar 38% dapat dicegah dengan pemberian
imunisasi secara efektif. Imunisasi yang tidak lengkap merupakan faktor risiko yang dapat
meningkatakan insidens ISPA terutama pneumonia.
Bayi dan balita yang pernah terserang campak dan sembuh akan mendapat kekebalan
alami terhadap pneumonia sebagai komplikasi campak. Sebagian besar kematian ISPA berasal
dari jenis ISPA yang berkembang dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti

difteri, pertusis, campak. Peningkatan cakupan imunisasi akan berperan besar dalam upaya
pemberantasan ISPA. Untuk mengurangi faktor yang meningkatkan mortalitas ISPA, diupayakan
imunisasi lengkap.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20330/4/Chapter%20II.pdf
11. SULIT BERNAPAS KETIKA BATUK
Dispnea (sesak napas) berarti penderitaan mental yang diakibatkan oleh ketidakmampuan
ventilasi untuk memenuhi kebutuhan udara. Ketika seseorang batuk secara terus menerus
maka jumlah kerja otot-otot pernapasan untuk menghasilkan vantilasi meningkat sehingga
memberi sensasi dyspnea pada orang tersebut.
12. HUBUNGAN KENAIKAN SUHU DENGAN BATUK
Bagaimana hubungan keluhan utama batuk dengan kenaikan suhu tubuh ?
Keluhan utama batuk dan kenaikan suhu tubuh merupakan mekanisme pertahanan tubuh di
saluran pernapasan dan merupakan gejala suatu penyakit atau reaksi tubuh terhadap iritasi di
tenggorokan karena adanya infeksi. Keluhan batuk pada skenario disebabkan adanya
mikroorganisme yang menyebabkan terjadinya rangsangan reseptor batuk di hidung,
tenggorokan, atau dada. Reseptor tersebut kemudian menyampaikan pesan ke pusat batuk di otak
yang memberi perintah untuk batuk. Hidung menghirup napas, epiglotis dan pita suara menutup
rapat sehingga udara dalam paru-paru terjebak. Otot perut dan dada akan berkontraksi dengan
kuat sambil menekan sekat rongga tubuh. Akhirnya epiglotis akan membuka dengan tiba-tiba,
dan udara yang terjebak tadi mendadak keluar, maka terjadilah batuk.
Demam terjadi karena adanya mikroorganisme yang menginvasi tubuh sehinga akan merangsang
sel-sel makrofag, monosit, limfosit, dan endotel untuk melepaskan interleukin(IL)-1, IL-6,
Tumor Necrosing Factor(TNF)-, dan interferon(IFN)- yang selanjutnya akan disebut pirogen
endogen/sitokin. Pirogen endogen berikatan dengan reseptornya di daerah preoptik hipotalamus
akan merangsang hipotalamus untuk mengaktivasi fosfolipase-A2, yang akan melepas asam
arakhidonat dari membran fosfolipid, dan kemudian oleh enzim siklooksigenase-2 (COX-2)
diubah menjadi prostaglandin E2 (PGE2). Rangsangan prostaglandin secara langsung maupun
melalui pelepasan AMP siklik menyebabkan peningkatan suhu tubuh .
Referensi :
A.Price, Sylvia., M.Wilson, Lorraine. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Jakarta : EGC
13. ALUR DIAGNOSIS
Anamnesis. Tahap pertama kita harus mengetahui bagaimana permulaan batuk itu muncul,
lamanya, berdahak atau tidak, adakah paparan lingkungan, toksin atau alergen dan gejala terkait.

