Anda di halaman 1dari 15

PENGENDALIAN EKTOPARASIT

MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi salah satu
Tugas Mata Kuliah Parasitologi Veteriner II

Oleh :
KELOMPOK I
MUH. FAUZIH ASJIKIN
NURUL FADILLAH SULTAN
LOIS SENDANA
STEPHANIE DATU RARA
NUR ILMI RAHMIATI
I PUTU SUARGITA
RIZAL PANGERAN
NATALIE IRENE RUMPAISUM
NURUL FAJRIANI
NURFAJRIN SYAMSIR
GENNA PRAMA NUGROHO
FITRAH ARYA
GREGORIUS WAHYUDI

MUKH YUSUF KADIR POLE


IIN MUTMAINNAH MUHADJIR
CINDY TRIE P HOSEA
SITI MARYAM
WADI OPSIMA
ASNITA DARMAWANGSA
MUTMAINNAH
WIDYA PURWANA WITARSA
HARTARTO AHMAD
AGUNG MAULANA BASMA
RAHMAT S.
MUH. RULLI MARASAKTI

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
limpahan rahmat dan hidayah-Nya penyusun bisa menyelesaikan makalah tentang
Pengendalian Ektoparasit ini tepat pada waktunya. Ucapan terimakasih tak lupa
penyusun ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses
penyusunan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini penyusun menyadari bahwa masih banyak
terdapat kekurangan di dalamnya, maka untuk itu penulis mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat konstruktif dari para pembaca dalam kesempurnaan
makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para mahasiswa dalam
membantu proses belajar. Wasalam.

Makassar, April 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di Indonesia, musim panas terjadi hampir sepanjang tahun. Hal ini
menyebabkan pertumbuhan parasit-parasit kulit tidak terkontrol. Namun,
bukan berarti pertumbuhan atau investasi ektoparasit sepenuhnya dipengaruhi
oleh kondisi cuaca di seluruh wilayah di Indonesia. Menurut Hadi (2007),
lingkungan peternakan yang umumnya berupa suatu kompleks bangunan
kandang merupakan sebuah ekosistem tersendiri yang unik. Lingkungan itu
seringkali pada kenyataannya banyak dimanfaatkan oleh hama pengganggu
sebagai habitat, tempat istirahat serta tempat mencari makan. Berbagai jenis
hama tersebut hidup atau berada di lingkungan peternakan, yang
keberadaannya dapat merupakan gangguan atau bahkan bahaya bagi para
hewan ternak dan juga orang-orang di sekitarnya.
Hama pengganggu peternakan yang berasal dari kelompok Arthropoda
dikenal dengan istilah ektoparasit (Hadi, 2007). Ektoparasit adalah parasit
yang hidupnya menumpang di bagian luar dari tempatnya bergantung atau
pada permukaan tubuh inangnya (host). Sebagian terbesar dari kelompok
ektoparasit yaitu golongan serangga (Kelas Insecta), dan lainnya adalah
kelompok akari (Kelas Arachnida), (Suarni, 2014).
Hal lain yang lebih membahayakan lagi dari ektoparasit adalah
peranannya sebagai vektor penular berbagai macam agen penyakit atau inang
antara dari agen penular penyakit (Suarni, 2014). Vektor penyakit adalah
serangga penyebar

penyakit atau arthropoda yang dapat

memindahkan

/menularkan agen infeksi dari sumber infeksi kepada host yang rentan.
Pengendalian vektor adalah suatu kegiatan untuk menurunkan kepadatan
populasi vektor pada tingkat yang tidak lagi membahayakan kesehatan,
(Komariah, 2010)
Kerugian akibat ektoparasit caplak dan tungau cukup tinggi pada
ternak ruminansia khususnya di Indonesia. Selain merugikan ternak secara

