Anda di halaman 1dari 16

Obat anestesi intravena adalah obat anestesi yang diberikan melalui jalur intravena, baik obat

yang berkhasiat hipnotik atau analgetik maupun pelumpuh otot. Setelah berada didalam
pembuluh darah vena, obat obat ini akan diedarkan ke seluruh jaringan tubuh melalui
sirkulasi umum, selanjutnya akan menuju target organ masing masing dan akhirnya
diekskresikan sesuai dengan farmakodinamiknya masing-masing.
Anestesi yang ideal akan bekerja secara cepat dan baik serta mengembalikan kesadaran dengan
cepat segera sesudah pemberian dihentikan. Selain itu batas keamanan pemakaian harus cukup
lebar dengan efek samping yang sangat minimal. Tidak satupun obat anestesi dapat
memberikan efek samping yang sangat minimal. Tidak satupun obat anestesi dapat memberikan
efek yang diharapkan tanpa efek samping, bila diberikan secara tunggal.
Pemilihan teknik anestesi merupakan hal yang sangat penting, membutuhkan pertimbangan
yang sangat matang dari pasien dan faktor pembedahan yang akan dilaksanakan, pada populasi
umum walaupun regional anestesi dikatakan lebih aman daripada general anestesi, tetapi tidak
ada bukti yang meyakinkan bahwa teknik yang satu lebih baik dari yang lain, sehingga
penentuan teknik anestesi menjadi sangat penting.
Pemahaman tentang sirkulasi darah sangatlah penting sebelum obat dapat diberikan secara
langsung ke dalam aliran darah, kedua hal tersebut yang menjadi dasar pemikiran sebelum
akhirnya anestesi intravena berhasil ditemukan.
William Morton , tahun 1846 di Boston , pertama kali menggunakan obat anestesi dietil eter
untuk menghilangkan nyeri selama operasi. Di jerman tahun 1909, Ludwig Burkhardt,
melakukan pembiusan dengan menggunakan kloroform dan ether melalui intravena, tujuh
tahun kemudian, Elisabeth Brendenfeld dari Swiss melaporkan penggunaan morfin dan
skopolamin secara intravena.
Sejak diperkenalkan di klinis pada tahun 1934, Thiopental menjadi Gold Standard dari obat
obat anestesi lainnya, berbagai jenis obat-obat hipnotik tersedia dalam bentuk intavena,
namun obat anestesi intravena yang ideal belum bisa ditemukan. Penemuan obat obat ini
masih terus berlangsung sampai sekarang.
1. Teknik Anestesi
Teknik anestesia merupakan suatu teknik pembiusan dengan memasukkan obat langsung ke
dalam pembuluh darah secara parenteral, obat-obat tersebut digunakan untuk premedikasi
seperti diazepam dan analgetik narkotik. induksi anestesi seperti misalnya tiopenton yang juga
digunakan sebagai pemeliharaan dan juga sebagai tambahan pada tindakan analgesia regional.
2. Jenis Obat Anesthesi
Dalam perkembangan selanjutnya terdapat beberapa jenis obat obat anestesi dan yang
digunakan di indonesia hanya beberapa jenis obat saja seperti, Tiopenton, Diazepam ,
Degidrobenzperidol, Fentanil, Ketamin dan Propofol. Berikut ini akan dijelaskan lebih jauh
mengenai obat obat anestesi intravena tersebut.

2.1 Propofol ( 2,6 diisopropylphenol )


Merupakan derivat fenol yang banyak digunakan sebagai anastesia intravena dan lebih dikenal
dengan nama dagang Diprivan. Pertama kali digunakan dalam praktek anestesi pada tahun 1977
sebagai obat induksi.
Propofol digunakan untuk induksi dan pemeliharaan dalam anastesia umum, pada pasien
dewasa dan pasien anak anak usia lebih dari 3 tahun. Mengandung lecitin, glycerol dan minyak
soybean, sedangkan pertumbuhan kuman dihambat oleh adanya asam etilendiamintetraasetat
atau sulfat, hal tersebut sangat tergantung pada pabrik pembuat obatnya. Obat ini dikemas
dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu bersifat isotonik dengan kepekatan 1 % (1 ml =
10 mg).
2.1.2 Mekanisme kerja
Mekanisme kerjanya sampai saat ini masih kurang diketahui ,tapi diperkirakan efek primernya
berlangsung di reseptor GABA A (Gamma Amino Butired Acid).
2.1.3 Farmakokinetik
Digunakan secara intravena dan bersifat lipofilik dimana 98% terikat protein plasma, eliminasi
dari obat ini terjadi di hepar menjadi suatu metabolit tidak aktif, waktu paruh propofol
diperkirakan berkisar antara 2 24 jam. Namun dalam kenyataanya di klinis jauh lebih pendek
karena propofol didistribusikan secara cepat ke jaringan tepi. Dosis induksi cepat menyebabkan
sedasi ( rata rata 30 45 detik ) dan kecepatan untuk pulih juga relatif singkat. Satu ampul
20ml mengandung propofol 10mg/ml. Popofol bersifat hipnotik murni tanpa disertai efek
analgetik ataupun relaksasi otot.
2.1.4 Farmakodinamik
Pada sistem saraf pusat
Dosis induksi menyebabkan pasien tidak sadar, dimana dalam dosis yang kecil dapat
menimbulkan efek sedasi, tanpa disetai efek analgetik, pada pemberian dosis induksi (2mg
/kgBB) pemulihan kesadaran berlangsung cepat.
Pada sistem kardiovaskular
Dapat menyebakan depresi pada jantung dan pembuluh darah dimana tekanan dapat turun
sekali disertai dengan peningkatan denyut nadi, pengaruh terhadap frekuensi jantung juga
sangat minim.
Sistem pernafasan
Dapat menurunkan frekuensi pernafasan dan volume tidal, dalam beberapa kasus dapat
menyebabkan henti nafas kebanyakan muncul pada pemberian diprivan
2.1.5 Dosis dan penggunaan
a) Induksi : 2,0 sampai 2.5 mg/kg IV.

