Anda di halaman 1dari 4

Alhamdulillah wash shalatu was salaamu alaa rasuulillah, amma badu

Sesunggunya Allah memuliakan dan menghinakan suatu kaum dengan Al


Quran. (HR. Muslim)
Maksudnya kemuliaan dan kehinaan suatu, kaum, bangsa, dan ummat
sangat ditentukan oleh kadar perlakuan mereka terhadap Al Quran. Jika
mereka memuliakan Al Quran maka Allah memuliakan mereka. Sebaliknya
jika mereka mencampakkan Al Quran, maka kehinaan akan Allah timpakan
kepada mereka.
Termasuk bentuk memuliakan Al Quran adalah memperhatikan adab-adab
di dalam berinteraksi dengannya. Jangan sampai kita melakukan suatu hal
yang kita anggap biasa saja ternyata malah termasuk perbuatan tidak
beradab kepada Al Quran. Waliyaadzu billah
Adab-adab Berinteraksi dengan Al Quran
1. Memegang Mushaf Al Quran dalam keadaan suci.
Sedangkan terkait dengan mushaf, maka tidak boleh bagi orang yang
dalam kondisi berhadats untuk menyentuhnya, baik hadats kecil
maupun hadats besar. Allah Taala berfirman,Tidak menyentuhnya
kecuali orang-orang yang disucikan.( QS. Al Waqiah: 79)
Hal ini merupakan kesepakatan para imam kaum muslimin bahwa
orang yang dalam kondisi berhadats kecil ataupun besar tidak boleh
menyentuh mushaf kecuali ditutup dengan pelapis, seperti mushaf
tersebut berada di dalam kotak atau kantong, atau dia menyentuhnya
dilapisi baju atau lengan baju (Fatwa Syaikh Shalih Fauzan dalam kitab
Beliau Tadabbur Al Quran)
Bukan termasuk mushaf yaitu Al Quran Terjemah dan sejenisnya.
Karena yang dimaksud mushaf adalah yang murni berisi ayat Al
Quran. Adapun Al Quran yang ada di aplikasi handphone zaman
sekarang juga bukan termasuk mushaf sebagaimana difatwakan oleh
Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak hafizhahullah,
Oleh karena itu, yang benar, HP atau peralatan lainnya, yang berisi
konten Al Quran, tidak bisa dihukumi sebagai mushaf. Karena teks Al
Quran pada peralatan ini berbeda dengan teks Al Quran yang ada
pada mushaf. Tidak seperti mushaf yang dibaca, namun seperti vibrasi
yang menyusun teks Al Quran ketika dibuka. Bisa nampak di layar dan
bisa hilang ketika pindah ke aplikasi yang lain. Oleh karena itu, boleh
menyentuh HP atau kaset yang berisi Al-Quran. Boleh juga membaca

Al Quran dengan memegang alat semacam ini, sekalipun tidak bersuci


terlebih dahulu. (http://islamqa.info/ar/106961)
2. Hendaklah yang membaca Al Quran berniat ikhlas, mengharapkan
ridha Allah, bukan berniat ingin cari dunia atau cari pujian.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menceritakan balasan
mengerikan bagi orang yang tidak ikhlas dalam membaca Al Quran,
Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu
dan mengajarkannya serta membaca Al Quran. Ia didatangkan dan
diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun
mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: Amal apakah yang
telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu? Ia
menjawab: Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku
membaca Al Quran hanyalah karena engkau. Allah berkata : Engkau
dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang alim (yang
berilmu) dan engkau membaca Al Quran supaya dikatakan seorang
qari (pembaca Al Quran yang baik). Memang begitulah yang
dikatakan (tentang dirimu). Kemudian diperintahkan (malaikat) agar
menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. (HR.
Muslim)
3. Disunnahkan membaca Al Quran dalam keadaan mulut yang bersih.
Bau mulut tersebut bisa dibersihkan dengan siwak atau bahan
semisalnya (menggosok gigi dengan pasta gigi).
Dari Ali radhiyallahuanhu berkata, Rasulullah memerintahkan kami
bersiwak, sesungguhnya seorang hamba apabila berdiri sholat
malaikat mendatanginya kemudian berdiri dibelakangnya mendengar
bacaan Al Quran dan ia mendekat. Maka ia terus mendengar dan
mendekat sampai ia meletakkan mulutnya diatas mulut hamba itu,
sehingga tidaklah dia membaca satu ayatpun kecuali berada
dirongganya malaikat. (HR. Al Baihaqi)
4. Mengambil tempat yang bersih untuk membaca Al Quran. Oleh karena
itu, para ulama sangat anjurkan membaca Al Quran di masjid. Di
samping masjid adalah tempat yang bersih dan dimuliakan, juga ketika
itu dapat meraih fadhilah itikaf.
Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, Hendaklah setiap orang
yang duduk di masjid berniat itikaf baik untuk waktu yang lama atau
hanya sesaat. Bahkan sudah sepatutnya sejak masuk masjid tersebut
sudah berniat untuk itikaf. Adab seperti ini sudah sepatutnya
diperhatikan dan disebarkan, apalagi pada anak-anak dan orang awam