ekonomi juga karena dapat bersifat zoonosis khususnya pada penyakit


scabies. Pengendalian dengan obat dengan zat khasiat yang berasal dari bahan
kimia dan tradisional telah dilakukan dengan hasil yang beragam dan kendala
harga pengobatan yang cukup tinggi, (Ahmad, 2005).
Akhir-akhir ini disadari bahwa pemakaian pestisida, khususnya
pestisida sintetis ibarat pisau bermata dua. Dibalik manfaatnya yang besar
bagi peningkatan produksi pertanian, terselubung bahaya yang mengerikan.
Tak bisa dipungkiri, bahaya pestisida semakin nyata dirasakan masyarakat,
terlebih akibat penggunaan pestisida yang tidak bijaksana (Sunarno, 2008).
Hal inilah pula yang menjadi dasar perlunya mengetahui berbagai macam
tindakan yang dapat dilakukan dalam usaha untuk menekan populasi dari
ektoparasit yang merugikan sampai berada di bawah batas kemampuan dalam
menginfeksi maupun menularkan penyakit sehingga angka kesakitan dapat
diturunkan. Berdasarkan latar belakang di atas, maka dalam makalah ini
akan dibahas lebih lanjut mengenai pengendalian ektoparasit dan
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan ektoparasit ?
2. Bagaimana perbedaan antara pengendalian konsep dan tujuan?
3. Bagaimana urutan atau langkah dari pengendalian ektoparasit ?
4. Apa saja jenis jenis pengendalian ektoparasit ?
1.3 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu :
1. Untuk mengetahui pengertian dari ektoparasit
2. Untuk mengetahui perbedaan antara pengendalian konsep dan tujuan
3. Untuk mengetahui urutan atau langkah dari pengendalian ektoparasit
4. Untuk mengetahui jenis jenis pengendalian ektoparasit

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ektoparasit
Ektoparasit adalah parasit yang hidup di bagian luar dari tempatnya
bergantung atau pada permukaan tubuh inangnya dan yang memperoleh
makanan dengan mengirimkan haustorium masuk ke dalam sel-sel tumbuhan
inang. Sebagian terbesar dari kelompok ektoparasit yaitu golongan serangga
(Kelas Insecta), dan lainnya adalah kelompok akari (Kelas Arachnida)
seperti caplak atau sengkenit, tungau, laba-laba, dan kalajengking. Selain itu,
artropoda dari Kelas Chilopoda (kelabang), dan Kelas Diplopoda (keluwing)
juga termasuk ektoparasit, (Brotowidjoyo, 1987).
Menurut Naughton (1997) parasit yang hidup di permukaan tubuh dari
suatu organisme dikenal sebagai ektoparasit atau parasit eksternal. Parasit ini
dapat sering ditemukan baik pada tumbuhan dan hewan. Ektoparasit baik
mengisap darah (parasit hewan) atau cairan (parasit tanaman) atau pakan pada
jaringan hidup. Beberapa contoh yang paling umum untuk ektoparasit
manusia caplak, tikus kutu, kutu, dan tungau gatal.
Ektoparasit adalah sejenis parasit yang hidupnya

pada inangnya

(hewan tuan rumah). Hewan sejenis ektoparasit ini juga dikenal dengan
sebutan epizoa. Hewan ektoparasit yang hidup secara parasit pada tubuh lain
ini hidup dipermukaan bagian luar tubuh atau bagian-bagian lain yang mudah
di jangkau dari luar. (Priyambodo, 1995).
Ektoparasit (ekozoa) merupakan parasit yang berdasarkan tempat
manifestasi parasitismenya terdapat di permukaan luar tubuh inang, termasuk
di liang-liang dalam kulit atau ruang telinga luar. Kelompok parasit ini juga
meliputi parasit yang sifatnya tidak menetap pada tubuh inang, tetapi datanpergi di tubuh inang. Ada sifat berpindah inang tentu tidak berarti berarti
ektoparasit tidak mempunyai prefensi terhadap inang, seperti parasit lainnya,
ektoparasit juga memiliki juga memiliki spesifikasi inang, inang pilihan, atau
inang kesukaan, (Ristiyanto, 2000).

Proses prefensi ektoparasit terhadap inang antara lain melalalui


feomena adaptasi, baik adaptasi morfologis maupun biologis yang kompleks.
Proses ini dapat diawali dari nenek moyang jenis ektoparasit rersebut,
kemudian diturunkan kepada progeninya. Menurut tori heterogenitas,
ektoparasit dan inang adalah dua individu yang berbeda jenis dan asal
usulnya. Walaupun ektoparasit memilih inag tertentu untuk kelangsungan
hidupnya, namun bukan berarti pada tubuh inang tersebut hanya terdapat
kelompok

ektoparasit

yang

sejenis

(Priyambodo,

1995).

Menurut

Brotowijoyo (1987), fenomena pada satu inang ditemukan pada waktu


bersamaan

dikenal

sebagai

poliparasitisme.