b) Sedasi : 25 to 75 g/kg/min dengan I.V infuse


c) Dosis pemeliharaan pada anastesi umum : 100 150 g/kg/min IV (titrate to effect).
d) Turunkan dosis pada orang tua atau gangguan hemodinamik atau apabila digabung
penggunaanya dengan obat anastesi yang lain.
e) Dapat dilarutkan dengan Dextrosa 5 % untuk mendapatkan konsentrasi yang minimal 0,2%
f) Profofol mendukung perkembangan bakteri, sehingga harus berada dalam lingkungan yang
steril dan hindari profofol dalam kondisi sudah terbuka lebih dari 6 jam untuk mencegah
kontaminasi dari bakteri.
2.1.6 Efek Samping
Dapat menyebabkan nyeri selama pemberian pada 50% sampai 75%. Nyeri ini bisa muncul akibat
iritasi pembuluh darah vena, nyeri pada pemberian propofol dapat dihilangkan dengan
menggunakan lidocain (0,5 mg/kg) dan jika mungkin dapat diberikan 1 sampai 2 menit dengan
pemasangan torniquet pada bagian proksimal tempat suntikan, berikan secara I.V melaui vena
yang besar. Gejala mual dan muntah juga sering sekali ditemui pada pasien setelah operasi
menggunakan propofol. Propofol merupakan emulsi lemak sehingga pemberiannya harus hati
hati pada pasien dengan gangguan metabolisme lemak seperti hiperlipidemia dan pankreatitis.
2.2Tiopenton
Pertama kali diperkenalkan tahun 1963. Tiopental sekarang lebih dikenal dengan nama sodium
Penthotal, Thiopenal, Thiopenton Sodium atau Trapanal yang merupakan obat anestesi umum
barbiturat short acting, tiopentol dapat mencapai otak dengan cepat dan memiliki onset yang
cepat (30-45 detik). Dalam waktu 1 menit tiopenton sudah mencapai puncak konsentrasi dan
setelah 5 10 menit konsentrasi mulai menurun di otak dan kesadaran kembali seperti semula.
Dosis yang banyak atau dengan menggunakan infus akan menghasilkan efek sedasi dan
hilangnya kesadaran.
Beberapa jenis barbiturat seperti thiopental [5-ethyl-5-(1-methylbutyl)-2-thiobarbituric acid],
methohexital [1-methyl-5-allyl-5-(1-methyl-2-pentynyl)barbituric acid], dan thiamylal [5-allyl5-(1-methylbutyl)-2-thiobarbituric acid]. Thiopental (Pentothal) dan thiamylal (Surital)
merupakan thiobarbiturates, sedangan methohexital (Brevital) adalah oxybarbiturate.
Walaupun terdapat beberapa barbiturat dengan masa kerja ultra singkat , tiopental merupakan
obat terlazim yang dipergunakan untuk induksi anasthesi dan banyak dipergunakan untuk
induksi anestesi.
2.1.1 Mekanisme kerja
Barbiturat terutama bekerja pada reseptor GABA dimana barbiturat akan menyebabkan
hambatan pada reseptor GABA pada sistem saraf pusat, barbiturat menekan sistem aktivasi
retikuler, suatu jaringan polisinap komplek dari saraf dan pusat regulasi, yang beberapa
terletak dibatang otak yang mampu mengontrol beberapa fungsi vital termasuk kesadaran.
Pada konsentrasi klinis, barbiturat secara khusus lebih berpengaruh pada sinap saraf dari pada
akson. Barbiturat menekan transmisi neurotransmitter inhibitor seperti asam gamma

aminobutirik (GABA). Mekanisme spesifik diantaranya dengan pelepasan transmitter (presinap)


dan interaksi selektif dengan reseptor (postsinap).
2.1.2 Farmakokinetik
Absorbsi
Pada anestesiologi klinis, barbiturat paling banyak diberikan secara intravena untuk induksi
anestesi umum pada orang dewasa dan anak anak. Perkecualian pada tiopental rektal atau
sekobarbital atau metoheksital untuk induksi pada anak anak. Sedangkan phenobarbital atau
sekobarbital intramuskular untuk premedikasi pada semua kelompok umur.
Distribusi
Pada pemberian intravena, segera didistribusikan ke seluruh jaringan tubuh selanjutnya akan
diikat oleh jaringan saraf dan jaringan lain yang kaya akan vaskularisasi, secara perlahan akan
mengalami difusi kedalam jaringan lain seperti hati, otot, dan jaringan lemak. Setelah terjadi
penurunan konsentrasi obat dalam plasma ini terutama oleh karena redistribusi obat dari otak
ke dalam jaringan lemak.
Metabolisme
Metabolisme terjadi di hepar menjadi bentuk yang inaktif.
Ekskresi
Sebagian besar akan diekskresikan lewat urine, dimana eliminasi terjadi 3 ml/kg/menit dan
pada anak anak terjadi 6 ml/kg/menit.
2.1.3 Farmakodinamik
Pada Sistem saraf pusat
Dapat menyebabkan hilangnya kesadaran tetapi menimbulkan hiperalgesia pada dosis
subhipnotik, menghasilkan penurunan metabolisme serebral dan aliran darah sedangkan pada
dosis yang tinggi akan menghasilkan isoelektrik elektroensepalogram.
Sistem kardiovaskular
Menurunkan tekanan darah dan cardiac output ,dan dapat meningkatkan frekwensi jantung,
penurunan tekanan darah sangat tergantung dari konsentrasi obat dalam plasma. Hal ini
disebabkan karena efek depresinya pada otot jantung, sehingga curah jantung turun, dan
dilatasi pembuluh darah. Iritabilitas otot jantung tidak terpengaruh, tetapi bisa menimbulkan
disritmia bila terjadi resistensi Co2 atau hipoksia. Penurunan tekanan darah yang bersifat
ringan akan pulih normal dalam beberapa menit tetapi bila obat disuntik secara cepat atau
dosisnya tinggi dapat terjadi hipotensi yang berat. Hal ini terutama akibat dilatasi pembuluh
darah karena depresi pusat vasomotor. Dilain pihak turunnya tekanan darah juga dapat terjadi
oleh karena efek depresi langsung obat pada miokard.