(yang belum paham). Karena mengamalkan seperti itu sudah semakin


langka. (At-Tibyan fii Adaabi hamalatil Quran).
5. Menghadap kiblat ketika membaca Al-Quran. Duduk ketika itu dalam
keadaan sakinah dan penuh ketenangan.
6. Memulai membaca Al Quran dengan membaca taawudz.
Bacaan taawudz menurut jumhur (mayoritas ulama) adalah audzu
billahi minasy syaithonir rajiim. Membaca taawudz ini dihukumi
sunnah, bukan wajib.Perintah untuk membaca taawudz di sini
disebutkan dalam ayat, Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah
kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.
(QS. An-Nahl: 98)

7. Membaca bismillahir rahmanir rahim di setiap awal surat selain surat


Baraah (surat At-Taubah). Perlu diketahui memulai pertengahan surat
cukup dengan taawudz tanpa bismillahir rahmanir rahim.

8. Hendaknya ketika membaca Al Quran dalam keadaan khusyu dan


berusaha untuk mentadabburinya (merenungkan/memperhatikan)
setiap ayat yang dibaca.
Allah Taala berfirman,Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan
kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayatayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang
mempunyai pikiran. (QS. Shaad: 29)
9. Banyak orang di antara kaum muslimin setiap mengakhiri bacaan Al
Quran dengan bacaan shadaqallahul adziim, apakah amalan
tersebut ada riwayat yang shahih dari Rasulullah Shallallahu alaihi
wasallam? Para Ulama menjelaskan hal tersebut tidak ada dasarnya
dalam hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam maupun amalan
para sahabat, sehingga lebih baik kita tidak merutinkannya. Adapun
jika dilakukan kadang-kadang saja karena ada faktor yang menuntut,
maka tidaklah mengapa.
Namun ada riwayat yang shahih bagaimana Rasulullah Shallallahu
alaihi wasallam mengakhiri bacaan Al Quran. Dari Ibunda Aisyah
radhiyallahu anha, Beliau berkata, Tidaklah Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam duduk di suatu tempat atau membaca Al Quran

ataupun melaksanakan shalat kecuali beliau akhiri dengan membaca


beberapa kalimat. Aku pun bertanya kepada Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam, Wahai Rasulullah, tidaklah Anda duduk di suatu
tempat, membaca Al Quran ataupun mengerjakan shalat melainkan
Anda akhiri dengan beberapa kalimat? Jawaban beliau,Betul, barang
siapa yang mengucapkan kebaikan maka dengan kalimat tersebut
amal tadi akan dipatri dengan kebaikan. Barang siapa yang
mengucapkan kejelekan maka kalimat tersebut berfungsi untuk
menghapus dosa. Itulah ucapan Subhanakallahumma wa
bihamdika laa ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik. (HR.
An Nasai dalam Sunan Al Kubro dan dishahihkan oleh Al Albani dalam
Ash Shahihah (3164))
Jadi selayaknya yang kita rutinkan adalah bacaan:
Subhanakallahumma wa bihamdika laa ilaha illa anta
astaghfiruka wa atubu ilaik.
Semoga ajaran Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang selalu kita
lestarikan dan rutinkan, sedangkan yang tidak ada dasarnya dari
beliau itulah yang dijauhi dan ditinggalkan. Dan semoga Allah
mengangkat derajat kita dengan Al Quran Sekali lagi, sebaik-baik
petunjuk adalah petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.Wallahu
waliyyut taufiq.
Washallallahu alaa nabiyyina Muhammadin, walhamdulillahi rabbil
aalamiin.
Hasim Ikhwanudin