Gejala terkait yaitu sakit telinga, hidung tersumbat, sakit tenggorokkan, nyeri ulu hati atau sakit
perut. Batuk yang terjadi jika paparan lingkungan misalnya; dingin, debu, asap, angin, etc. Batuk
berdahak mukopurulen biasanya menandai adanya kelainan mukopurulen.
Pemeriksaan fisis.
1. Telinga, apakah ada benda asing dipermukaan luar maupun didalam telinga. Masih intake
atau tidak.
2. Nasofaring, sinus harus dipalpasi apakah ada nyeri dan pada nasale adakah ingus yang
menyumbat atau tanda bekas epistaksis. Edema mukosa hidung dan rhinorea yang
disebabkan oleh infeksi, alergi atau rinitis vasomotor yang menyebabkan batuk karena
drainase posterior di hipofaring. Faring adakah peradangan.
3. Leher, menggelembungnya vena-vena pada bagian cervical karena tekanan pada saraf
laringeal rekuren yang tertekan. Distensi vena jugular juga dapat menandakan adanya
edema paru yang dapat menyebabkan batuk.
4. Dada, pasien dengan keluhan batuk dapat terlihat dada yang hiperekspansi atau kontraksi
otot bantu nafas. Pada auskultasi terdengar ekspirasi yang memanjang ronchi kasar atau
wheezing. Pada penyakit parenkhim biasanya menimbulkan suara ronchi.
5. Abdomen, adanya massa atau peradangan subdiaphragma yang dapat menyebabkan
iritasi pada diaphragma. Batuk pada keadaan ini biasanya terjadi subakut atau kronik.
Pemeriksaan dahak.
1. Pewarnaan gram dan pemeriksaan basil tahan asam dalah suatu tindakan rutin
2. Kultur mikobacteria atau fungal. Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien yang
pemeriksaan dinding thorax nya terlihat infiltrat pada apex atau cavity dengan pasien
yang immunocompromised.
3. Pemeriksaan sitologi dilakukan pada pasien yang dicurigai menderita kanker paru.
Pencitraan.
1. Foto thorax dilakukan pada setiap kasus dimana dicurigai adanya kelainan di pleura,
parenkhim atau mediastinum.
DIAGNOSIS BANDING
14. PENGERTIAN
No.

Penyakit

Pengertian

1.

Bronkopneumonia

Peradangan parenkim paru, yang berbentu


bercak infiltrat yang tersebar.

2.

Bronkiolitis

Peradangan bronkiolus

3.

Pertusis

Penyakit saluran napas yang disebabkan


akibat bakteri yang sangat menular
(Bordetella Pertusis)

15. ETIOLOGI
Etiologi Bronkopenumonia :
Bronkopneumonia dapat juga dikatakan suatu peradangan pada parenkim paru yang disebabkan
oleh bakteri, virus, jamur. Bakteri seperti Diplococus pneumonia, Pneumococcus sp,
Streptococcus sp, Hemoliticus aureus, Haemophilus influenza, Basilus friendlander (Klebsial
pneumobia), dan Mycobacterium tuberculosis. Virus seperti Respiratory syntical virus, Virus
influenza, dan Virus sitomegalik. Jamur seperti Citoplasma capsulatum, Criptococcus nepromas,
Blastomices dematides, Cocedirides imunitis, Aspergillus sp, Candida albicans, dan
Mycoplasma pneumonia.
Meskipun hampir semua organisme dapat menyebabkan bronkopneumonia, penyebab yang
sering adalah stafilokokus, streptokokus, H. Influenza, Proteus sp dan Pseudomonas aeruginosa.
Keadaan ini dapat disebabkan oleh sejumlah besar organisme yang berbeda dengan patogenitas
yang bervariasi. Virus, tuberkolosis dan organisme dengan patogenisitas yang rendah dapat juga
menyebabkan bronkopneumonia, namun gambarnya bervariasi sesuai agen etiologinya.
Etiologi Bronkiolitis :
Bronkiolitis terutama disebabkan oleh Respiratory Syncitial Virus (RSV), 60-90% dari kasus,
dan sisanya disebabkam oleh virus Parainfluenzaetipe 1,2, dan 3, Influenzae B, Adenovirus tipe
1,2, dan 5, atau Mycoplasma
Terdapat dua macam strain antigen RSV yaitu A dan B. RSV strain A menyebabkan gejala yang
pernapasan lebih berat dan menimbulkan sekuele. Masa inkubasi RSV 2-5 hari.
RSV tetap menjadi penyebab 50-80% kasus. Penyebab lain termasuk virus parainfluenza,
terutama parainfluenza tipe 3, influenza, dan human metapneumovirus (HMPV). HMPV ditaksir
menyebabkan 3-19% kasus bronkiolitis. Kebanyakan anak-anak terinfeksi selama epidemik luas
musim dengan tahunan.