Sistem pernafasan
Akan mennyebabkan penurunan frekwensi nafas dan volume tidal. bahkan dapat sampai
menyebakan terjadinya asidosis respiratorik.
2.1.4 Dosis
Dosis yang biasanya diberikan berkisar antara 3-5 mg/kg. Untuk menghindarkan efek negatif
dari tiopental tadi sering diberikan dosis kecil dulu 50-75 mg sambil menunggu reaksi pasien.
2.1.5 Efek samping
Efek samping yang dapat ditimbulkan seperti alergi, sehingga jangan memberikan obat ini
kepada pasien yang memiliki riwayat alergi terhadap barbiturat, sebab hal ini dapat
menyebabkan terjadinya reaksi anafilaksis yang jarang terjadi, barbiturat juga kontraindikasi
pada pasien dengan porfiria akut, karena barbiturat akan menginduksi enzim d-aminoleuvulinic
acid sintetase, dan dapat memicu terjadinya serangan akut. Iritasi vena dan kerusakan jaringan
akan menyebakan nyeri pada saat pemberian melalui I.V, hal ini dapat diatasi dengan
pemberian heparin dan dilakukan blok regional simpatis.
2.2 Ketamin
Ketamine (Ketalar or Ketaject) merupakan arylcyclohexylamine yang memiliki struktur mirip
dengan phencyclidine. Ketamin pertama kali disintesis tahun 1962, dimana awalnya obat ini
disintesis untuk menggantikan obat anestetik yang lama (phencyclidine) yang lebih sering
menyebabkan halusinasi dan kejang. Obat ini pertama kali diberikan pada tentara amerika
selama perang Vietnam.
Ketamin hidroklorida adalah golongan fenil sikloheksilamin, merupakan rapid acting non
barbiturate general anesthesia. Ketalar sebagai nama dagang yang pertama kali diperkenalkan
oleh Domino dan Carson tahun 1965 yang digunakan sebagai anestesi umum.
Ketamin kurang digemari untuk induksi anastesia, karena sering menimbulkan takikardi,
hipertensi , hipersalivasi , nyeri kepala, pasca anasthesi dapat menimbulkan muntah muntah ,
pandangan kabur dan mimpi buruk.
Ketamin juga sering menebabkan terjadinya disorientasi, ilusi sensoris dan persepsi dan mimpi
gembira yang mengikuti anesthesia, dan sering disebut dengan emergence phenomena.
2.2.1 Mekanisme kerja
Beberapa kepustakaan menyebutkan bahwa blok terhadap reseptor opiat dalam otak dan
medulla spinalis yang memberikan efek analgesik, sedangkan interaksi terhadap reseptor
metilaspartat dapat menyebakan anastesi umum dan juga efek analgesik.
2.2.2 Efek farmakologis
Efek pada susunan saraf pusat
Apabila diberikan intravena maka dalam waktu 30 detik pasien akan mengalami perubahan
tingkat kesadaran yang disertai tanda khas pada mata berupa kelopak mata terbuka spontan

dan nistagmus. Selain itu kadang-kadang dijumpai gerakan yang tidak disadari, seperti gerakan
mengunyah, menelan, tremor dan kejang. Apabila diberikan secara intramuskular, efeknya akan
tampak dalam 5-8 menit, sering mengakibatkan mimpi buruk dan halusinasi pada periode
pemulihan sehingga pasien mengalami agitasi. Aliran darah ke otak meningkat, menimbulkan
peningkatan tekanan darah intrakranial.
Efek pada mata
Menimbulkan lakrimasi, nistagmus dan kelopak mata terbuka spontan, terjadi peningkatan
tekanan intraokuler akibat peningkatan aliran darah pada pleksus koroidalis.
Efek pada sistem kardiovaskular.
Ketamin adalah obat anestesia yang bersifat simpatomimetik, sehingga bisa meningkatkan
tekanan darah dan jantung. Peningkatan tekanan darah akibat efek inotropik positif dan
vasokonstriksi pembuluh darah perifer.
Efek pada sistem respirasi
Pada dosis biasa, tidak mempunyai pengaruh terhadap sistem respirasi. dapat menimbulkan
dilatasi bronkus karena sifat simpatomimetiknya, sehingga merupakan obat pilihan pada pasien
ashma.
2.2.3 Dosis dan pemberian
Ketamin merupakan obat yang dapat diberikan secara intramuskular apabila akses pembuluh
darah sulit didapat contohnya pada anak anak. Ketamin bersifat larut air sehingga dapat
diberikan secara I.V atau I.M. dosis induksi adalah 1 2 mg/KgBB secara I.V atau 5 10
mg/Kgbb I.M , untuk dosis sedatif lebih rendah yaitu 0,2 mg/KgBB dan harus dititrasi untuk
mendapatkan efek yang diinginkan.
Untuk pemeliharaan dapat diberikan secara intermitten atau kontinyu. Emberian secara
intermitten diulang setiap 10 15 menitdengan dosis setengah dari dosis awal sampai operasi
selesai.
2.2.4 Farmakokinetik
Absorbsi
Pemberian ketamin dapat dilakukan secara intravena atau intramuscular
Distribusi
Ketamin lebih larut dalam lemak sehingga dengan cepat akan didistribusikan ke seluruh
organ.10 Efek muncul dalam 30 60 detik setelah pemberian secara I.V dengan dosis induksi,
dan akan kembali sadar setelah 15 20 menit. Jika diberikan secara I.M maka efek baru akan
muncul setelah 15 menit.