Poliparasitisme

biasanya

disebabkan oleh adanya lingkungan inang yang serasi dengan ektoparasit


tersebut.
2.2 Pengendalian Konsep dan Tujuan
2.3 Urutan atau Langkah dari Pengendalian Ektoparasit
Hewan sebagai salah satu sumberdaya hayati mempunyai manfaat
yang besar bagi kehidupan manusia, salah satunya untuk pengendalian hama
dan penyakit. Pengamatan terhadap perilaku adaptif hewan sangat penting
karena merupakan bagian dari langkah pengendalian hama dan penyakit,
yakni

sebagai

bahan

pertimbangan

sebelum

menentukan

cara

pengendaliannya. Adapun urutan langkah pengendalian hama yang ideal


(Hadi, 2011), antara lain:
a. Mengetahui identitas hama sasaran
Apakah hama yang akan dikendalikan dari jenis serangga seperti
lalat, tungau, kutu atau dari jenis lain.
b. Mengetahui sifat dan cara hidup (bioekologi) hama sasaran
Mengetahui informasi mengenai bagaimana daur hidup, habitat,
waktu dan perilaku makan, waktu dan perilaku beristirahat, jarak terbang
atau pemencarannya bermanfaat sebagai bahan pertimbangan dalam
menyusun strategi pengendalian hama. Sebagai contoh, pada pengamatan

lalat, kemudian kita ketahui bahwa habitat lalat pradewasa adalah


tumpukan kotoran hewan, sampah, dan tempat-tempat pembusukan
lainnya, maka sasaran pengendaliannya adalah dengan menghilangkan
habitat yang disukai lalat.
c. Memilih alternatif cara pengendalian
Monitoring populasi hama secara terus menerus diperlukan untuk
mencari alternatif dalam penanggulangan hama selain menggunakan
pestisida. Penggunaan pestisida memang adalah langkah yang cepat,
tetapi bukan hal yang tepat. Karena pestisida secara jangka menengah
maupun panjang juga akan membahayakan manusia dan juga organisme
lainnya.
d. Memilih pestisida
Apabila keadaan mengharuskan penggunaan pestisida, maka yang
harus diingat adalah kemungkinan terjadinya berbagai efek samping
seperti kemungkinan keracunan langsung pada ternak dan makhluk
bukan-sasaran lainnya, pencemaran, serta timbulnya resistensi pada
populasi hama serangga sasaran setelah beberapa generasi. Golongan
pestisida bermacam-macam dan masing-masing mempunyai target kerja
terhadap serangga yang berbeda. Penggunaan yang terus menerus dan
tidak terkendali dapat menimbulkan resistensi dan mengganngu
ekosistem alam. Contoh insektisida yang saat ini banyak digunakan
adalah golongan piretroid sintetik seperti sipermetrin, bifentrin, permetrin
dan lain-lain.
e. Menentukan cara aplikasinya
Bagaimana cara aplikasi juga merupakan satu persoalan yang
krusial. Di mana dilakukannya, kapan waktunya, dengan cara apa,
formulasi mana yang paling tepat, serta siapa yang akan melakukannya.
Cara-cara aplikasi yang dapat dilakukan untuk hama pengganggu di
peternakan

dan

ruang), residual

permukiman

adalah space

spraying (penyemprotan

spraying (penyemrotan
permukaan),

baiting

(pengumpanan) atau fumigasi. Sebagai contoh pada aplikasi space

spray, waktu merupakan hal yang sangat penting. Karena bersifat


nonresidual, maka penyemprotan harus dilakukan pada saat serangga
sasaran dalam keadaan aktif.
Jadi, kalau melihat pertimbangan-pertimbangan di atas maka
pengendalian hama itu sebenarnya memerlukan latar belakang pengetahuan
yang luas, tidak sekedar menyemprot tanpa tanggung jawab. Apabila urutan
langkah ini dijalankan maka pengendalian hama akan terlaksana secara
konsepsional sesuai dengan program integrated pest management. Masalah
hama di lingkungan peternakan dan permukiman sesungguhnya merupakan
hasil

