Anda di halaman 1dari 3

BAB 4

PEMBAHASAN

Pasien datang dengan keluhan nyeri dileher belakang sebelah kanan sejak 3
bulan yll. Bila nyeri muncul, disertai keluhan nyeri kepala menjalar dari leher ke
kepala depan, kemudian pandangan buram & gelap, setelah itu pasien pingsan.
Menurut ibunya saat pasien pingsan, tangannya kaku, matanya tertutup, tangan
dan kaki bergerak sendiri, pasien berbicara sendiri (seperti kesurupan), kejang (-),
keluar cairan dari mulut (-), muntah (-), saat pasien sadar, pasien langsung merasa
mual & lehernya nyeri serta dadanya terasa panas serta tidak ingat kejadiannya
sama sekali. Menurut temannya disekolah, pasien sering bengong sendiri,
melamun, kemudian tiba-tiba pingsan lalu bicara sendiri (seperti kesurupan).
Pasien sering mendengar suara-suara bisikan, sekarang sudah tidak lagi. Pasien
dapat mengikuti pelajaran disekolah dengan baik, nilai-nilai ujian sehari-hari baik.
Keluhan lain seperti Panas (-), tangan & kaki tidak ada lemah (-)
Pada pemeriksaan fisik neurologis dan pemeriksaan penunjang CT Scan, tidak
ditemukan kelainan, Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan tersebut dapat
ditegakkan diagnosis sementara pasien menderita Partial Complexs Seizure untuk
itu perlu dilakukan pemeriksaan tambahan lain yaitu Electro Enchephalo Graphy
(EEG)
Parsial seizure pada umumnya mengindikasikan adanya aktivasi dari system
neuron yang terbatas dibagian salah satu hemisphere serebri sehingga terjadi
kelainan klinis dan kelainan gambaran rekam otak. Kejang parsial kompleks
adalah epilepsy parsial yang disertai dengan gangguan kesadaran. Tanda-tanda
yang menonjol utama adalah gangguan psikis dan automatisme. Disebut juga
37

psikomotor epilepsy. Pada epilepsy jenis ini, meskipun terdapat gangguan


kesadaran, masih dapat melakukan gerakan-gerakan otomatis, seperti mengunyah
(gerakan bibir dan otot mulut), menguap, menggunakan pakaian, mandi, naik
sepeda, bahkan kadang-kadang bisa mengendarai mobil. Penderita ini bila ditegur
tidak menjawab (kehilangann kontak dengan lingkungannya). Umumnya
penderita tidak melakukan tindakan criminal atau menyerang orang lain, tetap
dapat agresif bila dihalangi kemauannya. Setelah serangan berakhir penderita lupa
apa yang telah dilakukannya (amnesia).
Semiologi klinis pada kejang parsial kompleks tergantung pada lokasi pusat
kejang di kortikal.
1. Kejang parsial kompleks yang berasal dari lobus temporal
menurut studi MRI sering dikaitkan dengan mesial temporal sclerosis dan
sering dimulai dengan aura. Paling umum adalah sensasi viscerosensorik
seperti sensasi naik dari perut, atau rasa takut. Dj vu dan sensasi
penciuman merupakan aura yang kurang umum. Otomatisasi Oropencernaan (bibir mengunyah) menjadi gejala yang umum. Kepala beralih
ke sisi ipsilateral, Otomatisasi manual pada sisi ipsilateral, atau sikap
dystonic dari ekstremitas atas yang kontralateral dapat membantu
menentukan pusat kejang. Kebingungan yang terjadi setelahnya biasanya
berlangsung setidaknya beberapa menit, setelah itu terjadi pemulihan
bertahap. Biasanya, pasien mengalami amnesia selama kejang parsial
kompleks terjadi.
2. Pada lobus frontal onset kejang parsial kompleks yang paling sering di
malam hari.

Perilaku

dapat

menjadi

histeris

dan

aneh/ganjil.

Karena perilaku aneh dan sering terjadi kesulitan merekam gelombang

38

pada EEG (karena sebagian besar kawasan korteks frontal tidak dapat
diakses ke permukaan elektroda), kejang kadang-kadang dianggap seperti
kejang nonepileptic psikogenik.
3. Kejang parsial kompleks yang bersal dari lobus oksipital lobus masih
kurang umum dibandingkan yang berasal dari temporal atau frontal, dan
ditandai dengan halusinasi visual dasar atau kompleks atau ilusi
4. Kejang parsial yang berasal dari lobus parietal onsetnya terdiri dari
perubahan sensorik, disorientasi visuospatial, atau apraxia.
Pada pasien ini dilakukan terapi Infus D5:Assering 1:2 3 tpm, Inj. Metamizole
3x1, Inj. Ranitidin 2x1, Inj. Mecobalamin 1x1 gr, Sodium Divalproate ER 500 mg
1x1 tab. Tujuan utama pengobatan epilepsi adalah membuat orang dengan epilepsi
(ODE) terbebas dari serangan epilepsinya, terutama terbebas dari serangan kejang
sedini mungkin. Setiap kali terjadi serangan kejang yang berlangsung sampai
beberapa menit maka akan menimbulkan kerusakan sampai kematian sejumlah
sel-sel otak. Monoterapi lebih dipilih ketika mengobati pasien epilepsi,
memberikan keberhasilan yang sama dan tolerabilitas yang unggul dibandingkan
politerapi. OAE yang umum digunakan untuk tipe kejang parsial baik Parsial
sederhana,

Parsial

Carbamazepine,

kompleks,

Lamotrigine,

Umum

sekunder

Levetiracetam,

adalah

Lini

Oxcarbazepine,

pertama

Topiramate,

Valproate, Lini Kedua: Acetazolamide, Clonazepam, Gabapentin, Phenobarbitone,


Phenytoin.

39