Metabolisme
Ketamin mengalami biotransformasi oleh enzim mikrosomal hati menjadi beberapa metabolit
yang masih aktif.
Ekskresi
Produk akhir dari biotransformasi ketamin diekskresikan melalui ginjal.
2.2.5 Efek samping
Dapat menyebabkan efek samping berupa peningkatan sekresi air liur pada mulut,selain itu
dapat menimbulkan agitasi dan perasaan lelah , halusinasi dan mimpi buruk juga terjadi pasca
operasi, pada otot dapat menimbulkan efek mioklonus pada otot rangka selain itu ketamin juga
dapat meningkatkan tekanan intracranial. Pada mata dapat menyebabkan terjadinya nistagmus
dan diplopia.
2.2.6 Kontra indikasi
Mengingat efek farmakodinamiknya yang relative kompleks seperti yang telah disebutkan
diatas, maka penggunaannya terbatas pada pasien normal saja. Pada pasien yang menderita
penyakit sistemik penggunaanya harus dipertimbangkan seperti tekanan intrakranial yang
meningkat, misalnya pada trauma kepala, tumor otak dan operasi intrakranial, tekanan
intraokuler meningkat, misalnya pada penyakit glaukoma dan pada operasi intraokuler. Pasien
yang menderita penyakit sistemik yang sensitif terhadap obat obat simpatomimetik, seperti ;
hipertensi tirotoksikosis, Diabetes militus , PJK dll.
2.3 Opioid
Opioid telah digunakkan dalam penatalaksanaan nyeri selama ratusan tahun. Obat opium
didapat dari ekstrak biji buah poppy papaverum somniferum, dan kata opium berasal dari
bahasa yunani yang berarti getah.
Opium mengandung lebih dari 20 alkaloid opioids. Morphine, meperidine, fentanyl, sufentanil,
alfentanil, and remifentanil merupakan golongan opioid yang sering digunakan dalam general
anestesi. efek utamanya adalah analgetik. Dalam dosis yang besar opioid kadang digunakan
dalam operasi kardiak. Opioid berbeda dalam potensi, farmakokinetik dan efek samping.
2.3.1 Mekanisme kerja
Opioid berikatan pada reseptor spesifik yang terletak pada system saraf pusat dan jaringan
lain. Empat tipe mayor reseptor opioid yaitu , ,,,. Walaupun opioid menimbulkan sedikit
efek sedasi, opioid lebih efektif sebagai analgesia. Farmakodinamik dari spesifik opioid
tergantung ikatannya dengan reseptor, afinitas ikatan dan apakah reseptornya aktif. Aktivasi
reseptor opiat menghambat pelepasan presinaptik dan respon postsinaptik terhadap
neurotransmitter ekstatori (seperti asetilkolin) dari neuron nosiseptif.
2.3.2 Dosis

Premedikasi petidin diberikan I.M dengan dosis 1 mg/kgbb atau intravena 0,5 mg/Kgbb,
sedangakan morfin sepersepuluh dari petidin dan fentanil seperseratus dari petidin.
2.3.3 Farmakokinetik
Absorbsi
Cepat dan komplit terjadi setelah injeksi morfin dan meperedin intramuskuler, dengan puncak
level plasma setelah 20-60 menit. Fentanil sitrat transmukosal oral merupakan metode efektif
menghasilkan analgesia dan sedasi dengan onset cepat (10 menit) analgesia dan sedasi pada
anak-anak (15-20 g/Kg) dan dewasa (200-800 g).
Distribusi
Waktu paruh opioid umumnya cepat (5-20 menit). Kelarutan lemak yang rendah dan morfin
memperlambat laju melewati sawar darah otak, sehingga onset kerja lambat dan durasi kerja
juga Iebih panjang. Sebaliknya fentanil dan sufentanil onsetnya cepat dan durasi singkat
setelah injeksi bolus.
Metabolisme
Metabolisme sangat tergantung pada biotransformasinya di hepar, aliran darah hepar. Produk
akhir berupa bentuk yang tidak aktif.
Ekskresi
Eliminasi terutama oleh metabolisme hati, kurang lebih 10% melewati bilier dan tergantung
pada aliran darah hepar. 5 10% opioid diekskresikan lewat urine dalam bentuk metabolit aktif,
remifentanil dimetabolisme oleh sirkulasi darah dan otot polos esterase.
2.3.4 Farmakodinamik
Efek pada sistem kardiovaskuler
System kardiovaskuler tidak mengalami perubahan baik kontraktilitas otot jantung maupun
tonus otot pembuluh darah 3.Tahanan pembuluh darah biasanya akan menurun karena terjadi
penurunan aliran simpatis medulla, tahanan sistemik juga menurun hebat pada pemberian
meperidin atau morfin karena adanya pelepasan histamin.
Efek pada sistem pernafasan
Dapat meyebabkan penekanan pusat nafas, ditandai dengan penurunan frekuensi nafas, dengan
jumlah volume tidal yang menurun .11 PaCO2 meningkat dan respon terhadap CO2 tumpul
sehingga kurve respon CO2 menurun dan bergeser ke kanan, selain itu juga mampu
menimbulkan depresi pusat nafas akibat depresi pusat nafas atau kelenturan otot nafas, opioid
juga bisa merangsang refleks batuk pada dosis tertentu.
Efek pada Sistem gastrointestinal

Opioid menyebabkan penurunan peristaltik sehingga pengosongan lambung juga terhambat.