rekayasa

tempattempat

manusia
untuk

pemukimnya

perkembangbiakan,

sendiri,
mencari

dengan
makan

menyediakan
dan

untuk

berisitirahat dan berlindung. Beberapa jenis serangga tertentu seperti lalat dan
kecoa telah mengadaptasikan diri dengan kehidupan hean ternak dan manusia
di lingkungan permukimannya. Oleh karena itu, cara pengendalian hama
peternakan dan permukiman yang paling tepat adalah menjaga kebersihan dan
kesehatan lingkungannya, agar tidak dapat digunakan sebagai tempat
berkembang biak, tempat mencari makan atau tempat berlindung dan
bersembunyi. Ketika populasi hama sudah mencapai tingkat mengganggu,
merugikan atau bahkan membahayakan terhadap ternak dan orang yang
tinggal di sekitarnya, maka perlu ditindak dengan menggunakan pestisida tapi
dengan penuh kehati-hatian.
2.4 Jenis Jenis Pengendalian Ektoparasit
A. Pengendalian Mekanik
Pengendalian mekanik mencakup usaha untuk menghilangkan
secara langsung hama serangga yang menyerang tanaman. Pengendalian
mekanis ini biasanya bersifat manual. Mengambil hama yang sedang
menyerang dengan tangan secara langsung atau dengan melibakan tenaga
manusia telah banyak dilakukan oleh banyak negara pada permulaan abad
ini. Cara pengendalian hama ini sampai sekarang masih banyak dilakukan

di daerah-daerah yang upah tenaga kerjanya masih relatif murah


(Unigha,2012).
Contoh pengendalian mekanis yang dilakukan di Australia adalah
mengambil ulat-ulat atau siput secara langsung yang sedang menyerang
tanaman kubis. Pengendalian mekanis juga telah lama dilakukan di
Indonesia terutama terhadap ulat pucuk daun tembakau oleh Helicoverpa
sp. Untuk mengendalikan hama ini para petani pada pagi hari turun ke
sawah untuk mengambil dan mengumpulkan ulat - ulat yang berada di
pucuk tembakau. Ulat yang telah terkumpul itu kemudian dibakar atau
dimusnahkan. Rogesan sering dipraktekkan oleh petani tebu (di Jawa)
untuk mencari ulat penggerek pucuk tebu (Scirpophaga nivella) dengan
mengiris sedikit demi sedikit pucuk tebu yang menunjukkan tanda
serangan. Lelesan dilakukan oleh petani kopi untuk menyortir buah kopi
dari lapangan yang terserang oleh bubuk kopi (Hypotheneemus hampei)
(Unigha, 2012).
B. Pengendalian Fisik
Pengendalian ini dilakukan dengan cara mengatur faktor - faktor
fisik yang dapat mempengaruhi perkembangan hama, sehingga memberi
kondisi tertentu yang menyebabkan hama sukar untuk hidup (Desliana,
2012).
Bahan - bahan simpanan sering diperlakukan denagn pemanasan
(pengeringan) atau pendinginan. Cara ini dimaksudkan untuk membunuh
atau menurunkan populasi hama sehingga dapat mencegah terjadinya
peledakan hama. Bahan-bahan tersebut biasanya disimpan di tempat yang
kedap udara sehingga serangga yang bearada di dalamnya dapat mati
lemas oleh karena CO2 dan nitrogen (Desliana, 2012).
Pengolahan tanah dan pengairan dapat pula dimasukkan dalam
pengendalian fisik; karena cara - cara tersebut dapat menyebabkan kondisi
tertentu

yang

tidak

cocok

bagi

pertumbuhan

serangga.

Untuk

mengendalikan nematoda dapat dilakukan dengan penggenangan karena


tanah yang mengandung banyak air akan mendesak oksigen keluar dari
partikel tanah. Dengan hilangnya kandungan O2 dalam tanah, nematoda
tidak dapat hidup lebih lama (Unigha, 2012).

C. Pengendalian Hayati
Menyatakan bahwa pengendalian hayati adalah pengendalian
serangga hama dengan cara biologi, yaitu dengan memanfaatkan musuhmusuh alaminya (agen pengendali biologi), seperti predator, parasit dan
patogen. Pengendalian hayati adalah suatu teknik pengelolaan hama
dengan sengaja dengan memanfaatkan/memanipulasikan musuh alami
untuk kepentingan pengendalian, biasanya pengendalian hayati akan
dilakukan perbanyakan musuh alami yang dilakukan dilaboratorium.
Sedangkan Pengendalian alami merupakan Proses pengendalian yang
berjalan sendiri tanpa campur tangan manusia, tidak ada proses
perbanyakan musuh alami (Anonim, 2002).
Prinsip pengaturan populasi organisme oleH mekanisme saling
berkaitan antar anggota suatu komonitas pada jenjang tertentu juga terjadi
didalam agroekosistem yang dirancang manusia. Musuh alami sebagai
bagian