Etiologi Pertusis :
Penyebab pertusis adalah Bordetella pertusis atau Haemoephilus pertusis, adenovirus tipe 1, 2, 3,
dan 5. Ini dapat mengakibatkan suatu bronchitis akut, khususnya pada bayi dan anak-anak kecil
yang ditandai dengan batuk paroksismal berulan dan stridor inspiratori memanjang batuk
rejan.

Ada enam spesies dari Bordotella yaitu B. parapertusis, B bronchiseptica, B. avium, B. holmesii,
dan B. trematum. B. pertusis dan B. parapertusis adalah dua patogen yang paling umum
ditemukan pada manusia.
16. GEJALA KLINIS
Bronkopnemonia
Suhu tubuh 39-40 C
Kejang karena suhu badan yang tinggi
Gelisah
Dispnu
Cuping hidung dan sianosis
Muntah dan Diare
Brokiolitis
Batuk,
Pilek
Bersin-bersin
Frekuensi nafas yg meningkat (takipnu)
Pertusis

Batuk-batuk ringan (pd malam hari)


Pilek, serak, anoreksia dan demam ringan
Gelisah, muka merah dan sianosis
Muntah disertai sputum kental
17. EPIDEMIOLOGI

Bronkopneumoni

Bronkiolitis

Pertussis

Insiden penyakit ini pada


negara berkembang hampir
30% pada anak-anak di
bawah umur 5 tahun dengan
resiko
kematian
yang
tinggi,
sedangkan
di
Amerika
pneumonia
menunjukkan angka 13%
dari
seluruh
penyakit
infeksi pada anak di bawah
umur 2 tahun.

Bronkiolitis
merupakan
infeksi
saluran respiratori tersering pada
bayi. Paling sering terjadi pada usia 2
24 bulan, puncaknya pada usia 2
8 bulan. 95% kasus terjadi pada anak
berusia dibawah 2 tahun dan 75%
diantaranya terjadi pada anak
dibawah usia 1 tahun. Orenstein
menyatakan
bahwa
bronkiolitis
paling sering terjadi pada bayi lakilaki berusia 3 6 bulan yang tidak

Tersebar diseluruh dunia, ditempat


tempat yang padat penduduknya
dan dapat berupa endemik pada
anak. Merupakan penyakit paling
menular dengan attack rate 80-100
% pada penduduk yang rentan.
Bersifat endemik dengan siklus 3-4
tahun antara juli sampai oktober
sesudah
akumulasi
kelompok
rentan. Menyerang semua golongan
umur yang terbanyak anak umur ,

mendapatkan ASI, dan hidup 1tahun, perempuan lebih sering dari


dilingkungan padat penduduk.
laki laki, makin muda yang terkena
pertusis makin berbahaya.