Endokrin
Fentanil mampu menekan respon sistem hormonal dan metabolik akibat stress anesthesia dan
pembedahan, sehingga kadar hormon katabolik dalam darah relatif stabil.
2.4 Benzodiazepin
Golongan benzodiazepine yang sering digunakan oleh anestesiologi adalah Diazepam (valium),
Lorazepam (Ativan) dan Midazolam (Versed), diazepam dan lorazepam tidak larut dalam air dan
kandungannya berupa propylene glycol. Diazepam tersedia dalam sediaan emulsi lemak
(Diazemuls atau Dizac), yang tidak menyebakan nyeri atau tromboplebitis tetapi hal itu
berhubungan bioaviabilitasnya yang rendah, midazolam merupakan benzodiazepin yang larut
air yang tersedia dalam larutan dengan PH 3,5.
2.4.1 Dosis
Dosis midazolam bervariasi tergantung dari pasien itu sendiri.
Untuk preoperatif digunakan 0,5 2,5mg/kgbb
Untuk keperluan endoskopi digunakan dosis 3 5 mg
Sedasi pada analgesia regional, diberikan intravena.
Menghilangkan halusinasi pada pemberian ketamin.
2.4.2 Farmakokinetik
Obat golongan benzodiazepine dimetabolisme di hepar, efek puncak akan muncul setelah 4 8
menit setelah diazepam disuntikkan secara I.V dan waktu paruh dari benzodiazepine ini adalah
20 jam. Dosis ulangan akan menyebabkan terjadinya akumulasi dan pemanjangan efeknya
sendiri. Midazolam dan diazepam didistribusikan secara cepat setelah injeksi bolus,
metabolisme mungkin akan tampak lambat pada pasien tua.
2.4.3 Farmakodinamik
Dalam sistem saraf pusat
Dapat menimbulkan amnesia, anti kejang, hipnotik, relaksasi otot dan mepunyai efek sedasi,
efek analgesik tidak ada, menurunkan aliran darah otak dan laju metabolisme.
Efek Kardiovaskuler
Menyebabkan vasodilatasi sistemik yang ringan dan menurunkan cardiac out put. Ttidak
mempengaruhi frekuensi denyut jantung, perubahan hemodinamik mungkin terjadi pada dosis
yang besar atau apabila dikombinasi dengan opioid.
Sistem Respiratori

Mempengaruhi penurunan frekuensi nafas dan volume tidal , depresi pusat nafas mungkin dapat
terjadi pada pasien dengan penyakit paru atau pasien dengan retardasi mental.
Efek terhadap saraf otot
Menimbulkan penurunan tonus otot rangka yang bekerja di tingkat supraspinal dan spinal ,
sehingga sering digunakan pada pasien yang menderita kekakuan otot rangka
OBAT-OBATAN SEDATIF
Kebanyakan obat-obatan sedatif dikategorikan dalam satu dari tiga kelompok utama,
yaitu: Benzodiazepin, neuroleptik dan agonis a2- adrenoseptor. Obat-obatan ini lebih
sering di klasifikasikan sebagai jenis anestesi intravena, terutama propofol dan
ketamin, juga digunakan sebagai obat sedatif dengan dosis subanestetik; farmakologi
obat ini telah dijelaskan pada bab 3. Anestesi inhalasi juga sering digunakan sebagai
sedatif dalam kadar subanestetik.
BENZODIAZEPIN
Obat-obatan ini awalnya dikembangkan untuk keperluan obat anxiolytik dan hypnotik
dan pada tahun 1960-an menggantikan obat barbiturat oral. Agar sediaan parenteral
tersedia, mereka terus mengembangkan di anestesi dan perawatan intensif. Semua
benzodiazepin mempunyai efek farmakologi yang sama, efek terapi ini ditentukan
oleh potensi dan ketersediaan obat-obatan. Benzodiazepin diklasifikasi berdasarkan
lama kerja obat, yaitu sebagai lama kerja panjang (diazepam), lama kerja sedang
(temazepam), lama kerja pendek (midazolam).
FARMAKOLOGI
Mekanisme Aksi
Benzodiazepin bekerja oleh daya ikatan yang spesifik pada reseptor benzodiazepin,
yang mana merupakan bagian dari kompleks reseptor asam g aminobutirik (GABA).
GABA merupakan inhibitor utama neurotransmiter di susunan saraf pusat (SSP),
melalui neuron-neuron modulasi GABA ergik. Reseptor Benzodiazepin berikatan
dengan reseptor subtipe GABAA. Berikatan dengan reseptor agonis menyebabkan
masuknya ion klorida dalam sel, yang menyebabakan hiperpolarisasi dari membran
postsinpatik, dimana dapat membuat neuron ini resisten terhadap rangsangan.
Dengan cara demikian obat ini memfasilitasi efek inhibitor dari GABA. Reseptor
benzodiazepin dapat ditemukan di otak dan medula spinalis, dengan densitas tinggi
pada korteks serebral, serebelum dan hipokampus dan densitas rendah pada medula
spinalis. Tidak adanya reseptor GABA selain di SSP, hal ini aman bagi sistem
kardiovaskuler pada saat penggunaan obat ini.
Efek Benzodiazepin pada SSP ditunjukan pada hubungan dengan kemampuan
reseptor.