dari agroekosistem memiliki

peranan menentukan

dalam

pengaturan dan pengendalian populasi hama. Sebagai faktor yang


bekerjanya tergantung dari kepadatan yang tidak lengkap (imperfectly
density dependent) dalam kisaran tertentu, populasi musuh alami dapat
mempertahankan populasi musuh alami tetap berada disekitar batas
keseimbangan dan mekanisme umpan balik negatif. Kisaran keseimbangan
tersebut dinamakan Planto Homeostatik. Diluar plato homeostatik musuh
alami menjadi kurang efektif dalam mengembalikan populasi kearas
keseimbangan. Populasi hama dapat meningkat menjahui kisaran
keseimbangan akibat bekerjanya factor yang bebas kepadatan populasi
seperti cuaca dan akibat tindakan manusia dalam mengelola lingkungan
pertanian (Untung, 2006).
Pengendalian hayati memiliki keuntungan yaitu : (1). Aman artinya
tidak menimbulkan pencemaran lingkungan dan keracunan pada manusia
dan ternak, (2). tidak menyebabkan resistensi hama, (3). Musuh alami
bekerja secara selektif terhadap inangnya atau mangsanya, dan (4).
Bersifat permanen untuk jangka waktu panjang lebih murah, apabila

keadaan lingkungan telah setabil atau telah terjadi keseimbangan antara


hama dan musuh alaminya (Jumar, 2000).
Selain keuntungan pengendalian hayati juga terdapat kelemahan
atau kekurangan seperti : (1). Hasilnya sulit diramalkan dalam waktu yang
singkat, (2). Diperlukan biaya yang cukup besar pada tahap awal baik
untuk penelitian maupun untuk pengadaan sarana dan prasarana, (3).
Dalam hal pembiakan di laboratorium kadang-kadang menghadapi kendala
karena musuh alami menghendaki kondisi lingkungan yang kusus dan (4).
Teknik aplikasi dilapangan belum banyak dikuasai (Jumar, 2000).

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Riza Zainuddin. 2005. Cendawan Metarhizium anisopliae Sebagai


Pengendali Hayati Ektoparasit Caplak dan Tungau pada Ternak.
Balai Penelitian Veteriner, Bogor. (1): 73
Hadi, U.K. 2011. Bioekologi Berbagai Jenis Serangga Pengganggu pada Hewan
Ternak di
Indonesia dan Pengendaliannya. Departemen Ilmu Penyakit
Hewan dan Kesmavet,
Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Bogor.
Hadi, Upik Kesumawati. 2007. Bioekologi Berbagai Jenis Serangga Pengganggu
Pada Hewan Ternak Di Indonesia Dan Pengendaliannya. Bag.
Parasitologi dan Entomologi Kesehatan, Institut Pertanian Bogor : 12
Komariah, Seftiani Pratita, Tan Malaka. Pengendalian Vektor. Jurnal Kesehatan
Bina Husada. 6(1) : 34-35
Suarni,

Elsa.

2014.

Pengendalian

http://www.scribd.com>mobile>doc

Ektoparasit,

pengendalian-ektoparasit.

[diakses pada, 11 April 2015]


Sunarno. 2008. Pengendalian Hayati (Biologi Control) Sebagai Salah Satu
Komponen Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Usaha perbaikan
teknik pengendalian hama di daerah Halmahera Utara.
Brotowidjoyo, M.D., 1987. Parasit dan Parasitisme. Media Sarana Press. Jakarta
Naughton, S.J., I.I. Wolf, 1997. Ekologi Umum. Gajah Mada Press/ Yogyakarta.
Priyambodo, S. 1995. Pengendalian Hama Tikus Terpadu. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Ristiyanto, et al. Keanekaragaman Ektoparasit pada Tikus Rumah Rattus
Tanezumi dan Tikus Polinesia Rattus Exulans di daerah Enzootik Pes Lereng
Gunung Merapi, Jawa Tengah. 2000 : 90-97
Desliana H. 2012. Pengendalian Hama dan Penyakit. Yogyakarta
Unigha N. 2012. Macam-macam Jenis Hama Tanaman dan Cara
Pengendalian. BandunG
Anonim. 2002. Model Budidaya tanaman Sehat ( Budidaya Tanaman
Sayuran Secara Sehat Melalui Penerapan PHT). Dirjen Perlindungan
Tanaman. Jakarta

Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Rineka Cipta. Jakarta.


Untung, 2006. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gajah Mada
University Press.
Yoyakarta.