18. PEMERIKSAAN PENUNJANG


1) Bronkopneumonia
1. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan darah
Pada kasus bronkopneumonia oleh bakteri akan terjadi leukositosis
(meningkatnya jumlah neutrofil). ( Sandra M,Nettina 2001: 684)
Pemeriksaan Sputum
Bahan pemeriksaan diperoleh dari batuk yang spontan dan dalam. Digunakan
untuk pemeriksaan mikroskopis dan untuk kultur serta tes sensifitas untuk
mendeteksi agen infeksius (Barbara C, Long, 1996 : 435)

Analisa gas darah untuk mengevaluasi status oksigenasi dan status asam basa
(Sandra M, Nettina, 2001 : 684)
Kultur darah untuk mendeteksi bakterimia
Sampel darah, sputum, dan urin untuk tes imunologi untuk mendeteksi antigen
mikroba (Sandra M, Nettina 2001 : 684)

2. Pemeriksaan Radiologi
Rontgenogram thoraks
Menunujukan konsolidasi lobar yang seringkali dijumpai pada infeksi pneumokokal
atau klebsiella. Infilrate multiple seringkali dijumpai pada infeksi stafilokokus dan
haemofilus (Barbara C, Long, 1996 : 435).

Laringoskopi / bronkoskopi untuk menentukan apakah jalan nafas tersumbat oleh


benda padat (Sandra M, Nettina, 2001).

2) Bronkiolitis
Pada pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan radiologis dijumpai gambaran hiperinflasi,
dengan infiltrat yang biasanya tidak luas. Bahkan ada kecenderungan ketidaksesuaian antara
gambaran klinis dan gambaran radiologis. Berbeda dengan pneumonia bakteri, gambaran klinis
yang berat akan menunjukkan gambaran kelainan radiologis yang berat pula, sementara pada
bronkiolitis gambaran klinis berat tanpa gambaran radiologis berat. Pada pemeriksaan
laboratorium (darah tepi) umumnya tidak memberikan gambaran yang bermakna, dapat disertai

dengan limfopenia. Pemeriksaan serologis RSV dapat dilakukan secara cepat, di negara maju
pemeriksaan ini menjadi pemeriksaan rutin apabila dicurigai adanya infeksi RSV.

3) Pertusis
Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan leukositosis 20.000-50.000/L dengan limfosistosis
absolut khas pada akhir stadium kataral dan selama stadium paroksismal. Pada bayi jumlah
lekositosis tidak menolong untuk diagnosis, oleh karena respons limfositosis juga terjadi pada
infeksi lain. Isolasi B. pertussis dari sekret nasofaring dipakai untuk membuat diagnosis pertusis
pada media khusus Bordet-gengou. Biakan positif pada stadium kataral 95-100%, stadium
paroksismal 94% pada minggu ke-3, dan menurun sampai 20% untuk waktu berikutnya.
Dengan metode PCR yang lebih sensitif dibanding pemeriksaan kultur untuk mendeteksi
B. pertussis, terutama setelah 3-4 minggu setelah batuk dan sudah diberikan pengobatan
antibiotik. PCR saat ini merupakan pilihan yang paling tepat karena nilai sensitivitas yang tinggi,
namun belum tersedia. Tes serologi berguna pada stadium lanjut penyakit dan untuk menentukan
adanya infeksi pada individu dengan biakan. Cara ELISA dapat dipakai untuk menentukan IgM,
IgG, dan IgA serum terhadap FHA dan PT. Nilai IgM serum FHA dan PT menggambarkan
respons imun primer baik disebabkan oleh penyakit atau vaksinasi. IgG toksin pertusis
merupakan tes yang paling sensitif dan spesifik untuk mengetahui infeksi alami dan tidak tampak
setelah imunisasi pertusis. Pemeriksaan lainnya yaitu foto toraks dapat memperlihatkan infiltrat
perihiler, atelektasis, atau empisema.
19. FAKTOR RISIKO
Bronkiolitis
Usia kurang dari 6 bulan

Bronkopneumoni
usia

Tidak pernah mendapat ASI


Prematur
Menghirup asap rokok

Status gizi
Riwayat penyakit dahulu
Faktor lingkungan

Pertussis
Vaksin yang memudar karena
factor usia
Usia kurang dari 6 bulan
Faktor lingkungan
Bayi prematur

20. KOMPLIKASI
Komplikasi dari bronchopneumonia adalah :
1. Atelektasis adalah pengembangan paru yang tidak sempurna atau kolaps paru yang merupakan
akibat kurangnya mobilisasi atau reflek batuk hilang
2. Empyema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalamrongga pleura yang
terdapat disatu tempat atau seluruh ronggapleura.

3. Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang
4. Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial
5. Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak.
6. Efusi pleura adalah akumulasi cairan yang berlebihan pada ronggapleura, cairan tersebut
mengisi ruangan yang mengelilingi paru. Cairan dalam jumlah yang berlebihan dapat
mengganggu pernapasan dengan membatasi peregangan paru selama inhalasi.
7. Pneumotoraks suatu kondisi dimana terdapat udara pada kavum pleura . Pada kondisi normal ,
rongga pleura tidak terisi udara sehingga paru mengembang terhadap rongga dada
8. Gagal napas suatu kondisi medis yang ditandai dengan ketidakmampuan paru untuk
mensuplai oksigen secukupnya ke seluruh tubuh atau mengeluarkan karbondioksida dari aliran
darah. Oleh karena itu, gagal nafas dapat diklasifikasikan sebagai hipoksemia atau hiperkapnia
9. Sepsis adalah kondisi medis serius di mana terjadi peradangan di seluruh tubuh yang
disebabkan oleh infeksi. Sepsis atau septicaemia adalah penyakit yang mengancam kehidupan
yang dapat terjadi ketika seluruh tubuh bereaksi terhadap infeksi.
Referensi :
A.Price, Sylvia., M.Wilson, Lorraine. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Jakarta : EGC

21. PENATALAKSANAAN
Bronkopneumonia
Penatalaksanaan pneumonia khususnya bronkopneumonia pada anak terdiri dari 2 macam, yaitu
penatalaksanaan umum dan khusus.
1

Penatalaksaan Umum.
a Pemberian oksigen lembab 2-4 L/menit sampai sesak nafas hilang atau
PaO2 pada analisis gas darah 60 torr.
b Pemasangan infus untuk dehidrasi dan koreksi elektrolit.
c Asidosis diatasi dengan pemberian bikarbonat intravena.
Penatalaksanaan Khusus.
a Mukolitik, ekspektoran dan obat penurun panas sebaiknya tidak diberikan
pada 72 jam pertama karena akan mengaburkan interpretasi reaksi antibioti
awal.
b Obat penurun panas diberikan hanya pada penderita dengan suhu tinggi,
takikardi, atau penderita kelainan jantung.

Pemberian antibiotika berdasarkan mikroorganisme penyebab dan manifestasi


klinis. Pneumonia ringan amoksisilin 10-25 mg/kgBB/dosis (di wilayah
dengan angka resistensi penisillin tinggi dosis dapat dinaikkan menjadi 80-90
mg/kgBB/hari).

Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan terapi :


1
2
3
4

Kuman yang dicurigai atas dasas data klinis, etiologis dan epidemiologis.
Berat ringan penyakit.
Riwayat pengobatan selanjutnya serta respon klinis.
Ada tidaknya penyakit yang mendasari.

Bronkiolitis
Infeksi oleh virus RSV biasanya sembuh sendiri ( self limited) sehingga pengobatan yang
ditujukan biasanya pengobatan suportif. Prinsip dasar penanganan suportif ini mencakup :
oksigenasi, pemberian cairan untuk mencegah dehidrasi dan nutrisi yang adekuat. Bronkiolitis
ringan biasanya bisa rawat jalan dan perlu diberikan cairan peroral yang adekuat. Bayi dengan
bronkiolitis sedang sampai berat harus dirawat inap. Tujuan perawatan di rumah sakit adalah
terapi suportif, mencegah dan mengatasi komplikasi, atau bila diperlukan pemberian antivirus.
Adapun penanganan bronkiolitis di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Dr.Soetomo antara lain :
1