Dosis midazolam Efek

Kemampuan Dosis flumazenil


reseptor (%) untuk membalikan

Dosis rendah

Antiepilepsi

20-25

Anxiolisis

20-30

Sedasi ringan

25-50

Penurunnan perhatian

60-90

Dosis rendah

Amnesia
Sedasi kuat
Relaksasi otot
Dosis tinggi

Anestesi

Dosis tinggi

Reseptor GABA merupakan reseptor dengan struktur besar yang mempunyai ikatan
yang terpisah dengan obat lain yaitu barbiturat, alkohol dan propofol. Ikatan dengan
komponen yang lain pada reseptor benzodiazepin menunjukan efek sinergis dengan
beberapa obat lain. Efek sinergis ini menunjukan bahaya depresi SSP jika obat
digunakan secara bersamaan dan juga menyebabkan efek farmakologi toleransi
silang dengan penggunaan alkohol. Hal ini juga konsisten dengan penggunaan
benzodiazepin untuk mengatasi gejala timbal balik akut atau detoksifikasi alkohol
atau obat-obatan lain.
Antagonis benzodiazepin yaitu flumazenil dapat menempati reseptor tapi tidak dapat
menyebabkan aktifitas. Senyawa benzodiazepin telah dikembangkan pada reseptor
ligand tapi menyebabkan pergerakan terbalik dari agonis, akibatnya terjadi
rangsangan pada otak. Senyawa ini juga merupakan antagonis dari flumazenil.
Gambaran ini merupakan reaksi berlawanan pada benzodiazepin yang sebelumnya
adalah cadangan yang lama dari flumazenil dan merupakan akibat dari eksaserbasi
pada penambahan dosis obat murni. Lebih dari itu dapat menyebabkan kegelisahan
seperti pada hipoksemia dan toksisitas anestasi lokal, yang seharusnya hal ini
diperhatikan terkebih dahulu.
Penggunaan benzodiazepin yang lama menyebabkan penurunan regulasi dari
reseptor dan juga terjadi penurunan ikatan dan funsi dari reseptor, pada akhirnya
menunjukan peningkatan toleransi. Penggunaan yang lama juga dapat menyebabkan
ketergantungan secara fisik maupun mental, yang walaupun obat ini mempunyai
efek adiktif yang rendah dari opiod dan barbiturat. Hubungan timbal balik yang
dalam dapat menyebabkan gejala klinik yang sama seperti pada penggunaan alkohol
akut, oleh sebab itu dosis benzodiazepin diturunkan secara teratur setelah
penggunaan yang lama.

Pada penderita yang telah lama menggunakan obat ini sensitif terhadap efek dari
benzodiazepin dan dosis harus diturunkan secara teratur.
Efek pada SSP
Efek benzodiazepin pada SSP yaitu anxiolysis, sedasi, amnesia dan aktifitas
antiepileptik.
Anxiolysis terjadi pada penggunaan obat dengan dosis yang rendah dan apabila obat
ini digunakan secara efektif untuk pengobatan anxietas yang akut maupun kronik.
Efek yang panjang dari obat oral seperti diazepam dan chlordaizepoksid dapat
mengobati efek timbal balik dari alkohol akut. Anxiolysis lebih sering terjadi pada
saat premedikasi dan pada prosedur yang salah.
Efek sedasi terjadi pada ketergantungan dosis yang menyebabkan depresi aktivitas
serebral, dan efek sedasi yang ringan pada kemampuan reseptor yang rendah yang
sama dengan pada anestesi umum jika ruang reseptor terisi. Midazolam terbukti
benar aman sebagai obat sedatif intravena. Benzodiazepin mempunyai efek terapi
yang tinggi (berbanding efektif dengan dosis letal) karena pada dosis yang
berlebihan, perbedaan pada densitas reseptor menyebabkan terjadi reaksi
sensitivitas yang berlebihan pada korteks dan depresi medula. Bagaimanapun hal ini
dapat menyebabkan obstruksi jalan napas bagian atas dan kehilangan refleks
protektif yang terjadi sebelum dalam efek sedasi, dan hal bahaya yang utama yaitu
efek sedasi yang berlebihan atau terjadi self poisoning.
Amnesia paling sering terjadi pada penggunaan benzodiazepin secara intravena dan
yang digunakan pada penderita yang menjalani pengobatan atau penggunaan pada
prosedur yang berulang. Anterograd amnesia mempengaruhi ambilan informasi.
Retrograd amnesia tidak ditemukan pada penggunaan benzodiazepin. Periode kronik
pada amnesia dilaporkan terjadi pada penggunaan obat oral lorazepam, yang dapat
berpotensi bahaya pada kasus ini.
Aktivitas antiepilepsi, dapat mencegah pengobatan seizure pada subkortikal. Obat
intravena lorazepam dan diazepam dapat digunakan untuk menghentikan seizure
dan clonazepam digunakan untuk membantu terapi pada terapi epilepsi kronik.
Benzodiazepin dapat meningkatkan ambang aktivitas seizure pada toksisitas anestesi
lokal, tapi dapat terlihat sebagai gejala awal.
Penggunaan benzodiazepin dapat memberikan efek yang menyenangkan untuk
insomnia dan lebih efektif lagi pada insomnia akut. Bagaimanapun pengobatan yang
lama tidak dianjurkan karena dapat memberikan masalah seperti efek toleransi dan
ketergantungan dan yang terpenting yaitu kesulitan dalam efek timbal balik pada
pengobatan. Penggunaan benzodiazepin sebagai hipnotik sekarang telah digantikan
dengan nonbenzodiazepin yang baru sebagai hipnotik yaitu, zopiklon, dimana obat
ini dapat bereaksi pada reseptor benzodiazepin.
Benzodiazepin menurunkan metabolisme oksigen di otak dan aliran darah otak, dan
juga respon serebrovaskular untuk karbondioksida dilindungi, oleh sebab itu mereka

menyesuaikan untuk digunakan pada beberapa pasien dengan kelaianan intrakranial.


Bagaimanapun harus diketahui bahwa midazolam tidak dapat mencegah
peningkatan tekanan intrakranial bersama dengan pemasangan intubasi trakeal.
Sebagai tambahan, depresi ventliasi disebabkan oleh benzodiazepin pada
pernapasan spontan yang dari pasien menunjukan peningkatan PCO2 arteri, yang
tidak diinginkan jika pemenuhan tekanan intrakranial menurun.
Efek samping yang tidak diinginkan pada SSP, seperti perasaan mengantuk dan
terjadi kerusakan pada tampilan psikomotor. Meskipun efek residu sedatif minimal
tapi dapat mempengaruhi fungsi kognitif dan koordinasi motorik, yang seharusnya
dapat diperkirakan kapan pengobatan ini dihentikan pada pasien.
Relaksasi Otot
Benzodiazepin menyebabkan reduksi otot ringan yang bisa menguntungkan misalnya
pada penggunaan ventilasi mekanik di unit perawatan intensif, yang mengurangi
resiko dari dislokasi artikular atau saat pemasangan endoskopi. Bagaimanapun juga
relaksasi otot berperan secara responsif pad obstruksi jalan napas pada penggunaan
obat sedatif intravena. Relaksasi otot tidak berhubungan dengan efek pada
neuromuskular junction, tapi menyebabkan peningkatan pada penghantaran impuls
neuron pada medula spinalis dan penurunan transmisi polisinaptik pada otak.
Efek pada Respirasi
Dosis benzodazepin dapat menyebabkan depresi sentral pada ventilasi . respon
ventilasi terhadap CO2 dapat terganggu dan respon dari ventilasi yang kurang
ditandai dengan adanya depresi. Hal ini diikuti juga dengan adanya sindrom
hipoventilasi dan gagal napas tipe 2 yang peka terhadap depresi pernapasan akibat
efek dari benzodiazepin. Depresi ventilasi merupakan efek eksaserbasi dari obstruksi
jalan napas dan hal ini paling sering pada dari yang sebelumnya. Apabila opiod dan
benzodaizepin digunakan secara bersama-sama akan terjadi efek yang sinergis.
Apabila kedua obat ini diberikan bersama-sama secara intravena, obat opiod harus
diberikan terlebih dahulu dan efeknya dapat diperkirakan. Penurunan dosis
benzodiazepin yang diperlukan sampai 75% harus diantisipasi. Hal ini harus menjadi
standar praktek untuk menyediakan oksigen tambahan dan monitor saturasi oksigen
dengan oximetri selama pemberian obat sedatif secara intravena.
Efek Kardiovaskuler
Benzodiazepin menghasilkan efek hemodinamik yang tidak terlalu besar dimana
mekanisme-mekanisme refleks hemostatik masih tetap terpelihara dan lebih aman
dari agen anastesi intravena. Suatu penekanan pada resistensi vaskuler perifer
menghasilkan sedikit penekanan pada tekanan arteri. Hipotensi yang signifikan dapat
terjadi pada pasien yang mengalami hipovolemia atau vasokonstriksi.
Farmakokinetik

Benzodiazepin adalah molekul kecil yang relative larut lemak, yang siap diabsorbsi
secara oral dan dengan cepat melewati SSP. Midazolam harus melewati hepar dulu
sehingga hanya sekitar 50% dari dosis oral yang sampai ke sirkulasi sistemik. Setelah
pemberian bolus intravena, penghentian aksi obat terjadi secara lebih luas dengan
proses redistribusi. Dibandingkan dengan obat-obatan seperti propofol,
benzodiazepine memiliki waktu yang lebih lambat untuk mencapai keseimbangan
konsentrasi pada target organ. Hal ini menganjurkan bahwa harus tersedia waktu
untuk menilai seluruh efek klinis sebelum memberikan suatu kenaikan dosis lebih
lanjut. Terdapat pengikatan protein secara luas. Eliminasi dari metabolisme hepatik
mengikuti ekskresi dari metabolisme renal. Ada 2 jalan utama dari metabolisme
meliputi oksidasi mikrosomal atau konjugasi dengan glukoronidase. Makna dari hal ini
adalah bahwa oksidasi lebih mungkin dipengaruhi oleh usia, penyakit hepar, interaksi
obat dan faktor-faktor lain yang mengubah konsentrasi dari sitokrom P450. Beberapa
dari golongan benzodiazepine, termasuk diazepam memiliki metabolic aktif yang
secara luas memperpanjang efek klinis mereka. Disfungsi renal terlihat dari
akumulasi dari metabolit-metabolit dan ini merupakan satu faktor penting penundaan
pemulihan dari pemanjangan sedasi dari ITU.
DIAZEPAM
Diazepam adalah golongan benzodiazepin pertama yang tersedia untuk penggunaan
parenteral. Tidak larut dalam air dan pada awalnya diformulasikan dalam propylene
glikol, yang sangat iritan untuk vena dan dihubungkan dengan peningkatan insidens
dari tromboflebitis. Suatu emulsi lemak (diazemuls) ditingkatkan/ditemukan
selanjutnya. Kedua formasi tersebut disediakan dalam ampul 2 ml yang terdiri dari 5
mg/ml. Diazepam juga tersedia untuk oral yaitu tablet atau sirup dengan 100%
bioavibilitas dan larutan rectal dan supositoria. Eliminasi waktu paru 20-50 jam,
tetapi metabolit-metabolit aktif diproduksi termasuk desmetil diazepam dengan
waktu paru 36-200 jam, clearance menurun pada disfungsi hepar.
Dosis
Premedikasi : 10 mg oral 1-1,5 jam sebelum operasi
Sedasi : 5-15 mg IV perlahan-lahan, peningkatan bolus 1-2 mg.
Status epileptikus : 2 mg, diulang setiap menit sampai kejang berhenti. Dosis
maksimal 20 mg.
Terapi intensif : Tidak cocok untuk infus, dosis bolus IV 5-10 mg/4 jam.
MIDAZOLAM
Midazolam adalah suatu derivat imidazoensodiazepinedan cincin imidazol yang
mencapai kelarutan air pada pH < 4. Pada pH darah, obat tersebut menjadi lebih
larut lemak dan mempenetrasi otak dengan cepat dengan onset sedasi dalam 90
detik dan efek puncak pada 2-5 menit. Tersedia dalam vial 50 ml terdiri dari 1 mg/ml