Oksigenasi.
Oksigenasi dengan oksigen nasal atau masker, monitor dengan pulse
oxymetry dan bila perlu dilakukan analisa gas darah. Bila ada tanda gagal napas
diberikan bantuan ventilasi mekanik. Oksigen dapat diberikan melalui nasal prongs (2
liter/menit), masker (minimun 4 liter/menit) atau head box. Terapi oksigen dihentikan
bila pemeriksaan saturasi oksigen dengan pulse oximetry (SaO2) pada suhu ruangan
stabil diatas 94%.
Terapi cairan.
Pemberian cairan sangat penting untuk mencegah terjadinya dehidrasi akibat
keluarnya cairan lewat evaporasi, karena pernapasan yang cepat dan kesulitan minum.
Cara pemberian cairan ini bisa intravena atau nasogastrik. Akan tetapi, harus hati-hati
pemberian cairan lewat lambung karena dapat terjadi aspirasi dan menambah sesak
napas akibat lambung yang terisi cairan dan menekan diafragma ke paru-paru. Jumlah
cairan disesuaikan dengan berat badan, kenaikan suhu dan status dehidrasi.
Bronkodilator
Nebulasi dengan agonis 2 : salbutamol 0,1 mg/kgBB/dosis, diencerkan dengan
cairan normal saline, diberikan 4-6 kali per hari.
Obat-obatan.
Penggunaan antibiotik biasanya tidak diperlukan pada penderita bronkiolitis,
karena sebagian besar disebabkan oleh virus. Penggunaan antibiotik justru akan
meningkatkan infeksi sekunder oleh kuman yang resisten terhadap antibiotik
tersebut. Kecuali jika terdapat tanda-tanda infeksi sekunder seperti perubahan pada

kondisi umum penderita, peningkatan leukosit atau pergeseran hitung jenis, atau
adanya dugaan sepsis maka perlu diperiksa kultur darah, urine, feses dan cairan
serebrospinalis, untuk itu secepatnya diberikan antibiotik yang memiliki spektrum
luas. Oleh karena itu, untuk pengobatan penyakit ini dapat dilakukan dengan
memberikan ribavirin. Ribavirin adalah synthetic nucleoside analogue, menghambat
aktivitas virus termasuk RSV. Penggunaan ribavirin biasanya dengan cara nebulizer
aerosol 1218 jam per hari atau dosis kecil dengan 2 jam 3 x/hari.
Pertusis
Pada pasien anak usia 6 bulan dengan kasus ringan pengobatan dilakukansecara rawat jalan
dengan pemeriksaan penunjang. Sedangkan untuk anak < 6 bulan, pengobatan dilakukan dengan
perawatan di rumah sakit. Adapun penatalaksanaan yang dilakukan antara lain:
1

Obat-obatan.
Berikan eritromisin oral (12,5mg/kgBB/kali 4 kali sehari) selama 10 hari. Pemberian
obat ini tidak akan memperpendek lamanya sakit, tetapi akan menurunkan periode
infeksius. Beri imunisasi DPT pada pasien pertusis dan setiap anak dalam keluarga
yang imunisasinya belum lengkap. Antitusif dapat diberikan apabila batuk sangat
mengganggu.
Oksigenasi.
Berikan oksigen pada anak bila terjadi sianosis. Gunakan nasal prongs bukan kateter
nasal karena akan memicu batuk pada anak. Lakukan pemeriksaan oksigen 3 jam
sekali untuk memastikan oksigen tetap berjalan baik.
Tatalaksana jalan napas
Selama batuk paroksismal, letakkan anak dengan posisi kepala lebih rendah dalam
posisi tertelungkup atau miring untuk mencegah aspirasi muntahan dan membantu
pengeluaran sekret. Selain itu pastikan jalan napas bersih dari mukus.