dan tablet 15 mg dan bioavailabilitas 44%. Midazolam melewati metabolisme


oksidatif hepatik dan memiliki waktu paru 1 jam dan meskipun aktif secara
biologik, obat tersebut penting hanya sesudah pemanjangan waktu infus pada pasien
dengan kelainan ginjal. Midazolam lebih potensial 1,5-2 kali dari diazepam dan
memiliki farmakokinetik yang lebih baik untuk digunakan sebagai suatu sedatif
intravena jangka pendek.
Dosis
Premedikasi : 15 mg oral atau 5 mg IM, anak > 6 bulan 70-100 g/kg
Sedasi : 2-7 mg IV (lebih tua : < 4 mg)
Terapi intensif : IV 0,03-1 mg/kg/j
TEMAZEPAM
Golongan benzodiazepin ini hanya tersedia bentuk oral, namun digunakan lebih luas
sebagai suatu obat premedikasi karena sifat anxiolitiknya. Pemberian secara oral
absorpsinya sempurna tapi membutuhkan waktu sampai dengan 2 jam untuk
mencapai konsentrasi puncak di plasma. Metabolisme berlangsung di hepar lewat
konjugasi dengan glukoronidase dan tidak ada produksi metabolit yang penting.
Memiliki eliminasi waktu paru relatif lama 8-15 jam. Dosis 20 mg efektif dalam 1-2
jam dan bertahan sekitar 2 jam, dengan gejala siksa mengantuk. Toleransi dan
ketergantungan jarang terjadi pada pemakaian lama dari temazepam, ditujukan
secara luas sebagai suatu hipnotik.
LORAZEPAM
Obat ini tersedia untuk penggunaan parenteral dan oral, tetapi tidak digunakan
secara rutin sebagai sedatif IV karena dibatasi oleh aksi dari onset yang pelan.
Metabolisme oleh glukoronidasi dengan eliminasi waktu paru 15 jam dan durasi yang
lebih panjang dibandingkan temazepam. Jika digunakan untuk premedikasi, dosis 2-4
mg diberikan malam sebelumnya atau pada permulaan hari pembedahan. Amnesia
adalah suatu tanda yang menyertai pemberian obat ini.
Saat ini lorazepam IV merupakan drug of choice pada penanganan status epileptikus,
karena memiliki durasi yang lebih panjang untuk aksi antilepilepsi dibanding
diazepam. Juga bisa digunakan untuk penanganan serangan akut panik yang berat,
baik secara IM/IV dengan dosis 25-30 g/kg (dosis biasa 1,5-2.5 mg). Jalur IM hanya
digunakan jika tidak ada jalur lain yang tersedia.
EFEK SAMPING
Efek samping dari benzodiazepin tergantung dosis dan dapat diprediksi dari efek
farmakodinamiknya. Oversedasi, depresi ventilasi, ketidakstabilan hemodinamik dan

obstruksi jalan napas dapat terjadi pada kelebihan dosis yang tidak diperhatikan dan
lebih sering terjadi pada orang tua atau pasien dengan kondisi yang lemah.
FLUMAZENIL
Flumazenil adalah suatu kompetitif antagonis berafinitas tinggi untuk semua ligand
reseptor benzodiazepin. Obat ini secara cepat melawan semua efek benzodiazepin di
CNS dan juga efek berbahaya yang berpotensi muncul melawan efek fisiologis
termasu depresi respirasi dan kardiovaskuler dan obstruksi jalan napas.
Flumazenil memiliki sangat sedikit aktivitas intrinsik pada dosis tinggi dan ditoleransi
dengan baik dengan efek samping minimal.
Flumazenil secara cepat dibersihkan dari plasma den dimetabolisme oleh hati.
Flumazenil memiliki waktu paruh eliminasi yang sangat singkat yaitu kurang dari 1
jam. Lama kerja tergantung pada dosis yang diberikan dan identitas dan dosis
agonis. Berkisar antara 20 menit sampai 2 jam untuk potensi resedasi jika agonis
memiliki waktu paruh yang lebih panjang, yang mengharuskan suatu periode
observasi tertutup.
Dosis dan pemberian
Flumazenil tersedia untuk penggunaan IV dalam ampul 5 ml terdiri dari 100 g/ml.
Dosis efektif yang biasa digunakan adalah 0,2-1 mg diberikan dalam bentuk 0,1-0,2
mg bolus dan diulang tiap interval 1 menit. Dosis untuk pasien koma tidak boleh
lebih dari 2 mg.
Indikasi
Pemulihan sedasi. Megurangi waktu dari sedasi pada penderita atau pasien yang
lemah. Resiko resedasi membuat obat ini tidak digunakan secara rutin.
Pada keracunan. Terapi dari benzodiazepin kelebihan dosis dapat menyebabkan
tidak sadar dan depresi pernapasan. Dosis ulangan atau infus terus dibutuhkan
sampai konsentrasi dalam plasma agonis menurun. Pada keadaan koma yang tidak
diketahui penyebabnya, flumazenil dapat menjadi suatu alat diagnostik.

Anda mungkin juga menyukai