Referensi:

Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2012. Panduan Pelayanan Medis Ilmu Kesehatan Anak.
Jakarta: Penerbit IDAI
2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi VI. Jakarta. InternaPublishing.
22. PENCEGAHAN

Bronkopneumonia
1. Pencegahan Primer
Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang sehat agar
tetap sehat atau mencegah orang yang sehat agar tidak sakit. Secara garis besar, upaya
pencegahan ini dapat berupa pencegahan umum dan pencegahan khusus.
Pencegahan primer bertujuan untuk menghilangkan faktor risiko terhadap kejadian
bronkopneumonia. Upaya yang dapat dilakukan anatara lain :

a. Memberikan imunisasi BCG satu kali (pada usia 0-11 bulan), Campak satu kali (pada
usia 9-11 bulan), DPT (Diphteri, Pertusis, Tetanus) sebanyak 6 kali (pada usia 2-11
bulan), Polio sebanyak 4 kali (pada usia 2-11 bulan), dan Hepatitis B sebanyak 3 kali (0-9
bulan)
b. Menjaga daya tahan tubuh anak dengan cara memberika ASI pada bayi neonatal sampai
berumur 2 tahun dan makanan yang bergizi pada balita.
c. Mengurangi polusi lingkungan seperti polusi udara dalam ruangan dan polusi di luar
ruangan.
d. Mengurangi kepadatan hunian rumah.
2. Pencegahan Sekunder
Tingkat pencegahan kedua ini merupakan upaya manusia untuk mencegah orang telah sakit agar
sembuh, menghambat progesifitas penyakit, menghindari komplikasi, dan mengurangi
ketidakmampuan. Pencegahan sekunder meliputi diagnosis dini dan pengobatan yang tepat
sehingga dapat mencegah meluasnya penyakit dan terjadinya komplikasi. Upaya yang dilakukan
antara lain :
a. Bronkopneumonia berat : rawat di rumah sakit, berikan oksigen, beri antibiotik
benzilpenisilin, obati demam, obati mengi, beri perawatan suportif, nilai setiap hari.
b. Bronkopneumonia : berikan kotrimoksasol, obati demam, obati mengi.
c. Bukan Bronkopneumonia : perawatan di rumah, obati demam.
3. Pencegahan Tersier
Pencegahan ini dimaksudkan untuk mengurangi ketidakmampuan dan mengadakan rehabilitasi.
Upaya yang dapat dilakukan anatara lain :
a. Memberi makan anak selama sakit, tingkatkan pemberian makan setelah sakit.
b. Bersihkan hidung jika terdapat sumbatan pada hidung yang menganggu proses pemberian
makan.
c. Berikan anak cairan tambahan untuk minum.
d. Tingkatkan pemberian ASI.
e. Legakan tenggorok dan sembuhkan batuk dengan obat yang aman.
f. Ibu sebaiknya memperhatikan tanda-tanda seperti: bernapas menjadi sulit, pernapasan
menjadi cepat, anak tidak dapat minum, kondisi anak memburuk, jika terdapat tandatanda seperti itu segera membawa anak ke petugas kesehatan.
Bronkiolitis

Pemberian immunoglobulin dan vaksinasi. Immunoglobulin tersebut adalah imunisasi pasif.


Edukasi untuk lebih menjaga higienitas umum, terutama lebih menghindari kontak langsung dengan
penderita, hal tersebut bisa dicegah dengan memakai masker. Jika sudah terkena maka harus diberi
perawatan intensif. Pemberian ASI pada bayi dapat mengurangi resiko terjadinya infeksi.
Pertusis
Pencegahan terhadap Pertussis dapat dilakukan secara aktif dan pasif. Secara aktif yaitu dengan
memberikan vaksin Pertussis dalam jumlah 12 unit dibagi dalam 3 dosis dengan interval 8 minggu.
Vaksin yang digunakan adalah vaksin DPT (Difteria, Pertussis, Tetanus). Secara pasif yaitu dengan
memberikan kemoprofilaksis. Perlu diingat bahwa tidak ada imunitas terhadap Pertussis.